You are on page 1of 15

PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEBIJAKAN PUBLIK

Menembus Batas Rasionalisme, Inkrementalisme dan Irasionalisme1
Diterjemahkan oleh: Joash Tapiheru
Tahap pengambilan keputusan dalam siklus kebijakan mendapatkan perhatian lebih
dalam tahap awal pengembangan ilmu kebijakan, ketika para analis banyak meminjam dari
berbagai model pengambilan-keputusan dalam organisasi yang kompleks, sebagaimana
dikembangkan oleh para ahli administrasi publik dan organisasi bisnis. 2 Pada pertengahan tahun
1960-an, diskusi tentang pengambilan-keputusan kebijakan publik berubah fokus ke perdebatan
seputar ‘model rasional’ dan ‘model inkremental’.3 Model rasional dipilih sebagai model tentang
bagaimana keputusan seharusnya diambil, sementara model inkremental digambarkan sebagai
model yang secara aktual paling banyak dipraktekan dalam pemerintahan.4 Kenyataan ini, pada
dekade 1970-an, memunculkan kuatnya upaya untuk mengembangkan berbagai model
pengambilan keputusan alternatif dalam berbagai organisasi yang kompleks. Sebagian upaya ini
diarahkan untuk mensintesiskan model rasional dan inkremental. Sebagian yang lain – termasuk
model pengambilan-keputusan yang disebut ‘garbage-can’ – berfokus pada berbagai elemen
rasional dari perilaku organisasional, demi mencapai model alternative selain rasionalisme dan
inkrementalisme.5
Hanya baru-baru ini saja mulai muncul upaya untuk bergerak lebih jauh lagi dari tiga
model yang umum dipakai tersebut dan mengembangkan sebuah pemahaman yang lebih
1 Diterjemahkan dari Michael Howlett dan M. Ramesh, (1995), “Studying Public Policy: Policy
Cycles and Policy Subsystem,” Oxford University Press, chap. 7, Public Policy DecisionMaking – Beyond Rationalism, Incrementalism and Irrationalism.
2 Anthony Cahill & E. Sam Overman, ‘The Evolution of Rationality in Policy Analysis’ dalam
Stuart S. Nagel (ed.). Policy Theory and Policy Evaluation. New York: Greenwood, 1990;
Herbert A. Simon, ‘Proverbs of Administration’, Public Administration Review, 6, 1 (1946): 5367; Herbert A. Simon, ‘A Behavioral Model of Rational Choice’, Quarterly Journal of
Economics 69, 1 (1955): 99-118; Herbert A. Simon, Administrative Behavior: A Study of
Decision-Making Processes in Administrative Organization. New York: Macmillan, 1957;
Herbert A. Simon, Models of Man, Social and Rational: Mathematical Essays on Rational
Human Behavior in a Social Setting. New York: Wiley, 1957.
3 David Braybrooke & Charles Lindblom, A Strategy Of Decision: Public Evaluation As A
Social Process. New York: Free Press Of Glencoe, 1963; Robert A. Dahl & Charles E. Lindblom,
Politics, Economics And Welfare: Planning And Politico-Economic Systems Resolved Into
Basic Social Process. New York: Harper And Row, 1953; Charles E. Lindblom, ‘The Science Of
Muddling-Through’, Public Administration Review 19, 2 (1959); 79-88.

4 Yehezkel Dror, Public Policymaking Re-Examined. San Fransisco: Chandler
Publishing Co., 1958; Amitai Etzioni, ‘Mixed-Scanning: A Third Approach To DecisionMaking’, Public Administration Review 27, 5 (1967): 385-92; S. Kenneth Howard,
‘Analysis, Rationality, And Administrative Decision-Making’ Dalam Frank Marini (Ed.),
Toward A New Public Administration: The Minnowbrook Perspective. Scranton:
Chandler, (1971): 285-301.
5 M. Cohen, J. March & J. Olsen, ‘A Garbage Can Model Of Organizational Choice’,
Administrative Science Quarterly 17, 1 (1972): 1-25, Dan James G. March & Johan P.
Olsen, ‘Oraganizational Choice Under Ambiguity’, Dalam J.G. March & J.P. Olsen
(Eds.), Ambiguity And Choice In Organization, 2nd Ed. Bergen: Universitets-Forlaget,
1979.

Dus. yang sebelumnya telah dibahas ketika kita membicarakan siklus kebijakan.bernuansa terhadap berbagai proses yang kompleks terkait dengan pengambilan keputusan kebijakan publik.7 Definisi ini memberikan beberapa poin kunci tentang tahap pengambilan-keputusan dalam pembuatan kebijakan. pilihan-pilihan yang paling mungkin tidak akan direalisasikan dan memutuskan untuk tidak memasukan alur tindakan tertentu adalah suatu bagian dari seleksi ketika akhirnya sampai pada keputusan tentang yang paling baik. Policy And Politics 8. Di sini diakui bahwa keputusan kebijakan pulbik menciptakan ‘pemenang’ dan ‘pecundang’. Pertama. termasuk mereka yang berasal dari level-level pemerintahan yang lain. Meskipun berbagai model ini memiliki perbedaan-perbedaan signifikan. Hanya para politisi dan 6 Gilbert Smith & David May. berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana keputusan dibuat di pemerintahan sekaligus memberikan preskripsi tentang bagaimana seharusnya keputusan dibuat. Pertama. tetapi secara inheren adalah sebuah proses politik. Bab ini akah diakhiri dengan menawarkan sebuah model alternatif pengambilan keputusan dalam pemerintahan. 1983: 179. jumlah aktor yang relevan tetap besar. Inilah yang akan kita bahas di bagian selanjutnya dari tulisan ini. Homewood: Dorsey. atau cakupan dari pengambilan keputusan publik. Untuk menangani isu-isu ini. Kedua. mereka juga memiliki beberapa kesamaan.6 Tujuan dari bab ini adalah untuk membahas berbagai model yang ada dalam pengambilan keputusan kebijakan publik dan menelaah perkembangan terbaru di bidang ini. Tahap pengambilan keputusan kebijakan publik melibatkan aktor yang lebih sedikit lagi. Definisi Brewer dan DeLeon tidak mengatakan apapun tentang signifikansi. The Foundations of Policy Analysis. tetapi hanya mencakup aktor-aktor negara dan masyarakat yang menjadi bagian dari subsistem kebijakan. bahkan jika keputusan yang diambil adalah keputusan untuk tidak melakukan apapun atau mempertahankan status quo. 2 (1980): 147-61. definisi ini menggarisbawahi poin bahwa pengambilan-keputusan dalam kebijakan publik bukanlah sebuah hal teknis. untuk memecahkan sebuah masalah publik. tetapi sebuah tahap spesifik yang berakar pada tahap-tahap sebelumnya dalam siklus kebijakan. ‘ The Artificial Debate Between Rationalist And Incrementalist Models Of Decision Making’. Ini melibatkan tindakan memilih dari sejumlah kecil pilihan kebijakan alternatif. yang memperhitungkan permasalahan pembatasan kekuasaan dan signifansi subsistem kebijakan. setiap model mengakui bahwa jumlah aktor kebijakan yang relevan semakin berkurang seiring dengan berjalannya proses kebijakan. sebagaimana diidentifikasikan dalam proses formulasi kebijakan. Jelasnya. 7 Garry Brewer & Peter Deleon. Pada tahap formulasi kebijakan. pengambilan keputusan bukanlah sebuah tahap yang berdiri sendiri. agenda-setting melibatkan sejumlah besar aktor-aktor negara dan masyarakat. atau sebuah sinonim bagi keseluruhan proses pembuatan kebijakan publik. . arah yang berpotensi untuk diambil. BERBAGAI ISU KONSEPTUAL Gary Brewer dan Peter DeLeon menggambarkan tahap pengambilan keputusan dalam kebijakan publik sebagai: Pilihan berbagai alternatif kebijakan yang selama ini dimunculkan dan dampak yang mungkin muncul dalam masalah yang diestimasi…Tahap ini adalah tahap yang paling bersifat politis ketika berbagai solusi potensial bagi suatu masalah tertentu harus dimenangkan dan hanya satu atau beberapa solusi yang dipilih dan dipakai. karena tahap ini menyisihkan seluruh aktor non-negara.

