You are on page 1of 9

TUGAS PRAKTIKUM

SISTEM PEMBIAYAAN BERBASIS DIAGNOSIS
“ CASEMIX ”

Oleh:
Golongan B
AFRY FARA ISTIFADAH (G41131086)

PROGRAM STUDI D-IV REKAM MEDIK
JURUSAN KESEHATAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER

kelompok. Metode pembayaran retrospektif adalah metode pembayaran yang dilakukan atas layanan kesehatan yang diberikan kepada pasien berdasar pada setiap aktifitas layanan yang diberikan. semakin banyak layanan kesehatan yang diberikan semakin besar biaya yang harus dibayarkan. Pembiayaan kesehatan adalah besarnya dana yang harus dikeluarkan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan. Contoh pembayaran prospektif adalah global .1996). under treatment maupun melakukan adverse event dan mendorong pelayanan tim. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. mendorong efisiensi tidak memberikan reward terhadap provider yang melakukan over treatment. Metode pembayaran prospektif adalah metode pembayaran yang dilakukan atas layanan kesehatan yang besarannya sudah diketahui sebelum pelayanan kesehatan diberikan. Dengan sistem pembiayaan yang tepat diharapkan tujuan diatas bisa tercapai. kesehatan adalah salah satu komponen utama selain pendidikan dan pendapatan Dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan. Dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurut Miller (2007) tujuan dari pembiayaan kesehatan adalah mendorong peningkatan mutu. jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Pembiayaan kesehatan merupakan bagian yang penting dalam implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). dan masyarakat (Azrul.PENDAHULUAN Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Contoh pola pembayaran retrospektif adalah Fee For Services (FFS). keluarga. mendorong layanan berorientasi pasien. Terdapat dua metode pembayaran rumah sakit yang digunakan yaitu metode pembayaran retrospektif dan metode pembayaran prospektif.

Sistem casemix saat ini banyak digunakan sebagai dasar sistem pembayaran kesehatan di negara-negara maju dan sedang dikembangkan di negara-negara berkembang. Beth Reid). Sistem casemix adalah pengelompokan diagnosis dan prosedur dengan mengacu pada ciri klinis yang mirip/sama dan penggunaan sumber daya/biaya perawatan yang mirip/sama. telah dilakukan penyesuaian dari tarif INA-CBG Jamkesmas dan telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan dalam penyelenggaraan Jaminan Kesehatan. Kapitasi dan case based payment.budget. Berikut tabel perbandingan kelebihan sistem pembayaran prospektif dan retrospektif. Tidak ada satupun sistem pembiayaan yang sempurna. Dalam implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah diatur pola pembayaran kepada fasilitas kesehatan tingkat lanjutan adalah dengan INA-CBGs sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2013. Perdiem. setiap sistem pembiayaan memiliki kelebihan dan kekurangan. SISTEM INA-CBG Sistem Case-Mix adalah klasifikasi episode perawatan pasien yang dibuat untuk mengelompokkan kelas-kelas yang relatif homogen dengan memperhatikan sumber daya yang digunakan dan berisi pasien dengan karakteristik klinis yang serupa(George Palmer. Dapat diartikan pula bahwa Case-Mix merupakan suatu format klasifikasi yang berisikan kombinasi beberapa jenis penyakit dan tindakan pelayanan di suatu rumah sakit dengan pembiayaan yang . Untuk tarif yang berlaku pada 1 Januari 2014. pengelompokan dilakukan dengan menggunakan software grouper. Di Indonesia. metode pembayaran prospektif dikenal dengan Casemix (case based payment) dan sudah diterapkan sejak Tahun 2008 sebagai metode pembayaran pada program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

Untuk tarif INA-CBG’s dikelompokan dalam 4 jenis RS. 2014). Tarif INA-CBG mempunyai 1. C. STRUKTUR KODE INA-CBGs . Implementasi pembayaran dengan INA-DRG dimulai pada 1 September 2008 pada 15 rumah sakit vertikal. pembayaran kepada Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) Lanjutan dalam Jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) menggunakan INACBG. Ciri groupnya adalah memiliki gejala klinis dan pemakaian sumber daya yang sama (biaya perawatan yang sama) yang diterapkan secara prospektif dengan tujuan untuk peningkatan kualitas dan efisiensi pelayanan. Pada tanggal 31 September 2010 dilakukan perubahan nomenklatur dari INA-DRG (Indonesia Diagnosis Related Group) menjadi INA-CBG (Indonesia Case Based Group) seiring dengan perubahan grouper dari 3M Grouper ke UNU (United Nation University) Grouper. yaitu RS kelas D. sejak bulan Oktober 2010 sampai Desember 2013. dan pada 1 Januari 2009 diperluas pada seluruh rumah sakit yang bekerja sama untuk program Jamkesmas. KONSEP INA-CBG’s INA-CBG’s merupakan sistem casemix yakni pengelompokan diagnosa penyakit yang dikaitkan dengan biaya perawatan yang dimasukkan ke dalam group-group.Diagnosis Related Group). menggunakan sistem koding dengan ICD-10 untuk diagnosis serta ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan.077 kelompok tarif terdiri dari 789 kode grup/kelompok rawat inap dan 288 kode grup/kelompok rawat jalan. UNU-Grouper adalah Grouper casemix yang dikembangkan oleh United Nations University (UNU).dikaitkan dengan mutu dan efektivitas pelayanan. B. Case-mix merupakan metode pembayaran Prospective Payment. Sistem casemix pertama kali dikembangkan di Indonesia pada Tahun 2006 dengan nama INA-DRG (Indonesia. yaitu tarif INA-DRG Tahun 2008. Pengelompokan kode diagnosis dan prosedur dilakukan dengan menggunakan grouper UNU (UNU Grouper). Sejak diimplementasikannya sistem casemix di Indonesia telah dihasilkan 3 kali perubahan besaran tarif. tarif INA-CBG Tahun 2013 dan tarif INA-CBG Tahun 2014. Dengan demikian. dan A yang ditentukan berdasarkan akreditasi rumah sakit (BPJS Kesehatan.

