You are on page 1of 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dermatitis adalah penyakit kulit gatal-gatal, kering, dan
kemerahan. Dematitis juga dapat didefinisikan sebagai peradangan
pada kulit, baik karena kontak langsung dengan zat kimia yang
mengakibatkan iritasi, atau reaksi alergi.
Dengan kata lain, dermatitis adalah jenis alergi kulit. Selain
penyebab bahan-bahan kimia, sering kali dermatitis terjadi ketika kulit
sensitive kontak langsung dengan perhiasan logam biasanya emas
dengan kadar rendah atau perhiasan perak dan kuningan. Jika Anda
mengalami kulit kering dan gatal, tidak ada salahnya untuk
berkonsultasi pada dokter, apakah yang terjadi pada kulit Anda
teridentifikasi dermatitis.
Jika Anda teridentifikasi dermatitis, maka pertama kali yang
harus Anda ketehui adalah penyebab dari penyakit kulit tersebut.
Pastikan Anda menghindari penyebab dari iritasi dan alergi. Jangan
pernah menggaruk, meskipun rasa gatal tidak tertahankan. Sebab
menggaruk tidak akan membuat hilang rasa gatal, melainkan akan
memperparah ketidaknyamanan Anda. Sebab menggaruk akan
menyebabkan kulit lebih rentan terhadap infeksi kulit dan penyakit
kulit lainnya. Biasanya rasa gatal timbul karena area kulit tersebut
kering maka gunakan pelembab untuk mengurangi rasa gatal.
Gunakan obat kulit untuk dermatitis, juga akan membantu mengurangi
rasa gatal.
Dermatitis tidak hanya terjadi pada orang dewasa tetapi juga
pada anak-anak. Tipe dermatitis yang sering terjadi pada anak-anak
yaitu dermatitis atopik yang meruapakan suatu gejala eksim terutama
timbul pada masa kanak-kanak. GeJala ini biasanya timbul pada usia
sekitar 2 bulan sampai 1 tahun den sekitar 85% pada usia kurang dari
5 tahun. Pada keadaan akut, gejalanya berupa kulit kemerahan, kulit
melenting berisi cairan, basah dan sangat gatal. Kadang-kadang
disertai infeksi sekunder yang menimbulkan nanah.

1.2 Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Definisi Dermatitis Atopik?
Epidemiologi Dermatitis Atopik?
Etiologi Dermatitis Atopik?
Klasifikasi Dermatitis Atopik?
Patofisiologi dan WOC Dermatitis Atopik?
Manifestasi klinis Dermatitis Atopik?

7. Pemeriksaan penunjang Dermatitis Atopik?
8. Penatalaksanaan Dermatitis Atopik?
9. Pencegahan Dermatitis Atopik?
10. Komplikasi Dermatitis Atopik?
11. Asuhan keperawatan pada Dermatitis Atopik?
1.3 Tujuan
Agar mahasiswa dapat memahami tentang penyakit Dermatitis
Atopik secara keseluruhan juga dapat memberikan gambaran klinis
tentang pelaksanaan askep pada klien anak,remaja maupun dewasa
dengan metode keperawatan.

BAB II

Gejala eksim akan mulai muncul pada masa anak anak terutama saat mereka berumur diatas 2 tahun.2 Klasifikasi Dermatitis Atopik 1. Dengan pengobatan yang tepat. Lesi lebih kering dari pada fase bayi.TINJAUAN TEORI 2. papul. muka dan leher. leher dan badan bagian atas berupa papul dan vesikel di atas macula yang eritematus yang akhirnya akan menjadi lesi yang eksudatif sehingga terbantuk krusta. fosa poplitea.1 Definisi Dermatitis Atopik Merupakan keradangan kulit. Lokasi terutama di fosa kubiti. Keradangan ini bisa terjadi dimana saja namun yang paling sering terkena adalah tangan dan kaki. Lokasi pada scalp. Dermatitis adalah istilah kedokteran untuk kelainan kulit yang mana kulit tampak meradang dan iritasi. Jenis eksim yang paling sering dijumpai adalah eksim atopik atau dermatitis atopik. muka. asma bronkial. namun tidak sedikit pula yang akan menderita seumur hidupnya. rhinitis alergika. anak. 2. menahun. Pada beberapa kasus. Dermatitis atopic pada bayi Biasanya mulai 2 bulan samapai 2 tahun (terapi dapat pula tampak sejak lahir). 3. penyakit ini dapat dikendalikan dengan baik sehingga mengurangi angka kekambuhan. dermatitis atopic padaanak Mulaiumur 2-10 tahun. tampak macula eritematus. pergelangan tangan. dermatitis atopic padadewasa . yang bersifat gatal. dewasa dan pada penderita sering didapatkan riwayat atopi pada dirinya sendiri atau pada keluarganya berupa Dernatitis Atopik (DA). dan dapat terjadi pada bayi. ekskoriasi. eksim akan menghilang dengan bertambahnya usia. 2. residif.

