You are on page 1of 11

PENGUJIAN SIFAT FISIK KIMIAWI PROTEIN

Choki Setyo Darmawan, 230110130192
Kelompok 3, Perikanan C
Abstrak
Protein pada dasarnya merupakan suatu molekul yang terdiri dari monomer-monomer
asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida, sehingga protein disebut juga sebagai
polipeptida. Struktur protein ada empat, yaitu struktur primer, sekunder, tersier, dan
kuarterner. Jika protein dipanaskan, maka akan terjadi denaturasi protein, sehingga protein
yang mulanya memiliki struktur kuarterner akan berubah menjadi struktur primer yang lebih
sederhana. Pada praktikum kali ini, akan dilakukan uji sifat fisik kimiawi protein yang
terdapat pada tulang ikan dengan perlakuan ditambahkan asam kuat (H 2SO4), asam lemah
(CH3COOH), basa kuat (NaOH), basa lemah (NH 3), dan pemanasan dengan pereaksi
ninhidrin. Saat ditambah asam kuat, tulang akan mengalami perubahan fisik, yaitu hancur
seluruhnya, tidak berbau, dan warna larutannya menjadi putih keruh. Apabila tulang ditambah
basa kuat, maka strukturnya tidak berubah, tidak hancur, tidak berbau, dan warna larutan
menjadi agak kuning keruh. Ketika ditambah asam lemah, warna tulang tetap sedangkan
warna larutan putih pekat. Saat ditambahkan basa lemah, warna tulang tetap dan larutan
menjadi keruh. Jika tulang dipanaskan saja, tulang akan tetap utuh fisiknya dan akan tercium
sedikit bau amis.
Kata kunci : Protein, denaturasi, perlakuan, asam, basa, pemansan, struktur
PENDAHULUAN
Denaturasi protein merupakan proses perubahan struktur lengkap dan karakteristik
bentuk protein akibat terjadinya gangguan pada struktur sekunder, tersier, dan kuaternernya
sehingga kembali ke struktur primer. Denaturasi protein juga dapat diartikan suatu proses
terpecahnya ikatan hidrogen bila susunan ruang atau rantai polipeptida suatu molekul protein
berubah. Dengan perkataan lain, denaturasi protein adalah terjadinya kerusakan struktur
primer, sekunder, tersier dan struktur kuarterner protein, tetapi struktur primer (ikatan
peptida) masih utuh. Fungsi protein secara biokimia tergantung pada tiga dimensi bentuknya
atau susunan senyawa yang terdapat pada asam amino. Hasil denaturasi adalah hilangnya
aktivitas biokimia yang terjadi di dalam senyawa protein itu sendiri. Denaturasi protein tidak
mempengaruhi kandungan struktur utama protein yaitu C, H, O, dan N, meskipun beberapa
protein mengalami kemungkinan untuk kehilangan kandungan senyawa mereka saat terjadi
denaturasi. Namun, kebanyakan protein tidak akan mengalami hal tersebut, hanya saja tidak
menutup kemungkinan juga protein akan mengalami perubahan struktur skala kecil saat
proses denaturasi terjadi. Bagaimanapun, untuk perubahan denaturasi secara umum,
prosesnya sama dan tidak dapat diubah. ( Stoker, 2010)

