You are on page 1of 58

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah Negara maritim dengan luas daratan ± 1.900.000 km2 dan

lautan ± 3.270.000 km2 yang memiliki garis pantai cukup panjang mencapai ±
81.000 km. Indonesia juga dijuluki sebagai negara kepulauan dengan total pulau
yang dimiliki saat ini yaitu 17.508 pulau. Negara kepulauan dengan garis pantai
yang amat panjang ini menjadikan Indonesia memiliki wilayah laut dan pesisir
yang cukup luas.Indonesia yang merupakan negara kepulauan ini memungkinkan
bagi warganya untuk membangun perekonomian dengan basis sumberdaya
kelautan dan perikanan.
Wilayah laut dan pesisir merupakan wilayah yang sangat potensial
mengingat di dalamnya terdapat berbagai macam sumberdaya yang mampu
dimanfaatkan oleh masyarakat. Indonesia sebagai negara hukum telah mengatur
secara normatif bahwa sumberdaya alam sepenuhnya dikuasai oleh negara untuk
dikelola demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang tertuang dalam pasal
33 UUD 1945.
Umumnya wilayah pesisir memiliki potensi ke dalam sumberdaya hayati,
sumberdaya non-hayati, dan jasa-jasa lingkungan. Sumberdaya hayati sebagai
potensi wilayah pesisir meliputi sumberdaya perikanan, mangrove, lamun,
terumbu karang dan lain-lain. Sumberdaya non-hayati yang dimaksud disini
adalah deep sea water, pasir laut, dan lain-lain. Bagi jasa-jasa lingkungan
wilayah pesisir memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam hal pembangunan
pariwisata, industry maritime, dan lain-lain.
Setidaknya wilayah laut selain sebagai penyedia sumberdaya laut juga
menyumbang peranan sebagai media pemersatu bangsa, pertahanan keamanan,
politik dan sosial. Wilayah pesisir sendiri merupakan pusat modal pembangunan
ekonomi nasional pada sektor kelautan dan perikanan. (Apridar dkk, 2011)
Sumberdaya kelautan dan perikanan yang amat potensial rupanya hingga saat ini
tidak diimbangi dengan kinerja pembangunan kelautan dan perikanan yang baik.
Kinerja pembangunan keluatan dan perikanan yang kurang baik akan berdampak

2

pada kegagalan atau ketidaksesuaian target yang telah dirumuskan atas kebijakan
yang dibuat. Hingga kini reinkarnasi kebijakan ekonomi kelautan dan pesisir
hanyalah kebijakan yang bersifat mengulang namun masih tetap tidak mampu
mencapai tujuannya secara maksimal (Apridar dkk, 2011)
Ada sekitar 22% penduduk Indonesia yang mendiami wilayah pesisir,
dengan demikian wilayah pesisir juga merupakan wadah bagi kegiatan sosial
ekonomi masyarakat pesisir. Berlimpahnya sumberdaya alam yang dimiliki oleh
negara khususnya bagi wilayah pesisir nyatanya tidak serta merta mampu
meningkatkan derajat hidup masyarakat yang tinggal di dalamnya. Hingga saat ini
masyarakat pesisir masih dinilai sebagai masyarakat dengan tingkat kesejahteraan
sosial ekonomi yang cukup rendah bahkan dihampir seluruh wilayah pesisir
Indonesia masih ditemukan permasalahan-permasalahan yang sama serupa.
Interpretasi peraturan perundangan yang diselenggarakan bagi pengelolaan
wilayah pesisir masih kurang memperhatikan wilayah dan kepentingan penduduk
lokal.
Sejalan dengan berbagai macam masalah di wilayah pesisisir hampir
seluruh Indonesia permasalahan yang dihadapi oleh wilayah pesisir Kota
Semarang, yaitu tingginya tingkat kemiskinan masyarakat pesisir,

rendahnya

infrastruktur dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, tingginya tingkat
kerusakan sumberdaya alam yang ada di wilayah pesisir, dan rendahnya
kemandirian masyarakat serta lunturnya nilai-nilai budaya local.
Kemiskinan masyarakat pesisir di seluruh Indonesia ini bukanlah masalah
yang baru, masyarakat pesisir pun kerap kali diidentikkan dengan rantai
kemiskinan yang sangat sulit untuk diputuskan. Berbagai macam regulasi dan
program dibuat untuk memecahkan permasalahan ini, salah satunya adalah
dengan

melaksanakan

pemberdayaan

masyarakat

untuk

meningkatkan

kemandirian masyarakat pesisir itu sendiri. Pada kenyataannya tidak semua
daerah mengalami keberhasilan untuk memandirikan masyarakatnya, organisasi
sosial pada berbagai wilayah pesisir tidak seluruhnya mampu terjalin dengan baik.
Organisasi sosial yang tidak mampu dijalankan dengan baik ini tentu saja tidak
mampu mendukung pembangunan iklim ekonomi produktif pada perekonomian
wilayah pesisir. Pemanfaatan wilayah pesisir pun kerap kali tidak memperhatikan

3

kearifan lingkungan sehingga merusak berbagai ekosistem pada wilayah pesisir iu
sendiri dengan ekosistem yang kian memburuk bukan tidak mungkin
menyebabkan kian menurunnya kualita dan kuantitas potensi dari wilayah pesisir.
Permasalahan-permasalah tersebut kemudian memunculkan keterkaitan yang
tidak dipisahkan dengan masalah kemiskinan.
Berbagai isu publik yang berkembang atas wilayah pesisir kemudian
pemerintah menetapkan berbagai peraturan perundangan yang mengatur
mengenai pengelolaan wilayah pesisir. Sebagaimana dijelaskan dalam pasal 18
pada UU No. 32 tahun 2004 bahwa setiap daerah yang memiliki wilayah laut
diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya laut yang meliputi kegiatan
ekspolitasi, eksplorasi, konservasi, dan pengelolaan wilayah laut; pengaturan
administratif; pengaturan tata ruang; penegakan hukum terhadap peraturan yang
dikeluarkan oleh daerah; ikut serta dalam pemeliharaan keamanan; dan ikut serta
dalam pertahanan kedaulatan negara.
UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil, menyebutkan bahwa pembuatan regulasi ini salah satunya bertujuan
untuk menciptakan keharmonisan dan sinergi antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan wilayah pesisir.
Menindak lanjuti peraturan UU No. 32 tahun 2004 dan UU No. 27 tahun
2007 yang telah disebutkan di atas, Pemerintah Daerah Kota Semarang dalam
melakukan pengelolaan wilayah pesisirnya membuat suatu pengaturan hukum
yaitu Peraturan Daerah No. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir.
Peraturan daerah ini dibuat berdasarkan pertimbangan bahwa Kota Semarang
memiliki wilayah pesisir yang mengandung berbagai macam potensi untuk
dimanfaatkan dan dijaga kelestariannya bagi kemakmuran dan kesejahteraan
masyarakat. Pelaksanaan amanat otonomi daerah ini kemudian memperluas
wilayah kewenangan daerah dalam menentukan arah kebijakan terkait dengan
pengelolaan kawasan pesisir.
Secara geografis Kota Semarang terletak pada 6 055’52,5” LS – 6058’45”
LS dan 110017’18” BT -110029’25” BT. Kota Semarang secara administratif
terdiri atas 16 kecamatan, 177 kelurahan dengan luas wilayah daratan ± 373,67
km2. Kota Semarang saat ini masih memiliki tingkat kemiskinan yang cukup

4

tinggi, disebutkan dalam rekapitulasi warga miskin di Kota Semarang dengan
kategori hampir miskin mencapai 319.842 jiwa, penduduk miskin sebesar 54.028
jiwa, sedangkan penduduk sangat miskin terdapat 108 jiwa.
Menurut data Bappeda Kota Semarang telah diketahui bahwa kota ini
mempunyai panjang garis pantai ± 25 km tersebar di beberapa kecamatan dan
kelurahan yang secara administrative dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 1.1.
Daftar Kecamatan dan Kelurahan Wilayah Pesisir Kota Semarang
Kecamatan
Semarang Utara
Semarang Barat
Semarang Timur
Gayamsari
Genuk
Tugu

Kelurahan
Bandarharjo, Penggung Lor dan Tanjung Mas
Tawangsari dan Tambakharjo
Kemijen
Tembakrejo
Terboyo Kulon, Terboyo Wetan dan Trimulyo
Jerakah, Karamganyar, Mangkang Kulon,
Mangkang Wetan, Mangunharjo, Randugarut, dan
Tugurejo
Sumber: BPS Kota Semarang: 2013 (dengan pengubahan seperlunya)
Telah dipaparkan dalam tabel di atas mengenai wilayah administrative

Kota Semarang yang termasuk ke dalam wilayah pesisir. Wilayah pesisir di Kota
Semarang terdiri dari 6 kecamatan dan 17 kelurahan. Mengurusi berbagai macam
permasalahan yang terjadi pada wilayah pesisir tentu dibutuhkan pengelolaan
wilayah pesisir yang baik. Demi mewujudkan pengelolaan wilayah pesisir yang
ideal makan dibutuhkan perencanaan yang sesuai dengan fungsi-fungsi yang telah
dirumuskan dalam peraturan perundangan.
Fungsi Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir yang ideal sebagaimana
disebutkan pada pasal 21 dalam PERDA No. 23 tahun 2011 meliputi kegiatan
pengatasan konflik dalam pemanfaatan wilayah pesisir, mendorong pertumbuhan
ekonomi daerah, menciptakan keterpaduan pengelolaan antar pemangku
kepentingan, hingga melindungi wilayah pesisir dari pencemaran dan kerusakan
lingkungan.
Selanjutnya disebutkan dalam pasal 14 pada PERDA No. 23 tahun 2011
mengenai rencana zonasi wilayah pesisir bahwa dalam perencanaan zonasi

5

wilayah pesisir harus memperhatikan alokasi ruang untuk akses publik. Alokasi
ruang untuk akses publik yang dimaksud dalam hal ini adalah alokasi ruang untuk
kepentingan ekonomi, sosial, dan budaya dengan memperhatikan kepemilikan
serta pengusaan sumberdaya pesisir.
Pemanfaatan alokasi bagi ruang publik dalam hal pengelolaan wilayah
pesisir sebagaimana disebutkan dalam peraturan perundangan Kota Semarang
menemui hambatan tatkala diketahui bahwa kepemilikan tanah ± 60% dari total
garis pantai Kota Semarang saat ini didominasi oleh pihak swasta, TNI, maupun
perorangan. Fakta penguasaan pesisir oleh pihak selain pemerintah tersebut akan
membatasi pemerintah dalam memberikan pengaturan terhadap wilayah pesisir.
Pesisir pantai mulai dari Mangkang Kecamatan Tugu (berbatasan dengan
Kabupaten Kendal) hingga Kecamatan Genuk (berbatasan dengan Kabupaten
Demak) hampir 80 persennya atau hanya sekitar 13,6 km pantai sudah tidak bisa
diakses oleh publik secara bebas karena digunakan untuk pendirian berbagai
macam kegiatan privat maupun perorangan.
Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam laut ataupun pesisir di
Kota Semarang cenderung tidak berpihak pada nelayan-nelayan kecil dengan
modal yang terbatas nelayan kecil jelas kurang mampu melakukan kegiatan
penangkapan ikan dengan jarak yang lebih jauh lagi dari garis pantai. Keadaan
yang sedemkian rupa merupakan dampak ketidakseimbangan pembangunan yang
didominasi oleh pihak privat maupun pemerintah.
Mengacu pada salah satu fungsi diselenggarakannya RPWP adalah
meliputi kegiatan pengatasan konflik dalam pemanfaatan pesisir rupanya belum
mampu ditemukan berbagai pemecahan permasalahan dari konflik antar
pemangku kepentingan pemanfaat wilayah pesisir. Konflik kepentingan yang tak
kunjung usai mengenai akses kawasan pesisir antara pihak privat dan nelayan
kecil mampu mengancam eksisitensi mata pencahasian masyarakat sebagai
nelayan yang ada di Kota Semarang.Nelayan-nelayan kecil dengan modal yang
terbatas dan dengan akses terhadap kawasan pesisir yang sedemikian rupa tentu
menyebabkan keputusasaan yang berakhir pada pencarian alternatif kerja selain
menjadi nelayan.
Pengelolaan wilayah pesisir Kota Semarang masih menunjukkan potret
dimana terjadi penurunan akses bagi nelayan dalam menangkap ikan adapun

Zona terbuka ini diberlakukan sejak tahun 2005 yang mana meiliki substansi bahwa wilayah pesisir dijadikan sebagai wilayah komersil untuk kegiatan investasi. Jarak tangkap yang kian pendek makin diperparah dengan perebutan kewenangan merupakan bentuk kian terbatasnya akses masyarakat terhadap kawasan pesisir.2. Pengelolaan wilayah pesisir berkat program tersebut menjadi semakin sulit untuk ditangani mengingat kian banyak para pemangku kepentingan yang merasa “memilki” wilayah pesisir ini sendiri bukan tidak mungkin bahwa akan mampu memunculkan permasalahan bagi pemerintah daerah sendiri untuk menyatukan berbagai kepentingan-kepentingan atas pengelolaan wilayah pesisir yang saling mempengaruhi. Berikut adalah jumlah data nelayan yang ada di Kota Semarang: Tabel 1. pantai dan beberapa kawasan industri yang terletak di kawasan pesisir. 1. Penduduk dengan Profesi sebagai Nelayan di Kota Semarang No. Potret akses nelayan Kota Semarang yang kian hari kian sempit nyatanya justru diperparang dengan pemberlakuan kebijakan zona terbuka atas pengelolaan wilayah pesisir. Akses yang terbatas. dimana masyarakat masih diharuskan membayar bila memasuki kawasan pelabuhan niaga. Program zona terbuka ini memungkinkan siapapun untuk mengakses dan mendatangi wilayah pesisir dengan demikian dapat diindikasikan bahwa wilayah pesisir merupakan public space atau space open access.6 pihak-pihak yang berusaha membatasi atau bahkan melarang nelayan mencari ikan disekitar kawasan yang bagi mereka disebut-sebut “milik mereka” dengan memberikan ancanman penangkapan maupun pengusiran secara verbal. Peran nelayan dalam kegiatan pengelolaan wilayah pesisir amat erat dimana nelayan merupakan salah satu pihak yang secara langsung berinteraksi dengan wilayah-wilayah tersebut. Wilayah untuk sandaran kapal/perahu bagi nelayan pun makin minim akibat kian banyak bangunan yang menjorok ke laut. Tahun 2009 Jumlah 2. Adapun fungsi berikutnya dalam RPWP adalah mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.615 orang . Sumber ekonomi kelautan dan pesisir tidak terlepas dari peran “aktor” yang terlibat di dalamnya.

makin meningkat meskipun dengan jumlah yang tidak banyak. 3.657 orang Sumber: Semarang Dalam Angka Tahun 2013 Secara kuantitas total masyarakat dengan profesi sebagai nelayan di Kota Semarang.7 2. Kuantitas nelayan yang ada di Semarang memang cukup rendah bila dibandingkan dengan wilayah pesisir lain yang ada di Provinsi Jawa Tengah. 2010 2.635 orang 2013 2.581 orang 2011 2.1. Hal ini menunjukkan rendahnya minat masyarakat Kota Semarang dalam berprofesi sebagai nelayan. 4. Kesenjangan profesi nelayan ini mampu menunjukkan bahwa Kota Semarang sebagai kota bisnis dan sentral dari Provinsi Jawa Tengah ini belum mampu mengakomodir dan memunculkan kebijakan dan program yang mampu menguntungkan serta menarik minat masyarakat untuk berprofesi sebagai nelayan. Presentase Mata Pencaharian Penduduk Kota Semarang Tahun 2013 . Jika dibandingkan dengan kota-kota pesisir di Jawa Tengah sendiri kuantitas dan kualitas nelayan di Kota Semarang cukuplah rendah. 5. Eksistensi profesi nelayan sebagai salah satu profesi dalam mata pencaharian masyarakat Kota Semarang ini sangat lah minim mengingat Kota Semarang merupakan kota pesisir. Kesenjangan profesi tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini: Gambar 1.610 orang 2012 2.