’ What Do Decision Models Tell Us About Information Use?’. 10 Graham T. Allison & Morton H. 1985). Robert D. Nelson & Sidney G. Cambridge: Harvard University Press. berbagai model ini juga mengakui bahwa dalam pemerintahan modern derajat kebebasan yang dinikmati oleh para pengambil keputusan dibatasi oleh sejumlah aturan yang mengatur jabatan-jabatan politik dan administrative serta membatasi pilihan-pilihan tindakan para pemegang jabatan itu. Sebagai sistem politik mengkonsentrasikan otoritas pengambilan keputusan pada lembaga eksektuif yang dipilih dan birokrasi. atau di negara-negara lain yang menganut sistem 8 Joel D. Untuk review literatur yang bagus lihat Evert Lindquist.8 Kedua. ‘Bureaucratic Politics: A Paradigm And Some Policy Implications’. 1988: 86-111 . ketika lembaga ini menjalankan perannya sebagai penafsir konstitusi. Page. Sistem parlementer cenderung untuk masuk pada kategori yang pertama dan sistem presidensiil pada yang kedua. Bureaucrats And Politicians In Western Democracies. berbagai negara memiliki tatanan konstitusional dan aturan tentang struktur keagenan pemerintah serta aturan perilaku pejabat yang berbeda-beda. Keputusan tentang proses apa yang terjadi selanjutnya dan keputusan apa yang dianggap terbaik bervariasi sebagai hasil tarik menarik antara pengambil-keputusan dan konteks di mana para pengambil keputusan ini beroperasi. Kanada dan negara-negara demokrasi parlementer lain.pejabat pemerintah yang memiliki kekuasaan untuk membuat keputusan otoritatif dalam area permasalahan yang berpartisipasi dalam tahap ini. berbagai aturan dan prosedur operasional itu memberikan ‘actionchannels’ bagi para pengambil keputusan – seperangkat prosedur yang teregularisasi untuk menghasilkan tipe-tipe keputusan tertentu. Economy And Society: An Outline Of Interpretive Sociology. Brighton. Pada level makro. Bisa juga aturan itu datang dari cabang yudikatif. 11 Lihat Richard R. Winter. 1972): 40-79. 2.10 Aturan dan SOP ini menjelaskan mengapa proses pengambilan keputusan dalam pemerintahan menjadi begitu bersifat rutin dan repetitif. Putnam & Bert A. 1978. 1981. Dus. Mungkin ada saatnya ada keputusan yang harus mereka terima. An Evolutionary Theory of Economic Change. 4 (1975): 479-503. Political Authority And Bureaucratic Power: A Comparative Analysis. Knowledge In Society 1. Inggris. sementara sebagian yang lain memungkinkan lembaga legislatif dan judikatif untuk memainkan peran yang lebih besar. 11 Sementara aturan dan SOP ini membatasi kebebasan para pengambil-keputusan. ‘Governmental Bureaucatizations: General Processes And An Anomalous Case’. masih tersisa diskresi yang cukup besar pada individu pengambil keputusan untuk sampai pada penilaian mereka tentang cara yang terbaik untuk bertindak sesuai dengan keadaan yang ada. Seperti telah dicatat oleh Allison dan Halperin. Cambridge: Harvard University Press. yang berasal dari legislative.9 Aturan-aturan itu biasanya tidak hanya menentukan keputusan-keputusan apa yang mungkin untuk diambil oleh keagenan maupun pejabat pemerintah. Aturan-aturan ini mulai dari konstitusi negara bersangkutan sampai mandate spesifik yang ditujukan pada individu pengambil keputusan melalui berbagai undangundang dan regulasi. Halperin. tanggungjawab pengambilan keputusan terletak semata-mata di pundak kabinet dan birokrasi. di Australia. 1982. tetapi hal seperti ini tidak rutin terjadi. Sussex: Wheatsheaf. Comparative Studies In Society And History 17. World Politics 24 (Supplement. terutama pada situasi ketika pemerintah yang berkuasa tidak menikmati sebuah mayoritas di parlemen. Aberbach. Tentang Legitimasi Dan Otoritas Lihat Max Weber. Rockman. Edward C. tetapi juga mengatur prosedur yang harus diikuti untuk sampai pada keputusan itu. Berkeley: University Of California Press. Di Amerika Serikat. 9 John Markoff.

