You are on page 1of 33

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Didunia terjadi 20 juta kasus abortus setiap tahun dan 70 ribu wanita
meninggal karna abortus setiap tahunnya. Angka kejadian abortus diasia
tenggara 4,2 juta/tahun termaksud indonesia. Di Indonesia abortus spontan
10-15% dari seluruh kehamilan, sedangkan abortus provokatus sekitar 750
ribu-1,5 juta setiap tahunnya.
Dewasa ini, terdapat beberapa macam kelainan dalam kehamilan, dan
yang paling sering terjadi adalah abortus. Abortus adalah keluarnya janin
sebelum mencapai viabilitas, dimana masa gestasi belum mencapai usia 22
minggu dan beratnya kurang dari 500 gr (Liewollyn, 2002).
Terdapat beberapa macam abortus, yaitu abortus spontan, abortus
buatan, dan abortus terapeutik. Abortus spontan terjadi karena kualitas sel
telur dan sel sperma yang kurang baik untuk berkembang menjadi sebuah
janin. Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan di sengaja
sebelum usia kandungan 28 minggu. Pengangguran kandungan buatan karena
indikasi medik disebut abortus terapeutik (Prawirohardjo, 2002).
Angka kejadian abortus, terutama abortus spontan berkisar 10-15%.
Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% jika di perhitungkan banyaknya
wanita mengalami yang kehamilan dengan usia sangat dini, terlambatnya
menarche selama beberapa hari, sehingga seorang wanita tidak mengetahui
kehamilannya. Di indonesia, di perkirakan ada 5 juta kehamilan pertahun,
dengan demikian setiap tahun terdapat 500.000-750.000 janin yang
mengalami abortus spontan.
Abortus terjadi pada usia kehamilan kurang dari 8 minggu, janin
dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara
mendalam. Pada kehamilan 8-14 minggu villi koriales menembus secara
mendalam, plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak perdarahan.
Pada kehamilan di atas 14 minggu, setelah ketuban pecah janin yang telah
mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian
plasenta (Praworohadjo, 2002).
Menariknya pembahasan tentang abortus di karenakan pemahaman
dikalangan masyarakat masih merupakan suatu tindakan yang masih di
1

pandang sebelah mata. Oleh karena itu, pandangan yang ada di dalam
masyarakat tidak boleh sama dengan pandangan yang di miliki oleh tenaga
kesehatan, dalam hal ini adalah perawat setelah membaca pokok bahasan ini.
Peran perawat dalam penanganan abortus dan mencegah terjadinya
abortus adalah dengan memberikan asuhan keperawatan dengan benar.
Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan untuk
meminimalisir terjadi kompliksi serius yang dapat terjadi seiring dengan
kejadian abortus.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan kegawatdaruratan pada klien dengan
abortus ?
C. Tujuan Masalah
1. Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami penanganan kegawatdaruratan dan
asuhan keperawatan pada klien abortus.
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa memahami aborsi dalam presfektif islam
b. Mahasiswa memahami definisi abortus
c. Mahasiswa memahami etiologi abortus
d. Mahasiswa memahami klasifikasi abortus
e. Mahasiswa memahami patofisiologi abortus
f. Mahasiswa memahami pathway abortus
g. Mahasiswa memahami metode abortus
h. Mahasiswa memahami alasan wanita melakukan abortus
i. Mahasiswa memahami dampak dari abortus
j. Mahasiswa memahami komplikasi abortus
k. Mahasiswa memahami pelayanan aman abortus
l. Mahasiswa memahami manifestasi klinis abortus
m. Mahasiswa memahami penatalaksanaan abortus
n. Mahasiswa memahami asuhan keperawatan abortus

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Aborsi dalam presfektif islam
Sayyid sabiq mengatakan, bahwa hal yang paling perlu mendapat
perhatian diantara hak-hak mnausia adalah hak hidup karena hal ini adalah
hak yang suci, tidak dibenarkan secara hukum dilanggar kemuliaannya dan
tidak boleh dianggap remeh eksistensinya.

Sebelum menjelaskan secara mendetals tentang hukum aborsi, lebih


dahulu perlu dijelaskan tentang pandangan umum ajaran islam tentang
nyawa, janin dan pembunuhan, yaitu sebagai berikut :
1. Manusia adalah ciptaan allah yang mulia, tidak boleh dihinakan baik
dengan merubah ciptaan tersebut, maupun menguranginya dengan cara
memotong sebagian anggota tubuhnya, maupun dengan cara memperjual
belikannya, maupun dengan cara menghilangkannya sama sekali yaitu
dengan membunuhnya, sebagai mana firman allah swt :
Dan sesungguhnya kami telah memuliakan umat manusia (QS.al-Isra :
70)
2. Membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang.
Menyelamatan satu nyawa sama dengan menyelamatkan semua orang.
Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani israil, bahwa :
barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu
(membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka
bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya dan
barang siapa yang membunuh seorang manusia, maka seakan-akan dia
telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara
keselamatan nyawa seorang manusia, maka seolah-olah dia telah
memelihara keselamatan nyawa manusia semuanya. (QS. Al-maidah:
32)
3. Dilarang membunuh anak (termasuk janin yang masih dalam kandungan)
hanya karna takut miskin. Sebagaimana firman allah swt :
Dan janganlah kamu mebunuh anak-anak mukarena takut melarat.
Kamilah yang memberi rejeki kepada mereka dan kepadamu juga.
Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar. (QS. Alisra:31)
4. Setiap janin yang terbentuk adalah merupakan kehendak allah swt.
Selanjutnya kami dudukan janin itu dalam rahim menurut kehendak
kami selama umur kandungan. Kemudian kami keluarkan kamu dari
rahim ibu mu sebagai bayi. (QS. Al Hajj : 5)
5. Larangan membunuh jiwa tanpa hak, sebagaimana firman Allah swt :
Dan janganlah kamu mebunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan
dengan alasan yang benar. (QS. Al-isra : 33)