296.3. Sebagian besar nelayan yang ada di Kota Semarang merupakan nelayan tradisional yang masih menggunakan peralatan sederhana dan sangat bergantung dengan cuaca.8 Sumber: Semarang Dalam Angka Tahun 2013 Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa presentase mata pencaharian sebagai nelayan di Kota Semarang merupakan presentase terendah dari berbagai profesi yang ada.53 ton Tahun 2013 1. Hasil tangkapan para nelayan kemudian berpengaruh terhadap pendapatan dan perekonomian Kota Semarang yang dapat disajikan pada tabel berikut ini: Tabel 1. Capaian Kinerja Urusan Pilihan Perikanan dan Kelautan No. 1. Indikator Kinerja Jumlah ikan hasil tangkapan laut Tahun 2012 715. Dalam pengelolaan wilayah laut maupun wilayah pesisir nelayan memiliki peran penting yang langsung berpengaruh pada kegiatan perekonomian pada sektor pembangunan kelautan dan perikanan Kota Semarang.50 ton .

dapat dilihat bahwa hasil tangkapan ikan para nelayan mengalami peningkatan yang kemudian diikuti pula oleh peningkatan pendapatan perkapita para nelayan.30 ton Rp.250.5 6. 4.980.4.19 .161. Rupanya pendapatan perkapita nelayan yang menunjukkan peningkatan ini masih dibarengi dengan laju inflasi yang juga meningkat. 924.567. 6. 1..344. 93 $ 21.30 ton Rp.389.938. Laju inflasi ini secara tidak langsung mampu menggambarkan tingkat kenaikan barang dan jasa sebagai kebutuhan pokok masyarakat. 5. Nilai ikan hasil tangkapan laut Nilai ekspor hasil tangkapan laut Jumlah ikan hasil perikanan darat Nilai ikan hasil perikanan darat Jumlah konsumsi ikan Jumlah produksi olahan Rata-rata pendapatan nelayan Rp.896.158.213.254.300.700. 16.000.315.- Rp.9 2.202.89 ton Rp.500.23 1.75 10.421.823. 9.34 3. Laju Inflasi Kota Semarang Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Laju Inflasi (%) 5.- Rp.04kg/kapita 10.- 24.08 6. 8. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan peningkatan inflasi yang tidak stabil di Kota Semarang: Tabel 1.219. 3.97 16.3. namun hal ini tidak serta merta mampu mengindikasikan bahwa para nelayan telah terlepas dari jerat kemiskinan.kapita/ th Sumber: ILPPD Kota Semarang tahun 2013 Berdasarkan data pada tabel 1.93kg/kapita 12. 7. 6.83 ton 1.- $ 20.000. 14.900.kapita/ th 24.094.

87 2012 4. Menurut data Suara Merdeka tahun 2012 setidaknya terdapat 2 TPI yang tidak difungsikan. hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya peputaran uang pada masyrakat merupakan salah satu bentuk meningkatnya harga maupun kuantitas dalam kebutuhan pokok masyarakat.85 2013 8. Kawasan wisata pun mampu menyumbangkan kontribusinya bagi perekonomian masyarakat. Terbengkalainya sarana dan prasarana yang telah dibangun ini merupakan potret kegagalan kebijakan akibat kegagalan koordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah ataupun dengan masyarakat sebagai pemanfaat fasilitas.11 2011 2.id Inflasi yang terjadi di Kota Semarang dalam kurun waktu 10 tahun ini menunjukkan ketidakstabilan. Pada tahun terakhir yaitu tahun 2013 ditunjukkan peningkatan inflasi yang cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya bahkan hampir mencapai angka 100%. Sumber perekonomian pada wilayah pesisir tidak hanya berkutat pada hasil tangkapan perikanan atau komditas penjualan ikan dipasaran. Bentuk kegagalan pembangunan kelautan dan perikanan Kota Semarang selanjutnya dapat dilihat dari mangkraknya beberapa TPI (tempat pelelangan ikan) yang enggan dimanfaatkan oleh masyarakat. Rupanya pada kenyataannya Kota Semarang sebagai kawasan pesisir justru minim akan wisata pantai di dalamnya. kedua bangunan itu .10 2010 7. tak terkecuali bagi kawasan pesisir di Kota Semarang. Sektor pariwisata pantai cukup potensial dalam membantu peningkatan pendapatan maupun perekonomian bagi masayarakat bila mampu dikelola dengan baik. Salah satu bentuk pembangunan kelautan dan perikanan yang mengalami kegagalan dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan pembangunan sarana dan prasarana yang rupanya justru tidak digunakan atau terbengkalai.19 Sumber: http://semarangkota. Wilayah pesisir pun berpotensi menjadi kawasan wisata.go. Pengalokasian lahan bagi wisata pantai setidaknya telah diatur dalam RKPD Kota Semarang yang mana wisata pantai difokuskan dan dikembangkan pada BWK III (Semarang Barat) dengan kawasan Pantai Marina dan BWK X (Kecamatan Tugu) yang masih direncanakan.

sejak tanggal persemiannya TPI ini bahkan belum pernah digunakan oleh masyarakat. Hal yang sama dialami oleh TPI yang berada di Kelurahan Tambakmulylo yang baru dibangun pada masa pemerintahan Walikota Sukawi Sutarip pada tahun 2008. Proses Pemasaran Ikan Buruh Nelayan Gill Net TPI Nelayan Bakul Ikan Bakul Pengelola Pengolahan Ikan Pedagang Kecil Konsumen . Peran TPI dalam kegiatan perekonomian bagi nelayan dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1.2. TPI ini sempat digunakan namun hanya beberapa bulan saja dan itupun digunakan oleh nelayan-nelayan pendatang. TPI merupakan bangunan yang digunakan dalam kegiatan penjualan ikan bagi nelayan dan pedagang kecil maupun konsumen. TPI ini dibangun sejak tahun 1989 dan di resmikan pada 10 Januari 1990. tidak disediakan tempat berlabuh kapal pada TPI ini. TPI ini tidak digunakan akibat fasilitas yang minim. TPI yang dibangun pada kawasan Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Mangkang Kulon ini tidak digunakan oleh masyarakat karena genangan banjir dn rob yang hampir setiap hari ditemui di TPI ini dan aksesnya yang cukup sulit dijangkau oleh masyarakat terutama pada aksesibilitas kapal-kapal besar yang tidak dapat merapat akibat pendangkalan sungai yang terjadi.11 masing-masing berada di kawasan Kelurahan Mangunharjo dan Kelurahan Tambakmulyo. Pembangunan ekonomi kelautan dan pesisir yang berbasis pada penyediaan infrastruktur dalam hal ini adalah pembangunan TPI mampu mempengaruhi proses pemasaran ikan yang dilangsungkan oleh para nelayan utamanya adalah nelayan kecil.

Pembangunan. Kondisi Kota Semarang yang demikian strategis akan memacu pertumbuhan pembangunan. Urbanisasi ini pun mampu meicu munculnya tindakan perusakan pantai berupa konversi kawasan lindung menjadi tambak dan permukiman. 2011: 96 Peran TPI yang sedemikian penting bagi kegiatan perekonomian masyarakat pesisir jelas membutuhkan pengelolaan yang sesuai agar tepat guna. hal ini menjadikan kota Semarang sebagai kota yang memiliki kedudukan sangat strategis. Semarang juga memiliki daya tarik untuk menjadi tujuan urbanisasi oleh masyarakat yang ada di luar daerah khususnya masyarakat area Jawa Tengah. Kota Semarang merupakan Kota yang terletak di pantai utara Jawa dan juga merupakan Ibukota Provinsi Jawa Tengah. Pelaksanaan fungsi selanjutnya dalam rencana pengelolaan wilayah pesisir kemudian adalah melindungiwilayah pesisir dari perusakan dan pencemaran lingkungan. Kebijakan pembuatan TPI haruslah memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang menjadi sasaran kebijakan serta akes peruntukan wilayah bangunan TPI itu sendiri. selanjutnya akibat dari pembangunan yang dilaksanakan pada areal kawasan pesisir mampu menyebabkan peningkatan luas daratan yang terkena abrasi pantai. Masyarakat maupun nelayan sekitar berdasarkan infromasi yang dilangsir Suara Merdeka pada tanggal 15 Juni 2012 mengakui bahwa peran TPI penting dalam peningkatan penjualan ikan hasil tangkapan.. dkk.12 Sumber: Apridar. pertumbuhan dan perkembangan Kota Semarang menyebabkan perubahan pada kondisi fisik kota ini termasuk juga di dalamnya adalah perubahan guna lahan pada kawasan pesisir Kota Semarang.Kegiatan pembangunan yang dilangsungkan bagi wilayah pesisir Kota Semarang agaknya masih kurang memperhatikan kelestarian wilayah dan lingkungan pesisir. Adapun kegiatan pembangunan yang diselenggarakan di kawasan pesisir kemudian secara langsung berpengaruh pada ekosistem pesisir adalah kegiatan .

Banyumanik 0 4. Mijen 0 2. Candisari 0 7. Kecamatan Semarang Utara. merupakan salah satu kecamatan yang termasuk sebagai kawasan pesisir. namun reklamasi pantai meninggalkan dampak yang cukup riskan bagi lingkungan khususnya kawasan pesisir Kota Semarang yang rawan akan terjadinya bencana. Bukan hanya mempersempit luasan pantai di Kota Semarang. Kegiatan ini memang jauh lebih murah diandingkan membeli tanah yang ada di kawasan darat. Nama Kecamatan Jumlah Nelayan 1. Kegiatan reklamasi pantai yang dilangsungkan bahkan mempersempit luasan pantai di Kota Semarang. Tembalang 0 8. Semarang Selatan 0 6. Pedurungan 0 . Kecamatan ini memiliki kuantitas nelayan yang paling besar bila dibandingkan dengan daerah-daerah pesisir yang ada di Kota Semarang ini.5.13 reklamasi pantai. pada Kecamatan Tugu terjadi erosi yang meningkat bahkan hingga sepanjang 1. tapi kegiatan reklamasi ini pun penurunan muka tanah yang bukan tidak mungkin berdampak juga pada amblesnya bangunan masyarakat. Jumlah Nelayan per Kecamatan Kota Semarang No. Demikian adalah tabel total jumlah penduduk kota Semarang yang berprofesi sebagai nelayan per kecamatan: Tabel 1.7 kilometer. Gajahmungkur 0 5. Gunung Pati 17 3. Wilayah pesisir Kota Semarang sendiri saat ini sangat rentan terkena dampak banjir rob yang telah menjadi fenomena sejak lama dengan frekuensi yang kian hari kian meluas.

2013 Jumlah kuantitas profesi nelayan terbanyak di Kota Semarang ini mendasari dipilihnya Kecamatan Semarang Utara sebagai lokus dalam penelitian ini. Semarang Utara 1. Tugu 158 16.14 9. Tingkat kemiskinannya pun dapat dinilai cukup tinggi berdasarkan data sebagai berikut: Tabel 1. Begitu pula dengan masalah kemiskinan. Semarang Barat 141 15. sebagaimana hakikatnya tentu akan menimbulkan berbagai aktivitas pengelolaan wilayah pesisir di dalamnya.875 13.657 Sumber: Semarang dalam Angka. Sebagai daerah mayoritas penduduknya yang berprofesi sebagai nelayan. Masalah lain adalah megenai kerusakan alam yang terjadi akibat berbagai reklamasi pantai juga terjadi di wilayah-wilayah Kecamatan Semarang Utara salah satunya adalah di kawasan yang kerap kali dikenal oleh masyarakat sekita dengan nama Pantai Cipta. Ngaliyan 0 Jumlah Nelayan 2.039 jiwa Miskin 5. Semarang Timur 0 12. Semarang Tengah 0 14.526 jiwa Sangat miskin 48 jiwa . Akumulasi dari berbagai macam aktivitas tersebut bukan tidak mungkin akan menimbulkan konflik di dalamnya tak terkecuali adalah adanya konflik status kepemilikan tanah yang dialami oleh masyarakat dengan ara TNI yang mengklaim bahwa tanah tersebut adalah milik TNI.6. Gayamsari 104 11. Genuk 61 10. Angka Kemiskinan Kota Semarang Tahun 2013 NO Kecamatan 1 Semarang Tengah Hampir Miskin 12. masalah kemiskinan merupkan masalah yang cukup ketara dalam kehidpan mayarakat di Kecamatan Semarang Utara.