1

Ciri-ciri suatu protein yang mengalami denaturasi bisa dilihat dari berbagai hal. Salah
satunya adalah dari perubahan struktur fisiknya, protein yang terdenaturasi biasanya
mengalami pembukaan lipatan pada bagian-bagian tertentu. Sebagai contoh, apabila protein
kuarterner terdenaturasi menjadi primer, maka bentuknya akan berubah, dari yang
menggumpal-gumpal menjadi linear. Selain itu, protein yang terdenaturasi akan berkurang
kelarutannya. Lapisan molekul yang pada bagian protein yang hidrofobik akan mengalami
perubahan posisi dari dalam ke luar, sedangkan sisi protein yang hidrofilik akan berpindah
dari luar ke dalam. Hal ini akan membuat kelarutan protein berubah.
Panas dapat digunakan untuk mengacaukan ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik
non polar. Hal ini terjadi karena suhu tinggi dapat meningkatkan energi kinetik dan
menyebabkan molekul penyusun protein bergerak atau bergetar sangat cepat sehingga
mengacaukan ikatan molekul tersebut. Protein telur mengalami denaturasi dan terkoagulasi
selama pemasakan. Beberapa makanan dimasak untuk mendenaturasi protein yang dikandung
supaya memudahkan enzim pencernaan dalam mencerna protein tersebut. Pemanasan akan
membuat protein bahan terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini
terjadi karena energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada
pada struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan
peptida. Proses ini biasanya berlangsung pada kisaran suhu yang sempit. Denaturasi protein
dapat terjadi karena panas, penambahan asam dan basa, penambahan logam berat, atau
penambahan alkohol. Denaturasi dapat bersifat reversibel, yaitu jika suatu protein hanya
dikenai kondisi denaturasi yang lembut seperti perubahan pH.
Tujuan dari dilakukannya praktikum ini adalah agar praktikan mengetahui perubahan
sifat-sifat protein karena berbagai perlakuan dengan penambahan asam, basa dan pemanasan;
mengetahui ikatan peptida pada protein; dan mengetahui sifat koagulan protein, baik yang
amfoter maupun reversible.
METODOLOGI
Praktikum pengujian sifat fisik kimiawi protein ini dilaksanakan pada hari Jumat
tanggal 31 Oktober 2014, bertempat di Laboratorium TPHP, Lantai 2 Gedung 4 Fakultas
Pertanian, Universitas Padjadjaran.
Peralatan yang digunakan selama praktikum ini yaitu beaker glass yang berfungsi
sebagai tempat menaruh sampel, hot plate sebagai alat pemanas, pHmeter sebagai alat untuk
mengukur pH sampel, mortar sebagai alat untuk mengekstrak sampel, cawan petri sebagai

2

alat untuk meletakkan sampel, dan tabung reaksi sebagai tempat untuk menempatkan sampel
yang akan diberi perlakuan/diuji.
Bahan-bahan yang digunakan yaitu NH3 sebagai basa lemah, NaOH sebagai basa
kuat, H2SO4 sebagai asam kuat, CH3COOH, telur ayam mentah, ikan (daging, tulang dan
kulit), gelatin, dan pereaksi ninhidrin. Pada praktikum ini kelompok kami mendapat bahan
berupa tulang ikan dengan perlakuan asam kuat (H2SO4), basa kuat (NaOH), dan pemanasan.
Prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Disiapkan tiga tabung reaksi
Tulang ikan dihancurkan dengan mortar dan alu
Dimasukan pada masing-masing tabung reaksi ekstrak tulang

an asam kuat (H2SO4), tabung kedua ditambahkan 1 mL basa kuat (NaOH) dan tabung ketiga tidak

Ketiga sampel daging yang sudah diberi perlakuan, dipanaskan sampai mendidih

Ditambahkan dua tetes pereaksi ninhidrin

pH tulang ikan diukur dengan indikator pH

Hasil

HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Hasil pengamatan Laboratorium TPHP
Sampel
Daging
Ikan

pH awal

Perlakuan

pH = 6

Asam Kuat
(H2SO4)

Hasil

Saat awal perlakuan dengan penambahan asam,
daging berubah warna menjadi lebih putih, dan
larutan berwarna bening.
Setelah dipanaskan daging berwarna putih dan
hancur, bau amis ikan tidak menyengat, larutan
3

Sampel

pH awal

Perlakuan

Hasil

Basa Kuat
(NaOH)



Pemanasan

Asam Lemah
(CH3COOH)

Basa Lemah
(NH3)
Tulang
Ikan

pH = 7

Asam Kuat
(H2SO4)

Basa Kuat
(NaOH)

Pemanasan
Asam Lemah
(CH3COOH)
Basa Lemah
(NH3)
Kulit

pH = 7

Asam Kuat
(H2SO4)
Basa Kuat
(NaOH)


