Model yang paling banyak digunakan dalam analisa terhadap tahap ini adalah model Rasional. tetapi itu semua mensyaratkan adanya persetujuan dari legislatif. dan pilihan yang berbeda-beda yang mempengaruhi bagaimana mereka menafsirkan suatu masalah dan solusi yang tepat untuk masalah tersebut. ‘Interpretation And The Practice Of Policy Analysis’ dalam Frank Fischer & .13 Model rasional adalah ‘rasional’ daam pengertian bahwa model tersebut memberikan preskripsi berbagai prosedur pengambilan keputusan yang akan menghasilkan pilihan cara yang paling efisien untuk mencapai tujuan kebijakan.. Rational Techniques In Policy Analysis. Model-model yang lain berusaha untuk mengkombinasikan rasionalitas dan inkrementalism dengan komposisi yang berbeda-beda untuk tiap model. dalam proses pengambilan keputusan. Model Rasional Sebuah model ideal pengambilan keputusan kebijakan publik secara rasional terdiri dari ‘seorang individu rasional’ yang menempuh aktifitas-aktifitas berikut ini secara berurutan: 1. 4. Inkremental. 12 Pengambil keputusan yang berbeda yang beroperasi dalam tatanan institusional yang hampir serupa akan memberikan respon yang berbeda ketika dihadapkan pada situasi atau permasalahan yang sama atau hampir sama. strategi yang paling dekat dengan pemecahan masalah atau bisa memecahkan masalah dengan biaya paling rendah dipilih berdasarkan kalkulasi tersebut. Political Science And Public Policy.). berbeda dengan modelmodel yang mengakui adanya rasionalitas. 1980: 11. 14 Ide-ide 12 Ralph K. ‘Political Feasibility’ dalam Austin Rannay (Ed. dan Garbage Con. para pengambil keputusan itu sendiri juga berasal dari latar belakang. London Heinemann. Kita akan membahasnya satu-persatu. Sebaliknya. Segala konsekuensi yang signifikan untuk setiap alternatif diperkirakan dan kemungkinan munculnya setiap konsekuensi diperhitungkan. Terakhir. meskipun otoritas untuk untuk mengambil keputusan ada di tangan Presiden (dan kabinet serta birokrasi yang bertindak mewakili presiden). Chicago: Markham Publishing Co. sementara model yang kedua adalah sebuah model politik yang diaplikasikan dalam kebijakan publik. Seluruh alternatif strategi untuk mencapai tujuan itu dieksplorasi dan didaftar 3. Huitt.presidensiil. Model-model Pengambilan Keputusan Dua model yang paling dikenal dalam pengambilan keputusan kebijakan publik biasanya disebut dengan nama model rasional dan model inkremental. 13 Diadaptasi Dari Michael Carley. Teori-teori rasionalis berakar dalam aliran-aliran pemikiran positifisme dan rasionalisme jaman pencerahan yang berusaha untuk mengembangkan pengetahuan yang ilmiah untuk meningkatkan kondisi hidup manusia. Model yang pertama pada dasarnya adalah sebuah model pengambilan keputusan bisnis yang diaplikasikan di arena publik. Pada level mikro. 14 Bruce Jennings. Menentukan sebuah tujuan untuk memecahkan sebuah masalah 2. Di balik area kesamaan dari berbagai model yang dikembangkan untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan . pengetahuan. meskipun derajatnya berbeda-beda. model-model itu juga memiliki perbedaan yang signifikan antara satu dengan lainnya. 1968. model garbage can memotret proses pengambilan keputusan sebaai sebuah proses yang pada dasarnya tidak rasional (tetapi tidak sepenuhnya irasional) yang didasarkan pada kepantasan dan perilaku pengambilan-keputusan yang telah menjadi ritual.

16 John Elster. Newbury Park: Sage. Perekrutan dan Penganggaran yang terencana. Psychological Bulletin 51. 16 Pembuat kebijakan diasumsikan sebagai untuk bekerja sebagai teknisi atau manajer bisnis. Oxford: Polity. Policy Sciences 19. 1985. satu-satunya ahli administrasi John Forester (Eds. yang mengidentifikasi suatu masalah dan kemudian mengadopsi cara yang paling efektif dan efisien untuk mengatasi masalah tersebut. model rasional berakar pada usaha awal untuk membangun sebuah disiplin ilmu tentang perilaku organisasi dan administrasi publik. . ‘The Theory Of Decision-Making’. dalam David Held (Ed. Pengorganisasian. Model PODSCORB yang mereka kembangkan menyiratkan bahwa organisasi bisa memaksimalkan kinerja mereka melalui Perencanaan. Dalam studi tentang pengambilan keputusan. Berbagai elemen dari model ini bisa ditemukan pada karya-karya para ahli administrasi publik awal seperti Henry Fayol di Perancis dan Luther Gulick serta Lyndal Urwick di Inggris dan Amerika Serikat. 19 Ward Edwards. 1986: 33-59. ‘Notes On the Theory of Organizations’. 18 Luther Gullick. para analist yang mengusung perspektif ini mulai beargumen bahwa bentuk pengambilan keputusan seperti ini hanya akan memberikan hasil maksimal jika seluruh alternatif yang mungkin dan biaya dari setiap alternatif dipertimbangkan sebelum sebuah keputusan diambil – ini disebut model pengambilan keputusan ‘rational comprehensive’. Karena berorientasi pada ‘pemecahan masalah’ maka pendekatan ini sering juga disebut sebagai pendekatan ‘ilmiah’. ‘Between Knowledge And Politics: Three Faces Of Policy Analysis’. ‘Research For Policy’s Sake: The Enlightenment Od Social Science Research’. Pengambilan Keputusan. Papers On The Science of Administration. dan kemudian memilih alternatif yang dianggap terbaik. melalui pengumpulan segala informasi yang relevan dan berbagai alternatif solusi.17 Gulick and Urwick mengkodifikasikan sebuah model yang mereka daku sebagai keputusan-keputusan terbaik yang bisa diambil. adalah mengembangkan pengetahuan yang relevan dan kemudian menawarkannya pada pemerintah untuk diaplikasikan. 1. Ada batasanbatasan manusiawi yang dimiliki oleh para pengambil keputusan untuk bisa komprehensif dalam membangun berbagai alternatif dan mengkalkulasikan keuntungan dan beban yang ditimbulkan tiap alternatif. Confronting Values In Policy Analysis: The Politics Of Criteria. ‘rekayasa’ atau ‘manajerialis’. Dengan menjadikan ide yang dikemukakan oleh Fayol dalam dalam studinya tentang industri batu bara di Prancis menjelang abad XX. Douglas Torgerson.). Mungkin salah satu kritik paling keras yang diarahkan pada model rasional adalah kritik yang dilontarkan oleh ilmuwan behavioral Amerika.). 15 Carol H. 1937. 19 Penekanan baru terhadap aspek komprehensif terbukti problematic. 1977: 531-45. Weiss. Studies In The Science of Administration. 1991: 115 17 Henry Fayol.18 “Pengambilan keputusan’ atas suatu tindakan tertentu. bagi Gulick dan Urwick. di sini. Pengkoordinasian. 15 Tugas analis kebijakan. ‘ The Possibility of Rational Politics’. 1954: 380417. berarti menimbang antara keuntungan dengan biaya yang diperkirakan harus dikeluarkan. 1987: 128-52. Penentuan Pilihan. Herbert Simon. dalam Luther Gullick & Lyndal Urwick (Eds. Political Theory Today. 4. 4. dan kritik segera bermunculan. New York: Institute Of Public Administration. Selain itu ada pula batasan politik dan institusional yang membatasi penseleksian opsi dan pilihan-pilihan keputusan.ini didasarkan pada keyakinan bahwa berbagai permasalahan sosial seharusnya diselesaikan melalui cara yang ‘ilmiah’ dan ‘rasional’. Policy Analysis 3.). bahkan ada yang menganggapnya mendekati ‘sesat’. Model rasional-komprehensif dikritik sebagai menyesatkan. Kemudian.