Didalam teks teks al-Quran dan Hadist tidak didapati secara khusus
hukum aborsi, tetapi yang ada adalah larangan untuk memebunuh jiwa
orang tanpa hak, sebagaimana firman Allah swt:
Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja,
maka balasanya adalah neraka jahanam dan dia kekal didalamnya, dan
Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan baginya ajab
yang besar (QS. An Nisa:93)
Begitu juga hadist yang diriwayatkan oleh ibnu Masud bahwasanya
Rasulullah Saw bersabda:
Sesungguhnya seseorang dari kamu dikumpulkan penciptanya di dalam
perut ibunya selama 40 hari. Setelah genap 40 hari ke dua, terbentuklah
segumpal darah beku. Ketika geenap 40 hari ke tiga berubahlah menjadi
segumpal daging. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan
roh, serta memerintahkan utnuk menulis 4 perkara, yaitu penentuan riski,
waktu kematian, amal, serta nasibnya, baik yang celaka, maupun yang
bahagia. (Bukhari dan Muslim).
Dari pandangan Mazhab manapun, jelas menyatakan bahwa aborsi
dalam pandangan agama islam tidak diperkenankan dan merupakan dosa
besar karena dianggap membunuh nyawa manusia yang tidak bersalah.
Perlakunya bis diminta pertanggung jawaban atas tindakanya itu.
Untuk islam yang telah tercatat ini menandakan bahwa janin
dianggap sebagai manusia. Menyakiti atau membunuhnya termaasuk dosa
besar dan haram. Aborsi hanya boleh dilakukan apabila kehamilan
tersebut dapat mengacam dan mebahayakan jiwa si ibu, yang dianut
Mazhab Hanafi, dengan syarat usia kandungan belum mencapai 4 bln.
Meskipun demikian Majelis Ulama indonesia telah mengeluarkan fatwa
bahwa wanita korban pemekorsaan dibolehkan melakukan aborsi, dengan
syarat masa kehamilan belum mencapai 40 hari. Hal tersebut
diperbolehkan karena korban pemerkosaan adalah orang yang teraniaya
dan kehamilan bukan kehendaknya untuk melakukan hubungan tersebut,
melainkan tindakan paksaan orang lain.
Agama islam memberi aturan bagi umat muslim dalam rangka
kehidupan dan peradaban yang lebih baik. Tak terkecuali dalam hal
pengguguran kandungan yang di sengaja atau aborsi. Hukum aborsi

menurut islam jelas keharamannya karena janin bayi yang berada dalam
rahim seorang ibu telah mempunyai nyawa. Penghilangan terhadap
nyawa seseorang adalah pembunuhan.
B. Definisi Abortus
Abortus (keguguran) merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup diluar kandung yang menurut para ahli ada sebelum 16
minggu dan 28 minggu dan memiliki BB 400-1000 gram, tetapi jika terdapat
fetus hidup dibawah 400 gram itu dianggap keajaiban karena semakin tinggi
BB anak waktu lahir makin besar kemungkinan untuk dapat hidup terus
(Amru sofian, 2012).
Abortus ialah pengakhiran/ ancaman pengakhiran kehamilan sebelum
janin mencapai berat 1000 gram atau kurang dari 28 minggu. Terutama
disebabkan oleh kelainan pertumbuhan hsil konsepsi; terjadi pada 10-15%
kehamilan. Secara klinik dapat dibedakan atas abortus iminens, abortus
insipiens abortus inkomletus dan abortus kompletus. Selanjutnya dikenal pula
baortus habitualis (bortus spontan 3 kali berturut-turut atau lebih), missed
abortion (kematian janin dalam kandungan sebelum 28 minggu, tetapi janin
tidak

dikeluarkan

selama

kurang

lebih

minggu)

dan

abortus

infeksiosus/septik. (Purwadianto & Sampurna, 2000).


Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu)
padaatau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan
belummampu untuk hidup diluar kandungan. (Saifudin, 2009).
Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana
masagetasi belum mencapai 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr
(Derekliewollyn&Jones, 2002).
C. Etiologi
Faktor-faktor yang menyebabkan kematian fetus yaitu faktor ovum itu
sendiri, fator ibu, dan faktor bapak (amru sofian, 2012).
1. Kelainan ovum
a. Ovum patologis
b. Kelainan letak embrio
c. Plansenta yang abnormal
2. Kelainan genitalia ibu
a. Anomali kongenital (hipoplasia uteri, uterus bikornis,dll)
b. Kelainan letak dari uterus seperti retrofleksi uteri fiksata

c. Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi dari ovum


yang sudah dibuahi, seperti kurangnya progesteron atau estrogen,
endometritis, mioma submukosa
d. Uterus terlalu cepat teregang (kehamilan ganda, mola)
e. Distorsio uterus, misalnya karena terdorong oleh tumor pelvis
f. Gangguan sirkulasi plasenta
3. Penyakit-penyakit ibu
a. Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi seperti pneumonia,
tifoid, pielitis, rubeola, demam malta,dll)
b. Keracunan pb, nikotin, gas racun, alkohol,dll
c. Ibu yang asfiksia seperti pada dekompensasi kordis, penyakit paru
berat anemia gravis.
d. Malnutrisi, avitaminosis, dan gangguan metabolisme, hipoteroid,
kekurangan vitamin A,C, atau E, diabetes melitus.
4. Antagonis rhesus
Darah ibu yang melalui plasenta merusak daerah fetus sehingga menjadi
anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus.
5. Terlalu cepatnya korpus luteum menjadi atrofis
6. Perangsangan terhadap ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi. Seperti
sangat terkejut, obat-obat uterotonika,katakulan lapoprotomi, dll.
7. Penyakit bapak: usia lanjut, penyakit kronis
(NANDA NIC-NOC, 2015)
D. Klasifikasi Abortus
1. Abortus spontanea
Abortus spontanea adalah abortus yang terjadi tanpa tindakan atau terjadi
dengan sendirinya. Aborsi ini sebagian besar terjadi pada gestasi bulan
kedua dan ketiga. Abortus spontan terdiri dari beberapa jenis yaitu:
a. Abortus Imminens
Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus
pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih
dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.
Gejala-gejala abortus imminens antara lalin :
1) perdarahan pervagina pada paruh pertama kehamilan. Perdarahan
biasanya terjadi beberapa jam sampai beberapa hari. Kadangkadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu.
2) nyeri kram perut. Nyeri di anterior dan jelas bersifat ritmis, nyeri
dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai
7

