You are on page 1of 23

Keadilan, Kepastian dan Kemanfaatan (Dalam Prespektif

Filsafat Hukum)
A. Pengertian Dasar Tentang Hukum
Manusia dilahirkan seorang diri, namun dalam hidupnya ia
tidak dapat hidup sendiri. Ia butuh orang lain, ia butuh keluarga,
butuh teman, butuh kawan, butuh masyarakat. Manusia adalah
mahluk sosial. Aristoteles mengistilahkan ini sebagai zoon
politicon.1 Naluri manusia untuk hidup dengan orang lain itu
dikenal dengan istilah gregariousness. Tanpa orang lain, manusia
tidak akan bertahan hidup.
Sejak dilahirkan manusia mempunyai dua hasrat/keinginan,
yakni hasrat untuk menjadi satu dengan manusia lain yang
berbeda di sekelilingnya, yaitu masyarakat, dan hasrat untuk
menjadi satu dengan alam sekelilingnya. Bahkan jika sudah
bersatu dengan lingkungan alamnya, maka manusia akan sulit
dipisahkan dengan lingkungan alam tersebut. Demikian pula
halnya dengan masyarakat. Jika manusia sudah bersatu dengan
masyarakatnya, maka manusia akan sulit dipisahkan dengan
masyarakatnya itu.
Di lingkungan masyarakat, akan terjadi kontak di antara
manusia yang satu dengan yang lain. Di dalam masyarakat
manusia akan berinteraksi dengan manusia-manusia lainnya.
Sesuatu

hal

yang

tidak

mudah

menciptakan

definisi/pengertian tentang suatu hal. Pada tiap-tiap definisi akan
terdapat kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sehingga
1 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum-Suatu Pengantar, Liberty, Jogyakarta,
1999, hal.3

1

definisi yang satu akan terbantahkan oleh definisi yang lain.
Demikian pula halnya dengan definisi tentang hukum. Dalam
kenyataannya banyak terdapat definisi tentang hukum yang
dicetuskan oleh para sarjana. Di antaranya adalah sebagai
berikut:2
1. Menurut E. Utrecht, hukum adalah himpunan petunjuk hidup
(perintah atau larangan) yang mengatur tata tertib dalam
suatu masyarakat yang seharusnya ditaati oleh anggota
masyarakat dan jika dilanggar dapat menimbulkan tindakan
dari pihak pemerintah dari masyarakat itu.
2. Menurut Satjipto Rahardjo, hukum adalah karya manusia
berupa

norma-norma

yang

berisikan

petunjuk-petunjuk

tingkah laku. Hukum merupakan pencerminan dari kehendak
manusia tentang bagaimana seharusnya masyarakat dibina
dan ke mana harus diarahkan. Oleh karena itu pertama-tama
hukum mengandung rekaman dari ide-ide yang dipilih oleh
masyarakat

tempat

hukum

diciptakan.

Ide-ide

tersebut

berupa ide mengenai keadilan.
3. Menurut

J.C.T.

Simorangkir,

hukum

adalah

peraaturan-

peraturan bersifat memaksa yang dibuat oleh badan-badan
resmi yang berwajib, yang menentukan tingkah laku manusia
dalam

lingkungan

masyarakat,

pelanggaran

peraturan-

peraturan tadi berakibat diambilnya tindakan hukum.
4. Menurut Sudikno Mertokusumo, hukum adalah ketentuan atau
pedoman tentang apa yang seyogyanya atau seharusnya
dilakukan.

Pada

hakekatnya

kaedah

hukum

merupakan

2 Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2006,
hal. 21 -22

2

perumusan

pendapat

bagaimana

seharusnya

atau

atau

atau

pandangan

seyogyanya

tentang
seseorang

bertingkah laku. Sebagai pedoman kaedah hukum bersifat
umum dan pasif.
Apabila diperhatikan, di antara definisi-definisi itu tidak ada
yang mempunyai kesamaan di antara definisi yang satu dengan
definisi yang lain. Bahkan jika diperhatikan lebih dalam lagi,
masing-masing

definisi

itu

mempunyai

kelemahan-

kelemahannya sendiri. Dalam artian definisi hukum yang satu
terbantahkan oleh definisi hukum yang lain. Imanuel Kant,
seorang sarjana berkebangsaan Jerman yang hidup pada abad
lalu mengatakan “Noch suchen die Juristen eine Definition zu
Ihrem Begrife von Recht”, yang artinya “tidak ada seorang yuris
pun yang dapat merumuskan definisi tentang hukum”.3
Lemaire mengatakan, Hukum sulit didefinisikan karena hukum
mempunyai segi dan bentuk yang sangat banyak, sehingga tidak
mungkin tercakup keseluruhan segi dan bentuk hukum itu dalam
satu definisi. Di samping itu hukum meliputi segala lapangan.
Inilah

yang

semakin

menyebabkan

orang

tidak

mungkin

membuat definisi tentang apa hukum itu. 4 Namun demikian
sebagai pegangan, berikut ini dikemukakan salah satu definisi di
antara definisi-definisi hukum yang ada.
Hukum adalah salah satu pedoman tingkah laku manusia,
yang sifatnya lebih kongkrit dan mempunyai akibat hukum jika
3L.J. van Apeldoor, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnja Paramita, Jakarta,
1985, hal. 13.
4 Ishaq, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal. 1.