1. 3. 2. maka tidaklah mungkin bagi pengambil keputusan untuk sampai pada kesimpulan mutlak tentang alternatif mana yang lebih baik daripada alternatif lain. Herbert A. Charles E. ada batasan-batasan kognitif pada kemampuan pengambil keputusan untuk mempertimbangkan seluruh opsi yang ada. Penilaian Simon terhadap model rasional menyimpulkan bahwa berbagai keputusan publik pada prakteknya tidak memaksimalkan manfaat di atas beban. Simon. ‘The Science of Muddling Through’. ‘Policy Analysis’. tanpa merujuk dampak dari pilihan mereka terhadap efisiensi. yang dalam kenyataannya kasus seperti ini sangat jarang terjadi. atau malah secara acak. Jasa dalam mengembangkan model inkremental dalam analisa pengambilan keputusan kebijakan publik paling layak diatributkan pada ilmuwan politik Yale University. New York: Harper And Row. Politics. Dahl & Charles E. setiap opsi kebijakan diikuti oleh berbagai konsekuensi. Simon. 1957. Bargaining. yang menjadikan upaya komparasi berbagai konsekuensi tersebut menjadi sulit untuk dilakukan. 1958: 298-312. Charles E. ‘Satisfying criterion’ ini adalah sesuatu yang nyata. tetapi hanya cenderung untuk memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh para pengambil keputusan untuk diri mereka sendiri dalam masalah yang sedang menjadi perhatian. Jika demikian. . 1955. Keputusan-keputusan yang dihasilkan tentu saja lebih merepresentasikan apa yang secara politik fisibel daripada diinginkan. Los Angeles: Rand Corporation. ‘A Behavioral Model Of Rational Choice’. American Economic Review 48. 1955: 99-118. ia berpendapat dalam serangkaian buku dan artikel bahwa ada beberapa hambatan yang tidak memungkinkan para pengambil keputusan untuk mencapai rasionalitas yang murni dan komprehensif dalam keputusan-keputusan mereka. sehingga mereka terpaksa bertindak selektif dalam mempertimbangkan alternatif-alternatif tersebut. 1953. Situasi ini mendorong munculnya model inkremental yang memotret pengambilan keputusan kebijakan publik sebagai sebuah proses yang dikarakterisasikan oleh tawar menawar dan kompromi antara berbagai pengambil keputusan yang memiliki kepentingannya sendiri-sendiri. Quarterly Journal Of Economics 69. Kedua.20 Pertama. Lindblom. Ketiga. model ini mengasumsikan bahwa adalah mungkin bagi para pengambil keputusan untuk mengetahui konsekuensi dari setiap keputusan yang mereka ambil. Public Administration Review 19. Charles E. Lindblom. Model Inkremental Berbagai keraguan tentang praktikalitas bahkan kegunaan model rasional membawa pada usaha untuk mengembangkan sebuah teori pengambilan keputusan yang lebih dekat dalam memperkirakan perilaku aktual dari para pengambil keputusan. Lindblom. sebagai sesuatu muncul dari hakekat rasionalitas manusia yang terbatas. Charles Lindblom. Models Of Man. Karena opsi yang sama bisa jadi efisien atau tidak-efisien tergantung dari situasinya. Economics And Welfare: Planning And Politico-Economic Systems Resolved Into Basic Social Processes. 20 Herbert A. maka nampaknya mereka memilih di antara opsi yang ada berdasarkan landasan ideologi atau politik.publik yang pernah mendapatkan hadiah Nobel. 21 Ia merangkum model ini sebagai sebuah model yang terdiri dari strategi-strategi yang saling mendukung dalam melakukan penyederhanaan dan pemusatan fokus. New York: Wiley. Social And Rational: Mathematical Essays On Rational Human Behavior In A Social Setting. 1959: 7988. 21 Robert A. Lindblom. Bermula di awal dekade 1950-an. baik yang bersifat positif maupun negative. Strategi-strategi itu adalah:  Pembatasan analisis hanya pada beberapa alternatif kebijakan yang familiar…hanya sedikit berbeda dari status quo.

‘The Science Of Muddling Through’: 81. 6. perubahan dari status-quo bersifat inkremental. dan percobaan ulang. Hasil yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk muncul adalah kelanjutan dari status quo atau hanya perubahan kecil dari status quo. kegagalan. Ada dua sebab mengapa berbagai keputusan cenderung tidak terlalu jauh berbeda dengan status quo. Julianne Mahler & Jeanne Bell Nicholson. 23 Lindblom. setapak-demi-setapak dan dalam derajad yang kecil’. para pengambil keputusan bekerja dalam sebuah proses yang secara terus menerus ‘terbangun dari situasi yang ada pada saat itu. Public Administration Review 39.  Analisis yang mengeksplorasi hanya sebagian.22 Dalam pandangan Lindbolm. maka akan lebih mudah untuk melanjutkan pola distribusi yang sudah ada daripada membuat sebuah pola baru yang berbeda secara radikal. 1979: 517. 1987: 257. konsekuensikonsekuensi yang penting dari suatu alternatif yang dipertimbangkan. Seperti dikemukakan dalam artikelnya yang telah banyak dikutip. Lindblom. yang membuat kesepakatan untuk melakukan perubahan menjadi sulit dicapai. metode dan kriteria untuk dipilih seringkali telah ditetapkan lebih dahulu. dan tujuan apa yang dituju seringkali bergantung pada efektifitas cara yang tersedia untuk mencapai tujuan tersebut. tujuan tidak bisa dipisahkan dari cara. para pengambil keputusan mengembangkan berbagai kebijakan melalui sebuah proses membuat ‘perbandingan terbatas yang berurutan dengan kebijakan sebelumnya’. tetapi juga karena para pembuat kebijakan tidak pernah benar-benar bisa memisahkan antara tujuan dan cara. Karena kesepakatan atas pilihan kebijakan sulit untuk dicapai. para pengambil keputusan menghindari membuka kembali isu-isu lama atau mempertimbangkan kembali pilihan-pilihan 22 Charles E. berbeda dengan ketidakpastian yang melingkupi tatanan yang masih baru. Sebuah analisis tujuan kebijakan yang berjalinkelindan dan nilai-nilai dengan berbagai aspek empiris dari masalah yang dihadapi  Sebuah strategi yang mengedapankan analisis untuk mencari masalah yang ingin diselesaikan daripada tujuan-tujuan positif yang ingin dikejar.  Fragmentasi kerja analitis untuk berbagai partisipan dalam pembuatan kebijakan (setiap partisipan mengerjakan bagian mereka dari keseluruhan domain). Organization Theory: A Public Perspective.23 Keputusan yang diambil biasanya hanya sedikit berbeda dari keputusan-keputusan yang sudah ada. dengan kata lain. Keuntungan dan kelemahan dari tatanan ada sudah diketahui dan dikenal oleh para aktor kebijakan.  Serangkaian percobaan.24 Pertama. Chicago: Dorsey Press. ‘The Science of “Muddling Through”’. Cara para birokrat mengidentifikasi berbagai opsi. Kedua. 24 Harold Gortmer. menghambat inovasi dan hanya mengulang tatanan yang sudah ada. Lindbolm juga berpendapat bahwa model inkremental yang mensyaratkan pemisahan antara tujuan dan cara ternyata tidak bisa dipraktekan dalam praktek. Not Yet Through’. ‘Still Muddling. karena proses tawar menawar mensyaratkan distribusi sumber daya yang terbatas di antara berbagai partisipan. yaitu keputusan-keputusan yang sudah familiar bagi mereka. standard operating procedure yang menjadi batu penjuru seluruh sistem birokrasi cenderung untuk lebih mengedepankan keberlanjutan atau kontinyuitas praktek-praktek yang sudah ada. . tidak hanya karena ada batasan waktu dan informasi seperti yang dikatakan Simon. bukan keseluruhan. Lindbolm berpendapat bahwa di sebagian besar area kebijakan.

