You are on page 1of 12

PENDAHULUAN

Dalam dunia Internasional saat ini tidak ada suatu negara yang bisa bersikap
individual atau mengisolasi diri dengan negara lain. Hal ini dikarenakan tiap negara saling
membutuhkan satu sama lain untuk mencapai tujuan karena adanya perbedaan kepentingan
antar negara. Selain itu suatu negara akan di akui kedaulatannya dan akan dipertimbangkan
posisinya dalam dunia Internasional ketika negara tersebut mampu secara aktif berkontribusi
untuk bekerjasama dan melakukan hubungan bilateral maupun multilateral dengan negara
lain. Hal ini sangat penting mengingat suatu negara pasti akan mempunyai kepentingankepentingan sosial. Ketika hal itu tidak dapat dicapai didalam negara maka negara tersebut
akan memperolehnya di luar negara atau di negara lain dengan cara bekerjasama. Kerjasama
antar negara di dunia bersifat simbiosis mutualisme artinya kerjasama tersebut tidak hanya
bertujuan untuk melengkapi kepentingan masing-masing negara, namun bila dimungkinkan
kerjasama tersebut dapat memberikan dampak positif berupa keuntungan untuk masingmasing negara yang bekerjasama.
Dalam hal hubungan dengan negara lain setiap negara tentu memiliki regulasi dan
prinsip masing-masing . Di Indonesia prinsip berhubungan dengan negara lain di atur dalam
kebijakan politik luar negeri Indonesia dimana politik luar negeri adalah suatu perangkat atau
formula, nilai, sikap dan arah serta sasaran untuk mempertahankan, mengamankan dan
memajukan kepentingan nasional dalam menjalin sebuah kerjasama dengan negara lain. Jadi
bisa dikatakan bahwa politik luar negeri mengatur tentang bagaimana caranya untuk
berinteraksi dengan negara lain untuk mencapai suatu tujuan atau kepentingan. Sejak dawal
kemerdekaan negara Indonesia menganut prinsip luar negeri Bebas Aktif, bebas yang
artinya bahwa Indonesia bebas menentukan sikap yang berkaitan dengan dunia internasional
tanpa adanya intervensi ataupun paksaan dan tidak memihak pada salah satu blok (Gerakan

Non Blok /GNP). Sedangkan aktif diartikan sebagai upaya Indonesia dalam melakukan
politik luar negeri yang aktif dalam memperjuangkan terciptanya pedamaian dunia dan ikut
berpartisipasi dalam mengatasi permasalahan internasional.
Di Indonesia setiap pemimpin negara memiliki prinsip dalam menjalankan politik
luar negeri,salah satu yang menarik adalah prinsip yang diterapkan masa pemerintahan Susilo
Bambang Yudhoyono tahun 2009-2014, dimana pada pemerintahannya untuk membuat
kebijakan luar negeri yang mempunyai prinsip Thousand friends zero enemy yang artinya
adalah banyak teman dan tidak ada musuh. Dalam politik luar negerinya ini Susilo Bambang
Yudhoyono ingin untuk menjalin banyak kerjasama dengan negara lain dimana kerjasama
tersebut bersifat simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan dan bukan bersifat
desduktrif atau saling menghancurkan. Namun konsep thousand friends zero enemy ini tidak
terlepas dari sisi positif dan negatif pada saat pengimplementasiannya.
PEMBAHASAN
Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan menggunakan prinsip
politik luar negeri thousand friends zero enemy dimana Indonesia lebih menekankan ke arah
kerjasama-kerjasama positif dan bersifat simbiosis mutualisme yang tidak hanya bersifat
pemenuhan kebutuhan antar negara namun juga saling menguntungkan antar negara.
Hubungan kerjasama ini bisa bersifat bilateral maupun multilateral. Selain itu Indonesia
dipandang sebagai salah satu negara yang santun ketika melakukan hubungan kerjasama
dengan luar negeri. hal ini kemudian yang menjadi poin positif bagi bangsa Indonesia dimana
kepercayaan Indonesia di mata negara-negara lain lebih meningkat. Selain itu selama sepuluh
tahun kepemimpinanya Susilo Bambang Yudhoyono menjalankan politik luar negeri dalam
konteks tiga program utama. Pertama, pemanfaatan politik luar negeri dalam konteks
optimalisasi diplomasi. Kedua, peningkatan kerjasama multilateral dalam rangka meraih