3

atas hukum tersebut dilanggar atau tidak dipatuhi. 5 Hukum
adalah :
1. Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan
hidup masyarakat.
2. Peraturan yang diadakan oleh badan-badan resmi yang
berwajib.
3. Peraturan itu bersifat memaksa.
4. Sanksi terhadap pelanggaran aturan itu adalah tegas.
B. Hukum Dan Keadilan
Evolusi filsafat hukum, yang melekat dalam evolusi filsafat
secara keseluruhan, berputar di sekitar problema tertentu yang
muncul berulang-ulang. Di antara problema ini, yang paling
sering menjadi diskursus adalah tentang persoalan keadilan
dalam kaitannya dengan hukum. Keadilan hanya bisa dipahami
jika ia diposisikan sebagai keadaan yang hendak diwujudkan oleh
hukum.

Upaya

untuk

mewujudkan keadilan dalam hukum

tersebut merupakan proses yang dinamis yang memakan banyak
waktu. Upaya ini seringkali juga didominasi oleh kekuatankekuatan yang bertarung dalam kerangka umum tatanan politik
untuk

mengaktualisasikannya.

Orang

dapat

menganggap

keadilan sebagai sebuah gagasan atau realitas absolut dan
mengasumsikan

bahwa

pengetahuan

dan

pemahaman

tentangnya hanya bisa didapatkan secara parsial dan melalui
upaya filosofis yang sangat sulit. Atau orang dapat menganggap

5 Hermien Hadiati Koeswadji, Hukum dan Masalah Medik (Bagian
Pertama), Airlangga University Press, Surabaya, 1984.

4

keadilan sebagai hasil dari pandangan umum agama atau filsafat
tentang dunia secara umum.
Pengertian Keadilan memiliki sejarah pemikiran yang panjang.
Secara hakiki dalam diskursus hukum, keadilan dapat dilihat
dalam 2 arti pokok, yaitu dalam arti formal yang menuntut
bahwa hukum itu berlaku secara umum, dan dalam arti materiil
yang menuntut hukum itu harus sesuai dengan cita-cita keadilan
dalam masyarakat.6 Namun apabila ditinjau dalam konteks yang
lebih luas, pemikiran mengenai keadilan itu berkembang dengan
pendekatan yang berbeda-beda, karena perbincangan tentang
keadilan yang tertuang dalam banyak literatur tersebut tidak
mungkin tanpa melibatkan tema-tema moral, politik dan teori
hukum yang ada. Oleh sebab itu secara tunggal hampir-hampir
sulit untuk dilakukan.
Namun pada garis besarnya, perdebatan mengenai keadilan
terbagi atas 2 arus pemikiran, yang pertama adalah keadilan
yang metafisik yang diwakili oleh pemikiran Plato, sedangkan
yang kedua keadilan yang rasional diwakili oleh pemikiran
Aristoteles. Keadilan yang metafisik sebagaimana diuraikan oleh
Plato, menyatakan bahwa sumber keadilan itu asalnya dari
inspirasi

dan

intuisi.

Sementara

keadilan

yang

rasional

mengambil sumber pemikirannya dari prinsip-prinsip umum dari
rasionalitas tentang keadilan.7 Keadilan yang rasional pada
dasarnya mencoba menjawab perihal keadilan dengan cara
menjelaskannya secara ilmiah, atau setidaknya alasan yang
6 Franz Magnis-Suseno, Etika Politik, hal.81
7 W. Friedmann. Legal Theory. Hal.346

5

rasional.

Sementara

keadilan

yang

metafisik

mempercayai

eksistensi keadilan sebagai sebuah kualitas atau suatu fungsi di
atas dan di luar makhluk hidup, dan oleh sebab itu tidak dapat
dipahami menurut kesadaran manusia berakal.8
Pemetaan dua arus utama pemikiran keadilan ini kemudian
ditegaskan kembali oleh John Rawls. John Rawls menjelaskan
kembali perihal aliran pemikiran keadilan yang pada dasarnya
tidak berbeda dengan yang telah disebutkan di atas, bahwa
pada umumnya, aliran pemikiran keadilan juga terbagi atas dua
arus utama, yang pertama aliran etis dan yang kedua aliran
institutif. Aliran yang pertama menghendaki keadilan yang
mengutamakan pada hak daripada manfaat keadilan itu sendiri,
sementara yang kedua sebaliknya lebih mengutamakan manfaat
daripada haknya.9
Keadilan itu dapat berubah-ubah isinya tergantung dari pihak
siapa yang menentukan isi keadilan itu, seperti tempat maupun
waktunya. Namun secara umum, ada unsur-unsur formal dari
keadilan, sesuai dengan pembagian aliran keadilan menurut
Kelsen dan Rawls yang pada dasarnya terdiri atas;
1. Bahwa keadilan merupakan nilai yang mengarahkan setiap
pihak untuk memberikan perlindungan atas hak-hak yang
dijamin oleh hukum.
2. Bahwa perlindungan ini pada akhirnya harus memberikan
manfaat kepada setiap individu.

