Agama Yang Diridhai Allah

*

ِ‫ َو َسّيَئات‬،‫سَنا‬
ِ ‫ل ِمْن ُشُروِر َأْنُف‬
ِ ‫ َو َنُعوُذ ِبا‬،‫سَتْغِفُرُه‬
ْ ‫ َو َن‬،‫سَتِعيُنُه‬
ْ ‫ َو َن‬،‫حَمُدُه‬
ْ ‫ل َن‬
ِ ‫حْمَد‬
َ ‫ِإّن اْل‬
،‫ل‬
ُ ‫ َو َأْشَهُد َأْن َل ِإَلَه ِإَل ا‬،‫ل َهاِديَ َلُه‬
َ ‫ضِلْل َف‬
ْ ‫ َو َمْن ُي‬،‫ضّل َلُه‬
ِ ‫ل ُم‬
َ ‫ل َف‬
ُ ‫ َمْن َيْهِدِه ا‬،‫َأْعَماِلَنا‬
‫حّمًدا َعْبُدُه َو َرُسوُلُه‬
َ ‫ َو َأْشَهُد َأّن ُم‬،‫ك َلُه‬
َ ‫َوْحدَُه َل َشِرْي‬
(‫سِلُموَن‬
ْ ‫ل َحّق ُتَقاِتِه َو َل َتُموُتّن ِإّل َو َأْنُتْم ُم‬
َ ‫ )َيا َأّيَها اّلِذيَن آَمُنوا اّتُقوا ا‬:‫َقاَل َتَعاَلى‬
‫س ّوِحَدٍة ّو َخَلَق ِمْنَها َزْوجََها َو‬
ٍ ‫س اّتُقوا َرّبُكُم اّلِذي َخَلَقُكْم ِمن ّنْف‬
ُ ‫ )َيا َأّيَها الّن‬:‫ضا‬
ً ‫َو َقاَل َأْي‬
‫ل َكاَن َعَلْيُكْم‬
َ ‫سآَءُلوَن ِبِه َو اْلَأْرَحاَم ِإّن ا‬
َ ‫ل اّلِذي َت‬
َ ‫ساًء ّو اّتُقوا ا‬
َ ‫ث ِمْنُهَما ِرَجاًل َكِثًيا ّو ِن‬
ّ ‫َب‬
(‫َرِقيًبا‬
‫صِلْح َلُكْم َأْعَماَلُكْم َو‬
ْ ‫ل َو ُقوُلوا َقْوًل َسِديًدا ّي‬
َ ‫ ) َيا َأّيَها اّلِذيَن آَمُنوا اّتُقوا ا‬:‫ل َلُه‬
َ ‫َو َقَل َجّل َج‬
(‫ل َو َرُسْوَلُه َفَقْد َفاَز َفْوًزا َعِظيًما‬
َ ‫َيْغِفْر َلُكْم ُذُنوَبُكْم َو َمْن ّيِطِع ا‬
‫ َو‬،‫ل َعَلْيِه َو َسّلَم‬
ُ ‫صّلى ا‬
َ ‫حّمٍد‬
َ ‫ي ُم‬
ُ ‫ي َهْد‬
ِ ‫ َو َخْيَر اْلَهْد‬،‫ل‬
ِ ‫لُم ا‬
َ ‫لِم َك‬
َ ‫سَن اْلَك‬
َ ‫ َفِإّن َأْح‬:‫َأّما َبْعُد‬
‫ضلََلٍة ِفى الّناِر‬
َ ‫ َو ُكّل‬،‫ضلََلٌة‬
َ ‫ َو ُكّل ِبْدَعٍة‬،‫ت ِبْدَعٌة‬
ٍ ‫حَدَث‬
ْ ‫ َو ُكّل ُم‬،‫حَدَثاُتَها‬
ْ ‫ّشّر ْاُلُمْوِر ُم‬
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan taqwa kita kepada Allah  dengan sebenar-benar taqwa, yaitu
melaksanakan perintah Allah  baik perintah wajib maupun yang sunnah serta meninggalkan
larangan Allah , baik itu larangan yang haram ataupun makruh.
Kemudian, perlu kita teguhkan kembali iman kita, aqidah Islamiyah kita yang sudah kita miliki
selama ini. Karena belakangan ini muncul paham-paham baru atau geliat aliran-aliran sempalan
yang ingin mengaburkan aqidah Islamiyah kita, melalui slogan-slogan seperti 'cinta ahlul bait',
'spiritualisme islam', 'studi kritis' atau 'pluralisme' agama yang menganggap semua agama benar
dan baik.
Disadari atau tidak, banyak tokoh atau pemimpin kita, baik yang formal maupun non-formal,
yang hendak membelokkan makna 'kerukunan umat beragama' ke arah 'penyatuan agama'.
Mereka menyampaikan dengan getol bahwa semua agama benar, semua agama baik, atau semua
agama sama saja, atau semua umat beriman masuk surga dan lain sebagainya.
Hal ini bisa mengambangkan sekaligus mengaburkan pemahaman umat terhadap aqidah kita
selama ini yang menegaskan bahwa hanya Islam-lah agama yang benar dan diridhai Allah .
Dan lebih dikhawatirkan hal ini akan melanda generasi muda kita. Akibatnya, semakin banyak
orang yang meremehkan agama dan tidak menganggap penting agama. Karena dianggap semua
agama benar, semua agama baik. Maka untuk apa memperdalam agama, apalagi fanatik terhadap
Islam bila semua agama sama? Alhasil muncullah acara-acara yang mengaburkan batas-batas
agama semisal doa bersama antar umat beragama, acara natal bersama, dan lain-lain.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Berbicara tentang agama atau aqidah dan keyakinan, maka kita tidak bisa mengada-ada dengan
akal-akalan kita sendiri, karena akal tidak sanggup untuk itu. Kita harus menyerahkan kepada
wahyu, kepada Allah  dan Rasul-Nya. Sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam firman-Nya,

