You are on page 1of 37

No.

Urut : 12246 / 1008 / D / 2008

PERENCANAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH


DOMESTIK KOTA PALEMBANG

TUGAS AKHIR
Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Oleh:
Muhammad Sonny Abfertiawan
NIM 15304029

Program Studi Teknik Lingkungan

Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan


Institut Teknologi Bandung
2008

LEMBAR PENGESAHAN

Tugas Akhir Sarjana

PERENCANAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH


DOMESTIK KOTA PALEMBANG
adalah benar dibuat oleh saya sendiri dan belum pernah dibuat dan diserahkan
sebelumnya baik sebagian ataupun seluruhnya, baik oleh saya maupun orang lain,
baik di ITB maupun institusi pendidikan lainnya.

Bandung, 26 September 2008


Penulis,

Muhammad Sonny Abfertiawan


NIM 15304029

Bandung, 26 September 2008


Pembimbing

Dr-ing. Marisa Handajani


NIP 132172214
Mengetahui:
Program Studi Teknik Lingkungan
Ketua,

Ir. Agus Jatnika Effendi, Ph.D


NIP 132061764

ABSTRAK
Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat (2,13% tiap tahun) dan didukung
dengan peningkatan di sektor pembangunan perekonomian telah memicu terjadinya
perubahan terhadap kualitas lingkungan di Kota Palembang. Salah satu permasalahan
yang akan dihadapi ialah peningkatan jumlah timbulan air buangan domestik. Selama
ini sarana pembuangan air limbah domestik yang ada berupa pemakaian tangki septik
bahkan ada yang langsung dibuang begitu saja ke saluran drainase atau langsung ke
badan air penerima yakni Sungai Musi. Perilaku ini akan berpotensi untuk
menurunkan kualitas lingkungan.Oleh karena itu, diperlukan suatu instalasi
pengolahan air limbah (IPAL) domestik terpusat. Melalui sistem pengelolaan ini
diharapkan akan mengurangi beban pencemaran yang terjadinya bada air Sungai
Musi. Direncananakan IPAL akan melayani hingga 70% total populasi pada tahap II
dengan debit mencapai 1,373 m3/detik. Jumlah penduduk akan diproyeksikan dengan
menggunakan metode logaritmik, diperoleh sebesar 1.052.722 jiwa pada tahun 2028.
Parameter utama yang diolah pada IPAL ini adalah BOD5 dan TSS sesuai KepMenLH
No.112 tahun 2003, yakni BOD5 sebesar 273 mg/l dan TSS sebesar 248 mg/l. Sistem
IPAL yang akan digunakan ialah pengolahan fisika dan biologi dengan kapasitas
maksimum pada Tahap I yakni 1,114 m3/detik dan Tahap II sebesar 2,279 m3/detik.
Dalam pengolahan biologi terdapat beberapa sistem unit yang akan dijadikan
alternatif pemilihan yakni Complete Mixed Activated Sludge, Oxydation Ditch, dan
Aerated Lagoon. Pemilihan alternatif terbaik dilakukan dengan melihat efektifitas
pengolahan dan present value annual cost. Dari pertimbangan-pertimbangan ini maka
dipilih sistem Complete Mixed Activated Sludge sebagai sistem pengolahan biologi
yang memiliki efektifitas terbaik. Unit-unit yang digunakan pada IPAL ini antara lain
bar screen dan grit chamber sebagai pengolahan primer, tangki aerasi dan clarifier
sebagai pengolahan sekunder, gravity thickener dan sludge digester sebagai
pengolahan lumpur dan bak klorinasi sebagai unit desinfeksi. Total biaya yang
diperlukan untuk membangun sistem IPAL ini adalah Rp. 27 milyar atau Rp 17 juta
per m3 per detik debit air buangan.
Kata kunci : IPAL, CMAS, BOD5, TSS

ABSTRACT
The increase of population (2,13% per year) and economic growth have caused the
decrease of enviromental quality of Palembang City. One of the problems is
wastewater becoming larger in quantity. Most of this wastewater is treated using
septic tank system and in fact many people wasting directly to the rivers. This
behaviour will decrease the environmental quality.Therefore, a wastewater treatment
plant is urgently needed. This wastewater treatment is expected to reduce water
pollution in Musi River. This wastewater treatment plant is planned to cover 70% of
city`s population until the second planning (2028) with waste water flowrates of 1,373
m3/second. The population is projected using logaritmic method, resulting as many as
1.052.722 people in the end of the planing year (2028). The main parameter treated
are BOD5 and TSS ( according to KepMenLH No.112 year 2003), 311 mg/l for BOD5
and 248 mg/l for TSS with plan maximum capacity in the first planning is 1,114
m3/second and in the second planning is 2,279 m3/second. The treatment used in this
WWTP are physical and biological treatment. There are three alternatives for
biological treatment Complete Mix Activated Sludge(CMAS), Oxydation Ditch, and
Rotating Biological Contactor(RBC). The best alternatives will be choosen from the
effectivity and the present value of annual cost. From these aspects, the best system is
Complete Mixed Activated Sludge that has the best effectivity. The system that will be
used in wastewater treatment plant are bar screen and grit chamber for primary
treatment, aeration tank and clarifier for the second treatment, gravity thickener and
sludge digester fot the sludge treatment and chlorination tank for desinfection. The
total cost which is needed to build this plant is estimated 27 billion rupiahs or Rp 17
millions per m3 per second wastewater flowrates.
Key words : WWTP, CMAS, BOD5, TSS

ii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb.
Rasa syukur yang tak henti nya saya panjatkan atas kehadiran Allah SWT yang telah
menganugerahkan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk menggapai ilmu di Institut
Teknologi Bandung. Begitu banyak hal yang saya terima yang dapat menjadi suatu
pembelajaran berarti dalam menjalankan kewajiban saya kelak yakni memanfaatkan
ilmu secara bertanggung jawab untuk masyarakat luas.

Selama empat tahun mengenyam pendidikan di Teknik Lingkungan ITB, mulai dari
Pengantar Teknik Lingkungan sampai dengan Pengelolaan Limbah Industri, akhirnya
dalam melaksanakan satu studi terakhir yakni Tugas Akhir, saya memilih tema Disain
Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik. Saya menilai bahwa sebagai seorang
engineer lingkungan harus mampu berbicara banyak tentang bagaimana melakukan
rekayasa terhadap pengolahan limbah. Selain itu, Tugas Akhir ini juga bermaksud
untuk memperbaiki dan meningkatkan kompetensi saya dalam bidang perencanaan
instalasi air limbah, sehingga kelak saya berharap lebih siap untuk masuk dalam
kondisi nyata di lingkungan kerja.

Tugas Akhir ini telah dimulai pada bulan Januari yakni melakukan survei lapangan
dan pengambilan data di Kota Palembang. Sedangkan pengelolaan data dilakukan
selama kurang lebih 6 bulan. Jadi, kurang lebih Tugas Akhir ini membutuhkan waktu
selama 7 bulan. Cukup melelahkan dengan pasang surut semangat selama pengerjaan.
Namun, akhirnya Tugas Akhir ini bisa saya selesaikan dengan cukup baik.

Saya yakin bahwa hasil pekerjaan ini jauh dari sempurna. Masih banyak kekurangan
yang harus diperbaiki. Oleh karena itu, semoga Tugas Akhir ini mampu menjadi
masukan yang berarti bagi mahasiswa lain yang memilih tema disain sehingga dapat
memberikan hasil yang jauh lebih baik.

Selain itu, sebagai bentuk apresiasi yang tinggi, izinkan saya untuk mengucapkan
terimah kasih yang sebesar-besarnya kepada saudara, rekan dan sahabat-sahabat yang
telah memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung selama
iii

pengerjaan Tugas Akhir ini. Kepada keluarga tercinta, Ibunda Hopikah Mochtaria,
Kakak ku Surpinda Dian Magdarina dan suami Mas Indra, nenekku, om Dedi, tante
Yuli, om Arus, dan para om dan tante yang lain, teh ana, dan adik-adikku yang aku
sayangi, rasa cinta dan terimah kasih ku atas doa dan semangat yang telah mereka
berikan kepadaku. Serta untuk Bilqis yang telah berbagi semangat dan keceriaan.

