You are on page 1of 3

Seperti yang dituliskan Uchibori :

Seperti dalam puisi ratapan, perjalanan jiwa dimulai dari hati keluarga. Dalam metafora
yang kompleks, hati digambarkan sebagai Bukit Lebor Api, Hill of Raging Fire 39 Dog Wall
memisahkan bilik dari ruai yang muncul sebagai punggung bukit, yang kakinya berupa telaga
yang disebut Danau Alai. Pada
keseharian landskap rumah panjang danau ini
menggambarkan bagian dari tempuan bilik lantai dimana orang mati dimandikan. Dari danau
ini aliran atau jalur menuju ke violently Shutting Rock (Batu Tekup Daup), yang selalu
membuka dan menutup dengan keras. Batu ini dijelaskan dalam pintu bilik rumah. Setelah
meninggalkan bilik, roh kemudian memasuki sungai utama atau jalur utama menuju dunia lain/
dunia kematian. Sungai atau Jalur ini digambarkan oleh tempuan sebagai jalan tembus. Lesung
beras berderet disepanjang tempuan dari ruai seperti pohon nibong ; dan jalan tembus itu
sendiri terlihat luas seperti jalanan kosong untuk mencapai sungai Kematian Mandai.
Perumpamaan ini disandingkan dengan landscape yang bervariasi pada detail
perbedaan antara perdukunan dan nyanyian kematian. Menurut petunjuk Uchibori (1978:213),
tidak ada dukun yang patut dihormati didalam Skrang yang akan mencari roh yang melalui
Bridge of Fear (Titi Rawan), Yang paling sering digambarkan pada rumah panjang pada letak
tangga pintu masuk. Namun pada Paku, dukunl pada umumnya memulai perjalanan ke alam
baka dimulai dari titik ini sampai pada dunia gaib itu sendiri, dan juga menuju Gunung Rabong
dan sarang roh untuk mengambil roh-roh orang yang ingin ditolongnya yang masih tertahan
didalamnya.
Seperti puisi ratapan yang dinyanyikan dalam acara kematian, rumah panjang menjadi
panggung, dengan transfigurasi ruang sosial keduniaan untuk menggambarkan kenyataan
bahwa jiwa mengalami perjalanan-perjalanan dan bertemu dengan makhluk ghaib lainnnya.
Lebih serius/penting jiwa pasien, untuk itu jiwa dari dukun harus menuju kedalam dunia gaib
dalam pencariannya. Pada umumnya, bagian tengah teras menggambarkan zona pertengahan
antara dunia kehidupan dan dunia kematian. Seorang dukun pada umumnya menggunakan
peraga untuk menandai landmark dalam medan yang tak terlihat ; lesung , sebagai contoh
pegunungan dan sebuah ayunan bergantung kepada jalur tembus tempuan untuk meniru
penerbangan jiwa dari satu alam ke alam lainnya. Jalan tembus itu sendiri secara khusus
menggambarkan sungai Mandai, yang mana merupakan jembatan yang ditakuti yang
membatasi antara yang hidup dengan yang mati, hal ini menggambarkan bahwa alu kayu yang
diletakkan dibagian atas dua lesung yang terbalik menghalangi akhir dari tempuan. Tangga
masuk sekarang menjadi air terjun limban (Wong Limban), yang menarik pada landmark di
dunia gaib. Dalam perumpamaan ini sungai Limban mengalir kedalam jurang yang dalam,
yang dibentangkan oleh Bridge of Fear (jembatan yang ditakuti). 40
Alas pada pijakan tangga masuk untuk menuju rumah panjang menggambarkan jalur
titik pertengahan pada dunia, yang memungkinkan seorang dukun melakukan perjalanan
menuju ke alam gaib. Pada tahapan ini, bagaimanapun rumah panjang sebagai rumah tinggal
sekarang menggambarkan rumah panjang bagi orang yang sudah meninggal, Tata ruang masih
menggambarkan peningkatan keterkaitan kepada orang yang sudah meninggal. Namun
sekarang maknanya sudah berlainan. Seperti pada susunan rumah panjang tiang pemun
yang memiliki pergerakan dua arah. Namun tip yang dimaksud disini adalah tip pada rumah

panjang (yang merupakan kaki dari tangga masuk), itu sendiri, selaras, tidak merupakan tujuan