8 Ibi,d hal.345
9 Andre Ata Ujan, Keadilan dan Demokrasi. Hal.19

6

Dengan unsur nilai keadilan yang demikian, yang dikaitkan
dengan unsur hak dan manfaat ditambah bahwa dalam diskursus
hukum, perihal realisasi hukum itu berwujud lahiriah tanpa
mempertanyakan terlebih dahulu itikad moralnya. Maka nilai
keadilan ini memiliki aspek empiris juga, disamping aspek
idealnya,10 maksudnya adalah apa yang dinilai adil dalam
konteks hukum harus dapat diaktualisasikan secara konkret
menurut ukuran manfaatnya. Dengan adanya ukuran manfaat
nilai keadilan ini pada akhirnya keadilan dapat dipandang
menurut konteks yang empiris juga.
Seorang terdakwa misalnya, dapat merasakan suatu nilai
keadilan jika apa yang dilakukan sebagai tindak pidana menurut
hukumnya, dihukum sesuai dengan berat dari kesalahannya.
Dengan demikian, terdakwa merasakan bahwa hukumannya
adalah sebanding dengan kesalahan yang telah diperbuat, dan
apa

yang

dianggapnya

sebagai

hal

yang

setimpal

atau

sebanding itu, merupakan pencerminan dari nilai keadilan yang
ideal.

Jika

hukuman

hukumannya
itu

dapat

dirasakan

dinyatakan

tidak

sebanding,

maka

sebagai

perwujudan

yang

melawan nilai-nilai ideal dalam keadilan. Di sinilah nilai keadilan
berfungsi menentukan secara nyata, apa yang pantas diterima
oleh seseorang sebagai konsekuensi lanjutan dari norma hukum
yang

mengaturnya.

Keadilan

pada

hakikatnya

adalah

memperlakukan seseorang atau pihak lain sesuai dengan
haknya. Yang menjadi hak setiap orang adalah diakui dan
diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya, sama

10 S.P. Lili Tjahjadi, Hukum Moral. Hal 47

7

derajatnya,

dan

sama

hak

dan

kewajibannya,

tanpa

membedakan suku, keturunan, dan agamanya.
keadilan

adalah

meletakkan

segala

sesuatunya

pada

tempatnya Istilah keadilan berasal dari kata adil yang berasal
dari bahasa Arab. Kata adil berarti tengah. Adil pada hakikatnya
bahwa kita memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi
haknya. Keadilan berarti tidak berat sebelah, menempatkan
sesuatu

di

tengah-tengah,

tidak

memihak.

Keadilan

juga

diartikan sebagai suatu keadaan dimana setiap orang baik dalam
kehidupan
memperoleh

bermasyarakat,
apa

yang

berbangsa

menjadi

dan

haknya,

bernegara

sehingga

dapat

hukum

selain

melaksanakan kewajibannya.
Keadilan

merupakan

salah

satu

tujuan

kepastian dan kemanfaatan yang paling banyak dibicarakan.
Idealnya hukum harus mengakomodasikan ketiganya. Namun
ada yang berpendapat bahwa keadilan merupakan tujuan yang
paling penting bahkan satu-satunya. Contohnya seorang hakim
Indonesia, Bisma Siregar mengatakan “bila untuk menegakkan
keadilan saya korbankan kepastian hukum, akan saya korbankan
hukum itu. Hukum hanya sarana, sedangkan tujuannya adalah
keadilan“.11
Adil dan tidak adil merupakan bentuk kritik moral yang lebih
spesifik daripada baik dan buruk atau benar dan salah , terlihat
jelas dari fakta bahwa kita mungkin secara logis mengklaim
sebuah hukum adalah baik karena hukum itu adil, atau bahwa

11 Darji Darmodiharjo, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta, 2004, hal 155

8

hukm itu buruk karena tidak adil, namun kita tidak mengklaim
bahwa hukum itu adil karena baik, atau tidak adil karena buruk.12
Menurut Roscoe Pound keadilan dikonsepkan sebagai hasilhasil konkrit yang bisa di berikan kepada masyarakat. Dimana
menurut

