You are on page 1of 24
ira AGROPOLITAN Fra Baru Pengembangan Wilayah Berbosis Pertanian No.6) TAKON V 2007 weg ~~ JUNIZ007 Pelindung ‘Agoes Widjanarko Penanggungjawab Djoko Murjanto Dewan Redaks! Ismanto Poedjastanto ‘Antonius Budiono Susmono Basah Hernowo Pemimpin Redaksi DwityoA. Soeranto ‘Sudarwanto Penyunting dan Penyelaras, Naskah M. Hasan Bukhori Bagian Produksi Djoko Karsono Emah Sudjimah Bhima Dhananjaya Djati Waluyo Widodo Heroe Kismadi Bagian Administrasi & Distribusi lam Muhargiady ‘Aryananda Sihombing ‘Ahmad Gunawan Didik S Fuadi Herni Widayant! Riama Simbolon Kusumawardani Kontributor ‘Andreas Suhono anani Kesai Rina Agustin Indriani Djoko Mursito Sriningsih BZ RR Koeswaryuni D. ‘Muhammad Abid ‘Guratno Hartono Danny Sutjiono Sit Bellafoljani Handy Bambang Legowo Raja Maulana MP Sibuea ‘Sanusi Sitorus ‘Alwi brahim Alamat: Ji, Patimura No. 20, Kebayoran baru, Jakarta 12110 TelpiFax. 021-72796578 E-mall:sddatainfo@ yahoo.com i_bpck@yahoo.com Redaksi menerima artikel, berta, kerikatur yang terkait bidang Cipta Karya dan disertai gambarifoto dn identitas penulis. Naskah ditulis maksimal 5 halaman A4, ‘Arial 12. Naskah yang dimuat akan ‘mendapat insenti Peel els Isi 2. Pengembangan Kawasan Agropoltan Era Baru Pengembangan Wilayah Berbasis Pertanian 5 Pengembangan Kawasan Agropolitan Jawa Tengah Membangun Kota di Kawasan Pertanian 6 Wawancara dengan Kepala Biro Perekonomian, Sekretariat Daerah Pemprov Jawa Tengah “Agropolitan, Alternatif Ideal Pengembangan Wilayah” 8 Pengembangan Kawasan Agropolitan Merapi - Merbabu, Kab. Magelang Dari Kultur Budidaya Menuju Agro Industri (Sebuah Tantangan Baru) 11 - STA Sewukan, Denyut Nadi Perdagangan Kawasan Agro Magelang - Dari STA Ngablak ke Kalimantan 12 Geliat Kelompok Tani di Punggung Merapi - Merbabu 13. Sistem Akuntans! Indonesia Era Baru Laporan Keuangan Indonesia 15 Hasil Sidang The 21st Governing Council di Nairobi, Kenya 17 Mari Mengenal Virus Komputer 19 Jabatan Fungsional Bidang Cipta Karya. Mau Tahu? CEN Cover: Foto Sub Terminal Agropoltan Sewukan, Magelang, Jawa Tengah ei ried men dan Douglass (1975) menawarkan_konsep Agropolitan sebagai kritk dari teori trickle down effect, yang menegaskan pembangunan di pusat-pusat perkotaan agar hasiinya bisa menetes ke perdesaan. Toeri tersebut belakangan tak tahan uji dengan semangat otonomi daerah. Daerah pun kemudian bergeliat_menyambut konsep agropolitan yang lebih komprehensif dalam pengembangan wilayah, ‘Sojak dicanangkan oleh Menteri Pekejaan Umum dan Menteri Pertanian pada 2002 lalu, hingga saat ini agropolitan sudah dikembangkan di 138 kawasan di 32 propinsi dari 253 sasaran menurut Rencana Strategi Dep. PU Secara harfiah, agropolitan artinya kota pertanian Pengembangan kawasan agropolitan merupakan salah satu model pendekatan pengembangan wilayah berbasis pertanian di wilayah perdesaan, yang dikembangkan secara sinergi oleh lintas departemen dan stakeholder terkait mulei dari tingkat pusat, provinsi, sampai ke tingkat kabupaten, Redaksi berkesempatan meninjau kawasan agropolitan Merapi = Merbabu, Kabupaten Magelang. Kawasan yang dikenal cukup balk dalam pengembangan agropoltan yang saat ini terblang ssukses dalam pemasaran di beberapa kota di Kalimantan seperti Pontianak, Banjarmasin, Kumai, dan Pangkalbun sudah mereka supply dengan komoditas hortikuitura, Secara teori, pengembangan kawasan agropoltan baru bisa dihat hasil idealnya setelah 25 tahun. Saat ini tantangan yang dinadapi pemerintah daerah adalah mengubah kultur masyarakat dari budi daya menjadi Kultur agroindustr, untuk mengolah hasil pertanian agar bernilailebi, Selain tentang agropoltan, redaksi juga menerima laporan hasil SSidang The 21st Governing Council of UN - Habitat di Nairobi, Kenya. Delegasi Indonesia terdiri dari unsur Departemen Pekerjaan Umum, Dep. Luar Negeri, dan Kementrian Negara Perumahan Rakyat. Program UN Habitat saat ini yang berkaitan dengan tugas Direktorat Jenderal Cipta Karya adalah menindaklanjuti_ Komitmen untuk meningkatkan penanganan permukiman kumuh bagi masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan. Saat ini juga terdapat peluang untuk mengusulkan bantuan pendanaan dari UN Habitat bagi penanganan air bersih dan sanitasi masyarakat di Indonesia, sehubungan dengan akan tersedianya dana Water and Sanitation Trust Fund bernilai US $ 20, Juni 2007 ini kita akan kenalkan virus komputer yang ssetiap detik mengancam kenyamanan dan keamanan kinerja komputer kita. Jadi simak saja, yal ‘Selamat membaca dan berkaryal Buletin GIPTA KARYA alah satu ide pendekatan pengembangan perdesaan yaitu mewujudkan keman- dirian pembangunan di perdesaan yang didasarkan pada potensi wilayah desa itu sendiri, Dengan demikian kelergantungan perekonomian desa kepada kota bisa diminimalkan. Karena itu, Friedman dan Douglass (1975), menyarankan suatu pendekatan agropolitan sebagai aktivitas Pembangunan yang terkon-sentrasi di wilayah perdesaan, Dari sisi akademis, mengem- bangkan desa dan kota harus satu kesatuan. Pemerintah