putih keruh
pH = 1
Saat awal perlakuan,warna daging menjadi
sedikit kuning pudar, begitu pula dengan warna
larutan yang kuning pudar pula.
Setelah dipanaskan, larutan menjadi kuning
bening, bentuk fisik daging yang tetap utuh
warna bening, bau amis sangat menyengat.
pH = 13
Saat awal, daging masih terlihat segar dengan
warna yang agak putih kecoklatan.
Setelah pemanasan, warna daging berubah
menjadi putih pucat, daging menggumpal,
aromanya tidak berubah.
pH = 7
Daging berwarna putih pucat
Daging tidak menggumpal
Aroma asam
pH = 3
Daging tak menggumpal
Warna kuning
Aroma kurang menyengat
pH = 10
tulang hancur
tidak berbau
warna larutan : putih keruh
pH = 1
Tulang tak hancur
Tak berbau
Warna kuning keruh
pH= 13
Tulang utuh
Sedikit bau amis
pH = 6
Warna tulang tetap
Larutan putih pekat
pH = 3
Warna tulang kekuningan
Larutan keruh
pH = 11
tekstur kulit hancur tak beraturan
larutan bening
aroma standar
pH = 1
Tekstur kulit ikan hancur
Larutan kuning kecoklatan
Warna kulit menghitam
4

Sampel

pH awal

Perlakuan

Pemanasan

Asam Lemah
(CH3COOH)

Basa Lemah
(NH3)
Telur

pH = 11

Asam Kuat
(H2SO4)
Basa Kuat
(NaOH)
Pemanasan
Asam Lemah
(CH3COOH)

Basa Lemah
(NH3)

Hasil












pH = 13
Warna tetap
Aroma standar
Tak berlendir
pH = 7
Warna tetap
Aroma menyengat
Berlendir
pH =1
Warna tetap
Aroma standar
Tak berlendir
pH = 10


warna jadi putih berbusa
pH = 1








Warna pekat
Kental seperti jelly
pH = 13
Telur menggumpal tanpa busa
pH = 8
Warna berubah keputihan
Berbentuk padatan disertai busa
pH = 4
Terbentuk 2 lapisan :
Atas : cairan bening
Bawah endapan putih
pH = 10


Dari tabel pengamatan di atas, dapat dianalisis bahwa jika suatu protein diberi
perlakuan asam, basa dan pemanasan maka akan mengalami perubahan secara fisik dan
kimiawi karena mengalami denaturasi. Tulang ikan yang pada awalnya berwarna cokelat
muda, dengan pH awal 7, setelah diberi perlakuan asam (H 2SO4 dan CH3COOH) dan
dipanaskan, tulang menjadi hancur luluh, bau amis pada tulang menghilang, dan warna
larutan menjadi putih keruh. Hal ini menunjukkan bahwa protein mengalami denaturasi.
Perubahan ini terjadi karena protein pada tulang dapat bereaksi dengan asam sulfat. Adanya
perubahan warna disebabkan adanya senyawa yang mengandung kromatoform. Secara
teoritis, penambahan asam menyebabkan bertambahnya jumlah ion positif yang berasal dari
ion H+ asam yang kemudian berikatan dengan gugus COO- pada asam amino, sehingga
mengakibatkan perubahan struktur primer protein, yaitu gugus karboksil yang berikatan
5

