You are on page 1of 16

MAKALAH TENTANG CASEMIX, KENAIKAN KELAS

RUANG PERAWATAN DAN VERSI INA CBGs
PERTAMA LAUNCHING
TUGAS PRAKTIKUM SISTEM
PEMBIAYAAN KESEHATAN

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi
tugas matakuliah sistem pembiayaan kesehatan

Oleh
Ahmad Ainul Yakin
NIM G41130546

PROGRAM STUDI REKAM MEDIK
JURUSAN KESEHATAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2016

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Sampul.....................................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB 1. PENDAHULUAN.....................................................................................1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................3
1.3 Tujuan............................................................................................................3
1.4 Manfaat.........................................................................................................3

BAB 2. PEMBAHASAN........................................................................................4
2.1 Definisi Casemix............................................................................................4
2.2 Sejarah Casemix...........................................................................................4
2.3 Penggunaan Sistem Casemix.......................................................................5
2.4 Variabel INA CBGs......................................................................................5
2.5 Manfaat INA CBGs Sistem Casemix..........................................................6
2.6 Sifat UNU-Casemix Grouper......................................................................7
2.7 Komponen UNU Casemix Grouper............................................................8
2.8 Kenaikan kelas perawatan..........................................................................8
2.9 Versi INA CBGs saat pertama launching.................................................11

BAB 3. PENUTUP................................................................................................12
3.1 Kesimpulan.................................................................................................12
3.2 Saran............................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................14

ii

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan adalah hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk
keberhasilan pembangunan bangsa. Untuk itu diselenggarakan pembangunan
kesehatan secara menyeluruh dan berkesinambungan, dengan tujuan guna
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Kesinambungan dan keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh
tersedianya pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan (Depkes RI,
2011).
Dalam upaya mendukung tercapainya pembangunan kesehatan tersebut,
ketersediaan sarana prasarana kesehatan yang cukup merupakan hal yang
penting. Namun, hingga saat ini jumlah sarana dan prasarana kesehatan masih
belum memadai. Jumlah puskesmas untuk seluruh Indonesia sebanyak 7.237
unit, puskesmas pembantu sebanyak 21.267 unit dan puskesmas keliling
6.392 unit. Sementara itu, untuk rumah sakit terdapat sebanyak 1.215 rumah
sakit, terdiri dari 420 rumah sakit pemerintah, 605 swasta, 78 rumah sakit
milik BUMN dan 112 rumah sakit milik TNI dan Polri, dengan jumlah
seluruh tempat tidur sebanyak 130.214 buah. Penyebaran sarana dan
prasarana kesehatan belum merata. Rasio sarana dan prasarana kesehatan
terhadap jumlah penduduk di luar Pulau Jawa lebih baik dibandingkan
dengan di Pulau Jawa. Hanya saja keadaan transportasi di luar Pulau Jawa
jauh lebih buruk dibandingkan dengan Pulau Jawa (Depkes RI, 2011).
Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki
peran sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat
kesehatan masyarakat Indonesia. Peran tersebut semakin penting mengingat
perkembangan epidemiologi penyakit, perubahan struktur demografis,
perkembangan ilmu dan teknologi, dan perubahan struktur sosial ekonomi
masyarakat (Aditama, 2003).