juga sudah sejak lama mengenalkan nama-nama program seperti P2LDT, P3DT, KTP2D dan lainnya dengan ‘sentuhan dan eran yang berbeda, ada yang di bidang ekonomi, lingkungan, permo- dalan, sumber daya manusia, dan lainnya. Sedangkan agropolitan dikem- bangkan secara komprehensif dari hulu ke hilir, bagaimana petani bisa meningkatkan produksi, pengolahan hasil produksi dan pemasaran. Sebagai model pendekatan pengembangan wilayah berbasis Pertanian di wilayah perdesaan, agropolitan dikembangkan secara sinergi oleh lintas departemen dan stakeholder terkait mulai dari tingkat Pusat, propinsi, sampai ke tingkat kabupaten, Program ini dicanangkan pertama kali oleh Menteri Pertanian Bungaran Saragin dengan Menteri Permukiman 2 dan Prasarana_ Wilayah Soenaro pada tahun 2002. Dalam program ini seluruh aspek-aspek yang terkait dengan pengembangan agropolitan diharapkan dapat diintegrasikan secara simultan dan harmonis. Aspek tersebut bersifat multisektoral dari masing-masing departemen dan instansiterkait. Program ini bertujuan untuk me- ningkatkan kesejahteraan masya- rakat, sehingga untuk mencapai tujuan tersebut programnya dilaksanakan melalui program jangka pendek, mene- rngah, dan panjang. Stakeholder utama dalam pengembangan kawasan agro- politan adalah pemerintah daerah, sehingga peran pemerintah pusat adalah sebagai pendorong melalui pemberian dana stimulan yang diberikan selama tiga tahun anggaran berturut-turut, sesuai dengan lingkup tugas masing-masing departemen dan instansi terkait. Kawasan agropolitan_dicirikan dengan kawasan pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis di pusat agropolitan yang diharapkan dapat melayani kegiatan- kegiatan pembangunan pertanian di wilayah sekitarnya, Kebijakan pengembangan kawa- san agropolitan berorientasi pada kekuatan pasar melalui pemberdayaan masyarakat yang tidak saja diserahkan pada upaya pengembangan usaha budi daya (on farm) tapi juga meliputi pengembangan agribisnis hulu, yakni penyediaan sarana pertanian dan agribisnis hilir serta jasa-jasa pendukungnya Sedangkan untuk mengembang- kan kawasan agropilitan secara terintegrasi memerlukan penyusunan ‘master plan pengembangan yang akan menjadi acuan dalam penyusunan ‘Sanusi Sitorus(Kepala Satker P2S Agropolitan, Dien Cipta Karya) program. Master Plan mencakup antara lain penetapan kawasan agropolitan, penetapan_unit-unit kawasan pengembangan, penetapan ssektor unggulan, dukungan infrastruk- tur dan dukungan sistem, kelemba- gaan. ‘Master plan akan menjadi acuan Buletin CIPTA KARYA Berita Utama Sentra pemasaran produk pertaian Kab. Magelang l JLPerintis Kemerdekaan (Pontianak -Entkong "Kucing) masing-masing wilayah_propinsi Penyusunannya dilakukan oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat sehingga program yang disusun lebih ‘akomodatif. Master plan disusun untuk program jangka panjang, menengah dan pendek. Program jangka pendek memilih waktu antara 1-3 tahun yang bersifat rintisan dan stimulan, Dalam reneana jangka pendek setidaknya harus terdapat out line plan, matriks Kegiatan lintas sektor, penanggung jawab kegiatan dan rencana pembiayaan Penetapan lokasi kawasan agro- politan dimulai dari usulan penetapan Kabupaten oleh pemerintah propinsi, untuk selanjutnya oleh pemerintah Kabupaten mengusulkan kawasan agropolitan dengan lebih dulu melakukan identifikasi masalah dan potensi untuk mengetahui potensi komoditas unggulan, Potensi tersebut mencakup sumber daya alam, sumber daya_manusia, kelembagaan, iklim usaha, kondisi prasarana dan sarana dasar yang terkait dengan sistem permukiman nasional, propinsi_ dan Kabupaten. Karena program ini bersifat multi sektor dan multi departemen, lalu apa saja peran Dep. PU? Dep. PU selama ini identik dengan penyediaan infrastukturdasar. Mantan_ menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah, Soenarno, menyebut tiga tahapan Buletin CIPTA KARYA dukungan Dep. PU dalam program ini Pertama, dukungan diarahkan pada kawasan - kawasan sentra produksi, terutama pemenuhan kebutuhan air aku, jalan usah atani, pergudangan, sprinkle, jembatan desa, jalan poros desa, holding ground, dan lainnya. Kedua, dukungan diprioritaskan untuk meningkatkan nilai tambah dari pemasaran berbentuk produk primer menjadi produk olahan, baik intermediated product maupun final product sehingga dapat meningkatkan nilai tambah seperti packing house, tempat penjemuran, sarana industri kecil, penyediaan ‘air bersih, dan lainnya. Hal lain yaitu_ untuk mendukung pemasaran hasil perta- nian, sebagai upaya untuk menunjang pemasaran hasil yang dapat memperpendek mata rantai tata niaga perdagangan hasil pertanian, mulai dari sentra produksi sampai ke sentra pemasaran akhir (outlet) seperti pembangunan pasar dan kios-kios agro, Sub Terminal Agro (STA), ‘tambatan perahu, qudang, dan ainnya Tahap ketiga, diprioritaskan untuk meningkatkan_kualitas lingkungan Perumahan dan permukiman. Kepala Satuan Kerja Pengem- bangan Prasarana dan Sarana (P2S) Agropolitan, Ditjen Cipta Karya, Sanusi