Saya juga mengucapkan terimah kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada


pembimbing Tugas Akhir saya, ibu Dr-ing Marisa Handajani, yang telah berbagi ilmu
selama kurang lebih 7 bulan pengerjaan. Sungguh begitu banyak yang dapat saya
pelajari selama bimbingan dengan beliau.

Pihak-pihak lain yang tak absen dalam memberikan dukungan penuh terhadap
penyelesaian Tugas Akhir ini :
Sahabat-sahabatku Nanda Kamila Salim (FKG Unsri), Muhammad Hafiz (Fisip UI),
Bayu Dwi Samudera (Aristektur ITB 2004), Gandhi Firmansyah Putra (Elektro ITB
2004) dan Ade Mareta (Teknik Industri ITB 2006), Randi (Elektro ITB 2004) dan
Gilang Kartika (Arsitektur ITB 2005), Shinta Handayani (Planologi ITB 2005),
Nurlina (Farmasi ITB 2004), Tyas (Fisika ITB 2004), Annisa Indryani (Teknik
Lingkungan ITB 2005), Surya Hatina (Teknik Kimia Unsri 2004), dan lain-lain.

Bapak Apriyadi (Asisten II Walikota Bidang Pembangunan dan Perekonomian


Pemerintah Kota Palembang), Kak Rahman dan staf lainnya di Bagian Kesejahteraan
Sosial Pemerintah Kota Palembang), Kepala Bapeda Kota Palembang, Bapedalda
Kota Palembang, Dinas Kebersihan Kota Palembang, dan BPS Kota Palembang.

Ibu Driejana dan Pak Teddy sebagai penguji sidang akhir, Bapak Agus Jatnika selaku
Ketua Program Studi Teknik Lingkungan ITB, seluruh dosen TL ITB, mba Titi dan
staf TU lainnya, Tim Program Hibah Kompetensi, keluarga besar U-Green ITB,
keluarga besar Mahasiswa Bumi Sriwijaya ITB, keluarga besar Purna Paskibraka
Indonesia, keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB.

Teman-temanku TL 2004 yang luar biasa : Ari Kemas, Poppy, Mba Jul, Ayi, Icha
Palembang, dan semuanya : SEQUEL 2004.

iv

Serta pihak-pihak lain yang tak mungkin untuk dituliskan satu persatu, saya
mengucapkan terimah kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Akhir kata, semoga laporan akhir ini dan ilmu yang saya peroleh dapat bermanfaat.
Saya mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan laporan dan kepada Allah
saya mohon diberikan kesempatan untuk melakukan lebih baik di lain waktu dan lain
tempat.
Wassalamualaikum wr. wb.