perasaan tertekan di panggul, atau rasa tidak nyaman atau nyeri


tumpul di garis tengah suprapubis.
Untuk pemeriksaan penunjang abortus imminen digunakan
Sonografi vagina, pemeriksaan kuantitatif serial kadar gonadotropin
korionik (HCG) serum, dan kadar progesteron serum, yang diperiksa
tersendiri atau dalam berbagai kombinasi, untuk memastikan apakah
terdapat janin hidup intrauterus. Selain itu, juga digunakan tekhnik
pencitraan colour and pulsed Doppler flow per vaginam dalam
mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup.
Jika konseptus meninggal, uterus harus dikosongkan. Semua
jaringan yang keluar harus diperiksa untuk menentukan apakah
abortusnya telah lengkap. Kecuali apabila janin dan plasenta dapat
didentifikasi secara pasti, mungkin diperlukan kuretase.
Ultrasonografi abdomen atau probe vagina dapat membantu dalam
proses pengambilan keputusan ini. Apabila di dalam rongga uterus
terdapat jaringan dalam jumlah signifikan, maka dianjurkan
dilakukan kuretase.
Penanganan abortus imminens meliputi :
1) Istirahat baring.
Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan,
karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke
uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.
2) Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai
zat progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular.
Walaupun bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti.
3) Pemeriksaan ultrasonografi
b. Abortus Insipiens
Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri
yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.
Gejala-gejala abortus insipiens adalah:
1) Rasa mules lebih sering dan kuat

2) Perdarahan lebih banyak dari abortus imminens.


3) Nyeri karena kontraksi rahim kuat yang dapat menyebabkan
pembukaan.
Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret
vakum atau dengan cunam ovum, disusul dengan kerokan.
Penanganan Abortus Insipiens meliputi :
1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi uterus
dengan aspirasi vakum manual.
Jika evaluasi tidak dapat dilakukan, maka segera lakukan :
a). Berikan ergomefiin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang
setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg per
oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu).
b). Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi
dari uterus.
2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu :
a). Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa
hasil konsepsi.
b). Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml
cairan intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat
dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi
hasil konsepsi.
c). Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah
penanganan
c. Abortus Inkompletus
Abortus Inkompletus merupakan pengeluaran sebagian hasil
konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa
tertinggal dalam uterus. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian)
tertahan di uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang
merupakan tanda utama abortus inkompletus. Pada abortus yang
lebih lanjut, perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga
menyebabkan hipovolemia berat.
Gejala-gejala yang terpenting adalah:

1) Setelah terjadi abortus dengan pengeluaran jaringan, perdarahan


berlangsung terus.
2) Servix sering tetap terbuka karena masih ada benda di dalam
rahim yang dianggap corpus allienum, maka uterus akan
berusaha mengeluarkannya dengan kontraksi. Tetapi setelah
dibiarkan lama, cervix akan menutup.
Penanganan abortus inkomplit :
1). Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang 16
minggu, evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan
cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar
melalui serviks. Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2
mg intramuskuler atau misoprostol 400 mcg per oral.
2). Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia
kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi hasil konsepsi dengan :
a) Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang
terpilih. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya
dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia.
b) Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin
0,2 mg intramuskuler (diulang setelah 15 menit bila perlu)
atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4
jam bila perlu).
3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu:
a) Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena
(garam fisiologik atau ringer laktat) dengan kecepatan 40
tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi
b) Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4
jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800
mcg)
c) Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus.
d) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah
penanganan.

10

d. Abortus kompletus
Pada jenis abortus ini, semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.
Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah
menutup, dan uterus sudah banyak mengecil. Diagnosis dapat
dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat
dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap.
Klien dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan
khusus, hanya apabila penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas
ferrosus 600 mg perhari atau jika anemia berat maka perlu diberikan
transfusi darah.
2. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat)
Abortus provokatus adalah peristiwa menghentikan kehamilan
sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada umumnya dianggap
bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila kehamilan belum
mencapai umur 28 minggu, atau berat badan bayi belum 1000 gram,
walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus
hidup.
3. Missed abortion
Kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin yang telah
mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Etiologi missed
abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormone progesterone.
Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens mungkin juga
dapat menyebabkan missed abortion.
Gejala missed abortion adalah :
a. Tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara
spontan atau setelah pengobatan.
b. Gejala subyektif kehamilan menghilang,
c. Mammae agak mengendor lagi,
d. Uterus tidak membesar lagi malah mengecil,
e. Tes kehamilan menjadi negatif
f. Gejala-gejala lain yang penting tidak ada, hanya amenorhoe
berlangsung terus.