Sitorus saat diwawancarai_redaksi Buletin Cipta Karya awal Juni lalu menjelaskan, agropolitan memilki ELE pendekatan skala kawasan. Artinya, pengembangan kawasan agropolitan tidak terbatas pada wilayan admi- nistrasi seperti Kabupaten, kecamatan maupun desa, melainkan pada bidang ekonomi, mulai dari komoditas unggulan yang dimiliki kawasan tersebut, kemudian dikaji mulai dari penanaman budidaya, pengolahan hasil, dan kemudian dipasarkan. Dilihat dari hirarkinya, kawasan yang dikembangkan menjadi agropo- litan ada yang bersifat_nasional, regional, dan lokal. Skala_nasional contohnya kawasan agro di Magelang yang pemasarannya sudah sampal Pontianak, Banjarmasin, dan kota di luar jawa'lainnya. Kawasan agro di Cianjur bersifat regional karena produknya baru mencapai kota di satu propinsi dan Jakarta. ‘Kita. tidak memerlukan banyak lokasi karena skalanya adalah kawasan,” ungkapnya. Agropolitan_memiliki semangat yang sama dengan program-program pemberdayaan masayarakat di perdesaan yang lain. ‘Di Indonesia ada ssekitar 66 ribu desa. Dalam Rencana Strategi Departemen PU ditetapkan 235 kawasan pengembangan agropolitan.”jelas Sanus Setiap kawasan mendapat anggaran sebesar Rp. 1,5 miliar per tahun dalam bentuk dana_stimulan selama tiga tahun. Dana_stimulan hanya diberikan kepada daerah untuk percontohan bagi Pemda, Sejumiah 235 kawasan tersebut tersebar di 32 provinsi (OKI Jakarta tidak termasuk). Secara nasional, kawasan agropolitan dikembangkan dalam jangka panjang dan implementasinya dalam jangka menengah dan tahunan. Karena keterbatasan pendanaan pemerintah yang hanya bisa memberikan dana stimulan, dalam tiga tahun sudah harus terbangun infrastruktur dasar untuk memudahkan bergerak. Jika sudan running, dinarapkan mereka bisa secara mandiri mengembangkan. Agropolitan secara tak langsung menuntut pemerintah untuk memberikan percontohan karena pemerintah pusat tidak melayani semua kawasan. Sanusi menekankan bahwa pemerintah tidak merespon Pemda Yyang project oriented, Pasalnya, dalam beberapa fakta yang ada banyak 3 Eee Pemerintah kabupaten yang bisa mengembangkan agropolitan tanpa dana stimulan pemerintah pusat yaitu dengan keswadayaan dan kemandirian sendir. Lebih lanjut Sanusi menyatakan, Pemilihan kawasan agropolitan adalah kawasan yang menjadi andalan nasional dan hal ini menjadi strategi pengembangan kawasan, “Kita akan kaitkan dengan kawasan-kawasan yang disusun Ditjen Tata Ruang, kawasan mana saja yang menjadi andalan nasional di mana ada sentra produksi dan mengarah pada kawasan-kawasan yang telah dirintis, oleh departemen-departemen lain, seperti yag ada di Departemen Transmigrasi, kawasan pengem- bangan agro marin milik Departemen Kelautan dan Perikanan, atau Kawasan Cepat Tumbuh milik Bappenas. Semua kita arahkan untuk mendukung pengembangan kawasan agropolitan agar yang kita tangani sudah ada simpul-simpul_pertum- buhannya. Hal itu dimaksudkan agar kawasan yang memiliki simpul pertumbuhan tersebut ketika dibangun bisa menetes ke hinterlandnya,” ujarnya, Dengan dibangunnya infrsatruktur yang kasat mata oleh Dep. PU Menciptakan anggapan bahwa peran Dep. PU itu Jeading (unggul) dibanding yang lain, Sanus! Sitorus buru-buru menampik anggapan itu. Menurutnya, kesan leading pada peran Dep.PU disebabkan karya Dep-PU yang kasat mata, berbeda dengan karya departemen lain yang tidak kasat mata, misalnya kelembagaan, peningkatan keterampilan petani, dan lainnya walaupun tidak kalah pentingnya. Persoalan lain, ketika sudah terbentuk kawasan agropoltian adalah membangun sinergi di kawasan tersebut, jangan sampai_terjadi Persaingan yang saling mematikan di antara daerah dalam satu kawasan. Secara nasonal harus ada pengkru- cutan wilayah atau propinsi mana yang menjadi kawasan unggulan produk hortikultura, peternakan, harus ada pemetaan ‘produk-produk komoditas Uunggulan ditiap kawasan. Setlap kawasan juga bisa jadi memiliki karakteristik berbeda dalam fokus pengembangan, tergantung pada embrio yang sudah ada atau 4 kondisi dan potensi lokal. Contohnya kawasan Merapi - Merbabu di Magelang yang berfokus pada pemasaran, Kab. Wonosobo dengan fokus pengolahan salak menjadi kripik Kawasan agro di Magelang sudah ber skala nasional dengan volume produk pertanian yang melimpah. Sehingga jika diolah sendiri akan kerepotan, dan barang akan bergerak lambat. Harapan ke depan adalah _produk pertanian ini dapat diolah sendii selain yang dijual langsung, Pembiayaan pengembangan kawasan agropolitan membutuhkan biaya cukup besar dan multiyears sehingga perlu didukung bersama antara pemerintah pusat dan daerah yang diwujudkan dalam bentuk nota kesepahaman bersama. Dukungan pemerintah pusat bersifat stimulan dan disesuaikan dengan tingkat perker- Tie alan Poros De: Merapi- Merbabu — Produk unagulan berupa sepi potong di holding ‘ground (kandang bersama) i Banyuroto Kab. Megalang, salah sani Konsep pengembangan awasan agro Meropi-Merbabu, Jawa Tengah ECMO bangan kawasan, yang dilaksanakan selama tiga tahun berturut-turut, untuk