A Strategy Of Decision: Policy Evaluation As A Social Process. Spektrum itu diilustrasikan sbb.: 25 David Braybrooke & Charles Lindblom. pisah incremental) terpisah(disjointed Sumber: diadaptasi dari David Braybrooke dan Charles Lindblom. 1963 Dalam pandangan ini. 1963. Dalam tulisan sebelumnya. New York: Free Press Of Glencoe. sebagian besar keputusan nampaknya diambil secara incremental. melibatkan perubahan yang sangat kecil dalam situasi di mana hanya tersedia sedikit informasi dan pengetahuan. dan dianggap pantas. karena membuat kesepakatan menjadi semakin sulit dicapai. Lindbolm dan para koleganya berkeyakinan bahwa kemungkinan pengambilan keputusan secara inkremental sangat mungkin ada-bersama dengan upaya-upaya untuk mencapai keputusan secara lebih rasional. Tetapi. Para pengambil keputusan hanya mempertimbangkan beberapa alternatif yang familiar. Braybrooke dan Lindbolm berpendapat bahwa empat tipe pengambilan kuputusan bisa digunakan tergantung pada pengetahuan yang dimiliki oleh para pengambil keputusan. Free Press of Glencoe. Dalam perjalanan karir selanjutnya. dan seberapa besar perbedaan alternatif kebijakan dengan kebijakan yang sudah ada. Dalam model ini.yang terlalu jauh berbeda dengan praktek-praktek yang ada. . 25 Ini memunculkan matix yang ditunjukan sebagai berikut: Empat Tipe Pengambilan Keputusan Tingkat pengetahuan yang ada Perbedaan yang ada antara Tinggi kebijakan alternatif dan yang terdahulu Rendah Tinggi Rendah Revolusioner Analitis Rasional Inkremental. Dengan demikian. dan berhenti mencari alternatif lain ketika mereka percaya bahwa sebuah alternatif yang bisa diterima telah ditemukan. model rasional muncul sebagai salah satu kemungkinan bersama-sama dengan dua tipe yang definisinya tidak terlalu jelas – revolusioner dan analitis – dan tidak terlalu sering digunakan sebagai alternatif pengambilan-keputusan. ada tiga kemungkinan lain. Spektrum ini terentang dari kutub ‘synoptic’ atau komprehensif rasional sampai pada ‘blundering’. Model inkremental melihat pengambilan keputusan sebagai sebuah kegiatan praktis yang berfokus pada pemecahan masalah yang sedang dihadapi daripada berupaya mencapai tujuan jangka panjang. yang artinya hanya mengikuti perkiraan-perkiraan tanpa ada upaya riil yang sistematis untuk menganalisa berbagai strategi alternatif. Lindblom berpendapat bahwa ada spektrum style pengambilan keputusan. New York. Hasilnya adalah berbagai keputusan kebijakan yang hanya sedikit berbeda dengan kebijakan-kebijakan terdahulu. cara-cara yang dipilih untuk menyelesaikan masalah ditemukan melalui trial-and-error daripada melalui evaluasi yang komprehensif dari semua cara yang ada. A Strategy of Decision: Policy Evaluation as a Social Process.

Public Administration Review 24. Ketiga.26 Jika model inkremental mungkin bisa memberikan deskripsi yang akurat – yang mana klaim ini juga debatable – tentang bagaimana keputusan kebijakan publik seringkali dibuat. ketimbang hanya berkutat dengan keputusan-keputusan secara acak. para kritikus ternyata juga menemukan beberapa kesalahan sebagai implikasi dari alur penelaahan yang disarankan model ini. Lindblom & D. Public Adminstration Review 44. Sebagai tambahan. 1971. karena membatasi pengambilan keputusan hanya pada tawar menawar sekelompok kecil orang-orang pilihan. New Haven: Yale University Press. 1979. para pembuat kebijakan senior. model ini dikritik karena kecenderungan inherennya pada konservatisme. model ini dikritik karena dianggap tidak demokratis. Policy Sciences 25. menegasi kebutuhan untuk mencari alternatif-alternatif baru. model ini juga dikritik karena hanya memiliki kemampuan analitis yang sempit.27 Pertama. analisis ‘yang tidak lengkap dan tergeneralisasi’ (grossly incomplete analysis). terlalu pesimis terhadap perubahan bersekala besar dan inovasi. 28 John Forester. dengan tidak memperhatikan analisis dan perencanaan yang sistematik dan.Sebuah Spetrum Berbagai Style Pengambilan Keputusan Meskipun menerima berbagai kemungkinan teoritis bagi berbagai styles pengambilan keputusan. Cohen. contohnya. yang dikawatirkan akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi negatif jangka panjang. Usable Knowledge: Social Science And Social Problem Solving. ‘Reframing Incrementalism: A Constructive Response to Critics’. Sebagaimana dilontarkan oleh Fosters. 29 Louis Gawthrop. Model ini juga mensyaratkan cara yang dibutuhkan untuk menjalankan kebijakan tersebut hampir selalu bisa dipakai. Lindbom dalam karya-karyanya yang kemudian menolak seluruh alternatif lain bagi model incremental berdasarkan alasan-alasan praktis. 3 (1992): 255-73. sedikit banyak. syarat-syarat ini jarang sekali terpenuhi. model ini dikritik karena sangat kurang memperhatikan orientasi tujuan. 1 (1984): 23. Administrative Politics and Social Change. yang mana problem ini berusaha diselesaikan melalui suatu kebijakan tertentu. apa yang disebutnya sebagai. 30 Inkrementalisme juga memiliki karakteristik sebagai model pengambilan keputusan 26 Charles E. mencatat bahwa inkrementalism hanya bisa bekerja ketika ada kontinyuitas problem dalam jangka waktu yang cukup panjang. Martin’s Press. Ia berpendapat bahwa setiap analisis sinotik yang berusaha untuk mencapai keputusan-keputusan berdasarkan berbagai kriteria berorientasi maksimalisasi akan berakhir dengan kegagalan. 28 Kedua. 27 Review tentang kritik terhadap model inkremental lihat Andrew Weiss & Edward Woodhouse. Yehezkel Dror. 3 (1964): 154-7. ‘Bounded Rationality and the Politics of Muddling Through’. ‘Muddling Through-“Science” or Inertia’. Pada kenyataannya. 30 Yehezkel Dror. New York: St. esensi dari inkrementalism adalah untuk mensistematisasikan berbagai ekputusan yang dicapai melaui cara ini.K. inkrementalisme ‘akan membuat kita melintasi berbagai persimpangan berulang-ulang tanpa mengetahui kemana kita tujuan kita’.29 Keempat. . dengan menekankan pada pentingnya mencapai kesepakatan politik dan belajar dari trial-and-error. model ini dianggap mendorong munculnya keputusan-keputusan berdasarkan perhitungan jangka-pendek. Lindblom berpendapat. dan seluruh pengambilan keputusan didasarkan pada.

