You are on page 1of 182

LAPORAN PENDAHULUAN

Pekerjaan :

DED PENGENDALIAN BANJIR DAN SEDIMEN
SUNGAI KOBI KEC. SERAM UTARA, P. SERAM,
KAB. MALUKU TENGAH

APBN TAHUN ANGGARAN 2015

PT. WINSOLUSI KONSULTAN
Ruko Cempaka Mas Blok A No. 25, Cempaka Mas – Jakarta Pusat
Telepon : 021 - 42884257, 4214564 Fax. : 021 - 4201805

KATA PENGANTAR
LAPORAN PENDAHULUAN

DED Pengendalian Banjir Dan Sedimen
Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, Kabupaten
Maluku Tengah

KATA PENGANTAR
Sesuai dengan ketentuan KAK untuk pekerjaan“DED Pengendalian Banjir dan Sedimen
Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram, Kab. Maluku Tengah”, yang pelaksanaannya
didasarkan pada no kontrak : HK.02.03/SP/BWS-MAL/PPK-PRG/06/V/2015, tanggal
kontrak

06

Mei

2015,

maka

sebagai

kewajiban

Konsultan

Perencana

untuk

menyampaikan:

LAPORAN PENDAHULUAN

Laporan ini berisikan tentang kegiatan layanan konsultan selama pekerjaan berlangsung dan
menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, lingkup pekerjaan, gambaran
daerah studi, rencana dan metodologi serta jadwal pelaksanaan pekerjaan.
Kami atas nama PT. Winsolusi Konsultan menyampaikan terima kasih kepada pemilik
Pekerjaan atas kepercayaan yang diberikan kepada perusahaan kami.

Maluku, 8 Juli

2015

PT. Winsolusi Konsultan

ISNAINI SYAWIK, ST
Direktur Utama

i

DAFTAR ISI
LAPORAN PENDAHULUAN

DED Pengendalian Banjir Dan Sedimen
Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, Kabupaten
Maluku Tengah

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR GAMBAR

vi

DAFTAR TABEL

viii

DAFTAR SINGKATAN

x

DAFTAR NOTASI

xi

DAFTAR ISTILAH

xiv

BAB 1 PENDAHULUAN

I-1

1.1

Latar Belakang

I-1

1.2

Maksud dan Tujuan

I-1

1.2.1 Maksud

I-1

1.2.2 Tujuan

I-1

1.2.3 Sasaran

I-2

1.3

Nama Dan Lokasi Pekerjaan

I-2

1.4

Ruang Lingkup Pekerjaan

I-3

1.5

Jangka Waktu Pelaksanaan

I-3

1.6

Pelaporan dan Diskusi

I-4

1.6.1 Pelaporan

I-4

1.6.2 Diskusi

I-6

Sistematika Penulisan Laporan Pendahuluan

I-7

1.7

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH PEKERJAAN

II-1

2.1

Gambaran Umum

II-1

2.2

Letak Geografis dan Batas Administrasi

II-1

2.3

Profil Lokasi Studi Perencanaan

II-4

ii

2.4

Kondisi Topografi

II-4

2.5

Kondisi Geologi dan Geomorfologi

II-5

2.5.1 Kondisi Geologi

II-5

2.5.2 Kondisi Geomorfologi

II-6

2.6

Kondisi Hidroklimatologi

II-8

2.7

Kondisi Persungaian

II-8

2.8

Kondisi Tanah dan Batuan

II-17

BAB 3 DASAR HUKUM DAN REVIEW KAJIAN LOKASI STUDI PERENCANAAN
III-1
3.1

Dasar Hukum

III-1

3.2

Prinsip dan Ketentuan Teknis

III-2

3.3

Peraturan Perundang-undangan di Bidang Sumber Daya Air dan

3.4

Peraturan Terkait Lainnya

III-3

Kebijakan Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air

III-5

3.4.1 Undang-Undang No. 7 Tahun 2004

III-5

3.4.2 Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2008

III-7

3.4.3 Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011 Tentang Sungai

III-11

3.4.4 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Maluku Tengah
2008-2031

III-18

3.4.5 Peraturan Presiden RI No. 33 Tahun 2011

III-24

3.4.6 Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai
Ambon – Seram

III-25

BAB 4 PENDEKATAN TEKNIS DAN METODELOGI

IV-1

4.1

Umum

IV-1

4.2

Metodologi

IV-2

4.3

Pekerjaan Persiapan

IV-5

4.4

Pengumpulan Data-Data Sekunder

IV-6

iii

4.5

Review Studi Terdahulu

IV-7

4.6

Persiapan Survey

IV-7

4.6.1 Koordinasi dengan Instansi Terkait

IV-7

4.6.2 Penyusunan Rencana Kerja

IV-7

4.6.3 Penyusunan Konsep Laporan Pendahuluan

IV-8

4.6.4 Pekerjaan Survey Lapangan dan Pengukuran Sungai

IV-8

Kegiatan Analisa Data

IV-13

4.7.1 Analisa Topografi

IV-13

4.7.2 Analisis Geoteknik

IV-21

4.7.3 Hasil Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika Tanah

IV-24

4.7.4 Analisa Hidrologi dan Hidrometri

IV-27

4.7.5 Ketersediaan Data

IV-28

4.7.6 Analisis dan Perhitungan Hidrologi meliputi

IV-31

4.7.7 Distribusi Frekuensi Hujan Terpilih

IV-47

4.7.8 Curah Hujan Maksimum Boleh Jadi (PMP)

IV-47

4.7.9 Curah Hujan Rencana

IV-48

4.7.10 Analisis Debit Banjir Rancangan

IV-49

4.7.11 Besar Debit Banjir Rancangan

IV-50

4.7.12 Resume Besar Debit Banjir Rancangan

IV-54

4.7.13 Analisis Hidrometri

IV-55

4.7.14 Pengukuran Arus/Kecepatan

IV-55

Perencanaan Teknis Pengendalian Banjir

IV-65

4.8.1 Penyusunan Konsep Pengendalian Banjir

IV-65

4.9

Pemilihan Alternatif Pengendalian Banjir

IV-67

4.10

Perhitungan Volume Pekerjaan (Bill Of Quantity/BOQ)

IV-76

4.10.1 Rencana Anggaran Biaya (RAB)

IV-76

4.10.2 Analisa Harga Satuan Dasar (AHSD)

IV-77

4.10.3 Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP)

IV-81

4.10.4 Estimasi Volume Pekerjaan

IV-82

4.7

4.8

iv

BAB 5 RENCANA KERJA SELANJUTNYA

V-1

5.1

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

V-1

5.2

Rencana Kerja Selanjutnya

V-6

Daftar Pustaka
Lampiran Berita Acara Survey Pendahuluan
Lampiran Check List Survey
Lampiran Kerangka Acuan Kerja

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Peta lokasi pekerjaan Sungai Kawanoa.

I-3

Gambar 1. 2 Peta administrasi Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

I-4

Gambar 2. 1 Peta Administrasi Kabupaten Maluku Tengah.

II-3

Gambar 2. 2 Orientasi lokasi pekerjaan.

II-4

Gambar 2. 3 Peta geologi Kabupaten Maluku Tengah.

II-7

Gambar 2. 4 Peta sistem Sungai Kawanoa

II-11

Gambar 2. 5 Peta sistem DAS Kawanoa

II-12

Gambar 2. 6 Peta WS Ambon Seram

II-14

Gambar 2. 7 Peta resiko banjir Kabupaten Maluku Tengah

II-15

Gambar 2. 8 Faktor dasar rumusan karakterisasi Sub DAS

II-16

Gambar 2. 9 Peta geologi Maluku Tengah

II-21

Gambar 2. 10 Peta Rencana Struktur Ruang Provinsi Maluku

II-23

Gambar 2. 11 Peta Curah Hujan Provinsi Maluku

II-24

Gambar 2. 12 Peta Kesesuaian Lahan Provinsi Maluku

II-25

Gambar 2. 13 Peta Kawasan Strategis Provinsi Maluku

II-26

Gambar 2. 14 Peta Kawasan Lindung Provinsi Maluku

II-27

Gambar 3. 1 Peta Rawan Bencana Banjir Kabupaten Maluku Tengah

III-21

Gambar 3. 2 Peta Rentan Bencana Banjir Kabupaten Maluku Tengah

III-22

Gambar 3. 3 Peta Risiko Bencana Banjir Kabupaten Maluku Tengah

III-23

Gambar 3. 4 Peta Administrasi di WS Ambon Seram

III-29

Gambar 3. 5 Peta WS Ambon Seram

III-30

Gambar 3. 6 Peta Tematik Aspek Pengendalian Daya Rusak Air untuk
Skenario Ekonomi Tinggi

III-34

Gambar 3. 7 Peta Tematik Aspek Pengendalian Daya Rusak Air untuk
Skenario Ekonomi Sedang

III-35

Gambar 3. 8 Peta Tematik Aspek Pengendalian Daya Rusak Air untuk
Skenario Ekonomi Rendah

III-36

vi

Gambar 4. 1 Bagan alir kegiatan tahap pendahuluan

IV-3

Gambar 4. 2 Bagan alir kegiatan (lanjutan) tahap lapangan

IV-4

Gambar 4. 3 Bagan alir kegiatan tahap akhir

IV-5

Gambar 4. 4 Bagan alir kegiatan survey topografi

IV-9

Gambar 4. 5 Contoh marmer BM

IV-11

Gambar 4. 6 Pengukuran sudut antar dua patok

IV-12

Gambar 4. 7 Sketsa pengukuran sipat datar memanjang

IV-13

Gambar 4. 8 Pengukuran poligon

IV-14

Gambar 4. 9 Pengamatan matahari

IV-18

Gambar 4. 10 Pengukuran waterpass

IV-18

Gambar 4. 11 Peta geologi lembar Amahai Kabupaten Maluku Tengah

IV-23

Gambar 4. 12 Alur analisa Hidrologi

IV-28

Gambar 4. 13 Peta DAS Kawanoa

IV-31

Gambar 4. 14 Analisa Curve Massa Ganda

IV-32

Gambar 4. 15 Plot hasil perhitungan homogenitas

IV-34

Gambar 4. 16 Contoh perhitungan debit banjir rancangan dengan
menggunakan metode HSS Nakayasu

IV-54

Gambar 4. 17 Contoh pengukuran kecepatan/arus Sungai Lahatan

IV-56

Gambar 4. 18 Sketsa persamaan energi

IV-59

Gambar 4. 19 Model Program HEC-RAS

IV-60

Gambar 4. 20 Skema Sungai Pada Hec-Ras

IV-60

Gambar 4. 21 Menu editing data geometri saluran

IV-63

Gambar 4. 22 Stabilisasi tebing dengan bronjong

IV-69

Gambar 4. 23 Tipikal Perkuatan Lereng dengan Menggunakan Turap

IV-69

Gambar 4. 24 Tipikal Dinding Penahan dari beton bertulang

IV-70

Gambar 4. 25 Skema perhitungan anggaran biaya

IV-77

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Distribusi Sungai Per Kecamatan di Wilayah Kabupaten
Maluku Tengah

II-10

Tabel 2. 2 Nama dan luas DAS di WS Ambon Seram

II-13

Tabel 3. 1 Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku yang Masuk di WS
Ambon Seram

III-27

Tabel 3. 2 Nama dan Luas DAS di WS Ambon Seram

III-27

Tabel 4. 1 Urutan statigrafi daerah Tehoru dan Sekitarnya

IV-24

Tabel 4. 2 Data curah hujan harian maksimum Stasiun Geser

IV-29

Tabel 4. 3 Data curah hujan harian maksimum Stasiun Pattimura

IV-29

Tabel 4. 4 Data curah hujan harian maksimum Stasiun Amahai

IV-30

Tabel 4. 5 Data curah hujan harian maksimum Stasiun Kairatu

IV-30

Tabel 4. 6 Data Curah Hujan Sta. Amahai Sebelum dan Setelah Terkoreksi

IV-32

Tabel 4. 7 Perhitungan homogenitas untuk masing-masing stasiun
di daerah Maluku

IV-33

Tabel 4. 8 Frekuensi curah hujan metode Distribusi Normal

IV-35

Tabel 4. 9 Frekuensi curah hujan metode distribusi Log Normal 2 Parameter

IV-36

Tabel 4. 10 Frekuensi curah hujan metode Gumbell

IV-37

Tabel 4. 11 Frekuensi curah hujan metode Pearson III

IV-38

Tabel 4. 12 Perhitungan frekuensi curah hujan metode Log Pearson III

IV-39

Tabel 4. 13 Rekapan curah hujan rancangan tiap metode

IV-40

Tabel 4. 14 Perhitungan uji Chi-Kuadrat untuk distribusi Normal

IV-41

Tabel 4. 15 Perhitungan uji Chi-Kuadrat untuk distribusi Log Normal
Dua Parameter

IV-41

Tabel 4. 16 Perhitungan uji Chi-Kuadrat untuk distribusi Gumbel Tipe I

IV-42

Tabel 4. 17 Perhitungan uji Chi-Kuadrat untuk distribusi Log Pearson
dan Pearson Tipe III

IV-42

viii

Tabel 4. 18 Hasil pengujian distribusi dengan parameter Chi-Kuadrat

IV-42

Tabel 4. 19 Nilai Kritis (∆cr) dari Smirnov-Kolmogorov

IV-44

Tabel 4. 20 Uji kecocokan sebaran untuk hasil metode Normal

IV-45

Tabel 4. 21 Uji kecocokan sebaran untuk hasil metode Log Normal

IV-45

Tabel 4. 22 Uji kecocokan sebaran untuk hasil metode Gumbell

IV-45

Tabel 4. 23 Uji kecocokan sebaran untuk hasil metode Pearson III

IV-46

Tabel 4. 24 Uji kecocokan sebaran untuk hasil metode Log Pearson III

IV-46

Tabel 4. 25 Resume uji kecocokan sebaran Metode Smirnov-Kolmogorov

IV-46

Tabel 4. 26 Hasil perhitungan curah hujan rencana

IV-47

Tabel 4. 27 Curah hujan rencana

IV-48

Tabel 4. 28 Angka koefisien pengaliran

IV-50

Tabel 4. 29 Contoh perhitungan debit banjir rancangan dengan menggunakan
metode Hasper

IV-51

Tabel 4. 30 Contoh perhitungan debit banjir rancangan dengan menggunakan
metode Weduwen

IV-52

Tabel 4. 31 Contoh perhitungan debit banjir rancangan dengan menggunakan
metode Rasional Mononobe

IV-52

Tabel 4. 32 Contoh resume debit banjir rancangan

IV-54

Tabel 5. 1 Tahap pelaksanaan pekerjaan output tim konsultan

V-1

Tabel 5. 2 Jadwal penugasan personil

V-3

Tabel 5. 3 Jadwal peralatan

V-4

Tabel 5. 4 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

V-5

ix

DAFTAR SINGKATAN

APBN

: Anggaran Pendapatan dan Pembelanjaan Negara

BOQ

: Bill of Quantity

BM

: Bench Mark

DAS

: Daerah Aliran Sungai

RMK

: Rencana Mutu Kontrak

RUTR

: Rencana Umum Tata Ruang

RDTR

: Rencana Detil Tata Ruang

RAB

: Rencana Anggaran Biaya

KAK

: Kerangka Acuan Kerja

MSL

: Mean Sea Level

MSL

: Mean Sea Level

OP

: Operasi dan Pemeliharaan

OB

: Orang Bulan

PP

: Peraturan Pemerintah

PU

: Pekerjaan Umum

PKM

: Pertemuan Konsultasi Masyarakat

SPMK

: Surat Perintah Mulai Kerja

SDA

: Sumber Daya Air

SID

: Survey, Investigation and Design

SNI

: Standar Nasional Indonesia

TOR

: Term of Reference

UU

: Undang-Undang

x

DAFTAR NOTASI

XA, YA

= koordinat titik yang akan ditentukan

dAP Sin

AP

= selisih absis (XAP) definitif (telah diberi koreksi)

dAP Cos

AP

= selisih ordinat (YAP) definitif (telah diberi koreksi)

dAP

= jarak datar AP definitif

αAP

= azimuth AP definitif

= sudut jurusan

= sudut ukuran

n

= bilangan kelipatan

f

= salah penutup sudut

di

= jarak vektor antara dua titik yang berurutan

di

= jumlah jarak

X

= absis

X

= elemen vektor pada sumbu absis

m

= banyak titik ukur

αT

= Azimuth ke target

αM

= Azimuth pusat matahari

(lT)

= Bacaan jurusan mendatar ke target

(lM)

= Bacaan jurusan mendatar ke matahari

β

= Sudut mendatar antara jurusan ke matahari dengan jurusan ke target

M

= azimuth matahari

= deklinasi matahari dari almanak matahari

m

= sudut miring ke matahari

= lintang miring ke matahari

xi

Zd

= sudut zenit definitif

md

= sudut miring definitif

Zu

= sudut zenit hasil ukuran

mu

= sudut miring hasil ukuran

r

= koreksi refraksi

½d

= koreksi semi diameter

p

= koreksi paralax

I

= salah indeks alat ukur

H

= tinggi titik



= beda tinggi

Btb

= benang tengah belakang

Btm

= benang tengah muka

FH

= salah penutup beda tinggi

KH

= Koreksi beda tinggi

TA

= titik tinggi A yang telah diketahui

TB

= titik tinggi B yang akan ditentukan

H

= beda tinggi antara titik A dan titik B

Ba

= bacaan benang diafragma atas

Bb

= bacaan benang diafragma bawah

Bt

= bacaan benang diafragma tengah

TA

= tinggi alat, Do = Jarak optis, dan m = sudut miring

Y 1 , Y2

= Kedalaman air pada potongan melintang

Z1, Z2

= Elevasi pada saluran utama

V1, V2

= Kecepatan rata-rata (jumlah total debit)

xii

1, 2

= Koefisien tinggi kecepatan

he

= Kehilangan energi

Llob, Lch, Lrob

=Jarak sepanjang potongan melintang pada aliran yang ditinjau di
pinggir kiri Sungai/left overbank (lob), saluran utama/main channel (ch),
dan pinggir kanan Sungai/right overbank (rob).

Q

lob,

Q ch, Q

rob=Jarak

sepanjang potongan melintang pada aliran yang ditinjau di

pinggir kiri Sungai (lob), saluran utama (ch), dan pinggir kanan Sungai
(rob).
L

= Jarak sepanjang bentang yang ditinjau

Sf

= Kemiringan gesekan (friction slope) antara dua potongan melintang

C

= Koefisien ekspansi atau kontraksi

K

= Penyaluran untuk suatu sub bagian

n

= Koefisien kekasaran Manning untuk sub bagian

A

= Luas daerah aliran pada sub bagian

R

= Jari-jari hidraulik pada sub bagian

At

= jumlah total luas daerah aliran pada potongan melintang

Alob, Ach, Arob = luas daerah pada tiap sub bagian penampang saluran
Kt

= jumlah total penyaluran pada potongan melintang

Klob, Kch, Krob = penyaluran pada sub bagian penampang saluran
C

= Koefisien ekspansi atau kontraksi

Q

= kapasitas alur sungai (m3/detik)

A

= luas penampang basah alur sungai (m2)

n

= angka kekasaran Manning

R

= jari-jari hidrolis (m)

S

=kemiringan memanjang muka air untuk aliran satu dimensi sama
dengan kemiringan dasar saluran.

xiii

DAFTAR ISTILAH

Sungai
jaringan

adalah

alur

atau

pengaliran

air

wadah

beserta

air
air

alami

dan/atau buatan

berupa

di dalamnya, mulai dari hulu sampai

muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan.

Danau paparan banjir adalah tampungan air alami yang merupakan bagian dari
sungai yang muka airnya terpengaruh langsung oleh muka air sungai.

Dataran banjir adalah dataran di sepanjang kiri dan/atau

kanan

sungai

yang

tergenang air pada saat banjir.

Pengelolaan

sumber

daya

air

memantau, dan mengevaluasi

adalah

upaya

penyelenggaraan

merencanakan,
konservasi

melaksanakan,

sumber

daya air,

pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.

Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan
dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan,
dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke laut secara alami, yang
batas di darat merupakan pemisah topografis

dan

batas

di

dengan

daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

Wilayah

sungai

adalah

kesatuan

wilayah

laut

sampai

pengelolaan sumber daya air dalam

satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya
kurang dari atau sama dengan 2.000 Km2

(dua ribu kilo meter persegi).

Banjir adalah peristiwa meluapnya air sungai melebihi palung sungai.

Bantaran sungai adalah ruang antara tepi palung sungai dan
sebelah

dalam

yang

terletak

di

kaki

kiri dan/atau kanan palung sungai.

xiv

tanggul

Garis

sempadan

adalah

garis

maya

di

kiri

dan

kanan palungsungai yang

ditetapkan sebagai batas perlindungan sungai.
DAS adalah Daerah Aliran Sungai

daerah yang di batasi punggung-punggung

gunung dimana air hujan yang jatuh pada daerah tersebut akan ditampung oleh
punggung gunung tersebut dan akan dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai
utama
Masyarakat adalah seluruh rakyat Indonesia, baik sebagai orang perseorangan,
kelompok orang, masyarakat

adat, badan usaha, maupun yang berhimpun dalam

suatu lembaga atau organisasi kemasyarakatan.
Pemerintah pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah
Indonesia

yang

Presiden

Republik

memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia

berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pemerintah

daerah

adalah

gubernur,

bupati/walikota, dan perangkat daerah

sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
sumber daya air.

xv

DAFTAR PUSTAKA

1.

1)

Google Earth Sungai Kawanoa.

2.

2)

RTRW Bappeda Kabupaten Maluku Tengah 2008-2028.

3.

3)

Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor : 395/KPTS/M/2012

Tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ambon Seram.
4.

4)

Peta Geologi Lembar Masohi, Maluku oleh H. Z. Abidin 1933

5.

5)

Pola DAS WS Ambon Seram.

6.

6)

Sidik Cepat Degradasi SUB DAS.

7.

7)

http//google.petageologitehorukabupatenmalukutengah.co.id

8.

8)

RTRW Provinsi Maluku 2007-2027 (Bappeda Provinsi Maluku).

9.

9)

BPS Maluku Dalam Angka 2012.

xvi

BAB 1

PENDAHULUAN
LAPORAN PENDAHULUAN

DED Pengendalian Banjir Dan Sedimen
Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, Kabupaten
Maluku Tengah

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG

Perilaku

sungai

selain

dapat

memberi

kontribusi

positif

bagi

peningkatan

kesejahteraan masyarakat pada wilayah yang didukungnya dapat pula bersifat
antagonis menjadi faktor yang berkontribusi negatif apabila tidak dikelola secara tepat
sesuai dengan karakteristik klimatologi, topografi dan kualitas lingkungan tanah dan
vegetasi daerah tangkapan sungai bersangkutan.
Sungai di Desa Luhu yang alirannya memiliki potensi daya rusak yang cukup besar.
Pada musim penghujan aliran pada Sungai Kobi sangat besar dan berpotensi
mengganggu aktifitas masyarakat di Kec. Seram Utara, Kab. Maluku Tengah. Kerugian
harta benda, tenggelamnya sawah dan hilangnya nyawa adalah resiko yang tidak
dapat dielakkan lagi apabila terjadi banjir.
Oleh karena itu perlu dilakukan identifikasi untuk mengetahui penyebab
terjadinya bencana tersebut. Dengan melakukan identifikasi penyebab banjir maka
dapat dilakukan suatu kajian pengendalian banjir untuk mengurangi daya rusak dari
sungai di Desa Luhu. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi adanya kegiatan DED
Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram, Kab.
Maluku Tengah.

1.2

MAKSUD DAN TUJUAN

1.2.1

Maksud

Maksud diadakannya DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram
Utara, P. Seram, Kab. Maluku Tengah adalah :
1. Merencanakan penataan dan perbaikan dalam usaha pengendalian daya rusak air.
2. Kajian teknis terkait rencana operasi dan perawatannya.
Hasil detail desain ini diharapkan dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan konstruksi
pengendalian banjir Sungai di Desa Luhu, Kabupaten Seram Bagian Barat.

1.2.2

Tujuan

Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah untuk mengetahui penyebab dan dampak
banjir yang terjadi serta menyusun rencana pengurangan resiko besaran banjir dan
pengendalian Daya Rusak Air serta pengurangan resiko kerentanan kawasan terhadap
banjir akibat daya rusak air termasuk desain bangunan-bangunan keairan yang
diperlukan dalam sistem sungai tersebut.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

1-1

1.2.3

Sasaran

melaksanakan amanat undang-undang sumber daya air yaitu di bidang pengendalian
daya rusak. menurunnya tingkat resiko banjir pada lokasi studi.

1.3

NAMA DAN LOKASI PEKERJAAN

Nama pekerjaan adalah “DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec.
Seram Utara, P. Seram, Kab. Maluku Tengah.” Lokasi pekerjaan berada di Sungai
Kobi, Kec. Seram Utara, Kab. Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Mengenai peta lokasi
pekerjaan dapat dilihat pada Gambar 1.1 dan Gambar 1.2.

Sungai Kobi

Gambar 1. 1 Peta lokasi pekerjaan Sungai Kawanoa.
LOKASI PEKERJAAN

Sungai Kobi
Gambar 1. 2 Peta administrasi Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

1-2

1.4

RUANG LINGKUP PEKERJAAN

Ruang Lingkup kegiatan pada DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec.
Seram Utara, P. Seram, Kab. Maluku Tengah meliputi:
1.

Inventarisasi data, peta, tata ruang, bangunan keairan serta morfologi
sungai.

2.

Pengumpulan data topografi, hidrologi, hidrometri, serta studi yang telah
ada.

3.

Pengukuran topografi, detail situasi, penampang melintang dan memanjang
sungai.

4.

Melakukan analisis penyebab dan dampak kerusakan yang timbul akibat
banjir.

5.

Melakukan identifikasi lokasi kerusakan sungai dan genangan banjir.

6.

Melakukan

analisis

hidrologi,

hidrolika,

karakter,

dan

prediksi

kecenderungan respon sungai.
7.

Melakukan analisis kestabilan dasar sungai / kedalaman gerusan.

8.

Melakukan analisis kestabilan konstruksi yang aman.

9.

Melakukan perhitungan biaya konstruksi.

10. Menyiapkan spesifikasi teknis dan gambar desain.
11. Membuat Rencana Mutu Kontrak (RMK) sebelum pelaksanaan dimulai.
Semua hasil pekerjaan yang telah selesai di desain secara detail sudah didiskusikan
serta disetujui oleh semua Direksi Pekerjaan dibuat dalam bentuk buku laporan segera
diserahkan. Adapun kegiatan yang diperlukan untuk kelengkapan dan penyelesaian
pekerjaan ini tetapi belum tercantum dalam kegiatan-kegiatan tersebut diatas akan
ditentukan kemudian berdasarkan petunjuk Direksi.

1.5

JANGKA WAKTU PELAKSANAAN

Jangka waktu pelaksanaan yang disediakan untuk menyelesaikan pekerjaan “DED
Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram, Kab.
Maluku Tengah”.

ini adalah 240 (Dua Ratus Empat Puluh) hari kalender atau 8

(Delapan) bulan, terhitung dari sejak dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja
(SPMK).

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah.

1-3

1.6

PELAPORAN DAN DISKUSI

1.6.1

Pelaporan

Pada masing-masing tahapan ini Konsultan diwajibkan untuk melaporkan kemajuan
pekerjaan yang diserahkan dalam bentuk laporan tertulis. Adapun produk laporan dari
masing-masing tahapan kegiatan :
a.

Rencana Mutu Kontrak (RMK)
Konsultan diwajibkan untuk menerapkan Jaminan Mutu (Quality Assurance)
sesuai Surat Edaran Bidang Pengairan Ditjen SDA. Konsultan kualifikasi
menengah dan besar diwajibkan untuk menerapkan Sistem Jaminan Mutu
dalam bentuk pembuatan Rencana Mutu Kontrak (RMK).
� RMK ini harus diselesaikan sebelum pembuatan laporan pendahuluan
untuk dibahas bersama dalam diskusi.
� RMK ini harus diklarifikasi oleh Core Team Jaminan Mutu dan disetujui
oleh PPK Perencanaan dan Program Balai Wilayah Sungai Maluku.
� RMK ini harus diserahkan dalam bentuk buku sebanyak 5 (lima) rangkap.

b.

Laporan Pendahuluan
Konsultan diwajibkan menyerahkan Laporan Pendahuluan yang memuat:
� Rencana kerja penyedia jasa secara menyeluruh.
� Mobilisasi tenaga ahli dan tenaga pendukung lainnya.
� Jadual kegiatan penyedia jasa.
Draft laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak SPMK
diterbitkan sebanyak 5 (lima) buku laporan untuk didiskusikan dan sebanyak 5
(lima) buku laporan yang telah diperbaiki berdasarkan hasil diskusi.

c.

Laporan Bulanan
Konsultan diwajibkan menyerahkan Laporan Bulanan yang memuat:
� Kemajuan pekerjaan periode sebelumnya.
� Permasalahan yang dihadapi.
� Rencana kegiatan bulan berikutnya.
� Lampiran-lampiran lain yang dibutuhkan.
Laporan ini harus diserahkan selambat-lambatnya tanggal 25 setiap bulan
sebanyak 5 (lima) buku laporan.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

1-4

d.

Laporan Akhir Sementara
Konsultan diwajibkan menyerahkan Laporan Akhir Sementara yang memuat:
� Kemajuan pekerjaan.
� Hasil survey dan penyelidikan.
� Usulan system planning.
Hasil sementara pelaksanaan pekerjaan harus dilaporkan selambat-lambatnya 4
(empat) bulan sejak SPMK diterbitkan sebanyak 5 (lima) buku laporan untuk
didiskusikan dan sebanyak 5 (lima) buku laporan yang sudah diperbaiki
berdasarkan hasil diskusi.

e.

Laporan Akhir/Final Report
Koreksi-koreksi dan saran-saran pada waktu diskusi Laporan Akhir Sementara
harus ditampung dan dimasukkan dalam Laporan Akhir yang dibuat dalam
rangkap 5 (lima) dan diserahkan kepada Direksi Pekerjaan pada akhir kontrak
pekerjaan bersama-sama dengan:

1.

Ringkasan Laporan (Summary Report)
Ringkasan laporan dibuat dalam Bahasa Indonesia 5 (lima) rangkap yang
merupakan rangkuman dari laporan akhir secara ringkas beserta biaya yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan.

2.

Laporan Penunjang masing-masing terdiri dari:
a.

Nota Desain

b.

Laporan Pengukuran GPS Berikut Daftar Koordinat dan

= 5 Rangkap

Deskripsinya

= 5 Rangkap

c.

Laporan Hasil Triangulasi Udara

= 5 Rangkap

d.

Laporan Survey Topografi

= 5 Rangkap

e.

Laporan Survey Geoteknik

= 5 Rangkap

f.

Laporan Survey Hidrologi

= 5 Rangkap

g.

Laporan Analisa Biaya dan Basic Construction Plan

= 5 Rangkap

h.

Laporan Spesific Teknis

= 5 Rangkap

i.

Raw Data Foto dan GPS

= 5 Rangkap

j.

Mozaik Citra yang Terkontrol

= 5 Rangkap

k.

Peta DEM

= 5 Rangkap

l.

Laporan Ground Check, Survey Delineasi dan GPS

= 5 Rangkap

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

1-5

3. Gambar – gambar terdiri dari :
-

Gambar Survey dan Investigasi A1 Kalkir

= 1 Rangkap

-

Gambar Survey dan Investigasi A3 (copy)

= 5 Rangkap

-

Peta Citra Skala 1 : 1000 A1

= 1 Rangkap

-

Gambar Perencanaan A1 Kalkir

= 1 Rangkap

-

Gambar Perencanaan Detail A3 (copy)

= 5 Rangkap

4. Dokumentasi

= 1 Album

5. Eksternal Hardisk yang berisi seluruh laporan

= 1 Buah

1.6.2

Diskusi

Untuk menangani pekerjaan ini wajib mengadakan diskusi dengan tenaga ahli yang
terlibat (intern) maupun kepada Direksi pekerjaan guna memperoleh masukan.
Asistensi kepada pemberi pekerjaan diadakan minimum 1 (satu) kali setiap bulan,
dengan permasalahan yang dibahas mengenai pekerjaan yang telah diselesaikan,
sekaligus menyampaikan alternative pilihan, guna memperoleh persetujuan dan
mengajukan program kerja selanjutnya.
Untuk memudahkan monitoring pekerjaan agar pihak Konsultan membuat buku
asistensi.
Buku tersebut berisi catatan, tanggal dan bulan mengenai perintah, hasil diskusi,
persetujuan dan lain-lain dengan Direksi serta sebagai catatan pihak Konsultan
mengenai item/produk pekerjaan yang telah dilakukan/diselesaikan. Catatan tersebut
ditanda tangani oleh pihak Direksi (Asisten Perencanaan) dan Pihak Konsultan.
Untuk setiap bagian item/bab pekerjaan yang telah diselesaikan oleh Konsultan agar
diasistensikan

secara

bertahap

ke

Direksi,

sehingga

Direksi

bisa

mengontrol/

mengoreksi hasil pekerjaan dengan baik.
Diskusi dan expose dilaksanakan dengan tahap sebagai berikut:
1. Diskusi Laporan Pendahuluan
Diskusi dilakukan untuk membahas draft laporan pendahuluan yang telah disusun
memfokuskan kajian dalam hal metodologi dan output substansi/hasil yang diinginkan.
Diskusi laporan pendahuluan akan dilakukan maksimal 2 (dua) minggu setelah SPMK
diterbitkan.
2. Diskusi Interim
Diskusi dilakukan untuk membahas draft laporan interim yang telah disusun
memfokuskan pada hasil pendataan, analisis, dan perumusan konsep rencana sistem

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

1-6

drainase. Diskusi laporan pendahuluan akan dilakukan maksimal 2 (dua puluh dua)
minggu setelah SPMK diterbitkan.
3. Diskusi Laporan Akhir
Diskusi dilakukan untuk membahas draft laporan akhir yang telah disusun meliputi
laporan rencana DED Pengendalian Banjir dan Sedimentasi pada kawasan yang
diprioritaskan penanganannya. Diskusi laporan akhir akan dilakukan maksimal 32 (tiga
puluh dua) minggu setelah SPMK diterbitkan.

1.7

SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN PENDAHULUAN

Laporan Pendahuluan ini disajikan dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I

PENDAHULUAN
Pada bab ini dibahas mengenai latar belakang pekerjaan, maksud dan
tujuan serta sasaran, ruang lingkup pekerjaan, waktu pelaksanaan, serta
sistematika laporan pendahuluan.

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH PEKERJAAN
Bab ini memberikan gambaran lokasi pekerjaan secara mendetail dan
menyajikan data dari sumber-sumber terdahulu.

