You are on page 1of 25

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Setiap anak mengalami tumbuh kembang, dimulai dari masa pralahir sampai masa
akhir remajanya. Tumbuh yang peristiwanya disebut pertumbuhan, dan kembang yang
peristiwanya disebut perkembangan saling berkaitan dan sulit dipisahkan karena seorang
anak tidak dapat tumbuh kembang secara sempurna hanya dengan mengalami
pertumbuhan saja tanpa mengalami perkembangan atau sebaliknya.
Pertumbuhan memiliki pengertian yaitu proses yang berhubungan dengan bertambah
besarnya ukuran fisik dan struktur tubuh yang dapat dinyatakan dalam nilai-nilai ukuran
tubuh seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas dan
sebagainya. Bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dan diamati dengan menggunakan
satuan panjang dan berat. Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak
halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Perkembangan bersifat
kualitatif sehingga pengukurannya lebih sulit.
Pertumbuhan dan perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh faktor-faktor. Secara
umum faktor-faktor tersebut dibagi menjadi dua golongan yaitu faktor internal dan
eksternal. Faktor internal meliputi perbedaan ras atau etnik, keluarga, umur, dan lain-lain.
Sedangkan faktor eksternal tebagi lagi menajdi 3 golongan yaitu faktor prenatal atau saat
kehamilan misalnya gizi saat hamil, zat kimia/toksin, infeksi, radiasi dan lain-lain, faktor
persalinan seperti trauma kepala pada bayi yang terjadi karena komplikasi persalinan, dan
faktor pasca natal atau setelah melahirkan misalnya gizi, penyakit kronis, psikologis,
lingkungan pengasuhan dan lain-lain.
Masa akhir kanak-kanak disebut juga periode sekolah karena anak mulai memasuki
lingkungan sekolah dasar. Biasanya periode sekolah itu berlangsung dari usia enam tahun
yaitu saat ia memasuki kelas satu di sekolah dasar sampai ia berusia 12 tahun. Pada usia ini
juga kerap timbul masalah mengenai tumbuh kembang anak.
Dalam makalah ini, akan membahas secara menyeluruh terkait dengan tumbuh
kembang anak usia sekolah sehingga pembaca bisa memahami dan mampu
menerapkannya dalam mendidik serta memberikan asuhan yang benar terhadap anak usia
sekolah.
B. Rumusan masalah
1. Apakah pengertian anak usia sekolah ?
2. Apakah karakteristik tumbuh kembang anak usia sekolah ?
1

3. Apa saja permasalahan kesehatan anak usia sekolah ?


4. Apa saja gangguan tumbuh kembang anak usia sekolah ?
5. Bagaimana tumbuh kembang anak usia sekolah menurut para ahli ?
C. Tujuan
1. Menjelaskan pengertian anak usia sekolah
2. Menjelaskan karakteristik tumbuh kembang anak usia sekolah
3. Menjelaskan permasalahan kesehatan anak usia sekolah
4. Menjelaskan gangguan tumbuh kembang anak usia sekolah
5. Menjelaskan tumbuh kembang anak usia sekolah menurut para ahli

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Anak Usia Sekolah
Menurut Wong (2009), usia sekolah adalah anak pada usia 6-12 tahun, yang
artinya sekolah menjadi pengalaman inti anak. Periode ketika anak-anak dianggap
mulai bertanggung jawab atas perilakunya sendiri dalam hubungan dengan orang tua
mereka, teman sebaya, dan orang lainnya. Usia sekolah merupakan masa anak
memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk keberhasilan penyesuaian diri pada
kehidupan dewasa dan memperoleh keterampilan tertentu.
B. Karakteristik Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah secara Umum
1. Pertumbuhan Fisik
Pada anak usia sekolah terjadi perubahan proporsi tubuh dengan kenaikan
tinggi badan per tahun adalah 2-3 inchi atau kurang lebih 5 cm. Sedangkan kenaikan
berat badan seorang anak lebih bervariasi yaitu sekitar 3-5 pon per tahun atau 2-3 kg
2

per tahun. Pada usia ini badan akan memanjang dan akan terlihat lebih langsing,
leher menjadi lebih panjang, dada melebar, perut tidak buncit, lengan dan tungkai
memanjang serta lingkar pinggang akan tampak mengecil karena pertambahan
tinggi. Selain itu, jaringan lemak pada anak usia sekolah lebih cepat berkembang
dibandingkan dengan jaringan otot. Untuk pertumbuhan gigi, seorang anak pada
rentang usia sekolah sudah mempunyai dua puluh gigi tetap.Pada masa ini juga,
anak cenderung tidak peduli dengan penampilannya dan berpakaian seperti temantemannya.
2. Perkembangan Keterampilan Motorik
Pada awal masa usia sekolah, anak mempunyai sejumlah besar keterampilan
yang mereka pelajari selama tahun-tahun prasekolah. Pada masa ini, anak
perempuan umumnya lebih unggul dari anak lelaki dalam hal kegiatan yang
melibatkan otot-otot halus seperti melukis, menjahit, dan menganyam sedangkan
anak laki-laki lebih pintar dalam kegiatan yang melibatkan otot-otot kasar seperti
melempar bola basket, menendang bola dan melakukan lompat jauh. Keterampilan
masa usia sekolah dibagi menjadi 4 kategori keterampilan yaitu:
a. Keterampilan menolong diri sendiri (self help) yaitu keterampilan yang
memungkinkan mereka mampu melakukan sesuatu bagi diri sendiri, meliputi
keterampilan berpakaian, makan, mandi dan berdandan sendiri.
b. Keterampilan menolong orang lain (social-help), yaitu keterampilan yang
berkaitan dengan membantu orang lain agar dapat diterima dilingkungan
keluarga, tetangga ataupun sekolah. Keterampilan itu meliputi membersihkan
tempat tidur, mengerjakan pekerjaan rumah atau pekerjaan sekolah, dan lain-lain.
c. Keterampilan sekolah, meliputi keterampilan menulis, membaca , melukis,
menari dan lain-lain.
d. Keterampilan bermain, untuk dapat menikmati kegiatan bersama-sama teman
sebayanya. Seorang anak belajar berbagai keterampilan seperti keterampilan
bermain bola, menendang dan menangkap bola, dan lain-lain.
3. Perkembangan komunikasi
Perkembangan komunikasi pada anak usia ini dapat dimulai dengan
kemampuan anak mencetak, menggambar, membuat huruf atau tulisan yang besar
dan apa yang dilaksanakan oleh anak mencerminkan pikiran anak dan kemampuan
anak membaca disini sudah muncul, pada usia ke delapan anak sudah mampu
membaca dan sudah mulai berfikir tentang kehidupan.
Komunikasi yang dapat dilakukan pada usia sekolah ini adalah tetap masih
memperhatikan tingkat kemampuan bahasa anak yaitu menggunakan kata-kata
sederhana yang spesifik, menjelaskan sesuatu yang membuat ketidakjelasan pada
3