3. 2. Dilabelkan dengan huruf Alphabet (A to Z) 3. Setiap group dilambangkan dengan kode kombinasi alfabet dan numerik dengan contoh sebagai berikut : Keterangan : 1. Pengelompokan menggunakan sistem teknologi informasi berupa Aplikasi INACBG sehingga dihasilkan 1. Digit ke-1 merupakan CMG (Casemix Main Groups) Digit ke-2 merupakan tipe kasus Digit ke-3 merupakan spesifik CBG kasus Digit ke-4 berupa angka romawi merupakan severity level Struktur Kode INA-CBGs terdiri atas : a) Case-Mix Main Groups (CMGs) 1. dengan acuan ICD-10 untuk diagnosis dan ICD-9-CM untuk tindakan/prosedur. Pemberian Label Huruf disesuaikan dengan yang ada pada ICD 10 untuk setiap sistem organ . Berhubungan dengan sistem organ tubuh 4. Adalah klasifikasi tahap pertama 2.077 Group/Kelompok Kasus yang terdiri dari 789 kelompok kasus rawat inap dan 288 kelompok kasus rawat jalan.Dasar pengelompokan dalam INA-CBGs menggunakan sistem kodifikasi dari diagnosis akhir dan tindakan/prosedur yang menjadi output pelayanan. 4.

4 Special CMGs dan 1 Error CMGs) 6. b.Ringan” untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 1 (tanpa komplikasi maupun komorbiditi) 3) “II . b) Case-Based Groups (CBGs): Sub-group kedua yang menunjukkan tipe kasus (1-9) a. h. i. d) Severity Level Sub-group keempat merupakan resource intensity level yang menunjukkan tingkat keparahan kasus yang dipengaruhi adanya komorbiditas ataupun komplikasi dalam masa perawatan. 2 Ambulatory CMGs. e. 1 Subacute CMGs. c. d. TIPE KASUS Prosedur Rawat Inap Prosedur Besar Rawat Jalan Prosedur Signifikan Rawat Jalan Rawat Inap Bukan Prosedur Rawat Jalan Bukan Prosedur Rawat Inap Kebidanan Rawat Jalan kebidanan Rawat Inap Neonatal Rawat Jalan Neonatal Error GROUP Group-1 Group-2 Group-3 Group-4 Group-5 Group-6 Group-7 Group-8 Group-9 Group-0 c) Kode CBGs Sub-group ketiga menunjukkan spesifik CBGs yang dilambangkan dengan numerik mulai dari 01 sampai dengan 99. j. 1 Chronic CMGs.5.Berat” Untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 3 (dengan major komplikasi dan komorbiditi) . f. Keparahan kasus dalam INA-CBG terbagi menjadi : 1) “0” Untuk Rawat jalan 2) “I . Total CBGs sampai saat ini sebanyak 1220. g. Terdapat 30 CMGs dalam UNU Grouper (22 Acute Care CMGs. 7.Sedang” Untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 2 (dengan mild komplikasi dan komorbiditi) 4) “III . 31 CMGs yang ada dalam INA-CBGs.

