You are on page 1of 3

Prinsip JKN Menurut SJSN Sebagai Asuransi Sosial, Antara Idealitas Vs Kenyataan

Tidak ada sesuatu yang sempurna, setiap metode pasti ada kelebihan dan kekurangannya, begitu pula
dengan sistem JKN di Indonesia. Program Jaminan Kesehatan Nasional yang disingkat Program JKN
adalah suatu program Pemerintah dan Masyarakat/Rakyat dengan tujuan memberikan kepastian
jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi setiap rakyat Indonesia agar penduduk Indonesia dapat hidup
sehat, produktif, dan sejahtera.
Mulia sekali memang tujuan dari program JKN ini, apalagi didukung dengan prinsip JKN sebagai
Asuransi Sosial dan Ekuitas. Prinsip Asuransi Sosial antara lain mencakup: (UU No. 40 Tahun 2004
Penjelasan Pasal 19 ayat 1 ):

Kegotongroyongan antara peserta kaya dan miskin, yang sehat dan sakit, yang tua dan muda,
serta yang beresiko tinggi dan rendah.

Kepesertaan bersifat wajib dan tidak selektif.

Iuran berdasarkan persentase upah/penghasilan untuk peserta penerima upah atau suatu jumlah
nominal tertentu untuk peserta yang tidak menerima upah.

Dikelola dengan prinsip nirlaba, artinya pengelolaan dana digunakan sebesar-besarnya untuk
kepentingan peserta dan setiap surplus akan disimpan sebagai dana cadangan dan untuk
peningkatan manfaat dan kualitas layanan.

Pada prinsip kegotongroyongan, harapannya ada sistem saling membantu antara dua pihak, tetapi pada
kenyataannya masih timpang, yakni kebanyakan peserta yang telah sakit baru mendaftarkan diri
mengikuti JKN. Orang-orang yang merasa sehat cenderung enggan untuk mendaftar sebagai peserta.
Orang yang berkecukupan pun biasanya lebih memilih asuransi kesehatan lain dibanding asuransi JKN
karena menginginkan fasilitas yang lebih baik dan menganggap JKN mempunyai banyak keterbatasan.
Dilihat dari usia pun kebanyakan mereka yang sudah berusia lanjut yang banyak mendaftarkan diri
menjadi peserta JKN dibanding usia muda, hal ini juga dimungkinkan karena saat tua sudah banyak
penyakit yang menimpa. Begitu pula dengan orang yang beresiko tinggi mengidap penyakit, maka
mereka akan mendaftar sebagai peserta JKN, sementara yang beresiko rendah tidak terlalu peduli akan
kepesertaan JKN. Untuk mengatasi hal yang timpang ini maka sebaiknya dilakukan sosialisasi bahwa
memiliki asuransi kesehatan sangat bermanfaat dan tidak memandang apakah orang itu sedang sehat,
kaya, muda atau beresiko rendah terkena penyakit karena siapapun tidak dapat menduga kapan dia
sakit dan disitulah peran asuransi kesehatan. Penyakit pun sekarang sudah tidak melihat umur dan bisa
menyerang di usia muda, maka sangat bijaklah jika sedari dini mempunyai asuransi kesehatan, dalam
hal ini asuransi JKN/BPJS.
Prinsip kedua bahwa kepesertaa besifat wajib dan tidak selektif. Prinsip ini mewajibkan seluruh
masyarakat Indonesia untuk mengikuti JKN, harapannya agar semua masyarakat dapat terjamin