834 jiwa 1.803 jiwa 9.542 jiwa 20.2.499 jiwa 12.245 jiwa 2.405 jiwa 15 jiwa 4 jiwa 5 jiwa Sumber:Semarang dalam angka 2013 Berdasarkan latar belakang mengenai kegagalan fungsi atas pengelolaan wilayah pesisir yang telah disebutkan sebelumnya. Identifikasi Masalah Perencaan bagi pengelolaan wilayah pesisir di Kota Semarang rupanya belum mampu menjalankan fungsi-fungsinya sebagaimana disebutkan dalam peraturan perundang-undangan yang kemudian memberikan pokok permasalahan yang peneliti soroti ke dalam pelaksanaan fungsi perencanaan wilayah pesisir sebagai berikut: a.170 jiwa 23. maupun perorangan.369 jiwa 3.522 jiwa 4. Sepanjang ±60% dari total garis pantai Kota Semarang saat ini dimiliki oleh pihak privat.395 jiwa 2.834 jiwa 12.467 jiwa 19.196 jiwa 29.233 jiwa 3.667 jiwa 18.621 jiwa 7 jiwa 13 14 15 16 Semarang Barat Mijen Naliyan Tugu 39. Status kepemilikan wilayah ini .2.164 jiwa 2. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir di Kota Semarang yang ditekankan pada lokus di Kecamatan Semarang Utara.265 iwa 10.932 jiwa 2.1.027 jiwa 1.826 jiwa 8.902 jiwa 2. 1. Identifikasi dan Rumusan Masalah 1.531 jiwa 17.15 2 3 4 Semarang Utara Semarang Timur Gayamsari 34.365 jiwa 4.061 jiwa 4 jiwa - 9 10 11 12 Gajahmungkur Tembalang Banyumanik Gunungpati 14.372 jiwa 3.376 jiwa 17 jiwa 3 jiwa - 5 6 7 8 Genuk Pedurungan Semarang Selatan Candisari 21.865 jiwa 4. maka dalam tulisan ini akan dikaji tentang “Evaluasi Pengelolaan Wilayah Pesisir Kota Semarang” untuk melihat fenomena pengelolaan pesisir yang menjadi substansi utama dalam Peraturan Daerah No.367 jiwa 2. TNI.836 jiwa 18.

3. Apakah dampak sosial yang dirasakan oleh masyarakat atas pemberlakuan Peraturan Daerah Kota Semarang No. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara masih bertujuan untuk: a. Mengevaluasi pelaksanaan pengelolaan wilayah pesisir yang diselenggarakan di Kota Semarang terkait Peraturan Daerah Kota Semarang No. banjir dan rob.Bagi pemerintah penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan bagi . c. Kerusakan alam atas dilaksanakannya kegiatan pemanfaatan pesisir rupanya menimbulkan berbagai bencana bagi masyarakat.4. Sumberdaya yang dimiliki oleh pesisir Kota Semarang nyatanya kurang mampu menumbuhkan iklim perekonomian yang lebih baik bagi masyarakatnya. b. 1. Manfaat Penelitian Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah adanya pemahaman yang mendalam mengenai pengelolaan wilayah pesisir yang ada di Kota Semarang sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai referensi bahan kajian untuk mengembangkan konsep pemikiran secara lebih logis.2. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir. 1. b. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir? b. Bagimana proses dari pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Semarang No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir. meliputi abrasi. sistematis dan konsisten rasional.2. Mengidentifikasi dampak sosial yang dirasakan oleh masyarakat atas pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Semarang No.16 kemudian memicu timbulnya konflik dari para pemangku kepentingan pengelolaan pesisir. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir? 1. Secara praktis penelitian ini bermanfaat bagi seluruh stakeholder terkait pemanfaatan dan pengelolaan kawasan pesisir. Rumusan Masalah a.

2.Bagi masyarakat penelitian ini dapat membantu memudahkan masyarakat dalam pemahaman terhadap kesesuaian pemanfaatan dan pengelolaan kawasan pesisir serta memberikan informasi yang mampu membantu masyarakat dalam melakukan kontrol terhadap tindak maupun kebijakan pemerintah. Penelitian ini Tentang mengetahui dan menggunakan Pengaturan mendeskripsikan metodologi Wilayah Laut pengelolaan penelitian Daerah wilayah pesisir kualitatif. Penelitian ini Batang dalam Batang yang menggunakan Rangka telah dilakukan metode Mewujudkan selama ini pendekatan Renstra ditinjau dari yuridis Berdasarkan konsep normatif. Konsep Pengelolaan 3. menganalisis ( Dian Ratu Ayu kendala-kendala Uswatun yuridis yang Hasanah.7. Penelitian Terdahulu No. Kabupaten Kabupaten 2. S. Penelitian terdahulu ini memberikan gambaran perbedaan antara penelitian yang telah ada dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. pembiayaan yang terlalu berat.5. Kendala yang dihadapi meliputi lempar tanggung jawab.H) dihadapi oleh pemerintah Tesis Kabupaten Universitas Batang sehingga Hasil Penelitian 1. Untuk analitis. Analisis 1. Berikut ini adalah beberapa penelitian terdahulu yang menjadi refrensi bagi peneliti: Table 1. Pengelolaan wilayah pesisir Kabupaten Batang hingga saat penelitian ini dilangsungkan masih bersifat sektoral. Untuk 1. Judul Penelitian Tujuan Penelitian Keterangan dan Penulis 1. pencemaran lingkungan dan kurangnya koordinasi antar instansi. 1. hak masyarakat terabaikan.17 kegiatan pengelolaan di kawasan pesisir. 3. Penelitian Pengelolaan Wilayah Pesisir bersifat Wilayah Pesisir Terpadu. Penelitian Terdahulu Pada tahap ini peneliti berusaha menelaah beberapa penelitian yang telah ada yang mungkin sejenis atau berhubungan dengan pengaturan wilayah pesisir dan pengelolaan wilayah pesisir di dalam Kota Semarang. deskriptif Terpadu 2. Harus dilakukan upaya pembuatan . kekosongan produk hukum.

Melihat 1. secara yuridis telah dimiliki regulasi mengenai pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu sebagai pedoman program peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir terutama pada nelayan tradisional skala kecil. socio-legal Kesejahteraan research. 2. 2. 2008. 3. 1. perda sebagaimana lanjutan dari adanya UU No. Untuk menjelaskan upaya yuridis yang harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Batang dalam mewujudkan pengelolaan wilayah pesisir terpadu. 1. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dengan langkah utama adalah membuat RENSTRA pengelolaan wilayah pesisir terpadu. Nelayan (Studi di Pedesaan Nelayan Cangkol Kelurahan Lemahwungkuk Kecamatan Lemahwungkuk Kabupaten Cirebon) (Endang Sutrisno) Jurnal. Metode Berdasarkan analisis kesesuaian lahan terhadap kawasan “Pulau Tirang” (kawasan pantai Kecamatan Tugu) . 3. Penelitian ini Pengelolaan pelaksanaan menggunakan Sumberdaya hukum mengenai metode Pesisir Berbasis pemberdayaan penelitian Pengelolaan usaha kecil kualitatif Wilayah Pesisir dalam kehidupan dengan Secara Terpadu masyarakat pendekatan untuk secara nyata. menggunakan metode penelitian kualitatif. diperlukan pengelolaan wilayah pesisir terpadu. Implementasi 1. Penelitian ini 1.18 Diponegoro. Untuk mengetahui daya dukung wilayah pantai Kota Semarang.2014 Analisis Potensi dan Permasalahan Wilayah Pantai Kota Semarang sebagai 1.

19 Kawasan Wisata Bahari (M. Universitas Diponegoro. 2005. 4. Untuk menentukan strategi yang sesuai bagi pengembangan kawasan pantai Kota Semarang untuk menunjang kegiatan wisata pantai Kota Semarang. sample pada minimnya kepemilikan data primer modal usaha dan dan sekunder teknologi. 2. Berdasarkan analisis SWOT Pulau Tirang saat ini belum layak untuk dikembangkan sebagai lokasi wisata pantai. 1. Kajian Kemiskinan Pesisir di Kota Semarang (Studi Kasus: Kampung Nelayan Tambak Lorok) (Mita Natalia dan Muhammad Mukti Alie) Jurnal. pengumpulan data yang digunakan ada purposive sampling. dapat dilihat dengan rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan yang mengakibatkan masyarakat Tambak Lorok tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh bidang kerja yang lebih luas. sedangkan kawasan Pantai Marina memiliki peluang yang cukup besar untuk dikembangkan. Minimnya kepemilikan modal usaha dan . Wahyudin) Tesis Universitas Diponegoro. disebabkan oleh faktor 2. khususnya pada kawasan pantai BWK III dan BWK IX yang diperuntukkan bagi kegiatan wisata pantai. dan “Pantai Marina” (Kecamatan Semarang Barat) menunuukkan bahwa kedua lokasi ini mempunyai pembatas serius untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata pantai. 2014. Teknik rendahnya kualitas pengumpulan sumber daya manusia. didapatkan Rendahnya kualitas adalah melalui sumber daya manusia rumus Solvin. Penelitian ini Kemiskinan yang menggunakan terjadi di kawasan metode kampung nelayan penelitian tambak lorok kualitatif. serta gaya yang hidup masyarakat. 2.

Prosiding persepsi antara Seminar pemangku Nasional kepentingan Pengelolaan terhadap pola Sumberdaya pemanfaatan ruang Alam dan yang berpotensi Lingkungan menimbulkan Universitas konflik pemanfaatan Diponegoro.6. Adanya perbedaan 2012.20 5. Kerangka pemikiran teoritis ini memuat berbagai macam bentuk teori yang terkait dengan penelitian itu sendiri. persepsi antar purposive berfungsi sebagai Sutrisno pemangku sampling kawasan Anggoro. Tipe penelitian 1. ruang. 11 September diselenggarakan 2. kerangka pemikiran teoritis ini akan memuat kajian mengenai administrasi publik yang merupakan basis ilmu dalam penelitian ini selanjutnya dideskripsikan mengenai kebijakan publik yang merupakan salah . Pertama. teknologi mengakibatkan mereka tidak dapat mengembangkan usahanya. Gaya hidup masyarakat disini cenderung konsumtif. Evaluasi Pola Mengevaluasi 1. 1. Jenis data yang zonasi kawasan Kecamatan diselenggarakan di digunakan pesisir terkait alih Kaliwungu Kecamatan meliputi data fungsi kawasan Kabupaten Kaliwungu primer dan data pesisir Kaliwungu Kendal Kabupaten Kendal sekunder Kabupaten Kendal serta melihat melalui teknik yang awalnya (Nur Anwar. Terjadi Pemanfaatan pemanfaatan ruang deskriptif ketidaksesuaian alur Ruang Kawasan kawasan pesisir kualitatif penyusunan renana Pesisir yang 2. dan kepentingan pertambakan Dwi P terhadap menjadi kawasan Sasongko) pemanfaatan ruang strategis ekonomi yang dan industry. Kerangka Pemikiran Teoritis Pada dasarnya kerangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini merupakan sub bab yang tercantum dalam penelitian dengan jenis kualitatif.

Menurut The Liang Gie. administrasi adalah serangkaian proses kegiatan yang diselenggarakan dengan melakukan kerja sama oleh sekelompok orang demi mencapai tujuan yang telah dirumuskan bersama. yaitu administrasi dan publik.6. Kajian Administrasi Publik 1. disusul dengan konsep pengelolaan wilayah pesisir yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini yang kemudian masih dilanjutkan dengan konsep dampak sosial yang perlu disoroti dalam pengelolaan wilayah pesisir. sedangkan dalam pengertian admnistrasi public dalam hal ini public diadefinisikan sebagai kepentinganmasyarakat. warga Negara maupun rakyat atau dapat juga didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat luas. Administrasi menurut Herbert A. . Simon (Syafiie: 2006).1.1. 1. Publik dalam arti sempit dapat didefinisikan sebagai hal yang umum. “Administration can be defined as the activities of groups cooperating to accomplish common goods” Pengertian di atas mampu memberikan gambaran bahwa pengertian administrasi publik menurut Herbert A Simon dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh kelompok melalui kerja sama demi mencapai tujuan bersama. Definisi Administrasi Publik Sejatinya administrasi public secara tata bahasa memiliki dua kata.21 satu bagian di dalamnya.6. administrasi merupakan rangkaian kegiatan penataan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan bekerja sama dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan. teori evaluasi kebijakan publik dan model-model evaluasi yang ada akan dijabarkan selanjutnya. Menjadi salah satu tahapan kebijakan publik yang dipilih.1. Administrasi dalam buku Inu Kencana Syaffie (2006) oleh Sondang P Siagian didefinisikan sebagai: keseluruhan proses pelaksanaan dari keputusan-keputusan yang telah diambil dan pelaksanaan itu pada umumnya dilakukan oleh dua orang manusia atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Berdasarkan beberapa definisi administrasi menurut para ahli di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa.