menyingkirkan lemak lapisan tanduk. Masa inkubasi sesudah terjadi sensitisasi permulaan terhadap suatu antigen adalah 5-12 hari. atau rinitis alergika. Pada EPR. Beberapa factor yang berpengaruhi antara lain : factor imunologi. genetic. dan mengubah daya ikat air kulit. disamping berkhasiat sebagai antihistamin generasi 1 juga berkhasiat dalam pencegahan penarikan sel meradang pada dinding pembuluh darah di tempat molekul adhesi berada. leher dan pergelangan tangan berupa papul. asma. Diduga pada patogenesis DA terdapat erlipase reaksen (EPR) dan latepase reaction (LPR). fosa poplitea. Penyebab dermatitis atropik belum di ketahui dengan jelas. Sebagian anak dengan eksema juga mengalami asma atau rinitis alergika. Sesudah itu dilanjutkan dengan LPR yaitu timbulnya ekspresi beberapa molekul adesi pada dinding yang dipengaruhi beberapa sitokin pada EPR. Antihistamin generasi 2.Lokalisasi pada fosa kubiti. Bahan iritan ataupun allergen yang masuk ke dalam kulit merusak lapisan tanduk. Devisiensi imuologi berupa peningkatan immunoglobulin E dan gangguan fungsi limfosit T. Keadaan ini akan . namun jika salah satu atau lebih anggota keluarga mengalami eksema. setelah allergen terikat pada immunoglobulin E yang terdapat pada permukaan sel mast. dan gangguan biokimiawi. denaturasi keratin. juga didapatkan DA dermatitis atropik. baik pada bagian dermis ataupun epidermis yang disebabkan oleh beberapa zat alergen ataupun zat iritan. Sel radang akan tertarik pada dinding pembuluh darah di tempat molekul adesi berada.4 Epidemiologi Dermatitis Atopik Dermatitis merupakan peradangan pada kulit. sedangkan masa reaksi setelah terkena yang berikutnya adalah 12-48 jam. vesikel dan likenifikasi. maka anak Anda memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami eksema dibanding populasi umum. 2. terjadilah deganugrasi pada sel mast sehingga terjadi pengeluaran histamine dan beberapa sitokin. Akhirnya sel radang akan keluar dan pembuluh darah menuju jaringan sehingga timbul reaksi radang. Zat tersebut masuk kedalam kulit yang kemudian menyebabkan hipersensitifitas pada kulit yang terkena tersebut.3 Etiologi Dermatitis Atopik Penyebab eksema tidak diketahui. 2.

bentuk anak dan bentuk dewasa. Lesi selalu kering dan terdapat berlikenifikasi. tempat dan luas daerah yang terkena dan adanya penyakit kulit lain. Adapun faktor-faktor yang ikut mendorong perkembangan dermatitis adalah gesekan. Dengan pengobatan yang tepat. Distribusi ialah di tengkuk serta di daerah fleksor kubital dan poplitea. B. dahi.5 Manifestasi Klinis Dermatitis Atopik Gejala eksim akan mulai muncul pada masa anak anak terutama saat mereka berumur diatas 2 tahun. namun tidak sedikit pula yang akan menderita seumur hidupnya.merusak sel dermis maupun sel epidermis sehingga menimbulkan kelainan kulit atau dermatitis. Kadang-kadang terlihat kulit sangat kering dan hyperkeratosis folikularis. fleksor kubital dan poplitea. dapat disertai papul-papul dan veksikel-veksikel miliar. Bentuk infatil (2 bulan. C. dapat mulai berlikenifikasi dengan hipopigmentasi. sebab bila air susu jatuh di pipi akan membuat penyakit lebih berat . macerasi. 2. Efloresensi tidak eksudatif lagi. Bentuk dewasa ( 13-30 tahun ) Pada anamnesis terdapat bentuk infantile dan bentuk anak. Dermatitis atopik terdiri atas tiga bentuk. balutan. Pada beberapa kasus. tekanan. penyakit ini dapat dikendalikan dengan baik sehingga mengurangi angka kekambuhan. yakni bentuk infantil. Subjektif selalu terdapat pruritus. A. panas dan dingin. Bentuk anak (3-10 tahun ) Pada anamnesis terdapat bentuk infantile. eksim akan menghilang dengan bertambahnya usia. eksudatif dan berkrusta. bagian fkesor kubital dan fleksor poplitea. . kemudian menjadi erosive.2 tahun) Nama awam ialah eksema susu. Tempat predileksi: tengkuk. Tempat predileksi : pipi. kelainanan kulit berupa eritema berbatas tegas.

yang mengenai wajah. terdapat pula beberapa faktor etiologi lain. FcεRII dan IgE. atau sangat mengelupas. lebih dari 3 minggu. 5. Dermatitis Atopik. Fenomenem sensitisasi disebabkan oleh alergen per ingestionem. Timul vesikel (tonjolan kecil berisih cairan jernih). 2. 2. Terdapat tanda-tanda infeksi. 6. meliputi area yang besah atau adanya pus.Harus diperhatikan juga tentang gejala lainnya yang mungkin dapat membantu mengenali dermatitis bila seseorang mengalaminya. Pasien adalah anak-anak atau usia lanjut. keras dan kaku. lengan dan kaki. 7. daerah yang tertutup popok. per inhalationem atau dengan kontak langsung. Ruam menyebar dan mengakibatkan rasa tidak nyaman yang berlangsung 4.6 Patogenesis Ditangkap IgE pada permukaan sel mast Gangguan sawar kulit mutasi FLG (filaggrin) Antigen terpajan pada individu dengan kecenderungan atopi Ditangkap IgE sel Langerhans (reseptor FcεRI. Kulit menjadi sangat kering.binding protein . mudah teriritasi (irritable). Selain terdapat faktor herediter (stigmata atopik). Kulit terbuka. Adapun gejalagejalanya sebagai berikut : 1. muncul pada beberapa bulan pertama setelah bayi lahir. meradang atau sangat merah disertai rasa terbakar atau panas disekitar daerah yang terinfeksi. Penderita biasanya gugup. Gatal-gatal . 3. Terdapat bagian bersisik putih diarea terebut. tangan. Banyak faktor psikologik dan psikosomatik dapat mejadi faktor pencetus.