anak atau sesuatu yang tidak diketahui, pada usia ini keingintahuan pada aspek
fungsional dan prosedural dari objek tertentu sangat tinggi. Maka jelaskan arti,
fungsi, prosedur, maksud dan tujuan dari sesuatu yang ditanyakan oleh anak secara
jelas dan jangan menyakiti atau mengancam sebab ini akan membuat anak tidak
mampu berkomunikasi secara efektif.
Anak-anak usia sekolah juga seringkali berbicara dengan cara yang sama
dengan orang dewasa. Mereka mulai mengerti dan menginginkan kemandirian.
Berikut cara kita dalam berkomunikasi dengan anak usia sekolah :
1. Menunjukkan minat yang tulus, dengan menanyakan apa yang terjadi selama
mereka tidak bersama-sama dengan kita.
2. Memberi teladan bagi mereka yang akan mengembangkan kemampuan mereka
untuk menetapkan tujuan, memahami konsekuensi-konsekuensi dan mengatasi
masalah-masalah mereka sendiri.
3. Mendorong mereka untuk menyampaikan perasaan mereka dan bantu mereka
memahami emosi serta tindakan yang muncul akibatnya.
4. Bersikap tenang dan bijaksana ketika mengoreksi mereka. Sangat penting bagi
kita untuk membuat mereka mengerti apa yang salah dengan tindakan mereka.
Sepanjang proses komunikasi, orang tua harus membimbing anak-anak mereka
dalam memahami emosi-emosi dan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar
mereka. Dengan pengarahan yang tepat, anak-anak dapat bertumbuh menjadi orangorang dewasa yang berperilaku terpuji, yang mengerti nilai interaksi yang tepat
dengan orang-orang di sekeliling mereka.
4. Perkembangan Seksual
Anak usia sekolah biasanya mengetahui bahwa memperhatikan tubuh orang
lain dan masturbasi merupakan kegiatan yang dilakukan orang dewasa secara
pribadi. Di umur ini anak masih bermain peran yang melibatkan perbedaan jenis
kelamin karena rasa keingintahuannya. Anak mulai mendengar dan memperhatikan
kata-kata yang berbau seks, kadang mereka menggunakan istilah-istilah tertentu
yang mereka dapatkan dari teman-temannya. Mereka masih merasa tertarik pada
proses kehamilan dan persalinan. Anak mulai memlih teman sejenis sebagai teman
dekatnya. Anak sudah malu jika tidak berpakaian dengan baik di depan orang lain
dan juga di depan orang tuanya. Mereka mulai mengangkat topik seks dalam obrolan
atau gurauan dengan teman-temannya. Permainan seksual yang sering diperankan
4

adalah permainan bermain saling memperolok atau berpura-pura mengenai


perkawinan atau bermain peran dokter-pasien-perawat.
Pendidikan seks sangat penting selama tahun-tahun usia sekolah. Hal itu harus
dilakukan secara bertahap dengan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan anak.
Orang tua yang menjawab pertanyaan anak dengan jujur dan apa adanya berarti telah
membantu anak-anak mereka mengetahui seluruh fakta kehidupan pada saat mereka
berumur 10 atau 11 tahun. Menstruasi harus dijelaskan lebih awal kepada anak-anak
perempuan pada usia sekolah dasar karena permulaan mens rata-rata terjadi antara
umur 9 sampai 16 tahun, dengan rata-rata umur 13 tahun di Amerika Serikat
(Malina, 1979).

5. Perkembangan Emosi
Ungkapan emosional pada usia ini merupakan ungkapan yang menyenangkan.
Anak-anak tertawa, berguling-guling dan ungkapan emosional lain yang dianggap
oleh orang dewasa sebagai ungakapan emosional yang kurang matang. Tetapi
ungkapan emosional seperti ini menunjukkan kebahagiaan dan penyesuaian diri
yang baik. Selain emosi yang menyenangkan, ada juga ungkapan emosi lain yang
terjadi karena ledakan kemarahan atau perasaan kecewa. Pada anak perempuan,
ungakapan emosi ini ditunjukkan menangis atau dengan ungakapan lain seperti pada
prilaku prasekolah, sedangkan pada anak laki-laki lebih mengungkapkannya dengan
cemberut atau merajuk.
Umumnya, masa usia sekolah merupakan periode yang relatif tenang karena
pada masa ini peranan anak sudah terumus dan anak sudah tahu bagaimana
melaksanakannya. Tetapi, ada kalanya emosi seorang anak dapat meninggi. Hal itu
dapat disebabkan karena keadaan fisik dan lingkungan seperti anak yang sakit atau
lelah cenderung mudah marah, rewel dan sulit dihadapi.
6. Perkembangan Sosial
Pada usia ini, anak tidak merasa cukup dengan dua atau tiga teman saja. Sejak
anak masuk sekolah sampai masa puber, ada keinginan untuk diterima dalam suatu
kelompok dan tidak akan puas bila tidak bersama teman-temannya. Karena itu, usia
ini disebut juga usia berkelompok atau usia gang. Adapun ciri khas geng pada masa
ini yaitu:

a. Geng anak-anak merupakan kelompok bermain. Aktivitas mereka meliptui semua


bentuk permainan dan hiburan kelompok, membuat sesuatu dan lainnya.
b. Anggota geng terdiri dari jenis kelamin yang sama.
c. Geng memiliki tempat pertemuan rahasia yang jauh dari pengawasan orang tua.
d. Geng anak-anak memiliki tanda keanggotaan atau tanda pengenal seperti topi dan
pakaian yang sama untuk mengenali anggotanya.
e. Pemimpin geng adalah orang yang lebih unggul dan menjadi wakil bagi
kelompoknya.
f. Untuk menjadi anggota geng harus diajak dan terkadang ada upacara
perpeloncoan untuk menguji keterampilan dan ketahanan fisik calon anggota.
g. Memiliki isyarat dan kode sendiri untuk menjaga kerahasiaan mereka.