BAB III

DASAR

HUKUM

DAN

REVIEW

KAJIAN

LOKASI

STUDI

PERENCANAAN
Bab ini dibahas mengenai kebijakan-kebijakan yang terkait dengan lokasi
studi perencanaan pengendalian banjir sungai dengan kebijakan-kebijakan
yang ada menurut Pola WS DAS Ambon Seram dan kebijakan lainnya.
BAB IV

PENDEKATAN TEKNIS DAN METODOLOGI
Bab ini memberikan penjelasan bahwa Untuk melaksanakan pekerjaan
diperlukan

perencanaan

yang

matang

dari

segi

pendekatan

dan

metodologi. Pendekatan dan metodologi yang akan digunakan diuraikan
secara rinci dalam bab ini.
BAB V

RENCANA KERJA SELANJUTNYA
Pada bab ini akan dibahas mengenai rencana kerja konsultan selanjutnya
dalam rangka kegiatan kajian ini.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

1-7

BAB 2

GAMBARAN Umum Wilayah
Pekerjaan
LAPORAN PENDAHULUAN

DED Pengendalian Banjir Dan Sedimen
Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, Kabupaten
Maluku Tengah

BAB II
GAMBARAN UMUM WILAYAH PEKERJAAN
2.1

GAMBARAN UMUM

Provinsi Maluku merupakan wilayah kepulauan terdiri dari kurang lebih enam ratus tiga
puluhan pulau dimana sebagian besar diantaranya berupa pulau-pulau kecil. Kondisi
demikian menyebabkan Maluku didominasi oleh wilayah perairan, sehingga terbuka untuk
berinteraksi dengan provinsi atau negara lain di sekitarnya seperti Provinsi Maluku Utara di
bagian Utara, Provinsi Papua Barat di bagian Timur; Provinsi Sulawesi Tenggara dan Nusa
Tenggara Timur di bagian Barat, serta Negara Timor Leste dan Australia di bagian Selatan.
Provinsi Maluku sebagai wilayah kepulauan didominasi oleh pulau-pulau kecil memiliki pantai
sepanjang 11.000 km dan wilayah pesisir serta perairan seluas 658.294 km2.

2.2

LETAK GEOGRAFIS DAN BATAS ADMINISTRASI

Secara administrasi pemerintahan lokasi pekerjaan Detail Engineering Desain Pengendalian
Banjir Sungai Kobi berada di Kecamatan Seram Timur Kabupaten Maluku Tengah Provinsi
o

o

Maluku. Secara geografis, lokasi pekerjaan terletak diantara 2 30’ – 9 Lintang Selatan dan
o

o

124 – 136 Bujur Timur, dengan batas-batas administrasi sebagai berikut :
Sebelah Utara

: Provinsi Maluku Utara

Sebelah Selatan

: Timor Leste

Sebelah Timur

: Provinsi Papua

Sebelah Barat

: Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah

Kondisi geografis wilayah Provinsi Maluku yang menyangkut luasan wilayah keseluruhan
adalah wilayah darat dan laut. Luas wilayah Provinsi Maluku adalah 712.469,69 km 2 terdiri
dari 658.294,69 km2 (92,4%) merupakan wilayah perairan dan 54.185 km2 merupakan
wilayah daratan (7,6%), yang merupakan daratan pulau-pulau besar dan kecil. Provinsi
Maluku merupakan wilayah kepulauan, dengan jumlah pulau sebanyak 972 buah. Pulau
terbesar adalah Pulau Seram (18.625 km2), kemudian Pulau Buru (11.117,00 km2), disusul
Pulau Yamdena (5,085 km2), dan Pulau Wetar (3,624 km2).
Setelah mengalami beberapa kali proses pemekaran, maka saat ini wilayah administrasi
Provinsi Maluku terbagi atas 7 kabupaten dan 1 kota yaitu:

Kabupaten Maluku Tengah memiliki 11 kecamatan;

Kabupaten Maluku Tenggara memiliki 6 kecamatan;

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-1

Kabupaten Maluku Tenggara Barat memiliki 17 kecamatan;

Kabupaten Pulau Buru memiliki 10 kecamatan;

Kabupaten Seram Bagian Barat memiliki 4 kecamatan;

Kabupaten Seram Bagian Timur memiliki 4 kecamatan;

Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 3 kecamatan;

Kota Ambon memiliki 5 kecamatan.

Kondisi geografis Maluku yang terdiri dari 976 (sembilan ratus tujuh puluh enam) pulau
menuntut pola penataan ruang yang unik. Pendekataan penataan ruang wilayah, terutama
menyangkut sistem pengembangan perwilayahan pembangunan, saat ini

belum secara

optimal mendukung karakteristik wilayah Maluku yang merupakan wilayah kepulauan.
Kondisi ini tercermin dari ketidak seimbangan perkembangan wilayah pada gugus-gugus
pulau tersebut, untuk gambaran lokasi dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-2

Sumber :

3)

Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor : 395/KPTS/M/2012 Tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ambon
Seram
Gambar 2. 1 Peta Administrasi Kabupaten Maluku Tengah.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-3

2.3

PROFIL LOKASI STUDI PERENCANAAN

Lokasi studi berada tidak terlalu jauh dari pemukiman warga, lokasi studi terdapat di sungai
Kobi, Kecamatan Seram Timur, Kabupaten Maluku Tengah yang berada pada lintang
(3°18'31.40"S) dan bujur (129°29'32.00"T). Ketika terjadi hujan deras dengan durasi lama
aliran air sungai ini menyebabkan banjir di Kecamatan Seram Timur, dan menggenangi jalan
provinsi sehinggga menyebabkan terputusnya transportasi darat, serta menggenangi areal
perkebunan sekitarnya. Lokasi studi selengkapnya dapat dilihat pada gambar-gambar berikut
ini.

Sungai Kobi

Gambar 2. 2 Orientasi lokasi pekerjaan.

2.4

KONDISI TOPOGRAFI

Sungai Kobi merupakan sungai yang bermuara ke Laut Seram. Berdasarkan peta topografi
Bakosurtanal skala 1:25.000, Daerah Aliran Sungai (DAS) Kawanoa merupakan daerah
pedataran karena terletak di wilayah pantai selatan Pulau Seram yang mempunyai
ketinggian maksimum +15 mdpl. Kemiringan dasar Sungai Kobi di lokasi pekerjaan
semuanya relatif landai yaitu berkisar antara 0,02%-0,06%. Sebagaimana telah dijelaskan
dimuka bahwa Kabupaten Maluku Tengah merupakan bagian Pulau Seram yang bergunung
dan berbukit-bukit.
Didalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah ini mengalir 144 buah sungai, dimana 87 buah
sungai mengalir melalui Kecamatan Seram Timur dan Amahai, dan 27 sungai lainnya
mengalir diwilayah Seram bagian Utara, dimana dipisahkan oleh “Morphological Water
Devided” (batas pemisah air secara morfologis) yang membagi wilayah ini kedalam 2 (dua)
“Catchment Area” atau wilayah tangkapan hujan yang sangat luas.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-4

2.5

KONDISI GEOLOGI DAN GEOMORFOLOGI

2.5.1

KONDISI GEOLOGI

Secara fisiografi wilayah Kepulauan Maluku terbentuk oleh tumbukan 3 (tiga) lempeng
utama, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Eurasia, dengan tipe
penunjaman,

membentuk

busur

vulkanis

dan

busur

non

vulkanis,

yang

keduanya

melengkung ke barat. Busur vulkanis ditempati oleh gugusan pulau bergunung api, baik
gunung api tersier maupun kwarter, sedangkan busur non vulkanis tersusun oleh berbagai
macam batuan yang tidak ikut masuk ke dalam bumi pada waktu penunjaman atau sering
disebut baji melange. Batuan pada busur non vulkanis tersusun oleh batu gamping, sekis,
batu sabak (graywacke), batu pasir dan lempung. Kepulauan Banda hingga Pulau Ambon
menempati busur vulkanis, sedangkan busur non vulkanis ditempati oleh pulau-pulau
terselatan, Kepulauan Kai, Pulau Seram dan Pulau Buru. Proses tektonis menyebabkan
tejadinya beberapa sesar utama dengan pola memanjang pulau, sedangkan sesar sekunder
dapat memotong atau sejajar sesar utama, membentuk beberapa lembah, sungai,
perbukitan dan pegunungan blok. Secara umum, kondisi geologi Kabupaten Maluku Tengah
terbentuk dari batuan penyusun meliputi batuan sedimen, batuan, vulkanis, batuan
terobosan, dan batuan hasil proses tektonis.
Pulau Seram memiliki dataran dengan genesa yang berlainan. Dataran pantai utara Seram
terluas di Provinsi Maluku, terbentuk oleh proses fluvial, dengan relief datar hingga landai.
Lebar dataran maksimal mencapai 20 km, terdapat di selatan Negeri Pasahari. Relief
berbukit hingga bergunung di pulau Seram didominasi oleh batu gamping, sekis dan batu
pasir kuarsa, Pulau Seram mempunyai ketinggian dari 0 - 3.027 mdpl (puncak gunung
Binaiya).
Sesuai dengan keberadaan Pulau Seram dijalur lingkaran Api Pasifik yang mengalami
tekanan kompresional lateral dan pengangkatan secara vertikal, maka sesuai kemampuan
peta Geologi (Lembar Masohi, Maluku P3G 1993), Kabupaten Maluku Tengah di susun oleh
berbagai unsur struktur Geologi sebagai berikut :

1.

Perlipatannerupa Antiklin dan Sinklin yang melibatkan formasi Manusela, berarah Timur
– Barat;

2.

Patahan Anjak (Thrust Fault) yang mengontrol bagian inti (Tengah) Kabupaten Maluku
Tengah melibatkan Komplek Tehorn, Komplek Saku, Formasi

Kanikeh, Komplek

Taunusa, dan formasi Wahai, juga berarah Timur – Barat dan melengkung Cembung ke
Utara;

3.

Patahan / Sesar Mendatar Tenggara – Baratlaut, dan Timurlaut – Baratdaya, melibatkan
komplek Taunusa, komplek Tehoru, Komplek Sahu dan seluruh formasi lainnya dari
Umur Perm – Tersier Akhir.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-5

2.5.2

KONDISI GEOMORFOLOGI

Struktur geomorfologi di Pulau Seram, Ambon, Banda dan sekitarnya dapat dibedakan atas
struktur: vulkan, horizontal, lipatan, dan patahan, sedangkan batuan utama terdiri atas
batuan vulkanis, terobosan, gamping, sekis, dan aluvium. Tanah yang berkembang di
Kabupaten Maluku Tengah menurut Lembaga Penelitian Tanah Bogor, terdiri atas jenis
organosol, aluvial, renzina, grumusol, podsolik dan tanah kompleks. Ditinjau dari distribusi
tanah dengan tingkat kesuburannya, kecamatan Seram Utara mempunyai tanah yang subur.
Secara garis besar, Pulau Seram didominasi oleh jenis tanah yang kurang subur, yaitu
podsolik coklat kelabu (23,80%) dan podsolik merah kuning (11,46%).
Satuan Geomorfologi yang terdiri atas :

1.

Satuan Geomorfologi Pegunungan dan Perbukitan Lipat-lipatan, yang menempati bagian
barat dan memanjang ke Timur dari inti P. Seram pada Kabupaten Maluku Tengah (60%
luas wilayah). Yang disusun batuan sedimen dan batuan metamorfosa/malihan yang
terlipat dan terpatahkan sangat kuat/intensif. Kelurusan bukit yang terjal dan curam
dikontrol oleh sesar-sesar Anjak berarah Timur - Barat, dan ditutupi oleh vegetasi yang
sangat lebat;

2.

Satuan Geomorfologi Perbukitan/pegunungan Homoklin yang tersebar dibagian selatan
dan utara Kab. Maluku Tengah disusun batuan sedimen sayap lipatan (30% luas
wilayah), merupakan pegunungan lereng yang cenderung melandai ke Utara dan
Selatan;

3.

Satuan Geomorfologi Dataran pantai dan aluvial, yang terdapat pada sepanjang pesisir
pantai dan bantaran sungai, serta membentuk delta dan tanjung

yang menjorok ke

arah laut. Satuan ini disusun oleh endapan sungai dan rawa pantai (10% dari seluruh
luas wilayah).

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-6

Sumber :

4)

Peta Geologi Lembar Masohi, Maluku oleh H. Z. Abidin 1933

Gambar 2. 3 Peta geologi Kabupaten Maluku Tengah.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-7

2.6

KONDISI HIDROKLIMATOLOGI

Daerah pekerjaan didominasi oleh curah hujan yang relatif tinggi, yang ditunjukkan dengan
kondisi vegetasi hutan yang rapat dan tumbuh subur. terletak pada di wilayah ini terbentuk
tipe iklim hutan hujan tropis dan iklim musim, dengan curah hujan rata-rata tahunan yang
tinggi. Seperti wilayah Indonesia lainnya, di wilayah ini hanya terdapat 2 musim dalam
setahun, yaitu musim penghujan yang dimulai pada bulan Oktober, dan musim kemarau
yang dimulai pada bulan April, dengan bulan basah lebih lama dibanding dengan bulan
kering. Kabupaten Maluku Tengah terletak antara Laut Pasifik dengan Laut Banda, sehingga
sering terjadi pusaran angin dan arus laut, maka pada saat musim penghujan sering tejadi
badai hujan (storm), yang sangat mernungkinkan terjadinya banjir besar.
Berdasarkan Peta Isohyet (Direktoral Jenderal Cipta Karya, 1996), curah hujan rata-rata
tahunan di Pulau Seram dan sekitarnya berkisar antara 2000-4000 mm. Curah hujan
tertinggi (>4000 mm/tahun) terkonsentrasi di jalur perbukitan bagian tengah Pulau Seram,
di sekitar Tehoru. Berdasarkan klasifikasi Oldeman, zona agroklimat di Kabupaten Maluku
Tengah dapat dikelompokkan berdasarkan kondisi fisiografinya, yaitu: (a) pada satuan
dataran rendah dengan ketinggian <500 mdpl, temperatur udara berkisar antara 25.8"27.2"C, curah hujan antara 1.000-4.500 mm/tahun, hujan tersebar merata, jumlah bulan
basah antara 3-9 bulan basah per tahun; (b) pada satuan dataran tinggi dengan ketinggian
>500 mdpl, temperatur udara rerata 22"C, curah hujan antara 3.000-4.000 mm/tahun, dan
>9 bulan basah. Iklim di Kabupaten Maluku Tengah termasuk iklim laut tropis. Musim
kemarau dimulai antara bulan April sampai Mei, dan memuncak pada bulan Juni sampai
Agustus. Musim hujan dimulai pada bulan November atau Desember dengan angin barat dan
barat laut yang berubah-ubah. Peralihan musim atau musim pancaroba terjadi pada bulan
April dan Oktober. Rerata curah hujan selama 10 tahun terakhir sebesar 2.904 mm/tahun,
dan jumlah hari hujan rata-rata 231 hari/tahun. Curah hujan bulanan tertinggi terjadi pada
bulan Mei dengan rata-rata 584 mm/ bulan dalam 23 hari hujan. Curah hujan terendah
terjadi pada bulan agustus dengan rata-rata 47 mm/tahun dalam 16 hari hujan.

2.7

KONDISI PERSUNGAIAN

Berdasarkan luas daerah aliran sungai (DAS), di Kabupaten Maluku Tengah dapat
dikelompokkan ke dalam 2 (dua) sistem sungai berdasar kondisi pulaunya, yaitu sistem
sungai Pulau Seram, dan sistem sungai pulau-pulau kecil, meliputi : Haruku, Kecamatan teon
Nila Serua, Saparua, Salahutu, Leihitu, Nusa Laut, dan Banda. Sistem sungai besar terdapat
di Pulau Seram, yang dibatasi oleh igir pegunungan di bagian tengah, membentang dari
Tanjung Sial di Seram Barat hingga sebelah utara Gule-Gule di Seram Timur, yang
memisahkan sistem sungai bagian utara dan sistem sungai bagian selatan Pulau Seram.
Pada umumnya sungai-sungai yang terdapat di Pulau Seram, baik sungai besar maupun
kecil, relative bersifat perenial, artinya mengalir sepanjang tahun, walaupun pada musim

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-8

kemarau mengalami penurunan debit aliran. Di pulau Seram bagian tengah yang termasuk
wilayah Kabupaten Maluku Tengah, water devider bergeser ke bagian selatan, sehingga
daerah aliran sungai di bagian utara lebih luas.
Sistem sungai yang berkembang di bagian utara adalah DAS Toloaran, Kua, Tolohatala, Moa,
Isal, Sarupu, Samal, dan Kobi, serta beberapa sistem sungai kecil yang banyak terdapat di
wilayah utara. Sistim sungai yang relatif besar berkembang di bagian selatan hanya ada 2
yaitu: DAS Kua dan Tolohatala. Sistem sungai di Seram bagian tengah berhulu di Gunung
Kobipoto, Pegunungan Murkele Kecil, Pegunungan Manusela, dan Gunung Masnabem.
Berdasarkan hasil pengamatan atas sistem percabangan sungai, luas daerah aliran,
morfometri saluran, kondisi muara dan debit aliran, di Pulau Seram yang masuk wilayah
Kabupaten Maluku Tengah, dan pulau-pulau kecil lainnya, terdapat 1 (satu) sungai besar,
yaitu: sungai Ruatan, dan 16 (enam belas) sistem sungai kecil hingga sedang, yang dapat
dikatakan mengalir sepanjang tahun (perenial), yaitu Kawa, Pia, Mala, Ela, Toloherela, Kua,
Toloaran, Mual, Isal, Sarupu, Samal, Kobi, Hila, Salahutu, Haruku, dan Nusa Laut. Sistem
sungai- sungai kecil di Pulau Haruku, TNS, Saparua, Salahutu, Leihitu,
Banda umumnya merupakan sungai dengan aliran tunggal

Nusa Laut, dan

atau sedikit percabangan,

panjang alur relatif pendek dan lurus, serta daerah aliran yang sempit.
Berdasarkan peta rupa bumi skala 1 : 25.000 Daerah Aliran Sungai (DAS) Kawanoa
berbentuk memanjang yang mengalir dari arah Utara ke Selatan, dicirikan dengan daerah
berupa dataran rendah. Sungai Kobi ini bermuara di Laut Banda.
Sistem Sungai Kobi ini merupakan saluran pembuang dari Daerah pegunungan Minih,
gunung Manihu, gunung Lapopule, gunung Nakubata, dan gunung-gunung lainnya yang
berada di Maluku Tengah. Peta Sistem Sungai Kobi diperlihatkan pada Gambar 2.4 dan
Gambar 2.5.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-9

Tabel 2. 1 Distribusi Sungai Per Kecamatan di Wilayah Kabupaten Maluku Tengah.

Kecamatan
Seram Utara

Amahai dan
Kota Masohi

Tehoru
TNS
Saparua
P. Haruku
Salahutu
Leihitu

Sumber :

3)

Nama Sungai
Sungai Wahai Besar, Toloaran, Minai, Isal, Sarupu, Siatele, Samal, Kobi
I & II, Loping, Boti, Musala, Namto, Akebobo, Kua, Batukapira, Moa,
Salawi, Tolohatala, Saka, Sapalewa, Musa, Wailulu, Herlau, Karlutu,
Latea, Sopola.
Sungai Nanie, Sanahu, Pupukala, Mamua, Amelo, Epe, Omo, Ina,
Mala, Kala, Puty, Uwe, Papa, Aleo, Ruata, Noa, Rano, Haruru, Ara,
Kokolono, Imolo, Mumo, Ulano, Hasamalano, Salari, Mondoano,
Musio, Afaito, Hiapariu, Hatueno, Kele, Napara, Unama, Laurisa, Pia,
Isa, Yon, Uku, Tala, Upa, Nama, Tuton, Putih, Lusin, Yahalai, dan
Lateri.
Sungai Yala,Kakau, Yoi, Nama, Misa, Waya, Salolo, Hina, Nula,
Yapane, Supulesy, Simamole, Tuny, Kawa, Nua, Makariki, Lua,
Sapoles, Putih, Kaba.
Sungai Pia, Tonetana, Haruru, Kusi, Noa.
Sungai Potang-potang, Ulono Sisil, Ila, Kalapory, Walhase.
Sungai Marakee, Upa, Lapa, Yira, Lompa.
Sungai Wae Tatiri, Yari, Salaka, Rutung, Lasai, Atua.
Sungai Ili, Sula, Simo, Ura, Salak, Saket, Latu, Walong, Wakal, Mamua,
Toma, Tahoka, Kaitetu, Seit, Walalwa, Ela, Mui, Matila, Sea, Kulelu,
Pula, Larike, Tapi, Alang Lama, Namakali, Liliboi, Hatue.
Total Jumlah

Jumlah
28

47

20
5
6
5
6
27
144

Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor : 395/KPTS/M/2012 Tentang
Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ambon Seram

Tabel tersebut menggambarkan keberadaan 144 buah sungai yang dapat digunakan
masyarakat pada wilayah Kabupaten Maluku Tengah sebagai sumber air bersih maupun
sebagai pengairan lahan pertanian. Jumlah sungai yang paling banyak ditemukan di Pulau
Seram, terutama di bagian Utara Pulau Seram, sedangkan di bagian Selatan jumlah sungai
terbanyak hanya ditemukan di Kecamatan Seram Timur. Berikut DAS yang ada di Kabupaten
Maluku Tengah dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-10

Gambar 2. 4 Peta sistem Sungai Kobi.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-11

DAS KOBI

A = 474,6 Km2
L = 47,34 Km

Gambar 2. 5 Peta sistem DAS Kobi.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-12

Tabel 2. 2 Nama dan luas DAS di WS Ambon Seram.

Sumber :

Pola DAS WS Ambon Seram.

5)

Tingginya jumlah sungai yang terdistribusi di bagian Utara Pulau Seram merupakan kondisi
yang terbentuk karena pembentukan topografi

lahan darat yang cenderung berbentuk V

seperti pada Gambar 2.6, dan Gambar 2.7. Sedangkan support massa air tawar yang
memasuki wilayah lembah (yang berbentuk V) ini karena tingginya tutupan vegetasi pada
wilayah itu, sehingga fungsi tangkapan air masih tetap berjalan. Walaupun demikian, telah
banyak lahan hutan mengalami pembukaan, terutama untuk aktifitas HPH, HTI, dll.
Rumusan dasar sistem karakterisasi tingkat Sub DAS Kobi disusun berdasarkan alur pikir
seperti pada Gambar 2.8. Sifat alami DAS yang relatif tidak berubah akan memberikan
karakteristik dasar / alami Sub DAS yang merupakan ciri khas dari Sub DAS. Dengan adanya
intervensi manusia yang berupa manajemen terhadap sumber daya alam dan DAS, terutama
masukan teknologi, akan memberikan karakter yang ada pada saat tersebut atau disebut
karakteristik aktual. Dapat dikatakan bahwa karakteristik aktual adalah karakteristik dasar
ditambah masukan manjemen. Hasil penilaian terhadap karakter DAS dapat memberikan
justifikasi terhadap karakter kerentanan dan potensi Sub DAS. Kerentanan menunjukkan
mudahnya terkena degradasi, dan potensi merupakan kemampuan atau kekuatan sumber
daya

Sub

DAS

Laporan Pendahuluan

yang

mempunyai

kemungkinan

untuk

dapat

dikembangkan.

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-13

Sumber :

5)

Keputusan Presiden No. 12 th 2012 Tentang Penetapan Wilayah Sungai.
Gambar 2. 6 Peta WS Ambon Seram

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-14

Sumber: 2)RTRW Bappeda Kabupaten Maluku Tengah 2008-2028.
Gambar 2. 7 Peta resiko banjir Kabupaten Maluku Tengah.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-15

Sumber : 6)Sidik Cepat Degradasi SUB DAS
Gambar 2. 8 Faktor dasar rumusan karakterisasi Sub DAS.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-16

Sistem penilaian dalam formulasi sistem karakterisasi tingkat Sub DAS yang disusun untuk
menyatakan tingkat kerentanan dapat digunakan untuk menilai tingkat degradasi suatu Sub
DAS, yang kemudian digunakan sebagai basis perencanaan pengelolaan. Degradasi, yang
diukur dari kerentanan suatu Sub DAS mencakup aspek/komponen: (1) banjir dan daerah
rawan banjir, (2) kekeringan, (3) kekritisan lahan, (4) tanah longsor, dan (5) sosial ekonomi.
Formulasi potensi tidak berbeda dengan formulasi kerentanan, dimana nilai kategori yang
membedakannya yakni pada nilai kategori tinggi berarti kerentanan, sebaliknya pada nilai
kategori rendah menunjukkan potensi. Setiap aspek karakteristik Sub DAS dibedakan antara
sifat alami dan sifat dari hasil pengelolaan (manajemen) sebagai bentuk intervensi manusia
terhadap sumber daya alam. Pemilahan demikian untuk membantu dalam melakukan
analisis masalah yang timbul sehingga diperoleh dasar pendekatan pengelolaan Sub DAS
yang lebih rasional. Masing-masing parameter penyusun setiap komponen/aspek tersebut
selanjutnya diklasifikasi dalam 5 (lima) besaran yang dinyatakan dalam ketegori ‘tinggi’ –
‘agak tinggi’ – ‘sedang’ – ‘agak rendah’ – ‘rendah’, dimana kategori ‘rendah’ menunjukkan
kondisi ‘tidak rentan’ dan kategori ‘tinggi’ menunjukkan kondisi ‘sangat rentan’ terhadap
komponen yang dilihat. Setiap parameter dalam komponen/aspek diberi bobot berdasarkan
pertimbangan besarnya peran dalam aspek tersebut.
Kesimpulan dari hasil karakteristik DAS yang dilakukan dengan metode Sidik Cepat dan studi
terdahulu menurut RTRW dan RTPB didefinisikan bahwa DAS Kobi dikategorikan ‘sedang’
terhadap banjir.

2.8

KONDISI TANAH DAN BATUAN

Struktur tanah yang terdapat pada lokasi perencanaan cenderung serupa antara satu dengan
yang lain, hal ini dikarenakan kondisi geografis yang tidak berbeda secara signifikan.
Struktur tanah dapat diidentifikasi berdasarkan jenis vegetasi yang dapat hidup pada wilayah
ini, mengingat bahwa kontur lokasi perencanaan yang merupakan indikasi tekstur ketinggian
wilayah lebih mempunyai tingkat ketepatan dalam menentukan jenis vegetasi. Sampai
dengan saat ini ditemukan 7 jenis karakteristik tanah yang berbeda, tanah tersebut
merupakan jenis tanah yang dikelompokkan berdasarkan jenis vegetasi serta lokasi,
sebagaimana terlihat dalam penjelasan berikut :

1.

Regosol
Tanah ini memiliki solum dalam, dengan tekstur sedang, dan berdrainase sedang sampai
baik. Tanah ini berasosiasi dengan jenis-jenis tanah aluvial, gleisol dan kambisol.
Vegetasi yang ditemukan pada jenis tanah ini adalah tanaman pertanian dominasi
kelapa, tanaman campuran, vegetasi khusus daerah pantai seperti ketapang, waru dan
jenis-jenis Pescapprae.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-17

2.

Aluvial
Tanah ini memiliki solum sedang sampai dalam, dengan tekstur sedang dan berdrainase
buruk. Jenis tanah ini berasosiasi dengan jenis-jenis regosol, gleisol dan kambisol.
Vegetasi umumnya disominasi oleh tanaman pertanian dominasi kelapa dan tanaman
campuran.

3.

Gleisol
Tanah ini memiliki solum sedang sampai dalam, dengan tekstur sedang dan berdrainase
buruk, jenis tanah ini berasosiasi dengan jenis-jenis tanah regosol, aluvial dan kambisol.
Vegetasi yang ditemukan selain pandan rawa, sagu dan mangrove, ditemukan pula
tanaman pertanian dominasi kelapa dan tanaman campuran (tanaman setahun

dan

tahunan) yang menyebar secara sporadis.

4.

Kambisol
Tanah ini memiliki solum sedang sampai dalam, bertekstur halus sampai agak kasar,
dan berdrainase baik. Tanah ini berasosiasi dengan jenis tanah regosol, aluvial, litosol,
brunizem dan podsolik. Vegetasi yang ditemukan adalah tanaman pertanian dominasi
kelapa, tanaman campuran, tanaman tahunan, kebun, ladang, hutan primer dan
sekunder.

5.

Rensina
Tanah ini memiliki solum dangkal sampai sedang dengan tekstur sedang sampai halus
dan berdrainase baik, berasosiasi dengan jenis-jenis tanah litosol, kambisol, brunizem
dan podsolik. Vegetasi yang ditemukan adalah hutan sekunder, primer dan tanaman
campuran.

6.

Brunizem
Tanah ini memiliki solum tanah dalam sampai sangat dalam, dengan tekstur halus dan
berdrainase baik. Umumnya memilki kejenuhan basa 50 % atau lebih. Tanah ini
berasosiasi dengan jenis-jenis tanah litosol, rensina, kambisol dan podsolik. Vegetasi
yang ditemukan adalah tanaman pertanian, hutan sekunder dan primer.

7.

Podsolik
Tanah ini memiliki solum tanah dalam sampai sangat dalam, dengan tekstur halus dan
berdrainase baik. Tanah ini berasosiasi dengan jenis-jenis tanah kambisl, litosol,
brunizem. Vegetasi yang ditemukan adalah tanaman pertanian, tanaman campuran
(tanaman tahunan dan ladang), hutan sekunder dan primer.

Satuan batuan penyusun di Kabupaten Maluku Tengah meliputi :

1.

Komplek Taunusa batuan metamorf/melihat berderajat amphibolit (sekis genes, kuarsit,
tillit dan marmer pualam yang berumur perem (Paleozoikun) tersebar di tiga tempat
yaitu Taunusa, Silotabatu, dan Gunung Kobifoto, yang terpotong potong oleh patahan;

2.

Komplek Toheru berupa batuan metamorf/malihan berfasies sekis hijau (Fillit, batu
saba, sekis psamit, dan metagamping/termamerkan, yang berumur trias bawah

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-18

(Mesozoik Awal), tersebar sangat luas membujur kearah Timur – Barat dibagian selatan
Kabupaten Maluku Tengah;

3.

Komplek

Saku

berupa

batusabak,

metagrewake,

metaarkose,

batugamping

dan

konglomerat, yang berumur Trias Atas (mesozoik Awal Bagian Atas), tersebar mengikuti
pola persebaran Komplek Tehoru pada bagian Tengah Kabupaten Maluku Tengah dari
Teluk Taluti;

4.

Formasi Kanikeh berupa batuan sedimen tipe flish/turbidit (grewake, arkosa, batulanan,
serpih, rijang, dan konglomerat) berumur Jura (Mesozoikum Tengah) tersebar pada
wilayah Timur Tengah, dengan kontak sebagian berupa struktur patahan;

5.

Formasi Manusela berupa batugamping olitan, berumur Jura (Mesozoikum Tengah),
yang tersebar meluas dibagian Tengah bersifat lokalan di Timur dan Barat Kabupaten
Maluku Tengah;

6.

Komplek Batuan Beku Ultrabasa – Ultramafik (Gabrro plagioklas, Gabbro hornblenda,
Serpentinit, horzbugit, duit dan Lherzoit), tersebar secara lokalan sangat terbatas
dibagian Barat Kabupaten Maluku Tengah;

7.

Formasi

Sawai

berupa

batugamping

Kalsilutit,

serpih

merah,

dan

rijang

yang

mengandung radolaria tersebar secara lokalan dibagaian Timur dan Utara bagian Tengah
serta Utara bagian Barat, berumur Kapur (Mesozoikum Atas);

8.

Formasi hatuaolo berupa serpih pasiran, napal, dan rijang, berumur Eosen – paleosen
(tersier Awal) / (Kenozikum Awal), tersebar lokalan di bagian Timur Kabupaten Maluku
Tengah;

9.

Formasi Lisabata berupa batugamping, batupasir, napal, dan serpih yang berumur
Oligosen – miosen (Tersier tengah / Kenozoikum Tengah);

10. Komplek Salas berupa bongkah-bongkah berbagai jenis batuan sedimen, beku, dan
malihan di dalam massa dasar lempung berstruktur seperti sisik ikan dengan terdiri dari
konglomerat,

grewake,

batugamping,

rijang,

lanau,

batulempung,

Serpentinit,

piroksenit, denit, gabbro, diabas, diorit, sekis, genes, dan fillit merupakan batuan
bancah

atau

"Melange

tectonic",

yang

berumur

Miosen

Pliosen

(Tersier

Atas/Kenozoikum tengah), dan tersebar sedikit memanjang dibagian Timur Tengah
Utara Kabupaten Maluku Tengah.

11. Formasi Wahai berupa Napal, batugamping pasiran, batupasir, dan napal tutan yang
berumur Pliosen Awal (Tersier Atas/Kenozikum Tengah), dan tersebar di wilayah Timur
bagian Utara Kabupaten Maluku Tengah;

12. Batuan Gunung Api Ambon berupa lava, breksi gunung api, breksi tuf, dan tuf, berumur
Pliosen Atas (Tersier Atas/Kenozoik Tengah bagian Atas), yang tersebar di Pulau Nusa
laut, P. Saparua, Timur dan Barat, serta P. Haruku Barat bagian Selatan.

13. Formasi Fufa terdiri atas batu pasir, lanau, napal, lempung, konglomerat, batugamping,
dan gambut, berumur Plio – pleistosen (Tersier Atas – Kuarter Awal / Kenozikum Atas),
tersebar pada dataran pantai Utara (lebih luas) dan pantai selatan (relatif lebih sempit
penyebarannya);

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-19

14. Endapan teras berupa konglomerat, rijang merah,

sekis, fillit, batupasir, lempung

pasiran lateritis, dan batugamping terumbu yang bersilang jari dengan batu gamping
koral (terumbu), berumur holosen (Kuarter Atas/Kenozikum Atas), tersebar di Teluk
Elputih dan lokalan di Pantai Utara Kabupaten Maluku Tengah;

15. Endapan Aluvium berupa lanau, pasir dan kerikil yang berumur Holosen Atas (Kuarter
Atas / Kenozoikum Atas), tersebar pada sungai dan pantai Utara serta pantai Selatan,
dimana

menyebar

Laporan Pendahuluan

meluas

di

wilayah

Utara

Kabupaten

Maluku

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

Tengah.

2-20

Sumber :

7)

http//google.petageologitehorukabupatenmalukutengah.co.id
Gambar 2. 9 Peta geologi Maluku Tengah.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-21

Rencana Kebijakan Pengembangan PKSP :
(1).

Penyediaaan prasarana
prasarana kota terpadu;

perkotaan

dengan

pendekatan

program

pembangunan

(2).

Peningkatan aksesibilitas ke wilayah nasional yang dilayani melalui pengembangan
jaringan transportasi laut dan udara;

(3).

Peningkatan wilayah perbatasan untuk menunjang kepentingan pertahanan keamanan
wilayah Provinsi Maluku serta integrasi nasional;

(4).

Peningkatan pembangunan prasarana dan sarana wilayah Provinsi untuk peluang
investasi.

(5).

Penataan ruang kota melalui perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian tata ruang
kota yang berbasis mitigasi bencana.

Rencana Kebijakan Pengembangan PKL :
(1).

Penyediaaan prasarana
prasarana kota terpadu;

(2).

Peningkatan aksesibilitas ke wilayah belakang yang dilayani melalui pengembangan
jaringan jalan darat dan laut.

(3).

Penataan ruang kota melalui perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian tata ruang
kota yang berbasis mitigasi bencana.
a.

perkotaan

dengan

pendekatan

program

pembangunan

Pada pola ruang, Kabupaten Maluku Tengah
Secara pola ruang, Kabupaten Maluku Tengah diperuntukan sebagai taman nasional
dan hutan lindung.

b.

Curah hujan Kabupaten Maluku Tengah
Curah hujan di Kabupaten Maluku Tengah dikategorikan bercurah hujan tahunan
2500-3000 mm di bagian utara sedangkan di bagian selatan lebih dari 3000 mm.

c.