serta basofil. IL-3 IgE mediated. Gangguan barier epitel 1) a. Namun.mediated) Fase inisial /segera: Vasodilatasi Kebocoran vaskuler Tergantung lokasi: spasma otot polos. sekresi glandular Fase rekasi lambat: reaksi . IL-9. IL-13 dan GMCSF. kode IL-3. Reaksi Hipersensitivitas Tipe 1: melibatkan IgE dan sel mast. juga dapat melibatkan hipersensitivitas tipe 4 yang dimediasi oleh sitokin sel T 2. IL-4.sebukan sel eosinofil Gen 5q31 meng. IL-5. TNF.6P mengkode HLP Presentasi ke nodus limfa periferdiferensiasi sel T naif TH 1: IFN.Cross -linking IgE dengan reseptor FcεRI IgE-afinitas tinggi dengan FcεRI sel basofil- Kerja sama dengan MHC II pengeluaran histamine secara spontan oleh sel basofil Degranulasi sel-mast pengeluaran histamin dan faktor kemotaktik lainnya Reaksi hipersensitf tipe cepat.delayed typehypersensitivitysebukan sel neutrofil Mengenai patogenesis dermatitis atopik terdapat dua teori 1. Reaksi hipersensitivitas Tipe I (IgE. b.ɣ. IL2. c. IL_5. IL-17 TH 2: IL-4.

n basofil.R) pada permukaan 2. dan sel T CD 4+ b. Fase sensitisasi: waktu yang dibutuhkan untuk membentuk IgE sampai diikat siang oleh reseptor spesifik (FcE . Kerusakan jaringan. IL-4 : stimulasi sel B aktif dan diferensiasinya menjadi sel . Fase aktivasi: 1) Waktu anatara pajanan dengan antigen spesifik hingga degranulasi sel mast 2) Ion Ca masuk ke dalam sel mast menjadi cGMP & 3. proliferasi. misalnya mukosa Tiga tahapan utama reaksi hipersensitivitas Tipe I (Anafilaktik) 1. Infiltrasi jaringan oleh eosinofil.a. dan diferensiasi sel T naïf 2. monosit. IL-2 : pertumbuhan. Fase cAMP >> degranulasi sel mast efektor: waktu terjadi respons yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek mediator-mediator yang dilepas oleh sel mast /basophil Fungsi dari beberapa interleukin yang berperan antara lain: 1.

. Mutasi gen filament-aggregating protein filaggrin (1q21. laktasi. d. 2. Hilangnya ceramide ( molekul utama pengikat air di ruang ekstraselular stratum korneum) : transepidermal water loss (TEWL) -> kulit kering-> port d' entree penetrasi alergen. meningkatkan presentasi MHC kelas II.macula eritematous. dan jumlah anggota keluarga yang akan menyebabkan terjadinya Dermatitis Atopik bisa juga karena akibat bahan kimia yang akan menyebabkan iritasi dan alergi dan dapat terjadi peningkatan IgE eosinofil setelah itu terjadi pelepasan hhistamine pada tubuh yang akan mereaksi hipersentivitas I yang menimbulkan tanda seperti pruritas hebat. meningkatkan sekresi imunoglobulin. sosio ekonomi. Gangguan Barier Epitel a. aktivasi eosinofil Fungsi Th2 lebih dominan dari pada Th1 pada dermatitis atopik 3.plasma yang menghasilkan IgE. iritasi.papula vesikel dan lesi bisa menimbulkan masalah keperawatan gangguan citra tubuh dan kerusakan integritas kulit.3) : abnormalitas template sitoskeleton keratin. polusi lingkungan. Membran tersebut berfungsi sebagai penghalang air dan diperlukan untuk fungsi sawar kulit yang semestinya. menurunkan produksi sel Th1 3. IL-5 : Stimulasi pertumbuhan sel B.7 Patofisiologi Dermatitis Atopik Dari faktor predisposisi seperti genetic. bakteri dan virus b. Badan lamellar berperan dalam pembentukan membran kedap air yang mengandung lipid. Infeksi bakteri : serinG oleh Staphylococcus aureus c. Variasi pH kulit : menganggu maturasi badan lamellar/ granula lamellar yang akan disekresi keratinosit. papul vesikel dan lesi dimana pruritus hebat akan memunculkan masalah keperawatan perubahan rasa nyaman dan gangguan pola tidur dan pada macula eritematous.

eosinofil meningkat Pelepasan histamine Reaksi hipersensitivitas I Pruritus hebat Macula eritematous Papul vesikel Lesi .8 WOC Faktor predisposisi : 1. 2. Genetic Laktasi Sosio ekonomi Polusi lingkungan Jumlah anggota keluarga DERMATITIS ATOPIK Bahan iritasi dan alergen IgE. 4. 5. 3.2.

2. Uji kultur dan sensitivitas uji ini perlu dilakukan untuk mengetahui adanya virus. segera bawa ke laboratorium untuk dilakukan uji pemeriksaan. Cara pengambilan bahan untuk uji kultur adalah dengan mengambil eksudat yang bterdapat pada permukaan lesi. klien tidak memerlukan persiapan khusus. Setelah bahan kultur siap. Sebelum dan sesudah melakukan biopsy. Artinya dalam melakukan pemeriksaan 2. uji ini juga digunakan untuk mengetahui apakah mikroorganisme tersebut resisten terhadap obat-obatan tertentu sehingga dalam proses pengobatan dapat di pilih jenis dan cara terapi yang lebih tepat. Biopsi kulit adalah pemeriksaan dengan cara mengambil contoh jaringan dari kulit yang terdapat lesi. Apabila jaringan yang diambil cukup dalam. Akan tetapi.9 Pemeriksaan Penunjang Dermatitis Atopik 1. perlu dikaji apakah klien atau keluarga memiliki riwayat alergi.10 Penatalaksanaan Dermatitis Atopik . Dalam proses pengambilan biopsi kulit. Hal ini penting agar bahan untuk pemeriksaan tidak terkontaminasi. Di samping itu. bakteri atau jamur pada kulit yang diduga mengalami kelainan. kita perlu menggunakan anestesi local. Biopsi kulit ini digunakan untuk menentukan apakah ada keganasan atau infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan jamur. Hal ini perlu dilakukan karena klien akan menggunakan zat-zat anestesi local. Pemeriksaan dengan menggunakan pencahayaan khusus. petugas kesehatan perlu mengomunikasikan tindakan yang dilakukan.Perubahan rasa nyaman Gangguan pola tidur Gangguan citra tubuh Kerusakan integritas kulit 2. 3.