Gordon adalah seluruh proses yang dilakukan oleh organisasi atau perorangan yang berkaitan dengan pelaksanaan peraturan yang dilakukan oleh eksekutif. Administrasi Publik didefinisikan oleh Starlin dalam buku 6 Dimensi Strategis Admnistrasi Publik (Keban. Secara garis besar ruang lingkup administrasi publik berupa bidang dan isu yang mempengaruhinya. Nigro (Syafiie.1. 1. Pendapat lain dikemukakan oleh John M Pfiffner dan Robert V Presthus (Syafiie. . maupun yudikatif. legislatif. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Administrasi Publik adalah berbagai macam usaha yang dilaksanakan oleh perorangan maupun kelompok demi mencapai tujuan dalam kegiatan pemerintahan memenuhi kebituhan masyarakat.” Pengertian tersebut dapat diartikan sebagai kerjasama kelompok dalam lingkungan pemerintahan yang melingkupi tiga cabang pemerintahan: eksekutif. legislatif. 2006: 23) administrasi publik merupakan koordinasi usaha perorangan dan kelompok yang mana melaksanakan kebijakan dari pemerintah dengan pengarahan yang cakap dan teknik yang tidak terhingga. 2006) “Administration public is cooperative group effort in public setting who covers all three branches: executive. Nigro dan Lloyd G. Berdasarkan pada definisi-definisi yang telah disebutkan sebelumnya. 2008) sebagai segala sesuatu yang ingin dicapai oleh pemerintah sesuai dengan janji yang ingin diwujudkan pada masa kampanye pemilihan pejabat pemerintahan. dan yudikatif serta hubungan ketiganya untuk melaksanakan perumusan kebijakan dan bagian dari proses politiknya dalam menyajikan pelayanan kepada masyarakat. legislative and judicial and their interrelationship to formulating of public policy and this part of the political process in providing services to the community.6.22 Menurut Felix A.2. Administrasi publik menurut George J. Ruang Lingkup Administrasi Publik Dewasa ini ruang lingkup administrasi publik cukup luas yang dipengaruhi perkembangan kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

meskipun juga berkitan dengan dunia yudikatif dan legislatif. Meskipun bidang tersebut berbeda dengan administrasi swasta tetapi ia overlapping dengan administrasi swasta. berkenaan dengan sistem dan ilmu manajemen (produktivitas. . kompetensi dan profesi tidak disalahgunakan untuk kepentingan diluar kepentingan publik. Keban (2008) menjelaskan unsur-unsur pokok yang harus diperhatikan dan yang menentukan dinamika administrasi publik adalah : 1. 2008) memberikan pandangan mengenai ruang lingkup administrasi publik dapat melihat topik ilmu administrasi publik sebagai berikut: a. maupun sumberdaya manusia). 2. Bidang tersebut berkenaan dengan formulasi dan implementasi kebijakan publik. ada beberapa makna yang perlu diingat sebagai hakekat administrasi public menurut Keban (2008). administrasi pemerintahan dan etika birokrasi. anggaran publik. kepentingan. yang berkenaan dengan model-model organisasi dan perilaku birokrasi. privatisasi. Pengaturan struktur organisasi agar kewenangan dan tanggung jawab termasuk perilakunya sesuai kondisi dan tuntutan lingkungan 3. Implementasi yang meyangkut pendekatan terhadap kebijakan publik implementasinya. Administrasi publik dalam berbagai batasan dan definisi yang menjelaskan perbedaan. yakni : 1. c. b. Bidang tersebut lebih berkaitan dengan dunia eksekutif. Respon seara benar terhadap kebutuhan. 3. Bidang ini memiliki dimensi teoritis dan praktis.23 Nicholas Henry (Keban. Manajemen publik. Bidang tersebut juga berkaitan dengan berbagai masalah manusiawi dan usaha kerjasama untuk mengemban tugas-tugas pemerintah 4. Bidang tersebut diarahkan untuk menghasilkan public goods dan services. Manajemen faktor internal dan eksternal 2. dan aspirasi masyarakat dalam bentuk pembuatan keputusan atau kebijakan publik 4. 6. Pengaturan moral dan etika melalui kode etik agar semua penggunaan kemampuan. Organisasi publik. 5. Menurut Yeremias T.

Fungsi politik yang dimaksudkan disini adalah meliputi penetapan kebijakan dan tujuan negara sedangkan fungsi administrasi yang dimaksud adalah pelaksanaan kebijakan yang telah disusun dalam rangka menjalankan fungsi politik. Paradigma II adalah Prinsip-Prinsip Administrasi yang berkembang pada era 1927 hingga 1937 (Suwitri. lingkungan lain seperti lingkungan politik. dapat disimpulkan ruang lingkup administrasi publik terdiri dari organisasi publik. organizing. Paradigma III (1950-1970) Administrasi sebagai Ilmu Politikdalam paradigma ini dapat diketahui bahwa ilmu administrasi negara tidak dapat terlepas dari hubungan ilmu politik yang mana berperan dalam proses perumusan . 1.6. coordinating. Pengenalan karakteristik lingkungan dimana administrasi publik itu beroprasi. manajemen publik. dan dapat dipertanggungjawabkan melalui berbagai kegiatan pelayanan atau pemberian barang-barang publik. reporting dan budgeting) oleh Luther H Gulick dan Lyndall Urwick. ekonomi. Perkembangan Paradigma Administrasi Publik Paradigma sendiri merupakan corak atau cara atau pola berpikir seseorang atau kelompok terhadap ilmu pengetahuan yang kemudian diterima secara universal. sosial dan budaya. 6. 2006) pemikiran ini didasari pada keinginan akan efisiensi dan efektivitas dalam pelaksanaan pencapaian tujuan negara. Pada paradigma ini kemudian ditemukan fungsi POSDCORB (planning. staffing. namun tidak menutup kemungkinan bahwa sebuah paradigma akan berubah sesuai dengan perkembangan zaman.3. evaluasi kebijakan. kebijakan publik. lembaga swasta dan masyarakat. Berdasarkan pendapat beberapa ahli mengenai ruang lingkup administrasi publik. Akuntabilitas kinerja yaitu suatu janji kepada publik yang harus dipenuhi atau ditepati. impementasi kebijakan.1. yakni fungsi politik dan fungsi administrasi.24 5. directing. Paradigma I dikemukakan oleh Frank J Goodnow mengenai Dikotomi Politik dan Administrasi (1900-1926) dimana menurut pendapatnya pemerintah memiliki dua fungsi berbeda. Administrasi publik pun dalam perkembangannya telah melewati beberapa pergantian paradigma yang senantiasa akan terus berkembang mengikuti zaman dan kebutuhan manusia terhadap administrasi publik. baik dalam konteks hubungan antar negara.

Terjadinya penentangan pembayaran pajak di California akibat adanya inflasi dan ketidakpuasan masyarakat memaksa pemimpin pada masa itu untuk mereformasi sistem negaranya dengan cara membuka kemitraan negri-swasta. Administrasi publik kian tumbuh menjadi sistem penyelenggaraan pemerintahan yang lebih besar. Esensinya lokus administrasi negara terletak pada birokrasi pemerintahannya. 2006: 19) Ke-5 paradigma yang muncul di atas merupakan paradigma administrasi publik yang dipilah oleh Nicholas Henry sesuai dengan cara berpikir para pakar mengenai keberadaan ilmu administrasi publik. Pada tahun 1978 administrasi publik mulai berkembang dengan melakukan reformasi sebagai bentuk penyesuaian dengan keadaan dan situasi konflik yang terjadi pada masa itu.25 kebijakan negara. . Seiring berjalannya waktu. Paradigma V pada era 1970 paradigma administrasi negara berkembang menjadi Administrasi Negara adalah Administrasi Negara. rupanya administrasi publik masih terus berkembang tidak hanya berhenti pada paradigma kelima yang disebutkan oleh Nicholas Henry. bertugas menciptakan struktur kondusif (antara lembaga pemerintah dengan lembaga pemerintah lainnya ataupun dengan masyarakat). Paradigma ini menaruh lokusnya kepada organisasi publik yang kemudian administrasi negara menggunakan ilmu administrasi dimana ilmu ini merupakan ilmu gabungan antara teori organisasi dan ilmu manajemen. Fokus ilmu administrasi negara yang murni belum mampu ditemukan dalam paradigma ini. Pada paradigma ini telah ditemukan lokus yang administrasi negara yang jelas yaitu terletak pada organisasi publik yang tentu memiliki tujuan berbeda dengan organisasi bisnis. Paradigma VI yaitu Reinventing Government. hal ini lah yang menjadi cikal bakal munculnya paradigma reinventing government. namun masih digunakan teori organisasi yang terus dikembangkan dan terapan baru dalam ilmu manajemen yang diaplikasikan guna memperkuat ilmu administrasi negara. Paradigma IV Administrasi Negara sebagai Ilmu Administrasi (19561970) munculnya paradigma ini didasari atas kritik terhadap paradigma sebelumnya yang dirasa ilmu administrasi menjadi warganegara kelas dua dibanding dengan ilmu politik sehingga administrasi negara mencari induk baru yaitu ilmu administrasi. (Suwitri.

dan tidak lagi mengendalikan namun melayani masyarakat. efektivitas dan efisiensi. visi strategis. Kajian Kebijakan Publik 1. publik publik.26 Paradigma ini dikenal dengan wirausaha birokrasi yang mana administrasi publik diharuskan untuk mengubah pola pikir dimana pemerintah tidak lagi dilayani publik melainkan melayani publik. 2006:24-25) prinsip good governance meliputi: partisipasi. akuntabilitas. transparansi.6.2. Paradigma reiventing government juga dikenal sebagai paradigma NPM (New Public Management) yang kemudian membagi ilmu administrasi publik menjadi ilmu kebijakan publik dan manajemen publik. Administrasi publik kemudian dibagi ke dalam du dimansi yaitu manajemen public dan kebijakan publik yang dalam penelitian ini penulis akan memfokuskan terhadap dimensi kebijakan publik.2. 1. Paradigma NPM kemudian memunculkan kritik dari Denhart yang memunculkan konsep Nuw Public Service (NPS).1. serta memanusiakan manusia bukan hanya berpacu pada produktivitas. suara arah tindakan tertentu suatu program mengenai aktivitas tertentu atau suatu rencana. berkeadilan. daya tanggap dari pemerintah atas kebutuhan masyarakat. . Banyak definisi konsep mengenai kebijakan publik yang dikemukakan oleh para ahli. (Suwitri. masyarakat.6. aturan hukum yang jelas. Definisi Kebijakan Publik Istilah mengenai kebijakan publik sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Sebelumnya menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pedoman untuk betindak. Suatu deklarasi mengenai suatu bertindak. 2006: 22) Paradigma ke VII adalah Good Governance yang mana paradigma ini mulai menyadari akan pentingnya prinsip pemerintahan yang baik dalam menalankan NPS. Paradigma ini memunculkan konsep bahwa mengutamakan dibandingkan para administrator kepentingan kewirausahaan. bertindak harus melayani mengutamakan demokratis. Menurut UNDP (Suwitri. dan saling keterbukaan. berorientasi konsensus. kewarganegaraan menerapkan prinsip akuntabilitas.

2008) yang mana mendefinisikan kebijakan publik secara luas menjadi hubungan unit pemerintahan dengan lingkungan yang ada disekitarnya. dalam hal ini studi kebijakan publik ditempatkan sebagai independent variable yang digunakan untuk mengidentisikasi faktor-faktor yang mempengaruhi sebuah kebijakandan . Perkembangan ilmu pengetahuan. 2012) sebagai berikut: a. dan lain-lain). kesehatan. perkotaan. 2006) menyimpulkan bahwa kebijakan publik merupakan keputusan yang diambil pemerintah dengan bentuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. 2006) mengemukakan bahwa kebijakan publik adalah rangkaian pilihan yang berhubungan dibuat oleh pemerintah menyangkut tugas pemerintahan (keamanan. pendidikan. dimanfaatkan oleh suatu kebijaksanaan dalam mencapai tujuan atau meralisasikan suatu maksud. Berdasarkan pada beberapa definisi menurut para ahli yang telah disebutkan di atas. keluarga atau pemerintah pada suatu lingkungan politik tertentu. mengenai hambatan dan peluang yang dapat diatasi.James E Anderson mendefinisikan kebijakan publik (Subarsono. Lebih luas dari pendapat Dye sebelumnya. Menurut Willy N Dunn (Syafiie. 2006) adalah sebagai berikut: Suatu usulan tindakan oleh seseorang. Definisi selanjutnya dikemukakan oleh Carl Friederick mengenai kebijakan publik (Syafiie. kesejahteraan masyarakat. Pendapat lain dikemukakan oleh Robert Eyestone (Winarno. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kebijakan public adalah keputusan yang dibuat oleh pemerintah baik melakukan sesuatu ataupun tidak menyangkut tugas pemerintahan.27 Thomas R Dye (Suwitri. 2012) sebagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yang dipengaruhi oleh berbagai faktor maupun aktor dari dalam maupun dari luar kepemerintahan. pendapat lain dikemukakan oleh George C Edwards III dan Ira Sharkansky bahwa kebijakan publik tidak hanya meliputi keputusan yang diambil oleh pemerintah melainkan apa yang juga dinyatakan oleh pemerintah ( policy statement) dalam bentuk pidato atau wacana yang diungkapkan oleh pejabat publik yang kemudian ditindaklanjuti. energi. Kebijakan publik memiliki tiga manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan menurut Dye dan Anderson (Subarsono. kriminalitas.

Selanjut disebutkan dalam buku Kebijakan Publik Teori dan Proses (Winarno. Membantu praktisi untuk memecahkan masalah publik. yakni : 1. Berguna untuk tujuan politik. 2008) bahwa Amir Santoso memberikan pandangannya terhadap kebijakan publik dalam dua kategori. kebijakan publik merupakan sebuah pondasi yang mampu digunakan oleh para elit politik dalam meyakinkan para lawannya untuk pada akhirnya menyetujui sebuah kebijakan publik yang di rumuskan. Pendapat ahli yang memberikn perhatian khusus pada pelaksanaan kebijakan.28 menganalisis dampak yang ditimbulkan akibat dilangsungkannya sebuah kebijakan. b. Pendapat ahli yang tindakanpemerintah. Definisi ini dapat diklasifikasikansebagai decision making dimana terdapat wewenang pemerintahdidalamnya untuk mengatasi suatu persoalan publik.Semua menyamakan tindakan kebijakan publik sebagai pemerintah dapat disebut sebagaikebijakan publik. dengan adanya kebijakan publik para praktisi mampu memiliki dasar teoritis untuk membentuk kebijakan yang baru dan meminimalisir tingkat kegagalan dalam sebuah kebijakan c.Kebijakan publik sebagai suatu hipotesis yang mengandung kondisi-kondisi awal dan akibat-akibat yang bisa diramalkan ( Presman dan Wildvsky ). Kebijakan publik terdiri dari rangkaian keputusan dan tindakan. Kebijakan publik adalah serangkaian instruksi dari para pembuat keputusan kepada pelaksana kebijakan yang menjelaskan tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Definisi ini dapat diklasifikasikan sebagai decision making dimana tindakan-tindakan pemerintah diartikan sebagai suatukebijakan. Kategori ini terbagi dalam dua kubu. yaitu: a. b. 2. . Definisi inijuga dapat diklasifikasikan sebagai intervensi antara negaraterhadap rakyatnya ketika negara menerapkan kebijakan pada suatu masyarakat. Definisi ini dapat diklasifikasikan sebagai decision making oleh pemerintah dan dapat juga diklasifikasikan sebagai interaksi negara dengan rakyatnya dalam mengatasi persoalan publik.