Bandung, 24 September 2008


Muhammad Sonny Abfertiawan

DAFTAR ISI

ABSTRAK

ABSTRACT

ii

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

iv

DAFTAR LAMPIRAN

xii

DAFTAR TABEL

xiii

DAFTAR GAMBAR

xvi

BAB I PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang

I-1

I.2

Maksud dan Tujuan

I-2

I.3

Ruang Lingkup

I-3

I.4

Sumber Data

I-3

I.5

Metodologi

I-3

I.6

Sistematika Pembahasan

I-4

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH PERENCANAAN


II.1

Umum

II-1

II.2

Wilayah Administrasi

II.1

II.3

Keadaan Fisik Dasar

II.4

II.1.1

Klimatologi

II-4

II.1.2

Geologi dan Jenis Tanah

II-4

II.1.3

Hidrologi

II-4

II.4

Kependudukan
II.4.1

Kepadatan dan Distribusi Penduduk

II.4.2

Struktur Penduduk

II-3
I II-5
II-7

II.5

Tata Guna Lahan

II-8

II.6

Kualitas Air Sungai

II-9

II.7

Fasilitas Perkotaan

II-9

II.3.1

II-9

Fasilitas Pendidikan

vi

II.8

II.3.2

Fasilitas Peribadatan

II-11

II.3.3

Fasilitas Perniagaan

II-11

II.3.4

Fasilitas Transportasi

II-12

II.3.5

Fasilitas Olahraga dan Rekreasi

II-12

Kondisi Eksisting Penyediaan Air Bersih dan Pengolahan Limbah

II-13

II.4.1

Penyediaan Air Bersih

II-13

II.4.2

Pengolahan Air Limbah

II-13

II.4.3

Permasalahan

II-14

BAB III DASAR-DASAR PERENCANAAN


III.1

Umum

III-1

III.2

Rencana Pelayanan

III-2

III.2.1

Daerah Pelayanan

III-2

III.2.1

Periode dan Tahap Perencanaan

III-2

III.3

Sumber Limbah

III-4

III.4

Kuantitas dan Karakteristik Air Limbah

III-4

III.4.1

Kuantitas Air Limbah

III-4

III.4.2

Kualitas Air Buangan

III-6

III.5

Lokasi IPAL dan Badan Air Penerima

III-9

III.6

Kualitas Effluen

III-9

BAB IV PENGEMBANGAN SISTEM PENGOLAHAN


IV.1

Prinsip Pengolahan Air Limbah

IV-1

IV.2

Inventarisasi Unit Pengolahan

IV-2

IV.2.1

Pengolahan Tingkat I

IV-2

IV.2.2

Pengolahan Tingkat II

IV-4

IV.2.3

Pengolahan Lumpur

IV-8

IV.3

Pemilihan Sistem Pengolahan

IV-14

IV.4

Analisa Pemilihan Sistem Pengolahan

IV-15

IV.5

Proses Pemilihan Sistem Pengolahan Terpilih

IV-17

BAB V DETAIL DESAIN


V.1

Umum

V-1

vii

V.2

Kondisi Aliran Dalam Incoming Konduit

V-4

V.3

Pengolahan Pertama

V-1

V.3.1

Bar Screen

V-7

V.3.2

Grit Chamber

V-16

V.3.3

Comminutor

V-27

V.3.4

Bak Ekualisasi

V-28

V.3.5

Bak Pengendap I

V-34

V.3.6

Tangki Distribusi Air Buangan I

V-43

V.4

V.5

V.6

Pengolahan Tingkat Kedua

V-46

V.2.1

Tangki Aerasi

V-46

V.2.2

Tangki Distribusi Air Buangan II

V-60

V.2.3

Clarifier

V-62

V.2.4

Tangki Distribusi Air Buangan III

V-72

Pengolahan Lumpur

V-73

V.3.1

Tangki Distribusi Lumpur I

V-73

V.3.3

Tangki Distribusi Lumpur II

V-74

V.3.2

Gravity Thickener

V-75

V.3.4

Tangki Distribusi Lumpur III

V-83

V.3.5

Anaerobic Digester

V-84

V.3.6

Tangki Distribusi Lumpur IV

V-95

V.3.7

Belt Filter Press

V-96

V.3.8

Tangki Distribusi Air Buangan IV

V-103

V.3.9

Tangki Distribusi Air Buangan V

V-104

V.3.10

Tangki Distribusi Air Buangan VI

V-106

V.3.11

Tangki Distribusi Air Buangan VII

V-108

Desinfeksi

V-109

BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS


VI.1

Persyaratan Umum

VI-1

VI.1.1

Nama Pekerjaan dan Proyek

VI-1

VI.1.2

Pemberi Tugas

VI-1

VI.1.3

Pemborong

VI-1

VI.1.4

Pengawas Lapangan

VI-1

viii

VI.2

VI.3

VI.4

VI.1.1

Bangunan Sementara

VI-2

VI.1.2

Ketentuan Penyelidikan Bahan/Alat

VI-2

VI.1.3

Gambar-Gambar

VI-3

VI.1.4

Rencana Kerja

VI-3

VI.1.5

Peraturan peraturan

VI-3

Speifikasi Teknis Material

VI-3

VI.2.1

Umum

VI-3

VI.2.2

Semen Portland

VI-4

VI.2.3

Agregat Kasar, Pasir, dan Batu

VI-4

VI.2.4

Air

VI-6

VI.2.5

Baja Tulangan

VI-6

VI.2.6

Baja Struktur Profil

VI-6

VI.2.7

Standar Pipa

VI-7

VI.2.8

Perlengkapan Pipa

VI-7

VI.2.9

Gate Valve

VI-7

Pekerjaan Sipil/Konstruksi

VI-7

VI.3.1

Pekerjaan Persiapan

VI-8

VI.3.2

Pekerjaan Pematangan Tanah

VI-8

VI.3.3

Pekerjaan Pondasi

VI-9

VI.3.4

Pekerjaan Beton

VI-10

VI.3.5

Pekerjaan Bata dan Plesteran

VI-12

VI.3.6

Pekerjaan Kayu, Atap, Kaca, dan Cat

VI-12

Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal

VI-12

VI.4.1

Pemasangan Pipa

VI-12

VI.4.2

Pompa

VI-13

VI.4.3

Aerator

VI-17

BAB VII OPERASI DAN PEMELIHARAAN


VII.1

Umum

VII-1

VII.2

Pengolahan Tingkat Pertama

VII-1

VII.2.1

Bar Screen

VII-1

VII.2.2

Grit Chamber

VII-3

VII.2.3

Comminutor

VII-4

ix

VII.3

VII.2.4

Ekualisasi

VII-5

VII.2.5

Bak Pengendap I

VII-5

Pengolahan Tingkat Kedua

VII-6

VII.3.1

Tangki Aerasi

VII-6

VII.3.2

Clarifier

VII-8

VII.4

Desinfeksi

VII-8

VII.5

Pengolahan Lumpur

VII-10

VII.5.1

Gravity Thickener

VII-10

VII.5.1

Anaerobic Digester

VII-12

VII.5.3

Belt Filter Press

VII-13

BAB VIII RENCANA ANGGARAN BIAYA


VIII.1

Persiapan Pembangunan

VIII-1

VIII.2

Bar Screen

VIII-2

VIII.3

Grit Chamber

VIII-3

VIII.4

Comminutor

VIII-4

VIII.5

Bak Ekualisasi

VIII-5

VIII.6

Bak Pengendap I

VIII-6

VIII.7

Tangki Distribusi AB I

VIII-7

VIII.8

Tangki Aerasi

VIII-8

VIII.9

Tangki Distribusi AB II

VIII-9

VIII.10 Bak Pengendap II

VIII-10

VIII.11 Tangki Distribusi Lumpur I

VIII-11

VIII.12 Tangki Distribusi AB III

VIII-12

VIII.13 Tangki Distribusi Lumpur II

VIII-13

VIII.14 Gravity Thickener

VIII-14

VIII.15 Tangki Distribusi Lumpur III

VIII-15

VIII.16 Anaerobik Digester

VIII-16

VIII.17 Tangki Distribusi Lumpur IV

VIII-17

VIII.18 Ruang Pembubuh Klor

VIII-18

VIII.19 Bak Kontak Klorinasi

VIII-19

VIII.20 Tangki Distribusi AB VII

VIII-20

VIII.21 Tangki Distribusi AB VI

VIII-21

VIII.22 Tangki Distribusi AB V

VIII-22

VIII.23 Tangki Distribusi AB IV

VIII-23

VIII.24 Tangki Pengkondisian

VIII-24

VIII.25 Ruang Belt Filter Press

VIII-25

VIII.26 Bak Pengumpul Filtrat

VIII-27

VIII.23

VIII-28

Bangunan Kantor

VIII.24 Infrastruktur

VIII-29

VIII.25 Biaya Pekerja

VIII-31

VIII.26 Rekapitulasi

VIII-31

BAB IX KESIMPULAN

IX-1

DAFTAR PUSTAKA

P-1

xi

DAFTAR LAMPIRA

Lampiran A
Lampiran B
Lampiran C
Lampiran D
Lampiran E
Lampiran F

Proyeksi Penduduk
Proyeksi Fasilitas Umum
Kuantitas Air Limbah
Perhitungan Dimensi Alternatif Pengolahan Air Limbah
Perhitungan Analisis Biaya Tiap Alternatif
Kesetimbangan Massa

hal
A-1
B-1
C-1
D-1
E-1
F-1

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1
Tabel 2.2
Tabel 2.3
Tabel 2.4
Tabel 2.5
Tabel 2.6
Tabel 2.7
Tabel 2.8
Tabel 2.9

Tabel 3.1
Tabel 3.2

Kecamatan-kecamatan Kota Palembang Tahun 2006


Jumlah Penduduk Kota Palembang Tahun 2003-2006
Kepadatan Penduduk dan Jumlah Rumah Tangga
Menurut Kecamatan di Kota Palembang Tahun 2006
Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun Menurut Jenis Kelamin
per Kecamatan Di Kota Palembang Tahun 2006
Hasil Pengukuran Pencemar Di Berbagai Titik Sungai Musi
Jumlah Fasilitas Pendidikan Kota Palembang Tahun 2006
Jumlah Fasilitas Peribadatan Kota Palembang Tahun 2006
Jumlah Fasilitas Perniagaan Kota Palembang Tahun 2004
Kondisi Eksisting Sistem Penyediaan Air Minum
Kota Palembang

hal
II-1
II-5
II-5
II-7
II-9
II-9
II-11
II-12
II-13

Tabel 3.4.
Tabel 3.5

Debit Air Buangan Domestik Kota Palembang


Debit Maksimum dan Minimum Air Limbah Domestik
Kota Palembang
Studi Literatur Karakteristik Air Limbah
Beban dan Konsentrasi BOD5 dan SS Perencanaan IPAL
Kota Palembang
Baku Mutu Effluen Kepmen. LH No. 112 Tahun 2003
Rencana Efisiensi Pengolahan Instalasi

III-8
III-10
III-10

Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel 4.3
Tabel 4.4.

Karakteristik Influen
Tingkat Pengolahan Beberapa Unit Operasi dan Unit Proses
Hasil Analisa Present Value of Annual Cost Tiap Alternatif
Analisa Pemilihan Alternatif

IV-2
IV-16
IV-17
IV-18

Tabel 5.1
Tabel 5.2
Tabel 5.3
Tabel 5.4
Tabel 5.5
Tabel 5.6
Tabel 5.7
Tabel 5.8
Tabel 5.9
Tabel 5.10
Tabel 5.11
Tabel 5.12

Kriteria Disain Bar Screen


Faktor Batang Unit Bar Screen
Data-data Perencanaan Unit Bar Screen
Profil Segmen I Bar Screen
Profil Segmen II Bar Screen
Kecepatan di Bar Rack (vbar) Saat Kondisi Bersih
Rekapitulasi Head Loss di Rack Tiap Debit
Profil Segmen III Bar Screen
Profil Segmen II Bar Screen Saat Clogging
Head Loss Saat Kondisi 50% Clogging Tiap Debit
Kecepatan di Bukaan Rack Saat Clogging (v)
Rekapitulasi Hidrolis Bar Screen

V-7
V-7
V-8
V-10
V-11
V-11
V-12
V-13
V-14
V-14
V-15
V-15

Tabel 3.2
Tabel 3.3

III-5
III-6
III-8

xiii

Tabel 5.13
Tabel 5.14
Tabel 5.15
Tabel 5.16
Tabel 5.17
Tabel 5.18
Tabel 5.19
Tabel 5.20
Tabel 5.21
Tabel 5.22
Tabel 5.23
Tabel 5.24
Tabel 5.25
Tabel 5.26
Tabel 5.27
Tabel 5.28
Tabel 5.29
Tabel 5.30
Tabel 5.31
Tabel 5.32
Tabel 5.33
Tabel 5.34
Tabel 5.35
Tabel 5.36
Tabel 5.37
Tabel 5.38
Tabel 5.39
Tabel 5.40
Tabel 5.41
Tabel 5.42
Tabel 5.43
Tabel 5.44
Tabel 5.45
Tabel 5.46
Tabel 5.47
Tabel 5.48
Tabel 5.49
Tabel 5.50
Tabel 5.51
Tabel 5.52
Tabel 5.53
Tabel 5.54
Tabel 5.55
Tabel 5.56