dari pergerakan ini, namun ini merupakan titik tengah di dalam cerminan kembali pada titik awal
aslinya. Demikian sehingga dukun kembali memasukkan rumah panjang dan ritualnya kembali
menuju bilik pasiennya, adapun bilik digambarkan sebagai dunia gaib tempat jiwa-jiwa
pengembara diambil dari tempat perlindungannya. Batasan akhir dari perjalanan seorang dukun
ditandai hingga dia masuk kedalam bilik rumah pasiennya. Titik permulaan dari perjalanannya
menjadi sebuah kepantasan yang merupakan kebalikan dari alam baka yang merupakan
tujuannya. Dimana di dalam bilik, dimana paranormal memulai pelian, kemudian ia mengambil
kembali roh yang mengembara tersebut dan membawanya kembali kedalam kehidupan di
rumah. Perjalanan akhir ini, dari asal kematian menjadi asal kehidupan, dari pusat dunia
lain/gaib menuju pada pusat dunia kehidupan yang digambarkan oleh dukun secara fisik
terlihat pada bagian pintu keluar dan masuk, melalui jalan yang menembus tempuan, dari bilik
ruangan sampai ke serambi rumah panjang. 41
Kembali pada ritual kematian, mengikuti nyanyian puisi ratapan (nyabak) , tubuh orang
mati dibawa dari rumah panjang dan dibawa ke pemakaman untuk dimakamkan. Rute yang
diambil mengikuti roh sebagaimana terjadi di sabak. Di dalam menguburkan tubuh, arah hulu
hilir aliran diamati. Sehingga tubuh, yang pertama kali dihilangkan adalah kepala, yang tidak
pernah dibawa melewati pusat tiang pemun, namun dihilangkan oleh hulu dan hilir tangga
masuk. Tergantung pada lokasi rumah almarhum yang relative kepada pun rumah. Sebaliknya,
tubuh paranormal dipisahkan oleh jalan yang dinamakan tanju. Pada pemakaman, yang terakhir
tertimbun adalah kepala dengan posisi di permukaan. Sebaliknya pada kematian biasa, yang
mana jasad ditimbun dengan kepala ada didasarnya. Perbedaannya tercermin pada
perbedaan perjalanan yang diambil oleh jiwa dukun yang mana pada kematian, ia percaya
bahwa dalam perjalanan, untuk memisahkan dunia lain pada kematian tidak diidentifikasikan
dengan sungai Mandai tetapi dengan gunung rabong yang berada pada pertengahan dunia ini
(dunya tu) dan langit. Disini tempat roh-roh leluhur, bersama tuhan, bersama persaudaraan Ini
Inda dan jiwanya tenang dalam surga. yang dilalui oleh seseorang untuk cenderung
menggambarkan taman kehidupan, (sather 1993).
Berikutnya dalam prosesi pekamanan, masa awal berkabung disebut dengan pana,
sebuah rumah pondok kecil didirikan diantara sungai pemandian dan rumah panjang. Makanan
persembahan disini dibuat setiap malam dan perapian di depan rumah pondokan kecil tersebut
dibiarkan tetap menyala setiap malam pada saat pana, dalam bahasanya disebut tungkun api.
tungkun api tempat peristirahatan (Figure 5). Disini roh dari orang yang meninggal dinyatakan
kembali untuk makan dan menghangatkan tubuhnya dengan perapian, Bayangannya sering
tampak hadir dari alam baka di sekitar cahaya perapian. Seolah lahir kembali, bara api itu
kembali menandakan sebuah transisi penting yang terjadi disini, bagaimanapun bilik tidak
termasuk sebagai suatu penanda kemunculannya, namun hanya mencerminkan status sosial
orang yang baru meninggal itu. Di luar itu semua pada rumah panjang, tahapan sebuah proses
tersebut terjadi pada area antara/pertengahan yang berada diantara penai dan kaki tangga
masuk rumah. Tempat transisi ini dikatakan mempunyai tujuan untuk menjaga yang mati untuk
tidak memasuki rumah orang yang masih hidup. Dimana kehadirannya dapat membawa
petaka /bahaya bagi penghuni di dalamnya. Dalam waktu bersamaan, bilik persemayaman
merupakan sebuah subjek cerminan tata duniawi yang merupakan perjabaran dari dunia lain.

