You are on page 1of 15

42

5.2 Perhitungan
Soal dan tabulasi data
1. Untuk perhitungan elevasi, diketahui di titik A adalah + 160.000
2. Untuk perhitungan dimensi dan saluran rencana diketahui :
Debit Rencana, Q

= 0.55 m3/dt

b/h

=1

n

= 0.015

m

=1

Lebar tanggul rencana

= 0.4 m

5.2.1 Perhitungan Jarak
5.2.1.1 Perhitungan Jarak Optis
Jarak Optis adalah jarak pesawat ke titik pengukuran.
Rumus yang dipakai adalah rumus Reicen Book.
D = A.h + B
D

= Jarak antara 2 titik (distance)

h

= Interval pembacaan baak

B

= Konstanta jarak sumbu 1 alat ketitik api (pada alat modern, B=0)

A

= Konstanta penggali alat / pesawat (=100)

D

= 100 (ba-bb)

Contoh Perhitungan
1.

Perhitungan Pergi slag (A-B)
Alat P1
Pembacaan bak

:

Belakang(A1):

Muka(B1)

ba

= 1.220 m

ba

= 1.310 m

bt

= 1.120 m

bt

= 1.210 m

bb

= 1.020 m

bb

= 1.110 m

Maka jarak optis alat ke titik A :
D = (ba-bb) x 100 + (ba-bb) x 100
= ( 1.220 – 1.020)x100 + (1.310-1.110)x100
= 40 m

:

43

Maka jarak optis ( A – B ) = 40 m
2.

Perhitungan jarak pulang (B-A)
Alat di P1
Pembacaan bak

:

Belakang

:

Muka

:

ba = 1.220 m

ba = 1.310 m

bt = 1.120 m

bt = 1.215 m

bb = 1.020 m

bb = 1.110 m

Maka jarak alat ke titik B :
D = (ba-bb) x 100 + (ba-bb) x 100
= (1.220-1.020)x100 + (1.310-1.110)x100
= 40 m
Maka jarak optis pulang ( B – A ) = 40 m
5.2.1.2 Pengukuran Jarak Rerata
Jarak rerata adalah jumlah antara jarak rollmeter, jarak optis pergi,
jarak optis pulang lalu dibagi tiga.

Jarak rerata =

Jarakrollmeter  Jarakoptispergi  Jarakoptispulang
3

Contoh Perhitungan :
Jarak rerata A-B

40  40  40
3

=

= 40 m
5.2.2 Perhitungan Beda Tinggi
Perhitungan beda tinggi pada dua titik menggunakan data benang
tengah (belakang) suatu titik dan benang tengah (muka) titik yang lain.
H AB = h A - h B

h AB = beda tinggi antara A dan B

44

h A = Pembacaan bak di A (bak belakang)
h B = pembacaan bak di B ( bak muka)
Contoh perhitungan :
Perhitungan beda tinggi titik A dan B pada pembacaan pergi
Diketahui :
bt (belakang) = 1.220 m
bt (muka)

= 1.210 m

Maka beda tinggi A1-B1 = bt (muka)– bt (belakang)
= 1.210 – 1.220
= -0.090 m
Karena hasilnya negative (-) maka diletakkan pada kolom beda tinggi yang
negative dan jika hasilnya positif (+) maka hasilnya diletakkan pada kolom
positif.
Perhitungan beda tinggi pada titik yang lain tercantum pada tabel.
a. Beda tinggi Rerata
Perhitungan beda tinggi rata-rata menggunakan data beda tinggi pergi
dengan beda tinggi pulang dibagi dua.
Contoh perhitungan :
Perhitungan beda tinggi rerata pada titik A1
Diketahui : - beda tinggi pergi
- beda tinggi pulang

= 0.090
= 0.090

maka beda tinggi rerata = (0.090 + 0.090)/2 = 0.090 m
Perhitungan beda tinggi rerata titik-titik yang lain tercantum pada tabel.
5.2.3 Perhitungan Elevasi
Perhitungan elevasi antara dua titik menggunakan data beda tinggi
antara titik-titik tersebut. Untuk beda tinggi dengan hasil :
(-) maka elevasi titik sebelumnya dikurangi dengan beda tinggi antara titik
tersebut.
(+) maka elevasi titik sebelumnya dijumlah dengan beda tinggi antara titik
tersebut.
Contoh Perhitungan :

45

1. Pada perhitungan pergi
Diketahui elevasi di titik A1 = + 160
Elevasi di titik B1

= El. A1 – beda tinggi
= +160-(-0,090)