7. Perkembangan Bicara
Pada periode ini anak mulai menyadari bahwa bentuk komunikasi seperti
tangisan atau isyarat sudah tidak diterima lagi secara sosial. Untuk itu, ada dorongan
dalam diri anak untuk memperbaiki kemampuan bicaranya. Kemampuan bicara
berguna agar anak tersebut dapat mengetahui apa yang dikatakan orang lain, jika
anak tidak dapat mengerti apa yang dikatakan orang lain, kemungkinan anak akan
ditolak dari kelompok permainannya karena anak cenderung mengatakan hal-hal
yang tidak berhubungan dengan pembicaraan teman-temannya.
Bantuan memperbaiki pembicaraan pada anak-anak usia sekolah dapat berasal
dari empat sumber. Pertama, orang tua yang menganggap berbicara adalah hal yang
penting akan memacu anaknya untuk berbicara lebih baik, memperbaiki ucapan dan
tata bahasa yang salah serta mengikutsertakan anak dalam pembicaraan yang bersifat
umum. Kedua, radio dan televisi mendorong anak untuk mendengarkan secara
seksama sehingga kemampuan anak untuk mengerti apa yang dibicarakan oleh orang
lain akan meningkat. Ketiga, anak yang sudah dapat membaca akan mendapatkan
tambahan kosakata dan terbiasa dengan bentuk kalimat yang benar. Dan keempat,
setelah anak masuk sekolah, biasanya guru akan memperbaiki ucapan-ucapan yang
salah.
8. Perkembangan Kreativitas
Pada usia 5-6 tahun, kreativitas seorang anak dipengaruhi oleh keluarga dan
lingkungan sekolahnya. Jika tata tertib yang diberikan kepada anak tersebut terlalu
6

mengekang, maka kreativitas anak tersebut tidak akan berkembang. Pada usia 8-10
tahun, kreativitas anak bergantung kepada kelompok ia bermain. Karena keinginan
untuk diterima sebagai anggota kelompok teman sebaya merupakan ciri dari periode
ini. Untuk itu, jika ingin diterima sebagai bagian dari kelompok tersebut, sikap
mereka haruslah sedekat mungkin dengan pola yang sudah terbentuk di kelompok
tersebut.
9. Perkembangan Bermain
Selama masa usia sekolah, anak laki-laki maupun perempuan sangat sadar
dengan kesesuaian jenis permainan dengan jenis kelaminnya. Adapun beberapa jenis
permainan yang umum selama masa usia sekolah yaitu:
a. Bermain konstruktif
Bermain konstruktif merupakan bentuk permainan anak-anak menggunakan
bahan untuk membuat sesuatu yang bukan untuk tujuan bermanfaat melainkan
hanya untuk kegembiraan saja. Anak laki-laki lebih tertarik membuat sesuatu
menggunakan kayu dan alat. Sedangkan anak perempuan menyukai konstruksi
yang lebih halus seperti menjahit, menggambar, melukis, membentuk tanah liat
dan membentuk perhiasan.
b. Menjelajah
Pada masa ini lingkungan yang dijelajahi anak lebih jauh dari lingkungan
rumah dan tetangga. Anak cenderung ingin menjelajah daerah-daerah baru
seperti, rumah tua yang tidak terpakai atau rumah yang sedang dibangun.
c. Mengumpulkan
Pada masa ini, anak akan lebih selektif mengumpulkan barang dan
memusatkan kepada barang yang bagus atau berbeda dengan teman-teman
sebayaya. Selain itu, anak juga menyimpan barang yang ia kumpulkan secara
sistematis seperti menaruhnya di kotak yang telah diberikan nama sehingga lebih
mudah ditunjukkan kepada teman-temannya.
d. Permainan dan olahraga
Pada usia 8 sampai 10 tahun, anak lebih menginginkan permainan tim yang
terorganisasi dan mempunyai peraturan seperti bola basket, sepak bola, baseball,
7

dan hoki. Permainan yang anak lakukan ini lebih bersifat persaingan dengan pusat
perhatian pada keterampilan dan keunggulan serta tidak semata-mata pada
kegembiraan. Selain itu, ada juga jenis permainan dalam ruang, yaitu anak
bermain di dalam rumah jika cuaca sedang buruk untuk dapat bermain di luar
rumah, sakit ataupun merasa lelah. Contoh permainan ini antara lain main kartu,
permainan tebakan dan teka teki.
e. Hiburan
Hiburan merupakan bentuk permainan pasif karena dalam hiburan anak akan
bermain sendiri. Adapun hiburan yang paling popular dalam usia ini yaitu:
1) Membaca
Anak lebih menyukai buku atau majalah yang menekankan kisah
petualangan dimana ia dapat membaca tentang tokoh pahlawan sebagai
identifikasi dirinya serta menyukai buku atau majalah yang memiliki akhir
cerita yang bahagia.
2) Mendenagrkan radio dan melihat acara televisi
Televisi lebih popular dibandingkan dengan radio meskipun anak
menyukai mendengarkan musik atau berita olahraga lain yang tidak disiarkan
di televisi. Anak-anak menyukai kartun atau acara lain yang diperuntukkan
bagi anak-anak seusianya. Dengan menonton televisi, anak tidak hanya
mendapatkan hiburan tetapi juga menjadi sarana sosialisasi yang penting.
3) Menonton Film
Menonton film biasanya dilakukan bersama teman kelompok walau
tidak jarang ada anak yang pergi ke bioskop sendirian atau bersama anggota
keluarga. Anak senang menonton film kartun, kisah petualangan atau film-film
tentang binatang.
4) Melamun atau berkhayal
Biasanya kegiatan ini dilakukan untuk anak yang kesepian dan
mempunyai sedikit teman bermain sehingga menghibur diri sendiri dengan
melamun. Anak sering membayangkan dirinya sebagai seorang pahlawan
dalam dunia impiannya kemudian mengimbangi kurangnya teman yang ia
peroleh dalam kehidupan sehari-hari.
C. Permasalahan Kesehatan Anak Usia Sekolah
1. Penyakit menular
Penyakit menular pada anak sekolah merupakan penyakit yang cukup
mengganggu dan berpotensi mengakibatkan keadaan bahaya hingga mengancam jiwa
adalah penyakit menular pada anak sekolah. Sekolah adalah merupakan tempat yang
paling penting sebagai sumber penularan penyakit infeksi pada anak sekolah. Infeksi
8

