You are on page 1of 1

Sahabatku, Tisa.

Aku dan Tisa sudah saling kenal sejak sekolah menengah pertama, tepatnya ketika kami jadi
teman sekelas di tingkat kedua. Rasanya kayak ketemu kembaran karena kita sama-sama mungil,
berambut pendek, dan agak pendiam. Setelah lulus SMP dan lanjut SMA yang berbeda kami
masih tetap berteman dan sering main berdua, ketika kuliahpun meski di kota yang berbeda kami
masih menyempatkan untuk bertemu. Secara nggak sengaja juga kami pernah beberapa kali
punya handphone dan motor yang kembaran. Kami juga punya nama panggilan, dia panggil aku
Chan, aku panggil dia Chan. Nama yang sama, karena kami kembaran hahaha.
Aku rasa… sudah nggak terhitung berapa kali kami hang out berdua. Hanya berdua tapi sampai
berjam-jam, ngobrol ngalor-ngidul mulai dari tentang sekolah/kuliah, lagu-lagu di playlist, group
K-pop yang nggak ada habisnya, sampai ngomongin orang yang gak dikenal yang kebetulan ada
di sekitar kita. Kalau dipikir-pikir lagi kayaknya kami nggak pernah kehabisan topik obrolan,
kalaupun ada momen dimana kami lagi diam itu bukan diam yang awkward, mungkin karena
kami sudah merasa nyaman satu sama lain.
Buatku, Tisa adalah sahabat yang peka dan juga pendengar yang sangat baik. Selama ini dia
menjadi tempatku untuk curhat segala macam. Baik itu face-to-face, maupun hanya lewat media
chatting. Ketika aku mulai mengeluhkan ini itu soal kehidupan kuliah dan tugas-tugas yang
membludak, tentang kesulitan yang sedang aku alami, tentang teman-temanku yang belum dia
kenalpun, dia selalu mendengarkan dengan baik. Dia memberiku banyak masukan dan juga
support.
Aku merasa sangat bersyukur pernah mengenal dan berteman dengannya. Dan aku merasa
sedikit menyesal sekarang karena setelah kupikir-pikir aku belum menjadi teman yang baik
untuknya. Ada banyak sekali hal yang aku dapatkan darinya selama masa pertemanan kami ini,
tapi aku nggak tahu apa saja yang sudah kulakukan untuknya, aku nggak tahu apakah aku sudah
memberikan hal yang sebanding untuknya. Yang jelas, aku sangat berterimakasih padanya,
Sahabatku, yang pernah mengisi dan menemani satu fase hidupku.
Bagiku nggak ada yang sia-sia dalam hidup dan dunia ini, tidak terkecuali hidupnya.