34 March dan Olsen sengaja menggunakan metafora tong sampah untuk menghilangkan aura ilmiah dan rasional yang diatributkan pada proses pengambilan keputusan oleh para teoritisi sebelumnya. ‘Mixed Scanning: A “Third” Approach to Decision-Making’. March dan Olsen.C. dan seberapa cepat sampah bisa dikumpulkan dan dibuang.dalam sebuah lingkungan yang relatif stabil. James March. Etzioni mengatakan lebih lanjut bahwa pengambilan keputusan seperti inilah yang lebih sering terjadi dalam realitas pengambilan keputusan kebijakan publik.). karena adanya sebuah permasalahan yang sama sekali bereda dari masalah yang dihadapi sebelumna.31 Model Tong Sampah Limitasi model rasional dan incremental membawa para ahli pembuat kebijakan publik mencari alternatif-alternatif baru. pemahaman masalah. Problems. 32 Amitai Etzioni. Amitai Etzioni memngembangkan pemindaian gabungan – model mixed scanning untuk menjembatani berbagai kekurangan. And The Ambiguity Of Relevance’ dalam March & Olsen (Eds. Dalam pandangan March dan Olsen. pada campuran tong-tong yang tersedia. dan agak sulit untuk diaplikasikan pada situasisituasi tidak biasa. Public Administration Review 27. sembari menolak instrumentalisme yang menjadi karakter sebagian besar model-model lain. pemindaian gabungan dipandang sebuah sebuah model yang bersifat preskriptif dan juga desktriptif. 33 James March & Johan Olsen. dan prediktibilitas relasi-relasi antar berbagai aktor yang pada kenyataannya sama sekali tidak diemui. seperti krisis. ‘Incremental and Nonincremental Policy Responses: The States and the Railroads’.32 Model gabungan seperti ini memberikan ruang yang lebih luas untuk inovasi daripada model incremental. baik model rasional maupun incremental. Karena itu. Ambiguity And Choice In Organizations: 26. Adalah lazim ketika seringkaian keputusan-keputusan incremental diikuti oleh sebuah sebuah keputusan yang secara substansial berbeda. Campuran sampah dalam sebuah tong sebagian ditentukan oleh berbagai label yang ditempelkan pada tong-tong yang lain.). March dan Olsen menawarkan model tong-sampah/garbage can yang menyangkal adanya penggunaan rasionalitas dalam pengambilan keputusan. dengan mengkombinasikan elemen-elemen keunggulan keduanya. 34 Michael Cohen. sebuah model yang sama sekali berbeda menyuarakan bahwa minimnya penggunaan rasionalitas adalah sesuatu yang inheren dalam prose pengambilan keputusan. Mereka berusaha untuk memunculkan pemahaman bahwa seringkali para pembuat 31 D. bahkan dalam derajad kecil sebagaimana dipaparkan dalam model inkremental. Tetapi. Nice. Ambiguity And Choice In Organizations. pendekatan ini dan berbagai pendekatan lainnya sebagian besar tetap berada dalam kerangka yang dibangun oleh model rasional dan incremental. tanpa terlalu dibebani dengan tuntutan-tuntutan yang tidak realistis dari model rasional. 5 (1967): 385-92. Dan Johan Olsen. . dan kecil sekali kaitannya dengan upaya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Pada dekade 1970-an. tetapi sebagian lagi ditentukan oleh sampah seperti apa yang dihasilkan pada saat itu. 33 Mereka memulai dengan asumsi bahwa model-model yang lain mempertahankan asumsi adanya intensionalitas. Solutions. Polity 20 (1987): 145:56. ‘People. pengambilan keputusan adalah sebuah proses yang sangat ambigu dan tak-terprediksi. ‘Organization Choice Under Ambiguity’ Dalam James March & Johan Olsen (Eds. berpendapat bahwa pengambilan keputusan adalah: Sebuah tong sampah kemana berbagai masalah dan solusi dilemparkan oleh para partisipan proses pengambilan keputusan.

semakin jelas bagi para pengamat bahwa perdebatan lama antara para pendukung rasionalisme dan inkrementalisme menghambat karya emperis dan pengembangan teoritis dari subyek tersebut. Permasalahannya bukanlah mendamaikan berbagai perbedaan yang ada antara model rasional dan incremental. Beberapa studi kasus35 telah membuktikan proposisi bahwa keputusan publik seringkali dibuat dengan cara yang sangat ad-hoc dan acak. 37 Gilbert Smith & David May. Ketimbang melanjutkan perdebatan ini. 36 Paul Anderson. . tetapi hampir sama sekali tidak memberikan efek bagi riset empiris di area kebijakan maupun administrasi publik’.kebijakan itu sendiri tidak tahu tujuan mereka. pengarang berpendapat bahwa: Kita memerlukan lebih dari satu model untuk menjelaskan berbagai faset kehidupan organisasional. ‘The Artificial Debate’: 156. seiring dengan berjalannya proses kebijakan. Dalam pandangan March dan Olsen. Andersson. begitu juga hubungan kausal antara problem dan tujuan kebijakan yang dihadapi. Sebagaimana dikatakan oleh Smith dan May. atau sepenuhnya menolak inkrementalisme paling tidak sebagai sebuah deskripsi tentang sebagian besar pengambilan keputusan kebijakan publik actual. 2 (1980): 147.36 Katakanlah demikian. dan memberikan kesempatan untuk melakukan studi-studi pengambilan keputusan dalam konteks institusional yang lebih bernuansa. kekuatan utama dari model ini adalah kemampuannya untuk melepaskan diri dari perdebatan lama antara rasional vs. diakui sebagai sebuah isu paling kritis selama perang dingin. ‘Decision Making By Objection And The Cuban Missile Crisis’. beberapa langkah maju telah dicapai kea rah yang disarankan oleh Smith dan May. misalnya. dalam arti mempertautkan realitas sosial sesungguhnya yang direpresentasikan oleh masing-masing model. ‘The Artificial Debate Between Rationalist And Incrementalist Models Of Decision-Making’. Ambiguity And Choice In Organizations. tetapi membangun alternatif ketiga yang menggabungkan keunggulan dari masing-masing model tersebut. 38 Smith & May. sebagian besar berpendapat bahwa pemikiran Braybrooke dan Lindblom tentang multiple-decision-making35 Lihat studi kasus dalam March & Olsen (Eds. Terlepas dari itu semua. yang mana hasilnya juga sangat tidak pasti dan tidak bisa diprediksi. Problem yang ada adalah untuk menpertautkan keduanya. Sementara tujuan utamanya mungkin bisa dikatakan cukup memberikan deskripsi yang akurat tentang bagaimana seringkali organisasi membuat kebijakan-kebijakannya. Meskipun ada sebagian kecil orang yang menginginkan untuk kembali ke sebuah model rasional komprehensif. dalam contoh-contoh yang lain mungkin akan lebih masuk akal jika kita mengharapkan sesuatu yang lebih masuk akal. para aktor hanya mendefinisikan tujuan dan memilih cara secara serta merta. dibuat dalam pilihan-pilihan simplistik pertanyaan dengan jawaban ya/tidak dalam berbagai proposal yang muncul selama pembahasan kebijakan terkait krisis tersebut.). incremental. SEBUAH MODEL SUBSISTEM DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PUBLIK Pada awal dekade 1980-an. Policy And Politics 8.38 Saat ini. Administrative Science Quarterly 28 (1983): 201-22. ‘Sebuah perdebatan tentang keunggulan relatif model rasionalis dan inkremental telah mendominasi studi ini selama bertahun-tahun dan meskipun berbagai terma yang 37muncul dalam perdebatan ini telah diketahui oleh banyak orang. model tong sampah mungkin dianggap sebagai upaya yang terlalu membesar-besarkan fakta yang terjadi. pernah berpendapat bahwa bahkan keputusan-keputusan yang terkait dengan krisi Rudal Kuba sekalipun.