Kesesuaian lahan Kabupaten Maluku Tengah
Kesesuaian lahan di Kabupaten Maluku Tengah adalah sebagai lahan kehutanan dan
perkebunan.

d.

Kawasan strategis Kabupaten Maluku Tengah
Pada peruntukan secar provinsi, Kabupaten Maluku Tengah dijadikan kawasan
strategis untuk kepentingan pertahanan dan keamanan.

e.

Kawasan lindung Kabupaten Maluku Tengah
Adapun pada penetapan kawasan lindung, Kabupaten Maluku Tengah diperuntukkan
sebagai kawasan yang seharusny lindung di daerah sebelah barat dan kawasan tidak
lindung disebelah timur, utara dan selatan.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-22

Sumber:8)RTRW Provinsi Maluku 2007-2027 (Bappeda Provinsi Maluku)
Gambar 2. 10 Peta Rencana Struktur Ruang Provinsi Maluku.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-23

Sumber:

8)

RTRW Provinsi Maluku 2007-2027 (Bappeda Provinsi Maluku)
Gambar 2. 11 Peta Curah Hujan Provinsi Maluku.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-24

Sumber:

8)

RTRW Provinsi Maluku 2007-2027 (Bappeda Provinsi Maluku)

Gambar 2. 12 Peta Kesesuaian Lahan Provinsi Maluku.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-25

Sumber:

8)

RTRW Provinsi Maluku 2007-2027 (Bappeda Provinsi Maluku)

Gambar 2. 13 Peta Kawasan Strategis Provinsi Maluku.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-26

Sumber :

8)

RTRW Provinsi Maluku 2007-2027 (Bappeda Provinsi Maluku)

Gambar 2. 14 Peta Kawasan Lindung Provinsi Maluku.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

2-27

BAB 3

Dasar Hukum dan Review
Kajian Lokasi Studi
Perencanaan
LAPORAN PENDAHULUAN

DED Pengendalian Banjir Dan Sedimen
Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, Kabupaten
Maluku Tengah

BAB III
DASAR HUKUM DAN REVIEW KAJIAN
LOKASI STUDI PERENCANAAN
3.1

DASAR HUKUM

Dasar hukum bagi landasan kajian ini adalah sebagai berikut ;
1.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

2.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sumber Daya Air.

3.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 tentang
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

4.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 1/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.

5.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 13/PRT/M/2006 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai Maluku.

6.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 2/PRT/M/2008 tentang Pedoman
Pelaksanaan

Kegiatan

Departemen

Pekerjaan

Umum

yang

merupakan

Kewenangan Pemerintah Dan Dilaksanakan Sendiri
7.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22/PRT/M/2009 tentang Pedoman
Teknis Dan Tatacara Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air

8.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 112/PMK.02/2012 tentang Petunjuk
Penyusunan

dan

Penelaahan

Rencana

Kerja

dan

Anggaran

Kementerian

Negara/Lembaga.

3.2

PRINSIP DAN KETENTUAN TEKNIS

Dalam merumuskan konsep perlu mengacu pada RTRW dan RDTR terkait. Serta
ketentuan teknis/pedoman yang berlaku.
Standar Teknis:
Standar Nasional Indonesia (SNI) :

SNI 03-1724-1989 :
Bangunan di Sungai

Tata

Cara

Perencanaan

Hidrologi

dan

Hidraulik

SNI 03-2414-1991 : Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka

SNI 03-2415-1991 : Metode Perhitungan Debit Banjir

SNI 03-2851-1991 : Tata Cara Perencanaan Teknis Bendung Penahan Sedimen

SNI 03-2819-1992 : Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka dengan
Alat Ukur Arus Tipe Baling-baling

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

untuk

3-1

SNI 03-2820-1992 : Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka Dengan
Pelampung Permukaan

SNI 03-2822-1992 : Metode Pembuatan Lengkung Debit dan Tabel Sungai/Saluran
dengan Analisis Grafis

SNI 03-2830-1992 : Metode Perhitungan Tinggi Muka Air Sungai dengan Cara Pias
Berdasarkan Rumus Manning

SNI 03-3414-1994 : Metode Pengambilan Contoh Muatan Sedimen Melayang di
Sungai dengan Cara Integrasi Kedalaman Berdasarkan Pembagian Debit

SNI 03-3444-1994 : Tata Cara Perhitungan Tinggi Muka Air Sungai Penamopang
Ganda dengan Cara Pias Berdasarkan Rumus Manning

SNI 03-3961-1995 : Metode Pengujian Kadar Sedimen Layang Secara Gravimetri
dengan Pengendapan

Pedoman Teknis :

Pd T-06-2004-A : Tentang peramalan debit aliran sungai

Pd T-02-2005-A : Analisis Daya Dukung tanah Pondasi Dangkal pd Bang. Air

Pd T-03.2-2005-A : Penyelidikan Geoteknik utk Pondasi Bang. Air Vol. 1, 2 dan 3

Pd T-03-2005-A : Pedoman Penyelidikan Geoteknik utk Pondasi Bang. air Vol. 1

Pd T-04-2005-A : Perencanaan Jeti Tipe rubble mound utk penanggulangan
pentupuan muara sungai olh sedimen

Pd T-07-2004-A : Perbaikan Muara Sungai dengan Jeti

Pd T-10-2004-A : Pengukuran dan Pemetaan Teristris Sungai

Pd T-11-2004-A : Pemeliharaan Bangunan Persungaian

Pd T-12-2004-A : Perencanaan Teknis Bendung Pengendali Dasar Sungai

Pd T-14-2004-A : Analisis Stabilitas Bendungan Tipe Urugan akibat beban Gempa

Pd T-15-2004-A : Perenc. Hidraulik, O&P Bang. Penangkap Pasir Tipe PUSAIR

Pd T-18-2004-A : Pembuatan peta bahaya akibat aliran debris

Pd T-22-2004-A : Pengisian kekosongan data hujan dengan metode korelasi
distandarisasi nonlinier bertingkat

Pd T-23-2004-A : Peramalan Banjir dan Peringatan Dini

3.3

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI BIDANG SUMBER DAYA AIR
DAN

PERATURAN TERKAIT LAINNYA

Beberapa peraturan perundang-undangan di bidang sumber daya air dan peraturan
terkait lainnya yang digunakan sebagai dasar penyusunan Pola Pengelolaan Sumber
Daya Air antara lain:
1.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

2.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati.

3.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-2

4.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air.

5.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan.

6.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional.

7.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah.

8.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan
Keuangan antara Pusat dan Daerah.

9.

Undang-Undang

Republik

Indonesia

Nomor

24

Tahun

2007

tentang

Penanggulangan Bencana.
10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang.
11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sampah.
13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara.
14. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
15. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.
16. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan.
17. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa.
18. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan.
19. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air.
20. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan.
21. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah.
22. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan.
23. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan.
Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-3

24. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum.
25. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi.
26. Peraturan

Pemerintah

Pemerintahan

Nomor

Antara,

38

Tahun

Pemerintah,

2007

tentang

Pemerintahan

Pembagian

Daerah

Urusan

Provinsi,

Dan

Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.
27. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana
Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan.
28. Peraturan

Pemerintah

Nomor

21

Tahun

2008

tentang

Penyelenggaraan

Penanggulangan Bencana.
29. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional.
30. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya
Air.
31. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah.
32. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai.
33. Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2008 tentang Dewan Sumber Daya Air.
34. Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2011 tentang Kebijakan Nasional Pengelolaan
Sumber Daya Air.
35. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
36. Peraturan

Menteri

Pekerjaan

Umum

Nomor

63/PRT/M/1993

tentang

Garis

Sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas
Sungai.
37. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 67/PRT/M/1993 tentang Panitia Tata
Pengaturan Air Provinsi Daerah Tingkat I.
38. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2007 tentang Pedoman
Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Irigasi Partisipatif.
39. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 32/PRT/M/2007 tentang Pedoman
Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi.
40. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 04/PRT/M/2008 tentang Pedoman
Pembentukan Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada Tingkat
Provinsi, Kabupaten/Kota dan Wilayah Sungai.
41. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22/PRT/M/2009 Tentang Pedoman
Teknis dan Tata Cara Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air.
Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-4

42. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 390/PRT/M/2007 tentang Penetapan
Status Daerah Irigasi Yang Pengelolaannya Menjadi Wewenang Dan Tanggung
Jawab Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
43. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2010 tentang Pedoman
Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Reklamasi Rawa Pasang Surut.
44. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06/PRT/M/2011 tentang Pedoman
Penggunaan Sumber Daya Air.
45. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2011 tentang Kebijakan
Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air.
46. RTRW Kabupaten Maluku Tengah 2011-2031 tentang pedoman Pembangunan di
Kabupaten Maluku Tengah.

3.4

KEBIJAKAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

3.4.1

Undang-Undang No. 7 Tahun 2004

Ketentuan umum pengendalian daya rusak air adalah upaya untuk mencegah,
menanggulangi, dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh
daya rusak air yang dapat merugikan kehidupan.
Pasal 51

1.

Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya
pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan.

2.

Pengendalian daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan
pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang
disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam pola pengelolaan sumber daya air.

3.

Pengendalian daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan
dengan melibatkan masyarakat.

4.

Pengendalian daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi
tanggung jawab Pemerintah, pemerintah daerah, serta pengelola sumber daya air
wilayah sungai dan masyarakat.

Pasal 53

1.

Pencegahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) dilakukan baik melalui
kegiatan fisik dan/atau nonfisik maupun melalui penyeimbangan hulu dan hilir
wilayah sungai.

2.

Pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) lebih diutamakan pada kegiatan
nonfisik.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-5

3.

Pilihan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh pengelola
sumber daya air yang bersangkutan.

4.

Ketentuan mengenai pencegahan kerusakan dan bencana akibat daya rusak air
diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 54

1.

Penanggulangan daya rusak air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1)
dilakukan dengan mitigasi bencana.

2.

Penanggulangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara terpadu
oleh

instansi

terkait

dan

masyarakat

melalui

suatu

badan

koordinasi

penanggulangan bencana pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.

3.

Ketentuan mengenai penanggulangan kerusakan dan bencana akibat daya rusak air
diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 57

1.

Pemulihan daya rusak air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) dilakukan
dengan memulihkan kembali fungsi lingkungan hidup dan sistem prasarana sumber
daya air.

2.

Pemulihan sebagaimana dimaksud

pada

ayat

(1) menjadi

tanggung

jawab

Pemerintah, pemerintah daerah, pengelola sumber daya air, dan masyarakat.

3.

Ketentuan mengenai pemulihan daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 58

1.

Pengendalian daya rusak air dilakukan pada sungai, danau, waduk dan/atau
bendungan, rawa, cekungan air tanah, sistem irigasi, air hujan, dan air laut yang
berada di darat.

2.

Ketentuan mengenai pengendalian daya rusak air pada sungai, danau, waduk
dan/atau bendungan, rawa, cekungan air tanah, sistem irigasi, air hujan, dan air
laut yang berada di darat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut
dengan peraturan pemerintah.

3.4.2

Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2008

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sumber
Daya Air Bab VII tentang Pengendalian Daya Rusak Air dapat dilihat sebagai berikut.
Bagian Kesatu: Umum
Pasal 85

1.

Pengendalian daya rusak air meliputi upaya:

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-6

a. pencegahan sebelum terjadi bencana;
b. penanggulangan pada saat terjadi bencana; dan
c. pemulihan akibat bencana.
2.

Upaya penanggulangan dan pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b dan huruf c dilakukan berdasarkan rencana pengendalian daya rusak air yang
disusun secara terpadu, menyeluruh, dan terkoordinasi.

3.

Pengendalian daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diselenggarakan
oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan wewenang dan
tanggung jawabnya dengan melibatkan peran masyarakat.

4.

Ketentuan mengenai pengendalian daya rusak air yang terkait dengan air hujan, air
permukaan, air tanah, dan air laut yang berada di darat diatur dalam peraturan
pemerintah tersendiri.

Bagian Kedua: Pencegahan Bencana Akibat Daya Rusak Air
Pasal 86

1.

Pencegahan sebagaimana dimaksud pada Pasal 85 ayat (1) huruf a dilakukan, baik
melalui kegiatan fisik dan/atau nonfisik maupun penyeimbangan hulu dan hilir
wilayah sungai.

2.

Pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) lebih diutamakan pada kegiatan
nonfisik.

3.

Kegiatan fisik dalam rangka pencegahan bencana dilakukan melalui pembangunan
sarana dan prasarana yang ditujukan untuk mencegah kerusakan dan/atau bencana
yang diakibatkan oleh daya rusak air.

4.

Kegiatan nonfisik dalam rangka pencegahan bencana dilakukan melalui pengaturan,
pembinaan, pengawasan, dan pengendalian.

5.

Penyeimbangan hulu-hilir dilakukan dengan mekanisme penataan ruang dan
pengoperasian

prasarana

sungai

sesuai

dengan

kesepakatan

para

pemilik

kepentingan.
Pasal 87

1.

Pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (4) meliputi:

a.

penetapan kawasan rawan bencana pada setiap wilayah sungai;

b.

penetapan sistem peringatan dini pada setiap wilayah sungai;

c.

penetapan prosedur operasi standar sarana dan prasarana pengendalian daya
rusak air; dan

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-7

penetapan prosedur operasi standar evakuasi korban bencana akibat daya

d.

rusak air.

2.

3.

Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (4) meliputi:

a.

penyebarluasan informasi dan penyuluhan; dan

b.

pelatihan tanggap darurat.

Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (4) meliputi:
pengawasan penggunaan lahan pada kawasan rawan bencana sesuai dengan

a.

tingkat kerawanan daerah yang bersangkutan; dan
pengawasan terhadap kondisi dan fungsi sarana dan prasarana pengendalian

b.

daya rusak air.

4.

Pengendalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (4) meliputi:
pengendalian penggunaan lahan pada kawasan rawan bencana sesuai dengan

a.

tingkat kerawanan daerah yang bersangkutan; dan
upaya pemindahan penduduk yang bermukim di kawasan rawan bencana.

b.
Pasal 88

1.

Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan wewenang dan tanggung
jawabnya menetapkan kawasan rawan bencana pada setiap wilayah sungai
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) huruf a.

2.

Kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kawasan
rawan:

a. banjir;
b. erosi dan sedimentasi;
c. longsor;
d. ambles;
e. perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi dan fisika air;
f.

kepunahan jenis tumbuhan dan/atau satwa; dan/atau

g. wabah penyakit.
3.

Kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibagi ke dalam
zona rawan bencana berdasarkan tingkat kerawanannya.

4.

Penetapan kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2),
dan ayat (3) dilaksanakan berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri atau
menteri terkait sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-8

5.

Kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi masukan
untuk penyusunan rencana tata ruang wilayah.

6.

Pemerintah daerah wajib mengendalikan pemanfaatan kawasan rawan bencana di
wilayahnya dengan melibatkan masyarakat.

Pasal 89

1.

Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan wewenang dan tanggung
jawabnya

menetapkan

sistem

peringatan

dini

pada

setiap

wilayah

sungai

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) huruf b.

2.

Peringatan dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pengelola
sumber daya air atau instansi terkait sesuai dengan wewenang dan tanggung
jawabnya.

3.

Sistem peringatan dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan
ditetapkan berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga
pemerintah nondepartemen.

Pasal 90

1.

Dalam hal tingkat kerawanan bencana akibat daya rusak air secara permanen
mengancam keselamatan jiwa, Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat
menetapkan kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 ayat
(1), tertutup bagi permukiman.

2.

Segala biaya yang timbul akibat penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
menjadi tanggung jawab Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.

Bagian Ketiga: Penanggulangan Daya Rusak Air
Pasal 93

1.

Penanggulangan daya rusak air dilakukan dengan kegiatan yang ditujukan untuk
meringankan penderitaan akibat bencana.

2.

Penanggulangan daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
penanggulangan kerusakan dan/atau bencana akibat daya rusak air.

3.

Penanggulangan kerusakan dan/atau bencana akibat daya rusak air sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh instansi terkait dan masyarakat.

4.

Pelaksanaan penanggulangan kerusakan dan/atau bencana akibat daya rusak air
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikoordinasikan oleh badan penanggulangan
bencana

nasional,

provinsi,

atau

kabupaten/kota

sesuai

dengan

peraturan

perundang-undangan.

5.

Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan wewenang dan tanggung
jawabnya menyusun dan menetapkan prosedur operasi lapangan penanggulangan

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-9

kerusakan dan/atau bencana akibat daya rusak air pada sumber air di wilayah
sungai.

6.

Penyusunan dan penetapan prosedur operasi lapangan penanggulangan kerusakan
dan/atau bencana akibat daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
dilakukan berdasarkan pedoman penanggulangan kerusakan dan/atau bencana
akibat daya rusak air yang ditetapkan oleh Menteri atau menteri terkait.

7.

Pemerintah dan/atau pemerintah sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya
menyosialisasikan prosedur operasi lapangan penanggulangan kerusakan dan/atau
bencana akibat daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (5) kepada
masyarakat.

Bagian Keempat: Pemulihan akibat Bencana
Pasal 94

1.

Pemulihan akibat bencana dilakukan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah
sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya melalui kegiatan rehabilitasi dan
rekonstruksi.

2.

Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditujukan untuk memulihkan fungsi lingkungan hidup serta sistem prasarana
sumber daya air.

3.

Pemulihan fungsi lingkungan hidup dan pemulihan sistem prasarana sumber daya
air sebagaimana dimaksud

pada

ayat

(2) diprioritaskan untuk pemenuhan

kebutuhan pokok sehari-hari.

3.4.3 Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011 Tentang Sungai
Ketentuan Umum
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:

1.

Sungai adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan
pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan
dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan.

2.

Danau paparan banjir adalah tampungan air alami yang merupakan bagian dari
sungai yang muka airnya terpengaruh langsung oleh muka air sungai.

3.

Dataran banjir adalah dataran di sepanjang kiri dan/atau kanan sungai yang
tergenang air pada saat banjir.

4.

Pengelolaan

sumber

daya

air

adalah

upaya

merencanakan,

melaksanakan,

memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air,
pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.
Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-10

5.

Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan
dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan,
dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke laut secara alami, yang batas
di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah
perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

6.

Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu
atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari
atau sama dengan 2.000 Km2 (dua ribu kilo meter persegi).

7.

Banjir adalah peristiwa meluapnya air sungai melebihi palung sungai.

8.

Bantaran sungai adalah ruang antara tepi palung sungai dan kaki tanggul sebelah
dalam yang terletak di kiri dan/atau kanan palung sungai.

9.

Garis sempadan adalah garis maya di kiri dan kanan palung sungai yang ditetapkan
sebagai batas perlindungan sungai.

Ruang Sungai
Pasal 5

1.

Sungai terdiri atas:

a. palung sungai; dan
b. sempadan sungai.
2.

Palung sungai dan sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
membentuk ruang sungai.

3.

Dalam hal kondisi topografi tertentu dan/atau banjir, ruang sungai dapat terhubung
dengan danau paparan banjir dan/atau dataran banjir.

4.

Palung sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berfungsi sebagai
ruang wadah air mengalir dan sebagai tempat berlangsungnya kehidupan ekosistem
sungai.

5.

Sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berfungsi sebagai
ruang penyangga antara ekosistem sungai dan daratan, agar fungsi sungai dan
kegiatan manusia tidak saling terganggu.

Pasal 6

1.

Palung sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a membentuk
jaringan pengaliran air, baik yang mengalir secara menerus maupun berkala.

2.

Palung sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan
topografi terendah alur sungai.

Pasal 7
Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-11

Dalam hal di dalam sempadan sungai terdapat tanggul untuk mengendalikan banjir,
ruang antara tepi palung sungai dan tepi dalam kaki tanggul merupakan bantaran
sungai.
Pasal 8

1.

Sempadan sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b meliputi
ruang di kiri dan kanan palung sungai di antara garis sempadan dan tepi palung
sungai untuk sungai tidak bertanggul, atau di antara garis sempadan dan tepi luar
kaki tanggul untuk sungai bertanggul.

2.

Garis sempadan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan pada:

a. sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan;
b. sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan;
c. sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan;
d. sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan;
e. sungai yang terpengaruh pasang air laut;
f.

danau paparan banjir; dan

g. mata air.
Pasal 9
Garis

sempadan

pada

sungai

tidak

bertanggul

di

dalam

kawasan

perkotaan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf a ditentukan:

a.

paling sedikit berjarak 10 m (sepuluh meter) dari tepi kiri dan kanan palung sungai
sepanjang alur sungai, dalam hal kedalaman sungai kurang dari atau sama dengan
3 m (tiga meter);

b.

paling sedikit berjarak 15 m (lima belas meter) dari tepi kiri dan kanan palung
sungai sepanjang alur sungai, dalam hal kedalaman sungai lebih dari 3 m (tiga
meter) sampai dengan 20 m (dua puluh meter); dan

c.

paling sedikit berjarak 30 m (tiga puluh meter) dari tepi kiri dan kanan palung
sungai sepanjang alur sungai, dalam hal kedalaman sungai lebih dari 20 m (dua
puluh meter).

Pasal 10

1.

Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 ayat (2) huruf b terdiri atas:
a.

sungai besar dengan luas DAS lebih besar dari 500 Km2 (lima ratus kilometer
persegi); dan

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-12

b.

sungai kecil dengan luas DAS kurang dari atau sama dengan 500 Km2 (lima
ratus kilometer persegi).

2.

Garis sempadan sungai besar tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditentukan paling sedikit berjarak 100
m (seratus meter) dari tepi kiri dan kanan palung sungai sepanjang alur sungai.

3.

Garis

sempadan

sungai

kecil

tidak

bertanggul

di

luar

kawasan

perkotaan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b ditentukan paling sedikit 50 m (lima
puluh meter) dari tepi kiri dan kanan palung sungai sepanjang alur sungai.
Pasal 11
Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 ayat (2) huruf c ditentukan paling sedikit berjarak 3 m (tiga meter) dari
tepi luar kaki tanggul sepanjang alur sungai.
Pasal 12
Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 ayat (2) huruf d ditentukan paling sedikit berjarak 5 m (lima meter) dari
tepi luar kaki tanggul sepanjang alur sungai.
Pasal 13
Penentuan garis sempadan yang terpengaruh pasang air laut sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 ayat (2) huruf e, dilakukan dengan cara yang sama dengan penentuan
garis sempadan sesuai Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 yang diukur dari tepi
muka air pasang rata-rata.
Pasal 14
Garis sempadan danau paparan banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2)
huruf f ditentukan mengelilingi danau paparan banjir paling sedikit berjarak 50 m (lima
puluh meter) dari tepi muka air tertinggi yang pernah terjadi.
Pasal 15
Garis sempadan mata air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf g
ditentukan mengelilingi mata air paling sedikit berjarak 200 m (dua ratus meter) dari
pusat mata air.
Pengelolaan Sungai (Bagian Kesatu: Umum)
Pasal 18

1.

Pengelolaan sungai meliputi:

a. konservasi sungai;
b. pengembangan sungai; dan
Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-13

c. pengendalian daya rusak air sungai.
2.

Pengelolaan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tahap:
a. penyusunan program dan kegiatan;
b. pelaksanaan kegiatan; dan
c. pemantauan dan evaluasi.

Pasal 19

1.

Pengelolaan sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 dilakukan oleh:
a.

Menteri, untuk sungai pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas
negara, dan wilayah sungai strategis nasional;

2.

b.

gubernur, untuk sungai pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; dan

c.

bupati/walikota, untuk sungai pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.

Pengelolaan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
melibatkan instansi teknis dan unsur masyarakat terkait.

3.

Pengelolaan sungai dilaksanakan berdasarkan norma, standar, pedoman, dan
kriteria yang ditetapkan oleh Menteri.

Pengelolaan Sungai (Bagian Keempat: Pengendalian Daya Rusak Air Sungai)
Pasal 34

1.

Pengendalian daya rusak air sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1)
huruf c dilakukan melalui pengelolaan resiko banjir.

2.

Pengelolaan resiko banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara
terpadu bersama pemilik kepentingan.

Pasal 35

1.

Pengelolaan resiko banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ditujukan untuk
mengurangi kerugian banjir.

2.

Pengelolaan resiko banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:
a. pengurangan resiko besaran banjir; dan
b. pengurangan resiko kerentanan banjir.

3.

Kegiatan pengurangan resiko banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan
berdasarkan rencana pengelolaan sumber daya air sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 36

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-14

1.

Pengurangan resiko besaran banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2)
huruf a dilakukan dengan membangun:
a. prasarana pengendali banjir; dan
b. prasarana pengendali aliran permukaan.

2.

Pembangunan prasarana pengendali banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a dilakukan dengan membuat:
a. peningkatan kapasitas sungai;
b. tanggul;
c. pelimpah banjir dan/atau pompa;
d. bendungan; dan
e. perbaikan drainase perkotaan.

3.

Pembangunan prasarana pengendali aliran permukaan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b dilakukan dengan membuat:
a. resapan air; dan
b. penampung banjir.

Pasal 37

1.

Resapan air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (3) huruf a dapat berupa
saluran, pipa berlubang, sumur, kolam resapan, dan bidang resapan sesuai dengan
kondisi tanah dan kedalaman muka air tanah.

2.

Dalam hal bidang resapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimanfaatkan
untuk keperluan lain, wajib menggunakan lapis penutup atau perkerasan lulus air.

Pasal 38

1.

Pembangunan penampung banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (3)
huruf b harus terhubung dengan sungai.

2.

Dalam hal penampung banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibangun di
atas hak atas tanah perorangan atau badan hukum, pelaksanaannya wajib
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
pertanahan.

Pasal 39

1.

Pembangunan prasarana yang berfungsi sebagai pengendali banjir sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) huruf a sampai dengan huruf d dilaksanakan oleh
Menteri, gubernur, dan/atau bupati/walikota sesuai kewenangannya.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-15

2.

Pembangunan prasarana yang berfungsi sebagai drainase kota sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) huruf e dilaksanakan oleh bupati/walikota.

Pasal 40

1.

Pembangunan prasarana pengendali aliran permukaan sebagaimana dimaksud
dalam

Pasal

36

ayat

(3)

dilaksanakan

oleh

Menteri,

gubernur,

dan/atau

bupati/walikota apabila pengendali aliran permukaan berfungsi sebagai pengendali
banjir.

2.

Pembangunan prasarana pengendali aliran permukaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 36 ayat (3) dilaksanakan oleh bupati/walikota apabila pengendali aliran
permukaan berfungsi sebagai drainase kota.

Pasal 41

1.

Pengurangan resiko kerentanan banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat
(2) huruf b dilakukan melalui pengelolaan dataran banjir.

2.

Pengelolaan dataran banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. penetapan batas dataran banjir:
b. penetapan zona peruntukan lahan sesuai resiko banjir;
c. pengawasan peruntukan lahan di dataran banjir;
d. persiapan menghadapi banjir;
e. penanggulangan banjir; dan
f.

pemulihan setelah banjir.

Pasal 42

1.

Penetapan batas dataran banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2)
huruf a dilakukan dengan identifikasi genangan banjir yang terjadi sebelumnya
dan/atau pemodelan genangan dengan debit rencana 50 (lima puluh) tahunan.

2.

Penetapan batas dataran banjir dilakukan oleh Menteri, gubernur, dan/atau
bupati/walikota sesuai kewenangannya.

Pasal 43

1.

Dalam dataran banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) ditetapkan
zona peruntukan lahan sesuai resiko banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41
ayat (2) huruf b.

2.

Penetapan zona sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam peta
zonasi peruntukan lahan dataran banjir.

3.

Penetapan

zona

peruntukan

lahan

sesuai

resiko

banjir

dilakukan

oleh

bupati/walikota.
Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-16

Pasal 44
Bupati/walikota melakukan pengawasan atas zona peruntukan lahan sesuai resiko banjir
yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (3).
Pasal 45

1.

Persiapan menghadapi banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2) huruf
d dilakukan melalui kegiatan:
a. penyediaan dan pengujian sistem prakiraan banjir serta peringatan dini;
b. pemetaan kawasan beresiko banjir;
c. inspeksi berkala kondisi prasarana pengendali banjir;
d. peningkatan kesadaran masyarakat;
e. penyediaan dan sosialisasi jalur evakuasi dan tempat pengungsian; dan
f.

2.

penyusunan dan penetapan prosedur operasi lapangan penanggulangan banjir.

Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri, gubernur,
bupati dan/atau walikota sesuai kewenangannya.

Pasal 46
Penanggulangan banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2) huruf e
dikoordinasikan

oleh

badan

penanggulangan

bencana

nasional,

provinsi,

atau

kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3.4.4

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Maluku Tengah 20082031

3.4.4.1

Kawasan Rawan Bencana Banjir

Sebagaimana diketahui bahwa sungai-sungai yang terdapat di Kabupaten Maluku Tengah,
secara nasional dikategorikan sebagai sungai yang memiliki tingkat daya rusak yang
sangat tinggi. Hal ini ditunjang oleh curah hujan yang tinggi, rata-rata diatas
2000mm/tahun, dengan lama curah hujan juga tinggi, dipacu pula oleh hulu daerah aliran
sungai yang sangat terjal dan curam. Sedemikian sehingga gerak hidrolika sungai sangat
cepat dengan kekuatan daya gerus ke arah samping yang sangat besar pula.
Berdasarkan lampiran VI RTRWN (PP RI No. 26 Tahun 2008) telah ditetapkan bahwa
Wilayah Sungai (WS) di Kabupaten Maluku Tengah berada pada WS P. Ambon-Seram,
dengan kategori (I-IV / A / 1) yang berarti bahwa:
1.

Wilayah sungai ini berada pada tahapan pengembangan I – IV.

2.

Sebagai wilayah :

a. Konservasi Sumber Daya Air;
Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-17

b. Pendayagunaan Sumber Daya Air; dan
c. Pengendalian Daya Rusak Air.
Sebagaimana diketahui bahwa dominan kawasan permukiman berada pada dataran pantai
dan bantaran sungai di Kabupaten Maluku Tengah, kecuali suku asli Alifuru yang berdiam
di wilayah pedalaman pegunungan dan perbukitan. Sungai-sungai yang berpotensi banjir
dicirikan oleh:
1.

Lembah sungai yang melebar berbentuk huruf “U”.

2.

Hampir tidak ada tebing/ bibir sungai terhadap wilayah sekitarnya.

3.

Munculnya gosong pasir (pulau-pulau kecil di badan sungai).

4.

Adanya tanggul-tanggul alam (“natural levee” ) yang dibentuk oleh limpasan
material banjir.

5.

Kondisi aliran sungai yang menganyam (“braided stream”).

6.

Arah aliran sungai yang selalu berubah-ubah, sehingga menghantam badan jalan
dan konstruksi jembatanyang melintas di atasnya.

7.

Erosi kesamping lebih intensif daripada erosi vertikalnya.

Dari kondisi tersebut maka kawasan-kawasan berpotensi banjir di Kabupaten Maluku
Tengah adalah sebagai berikut :

1.

Dataran rendah pantai Kota Masohi yang membusur mengikuti Teluk Elputih dari
Amahai – Masohi.

2.

Pertemuan Wae Tanah dan Wae Rantan menjadi pemasok terjadinya banjir di
Makariki dan Masohi sekitarnya.

3.

Sedangkan pada wilayah Utara (Seram Utara, Kabupatan Maluku Tengah), potensi
bahaya banjir dapat dapat terjadi di muara Wae Mual – Wae Wowa, dan Wae
Selame Keke, tetapi mengingat kawasan ini belum dibudidayakan secara intensif
sehingga tingkat bahayanya tidak seintensif dan seekstensif yang dapat terjadi di
Daratan Masohi dan sekitarnya (Maluku tengah bagian Selatan).

3.4.4.2 Kawasan Rentan Bencana Banjir
Adapaun kawasan rentan bahaya bencana banjir adalah sungai-sungai yang padat
terhadap aktivitas budidaya manusia seperti pada Wae Rantan, Wae Tanah, Wae
Pia/Wae Nari, Wae Mala, & Wae Weh yang mengalir ke pantai Teluk Eka Putih.
Keseluruhan DAS dan SUB DAS di kawasan ini telah didayagunakan oleh kegiatan
antropogenik secara intensif, sehingga dapat memacu terjadinya banjir di hilir.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-18

Keganasan aliran air sungai dan bukti sering terjadinya banjir dapat dicerminkan oleh
rusaknya “abutment” dan konstruksi jembatan, serta badan jalan yang dihantam oleh
gerakan aliran banjir di musim penghujan.
3.4.4.3 Kawasan Resiko Bencana Banjir
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka kawasan risiko banjir yang telah terdeteksi
seperti halnya telah dimuat di dalam Inventarisasi Bahaya Geologi Kabupaten Maluku
Tengah adalah meliputi seluruh bantaran Wae Rantan dan Wae Tanah yang bermuara di
Makariki. Oleh karena itu kawasan Makariki Kota Masohi sangat berpotensi terjadi banjir
setiap tahunnya, maupun pada periode curah hujan 5 tahunan maupun 10 tahunan.
3.4.4.4 Zona Multi Bencana Banjir
Sebagaimana telah diuraikan di atas, maka zona multi bencana banjir

di Kabupaten

Maluku Tengah dapat terjadi pada :

1.

Sungai besar dengan anak-anak sungai yang sangat banyak di bagian hulu;

2.

Aliran muara yang melebar, menganyam dengan pola aliran sungai yang tidak
terarah;

3.

Kelandaian badan sungai yang hampir sama dengan dataran disekitarnya;

4.

Kegiatan budidaya di wilayah DAS (Daearah Aliran Sungai) atau pada “out
streamnya” sangat intensif, sehingga kecepatan “surface run off” atau aliran air
permukaan jauh lebih besar daripada peresapannya (“recharge”nya);

5.

Berhadapan dengan muka laut terjadi pasang maksimum, maka wilayah ini akan
berpotensi

banjir

yang

kumulatif,

sebagai

akibat

dari

multi

sebab

yang

mengawalinya.
Adapun daerah atau kawasan-kawasan di Kabupaten Maluku Tengah yang perlu
diantisipasi adalah :

1.

Amahai – Masohi – Makariki (Maluku Tengah bagian Selatan);

2.

Tanjung Kobi – Tanjung Samal

- Tanjung Mual – Tanjung Arura – Tanjung

Seloaktun (Maluku Tengah bagian Utara), khusus untuk kondisi pertumbuhan dan
perkembangan wilayah yang akan datang setelah Kota Pusat Kegiatan Wilayah
(PKW)

Wahai

sebagai

sentra

pangan

regional

bertumbuh

pesat.

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-19

Laporan Pendahuluan

Sumber: 2)RTRW Bappeda Kabupaten Maluku Tengah 2008-2028.

Gambar 3. 1 Peta Rawan Bencana Banjir Kabupaten Maluku Tengah.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-20

Sumber: 2)RTRW Bappeda Kabupaten Maluku Tengah 2008-2028.

Gambar 3. 2 Peta Rentan Bencana Banjir Kabupaten Maluku Tengah.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-21

Sumber: 2)RTRW Bappeda Kabupaten Maluku Tengah 2008-2028.
Gambar 3. 3 Peta Risiko Bencana Banjir Kabupaten Maluku Tengah.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-22

3.4.5

Peraturan Presiden RI No. 33 Tahun 2011

Kebijakan pengelolaan sumber daya air di WS Ambon Seram juga mengacu Peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2011 tentang Kebijakan Nasional
Pengelolaan Sumber Daya Air (Jaknas SDA) yang mencakup :
1. Kebijakan Umum, meliputi :
Peningkatan

koordinasi

dan

keterpaduan

pengelolaan

sumber

daya

air

Pengembangan iptek serta budaya terkait air.
an pengelolaan sumber daya air.