sehari 2-3 kali Anak : 0.5-1 mg/dosis. Diusahakan agar penderita tidak menggaruk kulit. Dewasa : 10-20 mg/dosis. sehari 3 kali b.09 mg/kg/dosis. Hal ini disebabkan kulit yang kering meningkatkan rasa gatal. Pengobatan sistemik 1. mencegah udara dengan kelembaban yang rendah. sehari 3-4 kali p. Cetirizine : 10 mg/dosis. Loratadine : 10 mg/dosis.o 2.o Anak : 15-25 mg/dosis. diet (makanan yang menimbulkan kekambuhan). mencegah perubahan suhu yang mendadak.o d.o . mencegah terlalu sering disabun.m. Dexamethasone Dewasa : 0. sehari 3 kali Anak : 0.1% c) Antibiotik : hanya diberikan apabila ada infeksi sekunder d) Erytrhromycine : Dewasa : 250-500 mg/dosis. Kortikosteroid Hanya untuk khusus yang akut dan berat. sehari 1 kali p. Prednisone Dewasa : 5-10 mg/dosis. diberi pelembab (Urea 10%) kemudian diberi kontrikosteroid yaitu emolien hydrocortisone acetat. dan menggunakan sabun pH netral dan pelembab. menghindari pemakaian wool atau pakaian yang terlalu ketat. sehari 3 kali p.5 mg/kg/dosis. sehari 3 kali p. sehari 3 kali p.1 mg/KgBB/hari Pengobatan Topikal Tergantung pada keadaan lesi : a) Akut dan eksudatif diberi kompres dengan larutan faali b) Kering dan tidak eksudatif. Diphenhydramine HCl i. Antihistamin a. emolien diflucortolone valerat atau betamethasone valerat 0.o Anak : 0. sehari 1 kali p. mengendalikan emosi.o c. Chlorpheniramine maleat Dewasa : 3-4 mg/dosis. diberikan dalam jangka pendek. dihentikan secara bertahap (tapering-off) a.Menghindari factor penyebab eksaserbasi antara lain : menjaga agar kulit tidak kering misalnya. sehari 2-3 kali Anak : 1 mg/KgBB/hari b.

Hal ini harus dicurigai jika ada eksema yang berkerak. Siklus gatal-gatal bisa membuat orang terbangun berulang kali dan akibatnya menurunkan kualitas tidur . Bakteri menyebabkan infeksi pada keadaan ini umumnya adalah staphylococcus aureus. dan menggunakan sabun pH netral dan pelembab. basah berair. kemerahan. mengendalikan emosi. Dermatitis tangan : sering kali terjadi pada orang yang bekerja menggunakan tangannya dan terkena pajanan langsung dengan sabun keras.2. Hal ini disebabkan kulit yang kering meningkatkan rasa gatal. 2. Asma dan hey fever : kondisi ini sering terjadi pada oenderita eksim atopik biasanya muncul terlebih dahulu sebelum kedua kondisi ini 3. Infeksi kulit : ketika kulit terluka akibat digaruk karena gatal. terutama anan-anak cenderung mengalami kesulitan tidur. 4. pecah-pecah. dan gatal. Selain oleh bakteri. diet (makanan yang menimbulkan kekambuhan).11 Pencegahan Dermatitis Atopik Menjaga agar kulit yang tidak kering misalnya mencegah perubahan suhu yang mendadak. Banyak unsur atau senyaawa yang bisa membuat kulit mengalami reaksi alergi. Diusahakan agar penderita tidak menggaruk kulit. mencegah terlalu sering disabun. atau mengalami ekskoriasi. mencegah udara dengan kelembapan yang rendah. resiko terjadinya infeksi kulot dari bakteri maupun virus yang meningkat 2. Dermatitis kontak : kondisi ini sering terjadi pada penderita eksim atopik. Gangguan tidur : penderita eksim atopik. menghindari pemakaian wool atau pakaian yang terlalu ketat.12 Komplikasi Dermatitis Atopik Eksema yang terinfeksi oleh bakteri adalah komplikasi yang umum terjadi. eksema juga dapat terinfeksi pleh virus. Bintik-bintik ini kemudian dapat bernanah atau berkikis. Infeksi virus Herpes Simplex 1 (HSV 1) ditandai dengan munculnya bintik-bintik kecil yang berkelompok secara tiba-tiba. deterjen atau bahan kimia 6. nyeri. berisi cairan bening atau putih. 1. Gangguan pada mata : komplikasi mata akan terjadi jika eksim menyerang sekitar kelopak mata 5. mengeluarkan nanah.

Pada reaksi berat terdapat ulceration. yaitu : a. c. Riwayat infeksi yang berulang-ulang. Rasional : Dengan mandi air akan meresap dalam saturasi kulit. Pengkajian Anak dengan dermatitis yang perlu dikaji. Segera oleskan salep atau krim yang telah diresepkan setelah mandi. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kekeringan pada kulit 2. Mandi lebih sering jika tanda dan gejala meningkat. Kaji faktor penyebab terjadinya gangguan kulit. Kaji faktor yang memperparah. Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan pruritus C. Berkurangnya derajat pengelupasan kulit c. Mengungkapkan peningkatan kenyamanan kulit b. Berkurangnya lecet karena garukan e. d. Kaji pengetahuan orang tua tentang faktor penyebab dan metode kontak.7. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang muncul pada anak dengan dermatitis.13 AsuhanKeperawatan A. e. Kaji peningkatan stress yang diketahui pasien. 2) Mandikan anak paling tidak sekali sehari selama 15 – 20 menit. Hiperaktif : anak dengan eksim lebih rentan mengalami masalah dengan perilaku seperti ADHD (attention deficit/hyperactivity disorder) terutama jika sering kekurangan tidur 2. B. i. Pada reaksi ringan kulit terlihat merah dan terdapat vesicle. Resiko kerusakan kulit berhubungan dengan terpapar allergen 3. ditandai dengan : a. g. Gangguan integritas kulit b/d kekeringan pada kulit Tujuan : klien/orang tua akan mempertahankan kulit klien agar mempunyai hidrasi yang baik dan turunnya peradangan. b. h. . Intervensi 1. Pengkajian KONSEP DASAR KEPERAWATAN A. Pengolesan krim pelembab selama 2 – 4 menit setelah mandi untuk mencegah penguapan air dari kulit. Kaji tanda-tanda infeksi. f. Berkurangnnya kemerahan d. Penyembuhan area kulit yang telah rusak Rencana Tindakan Keperawatan : 1) Kaji keadaan kulit Rasional : Mengetahui dan mengidetifikasi kerusakan kulit untuk melakukan intervensi yang tepat. Kaji adanya pruritas dan burning. yaitu : 1.