ْ
ْ
ْ
ْ
ْ ْ
ْ
َ
ّ
‫كتاب ِإ َّل ِمن بعِد‬
‫ل‬
‫ا‬
‫توا‬
‫أو‬
‫ن‬
‫لي‬
‫ا‬
‫ف‬
‫ل‬
‫ت‬
‫خ‬
‫ا‬
‫ما‬
‫و‬
ۗ
‫م‬
‫ل‬
‫س‬
‫ل‬
‫ا‬
‫ل‬
‫ا‬
‫د‬
‫لين عن‬
ِ
ِ ‫إن ا‬
ُ ُ َ ِ َ ََ
َ
َ َ
َ َ ُ َ ِ ِ َّ َ ِ َ ّ َّ ِ
ْ ْ
ْ
ْ ْ ْ
ْ
ْ
ْ
ً
‫ب‬
‫ما جآءه العلم بغيا بينم ۗ ومن يكفر بآيات ال فإن ا‬
ِ ‫ل َسِريُع الِحَسا‬
َ َّ َّ ِ َ ِ َّ ِ َ ِ ُ َ َ َ ُ َ َ َ ُ ِ ُ ُ َ َ َ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orangorang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap agama ayat-agat
Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali 'Imran: 19)

Pada ayat ini Allah  menegaskan bahwa satu-satunya agama yang diakui kebenarannya
hanyalah Islam, yaitu agama tauhid yang menjadi agama semua nabi dan rasul. Hanya saja sistem
ibadah atau syari'atnya yang berbeda-beda.
Ayat ini juga merupakan bantahan yang tegas terhadap orang-orang yang berpendapat bahwa
semua agama sama-sama baik dan sama-sama benar, karena sama-sama mengajarkan kebaikan
dan sama-sama menuju keridhaan Allah . Digambarkan seperti orang yang mau ke pasar, lewat
jalan mana saja bisa, asal tujuannya sampai ke pasar. Seperti kata pepatah, 'Banyak jalan menuju
Roma'. Ini adalah hal yang keliru, bahkan sangat keliru. Sebab agama adalah suatu yang suci dan
sakral yang tuntunan dan ajaran-ajarannya berasal dari Tuhan. Tidak bisa disamakan dengan
pasar atau Roma.
Jalan menuju keridhaan Allah  atau surga Allah  hanya ada satu, yaitu melewati jalan yang
ditunjukkan oleh Allah , yaitu Islam. Bahkan dalam ayat berikutnya secara tegas Allah 
menetapkan bahwa siapa saja yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima
keimanan dan agamanya itu dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi dan mendapat
siksaan Allah  karena salah pilih jalan hidup.

ْ ْ
ْ
ْ ْ
ْ
ْ
ْ ‫وم‬
ً ‫ن يْبتِغ غي ا ِلسَلِم ِدي‬
‫خاِسِرين‬
‫ل‬
‫ا‬
‫ن‬
‫م‬
‫ة‬
‫ر‬
‫خ‬
‫ل‬
‫ا‬
‫ف‬
‫و‬
‫ه‬
‫و‬
‫ه‬
‫ن‬
‫م‬
‫ل‬
‫ب‬
‫ق‬
‫ي‬
‫ن‬
‫ل‬
‫ف‬
‫نا‬
ِ
ِ
ِ
ِ
َ
ِ
َ
َ َ
َ َ َ َ َ َ
َ ُ َ
َ
َُ َُ
َ
ْ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran:
85)
Mana yang lebih benar, ucapan manusia atau firman Allah ? Bahkan Rasululah  dalam hadits
shahih menegaskan tentang benarnya Islam dan selain Islam adalah bathil. Sabda Rasulullah ,