Kemudian pada siang hari tirai dan jendela rumah tersebut tertutup
dan interiornya
dikondisikan untuk tetap gelap; Pada dunia lain kegelapan digambarkan sebagai siang hari.
Tidak ada seorangpun dalam komunitas tersebut yang bekerja diluar rumah panjang dan setiap
malam pada saat pana seorang wanita yang sudah dewasa, idealnya yang tertua di dalam
komunitas tersebut memakan nasi hitam di dalam bilik tersebut. Nasi hitam ini disebut dengan
asi pana. Nasi ini Manggambarkan nasi putih di dunia lain. (Lihat Sandin 1980:35). Setelah
selesai memakan asi pana, sebelum tirai dan jendela bilik dibuka saat fajar menyingsing, maka
wanita tersebut mengorbankan seekor ayam dan darahnya ia lumurkan ke kusen-kusen jendela
di dalam bilik itu. Kemudian, pada masa awal berkabung, bilik ditempatkan di suatu tempat
terpisah dengan siang dan malam yang terbalik, proses kebalikan ini merupakan pencerminan
tata cara pada dunia lain. Prosesi ini diakhiri dengan pengorbanan seekor ayam dan serupa
dengan prosesi kelahiran, ritual tersebut mengembalikan bilik pada siang hari.
Selain tubuh dan jiwa, setiap manusia yang hidup juga diibaratkan dalam gambar pohon
(ayu). Gambar ini biasanya dalam tampilan serupa pohon bambu atau pohon pisang dan seperti
tubuh dan jiwa yang dikatakan seperti tunas yang tumbuh dari rumpun yang sama, sehingga
ayu merupakan bagian tubuh dan jiwa pada bilik lain (yang merupakan anggota keluarga).
(lihat Freeman 1970:21;Gomes 1911:169; Sather 1993). Ayu kemudian berkembang didalam
rumpun-rumpun keluarga, berpisah dari tubuh dan jiwa, hidup, dalam beberapa anggapan,
lereng gunung Rabong berada pada dunia lain perdukunan. 42 Pada saat sakit, seseorang (ayu)
dikatakan layu (layu) atau menjadi cepat tumbuh dan mati sekarat (perai) . Kemudian pada
ritual pengobatan, Paranormal sering menuju ke gunung Rabong untuk weed (mencabut gulma
yang dianggap sebagai sumber penyakit) dan memagari/melindungi pasien ayu. Kegiatan
ritual ini dilakukan pada teras rumah panjang. Pada Kematian, orang-orang yang meninggal
(ayu) harus dipisahkan (serara) dari rumpun keluarganya dalam rangka menjaga kesehatan
dan spiritual yang akan ada/ akan terjadi pada anggota keluarga yang masih hidup. Kemudian
setelah pana dan pengiringan ngetas ulit, pada prosesi berkabung seorang dukun selalu
melakukan pemotongan gambar pohon (ayu) dari almarhum. (Sandin 1980:33-38). ini
khususnya terjadi jika anggota keluarga jatuh sakit atau dikunjungi oleh orang yang sudah
meninggal didalam mimpi. Ritual memotong ayu disebut beserar bunga, secara harfiah berarti
untuk memutuskan bunga dan ini ditunjukkan pada teras rumah panjang dengan pengikutpengikut dukun yang duduk berhadapan dengannya sepanjang panggau. Ayu digambarkan
oleh sebatang tunas bamboo atau oleh ranting pohon berbunga, seperti bunga telasih atau
emperawan, yang mana ditempatkan pada bagian tengah panggung di depan dukun di dalam
ruai almarhum. Disini dukun berhati-hati dalam memotong bagian-bagian kecil pada selubung
luar bamboo atau bagian tangkai yang berbunga. Pada akhir ritual tersebut dukun
mempersembahkan pengorbanan dan persembahan khusus yang disiapkan oleh keluarga
duka; disini,bersama dengan potongan gambar tanaman, yang kemudian dipendam di dalam
lantai tempuan. Dukun menutupnya dengan meletakkan pintu masuk rumah panjang dibawah
taboo sementara dan olehpage 94