= +160,090
Pada perhitungan pulang
Diketahui elevasi di titik B1 = +160,090
Elevasi di titik A1

=El. B- beda tinggi
= +160,090-0,090
= +160,000

5.2.3.1 Perhitungan Elevasi Rata-rata
Perhitungan ini menggunakan data elevasi pergi dan elevasi pulang
suatu titik, dibagi dua.
Contoh perhitungan :
Perhitungan elevasi rata-rata pada titik B
Diketahui :
Beda tinggi pergi

= 0,090

Beda tinggi pulang

= 0,090

Beda tinggi rata-rata

= 0,090

Jadi elevasi di titik B

= +160,000 - 0,090
= +159,910

Elevasi titik-titik yang lain tercantum pada tabel.
5.2.3.2 Perhitungan Elevasi Titik Detail
Perhitungan elevasi dilakukan dengan menggunakan beda tinggi
yang diperoleh dari selisih antara benang tengah titik yang satu dengan titik
sebelumnya atau sesudahnya.
Contoh perhitungan :
Perhitungan Elevasi titik detail dimana titik utamanya diketahui:
Diketahui Elevasi di titik B

= +159,910

Pembacaan bak belakang

= 0,950 m

Pembacaan bt B1

= 1,210 m

TGB

= Elevasi + Pembacaan bt B1

46

= +159,910 + 1,210
= +121,120
Elevasi Detail B1

= TGB – bt (titik detail)
= +121,120 – 1,210
= +159,910

5.2.3.3 Perhitungan Jarak horizontal
Jarak Horizontal

=

(( jarakrerat a ) 2  (bedatinggi ) 2

Contoh perhitungan :
Bt (A-B)

= 0.090 m

Jarak rerata (A-B)

= 40 m

Jarak Horizontal

=

((0.09) 2  ( 40) 2 )

= 40 m
5.2.3.4 Perhitungan Slope Dasar Saluran Lama
Slope = Beda tinggi / Jarak horizontal
Contoh perhitungan :
Elevasi A3

= +159,560

Elevasi B3

= +159,510

BT (A3-B3)

= 0,050 m

Jarak (A3-B3) = 40 m
Slope

= 0,050/40
= 0,001

5.3. Penggambaran
5.3.1

Penggambaran Potongan Memanjang Saluran
(lihat pada lampiran)

5.3.2 Penggambaran Potongan Melintang Saluran
(lihat pada lampiran)

5.4

Perhitungan dimensi saluran rencana

47

Diketahui : Q

= 0,55 m 3 /det

b/h = 1

b=h

n

= 0,015

m

=1

S

= 0,00657

 Luas Penampang
A = (b + mh)h
= (h + h)h
= 2h 2
 Keliling Basah
P = b + 2h

1 m 2

= h + 2h

1  12

= h + 2,828 h
= 3,828 h
 Jari-jari hidrolis
A
2h 2
R =
=
= 0,522 h
3,828h
P

 Kecepatan Aliran
V =

1
2
1
.R 3.S 2
n
1

= 0,015 . (0,522h)
= 3,503 h

2

2

3

3

 Debit Aliran
Q

= A.V

0,55

= 2h 2 . 3,503 h

h

= 0,385 m

 Tinggi Jagaan

2

3

. (0,00657)

1

2

48

W =
=

1
.h
3
1
. 0,385
3

= 0,128 m
 Kecepatan Aliran Air
V = 3,503 h

2

3

= 3,503 (0,385)
= 1,854 m

2

3

det ik

 Lebar Saluran Rencana
b

=h
=1m

 Keliling Basah
P = 3,828 h
= 3,828 (0,385)
= 1,474 m
 Tinggi Total Tanggul Rencana
H total = h + W
= 0,385 + 0,128
= 0,513 m
 Jari-jari hidrolis
R = 0,522 h
= 0,522 (0,385)
= 0,201 m
 Luas Penampang
A = 2h 2
= 2 (0,385) 2
= 0,296 m 2

49

5.5

Perhitungan Volume Tanah
 Vol. Galian =

( Luas Galian A1  Luas Galian A2)
x jarak A1-A2
2

 Vol. Timbunan =

( Luas Timbunan A1  Luas Timbunan A2)
x jarak
2

A1-A2
(perhitungan pada tabel)

Perhitungan Luas Galian dan Timbunan Penampang A
 Luas Galian
I.

0,115 . 0.23

= 0,111 m2

II.