11

Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah


mati dan besamya sesuai dengan usia kehamilan. Perlu diketahui pula
bahwa missed abortion kadang-kadang disertai oleh gangguan
pembekuan darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemeriksaan ke
arah ini perlu dilakukan. Tindakan pengeluaran janin, tergantung dari
berbagai faktor, seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudah
mulai turun. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati
lebih dari 1 bulan tidak dikeluarkan. Selain itu faktor mental penderita
perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa
gelisah, mengetahui ia mengandung janin yang telah mati, dan ingin
supaya janin secepatnya dikeluarkan.
Sekarang kecenderungan untuk menyelesaikan missed abortus
dengan oxitocin dan antibiotic. Setelah kematian janin dapat
dipastikan
4. Abortus Habitualis
Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih
berturut turut. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil, tetapi
kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu

E. Patogenesis
Patofisiologi abortus dimulai dari perdarahan pada desidua yang
menyebabkan necrose dari jaringan sekitarnya. Selanjutnya sebagian /
seluruh janin akan terlepas dari dinding rahim. Keadaan ini merupakan benda
asing bagi rahim, sehingga merangsang kontraksi rahim untuk terjadi
eksplusi seringkali fatus tak tampak dan ini disebut Bligrted Ovum.

12

Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan


nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan
dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk
mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus
desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada
kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga
plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan.
Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu
daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong
amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin
lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau
fetus papira

F. Pathway
Fisiologi organ terganggu
Penyakit ibu atau bapak

Abortus ( mati janin <16-28


minggu/BB <400 1000 g

Panggul sempit
13

Abortus spontan

Abortus
provokatus

Ab. Imminens

Ab. Medisinalis

Ab. Insipiens

Ab. kriminalis

Ab. Inkompleterus

Intoleransi aktivitas

G. rasa nyaman

Missed abortion
Nyeri abdomen

curetase

Post anastesi

Kurang pengetahuan
pengetahuan

Ansietas

Jaringan terputus/terbuka

Resiko infeksi

Nyeri

Invasi bakteri

Penurunan syaraf oblongata


Penurunan syaraf vegetatif

peristaltik

G. pemenuhan ADL

G. Rasa Nyaman

Penyerapan cairan di kolon

perdarahan

Kekurangan volume
cairan
Resik syok (hipovelemik)

G. eliminasi ( konstipasi )

G. Metode Aborsi
Berbagai metode dalam aborsi yang dapat dilakukan, tergantung dari situasi
dan kondisi.
Berikut ini bagian-bagian metode dari aborsi :
14

1. Aborsi yang Aman dan Efektif


Dari segi medis, kehamilan dapat diakhiri bila dilakukan olehtenaga
kesehatan yang sudah terlatih. Teknologi aborsi yang aman dan efektif
mampu menurunkan kematian dan kesakitan yang berkaitan dengan
aborsi. Tindakan aborsi yang aman secara medis dilakukan dengan cara :
a. Penyedotan (Aspirasi Vakum)
Aspirasi vakum terbukti merupakan teknik aborsi yang paling
aman untuk evakuasi kehamilan pada trimester pertama, baik di
gunakan untuk aborsi yang di induksi maupun untuk perawatan aborsi
yang tidak lengkap.
Pengakhiran kehamilan dengan teknik aspirasi vakum dilakukan
dengan menggunakan alat tabung khusus (kanula) yang dimasukan ke
dalam rahim melalui serviks dan vagina. Hal ini bisa dilakukan tanpa
anastesi umum, tetapi suntikan anti nyeri sering di lakukan pada
bagian serviks. Bila aspirasi dilakukan dengan tangan atau Manual
Vakum Aspiration (MVA), kehamilan disedot dengan menggunakan
syringe khusus, jika tidak bisa dilakukan dengan tenaga listrik.
Aspirasi vakum manual hanya memerlukan obat anlgetik ringan atau
blok paraservikal sehingga menurunkan resiko anastesi, dan
mengurangi kebutuhan rawat inap serta biaya.
Cara aborsi ini kurang menimbulkan komplikasi di bandingkan
dengan cara dilatasi dan kuretase.

15

b. Pengelupasan dan pengeluaran (dilatasi dan kuretase)


Walaupun aspirasi vakum mempunyai kelebihan dari segi
keamanan tetapi, dilatase dan kuretase tetap merupakan metode yang
paling banyak digunakan untuk aborsi dan perawatan di negara
berkembang. Kehamilan dakhir dengan cara mengeluarkan jaringan
dari Rahim dengan menggunakan alat kuret, yaitu alat berbentuk
sendok kecil yang di buat khusus untuk Rahim. Alat kuret tersebut
lebih besar dari kanula dan tajam, maka mulut Rahim harus terbuka
terlebih dahulu.

16

Di rumah sakit tersier, dokter biasanya melaksanakan diilatasi


dan kuretase di kamar bedah dengan anastasi umum atau sedative, dan
aborsi dengan cara ini minimal wanita menginap satu malam di rumah
sakit.

2. Obat-Obatan
Saat ini beberapa jenis obat-obatan di gunakan oleh dokter untuk
aborsi. Obat-obatan tersebut menyebabkan rahm berkontraksi dan
mengeluarkan kehamilan. Cara pemberian obat-obatan diatas ada dengan
cara diminum, disuntik ataupun dimasukkan kedalam vagina.
Penggunaan obat yang tepat untuk aborsi, kemungkinan akan lebih
aman dari pada harus memasukan sesuatu alat ke dalam Rahim, yang
kemungkinan besar dapat menyebabkan kerusakan Rahim ataupun
infeksi.
Obat-obatan yang bisa di gunakan medis yaitu :
a) Mifepriston (RU 486 atau French pil) adalah obat aborsi yang bekerja
dengan cara rnencegah implantasi blastokis pada rahim, atau
mencegah kehamilan bila implantasinya sempurna.