Roscoe

Pound,

bahwa

hasil

yang

diperoleh

itu

hendaknya berupa pemuasan kebutuhan manusia sebanyakbanyaknya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Dengan kata
lain semakin meluas/ banyak pemuasan kebutuhan manusia
tersebut, maka akan semakin efektif menghindari pembenturan
antara manusia. Jadi Keadilan adalah ukuran yang kita pakai
dalam memberikan perlakuan terhadap objek diluar dari kita.
Objek yang diluar dari kita ini adalah manusia, sama dengan
kita. Oleh karena itu ukuran tersebut tidak dapat di lepaskan dari
arti yang kita berikan kepada manusia, tentang konsep kita
kepada manusia.
Bagaimana anggapan kita tentang manusia, itulah yang
membawakan ukuran-ukuran yang kita pakai dalam memberikan
perlakuan terhadap orang lain. Apabila manusia itu kita anggap
sebagai mahluk yang mulia, maka perlakuan kita kepadanya pun
akan mengikuti anggapan yang demikian itu dan hal ini akan
menentukan ukuran yang akan kita pakai dalam menghadapi
mereka.13 Dimana Thomas Aquinas menyatakan bahwa setiap
orang secara moral hanya terikat untuk mentaati hukum yang
adil, dan bukan kepada hukum yanng tidak adil. Hukum yang
12 Bello Petrus, Hukum dan Moralitas, 2012, Erlangga, Jakarta, Hal 39
13 Edy Rajo, Hubungan Hukum keadilan, dikases dari website
http://edyrajo.blogspot.com, diakses tanggal 30 Otober 2016

9

tidak adil harus dipatuhi hanya apabila tuntutan keadaan yakni
untuk menghindari skandal atau kekacauan.14
Hubungan

antara

keadilan

dan

hukum

identik

dengan

keadilan dengan kepatuhan kepada hukum. Namun pendapat ini
keliru kecuali jika hukum diberi makna luas, karena pendapat
hukum seperti ini akan membuat orang tidak bisa menjelaskan
fakta bahwa kritik atas keadilan tidak terbatas pada pelaksanaan
hukum dalam kasus-kasus tertentu, melainkan hukum itu sendiri
juga sering kali dikritik berdasarkan adil atau tidaknya.
Dalam hukum pidana maupun perdata akan dipandang tidak
adil

jika

dalam

distribusi

beban

dan

manfaat

keduanya

melakukan diskriminasi karakteristik seperti warna kulit atau
keyakinan agama. Jika para pembunuh yang tergolong sebagai
anggota

gereja

yang

mapan

akan

dibebaskan

dari

hukuman.15 Hukum seperti ini dalam masyarakat modern akan
dicela sebagai hukum yang tidak adil.
Penilaian

keadilan

atau

ketidakadilan

hukum

bisa

jadi

dihadapkan pada pendapat berlawanan yang dituntun oleh
sebuah

moralitas

yang

berbeda.

Misalnya

hukum

yang

mengecualikan atau tidak memberikan kekuasaan kepada anakanak atau orang tidak sehat akalnya dalam pembuatan kontrak
atau wasiat dianggap adil. Karena mereka tidak memiliki
kapasitas, yang dimiliki oleh orang dewasa yang sehat akalnya.
Diskrimasi ini dibuat atas alasan yang jelas-jelas relevan.
14 Dewa Gede Atmajaya, Filsafat Hukum, 2013, Setara Press, Malang, hal
70
15Bello Petrus, Hukum dan Moralitas, 2012, Erlangga, Jakarta, Hal 39

10

Terkait dengan undang-undang bahwa undang-undang dibuat
dengan

tujuan

kebaikan

masyarakat,

keamanan

rakyat,

perdamaian dan keadilan. Oleh karena itu para pembuat undangundang harus merumuskan dan menuliskan sesuai dengan moral
dan

kebahagiaan

umum

sehingga

rakyat

menerima

dan

mentaati, yang didalamnya tercakup seluruh hakikat dan seluruh
daya keadilan.16
C. Hukum Dan Kepastian
Hukum dan kepastian merupakan suatu tema yang sangat
menarik untuk terus kita lakukan pengkajian dan kita diskusikan,
hal ini dikarenakan antara hukum dan kepastian adalah dua hal
yang sangat sulit untuk dipisahkan. Hukum ada adalah untuk
adanya kepastian, adanya kepastian juga menjadikan hukum itu
lebih ditaati.
Jaman kerajaan dulu yang dianggap hukum itu adalah titah
raja, jadi apa yang dikatakan raja itulah hukumnya dan rakyat
harus mentaatinya. Dalam keadaan seperti itu, hukum terkadang
selalu berubah-ubah karena sesuai dengan keinginan raja,
sehingga rakyat tidak tahu pasti apakah yang menjadi hukum
hari ini, juga menjadi hukum pada hari-hari berikutnya atau akan
berubah. Hal ini menimbulkan ketidakpastian di masyarakat
sehingga siapapun yang mau berbuat atau bertindak selalu
menunggu titah raja apa diperbolehkan atau tidak.
Dari

gambaran yang

sederhara

tersebut,

maka

sangat

penting manakala hukum itu mengandung kepastian. Untuk
16Lili Rasjidi, Filsafat Hukum Mazhab Dan Refleksinya, 1994, Remaja
Rosdakarya Offset, Bandung, hal 27