½ . (0,18 + 0,32) . 0,075

= 0,018 m2

III.

½ . (0,19 + 0,35) . 0,075

= 0,020 m2

IV.

½ . 0,39 . 0,189

= 0,037 m2

V.

0,075 . 0.01

= 0,00075 m2

Jadi total luas galian pada penampang A = 0,187 m2

50

 Luas Timbunan
I.
II.
III.

0,075.0,15

= 0,011 m2

½ . (0.075 + 0,15) .0,284

= 0,005 m2

0,4 .0,66

= 0,265 m2

Jadi total luas timbunan pada penampang A = 0,281 m2

51

Perhitungan Luas Galian dan Timbunan Penampang A’
 Luas Galian
A.
B.
C.
D.

½ . (0,13 + 0,26)
½ (0,215+0,365) 0,075
½ . (0,223 + 0,373) . 0,075
½ . 0,301 . 0,1505

= 0,0169 m2
= 0,0217 m2
= 0,0223 m2
= 0,0226 m2

Jadi total luas galian pada penampang A’ = 0,0835 m2
 Luas Timbunan
I.
II.

½ (0,075 + 0,135) 0,114

= 0,01197 m2

½ . (0.075 + 0,1145 .0,079

= 7,48 . 10-3 m2

Jadi total luas timbunan pada penampang A = 0,05595 m2

52

Perhitungan Luas Galian dan Timbunan Penampang B’
 Luas Galian
A.

½ . 0,19 . 0,38

= 0,0361 m2

B.

½ .(0,494 + 0,38) . 0,075

= 0,033 m2

C.

0,054 . 0,4

`

= 0,0216 m2

D.

½ (0,339 + 0,49) 0,075

= 0,0311 m2

E.

½ (0,122 + 0,502 ) 0,19

= 0,0593 m2

F.

0,122 . 0,075

= 9,15 . 10-3 m2

Jadi total luas galian pada penampang B = 0,19025 m2

53

Perhitungan Luas Galian dan Timbunan Penampang C’
 Luas Galian
A.

0,158 . 0,075

= 0,123 m2

B.

½ . (0,158+ 0,538) . 0,19

= 0,066 m2

C.

½ (0,319 + 0,469) 0.075

= 0,029 m2

D.

0,047 + 0,4

= 0,019 m2

E.

½ (0,361 + 0,511) 0,075

= 0,033 m2

F.

½ . 0,9 . 0,379

= 0,036 m2

Jadi total luas galian pada penampang C = 0,306 m2

54

Perhitungan Luas Galian dan Timbunan Penampang D’
 Luas Galian
A.

0,075 . 0,089

= 6,675 . 10-3 m2

B.

½ (0,089 + 0,469) 0,19

= 0,05301 m2

C.

½ . (0,297 + 0,447) . 0,075

= 0,0279 m2

D.

½ . (0,323 + 0,473) . 0,075

= 0,02985 m2

E.

½ . 0,323 . 0,171

= 0,012 m2

Jadi total luas galian pada penampang D = 0,1294 m2
 Luas Timbunan
I.

½ . (0,075 + 0,094) . 0,038

Jadi total luas timbunan pada penampang D

= 3,211 . 10-3 m2
= 3,211 . 10-3 m2

55

Perhitungan Luas Galian dan Timbunan Penampang D’’
 Luas Galian
A.
B.
C.
D.
E.

½ . 0,19 . 0,38
= 0,0361 m2
½ . (0,285 + 0,435) 0,075
= 0,006 m2
0,041. 0,4
= 0,0164 m2
½ . (0,44 + 0,289) . 0,075
= 0,0273 m2
½ . 0,313 . 0,157
= 0,0246 m2

Jadi total luas galian pada penampang D = 0,1104 m2
 Luas Timbunan
I.

½ . (0,75 + 0,109) . 0,067

= 6,164 . 10-3 m2

Jadi total luas timbunan pada penampang D = 6,164 . 10-3 m2

56

H. Perhitungan Volume Tanah
Contoh Perhitungan :

Volume Galian

Volume Timbunan =

=

x jarak A-B
x jarak A-B

Misal: Pada Interval A-B
Luas galian A
Luas galian B
Luas timbunan A
Luas timbunan B
Jarak A-B
Volume Galian

= 0,133 m2
= 0,145 m2
= 0,081 m2
= 0,208 m2
= 40 m

=

x 40

= 5,560 m3
Volume Timbunan

=

x 40

= 5,780 m3
Untuk peerhitungan selanjutnya bisa dilihat pada tabel.