17

b) Misopristol adalah jenis obat-obatan yang digunakan untuk ulkus


gastritis dan digunakan dengan mifepristone atau obat lain untuk
aborsi. Obat itu sendiri sudah bisa digunakan untuk mernulai proses
aborsi, tetapi biasanya proses aborsi tidak bisa tuntas, sehingga wanita
pemakainya

harus

mendapatkan

perawatan

khusus

untuk

menghentikan perdarahan. Misopristol dirnasukkan ke dalam vagina,


tidak diminum.
c) Methotrexate adalah suatu obat anti kanker yang digunakan bersarna
dengan rnisopristol untuk aborsi. Obat ini mempunyai efek samping
yang berbahaya bagi wanita, yaitu bila tidak menyebabkan aborsi
maka dapat menimbulkan cacat bawaan yang serius pada bayi.
Sampai saat ini belum banyak diketahui bagaimana penggunaan obat
ini secara aman, terutama di daerah yang tidak memiliki fasilitas
peralatan kedokteran yang modern
d) Prostaglandin, biasanya dilakukan pada kehamilan yang lebih 12
minggu. Zat ini disuntikkan ke dalarn rahim dan setelah beberapa
waktu (biasanya 16 jam) rnenghasilkan kontraksi kuat dari rahirn,
seperti persalinan kecil, setelah beberapa jam rnenyebabkan
keguguran. Di antara waktu penyuntikan dan aborsi biasanya timbul
mualmual dan demam karena efek samping prostaglandin. Sedangkan
rasa tidak menyenangkan dan nyeri bisanya memerlukan analgetik
3. Aborsi yang Tidak Aman
Aborsi yang tidak aman adalah aborsi yang dilakukan oleh orang yang
tidak terlatih kompeten sehingga menimbulkan berbagai komplikasi
bahkan kematian. Ada beberapa ciri abortus yang tidak aman yaitu:
membahayakan

(dilakukan

sendiri

atau

oleh

orang

yang

tidakterlatihkompeten. pengetahuan yang rendah (tidakdiberitahu atau


tidak mau tahu), kurang fasilitas (tidak memenuhi standar pelayanan
medis), biaya meningkat (karena komplikasi yang timbul dan status

18

ilegal), keterlambatan (risiko meningkat), sikap masa bodoh petugas


kesehatan, tidak diteruskan dengan kontrasepsi pasca aborsi.
Aborsi yang tidak aman biasa dilakukan dengan cara: memasukkan
benda asing (ranting kayu, kabel. ramu-ramuan, bahan kimia dll) ke
dalam vagina dan rahim, meminum obat-obatan dan ramu-ramuan
tradisional secara berlebihan, melakukan kekerasan fisik pada tubuh
seperti memukul-mukul tubuh atau menjatuhkan diri. Hal ini bisa
menyebabkan kecacatan dan perdarahan dalam tubuh, tetapi mungkin
tidak menyebabkan aborsi.
Induksi aborsi yang dikerjakan dengan cara tidak aman adalah
penyebab tunggal kematian wanita yang terbesar, tetapi sebenarnya dapat
dicegah.Wanitatidak

seharusnya

meninggal

atau

menanggung

konsekuensi medik akibat aborsi, karena aborsi tidak membunuh wanita.


Di antara seluruh penyebab utama kematian ibu, penyebab kematian
karena aborsi merupakan sebab yang paling jelas.
H. Alasan wanita melakukan aborsi
Menurut karim (2009), ada 5 alasan kenapa seorang wanita melakukan
aborsi, yaitu:
1. Karena alasan kesehatan, dimana ibu tidak cukup sehat untuk hamil
2. Karena alasan ekonomi, dimana kehadiran seorang anak hanya
menambah beban ekonomi.
3. Karena alasan social, misalnya karena takut terkena penyakit keturunan.
4. Karena alasan psikososial, dimana siibu memang benar-benar sudah tidak
menginginkan anak lagi.
5. Karena rasa malu, dimana hamil yang terjadi karena perbuatan diluar
pernikahan.
I. Dampak dari aborsi
Aborsi bisa dilakukan dengan cara aman, bila dilakukan oleh dokter
ataupun bidan berpengalaman. Sebaliknya, aborsi tidak aman bila dilakukan
oleh dukun ataupun cara-cara yang tidak benar atau tidak lazim. Menurut
Soetjiningsih (2007), aborsi bisa mengakibatkan dampak negative secara
fisik, psikis dan social terutama bila dilakukan secara tidak aman, yakni :
1. Resiko fisik

19

Perdarahan dan komplikasi lain merupakan salah satu resiko aborsi.


Aborsi yang berulang selain bisa mengakibatkan komplikasi juga bisa
menyebabkan kemandulan. Aborsi yang dilakukan secara tidak aman bisa
berakibat fatal yaitu kematian.
2. Resiko psikis
Pelaku aborsi sering kali mengalami persaan takut, panic, tertekan, atau
stress. Trauma mengingat proses aborsi dan kesakitan. Kecemasan karena
rasa bersalah atau dosa akibat aborsi bisa berlangsung lama. Selain itu
pelaku aborsi juga sering kehilangan percaya diri.
3. Resiko social
Ketergantungan pada pasangan seringkali menjadi lebih besar karena
perempuan merasa tidak perawan. Pernah mengalami kehamilan tidak
diaharapkan dan aborsi.
4. Resiko ekonomi
Biaya aborsi cukup tinggi. Bila terjadi komplikasi maka biaya semakin
tinggi.
J. Komplikasi aborsi
Akibat dilakukannya tindakan abortus provokatus atau kriminalitas.
Komplikasi medis yang dapat timbul, yaitu:
1. Perforasi dalam
Melakukan kerokan harus diingat bahwa selalu ada kemungkinan
terjadinya perforasi dinding uterus yang data menjurus ke rongga
peritoneum, ke ligamentum latum, atau kekandung kencing. Oleh sebab
itu letak uterus haru ditetapkan lebih dahulu dengan seksama pada awal
tindakan, dan pada dilatasi serviks jangan digunakan tekanan berlebihan.
Pada kerokan kuret dimasukan dengan hati-hati akan tetapi penarikan
kuret keluar dapat dilakukan dengan tekanan yang lebih besar. Bahaya
perforasi ialah perdarahan dan peritonitis. Apabila terjadi perforasi atau
diduga terjadi peristiwa itu, penderita harus diawasi dengan seksama
dengan mengamati keadaan umu, nadi, tekanan darah, kenaikan suhu,
turunya hemoglobin, dan keadaan perut bawah. Jika keadaan meragukan
atau ada tanda-tanda bahaya, sebaiknya dilakukan laparatomi percobaan
dengan segera.
2. Luka pada serviks uteri
Apabila jaringan serviks keras dan dilatasi dipaksakan maka dapa
timbul sobekan pada serviks uteri yang perlu di jahit. Apabila terjadi
20

luka pada ostium uteri internum, maka akibat yang segera timbul ialah
perdarahan yang memerlukan pemasangan tampon pada serviks dan
vagina.