Rekapitulasi Dimensi Bar Screen


Kriteria Desain Grit Chamber
Data Perencanaan Unit Grit Chamber
Profil Hidrolis Grit Chamber
Head Loss Total Tiap Debit
Perbedaan Elevasi (Z)
Head Loss Melalui Grit Chamber
Head Loss di Proporsional Weir
Kedalaman Air di Saluran Outlet
Jumlah Grit Tiap Debit
Periode Pengambilan Pasir
Dimensi Grit Chamber
Dimensi Proportional Weir
Ukuran dan Kapasitas Comminutor
Kriteria Disain Bak Ekualisasi dan Pompa
Data Perencanaan Unit Bak Ekualisasi dan Pompa
Perhitungan Ketinggian Muka Air di Bak Ekualisasi
Perhitungan Headloss Pipa Pemompaan
Rekapitulasi Dimensi Bak Ekualisasi
Kriteria Disain Unit Bak Pengendap I
Data Perencanaan
Rekapitulasi Dimensi Bak Pengendap I
Kriteria Desain Tangki Aerasi
Data Perencanaan Tangki Aerasi
Tipe Surface Aerator
Data Perencanaan Tangki Distribusi AL II
Kriteria Disain Unit Clarifier
Data Perencanaan Clarifier
Rekapitulasi Unit Bak Pengendap II
Data Perencanaan Tangki Distribusi AL III
Data Perencanaan Tangki Distribusi Lumpur I
Data Perencanaan Tangki Distribusi Lumpur II
Kriteria Disain Gravity Thickener
Data Perencanaan Gravity Thickener
Data Perencanaan Tangki Distribusi Lumpur III
Kriteria Disain Anaerobik Digester
Karakteristik Lumpur Digester
Data Perencanaan Tangki Distribusi Lumpur III
Kriteria Desain Belt Filter Press
Data Perencanaan Sludge Drying Bed
Spesifikasi Belt Filter Press
Data Perencanaan Tangki Distribusi Lumpur III
Data Perencanaan Tangki Distribusi Lumpur V
Data Perencanaan Tangki Distribusi Lumpur VI

V-16
V-16
V-18
V-20
V-21
V-22
V-23
V-24
V-25
V-25
V-26
V-26
V-26
V-27
V-29
V-30
V-32
V-33
V-34
V-35
V-36
V-43
V-46
V-47
V-60
V-61
V-63
V-63
V-67
V-72
V-74
V-75
V-76
V-76
V-83
V-85
V-85
V-96
V-97
V-97
V-98
V-103
V-105
V-106
xiv

Tabel 5.57
Tabel 5.58
Tabel 5.59
Tabel 5.60

Data Perencanaan Tangki Distribusi Lumpur VII


Kriteria Disain Klorinasi
Data Perencanaan Bak Kontak Klorinasi
Perhitungan Proportional Weir, Kecepatan,
dan Waktu Kontak

V-108
V-110
V-110
V-115

Tabel 6.1
Tabel 6.2
Tabel 6.3

Kehalusan Pasir Beton


Kehalusan Pasir Pasangan
Jenis Beton dan Spesifikasinya

VI-5
VI-5
VI-11

Tabel 7.1
Tabel 7.2.
Tabel 7.3
Tabel 7.4
Tabel 7.5
Tabel 7.6
Tabel 7.7
Tabel 7.8

Permasalahan Unit Bar Screen dan Solusi Permasalahan


Permasalahan Unit Grit Chamber dan Solusi Permasalahan
Upaya Memecahkan Permasalahan Comminutor
Upaya Pemecahan Masalah Tangki Aerasi
Upaya Pemecahan Permasalahan Unit Desinfeksi
Upaya Pemecahan Permasalahan Unit Gravity Thickener
Upaya Pemecahan Permasalahan Unit Anaerobic Digester
Permasalahan pada unit Belt Filter Press
dan Solusi Permasalahan

VII-2
VII-3
VII-5
VII-6
VII-9
VII-11
VII-12
VII-13

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1
Gambar 2.2

Wilayah Administrasi Kota Palembang


Kondisi Pengolahan Air Buangan Domestik Sistem On-Site

Gambar 3.1
Gambar 4.1

Daerah Pelayanan IPAL Kota Palembang


Diagram Alir Instalasi dengan Sistem
Complete Mixed Activated Sludge
Diagram Alir Instalasi dengan Sistem Oxydation Ditch
Diagram Alir Instalasi dengan Sistem Aerated Lagoon
Diagram Alir Intalasi Pengolahan Ai r Buangan Domestik
Kota Palembang
Diagram Alir Kesetimbangan Massa Tahap I
Diagram Alir Kesetimbangan Massa Tahap II
Segmentasi Bar Screen
Hydraulic Properties of Circular Sewer
Dimensi V Notch Bak Pengendap II
Hooper Kapur

Gambar 4.2
Gambar 4.3
Gambar 5.1.
Gambar 5.2.
Gambar 5.3
Gambar 5.4
Gambar 5.5
Gambar 5.6
Gambar 5.7

hal
II-3
II-14
III-3
III-12
IV-13
IV-14
V-1
V-2
V-3
V-10
V-55
V-68
V-100

xvi

Bab I Pendahuluan

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Kota Palembang sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Selatan, terletak pada posisi 104
37 104 52 BT dan 2 52 3 05 LS. Posisi Kota Palembang tersebut sangat strategis
karena dilalui jalur lintas nasional yakni jalur Lintas Sumatera yang menghubungkan dari
bagian utara ke bagian Selatan Pulau Sumatera hingga ke Pulau Jawa, dengan demikian Kota
Palembang merupakan pintu gerbang utama untuk memasuki wilayah Provinsi Sumatera
Selatan. Selain itu, Kota Palembang juga terletak pada Zona IMS-GT (Segitiga pertumbuhan
yaitu

Indonesia,

Malaysia,

dan

Singapore),

sehingga

sangat

potensial

dalam

mengembangkan perekonomian, aktivitas sosial serta kepariwisataan.


Kota Palembang mempunyai luas 40.061 Ha (400,61 km2). Adapun luas area
terbangun saat ini (Coverage Area) sebesar 12.475 Ha, sedangkan berdasarkan RTRWK luas
kota, yang potensial untuk pembangunan atau dapat dibangun sebesar 22.178 Ha, meliputi
beberapa kecamatan antara lain Kecamatan Sukarami, Kertapati, dan Gandus. Potensi lahan
yang masih cukup luas ini mempermudah dalam pengembangan wilayah kota. Keberadaan
Sungai Musi berpengaruh besar terhadap perekonomian dan budaya Kota Palembang. Sejak
lama Sungai Musi dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Palembang dan sekitarnya sebagai
sarana transportasi, angkutan hasil bumi, perdagangan dan sumber air. Saat ini disamping
berfungsi sebagai sarana transportasi, sungai musi juga berfungsi sebagai sarana wisata,
sarana pendukung industri dan sarana pendukung kegiatan perdagangan.
Penduduk Kota Palembang relatif besar, pada tahun 2002 penduduk Kota Palembang
berjumlah 1.262.685 jiwa (Palembang Dalam Angka 2002), dengan laju pertumbuhan
penduduk antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2002 rata-rata sebesar 2,21% per tahun.
Pertumbuhan penduduk ini lebih besar jika dibandingkan pertumbuhan di tingkat nasional
(1,5% per tahun), dan tingkat Propinsi Sumatera Selatan (2,13% per tahun).
Peningkatan jumlah penduduk yang pesat dan kemajuan di berbagai sektor
perekonomian tidak diimbangi dengan usaha peningkatan kualitas lingkungan. Selama ini
sarana pembuangan air limbah domestik yang ada berupa pemakaian septic tank bahkan ada
yang langsung dibuang begitu saja ke saluran drainase atau langsung ke badan air penerima
yakni Sungai Musi.