menular yang dapat menular di lingkungan sekolah adalah: Demam Berdarah Dengue,
Infeksi Tangan Mulut, Campak, Rubela (campak jerman), Cacar Air, Gondong dan
infeksi mata (Konjungtivitis Virus).
a. Campak
Penyakit campak adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh
virus campak. Penularannya terjadi melalui udara ataupun kontak langsung dengan
penderita. Virus campak menyebar lewat percikan ludah penderita. Virus cacar air
bisa pindah ke tubuh orang sehat lewat bersentuhan langsung dengan cacarnya.
Untuk itu maka penderita campak dan cacar air dilarang masuk sekolah.
Gejala-gejalanya adalah demam, batuk, pilek dan timbul bercak merah di kulit
3-5 hari setelah anak menderita demam. Bercak mula-mula timbul di pipi di bawah
telinga yang kemudian menjalar ke muka, tubuh dan anggota tubuh lainnya.
Komplikasi dari penyakit campak adalah pneumonia (radang paru-paru), infeksi
telinga, neuritis (radang pada syaraf), artritis (radang sendi) dan ensefalitis (radang
otak) yang dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen.
b. Mumps (Gondong)
Penyakit gondong adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus
gondong. Penularannya terjadi melalui udara. Gejala-gejalanya adalah demam 3-5
hari, pembengkakan di daerah pipi yang berdekatan dengan telinga bagian bawah,
rasa kurang enak badan, nyeri kepala dan rasa sakit bila menelan atau mengeluarkan
air liur. Komplikasi paling sering adalah radang otak dan radang buah pelir atau
kandung telur (14-35%) yang dapat mengakibatkan kemandulan.
c. Rubela
Penyakit rubela atau campak jerman adalah penyakit menular yang disebabkan
oleh virus rubela. Penularannya adalah melalui udara. Gejala-gejala yang khas
adalah demam, timbulnya bercak merah di kulit (hampir serupa dengan campak),
pembesaran kelenjar getah bening di leher dan bagian belakang kepala. Komplikasi
rubela adalah artritis (radang sendi) dan neuritis (radang syaraf).
d. Cacar Air

Cacar air atau varisela memang merupakan penyakit anak-anak yang sudah
ratusan tahun dikenal orang. Diawali dengan gejala melemahnya kondisi tubuh,
pusing, demam yang kadang-kadang diiringi batuk, dalam waktu 24 jam timbul
bintik-bintik yang berkembang menjadi lesi (mirip kulit yang terangkat karena
terbakar) dan terakhir menjadi benjolan-benjolan kecil berisi cairan.
Sekitar 250 500 benjolan akan timbul menyebar di seluruh bagian tubuh,
tidak terkecuali pada muka, kulit kepala, mulut bagian dalam, mata, termasuk bagian
tubuh yang paling intim. Namun dalam waktu kurang dari seminggu, lesi ini akan
mengering dan bersamaan dengan itu terasa gatal. Dalam waktu 1 3 minggu bekas
pada kulit yang mengering akan terlepas.
Virus penyebab penyakit cacar air ini berpindah dari satu orang ke orang lain
melalui percikan ludah yang berasal dari batuk atau bersin penderita dan
diterbangkan melalui udara atau kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi.
Komplikasi yang langka tapi bisa terjadi berupa radang paru, radang otak, radang
sumsum tulang, kegagalan hati, hepatitis serta sindrom Reye (kelainan pada otak
sekaligus hati).
2. Penyakit non infeksi
Penyakit non infeksi yang sering diderita adalah alergi. Alergi pada anak usia
sekolah dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut
sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa
terjadi. Alergi pada anak sangat beresiko untuk mengganggu pertumbuhan dan
perkembangan anak. Sering berulangnya penyakit, demikian luasnya sistem tubuh
yang terganggu dan bahaya komplikasi yang terjadi. Belakangan terungkap bahwa
alergi bisa mengganggu semua organ tubuh termasuk otak dan perilaku anak
sekolah.
D. Gangguan Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah
1. Gangguan pertumbuhan
Gangguan pertumbuhan atau sering disebut gagal bukanlah suatu diagnosis,
tetapi merupakan terminologi yang dipakai untuk menyatakan masalah khusus. Istilah
10

gagal tumbuh dipakai untuk menyatakan adanya kegagalan bertumbuh atau lebih
khusus adalah kegagalan mendapatkan kenaikan berat badan meskipun pada kasus
tertentu juga disertai terjadi gangguan pertumbuhan linear dan lingkar kepala
dibandingkan anak lainnya yang seusia atau sama jenis kelaminnya.
Berbagai kelainan yang mengganggu fungsi dan organ tubuh dapat
mengakibatkan gangguan pertumbuhan. Berbagai kelainan tersebut meliputi gangguan
metabolisme tubuh, gangguan hormonal, kelainan kromosom, kelainan darah dan
sebagainya dapat mengganggu secara langsung pertumbuhan anak.
Penyebab yang paling sering adalah karena ketidaknormalan pada sistem
saluran cerna, diantaranya adalah malabsorbsi (gangguan penyerapan) atau gangguan
ensim pencernaan yang menyebabkan masukan nutrisi yang tidak edekuat. Gangguan
saluran cerna tersebut meliputi : alergi, penyakit celiac, Intoleransi laktose, Reflux
Gastrooesephageal, Pyloric stenosis , bibir sumbing, penyakit Hirschsprungs,
Hepatitis, Cirrhosis, Atresia bilier, kekurangan ensim pankreas, Malabsorption dan
intoleransi protein susu.
Infeksi kronis, seperti HIV,TBC, Infeksi saluran kencing dapat juga menjadi
penyebab gangguan pertumbuhan. Penyebab yang agak jarang adalah Ketidaknormalan
kromosom seperti Down syndrome dan Turners syndrome , gangguan sistem organ
besar (mayor) seperti jantung, ginjal, otak dan lainnya, ketidaknormalan sistem hormon
(kekurangan hormon tiroid, kekurangan hormon pertumbuhan, hormon Pituitary,
Diabetes, adrenal), kerusakan otak atau susunan saraf pusat, akan menyebabkan
gangguan kesulitan makan sehingga menyebabkan keterlambatan pertumbuhan,
ketidaknormalan jantung dan sistem pernapasan, yang mengakibatkan gangguan
distribusi oksigen dan nutrisi pada seluruh tubuh seperti kelainan jantung, kistik
fibrosis, Astma, Anemia atau kelainan darah lainnya.
2. Gangguan perkembangan
Gangguan perkembangan dan perilaku pada anak sangat luas dan bervariasi.
Gangguan yang dapat terjadi pada anak sekolah adalah gangguan belajar, gangguan
konsentrasi, gangguan bicara, gangguan emosi, hiperaktif, ADHD hingga Autism, dan
lain-lain.
11