6.6. Gambar 1.2. 1. Evaluasi Kebijakan Publik 1.2.6. Definisi Evaluasi Kebijakan Publik .29 1.3.3.3.1. 2012: 9) Dalam penelitian ini. Proses Kebijakan Publik Perumusan Penyusunan Agenda masalah forecasting Rekomendasi Formulasi Kebijakan Adopsi Kebijakan kebijakan Monitoring Implementasi Kebijakan kebijakan Evaluasi Penilaian Kebijakan Kebijakan Sumber: Dunn (Subarsono. penulis lebih menyoroti tahap evaluasi dalam kebijakan publik untuk kemudian ditelaah sesuai dengan permasalahan pengelolaan wilayah pesisir yang terjadi di Kota Semarang. 2006) adalah diawali dengan perumusan kebijakan dilanjutkan dengan implementasi (pelaksanaan) kebijakan dan evaluasi kebijakan. Tahap dan Proses Kebijakan Publik Proses kebijakan publik sebagaimana dipaparkan oleh Irfan Islamy (Suwitri.

implementasi. yaitu: a. 2006) evaluasi kebijakan merupakan sebuah kegiatan yang memiliki tujuan sistematik dengan pemahaman empirik terhadap berbagai dampak dari kebijakan yang sedang berlangsung maupun target program dari kebijakan yang dimaksudkan. sebaliknya semakin teknis dari kebijakan maupun program yang dilaksanakan maka akan dibutuhkan waktu yang relatif singkat. maupun terhadap dampak kebijakan. dan dampak yang tidak hanya dilakukan di tahap akhir saja melainkan dalam seluruh proses kebijakan. metode analisis dan bentuk-bentuk rekomendasinya. yang mana dapat artikan bahwa evaluasi kebijakan adalah sebuah aktivitas yang dirancang untuk menilai hasil program dan proses pemerintahan yang beragam dalam kriteria. Evaluasi kebijakan dapat dilaksanakan pada tahap perumusan masalah. Adapun pendapat lain yang dikemukakan oleh Jones (Suwitri. 2012) adalah sebuah kegiatan untuk menilai kebijakan yang dihasilkan. program-program yang diusulkan. waktu pelaksaan evaluasi ini amat tergantung dengan jenis kebijakan yang diimplementasikan. implementasi. the techniques of measurement. and the forms of recommendation. Lester dan Stewart membagi evaluasi kebijakan dalam 2 tugas yang berbeda. 2006): Evaluation is an activity designed to judge the merits of governments programs or procesess. Tugas ini melihat . Evaluasi digunakan untuk menentukan konsekuensi atau dampak yang akan dihadapi akibat diberlakukannya kebijakan tersebut.30 Evaluasi kebijakan menurut AG Subarsono dalam buku Analisis Kebijakan Publik (Subarsono. Definisi lain disebutkan oleh Budi Winarno (Winarno. David Nachmias (Suwitri. It varies in the spesification of criteria. teknik pengukuran. 2008) bahwa evaluasi kebijakan adalah kegiatan yang menyangkut estimasi (penilaian kebijakan) mencakup substansi. Semakin strategis sebuah kebijakan maka akan memerlukan waktu yang panjang. the methods of analysis.

dan dampak kebijakan. implementasi kebijakan.31 bagaimana usaha yang dilangsungkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Jadi evaluasi kebijakan bisa dilakukan pada fase perumusan masalah. Evaluasi kebijakan dapat mencangkup tentang isi kebijakan. Banyak nada sumbang dari sebagian pihak tentang adanya evaluasi kebijakan karena dianggap membuang-buang waktu dan menghabiskan dana atau anggaran. Implementasi. Salah satu aktivitas fungsional. evaluasi kebijakan tidak hanya dilakukan dengan mengikuti aktivitas-aktivitas sebelumnya. formulasi usulan kebijakan. b. hingga tahap akhir atau yang sering disebut dengan tahap evaluasi kebijakan. Evaluasi adalah kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kebijakan. Sebuah Kebijakan seperti sebuah siklus yang didalamya mengalami berberapa tahap yaitu dari formulasi kebijakan. Islamy (2000) dalam Suwitri mengatakan bahwa penelitian (evaluasi) kebijakan adalah merupakan langkah terakhir dari suatu proses kebijakan. Akan tetapi jika dilihat dari asas kemanfaatanya tahap evaluasi mempunyai peranan penting untuk kelanjutan dari langkah-langkah yang akan diambil pemerintah kedepanya. atau masalah yang menjadi penyebab kegagalan sebuah kebijakan. dan Evaluasi) mendefinisikan evaluasi sebagai : “Evaluasi mempunyai arti yang berhubungan. implementasi kebijakan. tetapi dapat terjadi pada seluruh aktivitas-aktivitas fungsional yang lain dalam proses kebijakan. Evaluasi merupakan salah satu tingkatan di dalam proses kebijakan publik. Evaluasi menurut Dunn yang dikutif oleh Riant Nugroho dalam bukunya Kebijakan Publik (Formulasi. Tugas ini memperlihatkan bagaimana faktor. kesalahan. Evaluasi menilai keberhasilan atau kegagalan dari sebuah kebijakan berdasarkan standard yang telah diputuskan. yaitu pengesahan (formulasi) dan pelaksananan (implementasi) kebijakan. legitimasi kebijakan dan seterusnya. evaluasi adalah suatu cara untuk menilai apakah suatu kebijakan atau program itu berjalan dengan baik atau tidak. pelaksanaan kebijakan. masing-masing .

e. Dalam arti yang lebih spesifik. dengan melakukan kegiatan evaluasi maka dapat diketahui tingkat pencapaian sasaran dan tujuan dalam sebuah kebijakan. c. penulis menyimpulkan bahwa evaluasi adalah penilaian yang dilakukan secara internal atau eksternal untuk mengetahui keberhasilan kebijakan serta kendala-kendala yang ada untuk menjadi pelajaran untuk kebijakan yang selanjutnya.6. 1.3. b. Evaluasi membantu mengidentifikasi bentuk-bentuk penyimpangan yang mungkin dilakukan dengan membandingkan tujuan dan sasaran dengan pencapaian target. f. pemberian angka (Ratting) dan penilaian (Assesment). Sifat Evaluasi Kebijakan Pengetahuan tentang evaluasi merupakan studi untuk menghasilkan tuntutan-tuntutan yang bersifat evaluatif. Evaluasi mempunyai sejumlah karakteristik yang membedakanya dari metode-metode analisis kebijakan lainnya: . Menentukan tingkat kinerja suatu kebijakan. Tujuan Evaluasi Kebijakan Menurut AG Subarsono dalam kegiatan evaluasi kebijakan memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut: a. evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan” (Nugroho. Dari beberapa pendapat ahli tersebut. kata-kata yang menyatakan usaha untuk menganalisis hasil kebijakan dalam arti satuan lainnya.6.3. Secara umum istilah evaluasi dapat disamakan dengan penafsiran (appraisal). d.3. 2003:181).2.32 menunjuk pada aplikasi beberapa skala nilai terhadap hasil kebijakan dan program. Evaluasi dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam formulasi kebijakan yang akan dilaksanakan selanjutnya. Mengukur dampak sebuah kebijakan baik dalam hal positif maupun negatif. Mengukur seberapa besar outcome (kualitas output) dari sebuah kebijakan. 1. Mengukur tingkat efisiensi dalam sebuah kebijakan melalui penelitian atas biaya dan manfaat yang dihasilkan dari suatu kebijakan.

Tipe-Tipe Evaluasi Kebijakan Tipe Evaluasi James Anderson Menurut James Anderson (Winarno. dipusatkan pada penilaian menyangkut keperluan atau nilai dari sesuatu kebijakan dan program.4. Tuntutan evaluasi tergantung baik “fakta” mampu “nilai”. karena mereka dipandang sebagai tujuan dan sekaligus cara. Evaluasi kebijakan merupakan kegiatan fungsional yang mana evaluasi kebijakan dianggap sama pentingnya dengan kebijakan itu sendiri. 1. yaitu: a. Tipe evaluasi ini memberikan gambaran bahwa kegiatan evaluasi kebijakan seharusnya dilakukan sepanjang proses kebijakan. Fokus nilai. Evaluasi berbeda dengan pemantauan. Dualitas Nilai. 2008) evaluasi kebijakan publik dibagi ke dalam tiga (3) macam tipe yang harus dipahami seorang evaluator dalam mengevaluasi seuah kebijakan publik. Evaluasi sama dengan rekomendasi sejauh berkenaan dengan nilai yang ada. kelompok atau seluruh masyarakat.6. evaluasi bukan berdasar mengumpulkan informasi akan tetapi ketepatan tujuan dan sasaran kebijakan dapat dipertanggungjawabkan dan mencakup prosedur evaluasi 2. Orientasi Masa Kini dan Masa Lampau. Evaluasi terutama merupakan suatu usaha untuk menentuan manfaat atau kegunaan sosial. diarahkan pada hasil sekarang da masa lalu. Semua harus didukung oleh bukti hasil kebijakan secara actual 3. Nilai-nilai yang mendasari tuntutan evaluasi mempunyai kulaitas ganda. evaluasi kebijakan digunakan untuk meramalkan dampak yang timbul dari masalah yang ditangani serta mampu dijadikan pedoman dalam mengambil langkah selanjutnya. Pada kegiatan formulasi. Diperlukan tidak hanya bahwa hasil-hasil kebijakan berharga bagi individu. ketimbang hasil masa depan 4. . Untuk menyatakan bahwa kebijakan atau program tertentu telah mencapai tingkat kinerja yang tertinggi atau rendah. Tuntutan evaluasi berbeda dengan tuntutan advokasi.3. Interpendensi Fakta Nilai.33 1.

dan dapatkah distribusi jasa dan manfaat dibuat lebih efektif. efisiensi dan efektivitas dalam menjalankan sebuah program. Evaluasi tipe ini dilakukan dengan membandingkan beberapa program untuk menilai kemanfaatannya maupun melihat program manakah yang paling berhasil mencapai sasaran. siapakah penerima manfaat dari kebijakan maupun program yang dijalankan.4. Tipe evaluasi yang kedua lebih memfokuskan diri pada administrasi atau pelaksanaan sebuah kebijakan atau program. Evaluasi pada tipe ini akan menunjukkan membantu menjelaskan apakah sebuah kebijakan berjalan dengan efisien dan bersih termasuk di dalamnya adalah aspek sosial. evaluasi dapat dilaksanakan pada saat formulasi kebijakan. saat implementasi kebijakan. Evaluasi berdasarkan proses ini dibedakan menjadi tiga jenis.34 b. Evaluasi Kebijakan Berdasarkan Proses Policy Evaluation FORMULATION IMPLEMENTATION RESULTS/IMPACTS . Tujuan utama evaluasi ini adalah untuk menentukan dampak sosial kebijakan dan pencapaian tujuan kebijakan. c. Tipe evaluasi kebijakan yang ketiga merupakan tipe evaluasi sistematis dengan memperhatikan sistematika dan tujuan evaluasi. berapa biaya yang dikeluarkan. maupun setelah implementasi kebijakan yang dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1. Evaluasi kebijakan berdasarkan proses dikemukakan oleh Irfan Islamy dalam buku Konsep Dasar Kebijakan Publik (Suwitri. 2006). Maka evaluasi tipe ini secara tidak langsung menekankan pada kejujuran. Tipe evaluasi ini akan membandingkan pencapaian tujuan dalam sebuah kebijakan yang baru dengan yang sebelumnya ditetapkan tentunya juga melihat efisiensi dan efektivitas kebijakan itu pula. Tipe ini memberikan pertanyaan mengenai apakah program dilaksanakan sesuai dengan prosedur.

Effort evaluation.35 EX-ANTE ON-GOING EX-POST Sumber: Suwitri. 2006: 91. Howlett dan Ramesh (Suwitri. c. Evaluasi ex-ante di dalamnya meliputi evaluasi perkiraan implementasi dan dampak yang terjadi sesudah implementasi beserta konsekuensinya melalui metode peramalan. a. b. 2006) membagi evaluasi ke dalam 3 tipe kebijakan. Evaluasi jenis ini hampir sama dengan evaluasi implementasi yang juga amat memperhatikan kerangka input-output. Evaluasi jenis ini merupakan evaluasi yang bertujuan untuk memilih alternatif bagi penyelesaian sebuah masalah. Evaluasi Administrasi. Faktor yang disoroti dalam evaluasi kebijakan ini adalah output dan dampak yang diperoleh apakah sesuai dengan tujun atau tidak apakah berdampak langsung ataukah tidak langsung bagi penerima kebijakan. . Kerangka input-output merupakan hal yang sangat diperhatikan dalam evaluasi pada jenis ini yang menggunakan media keranga teori-teori implementasi kebijakan. evaluasi kebijakan yang mengukur kuantitas input untuk menentukan data yang digunakan bagi kegiatan evaluasi. yaitu: a. namun evaluasi dampak membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. Evaluasi formulasi bersifat rasional dan emosional dalam memilah atau mendeskripsikan dampak positif dan negatif atas pilihan alternatif yang harus juga memperhatikan pihak-pihak yang berkepentingan dalam sebuah kebijakan. Menurut Samodra Wibawa (Suwitri. yang meliputi: 1. Evaluasi ex-post sebagai evaluasi dampak dari kebijakan. merupakan evaluasi yang digunakan dengan tujuan menyeimbangkan antara tujuan yang ingin dicapai dengan pembiayaan. 2006) evaluasi pada tahap implementasi (on-going) merupakan kegiatan penilaian dengan melihat proses implementasi pada program atau kegiatan yang merupakan bagian dari sebuah kebijakan. Evaluasi ex-ante merupakan evaluasi yang dilakukan pada tahap formulasi kebijakan.