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

I-1

Bab I Pendahuluan

Sungai Musi yang melintas di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) kini kondisinya
sangat memprihatinkan. Sungai yang membelah kota Palembang itu ternyata tercemar limbah
yang didominasi limbah rumah tangga, dan sisanya limbah industri.
Data yang disampaikan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
(Bapedalda) Sumsel, Amir Massani di Komisi III DPRD setempat, Kamis (20/4)
menyebutkan, sekitar 70 persen air Sungai Musi tercemar limbah rumah tangga. Sedangkan
sisanya 30 persen tercemar limbah perusahaan atau industri. (Republika, 21 April 2006)
Akibat dari pencemaran tersebut tentu akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan
masyarakat. Masyarakat Kota Palembang sangat rentan terhadap berbagai paparan dari
pencemar air sungai Musi. Berdasarkan data yang diperoleh penderita diare yang disebabkan
bakteri E.colli di Palembang meningkat cukup tajam selama tiga bulan terakhir. Pada Agustus
2007 ini terjadi peningkatan jumlah penderita diare di Kota Palembang sebesar 11% dari
bulan sebelumnya. Pada Juli lalu, penderita diare tercatat sebanyak 4.110 penderita,
sedangkan pada saat ini penderita diare meningkat menjadi 4.600 penderita. (Koran Sindo, 25
Agustus 2007)
Permasalahan-permasalahan di atas merupakan akibat dari terganggunya sistem
sanitasi di Kota Palembang. Kota Palembang belum memiliki suatu Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL) Domestik sebagai sarana sanitasi masyarakat. Dikhawatirkan tanpa adanya
IPAL akan berpotensi memperburuk pencemaran Sungai Musi dan akan berdampak pada
kesehatan masyarakat serta tentunya akan mempengaruhi pertumbuhan perekonomian
masyarakat. Dengan direncanakan suatu sistem pengolahan air limbah domestik secara
terpusat diharapkan akan dapat mengurangi tingkat pencemaran air tanah maupun permukaan
(Sungai Musi) dan dapat meningkatkan kualitas lingkungan pada umumnya.

I.2 Maksud dan Tujuan


Maksud dari perencanaan ini adalah untuk memberikan masukan dan alternatif sistem
pengolahan air limbah domestik Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Tujuan dari perencanaan ini adalah merancang secara rinci Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL) domestik Kota Palembang. Rencana secara rinci ini meliputi perhitungan dan
rancangan instalasi, tata letak instalasi, profil hidrolis, dan rencana anggaran biaya. Dengan
adanya IPAL akan dihasilkan air buangan yang sesuai dengan baku mutu yang telah
ditetapkan pemerintah sehingga aman dibuang ke lingkungan dan tidak menimbulkan
gangguan kesehatan masyarakat.

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

I-2

Bab I Pendahuluan

I.3 Ruang Lingkup


Ruang lingkup perencanaan ini adalah:
1. Studi gambaran umum Kota Palembang (kondisi geografis, topografi, jumlah
penduduk, fasilitas pendukung, dan sebagainya).
2. Menetapkan lokasi perencanaan IPAL.
3. Memperkirakan debit air buangan yang masuk ke IPAL dari daerah pelayanan IPAL.
4. Analisis karekteristik air buangan yang masuk ke IPAL.
5. Menentukan kriteria desain pengolahan, alternatif sistem pengolahan, dan penentuan
sistem alternatif yang terpilih.
6. Menentukan dimensi unit-unit sistem terpilih dan peralatan yang diperlukan.
7. Menggambar perencanaan unit-unit sistem pengolahan.
8. Perhitungan rencana anggaran biaya pembangunan IPAL.

I.4 Sumber Data


Data primer dan sekunder yang dibutuhkan dalam perencanaan IPAL diambil di
Pemerintah Kota setempat, baik itu Dinas Kependudukan, maupun Dinas Pekerjaan Umum.
Dilakukan koordinasi dengan pihak kampus untuk kelancaran pengambilan data.

I.5 Metodologi
1. Identifikasi masalah
Mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang ada di Kota Palembang dalam aspek
kualitas lingkungan sehingga akan diperoleh kondisi eksisting hingga feasibility dari
perencanaan IPAL.
2. Studi Literatur
Mencari dan mempelajari data-data teoritis pendukung yang akan digunakan dalam
perencanaan disain IPAL domestik. Sumber-sumber yang dapat digunakan ialah sumber
yang berasal dari perpustakaan, internet maupun layanan publik.
3. Pengambilan data
Data primer dan sekunder yang dibutuhkan dalam perencanaan IPAL dapat diambil di
pemerintah Kota setempat. Baik itu Dinas Kependudukan, Dinas Pekerjaan Umum,
maupun Dinas Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Palembang.

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

I-3

Bab I Pendahuluan

4. Analisis dan Pembahasan


Data-data yang telah didapatkan akan diolah dan dimasukan dalam perencanaan instalasi.
Pembahasan dilakukan terhadap semua aspek agar hasil desain bisa realistis dan optimal.
5. Penyusunan laporan
Data yang telah diolah dan dibahas, disusun dalam bentuk laporan yang baik. Termasuk
di dalamnya pendahuluan, kondisi eksisting, data & analisanya, perhitungan, serta
rencana biaya. Sehingga secara keseluruhan laporan akan menggambarkan secara jelas
perencanaan instalasi.

I.6 Sistematika Pembahasan


Adapun sistematika pembahasan laporan tugas akhir adalah sebagai berikut:
1. BAB I Pendahuluan
Bab ini berisi latar belakang, maksud dan tujuan dari tugas akhir ini. Selain itu dijelaskan
ruang lingkup, sumber data yang digunakan, serta sistematika pembahasannya.
2. BAB II Gambaran Umum Daerah Perencanaan
Bab ini berisi gambaran umum daerah perencanaan, meliputi letak wilayah, topografi,
curah hujan, penduduk, dan kondisi eksisting dari daerah perancanaan.
3. BAB III Dasar-dasar Perencanaan
Bab ini berisi periode perencanaan, kuantitas air buangan yang akan diolah, kualitas air
buangan yang akan diolah, lokasi IPAL serta badan air penerima dan kualitas air buangan
yang diinginkan.
4. BAB IV Alternatif Pengolahan
Bab ini berisi alternatif-alternatif pengolahan yang memungkinkan untuk digunakan,
metode pemilihan alternatif yang paling sesuai, dan rencana awal dari denah IPAL yang
akan digunakan.
5. BAB V Detail Disain Unit-Unit Pengolahan
Bab ini berisi perhitungan-perhitungan detail dari alternatif terpilih, dimensi dari tiap alat
yang digunakan, headloss masing-masing unit, tinggi muka air masing-masing unit( profil
hidrolis)
6. BAB VI Spesifikasi Teknis
Bab

ini

berisi

ketentuan pelaksanaan,

spesifikasi

teknis material,

pekerjaan

sipil/konstruksi, dan pekerjaan mekanikal serta elektrikal.

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

I-4

Bab I Pendahuluan

7. BAB VII Rencana Anggaran Biaya


Bab ini menerangkan analisis biaya investasi pembangunan, biaya pengolahan, dan biaya
proyek.
8. BAB VIII Kesimpulan
Bab ini berisi kesimpulan yang dapat diambil dari perencanaan instalasi pengolahan air
limbah domestik.

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

I-5

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

BAB II
GAMBARAN UMUM DAERAH PERENCANAAN

II.1 Umum
Kota Palembang merupakan Ibu Kota Provinsi Sumatera Selatan yang terletak pada
104o37 sampai 104o52 BT dan 2o52 sampai 3o5 LS dengan batas-batas wilayah yakni :
Batas Utara

: Kabupaten Banyuasin

Batas Selatan

: Kabupaten Ogan Komering Ilir

Batas Timur

: Kabupaten Banyuasin

Batas Barat

: Kabupaten Banyuasin

Pada tahun 2000, Kota Palembang melakukan pemekaran wilayah administrasi


menjadi 14 kecamatan dan 103 kelurahan, dengan luas 400,61 km2. Di tahun

2007

Pemerintah Kota Palembang kembali melakukan pemekaran wilayah administrasi menjadi 16


kecamatan16 kecamatan. Jumlah kelurahan / desa pada tahun 2007 sebanyak 106 daerah.
Jumlah RW dan RT masing-masing 985 RW dan 3.703 RT.
Namun, dalam perencanaan kali ini tinjauan akan dilakukan pada 14 kecamatan
sebelum pemekaran dikarenakan belum tersedianya data akurat terhadap kecamatankecamatan baru.