dengan asam amino, tanpa merusak ikatan peptidanya. Dari hasil pengamatan, setelah
pemanasan, terjadi perubahan fisik protein pada tulang ikan, di mana tulang menjadi hancur
dan larutan menjadi berwarna putih keruh. Hal ini menunjukkan bahwa pemanasan itu akan
merusak struktur kuartener, tersier dan sekunder dari protein yang disebut dengan denaturasi.
Struktur protein yang tadinya kompleks berubah menjadi jauh lebih sederhana, yaitu hanya
berupa garis lurus linear. Penambahan asam juga menyebabkan pH tulang menjadi lebih asam
karena banyaknya ion H+ yang terikat pada gugus COO- dalam asam amino. Kemudian,
pereaksi ninhidrin ditambahkan untuk mengetahui ada atau tidaknya asam amino bebas yang
terdapat pada sampel, yang bila bereaksi positif akan menghasilkan zat berwarna biru ungu.
Namun, hal tersebut tidak terjadi, melainkan tulang tetap berwana putih keruh. Hal ini
menunjukkan bahwa struktur protein telah berubah, namun ikatan peptidanya tetap ada
sehingga tak ada asam amino bebas, karena telah berikatan dengan ion H+ yang berasal dari
asam.
Selanjutnya, protein diberi perlakuan basa, yaitu ditambahkan basa kuat (NaOH) dan
basa lemah (NH3). Ketika diamati, ekstrak tulang masih tetap utuh, tidak ada bau amis, dan
warna larutan menjadi kuning keruh. Hal ini juga menunjukkan terjadinya denaturasi protein.
Bau amis hilang karena struktur yang menyebabkannya (sekunder, tersier, atau kuarterner)
terpecah. Warna larutan berubah menjadi kuning keruh, karena pecahan-pecahan struktur
sekunder, tersier, dan kuarterner pada protein bercampur dengan larutan basanya. Secara
teoritis, penambahan basa akan menyebabkan bertambahnya ion negatif yang berasal dari ion
OH- basa kuat yang kemudian berikatan dengan ion H + yang berasal dari gugus amina NH3
pada asam amino, yang akan membentuk molekul air. Setelah perlakuan basa tersebut, baik
dengan basa kuat dan basa lemah lalu dipanaskan, menunjukkan reaksi yang sama.
Penambahan pereaksi ninhidrin adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya asam amino
bebas yang terdapat pada sampel. Dari hasil yang didapatkan, tidak terjadi perubahan warna
menjadi biru ungu, namun tetap berwana kuning bening. Artinya, tidak ada asam amino bebas
yang terbentuk (terlepas) dari protein.
Pada perlakuan pemanasan saja, tulang ikan tidak hancur (tetap utuh) dan masih ada
sedikit bau amis. Artinya, tulang ikan tidak mengalami denaturasi. Hal ini terjadi karena tidak
ada pengaruh dari zwitter ion yang berubah pada protein yang dapat mengacaukan jembatan
garam pada protein yang disebabkan oleh tidak terjadinya pengikatan ion antara kation
dengan gugus karboksil maupun anion dengan gugus amina. pH sampelnya pun hanya
berubah sedikit saja yang awalnya pH = 7 menjadi 6, karena ion-ion yang terdapat di
dalamnya terdapat dalam jumlah yang seimbang. Denaturasi tidak terjadi karena mungkin
6

pemanasan yang dilakukan kurang lama, sehingga struktur sekunder, tersier, dan kuarterner
protein tidak sempat terdenaturasi.
Kemudian, pada kelompok 1 dan 2 yang menggunakan sampel daging ikan sebagai
sampel protein yang diberi perlakuan asam, basa dan pemanasan maka daging ikan
mengalami perubahan secara fisik dan kimiawi. Daging ikan saat sebelum diberi perlakuan
apapun berwarna agak kecokelatan, beraroma amis khas ikan, dan memiliki pH awal = 6.
Setelah diberi perlakuan asam kuat (H 2SO4), terdapat perubahan fisik yang terjadi, di
mana daging ikan berubah menjadi berwarna agak putih dan larutannya bening. Secara
teoritis, penambahan asam akan menyebabkan bertambahnya ion positif yang berasal dari ion
H+ yang kemudian berikatan dengan gugus COO- pada asam amino sehingga mengakibatkan
perubahan struktur primer berupa berikatannya gugus karboksil yang merupakan gugus
bebas, tanpa merusak ikatan peptidanya, namun merubah ikatan hidrogen yang terdapat pada
struktur sekunder. Setelah perlakuan asam tersebut, baik dengan asam kuat dan asam lemah,
menunjukkan reaksi yang sama. Setelah perlakuan asam tersebut, maka tabung reaksi
dipanaskan beberapa saat sampai terlihat perubahan pada sampel. Dari hasil pengamatan,
setelah perlakuan pemanasan, terjadi perubahan fisik protein yang ditunjukkan oleh
perubahan fisik pada daging ikan, di mana tekstur daging menjadi agak hancur dan larutan
menjadi berwarna putih keruh serta aroma amis ikan menghilang. Hal ini menunjukkan
bahwa pemanasan pada protein akan merusak struktur kuartener, tersier dan sekunder yang
biasa disebut dengan denaturasi. Secara kimiawi, terjadi perubahan pH pada sampel, yang
awalnya netral, dengan penambahan asam ini daging menjadi asam karena banyaknya ion H+
yang terikat pada asam amino sebagai monomer penyusun protein. Penambahan pereaksi
ninhidrin adalah untuk mengidentifikasi adanya asam amino bebas yang terdapat pada
sampel, yang apabila bereaksi maka akan menghasilkan zat yang berwarna biru ungu. Namun
dari hasil yang didapatkan, maka tidak terjadi perubahan warna menjadi biru ungun, namun
tetap berwana putih, hal ini menunjukkan bahwa struktur protein telah berubah, namun ikatan
peptida tetap. Pada hasil akhir, didapatkan bahwa pH daging yang menggunakan asam kuat
adalah 1 dan pH daging yang menggunakan asam lemah adalah 3.
Setelah diberi perlakuan basa kuat (NaOH), menyebabkan perubahan fisik yang
mendasar, di mana daging ikan berubah menjadi berwarna kuning pudar dan larutannya yang
berwarna kuning pudar pula. Secara teoritis, penambahan basa akan menyebabkan
bertambahnya ion negatif yang berasal dari ion OH- yang kemudian berikatan dengan H+
yang berasal dari gugus amina NH3 pada asam amino, yang selanjutnya akan membentuk
molekul air. Setelah perlakuan basa tersebut, baik dengan basa kuat dan basa lemah,
7