Hindari mandi busa. Rasional : Salep atau krim akan melembabkan kulit. bila memungkinkan. ditandai dengan Menghindari allergen Rencana Tidakan Keperawatan : 1) Ajari orang tua dan anak untuk menghindarkan atau menurunkan paparan terhadap alergen yang telah diketahui pada anak. Rasional : menghindari alergen akan menurunkan respon alergi . 3. Resiko kerusakan kulit b/d terpapar allergen Tujuan : Klien/orang tua akan mempertahankan integritas kulit klien. Perubahan rasa nyaman b/d pruritus Tujuan : Klien menunjukkan berkurangnya pruritus. sabun kering dapat meningkatkan keluhan. Rasional : jika alergi terhadap bulu binatang sebaiknya hindari memelihara binatang atau batasi keberadaan binatang di sekitar area rumah 4) Gunakan penyejuk ruangan (AC) di rumah. Rasional : AC membantu menurunkan paparan terhadap beberapa alergen yang ada di lingkungan. Rasional : dengan mengetahui proses fisiologis dan psikologis dan prinsip gatal serta penangannya akan meningkatkan rasa kooperatif. Berkurangnya lecet akibat garukan b. Rasional : menghindari alergi makanan. 3) Hindari anak dari binatang peliharaan. Rasional : Sabun yang mengandung pelembab lebih sedikit kandungan alkalin dan tidak membuat kulit kering.2) Anjurkan orang tua dan anak membaca label makanan kaleng agar anak terhindar dari bahan makanan yang mengandung allergen.3) Anjurkan orang tua dan anak untuk menggunakan sabun yang mengandung pelembab atau sabun untuk kulit sensitive pada anak. Klien tidur nyenyak tanpa terganggu rasa gatal c. 2. Klien mengungkapkan adanya peningkatan rasa nyaman Rencana Tidakan Keperawatan : 1. ditandai dengan a. Jelaskan pada orang tua dan anak gejala gatal berhubungJelaskan pada orang tua dan anak gejala gatal berhubungan dengan penyebabnya (misal keringnya kulit) dan prinsip terapinya (misal hidrasi) dan siklus gatalgaruk-gatal-garuk. 4) Kolaborasi dalam pemberian salep atau krim yang telah diresepkan 2 atau tiga kali per hari pada anak. .

2. 4) Menganjurkan orang tua dan anak untuk menggunakan sabun yang mengandung pelembab atau sabun untuk kulit sensitive pada anak. 3. 2) Menganjurkan orang tua dan anak untuk mencuci semua pakaian sebelum digunakan untuk menghilangkan formaldehid dan bahan kimia lain serta hindari menggunakan pelembut pakaian buatan pabrik. 5) Berkolaborasi dalam pemberian salep atau krim yang telah diresepkan 2 atau tiga kali per hari pada anak. Anjurkan orang tua dan anak untuk mencuci semua pakaian sebelum digunakan untuk menghilangkan formaldehid dan bahan kimia lain serta hindari menggunakan pelembut pakaian buatan pabrik. Segera oleskan salep atau krim yang telah diresepkan setelah mandi. 3) Menganjurkan orang tua dan anak untuk menggunakan deterjen ringan dan bilas pakaian untuk memastikan sudah tidak ada sabun yang tertinggal. Menghindari mandi busa. bila memungkinkan. Implementasi 1. 2) Menganjurkan orang tua dan anak membaca label makanan kaleng agar anak terhindar dari bahan makanan yang mengandung allergen. Mandi lebih sering jika tanda dan gejala meningkat. . 4) Menggunakan penyejuk ruangan (AC) di rumah. 3) Menggunakan air hangat untuk memandikan anak. 3. Rasional : bahan yang tertinggal (deterjen) pada pencucian pakaian dapat menyebabkan iritasi D. Anjurkan orang tua dan anak untuk menggunakan deterjen ringan dan bilas pakaian untuk memastikan sudah tidak ada sabun yang tertinggal. Resiko kerusakan kulit b/d terpapar allergen 1) Mengajari orang tua dan anak untuk menghindarkan atau menurunkan paparan terhadap alergen yang telah diketahui pada anak. 3) Menghindari anak dari binatang peliharaan. Gangguan integritas kulit b/d kekeringan pada kulit 1) Mengkaji keadaan kulit 2) Memandikan anak paling tidak sekali sehari selama 15 – 20 menit. 2. Rasional : pruritus sering disebabkan oleh dampak iritan atau allergen dari bahan kimia atau komponen pelembut pakaian. Perubahan rasa nyaman b/d pruritus 1) Menjelaskan pada orang tua dan anak gejala gatal berhubungan dengan penyebabnya (misal keringnya kulit) dan prinsip terapinya (misal hidrasi) dan siklus gatal-garuk-gatal-garuk.