II.2 Wilayah Administrasi


Kota Palembang sampai pada akhir tahun 2006 memiliki kecamatan sebanyak 14
Kecamatan yang berada pada daerah hilir dan daerah hulu. Adapun ke-14 kecamatan tersebut
dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Kecamatan-kecamatan Kota Palembang Tahun 2006


Kecamatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Ilir Barat II
Gandus
Seb. Ulu I
Kertapati
Seb. Ulu II
Plaju
Ilir Barat I
Bukit Kecil

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

Luas Wilayah
622
6878
1744
4256
1069
1517
1977
992
II-1

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

Lanjutan Tabel 2.1.


Kecamatan
9. Ilir Timur I
10. Kemuning
11. Ilir Timur II
12. Kalidoni
13. S a k o
14. Sukarame
Total

Luas Wilayah
650
900
2558
2792
4250
9856
40061

Ke-14 kecamatan tersebut terbagi menjadi dua kelompok besar sesuai dengan letaknya yang
terpisahkan oleh Sungai Musi. Sebagian berada pada kawasan hulu dan sebagian lainnya
berada pada kawasan hilir. Daerah hilir terdapat kecamatan ILir Barat I, Kecamatan Ilir Barat
II, Kecamatam Gandus, Kecamatan Sukarami, Kecamatan Kemuning, Kecamatan Ilir Timur
I, Kecamatan Ilir Timur II, Kecamatan Kalidoni, Kecamatan Sako,dan Kecamatan Bukir
Kecil. Sedangkan pada kawasan hulu terdapat kecamatan Seberang Ulu I, Kecamatan
Seberang Ulu II, Kecamatan Plaju, dan Kecamatan Kertapati. Peta wilayah administrasi Kota
Palembang dapat dilihat pada Gambar 2.1.

II.3 Keadaan Fisik Dasar


II.3.1 Klimatologi
Iklim Kota Palembang merupakan iklim daerah tropis dengan angin lembab nisbi,
kecepatan angin berkisar antara 2,3 km/jam - 4,5 km/jam. Suhu kota berkisar antara 23,4 31,7 derajat celsius. Curah hujan pertahun berkisar antara 2.000 mm - 3.000 mm.
Kelembaban udara berkisar antara 75 - 89 % dengan rata - rata penyinaran matahari 45 %.

II.3.2 Geologi dan Jenis Tanah


Lapisan tanah yang terdapat di Kota Palembang berupa tanah lempung, pasir
lempung, napal dan napal pasiran. Keadaan stratigrafi wilayah Kota Palembang terbagi atas 3
bagian, yaitu:
1. Satuan Aluvial dan Rawa, terdapat di Seberang Ulu dan Rawa-Rawa dibagian timur dan
bagian barat wilayah Kota Palembang.

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

II-2

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

Gambar 2.1 Wilayah Administrasi Kota Palembang

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

II-3

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

2. Satuan Palembang Tengah, mempunyai batuan lempung dan lempung pasiran yang kedap
air, tersebar dibagian utara yaitu Kenten, Talang Betutu dan Sungai Ringgit (Kabupaten
Banyu Asin). Sedangkan disebelah selatan tersebar kearah Indralaya (Kabupaten Ogal
Ilir) dan Gelumbang (Kabupaten Muara Enim).
3. Satuan Palembang Bawah, tersebar dibagian dalam Kota Palembang dengan arah
memanjang ke barat daya tenggara dan merupakan suatu rangkaian antiklin.
Sebagian besar jenis tanah di wilayah Kota Palembang adalah tanah liat dan lapisan
aluvial terutama di wilayah Seberang Ilir. Sedangkan pada wilayah Seberang Ulu terdiri dari
tanah liat berpasir.

II.3.3 Hidrologi
Adanya perbedaan karakter topografi di Kota Palembang (kawasan Seberang Ulu
dengan Seberang Ilir) terkait dengan kondisi hidrologi, berupa keadaan anak-anak sungai
dalam wilayah. Di bagian wilayah Seberang Ulu terdapat anak-anak sungai yang relatif besar
dengan muara pada Sungai Musi. Anak-anak Sungai Musi yang relatif besar dan berhulu di
Pegunungan Bukit Barisan adalah Sungai Ogan dan Sungai Komering. Sedangkan anak-anak
Sungai Musi yang relatif kecil adalah Sungai Keramasan yang berhulu di Kabupaten Muara
Enim.
Selain anak-anak sungai tersebut, terdapat pula anak-anak sungai kecil dan pendek
yang bermuara pada Sungai Musi dan berhulu pada wilayah Kota Palembang dan kawasan
sekitarnya, seperti Sungai Aur dan Sungai Sriguna.
Pada bagian wilayah Seberang Ilir, aliran anak-anak sungai terbagi menjadi 2 (dua)
sesuai dengan karakteristik topografi yang ada, berupa adanya punggungan topografi. Pada
bagian selatan punggungan, terdapat anak-anak sungai yang mengalir pada Sungai Musi dan
berhulu pada punggungan topografi. Anak-anak sungai tersebut meliputi Sungai Lambidaro,
Sekanak, Buah, Batang, Selincah dan sebagainya. Pada bagian utara punggungan terdapat
anak-anak sungai yang mengalir keutara, yang bermuara antara lain ke Sungai Kenten.

II.4 Kependudukan
II.4.1 Kepadatan dan Distribusi Penduduk
Jumlah penduduk Kota Palembang meningkat sebesar 2,27% per tahun. Pada
pertengahan tahun 2006 jumlah penduduk mencapai 1.369.239 jiwa. Laju pertumbuhan ini

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

II-4

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

didasarkan pada faktor alami yakni kelahiran dan kematian serta dipengarhui oleh faktor
migrasi. Kepadatan penduduk tiap kecamatan dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Kota Palembang Tahun 2003-2006


(Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Palembang,2006)
Kecamatan

Penduduk (jiwa)
2003

2004

2005

2007

Ilir Barat II

60.761

62.032

63.264

64.708

Gandus

48.502

49.015

50.078

51.182

Seb. Ulu I

142.587

146.403

149.135

152.607

Kertapati

74.738

76.417

77.978

79.736

Seb. Ulu II

82.902

86.109

86.889

88.833

Plaju

76.996

79.155

80.749

82.581

Ilir Barat I

106.727

109.952

112.099

114.668

Bukit Kecil

45.408

45.865

46.789

47.850

Ilir Timur I

75.448

77.450

78.674

80.599

Kemuning

80.246

81.865

83.423

85.351

Ilir Timur II

154.864

157.602

160.818

164.449

Kalidoni

86.418

87.718

89.617

91.596

Sako

90.229

90.263

92.214

94.251

Sukarame

161.609

163.705

167.066

170.828

1.287.435

1.312.551

1.338.793

1.369.239

Total

Tabel 2.3 Kepadatan Penduduk dan Jumlah Rumah Tangga Menurut Kecamatan di
Kota Palembang Tahun 2006
(Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Palembang,2006)

Kecamatan

Luas
(km)

Jumlah
Rumah

Penduduk

Tangga

(jiwa)

Kepadatan Penduduk
(jiwa/km)

Ilir Barat II

6,22

12.827

64.708

10.403,2

Gandus

68,78

11.011

51.182

744,1

Seb. Ulu I

17,44

31.995

152.607

8.750,4

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

II-5

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

Lanjutan Tabel 2.3.

Kecamatan

Luas
(km)

Jumlah
Rumah

Penduduk

Tangga

(jiwa)

Kepadatan Penduduk
(jiwa/km)

Kertapati

42,56

16.942

79.736

1.873,5

Seb. Ulu II

10,69

19.749

88.833

8.309,9

Plaju

15,17

17.168

82.581

5.443,7

Ilir Barat I

19,77

25.249

114.668

5.800,1

Bukit Kecil

9,92

9.751

47.850

4.823,6

Ilir Timur I

6,50

16.604

80.599

12.399,8

Kemuning

9,00

19.656

85.351

9.483,4

Ilir Timur II

25,58

32.111

164.449

6.428,8

Kalidoni

27,92

21.135

91.596

3.280,7

Sako

42,50

19.380

94.251

2.217,7

Sukarame

98,56

36.598

170.828

1.733,2

Total

400,61

290.176

1.369.239

3.417,9

Dari Table 2.3 dapat dilihat bahwa penduduk Kota Palembang terakumulasi di Kecamatan
Sukarame sebesar 12,48% yakni 170.828 jiwa. Selain itu, dapat diketahui bahwa kepadatan
penduduk Kota Paelmbang tahun 2006 sebesar 3.417,9 jiwa/km2. Kecamatan terpadat adalah
kecamatan Ilir Timur I dengan kepadatan sebesar 12.399,8 jiwa/km2, sedangkan kepadatan
terendah berada pada Kecamatan Gandus yakni 744,1 jiwa/km2.