1

2

Tingkat kesehatan penduduk Indonesia masih relatif rendah jika
dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Angka
kematian ibu tahun 2008 masih sekitar 390 per 100.000 kelahiran hidup,
sementara di Philipina 170, Vietnam 160, Thailand 44 dan Malaysia 39 per
100.000 kelahiran hidup. Hal ini berkaitan secara langsung maupun tidak
langsung dengan besarnya biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah ataupun
masyarakat untuk kesehatan dan besarnya cakupan asuransi kesehatan.
Sebuah solusi yang efektif diperlukan untuk menanggulangi masalah tersebut.
Departemen Kesehatan RI menetapkan sebuah solusi yang dapat menjamin
ketersediaan pelayanan kesehatan yang memadai dan terjangkau yaitu dengan
menetapkan standar biaya pelayanan kesehatan berdasarkan sistem yang
dikenal dengan nama INA-DRG (Indonesia Diagnose Related Group)
(Depkes RI, 2008).
INA-DRG didefinisikan sebagai suatu sistem klasifikasi kombinasi
beberapa jenis penyakit dan prosedur/tindakan pelayanan disuatu RS dengan
pembiayaan yang dikaitkan dengan mutu dan efektifitas pelayanan terhadap
pasien. Sistem INA-DRG ini juga dapat digunakan sebagai salah satu standar
penggunaan sumber daya dalam memberikan pelayanan kesehatan di RS,
dengan kata lain INA-DRG adalah sistem pemerataan, jangkauan yang
berhubungan dengan mutu pelayanan kesehatan yang menjadi salah satu
unsur dalam pembiayaan kesehatan atau mekanisme pembayaran untuk
pasien berbasis kasus campuran.
Case-Mix INA-CBGs (Indonesian Case Base Groups) merupakan
kelanjutan dari aplikasi INA-DRG yang lisensinya berakhir pada tanggal 30
September 2010. Dengan demikian aplikasi INA-CBG's akan menggantikan
fungsi dari aplikasi INADRG. Dalam pembayaran menggunakan Sistem
Informasi INA-CBG’s adalah suatu sistem klasifikasi kombinasi dari
beberapa jenis penyakit/diagnosa dan prosedur/tindakan di rumah sakit dan
pembiayaannya yang dikaitkan dengan mutu serta efektifitas pelayanan
terhadap pasien. INA-CBG’s juga merupakan sistem pemerataan, jangkauan
dan berhubungan dengan mutu pelayanan kesehatan yang menjadi salah satu

3

unsur dalam pembiayaan kesehatan. Selain itu sistem ini juga dapat
digunakan sebagai salah satu standar penggunaan sumber daya yang
diperlukan dalam pembiayaan pelayanan kesehatan di rumah sakit (Gustini,
2011).
Sistem Case mix INA CBGs memiliki peranan yang penting dalam
pelaksanaan pengklaiman pelayanan pasien kepada BPJS Kesehatan, maka
dari itu seyogyanya pihak terkait mempelajari, mengerti dan mengaplikasikan
pengetahuan yang dimiliki dalam melakukan aktivitas pengklaiman. Selain
itu terdapat peraturan terkait dengan naiknya kelas perawatan pasien pada
INA CBGs dan versi INA CBGs saat awal launching. Maka dari itu
diperlukan penyusunan suatu makalah yang dapat dijadikan sebagai bahan
pembelajaran bagi semua pihak terkait dengan sistem casemix dan kenaikan
kelas perawatan dan versi INA CBGs saat awal launching.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan Uraian Latar Belakang maka rumusan masalah dalam
penyusunan makalah ini adalah bagaimana penjelasan tentang sistem casemix
dalam INA CBGs, Kenaikan Kelas Perawatan dan Versi INA CBGs saat awal
launching?
1.3 Tujuan
1. Membuat makalah tentang casemix beserta dengan penjelasan yang
lengkap.
2. Membuat Resume tentang kenaikan kelas perawatan.
3. Membuat Resume tentang Versi INA CBGs saat baru di launching.
1.4 Manfaat
1. Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai media
pembelajaran bagi semua pihak yang membutuhkan.
2. Memberikan informasi yang utuh tentang casemix, kenaikan kelas
perawatan dan versi INA CBGs.

BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Definisi Casemix
Sistem casemix adalah pengelompokan diagnosis dan prosedur
dengan mengacu pada ciri klinis yang mirip/sama dan penggunaan sumber
daya/biaya perawatan yang mirip/sama, pengelompokan dilakukan dengan
menggunakan software grouper. Casemix (case based payment) dan sudah
diterapkan sejak Tahun 2008 sebagai metode pembayaran pada program
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Sistem casemix saat ini banyak
digunakan sebagai dasar sistem pembayaran kesehatan di negara-negara maju
dan sedang dikembangkan di negara-negara berkembang.
2.2 Sejarah Casemix
Sistem casemix pertama kali dikembangkan di Indonesia pada Tahun
2006 dengan nama INA-DRG (Indonesia - Diagnosis Related Group).
Implementasi pembayaran dengan INA-DRG dimulai pada 1 September 2008
pada 15 rumah sakit vertikal, dan pada 1 Januari 2009 diperluas pada seluruh
rumah sakit yang bekerja sama untuk program Jamkesmas. Pada tanggal 31
September 2010 dilakukan perubahan nomenklatur dari INA-DRG (Indonesia
Diagnosis Related Group) menjadi INA-CBG (Indonesia Case Based Group)
seiring dengan perubahan grouper dari 3M Grouper ke UNU (United Nation
University) Grouper. Dengan demikian, sejak bulan Oktober 2010 sampai
Desember 2013, pembayaran kepada Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK)
Lanjutan dalam Jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) menggunakan
INA-CBG.
Sejak diimplementasikannya sistem casemix di Indonesia telah
dihasilkan 3 kali perubahan besaran tarif, yaitu tarif INA-DRG Tahun 2008,
tarif INA-CBG Tahun 2013 dan tarif INA-CBG Tahun 2014. Tarif INA-CBG
mempunyai 1.077 kelompok tarif terdiri dari 789 kode grup/kelompok rawat
inap dan 288 kode grup/kelompok rawat jalan, menggunakan sistem koding
dengan ICD-10 untuk diagnosis serta ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan.
Pengelompokan

kode

diagnosis
4

dan

prosedur

dilakukan

dengan

5

menggunakan grouper UNU (UNU Grouper). UNUGrouper adalah Grouper
casemix yang dikembangkan oleh United Nations University (UNU)
2.3 Penggunaan Sistem Casemix
Sistem Casemix merupakan sistem pengklasifi-kasian penyakit yang
menggabungkan jenis penyakit yang dirawat di RS dengan biaya keseluruhan pelayanan yang terkait. Sistem Casemix berhubungan dengan mutu,
pemerataan, keterjangkauan dan mekanisme pembayaran untuk pasien
berbasis kasus campuran. Secara umum sistem casemix digunakan dalam hal
Quality Assurance Program, Komunikasi dokter – direktur RS dan staf
medical

record,

perbaikan

proses

pelayanan,

anggaran,

profilling,

benchmarking, qua-lity control, dan sistem pembayaran. Pada sistem ini yang
paling banyak digunakan adalah Diagnostik Related Group
2.4 Variabel INA CBGs
Pada Case-mix membutuhkan 14 variabel yang diperoleh dari data
rekam medis antara lain :
1. Identitas pasien (misal, nomor RM,dll),
2. Tanggal masuk RS,
3. Tanggal keluar RS,
4. Lama hari rawat (LOS),
5. Tanggal lahir,
6. Umur (th) ketika masuk RS,
7. Umur (hr) ketika masuk RS,
8. Umur (hr) ketika keluar RS,
9. Jenis kelamin,
10. Status keluar RS (Outcome),
11. Berat Badan Baru lahir (gram),
12. Diagnosis Utama,
13. Diagnosis sekunder (komplikasi & Ko-morbiditi),
14. Prosedur/pembedahan utama.