menunjukkan reaksi yang sama. Setelah perlakuan basa tersebut, maka tabung reaksi
dipanaskan selama beberapa saat dan terlihat perubahan pada sampel. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa setelah dilakukan pemanasan, terjadi perubahan fisik, dimana daging
menjadi agak menggumpal, berwarna kekuningan, dan larutan kuning bening. Penggumpalan
ini terjadi karena adanya bagian hidrofobik dan hidrofilik yang saling melengkapi pada
bagian protein. Selain itu muncul pula bau amis ikan yang semakin menyengat. Secara
kimiawi, pH pada sampel berubah, yang awalnya netral, maka dengan penambahan basa ini
pH daging menjadi basa karena banyaknya ion OH- yang berikatan dengan H+ pada gugus
amina yang menyebabkan terbentuknya molekul air sehingga membuat larutan menjadi
banyak mengandung molekul air dan membuat larutan yang awalnya keruh menjadi kuning
bening. Penambahan pereaksi ninhidrin bertujuan untuk mengidentifikasi adanya asam amino
bebas yang terdapat pada sampel. Dari hasil yang didapatkan, dapat dikatakan bahwa tidak
terjadi perubahan warna menjadi biru-ungu, namun tetap berwana kuning bening. Hal ini
membuktikan bahwa tidak ada asam amino bebas pada sampel yang merupakan hasil dari
hidrolisis protein. pH akhir sampel pada basa kuat = 13 dan pada basa lemah = 10.
Pada perlakuan pemanasan saja, daging ikan mengalami perubahan secara fisik
berupa perubahan warna daging ikan menjadi putih pucat, daging jadi menggumpal dan
sedikit beraroma amis. Hal ini terjadi karena tidak ada pengaruh dari zwitter ion yang
berubah pada protein yang dapat mengacaukan jembatan garam pada protein, yang
disebabkan juga karena tidak terjadi pengikatan ion antara kation dengan gugus karboksil
maupun anion dengan gugus amina. pH sampelnya pun hanya berubah sedikit saja yang
awalnya pH = 6 menjadi 7 (netral). Hal ini menunjukkan bahwa ion-ion yang ada di dalam
daging ikan berada dalam jumlah yang seimbang.
Selanjutnya, pada kelompok 5 dan 6 yang menggunakan sampel kulit ikan,
didapatkan hasil sebagai berikut. Setelah kulit ikan ditambahkan asam kuat, maka pH
berubah menjadi 1. Hal ini terjadi karena ion H+ pada asam kuat berikatan dengan gugus
COO- pada protein sehingga terbentuk senyawa asam pada sampel. Hal ini menyebabkan pH
sampel menjadi turun drastis. Kemudian, setelah ditambahkan basa kuat, pH sampel naik
drastis menjadi 13. Hal ini disebabkan karena ion OH- pada basa kuat berikatan dengan
molekul NH2 pada molekul protein yang akan membentuk molekul amonia yang bersifat basa
pada sampel sehingga pH menjadi naik. Selanjutnya, baik pada penambahan asam kuat
maupun basa kuat, tekstur kulit ikan menjadi hancur, hal ini disebabkan proses denaturasi
yang dicirikan dengan terjadinya perubahan pH yang cukup drastis dalam prosesnya. Pada
perlakuan sampel dengan pemanasan saja, kulit menjadi tetap utuh, menjadi berlendir dan pH
8