11

mewujudkan adanya kepastian maka hukum itu harus diciptakan
terlebih dahulu sebelum perbuatan-perbuatan yang diatur dalam
hukum itu dilakukan, sehingga masyarakat menjadi tahu apa
yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan serta mengetahui
konsekuensinya

kalau

mereka

berbuat

bertentangan

atau

melawan hukum. Disamping itu, hukum itu juga dapat dijadikan
pedoman

untuk

bertindak

dan

berbuat

oleh

pejabat

pemerintahan maupun masyarakat.
Nilai kepastian hukum merupakan nilai yang pada prinsipnya
memberikan perlindungan hukum bagi setiap warga negara dari
kekuasaan yang bertindak sewenang-wenang, sehingga hukum
memberikan

tanggung

jawab

pada

negara

untuk

menjalankannya. Nilai itu mempunyai relasi yang erat dengan
instrumen

hukum

positif

dan

peranan

negara

dalam

mengaktualisasikannya dalam hukum positif .17
Dalam hal ini kepastian hukum berkedudukan sebagai suatu nilai
yang harus ada dalam setiap hukum yang dibuat dan diterapkan.
Sehingga hukum itu dapat memberikan rasa keadilan dan dapat
mewujudkan

adanya

ketertiban

dalam

kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Secara filsafati hukum diharapkan dapat memenuhi aspek
ontologi yaitu menciptakan ketentraman dan kebahagian bagi
hidup manusia, sebagai suatu tujuan yang ingin dicapai setiap
manusia dan merupakan hakikat dari hukum itu sendiri. Menurut
Theo

Huijbers

hakekat

hukum

juga

menjadi

sarana

bagi

penciptaan suatu aturan masyarakat yang adil (rapport du droit,

17 Ibid. Hal 95

12

inbreng van recht).18 Secara Epistemologi hukum dilahirkan
melalui suatu metode tertentu yang sistematis dan obyektif
serta

selalu

dilakukan

pengkajian-pengkajian,

sehingga

melahirkan ilmu hukum yang merupakan bagian dari ilmu
pengetahuan. Dalam aspek Aksiologi, hukum memiliki nilai-nilai
yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh setiap manusia dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hukum sebagaimana diartikan dalam pembahasan sebelumnya
memiliki cakupan yang sangat luas, yang tidak hanya peraturan
perundang-undangan atau sering disebut hukum positif tetapi
juga hukum yang hidup dalam masyarakat (living law). Kaitannya
dengan kepastian, timbul suatu pertanyaan “apakah semua
hukum tersebut memiliki nilai kepastian”. Pertanyaan ini akan
terjawab manakala kita mengkaji hukum-hukum tersebut secara
lebih mendalam.
Hukum yang ditaati masyarakat mengandung nilai kepastian
tidak terkecuali hukum yang hidup dalam masyarakat (living
law). Nilai kepastian inilah yang harus ada dalam setiap hukum
yang dibuat sehingga dapat memberikan rasa keadilan dan
menciptakan ketertiban. Hukum yang hidup dalam masyarakat
seperti misalnya hukum adat justru nilai ketaatannya terkadang
melebihi hukum positif, masyarakat terkadang lebih takut
dengan

hukum

adat

dibandingkan

hukum

positif.

Namun

demikian, kepastian hukum yang ada dalam hukum adat
tentunya tidak sama dengan kepastian hukum yang ada dalam
hukum positif, karena hukum adat bersifat lokal dan umumnya

18 Theo Huijbers. Filsafat Hukum.Yogyakarta: Kanisius. 1995. Hal 75

13

berbeda dengan hukum adat-hukum adat di wilayah lain dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia
Kepastian mengandung beberapa arti, diantaranya adanya
kejelasan, tidak menimbulkan multitafsir, tidak menimbulkan
kontradiktif, dan dapat dilaksanakan. Hukum harus berlaku tegas
di

dalam

masyarakat,

mengandung

keterbukaan

sehingga

siapapun dapat memahami makna atas suatu ketentuan hukum.
Hukum yang satu dengan yang lain tidak boleh kontradiktif
sehingga tidak menjadi sumber keraguan.
Untuk tercapainya nilai kepastian di dalam hukum, maka
diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Tersedia

aturan-aturan

hukum

yang

jelas

atau

jernih,

konsisten dan mudah diperoleh (accesible), yang diterbitkan
oleh kekuasaan negara;
2. Bahwa instansi-instansi negara penguasa (pemerintahan)
menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten
dan juga tunduk dan taat kepadanya;
3. Bahwa mayoritas warga pada prinsipnya menyetujui muatan
isi dan karena itu menyesuaikan perilaku mereka terhadap
aturan-aturan tersebut;
4. Bahwa hakim-hakim (peradilan) yang mandiri dan tidak
berpihak menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara
konsisten sewaktu mereka menyelesaikan sengketa hukum;
dan
5. Bahwa putusan peradilan secara konkrit dapat dilaksanakan.
Kelima syarat yang dikemukakan tersebut menunjukkan
bahwa kepastian hukum dapat dicapai jika substansi hukumnya
sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Aturan hukum yang