2. Kebijakan Peningkatan Konservasi Sumber Daya Air secara Terus Menerus, meliputi
:

an air.

3. Kebijakan Pendayagunaan Sumber Daya Air untuk Keadilan dan Kesejahteraan
Masyarakat, meliputi :

ya penyediaan sumber daya air.

4. Kebijakan Pengendalian Daya Rusak Air dan Pengurangan Dampak, meliputi :

5. Kebijakan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha dalam Pengelolaan
Sumber Daya Air, meliputi :
unia usaha dalam perencanaan.

6. Kebijakan Pengembangan Jaringan Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA)
Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air
Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-23

Peningkatan kelembagaan dan sumber daya manusia dalam pengelolaan SISDA.

Fungsi Jaknas Sumber Daya Air:
1. Memberi arah pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional untuk periode 2011 –
2031.
2. Menjadi acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah non kementerian
dalam menetapkan kebijakan sektoral yang terkait dengan bidang sumber daya
air.
3. Menjadi masukan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN).
4. Menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya air pada
tingkat Provinsi, dan penyusunan rancangan pola pengelolaan sumber daya air
pada strategis nasional.
Visi Jaknas Sumber Daya Air:
Sumber Daya Air Nasional yang dikelola secara menyeluruh terpadu dan berwawasan
lingkungan untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Misi Jaknas Sumber Daya Air :
1. Meningkatkan konservasi sumber daya air secara terus menerus.
2. Mendayagunakan sumber daya air untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat.
3. Mengendalikan dan mengurangi daya rusak air.
4. Meningkatkan peran masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan sumber daya
air.
5. Membangun jaringan sistem informasi sumber daya air yang terpadu antar sektor
dan antar wilayah.

3.4.6

Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ambon –
Seram

3.4.6.1

Isu Strategis Lokal Pada Pulau Seram

1. Degradasi Lingkungan
Degradasi

lingkungan

terjadi

akibat

adanya

perambahan

hutan

lindung,

pembakaran hutan dan pembalakan liar. Sebagai contoh yaitu terjadi perambahan

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-24

hutan di Pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah (Isal ± 150 Ha , Samal ± 250
Ha, Kobi ± 200 Ha, Karlutu ± 300 Ha, Werinama ± 350 Ha ), Kabupaten Seram
Bagian Timur (Matakabo 350 Ha, Bubi ± 200 Ha, Tehoru 400 Ha).
2. Banjir
Banjir di Pulau Seram seperti di Kawasan Hilir Hutan Lindung Manusela
(Kabupaten Maluku Tengah) dengan genangan banjir ± 60 Ha, Kawasan Hilir Way
Samal (Kabupaten Maluku Tengah) dengan genangan banjir ± 800 Ha dan Way
Kobi (Kabupaten Seram Bagian Timur) dengan genangan banjir ± 50 Ha, terjadi
Sedimentasi di

Way Matakabo

tinggi laju erosi

15

mm/tahun atau

225

Ton/Ha/tahun, Kawasan Makariki (Kabupaten Maluku Tengah) dengan tinggi laju
erosi 5 mm/tahun atau 75 Ton/Ha/tahun.
3. Alih Fungsi Lahan
Alih fungsi lahan untuk irigasi menjadi perkebunan kelapa sawit di Kabupaten
Maluku Tengah (Kobisadar dan Mandiri ± 200 Ha, Tanah Merah dan Namto ±
1.000 Ha, Karlutu ± 250 Ha). Irigasi menjadi perkebunan coklat di Werinama
(Kabupaten Maluku Tengah) = 600 Ha, Tehoru (Kabupaten Seram Bagian Timur)
= 500 Ha.
4. Abrasi dan Erosi Pantai
Terjadi abrasi dan erosi pantai di Pulau Seram, yaitu di Kabupaten Maluku Tengah
(Malako ± 3 km, Parigi ± 2 km, Wahai ± 1,5 km, Kobisadar ± 1 km, Taniwel ±
2,5 km, Rutah ± 1,2 km, Tamilouw ± 2 km, Amahai ± 2 km) dan Kabupaten
Seram Bagian Barat (Piru ± 1,5 km, Loki ± 0,8 km, Hatusua ± 1 km, Kairatu ±
1,5 km) dan Kabupaten Seram Bagian Timur (Bula ± 2 km, Geser ± 1,5 km dan
Gorong ± 1,5 km).

5. Potensi Pengembangan Listrik Tenaga Air
Terdapat potensi pengembangan listrik tenaga air (mikro hidro) di Kabupaten
Maluku Tengah (Rumakai ± 15-20 kilowatt, Samal ± 7-10 kilowatt, Taniwel ± 1520 kilowatt, Saleman ± 15-20 kilowatt, Besi ± 10-15 kilowatt, Sawai ± 7
kilowatt), namun belum mampu untuk dimanfaatkan.
6. Potensi Pengembangan Daerah Irigasi
Terdapat potensi daerah irigasi (DI) yang belum dikembangkan di Kabupaten
Maluku Tengah (Isal ± 1030 ha, Sariputi ± 1.022 ha, Samal ± 2.300 ha, Kobi ±
2.898 ha, Lovin ± 750 Ha, Werinama ± 15.000 ha), Kabupaten Kabupaten Seram
Bagian Barat (Kairatu I ± 715 ha, Kairatu II ± 931 ha, Kawah ± 200 ha, Karlutu ±
400 ha), Kabupaten Kabupaten Seram Bagian Timur (Bubi ±1,200 ha, Masiwang
± 3.500 ha, Bubafulo ± 3.000 ha, Tehoru ±15.000 ha).
Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-25

3.4.6.2

Data Umum WS Ambon Seram

Pada Pola Pengelolaan Sumber Daya Air ini yang ditinjau yaitu WS Ambon Seram. WS
Ambon Seram memiliki luas wilayah seluas 19.197,27 Km2 dengan posisi 2 0 43’ 27’’
LU – 40 47’ 00’’ LU dan 1270 28’ 12’ BT – 1310 45’ 37’’ BT dimana jumlah DAS
sebanyak 166 DAS.
Tabel 3. 1 Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku yang Masuk di WS Ambon Seram.

Sumber: 9)BPS Maluku Dalam Angka 2012.
Tabel 3. 2 Nama dan Luas DAS di WS Ambon Seram.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-26

Sumber: 10)Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor : 395/KPTS/M/2012 Tentang Pola Pengelolaan Sumber
Daya Air Wilayah Sungai Ambon Seram

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-27

Sumber: 10)Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor : 395/KPTS/M/2012 Tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ambon Seram
Gambar 3. 4 Peta Administrasi di WS Ambon Seram.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-28

Sumber: 10)Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor : 395/KPTS/M/2012 Tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ambon Seram
Gambar 3. 5 Peta WS Ambon Seram.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-29

3.4.6.3

Identifikasi Kondisi Lingkungan dan Permasalahan Pengendalian Daya
Rusak Air.

Permasalahan dalam pengendalian daya rusak air di WS Ambon Seram antara lain
adalah:

1.

Banjir Sungai Mamua, merusak tanggul yang sedang dalam proses pembangunan
sepanjang 1 km hingga mengakibatkan rumah-rumah warga tergenang;

2.

Pengendapan material di dasar Sungai Sikula sehingga passing capacity Sungai
Sikula menjadi kecil, mengakibatkan pada musim hujan air sungai meluap dan
menggenangi daerah sekitarnya;

3.

Masalah banjir dan sedimentasi juga terjadi di Kota Ambon (Batu Gantung, Batu
Gajah, Tomu, Batu Merah, Ruhu), Kabupaten Maluku Tengah (Mamua, Kobi,
Samal, Mahariki), Kabupaten Seram Bagian Timur (Matakibo, Bubi);

4.

Kerusakan pantai di Kota Ambon (Seith, Negeri Lima, Larike, Hitu, Morela,
Mamala, Hutumuri, Teluk Dalam Ambon), Kabupaten Maluku Tengah (Malaku,
Parigi, Wahai, Kobisadam, Taniwel, Rutah, Tamilouw, Amahai), Kabupaten Seram
Bagian Barat (Piru, Loki, Loti, Hatusua, Kaviatu), Kabupaten Seram Bagian Timur
(Bula, Geser, Gosom);

5.

Kurangnya sarana dan prasarana pencegah atau penahan daya rusak air seperti
penahan banjir, check dam dan sebagainya;

6.

Belum terbentuk sistem koordinasi yang baik pada saat terjadi bencana akibat
daya rusak air;dan

7.

Upaya penanganan darurat belum terlaksana dengan baik

3.4.6.4

Identifikasi Potensi Pengendalian Daya Rusak Air yang Bisa
Dikembangkan

Potensi yang bisa dikembangkan dalam usaha pengendalian daya rusak air di WS
Ambon Seram antara lain adalah:

1.

Pembangunan bendungan multi purpose sebagai bangunan pengendali banjir
(Pasahari Multi Purpose DAM dan Ambon Multi Purpose DAM, meliputi bendungan
Sungai Way Ruhu, Bendungan Sungai Batu Gajah, dan Bendungan Sungai Batu
Gantung);

2.

Rehabilitasi bangunan sungai, perbaikan tanggul dan alur sungai (degradasi) di
beberapa sungai, melalui pembangunan bangunan perkuatan tebing, bronjong,
groundsill (Sungai Way Ruhu, Sungai Batu Gajah, Sungai Batu Merah, Sungai Batu
Gantung, Sungai Tomu); dan

3.

Perbaikan sistem drainase dan pembangunan kolam retensi dalam rangka
pengendalian banjir.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-30

3.4.6.5

Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air Aspek Pengendalian Daya Rusak Air

Strategi pengelolaan sumber daya air pada aspek Pengendalian Daya Rusak Air di WS
Ambon Seram diperinci berdasarkan sub aspek, yaitu :

1.

Pencegahan Daya Rusak Air, dilakukan melalui :
a. Pembuatan bangunan pengendali banjir, regulator outlet sungai dan tanggul
banjir.
b. Mengurangi laju erosi dan sedimentasi dengan sipil teknis (check dam dan
groundsill).
c. Normalisasi sungai dan pengamanan tebing sungai pada lokasi rawan longsor.

2.

Penanggulangan Daya Rusak Air, dilakukan melalui :
a. Pembuatan rancangan mitigasi bencana.
b. Penyusunan RTD dalam antisipasi kemungkinan banjir, peta resiko untuk
lokasi rawan banjir dan sistem peringatan dini serta sistem informasi banjir.
c. Peningkatan kapasitas tampungan bangunan pelimpah banjir, kolam retensi,
dan saluran pengelak.
d. Pembangunan prasarana pengendali banjir seperti: waduk, bendungan, sumur
resapan, dan peralatan teknologi modifikasi cuaca.
e. Mengendalikan erosi dan sedimentasi sesuai lokasi dengan sistem teras,
saluran lereng, penanaman segaris maupun dengan pembangunan revetment,
check dam.

3.

Pemulihan Daya Rusak Air, dilakukan melalui :
a. Restorasi fungsi lingkungan hidup.
b. Rehabilitasi kondisi penduduk korban bencana banjir.
c. Perbaikan prasarana sumber daya air baik sebagai akibat kerusakan maupun
bencana.

3.4.6.6

Kebijakan Operasional Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai
Ambon Seram

Kebijakan operasional adalah arahan pokok untuk melaksanakan strategi pengelolaan
sumber daya air yang telah ditentukan. Kebijakan operasional pegelolaan sumber daya
air pada dasarnya merupakan ketentuan yang telah disepakati dan ditetapkan oleh
pemerintah untuk dijadikan pedoman, pegangan dan petunjuk bagi instansi pelaksana
dalam

upaya

merencanakan,

melaksanakan,

memantau

dan

mengevaluasi

penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan
pengendalian daya rusak air. Dengan mengacu pada arah kebijakan nasional dan

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-31

memperhatikan kajian terhadap isu-isu utama yang ada di Ambon Seram serta analisis
atas kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman terhadap pengelolaan sumber daya
air, disusunlah kebijakan operasional pengelolaan sumber daya air di Ambon Seram
yang akan menjadi pedoman dalam penyusunan agenda pengelolaan sumber daya air
selama 20 tahun ke depan, sebagai penjabaran pelaksanaan misi dalam rangka
mewujudkan visi pengelolaan sumber daya air yang telah disepakati bersama.
Kebijakan operasional dalam pengelolaan sumber daya air mencakup 5 (lima) aspek
pengelolaan sumber daya air, yaitu: aspek konservasi sumber daya air, aspek
pendayagunaan sumber daya air, aspek pengendalian daya rusak, aspek sistem
informasi sumber daya air serta aspek kelembagaan dan peran serta masyarakat.
kebijakan operasional pengelolaan sumber daya air ditinjau berdasarkan faktor kondisi
ekonomi, yaitu kondisi ekonomi rendah, ekonomi sedang, dan ekonomi tinggi.
Berdasarkan Pedoman Basin Water Resources Planning (BWRP) tahun 2005, asumsi
pertumbuhan ekonomi adalah sebagai berikut :
- Pertumbuhan ekonomi rendah < 4,5%.
- Pertumbuhan ekonomi sedang 4,5% – 6,5%.
- Pertumbuhan ekonomi tinggi > 6,5%.
Peta tematiknya kebijakan operasional pola pengelolaan sumber daya air aspek
pengendalian daya rusak air yang secara lengkap dapat dilihat pada gambar berikut.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-32

Sumber: 10)Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor : 395/KPTS/M/2012 Tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ambon Seram
Gambar 3. 6 Peta Tematik Aspek Pengendalian Daya Rusak Air untuk Skenario Ekonomi Tinggi.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-33

Sumber: 10)Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor : 395/KPTS/M/2012 Tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ambon Seram
Gambar 3. 7 Peta Tematik Aspek Pengendalian Daya Rusak Air untuk Skenario Ekonomi Sedang.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-34

Sumber: 9)Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor : 395/KPTS/M/2012 Tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ambon Seram
Gambar 3. 8 Peta Tematik Aspek Pengendalian Daya Rusak Air untuk Skenario Ekonomi Rendah.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

3-35

BAB 4

Pendekatan Teknis dan
Metodelogi

LAPORAN PENDAHULUAN

DED Pengendalian Banjir Dan Sedimen
Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, Kabupaten
Maluku Tengah

BAB IV
PENDEKATAN TEKNIS DAN METODOLOGI
4.1

UMUM

Pada Bab ini berisikan penjelasan mengenai pendekatan dan metodologi yang dilakukan oleh
Konsultan dalam melaksanakan pekerjaan “DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai
Kobi, Kec. Seram Utara, Kab. Maluku Tengah”.
Semua pekerjaan pengumpulan data, investigasi dan desain termasuk penyelesaian laporan,
penggambaran dan lain-lain akan mengikuti Kriteria Standar Perencanaan yang dikeluarkan
oleh Kementrian Pekerjaan Umum atau Dirjen SDA.
Tahapan kegiatan Pekerjaan “DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec.
Seram Utara, Kab. Maluku Tengah” ini, sebagai berikut :
1.

Pengumpulan data topografi, hidrologi, hidrometri dan Fotogrametri, serta studi
yang telah ada.

2.

Pengukuran topografi, detail situasi, penampang melintang dan memanjang
sungai.

3.

Melakukan analisis penyebab dan dampak kerusakan yang timbul akibat banjir.

4.

Melakukan identifikasi lokasi kerusakan sungai akibat banjir dan lingkungan
sekitarnya.

5.

Melakukan analisis hidrologi, hidrolika, karakter, dan prediksi kecenderungan
respon

sungai.

6.

Melakukan analisis kestabilan dasar sungai / kedalaman gerusan.

7.

Melakukan analisis kestabilan konstruksi yang aman.

8.

Melakukan perhitungan biaya konstruksi.

9.

Menyiapkan spesifikasi teknis dan gambar desain.

10. Membuat Rencana Mutu Kontrak (RMK) sebelum pelaksanaan dimulai.
Semua hasil pekerjaan yang telah selesai di desain secara detail sudah didiskusikan serta
disetujui oleh semua Direksi Pekerjaan dibuat dalam bentuk buku laporan segera diserahkan.
Adapun kegiatan yang diperlukan untuk kelengkapan dan penyelesaian pekerjaan ini tetapi
belum tercantum dalam kegiatan-kegiatan tersebut diatas akan ditentukan kemudian
berdasarkan petunjuk Direksi.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-1

4.2

METODOLOGI

Metodologi pelaksanaan DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram
Utara, Kabupaten Maluku tengah meliputi:
1.

Peninjauan lapangan untuk mengetahui permasalahan, kondisi dan penyebab
banjir.

2.

Pengukuran GPS dan Fotogrametri (Foto Udara) untuk mendapatkan mozaik citra
yang terkontrol, Raw Data Foto dan GPS.

3.

Pengukuran topografi untuk mendapatkan gambar situasi, potongan memanjang
dan melintang sungai.

4.

Menentukan debit rencana untuk berbagai periode ulang.

5.

Menentukan elevasi muka air awal.

6.

Menentukan elevasi muka air banjir untuk beberapa periode ulang (HEC-RAS).

7.

Menentukan alternatif pengamanan sungai.

8.

Menghitung elevasi muka air banjir untuk tiap-tiap alternatif pengamanan sungai.

9.

Menentukan alternatif terpilih pengamanan sungai.

10. Membuat detail desain bangunan yang diusulkan (digambar secara detail).
11. Menghitung detail biaya konstruksi dan Operasi dan Pemeliharaan.
12. Menyusun tahapan pelaksanaan dalam bentuk rencana detail kegiatan.

Secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut ini.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-2

Mulai

Pekerjaan Persiapan
Administrasi dan Teknik

Mobilisasi
Peralatan

Mobilisasi
Personil

Review Metodologi
Pelaksanaan Pekerjaan
Rencana Kerja

Penyusunan Konsep
Lap. RMK

Pemeriksaan Personil dan Alat
Diskusi Penyusunan
Konsep Lap. RMK

Revisi
Laporan RMK

Penyusunan
Lap.RMK

Penyusunan Konsep
Lap. Pendahuluan

Studi Meja dan
Literatur

Survey Lapangan
Pendahuluan

Pengumpulan Data
Sekunder

Komfirmasi Data
Lapangan dan Studi Meja

Alternatif Pemecahan
Masalah

Penyusunan Konsep
Lap. Pendahuluan

Diskusi Konsep Lap.
Pendahuluan

Tidak

Revisi
Ya

Penyusunan Laporan
Pendahuluan

Ya

Laporan
Pendahuluan

A

Gambar 4. 1 Bagan alir kegiatan tahap pendahuluan.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-3

A

DSP 1

Persiapan Pekerjaan
Lapangan

Mengajukan form
request:
pemeriksaan
lapangan bersama
BSP 2

Mengajukan form
request:
pengukuran
tofografi

Identifikasi &
Invetarisasi
Kondisi Eksisting

BSP 6

BSP 4

BSP 3

Pengukuran
Situasi Daerah
Rencana

Mengajukan form
request:
penyelidikan tanah

BSP 5

Pengukuran
Topografi Sungai

BSP 7

Penyelidikan
Geoteknik dan
Mektan

Pengumpulan
Data Hidrologi

Pengumpulan
Data Material
Konstruksi

Fotogrametri
Peta
MozaikGPS

Mengajukan form request:
laboratorium sample tanah
CSP 8

CSP 1

CSP 2

Analisa Hidrolika Sungai

Analisa Geologi
dan Mekanika
Tanah

Analisa Topografi

DSD 6

Analisa
Hidrologi

Analisa Harga
Satuan

Data
Triangulasi
udara

CSP 3

Laporan Pendukung:
1. Nota Desain
2. Laporan Survey Topografi
3. Laporan Survey Geoteknik
4. Laporan Survey Hidrologi
5. Laporan BOQ dan RAB
6. Laporan Spesific Teknik

Pembuatan
Kriteria Desain

CSP 6

Detail Desain

Penyusunan Konsep
Lap. Antara (interim)

CSP 5

Tidak
Analisa Struktur
Bangunan

Diskusi Konsep Lap.
Antara

Revisi

Ya

Penyusunan Laporan
Antara

Ya

Laporan Antara

B

Gambar 4. 2 Bagan alir kegiatan (lanjutan) tahap lapangan.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-4

B

CSP 7

Tidak

Pengambaran
Desain

Ya

Revisi

Ya
DSD 6
DSD 6

Laporan Spek. Teknis
dan Dokumen Lelang

Dokumen Tender dan
Spesifikasi Teknik

Cetak Gambar
Desain

Analisa BQO dan RAB

1. Laporan RAB
dan Analisa
Harga Satuan
2. Daftar Volume
Pekerjaan (Bill
of Quantity/BOQ)

DSP 5

Penyusunan
Konsep Lap. Akhir

Diskusi Konsep

Tidak

Diskusi Konsep

Laporan
Akhir
Lap. Akhir
Lap. Akhir

Ya
Revisi

DSP 6

1. Laporan Akhir
2. Executive
summary

Penyusunan Laporan
Akhir

Ya

Selesai

Gambar 4. 3 Bagan alir kegiatan tahap akhir.

4.3

PEKERJAAN PERSIAPAN

Pekerjaan ini meliputi : penyelesaian administrasi, mobilisasi personil dan peralatan,
persiapan pekerjaan lapangan, dan pengumpulan data sekunder. Persiapan pekerjaan
lapangan ini meliputi : penyiapan base camp di lokasi proyek dan persiapan untuk survey-

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-5

survey. Sedangkan pekerjaan persiapan untuk survey meliputi : pembuatan program kerja
(jadual kerja lebih rinci) dan penugasan personil, pembuatan peta kerja, penyiapan
peralatan survey dan personil, penyiapan surat-surat ijin/surat keterangan, dan pemeriksaan
alat-alat survey.

4.4

PENGUMPULAN DATA-DATA SEKUNDER

Kebutuhan data Terdiri dari kegiatan pengumpulan data sekunder dan
laporan persiapan survey.
1. Pengumpulan data sekunder, meliputi:
a.

Peta topografi, geologi, pasang surut dan tata guna lahan.

b.

Kejadian (luas, tinggi, lama, frekuensi, lokasi) banjir.

c.

Potensi kawasan yang dilindungi.

d.

Potensi dataran banjir yang dapat menampung puncak banjir.

e.

Potensi lokasi sarana resapan air dan sarana penampung banjir.

f.

Data curah hujan dan data aliran.

g.

Bangunan sungai yang sudah ada.

h.

Kondisi kerusakan yang pernah terjadi.

i.

Studi-studi terdahulu.

j.

Foto udara yang tersedia (bila ada).

2. Pengumpulan data sosial, ekonomi, lingkungan dan kebijakan pemerintah,
meliputi:
a. Kependudukan (jumlah, status, mata pencaharian, pendapatan, dll).
b. Sarana dan prasarana yang ada.
c.

Fasilitas dan utilitas.

d. Dampak yang terjadi dari kerusakan yang pernah ada.
e. Peraturan perundang-undangan yang berlaku (Keppres, Perda, dll) dan yang relevan.
f.

RUTR Provinsi, RDTR Kabupaten/Kawasan, program regional/sektoral, dll.

3. Persiapan survey, meliputi:
a. Pembuatan program kerja (jadual kerja) dan penugasan personil.
b. Pembuatan peta kerja.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-6

c. Pemeriksaan alat survey lapangan.
d. Penyiapan peralatan survey dan personil.
4. Pembuatan Rencana Mutu Kontrak.

4.5

REVIEW STUDI TERDAHULU

Dari hasil analisa dan evaluasi studi terdahulu telah dilakukan pengumpulan data Curah
Hujan selama 10 tahun terakhir dari tahun 2002 s/d tahun 2012, data dari RTRW Provinsi,
RTRW Kabupaten, Maluku Tengah dalam angkam dan data lainnya untuk pekerjaan
Penagamanan sungai di Kabupaten Maluku tengah. Dengan tujuan untuk mengetahui atau
mengidentifikasi permasalahan, kelengkapan data, sehingga dapat diketahui kekurangan
data yang masih perlu dicari baik berupa data sekunder maupun data primer.

4.6

PERSIAPAN SURVEY

Persiapan Personil dan Peralatan
Pembuatan jadual keterlibatan personil sesuai dengan fungsi dan tanggung
jawabnya, sedangkan penyusunan jadual penggunaan peralatan sesuai dengan
fungsinya.

Persiapan Kantor Lapangan
Dalam penyelesaian pekerjaan ini, kegiatan lapangan memerlukan waktu yang
cukup lama, untuk itu ditempatkan kantor proyek di lapangan.

4.6.1 Koordinasi dengan Instansi Terkait
Pada

awal

pelaksanaan

proyek,

konsultan

akan

mengadakan

koordinasi

dengan

dinas/instansi terkait agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam pelaksanaan pekerjaan ini,
utamanya sehubungan dengan pengambilan data sekunder.

4.6.2 Penyusunan Rencana Kerja
Untuk memperoleh hasil pekerjaan yang memenuhi syarat dan dapat terselesaikan sesuai
dengan jadual waktu yang ditetapkan, maka perlu dibuat rencana kerja yang terinci dan
sistematis.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-7

4.6.3 Penyusunan Konsep Laporan Pendahuluan
Konsep Laporan Pendahuluan disusun berdasarkan data-data yang diperoleh dari pemberi
kerja, instansi terkait dan temuan-temuan lapangan pada waktu survey pendahuluan.
Diskusi

laporan

pendahuluan

dan

program

kerja

diperlukan

untuk

menyeragamkan

pengertian dan penyempurnaan program kerja.

4.6.4 Pekerjaan Survey Lapangan dan Pengukuran Sungai
Untuk pekerjaan survey dilapangan, konsultan telah melakukan program atau rencana kerja
sehingga pekerjaan dapat berjalan lancar sesuai rencana, berikut merupakan tahapan rencana
konsultan dalam melaksanakan program kegiatannya :

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-8

KEGIATAN PERSIAPAN

Mulai

Kajianatas
atas studi/pekerjaan
terdahulu
di sekitar
lokasi lokasi
Kajian
studi/ pekerjaan
terdahulu
di sekitar
· Pekerjaan Indentifikasi Pantai kritis di Sum-Bar
· Pekerjaan
Perkuatan
danV -2009
Normalisasi Sungai
PT Amythas
/ BWS Tebing
Sumatra
/ Dinas
PSDA Pro.dan
Maluku
2014
· Kawanoa
Pekerjaan
Normalisasi
Perkuatan
Tebing
Batang Sikabau Dan Batang Gunung / Dinas
PSDA Prov. Sum-Bar 2012

Persiapan
· Personil
· Peralatan
· Buku / formulir

· Posisi
( Mean Sea Level )
· Posisi
mukaMSL
air normal
· Penentuan titik ikat Bagian hilir
· Pengikatan
BMtitik ikat bagian hulu
· Penetuan

Pemeriksaan
· Personil
· Peralatan

-

Pengiktan CP

Survei Lapangan
· Melapor ke dinas terkait
· Penyiapan base camp

KEGIATAN LAPANGAN

Pemasangan BM dan CP
Pengukuran Poligon Terikat
Pengukuran cross sungai
Pengukuran waterpas ( Doble Stand )
dan pengikatan elevasi ketitik yang
sudah ada

Pengolahan data survey

Perhitungan sementara water pas
· Perhitungan poligon
· Perhitungan cross
Toleransi perhitungan
· Poligon

KEGIATAN STUDIO

Berita Acara Pekerjaan Lapangan

Pekerjaan Studio
· Penggambaran peta situasi
· Penggambaran Profil Melintang
· Penggambaran Profil Memanjang
Hasil Penunjang :
· Gambar Peta Situasi Sungai Skala 1 : 5.000
· Gambar Profil Melintang Skala 1 : 200
· Gambar Profil Melintang Skala 1 : 200
· Buku Ukur
· Buku Deskripsi BM

Selesai

Gambar 4. 4 Bagan alir kegiatan survey topografi.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-9

4.6.4.1 Survey Pendahuluan
Maksud dari survey ini adalah untuk mengetahui kondisi dan permasalahan yang ada di
lokasi, dalam rangka penyiapan pelaksanaan survey lapangan meliputi:
a.

Menghubungi

instansi

terkait

sehubungan

dengan

program

pembangunan

sektoral/regional dan perencanaan pengembangan wilayah (RUTR dan RDTR).
b.

Inventarisasi kondisi fisik dan permasalahan serta penilaian tingkat kerusakan sungai
yang telah terjadi.

c.

Melakukan identifikasi lokasi dataran banjir yang berpotensi menampung puncak banjir
berikut peruntukannya pada saat ini.

d.

Melakukan identifikasi lokasi yang berpotensi sebagai:

sarana resapan air, dilakukan dengan menambah luas bidang resapan air hujan ke
dalam tanah sesuai kecocokan kondisi tanah setempat, dapat berupa saluran, pipa
(berlubang), sumur dan kolam resapan serta perkerasan lolos air.

sarana penampung banjir, dilakukan dengan menambah volume tampungan air
sehingga dapat mengurangi banjir dan dibuat terhubung dengan sungai.

e.

Wawancara dengan penduduk setempat mengenai kondisi dan karakteristik sungai
berikut tanda-tanda banjir (floodmark) untuk penajaman pilihan debit rencana.

f.

Penentuan referensi pengukuran dan batas lokasi survey.

4.6.4.2 Survey Topografi untuk pemetaan situasi dan profil sungai
Pekerjaan ini dimaksudkan untuk memperoleh data topografi dan bathimetri yang akan
digunakan membuat rencana teknis rinci, meliputi:
a. Pemasangan Bench Mark (BM)
Pengukuran rangka pemetaan daerah (poligon dan waterpass dengan patok setiap 25 m).
Pengukuran poligon dilakukan dengan sistem tertutup (kring tertutup) dan setiap daerah
yang diukur harus dipasang minimal 1 (satu) unit titik tetap (BM). Pengukuran situasi detail
sungai dengan kerapatan titik tinggi yang sesuai dengan penggambaran peta skala 1 :
1.000.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-10

BWS MALUKU

BWS MALUKU

S. Kobi

S. Kobi

Gambar 4. 5 Contoh marmer BM.

b.

Pengukuran profil sungai memanjang dan melintang sungai sepanjang kurang lebih
10 Km yang dimulai dengan muara sungai menuju hulu atau sesuai dengan petunjuk
Direksi Pekerjaan.
Hasil dari kegiatan ini terdiri dari:
a.

Peta situasi skala penggambaran 1:1.000 yang memuat juga hasil pengukuran
bathimetri.

b.

Peta penampang melintang dengan interval 25 m atau sesuai dengan petunjuk
Direksi, untuk penampang sungai minimal 50 m ke kiri dan 50 m ke kanan dari
tepi/tebing sungai. Skala penggambaran horizontal (H) 1:1.000 dan vertikal (V)
1:100.

c.

Peta ikhtisar (ukuran A1) dengan skala yang disesuaikan.

d.

Deskripsi kondisi geomorfologis sungai dsb.
Pengambilan sample material dasar dan tebing sungai masing-masing 10 (sepuluh)
lokasi, untuk menunjang pengambilan kesimpulan perhitungan tampang sungai yang
stabil.

c.

Pengukuran Polygon
Pengukuran

kerangka

polygon

dilakukan

dengan

polygon

tertutup,

dengan

ketentuan sebagai bertikut :
·

Sudut horizontal dua seri, perbedaan seri pertama dan kedua lebih kecil atau
sama dengan 5” (lima detik).

·

Sudut vertikal dibaca satu seri yang akan digunakan untuk mereduksi jarak
horizontal dengan ketelitian 10” (sepuluh detik).

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-11

·

Kesalahan penutup sudut poligon maksimum 10”√ N, dimana N adalah jumlah
titik polygon dan ketelitian linier ≤ 1 : 5000.

d. Langkah-langkah dalam Pengkuran Poligon, meliputi :
·

Pengukuran polygon diikatkan ke titik tetap yang telah ditentukan oleh direksi
pekerjaan.

·

Sudut horizontal dibaca dalam dua seri yaitu kedudukan Biasa (B), dan Luar
Biasa (LB).

·

Sudut vertikal dibaca satu seri

yang akan digunakan untuk mereduksi jarak

horizontal.
·

Panjang sisi-sisi polygon diusahakan sama dan jaraknya diukur dengan pita ukur
baja pergi pulang dan dikontrol dengan pembacaan jarak optis.

·

Patok-patok poligon dibuat dari kayu yang kuat dicat warna merah dengan
diameter > 5 cm, panjang 30 sampai 40 cm, ditanam ke dalam tanah dengan
bagian yang muncul 10 sampai 15 cm dan diatasnya dipasang kayu/paku seng
untuk centring alat ukur.

·

Pengukuran poligon harus melalui pilar BM atau CP dan patok-patok yang telah
terpasang.

·

Untuk menentukan orientasi arah utara, maka orientasi arah dilakukan dengan
pengamatan azimuth matahari.

AB

B

AC
A

C

Gambar 4. 6 Pengukuran sudut antar dua patok.

e. Pengukuran Sipat datar
Pengukuran kerangka sipat datar memanjang dilakukan dengan system kring tertutup
atau terikat sempurna terhadap pilar BM yang telah diketahui elevasinya, dan
pengukuran ini dilakukan pada jalur polygon.
Ketelitian pengukuran sipat datar utama adalah sebagai berikut :

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-12

·

Jarak bidikan dari alat waterpass ke rambu ukur maksimum 50 meter dan jarak
terdekat dari alat ke rambu minimum 5 meter.

·

Untuk rambu panjang 3 m, pembidikan rambu ukur antara 0,25 m dan 2,75m.

·

Untuk menghilangkan kesalahan titik nol rambu, maka waktu perpindahan alat ukur,
rambu belakang menjadi rambu muka dan rambu muka menjadi rambu belakang
demikian seterusnya.

·

Pengukuran sipat datar setiap slag dilakukan dengan cara double stand, yaitu stand I
pembacaan benang diafragma dibaca lengkap dan stand II benang tengah saja.

Slag 1

b1

D

b2

Slag 2

m1

m2
1

Bidang Referensi
D

Gambar 4. 7 Sketsa pengukuran sipat datar memanjang.

4.7
4.7.1

KEGIATAN ANALISA DATA
Analisa Topografi

Hitungan Koordinat Poligon
Dalam rangka penyelenggarakan Kerangka Dasar Peta, dalam hal ini Kerangka Dasar
Horizontal/posisi horizontal (X,Y) digunakan Metoda Poligon. Dalam pengukuran poligon ada
dua unsur penting yang perlu diperhatikan yaitu jarak dan sudut jurusan yang akan
diuraikan dibawah ini:

Perhitungan Koordinat Titik Poligon
Prinsip dasar hitungan koordinat titik-titik poligon (lihat gambar dibawah ini). Koordinat titik
B dihitung dari koordinat A yang telah diketahui:

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-13

U

U

U

U

U
12

1
U

PA

d12
dA1

dPA

P

4B
d4B

4

23
A1

A

34

U

d34

2

d23
3

1

4
2
A
Gambar 4. 8 Pengukuran poligon.