a. Penolakan Sekolah (School Refusal)


Penolakan sekolah atau fobia sekolah dan sering disebut mogok sekolah
adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang biasanya disertai
dengan berbagai keluhan yang tidak pernah muncul ataupun hilang ketika masa
keberangkatan sudah lewat, hari Minggu atau libur. Fobia sekolah dapat sewaktuwaktu dialami oleh setiap anak hingga usianya 14-15 tahun, saat dirinya mulai
bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru ataupun ketika ia
menghadapi suatu pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolahnya.
b. Gangguan Belajar
Kesulitan belajar bukanlah suatu diagnosis tunggal semata-mata, melainkan
terdiri dari berbagai jenis gangguan dengan berbagai macam gejala, penyebab,
pengobatan dan perjalanan penyakit. Tidak semua problem belajar merupakan suatu
kesulitan belajar. Ada anak yang menunjukkan perkembangan suatu keahlian
tertentu lebih lambat daripada anak lain seusianya dan sebaliknya, tetapi masih
dalam batas kewajaran. Untuk menentukan apakah seorang anak mengalami
kesulitan belajar tertentu atau tidak digunakan pedoman yang diambil dari
Diagnostic & Statistical Manual of Mental Disorders IV ( DSM IV ).
c. Gangguan Kemampuan Akademik (Academic Skills Disorders)
Terdapat 3 jenis gangguan kemampuan akademik yang sering dikeluhkan oleh
orang tua, diantaranya adalah :
1) Gangguan Membaca
Anak yang mengalami Gangguan Membaca menunjukkan adanya
Inakurasi dalam membaca, seperti Membaca lambat, kata demi kata jika
dibandingkan dengan anak seusianya, intonasi suara turun naik tidak teratur.
Sering terbalik dalam mengenali huruf dan kata, misalnya antara kuda dengan
daku, palu dengan lupa, huruf b dengan d, p dengan q, dll. Kacau terhadap kata
yang hanya sedikit perbedaannya, misalnya bau dengan buah, batu dengan buta,
rusa dengan lusa dll. Sering mengulangi dan menebak kata-kata atau frasa.

12

Pemahaman yang buruk dalam membaca, dalam arti anak tidak mengerti isi
cerita/teks yang dibacanya.
2) Disleksia
Disleksia adalah gangguan perkembangan berupa kesulitan dalam
perolehan bahasa-tertulis atau membaca dan menulis. Penyebabnya adalah
gangguan dalam asosiasi daya ingat dan pemrosesan di sentral yang semuanya
adalah gangguan fungsi otak.
3) Gangguan Menulis Ekspresif
Kondisi ini ditandai oleh ketidakmampuan anak untuk membuat suatu
komposisi tulisan dalam bentuk teks, dan keadaan ini tidak sesuai dengan tingkat
perkembangan anak seusianya. Gejala utamanya ialah adanya kesalahan dalam
mengeja kata-kata, kesalahan tata bahasa, kesalahan tanda baca, paragraf dan
tulisan tangan yang sangat buruk. Selain itu mengalami kemiskinan tema dalam
karangannya.
4) Gangguan Berhitung (Diskalkulia)
Diskalkulia adalah gangguan belajar yang mengakibatkan gangguan
dalam berhitung. Kelainan berhitung ini meliputi kemampuan menghitung sangat
rendah, tidak mempunyai pengertian bilangan, bermasalahan dalam bahasa
berhitung, tidak bisa mengerjakan simbol-simbol hitungan, dan ganguan
berhitungh lainnya. Bisa karena kelainan genetik atau karena gangguan
mekanisme kerja di otak. Gangguan Berhitung merupakan suatu gangguan
perkembangan kemampuan aritmetika atau keterampilan matematika yang jelas
mempengaruhi pencapaian prestasi akademikanya atau mempengaruhi kehidupan
sehari-hari anak.
Gejala yang ditampilkan di antaranya ialah : kesulitan dalam mempelajari
nama-nama angka, kesulitan dalam mengikuti alur suatu hitungan, kesulitan
dengan pengertian konsep kombinasi dan separasi, Inakurasi dalam komputasi,
selalu membuat kesalahan hitungan yang sama dll.

13

d. Gangguan Tidur
Pada usia pra sekolah gangguan tidur ditandai dengan awal jam tidur yang
larut malam, tidur sering gelisah (bolak balik posisi badannya), kadang dalam
keadaan tidur sering mengigau, menangis dan berteriak. Posisi tidurpun sering
berpindah dari ujung ke ujung lain tempat tidur. Tengah malam sering terjaga
tidurnya hingga pagi hari, tiba-tiba duduk kemudian tidur lagi, brushing (gigi saling
beradu/gemeretak).
Pada anak usia sekolah, remaja dan dewasa biasanya ditandai dengan mimpi
buruk pada malam hari. Mimpi buruk yang tersering dialami adalah mimpi yang
menyeramkan seperti didatangi orang yang sudah meninggal atau bertemu binatang
yang menakutkan seperti ular. Kesulitan memulai tidur biasanya terjadi periode awal
tidur atau berjalan saat tidur.
e. Hiperkinetik Atau Gangguan Motorik Berlebihan
Anak tampak tidak mau diam dan tidak bisa duduk lama. Bergerak terus tak
tentu arah tujuannya. Kadang disertai kebiasaan menjatuhkan badan secara keras ke
tempat tidur (smack down). Kebiasaan lainnya adalah senang melompat-lompat dan
memanjat. Tangan dan kaki sering bergerak terus bila duduk.
f. Gangguan Koordinasi Dan Keseimbangan
Gangguan ini ditandai oleh aktifitas berjalan seperti terburu-buru atau cepat
sehingga kemampuan berjalan terlambat. Bila berjalan sering jatuh, atau menabrak
benda di sekitarnya. Gangguan lainnya adalah bila berjalan jinjit atau bila duduk
bersimpuh posisi kaki ke belakang seperti huruf W.