kesehatannya tanpa terkecuali. Tetapi kenyataannya masih banyak masyarakat yang tidak tahu dan
tidak peduli pentingnya asuransi kesehatan. Masyarakat masih berpola pikir jika sakit baru berobat dan
bagi yang kurang mampu biasanya tidak mempersiapkan biaya pengobatan saat sehat. Mereka tidak
memprediksi berapa besar biaya pengobatan yang harus dikeluarkan jika sudah menderita penyakit,
padahal bisa saja biaya itu sangat besar. Akan sangat tertolong jika sebelunya sudah mempunyai
asuransi kesehatan.
Pada prinsip ketiga yakni iuran berdasarkan persentase upah/penghasilan untuk peserta penerima upah
atau suatu jumlah nominal tertentu untuk peserta yang tidak menerima upah. Prinsip ini bagi peserta
penerima upah mungkin tidak terlalu memberatkan karena langsung dipotong dari gaji/upah dan bagi
peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran) dalam hal ini masyarakat miskin, juga sudah dibayarkan
pemerintah. Akan berbeda masalahnya bagi para peserta JKN mandiri yang sebenarnya mereka tidak
terlalu mampu namun tidak terdata sebagai masyarakat miskin pesrta PBI dan mereka harus membyar
iuran wajib tiap bulan dan berlaku bagi semua anggota keluarga. Akan terasa sangat berat membayar
iuran per bulan apalagi jika jumlah anggota keluarganya cukup besar. Untuk itu perlu dilakukan
pendataan ulang mengenai peserta yang layak mendapat bantuan iuran, karena walaupun tidak miskin
sebenarnya masih banyak yang membuthkan bantuan iuran kesehatan dari pemerintah apalagi disertai
pemenuhan kebutuhan hidup lain yang semakin tinggi. Terkait hal ini juga ada permasalahan lain pada
peserta PBI, menurut data BPS tahun 2006 masyarakat yang masuk dalam kriteria PBI berjumlah 86,4
juta jiwa, tetapi pada data BPS tahun 2011 berbeda dengan data tahun 2006, yaitu meningkat menjadi
100,8 juta jiwa. Pada pelaksanaannya JKN memakai data tahun 2006, sehingga ada sekitar 14 juta jiwa
yang seharusnya menjadi PBI tetapi belum tercover menjadi PBI.
Prinsip keempat yaitu prinsip nirlaba, artinya pengelolaan dana digunakan sebesar-besarnya untuk
kepentingan peserta dan setiap surplus akan disimpan sebagai dana cadangan dan untuk peningkatan
manfaat dan kualitas layanan. Pada kenyataannya pengelolaan dana JKN masih jauh dari prinsip ini.
Dana JKN yang dalam hal ini dikelola oleh BPJS nampaknya belum dialokasikan secara benar dan
efisien untuk kepentingan peserta. Apakah dana itu habis untuk membayar gaji para petinggi BPJS
yang jumlahnya fantastis, dikorupsi, ataukah memang pengelolaan yang tidak matang sehingga
bukannya surplus malahan menjadi defisit tiap tahun dan mengakibatkan kenaikan tarif iuran yang
harus dibayar oleh peserta JKN/BPJS mandiri. Peserta JKN juga masih mengeluhkan pelayanan
kesehatan baik dari segi prosedur yang cukup berbelit-belit jika menggunakan asuransi JKN, maupun
mengenai fasilitas kesehatan yang didapat masih terbatas jika menggunakan JKN. Sebaiknya ada badan
khusus yang mengawasi masalah penggunaan dana JKN agar dana tersebut memang benar-benar
digunakan untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta.
Membahas masalah prinsip ekuitas (UU No. 40 Tahun 2004 Penjelasan Pasal 19 ayat 1 ) yaitu
kesamaan dalam memperoleh pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis yang tidak terkait dengan
besaran iuran yang telah dibayarkan. Prinsip ini diwujudkan dengan pembayaran iuran sebesar
prosentase tertentu dari upah bagi yang memiliki penghasilan (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 17 ayat

1) dan pemerintah membayarkan iuran bagi mereka yang tidak mampu (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal
17 ayat 4 ). Jelas disini ditekankan bahwa pelayanan kebutuhan medis tidak terkait dengan besaran
iuran yang dibayarkan, namun pada kenyataannya terdapat perbedaan perlakuan pada pasien JKN yang
merupakan PBI dan peserta JKN Mandiri kelas III. Mereka yang dirawat inap di rumah sakit kadang
hanya dirawat oleh dokter umum dimana seharusnya mereka memperoleh pelayanan spesialistik.
Memang ini tidak terjadi di semua rumah sakit tapi hal ini seharusnya menjadi perhatiaan berkenaan
dengan masalah prinsip ekuitas. Untuk itu seharusnya dibuat standarisasi. Dalam setiap pekerjaan
baiknya memiliki suatu standar, sehingga tidak ada perbedaan perlakuan.
Bagaimana kelangsungan JKN ke depannya? Akankah bisa berhasil dan sesuai dengan prinsip SJSN?
Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan proses dan waktu serta keterlibatan seluruh kalangan dan
berbagai pihak untuk mendukung pelaksanaannya JKN. Anggaran belanja negara untuk kesehatan pun
sebaiknya harus ditingkatkan untuk menjamin pelayanan kesehatan yang baik dan merata bagi seluruh
masyarakat Indonesia.