selanjutnya dikembangkan secara mandiri oleh Pemda dan masyarakat. Pembangunan kawasan_per- desaan tak dapat dipungkiri merupakan hal yang mutlak dilakukan, Hal itu didasari bukan hanya karena ketimpangan antara kawasan perdesaan dengan perkotaan, melainkan juga karena tingginya potensi di kawasan perdesaan yang mampu dimanfaatkan untuk mendorong pembangunan di daerahnya. Pengembangan kawasan agropolitan menjadi penting dalam kontek pengembangan wilayah mengingat beberapa hal. Pertama, kawasan dan sektor yang dikembangkan sesuai dengan keunikan lokal. Kedua, pengembangan = = fot bangun oleh Satker P2S Agropoltan dengan APBN TA 2007 di kawasan agro awasan agropolitan dapat mening- katkan pemerataan mengingat sektor yang dipiiih merupakan basis aktifitas, masyarakat. Ketiga, keberlanjutan pengembangan kawasan dan sektor menjadi lebin pasti mengingat sektor yang dipitih_ mempunyai keunggulan Kompetiif dan komparati dibanding- kan dengan sektor lainnya. Keempat, dalam penetapan pusat agropoltan terkait dengan sistem pusat-pusat nasional, propinsi, dan kabupaten (RTRW propinsikabupaten) sehingga dapat_menciptakan pengembangan wilayah yang serasi dan seim- bang.()Redaksi Buletin CIPTA KARYA eM Ly Pengembangan Kawasan Agropolitan Provinsi Jawa Tengah Membangun Kota CMe Mek mcaelale lal aaa eigen eae M pengembangan,kawasan Reronsnanal meee Kerja (Pokja) Provinsi Jawa Tengah renga keaton moncreukan pel saciiee aan deanery GManorandong. Tate. Ruang. Ble Gpanat Tacoty neiopeen bra multsoteves Berek pihek yang foroat i dalgmave, Seaut “alg Departemen Pekerjaan Umum, Dasaten Parana” Doparoman Penadeavian, calannya, tsenng potent angler lanes atasoat Tal tsa Kepala Sb Dinas pravaraa’ Permanimen. Dinas SCO ae lauaBroreatsoneraagomee “Replion adion program states ease uaeleman evap onsen Rae ies ceTmnpe anes sc Peseta eed uenoy eee agropolitan yang direncanakan,-red) tidak masuk kemana-mana sehingga serba salah, salah menurut planning tapi benar menurut fakta di lapangan,” tuturnya pada redaksi Konsep agropolitan di Jawa Tengah menurut Gunadi, atau yang akrab dipanggil Pak Andi, tidak given dari pusat namun melalui proses pengkajian lokal karena harus dikombinasikan dengan kultur dan potensi lokal. Pada awal dikenalkan, hampir semua kabupaten minta dikembangkan menjadi kawasan agropolitan, namun kebanyakan orientasinya hanya ingin dapat bantuan dari pusat. Harusnya menurut Gunadi, usulan_tersebut merupakan suatu gerakan dari bawah kemudian dikaji dan planningnya dibantu Pokja Propinsi ‘Keinginan boleh-boleh saja, tapi jangan membabi buta. Keinginan beda Tabel 1. Nama-nama kawasan pengembangan agropolitan di Jawa Tengah Penrericis ‘Semarang Pemalang Wonosobo Batang Magelang Purbalingga Karanganyar Buletin CIPTA KARYA Kawasan Agro Bandungan Kawasan Agro Waliksarimandu Kawasan Agro Rojonoto Kavasan Agro Sorbanwali Kawasan Agro Merapi ~ Merbabu Kawasan Agro Bungakondang Kawasan Agro Suthomadansin Biaya (000) 2.993.604 3.904.118 3.648.767 801.089 1.728.000 680.000 554.000 .14,306.578 i a dengan kebutuhan, jika semua ke-inginan dituruti yang terjadi adalah ‘ekonomi biaya tinggi tapi manfaatnya nol, tukasnya, Contoh lain ditambahkan_ Bambang Dwi Haryanto (PPK Agropolitan Jawa Tengah), pembangunan jalan usaha tani juga perlu mepertimbangkan_ke depannya. Dia menyebutkan kasus di kawasan agropolitan di Sutomadansih (Kec Suku, Ceto Tawangmangu, Karang- pandan, Matesih) di Kab, Karanganyar. Atas usul Pemerintah, masyarakat merelakan sebagian ruas, lahannya untuk dibangun Dharma Guna, Kepata Sub Dinas Prasarana ermukiman, Dinas Permukiman dan Tata Ruang, Prop. Jaton. jalan usaha tani. Sebelumnya, masyarakat kesulitan mencari pupuk, sehingga terjadi gap harga yang tinggi dari _kecamatan hingga desanya. Dengan adanya jalan usaha tani yang sengaja tidak diaspal, harga pupuk pun jadi seragam, Gunadi_menyatakan, pemerintah provinsi berharap jika memang peme- Tintah kabupaten berminat terhadap agopolitan, maka harus ada tokoh- tokoh berpengaruh yang memiliki kemampuan menggerakkan. Selain itu harus ada komitmen bupati dan dewan, Bersambung ke hal.20. 5 cnt cara dengan’ Ka. Biro Perekonomian rah Provinsi Jawa Tengah,Aris Budiono, Liputan Khusus atu perintis program agropolitan di Jawa Tengah) ‘agi daerah yang sudah melewati masa perintsan selama tiga tahun pertu dievaluasi. Selain untuk lebih rmengembangkan Kawasannya, daerah ini juga bisa member contoh kepada yang lain agar sebaran agropolitan di «Jawa Tengah lebih merata, Satu lagi, perlu pendekatan sosiokultur dalam pemberdayaan masyarakat. Langkah panjang peru didukung semua pihak. Berikut adalah wawancara dengan Aris Bagaimana pendapat Bapak tentang program pengembangan kawasan Agropolitan, bagaimana penerapannya di Jawa Tengah? Program agropolitan menjadi pilihan alternatif yang ideal untuk membangun pertanian dalam arti luas. Karena agropolitan memiliki dua pendekatan, yaitu pembangunan pertanian dan pendekatan pengembangan wilayah. Pendekatan pengembangan wilayah diujicobakan dalam bentuk pilot-pilot program seperti itu, seperti pada awal tahun 1980an ada Deskot (Desa-Kota,-red), kemudian ada Kawasan Sentra Produksi (KSP), ada juga pengembangan wilayah kecamatan, ‘Agropolitan di Jawa Tengah yang dimulai sejak taun 2003 sejalan dengan kebijakan pemerintah provinsi, yaitu pengembangan wilayah yang kemudian disempumakan menjadi Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK). Dan sebetulnya, model-mode!