beragam peluang internasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui


hubungan dengan negara lain. Ketiga, penegasan komitmen perdamaian dunia dalam rangka
turut serta dalam berbagai persoalan keamanan internasional.
Pada awal pemerintahan SBY yakni pada tahun 2004-2009 kebijakan luar negeri
sudah berjalan dengan baik hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai forum internasional
yang dihadiri oleh SBY. Presiden tidak ragu ataupun segan dalam menyelesaikan berbagai
permasalahan yang ada di dunia. Kemudian pada kepemimpinanya yang kedua yaitu pada
tahun 2009-2014 SBY berhasil menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang di
pandang di dunia. Adapun beberapa prestasi yang Indonesia dapatkan pada masa
pemerintahan SBY periode II adalah sebagai berikut:
1. Indonesia di daulat sebagai Ketua ASEAN pada tahun 2011.
2. Pada tahun 2013 Indonesia di berikan kepercayaan untuk menjadi ketua APEC (Asia
Pacific Economic Coorperation) atau kerjasama yang melibatkan negara di Asia
Pasifik.
3. Indonesia sebagai tuan rumah KTM (Konferensi Tingkat Mentri) pada WTO (World
Trade Organisation) tahun 2013.
4. Indonesia dipercaya sebagai Cho-Chair dalam High Level Panel of Eminent Person of
Post 2015 Development Agenda.
Dengan berbagai kepercayaan yang diterima Indonesia tentu merupakan sebuah
prestasi yang membanggakan bagi Indonesia, sehingga menjadikan kepemimpinan SBY
dalam menjalankan politik luar dirasa mampu menempatkan Indonesia sebagai negara
yang bisa diperhitungkan di mata dunia hal ini dibuktikan dengan banyaknya tawaran
kerjasama baik bilateral maupun multilateral.
Selain itu dengan letak kondisi geografis Indonesia yang menguntungkan dan
berdekatan dengan negara lain (diantara dua benua dan dua samudera), maka banyak

negara yang kemudian mau untuk melakukan kerjasama dengan Indonesia. Kerjasama
tersebut berbentuk baik kerjasama bidang keamanan, sosial maupun kerjasama bidang
ekonomi yang berusaha untuk memberikan dampak positif bagi negara-negara yang
melakukan kerjasama. Diantara banyak negara di dunia beberapa negara yang mau
bekerjasama dalam bidang ekonomi dengan Indonesia pada masa kepemimpinan SBY
tahun 2009-2014 adalah negara Papua nugini, Rusia, Jerman dan Australia. Indonesia
juga terlibat dalam forum GMT-GT (Growth Triangle) ke dua puluh yang merupakan
kerjasama ekonomi tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand yang resmi dijalin
oleh ketiganya pada tahun 2014. Selain itu hal positif yang didapatkan Indonesia karena
letak geografisnya adalah bahwa bangsa Indonesia bebas untuk mengatur kebijakankebijakan mengenai politik luar negeri Indonesia. salah satu hal yang diterapkan
Indonesia adalah menentukan batas teritorial laut Indonesia dan batas wilayah Indonesia
agar tidak terjadi perebutan baik kekuasaan maupun sumber dayanya, hal ini sangat
penting mengingat Indonesia selalu bersiteru dengan negara tentangga perihal
kepemilikan suatu sumber daya akibatnya tentu akan merugikan bangsa Indonesia, oleh
karna itu dirasa penting untuk membuat suatu regulasi yang mengatur kerjasama dengan
negara lain namun tetap memperhatikan batas wilayah dan sumber daya yang dimiliki
oleh bangsa Indonesia.
Eksistensi Indonesia di kancah internasional terus di gemborkan oleh Indonesia
sebagai salah satu negara yang berdaulat. Prinsip thousand friend zero enemy
menggambarkan kepribadian Indonesia sebagai negara yang ramah dan santun terhadap
negara lain. Selain itu dengan prinsip ini Indonesia mengedepankan sebuah kerjasama
yang bersifat saling menguntungkan dan menjalin kerjasama dengan cara soft
dimplomacy dan menjalin persahabatan hal ini dilakukan agar Indonesia tidak hanya
mencari keuntungan namun juga bila dimungkinkan dapat saling tolong-menolong