menjadi 7. Hal ini disebabkan karena ikatan hidrogen dalam molekul protein terputus
sehingga menyebabkan munculnya molekul air. Lendir yang timbul terjadi karena ada
mekanisme tertentu yang dilakukan oleh kulit ikan untuk mencegah keluarnya air. Pada
penambahan asam lemah dan basa lemah, tidak terjadi perubahan stuktur dari protein secara
signifikan. Hal ini dapat diartikan bahwa proses denturasi pada protein berlangsung lambat.
Ini dibuktikan dengan tekstur kulit yang masih utuh. Namun pada penambahan asam lemah,
pH kulit setelah perlakuan sama dengan pH pada penambahan asam kuat yaitu 1. Ini dapat
disebabkan karena jumlah ion H+ bertambah. Setelah perlakuan dengan penambahan basa
lemah, pH sampel menjadi 10 yang diakibatkan oleh penambahan atom H pada gugus NH 2
dalam protein yang kemudian membentuk senyawa NH3, yang bersifat basa.
Selanjutnya pada kelompok 7 dan 8 yang menggunakan sampel telur ayam,
didapatkan hasil sebagai berikut. Setelah telur ditambahkan asam kuat, maka pH berubah
menjadi 1. Hal ini terjadi karena larutan asam kuat mengikat molekul protein pada telur
sehingga pH menjadi turun drastis. Sedangkan setelah ditambahkan basa kuat, pH sampel
naik drastis menjadi 13. Hal ini dikarenakan larutan basa kuat mengikat protein pada telur
sehingga pH menjadi naik. Selanjutnya, setelah dipanaskan, albumin telur menjadi
menggumpal. Hal ini menunjukkan telah terjadi denaturasi, yaitu proses perubahan susunan
ruang atau polipeptida penyusun akibat pemanasan. Ini dapat terjadi karena jika larutan
protein dipanaskan perlahan-lahan, maka larutan tersebut akan menjadi keruh dan
membentuk koagulasi. Koagulasi sendiri merupakan pengembangan dari rantai polipeptida
yang akan membuka gugus reaktif yang sama atau berdekatan. Putih telur yang mengandung
albumin berkoagulasi menjadi padatan putih dengan adanya proses pemanasan. Setelah
ditambahkan pereaksi ninhidrin, warna larutan berubah menjadi ungu. Hal ini terjadi karena
molekul ninhidrin dan atom nitrogen bereaksi membentuk warna ungu. Artinya, terdapat
asam amino bebas pada larutan.
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa struktur
protein dapat berubah atau terdenaturasi karena adanya faktor reaksi kimia yang dihasilkan
dari reaksi dengan larutan asam kuat, basa kuat dan adanya proses pemanasan. Berubahnya
struktur protein terjadi pada saat struktur sekunder, tersier, dan kuarterner protein dalam
sampel menjadi struktur primer. Hal ini dapat diamati pada perlakuan sampel dengan asam
dan basa, sedangkan pada perlakuan pemanasan tidak terjadi. Kemungkinan besar,

9

pemanasan yang dilakukan oleh kelompok dengan sampel tulang ikan dan kulit ikan kurang
lama sehingga protein yang terdapat di dalamnya belum sempat terdenaturasi.
DAFTAR PUSTAKA
Colby, D. S., 1985, Ringkasan Biokimia, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Fessenden dan Fessenden. 1989. Kimia Organik Jilid 2. Ed. 3. Jakarta: Erlangga. Hal. 395
Frederick A B, William H, Brown, dkk. 2010. Introduction to general, organic, and
biochemistry. Kanada : Nelson Education Ltd.
Girindra, A. 1986. Biokimia I. Gramedia, Jakarta.
Page, D.S. 1997. Prinsip-prinsip Biokimia. Erlangga: Jakarta
Rochima,Emma,dkk. 2013. Modul Praktikum Biokimia Perairan. Jatinangor : Universitas
Padjajaran Press
Stoker, H. Stephen. 2010. General, Organic, And Biological Chemistry Fifth Edition Page
684 . Cengage Learning : Belmont, CA USA

10

LAMPIRAN
Lampiran 1. Dokumentasi Praktikum Sifat Fisik Kimiawi Protein

Gambar 1. Sampel sebelum dipanaskan

Gambar 2. Sampel setelah dipanaskan

Gambar 3. pH sampel pada kertas lakmus

11