Perkiraan waktu lama perawatan (length of stay) yang akan dijalani oleh pasien juga sudah diperkirakan sebelumnya disesuikan dengan jenis diagnosis maupun kasus penyakitnya. tidak termasuk obat yang sumber . jenis rumah sakit maupun kepemilikan rumah sakit (rumah sakit swasta dan pemerintah). baik Rumah Sakit maupun pihak pembayar tidak lagi merinci tagihan berdasarkan rincian pelayanan yang diberikan. melainkan hanya dengan menyampaikan diagnosis keluar pasien dan kode DRG (Disease Related Group). maka tarif INA-CBGs yang digunakan setara dengan Tarif Rumah Sakit Kelas D sesuai regionalisasi masing-masing. Data costing didapatkan dari rumah sakit terpilih (rumah sakit sampel) representasi dari kelas rumah sakit. Untuk Rumah Sakit yang belum memiliki penetapan kelas. Besarnya penggantian biaya untuk diagnosis tersebut telah disepakati bersama antara provider/asuransi atau ditetapkan oleh pemerintah sebelumnya. Tarif INA-CBGs merupakan tarif paket yang meliputi seluruh komponen sumber daya rumah sakit yang digunakan dalam pelayanan baik medis maupun non-medis. Penghitungan tarif INA CBGs berbasis pada data costing dan data koding rumah sakit. meliputi seluruh data biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit. PENERAPAN INA-CBG’s DI RUMAH SAKIT Dalam pembayaran menggunakan sistem INA-CBG’S.Istilah ringan. sedang dan berat dalam deskripsi dari Kode INA-CBGs bukan menggambarkan kondisi klinis pasien maupun diagnosis atau prosedur namun menggambarkan tingkat keparahan (severity level) yang dipengaruhi oleh diagnosis sekunder (komplikasi dan komorbiditi).

dimana logic software yang digunakan untuk menetukan tarif adalah dengan pedoman ICD 10 untuk menentukan diagnois dan ICD 9 CM untuk tindakan atau prosedur. Jika lama perawatan bertambah lama dibanding tidak terjadi komplikasi.pembiayaannya dari program pemerintah (HIV. jika terjadi level severity tingkat 2 dan level severity tingkat 3. MANFAAT PENGGUNAAN INA-CBG’S Bagi Pasien 1. Data koding diperoleh dari data koding rumah sakit PPK Jamkesmas. karena akan mempengaruhi level severity (tingkat keparahan) yang diderita oleh pasien. Jika dalam akhir masa perawatan terjadi lebih dari satu diagnosis. Kesalahan penulisan diagnosis akan mempengaruhi tarif. Dengan adanya batasan pada lama rawat (length of stay) pasien mendapatkan perhatian lebih dalam tindakan medis dari para petugas . PERAN CODING DALAM CASEMIX INA-CBGS Dalam pelaksanaan Case Mix INA-CBGs. Tarif bisa menjadi lebih besar atau lebih kecil. Diagnosis penyerta juga dapat mempengaruhi besar kecilnya tarif. harus ditentukan diagnosa utama dan diagnosa penyerta. Diagnosa penyerta terdiri dari Komplikasi dan Komorbiditas. TB. peran koding sangat menentukan. maka akan mempengaruhi lama perawatan di rumah sakit. dan lainnya). Untuk penyusunan tarif JKN digunakan data costing 137 rumah sakit pemerintah dan swasta serta 6 juta data koding (kasus). maka akan menambah jumlah pembiayaan dalam perawatan. Diagnosis dalam kaidah CBGs. koder harus bisa menetukan mana yang menjdi diagnosa utama maupun sekunder. 2. Adanya kepastian dalam pelayanan dengan prioritas pengobatan berdasarkan derajat keparahan. Besar kecilnya tarif yang muncul dalam software INA-CBGs ditentukan oleh Diagnosis dan Prosedur. Dalam logic software INA-CBGs penambahan tarif dari paket yang sebenarnya. Logikanya pasien yang dirawat terjadi komplikasi.

Rumah Sakit mendapat pembiayaan berdasarkan kepada beban kerja sebenarnya. 2. Mendukung sistem perawatan pasien dengan menerapkan Clinical Pathway. equity terhadap masyarakat luas akan akan terjangkau. meningkatkan komunikasi antar spesialisasi atau multidisiplin ilmu agar perawatan dapat secara komprehensif serta dapat memonitor QA dengan cara yang lebih objektif. Dapat meningkatkan efisiensi dalam pengalokasian anggaran pembiayaan kesehatan. Secara kualitas pelayanan yang diberikan akan lebih baik sehingga meningkatkan kepuasan pasien dan provider/Pemerintah. Mengurangi pemeriksaan dan penggunaan alat medis yang berlebihan oleh tenaga medis sehingga mengurangi resiko yang dihadapi pasien. . 3. 3. Dapat meningkatkan mutu & efisiensi pelayanan Rumah Sakit. Dapat untuk mengevaluasi kualitas pelayanan yang diberikan oleh masingmasing klinisi. 2. Keadilan (equity) yang lebih baik dalam pengalokasian budget anggaran. 3. 4. Bagi Penyandang Dana Pemerintah (Provider) 1. Dengan anggaran pembiayaan yang efisien. karena berapapun lama rawat yang dilakukan biayanya sudah ditentukan. 6. Penghitungan tarif pelayanan lebih objektif dan berdasarkan kepada biaya yang sebenarnya. Dokter atau klinisi dapat memberikan pengobatan yang tepat untuk kualitas pelayanan lebih baik berdasarkan derajat keparahan. 4. Bagi Rumah Sakit 1.rumah sakit. 5. Perencanaan budget anggaran pembiayaan dan belanja yang lebih akurat. 7.