dengan negara lain karena persahabatan dengan negara lain akan membawa dampak
positif bagi Indonesia, selain itu Indonesia juga bisa belajar dari kesuksesan negara lain
dalam hal pengelolaan perekonomian ataupun kehidupan sosialnya. Namun bila dilihat
bahwa prinsip thousand friend zero enemy senada dengan kepribadian Susilo Bambang
Yudhoyono yang cenderung down to earth dan bersikap care atau peduli sehingga dia
menekan jumlah musuh sekecil-kecilnya namun membendung kerjasama dengan negara
lain dengan sebanyak-banyaknya. SBY sangat aktif dan peduli dengan keadaan dunia saat
itu dengan terus memberikan respon dan bantuan terhadap negara-negara yang sedang
memiliki masalah.
ASEAN atau Association of South East Asia Nations yang merupakan sebuah
perhimpunan negara-negara Asia Tenggara dijadikan sebagai prioritas utama politik luar
negeri Indonesia pada masa pemerintahan SBY, misalnya SBY telah berkomitmen untuk
ikut berkontribusi bagi terwujudnya komunitas ASEAN 2015 dan memastikan kawasan
Asia Tenggara tetap dalam keadaan damai sesuai prinsip-prinsip yang terkandung dalam
Treaty of Amity an Coorperation, selain itu Indonesia juga berperan dalam pembahasan
pembentukan tatanan kawasan (regional architecture building) dengan ASEAN sebagai
penggerak utama (ASEAN as a driving force) dan dilakukan penambahan keanggotaan
East Asia Summit dengan diterimahnya Rusia dan Amerika Serikat secara bersamaan.
Indonesia ingin negara di Asia Tenggara mampu untuk bekerjasama dalam mewujudkan
negara Asia Pasifik yang maju dan sejahtera.
Selain itu Indonesia juga mampu untuk menarik kepercayaan dari negara lain. Dimana
pada saat Indonesia menggelar Manado Oceans Declarations yang digagas oleh SBY
yang bertujuan untuk membahas isu lingkungan laut terhadap perubahan iklim ternyata
disambut dengan antusias, terbukti dengan datangnya tujuh puluh enam negara di forum