_pengembangan wilayah seperti itu sudah menunjukkan hasil yang maksimal. Karena dari mulai perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pengembangannya melibatkan semua stakeholder yang real ‘Apa yang perlu ditekankan dalam pelaksanaan program ini? Yang penting dalam pengembangan wilayah adalah komitmen untuk menunjukkan hasil yang lebih baik. Komitmen tidak bisa hanya dilakukan kalangan bawah, melainkan dari tingkat atas, mulai dari pimpinan daerah. Contoh kongkret di Pemalang, komitmen pimpinan daerah begitu tinggi dan didukung oleh Pokja (Kelompok Kerja -red) di bawahnya untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa agropolitan merupakan pilihan yang ideal dan didasari oleh masterplan. Kedua, kemampuan koordinasi. Koordinator memiliki peran penting. Di Jawa Tengah koordinatomya adalah Pokja yang diketuai oleh Bappeda, Kedepan yang perlu diperhatikan dalam evaluasi agro adalah yang berkaitan dengan teknologi pasca_panen. Karena, teknologi itu sebuah upaya untuk meningkatkan nilai komoditas. Contohnya, Pemalang dan Magelang sudah mengupayakan bagaimana mengemas komoditas dengan mengikuti standar. Yang lebih penting lagi adalah pemasaran. Jangan sampai bermain di pasar tapi kualitasnya gak bisa bersaing Bagaimana caranya? Kita harus menentukan produk unggulan. Saat itu terjadi diskusi panjang antara Tim Teknis Provinsi dan petani Langkah itu dikkuti dengan pendekatan Agro Ecology Zone yang sudah dibuktikan di Waliksarimadu, di mana komponen alam sangat berpengaruh pada vegetasi tanaman. Pemalang dan Magelang perkembangannya luar biasa. Bahkan pemalang sudah bisa memenuhi kebutuhan Jakarta akan holtikultura. Semenatara Magelang mampu bekerjasama dengan Kalimantan Barat (Pontianak) untuk mensuplai komoditas sayur. Magelang mampu bersaing di tengah serangan produk horikultura dari China di Kalimantan Bagaimana peran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam pengembangan kawasan agropolitan? Tahun 2006, Pemprov bersama Pemkab dan swasta ingin memfasilitasi kawasan agropolitan. Kita menawarkan ke beberapa provinsi untuk membuka pasar dengan pola kerjasama. Misalnya, dengan kawasan Merapi Merbabu, Magelang, dengan Pasar Sewukan yang sudah memilki pasar lintas kota dan termasuk pemasok kebutuhan pertanian tingkat grosir. Pemprov melalui Pokja sejak awal sudah terlibat dalam Buletin CIPTA KARYA Payee ee Perencanaan. Ada satu forum pembahasan masterplan secara formal dikelola oleh Bappeda. Kemudian masing- masing kabupaten diberikan sharing anggaran dari provinsi yang sifatnya berianjut tapi tidak sebesar awal. Apakah selama ini sudah ada evaluasi terhadap pelaksanaan program agropolitan di Jawa Tengah? Harusnya sudah ada evaluasi untuk Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Semarang. Mereka adalah yang pertama di Jawa Tengah dan sudah melewati masa perintisan tiga tahun. Evaluasi tersebut_menyangkut masterplan mereka. Jangan dilihat secara fisik saja, tetapi dievaluasi untuk pengembangan agropolitan ke depan Dengan evaluasi tersebut diharapkan bisa disusun manajemen pengembangan kawasan agropolitan di Jawa Tengah. Contohnya, pada saat membuat masterplan ada komoditas yang sama antara dua daerah, seperti cabe merah yang dihasilkan oleh dua daerah yaitu Magelang dan Pemalang. Secara regional jangan sampai komoditas ini over supply, artinya jangan sampai ada satu produk yang tidak tertampung di pasar. Selain itu mungkin juga bisa ‘mengevaluasi pola tanam yang akan memengaruhi kuantitas ddan kualitas produk sesuai tuntutan pasar. Pergantian musim seringkali menjadi kendala untuk memenuhi permintaan pasar. ‘Apa yang sedang diupayakan sekarang? Salah satunya adalah peningkatan hasil pasca panen DI JAWA TENGAH KAWASAN AGROPOLITAN WALIKSARIMADU 72003-2005 KAWASAN AGROPOLITAN LARANGAN 42008-2010 KAWASAN AGROPOUITAN ROJONGTO ‘2008-2006 AGROPOLTAN JARABAYA ‘x2008-2010 CIPTA KARYA Ted yang sedang diusahakan oleh kelompok-kelompok Prima Tani i 16 kabupaten. Terkait manajemen kawasan agro Jawa Tengah, Pokja Provinsi tahun ini sedang mengusahakan adanya show room di Pantura (lokasi di Kabupaten Batang) dan jalur selatan (berlokasi di Kabupaten Magelang). Show room untuk memasarkan produk - produk agropolitan dengan label Jawa Tengah, tidak lagi atas nama kawasan tertentu. Selain itu, dengan adanya jalan tol Semarang - Solo nantinya juga bisa dimanfaatkan rest area yang ada untuk promosi. ‘Apa saja kendala yang dialami dan bagaimana harapan ke depan? Kalau kendala pada umum- nya bisa direduksi karena adanya upaya Komunikasi antar