Klien mengatakan saat Gatal–gatal yang diderita klien.B dan hasilnya (-).30 WIB. Indonesia Jeniskelamin : Laki-laki Agama : Islam Status : Nikah Pendidikan : SMA Pekerjaan : Wiraswasta Suku bangsa : Jawa / Indonesia . Dilakukan pemeriksaan Biopsi kulit pada Tn. 3. Evaluasi Integritas kulit dapat dipertahankan Tidak terjadi kerusakan kulit Tidak terjadi perubahan rasa nyaman BAB III APLIKASI TEORI Kasus: Tn.E. 2. 1. dan meminun obat yang diberikan oleh mantri saat ia berobat.. Lesi pada daerah garutan terutama di pergelangan tangan.BB : 60 kg TB : 153 Cm.B tersebut ada yang memiliki riwayat alergi terutama pada kakak laki-lakinya belum hampir 2 bulan terkena alergi. muka dan leher. Biodata pasien: Nama : Tn. RR : 27 X/mnt dan saat dikaji bahwa dalam keluarga Tn.kemerahan pada kulit dan terkelupas saat di garuk saat waktu-waktu tertentu paling sering mucul saat tidur dan setelah bagian yang terasa gatal di garuk olehnya makin menjalar kebagian yang ada disekitarnya setiap rasa gatal itu muncul dia merasa gelisah dan cemas karna timbul perasaan negative tentang tubunya yang akan menjadi jelek dan berubah tidak seperti dulu lagi.nadi : 90 X/mnt. “B” Umur : 25 Th Suku/bangsa : Jawa. B umur 25 Tahun datang ke rumah sakit islam surabaya masuk IGD tanggal 25 Agustus 2013 pukul 08. suhu : 36oC.TD : 90/60 mmHg . dengan keluhan adanya gatal – gatal yang hebat.klien hanya mengoleskan minyak kayu putih dan Balsem. Sudah terjadi selama 3 minggu terakhir dia mengatakan bahwa tangannya selama sakit mengeluh gatal. Pengkajian A.

klien hanya mengoleskan minyak kayu putih dan Balsem. Saat klien menggaruk kulitnya . Hibrida Raya No. Berat ringannya keluhan Klien mengatakan gatal –gatal yang di derita pasien adalah gatal hebat yang dapat mengganggu aktivitas klien. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya Klien mengatakan saat Gatal–gatal yang diderita klien.Alamat : Jl. Lokalisasi dan sifatnya Pasien mengatakan gatal pada daerah kulitnya dapat menyebar. 1 Tanggal masuk RS : 5 Agustus 2012 Tanggal pengkajian : 5 Agustus 2012 Dx Medis : Dermatitis atopik Penanggung jawab Nama : Ny “O” Umur : 30 Tahun Jenis kelamin : Wanita Pekerjaan : Ibu rumah tangga Alamat : Jl.Dengan pasien : Istri B. Klien mengatakan. Wonokromo 23 Hub. Riwayat Kesehatan 1) Keluhan Utama : Pada saat Pasien datang ke rumah sakit keluhannya adalah adanya gatal-gatal yang hebat pada bagian kulit dan terdapat lesi di daerah garutan 2) Riwayat kesehatan sekarang : a. dan meminun obat yang diberikan oleh mantri saat ia berobat. Faktor pencetus Pasien mengatakan tidak mengetahui apa yang menyebabkan gatal – gatal yang diderita klien. Sifat keluhan Pasien mengatakan gatal yang klien derita terjadi terus menerus dan biasanya akan mengeluarkan akan meninggalkan bekas yang menonjol.

S : 36. 3) Riwayat Kesehatan Dahulu Klien pernah dirawat dirumah sakit Arga Makmur dengan keluhan sesak napas. TB : 153 Cm .3 c e. Aktivitas/ Istirahat Gejala: Merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena sering timbul rasa gatal yang diderita olenya jadi susah untuk tidur jika muncul rasa b. dan klien tidak menghiraukan dengan gatal-gatlnya. RR : 27 x/menit d. Keamanan Gejala: terjadi perubahan saat gatal timbul 2. Keadaan umum : sedikit agak lemah a. BB : 60 kg f. C) Pemeriksaan Fisik 1. dan bapaknya juga pernah menderita sesak napas. Sirkulasi Gejala: Tidak mempunyai keluhan Makanan/ Cairan Gejala: tidak terjadi gangguan pada kebutuhan nutrisinya Neurosensori Gejala: tidak terjadi gangguan neurosensori Kenyamanan / Nyeri Gejala: tampak gatal dan sering menggaruknya maka terjadi perubahan rasa nyaman f. 4) Riwayat Kesehatan Keluarga Klien mengatakan kalau bapaknya pernah menderita penyakit yang sama. e. d.pada daerah yang gatal. ND : 90 x/menit c. batuk berdahak selama 1 minggu. c. gatal tersebut. terkadang meninggalkan bekas dan mengeluarkan cairan. 3) Keluhan saat pengkajian Klien mengatakan gatal-gatal timbul secara tiba-tiba dan menetap dan cenderung mengeluarkan cairan dan setalah itu akan meninggalkan bekas yang berupa tonjolan kulit ke luar. Tanda-tanda vital a. TD : 90/60 mmHg b. karena Pasien tidak tahu tentang penyaikt yang klien derita.