4. merupakan evaluasi yang mendasari keberhasilan ataupun kegagalan sebuah kebijakan pada situasi politik yang sedang terjadi. yang pertama bertugas menyajikan hasil evaluasi program yang positip. Model evaluasi meneurut William Dunn tersebut terdiri dari : a. Process evaluation merupakan evaluasi yang bertujuan untuk mencari kemungkinan merampingkan proses kebijakan agar lebih efisien. para evaluator dikelompokkan menjadi dua. mengemukakan beberapa Model Evaluasi Kebijakan Publik dalam bukunya yang berjudul Pengantar Analaisis Kebijakan Publik.3. Kedua kelompok ini dimaksudkan untuk menjamin adanya netralitas serta obyektivitas proses evaluasi. bersifat naturalistik dan terdiri dua jenis. gagal dan yang tidak tepat sasaran. Model Evaluasi Kebijakan William Dunn. b. The Adversary Model. Evaluasi Judicial. evaluasi pada tipe ini sejatinya diselenggarakan oleh lembaga peradilan dengan obyek “permasalahan hukum” yang berkaitan pula dengan pemeriksaan kontitusional. The Transaction Model. Evaluasi politik.6. Model ini memperhatikan penggunaan metode studi kasus. Adequacy of performance evaluation yang merupakan evaluasi dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas dari program yang telah dilaksanakan apakah memencapai tujuan dari kebijakan atau tidak. dan evaluasi iluminativ ( illuminativ evaluation ) bertujuan untuk mengkaji program inovativ dalam rangka . ber ulang-ulang agar program yang telah direncanakan dapat digambarkan dengan akurat . tim kedua berperan untuk menemukan hasil evaluasi program negatif. Efficiency evaluation merupakan evaluasi kebijakan yang menilai berdasarkan biaya atau input yang serendah-rendahnya. c. Temuannya kemudian dinilai sebagai hasil evaluasi.kegiatan secara informal. 3. b. hasil dampak kebijakan yang efektif dan baik. 5.36 2. evaluasi ini memeriksa apakah sebuah kebijakan menghasilkan output yang sesuai dengan perhitungan input yang dikeluarkan.5. tidak efektif. yaitu : evaluasi responsive ( responsive evaluation ) yang dilakukan melalui kegiatan . Menurut model dari evaluasi ini tidak ada efisiensi data yang dihimpun. 1. Performance evaluation.

Evaluasi Formal Menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil kebijakan yang secara formal diumumkan Asumsi Ukuran manfaat atau nilai terbukti dengan sendirinya atau tidak kontroversial. 2012) dapat dilihat berdasarkan tabel berikut: Tabel 1. c. Dalam upaya mencaridampak aktual. Evaluasi proses secara resmi restrospektif diumumkan 4.37 mendeskripsikandan menginterpretasikan pelaksanaan suatu program atau kebijakan.6. . dan bukan hanya sekedar untuk menentukan dampak yangdiharapkan sesuai dengan ditetapkan dalam program. Sehingga evaluator ( peneliti ) dalam posisi yang bebas menilai dan ada obyektivitas. Evaluasi kebijakan dan eksperimental administrator yang 3. Pendekatan evaluasi menurut Dunn dalam buku Analisis Kebijakan Publik (Subarsono. Akuntansi sistem sosial 3. Pendekatan Evaluasi Pendekatan Evaluasi Semu Tujuan Menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid tentang hasil kebijakan. Sintesis riset dan praktik Tujuan dan 1. Eksperimentasi sosial 2.6. Jadievaluasi model ini akan berusaha mengungkapkan serta mendokumenterpihak-pihak yang berpartisipasi dalam program. Metode Evaluasi Kebijakan Demi mempermudah pengerjaan evaluasi kebijakan maka diperlukan metode ataupun teknik. model evaluasi ini ber tujuan untuk mencaridampak actual dari suatu kebijakan. Good Free Model.8. Pemeriksaan sosial 4.3. evaluator tidak perlu mengkaji secara luas dan mendalamtentang tujuan dari program yang direncanakan. Evaluasi sasaran dari perkembangan pengambil 2. Evaluasi hasil merupakan ukuran restrospektif yang tepat dari manfaat atau nilai. Metodologi 1. 1.

7. Evaluasi dengan ilmiah merupakan evaluasi yang mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk menjalankan evaluasi kebijakan dibandingkan dengan tipe evaluasi lain. 2008) mengemukakan enam langkah dalam evaluasi kebijakan yaitu : a.38 sebagai sasaran program kebijakan Evaluasi Menggunakan Tujuan dan Keputusan Teoritis metode deskriptif sasaran dari untuk mengasilkan berbagai pelaku informasi yang yang secara terpercaya dan formal diumukan valid mengenai atau didiamkan hasil kebijakan merupakan ukuran yang secara yang tepat dari eksplisit manfaat atau nilai.6. 1. evaluasi proses keputusan teoritis merupakan pendekatan evaluasi yang menghasilkan informasi yang dapat dipercaya dan valid mengenai hasil kebijakan secara eksplisit oleh berbagai stakeholder. Edward A. Penilaian tentang dapat tidaknya dievaluasi 2. Analisis terhadap masalah. Analisis unitilitas multivariat Berdasarkan pada tabel di atas. dapat dijabarkan bahwa pendekatan evaluasi yang dimaksudkan dimulai dari evaluasi semu yang mana pendekatan evaluasi ini menggunakan metode deskriptif untuk menghasilka informasi yang valid dengan membuktikan manfaat maupun nilai dari hasil kebijakan merupakan sesuatu yang mampu terbukti dengan sendirinya. evaluasi formal pendekatan yang menggunakan metode deskriptif demi menghasilkan informasi yang valid berdasarkan sasaran program kebijakan yang telah ditetapkan.3. Pendekatan ketiga. Suchman (Winarno. Subarsono (2012: 125) 1. . Tahapan Evaluasi Kebijakan Evaluasi dalam pelaksanaanya memiliki tahapan atau langkah-langkah yang dapat dilakukan agar dapat berjalan secara sistematis. b. Mengidentifikasi tujuan program yang akan dievaluasi. Sumber: AG. Pendekatan kedua. diinginkan oleh berbagai pelaku kebijakan.

responsivitas. Indikator evaluasi kebijakan menurut Dunn (Subarsono. dalam arti hasil penilaiannya dapat bisa dari yang sesungguhnya.8. Pengelolaan Wilayah Pesisir 1. Kawasan pesisir secara fisik terdiri dari daerah daratan. d. pantai. Indikator Evaluasi No Kriteria Penjelasan 1 Efektivitas Apakah hasil yang diinginkan telah tercapai 2 Kecukupan Seberapa jauh hasilyang telah tercapai dapat memcahkan masalah 3 Pemerataan Apakh biaya dan manfaat disistribusikan merata kepada kelompok masyarakat yang berbeda 4 Responsivitas Apakah hasil kebijakan memuat preferensi/ nilai kelompok dan dapat memuaskan mereka 5 Ketepatan Apakah hasil yang dicapai bermanfaat Sumber: A. pemerataan. Deskripsi dan standardisasi kegiatan. kecukupan. dan ketepatan Tabel 1.3. dimana batas di daratan meliputi daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air yang masih dipengaruhi oleh .39 c. Beberapa indikator untuk menentukan keberadaan suatu dampak 1. e.6. 2010) adalah wilayah peralihan antara daratan dan lautan.Lebih spesifik lagi definisi wilayah pesisir adalah wilayah daratan yang berbatasandengan laut.6. Menentukan apakah perubahan yang diamati merupakan akibat dari kegiatan tersebut atau karena penyebab lain. Definisi Pengelolaan wilayah Pesisir Wilayah pesisir menurut Rokhmin Dahuri dkk (Rahardjo. Pengukuran terhadap tingkatan perubahan yang terjadi. f. Indicator Evaluasi Kebijakan Menilai keberhasilan suatu kebijakan perlu mengembangkan beberapa indikator.4.9.1.G Subarsono. 2012:126 1. karena penggunaan indikator tunggal akan membahayakan.6.4. 2012) mencakup 5 indikator. perairan lepas pantai hingga pearairan di luar yuridiksi nasional. yaitu efektivitas.

sedangkan batas di laut adalah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan. 2010). Batas wilayah pesisir ke arah laut mencakup bagian atau batas terluar daripada daerah paparan benua (continental shelf). dimana ciri-ciri perairan ini masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar. lingkungandan kebudayaan. Definisi lain mengenai pengelolaan wilayah pesisir yang masih dikemukakan oleh (Dahuri: 2001) adalah bahwa pengelolaan wilayah pesisir itu merupakan suatu proses kontinu dan dinamis dalam penyusunan dan pengambilan keputusan tentang pemanfaatan berkelanjutan dari wilayah pesisir beserta segenap sumberdaya alam yang terdapat didalamnya Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu atau yang lebih di kenal dengan Integrated Coastal Zone Management atau di singkat ICZM adalah pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pesisir dengan cara melakukan penilaian menyeluruh tentang kawasan pesisir beserta sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalamnya. maupun proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran Kay dan Alder (Rahardjo. menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan. serta dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan. Wilayah pesisir pada umumnya dibagi ke dalam 2 batasan kewilayahan yang meliputi batas laut dan batas darat. dan kemudian . Pengelolaan Wilayah Pesisir kemudian didefinisikan oleh Rokhmin Dahuri (2001) sebagai suatu proses penyusunan dan pengambilan keputusan secara rasional tentang pemanfaatan wilayah pesisir beserta segenap sumberdaya alam yang terkandung didalamnya secara berkelanjutan. ekonomi. wilayah pesisir adalah wilayah yang unik mengingat wilayah pesisir ini berada dalam konteks bentang alam dimana menjadi tempat bertemunya wilayah daratan dan wilayah lautan yang saling mempengaruhi satu sama lain menyangkut aspek social.40 proses-proses laut.

b) Dicirikan dengan persaingan dalam pemanfaatan sumberdaya dan ruang oleh berbagai stakeholders. arus pasang surut.4. c) Menyediakan sumberdaya ekonomi nasional dari wilayah pesisir dimana dapat menghasilkan GNP (gross national product) dari kegiatan seperti pengembangan perkapalan. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir yang dapat disebutkan sebagai berikut: . mineral) dan jasa (seperti bentuk perlindungan alam dan badai. Menurut kesepakatan internasional terakhir. antara ekosistem darat dan laut demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dkk: 2011) : a) Memiliki habitat dan ekosistem (seperti estuari. wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara laut dan daratan. Tujuan dan Kegiatan Pengelolaan Wilayah Pesisir Tujuan pengelolaan wilayah pesisir secara khusus telah diatur ke dalam pasal 4 Peraturan Daerah No. 1. sehingga sering terjadi konflik yang berdampak pada menurunnya fungsi sumberdaya. pariwisata dan pesisir dan lain-lain.2. antara Pemerintah dan PemerintahDaerah. padang lamun) yang dapat menyediakan suatu (seperti ikan. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dapat dimaknai sebagai sebuah proses yang meliputi perencanaan. rekreasi) untuk masyarakat pesisir. minyak bumi.6. pemanfaatan. dan pengendalian sumberdaya pesisir dan pulau-pulai kecil antar sector. d) Biasanya memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan merupakan wilayah urbanisasi. terumbu karang.Wilayah pesisir mempunyai karakteristik sebagai berikut (Apridar. perminyakan dan gas. Pengelolaan wilayah pesisir sebagaimana disebutkan dalam UU No. kearah darat mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang surut dan kearah laut meliputi daerah paparan benua. pengawasan.41 merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya guna mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan.

dan keberkelanjutan.42 a. e. c. b. melindungi. pola penggunaan lahan daerah pesisir dan kondisi social-budaya-ekonomi di dalamnya. dan f. mengonservasi. Sebagaimana diatur dalam pasal 6 Peraturan Daerah No. mengembangkan sumberdaya dan lingkungan wilayah pesisir serta sumberdaya ikan sebagai potensi unggulan dan bersifat khas Daerah. 23 tahun 2011 kegiatan pengelolaan wilayah pesisir terbagi ke dalam 3 macam bentuk kegiatan yaitu: a. Dokumen pertama. memanfaatkan. kerangka kebijakan strategi yang secara menyangkut strategi dan arah kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam mengelola wilayah pesisir. Secara umum RSWP di dalamnya mengandung gambaran umum kondisi daerah yang bicara mengenai sumberdaya pesisir. Proses pengelolaan wilayah pesisir tentunya melewati serangkaian kegiatan yang harus dilakukan dan tidak dapat terlepas satu sama lain. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir (RZWP) disusun dengan memperhatikan RSWP yang telah dibuat sebelumnya serta keseimbangan antara pemanfaatan dan perlindungan atas alokasi ruang yang . merehabilitasi sumberdaya dan lingkungan wilayah pesisir yang sudah merosot dan/atau rusak. meningkatkan keterpaduan penataan sumberdaya dan lingkungan wilayah pesisir secara seimbang sesuai dengan fungsi dan daya dukungnya. Dokumen kedua. serta menentukan kaidah pelaksanaan atau langkah-langkah yang harus diambil dalam melaksanakan RSWP. merehabilitasi. mewujudkan keterpaduan dan sinergitas antar pihak dan pemangku kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya dan lingkungan wilayah pesisir. d. Rencana Strategis Wilayah Pesisir (RSWP) merupakan dokumen yang tidak dapat dilepaskan dari rencana pembangunan jangka panjang Kota Semarang yang dibentuk melalui Keputusan Walikota. dan memperkaya Sumber Daya Pesisir serta sistem ekologisnya secara berkelanjutan. keseimbangan. memperkuat peran serta masyarakat dan pemangku kepentingan serta mendorong inisiatif Masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Pesisir agar tercapai keadilan. Kegiatan Perencanaan Setidaknya terdapat 4 jenis dokumen perencanaan yang harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah Kota Semarang dalam melakukan pengelolaan bagi wilayah pesisir.