II.4.2 Struktur Penduduk


A. Struktur Penduduk Menurut Umur
Ditinjau dari komposisi umur, penduduk dengan

umur 15-19 tahun merupakan

jumlah terbesar yakni 149.103 jiwa yang terdiri dari 70.712 jiwa penduduk laki-laki
dan 78.391 jiwa perempuan. Jumlah penduduk produktif (15-64 tahun) di Kota
Palembang ialah 928.000 jiwa dengan menanggung 441.239 jiwa penduduk bukan
usia produktif. Hal ini berarti bahwa angka beban ketergantungan di kota ini pada
tahun 2006 ialah 2,1 atau satu orang penduduk berusia produktif menanggung lebih
dari 2 orang usia bukan produktif.

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

II-6

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

B. Struktur Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Sex Ratio


Rasio Jenis Kelamin di Kota Palembang tahun 2006 sebesar 97,15, hal ini berarti
bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk
perempuan.
Kecamatan yang memiliki ratio jenis kelamin yang tertinggi yakni Kecamatan Ilir
Timur I, 115,23%.

Tabel 2.4 Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun Menurut Jenis Kelamin per Kecamatan Di
Kota Palembang Tahun 2006
Kecamatan

Penduduk (jiwa)

Sex Ratio

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

Ilir Barat II

31.968

32.740

64.708

97,64

Gandus

24.341

26.841

51.182

90,69

Seb. Ulu I

77.254

75.353

152.607

102,52

Kertapati

38.938

40.798

79.736

95,44

Seb. Ulu II

42.960

45.873

88.833

93,65

Plaju

40.571

42.010

82.581

96,57

Ilir Barat I

57.038

57.630

114.668

98,97

Bukit Kecil

23.516

24.334

47.850

96,64

Ilir Timur I

43.152

37.447

80.599

115,23

Kemuning

42.884

42.467

85.351

100,98

Ilir Timur II

80.353

84.096

164.449

95,55

Kalidoni

43.608

47.988

91.596

90,87

Sako

44.902

49.349

94.251

90,00

Sukarame

83.239

87.589

170.828

95,03

Total

674.724

694.515

1.369.239

97,15

II.5 Tata Guna Lahan


Secara umum penggunaan lahan di Kota Palembang dapat dibagi menjadi 17
klasifikasi guna lahan, yaitu :
1. Hutan, meliputi kawasan hutan lindung, hutan kota, kawasan cagar alam dan kawasan
cagar budaya.

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

II-7

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

2. Rawa, meliputi rawa perlindungan dan rawa reklamasi..


3. RTH, meliputi ruang terbuka berupa jalur hijau disekitar jalur tegangan tinggi.
4. Kolam, berupa kolam-kolam yang tersebar di beberapa kecamatan.
5. Permukiman, meliputi permukiman dan perumahan penduduk.
6. Perdagangan dan jasa, meliputi sarana perekonomian berupa toko, pertokoan,
swalayan, plaza, pasar, kegiatan dibidang jasa, dsb.
7. Perkantoran, meliputi perkantoran swasta.
8. Pemerintahan, meliputi bangunan-bangunan pemerintah terdiri dari kantor kelurahan,
kecamatan, pemda, dan kantor pemerintah lainnya.
9. Industri, meliputi industri polutif dan industri non polutif.
10. Sarana, meliputi sarana olahraga, pendidikan, kesehatan dan peribadatan.
11. Perkebunan, meliputi perkebunan karet, sawit, dll.
12. Peternakan, meliputi kegiatan peternakan yang tersebar dibeberapa kecamatan.
13. Sawah, meliputi areal pertanian sawah.
14. Jalan, meliputi jalan-jalan utama kota yaitu arteri dan kolektor.
15. Jalan lingkungan dan lahan kosong, meliputi jalan-jalan lingkungan dan lahan-lahan
kosong.
16. Sungai, meliputi kawasan sungai (perairan) yang melintas Kota Palembang.
17. Lain-Lain, meliputi makam, bandara, TPA, terminal, dll.
Berdasarkan data kondisi tata guna lahan pada tahun 2004 yang diperoleh dari Badan Pusat
Statistik Kota Palembang dapat diketahui bahwa penggunaan lahan di Kota Palembang
didominasi oleh kegiatan jalan lingkungan dan lahan kosong (33,12 %) serta permukiman
(29,90 %). Ditinjau dari klasifikasi pembagian penggunaan lahan, Kota Palembang masih
didominasi oleh klasifikasi lahan berupa tanah non urban yaitu sebesar 55,41 %. Sedangkan
klasifikasi penggunaan lahan berupa tanah urban mempunyai luas sebesar 44,59 %.

II.6 Kualitas Air Sungai


Pada umumnya kualitas sungai Musi sudah dikategorikan tercemar, sekitar 70 persen
air Sungai Musi tercemar limbah rumah tangga. Sedangkan sisanya 30 persen tercemar
limbah

perusahaan

atau

industri.

Berdasarkan

Surat

Tanda

Uji

No.

660/028A/UPTL/Bapedalda/2005 tahun 2005 yang dikeluarkan oleh Badan Pengendali


Dampak Lingkungan Daerah Kota Palembang terlihat bahwa hamper seluruh titik sample

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

II-8

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

memiliki kualitas di atas baku mutu yang ada yakni Baku Mutu Air Sungai Kelas I Peraturan
Gubernur No. 16 Tahun 2005. Berikut ini gambaran kondisi kualitas sungai Musi di beberapa
titik tersebut.

Tabel 2.5 Hasil Pengukuran Pencemar di Berbagai Titik Sungai Musi


No

Parameter

Titik I

Titik 2

Titik 3

Titik 4

Baku Mutu

BOD (mg/l)

2,058

2,864

2,035

0,815

DO (mg/l)

1,67

1,44

2,6

1,3

TDS (mg/l)

1000

TSS (mg/l)

34

22

18

11

50

pH

6,64

6,46

6,52

6,58

6-9

Titik 1 : Dermaga Boom Baru

Titk 3 : Ilir PT. Pusri Sungai Musi

Titik 2 : 7 Ulu Jembatan Ampera

Titik 4 : Musi II, Intake PDAM

II.7 Fasilitas Perkotaan


II.7.1 Fasilitas Pendidikan
Fasilitas pendidikan di Kota Palembang pada tahun 2006, baik swasta maupun negeri,
pada tahun 2006 terdiri dari 246 sekolah taman kanak-kanak (TK), 350 sekolah dasar (SD),
198 sekolah menengah (SMP), 129 sekolah menengah umum (SMU) dan 49 sekolah
menengah kejuruan. Selama tahun 2006 jumlah murid taman kanak-kanak mencapai 12.656
murid, 157.483 murid sekolah dasar, 72.035 murid sekolah menengah pertama, 54.737 murid
sekolah menengah umum dan 18.245 murid untuk sekolah menengah kejuruan.

Tabel 2.6 Jumlah Fasilitas Pendidikan Kota Palembang Tahun 2006


(Sumber : BPS Kota Palembang, Diknas Kota Palembang, 2006)
Fasilitas Pendidikan (buah)
NO

Kecamatan
Ilir Barat II
Negeri
Swasta
Gandus
Negeri
Swasta

TK

SD

SMP

SMU

SMK

14
12

3
11

16
15

4
2

2
3

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

PT

II-9

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

Lanjutan Tabel 2.6.