6

2.5 Manfaat INA CBGs Sistem Casemix
Manfaat

Sistem

Casemix

INA

CBGs

merupakan

suatu

pengklasifikasian dari episode perawatan pasien yang dirancang untuk
menciptakan kelas-kelas yang relatif homogen dalam hal sumber daya yang
digunakan dan berisikan pasien-pasien dengan karakteristik klinik yang
sejenis. Case Base Groups (CBGs), yaitu cara pembayaran perawatan pasien
berdasarkan diagnosis-diagnosis atau kasus-kasus yang relatif sama. Rumah
Sakit akan mendapatkan pembayaran berdasarkan rata-rata biaya yang
dihabiskan oleh suatu kelompok diagnosis. Dalam pembayaran menggunakan
sistem INA CBGs, baik Rumah Sakit maupun pihak pembayar tidak lagi
merinci tagihan berdasarkan rincian pelayanan yang diberikan, melainkan
hanya dengan menyampaikan diagnosis keluar pasien dan kode DRG
(Disease Related Group).
Besarnya penggantian biaya untuk diagnosis tersebut telah disepakati
bersama

antara

provider/asuransi

atau

ditetapkan

oleh

pemerintah

sebelumnya. Perkiraan waktu lama perawatan (length of stay) yang akan
dijalani oleh pasien juga sudah diperkirakan sebelumnya disesuaikan dengan
jenis diagnosis maupun kasus penyakitnya. Bukan hanya dari segi
pembayaran, tentu masih banyak lagi manfaat dengan penggunaan sistem
INA CBGs.
a.

Bagi pasien,
1) adanya kepastian dalam pelayanan dengan prioritas pengobatan
berdasarkan derajat keparahan,
2) dengan

adanya

batasan

pada

lama

rawat

(length

of

stay) pasien mendapatkan perhatian lebih dalam tindakan medis dari
para

petugas

rumah sakit karena berapapun lama rawat yang dilakukan biayanya
sudah ditentukan, dan
3) mengurangi pemeriksaan serta penggunaan alat medis yang berlebihan
oleh
tenaga medis sehingga mengurangi resiko yang dihadapi pasien.

7

b. Manfaat bagi Rumah Sakit
1) Mendapat pembiayaan berdasarkan kepada beban kerja sebenarnya,
2) Dapat meningkatkan mutu dan efisiensi pelayanan Rumah Sakit,
dokter atau klinisi dapat memberikan pengobatan yang tepat untuk
kualitas pelayanan lebih baik berdasarkan derajat keparahan,
3) meningkatkan komunikasi antar spesialisasi atau multidisiplin ilmu
agar perawatan dapat secara komprehensif
4) Dapat memonitor dengan cara yang lebih objektif, perencanaan
budget anggaran pembiayaan dan belanja yang lebih akurat,
5) Dapat mengevaluasi kualitas pelayanan yang diberikan oleh masingmasing klinisi, keadilan (equity) yang lebih baik dalam pengalokasian
budget anggaran, dan mendukung sistem perawatan pasien dengan
menerapkan Clinical Pathway.
c. Manfaat bagi penyandang dana Pemerintah (provider)
1) Dapat

meningkatkan

efisiensi

dalam

pengalokasian

anggaran

pembiayaan kesehatan,
2) Anggaran pembiayaan yang efisien, equity terhadap masyarakat luas
akan terjangkau, secara kualitas pelayanan yang diberikan akan lebih
baik

sehingga

meningkatkan

kepuasan

pasien

dan

Provider/Pemerintah, dan penghitungan tarif pelayanan lebih objektif
serta berdasarkan kepada biaya yang sebenarnya.
2.6 Sifat UNU-Casemix Grouper
UNU Casemix Grouper memiliki 3 sifat dengan penjelasan sebagai
berikut :
1. Universal

Grouper,

artinya

mencakup

seluruh

jenis

perawatan pasien.
2. Dynamic,

artinya

total

jumlah

CBGs

berdasarkan kebutuhan sebuah negara.