Fungsi atas penyusunan dokumen ini adalah untuk mengatasi konflik dalam pemanfaatan wilayah pesisir. serta pemetaan sebagi bahan untuk membuat peta dasar dan peta tematik hingga menghasilkan rekomendasi untuk pengaturan zonasi bagi wilayah pesisir. dan upaya perlindungan atas wilayah pesisir. Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir (RPWP) disusun proses dan keterlibatan pihak yang sedemikian rupa hingga menghasilkan kebijakan pengelolaan dan proseur administrasi. serta indicator kinerja pencapai sasaran. Dokumen ini berisikan kegiatan atau program yang disusun dengan memperhatikan skala prioritas pembangunan. mengarahkan skala prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. b. Penetapan garis batas ini merupakan . Penetapan sempadan pantai. Konservasi sendiri dilakukan dengan membagi wilayah pesisir ke dalam kawasan-kawasan dengan kategori tertentu yang telah ditetapkan. Dokumen keempat. Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir (RAPWP) tidak dapat dilepaskan dari rencana pembangunan jangka pendek yang diselenggarakan oleh daerah. Konservasi. merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk melindungi kelestarian ekosistem dan biota laut yang ada di dalamnya serta melindungi sabuk hijau serta situs dan budaya tradisional. pelaksanaan kegiatan fisik dan nonfisik. Dokumen ini berfungsi untuk mengarahkan pemanfaatan sumberdaya pesisir pada setiap kawasan. Pemanfaatan wilayah pesisir sendiri setidaknya terbagi ke dalam 5 macam urusan yang harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah Kota Semarang atas pengelolaan wilayah pesisir. Kegiatan Pemanfaatan Pemanfaatan dalam pengelolaan wilayah pesisir bukan hanya berbatas pada pemanfaatan sumberdaya namun juga pengembangan infrastruktur hingga penyerasian ekosistem darat dan pantai melalui peningkatan peranserta dan pemberdayaan masyarakat. serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaan.43 akan diselenggarakan hingga intregasi ekosistem darat dan laut. Penyusunan dokumen ini dilakukan melalui kegiatan perencanaan kerja dan biaya dalam melakukan rencana zonasi. pengumpulan data dan informasi. keterpaduan antar pemangku kepentingan. identifikasi lokasi. rekomendasi perizinan. tanggung jawab pengambil keputusan. Dokumen ketiga. penyelenggaraan penetapan garis batas sempadan pantai tercantum di dalam dokumen RZWP.

Kegiatan pengawasan dan Pengendalian Arah tujuan pengelolaan wilayah pesisir saat ini diselenggarakan secara terpadu dan berkelanjutan. Maksud ini terkadang tidak dimaknai oleh beberapa pihak pelaku reklamasi dengan arif untuk meminimalisir hal tersebut makan pemerintah dalam memberikan izin reklamasi melalui beberapa kajian yang meninjau aspek teknis. Mitigasi bencana. merupakan upaya yang dilakukan dalam memanfaatkan wilayah pesisir guna mengantisipasi bencana alam yang mungkin terjadi di wilayah pesisir dan sekitarnya. Sebagaimana dapat kita ketahui bersama wilayah pesisir merupakan wilayah yang rentan dengan terjadinya bencana seperti rob. lingkungan. Dalam pelaksanaan kegiatan reklamasi harus memperhatikan keberlangsungan hidup dan penghidupan masyarakat yang ada di sekitarnya. social dan ekonomi. keseimbangan antar kepentingan hingga persyaratan teknis yang wajib dipenuhi oleh pihak pelaku reklamasi. amblesan tanah bahkan hingga tsunami. demi menciptakan tujuan tersebut dibutuhkan pengawasan dan pengendalian yang tepat dalam pengelolaan wilayah pesisir yang rentan terhadap tindak penyimpangan. . c. Rehabilitasi. banjir. kegiatan ini dilakukan oleh pemerintah daerah dan setiap orang yang memanfaatkan kawasan wilayah pesisir demi menciptakan keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Demi meminimalisir bencana tersebut maka wilayah pesisir dipandang sebagai wilayah yang berpotensi untuk dimanfaatkan dalam mengantisipasi kemungkinan bencana. Perolehan izin reklamasi pun harus memenuhi kesesuaian aturan dengan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir (RZWP) serta memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam penerbitan analisis dampak lingkungan (AMDAL) melalui serangkaian kajian yang harus dilakukan. Wewenang dalam penyelenggaraan kegiatan pengawasan dan pengendalian bagi wilayah pesisir sejatinya diberikan pada pegawai negeri sipil yang bertugas dalam bidang pengelolaan wilayah pesisir . sejatinya kegiatan reklamasi diselenggarakan untuk menambah kemanfataan wilayah pantai atau pesisir yang sebelumnya kurang terselenggara dengan baik.44 kebijakan yang secara umum dilakukan sebagai upaya perlindungan bagi kawasan pesisir yang di dalamnya terjadi berbagai interaksi social masyarakat secara budaya dan ekonomi. Reklamasi Wilayah Pesisir.

1.5. Pelaksanaan kegiatan pengawasan dan pengendalian dalam wilayah pesisir menyangkut banyak pihak yang memiliki perbedaan tugas dan wewenang. Cara hidup ini bicara mengenai aktivitas keseharian yang dilakukan oleh individu tersebut dan bagaimana dirinya melangsungkan kehidupan apakah dalam hal pekerjaan atau interaksi dengan . Teori dampak social cenderung mengeksplorasi situasi social yang mampu membantu memprediksi hasil dari situasi social yang ada di lapangan. maka selanjutnya akan dipaparkan mengenai dampak sosial dalam penelitian ini. Dampak social bagi manusia (individu) secara langsung mempengaruhi cara hidup (way of life) seseorang yang tinggal disuatu wilayah dengan aktivitas pembangunan tertentu. Atas paham bahwa pengelolaan pesisir akan berdampak pada aspek sosial. Dampak social bagi sebuah pembangunan bukan hanya memberikan banyak manfaat yang positif namun tidak jarang pembangunan mampu menimbulkan berbagai dampak yang negative bagi masyarakat dan manusia (individu). Kegiatan pengawasan dilaksanakan dalam bentuk patroli/perondaan di wilayah pesisir.6. Pengelolaan wilayah pesisir kemudian berdampak pada aspek sosial yang ada dalam lingkup wilayah pesisir tersebut. sedangkan untuk kegiatan pengendalian dilaksanakan dalam bentuk penerimaan dan penindaklanjutan atas laporan yang diterima atas perusakan-perusakan yang terjadi di wilayah pesisir. Dampak Sosial Sudharto (2005: 24) menyebutkan bahwa dampak social merupakan perubahan yang terjadi pada manusia (individu) dan masyarakat akibat aktivitas pembangunan yang telah dilaksanakan.45 maupun pihak kepolisan yang ditugaskan secara khusus. Pada dasarnya dalam meneliti dampak social maka peneliti secara otomatis telah melaksanakan studi dampak social yang perlu dilihat sebagai ilmu social terapan dengan berorientasi pada temuan suatu fenomena sosial yang diharapkan mampu diterjemahkan dan diterapkan oleh para decision making sebagai wujud kebermanfaatan atas hasil studi dampak social yang telah dilaksanakan. untuk itu diperlukan koordinasi yang harmonis dari pihak-pihak tersebut.

estetika. kohesi social. Sedangkan dampak social bagi masyarakat mencakup budaya dan komunitas yang terdapat dalam masyarakat itu sendiri. Akibat aktivitas pembangunan secara langsung dapat berdampak pula bagi perubahan pendapatan yang di dapatkan oleh masing-masing individu. Perceived impact merupakan dampak yang timbul atas dasar persepsi yang berkembang dalam masyarakat terkait dampak dari pelaksanaan pembangunan. b) Identifikasi masalah. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam kegiatan studi dampak social menurut Wolf dalam Sudharto (2005: 28) adalah sebagai berikut: a) Pelingkupan.46 individu yang lain atau bahkan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh masingmasing individu. Budaya dalam dampak sosisal lebih kepada menunjukkan pola atas system nilai. stabilitas masyarakat. merupakan kegiatan yang dilakukan untuk melihat seberapa besar masalah yang terjadi dengan menentukan lingkup wilayah dampak. Perubahan social masyarakat terhadap budaya akibat pembangunan yang dilaksanakan dapat dicontohkan atas pembangunan sector industry yang dilakukan secara besar-besaran merubah irama kerja penduduk sehingga menghilangkan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan kampung sebagaimana sebelumnya dianggap sebagai rutinitas dan bahkan budaya dalam masyarakat. Dampak social menurut Homenuck dalah Sudharto (2011: 26) terbagi ke dalam 2 kategori yaitu real impact dan percieved impact. . norma. lingkup waktu dan penyusunan desain studi yang akan dilakukan. maupun sarana prasarana yang diakui sebagai fasilitas public oleh masyarakat yang bersangkutan. dan kepercayaan yang berlaku dalam masyarakat. kebisingan hingga bencana alam yang mungkin saja terjadi. Real impact dipandang sebagai dampak yang timbul atas aktivitas pembangunan yang disadari betul oleh seluruh masyarakat tertentu yang hingga menyebabkan kepindahan penduduk ke daerah lain. merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi masalah apa yang muncul dalam masyarakat beserta penyebabnya. Perubahan komunitas dalam masyarakat dapat dilihat dari struktur penduduk yang terletak dalam suatu wilayah.

1) Kegiatan perencanaan pengelolaan wilayah pesisir a) Identifikasi kegiatan pemerintah dalam menyelenggarakan penyusunan dokumen perencanaan kebijakan Rencana Strategis Wilayah Pesisir (RSWP). e) Evaluasi. . f) Mitigasi. kegiatan penemuan respon dari masyarakat dalam bentuk antisipasi atas dampak negative yang mampu dilakukan dan tidak mampu dilakukan. 1. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan wilayah pesisir yang dilihat dari 3 kegiatan pokok dalam pengelolaan wilayah pesisir. maka penulis menggunakan operasionalisasi konsep sebagai berikut: a. kegiatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi kecenderungan perkiraan dampak dengan atau tanpa pelaksanaan aktivitas pembangunan.7. d) Prakiraan dampak.47 c) Penyusunan rona lingkungan bicara mengenai siapakah pihak-pihak yang terkena dampak yang ditentukan berdasar kategori serta indicator yang telah ditetapkan. merupakan kegiatan yang menilai ketepatan prediksi penulis dalam menginventarisasikan dampak nyata dan perkiraan serta menyajikan umpan balik strategi pengambil keputusan. Operasionalisasi Konsep Berdasarkan pada fenomena penelitian dan permasalahan yang terjadi pada penelitian ini. g) Monitoring. b) Identifikasi kegiatan pemerintah dalam menyelenggarakan penyusunan dokumen perencanaan kebijakan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir (RZWP). mengidentifikasikan kembali persepsi masyarakat dengan criteria evaluasi berdasar ukuran dan bobot dampak sehingga memunculkan alternative kebijakan yang mampu diambil oleh decision making. Pelaksanaan pengelolaan wilayah pesisir yang diselenggarakan di Kota Semarang terkait Peraturan Daerah Kota Semarang No.

1) Dampak social terhadap individu a) Identifikasi perubahan cara hidup individu. 2) Dampak social terhadap masyarakat a) Identifikasi perubahan budaya. Dampak sosial yang dirasakan oleh masyarakat atas pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Semarang No. c) Koordinasi yang terjalin antara pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan pengelolaan wilayah pesisir. Norma yang berlaku di masyarakat 3. d) Pengaturan reklamasi bagi wilayah pesisir. b. 2) Kegiatan pemanfaatan pengelolaan wilayah pesisir a) Pelaksanaan konservasi bagi wilayah pesisir. Interaksi sosial yang dilakukan dengan individu lain 3. b) Identifikasi perubahan komunitas masyarakat. . 3) Kegiatan pengawasan dan pengendalian bagi wilayah pesisir a) Kegiatan patroli dan perondaan yang diselenggarakan sebagai bentuk pengawasan pengelolaan wilayah pesisir. 1. b) Penerimaan dan penindaklanjutan atas laporan perusakanperusakan yang terjadi dalam wilayah pesisir. Sistem nilai yang berlaku daalam masyarakat. e) Pemanfaatan wilayah pesisir untuk penyelenggaraan mitigasi bencana.48 c) Identifikasi kegiatan pemerintah dalam menyelenggarakan penyusunan dokumen perencanaan kebijakan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir (RPWP). Perubahan sikap yang ditunjukkan oleh individu b) Identifikasi perubahan pendapatan masyarakat. Kepercayaan masyarakat atas perubahan yang terjadi. b) Pengaturan batas sempadan pantai. Persepsi individu atas profesi yang dipilih 2. 1. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir. c) Pelaksanaan rehabilitasi bagi wilayah pesisir. 2. d) Identifikasi kegiatan pemerintah dalam menyelenggarakan penyusunan dokumen perencanaan kebijakan Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir (RAPWP).