Pupil dan reflek cahaya c. distribusi rambut merata. Odema palpebra : Baik : Normal : Anemis : Tidak ada kekeruhan lensa : Tidak ada 6. Fungsi penglihatan b. Leher a. tidak berminyak. Hidung dan Sinus a. tidak ada ketombe. Mulut dan Tenggorokan a.3. terkelupas. Kelenjar limfe c. caries dentis ada : Tidak ada : Tidak ada trismus : Tidak ada 9. Sekret e. Mata a. dan lecet S(tingkat keparahan) :±5-10 menit dan mengganggu jika gatal timbul pada saat istirahat T(waktu) : sekitar 3 minggu terakhir. Membran mukosa b. Lensa/iris e. Kulit P(pencentus) : tidak mengetahui apa penyebab gatal tersebut Q(kualitas) : gatal nya datang sewaktu-waktu R(lokasi) : di daerah garutan terutama di pergelangan tangan. Mastoid : Baik : Bersih : Simetris Kiri dan kanan : Tidak ada : Tidak ada pembengkakan dan Nyeri tekan 7. timbul sewaktu-waktu 4. Sekret : Bentuk simetris : Baik : Tidak ada pembengkakan : Bersih : Tidak ada pendarahan : tidak ada 8. bentuk lidah simetris : lengkap. Trakea b. Kebersihan mulut c. rambut halus. Kesulitan menelan : kering : lidah bersih. 5. Inspeksi b. tidak ada nyeri tekan. Tanda radang e. Trismus f. Kepala/Rambut Bersih. Fungsi pendengaran b. Kebersihan e. Keadaaan gigi d. bentuk kepala simetris. Pembengkakan d. muka dan leher. Telinga a. Kelenjar tiroid : Simetris : Ada pembesaran limfe : Tidak ada pembesaran tiroid . rambut lurus. Konjungtiva d. Kebersihan c. Pendarahan f. Daun telinga d. Fungsi pennciuman c. Tidak ada massa di kepala.

kejang dan tremor tidak ada. Abdomen a. Inspeksi : Dada simetris. terkelupas. Perubahan rasa nyaman . Tidak ada nyeri tekan d. Lesi dan pergelangan tangan DATA ETIOLOGI DO: Kulit klien kemerahan. dan sering menggaruk. menggunakan otot bantu pernapasan b. Palpasi : Fremitus kiri kanan. dan lecet DS : klien mengatakan Pruritus (rasa gatal) bahwa saat istirahat gatal sering timbul DO : Klien tampak gatal. Auskultasi : tdak terdapat kelainan : normal : tidak terdapat massa : bising usus 10 X / menit 12. Perkusi c. Genetalia : normal 13. Motorik : Gerak terkoodinasi. Thorak dan paru a.Analisa data MASALAH KEPERAWATAN DS: Klien mengatakan Kekeringan pada kulit  Gangguan integritas kulit bahwa gatal – gatal yang hebat. Perkusi : Resonan pada kedua paru c. 2. fungsi kooordinasi baik. RR : 27 X/ menit. Auskultasi : Vesikuler 11. Status mental : Compos mentis b. Inspeksi b.d. Neurologis a. Kaku kudus : Normal : tidak ada kaku kuduk 10. Palpasi d. Gerakan leher e.

Gangguan integritas kulit b. Peningkatan hidrasi dengan skala 4 2.d kekeringan kulit pada NOC NIC Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien dapat menunjukkan penurunan integritas jaringan : kulit dan membrane mukosa dengan skala 4 (sedikit terganggu) Fluid/ electrolyte management Kriteria hasil : Integritas jaringan (kulit dan membrane mukos) (107): 1. Gangguan citra tubuh b.d kekeringan pada kulit 2.Rasa DS : klien mengatakan bahwa dia merasa malu terhadap bintikbintik yang ada di tubuhnya sesekali dia melihat ke bagian yang ada bintik-bintik tersebut malu penampilan terhadap Gangguan citra rubuh diri persepsi dan tentang ketidakbersihan DO : klien tampak berbicara sendiri dengan melihat lesi pada tubuhnya Diagnosa Keperawatan 1. Beri cairan sesuai dengan kebutuhan Management Obat 1. Tentukan obat yang ditentukan dan menurut resep 2. DX 1 DIAGNOSA KEPERAWATAN Gangguan integritas kulit b. Monitor efek samping pada obat 3.d dengan rasa malu terhadap penampilan diri dan persepsi tentang ketidakbersihan Intervensi No.d dengan pruritus (rasa gatal) 3. Perubahan rasa nyaman b. Pantau level elektrolit 2. Penurunan eritema 1. Pantau albumin dan protein total 3. Pantau kepatuan mengenai regimen .

Memantau munculnya gejala 3 Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perasaan negative tentang tubuh setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam pasien dapat menunjukkan penurunan tingkat rasa takut dengan skala 4 (sedang) Kriteria hasil : Tingkat rasa takut (578) 1. Diskusikan dan rencanakan aktivitasaktivitas pengurangan risiko berkolaborasi dengan individu atau kelompok 3.obat 4. Bantu pasien untuk mendiskusikan stressor yang mempengaruhi citra diri terhadap konsis penyakit 2. Rencanakan monitoring resiko kesehatan dalam jangka panjang 4. Tentukan persepsi pasien . Kekurangan percaya diri 2. Menarik diri Identifikasi resiko (115) 1. Identifikasi adanya sumber-sumber agensi untuk membantu menurunkan factor resiko Peningkatan Citra Tubuh (324) 1. Ajarkan px atau anggota keluarga mengenai metode pemberian obat yang sesuai 2 Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan pruritas (gatal) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien dapat menunjukkan penurunan gangguan rasa nyaman Kriteria hasil : Control gejala (243) 1. Intruksikan factor resiko dan rencana untuk mengurangi factor resiko 2.

Bantu pasien memisahkan penampilan fisik dari perasaan berharga secara pribadi 4. Bantu pasien mengidentifiksai tindakan-tindakan yang akan meningkatkan penampilan 5. Identifikasi strategi-strategi penggunaan koping oleh keluarga Peningkatan citra tubuh 1.dan keluarga terkait dengan perubahan citra diri dan realitas 3. Identifikasi cara untuk menurunkan dampak dari adanya perubahan bentuk melalui pakaian . Tentukan apakah gangguan citra tubuh berkontribusi pada peningkatan isolasi social 2. Tentukan harapan citra diri pasien di dasarkan pada tahap perkembangan 3.

