You are on page 1of 2

Mengenal Stroke

Seseorang dikatakan stroke jika terjadi serangan neurologik lebih dari 24 jam, dengan
tanda gejala yaitu baal, kelemahan lengan, kelemahan kaki, paralisis wajah, kebingungan,
perubahan mental status, kesulitan berbicara dan mengerti bahasa, susah berjalan, pusing,
kehilangan keseimbangan, dan koordinasi, gangguan penglihatan, dan sakit kepala. Serangan
defisit neurologik yang mendadak dan singkat akibat iskemia otak fokal yang cenderung
membaik dengan kecepatan dan tingkat penyembuhan dalam 24 jam disebut TIA (Transien
Ischemik Attack) atau stroke ringan. TIA merupakan peringatan dini akan kemungkinan
infark serebrum di masa mendatang. TIA mendahului stroke trombolitik pada sekitar 50% 75% pasien. Dengan demikian orang yang mengalami TIA memerlukan pemeriksaan medis
dan neurologis untuk mencegah stroke. Jika penanganan tanda dan gejala awal TIA ini segera
ditangani dengan benar, kira-kira 3 jam setelah terdapat tanda dan gejala TIA, maka
kerusakan yang terjadi dapat ditekan sedini mungkin sebelum kerusakan otak meluas.
Pemeriksaan penunjang yang bisa digunakan untuk memastikan jenis serangan neurologis
yaitu CT Scan (untuk mengetahui apakah serangan neurologik tersebut jenis haemoragik atau
iskemik). Jika gangguan neurologik disebabkan karena iskemik pemeriksaan penunjang
selanjutkan bisa menggunakan EKG yaitu untuk mengetahui jenis iskemiknya berupa
trombus atau emboli. Intervensi pada penderita stroke berbeda sesuai dengan penyebabnya.
Reference
Smeltzer, Suzanne, et al. 2002. Brunner & Suddarth’s Text Book of Medical Surgical
Nursing Ed 11. Philladelpia : Lippincolt Williams & Wilkins.
Price & Wilson. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit.
Diterjemahkan oleh: Pendit, Brahm,et al. Jakarta: EGC.
Evidence based

Salah satu terapi farmakologi yang digunakan untuk penderita stroke yaitu
antiplatelet. Tetapi dalam jurnal yang berjudul Sex differences in antiplatelet
response in ischemic mengatakan bahwa terapi farmakologi yang diberikan pada
wanita sebaiknya bukan tipe antiplatelet karena hormon estrogen pada wanita
memediasi timbulnya trombus melalui aktivitas di reseptor permukaan platelet.

Berdasarkan jurnal yang berjudul Prevention and treatment of
stroke in patients with hypertension menyatakan bahwa

Prevention and treatment of stroke in patients with hypertension. Sex differences in antiplatelet response in ischemic. et al. 2004. .hipertensi merupakan salah satu faktor resiko yang paling penting untuk stroke. et al. Clinical Therapeutics. termasuk melindungi saraf pada otak. Bukti terbaru menunjukkan bahwa angiotensin II (ATII) antagonis reseptor losartan dapat menurunkan tekanan darah. Mancia. dan pengobatan dengan berbagai antihipertensi dapat mengurangi faktor resiko. 2011. Meyer. Dawn. Future medicine.