3. stabilitas masyarakat.49 1. kohesi social. struktur penduduk. sarana prasarana yang diakui sebagai fasilitas public oleh masyarakat yang bersangkutan 1. estetika.8.8. c. 4. yaitu: a. . Penelitian ini disebut juga dengan penelitian pengujian hipotesa atau testing research. Penelitian Deskriptif Penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat perkembangan maupun menggambarkan secara rinci fenomena sosial yang belum memiliki hipotesa tekadang ada juga yang sudah menggunakan hiotesa dalam penelitiannya namun sifatnya belum mendalam dan tidak disajian secara statistik. Jenis Penelitian Pada dasarnya penelitian terbagi ke dalam 3 jenis. b. Penelitian Eksplanatory Penelitian ini bertujuan untuk meguji hipotesa yang telah dirumuskan dengan melihat hubungan antar variabel. Metode Penelitian 1. 2. Penelitian Eksploratif Penelitian ini bersifat terbuka yang belum memiliki hipotesa dan berusaha menjajaki lebih dalam gejala atau masalah yang akan diteliti. Penelitan eksploratif dilakukan sebagai langkah pertama karena pengetahuan peneliti atas masalah yang akan diteliti masih sangat sedikit.1. 5.

b) Kepala Kelurahan Bandarharjo. b) Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang.2. d) Staff Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). d) Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Semarang. hingga nelayan yang ada di Kawasan Semarang Utara. c) Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang.8. tokoh masyarakat. Subyek Penelitian Demi memperjelas penemuan masalah dari penelitian ini maka subyek penelitian dipilih oleh peneliti sebagai berikut: a) Kepala Kecamatan Semarang Utara. dan Tanjung Emas. c) Warga. 1. Atas dasar alasan tersebut peneliti memilih lokasi penelitian sebagai berikut: a) Kawasan Pesisir yang berada dalam lingkup Kecamatan Semarang Utara. . e) Staff Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang. dan Tanjung Mas. e) Badan Lingkungan Hidup kota Semarang. Panggung Lor. 1.50 Pada penelitian Evaluasi Pengelolaan Wilayah Pesisir terkait Peraturan Daerah Kota Semarang No.3. 23 tahun 2011 digunakan jenis penelitian deskriptif untuk mencapai tujuan penelitian yaitu memberikan gambaran secara rinci atas pelaksanaan pengelolaan wilayah pesisir yang diselenggarakan di Kota Semarang dan dampak social yang dirasakan oleh masyarakat Kota Semarang atas terselenggaranya kebijakan pengelolaan wilayah pesisir. yaitu Kelurahan Bandarharjo.8. Kawasan Pesisir di Kecamatan Semarang Utara terbagi ke dalam 3 kelurahan. Lokasi Penelitian Lokasi amat penting dalam peneliti kualitatif karena penelitian ini berlangsung dalam situasi penelitian. Panggung Lor.

Kata-kata atau Tindakan Jenis data ini dapat diperoleh melalui pengamatan atau wawancara yang dilakukan melalui subyek penelitian dan dicatat atau direkam. Foto ini dapat digunakan sebagai jenis data dalam penelitian namun harus dicatat bahwa foto ini merupakan hasil dari pengambilan foto dengan keadaan yang sebenar-benarnya bukan dibuat-buat. h) PT. jurnal ilmiah. c. g) Staff Badan Lingkungan Hidup kota Semarang. Foto Penelitian kualitatif memerlukan foto sebagai alat yang mampu menghasilkan data secara deskriptif atau sebagai sumber yang bisa didapatkan beriringan dengan pengamatan yang tengah dilakukan. 1. Sumber tertulis dapat terbagi ke dalam beberapa macam sumber.51 f) Staff Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Semarang. arsip. Peneliti dalam hal ini berusaha menjaring kata dan tindakan para subyek penelitian yang relevan dengan masalah penelitian melalui kriteria yang telah ditentukannya. mendengar. Jenis Data Penelitian Kualitatif pada umumnya menggunakan data sebagai berikut (Moleong. 2007: 157) : a. Semarang Utara . serta bertanya. misalnya sumber dari buku. SCC selaku pihak yang menyelenggarakan reklamasi pantai di kawasan Pantai Cipta. Perlahan jenis data ini merupakan pengamatan sebagai hasil usaha gabungan dari kegiatan melihat. Sumber Tertulis Di luar dari kata-kata dan tindakan yang diamati oleh peneliti. dan dokumen resmi. ia juga dituntut untuk mencari data tambahan. Apabila pengambilan foto dilakukan secara sengaja dan tidak mengambarkan keadaan yang sebenarnya maka akan . b.8. Salah satu data tambahan tersebut adalah data yang dapat diambil melalui sumber tertulis.4. dokumen pribadi.

SH selaku Kepala Kecamatan Semarang Utara. Sumber Data Pada penelitian ini digunakan 2 sumber data yaitu: a) Data Primer Data ini diperoleh dari gambaran masalah yang dipaparkan oleh subyek penelitian.Sos. 3) Tris Nunung Iriyanto. 1. 2) Bp. Kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh data ini adalah dengan wawancara yang mendalam menggunakan pedekatan one-to-one interview. d.5. Remi Yulianto selaku Ketua Kelompok Nelayan Mitra Mandiri Kota Semarang. .52 mengganggu hubungan antara peneliti dan respons dari subyek peelitian. Edy Nurcahyono. SE selaku Kepala Kelurahan Panggung Lor. 5) Bp. Mardiyono. MM selaku Kepala Kelurahan Tanjung Emas. Foto hanya memberikan sumbangsih untuk medorong peneliti mengejar persepsi penelitian yang ada pada subyek di lapangan.8. 4) Bp. Data Statistik Data statistik dapat digunakan untuk membantu memberi gambaran mengenai pola pikir subyek terhadap masalah yang akan diteliti perlu diperhatikan oleh penelti bahwa data ini cenderung dibuat atas landasan positivisme yang digeneralisasikan sehingga megurangi makna dari subyek penelitian. SH selaku Kepala Kelurahan Bandarharjo. Pendekatan one-to-one interview merupakan pedekatan yang dilakukan pada taip individu dari subek penelitian. Djaka Sukawijana. Pada penelitian Evaluasi Pengelolaan wilayah Pesisir di Kota Semarang ini sumber data primer yang dapat diperoleh dari beberapa informan sebagai berikut: 1) Bp. S.

Drs. M. Siswanto selaku Kepala Bidang Pengelolaan Kelautan dan Pesisir pada Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Semarang. 11) Serta pihak pengelola PT.8. Isdianto selaku Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Semarang yang kemudian menunjuk staffnya pada Bidang Pengawasan Dampak Lingkungan dan Bidang Penanganan Sengketa Lingkungan dan Pemulihan Kualitas Lingkungan yang secara langsung terlibat dalam tindak pengelolaan wilayah pesisir. 1. dan Bidang Perumahan dan Permukiman yang secara langsung mengurus wilayah yang berada dalam kawasan pesisir. b) Data Sekunder Data sekuder merupakan data yang tidak didapatkan secara langsung dalam penelitian namun dapat juga berisikan ringkasan informasi dari data primer. 8) Bp. 7) Bp. 15 Tambak Lorok Kelurahan Tanjung Emas. studi pustaka. ST. 10) Drs. MT selaku Kepala Bidang Perencanaan Pengembangan Wilayah dan Infrastruktur dan Bp.6. 9) Ir Agus Riyanto selaku Kepala Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Semarang pada Bidang Tata Ruang yang kemudian menunjuk staff pada Bidang Penataaan dan Pemanfaatan Bangunan. atau literatur. Data ini bisa didapatkan dari sumber internet.53 6) Bp.Si selaku Kepala Bidang Perencanaan dan Perekonomian di Bappeda Kota Semarang. Bambang Handoyo selaku Ketua RW. Farchan. SCC yang menyelenggarakan reklamasi pantai yang berlokasi di Pantai Cipta Kota Semarang. Pitoyo Tri Susanta. M. Teknik Pengumpulan Data .

wawancara. Demi memudahkan pemahaman aas akna dari observasi maka observasi dapat dilihat berdasarkan macam-macanya sebagai berikut: 1) Observasi Partisipatif Observasi jenis ini menuntut peneiti untuk scara lagsung teribat alam kegiatan sehai-hari dari subyek yang akan diamati. 2) Observasi Terus Terang atau Tersamar Dalam melakukan observasi terus terang maka subyek penelitian secara sadar mengetahui tentang aktivitas penelitian yang sedang berlangsung. Tidak anya mendegarkan dan mengamati apa yang mereka lakukan. Tidak tersruktur dalam hal ini dimaksudkan bahwa penelitian tidak tersusun secara sistematis. b. 3) Obsevasi Tidak Terstruktur Penelitian kualitatif melakukan observasi dengan tidak terstruktur mengingat fokus penelitian yang masih akan terus berkembang selama kegiatan observasi berlangsung. dokumentasi dan triangulasi (Sugiyono: 2008) a. Observasi memungkinkan peneliti untuk mengetahui persepsi subyek penelitian atas satu hal yang dirasakan dan dihayatinya. Wawancara . Observasi Pada dasarya kegiatan observasi memiliki tujuan untuk mengoptimalkan kemampuan peneliti dengan melihat perilaku dan makna dari perilaku tersebut. Observasi tersamar dalam pegamatannya tidak secara terus terang memberikan pemahaman bahwa peneliti sedang melakukan penelitian demi meghidari kemungkinan bahwa data yang tengah dicari merupakan data yang dirahasiakan sehingga peneliti tidak diberikan izin untuk melakukan penelitian.54 Terdapat 4 macam tenik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yaitu dengan observasi.

Wawancara Terstruktur Wawancara jenis ini cenderung digunakan manakala peneliti telah mengetahui dengan pasti informasi yang akan dicari dan telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan menyangkut informasi yang akan digali. Pengumpulan Data dengan Dokumen Dokumen pada umumnya berbentuk catatan. d. 2008: 187) 1. Wawancara Tidak Terstruktur Wawancara ini tidak menggunakan pedoman wawancara yang tersusun secara sistematis dan hanya berupa garis besar dari masalah yang akan dipertanyakan. 2. peraturan maupun kebijakan dari peristiwa yang sudah berlalu. c. Wawancara dapat dibagi ke dalam 3 macam wawancara menurut Esteberg (Sugiyono. Triangulasi . foto.55 Menurut Meolong (2007: 186) wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh kedua belah pihak antara pewawancara dengan informan demi memeroleh gambaran mengenai fenomena yang terjadi. Wawancara Semiterstruktur Wawancara jenis ini bertujuan untuk menemukan masalah secara terbuka dengan memberikan kesempatan bagi informan untuk menyampaikan gagasan maupun pemikirannya mengenai masalah yang akan diteliti. Pengumpulan data melalui dokumen ini tidak selalu bersifat kredibel karena dapat terjadi kemungkinan bahwa data tersebut telah dimanipulasi atau lebih berpihak pada kalangan tertentu. 3. Wawancara tidak terstruktur cenderng digunakan pada penelitian pendahuluan karena pada dasarnya peneliti belum mengetahui secara pasti fenomena sosial yang terjadi.

8. Semakin . serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. wawancara mendalam dan dokumentasi secara bersamaan. 1. hingga mencari tema dan polanya. Peneliti lebih mengarah pada penggunaan observasi partisipatif. Menururt Sugiyono (2008) analisis data jenis ini dilakukan manakala pengumpulan data tengah dilakukan dan pasca pengumpulan data. menarik fokus data. penyajian data.56 Teknik pengumpulan data triangulasi merupakan gabungan dari berbagai teknik dan sumberdata yang telah ada. a) Data Reduction (Reduksi Data) Menurut Sugiyono (2008) mereduksi data memilki arti merangkum. Teknik pegumpulan data tringulasi dengan demikian dapat membantu meningkatkan kekuatan data. Peneliti memahami bahwa penelitian kualitatif bukan hanya bertujuan untuk mencari kebenaran semata melainkan mempertajam dan memperluas pemahaman terhadap fenomena yang diteliti melalui informan teknik pengumpulan data ini dinilai cocok untuk data yang tidak konsisten dan kotradiksi dengan keadaan yang ada di lapangan. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi yang pengumpulan datanya dilakukan dengan cara berbeda-beda untuk sumber data yang sama. membuatnya lebih konsisten dan lebih pasti dibanding dengan hanya menggunakan satu pedekatan saja. Analisis data dalam penelitian kualitatif melingkupi aktivitas yang berlangsung secara terus menerus dan interaktif hingga didapati data yang kredibel. Teknik Analisis Data Penelitian ini menggunakan teknik analisis data Model Miles and Huberman.7. Tidak hanya mengumpulkan data tenik ini juga digunakan dengan masd menguji kredibilitas data yang didapat. Aktivitas yang termasuk ke dalam analisis data adalah reduksi data. memilah.

57 meluasnya data yang didapat di lapangan maka akan semakin komples data tersebut hingga diperlukan reduksi data yang dapat membantu peneliti memperjelas gambaran atas fenomena yang diteliti.8. phie chard. dan proposisi. c) Conclusion Drawing/Verification (Penarikan Kesimpulan/Verifikasi) Peneliti pada tahap ketiga ini melakukan usaha untuk menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi melalui pencarian makna dari tiap fenomena yang didapatkan di lapangan. dan lain-lain. b) Data Display (Penyajian Data) Aktivitas yang harus dilakukan setelah mereduksi data adalah menyajikan data tersebut. alur kausalitas dari fenomena. 1. Penyajian data nyatanya lebih rumit dibanding dengan ilustrasinya mengingat obyek peelitian yang kompleks di lapangan maka data yang telah ditemukan perlu diuji terlebih dahulu akankah data tersebut dapat berkembang atau tidak. Bilamana data tersebut terus berkembang maka akan menjadi teori grounded yang merupakan data yang ditemukan secara induktif. Kualitas Data Penelitian sesungguhnya membutuhkan validitas data yang menurut Creswell (2014:286) adalah usaha untuk memeriksa akurasi hasil yang diperoleh saat pelaksanaan penelitian dengan prosedur tertentu atas dasar kepastian dan .8. mencatat keteraturan dan konfigurasi yang mungkin ada. Tujuan penyajian data adalah untuk menyusun dan mengklasifikasikan data yang ada agar lebih mudah dpahami. pictogram. Peyajian data yang dilakukan dalam penelitian kualitatif dapat berupa tabel grafik. Reduksi data dapat didiskuskan dengan teman atau orang yang dipandang lebih ahli dengan demikian wawasan peneliti akan berkembang hingga mampu mendapatkan nilai pada temuan dan teori yang siginfikan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah temuan yang baru dan belum pernah ada sebelumnya dapat berupa deskripsi atau gambaran atas fenomena yang diteliti. Kesimpulan bersifat kredibel didukung oleh bukti yang valid dan konsisten.

Penelitian ini menggunakan validitas data yang menggunakan teknik triangulasi sumber data. partisipan. atau pembaca. Teknik ini digunakan melalui pemeriksaan buktibukti untuk membangun justifikasi tema dengan sumber data yang telah diperoleh.58 keakuratan data yang diperoleh berdasarkan sudut pandang peneliti. .