‫ت َوَلْم‬
ُ ‫صَراِنّي ُثّم َيُمو‬
ْ ‫ي َوَل َن‬
ّ ‫سَمُع ِبي َأَحٌد ِمْن َهِذِه اْلُأمِّة َيُهوِد‬
ْ ‫حّمٍد ِبَيِدِه َل َي‬
َ ‫س ُم‬
ُ ‫َواّلِذي َنْف‬
‫ب الّنا‬
ِ ‫حا‬
َ‫ص‬
ْ ‫ت ِبِه ِإّل َكاَن ِمْن َأ‬
ُ ‫ُيْؤِمْن ِباّلِذي ُأْرِسْل‬
“Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, tidaklah seorang pun mendengar
tentang aku dari umat (manusia) ini, orang Yahudi atau pun Nasrani, kemudian meninggal dunia
dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus karenanya, kecuali ia termasuk para penduduk
neraka.” (HR. Muslim)
Hadits Nabi ini menegaskan bahwa umat yang hidup setelah Nabi Muhammad , kemudian
mendengar dakwah Nabi , yaitu Islam maka wajib masuk Islam. Kalau tidak maka tempat
kembalinya adalah neraka. Dengan demikian, agama Islam yang dibawah oleh Nabi Muhammad

 inilah yang diakui dan diterima Allah . Tidak pula diterima dari agama sebelumnya, yaitu
Yahudi maupun Nasrani.
Untuk itu kita patut bersyukur kepada Allah  yang telah mmberikan taufik dan hidayah-Nya
kepada kita berupa iman dan Islam. Karena itu marilah kita tingkatkan terus keislaman dan
keimanan kita ini dengan ilmu yang benar, sehingga betul-betul menjadi mukmin dan muslim
sejati sampai akhir hayat nanti. Bahkan semua anak cucu kita pun semoga demikian adanya. Kita
pun harus menanamkan aqidah yang benar ini kepada anak cucu kita sedini mungkin sebelum
terlambat. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim  dan Nabi Ya'kub .

ْ ‫ووصٰى با إْبراهي بنيه ويْعقوب يا بني إن ال ا‬
‫لين‬
‫ل‬
‫ى‬
‫ف‬
‫ط‬
‫ص‬
ٰ
ِّ ‫كم ا‬
َ ََ
َ َّ َّ ِ َّ ِ َ َ ُ ُ َ َ ِ ِ َ ُ ِ َ ِ َ ِ َّ َ َ
َ
ُ ُ
ْ
‫ن ِإ َّل وأ َنُتْ مْسِلُمون‬
‫فل تموت‬
َ
ُ
َ َّ ُ ُ َ َ َ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'kub.
(Ibrahim berkata), 'Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu,
maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam'.” (QS. al-Baqarah: 132)

‫ت َفاْسَتْغِفُروُه ِإّنُه ُهَو‬
ِ ‫سِلَما‬
ْ ‫ي َو اْلُم‬
َ ‫سِلِم‬
ْ ‫ساِئِر اْلُم‬
َ ‫ل ِلي َو َلُكْم َو ِل‬
َ ‫َأُقْوُل َقْوِلي َهَذا َأْسَتْغِفُر ا‬
‫اْلَغُفوُر الّرِحْيُم‬
Khutbah Kedua

ُ‫حّمًدا َخاَتم‬
َ ُ‫ َو َأْشَهُد َأّن م‬،‫ي‬
َ ‫ح‬
ِ ‫صاِل‬
ّ ‫ل َوِلّي ال‬
ُ ‫ َو َأْشَهُد َأْن َل ِإَلَه ِإّل ا‬،‫ي‬
َ ‫ب اْلَعاَلِم‬
ّ ‫ل َر‬
ِ ‫حمُْد‬
َ ‫َاْل‬
‫ت َعَلى آِل ِإْبَراِهيَم‬
َ ‫صّلْي‬
َ ‫حّمٍد َكَما‬
َ ‫حّمٍد َو َعَلى آِلِه ُم‬
َ ‫صّل َعَلى ُم‬
َ ‫ الّلُهّم‬،‫ي‬
َ ‫ْاَلْنِبَياِء َو اْلُمْرَسِل‬
،‫جيٌد‬
ِ ‫ك َحِميٌد َم‬
َ ‫ت َعَلى آِل ِإْبَراِهيَم ِإّن‬
َ ‫حّمٍد َكَما َباَرْك‬
َ ‫حّمٍد َو َعِلى آِل ُم‬
َ ‫َو َباِرْك َعَلى ُم‬
‫َأّما َبْعُد‬
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Setelah mendapat hidayah iman dan Islam, maka sepatutnya kita menjaga serta
mempertahankannya sampai titik darah penghabisan hingga ajal menjemput. Tidak tergiur oleh
bujuk rayu setan dari kalangan manusia maupun jin serta tidak tergoda oleh propaganda
menyesatkan. Seperti pepatah yang mengatakan, 'Tak lapuk karena hujan, tak lekang karena
panas'. Demikianlah semestinya ktia menjaga dan mempertahankan iman kita, karena dengan
Islam-lah jaminan sampai ke surga dan keridhaan Allah . Karena itu Allah  berwasiat agar
tidak meninggalkan dunia ini melainkan dalam keadaan Islam. Firman Allah ,