stake- holder yang intensif. Jika mau jujur, yang pertama kita _kekurangan pendampingan. Kedua, kurang evaluasi oleh pihak pembuat masterplan dengan ‘melibatkan ahli pertanian. Ketiga, pendekatan sosiokultur dalam membangun pemberdayaan masyarakat yang tidak ada batasnya. Dalam mengevaluasi misainya, jangan hanya dievalu- asi produk jagung dulunya sekian ton kenapa sekarang jadi turun? Karena dalam agropolitan yang paling penting adalah pember- dayaan masyarakat. Selain kendala di atas, kita juga perlu memperhatikan pendekatan fisik, contohnya_membangun pasar harus ada embrionya, salah jika tidak ada. Untuk memberdayakan masyarakat diperlukan_pening- katan pola pendampingan agar memungkinkan percepatan karena berkaitan dengan akses informasi dan komunikasi (Redaksi KAWASAN AGROPOLTAN ‘CANDIGARON "ra2003-2005, aN AGROPOLITAN ANSI 7 ywasan Pengembangan (se, Merbabu, Magelang == ; ae Industri Rereume eu cule toma alam yang tngkap Acie Kesolukannya, langsung menyapa Tim Redaksi sont malas! Kewasan perianal toreng. Merspl sen Merbabu. Kedua gunung terbesar di Nowa, Tengah its membagl ta Kekayasnre untuk” penduk Kevatar” Hagen bang, oerada pada keunggan” 502600 meter a Sesperntaan at on) Rewesan, agropalian, Merapl Mebabu dtonal anf pine sooega seescyana pan hak oso regen Posts iy Bune ton sla Pekan aar“nanng, nampa, poss dacezh ‘ang digeal-donpar Cand Sercbudlenta sidan membuctkan bats kaweannga nye dbet pln Tobin: engan “idee bermskeud mmembuat penggsiongan, Redks Deskocempstanseenguung Kewacen pauuiemenburteen Rionurt angges Relopok Ker Agropalan. Rebopaten” Mogelsns Seeizen oa ge tahap “poner: banganckenosl a Rabupsion Piageong Penama, perrion” yang adkung naa hu yang boaocs Untuk Shavemeda angen Kedva, pertanian didukung agroindustri_ber- tujuan meningkatkan pen-dapatan. Ketiga, pertanian tangguh industri maju, bertujuan meningkatkan kesejahteraan Selama ini menurut Soekam, aktifitas pertanian dilakukan secara massal, dan tidak fokus. “Ketika Pemkab mulai_ fokus ‘membangun sentra sayuran di Ngablak, dari Dinas PU malah memba-ngun jalan dilokasi lain yang akhimya tidak sinerai Karena itu kami tertarik dengan konsep yang ditawarkan agropolitan," ucap ‘Soekam. Dengan adanya agro, sentra- sentra unggulan sudah mulai nampak dan fokus. Sebab dengan spesialisasi, orang akan semakin mahir, dan pada gilirannya produk makin efesien dan ‘makin bisa bersaing di pasaran Soekam menambah-kan, ada tiga tahapan dalam masterplan agropolitan di Kabu-paten Magelang. Pertama, pengem-bangan kawasan dengan memperkuat budi daya dan pasca panen. Kedua, agroindustri untuk meningkatkan nilai tambah, Namun agroindustri tak bisa berjalan jika sentra produksinya belum baik. Ketiga menjadi pusat kegiatan ekonomi. Jangan hanya PeTeTOLC TUM Cee ‘menjual produk segar ke luar, tapi ke depannya orang luar lah yang akan datang untuk mencari kebutuhannya di kawasan agropolitan Merapi Merbabu, Kawasan agropolitan Merapi Merbabu yang juga dikenal kawasan \Waliksarimandu (singkatan dari nama- nama kecamatan sebagai_hinter- landnya) memiliki luas 32.502 ha Pusat agropolis terletak di kecamatan Dukun bagian atas (Dukun Sewukan) dengan hinterland tersebar di Kecama- tan Sawangan, Pakis, Candimulyo, Tegalrejo, Ngablak dan Grabag. Pola penggunaan tanah di kawasan Agro Merapi-Merbabu membentuk pola penataan ruang yang mencerminkan keterpaduan antara aktivitas manusia, jenis usaha dan kondisi fisik. Penggunaan lahan sebagian besar_antara lain untuk sawah seluas 6.783 (25,55%), untuk bangunan dan sekitarya seluas 5.968 ha (17.67%), tegalan/kebun seluas 20.607" (60,13%), sisanya adalah tanaman kayu, hutan negara, perkebunan negara, dan kolam. Berdasarkan data tahun 2002 tercatat bahwa kawasan agropolitan Merapi- Perey Sentra pembeninan bibit kawasan agropolian Merapi - Merbabu CIPTA KARYA eee Merbabu_memiliki jumlah penduduk sebesar 290,533 jwa. Kawasan agropolitan Merapi Merbabu yang terietak di witayah timur Kabupaten Magelang didominasi oleh sayuran dataran tinggi. Secara kuantitas, potensi pertanian yang dikembangkan sebagai komoditas unggulan adalah cabe, tomat, kubis krop, dan buncis prancis. Potensi pertanian yang dikembangkan adalah buah-buahan seperti jeruk keprok grabag, jeruk manis, klengkeng, durian, dan duku. Palawija antara lain jagung, ketela rambat, dan ketela_pohon. Sayuran antara lain adas, asparagus, wortel, buncis, daun bawang, dan kapri Peternakan terdiri dari sapi potong dan sapi perah. Perkebunan terdapat kopi cengkeh, dan kapulaga, Sementara tanaman hias terdapat sedap malam, krisan dan lainnya. Yang perlu dicatat, kawasan ini mampu memproduksi komoditas unggulan sepanjang tahun, Perkembangan agribisnis kawasan Di kawasan agro Merapi Merbabu, hampir seluruh aktivitas ekonomi masyarakat berkait dengan sektor pertanian. Pasalnya, selain potensi Jahan dan peluang, budaya masyarakat yang telah mendarah daging juga ikut memengaruhi. Usaha lain di luar Pertanian kurang berkembang karena masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, “Inilah