. 41 Model pengambilan keputusan yang dibuat oleh para pengambil keputusan bervariasi menurut isu dan konteks institusional yang melingkupinya. ‘Bounded Rationality’: 25. data dan permasalahan yang terdefinisikan dengan jelas. John Forrester. ‘Bounded Rationality’: 23. waktu yang tersedia bagi pengambil keputusan harus tersedia dalam jumlah yang tidak terbatas. pengambilan keputusan yang rasional bisa kita harapkan. dan bisa dipahami. Planning In The Face Of Power. 42 Forrester. Berkeley: University Of California Press. bila perlu sesedikit mungkin. ‘Explaining The Variable Utility Of Disjointed Incrementalism: Four Propotitions’. keahlian. 1989. ‘Bounded Rationality’: 25. data. American Political Science Review 74. dan kalkulasi tidak terdefinisi dengan jelas. 41 Forrester. tatanan yang ada bisa mencakup berbagai organisasi yang berbeda dan relatif terbuka bagi pengaruh-pengaruh eksternal. atau bahkan lebih penting. Terakhir. menyesatkan atau secara sengaja dimanipulasi’ dan waktu yang tersedia bisa jadi terbatas atau juga sengaja dimanipulasi. permasalahan yang dihadapi akan bersifat ambigu atau multitafsir. yaitu.42 Forester berpendapat bahwa agar pengambilan keputusan menurut model rasional maka syaratsyarat berikut ini harus dipenuhi. Ia berpendapat bahwa setidaknya ada enam model pengambilan-keputusan yang terkait dengan enam perangkat kondisi kunci. Dalam sebuah lingkungan konflik antar-organisasi. ‘Bounded Rationality And The Politics Of Muddling Through’.39 Salah satu perkembangan yang paling menarik di sini bisa kia temukan dalam karya-karya John Forester. kalkulasi semacam itu akan menjadi sesuatu yang sia-sia.styles adalah pilihan yang tepat dan adalah penting untuk menjelaskan secara cermat dalam kondisi seperti apa berbagai model pengambilan keputusan cenderung untuk diadopsi. 2 (1980): 342-53. Ketiga. dengan kata lain.40 Menurutnya ‘apa yang rasional bagi untuk dilakukan oleh para administrator tergantung pada berbagai situasi di mana mereka bekerja’. 43 Forrester. jumlah agen (pengambil keputusan) harus dibatasi. Strategi-strategi administratif hanya menjadi strategi yang efektif dalam sebuah konteks politik dan organisasional. Pada tahun 1984 dia menulis dalam artikelnya: Sebuah strategi bisa dipandang sebagai sesuatu yang praktis dan berguna atau sia-sia tergantung dari kondisi yang sedang dihadapi. informasi tidak lengkap.43 Pertama. informasi harus sesempurna mungkin diketahui. ketika muncul kebutuhan akan informasi. Dengan demikian jumlah agen bisa bertambah sampai jumlah yang tidak terbatas. dengan kata lain lengkap. Forester berpendapat bahwa kita akan menemukan model-model pengambilan keputusan yang lain. permasalahan yang dihadapi harus terdefinisi dengan jelas. yang mana menjadi kasus yang paling sering muncul dalam praktek. sehingga mereka bisa mempertimbangkan seluruh kontingensi yang mungkin terjadi beserta konsekuensi yang sedang maupun akan dihadapi. definisi. Bagan berikut menggambarkan berbagai parameter pengambilan keputusan. 40 John Forrester. horizon. Keempat. 39 Ian Lustick. dan rantai konsekuensi harus betul-betul diketahui dan dipahami. Jika kelima syarat ini tidak terpenuhi. aksesibel. dimensi nilai. 1 (1984): 23-31. jejaring intelijen akan sama penting. Dalam waktu. Public Administration Review 44. tatanan organisasional bagi keputusan harus seerhana dan tertutup dari pengaruh aktor-aktor kebijakan lain. Kedua. tetapi jika waktu. tidak boleh ada desakan untuk mengambil keputusan secepat mungkin. tawar menawar dan kompromi menjadi sesuatu yang sangat penting. scope. kalkulasi teknis mungkin bisa menjadi sesuatu yang berguna. Dalam lingkungan organisasional yang kompleks. Ketika syarat-syarat ini bisa dipenuhi secara sempurna. daripada dokumen.

Meskipun berbagai kategori. Prevalensi model-model lain bergantung pada seberapa banyak syarat yang tidak terpenuhi. 44 Lihat daftar tabel. tetapi dihadapkan pada permasalahan yang beragam. Foreseter berpendapat bahwa ada lima kemungkinan model pengambilan keputusan: Optimalisasi. tidak bisa dipilah-pilah dan. ‘Bounded Rationality’: 26. tetapi apa yang dilakukannya hanyalah langkah awal dalam membangun sebuah model pengambilan keputusan yang lebih baik. Forrester. Sementara. terbuka 3 Permasalahan Terdefinisi dengan jelas – Multitafsir. Model organisasional melibatkan berbagai setting dan aktor. dalam prakteknya. inkremental dan garbage-can. dan waktu yang terbatas dan mendesak. yang meskipun sumberdaya waktu dan informasi tersedia. untuk berbagai alasan yang dikemukakan sebelumnya. Satisfycing. nampaknya akan lebih baik jika kita menggunakan model satisfycing. selain model rasional. Meskipun pemikiran Forester menjadi sebuah langkah maju penting dalam memberikan klasifikasi dan taksonomi.Berbagai parameter pengambilan keputusan Variabel Dimensi 1 Agen Tunggal – Banyak 2 Setting Tunggal. permasalahan yang lebih beragam dan kabut. Public Administration Review 44. setting yang lebih kompleks. tidak terlalu berguna bagi tujuan analitis. Ketika limitasi-limitasi yang ada bersifat kognitif. model tawar-menawar adalah model yang bisa ditemukan ketika berbagai aktor harus mengambil keputusan dalam situasi ketiadaan informasi yang lengkap dan waktu yang mendesak. Optimilasisi adalah strategi yang digunakan ketika syarat-syarat model rasional komprehensif. Model-model lain yang disarankan oleh Forester saling tumpang-tindih sehingga sulit untuk membedakan dan memaparkannya satu persatu. model-model pengambilan keputusan ini melibatkan jumlah aktor yang lebih banyak. . 1 (1984). dan tentu saja memberikan alternatif pilihan yang berguna. informasi yang tidak lengkap dan terdistorsi. dalam berbagai kesempatan. tertutup – Banyak.26 Dari perspektif ini. seperti dipaparkan di atas. Pencarian (Search). Model Pencarian adalah salah satu model yang bisa digunakan ketika problem yang dihadapi tidak terdefinisi dengan jelas. dan Organisasional. Sebuah penelaahan yang tertutup dari pembahasannya tentang berbagai faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan44 mengungkapkan bahwa orang akan berharap untuk menemukan lebih dari satu model yang mungkin muncul dari lima pilihan model kombinasi dan permutasi variabel-variabel yang dikemukakannya. Tawar-menawar (Bargain). sepenuhnya terpenuhi. ambigu 4 Informasi Sempurna – dikontestasikan 5 Waktu Tak terbatas – dimanipulasi Sumber: diadaptasi dari John Forester: ‘Bounded Rationality and the Politics of Muddling Through’. Sebuah masalah besar dalam taksonomi yang dibangunnya adalah keterputusannya dari argument-argumennya sendiri. Pendek kata. alasan mengapa seseorang harus menggunakan salah satu model yang dikemukakannya tetap merupakan sesuatu yang tidak jelas.