14

mampu menciptakan kepastian hukum adalah hukum yang lahir
dari dan mencerminkan budaya masyarakat. Kepastian hukum
yang seperti ini yang disebut sebagai kepastian hukum yang
sebenarnya

(realistic

legal

certainly),

yaitu

mensyaratkan

adanya keharmonisan antara negara dengan rakyat dalam
berorientasi dan memahami sistem hukum.
Menurut Lon Fuller hukum itu dapat memenuhi nilai-nilai
kepastian apabila di dalamnya terdapat 8 (delapan) asas, yang
dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Suatu sistem hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan,
tidak berdasarkan putusan-putusan sesaat untuk hal-hal
tertentu.
2. Peraturan tersebut diumumkan kepada public.
3. Tidak berlaku surut, karena akan merusak integritas.
4. Dibuat dalam rumusan yang dimengerti oleh umum.
5. Tidak boleh ada peraturan yang saling bertentangan.
6. Tidak boleh menuntut suatu tindakan yang melebihi apa yang
bisa dilakukan.
7. Tidak boleh sering diubah-ubah.
8. Harus ada kesesuaian antara peraturan dan pelaksanaan
sehari-hari.19
Asas-asas tersebut mengandung makna bahwa hukum dapat
dikatakan akan memiliki nilai kepastian jika hukum itu ada atau
dibuat sebelum perbuatan yang diatur dalam hukum tersebut
ada (asas legalitas). Kepastian ini juga menjadi tujuan dari

19 Lon L. Fuller. The Morality of Law. New Haven:Yale University Press,
1971. Hal 54-58

15

hukum

disamping

tujuan

yang

lain

yaitu

keadilan

dan

kemanfaatan.
Asas legalitas merupakan salah satu ciri pokok dari negara
hukum untuk mencapai adanya kepastian hukum. Asas legalitas
menjadikan hukum digunakan sebagai landasan berpijak bagi
setiap aktivitas manusia dan subyek hukum lainnya dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu ciri negara
hukum

yang

didalamnya

juga

tersurat

asas

legalitas,

sebagaimana disampaikan Sri Soemantri bahwa Negara Hukum
mengandung empat unsur penting, yaitu:
1. Pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya
harus berdasar atas hukum/peraturan perundang-undangan.
2. Adanya jaminan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).
3. Adanya pembagian kekuasaan dalam Negara
4. Adanya pengawasan (dari badan-badan peradilan).20
D. Hukum Dan Kemanfaatan
Pembicaraan tentang hukum saat ini tidak dapat dipisahkan
dengan konsep-konsep hukum yang telah berkembang ribuan
tahun yang lalu. Istilah hukum pada masa lalu identik dengan
istilah moral atau etika. Pembahasan tentang hukum, moral dan
etika saat ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan.
Terdapat banyak tokoh ahli hukum yang berperan dalam
pengembangan konsep hukum yang dibagi dalam beberapa
aliran sesuai pandangan pemikirannya. Kesemuanya bertujuan
20 Mien Rukmini. Perlindungan HAM melalui Asas Praduga Tidak Bersalah
dan Asas Persamaan Kedudukan dalam Hukum pada Sistem Peradilan
Pidana di Indonesia. Bandung: PT. Alumni, 2003. Hal 37

16

untuk merumuskan konsep yang paling ideal dan baik tentang
hukum sehingga dapat memberikan manfaat dalam kehidupan
manusia.

Hukum

sebagai

moral

dan

aturan

dipikirkan,

dirumuskan dan diberlakukan untuk mewujudkan ketertiban,
ketentraman,

kesejahteraan,

dan

kebahagiaan.

Aliran-aliran

tersebut diantaranya: aliran hukum alam, aliran positivisme,
aliran

utilitarianisme,

aliran

sejarah,

dan

aliran

realisme.

Berbagai aliran pemikiran mewarnai konsep dan pemberlakuan
hukum selama ribuan tahun.
Aliran hukum alam atau hukum kodrat terbagi dalam dua
kelompok pemikiran, irrasional dan rasional, merupakan aliran
yang paling tua dan cukup eksis sampai abad ke 17 an. Tokoh
yang dibahas dalam buku ini adalah Aristoteles, Thomas
Aquinas, Hugo de Groot (Grotius) dan Immanuel Kant. Aristoteles
filsuf yang lahir dan menetap di Yunani memandang moral
sebagai hukum. Sumber moral adalah Tuhan dan rasio manusia.
Segala

sesuatu

akan

menjadi

baik

jika

didasarkan

pada

keduanya. Hukum yang didasarkan pada perintah Tuhan dan
rasio manusia terkandung prinsip keadilan yang bertujuan untuk
memperoleh

kebahagiaan

hidup.

