You are on page 1of 3

TK (NA)JIS

Oleh: Mardi Sahendra*
Dunia pendidikan kembali tercoreng dengan mencuatnya kasus kekerasan seksual yang
dialami oleh anak-anak taman kanak-kanak Jakarta internasional school. Tiba-tiba saja
berita itu menjadi headline semua media massa cetak, elektronik, dan online baik
nasional maupun local, bahkan internasional. Tak pelak berita tersebut menghebohkan
jagad nusantara dan dunia maya.
Mengapa berita tersebut menghebohkan? Karena kasus tersebut berasal dari sebuah
sekolah mahal dan bertaraf internasional. Sekolah yang tidak sembarangan orang bisa
masuk kesana. Hanya orang-orang berduit saja yang bisa menyekolahkan anaknya kesitu.
Belum lagi tingkat keamanan sekolah yang seperti “penjara” dan tidak bisa ditembus oleh
orang kebanyakan kecuali punya ID Card.
Kita tidak akan membahas tentang sekolah yang mentereng dan bertaraf internasional
tersebut. Perlu kita perhatikan bahwa kasus yang terjadi di sana adalah kejahatan
kekerasan seksual kepada anak-anak yang dilakukan oleh orang dewasa. Sebuah
kejahatan yang sudah direncanakan dan dilakukan oleh pegawai rendahan JIS. Parahnya,
kejahatan seksual yang mereka lakukan kepada anak-anak tidak berdosa tersebut terjadi
berulang kali. Dan anak yang mengalami atau menjadi korban kejahatan seksual tersebut
mengidap penyakit herfes yang ditulari dari tersangka.
Hati orang tua mana yang tidak sakit dan kecewa melihat anak-anaknya dicabuli bahkan
disodomi. Anak yang diharapkan menjadi orang yang cerdas, beragama, dan mempunyai
masa depan cerah, harus hancur seketika karena sodomi. Tidak pernah terbayangkan
dalam mimpi bahwa mereka akan mengalami kejahatan seksual tersebut.
Trauma psikis baik orang tua dan anak menjadi sesuatu yang sulit dihilangkan. Bahkan
cenderung melahirkan efek negative yang berbahaya. Efek negative paling berbahaya

Ibarat lingkaran setan yang tak pernah putus. Inilah lingkaran setan tersebut. Dan hal itu bisa saja terjadi dengan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. ekspatriat tersebut ternyata pernah mengajar di JIS. Sehingga jika tidak segera diatasi. Bahkan salah satu tersangka (inisial Za) mengakui sewaktu masih kecil pernah mengalami kejahatan serupa. Jika mau serius membongkar kasus yang terjadi di JIS. dan transgender). Jelasjelas kejahatan seksual merupakan kejahatan yang luar biasa dan tidak bisa diterima oleh norma agama dan adat. Termasuk para guru maupun tenaga kependidikan yang melakukannya. Ironinya. Pelaku pernah mengalami tindakan sodomi yang dilakukan seorang ekspatriat di dalam mobil. Kejahatan seksual yang dialami oleh anak-anak tersebut akan kembali berulang dengan peran yang berbeda. biseksual. Orientasi seksual abnormal tersebut terus mengalami siklus dan mengara kepada perilaku penyuka sesame jenis dan atau heteroseksual. Hendaknya kasus yang dialami oleh JIS menjadi perhatian yang serius oleh pemerintah melalui kementerian pendidikan nasional.adalah bunuh diri dan atau korban menjadi pelaku di kemudian hari. Ada kecenderungan korban ketika dewasa menjadi mengalami disorientasi seksual. Perlu diambil tindakan hokum yang tegas terhadap lembaga yang melakukan pembiaran tersebut. Baik yang terungkap dan maupun yang tidak terungkap. bukan tidak mungkin akan terjadi lagi kasus-kasus . tidak menutup kemungkinan kejadian tersebut sudah terjadi sangat lama dan sengaja dibiarkan menggurita. Orang tua akan semakin cemas terhadap kondisi anak-anak mereka yang sekolah. gay. Orientasi seksual yang abnormal. Dalam beberapa kasus serupa kejadiannya juga hamper sama dan melahir kejahatan baru ketika korban dewasa. Istilah kerennya adalah LGBT (lesbian. Beberapa kasus mengungkap kejahatan yang sama dan terus berulang terjadi. Menteri pendidikan nasional tidak boleh menutup mata terhadap kasus tersebut.

Semoga tidak ada lagi sekolah – sekolah seperti JIS. Semoga menteri pendidikan nasional beserta jajarannya bergerak cepat mengantisipasi kejahatan serupa. Pengajaran agama tidak hanya normative.serupa. Berhati-hatilah para orang tua dan jangan serahkan sepenuhnya pendidikan kepada sekolah maupun lembaga sejenis. . apalagi itu tenaga pendidik harus dihukum berat bahkan dihukum mati jika diperlukan untuk memutus rantai kejahatan tersebut. Kerjasama dengan aparat hokum mutlak diperlukan untuk memutus rantai kejahatan seksual. Termasuk tokoh masyarakat dan agama mesti juga peduli menindaklanjuti kasus tersebut. Karena perilaku seperti itu sangat najis dan menjijikan. Apatah lagi sekolah negeri maupun swasta yang ada di pelosok desa. Sanksi yang tegas terhadap pelaku. Ini menjadi tugas berat bagi semua pihak terutama kementerian pendidikan nasional. Nilai-nilai luhur dan pelajaran agama harus ditanamkan sejak dini dan berlaku holistic. namun aplikatif. Sekolah mahal dan bertaraf internasional juga tidak menjadi jaminan.