Hitungan koordinat
XP = XA

+ dAP Sin αAP

YP = YA + dAP Cos

αAP

Dalam hal ini:
XA, YA

=

dAP Sin
dAP Cos

AP

AP

koordinat titik yang akan ditentukan
=

selisih absis (XAP) definitif (telah diberi koreksi)

=

selisih ordinat (YAP) definitif (telah diberi koreksi)

dengan,
dAP

=

jarak datar AP definitif

αAP

=

azimuth AP definitif

Untuk menghitung azimuth poligon dari titik yang diketahui digunakan rumus sebagai
berikut:
α12

α23

α34

=

α1A + 1

=

αAP + A + 1 –1(1800)

=

α21

=

αAP + A + 1 + 2 – 2(1800)

=
=

α4B

+ 3 =

12 + 2 – 1800

α23 + 3 – 1800

αAP + A + 1 + 2 + 3 – 3(1800)

=
=

+ 2 =

+ 4 =
α43

α34 + 4 – 1800

+  A +  1 +  2 + 3 +  4

– 4(1800)

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-14

Syarat Geometri Poligon

1.

Secara garis besar bentuk geometri poligon dibagi menjadi poligon tertutup (loop)
dan poligon terbuka, apabila dalam hitungan syarat geometri tidak terpenuhi maka
akan timbul kesalahan penutup sudut yang harus dikoreksikan ke masing-masing
sudut yang akan diuraikan berikut ini.
Hitungan Koordinat

2.

Koordinat titik kerangka dasar dihitung dengan perataan metoda Bowdith. Rumusrumus yang merupakan syarat geometrik poligon dituliskan sebagai berikut:
Syarat Geometrik Sudut

Akhir

-

-  +  + n.180 = f

Awal

dimana:

=

sudut jurusan

=

sudut ukuran

n

=

bilangan kelipatan

f

=

salah penutup sudut

Syarat Geometrik Absis (KX)
m

 X

(XAkhir – XAwal) -

i 1

i

=0

dimana:
di

=

jarak vektor antara dua titik yang berurutan

di

=

jumlah jarak

X

=

absis

X

=

elemen vektor pada sumbu absis

m

=

banyak titik ukur

Koreksi Ordinat

KY  

di

fY
di

dimana:
di

=

jarak vektor antara dua titik yang berurutan

di

=

jumlah jarak

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-15

Y

=

ordinat

Y

=

elemen vektor pada sumbu ordinat

m

=

banyak titik ukur

Untuk mengetahui ketelitian jarak linier (SL) ditentukan berdasarkan besarnya
kesalahan linier jarak (KL)

SL 

 fX

2

 fX

KL 

 fY 2 

 fY 2 
 1 : 5.000
D
2

Setelah melalui tahapan hitungan tersebut di atas, maka koordinat titik poligon dapat
ditentukan.

Pengamatan Azimuth Astronomis
Disamping untuk mengetahui arah/azimuth awal, pengamatan matahari dilakukan untuk
tujuan sebagai berikut:
· Sebagai koreksi azimuth guna menghilangkan kesalahan akumulatif pada sudutsudut terukur dalam jaringan poligon.
· Untuk menentukan arah/azimuth titik-titik kontrol/poligon yang tidak terlihat satu
dengan yang lainnya.
· Penentuan sumbu X untuk koordinat bidang datar pada pekerjaan pengukuran yang
bersifat lokal/koordinat lokal.
Berdasarkan Gambar 4.8, Azimuth target (
αT = αM + β

) adalah:

atau

αT = αM + (lT - lM)
dimana:
αT =

Azimuth ke target

αM =

Azimuth pusat matahari

(lT) =

Bacaan jurusan mendatar ke target

(lM)=

Bacaan jurusan mendatar ke matahari

β

Sudut mendatar antara jurusan ke matahari dengan jurusan ke target

=

Azimuth Matahari (AM)
Untuk menghitung azimuth matahari didasarkan pada rumus-rumus sebagai berikut:

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-16

Casα M 

Sin δ  Sin  . Sin m
Cos  . Cos m

dimana:
M

=

azimuth matahari

=

deklinasi matahari dari almanak matahari

m=

sudut miring ke matahari

=

lintang miring ke matahari

Dalam perhitungan azimuth matahari harga sudut miring (m) atau sudut Zenith (Z)
yang dimasukkan adalah harga definitif sebagai berikut:

Z d  Z u  r  1 2 d  p  i atau
m d  m u  r  12 d  p  i
dimana:
Zd

=

sudut zenit definitif

md

=

sudut miring definitif

Zu

=

sudut zenit hasil ukuran

mu

=

sudut miring hasil ukuran

r

=

koreksi refraksi

½d

=

koreksi semi diameter

p

=

koreksi paralax

I

=

salah indeks alat ukur

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-17

U (Geografi)

M

T

Matahari

lM

lT

Target
Meridian Pengam at

Gambar 4. 9 Pengamatan matahari.

Hitungan Kerangka Dasar Vertikal/Waterpass
Penentuan vertikal titik-titik kerangak dasar dilakukan dengan melakukan pengukuran beda
tinggi antara dua titik terhadap bidang referensi (MSL) seperti yang digambarkan pada
gambar berikut ini:

Slag 2
Slag 1
b1

b2
m1

m2
1

Bidang Referensi
D

D

Gambar 4. 10 Pengukuran waterpass.

Syarat geometris
Hakhir - Hawal

=

H  FH

T  8 D mm

Hitungan beda tinggi
1-2

=

Btb - Btm

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-18

Hitungan tinggi titik
H2 =

H1 + 12 + KH

dimana:
H

=

tinggi titik



=

beda tinggi

Btb

=

benang tengah belakang

Btm =

benang tengah muka

FH

=

salah penutup beda tinggi

KH

=

Koreksi beda tinggi

=

d

d

FH

T=

toleransi kesalahan penutup sudut

T=

8 D mm

D=

Jarak antara 2 titik kerangka dasar vertikal dalam satuan kilometer.

Hitungan Situasi Rinci
Penentuan situasi dilakukan untuk mengambil data rinci lapangan, baik obyek alam maupun
bangunan-bangunan, jembatan, jalan dan sebagainya. Obyek-obyek yang diukur kemudian
dihitung harga koordinatnya (x,y,z). untuk selanjutnya garis kontur untuk masing-masing
ketinggian dapat ditentukan dengan cara interpolasi.
Pengukuran situasi rinci dilakukan dengan motoda Tachymetri dengan cara mengukur besar
sudut dari poligon (titik pengamatan situasi) kearah titik rinci yang diperlukan terhadap arah
titik poligon terdekat lainnya, dan juga mengukur jarak optis dari titik pengamatan situasi.
Pada metoda Tachymetri ini didapatkan hasil ukuran jarak dan beda tinggi antara stasiun
alat dan target yang diamati. Dengan cara ini diperoleh data-data sebagai berikut: Azimut
magnetis, Pembacaan benang diafragma (atas, tengah, dan bawah), sudut zenith atau sudut
miring, dan Tinggi alat ukur.
Spesifikasi pengukuran situasi adalah:
Metoda yang digunakan adalah metoda Tachymetri dengan membuat jalur ray, dimana
setiap ray terikat pada titik-titik poligon sehingga membentuk jalur poligon dan waterpass
terikat sempurna.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-19

Pembacaan detail dilakukan menyebar ke seluruh areal yang dipetakan dengan kerapatan
disesuaikan dengan skala peta yang akan dibuat. Bangunan-bangunan penting yang
berkaitan dengan pekerjaan desain akan diambil posisinya.
Berdasarkan data yang diperoleh selanjutnya melalui proses hitungan, diperoleh jarak datar
dan beda tinggi antara dua titik yang telah diketahui koordinatnya (X,Y,Z)
Untuk menentukan tinggi titik B dari tinggi A yang telah diketahui koordinat (X,Y,Z),
digunakan rumus sebagai berikut:
TB = TA + H
untuk menghitung jarak datar (Dd)

1

ΔH   100 Ba  Bb Sin 2m  TA  B t
2

Dd

=

DO Cos2 m

Dd

=

100 (Ba – Bb) Cos2 m

dimana:
TA

=

titik tinggi A yang telah diketahui

TB

=

titik tinggi B yang akan ditentukan

H

=

beda tinggi antara titik A dan titik B

Ba

=

bacaan benang diafragma atas

Bb

=

bacaan benang diafragma bawah

Bt

=

bacaan benang diafragma tengah

TA

=

tinggi alat, Do = Jarak optis, dan m = sudut miring

Mengingat akan banyak titik-titik rinci yang diukur, serta terbatasnya kemampuan jarak
yang dapt diukur dengan alat tersebut, maka diperlukan titik-titik bantu yang membentuk
jaringan poligon kompas terikat sempurna. Sebagai konsekwensinya pada jalur poligon
kompas akan terjadi perbedaan arah orientasi utara magnetis dengan arah orientasi utara
peta sehingga sebelum dilakukan hitungan, data azimuth magnetis diberi koreksi Boussole
supaya menjadi azimuth geografis. Hubungan matematik koreksi boussole (C) adalah:
C

=

g - m

dimana:
g

=

azimuth geografis

m

=

azimuth magnetis

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-20

Pada pelaksanaannya kerapatan titik detail akan sangat bergantung pada skala peta yang
akan dibuat, selain itu keadaan tanah yang mempunyai perbedaan tinggi yang ekstrim
dilakukan pengukuran lebih rapat.

4.7.2

Analisis Geoteknik

Daerah studi berada di Kecamatan tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Kecamatan Tehoru merupakan daearah yang mempunyai karakteristik tanah

yang

litologinya tersusun oleh hasil erupsi volkanik ada jalan desa atau dusun, berupa jalan aspal
dan jalan tanah/batu yang diperkeras, sedangkan kondisi jalan setapak relatif sedikit dan
masih kasar, sering tertutup oleh tumbuhan.
Berdasarkan Peta geologi Regional Lembar Masohi oleh Rustandi dan Gafoer , 1993., P3G.
Bandung seperti pada Gambar 4.13 , maka daerah kajian yang secara umum dibagi
menjadi dua satuan geomorfologi yaitu : Satuan Geomorfologi Perbukitan Bergelombang dan
Satuan Geomorfologi Dataran Aluvial.
Satuan Geomorfologi Perbukitan Bergelombang Landai, menmpati bagian utara dan tengah
lembar peta atau sekitar 70 % luas daerah investigasi. Satuan morfologi ini ditandai dengan
bukit-bukit dengan kisaran ketinggian antara 300 m – 400 m dari permukaan laut.
Kemiringan lereng pada satuan ini cukup tinggi berkisar antara 25 % s/d 70 %. Secara
geologi satuan ini ditempati oleh satuan batuan sedimen darai dari Formasi Seblat dan
Formasi Lemau.
Satuan geomorfologi Dataran Aluvial menempati bagian barat daya dan selatan lembar peta
atau sekitar 30 % luas daerah investigasi. Satuan geomorfologi ini ditandai oleh dataran
dengan kelandaian 0 % s/d 10% pada kisaran ketinggian

antara 0m – 200m dari

permukaan laut. Secara geologi satuan ini ditempati oleh batuan-batuan aluvial sungai dan
kolovial dari Formasi Simpangaur serta endapan permukaan (aluvium).
Aliran sungai utama yang dikenal dengan sungai Kawanoa, memiliki hulu membentuk ranting
pohon atau tipe denritik yang selanjutnya bermuara di Laut Banda.
Daerah aliran sungai Kawanoa, melingkupi aliran sungai yang berada di kawasan Kecamatan
Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, memiliki aliran timur laut – barat daya, merupakan
sungai permanen, yang berair sepanjang tahun, di bagian hulu membentuk pola aliran
denritik sebagaimana ranting pohon sementara di hilir sampai muara berkelok-kelok dan
dijumpai delta-delta.
Bentuk lembah sungai dibagian hulu adalah V, termasuk stadium erosi muda, sedang mulai
daerah Tehoru sampai muara, diketahui lembah sungai berbentuk U dan stadium erosi tua
atau diketahui kecepatan erosi horisontal lebih besar dari pada erosi vertikal.
Secara stratigrafi diketahui, satuan batuan yang menempati daerah kajian dari tua ke
muda dapat diketahui sebagaimana pada Tabel 5.1 dan sebarannya dapat diketahui pada
Gambar 5.1 dan secara singkat diuraikan dari muda ke tua sebagai berikut :

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-21

-

Satuan Aluvium (Qa), menunjukkan sebaran di sepanjang aliran sungai Lahatan,
Tone Tanah, dan Ruata. Terdiri atas bongkah, kerikil, pasir, lanau, lumpur dan
lempung, urai.

-

Satuan Batu Gamping Koral (Ql), memiliki sebaran di sebelah timur Haruru,
Masohi, dan Makariki. Terdiri atas batu gamping, koral berstruktur terumbu.

Satuan Komplek Tehoru (PTrt) Di dekat sumber sungai bagian hulu, terdiri atas batuan
malihan berderajat amfibolit, terdiri dari sekis, genes, ambifol, kuarsit, filit, dan fualam.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-22

Sumber :

11)

Sekretariat Badan Geologi Bandung.

Gambar 4. 11 Peta geologi lembar Amahai Kabupaten Maluku Tengah.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-23

Tabel 4. 1 Urutan statigrafi daerah Tehoru dan Sekitarnya.

Satuan Batuan
ZAMAN

Kala

Intrusi
Nama

K
U
A
R
T
E
R
T
E
R
S
I
E
R

Plistosen

Alluvial

Qal

Pliosen

Formasi
Bintunan

QTb

Formasi
Simpangaur
Formasi
Lemau

Tmps

Akhir
Miosen
Tengah
Awal
Oligosen

Keterangan

Simbol

Tml

Tmdi
(intrusiDiorit)

Toms

Formasi
Seblat

Struktur geologi, yang berkembang adalah perlapisan, kekar, patahan, lipatan yang terdiri
atas sinklin dan antiklin.
Perlapisan memperlihatkan sebaran barat laut – tenggara atau dengan jurus N 1400

-

– 1500 dengan kemiringan 200 - 300 , terlihat pada satuan Batuan Formasi Lemau.
Kekar dijumpai di atuan Batuan Intrusi diorite dengan kerapatan 30 buah per m dan

-

beberapa tampak di batuan breksi.
Patahan, memperlihatkan zona patahan dengan arah baratlaut – tenggara, berupa

-

patahan normal dan patahan naik sejajar patahan Semangku dimana bgian timurlaut
relative naik terhadap bagian barat daya atau sejajar Bukit Barisan.
Antiklin dan snkin, diketahui memiliki sumbu barat laut – tenggara, dijumpai pada

-

Satuan Batuan Formasi Lemau.

4.7.3

Hasil Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika Tanah

Dalam penyelidikan Geologi dan Mekanika Tanah ini dimaksudkan untuk mengetahui
keadaan sifat fisik tanah/batuan dengan terperinci sehingga dapat dipergunakan dalam
perencanaan.
Adapun

lingkup

pekerjaan

penyelidikan

geologi

teknik

dan

mekanika

tanah

yang

dilaksanakan yaitu sebagai berikut :
a) Kegiatan Lapangan, meliputi :
1. Pengujian Bor Tangan

= 5 titik dengan kedalaman + 5 m Dengan
pengambilan undisturbed sample masing-masing
2 buah

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-24

2. Pengujian Sondir

=

5 titik dengan kedalaman + 8 m

b) Kegiatan Laboratorium, meliputi :

Soil Properties, antara lain :
-

Berat isi (Unit Weight)

-

Berat jenis (Specific Gravity)

-

Kadar Air (Water Content)

Grain Size Analysis/Hydrometer

Atterberg Limit

In situ bulk and dry density

Natural moisture content

Shear strength characteristic

Permability

4.7.3.1 Pekerjaan Pemboran Tangan
Pekerjaan Pemboran Tangan (Hand Bore) dimaksudkan untuk mengetahui secara visual
macam dan sifat tanah serta untuk mengambil contoh tanah tak terganggu dan tanah terganngu
yang akan dipakai sebagai benda uji untuk penelitian sifat fisik dan sifat mekanis tanah untuk
kepentingan perencanaan pondasi bangunan ataupun rencana tanggul banjir.
Peralatan dan perlengkapan, serta bahan yang digunakan terdiri dari :
·

Bor tipe auger dengan kapasitas kedalaman pemboran sampai kira-kira 8 meter,

·

Kepala pengambilan contoh diameter, 6.8 cm dengan kuncinya

·

Set stang bor

·

Tabung contoh tanah ukuran diameter 6.8 cm dan panjang 40 cm

·

Pemutar stang bor

·

Set pipa pelindung dengan sepatu dongrak pencabut pipa

·

Perlengkapan kantor plastik, lilin, kunci pipa dan obeng, pita ukur, pencil, kertas, dan
lembaran data

·

Alat terpal untuk contoh

Langkah yang dilakukan dalaam pekerjaan pengeboran adalah sebagai berikut :
·

Persiapan peralatan dan perlengkapan yang diperlukan

·

Pembuatan lubang tempat pengeboran dan pembersihan

·

Pemasangan bor ke dalam lubang tanah kemudian diputar dengan stang bor sehingga
mata bor penuh terisi tanah, kemusian stang ditarik keatas dan mata bor dibersihkan

·

Ulangi tahap ketiga hingga kedalaman yang diinginkan

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-25

·

Selama pemboran harus dilakukan deskripsi setiap lapisan tanah

·

Pengambilan contoh tanah, hal yang penting dilakukan adalah bahwa tanah terganggu
(disturbed sample) yaitu tanah dari mata bor, serta tanah tidak terganggu (undisturbed
sample). Contoh tanah tak terganggu diambil dengan tabung baja tipis diameter 7 cm dan
panjang 50 cm

·

Dalam satu lubang dapat diambil beberapa sampel

·

Hasil pengamatan visual dilapangan terhadap contoh tanah yang terambil dibuat
deskripsinya dalam log bor.

4.7.3.2 Pekerjaan Sondir
Penyelidikan sondir bertujuan untuk mengetahui :
·

Untuk memperkirakan perbedaan lapisan tanah

·

Untuk menentukan kedalaman lapisan tanah keras

·

Untuk mengetahui kekuatan tanah (daya dukung) dan sifat hambatan lekat tanah
yang akan dipakai untuk menghitung pondasi bangunan dan mengetahui keadaan
susunan kekerasan lapisan tanah pondasi sampai kedalaman 20 meter.

Peralatan dan perlengkapan , serta bahan yang digunakan adalah :
·

Mesin sondir, yang akan digunakan adalah berkapasitas 2 ton dengan bikonus dan
manometer yang telah dikalibrasi dan bekerja dengan sempurna.

·

Satu set stang sondir lengkap dengan stang dalam, panjang masing-masing 1,0 m

·

Manometer terdiri dari : (1) Kapasitas 0 – 50 kg/cm2, (2) Kapasitas 0 – 150 kg/cm2

·

Konus dan bikonus masing-masing 1 buah

·

Perlengkapan : kunci pipa, pipa plunyer, palu, kunci, manometer, water pass dan lainlain

·

Minyak pelumas.

Metode yang digunakan sesuai dengan alat yang digunakan adalah Dutch Cone Penetrometer
dengan bikonus jenis Begeman yang mempunyai kapasitas 150 kg/cm 2. Prosedur pekerjaan
penyondiran adalah sebagai berikut :
·

Persiapan base camp, peralatan dan perlengkapan lainnya

·

Pemasangan mesin tegak lurus tanah yang akan diselidiki kemudian diperkuat dengan
angker yang ditanam dalam tanah

·

Pemasangan teker dan kemudian stang dalam ditekan

·

Pembacaan manometer

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-26

·

Penekanan

stang

luar

untuk

kedalaman

baru,

dilakukan

setiap

penambahan

kedalaman 20 cm, kemudian pekerjaan dilakukan lagi seperti langkah ketiga
Pekerjaan sondir harus dihentikan bila mengalami :
·

Pembacaan manometer 3 kali berturut-turut menunjukkan nilai 150 kg/cm2

·

Alat sondir terangkat ke atas sedangkan pembacaan manometer belum menunjukkan
angka maksimum, maka alat sondir diberi pemberat

·

Mengenai batuan lepas, maka penyondiran perlu dipindah

Hasil pembacaan manometer dibuatkan grafik hubungan antara kedalaman (m) dan
perlawanan penetrasi konus (qc = kg/cm2) dan jumlah hambatan pelekat (JHP = kg/cm2).
Pekerjaan sondir telah di lahsanakan pada 30 september 2012 dengan 2 titik penyondiran
dengan kedalaman 8 m setiap titik dan hasil sebagai berikut :
·

Permukaan tanah pada titik 1 dan 2 untuk lapisan atas top siol adalah berupa tanah
organik. Hal ini terlihat dari pengamatan visual melalui hasil contoh tanah pengeboran
dan hasil hasil pengujian dengan sondir elektrik (CPT), seperti tercantum pada
lampiran.

·

Interpretasi hasil berdasarkan pengolahan data di dapatkan nilai perlawanan konus

Pekerjaan sondir akan dilaksanakan oleh tim Mektan PT. Karya Utama Citra Mandiri yang
terdiri dari lima titik yang berlokasi dari hulu sampai hilir Sungai Kawanoa sesuai perintah
dari Balai Wilayah Sungai.

4.7.4

Analisa Hidrologi dan Hidrometri

Secara umum pembahasan analisa hidrologi adalah melakukan analisa hidroklimatologi
dengan teknis analisa secara kuantitatif yang mengacu pada berbagai metode yang relevan
dengan Standar Nasional Indonesia yang berlaku. Dengan memperhatikan berbagai
karakteristik geografis yang terkait, diharapkan dapat diperoleh informasi berupa besaran
hidrologi yang diperlukan untuk perencanaan pengendalian banjir. Analisa data ini
dimaksudkan untuk mendukung pekerjaan “DED Pengendalian Banjir Sungai Kawanoa,
Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah”, khususnya dalam hal menentukan curah hujan rencana,
debit banjir rencana serta karakteristik hidrologi lainnya. Data curah hujan yang di perlukan
adalah curah hujan harian. Pada perencanaan ini, data yang di kumpulkan di peroleh dari
curah hujan yang diperoleh dari instansi terkait.
Lingkup pekerjaan analisa hidrologi meliputi : analisa data, analisa hujan rancangan,
perhitungan transfer hujan ke debit banjir. Hasil akhir dari analisa hidrologi ini adalah
besaran debit banjir rancangan dengan berbagai periode ulang.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-27

Gambar 4. 12 Alur analisa Hidrologi.

Dalam perencanaan bangunan pengendali banjir, analisis hidrologi merupakan faktor penting
untuk menentukan banjir rencana. Banjir rencana dimaksudkan untuk menentukan besaran
banjir yang digunakan sebagai acuan dalam perencanaan bangunan pengendali. Tahapan
dalam analisis hidrologi adalah analisis data curah hujan dan analisis debit banjir rencana.
Banjir rencana ditetapkan melalui analisis hidrologi dari sungai atau Daerah Aliran Sungai
(DAS) dimana bangunan tersebut akan dibangun, dengan periode ulang tertentu sesuai dengan
kriteria desain yang digunakan.
Analisa hidrologi pada pekerjaan ini mempunyai alur pengerjaan dengan langkah-langkah
seperti yang tercantum pada gambar diatas. Inti dari analisa hidrologi ini adalah untuk
memperkirakan curah hujan yang akan jatuh di lokasi pekerjaan. Sehingga akan dapat didesain
atau direncanakan bentuk penampang drainase yang dapat menampung aliran air hujan.
4.7.5

Ketersediaan Data

4.7.5.1 Stasiun Hujan
Dalam rangka melakukan analisa hidrologi dilakukan identifikasi stasiun pencatatan curah hujan
yang ada di lokasi studi. Dari hasil identifikasi, stasiun pencatatan curah hujan di wilayah studi
dapat dilihat sebagai berikut:
1.

Stasiun BMKG Pattimura Ambon (30 42’ LS; 1280 5’ BT), tahun 2002-2012/11 data

2.

Stasiun BMKG Kairatu (30 20’ LS; 1280 21’ BT), tahun 2002-2011/10 data

3.

Stasiun BMKG Amahai (30 21’ LS; 1280 52’ BT), tahun 2002-2012/11 data

4.

Stasiun BMKG Geser (30 48’ LS; 1300 50’ BT), tahun 2002-2012/11 data

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-28

Pemilihan data stasiun hujan yang akan digunakan dalam analisa hidrologi dilakukan dengan
menggunakan metode poligon Thiessen. Metode ini memperhitungkan luas daerah yang
diwakili stasiun yang berpengaruh sebagai faktor koreksi dalam menghitung hujan rata-rata.
Peta stasiun hujan dan daerah pengaruh metode thiesen untuk setiap stasiun hujan dapat
dilihat pada gambar di bawah. Dari peta dapat dilihat bahwa lokasi studi dipengaruhi oleh hanya
satu stasiun yaitu stasiun BMKG Amahai.
4.7.5.2 Data Hujan
Data curah hujan yang digunakan untuk analisa hidrologi diambil dari data hujan dari Stasiun
BMKG Amahai di Kabupaten Maluku Tengah yang tercatat sejak tahun 2002 s/d 2012 sebagai
berikut.
Tabel 4. 2 Data curah hujan harian maksimum Stasiun Geser.
Tahun
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012

JAN
18
28
60
53
78
42
32
44
30
73
34

FEB
71
40
65
43
38
74
41
55
33
30
21

MAR
62
83
33
33
58
39
43
55
27
65
47

APR
75
91
90
85
47
97
63
51
101
49
30

MEI
154
146
47
66
47
43
50
69
65
175
60

JUN
260
3
72
23
131
67
59
68
139
63
67

JUL
37
15
9
30
45
20
39
28
61
21
62

AUG
9
39
0
8
3
27
69
16
172
74
93

SEP
6
63
0
33
21
40
50
20
54
31
28

OKT
62
36
0
21
5
92
108
14
58
24
27

NOP
13
15
9
38
27
24
13
73
103
41
21

DES
58
54
21
102
50
65
48
39
68
71
34

Max
260
146
90
102
131
97
108
73
172
175
93

NOP
11
30
18
55
10
23
40
30
52
31
23

DES
20
3
19
65
47
57
61
36
59
16
31

Max
86
53
130
101
166
263
170
97
224
188
360

Tabel 4. 3 Data curah hujan harian maksimum Stasiun Pattimura.

Tahun
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012

JAN
28
1
29
47
31
53
36
28
66
31

FEB
31
0
31
53
32
45
31
9
49
47

MAR
45
21
5
69
25
32
21
30
33
35
79

APR
86
53
56
53
45
59
61
19
22
134
17

MEI
79
44
73
77
59
84
91
97
88
183
185

JUN
57
53
130
32
166
263
83
42
224
153
222

JUL
32
0
48
101
69
39
170
77
202
188
360

AUG
16
0
12
59
35
75
117
43
187
146
348

SEP
47
0
57
43
38
160
161
41
58
41
116

OKT
14
28
99
55
2
95
48
49
32
59
118

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-29

Tabel 4. 4 Data curah hujan harian maksimum Stasiun
Amahai.
Tahun

Curah Hujan Maksimum (mm)
Jan

Feb

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agust

Sep

Okt

Nov

Des

2002

23.3

12.3

38.7

26.1

93.0

70.5

19.2

9.3

65.0

8.9

10.5

89.4

Maks
93.0

2003

15.3

44.9

38.2

47.1

27.2

45.8

307.0

39.5

21.6

21.9

14.3

20.3

307.0

2004

38.9

27.9

24.8

73.0

52.3

45.4

41.0

4.3

58.4

16.5

42.3

42.7

73.0

2005

12.8

29.0

47.9

56.9

35.1

62.0

108.4

0.0

23.4

63.9

65.3

39.4

108.4

2006

57.7

37.8

39.1

33.3

45.1

158.6

74.9

11.0

47.1

8.9

31.9

28.3

158.6

2007

36.6

20.0

38.1

50.1

97.3

141.4

58.2

84.8

50.2

9.0

14.0

19.3

141.4

2008

25.5

28.1

22.4

48.7

84.0

76.2

125.4

190.2

108.4

41.9

42.1

76.2

190.2

2009

70.5

30.6

34.7

21.8

62.5

143.0

41.2

93.8

28.7

66.1

34.0

69.6

143.0

2010

25.6

23.5

74.8

35.5

38.2

78.1

30.0

136.2

34.3

45.5

26.5

60.7

136.2

2011

31.7

14.7

56.6

38.6

208.3

101.1

125.4

42.3

156.5

12.4

85.1

57.4

208.3

2012

13.5

65.5

47.6

47.8

144.6

94.8

204.7

250.0

55.0

16.0

36.0

47.0

250.0

Maks

70.5

65.5

74.8

73.0

208.3

158.6

307.0

250.0

156.5

66.1

85.1

89.4

Tabel 4. 5 Data curah hujan harian maksimum Stasiun Kairatu.
Sumber: Stasiun BMKG Amahai
Tahun
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

JAN

FEB
43
28
16
20
31
10
41
43
27
27

MAR
20
59
40
23
63
29
50
39
6
30

APR

50
34
18
172
123
24
50
77
40
47

45
45
58
30
31
22
105
60
29
16

MEI
41
40
95
20
26
45
30
15
54
231

JUN
15
23
42
82
167
198
170
72
89
145

JUL
3
227
19
133
110
20
88
32
81
110

AUG
2
20
10
36
13
27
277
64
88
55

SEP

OKT
5
26
10
39
24
82
73
10
51
69

NOP
4
34
26
76
7
38
97
23
21
70

DES
67
10
19
39
20
9
28
48
26
22

Max

34
65
23
89
36
41
70
43
77
121

4.7.5.3 Peta Daerah Aliran Sungai
Daerah

Aliran

Sungai

(DAS)

secara

umum

didefinisikan

sebagai

suatu

hamparan

wilayah/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima,
mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak
sungai dan keluar pada sungai utama ke laut atau danau.
Pada studi ini, peta yang digunakan untuk sebagai dasar untuk melihat daerah aliran sungai
Kawanoa adalah peta Kabupaten Maluku Tengah yang diperoleh dari Badan Koordinasi Survai
dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dengan skala 1 : 25.000 seperti pada gambar di bawah

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-30

67
227
95
172
167
198
277
77
89
231

DAS KOBI

A = 474,6 Km2
L = 47,34 Km

Gambar 4. 13 Peta DAS Kobi.
4.7.6 Analisis dan Perhitungan Hidrologi meliputi:
4.7.6.1 Analisis Curah Hujan
Secara umum terdapat tiga metode untuk mendapatkan curah hujan rerata daerah, yaitu :

1.

Metode Rata-rata Aljabar

2.

Metode Poligon Thiessen

3.

Metode Garis Isohyet

Selain berdasarkan stasiun pengamatan, curah hujan daerah dapat dihitung dengan
parameter luas daerah tinjauan sebagai berikut :
1. Untuk daerah tinjauan dengan luas 250 ha dengan variasi topografi kecil diwakili oleh
sebuah stasiun pengamatan.
2. Untuk daerah tinjauan dengan luas 250 - 50.000 ha yang memiliki 2 atau 3 stasiun
pengamatan dapat menggunakan metode rata-rata aljabar.
3. Untuk daerah tinjauan dengan luas 120.000 - 500.000 ha yang memiliki beberapa
stasiun pengamatan tersebar cukup merata dan dimana curah hujannya tidak terlalu
dipengaruhi oleh kondisi topografi dapat menggunakan metode rata-rata aljabar, tetapi
jika stasiun pengamatan tersebar tidak merata dapat menggunakan metode Thiessen.
4. Untuk daerah tinjauan dengan luas lebih dari 500.000 ha menggunakan metode Isohiet
atau metode potongan antara.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-31

4.7.6.1.1 Uji Konsitensi Data Metoda Kurva Masa Ganda
Uji konsistensi data dimaksudkan untuk mengetahui kebenaran data yang diperoleh apakah
terjadi perubahan lingkungan dan cara penakaran. Metode yang digunakan dalam uji
konsistensi adalah metode curve massa ganda. Dalam metode ini nilai kumulatif seri data
curah hujan Stasiun BMKG Amahai dibandingkan dengan nilai kumulatif seri data curah
hujan dari stasiun referensi yaitu Stasiun BMKG Pattimura dan Stasiun BMKG Geser. Nilai
kumulatif seri data digambarkan pada grafik sistem koordinat kartesius (X-Y) yang kemudian
diperiksa untuk melihat perubahan kemiringan. Hasil uji konsistensi terhadap data curah
hujan Stasiun BMKG Amahai dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut ini.
Tabel 4. 6 Data Curah Hujan Sta. Amahai Sebelum dan Setelah Terkoreksi.

Tahun

Data Hujan

Data Hujan

Sta. Geser

Sta. Pattimura

Data Hujan Sta. Amahai (mm)
Belum

Setelah

(mm)

(mm)

Terkoreksi

Terkoreksi

2012

93.00

360.40

250.00

250.00

2011

175.00

187.70

208.30

208.30

2010

172.00

223.90

136.20

136.20

2009

73.00

97.30

143.00

143.00

2008

108.00

170.00

190.20

190.20

2007

97.00

262.80

141.40

141.40

2006

131.00

165.80

158.60

158.60

2005

102.00

101.10

108.40

108.40

2004

90.00

130.20

73.00

121.17

2003

146.00

227.00

307.00

197.73

2002

260.00

67.00

93.00

173.35

Sumber: Hasil Analisa

Uji Konsistensi Metode Curve Massa Ganda
2000

1800

Kumulatif Curah Hujan (mm)
Stasiun Referensi

1600
1400
1200
1000
800
600
400
200
0

0

200

400

600

800

1000

1200

1400

1600

1800

2000

Kumulatif Curah Hujan (mm)
Stasiun Amahai
Data Belum Terkoreksi

Data Setelah Terkoreksi

Gambar 4. 14 Analisa Curve Massa Ganda.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-32

4.7.6.1.2 Uji Homogenitas Data Metoda Lang Bein
Untuk mengetahui apakah data dari stasiun-stasiun curah hujan mempunyai sifat yang
serupa satu sama lain atau tidak (homogen) maka perlu dianalisis dengan test homogenitas.
Metode

uji

homogenitas

dikembangkan

oleh

Langbein

dari

US

Geological

Survey.

Perhitungan test homogenitas yang dimaksud mempergunakan variabel-variabel sebagai
berikut:
a

=

jumlah tahun pengamatan setiap stasiun curah hujan

b

=

besarnya curah hujan harian dengan perioda ulang 10 tahun, untuk analisis ini
diambil dari grafik logaritmik

c

=

besarnya curah hujan harian dengan perioda ulang 2,33 tahun, untuk analisis ini
diambil dari grafik logaritmik atau disebut harga rata-rata dari data curah hujan
maksimum (perioda ulang 2,33)

d

=

perbandingan b dengan c = b / c

e

=

harga rata-rata dari d

f

=

kolom e (harga rata-rata perioda ulang 2,33) dikalikan dengan kolom c

g

=

perioda ulang dari f

Pada pengujian homogenitas ini, data frekuensi curah hujan yang digunakan adalah dari
hasil perhitungan Metoda Gumbel. Penyelesaian perhitungan diselesaikan secara tabelaris
untuk seluruh stasiun seperti pada tabel di bawah ini.
Dari tabel di atas, nilai a dan g masing-masing wilayah diplot ke dalam grafik lengkung
homogenitas dari US Geological Survey di mana terlihat bahwa titik yang menghubungkan
harga-harga recurrence interval dengan lama waktu pengamatan berada di dalam area garis
lengkung kontrol.
Tabel 4. 7 Contoh perhitungan homogenitas untuk masing-masing stasiun di daerah Maluku.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-33

Gambar 4. 15 Contoh plot hasil perhitungan homogenitas.

4.7.6.2 Analisa Frekuensi Curah Hujan
Analisis frekuensi curah hujan rencana dilakukan untuk menentukan curah hujan dengan
periode ulang tertentu yang kemudian dipakai untuk perencanaan. Metoda yang dipakai
nantinya harus ditentukan dengan melihat karakteristik distribusi hujan daerah setempat.
Periode ulang yang akan dihitung pada masing-masing metode adalah untuk periode ulang
2, 5, 10, 25, 50 dan 100 tahun.
Tujuan dari analisis frekuensi curah hujan ini adalah untuk memperoleh curah hujan dengan
beberapa perioda ulang. Pada analisis ini digunakan beberapa metoda untuk memperkirakan
curah hujan dengan periode kala ulang tertentu, yaitu :
a.

Metoda Distribusi Normal

b.

Metoda Distribusi Log Normal 2 Parameter

c.

Metoda Distribusi Gumbel

d.

Metoda Distribusi Pearson Type III

e.

Metoda Distribusi Log Pearson Type III

4.7.6.2.1 Metode Distribusi Normal
Distribusi normal atau kurva normal dikenal pula dengan nama distibusi Gauss yang
mempunyai rumus sebagai berikut:
Xt

= X + K. SX

Dimana:

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-34

Xt

= curah hujan untuk periode ulang T tahun (mm)

X

= curah hujan maksimum rata-rata

SX

= standar deviasi

K

= faktor variabel reduksi Gauss untuk Distribusi Normal

Hasil perhitungan frekuensi curah hujan dengan metode distribusi normal dapat dilihat pada
tabel sebagai berikut.
Tabel 4. 8 Frekuensi curah hujan metode Distribusi Normal.
Tr

X

Xur ut

Tr

(tahun)

(mm)

(mm)

(tahun)

2002

12.00

173.35

250.00

1.01

-2.33

67.65

99.0%

2003

6.00

197.73

208.30

2

0.00

166.21

50.0%

3

2004

4.00

121.17

197.73

5

0.84

201.75

20.0%

4

2005

3.00

108.40

190.20

10

1.28

220.36

10.0%

5

2006

2.40

158.60

173.35

25

1.64

235.59

4.0%

6

2007

2.00

141.40

158.60

50

2.05

252.94

2.0%

7

2008

1.71

190.20

143.00

100

2.33

264.78

1.0%

8

2009

1.50

143.00

141.40

200

2.58

275.36

0.5%

9

2010

1.33

136.20

136.20

1000

3.09

296.93

0.1%

10

2011

1.20

208.30

121.17

11

2012

108.40

No.

Tahun

1
2

1.09

250.00

Jumlah data

n

11

Nilai rata-rata

X

166.21

Standard deviasi

SX

42.30

KT r

XT r
(mm)

Peluang

Sumber: Hasil Analisa

4.7.6.2.2 Metode Distribusi Log Normal 2 Parameter
Distibusi log normal merupakan hasil transformasi dari distribusi normal, yaitu dengan
mengubah nilai variat X menjadi nilai logaritmik variat X. Untuk distribusi log normal dua
parameter mempunyai persamaan transformasi:
Log Xt

= LogX + K. SlogX

Dimana:
Xt

= Besarnya curah hujan dengan periode t (mm)

Log Xt = nilai logaritmik curah hujan untuk periode ulang T tahun (mm)

LogX

= nilai logaritmik curah hujan maksimum rata-rata

SlogX

= standar deviasi logaritmik nilai X
n

  Log X
=

t 1

t

 Log X  2

n 1

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-35

K

= faktor frekuensi, sebagai fungsi dari koefisien variasi (cv) dengan periode
ulang t. Nilai k dapat diperoleh dari tabel yang merupakan fungsi peluang
kumulatif dan periode ulang. (faktor variabel reduksi Gauss untuk distribusi
Log Normal 2 Parameter)

CS

= koefisien kepencengan

CK

= koefisien kurtosis

=

3 CV + CV3

= CV8 + 6CV6 + 15CV4 + 16CV2 + 3

σ
μ

CV

= koefisien variasi =

σ

= deviasi standar populasi ln X atau log X

μ

= rata-rata hitung populasi ln X atau lo
Tabel 4. 9 Frekuensi curah hujan metode distribusi Log Normal 2 Parameter.

Tr

X

Xur ut

Tr

(tahun)

(mm)

(mm)

(tahun)

2002

12.00

173.35

250.00

1.01

-1.66

96.14

99.0%

2003

6.00

197.73

208.30

2

-0.12

161.08

50.0%

3

2004

4.00

121.17

197.73

5

0.77

198.94

20.0%

4

2005

3.00

108.40

190.20

10

1.32

222.08

10.0%

5

2006

2.40

158.60

173.35

25

1.92

247.58

4.0%

6

2007

2.00

141.40

158.60

50

2.44

269.35

2.0%

7

2008

1.71

190.20

143.00

100

2.89

288.47

1.0%

8

2009

1.50

143.00

141.40

200

3.36

308.32

0.5%

1000

3.64

320.24

0.1%

No.

Tahun

1
2

9

2010

1.33

136.20

136.20

10

2011

1.20

208.30

121.17

11

2012

1.09

250.00

108.40

Jumlah data

n

11

Standar deviasi

SX

42.30

Nilai rata-rata

X

166.21

Koefisien Variasi

CV

0.255

KT r

XT r
(mm)

Peluang

Sumber: Hasil Analisa

4.7.6.2.3

Metode Gumbell

Fungsi distribusi komulatif (CDF) dari ditribusi Gumbel dirumuskan:

F ( x)  exp  exp( y)
Dimana:

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-36

y



x


6

S

  x  0.5772
Untuk x = xT maka

  1
yT   Ln Ln
  F ( xT





,

  Tr 
yT   Ln Ln

  Tr  1 

Menurut Gumbel persamaan peramalan dinyatakan sebagai berikut:

xT  x  KT S

KT  

  Tr  
6
 
0.5772  Ln Ln
 
  Tr  1  

Dimana:
yN

= reduced mean

SN

= reduced standar deviasi

Hasil perhitungan frekuensi curah hujan dengan metode Gumbell dapat dilihat pada tabel
sebagai berikut.
Tabel 4. 10 Frekuensi curah hujan metode Gumbell.
Tr

X

Xur ut

(tahun)

(mm)

(mm)

2002

12.00

173.35

250.00

50.87

1.01

-1.53

77.51

99.0%

2003

6.00

197.73

208.30

993.37

2

0.37

160.39

50.0%

3

2004

4.00

121.17

197.73

2028.87

5

1.50

209.95

20.0%

4

2005

3.00

108.40

190.20

3342.39

10

2.25

242.76

10.0%

5

2006

2.40

158.60

173.35

57.96

25

3.20

284.21

4.0%

6

2007

2.00

141.40

158.60

615.71

50

3.90

314.96

2.0%

7

2008

1.71

190.20

143.00

575.36

100

4.60

345.49

1.0%

8

2009

1.50

143.00

141.40

538.86

200

5.30

375.90

0.5%

9

2010

1.33

136.20

136.20

900.81

1000

6.91

446.35

0.1%

10

2011

1.20

208.30

121.17

1771.28

11

2012

1.09

250.00

108.40

7020.19

No.

Tahun

1
2

Jumlah data yang dipergunakan
Jumlah nilai data
Nilai rata-rata

(X1 - X)2

n

11

SX

1828.35

X

166.21

Tr
(tahun)

YT r

XT r
(mm)

Peluang

Jumlah selisih dengan mean pangkat 2 (X 1 - X)2 17895.67
Standard deviasi
SX
42.30
Koefisien yn (reduced mean)

Yn

0.50

Koefisien sn (reduced S d)

Sn

0.97

Sumber: Hasil Analisa

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-37

4.7.6.2.4 Metode Pearson III
Persamaan distribusi Pearson III dapat dijelaskan sebagai berikut:

 X 
N

X 
Hitung nilai mean:

Hitung standar deviasi: S =

CS 
Hitung koefisien kemencengan:

 log X  log X

3

N  1 * N  2 * S 3

Hitung curah hujan:

X T  X  S * KT
Hasil perhitungan frekuensi curah hujan dengan metode Pearson III dapat dilihat pada tabel
sebagai berikut.
Tabel 4. 11 Frekuensi curah hujan metode Pearson III.

Tr

X

Xur ut

(tahun)

(mm)

(mm)

2002

12.00

173.35

250.00

363

1.01

-1.88

86.51

99.0%

2003

6.00

197.73

208.30

31309

2

-0.10

162.06

50.0%

3

2004

4.00

121.17

197.73

-91386

5

0.80

200.07

20.0%

4

2005

3.00

108.40

190.20

-193235

10

1.33

222.38

10.0%

5

2006

2.40

158.60

173.35

-441

25

1.94

248.17

4.0%

6

2007

2.00

141.40

158.60

-15278

50

2.36

265.90

2.0%

7

2008

1.71

190.20

143.00

13801

100

2.75

282.60

1.0%

8

2009

1.50

143.00

141.40

-12509

200

3.13

298.50

0.5%

9

2010

1.33

136.20

136.20

-27036

1000

3.95

333.41

0.1%

10

2011

1.20

208.30

121.17

74547

11

2012

1.09

250.00

108.40

588198

No.

Tahun

1
2

Jumlah data yang dipergunakan

(Xi - X)3

n

11

X

1828.35

Nilai rata-rata

X

166.21

Standard deviasi

SX

42.30

koefisien kemencengan

CS

0.59

Jumlah nilai data

Tr
(tahun)

KT r

XT r
(mm)

Peluang

Sumber: Hasil Analisa

4.7.6.2.5 Metode Log Pearson III
Fungsi distribusi kumulatif (CDF) dari distribusi Log Pearson dirumuskan:

c

 x   cx / 2
f ( x)   po1   e
dx
 a

Dimana: 2 adalah varian dan (x) adalah fungsi gamma

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-38

Garis besar dalam menghitungnya:
Ubah data hujan X1, X2, X3,.......Xn menjadi LogX1, LogX2, LogX3,.......LogXn.
Distribusi Log Pearson Tipe III merupakan hasil transformasi dari distribusi Pearson Tipe III
dengan menggantikan data menjadi nilai logaritmik. Persamaan distribusi Log Pearson Tipe
III dapat ditulis sebagai berikut :

log X 
Hitung nilai mean:

log X 
N

 LogX  Log X
N 1

Hitung standar deviasi: Slog =

CS 
Hitung koefisien kemencengan:
CK

=

2

 LogXi  LogXi

3

N  1 * N  2 * S log 3

koefisien kurtosis

=

Hitung logaritma hujan:


 n  1    n  2    n  3    S log X 
n 2  logX  logX

4

4

log X T  log X  Slog * KT

Hasil perhitungan frekuensi curah hujan dengan metode Log Pearson III dapat dilihat pada
tabel sebagai berikut.
Tabel 4. 12 Perhitungan frekuensi curah hujan metode Log Pearson III.
X

Xur ut

(mm)

(mm)

2002

173.35

250.00

2.24

0.0009

0.0000

2003

197.73

208.30

2.30

0.0077

0.0007

3

2004

121.17

197.73

2.08

0.0156

4

2005

108.40

190.20

2.04

0.0300

5

2006

158.60

173.35

2.20

6

2007

141.40

158.60

7

2008

190.20

8

2009

9

No.

Tahun

1
2

log X

(log X1 - log X)2 (log X1 - log X)3

Tr

XT r

KT r

log XT r

1.01

-2.23

1.96

92.20

2

-0.02

2.21

160.60

-0.0019

5

0.83

2.30

199.16

-0.0052

10

1.29

2.35

223.60

0.0001

0.0000

25

1.79

2.40

253.55

2.15

0.0033

-0.0002

50

2.12

2.44

275.32

143.00

2.28

0.0051

0.0004

100

2.42

2.47

296.81

143.00

141.40

2.16

0.0028

-0.0001

200

2.70

2.50

318.15

2010

136.20

136.20

2.13

0.0055

-0.0004

1000

3.28

2.57

368.14

10

2011

208.30

121.17

2.32

0.0122

0.0014

11

2012

250.00

108.40

2.40

0.0360

0.0068

Jumlah data yang dipergunakan
Jumlah nilai 'log X'
Nilai rata-rata 'log X' (mean)

n

11

logX

24.29

logX

2.21

Jumlah selisih dengan mean pangkat 2 (log X 1 - log X)2
Standard deviasi 'log X'
S logX

0.12

Jumlah selisih dengan mean pangkat 3 (log X 1 - log X)3
koefisien kemencengan
CS

0.00

(tahun)

(mm)

0.11
0.13

Sumber: Hasil Analisa

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-39

Tabel 4. 13 Rekapan curah hujan rancangan tiap metode.

Dari tabel dan gambar di atas terlihat bahwa perhitungan curah hujan rancangan dengan
menggunakan beberapa metode di atas, memperlihatkan hasil yang tidak jauh berbeda
(hampir sama) antara metode distribusi satu dengan distribusi yang lainnya. Untuk itu perlu
dilakukan beberapa uji kecocokan untuk mendapatkan atau untuk memilih curah hujan yang
akan dipakai sebagai dasar penentuan debit banjir pada lokasi pekerjaan.

4.7.6.3 Pemilihan Distribusi Frekuensi Hujan Dengan Uji Kecocokan
Untuk menentukan kecocokan distribusi frekwensi di lakukan uji kecocokan dengan Metode
Chi- Kuadrat dan metode Smirnov-Kolmogorov.

4.7.6.3.1 Metode Chi-Kuadrat (Chi-Square)
Uji Chi-kuadrat dimaksudkan untuk menentukan apakah persamaan distribusi peluang yang
telah dipilih dapat mewakili dari distribusi statistik sampel data yang dianalisis. Pengambilan
keputusan uji ini menggunakan parameter
Parameter

 2 hitung

2

2.

dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :
k

EF  OF 2

i 1

EF


=

Berikut ini adalah Perhitungan Uji Chi – Square untuk masing-masing distribusi.
Pembagian Kelas (K) :
n

=

10

K

=

1+ (3.322 * Log n) = 4.5850  5 kelas

Peluang kelas batas (P) :

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-40

P

=

m
N 1

= 20 %

Tabel 4. 14 Perhitungan uji Chi-Kuadrat untuk distribusi Normal.

Tabel 4. 15 Perhitungan uji Chi-Kuadrat untuk distribusi Log Normal Dua Parameter.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-41

Tabel 4. 16 Perhitungan uji Chi-Kuadrat untuk distribusi Gumbel Tipe I.

Tabel 4. 17 Perhitungan uji Chi-Kuadrat untuk distribusi Log Pearson dan Pearson Tipe III.

Tabel 4. 18 Hasil pengujian distribusi dengan parameter Chi-Kuadrat.

No.

1.

Keterangan

Metoda Distribusi

 2 hit

Distribusi Normal

<

 2 kritis

= Diterima

2.

 2 hit

Distribusi Log Normal 2 Par

<

 2 kritis

= Diterima

3.

 2 hit

Distribusi Gumbel Tipe I

<

 2 kritis

= Diterima

4.

Distribusi

Log

Pearson

Pearson Tipe III

dan

 2 hit

>

 2 kritis

= ditolak

Sumber : Hasil Perhitungan

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-42

Hasil pengujian Chi – Square di atas didapatkan bahwa metode Gumbel Parameter adalah
metode terbaik.

4.7.6.3.2

Metode Smirnov-Kolmogorof

Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorof, sering disebut juga uji kecocokan non parametrik,
karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu. Uji ini digunakan untuk
menguji simpangan/selisih terbesar antara peluang pengamatan (empiris) dengan peluang
teoritis.
Pengujian kecocokan sebaran dengan metode Smirnov-Kolmogorov adalah untuk menguji
apakah sebaran yang dipilih dalam pembuatan duration curve cocok dengan sebaran
empirisnya. Prosedur dasarnya mencakup perbandingan antara probabilitas kumulatif
lapangan dan distribusi kumulat teori.
Data yang ditinjau berukuran N, diatur dengan urutan semakin meningkat. Dari data yang
diatur ini akan membentuk suatu fungsi frekuensi kumulatif tangga sebagai berikut:

G ( x)



x  x1

0
k
N

xk  x  xk 1
x  xN

1

Dimana:
xi = nilai data ke i
k

= nomor urut data (1,2,3,4,.......,N)

G (x)

= CDF data aktual

G(x)

= CDF data teoritis

Selisih maksimum antara

G (x)

dan G(x) untuk seluruh rentang x merupakan ukuran

penyimpangan dari model teoritis terhadap data aktual. Selisih maksimum dinyatakan
dalam:

DN  G( x)  G( x)
Secara teoritis, DN merupakan suatu variabel acak yang ditribusinya tergantung pada N.
Untuk taraf nyata  yang tertentu, pengujian K-S membandingkan selisih maksimum

pengamatan dengan nilai kritis

P( D N 

D

N

D

N

, yang didefinisikan dengan:

)  1

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-43

Jika DN yang diamati kurang dari nilai kritis

D

N

, maka distribusi dapat diterima pada taraf

 yang ditentukan, jika tidak maka distribusi akan ditolak.
Secara lengkap urutan pengerjaan uji kecocokan Smirnov-Kolmogorov yang dilakukan
dengan tahapan sebagai berikut:
1. Data curah hujan harian diurutkan dari kecil ke besar.
2. Menghitung besarnya harga probabilitas dengan persamaan Weibull.
3. Dari grafik pengeplotan data curah hujan di kertas probabilitas akan didapat perbedaan
maksimum antara distribusi teoritis dan empiris yang disebut dengan hit.
tersebut

kemudian dibandingkan dengan

cr yang

didapat

dari tabel

Harga hit
Smirnov-

Kolmogorov untuk suatu derajat tertentu (), di mana untuk bangunan-bangunan air
harga  diambil 5 %.
4. Bila harga hit < cr, maka dapat disimpulkan bahwa penyimpangan yang terjadi masih
dalam batas-batas yang diijinkan.
Hasil pengujian kecocokan sebaran selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4. 19 Nilai Kritis (∆cr) dari Smirnov-Kolmogorov.

n
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
n>50

Nilai kritis S mirnov-Kolmogorov (a)
0,2
0,1
0,05
0,01
0,45
0,51
0,56
0,67
0,32
0,37
0,41
0,49
0,27
0,30
0,34
0,40
0,23
0,26
0,29
0,36
0,21
0,24
0,27
0,32
0,19
0,22
0,24
0,29
0,18
0,20
0,23
0,27
0,17
0,19
0,21
0,25
0,16
0,18
0,20
0,24
0,15
0,17
0,19
0,23
1,07
1,22
1,36
1,63
0.5
0.5
0.5
n
n
n
n0.5

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-44

Tabel 4. 20Uji kecocokan sebaran untuk hasil metode Normal.
Xaktual

Xpr ediksi

(mm)

(mm)

1.33

250.00

222.39

27.61

0.93

208.30

205.47

2.83

4.00

0.67

197.73

194.56

3.17

0.33

3.00

0.41

190.20

183.67

6.53

5

0.42

2.40

0.20

173.35

174.67

1.33

6

0.50

2.00

0.00

158.60

166.21

7.61

7

0.58

1.71

-0.22

143.00

157.06

14.06

8

0.67

1.50

-0.44

141.40

147.55

6.15

9

0.75

1.33

-0.67

136.20

137.89

1.69

10

0.83

1.20

-1.00

121.17

124.03

2.86

11

0.92

1.09

-1.39

108.40

107.22

1.18

maks

27.61

m

Weibull

Tr

KT r

1

0.08

12.00

2

0.17

6.00

3

0.25

4

Selisih Maksimum
Nilai Kritis 5% ditolak

o

Korelasi hasil uji kecocokan

39.60
Diterima

Sumber: Hasil Analisa

Tabel 4. 21 Uji kecocokan sebaran untuk hasil metode Log Normal.
m

Weibull

Tr

KT r

1

0.08

12.00

2

0.17

6.00

3

0.25

4

Xaktual Xpr ediksi

(mm)

(mm)

1.14

250.00

214.25

35.75

0.63

208.30

192.81

15.49

4.00

0.33

197.73

180.26

17.47

0.33

3.00

0.12

190.20

171.36

18.84

5

0.42

2.40

-0.04

173.35

164.46

8.89

6

0.50

2.00

-0.17

158.60

158.82

0.22

7

0.58

1.71

-0.29

143.00

154.05

11.05

8

0.67

1.50

-0.39

141.40

149.92

8.52

9

0.75

1.33

-0.47

136.20

146.27

10.07

10

0.83

1.20

-0.55

121.17

143.01

21.84

11

0.92

1.09

-0.62

108.40

140.06

31.66

maks

35.75

Selisih Maksimum
Nilai Kritis 5% ditolak

o

Korelasi hasil uji kecocokan

39.60
Diterima

Sumber: Hasil Analisa

Tabel 4. 22 Uji kecocokan sebaran untuk hasil metode Gumbell.
m

Weibull

Tr

YT r

1

0.08

12.00

2

0.17

6.00

3

0.25

4

0.33

5

Xaktual Xpr ediksi

(mm)

(mm)

2.44

250.00

251.12

1.12

1.70

208.30

218.78

10.48

4.00

1.25

197.73

198.84

1.11

3.00

0.90

190.20

183.84

6.36

0.42

2.40

0.62

173.35

171.39

1.95

6

0.50

2.00

0.37

158.60

160.39

1.79

7

0.58

1.71

0.13

143.00

150.19

7.19

8

0.67

1.50

-0.09

141.40

140.26

1.14

9

0.75

1.33

-0.33

136.20

130.09

6.11

10

0.83

1.20

-0.58

121.17

118.87

2.30

11

0.92

1.09

-0.91

108.40

104.58

3.82

maks

10.48

Selisih Maksimum
Nilai Kritis 5% ditolak
Korelasi hasil uji kecocokan

o

39.60
Diterima

Sumber: Hasil Analisa

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-45

Tabel 4. 23 Uji kecocokan sebaran untuk hasil metode Pearson III.
m

Weibull

Tr

KT r

1

0.08

12.00

2

0.17

6.00

3

0.25

4

Xaktual Xpr ediksi

(mm)

(mm)

1.05

250.00

210.67

39.33

0.53

208.30

188.48

19.82

4.00

0.22

197.73

175.50

22.23

0.33

3.00

0.00

190.20

166.29

23.91

5

0.42

2.40

-0.17

173.35

159.15

14.20

6

0.50

2.00

-0.30

158.60

153.31

5.29

7

0.58

1.71

-0.42

143.00

148.38

5.38

8

0.67

1.50

-0.52

141.40

144.10

2.70

9

0.75

1.33

-0.61

136.20

140.33

4.13

10

0.83

1.20

-0.69

121.17

136.96

15.79

11

0.92

1.09

-0.76

108.40

133.91

25.51

maks

39.33

Selisih Maksimum
Nilai Kritis 5% ditolak

o

Korelasi hasil uji kecocokan

39.60
Diterima

Sumber: Hasil Analisa

Tabel 4. 24 Uji kecocokan sebaran untuk hasil metode Log Pearson III.
m

Weibull

Tr

KT r

1

0.08

12.00

2

0.17

6.00

3

0.25

4

Xaktual Xpr ediksi

(mm)

(mm)

0.8682

250.0

200.9

49.13

0.4041

208.3

178.7

29.55

4.00

0.1326

197.7

167.0

30.77

0.33

3.00

-0.0601

190.2

159.1

31.13

5

0.42

2.40

-0.2095

173.3

153.2

20.14

6

0.50

2.00

-0.3316

158.6

148.6

10.03

7

0.58

1.71

-0.4348

143.0

144.8

1.77

8

0.67

1.50

-0.5242

141.4

141.6

0.15

9

0.75

1.33

-0.6031

136.2

138.8

2.57

10

0.83

1.20

-0.6737

121.2

136.3

15.16

11

0.92

1.09

-0.7375

108.4

134.2

25.76

maks

49.13

Selisih Maksimum
Nilai Kritis 5% ditolak

o

Korelasi hasil uji kecocokan

39.60
Ditolak

Sumber: Hasil Analisa

Tabel 4. 25 Resume uji kecocokan sebaran Metode Smirnov-Kolmogorov.

No.

X

Tahun

Xur ut
(mm)
250.00

Distribusi
Normal
Xpr ediksi
Selisih
(mm)

222.39
27.61

Log Normal
2 Parameter
Xpr ediksi
Selisih
(mm)

214.25
35.75

Gumbell

Pearson III

Log Pearson III

Xpr ediksi
(mm)
251.12

Selisih

1.12

Xpr ediksi
(mm)
210.67

Selisih

39.33

Xpr ediksi
(mm)
200.87

Selisih

49.13

1

2002

(mm)
173.35

2

2003

197.73

208.30

205.47

2.83

192.81

15.49

218.78

10.48

188.48

19.82

178.75

29.55

3

2004

121.17

197.73

194.56

3.17

180.26

17.47

198.84

1.11

175.50

22.23

166.96

30.77

4

2005

108.40

190.20

183.67

6.53

171.36

18.84

183.84

6.36

166.29

23.91

159.07

31.13

5

2006

158.60

173.35

174.67

1.33

164.46

8.89

171.39

1.95

159.15

14.20

153.20

20.14

6

2007

141.40

158.60

166.21

7.61

158.82

0.22

160.39

1.79

153.31

5.29

148.57

10.03

7

2008

190.20

143.00

157.06

14.06

154.05

11.05

150.19

7.19

148.38

5.38

144.77

1.77

8

2009

143.00

141.40

147.55

6.15

149.92

8.52

140.26

1.14

144.10

2.70

141.55

0.15

9

2010

136.20

136.20

137.89

1.69

146.27

10.07

130.09

6.11

140.33

4.13

138.77

2.57

10

2011

208.30

121.17

124.03

2.86

143.01

21.84

118.87

2.30

136.96

15.79

136.33

15.16

11

2012

250.00

108.40

107.22

1.18

140.06

31.66

104.58

3.82

133.91

25.51

134.16

25.76

Absolut Selisih Maksimum

27.61

35.75

10.48

39.33

Nilai Kritis 5% ditolak

39.60

39.60

39.60

39.60

39.60

Diterima

Diterima

Diterima

Diterima

Ditolak

Korelasi hasil uji kecocokan

49.13

Sumber: Hasil Analisa

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-46

Dari hasil pengujian uji smirnov-kolmogorof di atas dengan menggunakan delta kritik
sebesar 39,6 , didapatkan bahwa kurva distribusi untuk Gumbel merupakan distribusi yang
terbaik dengan delta maksimum sebesar 10,48.
Kesimpulan dari dua buah pengujian ini adalah didapatkan bahwa metode Gumbel yang
dapat diterima di kedua pengujian tersebut sehingga dapat digunakan sebagai dasar
penentuan perhitungan banjir rancangan.

4.7.7 Distribusi Frekuensi Hujan Terpilih
Dari hasil perhitungan frekuensi curah hujan dan pengujian kecocokan sebaran maka untuk
parameter desain rencana bangunan utama pada pekerjaan ini diambil hasil frekuensi curah
hujan berdasarkan Metode Gumbell.
Tabel 4. 26 Hasil perhitungan curah hujan rencana.

Periode

Curah Hujan Rencana (mm)

Ulang

Distribusi

Log Normal

Tr

Normal

2 Parameter

1.01 Tahun

67.65

96.14

77.51

86.51

92.20

2 Tahun

166.21

161.08

160.39

162.06

160.60

5 Tahun

201.75

198.94

209.95

200.07

199.16

10 Tahun

220.36

222.08

242.76

222.38

223.60

25 Tahun

235.59

247.58

284.21

248.17

253.55

50 Tahun

252.94

269.35

314.96

265.90

275.32

100 Tahun

264.78

288.47

345.49

282.60

296.81

200 Tahun

275.36

308.32

375.90

298.50

318.15

1000 Tahun

296.93

320.24

446.35

333.41

368.14

Gumbell

Pearson III Log Pearson III

Sumber: Hasil Analisa

4.7.8 Curah Hujan Maksimum Boleh Jadi (PMP)
Curah hujan yang mungkin terjadi di suatu daerah pengaliran sungai dalam suatu periode
tertentu akan merupakan data yang sangat vital untuk menaksir besarnya Probable
Maximum Precipitation dan dihitung dengan persamaan Hersfield, yaitu :
RFPMP

=

RFAverage + K . S

Dimana:
RFPMP

= curah hujan PMP

RFAverage

= curah hujan maksimum rata-rata tahunan

K

= konstanta PMP

S

= standar deviasi curah hujan harian maksimum

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-47

Perhitungan curah hujan maksimum boleh jadi (PMP) selengkapnya sebagai
berikut:
1. Penyesuaian Rata-Rata Data (Xn)
Rata-rata

Xn

=

166.21 mm

Rata-rata

X n-m

=

157.83 mm

Rasio rata-rata data

X n-m /X n

=

0.95

Faktor penyesuaian Xn

=

102.00

Faktor penyesuaian jumlah data

=

123.00

=

208.53 mm

Rata-rata akhir

RFav g

2. Penyesuaian Standar Deviasi (Sn)
Standar deviasi

Sn

=

42.30

Standar deviasi

S n-m

=

33.62

Rasio standar deviasi

S n-m /S n

=

0.79

Faktor penyesuaian Sn

=

92.00

Faktor penyesuaian jumlah data

=

123.00

=

47.87
8.50

Standar deviasi akhir

S

3. Probable Maximum Precipitation (PMP)
Faktor koreksi durasi hujan

K

=

Probale maximum precipitation

PMP

=

Faktor koreksi hujan

615.43 mm

=

PMP Terkoreksi

PMPterkoreksi

=

1.02
627.74 mm

4.7.9 Curah Hujan Rencana
Berdasarkan hasil analisa frekuensi curah hujan dan perhitungan curah hujan maksimum
boleh jadi (PMP), curah hujan rencana untuk perencanaan adalah sebagai berikut.
Tabel 4. 27 Curah hujan rencana.

Periode

Curah Hujan

Ulang

Rencana

Tr

(mm)

1.01 Tahun

77.51

2 Tahun

160.39

5 Tahun

209.95

10 Tahun

242.76

25 Tahun

284.21

50 Tahun

314.96

100 Tahun

345.49

200 Tahun

375.90

1000 Tahun

446.35

PMP

627.74

Sumber: Hasil Analisa

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-48

4.7.10 Analisis Debit Banjir Rancangan
4.7.10.1

Umum

Seperti diuraikan pada bab sebelumnya di Sungai Lahatan tidak tersedia data debit aliran
ekstrim dalam periode yaang cukup panjang. Untuk itu selanjutnya perhitungan banjir
rancangan menggunakan model hujan limpasan.
Dalam perhitungan analisis banjir diperlukan data-data sungai, antara lain :
 Luas Daerah Pengaliran Sungai (A)
 Panjang Sungai (L)
 Kemiringan Rata-Rata Sungai (i)
 Koefisien Pengaliran (C)
Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Lahatan mempunyai karakteristik berupa pegunungan di
bagian hulu dan langsung berbentuk lembah di bagian tengah sehingga limpasan air hujan
akan cepat turun dari bukit namun akan berangsur lambat sesampainya di sungai utama.
Untuk menentukan debit banjir rancangan dilakukan analisa debit puncak banjir dengan
beberapa metode, antara lain :
1.

Metode Haspers

2.

Metode Der Weduwen

3.

Metode Rational Mononobe

4.

Metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Nakayasu

4.7.10.2

Koefisien Pengaliran

Koefisien pengaliran adalah suatu variabel yang didasarkan pada kondisi daerah pengaliran
dan karakteristik hujan yang jatuh di daerah tersebut. Adapun kondisi dan karakteristik yang
dimaksud adalah :
1.

Keadaan hujan,

2.

Luas dan bentuk daerah aliran,

3.

Kemiringan daerah aliran dan kemiringan dasar sungai,

4.

Daya infiltrasi dan perkolasi tanah,

5.

Kebasahan tanah,

6.

Suhu udara dan angin serta evaporasi dan

7.

Tata guna tanah.

Koefisien pengaliran seperti yang disajikan pada tabel berikut, didasarkan dengan suatu
pertimbangan bahwa koefisien tersebut sangat tergantung pada faktor-faktor fisik.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-49

Tabel 4. 28 Angka koefisien pengaliran.

No.

Kondisi Daerah Pengaliran Sungai

Angka Pengaliran (C)

1.

Pegunungan

0,75 - 0,90

2.

Pegunungan Tersier

0,70 - 0,80

3.

Tanah Berelief Berat dan Berhutan Kayu

0,50 - 0,75

4.

Dataran Pertanian

0,45 - 0,60

5.

Daratan Sawah Irigasi

0,70 - 0,80

6.

Sungai di Pegunungan

0,75 - 0,85

7.

Sungai di Dataran Rendah

0,45 - 0,75

Sungai Besar Yang Sebagian Alirannya Berada di

8.

0,50 - 0,75

Dataran Rendah

Sumber : Suyono Sosrodarsono, (1980)
4.7.11

Besar Debit Banjir Rancangan

Karena keterbatasan data yang ada khususnya tidak adanya data debit tercatat untuk
sungai-sungai

di

sekitarnya

maka

untuk

perhitungan

debit

banjir

rencana

akan

menggunakan perhitungan empirik dari data curah hujan dengan metode Haspers, Der
Weduwen, Rational Mononobe dan HSS Nakayasu.
Perhitungan debit banjir rancangan pada sungai-sungai dilakukan pada beberapa lokasi
tinjauan. Mengingat di sepanjang sungai banyak anak sungai yang tentunya berpengaruh
terhadap penambahan debit.
Berikut ini perhitungan debit banjir rancangan untuk masing-masing metode, yaitu :

4.7.11.1

Metode Haspers

Bentuk persamaan dasar analisis debit banjir rencana (design flood) metode Haspers adalah
sebagai berikut :

α

=

1  0.012 A 0.7
1  0.075 A 0.7

A 0.75
t  3.7  100.4.t

12
t 2  15

1 =
β

1+

t

=

0.1

RT =

R+

s  u

L

0 .8

I

0.3

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-50

r

=

q

=

Q

=

t  R 
t  1

untuk t = 2 s/d 19 jam

r

t dalam jam

3.6  t

α β  q  A

Hasil perhitungan debit banjir rencana dengan menggunakan metode Haspers dapat dilihat
di bawah ini :
Tabel 4. 29 Contoh perhitungan debit banjir rancangan dengan menggunakan metode Haspers.

Sumber : Hasil Perhitungan

4.7.11.2

Metode Der Weduwen

Rumus banjir Der Weduwen didasarkan pada rumus berikut :
Qn =

 .  . qn . A

1  4.1
β  q n   7

=

t 1
A
t9
120  A

120 

=

qn =
t

=

R n 67.65
.
240 t  1.45
0.25 L Q-0.125 I-0.25

Hasil perhitungan debit banjir rencana dengan menggunakan metode Weduwen dapat dilihat
di bawah ini :

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-51

Tabel 4. 30 Contoh perhitungan debit banjir rancangan dengan menggunakan metode Weduwen.

Sumber : Hasil Perhitungan

4.7.11.3

Metode Rational Mononobe

Bentuk persamaan dasar analisis debit banjir rencana

metode Rational adalah sebagai

berikut :

V = 72

r

=

R
24

t

=

L
V

Q =

 ΔH 


 L 
x

αr

0.6

 24 
 
 t 

2/3

f
3.6

Hasil perhitungan debit banjir rencana dengan menggunakan metode Rational Mononobe
dilihat di bawah ini :
Tabel 4. 31 Contoh perhitungan debit banjir rancangan dengan menggunakan metode Rasional
Mononobe.

Sumber : Hasil Perhitungan

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-52

4.7.11.4
Nakayasu

Metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Nakayasu
dari

Jepang,

telah

membuat

rumus

hidrograf

satuan

sintetik

dari

hasil

penyelidikannya. Rumus tersebut adalah sebagai berikut:

C A  R0
Qp

=

3,6  0,3T p T0,3

Keterangan :
Qp

=

debit puncak banjir (m3/det)

R0

=

hujan satuan (mm)

Tp

=

tenggang waktu (time lag) dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam)

Tp

=

tg + 0,8 tr

tg

=

waktu konsentrasi (jam), tenggang waktu dari titik berat hujan sampai titik

berat hidrograf (time lag). Dalam hal ini, jika :
L

<

15 km 

tg

=

0,21 . L0,7

L

>

15 km 

tg

=

0,4 + 0,058 . L

tr

=

tenggang waktu hidrograf (time base of hidrograf) = 0,5 s/d 1 tg

T0,3

=

.tg

=

0,47  A  L 

0,25

tg
untuk :
Daerah pengaliran biasa  = 2
Bagian naik hidrograf yang lambat dan bagian menurun yang cepat  = 1,5
Bagian naik hidrograf yang cepat dan bagian menurun yang lambat  = 3
Hasil perhitungan debit banjir rencana dengan metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS)
Nakayasu dapat dilihat di bawah ini.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-53

Gambar 4. 16 Contoh perhitungan debit banjir rancangan dengan menggunakan metode HSS
Nakayasu.

4.7.12

Resume Besar Debit Banjir Rancangan

Resume dari masing-masing metode untuk masing masing sungai dapat dilihat pada tabeltabel berikut.
Tabel 4. 32 Contoh resume debit banjir rancangan.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-54

4.7.13

Analisis Hidrometri

4.7.13.1

Umum

Metode pengukuran kecepatan arus dengan menggunakan current meter. Mengingat bahwa
distribusi kecepatan pada awal vertikal dalam aliran laminer merupakan distribusi parabola,
maka pengukuran kecepatan dapat dilakukan pada kedalaman berikut:

Satu titik pengukuran pada kedalaman 0.6 H dari permukaan air.

Dua titik pengukuran pada kedalaman 0.2 H dan 0.8 H dari permukaan air.

Tiga titik pengukuran pada kedalaman 0.2 H, 0.6 H dan 0.8 H dari permukaan air.

Kecepatan rata-rata pada satu vertikal dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
V

= V0.6H

V

= (V0.2H + V0.8H)/2

V

= ( V0.2H + 2 . V0.6H + V0.8H ) / 4

Bila kedalaman air H < 0.6 m, maka pengukuran dilakukan pada kedalaman 0,6 H dari
permukaan air, sedangkan apabila H > 0,6 m, pengukuran akan dilakukan pada 2 titik atau
3 titik.
Hasil pengukuran hidrometri dengan menggunakan current meter pada lokasi dapat dilihat
pada tabel di bawah.

4.7.14 Pengukuran Arus/Kecepatan
Untuk menentukan dampak pasang surut air laut serta kaitannya dengan penentuan elevasi
rencana muka air pasang surut air laut, penyelidikan fluktuasi elevasi muka air sungai
dilakukan pada bagian-bagian tertentu di Sungai dari hilir ke arah hulu. Untuk itu dalam
kaitannya dengan pengukuran arus diperlukan pengamatan pergerakan pasang surut di
lapangan maupun berdasarkan informasi dari penduduk setempat. Pengukuran arus sungai
dilakukan pada lokasi yang terpilih yaitu di empat titik.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-55

Gambar 4. 17 Contoh pengukuran kecepatan/arus.

1.

Debit banjit rencana untuk berbagai periode ulang serta debit dominan yang
memungkinkan kerusakan badan sungai.

2.

Hidrolika meliputi; analisis gerakan material sungai, kemungkinan scouring dan endapan
serta analisis profil sungai yang stabil pada kondisi debit dominan pada lokasi studi.

3.

Membuat analisis hidrolika dan perhitungan perencanaan teknis bangunan sungai untuk
mengatasi kerusakan perkuatan tebing, slope, atau konstruksilain yang dapat membuat
slope tebing sungai stabil.

4.

Menghitung biaya dan manfaat, total biaya termasuk Operasi dan Pemeliharaan dan
pengurangan kerugian dari masing-masing alternatif pengendalian banjir.

5.

Menentukan alternatif terpilih berdasarkan pertimbangan aspek teknis, ekonomi,
dampak lingkungan, sosial, besarnya resiko, kesulitan pelaksanaan, dan ketersediaan
dana.

4.7.14.1

Perencanaan Teknis

Pengurangan kerugian akibat banjir pada masyarakat yang beraktivitasdi dataran banjir
sungai dilakukan dengan pengelolaan resiko banjir melalui:
1. Pengurangan resiko besaran banjir yang dilakukan dengan membangun prasarana:
a. Pengendalian banjir
Kegiatan perencanaan teknis ditujukan untuk menentukan alternatif pengendalian banjir
berupa: peningkatan kapasitas sungai, tanggul, pelimpah banjir dan/atau pompa,
bendungan, dan perbaikan drainase kota, atau kombinasi bangunan-bangunan tersebut
yang

pada

hakekatnya

berfungsi

mengurangi/memperkecil

tingkat

kemungkinan

kejadian (probability of occurence) banjir sesuai dengan tingkat layanan konstruksi

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-56

tersebut. Misalnya semula hanya mampu mengalirkan debit rencana Q5 tahunan
ditingkatkan menjadi Q20 tahunan.
b. Pengendalian aliran permukaan
Kegiatan perencanaan teknis ditujukan untuk menentukan alternatif pengendalian aliran
permukaan berupaprasarana fisik yang berfungsi mengurangi terbentuknya dan
terdistribusinya aliran permukaan dalam jumlah besar secara bersamaan mengalir ke
sungai. Ini dilakukan dengan membuat sarana resapan air untuk mengurangi aliran
permukaan dan kolam penampung banjir untuk mengatur dsitribusi aliran banjir agar
tidak secara bersamaan mengalir ke sungai.
2.

Pengurangan resiko kerentanan kawasan terhadap banjir dengan pengelolaan
dataran banjir. Pengelolaan dataran banjir salah satunya dilakukan dengan menentukan
batas dataran banjir yaitu dengan membuat identifikasi genangan banjir yang pernah
terjadi dan/atau pemodelan genangan dengan debit rencana 50 tahunan.

Kegiatan perencanaan teknis ini meliputi:
1.

Kegiatan nonfisik pengendalian daya rusak air sungai.

2.

Kegiatan fisik pengendalian daya rusak air sungai,yaitu:
a.

Program

dan

rencana

kegiatan

tahunan

pengelolaan

sungai

dengan

mempertimbangkan :

Manfaat dan dampak jangka panjang.

Penggunaan teknologi yang peka terhadap lingkungan.

b.

Biaya operasi dan pemeliharaan yang mínimum.

Ketahanan terhadap perubahan kondisi alam setempat.

Analisis

hidrolika

dan

struktur,

mencakup: Jenis / type bangunan
terpilih:

Ukuran/dimensi bangunan yang diperlukan.

Pemilihan bahan dan jenis bangunan hendaknya yang fungsional, tidak
mudah rusak (robust) dan murah.


c.

Stabilitas (pondasi, pelindung kaki dll).

Penyusunan Nota Desain dan Spesifikasi Teknis pekerjaan.

3. Rencana detail pelaksanaan fisik
Dalam hal ini konsultan harus menyusun:
a.

Rencana pelaksanaan konstruksi serta OP sungai dan prasarana sungai sesuai

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-57

urutan prioritas masing-masing kegiatan.
b.

Volume pekerjaan dan RAB konstruksi serta OP berikut alokasi dana tiap tahun
anggaran termasuk dana yang harus disediakan untuk pembebasan tanah (biaya
OP sungai tahunan tergantung jenis bangunan, umumnya berkisar 2-3% dari
biaya konstruksi).

c.

Syarat-syarat teknis dari masing-masing kegiatan yang diusulkan, dokumen
tender berikut gambar desain (kalkir A1).

4.7.14.2

Analisa Hidrolika Profil Muka Air Sungai

Analisa hidrolika sungai akan dilakukan dengan simulasi menggunakan program software
HEC-RAS. Input dari software tersebut antara lain adalah jarak tiap section, profil sungai tiap
profil, debit input di hulu sungai dan di anak sungai serta fluktuasi muka air di hilir sungai.
Outputnya adalah profil muka air sungai tiap section sesuai berbagai input periode ulang
banjir, kecepatan aliran masing-masing section. Dengan berbagai skenario perencanaan
maka dapat ditetapkan perlakuan yang sesuai untuk daerah pekerjaan dan dapat dapat
diketahui sensitivitasnya.
Persamaan dasar perhitungan hidrolika sungai :
WS2 + (α2V22)/2g = WS1 + (α1V12)/2g + he
he
C

=

L.Sf + C (α2V22)/2g - (α1V12)/2g

=

32,6 log ((12,2R)/k)

Dimana :
WS1, WS2

=

Elevasi permukaan air (m).

V1, V2

=

Kecepatan rata-rata di hilir section (total debit : total luas aliran).

α1, α2

=

Koefisien kecepatan.

g

=

Percepatan gravitasi (m/dt2).

he

=

Kehilangan energi (m).

L

=

Panjang ruas tiap section.

Sf

=

Rata-rata kemirngan energi akibat kekasaran.

C

=

Koefisien kekasaran chezy

R

=

Jari-jari hidrolis (m).

K

=

kekasaran ekivalen (m).

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-58

Grs energi
Muka air

α2V22/2g

he
α1V12/2g

WS2
WS1
Dasar sungai

11

Gambar 4. 18 Sketsa persamaan energi.

HEC-RAS pada intinya terdiri dari 3 komponen analisa hidraulik satu dimensi (one dimension
computation) yaitu :
·

Perhitungan profil permukaan air aliran tetap (steady flow).

·

Simulasi aliran tak tetap (unsteady flow).

·

Perhitungan pengangkutan pergerakan sedimen.

HEC-RAS adalah salah satu program yang terintegrasi dari analisa hidraulik yang dapat
berinteraksi dengan user melalui Graphical User Interface (GUI). HEC-RAS mampu untuk
melakukan perhitungan profil muka air untuk kondisi Steady maupun Unsteady dan
beberapa perhitungan desain hidraulik, sediment transport pada masa yang akan datang.
Dalam istilah terminologi HEC-RAS terdapat suatu kata Project yang merupakan suatu
kumpulan data file yang bersosialisasi dengan sistem sungai. Dari model dapat menampilkan
beberapa atau semua variasi dari tipe-tipe analisa termasuk dalam paket Data file dalam
project dikatagorikan sebagai berikut :
·

Plan Data.

·

Geometri Data.

·

Unsteady Flow Data.

·

Sedimen Data.

·

Hydraulic Desain Data.

Analisa hidrolika yang dilakukan pada pekerjaan ini akan menggunakan bentuan perangkat
lunak (software) HEC-RAS. Perangkat lunak HEC-RAS merupakan program yang digunakan
untuk perhitungan analisis hidraulik satu dimensi. Analisis hidraulik yang dapat dilakukan
tersebut adalah perhitungan profil permukaan air pada aliran tunak (steady flow). Program
HEC-RAS di desain untuk melakukan perhitungan pada jaringan saluran alami maupun
saluran buatan.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-59

Geo-Ref
of the
Geo-Ref
XS's
Non
user
Non
Geo-Ref
are
interpolated
entered
Geo-Ref
Geo-Referenced
user
XSinterpolated
XS
entered(XSXS)

Gambar 4. 19 Model Program HEC-RAS.
Hal-hal yang dijadikan input dasar pada perencanaan tanggul ini adalah sebagai berikut:
-

Kondisi desain adalah untuk debit dengan perioda ulang 50 tahun untuk masing-masing sungai.

-

Penanggulan dilakukan dengan tinggi tanggul sebesar 2-4 meter.

1

2
3
4
5
6
7

8

9
10

11 12

13
14
15
16
17
18
19
20
21

Lahatan

L aha t an

22
23
24
25
26

27
30

28

31 32

29

Gambar 4. 20 Contoh skema Sungai Lahatan Pada Hec-Ras.

Kunci utama pemodelan pada HEC-RAS adalah penggunaan representasi data geometri dan
perhitungan geometri serta perhitungan hidraulik berulang. Dasar prosedur perhitungan
yang digunakan adalah didasarkan pada pemecahan persamaan kekekalan energi satu
dimensi. Kehilangan energi dievaluasi dengan gesekan (persamaan Manning) dan kontraksi
maupun ekspansi. Persamaan momentum digunakan pada situasi dimana profil permukaan

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-60

air berubah secara cepat. Situasi ini mengikutkan perhitungan daerah aliran yang
bercampur, perhitungan strukutur hidraulik dan mengevaluasi profil pada Sungai yang
berhubungan atau bercabang.
1.

Persamaan Dasar untuk Perhitungan Profil
Profil permukaan air dihitung dari suatu potongan melintang saluran ke potongan
selanjutnya dengan memecahkan persamaan kekekalan energi dengan prosedur
interaktif yang disebut Metode Tahapan Standar (Standard Step Method). Persamaan
kekekalan energi ditulis sebagai berikut:
2

2

 V
 V
Y2  Z 2  2 2  Y1  Z 1  1 1  h e
2g
2g
dimana :
Y1, Y2

=

Kedalaman air pada potongan melintang

Z1, Z2

=

Elevasi pada saluran utama

V1, V2

=

Kecepatan rata-rata (jumlah total debit)

1, 2

=

Koefisien tinggi kecepatan

he

=

Kehilangan energi

Kehilangan energi antara dua potongan melintang diakibatkan oleh kehilangan energi akibat
gesekan dan ekspansi maupun kontraksi. Persamaan kehilangan tinggi energi dituliskan
sebagai berikut :

 α 2 V2 2 α1 V1 2 
h e  LSf  C  


2g 
 2g
dimana :
L

= Jarak sepanjang bentang yang ditinjau

Sf

= Kemiringan gesekan (friction slope) antara dua potongan melintang

C

= Koefisien ekspansi atau kontraksi

Jarak sepanjang bentang yang ditinjau, L, dihitung dengan persamaan:

L

L lob Qlob  L ch Qch  L rob Q rob
Qlob  Qch  Q rob

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-61

dimana :
Llob, Lch, Lrob

= Jarak sepanjang potongan melintang pada aliran yang ditinjau
dipinggir kiri Sungai/left overbank (lob), saluran utama/main
channel (ch), dan pinggir kanan Sungai/right overbank (rob).

Q

lob,

Q

ch,

Q

rob

= Jarak sepanjang potongan melintang pada

aliran yang

ditinjau di pinggir kiri Sungai (lob), saluran utama (ch), dan
pinggir kanan Sungai (rob).
2.

Pembagian Potongan Melintang (Cross Section)
Penentuan penyaluran total aliran dan koefisien kecepatan untuk potongan melintang
membutuhkan

pembagian

aliran

menjadi

beberapa

satuan

sehingga

kecepatan

didistribusikan secara merata. Pendekatan yang digunakan pada HEC-RAS adalah
membagi daerah aliran pada pinggir saluran atau Sungai dengan menggunakan
masukan nilai n pada potongan melintang dimana nilai n berubah sebagai dasar
pembagian. Penyaluran/aliran dihitung di dalam tiap sub bagian dari bentuk persamaan
Manning berikut ini :

Q  KS f

1/2

;

K

1,486
AR 2/3
n

dimana :
K = Penyaluran untuk suatu sub bagian
n = Koefisien kekasaran Manning untuk sub bagian
A = Luas daerah aliran pada sub bagian
R = Jari-jari hidraulik pada sub bagian

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-62

Gambar 4. 21 Menu editing data geometri saluran.

Program

akan

menjumlahkan

tambahan

penyaluran

pada

pinggir

saluran

utuk

mendapatkan penyaluran pada sebelah kiri dan kanan pinggir Sungai. Penyaluran
saluran utama dihitung dengan cara biasa sebagai satu bagian penyaluran. Jumlah total
penyaluran dapat diperoleh dengan menjumlahkan tiga sub bagian penyaluran, yaitu:
sub bagian kiri pinggir Sungai, saluran utama, dan sub bagian kanan pinggir Sungai.
3.

Perhitungan Nilai Rata-Rata Tinggi Energi Kinetik
Perangkat lunak HEC-RAS adalah program perhitungan profil permukaan air satu
dimensi, oleh karenanya hanya satu permukaan air dan satu tinggi energi rata-rata
yang dihitung pada tiap potongan melintang. Jika suatu nilai permukaan air diketahui,
rata-rata tinggi energi didapatkan dengan menghitung tinggi energi aliran dari tiga sub
bagian pada potongan melintang (left overbank, main channel, dan right overbank).
Untuk menghitung rata-rata energi kinetik diperlukan perhitungan koefisien tinggi
kecepatan alpa (). Alpha dihitung dengan cara sebagai berikut:

 V1 2 
 V2 2



Q1 
  Q 2  2g
2
2g
V



 
2g
Q1  Q 2




 V2 
V 2
2g Q 1  1   Q 2  2
  2g 
 2g
 
(Q 1  Q 2 )V 2






Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-63

2



Q 1 V1  Q 2 V1
(Q 1  Q 2 )V 2

2

Dalam bentuk umumnya :
2

2

Q V  Q 2 V1  .......  Q N VN
 1 1
QV 2

2

Koefisien kecepatan () dihitung berdasarkan pada penyaluran di tiga bagian aliran.
Persamaan tersebut dapat ditulis dalam bentuk penyaluran dan daerah luasannya
seperti pada persamaan di bawah ini :

 (K ) 3 (K ) 3 (K ) 3 
(A t ) 2  lob 2  ch 2  rob 2 
(A ch )
(A rob ) 
 (A lob )
a
(K t ) 3
dimana :
At

= jumlah total luas daerah aliran pada potongan melintang

Alob, Ach, Arob = luas daerah pada tiap sub bagian penampang saluran
Kt

= jumlah total penyaluran pada potongan melintang

Klob, Kch, Krob = penyaluran pada sub bagian penampang saluran
4.

Perhitungan Kehilangan Energi Akibat Gesekan
Kehilangan energi akibat gesekan yang diperhitungkan pada HEC-RAS adalah produk
dari Sf dan L. Kemiringan gesekan Sf pada tiap bagian potongan melintang dihitung dari
persamaan Manning sebagai berikut :

Q
Sf   
K

2

Bentuk alternatif persamaan kemiringan Sf pada HEC-RAS adalah :
Persamaan Penyaluran Rata-rata :

 Q  Q2
S f   1
 K1  K 2




2

Persamaan Kemiringan Gesekan Rata-rata :

Sf 

Sf1  Sf 2
2

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-64

Persamaan Kemiringan Gesekan Rata-rata Geometri :

S f  S f 1 .S f 2
Persamaan Kemiringan Gesekan Rata-rata Harmonik :

Sf 

2S f 1 .S f 2
Sf1  Sf 2

Persamaan tersebut diatas adalah persamaan standar yang digunakan oleh program.
Persamaan ini secara otomatis digunakan kecuali jika persamaan yang berbeda
diinginkan. Program juga menyediakan pilihan untuk memilih persamaan secara
otomatis sesuai dengan daerah aliran dan tipe profil yang ditinjau.
5.

Perhitungan Kehilangan Energi Akibat Kontraksi Dan Ekspansi
Kehilangan energi akibat kontraksi dan ekspansi pada HEC-RAS dihitung dengan
persamaan berikut ini:

 α 1 V12 α 2 V2 2 
ho  C  


2g 
 2g
dimana :
C = Koefisien ekspansi atau kontraksi
Program akan mengasumsikan kontraksi terjadi jika tinggi kecepatan di hilir lebih besar
dari pada tinggi kecepatan di hulu. Sebaliknya, ekspansi terjadi jika tinggi kecepatan di
hulu lebih besar dari pada tinggi kecepatan di hilir.

4.8
4.8.1

PERENCANAAN TEKNIS PENGENDALIAN BANJIR
Penyusunan Konsep Pengendalian Banjir

Penyebab banjir adalah kombinasi dari aliran air besar, kapasitas sungai tidak memadai dan
sistem drainase tidak ada/tidak memadai. Upaya penangannya sampai saat ini masih
mengandalkan pada upaya yang bersifat represif dengan melaksanakan berbagai kegiatan
fisik (struktur) dengan membangun dan atau memodifikasi kondisi alamiah sungainya
sehingga membentuk suatu sistem pengendalian banjir. Sedangkan upaya preventif yang
pada dasarnya merupakan kegiatan non-struktur penerapannya masih sangat terbatas.
Konsep pengendalian banjir dengan menerapkan penanganan secara fisik dan non struktur
akan membentuk pola penanganan yang menyeluruh dan terpadu seperti konsep “One River,
One Plan, One Integrated Management”. Upaya represif dan preventif berfungsi untuk
memperkecil pengaruh masalah banjir (flood damage mitigation) dan meskipun tidak dapat
menghilangkan masalah secara mutlak.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-65

Masalah banjir pada umumnya terjadi akibat adanya interaksi antara faktor alamiah dan
faktor kegiatan manusia. Faktor alamiah dapat dibagi 2 (dua) kelompok yaitu kelompok
penyebab yang relatif statis dan menyangkut kondisi alam antara lain :

a. Kondisi fisiografi dan kondisi alur sungai (pengaruh meandering alur sungai, bottle neck,
ambal alam, kemiringan dasar sungai yang landai)

b. Kelompok penyebab yang dinamis antara lain curah hujan yang tinggi, kondisi pasang
surut air laut, pembendungan dari muka air di sungai induk terhadap anak sungai,
amblesan tanah dan sedimentasi, kapasitas drainasi yang ada, dan kapasitas aliran alur
sungai itu sendiri.
Faktor-faktor akibat pengaruh manusia antara lain adalah :

a. Pengembangan kawasan bantaran banjir termasuk untuk permukiman penduduk yang
tidak mempertimbangkan resiko tergenang banjir

b. Pembudidayaan DAS hulu yang kurang memperhatikan kaidah konservasi
c. Pembangunan sistem drainase di kawasan permukiman/perkotaan yang tidak
berwawasan konservasi sehingga memperbesar debit banjir sungai

d. Bangunan silang (jembatan, gorong-gorong, siphon, pipa air, dsb) yang menghambat
aliran banjir

e. Pembuangan sampah ke sungai sehingga mengurangi kapasitas alur sungai
f.

Kerusakan prasarana pengendalian banjir akibat

lemahnya system operasi dan

pemeliharaan, dan

g. Pemilihan system pengendalian banjir yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan.
Berdasarkan hasil survey pendahuluan, secara umum persoalan utama terjadinya banjir
dikarenakan :
·

Kapasitas sungai yang tidak memadai, dikarenakan adanya pemukiman persis di pinggir
badan

sungai,

dan

secara

alami

kondisi

sungai

yang

tidak

terawat

sehingga

menyebabkan penyempitan.
·

Tebing sungai yang longsor, sehingga bias menimbulkan sedimentasi

·

Adanya perubahan tata lingkungan di Daerah Aliran Sungai (DAS), yang menyebabkan
terjadinya erosi lahan.

Dengan mengetahui kondisi dan permasalahan tesebut, konsep pengendalian banjir yang
akan menjadi pedoman dalam penanganan pengendalian banjir secara keseluruhan meliputi:
(1) Penanganan secara Struktural
(2) Penanganan secara Non Struktural

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-66

4.9

PEMILIHAN ALTERNATIF PENGENDALIAN BANJIR

Berdasarkan study pendahuluan dan kajian alternatif bangunan Pengendalian Banjir pada
studi ini untuk penanganan secara structural meliputi :

A.

Tanggul Banjir (Levee atau Floodwall)
Tanggul merupakan bangunan pengendali banjir yang paling banyak dipakai dan
merupakan cara yang paling tua. Tanggul pada umumnya dibuat dari tanah (levee)
kecuali pada tempat-tempat yang padat seperti pada daerah perkotaan, tanggul dibuat
dari pasangan batu atau beton (floodwall).
Tujuan utama dari tanggul adalah membatasi aliran air sungai agar mengalir pada
bagian tertentu saja dari dataran banjir. Tanggul ini hanya melindungi daerah di
belakangnya dan hanya mengamankan banjir pada tingkat tertentu saja. Keuntungan
dari tanggul antara lain :
 Dapat melindungi suatu daerah secara setempat-setempat sesuai dengan yang

diinginkan.
 Biaya pembangunannya relatif rendah.
 Menanggulangi banjir sampai tingkat tertentu sesuai dengan rencana.
 Memungkinkan untuk dibangun dimana saja.
 Tidak memerlukan teknologi tinggi.

Sedangkan kerugian dari tanggul antara lain :
 Untuk pembangunannya seringkali memerlukan pembebasan tanah.
 Memerlukan biaya pemeliharaan yang tinggi.
 Kerusakan besar dapat terjadi bilamana terjadi overtopping pada tanggul tanah.
 Kadang-kadang mempunyai dampak negatif terhadap lingkugan.

Dalam merencanakan dan melaksanakan tanggul agar memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :

Pertimbangan non teknis :

Karena biasanya sungai dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, oleh karena
itu maka pembuatan tanggul jangan sampai mengganggu atau memutuskan
kegiatan masyarakat setempat.

Tanggul juga sering dipakai sebagai jalan penghubung atau jalan inspeksi, oleh
karena itu lebar mercu tanggul harus memadai.

Lahan bantaran yang tersedia seringkali dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
bercocoktanam (dengan tanaman semusim). Sejauh memungkinkan hal ini

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-67

diperkenankan dengan catatan jangan sampai menggangu sarana pengendalian
banjir.

Daerah bantaran sungai sebaiknya bebas dari pemukiman atau ke-giatan yang
tidak sesuai dengan usaha penanggulangan banjir. Akan lebih baik bilamana
ketentuan

dalam

PP

No.

38/2011

(termasuk

petunjuk

pelaksanaannya)

dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
 Pertimbangan teknis :

Untuk memperkecil biaya, tanggul disarankan agar arah alinemen selurus
mungkin dengan memperhatikan topografi, bangunan yang ada pada sungai
(termasuk jembatan) dan sabuk meander.

Lokasi alinemen tanggul harus diteliti terhadap kemungkinan erosi lateral yang
akan membahayakan tanggul.

Jarak dari sungai ke tanggul (set-back) harus cukup untuk mengalirkan banjir
rencana tanpa mengakibatkan limpasan pada tanggul. Jarak yang ideal adalah
10–100 meter, tergantung pada debit banjir rencana, kondisi topografi dan
kemudahan mendapatkan lahan.

Untuk mengantisipasi aliran dari anak-anak sungai dan drainase di luar tanggul
yang memasuki sungai, harus disediakan pintu-pintu klep atau bangunan lain
yang diperlukan.

Pertimbangan yang hati-hati perlu dilakukan bilamana tanggul dibangun pada
ruas sungai yang diluruskan (pada sungai yang bermeander) karena pelurusan
sungai akan dapat berdampak luas pada kestabilan morfologi sungai.

 Stabilitas :

Timbunan

tanggul

dan

bangunan

dinding

banjir

harus

stabil

terhadap

pembebanan yang direncanakan. Timbunan tanggul harus stabil terhadap
longsor dan deformasi untuk berbagai kondisi hidrolis sungai. Bangunan dinding
banjir harus stabil terhadap guling, geser dan deformasi.

Seepage melalui timbunan tanggul dan pondasi bangunan dinding banjir harus
diperiksa agar terhindar dari pengangkatan (up-lift), penggerowongan (piping),
erosi dan longsoran.

Tinggi jagaan (free board) harus mencukupi agar jangan sampai tanggul
terlimpasi oleh air pada saat terjadinya debit banjir rencana.

Pada bagian samping timbunan tanggul (side-slope) harus di-rencanakan
sedemikian

rupa

sehingga

baik

kemiringannya

maupun

perlindungan

permukaannya terhindar dari erosi akibat hujan maupun aliran sungai.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-68

B. Perkuatan Tebing
-

Type Bronjong
Perkuatan tebing dimaksudkan sebagai konstruksi suatu bangunan yang mampu
meningkatkan stabilitas tebing. Jenis konstruksi perkuatan yang mungkin diterapkan
pada tebing sungai antara lain bronjong, batu kosongan (dump stone) dan
blok/tetrapot beton, yang sekaligus berperan sebagai pelindung tebing terhadap
gerusan arus.
Konstruksi bronjong yang diletakkan mulai dasar tebing sampai ketinggian 1,00 m di
bawah tebing dengan kemiringan garis muka bronjong

1 : 1, diperkirakan dapat

mengatasi gerusan pada dasar tebing
Contoh perencanaan brojong tebing dapat dilihat di bawah ini :

+ 22.00
1.00
1:1

URUGAN
PASIR

1.00

2.00

Gambar 4. 22 Stabilisasi tebing dengan bronjong.

Selain bronjong tipe perkuatan lereng bisa menggunakan beberapa type yang lain,
diantaranya :

-

Tipe Turap
1,0

Pile Cap
Timbunan
kembali

Jangkar

Sheet Pile, tipe PS 32, b
= 50 cm

Gambar 4. 23 Tipikal Perkuatan Lereng dengan Menggunakan Turap.

Dibandingkan kedua tipe bronjong, biaya untuk pembuatan tipe turap (plank hurdle
work tipe) lebih tinggi, karenanya tipe ini hanya dipergunakan jika sulit dikerjakan
dengan bronjong .

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-69

Tipe Dinding Penahan

-

0,75

Urugan tanah

MAB

MAN
Urugan pasir

Dasar Sungai

12,0

3,5

1,5

3,0

6,0

1,5

3,0

Gambar 4. 24 Tipikal Dinding Penahan dari beton bertulang.

Dinding penahan tanah direncanakan dari bahan struktur beton bertulang, bentuk
dari konstruksi dinding di sesuaikan dengan kondisi setempat. Keuntungan tipe ini
adalah tidak terlalu banyak sambungan, seperti halnya pasangan batu yang
merupakan bagian yang paling lemah. Selain itu bobotnya sangat berat, sehingga
stabilitasnya lebih terjamin. Karenanya dinding penahan dengan beton sangat sering
dipergunakan pada bagian sungai-sungai dengan arusnya yang deras, namun
biayanya cukup mahal.
C. Pengaturan Alur Sungai (Channel Improvement)
Metode pengendalian banjir dengan pengaturan alur sungai bertujuan untuk
menurunkan ketinggian air banjir dengan cara memperbesar kapasitas tampung alur
sungai. Pengaturan alur sungai ini harus direncanakan dengan hati-hati untuk
menjamin agar jangan sampai memindahkan masalah banjir dari satu tempat ke
tempat lainnya.
Sebagaimana diketahui bahwa kapasitas tampung alur sungai dapat dinyatakan

Q

A . R 2 / 3 . S1 / 2
n

berdasarkan hubungan sebagai berikut :
dimana :
Q

=

kapasitas alur sungai (m3/detik)

A

=

luas penampang basah alur sungai (m2)

n

=

angka kekasaran Manning

R

=

jari-jari hidrolis (m)

S

=

kemiringan memanjang muka air untuk aliran satu dimensi sama
dengan kemiringan dasar saluran.

Dengan

demikian

salah

satu

usaha

pengaturan

alur

sungai

adalah

dengan

memodifikasi parameter-parameter tersebut di atas. Atau dengan kata lain untuk
memperbesar kapasitas alur, maka luas penampang basah harus diperbesar, angka

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-70

kekasaran Manning harus diperkecil, keliling basah saluran harus diperkecil agar jarijari hidrolis menjadi besar dan memperbesar kemiringan dasar saluran.

Memperkecil kekasaran alur sungai
Angka kekasaran Manning alur sungai (koefisien n) terutama tergantung kepada
bentuk dan material dasar sungai, yang pada umumnya tidak dipengaruhi oleh
manusia. Oleh karena itu, pengurangan angka kekasaran Manning alur sungai
terbatas dan hanya efektif dilaksanakan terhadap tebing sungai dan bantarannya
saja.
Untuk memperkecil angka kekasaran alur sungai diperlukan pembersihan tebing
dan bantaran sungai dari segala hambatan seperti pepohonan dan tanamantanaman serta harus dilaksanakan secara berkesinambungan.

Memperbesar penampang basah
Usaha ini dapat dilaksanakan dengan cara memperbesar dan/atau memperdalam
alur sungai utama atau memperlebar bantaran sungai dengan cara mengatur
jarak

ke

tanggul,

menghilangkan

gosong-gosong

pasir

(sand-bars)

dan

sejenisnya. Upaya ini umumnya dapat dilaksanakan untuk alur sungai yang tidak
terlalu besar. Juga upaya ini lebih efektif untuk sungai dengan kuantitas sedimen
yang

tidak terlalu besar, sedangkan

untuk

sungai

yang

memikul

beban

sedimentasi yang besar pemakaian cara ini perlu dipertimbangkan lagi dengan
seksama.

Memperpendek alur sungai
Yang dapat dikategorikan ke dalam usaha ini antara lain adalah pembuatan
sudetan (cut-off). Pembuatan sudetan atau upaya-upaya lain untuk meluruskan
sungai memerlukan pertimbangan yang ekstra hati-hati atas perubahan morfologi
sungai, karena upaya ini merupakan “pemaksaan” terhadap perubahan rejim
sungai.
Pertimbangan atas perubahan morfologi sungai yang diakibatkan oleh pembuatan
sudetan tidak hanya pada bagian sungai dimana sudetan akan dibuat, akan tetapi
harus dilakukan pada seluruh ruas sungai baik ke hulu maupun ke hilir. Antisipasi
yang harus dilakukan antara lain adalah sebagai berikut :

Dengan pelurusan sungai melalui pembuatan sudetan, akan me-nurunkan
muka air dibagian hulu dan pada sudetan, hal ini jangan sampai membawa
konsekuensi tidak berfungsinya pintu pengambilan bebas irigasi yang ada di
sebelah hulunya.

Berubahnya pola sedimentasi di bagian hulu dan pada sudetan akibat
berubahnya

kemiringan

memanjang

dasar

sungai

akan

membawa

konsekuensi terjadinya degradasi dasar sungai, degradasi ini jangan sampai

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-71

mengakibatkan

ambruknya

bangunan-bangunan

perlindungan

dan

pemanfaatan sungai yang ada di bagian hulu, karena menggantungnya
pondasi yang bersangkutan.

Pada ujung bagian hilir dari sudetan (pelurusan sungai) sungai kembali ke
alur aslinya, artinya akan terjadi pengurangan kecepatan aliran air, hal ini
harus sudah dipikirkan agar jangan sampai sudetan hanya mengalihkan
banjir dari suatu tempat (kawasan di bagian hulu dan sekitar sudetan) ke
tempat lain (kawasan di hilir sungai).

Respon sungai dalam jangka panjang harus sudah diprediksi jangan sampai
pembuatan sudetan mengakibatkan kejadian yang lebih merugikan, misalnya
degradasi, sungai kembali bermeander, masalah banjir timbul lagi dan lainlain.

Adanya

sudetan

jangan

sampai

mengganggu

kondisi

sosial-ekonomi

masyarakat, misalnya terpisahnya kampung, terputusnya kegiatan hidup
masyarakat, lahan timbul yang tidak bertuan, dan sejenisnya.

Pertimbangan dari segi lingkungan juga harus dilaksanakan dengan sebaikbaiknya.