g. Gangguan Konsentrasi Atau Gangguan Pemusatan Perhatian


Anak mengalami gangguan pemusatan perhatian, sering bosan terhadap suatu
pekerjaan atau kegiatan. Anak tampak tidak bisa duduk lama di kursi. Di kelas tidak
dapat tenang menerima pelajaran , sering mengobrol, mengganggu teman dll, bila

14

mendapat mendengar cerita tidak bisa mendengar atau mengikuti dalam waktu lama.
Sering tampak bengong atau melamun.
Yang menarik, meskipun tampak tidak memperhatikan bila berkomunikasi
tetapi anak dapat merespon komunikasi itu dengan baik dan cepat. Misalnya saat di
kelas anak mengobrol atau bercanda dengan teman di dekatnya dan tidak
memperhatikan guru. Tapi bila ditanya guru anak dapat menjawab dengan baik
pertanyaan tersebut. Kecuali bila melihat televisi, anak dapat bertahan lama bahkan
sampai berjam-jam. Kalau membaca komik bisa bertahan lama tetapi bila relajar
tidak bisa lama.
h. Impulsif
Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada
semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali.
Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa
pertimbangan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak
tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan
menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai
diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya. Sisi
lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang
membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
i. Gangguan Emosi Dan Agresif
Gangguan emosi pada anak usia sekolah ditandai anak tampak mudah marah,
gampang berteriak, bila marah sering histeris, melempar benda yang dipegang
hingga temper tantrum. Penampilan fisik lainnya adalah meninju, membanting pintu,
mengkritik, merengek, memaki, menyumpah, memukul kakak/adik atau temannya,
mengkritik diri sendiri, memecahkan barang dengan sengaja. Gangguan emosi
biasanya disertai dengan sikap agresif.

j. Gangguan Depresi

15

Seorang anak yang mengalami Gangguan Depresi akan menunjukkan gejalagejala seperti, perasaan sedih yang berkepanjangan, suka menyendiri, sering
melamun di dalam kelas/di rumah, kurang nafsu makan atau makan berlebihan, sulit
tidur atau tidur berlebihan, merasa lelah, lesu atau kurang bertenaga, merasa rendah
diri, sulit konsentrasi dan sulit mengambil keputusan, merasa putus asa, gairah
belajar berkurang, tidak ada inisiatif, hipo/hiperaktivitas. Anak dengan gejala-gejala
depresi akan memperlihatkan kreativitas, inisiatif dan motivasi belajar yang
menurun, dengan demikian akan menimbulkan kesulitan belajar sehingga membuat
prestasi belajar anak menurun hari demi hari.
k. Autism
Autism adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai
dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku,
komunikasi dan interaksi sosial. Pada umumnya penderita autism mengacuhkan
suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi
biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama
sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan
mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).
l. ADHD
Sejak dua puluh tahun terakhir Gangguan Pemusatan Perhatian ini sering
disebut sebagai ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders). ADHD memiliki
gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku
seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif. Gangguan ini ditandai dengan
adanya ketidakmampuan anak untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang
dihadapi, sehingga rentang perhatiannya sangat singkat waktunya dibandingkan
anak lain yang seusia. Biasanya disertai dengan gejala hiperaktif dan tingkah laku
yang impulsive. Kelainan ini dapat mengganggu perkembangan anak dalam hal
kognitif, perilaku, sosialisasi maupun komunikasi.
Angka kejadian kelainan ini adalah sekitar 3-7%, namun semakin lama
tampaknya kejadiannya semakin meningkat saja. Terdapat kecenderungan lebih
sering pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan dengan perbandingan 3: 1.
16

Sering dijumpai pada anak usia pra sekolah dan usia sekolah, tapi biasanya keluhan
ini akan berkurang setelah usia Sekolah Dasar.
E. Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah Menurut para Ahli
1. Tumbuh kembang anak usia sekolah menurut Freud (Teori Psikoseksual)
a. Tinjauan Freud
-

Periode latensi, yang terdiri dari usia 5-12 tahun, menunjukkan tahap yang
relative tidak memperhatikan masalah seksual sebelum masa pubertas dan remaja.

Selama

periode

ini,

perkembangan

harga

diri

berkaitan

erat

dengan

perkembangan keterampilan untuk menghasilkan konsep nilai dan menghargai


seseorang.
b. Perkembangan seksual
-

Masa peremajaan dimulai pada akhir usia sekolah, perbedaan pertumbuhan dan
kematangan diantara kedua gender semakin nyata pada masa ini.

Pada tahap awal usia sekolah, anak memperoleh lebih banyak pengetahuan dan
sikap mengenai seks. Selama usia sekolah, anak menyaring pengetahuan dan
sikap tersebut.

Pertanyaan mengenai seks memerlukan jawaban jujur yang berdasarkan tingkat


pemahaman anak.

2. Tumbuh kembang anak usia sekolah menurut Erikson (Teori Psikososial)


a. Tinjauan (Erikson)
Erikson menyatakan krisis psikososial yang dihadapi sebagai Industri Versus
Inferioritas. Industri yang dimaksud adalah kemampuan seorang anak dalam
menguasai

tugas

perkembangannya

(kepandaian),

sedangkan

Inferioritas

merupakan perasaan dimana seorang anak merasa rendah diri dan kepercayaan
17

dirinya turun akibat suatu kegagalan dalam memenuhi standar yang ditetapkan orang
lain untuk anak.
-

Hubungan dengan orang terdekat anak meluas hingga mencakup teman sekolah
dan guru.