dua variabel utama di sini adalah (1) kompleksitas subsistem kebijakan yang menangani permasalahan yang ada dan (2) seberapa besar konstrain yang harus dihadapi. sehingga kompleksitas subsistem ini menstrukturkan keputusankeputusan dalam kategori pilihan-pilihan keras atau lunak.45 Mirip dengan itu. dan juga kejelasan masalah. dalam W. Pada skenario sebaliknya. kedua variabel ini menghasilkan empat model dasar pengambilan keputusan. Knowledge in Society 1. eds. ‘What do Decision Model Tell Us about Information Use?’. 1994. Penyesuaian inkremental gaya Lindblom cenderung muncul dalam situasi ketika subsistem yang ada bersifat kompleks dan derajat konstrain yang tinggi. Rochefort & Roger W. Kompleksitas subsistem kebijakan mempengaruhi kemungkinan keberhasilan mencapai kesepakatan atau opisisi terhadap suatu pilihan dalam subsistem tersebut. Kelly (ed.M. 1992. ‘informasi’ dan ‘waktu’ bisa dilihat sebagai pemikiran yang terkait dengan tipe-tipe konstrain yang dihadapi oleh para pembuat kebijakan. Model Dasar PengambilanKeputusan Derajat konstrain Tinggi Rendah Kompleksitas subsistem kebijakan Tinggi Rendah Incremental adjustment Satisfying Search Optimizing adjustment Rational Search Sumber: dimodifikasi menurut Martin J. Ketika ada sebuah subsistem yang kompleks dan derajat konstrain yang rendah. Stuart A.N. sementara situasi di mana derajat konstrain rendah cenderung memunculkan aktifitas opmtimalisasi atau rasional. Brooks dan A. ‘The Distribution and Use of Policy Knowledge in the Policy Process’. S. pengambilan keputusan relatif dibatasi oleh informasi dan waktu. ‘Hard Issues. tetapi kali ini ditujukan untuk 45 Phillip H.’ dalam Political Influence of Ideas: Policy Communities and the Socieal Sciences. Core Values and Vertical Constrain: The Case of Nuclear Power’. David A. David J. Cobb. Dunn & R. Advances in Policy Studies Since 1950. ‘Problem Definition. Gagnon. New York: Praeger. Policy Studies Journal 21. Lindquist. New Brunswick. Smith. 46 Bagan berikut menggambarkan empat model dasar pengambilan keputusan. . sementara pemikiran tentang ‘permasalahan’. 1 (1993): 29-50. 1 (1993): 56-71. 2 (1988): 86-111. subsistem kebijakan yang kompleks akan cenderung memunculkan strategistrategi penyesuaian (adjustment) daripada strategi pencarian (search). Pollock III. British Journal of Political Science 23. 46 Pada tarikan ini lihat Evert A. NJ: Transaction Publishers. Agenda Access and Policy Choice’. Jika digabungkan. Dalam model ini.Kita bisa mengembangkan model Forester dengan mendesain ulang variabel-variabelnya. Elliot Vittes. maka akan ada kecenderungan untuk memunculkan strategi penyesuaian. dan M. pendekatan pencarian rasional dan perubahan besar sangat mungkin untuk dilakukan. Empat model ini muncul sebagai basis dari dua dimensi yang dipaparkan dalam analisis ini: kompleksitas subsistem dan derajat konstrain. Dalam situasi semacam itu kita bisa perkirakan bahwa akan jarang muncul keputusan-keputusan bersekala besar dan beresiko tinggi. Dengan demikian. Beberapa pilihan dianggap sejalan dengan nilai-nilai utama yang dipegang oleh anggota subsistem sementara sebagian yang lain tidak. Situasi tingginya derajat konstrain cenderung menghasilan suatu pendekatan tawar menawar dalam pengambilan keputusan. ‘Policy Networks and State Autonomy. Studi tentang ‘agen’ dan ‘setting’ bisa disempurnakan dengan berfokus pada subsistem kebijakan.-G. Lillie.). ketika subsismtem kebijakan yang ada sederhana dan derajat konstrain rendah. Webber.

11-27 dalam Stuart S. ‘The Evolution of Rationality in Policy Analysis’. M. Etzioni. Policy Theory and Policy Evaluation. Olsen. Wilde. Apa yang rasional untuk dilakukan ditentukan oleh konteks yang dihadapi. ketika derajat konstrain tinggi. Lindblom. ‘A Garbage Can Model of Organizational Choice’. Duncan Jr.mencapai optimalisasi.47 Bacaan Pendukung Cahill. Quarterly Journal of Economics 69. Gilbert & David May. ‘A Behavioral Model of Rational Choice’. 1985. Lanham. Cohen. tetapi kompleksitas subsistem rendah. Sam Overman. Policy and Politics 8 (1980): 147-61. Didesak untuk segera memberikan rekomendasi. ‘The Science of Muddling Through’. Public Administration Revew 44 (1984): 23-30. Sebagaimana dirangkum oleh John Forester. Public Administration Review 44 (1984): 23-30. Amitai. apa yang rasional bagi para administrator dan politisi ditentukan oleh situasi di mana mereka bekerja. Terakhir.. Charles. 1 (1955): 99-118. 17. Public Administration Review 19 (1959): 79-88. ‘Bounded Rationality’: 23. strategi-strategi satisfycing akan menjadi kecenderungan yang umum terjadi. Ketika dihadapkan pada persaingan dan kompetisi organisasional. . John. J. Sama halnya dengan tahapan sebelumnya dalam proses kebijakan publik. Smith.. Simon. Forrester. maka adalah sangat rasional jika para pengambil keputusan ini menjadi lebih tertutup. ‘Bounded Rationality and the Politics of Muddling Through’. Anthony & E. ‘Mixed-scanning: A “Third” Approach to Decision-Making’. Herbert. KESIMPULAN Karakter esensial dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik sama seperti tahaptahap lainnya dalam proses kebijakan. 1 (1972): 1-25. & James A. Policy Analysis for Public Decisions. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam administrasi publik. MD: University Press of America. maka para pengambil keputusan ini tidak bisa melakukan studi yang mendalam. 1990. March & J. Administrative Science Quarterly. ‘The Artificial Debate Between Rationalist and Incrementalist Models of Decision-Making’. New York: Greenwood. MacRae.). 47 Forrester. Nagel (ed. tahap pengambilan keputusan bervariasi menurut sifat alami dari subsistem kebijakan yang terlibat dalam proses itu dan derajat konstrain yang dihadapi oleh para pengambil-keputusan. hlm.