Keadilan

harus

selalu

diupayakan walaupun dalam kenyataannya menurut Aristoteles
kebahagiaan yang hakiki hanya berada ketika terjadi perjumpaan
antara manusia dengan Tuhannya di akherat.
Thomas Aquinas yang hidup seribu tahun lebih setelah
Aristoteles memiliki pandangan yang tidak jauh berbeda dengan
Aristoteles. Pandangannya tentang lex aeterna, lex devina, lex
natura dan lex humana menunjukkan adanya campur tangan
dari

Tuhan

dan

rasio

manusia

dalam

pembentukan

dan

17

pemberlakuan hukum. Tuhan sudah menentukan kodratnya yang
bersifat mutlak, manusia memiliki rasio yang diberikan oleh
Tuhan, keberadaan alam yang sangat mempengaruhi kehidupan
manusia, manusia mengolah semuanya menjadi moral atau
hukum yang baik dan diterapkan dalam kehidupan manusia.
Grotius menyatakan hukum atau moral berpangkal pada rasio
manusia yang diberikan oleh Tuhan. Walaupun demikian Tuhan
tidak dapat mempengaruhi rasio manusia yang telah terbentuk
seiring

dengan

kondisi

alam.

Alam

akan

lebih

dominan

mempengaruhi rasio. Hukum akan bermanfaat jika hukum dibuat
didasarkan pada adanya kontrak antara rakyat dan pemerintah,
atau antar penguasa. Manusia harus menjaga miliknya dan miliki
orang lain secara adil serta menepati janji merupakan unsur
yang sangat penting agar kontrak yang sudah dibuat dapat
berjalan dengan baik. Jika demikian maka manusia akan
mendapatkan kemanfaatan dari hukum.
Immanuel Kant berpendapat bahwa akal budi tidak sebatas
pada realitas yang nampak, realitas tersebut telah dipengaruhi
oleh rasio manusia, persepsi manusia sangat mempengaruhi
suatu

obyek.

Moralitas

dipertanggungjawabkan

manusia

terhadap

orang

harus
lain.

Hukum

dapat
akan

berdaya guna jika individu ditempatkan sebagai pelaku, diberi
kebebasan,

dan

otonomi.

Individu

harus

menjalankan

kewajibannya, pemenuhan kewajiban yang terbaik adalah yang
didasarkan pada dorongan kesadaran akan adanya kewajiban,
bukan karena kebijaksanaan atau rasa belas kasihan atau
emosional. Ketaatan pada hukum didasarkan pada dorongan dari
luar, yaitu keharusan atau kewajiban untuk melaksanakannya.

18

Jika

masyarakat

melaksanakan

hukum

karena

dorongan

kewajiban tersebut maka keadilan akan tercapai.
Aliran positivisme hukum yang dikembangkan oleh John
Austin dan Hans Kelsen memisahkan secara tegas antara hukum
dan moral. Austin mengakui Tuhan sebagai pembentuk hukum.
Hukum yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah
hukum yang dibuat oleh manusia, penguasa negara, kelompok
atau individu yang memiliki kewenangan. Hukum akan berdaya
guna jika berisi perintah, dibuat oleh yang memiliki kekuasaan,
adanya

sanksi

yang

menjadi

dorongan

masyarakat

untuk

melaksanakannya.
Hans Kelsen sangat terkenal dengan teori hukum murninya,
hukum harus bebas dari pengaruh sosial, politik, budaya, sejarah
dll. Hukum yang baik harus didasarkan pada grundnorm atau
norma dasar yang diperoleh dari nilai-nilai yang terdapat dalam
masyarakat. Hal ini didasarkan pada keyakinan Kelsen bahwa
semua manusia memiliki potensi keadilan yang seringkali tidak
disadarinya. Dalam grundnorm akan terbentuk stufenbau teori
yaitu penjenjangan dalam hukum, mulai yang tertinggi (paling
umum dan abstrak) sampai terendah (paling khusus dan
konkrit). Jika hukum dibuat demikian maka pelaksanaan hukum
dapat melahirkan ketertiban dan kedamaian.
Aliran Utilitarianisme mendapat dukungan pemikiran dari
beberapa tokoh, mulai dari pencetusnya Jeremy Bentham, John
Stuart Mill, dan Rudolf von Jhering. Bentham dikenal sebagai
peletak dasar aliran utilitarianisme menyatakan bahwa tujuan
hukum adalah untuk memberikan kebahagiaan bagi sebesarbesarnya jumlah manusia. Kebahagiaan tersebut harus baik dan

19

tidak mengganggu orang lain walaupun penekananya pada
kebahagiaan individu.
John Stuart Mill sebagai pengikut Bentham memberikan
argumen yang agak berbeda dengan Bentham. Mill menyatakan
antara keadilan, kegunaan, individu, dan masyarakat umum
yang saling berkaitan. Hukum akan menjadi baik dan bermanfaat
jika didasari oleh rasa keadilan, manusia cenderung akan kesal
jika tidak dapat memperoleh kebahagiaan. Sementara itu dalam
diri