Akibat

jangka

panjang

ialah

kemungkinan

timbulnya

incompetent cervics.
3. Peletakan pada kavum uteri
Melakukan kerokan secara sempurna memerlukan pengalaman.
Sisa-sisa hasil konsepsi harus dikeluarkan, tetapi jaringan myometrium
jangan sampai terkerok, karena hal itu dapat mengakibatkan terjadinya
perletakan dinding kavum uteri dibeberapa tempat. Sebaiknya kerokan
dihentikan pada suatu tempat apabila pada suatu tempat tersebut
dirasakan bhwa jaringan tidak begitu lembut lagi.
4. Perdarahan
Kerokan pada kehamilan agak tua atau pada mola hidatidosa ada
bahaya perdarahan, oleh sebab itu, jika perlu hendaknya diselenggarakan
transfuse darah dan sesudah kerokan selesai dimasukan tampon kasa
kedalam uterus dan vagina.
5. Infeksi
Apabila syarat asepsis dan atisepsi tidak diindahkan, maka bahaya
infeksi sangat besar. Infeksi kandungan yang terjadi dapat menyebar
keselurh peredaran darah, sehinggah menyebabkan kematian. Bahaya
lain yang ditimbulkan abortus kriminalis antara lain infeksi pada saluran
telur. Akibatnya, sangat memungkin tidak bisa terjadi kehamilan lagi.
K. Pelayanan Aborsi Aman
Pelayanan aborsi yang aman diperjungkan oleh forum kesehatan
perempuan dan dilakukan dalam penelitian berkelanjutan (Soetjiningsih.
2007) yaitu:
1. Dialakukan di fasilitas kesehatan yang diunjuk
2. Dilakukan oleh dokter ahli kebidanan dan kandungan atau dokter umum
yang disertifikasi
3. Usia kehamilan dibawah 12 minggu
4. Konseling sebelum dan setelah tindakan pada klien
L. Manifestasi Klinis
1. Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu
2. Pada pemeriksaan fisik : Keadaan umum tampak lemah atau kesadaran
menurun,tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau
cepat dan kecil,suhu badan normal atau meningkat.

21

3. Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil


konsepsi.
4. Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri
pinggangakibat kontraksi uterus.
5. Pemeriksaan ginekologi :
a. Inspeksi vulva: perdarahan pervaginam ada / tidak jaringan hasil
konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari vulva.
b. Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau
sudahtertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan
atau jaringan berbau busuk dario ostium.
c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau
tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil
dari usai kehamilan, tidak nyeri saat porsio di goyang, tidak nyeri pada
perabaan adneksa, kavum Douglasi, tidak menonjol dan tidak nyeri.
M. Penatalaksanaan Abortus
1. Abortus imminens
a. Tirah baring total
b. Jangan melakukan aktifitas fisik berlebihan atau hubungan seksual.
c. Jika perdarahan berhenti, lakukan asuhan antenatal seperti biasa,
lakukan penilaian jika perdarahan terjadi lagi. Jika perdarahan terus
berlangsung, nilai kondisi janin (uji kehamilan atau USG). Jika
perdarahan berlanjut, khususnya jika ditemukan uterus yang lebih
besar dari yang diharapkan, mungkin menunjukkan kehamilan ganda
atau mola.
2. Abortus insipient
a. Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi uterus dengan
aspirasi vakum manual. Jika evaluasi tidak dapat, segera berikan
ergometrin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila
perlu). Kemudian segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil
konsepsi dari uterus.
b. Jika usia kehamilan lebih 16 minggu, tunggu ekspulsi spontan hasil
konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi. Jika perlu, lakukan
infus 20 unit oksitosin dalam 500ml cairan intravena (garam fisiologik

22

atau larutan ringer laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit untuk
membantu ekapulsi hasil konsepsi
3. Abortus inkomplit
a. Jika pendarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang 16
minggu, evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam
ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks.
Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler atau
misoprostol 400mcg per oral.
b. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan
kurang 16 minggu, evaluasi sisa hasil konsepsi dengan aspirasi vakum
manual. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika
aspirasi vakum manual tidak tersedia. Jika evakuasi belum dapat
dialkukan segera, beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler (diulang
setelah15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dpat
diulang setelah 4 jam bila perlu).
c. Jika kehamilan lebih 16 minggu, berikan infus oksitosin 20 unit dalam
500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan
kecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsupsi.
Jika perlu diberikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam
sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg). Evaluasi
sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus.
4. Abortus komplit
a. Tidak perlu evaluasi lagi
b. Oebservasi untuk melihat adanya perdarahan.
c. Apabila terdapat anemia sedang, berikan tablet sulfas ferrosus 600 mg
per hari selama 2 minggu. Jika anemia berat berikan transfuse darah.
(Rustam Mochtar)
5. Abortus terapeutik
Menurut Sastrawinata (2005), abortus terapeutik dapat dilakukan dengan
cara:
a. Kimiawi; pemberian secara ekstrauterin atau intrauterine obat abortus,
seperti: prostaglandin, antiprogesteron, atau oksitosin.
b. Mekanis:
a) Pemasangan batang luminaria atau dilapan akan membuka serviks
secara perlahan dan tidak trumatis sebelum kemudian dilakukan
evakuasi dengan kuret tajam atau vakum.