ini. SBY berhasil mengambil hati negara-negara lain untuk ikut serta dan berpartisipasi
dalam forum-forum internasional yang di gagas oleh Indonesia. Politik luar negeri
Indonesia yang bersifat aktif juga berusaha dijalankan di Indonesia dengan
mengutamakan kerjasama yang berbentuk koorperatif dan tidak diskriminatif. Semua
negara sama asalkan mau bekerjasama secara baik dengan Indonesia. Selain itu adanya
keterlibatan Indonesia dalam penuntasan berbagai masalah seperti usaha pemberantasan
penjajah, penuntasan teroris dan peperangan di dunia internasional. Selain mengirimkan
bantuan berupa materi ataupun anggota militer, Indonesia juga berperan sebagai negara
yang terus ikut dalam memberikan kritik dan saran serta solusi bagi negara-negara yang
membutuhkan penyelesaian konflik, dibuktikan dengan keterlibatan Indonesia dalam
pengiriman pasukan penjaga perdamaian di daerah rawan konflik yaitu perbatasan Israel
dan Palestina, dimana kedua negara tersebut terus melakukan gencatan senjata. Apabila
hal ini tidak diselesaikan maka kerugian tidak hanya berdampak pada dua negara tersebut
tetapi juga bagi bangsa lain. Berkat inisiatif Indonesia untuk andil dalam menyelesaikan
konflik Israel dan Palestina ini posisi kemiliteran Indonesia semakin di akui dan memiliki
nilai positif di mata dunia internasional. Indonesia juga sukses menjadi anggota G-20 atau
Groip of Twenty Finance Ministers and Central Bank Governors (Kelompok Dua Puluh
Mentri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral) yang anggotanya berasal dari berbagai
negara di dunia. Kepercayaan Indonesia untuk menjadi anggota G-20 dikarenakan adanya
pandangan dari negara lain bahwa Indonesia merupakan sebuah negara yang berhasil dan
sukses dalam menerapkan sistem demokrasi. Hal inilah yang kemudian mendorong SBY
membuat sebuah forum yang dinamakan Bali Democracy Forum. Dimana Bali
Democracy Forum adalah forum kerjasama tahunan negara-negara demokrasi diAsia
yang diadakan setiap bulan Desember di Bali, Indonesia. forum ini bertujuan untuk

memperkuat kapasitas demokrasi dan institusi demokrasi melalui diskusi antar negara
yang diikuti oleh dua puluh negara dari seluruh dunia.
Dengan kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono pada periode dua tahun 20092014 juga memperoleh prestasi yang membangakan bagi Indonesia terutama untuk
masalah leadership atau kepemimpinan. Dua penghargaan yang menjadi sorotan adalah
pada bulan Mei 2013 presiden SBY menerima penghargaan World Statement Award dari
Appeal of Consience Foundation di New York. Selain itu pada tanggal 30 September
2014 atau di akhir kepemimpinannya SBY mendapatkan anugrah doktor honoris causa
dari Ritsumeikan University karena dipandang memiliki leadership yang kuat. SBY juga
memiliki tiga usaha untuk perbaikan politik luar negeri di Indonesia. adapun tiga usaha
tersebut adalah:
a. Restrukturisasi dalam Kementrian Luar Negeri
Pada awalnya direktorat di Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) hanya berdasarkan
pada fungsi atau isu-isu saja. Namun kemudian SBY merestrukturisasinya dan
kemudian direktorat dibagi per wilayah.
b. Lebih banyak aktor yang terlibat dalam membangun politik luar negeri ( LSM,
lembaga penelitian dan media).
Dengan adanya pelibatan aktor lain selain pemerintah yaitu LSM, lembaga
penelitian maupun media diharapkan mampu untuk bekerjasama memberikan
masukan dan solusi terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan politik luar
negeri Indonesia. Hal ini bertujuan agar politik luar negeri Indonesia berjalan
lebih efektif dan efisien serta bersifat positif bagi Indonesia.
c. Isu luar negeri semakin banyak meliputi isu lingkungan hidup, demokrasi dan Hak
Asasi Manusia.
Dengan keterlibatan SBY di dunia internasional menjadikan banyaknya informasi
yang didapatkan oleh SBY yang bisa dijadikan masukan dan pertimbangan bagi
perjalanan bangsa Indonesia. selain itu Indonesia lebih bisa memahami dan