ْ
ْ
ْ
َ ّ ‫يآ أ َُيا ا‬
‫ن ِإ َّل وأ َنُت مسِلُمون‬
‫لين آمُنوا ا ّ َتُقوا اَّل ح ّ َق ت َُقاِتِه وَل َتُموت‬
ِ
ُ
َ
ّ
َ
ُ
َ َ
َ َ
َ
َ
َّ َ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya;
dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali
'Imran: 102)

Semoga Allah  membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya, dan memberi kekuatan kepada
kita untuk meniti jalan-Nya yang lurus (shirathal mustaqim), jalan yang selamat di dunia dan
akhirat.

‫سِليًما‬
‫صّلوا َعَلْيِه َوَسّلُموا َت ْ‬
‫صّلوَن َعَلى الّنِبّي َيآَأّيَها اّلِذيَن َءاَمُنوا َ‬
‫لِئَكَتُه ُي َ‬
‫ل َوَم َ‬
‫ِإّن ا َ‬
‫ت َعَلى ِإْبَراِهيَم َو َعَلى آِل ِإبَْراِهْيَم ِإّن َ‬
‫ك‬
‫صَلْي َ‬
‫حّمٍد َكَما َ‬
‫حّمٍد َو َعَلى آِل ُم َ‬
‫صّل َعَلى ُم َ‬
‫الّلُهّم َ‬
‫ت َعَلى ِإْبَراِهيَم َو َعَلى آِل‬
‫حّمٍد َكَما َبَرْك َ‬
‫حّمٍد َو َعَلى آِل ُم َ‬
‫جيٌد‪ ،‬الّلُهّم َبِرْك َعَلى ُم َ‬
‫َحِميٌد َم ِ‬
‫جيٌد‪.‬‬
‫ك َحِميٌد َم ِ‬
‫ِإْبَراِهْيَم ِإّن َ‬
‫سَنا َوِإْن َلْم َتْغـِفـْر َلَنا َوَتْرَحْمَنا‬
‫ت‪َ ،‬رّبَنا َظَلْمَنا َأْنفُ َ‬
‫سِلَما ِ‬
‫سِلِمْيَن َواْلُم ْ‬
‫الّلُهمّ اْغـِفـْر ِلْلُم ْ‬
‫خاِسِرْيَن‬
‫َلَنُكوَنّن ِمَن اْل َ‬
‫ف َو اْلِغَنى‬
‫ك اْلُهَدى َو الّتَقى َو اْلَعَفا َ‬
‫سَأُل َ‬
‫الّلُهّم ِإّنا َن ْ‬
‫ت اْلَوّهاب‬
‫ك َأْن َ‬
‫ك َرْحَمًة ِإّن َ‬
‫ب َلَنا ِمْن َلُدْن َ‬
‫غ ُقُلوَبَنا َبْعَد ِإْذَهَدْيَتَنا َو َه ْ‬
‫الّلُهمّ َل ُتِز ْ‬
‫حِكيُم‬
‫ت اْلَعِزيُز اْل َ‬
‫ك َأْن َ‬
‫جَعْلَنا ِفْتَنًة ّلّلِذيَن َكَفُروا َواْغِفْر َلَنا َرّبَنا ِإّن َ‬
‫َرّبَنا َل َت ْ‬
‫ي‪.‬‬
‫ب اْلَعاَلِم َ‬
‫ل َر ِ‬
‫حْمُد ِ‬
‫ب الّناِر‪َ ،‬و اْل َ‬
‫سَنًة َو ِقَنا َعَذا َ‬
‫سَنًة َو ِفى ْاَلِخَرِة َح َ‬
‫َرّبَنآ َءاِتَنا ِفى الّدْنَي َح َ‬

* Dikutip dari Rubrik Khutbah, Majalah Islam Qiblati, edisi 07 tahun V Rabiul Tsani 1431 H / April 2010 M oleh M.
Mujib Ansor, SH

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful