You are on page 1of 2

Siapa yang tidak kenal tukang parkir?

Seseorang yang selalu mangkal di pinggir jalan
yang penuh dengan kendaraan, kantor, dan toko. Tukan parkir bertugas memandu dan
menertibkan kendaran bermotor yang mau berhenti di pinggir jalan agar tidak
mengganggu jalan raya yang penuh dengan kendaran bermotor lain yang lalu-lalang.
Tukang parkir juga bertugas untuk menjaga keamanan ranmor dari kejahatan dan
pencurian.
Tulisan ini dibuat untuk mengambil pelajaran dari tingkah laku tukang parkir. Ada satu
hal yang paling saya benci dengan perilaku atau sikap dari tukang parkir yaitu,
pelayanan. Setiap kali kita ingin pergi dari tempat parkir, tukang parkir segera datang
untuk menarik uang parkir. Namun yang paling menjengkelkan adalah ketika uang sudah
diberikan, tukang parkirnya langsung pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Kendaraan
kita pun belum bisa pergi, tiba-tiba tukang parkir langsung ngeloyor pergi menuju
kendaraan lain. Padahal motor atau mobil kita belum berada bada posisi “take-off”. Wajar
jika timbul komentar, “ah, dasar tukang parkir, maunya uang saja!”
Pernahkah kita melakukan suatu tindakan atau perilaku seperti tukang parkir tadi? Jika
ada maka segeralah berubah, jika tidak alamat rugi akan menantikan kita. Hal ini berlaku
untuk pemilik usaha jasa maupun barang dalam melayani seorang pembeli atau mitra
bisnis kita. Perilaku yang diperlihatkan oleh tukang parkir sangat berbahaya jika
diterapkan pelaku usaha dan para pegawainya. Pelaku usaha jangan pernah menyepelkan
masalah ini, karena pelayanan adalah faktor penting yang membuat pelanggan tertarik
atau tidak untuk membeli sesuatu. Pelayanan sama dengan memposisikan pelanggan
sebagai orang istimewa karena memiliki uang. Selain itu, pelanggan yang menerima
pelayanan yang baik akan menjadi sarana promosi gratis bagi kita, ketika ia menyarankan
orang lain untuk berbelanja kepada kita.
Pembahasan tentang pelayanan ini dalam dunia usaha bukanlah barang baru. Ia selalu
menjadi bahan kajian semua perusahaan dan dicoba untuk selalu dipraktekan dalam dunia
usaha. Permasalahanya adalah seringkali pelayanan yang dilakukan pegawai tidak timbul
dari hati, justru merupakan kewajiban yang membebani pegawai, sehingga pelayanan

Sedang seseorang yang memahami dirinya sebagai produk ilahi. maka dia berusaha untuk mengekploitasi sumber-sumber ekonomi yang ada. Untuk hal mutasyabihat kita diwajibkan untuk mengimaninya saja. Manusia dianggap sebagai pribadi yang sempurna dan perlu dihargai dan dihormati oleh sesama. berperang. Agama dilahirkan bukan untuk menghancurkan. Pelayanan dari hati ini berkaitan erat dengan pemahaman seseorang terhadap aspek spiritual yang dimilikinya. Ia membutuhkan pelatihan terus menerus dengan mengasa kepekaan jiwa melalui aspek spiritual. Sedangkan hukum ilahi sangat luas jangkauannya. Inilah yang akan menjadi bahasan kita. . Hukum manusia tidak dapat mengalahkan hukum tuhan. Pelanggan dilayani adalah sebuah keniscayaan hubungan antar manusia yang lebih hakiki. Pelatihan untuk kepekaan jiwa ini dimulai dari pembiasaan untuk menjalani nilai-nilai spiritual yang terdapat dalam agama. membunuh. Seseorang yang memahami dirinya sebagai makhluk ekonomi. Hukum manusia dibuat untuk mengatur hubungan antar mereka saja. Pelanggan merasa dirinya dilayani bukan karena ia memiliki uang yang banyak atau orang miskin yang perlu dikasihani. Pelanggan yang merasakan pelayanan dari hati ini akan merasa ia benarbenar dilayani dan terpaksa. Tentunya pelayanan dari hati tidak timbul begitu saja tanpa sebab. Hukum Allah bersifat absolut dan nyata. maka dia berusaha untuk menjadikan hidupnya penuh dengan kebijaksanaan dan kejujuran. kecuali yang masih mutasyabihat. Hal ini dirasakan tanpa perlu penjelasan ilmiah.yang diberikan kepada pelanggan tampak dipaksakan. tetapi untuk menjadi petunjuk bagi manusia agar bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. namu lebih banyak dilanggar dibandikan ditaati. Pelayanan yang muncul dari hati akan memberikan efek positif yang luar biasa bagi semua pihak.