mengerti mengenai isu yang dihadapi luar negeri semakin banyak meliputi isu
lingkungan hidup, demokrasi dan Hak Asasi Manusia yang merupaka Pekerjaan
Rumah yang harus di selesaikan secara bersama-sama oleh negara-negara di
dunia.
Berkat kepemimpinan SBY Indonesia di pandang sebagai rising power dan
menjadi insiprasi bagi negara-negara berkembang untuk terus membangun negara
secara terstruktur. Berbagai permasalahan baik dalam negeri maupun luar negeri
di selesaikan dengan pendekatan win-win solution, konstruktif, rasional dan
pragmatis, soft power serta pendekatan personal sehingga tidak akan terjadi
konflik. Selain itu Indonesia dalam politik luar negerinya Indonesia menekankan
pada negara yang tidak memihak dan menganut prinsip gerakan non blok (GNB)
namun tetap ikut andil dan memberikan keuntungan bagi seluruh negara-negara
yang melakukan kerjasama.
Lewat prinsip thaousand friends zero enemy ini SBY membuktikan bahwa
ekonomi dan demokrasi bisa sama-sama kuat. Bahkan, selama kepemimpinan
SBY menjamur strategic partnership yaitu sebuah hubungan kemitraan yang lebih
dari hubungan biasa. Dimana Indonesia bisa menjalin kerjasama yang lebih nyata
dengan semua negara besar di Indonesia.
Namun dengan berbagai prestasi yang diperoleh Indonesia pada masa
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2009-2014 terdapat berbagai hal
yang menjadi catatan hitam. Hal ini dapat terlihat dari adanya beberapa konflik
yang kemudian muncul seiring dengan diterapkannya prinsip thousand friends
zero enemy, dimana dengan kebijakan yang menitikberatkan pencarian kawan
sebanyak-banyaknya Indonesia justru tidak terfokus pada tujuan utama dalam
menjalin kerjasama dengan negara lain. Dimana apa yang kemudian menjadi
kebutuhan di level nasional terbangkalai karena pemerintah sibuk untuk mencari

kawan dan ikut dalam urusan internasional yang sebetulnya tidak termasuk dalam
agenda kepentingan Indonesia.
Politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dianggap belum sepenuhnya
berjalan dengan baik. Bebas dan aktif belum di maknai secara benar. Bahwa bebas
yang dimaksud adalah bebas yang memiliki batasan dimana Indonesia hendaknya
bersifat mandiri. Mandiri disini bukan bermaksud individual tetapi lebih ke arah
tidak bergantung dengan negara lain agar tidak terjadi pergesekan baik di dalam
maupun diluar negara. Selain itu selama ini keikutsertaan Indonesia dalam forum
internasional masih bersifat anggota dan bukan menjadi penggagas jadi dapat
disimpulkan keaktifan Indonesia masih minim di dunia Internasional. Ada
beberapa catatan hitam pada politik luar negeri pemerintahan SBY antara lain:
a. Pemenuhan pangan bergantung impor. Pada pemerintahan SBY banyak
bahan pangan yang berasal dari impor negara lain. Hal ini diakibatkan
karena keterpurukan petani di Indonesia, mulai dari tingginya harga pupuk
hingga kualitas bahan pangan yang menurun. Kemudian ini memicu
pemerintah Indonesia mengimpor bahan pangan dari luar yang bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan di Indonesia, akibatnya petani
di Indonesia mengalami kerugian yang besar karena pemerintah dirasa
kurang peduli terhadap nasib mereka.
b. Gagal melindungi buruh migran
Banyaknya kasus yang terjadi terhadap TKI dan TKW Indonesia yang
bekerja di luar negeri tidak mendapatkan tanggapan yang cukup serius dari
pemerintah. Seperti kasus Sumiyati (2010), Armayeh Binti sayuri (2011)
dimana mereka mendapatkan penyiksaan dari majikannya di Arab Saudi
tidak mendapat tanggapan serius dari pemerintah bahkan SBY. Disini
terlihat pemerintah kurang tegas dimana mereka hanya memberikan
somasi dan ancaman kepada pemerintah Arab Saudi dan lebih memilih