Anak usia sekolah secara normal telah menguasai tiga tugas perkembangan
pertama (kepercayaan, otonomi, dan inisiatif) dan saat ini berfokus pada
penguasaan kepandaian (Industri).

Perasaan industri berkembang dari suatu keinginan untuk pencapaian.

Perasaan inferioritas dapat tumbuh dari harapan yang tidak realistis atau perasaan
gagal dalam memenuhi standar yang ditetapkan orang lain untuk anak. Ketika
anak merasa adekuat, rasa percaya dirinya akan menurun.

Anak usia sekolah terikat dengan tugas dan sktivitas yang dapat ia selesaikan.

Anak usia sekolah mempelajari peraturan, kompetensi, dan kerja sama untuk
mencapai tujuan.

Hubungan sosial menjadi sumber pendukung yang penting semakin meningkat.

b. Rasa takut dan stressor


-

Sebagian perasaan takut yang terjadi sejak masa kanak-kanak awal dapat
terselesaikan atau berkurang. Namun, anak dapat menyembunyikan rasa takutnya
untuk menghindari dikatakan sebagai pengecut atau bayi.

Rasa takut yang sering terjadi:


1) Gagal di sekolah
2) Gertakan
3) Guru yang mengintimidasi
4) Sesuatu yang buruk terjadi pada orang tua
18

5) Stressor yang sering terjadi


-

Stressor untuk anak usia sekolah yang lebih kecil, yaitu dipermalukan, membuat
keputusan, membutuhkan izin/persetujuan, kesepian, kemandirian dan lawan
jenis.

Stressor untuk anak usia sekolah yang lebih besar yaitu kematangan seksual, rasa
malu, kesehatan, kompetensi, tekanan dari teman sebaya, dan keinginan untuk
menggunakan obat-obatan.

Orang tua dan pemberi asuhan lainnya dapat membantu mengurangi rasa takut
anak dengan berkomunikasi secara empati dan perhatian tanpa menjadi
overprotective.

Anak perlu mengetahui bahwa orang-orang akan mendengarkan mereka dan


memahami perkataannya.

c. Sosialisasi
-

Masa usia sekolah merupakan periode perubahan dinamis dan kematangan seiring
dengan peningkatan keterlibatan anak dan aktivitas yang lebih kompleks,
membuat keputusan, dan kegiatan yang memiliki tujuan.

Ketika anak usia sekolah belajar lebih banyak mengenai tubuhnya, perkembangan
sosial berpusat pada tubuh dan kemampuannya.

Hubungan dengan teman sebaya memegang peranan penting yang baru.

Aktivitas kelompok, termasuk tim olahraga, biasanya menghabiskan banyak


waktu dan energi.

d. Bermain dan mainan


-

Bermain menjadi lebih kompetetif dan kompleks selama periode usia sekolah.

19

Karakteristik kegiatan meliputi tim olahraga, klub rahasia, aktivitas geng,


pramuka atau organisasi lain. Puzzle yang rumit, koleksi, permainan papan,
membaca dan mengagumi pahlawan tertentu.

Peraturan dan ritual merupakan aspek penting dalam bermain dan permainan.

Mainan, permainan, dan aktivitas yang meningkatkan pertumbuhan dan


perkembangan meliputi:
1) Permainan kartu dan papan bertingkat yang rumit
2) Buku dan kerajinan tangan
3) Musik dan seni
4) Kegiatan olahraga (mis:berenang)
5) Kegiatan tim
6) Video game (tingkatkan pemantauan orang tua terhadap isi
permainan untuk menghindari pajanan terhadap perilaku kekerasan
dan seksual yang tidak dikehendaki).
e. Disiplin
-

Anak usia sekolah mulai menginternalisasikan pengendalian diri dan


membutuhkan sedikit pengarahan dari luar. Mereka melakukannya,
walaupun membutuhkan orang tua atau orang dewasa lain yang dipercaya
untuk menjawab pertanyaan dan memberikan bimbingan untuk membuat
keputusan.

Tanggungjawab pekerjaan rumah tangga membantu anak usia sekolah


merasa

bahwa

mereka

merupakan

bagian

penting

keluarga

dan

meningkatkan rasa pencapaian terhadap prestasi mereka.


-

Izin mingguan, diatur sesuai dengan kebutuhan dan tugas anak, membantu
dalam mengajarkan keterampilan, nilai, dan rasa tanggungjawab.

20

Ketika mendisiplinkan anak usia sekolah, maka orang tua dan pemberi
asuhan lain harus menyusun batasan yang konkret dan beralasan
(memberikan

penjelasan

yang

meyakinkan)

serta

mempertahankan

peraturan sampai batas minimal.

3. Tumbuh kembang anak usia sekolah menurut Sullivan (Teori Interpersonal)


Sullivan percaya bahwa perkembangan kepribadian menyangkut hubungan
interpersonal. Dia berasumsi bahwa relasi yang tidak adekuat dan tidak memuaskan
akan menimbulkan anxietas dan menjadi sumber dari segala masalah emosional. Tiga
cara perkembangan cognitive dari pengalaman-pengalaman seseorang pada tahap awal
perkembangannya, dan Sullivan yakin bahwa gangguan mental bisa timbul karena
berlangsungnya terus menerus salah satu mode ini.
1. Prototaxic mode
a. Ciri dari infancy dan childhood.
b. Pengalaman-pengalaman singkat , tidak berhubungan.
2. Parataxic mode
a. Mulai mampu mengaitkan pengalaman satu sama lain.
b. Belum melihat logika dari pengalaman.
c. Mengulang pengalaman-pengalaman untuk mengurangi anxietas walau belum
mengerti kenapa diulang-ulang.
3. Syntaxic mode.
a. Tampak pada Preadolescence.
b. Melihat dirinya dan dunia, dalam hubungan dengan lingkungan.
c. Mampu menganalisa pengalaman-pengalaman.
Interpersonal yang dikenalkan oleh Sullivan mendasari teori psikologis
perkembangan. Sullivan memfokuskan teori perkembangan anak pada hubungan antara
manusia. Tema sentral teori Sullivan berkisar pada ansietas dan menekankan bahwa
masyarakat sebagai pembentuk keribadian. Anak belajar perilaku tertentu karena
21