yang menjadi kendala utama selama ini. Paling sulit mengubah kultur masyarakat yang belum mau menerima perubahan dar kultur budi daya menjadi kultur agrobisnis untuk mendapat rilai tambah,” kata Soekam. Kondisi pengembangan agropolitan di kawasan Merapi-Merbabu berdasar- kan laporan evaluasi Satker Pengem- bangan Prasarana dan Sarana ‘Agropolitan, Ditjen Cipta Karya, hingga tahun 2006 memperlihatkan catatan Pertama, dari sub sistem hulu. Benih, pupuk, pestisida, mulsa dan sebagainya Untuk budi daya tanaman lebih dari 90% masin produk pabrikan dan impor dari luar daerah, Penyediaan masih terpusat di kios pertanian tingkat kecamatan, sehingga harganya mahal. Penyediaan teknologi budi daya mulai dapat disediakan secara lokal oleh petani pelopor bagi petani yang mau bergabung dalam asosiasi atau kelompok tani. Permasalahan yang CIPTA KARYA dihadapiantara lain sedikitnya produsen bibit bermutu, kekurangan alat produksi, pupuk, dan pestisida organik, jaringan dan modal pengecer pupuk /saprodi kurang, Kedua, sub sistem budi daya Secara teknis petani telah cukup menguasai teknologi produksi. Kele- mahannya terletak pada pengaturan jadual panen yang kontinyu. Hal ini disebabkan antara lain karena lemahnya kelemba-gaan petani yang belum optimal mengorganisir_ang- gotanya, masih lemahnya kemitraan dengan ‘pelaku pasar dan lemahnya regulasi Pemda. Ketiga, sub sistem hilir, Kurang dari 5% desa dan masyarakatnya mela- kukan kegiatan pengolahan_hasil pertanian dalam rangka meningkatkan nilai tambah. Sebagian produk yang dihasilkan masih dijual langsung ke pasar dalam bentuk primer dari kebun/kandang. Pengolahan limbah ternak untuk pupuk organik yang bermutu dilakukan oleh kurang dari 5% petani/kelompok tani. Rantai pemasa- ran yang ada adalah petani produsen individual pedagang pengumpul desa - pedagang pengumpul kecamatan pedagang besar di kota pengecer konsumen. Keempat, sub sistem jasa pendu- kung. Regulasi baru dilakukan secara SS eee Bambang Dwi Haryanto, PPK Agropoltan Prop. Jawa Tengah, parsial terhadap pelaku usaha tani dari ‘masing-masing sub sistem. Misalnya, eraturan pengusahaan benih, ijin perdagangan pupuk, pengendalian stok pupuk, pengaturaniijin pengusahaan alat pengolahan hasil. Regulasi yang mengatur kawasan/sentra komoditas, luas panen dan proses produksi belum dilakukan, fasilitasi_ modal terhadap pengembangan agribisnis sudah mulai dilakukan pemerintah, utamanya pada sub sistem produksi, Sementara itu untuk sub sistem agroindustridilakukan dalam bentuk alat pengolahan_hasil serta bantuan promosi. Sedangkan ‘Anoka produk unggutan pada kelembagaan, kawasan agro Merapi-Merbabu sudah didukung pasar desa sebanyak 4 unit, BRI Unit Desa 7 unit, BPP 7 unit, dan koperasi 42unit. Input Program pembangunan kawasan agropolitan Merapi_ Merbabu dimulai pada TA 2004 - 2006 dengan input kegiatan berupa sharing dana APBD | (17%), APBD Il (35%) dan APBN (48%) dengan total alokasi dana sebesar Rp. 3.539,110.550. Peran_pemerintah daerah dalam sharing APBD II sangat besar menandakan kepedulian yang tinggi Pemkab setempat terhadap kawasan agropolitan. Komitmen peme- rintah kabupaten dilanjutkan pada tahun kedua melalui dana APBD | dan Il, pada tahun ketiga masih berlanjut komitmen pemerintah kabupaten melalui Departemen Pekerjaan Umum dan terlinat konsisten dan meningkat dari tahun ke tahun dengan total sstimulan Rp 1.703.700.000. Output Pembangunan oleh Pemerintah Daerah (Dana APBD | dan il) di antaranya, pertama, menunjang peningkatan produktivitas. Pelayanan IB dan Keswan Sapi, Pengembangan Pembi-bitan Kentang, Pengembangan Wortel Hibrida, Pengembangan Sentra Cabe, Pengembangan Sayuran Cabe organik, sentra jeruk keprok, sentra durian, sentra klengkeng, peningkatan ‘mutu intensifikasi padi, jagung hibrida, dan padi organik Kedua, menunjang hasil pengola- han. Pengembangan agribisnis. sapi potong, pengembangan agribisnis Jjeruk garabak, pengembangan agribis- nis bunga potong. Ketiga, menunjang pemasaran hasil. Keempat, pemba- agunan jalan poros desa. Kelima, non fisik antara lain melalui pembentukan Asosiasi Agribisnis, Penyuluhan Diver- sifikasi Usaha Tani dan Sentra Produk- penguatan asosiasi dan promosi produk, sosialisasi_pengembangan agropolitan, pembinaan penanganan kehilangan’ hasil, pembinaan usaha sarana produksi pertanian, temu usaha kemitraan, dan pembinaan kelemba- gaan pemasaran hast. ‘Sementara_pembangunan yang dilakukan oleh Dep. PU (Dana APBN) antara lain, pertama, menunjang -Kunjungan Staf Ani Menter, Sugimin Pranoto, ke STA Sewukan, Megelang 10 erm ected peningkatan_produktivitas dengan ‘membangun jalan usaha tani. Kedua menunjang pengolahan hasil dengan membuat sarana composting 1 unit. Ketiga, menunjang pemasaran hasil dengan membangun Sub Terminal Agropolitan (STA) 2 unit, penyempur- aan STA Sewukan dan pembuatan ‘STA Ngablak, dan peningkatan jalan masuk ke STAsepanjang 250 meter. Dari usaha keras itu mulai nampak hasil yang dapat dilhat dari mening- katnya kemampuan