berdamai namun tidak disertai dengan sikap tegas seperti gertakan


diplomatik memutus hubungan kerjasama. Selama ini yang terjadi
hanyalah pengiriman nota protes diplomatik.
c. Diplomasi kerjasama antar negara yang semakin mendorong liberalisasi
dan merugikan petani, nelayan, buruh, perempuan dan usaha rakyat kecil
karena ketatnya persaingan dengan negara lain yang masuk ke Indonesia.
SBY dalam politik luar negerinya juga mempromosikan Indonesia sebagai
negara yang pro akan investasi dari negara lain, dimana dijelaskan bahwa
Indonesia dapat menjadi ladang untung investasi. Namun hal ini kemudian
menimbulkan dampak baik positif dan negatif dimana pada dampak
positifnya Indonesia memiliki keuntungan yang berasal dari investor asing
namun apabila ditinjau dari sisi negatifnya Indonesia justru seakan
menjadi negara yang di jajah oleh investor karena banyaknya negara asing
yang menguasai Indonesia yang tak jarang justru melakukan kerusakan
alam Indonesia. terlebih dengan adanya AFTA (Asian Free Trade Area)
dimana seluruh negara di Asia bebas untuk bersaing dan melakukan
perdagangan maka keberadaan Indonesia semakin terancam karena
Indonesia belum siap untuk bersaing dengan negara Asia lainnya.
Selain itu kritik tajam atas kepemimpinan SBY pada masa kabinet Indonesia bersatu
jilid II tahun 2009-2014 dalam hal politik luar negeri adalah dimana kesantunan yang
diterapkan Indonesia dalam upaya dalam mencapai prinsip thousand friend zero enemy
dijadikan sebagai alat boomerang oleh negara lain sebagai alat ukur untuk mengelabuhi dan
melecehkan bangsa Indonesia. seperti yang dilakukan oleh Australia pada tahun 2013 pada
kasus penyadapan yang dilakukan oleh intelijen Australia terhadap petinggi-petinggi
Indonesia. hal ini tentu dianggap sebagai salah satu hal yang sangat melecehkan karena

obrolan yang bersifat pribadi petinggi negara di sadap oleh badan intelejen Australia.
Akibatnya memanaslah hubungan internasional antar kedua negara yaitu Indonesia dengan
Australia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia lengah karena mempunyai anggapan bahwa
semuanya adalah kawan tanpa disadari bahwa kawan bisa menjadi lawan.
PENUTUP
Setiap pemimpin memiliki prinsip dalam menjalankan kepemimpinan di suatu negara
termasuk dalam politik luar negeri yang mengatur hubungan dengan negara lain baik yang
bersifat bilateral maupun multilateral. Hal ini pula yang mendorong SBY pada masa
kepemimpinannya untuk menerapkan konsep thousand friends zero enemy dimana SBY
menekankan pada mencari kawan sebanyaknya dan menekan jumlah musuh. Dalam politik
luar negeri SBY lebih cenderung menggunakan pendekatan soft diplomacy, kerjasama yang
kooperatif saling menguntungkan simbiosis mutualisme tanpa adanya diskriminasi, selain itu
SBY juga membuka kesempatan negara lain untuk berinvestasi di Indonesia dan bekerjasama
secara ekonomi. SBY juga melakukan hubungan diplomatik berupa keikutsertaan dalam
forum internasional baik bersifat sebagai anggota maupun penggagas. Dibawah kepemipinan
SBY Indonesia berhasil dipandang sebagai negara yang mempunyai kedaulatan yang
posisinya di akui di mata dunia. Indonesia juga turut serta dalam memecahkan permasalahan
yang ada di dunia dengan memberikan masukan, kritik maupun solusi kepada negara yang
sedang mengalami permasalahan, selain membantu secara material Indonesia juga aktif
mengirimkan pasukan militer ke negara yang berkonflik seperti Palestina dengan Afganistan.
Namun ada beberapa hal yang perlu di tinjau ulang mengenai politik luar negeri SBY yang
menekankan ke prinsip perbanyak kawan dan tidak ada musuh. Nyatanya sikap Indonesia
yang santun justru dijadikan sebagai alat untuk melecehkan pemerintahan Indonesia, selain
itu dalam hal kerjasama ekonomi Indonesia dirasa belum siap dalam menghadapi berbagai

tantangan yang ada terlebih dengan adanya perdagangan AFTA (Asia Free Trade Area)
menjadikan Indonesia lebih terdesak dan mengakibakan kesejahtaraan masyarakat Indonesia
menurun karena daya saing Indonesia yang masih lemah.