Fasilitas Pendidikan (buah)
NO

10

11

12

13

14

Kecamatan
Seb. Ulu I
Negeri
Swasta
Kertapati
Negeri
Swasta
Seb. Ulu II
Negeri
Swasta
Plaju
Negeri
Swasta
Ilir Barat I
Negeri
Swasta
Bukit Kecil
Negeri
Swasta
Ilir Timur I
Negeri
Swasta
Kemuning
Negeri
Swasta
Ilir Timur II
Negeri
Swasta
Kalidoni
Negeri
Swasta
Sako
Negeri
Swasta
Sukarame
Negeri
Swasta
JUMLAH

TK

SD

SMP

SMU

SMK

1
16

35
37

6
10

1
6

33
35

3
10

1
4

13

13
16

2
11

1
9

11

29
30

2
13

1
8

1
26

34
32

5
11

4
12

2
4

10
12

2
5

22

12
19

2
13

1
8

2
2

14

20
24

2
9

2
12

1
7

28

31
32

4
19

2
16

1
5

16

30
34

5
12

1
10

31

19
18

5
7

2
2

41
246

36
34
682

10
10
198

3
10
129

1
5
49

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

PT

47
II-10

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

II.7.2 Fasilitas Peribadatan


Penduduk Kota Palembang mayoritas menganut agama islam. Pada tahun 2006
jumlah fasilitas masjid mencapai 663 unit dan 490 unit mushola. Selain itu, terdapat pula
fasilitas peribadatan lainnya yakni 53 unit gereja, 35 unit vihara dan 12 pura yang menyebar
di kota Palembang.

Tabel 2.7 Jumlah Fasilitas Peribadatan Kota Palembang Tahun 2006


(Sumber : BPS Kota Palembang, Departemen Agama Kota Palembang, 2006)

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Kecamatan
Ilir Barat II
Gandus
Seb. Ulu I
Kertapati
Seb. Ulu II
Plaju
Ilir Barat I
Bukit Kecil
Ilir Timur I
Kemuning
Ilir Timur II
Kalidoni
Sako
Sukarame
Total

Masjid
(buah)

Langgar/Mushola
(buah)

Gereja
(buah)

Vihara
(buah)

Pura
(buah)

23
24
54
50
33
34
74
29
29
31
59
49
64
110
663

47
19
74
22
12
9
48
118
59
46
36
490

1
2
6
2
1
2
16
2
7
3
5
6
53

1
8
1
8
1
4
1
11
35

9
3
12

II.7.3 Fasilitas Perniagaan


Sarana perbelanjaan diperlukan sebagai tempat pelayanan kebutuhan penduduk akan
kebutuhan sehari-hari. Sarana perbelanjaan dapat berupa toko, warung/kios, pasar
lingkungan, pasar, KUD, BANK dan sarana pelayanan lainnya. Kota Palembang merupakan
kota yang perekonomiannya bertumpuh pada sektor perdagangan.Oleh karena fasilitas
perniagaan di kota ini cukup banyak. Jumlah fasilitas perniagaan Kota Palembang dapat
dilihat pada Tabel 2.6.

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

II-11

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

Tabel 2.8 Jumlah Fasilitas Perniagaan Kota Palembang Tahun 2004


Fasilitas
Toko
Pertokoan Kecil
Pasar Lokal
Komplek
Pertokoan
Supermarket

Jumlah pada Tahun


2004
3196
266
54
27
17

II.7.4 Fasilitas Transpotasi


Salah satu peningkatan prasarana transportasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota
Palembang adalah dengan mengoperasikan Terminal Karyajaya (tipe) A pada tahun 2001
yang diharapkan secara berangsur dapat mengatasi kesemrawutan transportasi dalam kota dan
antar kota, khususnya dalam menaikkan dan menurunkan penumpang bagi angkutan antar
kota agar tidak melakukan di dalam Kota Palembang. Pada saat sekarang Kota Palembang
sudah memiliki terminal dengan 3 (tiga) tipe pelayanan, yaitu :
1. Tipe A

: berlokasi di Desa Karya Jaya Kecamatan Kertapati.

2. Tipe B

: di bagian Selatan kota yang merupakan akses ke Plaju serta Alang-Alang.

3. Tipe C

: di kota Sekip Ujung, Bukit Besar, KM 5, Pakjo, Lemabang, Gandus, Talang

Kelapa, dan Sako.

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Kota Palembang, bahwa pada tahun 2004, jumlah terminal
yang akan beroperasi berjumlah 13 unit.

II.7.5 Fasilitas Olahraga dan Rekreasi


Fasilitas olahraga dan rekreasi merupakan fasilitas yang dapat dipergunakan
masyarakat sebagai tempat penyegaran dari kegiatan rutin/aktivitas kerja, serta sebagai
kontak interaksi sosial (fasilitas sosial). Fasilitas ini dapat berupa bangunan dan ataupun
kawasan yang bernilai sejarah budaya ataupun berupa alam (pantai, pengembangan perairan
sungai, danau, dan lain-lain).
Jenis fasilitas dapat dibedakan atas fasilitas untuk kegiatan yang berada didalam
ruangan (in door) seperti gedung olah raga, bioskop, gedung kesenian. Sedangkan fasilitas
untuk kegiatan di luar lapangan (out door) seperti lapangan olah raga dan taman. Sarana
rekreasi dan olahraga diperlukan sebagai penyempurna kebutuhan penduduk yang
Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

II-12

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

mempunyai arti penting guna peningkatan pelayanan kenyamanan penduduk. Pada tahun
2004, fasilitas olahraga (GOR) berjumlah 54 unit. Sedangkan fasilitas hotel berjumlah 4029
bed dan 54 bioskop.

II.8 Kondisi Eksisting Penyediaan Air Bersih dan Pengelolaan Air Limbah
II.8.1 Penyediaan Air Bersih
Tingkat kebocoran PDAM Tirta Musi Kota Palembang masih tergolong tinggi yakni
mencapai 50%. Oleh karena itu, sampai pada tahun 2008, pemerintah bertekad untuk
meningkatkan pelayanan hingga mencapai 80% dengan membuat jaringan baru dan
mengganti perpipaan yang telah tua. Jumlah pelanggan, air minum yang didistribusikandan
tariff air minum pada tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 2.9.

Tabel 2.9 Kondisi Eksisting Sistem Penyediaan Air Minum Kota Palembang
(Sumber : PDAM Tirta Musi Palembang)
Jenis Pelanggan

Air Minum Yang

Tarif Air Minum

Didistribusikan (m3)

(m3)

2005

2006

2005

2006

Rumah Tangga

27.718.136

34.763.306

1.345

1.345

Usaha

1.421.535

5.782.261

3.350

3.350

28.165

38.570

3.350

3.350

3.707.330

538.391

1.845

1.845

807.527

626.735

4.700

4.700

Industri
Instansi Pemerintah
Lain-lain

II.8.2 Pengelolaan Air Limbah


Kota Palembang belum memiliki system pengelolaan limbah domestik secara
terpusat. Namun, untuk mendukung penanganan sanitasi atau air limbah tersebut disediakan
prasarana Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) yang terdapat di Borang (Sako) dan
Kelurahan Sukajaya (Sukarami) yang terintegrasi dengan TPA sampah. Untuk pengangkutan
lumpur tinja tersebut disediakan mobil tangki penyedot tinja.
Selain itu, air limbah domestik Kota Palembang umumnya menggunakan sistem
sanitasi setempat (on site sanitation) dengan menggunakan jamban, baik yang dikelola secara
individu maupun secara komunal, yang dilengkapi dengan tangki septik atau cubluk.
Sebagian masyakat pula membuang air limbah secara langsung menuju ke sungai.
Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

II-13

Bab II Gambaran Umum Daerah Perencanaan

Gambar 2.2 menyajikan kondisi eksisting pengolahan air buangan domestik Kota
Palembang.

2,51%

6,10%

15,87%
MCKPribadi
Fasilitas Bersama
Fasilitas Umum
Tidak Ada Fasilitas
75,51%

Gambar 2.2 Kondisi Pengolahan Air Buangan Domestik Sistem On-Site


(sumber : BPS Kota Palembang)

II.8.3 Permasalahan
Petumbuhan perekonomian Kota Palembang yang pesat memicu pertumbuhan
penduduk yang pesat pula. Hal ini tentu akan mempengaruhi kondisi kualitas lingkungan
dengan semakin meningkatnya air limbah domestik Kota Palembang. Untuk mengeliminasi
beban pencemaran yang diterima oleh badan air maka perlu dilakukan pengelolaan terhadap
air limbah domestik secara terpusat

Muhammad Sonny Abfertiawan 15304029

II-14