D. Saluran Pengelak Banjir ( Diversion Channel )
Usaha ini dilaksanakan dengan cara membagi banjir sehingga elevasi muka air banjir
dapat secara langsung dikurangi. Pembuatan saluran pengelak banjir dilakukan untuk
melindungi kawasan yang berkembang dan sangat padat (kota-kota besar), dimana
upaya

untuk

memperbesar

kapasitas

tampung

sungai

asli

sudah

tidak

dapat

dilaksanakan karena kesulitan penyediaan lahan atau pembuatan tanggul banjir tidak
dapat dilakukan.
Sebagai kesepakatan terminologi model saluran pengelak banjir ini yang umumnya ada
dua macam istilah sebagai berikut :

Disebut diversion channel bilamana muara dari sistem pengelak ini adalah bukan
sungai yang bersangkutan (tidak kembali ke alur sungai semula).

Disebut by-pass bilamana muara dari sistem pengelak ini adalah sungai yang
bersangkutan (kembali ke alur sungai semula).

E. Daerah Penampungan Banjir Sementara (Retarding Basin/Retention Basin)
Retarding atau retention basin adalah suatu kawasan yang diperuntukkan bagi “tempat
parkir” sementara aliran banjir sehingga akan dapat mengurangi besaran banjir di
daerah hilirnya. Lokasi daerah penampungan banjir sementara ini biasanya berada pada
jalur sungai atau bantarannya (on-stream) atau dapat pula ditempatkan di luar
bantaran sungai (off-stream). Pemilihan kedua cara tersebut tergantung antara lain

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-72

pada kondisi topografi dan pengalirannya, dan terutama harus dicarikan pada tempattempat yang kurang produktif.
Untuk membatasi kawasan perluasan genangan pada daerah penampungan banjir
sementara dapat dilengkapi dengan tanggul-tanggul. Untuk bangunan pemasukan
(inlet) umumnya dibuat dari pelimpah over-flow yang elevasi mercunya disesuaikan
dengan kapasitas tampung alur sungai yang ada di sebelah hilirnya.
F. Waduk Pengendali Banjir
Pembuatan waduk pengendali banjir ini merupakan cara yang paling langsung untuk
mengendalikan banjir. Waduk ini menampung aliran banjir untuk sementara kemudian
dilepas sedikit demi sedikit sesuai dengan daya tampung sungai di bagian hilirnya,
dengan demikian banjir di bagian hilir waduk dapat diatur dan dikendalikan.
Dilihat dari sudut pengendalian banjir, terdapat dua jenis dasar waduk yaitu:

Waduk penahan (retention reservoir); Waduk ini dibangun dengan kapasitas yang
tidak terlalu besar pada anak-anak sungai dengan sistem pengeluaran yang tidak
dikendalikan (tanpa pintu-pintu air) sehingga mekanisme pengontrolan air yang
keluar dari waduk secara alamiah berdasarkan aliran yang masuk dan yang
tertampung di dalam waduk.

Waduk penampung (storage reservoir); Waduk ini dibangun dengan kapasitas yang
lebih besar dengan sistem pengeluaran airnya dikendalikan (dengan pintu air dan
pelimpah),

dioperasikan

berdasarkan

justifikasi

teknis.

Idenya

adalah

untuk

menampung aliran yang masuk ke dalam waduk pada saat debit besar kemudian
dilepas ke hilir dengan debit yang aman.
Pembuatan waduk pengendali banjir dengan kapasitas yang terbatas dapat mencapai
hasil yang memuaskan bilamana dipenuhi kondisi-kondisi sebagai berikut :

Kapasitas tampung waduk harus sama dengan volume hidrograf banjir yang ada,
dengan suatu pengertian bahwa yang ditampung dalam waduk hanyalah debit
banjir di atas aliran dasar (baseflow), saja sedangkan aliran sungainya sendiri
dilepaskan ke bagian hilir.

Debit aliran banjir (total) yang dikendalikan oleh waduk tidak boleh jauh lebih
kecil daripada debit banjir rencana pada kawasan yang dilindungi dari banjir.

Pembangunan waduk harus memungkinkan untuk diadakan sistem pengendalian
banjir secara terpadu dalam satu sistem sungai.

Jarak antara kawasan yang dilindungi dari banjir dengan DPS yang dikendalikan
oleh waduk harus sekecil mungkin agar pengaruh pengendalian banjir cukup
efektif.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-73

G. Sistem Drainase
Sistem drainase antara lain disediakan untuk mengalirkan air dari kawasan yang
menderita banjir dan juga untuk areal yang tergenang di belakang tanggul. Mekanisme
pembuangan airnya bisa dilaksanakan dengan cara gravitasi dan/atau pemompaan
tergantung pada topografi lahan yang ada.
Dalam merencanakan suatu sistem drainase harus mempertimbangkan faktor-faktor
sebagai berikut :

Ukuran dan kondisi permukaan lahan serta kondisi topografi pada kawasan yang
akan dikeringkan.

Intensitas hujan yang direncanakan dan aliran permukaan yang ada.

Rencana kedalaman dan lama genangan yang diperbolehkan.

Perbedaan elevasi antara kawasan yang dikeringkan dengan elevasi muka air pada
saluran drainase.

Biaya pelaksanaan dan O& P

H. Sistem Polder
Bilamana kawasan yang harus dilindungi dari bahaya banjir relatif kecil namun penting,
sedangkan usaha untuk mengendalikan banjir dengan cara lain relatif mahal dan
mungkin sulit, maka pembuatan tanggul keliling (polder) untuk melindungi kawasan
tersebut cukup efektif. Masalah yang mungkin timbul kemudian adalah drainase dari
dalam kawasan polder menuju ke luar. Untuk perencanaan teknis dan pertimbangan
pembuatan tanggul keliling tersebut, pada prinsipnya identik dengan perencanaan
tanggul biasa.

4.9.1.1 Pengendalian Banjir Dengan Non Struktural
Pengendalian banjir dengan cara non struktural ini merupakan upaya pencegahan
terhadap bahaya banjir maupun pengurangan dampak negatif yang diakibatkan
oleh banjir. Pengendalian banjir dengan cara ini merupakan upaya-upaya yang
bersifat pengaturan, yang antara lain berupa:
A.

Pengelolaan DAS
Upaya pengelolaan DAS bertujuan untuk menjadikan DAS (terutama bagian
hulu) sebagai waduk alam yang mampu menampung sebanyak-banyaknya air
hujan yang jatuh sehingga besar aliran permukaan dapat dikurangi, serta
mengurangi tingkat erosi lahan. Pelaksanaan pengelolaan DPS antara lain
mencakup hal-hal sebagai berikut :
 Pencagaran hutan.
 Pengaturan tata pengelolaan lahan yang sesuai dengan kaidah konservasi

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-74

 Pembuatan bangunan pengendali erosi
 Penanaman tanaman-tanaman pencegah erosi, dan lain-lain
Pelaksanaan pengelolaan DPS dapat diperkuat dengan hal berikut:
 Pengendalian penebangan hutan serta mengadakan reboisasi.
 Dalam

pengelolaan

ladang,

disarankan

menanam

tanaman

yang

membutuhkan pengelolaan tanah minimum (minimum tillage) serta yang
mempunyai efek dapat mengurangi aliran permukaan.
 Saluran-saluran

pembuangan

punggung

alam

agar

dilengkapi

dengan

bendung penahan sedimen
 Permukaan saluran agar dilindungi dengan menggunakan rumput.
 Tidak diperkenankan ada aktivitas peladangan atau pengolahan lahan lainnya
di sepanjang lembah sungai.
 Sepanjang alur sungai disarankan untuk disediakan semacam green-belt.
B.

Pengendalian dan Pengelolaan Dataran Banjir
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkecil keru`gian yang diakibatkan oleh
banjir, termasuk kerugian sosial ekonomi dan kerusakan lingkungan. Kegiatan
pengendalian dan pengelolaan dataran

banjir

dilaksanakan

berdasarkan

informasi peta rawan banjir yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam kaitan
ini, informasi yang terdapat pada peta rawan banjir harus ditambah dengan
analisa dan rekomendasi atas resiko kerugian.
Rekomendasi yang termuat dalam peta rawan banjir dengan segala tingkat
resiko

harus ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda) agar

dapat

dilaksanakan dengan baik. Perda untuk penetapan daerah rawan banjir pada
prinsipnya mencakup hal-hal sebagai berikut :

Membatasi

atau

mencegah

pembangunan

baru

pada

daerah

yang

mempunyai resiko kerugian akibat banjir.

Mencegah timbulnya kegiatan-kegiatan baru yang dapat menempati
wilayah genangan.

Pengaturan daerah rawan banjir harus terpadu sedikitnya menyangkut
komponen-komponen sebagai berikut :

Efek dari suatu kegiatan terhadap masalah banjir.

Daerah rawan banjir, termasuk resiko kuantitatif dan kualitatif yang
diakibatkan oleh banjir.

Penyebab, frekuensi dan luasan banjir.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-75

C.

Rencana menyeluruh penanggulangan bahaya banjir.

Program asuransi daerah, dan lain-lain

Sandi bangunan
Dalam upaya pencegahan bahaya dan kerugian akibat banjir, pembuatan sandi
bangunan

mempunyai

maksud

agar

bangunan

beserta

komponen-

komponennya tahan terhadap ancaman banjir serta bangunan tersebut dapat
dihindarkan dari genangan banjir dengan cara meninggikan lantainya. Hal
penting

lainnya

dari

pola

pengendalian

banjir

ini

adalah

sifat

dari

penanganannya. Apakah merupakan penanganan yang mendesak, jangka
pendek,

jangka

menengah

ataukah

jangka

panjang.

Umumnya

pola

pengendalian banjir dengan cara-cara pengaturan atau non teknis adalah
termasuk penanganan jangka menengah dan panjang. Sedangkan pola
pengendalian banjir dengan rekayasa teknis digunakan untuk penanganan
yang mendesak, jangka pendek serta jangka menengah.

4.10 PERHITUNGAN VOLUME PEKERJAAN (BILL OF QUANTITY/BOQ)
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan dalam Perhitungan Volume
Pekerjaan, antara lain :
 Menyusun paket pekerjaan konstruksi yang akan dilaksanakan dan diskonsultasikan
dengan Direksi Pekerjaan
 Perhitungan volume pekerjaan dirinci sesuai dengan paket konstruksi yang sudah di
asistensikan. Kemudian dibuat daftar rekapitulasi kuantitas pada masing-masing rincian
tersebut antara lain volume galian (m3), timbunan (m3), pasangan batu (m3), plesteran
(m2), siaran (m2) dan sebagainya.
 Perhitungan volume dilakukan dengan sistematis untuk mempermudah perhitungan dan
pengontrolan volume yang dilengkapi dengan gambar sketsa yang jelas untuk mutual
check berikutnya antara Proyek dan Kontraktor.
 Perhitungan BOQ selanjutnya dijelaskan kepada Pihak Direksi agar estimasi volume
pelaksanaan pembangunan tidak terjadi kesalahan.

4.10.1 Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Perhitungan anggaran biaya didasarkan pada lima komponen biaya yaitu diantaranya : biaya
bahan-bahan konstruksi, biaya tenaga kerja (buruh), biaya peralatan, overhead, dan
keuntungan yang dilakukan pada tiap-tiap jenis pekerjaan. Dalam perhitungan anggaran
biaya tersebut, biaya asuransi dan pajak tenaga buruh sudah termasuk dalam harga buruh,
biaya asuransi alat berat dan asuransi operator sudah termasuk dalam sewa alat berat, dan
biaya tenaga buruh dan alat dihitung berdasarkan jumlah jam kerja.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-76

VI.

Adapun perhitungan rencana anggaran biaya secara umum dapat dilihat pada

gambar berikut:
Daftar Jenis Pekerjaan
Gambar
Rencana
Daftar Volume Pekerjaan

Daftar

Tabel

Daftar

Tabel

Daftar

Tabel

Bahan

Koeff

Upah

Koeff

Alat

Koeff

Harga

Harga

Harga

Bahan

Bahan

Sewa/beli alat

Harga Satuan Tiap
Jenis Pekerjaa

Rencana Anggaran Biaya Per
Kelompok Pekerjaan

RAB Total

Gambar 4. 25 Skema perhitungan anggaran biaya.

4.10.2 Analisa Harga Satuan Dasar (AHSD)
Komponen bahan untuk menyusun harga satuan pekerjaan (HSP) memerlukan Harga Satuan
Dasar (HSD) tenaga kerja, bahan baku, bahan olahan dan/atau bahan jadi serta peralatan
sebagai berikut :
A. Langkah pehitungan HSD tenaga kerja
Untuk menghitung harga satuan pekerjaan, maka perlu ditetapkan bahan rujukan
harga acuan untuk upah sebagai HSD tenaga kerja pada lokasi pekerjaan.
Langkah perhitungan HSD tenaga kerja adalah sebagai berikut:
a) Tentukan jenis keterampilan tenaga kerja, misal pekerja (L01), tukang (L02),
kepala tukang (L03) atau mandor (L15).
b) Kumpulkan data upah, data upah hasil survai di lokasi yang berdekatan dan
berlaku untuk daerah tempat lokasi pelaksanaan pekerjaan,
c)

Perhitungkan tenaga kerja yang didatangkan dari luar daerah dengan
memperhitungkan biaya akomodasi seperti: makan, menginap dan transport.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-77

d) Jumlah jam kerja perhari selama 8 jam per hari dan diperhitungkan efektif
selama 7 jam dengan waktu istirahat maksimum 1 jam.
e) Hitung masing-masing biaya upah per orang-hari (OH),
f)

Hitung

biaya untuk keperluan K3

dengan menyusun

peralatan yang

diperlukan seperti helm, rompi, sepatu, masker, jas hujan, topi, sarung
tangan, kaca mata pelindung dan lain-lain, masing-masing dengan harga
yang berlaku untuk setiap tenaga kerja yang digunakan.
g) Jumlahkan biaya K3 dalam satuan rupiah, dan hitung biaya pemakaian
peralatan K3 per hari, dengan membagi biaya K3 dengan lama periode
konstruksi dan lama (hari) pemakaian, sebagai biaya K3 per hari.
h) Biaya upah tenaga per hari adalah upah rata-rata per hari (e) di tambah
denganbiaya K3 per jam (g).
B. Langkah perhitungan HSD bahan/material
Untuk kegiatan SDA, menghitung HSD umumnya bahan atau material dihitung
berdasarkan harga pasar bahan per satuan ukuran baku (misal volume dalam m3).
Analisis HSD bahan memerlukan data harga bahan baku, serta biaya transportasi
dan biaya produksi bahan

baku menjadi bahan olahan atau bahan jadi. Kegiatan

pembangunan SDA pada umumnya menggunakan material/bahan jadi, tetapi untuk
volume yang besar seperti pembangunan bendungan diperlukan proses bahan
olahan.
Untuk bahan olahan, produksi bahan memerlukan peralatan yang mungkin lebih dari
satu peralatan. Setiap peralatan dihitung kapasitas produksinya dalam satuan
pengukuran perjam atau per hari, dengan cara memasukkan data kapasitas
peralatan, faktor efisiensi peralatan, faktor lain dan waktu siklus masing-masing.
Faktor efisiensi peralatan dapat dilihat dalam Tabel 1. HSD bahan terdiri atas harga
bahan baku atau HSD bahan baku, HSD bahan olahan, dan HSD bahan jadi.
Perhitungan harga satuan dasar (HSD) bahan yang diambil dari quarry dapat
menjadi dua macam, yaitu :
a.

Berupa bahan baku (batu kali/gunung, pasir sungai/gunung dll)

b.

Berupa bahan olahan (misalnya agregat kasar dan halus hasil produksi mesin
pemecah batu dan lain sebagainya) Harga bahan di quarry berbeda dengan
harga bahan yang kirim ke base camp atau ke tempat pekerjaan, karena perlu
biaya tambahan berupa biaya pengangkutan material dari quarry ke base camp
atau tempat pekerjaan dan biaya-biaya lainnya seperti retribusi penambangan
Galian C dan biaya operasional peralatan-alat berat.

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-78

C. Langkah perhitungan HSD bahan jadi
a.

Tentukan tempat dan harga setempat bahan tersebut di pabrik atau di toko
material atau juga di pelabuhan.

b.

Hitung biaya memuat bahan jadi, transportasi dan membongkar bahan jadi, per
satuan bahan jadi.

c.

Tabelkan dan beri kode setiap bahan jadi yang sudah dicatat harganya, harga di
terima di lokasi pekerjaan atau di base camp.

D. Langkah perhitungan HSD bahan olahan

Penyediaan bahan baku
(a) Tentukan tempat dan harga setempat bahan tersebut di quarry, di pabrik
atau di pelabuhan ataupun jika menggunakan harga toko material/penyedia
jasa dengan harga di tempat lokasi pekerjaan.
(b) Tabelkan dan beri kode setiap bahan baku yang sudah dicatat harga dan
jarak dari quarrynya.

Proses pembuatan bahan olahan

(misal batu kali menjadi agregat kasar dan agregat halus, menggunakan dua
peralatan

berbeda,

peralatan

-1:

stone

crusher

dan

peralatan-2:

wheel

loader)Perhitungan bahan olahan diperlukan masukan data seperti ditunjukkan
dalam 5.2.4.3.
antara lain:
-

Jarak quarry (bila bahan dasar batu diambil dari quarry)

-

Harga satuan dasar bahan baku atau bahan dasar

-

Harga satuan dasar peralatan

-

Harga satuan dasar tenaga kerja

-

Kapasitas peralatan

-

Faktor efisiensi peralatan produksi

-

Faktor kehilangan bahan

Langkah perhitungan HSD bahan olahan adalah sebagai berikut:
(a) Tetapkan proporsi bahan-bahan olahan yang akan diproduksi dalam satuan
persen, misal agregat kasar K% dan agregat halus H%.
(b) Tetapkan berat isi bahan olahan yang akan diproduksi, misal: D1 dan D2,
(c) Tentukan asumsi transaksi pembelian bahan baku apakah loko atau

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-79

franco di base camp. Tetapkan harga satuan bahan baku, dari quarry,
pabrik atau pelabuhan. Misalkan harga bahan baku (Rp1) per m3.
(c) Tetapkan peralatan-alat dan biaya sewanya atau biaya operasinya, masingmasing yang akan digunakan untuk mengolah bahan baku menjadi bahan
olahan, untuk harga di base camp atau di lokasi pekerjaan. Misalkan biaya
produksi bahan olahan dengan peralatan-1 (Rp2) per jam, dan biaya
dengan peralatan-2 (Rp3) per jam..
(d) Tetapkan kapasitas peralatan masing-masing dalam m3.
(e) Tetapkan faktor efisiensi peralatan (Fa) masing-masing, sesuai dengan
kondisi

peralatan yang ada.

(f) Tetapkan faktor kehilangan bahan (Fh).
(g) Uraikan metoda pelaksanaan pengolahan bahan baku menjadi bahan olahan
(h) Tetapkan waktu kerja peralatan-1 adalah 1 jam
(i) Hitung produksi peralatan-1 (Qb) dan kebutuhan bahan baku (Qg) selama
satu jam. Produksi peralatan-1 selama 1 jam: Qb = Fa x Cp1 / D2.
Kebutuhan bahan selama 1 jam: Qg = Fa x Cp1 / D1.
(j) Hitung kapasitas peralatan-2 untuk melayani peralatan-1. Kapasitas angkut
per rit: Ka = Fa x Cp2 dalam satuan m3.
(k) Tetapkan waktu siklus (muat, tuang, tunggu dll.: Ts = 2 menit.
(l) Hitung waktu ker peralatan-2 memasok bahan baku: Tw = (Qg/Ka x Ts) /
60, dalam satuan jam.
(m) Biaya produksi Bp = (Tst x Rp2 + Tw x Rp3) / Qb dalam satuan rupiah /
m3.
(n) Harga satuan bahan olahan: Hsb = (Qg / Qb x Fh x Rp1) + Bp, dalam
satuan rupiah /m3.
E.

Langkah perhitungan HSD peralatan
Ada dua jenis peralatan yang digunakan untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan
secara langsung (misal beton molen, vibrator) dan ada pula peralatan yang
digunakan untuk menunjang kegiatan persiapan (mobilisasi peralatan), pekerjaan
secara mekanis (misal alat berat Buldozer atau Excavator) ataupun pada proses
pembuatan bahan olahan (misal stone crusher, dll).
Perhitungan HSD peralatan ini dapat dikelompokkan sebagai rental basis (sewa-hari
atau sewa-jam) ataupun peralatan berbasis kinerja (performance based). Analisis
HSD peralatan yang menggunakan sewa tentunya diambil dari harga pasaran
penyewaan peralatan, sedangkan peralatan berbasis kinerja memerlukan data upah

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-80

operator atau sopir, spesifikasi peralatan meliputi tenaga mesin, kapasitas kerja
peralatan (m3), umur ekonomis peralatan (dari pabrik pembuatnya), jam kerja
dalam satu tahun, dan \ harga peralatan. Faktor lainnya adalah komponen investasi
peralatan meliputi suku bunga bank, asuransi peralatan, faktor peralatan yang
spesifik seperti faktor bucket untuk Excavator.
HSD peralatan meliputi biaya pemilikan per jam dan biaya operasi per jam. Langkah
perhitungan HSD peralatan meliputi:
a) Langkah menghitung biaya pemilikan per jam:
1) Menghitung biaya penyusutan.
2) Menghitung biaya pengembalian modal.
3) Menghitung biaya asuransi.
4) Menghitung biaya pemilikan.
b) Langkah menghitung biaya operasional per jam:
1) Menghitung biaya bahan bakar .
2) Menghitung biaya pelumas mesin .
3) Menghitung biaya transmisi .
4) Menghitung biaya hydraulic oil .
5) Menghitung biaya grease .
6) Menghitung biaya filter-filter.
7) Menghitung biaya bahan pokok.
8) Menghitung biaya operator .
9) Menghitung biaya operasi per jam .
10) Menghitung biaya pemeliharaan peralatan.

4.10.3 Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP)
Komponen untuk menyusun harga satuan pekerjaan (HSP) diperlukan data HSD upah, HSD
peralatan dan HSD bahan. Langkah-langkah analisis HSP adalah sebagai berikut:
a) Pilih AHSP untuk jenis pekerjaan yang sesuai dengan kondisi dan/atau spesifikasi
teknis yang diperlukan yang diambil dari Lampiran AHSP-SDA.
b) Masukan HSD upah, bahan dan peralatan yang sesuai dengan jenis pekerjaan
pada a).
c)

Jumlah

harga

masing-masing

komponen

adalah

hasil

kali

masing-masing

koefisien AHSP dengan HSD upah, bahan dan peralatan pada b).

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-81

d) HSP merupakan jumlah harga.

4.10.4 Estimasi Volume Pekerjaan
Estimasi volume pekerjaan/kubikasi dibuat berdasarkan gambar-gambar rencana (Design
Drawings) yang telah disetujui. Dalam menghitung volume pekerjaan suatu proyek ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu antara lain :
1. Menyusun paket pekerjaan konstruksi yang akan dilaksanakan dan dikonsultasikan
dengan Direksi Pekerjaan.
2. Perhitungan volume pekerjaan dirinci sesuai dengan paket konstruksi yang mengacu
pada hasil akhir perencanaan. Kemudian dibuat daftar rekapitulasi kuantitas pada
masing-masing rincian tersebut antara lain volume galian (m3), timbunan (m3),
pasangan batu (m3), plesteran (m²), siaran (m²) dan sebagainya
3.

Perhitungan volume dilakukan dengan sistematis untuk mempermudah perhitungan
dan pengontrolan volume yang dilengkapi dengan gambar sketsa yang jelas untuk
mutual check berikutnya antara Proyek dan Kontraktor

4.

Perhitungan BOQ selanjutnya dijelaskan kepada Pihak Direksi agar estimasi volume
pelaksanaan pembangunan tidak terjadi kesalahan.

Analisa Volume Pekerjaan dari pekerjaan “DED Pengendalian Banjir Sungai Kawanoa,
Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah” terdiri dari pekerjaan, yaitu :
1. Pekerjaan persiapan
2. Pekerjaan Konstruksi tanggul penahan
3. Pekerjaan Finishing

Laporan Pendahuluan
DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

4-82

BAB 5

Rencana Kerja Selanjutnya

LAPORAN PENDAHULUAN

DED Pengendalian Banjir Dan Sedimen
Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, Kabupaten
Maluku Tengah

BAB V
RENCANA KERJA
5.1

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

Jadwal pelaksanaan pekerjaan “DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi , Kec.
Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah” ini disusun berdasarkan dengan rencana kerja
yang telah disusun serta dengan memperhatikan alokasi waktu pelaksanaan pekerjaan
sebagaimana telah ditetapkan dalam kerangka acuan kerja. Keseluruhan waktu pelaksanaan
pekerjaan adalah 8 (Delapan) bulan kalender atau 240 (Dua Ratus Empat Puluh) hari kerja
terhitung sejak diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) oleh Balai Wilayah Sungai
Maluku, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum. Secara
konseptual, jadwal pelaksanaan pekerjaan ini disusun berdasarkan tahapan kegiatan
pelaksanaan pekerjaan. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pekerjaan ini, berikut
adalah tahapan kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai hasil pekerjaan yang
diharapkan.
Tabel 5. 1 Tahap pelaksanaan pekerjaan output tim konsultan.

NO
1

TAHAPAN
KEGIATAN
Tahap
Pendahuluan

PELAKU KEGIATAN
- Tim Konsultan

WAKTU
PELAKSANAAN
Bulan ke-1

OUTPUT
- Penyelesaian administrasi
- Pengumpulan data
sekunder
- Kesepakatan metodologi
dan rencana kerja

2

Tahap Survey

- Tim Konsultan
- Instansi terkait

3

Tahap Analisa

- Tim Konsultan

4

Tahap
Perencanaan

- Tim Konsultan

5

Tahap Pelaporan

- Tim Konsultan

6

Tahap Presentasi

- Tim Konsultan
- Instansi terkait

Laporan Pendahuluan

Akhir bulan
ke-1 hingga
akhir bulan ke3
Akhir bulan
ke-2 hingga
akhir bulan ke5
Pertengahan
bulan ke-4
hingga awal
bulan ke-7
Awal bulan ke1 hingga akhir
bulan ke-8
Awal bulan ke1 hingga akhir
bulan ke-8

- Survei lapangan
- Pengumpulan data primer
Analisa data hasil survey
sekunder dan primer
Detail desain bangunan dan
penyusunan dokumen
lelang
Jenis laporan sesuai dengan
KAK
Kesepakatan dengan
pemilik pekerjaan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

5-1

Untuk lebih jelasnya mengenai tahapan dan jadwal pelaksanaan kegiatan pekerjaan “DED
Pengendalian Banjir Sungai Kawanoa, Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah”, dapat dilihat
dalam tabel dibawah
ini.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

5-2

Tabel 5. 2 Jadwal penugasan personil.
JADUAL PENUGASAN PERSONIL
PEKERJAAN "DED Pengendalian Banjir Sungai Kawanoa, Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah"
SATKER BALAI WILAYAH SUNGAI MALUKU
Nama Perusahaan : PT.KARYA UTAMA CITRA MANDIRI
BULAN KE NO.

POSISI

NAMA PERSONIL

[1]

[2]

[3]

April - Mei
31-6

I

7-13

14-20
[4]

21-27

Mei - Juni
28-3

4-10

11-17 18-24
[5]

Juni - Juli
25-1

2-8

9-15

16-22
[6]

Juli - Agustus
23-29

30-5

6-12

13-19 20-26
[7]

Agustus - September
27-2

3-9

10-16 17-23
[8]

24-30

September - Oktober
1-7

8-14

15-21
[8]

22-28

ORANG
BULAN
[10]

TENAGA AHLI

1

Ketua Tim ( Civil Eng.)

Ir. Sunarko, Dipl.HE, SP, MT

6.00

2

Ahli Hidrolika / Bangunan Air

Dra. Nuhartati

5.00

3

Ahli Hidrologi

Wahyudi Hartono, ST

3.00

4

Ahli Geoteknik

Ir. Thita Laksmining Mutia

3.00

5

Ahli Geodesi

Riko Hardin, ST

2.00

II

TENAGA PENDUKUNG

1

Ast. Ahli Hidrolika

to be name

5.00

2

Ast. Ahli Hidrologi

to be name

2.00

3

Ast. Ahli Geotek

to be name

2.00

4

Ast. Ahli Geodesi

to be name

2.00

5

Cost Estimator

to be name

2.00

6

Surveyor Pengukuran

to be name

2.00

7

Autocadman

to be name

2.00

8

Administrasi

to be name

2.00

9

Operator Komputer

to be name

2.00

16

Office Boy

to be name

6.00

Laporan Pendahuluan

Menyetujui,
a/n. Kuasa Pengguna Anggaran
SATKER BALAI WILAYAH SUNGAI MALUKU

Makasar, Juni 2014
PT. KARYA UTAMA CITRA MANDIRI

Fabian Priandani., S.Pd., M.Sc
NIP. 19811214.200812.1.003

Etika Ulfa Harini
Direktur Utama

DED Pengendalian Banjir Sungai Kawanoa, Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah

5-3

Tabel 5. 3 Jadwal peralatan.

JADWAL PERALATAN
DED PENGENDALIAN BANJIR DAN SEDIMEN SUNGAI KOBI KEC, SERAM UTARA, P. SERAM, KAB.MALUKU TENGAH
Bulan
No.

Uraian Pekerjaan

Satuan

Jumlah
Alat x bln

BULAN-1

BULAN-2

BULAN-3

BULAN-5

BULAN-5

BULAN-6

BULAN-7

BULAN-8

Keterangan

Mg-1 Mg-2 Mg-3 Mg-4 Mg-1 Mg-2 Mg-3 Mg-4 Mg-1 Mg-2 Mg-3 Mg-4 Mg-1 Mg-2 Mg-3 Mg-4 Mg-1 Mg-2 Mg-3 Mg-4 Mg-1 Mg-2 Mg-3 Mg-4 Mg-1 Mg-2 Mg-3 Mg-4 Mg-1 Mg-2 Mg-3 Mg-4

I

SURVEY TOPOGRAFI
1.

GPS (Global Positioning System)

Sewa/Bulan

4

2.

Theodolith T2

Sewa/Bulan

4

3.

Waterpass

Sewa/Bulan

4

4.

Rambu Ukur

Set

2

5.

Baak Mistar Plastik

Buah

2

6.

Meed Band

bh

3

7.

Kamera

bh

2

8

BM

bh

10

9

CP

bh

15

set

3

II

SURVEY HIDROMETRI

II

SURVEY GEOTEKNIK

1

IV

IV

Peilschaal

1

Sondir

titk

7

2

Handboring

titk

5

FOTO UDARA
1.

Image Processing Ortho, Contouring dan Vektorisasi

Ha

2500

2.

Pemotretan Udara

Ha

2500

KANTOR
1.

Sewa Komputer

Bulan

4X6

2.

Sewa Printer A3 dan A4

Bulan

3X6

3.

Sewa Scanner

Bulan

2X6

4.

Sewa Plotter

Bulan

1X6

5.

Sewa Digitizer

Bulan

1X6

7.

Sewa Meja tulis dan kursi

Bulan

7X6

8.

Sewa Kendaraan Roda-4 & B. Operasional

Bulan

1X6

9.

Kendaraan Roda-2 & B. Operasional

Bulan

3X6

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir Sungai Kawanoa, Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah

5-4

Tabel 5. 4 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan.
JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN
DED PENGENDALIAN BANJIR DAN SEDIMEN SUNGAI KOBI KEC, SERAM UTARA, P. SERAM, KAB.MALUKU TENGAH
B U L A N

URAIAN PEKERJAAN

No.

1

I

BULAN-1
3
2

4

1

BULAN-2
3
2

4

1

BULAN-3
3
2

4

1

BULAN-4
3
2

4

1

BULAN-5
3
2

4

1

BULAN-6
3
2

4

1

BULAN-7
3
2

4

1

BULAN-8
3
2

KETERANGAN
4

KEGIATAN A : Persiapan
1. Proses Administrasi
2. Pengumpulan Data Sekunder dan Study Terdahulu
3. Survey Pendahuluan
4. Inventarisasi Kondisi Lokasi
5. Identifikasi Lokasi
6. Penyusunan Laporan Pendahuluan

II

KEGIATAN B: Pengukuran Topografi
1. Orientasi Lapangan
2. Pengukuran situasi Daerah irigasi skala 1:1000
3. Pengukuran Profil Sungai
4. Pengukuran Trase Sungai Existing skala 1:1000
5. Perhitungan dan Penggambaran
6. Pembuatan Buku Inventarisasi

III

KEGIATAN C: Investigasi Geoteknik & Perencanaan Struktur Bangunan
1. Survey dan Investigasi Geoteknik dan Mekanika Tanah
2. Perencanaan Struktur Bangunan

IV

KEGIATAN D: Kegiatan Foto Udara dan Pengolahan Data
1. Pemotretan Udara
2. Image Processing Ortho, Contouring dan Vektorisasi

V

KEGIATAN E: Analisis Data dan Kegiatan Interim
1. Analisis Hidrologi, dan Hidrolika
2. Analisis Geoteknik
3. Analisa Sedimentasi
4. Pemodelan Hidroaulik dan Struktur
5. Rekomendasi Alternatif Penangan
6. Penyusunan Interim

VI KEGIATAN F: Perencanaan Teknis
1. Perencanaan Detail
2. BOQ dan Rencana Anggaran Biaya
3. Spesifikasi Teknik dan Metoda Pelaksanaan
4. Penggambaran
5. Penyusunan Kegiatan Akhir

VII KEGIATAN F: Penyusunan Manual OP
1. Penyusunan Mauan OP

VIII KEGIATAN G: PELAPORAN
1. Laporan Rencana Mutu Kontrak
2. Laporan Pendahuluan
3. Laporan Bulanan (8 bulan x 5 buku)
4. Laporan Interim
5. Konsep Laporan Akhir
6. Laporan Akhir Final
7. Laporan Ringkasan
8. Laporan Penunjang :
9. Album Gambar
11. Pengadaan Peta Citra

IX KEGIATAN H: DISKUSI
1. Diskusi Laporan Pendahuluan
2. Diskusi Lap. Interim
3. Diskusi Laporan Akhir

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

5-5

5.2

RENCANA KERJA SELANJUTNYA

Untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang sesuai dengan yang sudah ditentukan baik dalam
Term Of Reference maupun pengarahan dari Pemberi Pekerjaan, maka rencana kerja
selanjutnya adalah sebagai berikut :
1. Pengumpulan data sekunder, berupa :

Data curah hujan harian maksimum 10 tahun terakhir untuk stasiun pengamatan
Amahai, Geser, Pattimura, dan Kayratu di BMKG Pattimura.

Data klimatologi selama 1 tahun terakhir

untuk stasiun pengamatan Amahai,

Geser, pattimura, dan Kayratu di BMKG Pattimura.
2. Pengukuran Topografi, berupa :

Pembuatan BM dan CP

Pemasangan patok BM dan CP

Pemasangan patok dari bambu atau kayu

Pengukuran poligon

3. Pengukuran Hidrometri, berupa pengukuran arus sungai.
4. Penyelidikan tanah, berupa :

Sondir sebanyak 7 titik

Handboring sebanyak 5 titik

5. Pembuatan program tahap selanjutnya.

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir dan Sedimen Sungai Kobi, Kec. Seram Utara, P. Seram,
Kab. Maluku Tengah. Tengah

5-6

Laporan Pendahuluan

DED Pengendalian Banjir Sungai Kawanoa, Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah

5-7