manusia

terdapat

rasa

sosial

yang

dapat

mengobati

kekesalannya atas tidak didapatkannya kebahagiaan. Dalam hal
yang demikian itu terkandung unsur pertahanan diri dan simpati
yang bersifat alamiah.
Rudolf von Jhering memiliki pandangan yang sama dengan
Bentham dan Mill bahwa tujuan hukum adalah mencapai
kebahagiaan. Pandangan tentang kebahagiaan yang diperoleh
sangat bersifat indivudualistis. Pusat kebahagiaan adalah cita diri
yang dalam pemerolehannya tidak dapat dilepaskan dari orang
lain atau masyarakat. Diperlukan adanya kerjasama dengan
orang lain untuk mencapai kebahagiaan. Akan tetapi semua
yang dilakukan para individu ini pasti memiliki pamrih, yaitu
demi terpenuhi kebutuhannya. Dengan demikian hukum yang
baik dan bermanfaat jika hukum mengakomodir kepentingan
individu dalam memperoleh kebahagiaan dan mampu mampu
menyerasikan antara kepentingan individu dan masyarakat.
Pembuat hukum yang baik adalah yang dapat mengetahui
kepentingan masyarakat.
Aliran Sejarah mengajarkan bahwa hukum terbentuk dalam
masyarakat. Dua tokoh aliran sejarah adalah Von Savigny dan

20

John Frederich Puchta. Von Savigny menyatakan hukum tumbuh
karena rasa keadilan yang terletak pada jiwa bangsa. Hukum
telah ada pada masing-masing masyarakat seiring dengan
kebiasaan dan adat-istiadat mereka. Tugas ilmuan hukum adalah
mengeksplorasi, menemukan, dan merumuskan kembali menjadi
aturan-aturan yang berlaku. Kemanfaatan dan kegunaan hukum
dapat terwujud dengan baik jika pembuatan dan pelaksanaannya
mengacu pada nilai-nilai, kebiasaan dan adat istiadat dalam
masyarakat tersebut.
Puchta adalah murid Savigny, hukum dapat dibentuk dari
adat

istiadat,

undang-undang,

atau

karya

ahli

hukum.

Menurutnya ada bangsa alam dan bangsa nasional. Penemuan
oleh ilmuan hukum dapat dijadikan sebagai peraturan bersama
jika disahkan oleh masyarakat bersama melalui negara. Negara
punya kewenangan untuk menerapkan aturan-aturan yang
dirancang berdasarkan hasil riset para ilmuan, hukum baru
berlaku setelah ada pengesahan dari negara. Dengan demikian
dapat dikatakan hukum yang baik sebetulnya adalah yang digali
diambil dari kebiasaan dalam masyarakat. Hukum tersebut akan
lebih bermanfaat bagi masyarakat jika telah disahkan oleh
negara sebagai hukum yang berlaku.
Aliran Sociological Jurisprudence dikembangkan atas dasar
pemikiran bahwa hukum memiliki keterkaitan yang sangat besar
dengan masyarakat. Dua tokoh terkenal yang dibahas adalah
Eugen Ehrlich dari Eropa dan Roscou pound dari Amerika. Ehrlich
menyatakan bahwa hukum yang baik adalah aturan-aturan atau
kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Dengan demikian

21

hukum akan dapat berjalan dengan baik jika hukum dilahirkan
dari kenyataan sosial yang ada dalam masyarakat.
Roscou pound sangat terkenal dengan teorinya law as a tool
of social engineering atau hukum adalah sebagai alat untuk
merekayasa masyarakat. Hukum yang baik berisi tentang
keinginan-keinginan dan kepentingan dari anggota masyarakat.
Hukum

yang

didasarkan

pada

keinginan

atau

kebutuhan

masyarakat tersebut akan lebih mudah untuk merekayasa
masyarakat agar tindakannya sesuai dengan yang diharapkan
oleh hukum atau pembuat hukum.
Aliran Realisme dibagi menjadi dua, yaitu Realisme Amerika
dan Realisme Skandinavia. Realisme Amerika mengemukakan
bahwa

hukum

yang

baik

adalah

pengalaman-pengalaman yang

yang

terdapat

dilahirkan

dalam

dari

masyarakat.

Pihak yang paling cocok untuk melahirkan peraturan adalah
hakim sebagai pihak yang berpengalaman langsung menangani
berbagai masalah hukum. Hukum harus dapat menyesuaikan
dengan perkembangan masyarakat agar dapat bermanfaat
secara maksimal.
Menurut aliran Realisme Skandinavia menyatakan bahwa
hukum

dikembangkan

dengan

melakukan

pengamatan.

Pengembangan hukum yang demikian akan lebih mengilmiahkan
hukum sebagai bagian dari ilmu pengetahuan. Hukum yang
dibuat harus diartikan sebagai peraturan yang bertujuan untuk
kesejahteraan
masyarakat

bersama.

menjadi

Hukum

lebih

baik.

akan

membentuk

moral

Demi

tercapainya

tujuan

tersebut maka pembuatan hukum harus didasarkan pada analisis
kebutuhan masyarakat. Pembuatan hukum melalui observasi

22

yang didasarkan demi kesejahteraan masyarakatlah yang dapat
menjadikan hukum bermanfaat bagi kehidupan manusia.

23