Memonitor efek samping pada obat R/ klien kooperatif tentang efek pada obat yang diberikan 3. Beri cairan sesuai dengan kebutuhan R/ pasien menerima tindakan yang diberikan oleh perawat dan pasien koperatif Management Obat 1. Tanggal/Hari Implementasi Dx 1. Merencanakan monitoring resiko kesehatan TTD . Memantau albumin dan protein total R/ klien bersedia saat diberikan pengertian agar menjaga albumin dan protein 2016 7 1. Ajarkan px atau anggota keluarga mengenai metode pemberian obat yang sesuai R/ klien dan keluarga memafami metode yang diberikan oleh perawat 5 Agustus 2016/ Rabu 6 Agustus 2016 7 Agustus 2016 Identifikasi resiko (115) 1. Mendiskusikan dan rencanakan aktivitasaktivitas pengurangan risiko berkolaborasi dengan individu atau kelompok R/ kien faham tentang apa yang di berikan oleh perawat 3. Memantau level elektrolit pada klien setiap 3-5 jam sekali R/ klien menerima tindakan yang diberikan Agustus 2016 3. 5 Agustus Fluid/ electrolyte management 2016/ Rabu 6 Agustus 2. Memantau kepatuan mengenai regimen obat R/ klien patu dalam apa yang di perintahkan 4.Implementasi No. Mentukan obat yang ditentukan dan menurut resep R/ klien menurut ketika perawat memberikan obatnnya 2. Menintruksikan factor resiko dan rencana untuk mengurangi factor resiko R/ klien menerima rencana yang di berikan perawat dalam mengurangi factor resiko 2.

Membantu pasien mengidentifiksai tindakantindakan yang akan meningkatkan penampilan R/ klien faham dan koperatif 5. Menentukan persepsi pasien dan keluarga terkait dengan perubahan citra diri dan realitas R/ klien dan keluarga menyadari perubahan citra tubuh dengan realita 3.dalam jangka panjang R/ klien menerima tanpa menolak tindakan yang akan diberikan 5 Agustus 2016/ Rabu 6 Agustus 2016 7 Agustus 2016 4. Memberikan pengertian agar harapan citra diri pasien di dasarkan pada tahap perkembangan R/ klien faham dan mengerti 3. Mengidentifikasi cara untuk menurunkan dampak dari adanya perubahan bentuk melalui pakaian R/ klien mulai merubah bentuk dan dia faham Evaluasi NO.DX Tanggal/Hari Evaluasi TTD . Membantu pasien merubah penampilan fisik dari perasaan berharga secara pribadi R/ klien mengerti dan dapat melakukannya 4. Mengajak pasien untuk mendiskusikan stressor yang mempengaruhi citra diri terhadap konsis penyakit R/ klien faham setelah berdiskusi dengan perawat 2. Mengidentifikasi strategi-strategi penggunaan koping oleh keluarga R/ klien dan keluarga faham terhadap strategi Peningkatan citra tubuh 1. Mengidentifikasi adanya sumber-sumber agensi untuk membantu menurunkan factor resiko R/ klien mengerti cara menurunkan factor resiko Peningkatan Citra Tubuh (324) 1. Menentukan gangguan citra tubuh berkontribusi pada peningkatan isolasi social R/ klien faham dengan cara peningkatan isolasi 2.

3 dilanjutkan .1 2 3 8 Agustus 2016/ S : Klien mengatakan bahwa rasa gatal dan lesi pada pergelangan tangan sudah sabtu berkurang O : kulit klien tidak kemerahan. terkelupas dan lecet A : masalah teratasi P : intervensi 1 dan 2 dilanjutkan 8 Agustus 2016/ S : klien mengatakan bahwa saat istirahat rasa gatal sudah tidak sering muncul sabtu O : tidak gatal.2. tidak pernah menggaruknya A : maslah teratasi P : intervensi dilanjutkan 8 Agustus 2016/ S : klien mengatakan bahwa dia sudah tidak merasa malu terhadap bintik-bintik sabtu merah yang ada di kulit dan O : klien sudah tidak pernah berbicara sendiri dan tidak ernah melihat bintikbintik merah yang ada di kulitnya A : masalah teratasi P : intervensi 1.

biasanya batas kelainan tidak tegas dan terdapat lesi polimorfi yang dapat timbul secara serentak atau beturut-turut. kemerahan (rubor).2 Saran Kepada mahasiswa (khususnya mahasiswa perawat) atau pembaca disarankan agar dapat mengambil pelajaran dari makalah ini sehingga apabila terdapat tanda dan gejala penyakit dermatitis pada maka kita dapat melakukan tindakan yang tepat agar penyakit tersebut tidak berlanjut ke arah yang lebih buburuk. 1.1 Kesimpulan Dermatitis adalah suatu peradangan pada dermis dan epidermis yang dalam perkembangannya memberikan gambaran klinik berupa efloresensi polimorf dan pada umumnya memberikan gejala subjektif gatal. DAFTAR PUSTAKA . Komplikasi dengan penyakit lain yang dapat terjadi adalah sindrom pernapasan akut. jamur. protein. Secara umum manifestasi klinis dari dermatitis yaitu secara Subyektif ada tanda–tanda radang akut terutama pruritus ( sebagai pengganti dolor).BAB IV PENUTUP 1. edema atau pembengkakan dan gangguan fungsi kulit (function laisa). Dan disarankan kepada orang tua agar menjaga/menghindarkan anak-anak dari bahanbahan yang dapat menyebabkan dermatitis. Infeksi kulit oleh bakteri-bakteri yang lazim dijumpai terutama staphylococcus aureus. Sedangkan secara Obyektif. atau oleh virus misalnya herpes simpleks. Selain itu terdapat pula kenaikan suhu (kalor). gangguan ginjal. Secara umum penyebab dari dermatitis yaitu : respon kulit terhadap agenagen yang beraneka ragam. mis: zat kimia. bakteri adanya respon alergi.

Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Marilyn E. 3. Jakarta : EGC Mansjoer.2005.robin. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 2002.Brunner & Suddarth. Jakarta : EGC Graham-brown. Jakarta : EGC Doenges. 2001. Arief.Jakarta : .Lecture Erlangga Notes on Dermatologi. 1998. Edisi III.