hubungan interpersonal.
Preadolescence (6 12 tahun)
Istilah adolescentia juga berasal dari bahasa Latin, adolescentia. Berbeda
dengan pengertian pubertas yang berkaitan dengan tercapainya tanda kematangan
fisik, adolescentia dikaitkan dengan masa yang berbeda-beda. Dari kepustakaan
Belanda dapat disimpulkan bahwa adolescentia dimulai sesudah tercapai kematangan
seksual secara biologis, sesudah pubertas.
Hal ini berarti, preadolescentia merupakan masa sebelum pubertas atau
sebelum memasuki dunia remaja.
4. Tumbuh kembang anak usia sekolah menurut Kohlberg (Teori Moral)
Pada usia ini, konsep moral anak tidak lagi sesempit dan sekhusus sebelumnya.
Antara usia 7-12 tahun, konsep anak mengenai keadilan sudah berubah. Pengertian
yang kaku dan keras tentang benar-salah (yang dipelajari dari orangtua) menjadi
berubah dan anak mulai memperhitungkan keadaan khusus di sekitar pelanggaran
moral. Menurut Piaget, relativisme moral menggantikan moral yang kaku. Sebagai
contoh: Bagi anak 5 tahun, berbohong selalu buruk. Sedangkan bagi anak yang lebih
besar, dia sadar bahwa dalam beberapa situasi, berbohong dibenarkan; dan oleh karena
itu, ia terpengaruh situasi, bahwa berbohong tidak selalu buruk.
Tahapan moral Kohlberg:
a. Tingkat pertama, moralitas anak baik anak mengikuti peraturan untuk mengambil
hati orang lain dan untuk mempertahankan hubungan-hubungan yang baik.
b. Tingkat kedua, moralitas konvensional yaitu moralitas dari aturan-aturan dan
penyesuaian konvensional. Jika kelompok sosial menerima peraturan yang sesuai
bagi semua anggota kelompok, maka anak harus menyesuaikan diri dengan
peraturan untuk menghindari penolakan kelompok dan celaan.
Ketika anak mencapai akhir masa kanak-kanak, kode moral berangsur-angsur
mendekati kode moral dewasa, dimana perilakunya semakin sesuai dengan standarstandar yang ditetapkan oleh orang dewasa. Perkembangan moral anak-anak,

22

ditentukan oleh: peranan disiplin, perkembangan suara hati, pengalaman rasa bersalah,
dan pengalaman rasa malu.
5. Tumbuh kembang anak usia sekolah menurut Piaget (Teori Kognitif)
a. Tinjauan (Piaget)
Anak berusia antara 7-11 tahun berada dalam tahap konkret operasional, yang
ditandai dengan penalaran induktif, tindakan logis, dan pikiran konkret yang
reversible.
Karakteristik spesifik tahapan ini antara lain:
1) Transisi dari egosentris ke pemikiran objektif (yaitu:melihat dari sudut
pandang lain, mencari validasi, bertanya).
2) Berfokus pada kenyataan fisik saat ini disertai ketidakmampuan
melihat untuk melebihi kondisi saat ini.
3) Kesulitan menghadapi masalah yang jauh, masa depan atau hipotesis.
4) Perkembangan berbagai klerifikasi mental dan aktivitas yang diminta.
5) Perkembangan prinsip konservasi (yaitu:volume, berat, massa, dan
angka).
Aktivitas yang khas pada anak tahap ini antara lain:
1) Mengumpulkan dan menyortir benda (mis:kartu baseball, boneka, dan
kelereng)
2) Meminta/memesan barang-barang menurut ukuran, bentuk, berat, dan
criteria lain.
3) Mempertimbangkan pilihan dan variabel ketika memecahkan masalah.
Bahasa

23

1) Anak mengembangkan pola artikulasi orang dewasa formal pada usia


7-9 tahun.
2) Anak belajar bahwa kata-kata dapat dirangkai dalam bentuk
terstruktur.
3) Kemampuan membaca merupakan salah satu keterampilan paling
penting yang dikembangkan oleh anak.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
School-age (usia sekolah) merupakan masa dimana seorang anak yang berusia
antara 6 sampai dengan 12 tahun mulai mengenal, memahami dan beradaptasi untuk
memperoleh pengetahuan yang akan digunakan dalam masa perkembangan selanjutnya
(dewasa). Pada masa ini perkembangan anak mulai terarah dengan pendidikan dan
lingkungan di sekolah dasar, anak menunjukkan keinginannya untuk diterima
dimasyarakat ataupun dalam lingkungan teman sebayanya.
Namun, dalam pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah tidak sedikit anak
yang mengalami gangguan. Oleh karena itu pengawasan dan pengarahan oleh orang tua
dan orang-orang terdekat sangat dibutuhkan oleh anak pada usia ini. Memberikan
24

penjelasan kepada anak dengan bahasa yang baik sesuai usia, akan membantu anak untuk
memahami dan mengenali fakta apa yang terjadi dilingkungannya. Seperti penjelasan
tentang menstruasi pada anak perempuan.
3.2 Saran
Dari makalah yang telah kami paparkan ini, kami ingin menyampaikan beberapa
saran kepada pembaca. Dimana orangtua harus tetap mengawasi dan mengarahkan anak
pada usia sekolah ini, karena pada usia ini anak mulai benar-benar beradaptasi dan
bersosialisasi baik dengan teman sebaya, orang-orang yang lebih dewasa maupun
lingkungan. Dalam penanganan terhadap gangguan-gangguan tumbuh kembang anak usia
sekolah, kita menggunakan pendekatan secara lebih mendalam. Diawali dengan
menumbuhkan rasa percaya pada anak, rasa bahwa anak tersebut diterima dan diinginkan
di dalam sebuah komunitas. Agar anak merasa nyaman ketika diajak berdiskusi untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang sedang dihadapinya.
Diusia ini kita juga harus ikut mengembangkan dan mendukung segala potensi yang
dimiliki dan diminati oleh anak, selama hal itu baik dan bermanfaat bagi perkembangan
anak selanjutnya. Pendidikan yang diberikan kepada anak juga tidak boleh terlalu
mengekang, karena hal ini justru akan mengubur rasa percaya diri pada anak itu sendiri.
Dan tentunya akan berpengaruh pada perkembangan anak selanjutnya.

25