You are on page 1of 2

Presiden Abdurrahman Wahid

POLITIK
1. Presiden Abdurrahman Wahid membubarkan dua departemen yakni Departemen
Penerangan dan Departemen Sosial dan diganti dengan pembentukan Departemen
Eksplorasi Laut melalui Keputusan Presiden No. 355/M tahun 1999 tanggal 26
Oktober 1999. Nama departemen ini berubah menjadi Departemen Kelautan dan
Perikanan (DKP).
2. Pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, MPR melakukan amandemen terhadap
UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 2000. Amandemen tersebut berkaitan dengan
susunan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas
pemerintahan pusat, provinsi, kabupaten dan kota. Amandemen ini sekaligus
mengubah pelaksanaan proses pemilihan umum berikutnya yakni pemilik hak suara
dapat memilih langsung wakil-wakil mereka di tiap tingkat Dewan Perwakilan
tersebut.
3. Upaya reformasi di bidang hukum dan pemerintahan dilakukan dengan pemisahan
TNI dan Polri sehingga TNI dapat memfokuskan diri dalam menjaga kedaulatan
wilayah Republik Indonesia dari ancaman kekuatan asing, sementara Polri dapat lebih
berkonsentrasi dalam menjaga keamanan dan ketertiban.
4. Berbagai kasus KKN tersebut kembali dibuka pada tanggal 6 Desember 1999 dan
terfokus pada apa yang telah dilakukan oleh mantan Presiden Soeharto dan
keluarganya. Namun dengan alasan kesehatan, proses hukum terhadap Soeharto
belum dapat dilanjutkan. Kejaksaan Agung menetapkan mantan Presiden Soeharto
menjadi tahanan kota dan dilarang bepergian ke luar negeri. Pada tanggal 3 Agustus
2000 Soeharto ditetapkan sebagai terdakwa terkait beberapa yayasan yang
dipimpinnya.
5. Pencapaian lain pemerintahan Abdurrahman Wahid adalah pemulihan hak minoritas
keturunan Tionghoa untuk menjalankan keyakinan mereka yang beragama Konghucu
melalui Keputusan Presiden No. 6 tahun 2000 mengenai pemulihan hak-hak sipil
penganut agama Konghucu.
EKONOMI

1. Dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya, kondisi perekonomian Indonesia
mulai mengarah pada perbaikan, di antaranya pertumbuhan PDB yang mulai positif,
laju inflasi dan tingkat suku bunga yang rendah, sehingga kondisi moneter dalam
negeri juga sudah mulai stabil.
2. Hubungan pemerintah dibawah pimpinan Abdurahman Wahid dengan IMF juga
kurang baik, yang dikarenakan masalah, seperti Amandemen UU No.23 tahun 1999
mengenai bank Indonesia, penerapan otonomi daerah (kebebasan daerah untuk pinjam
uang dari luar negeri) dan revisi APBN 2001 yang terus tertunda.

. dikarenakan lebih banyaknya kegiatan penjualan daripada kegiatan pembelian dalam perdagangan saham di dalam negeri. 4.3. Politik dan sosial yang tidak stabil semakin parah yang membuat investor asing menjadi enggan untuk menanamkan modal di Indonesia. Makin rumitnya persoalan ekonomi ditandai lagi dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung negatif. bahkan merosot hingga 300 poin.