SDM petani dalam pengelolaan sistem agribisnis, tersedianya tempat _penampungan hhasil pertanian sehingga menjamin ketersediaan dan kualitas produk, terbukanya akses transportasi dari kawasan sentra produksi ke lokasi pemasaran sehingga mempermudah pemasaran hasil, dan tercipta mekanis- me pemasaran berupa transaksi barang dari petani ke pembeli melalui pasar. ‘Sementara imbas dari pengem- bangan agropolitan dikawasan Merapi Merbabu. antara lain mendorong perputaran ekonomi antar kawasan, menurunkan tingkat_pengangguran, meningkatkan pendapatan petani, pengelola dan Pendapatan Asli Daerah (PAD), mengurangi arus_urbanisasi dengan adanya kegiatan home industri di kawasan agropolitan, serta efesiensi waktu sehingga aktifitas sosial petani dalam sehari bertambah, Selain itu, impact dari pengem- bangan kawasan agropolitan Merapi - Merbabu ini juga dapat membuka pasar di luar kawasan regional {(provinsi). Contoh, Pokja Kabupaten Magelang_memfasiltasi_pembukaan pasar di Pontianak dan rencana di Pangkal Pinang, Pangkal Bun dan Balikpapan. Menurut Pejabat Pembuat Komit- men Agropolitan Provinsi Jawa Tengah, Bambang Dwi Haryanto rencana ke depan dengan berkem- bangnya pasar di kawasan regional (provinsi) Jawa Tengah, pemerintah provinsi berniat lebih giat lagi mempromosikan hasil produksi dari pengembangan agropolitan di kawa- san wisata Borobudur, membuka showroom di jalur pantura dan jalur utama propinsi lainnya, Pembangunan jalan tol Semarang - Solo juga akan dimanfaatkan dengan membuka ruang promosidirest are tol.()Redaksi CIPTA KARYA Pe) ‘ar sere kanar: Dono (Pengeban Pasar Savor), Soekam (Pos Ago Mopar) DDiona, dan Bambang DH (PPK Agro Jawa Tengah) ‘TA Sewukan dibangun dengan APBN TA 2006 dengan fasislitas area bongkar muat 700 m2, area parkir 2000 m2, 4 kios saprodi, 60 kios sembako, 2 toko besi, 12jasa timbangan, 12 warung makan, 1 kantor pengelola, mushola, dan’lainnya. Sebelumnya, pada TA 2005 sudah dibangun area transaksi dan bongkar muat, jalan masuk dan lahan parkir, serta bangunan composting dengan dana Rp. 1.050.000.000. Dari APBD li, TA 2005 juga dibangun sarana penunjang seperti drainase dan talud pengaman dengan dana sebesar Rp.225 juta. Selanjutnya pada TA 2006, Pemerintah menyempuriakan STA Sewukan dengan menambah fasilitas ‘sepertikantor, musholla, jalan masuk utara dan pintu gerbang utama, Kepala pengelola STA Sewukan, Diyono, mengaku bangga dengan terwujudnya STA itu. Mantan Kepala Desa Sewukan itu menjelaskan, sebelum dibangun STA Sewukan banyak masyarakat setempat yang menjadi “boro” (urban) ke kota-kota lain. Namun secara perlahan mereka kembali dan masyarakat lainnya yang berpotensi menjadi boro pun akhirnya bisa dicegah. Sebelum ada STA, masyarakat desa yang menjadi boro berjumlah 261 KK dari 512 KK yang ada di Desa Sewukan kini menyusut menjadi 89 KK yang masih boro. Tak lain karena STA Sewukan, menjadi denyut nadi perdagangan komoditas sayuran dataran tinggi di Kabupaten Magelang secara keseluruhan, meskipun lokasinya di desa. Dengan lebih dari 200 pedagang di STA tersebut berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat setempat karena serapan tenaga kerja yang tak ssedikit. “Tiap bulan kami mampu menyumbang PAD ke pemerintah Kabupaten Rp. 1 juta sampai Rp. 1,5 juta atau 20% dari pendapatan kami yang bersumber dari retribusi pedagang, toko, kios, tukang parker dan lainnyya, ujarnya semangat. Tiap mobil pengangkut dikenakan tarif Rp. 3000 sekali angkut. Sementara seharinya sekitar 80 mobil angkut masuk STA, ‘Sementara Yanto (47), pedagang pengumpul di pasar sayur Sewukan tak mau ketinggalan komentar STA Sewukan. Pria yang sudah lima tahun berdagang sayuran tersebut mengaku adanya perbedaan mencolok antara sebelum dan sesudah dibangunnya STA Sewukan. “Sebelumnya, jumlah Pedagang terbatas karena harus mengantri los yang ada, waktu yang terbatas karena antrianpun mengakibatkan jumlah komoditas yang diperdagangkan sedikit,” kata Yanto yang menyewa los Rp. 5000 per bulan sebelum ada STA. Hal senada juga diakui Eko, Suhadi, dan Atun yang saat ditemui redaksi sedang menunggu mobil pengangkut untuk membawa barang dagangannya ke Jakarta, PPK Agropolitan Jawa Tengah, Bambang Dwi Haryanto menambahkan, STA Sewukan dibangun atas keluhan masyarakat dan pedagang di Pasar Sewukan agar dagangannya aman dari hujan dan kurangnya kesemrawutan pasar yang dibangun oleh masyarakat setempat, bukan dibawah Dinas Pasar. STA Sewukan dengan Penyempurnaannya mampu menjawab keluhan masyarakat dan pedagang disana.()Redaksi et ¢ PTA KARYA i tempat Iain, tepatnya di kawasan STA Ngablak, Djoko (27) melengkapi cerita sukses pedagang di STA Sewukan. Ayah satu anak itu mengaku sudah menembus pasar hingga ke Kalimantan seperti kota Banjarmasin, Sampit, dan Kumal, Dalam sepekan Djoko mengirim barang ke Kalimantan sebanyak tiga kali. Sekali kirim berumlah 12 ton dengan kompsisi komoditas antara lain kubis, labu siam, wortel, ‘tomat, bunga kol, dan lainnya dengan tetap menjaga kualitas barang, contohnya kubis