23

b) Dilatasi serviks dilanjutkan dengan evakuasi, dipakai dilator hegar


dilanjutkan dengan kuretasi.
c) Histerotomi/histerektomi.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Biodata
Mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi : nama, umur,
agama, suku bangsa, pendidikan, perkerjaan, status perkawinan,
perkawinan ke-, lamanya perkawinan dan alamat.
2. Keluhan Utama:
Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam
berulang
3. Riwayar kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke
Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervagina
di luarsiklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan
b. Riwayat kesehatan masa lalu
24

4. Riwayat pembedahan
Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis
pembedahan, kapan, oleh siapa dan di mana tindakan tersebut
berlangsung
5. Riwayat penyakit yang pernah dialami
Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM,
penyakit jantung, hipertensi, masalah ginekologi/urinary, penyakit
endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya.
6. Riwayat kesehatan keluarga
Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat
diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang
terdapat dalam keluarga.
7. Riwayat kesehatan reproduksi
Kaji tentang adanya mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya banyaknya,
sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan
monopouse terjadi, gejala serta keluhan yang menyertainya
8. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas
Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai darri dalam kandungan hingga
saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.
9. Riwayat seksual
Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan
serta keluhan yang menyertainya
10. Riwayat pemakaian obat
Kaji riwayat pemakaian obat-obatan kontrasepsi oral, obat digitalis dan
jenis obat lainnya.
11. Pola aktivitas sehari-hari
Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK),
istirahat tidur, hygine, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.
Pemeriksaan fisik (Johnson & Taylor, 2005) meliputi
1. Inspeksi

25

Mengobservasi kulit terhadap warna, perubahanwarna, laserasi, lesi


terhadap drainase, pola pernapasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan,
bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya
keterbatasan fisik, dan seterusnya.
2. Palpasi
a. Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat
kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi
uterus.
b. Tekanan

menentukan

karakter

nadi,

mengevaluasi

edema,

memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati


turgor.
c. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon
nyeri yang abnormal
3. Perkusi
a. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada, dengarkan bunyi yang
menunjukan ada tidaknya cairan, massa atau konsolidasi.
b. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutu dan amatiada tidaknya
reflek/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah
ada kontraksi dinding perut atau tidak
4. Auskultasi
Mendengarkan di ruang antekutibi untuk tekanan darah, dada untuk bunyi
jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin
B. Pemerikasaan Laboratorium
1. Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rotgen, USG, biopsi, pap
smear
2. Keluarga berencana :
Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju,
apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa
C. Diagnosa keperawatan
1) Kekurangan volume cairan b.d perdarahan

26

2) Intorelasi aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi


3) Nyeri akut b.d kerusakan jaringan intra uteri
4) Resiko Infeksi b.d ketidakadekuatan pertahanan sekunder (leucopenia)
5) Ansietas b.d kurangnya pengetahuan
6) Resiko Syok (hipofolemik) b.d perdarahan pervaginam
7) Konstipasi
8) Gangguan rasa nyaman b.d dengan nyeri
D. Intervensi
1) Diagnosa 1: Kekurangan volume cairan b.d perdarahan
a. Tujuan:
1) fluid balance
2) Hydration
3) Nutrional Status : Food and Fluid Intake
b. Kriteria Hasil :
1) Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine
normal, HT normal
2) Tekanan darah, nadi suhu tubuh dalam batas normal
3) Tidak ada tanda tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik,
membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.
c. Intervensi :
1) Cek Airway, Breathing dan Circulation
2) Timbang popok/pembalut jika diperlukan
3) Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
4) Monitor status dehidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi
adekuat, tekanan darah ortostatik), jika diperlukan
5) Monitor vital sign
6) Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
7) Kolaborasi pemberian cairan IV
8) Monitor status nutrisi
9) Berikan caran IV pada suhu ruangan
10) Dorong masukan oral
11) Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
12) Kolaborasi dengan dokter
13) Atur kemungkinan transfusi
2) Diagnosa 2: Intorelasi aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
a. Tujuan:
1) Energy conserversion
2) Activity tolerance
3) Self Care : ADLs
b. Kriteria Hasil :

27

1) Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan


tekanan darah, nadi dan RR
2) Mampu melakukan aktivitas sehari-hari (ADLs) secara mandiri
3) Tanda tanda vital normal
4) Energy Psikomoto
5) Level kelemahan
6) Mampu berpindah: dengan atau tanpa bantuan alat
7) Status kardiopulmunari adekuat
8) Sirkulasi status baik
9) Status respirasi: pertukaran gas dan ventilasi adekuat
c. Intervensi :
1) Kolaborasi dengan tenaga Rehabilitasi Medik dalam merencanakan
program terapi yang tepat
2) Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
3) Bantu klien untuk mendapatkan alat bantuan aktivitas seperti seperti
kursi roda atau krek

3) Diagnosa 3 : Nyeri akut b.d kerusakan jaringan intra uteri


a. Tujuan:
1) Pain level
2) Pain control
3) Comfort level
b. Kriteria hasil :
1) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri,

mampu

menggunakan tehnik nonfaarmakologi untuk mengurangi nyeri,


mencari bantuan)
2) Melporkan bahwa

nyeri

berkurang

dengan

menggunakan

management nyeri
3) Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda
nyeri)
4) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
c. Intervensi:
1) Lakukan pengkajian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi
2) Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
3) Kurangi faktor presipitasi nyeri
4) Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi
dan interpersonal)
5) Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
6) Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri

28

7) Kolaborasi dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil

4) Diagnosa 4: Resiko Infeksi b.d ketidakadekuatan pertahanan sekunder


(leucopenia)
a. Tujuan:
1) Immune Status
2) Knowladge : Infection control
3) Risk control
b. Kriteria hasil :
1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2. Mendeskripsikan proses penularan penyakit,

faktor

yang

memperngaruhi penularan serta penatalaksanaan


3. Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
4. Jumlah leukosit dalam batas normal
5. Menunjukan prilaku hidup sehat
c. Intervensi:
1) Tingkatkan intake nutrisi
2) Berikan terapi antibiotik bila perlu Infection Protection (proteksi
3)
4)
5)
6)

terhadap insfeksi)
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
Monitor hitung granulosit, WBC
Dorong masukkan nutrisi yang cukup
Dorong masukan cairan

5) Diagnosa 5: Ansietas b.d kurangnya pengetahuan


a. Tujuan:
1) Anxiety self-control
2) Anxiety level
3) Coping
b. Kriteria hasil :
1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
2. Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukan tehnik untuk
mengontrol cemas
3. Vital sign dalam batas normal
4. Postur tubuh, eksperesi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas
menunjukan berkurangnya kecemasan
c. Intervensi :
1) Gunakan pendekatan yang menenangkan
2) Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
3) Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
4) Identifikasi tingkat kecemasan
5) Instruksikan pasien menggunakan tehnik relaksasi

29

6) Berikan obat untuk mengurangi kecemasan

6) Diagnosa 6 : Resiko Syok (hipofolemik) b.d perdarahan pervaginam


a. Tujuan:
1) Syok prevention
2) Syok management
b. Kriteria hasil :
1) Nadi dalam batas yang di harapkan
2) Irama jantung dalam batas yang diharapkan
3) Frekuensi nafas dalam batas yang diharapkan
4) Irama pernapasan dalam batas yang diharapkan
c. Intervensi
1) Monitor status sirkulasi BP, warna kulit, suhu kulit, denyut jantung,
2)
3)
4)
5)

HR, dan ritme, nadi perifer, dan kapiler refill


Monitor suhu dan pernapasan
Monitor output dan input
Pantau nilai labor, HB, HT, AGD dan elektrolit
Monitor tanda dan gejala asites

7) Diagnosa 7 : Konstipasi
a. Tujuan :
1) Bowel elimination
2) Hydration
b. Kriteria Hasil :
1) Mempertahankan bentuk feses lunak setiap 1-3 hari
2) Bebas dari ketidaknyamanan dan konstipasi
3) Mengidentifikasi indicator untuk mencegah kosntipasi
4) Fases lunak dan berbentuk
c. Intervensi :
1) Monitor tanda dan gejala konstipasi
2) Monitor bising usus
3) Monitor feses: frekuensi, konsistensi dan volume
4) Konsultasi dengan dokter tentang penurunan dan peningkatan bising
5)
6)
7)
8)

usus
Dukung intake cairan
Kolaborasi pemberian laktasif
Pantau tanda dan gejala konstipasi
Memantau gerakan usus, termasuk konsistensi frekuensi, bentuk
dan warna

8) Diagnosa 8 : Gangguan rasa nyaman b.d


a. Tujuan:
1) Ansiesty
2) Fear Leavel
3) Sleep Deprivation
30

4) Comfort, readiness for Enchanced


b. Kriteria Hasil :
1) Mampu mengontrol kecemasan
2) Status lingkungan yang nyaman
3) Mengontrol nyeri
4) Kualitas tidur dan istirahat adekuat
c. Intervensi :
1) Gunakan pendekatan yang menenangkan
2) Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
3) Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
4) Pahami prespektif pasien terhadap situasi stress

31

BAB 4
PENUTUP

A. Kesimpulan
Manusia adalah ciptaan allah yang mulia, tidak boleh dihinakan baik
dengan merubah ciptaan tersebut, maupun menguranginya dengan cara
memotong sebagian anggota tubuhnya, maupun dengan cara memperjual
belikannya, maupun dengan cara menghilangkannya sama sekali yaitu
dengan membunuhnya, sebagai mana firman allah swt :
Dan sesungguhnya kami telah memuliakan umat manusia (QS.al-Isra :70)
Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana
masagetasi belum mencapai 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr
(Derekliewollyn&Jones, 2002).
Faktor-faktor yang menyebabkan kematian fetus yaitu faktor ovum itu
sendiri, fator ibu, dan faktor bapak (amru sofian, 2012).
1. Kelainan ovum
2. Kelainan genetalia ibu
3. Penyakit-penyakit ibu, dll.
Patofisiologi abortus dimulai dari perdarahan pada desidua yang
menyebabkan necrose dari jaringan sekitarnya. Selanjutnya sebagian /
seluruh janin akan terlepas dari dinding rahim. Keadaan ini merupakan benda
asing bagi rahim, sehingga merangsang kontraksi rahim untuk terjadi
eksplusi seringkali fatus tak tampak dan ini disebut Bligrted Ovum.
B. Saran
Semua wanita yang mengalami abortus, baik spontan mauoun buatan,
memerlukan asuhan pasca keguguran. Asuhan pasca kegugurab terdiri dari:
1. Tindakan pengobatan abortus inkomplit dengan segala kemungkinan
komplikasinya.
2. Konseling dan pelayanan kontrasepsi pasca keguguran
3. Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu

Daftar Pustaka
AgusPurwadianto,BudiSampurna.2000.KEDARURATAN MEDIK.Jakarta Barat

32

Prof.dr.Ida Bagus Gde Manuaba.1993.Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri dan


Ginekologi.Jakarta
Luz Heller.1993.Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri.Jakarta
Listiyana, A.(2012). ABORSI DALAM TINJAUAN ETIKA KESEHATAN,
PERSPEKTIF ISLAM, DAN HUKUM DI INDONESIA. EGALITA (diakses pada
tgl 21 september 2016)
Rukmini, R, & Maryani, H. (2006). ABORSI, ANTARA HARAPAN DAN
KENYATAAN. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 9(1Jan). (diakse s pada tgl
21 september 2016)
Sabrina. (2010). Hubungan pengetahuan dengan sikap remaja putri terhadap
pencegahan tindakan aborsi. Pontianak

33