bisa disetting

8

3. Advance Grouper, artinya bisa digunakan jika terdapat
perubahan dalam pengkodean diagnosa dan prosedur dengan
sistem klasifikasi ICHI (International Classification of
Health Intervention).
2.7 Komponen UNU Casemix Grouper
UNU Casemix Grouper memiliki 8 komponen sebagai berikut :
1. Acute.
2. Sub Acute.
3. Chronic.
4. Spesial Procedure.
5. Spesial Prosthesis.
6. Spesial Drugs.
7. Spesial Investigation.
8. Ambulatory Package.
2.8 Kenaikan kelas perawatan
a. Berdasarkan Permenkes No. 71 tahun 2013 tentang pelayanan kesehatan
pada
jaminan kesehatan nasional
Terdapat pasal 21 dan pasal 22 yang menjelaskan tentang kenaikan kelas
perawatan dengan penjelasan sebagai berikut :
Pasal 21
(1) Peserta yang menginginkan kelas perawatan yang lebih tinggi dari pada
haknya, dapat meningkatkan haknya dengan mengikuti asuransi kesehatan
tambahan, atau membayar sendiri selisih antara biaya yang dijamin oleh
BPJS Kesehatan dengan biaya yang harus dibayar akibat peningkatan
kelas perawatan.
(2) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bagi
Peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan tidak diperkenankan
memilih kelas yang lebih tinggi dari haknya.

9

Pasal 22
(1) Dalam hal ruang rawat inap yang menjadi hak Peserta penuh, Peserta
dapat dirawat di kelas perawatan satu tingkat lebih tinggi.
(2) BPJS Kesehatan membayar kelas perawatan Peserta sesuai haknya
dalam keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Apabila kelas perawatan sesuai hak Peserta telah tersedia, maka Peserta
ditempatkan di kelas perawatan yang menjadi hak Peserta.
(4) Perawatan satu tingkat lebih tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) paling lama 3 (tiga) hari.
(5) Dalam hal terjadi perawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) lebih
dari 3 (tiga) hari, selisih biaya tersebut menjadi tanggung jawab Fasilitas
Kesehatan yang bersangkutan atau berdasarkan persetujuan pasien dirujuk
ke Fasilitas Kesehatan yang setara.
b. Peraturan BPJS no 01 Tahun 2014 pasal 62 :
(1) Peserta dapat meningkatkan kelas ruang perawatan lebih tinggi dari
yang menjadi haknya dengan mengikuti asuransi kesehatan tambahan, atau
membayar sendiri selisih antara biaya yang dijamin oleh BPJS Kesehatan
berdasarkan tarif INA-CBG’s dengan biaya yang harus dibayar akibat
peningkatan kelas perawatan.
(2) Peningkatkan kelas ruang perawatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tidak berlaku bagi Peserta PBI Jaminan Kesehatan.
c. Pada Permenkes No 28 tahun 2014 juga menjelaskan tentang peningkatan
kelas perawatan dengan penjelasan 8 ayat dibawah ini
1. Peserta

JKN,

kecuali

peserta

PBI,

dimungkinkan

untuk

meningkatkan kelas perawatan atas permintaan sendiri pada FKRTL
yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.
3. Untuk pasien yang melakukan pindah kelas perawatan atas
permintaan

sendiri

dalam

satu

episode

perawatan

hanya

diperbolehkan untuk satu kali pindah kelas perawatan.
4. Khusus bagi pasien yang meningkatkan kelas perawatan (kecuali
peserta PBI Jaminan Kesehatan) :

10

a. sampai dengan kelas I, maka diberlakukan urun biaya selisih
tarif INA-CBGs kelas ruang perawatan yang dipilih dengan tarif
INA-CBGs yang menjadi haknya.
b. Jika naik ke kelas perawatan VIP, maka diberlakukan urun biaya
sebesar selisih tarif VIP lokal dengan tarif INA-CBGs kelas
perawatan yang menjadi haknya.
5. Dalam hal ruang rawat inap yang menjadi hak peserta penuh, peserta
dapat dirawat di kelas perawatan satu tingkat lebih tinggi paling
lama 3 (tiga) hari. Selanjutnya dikembalikan ke ruang perawatan
yang menjadi haknya. Bila masih belum ada ruangan sesuai haknya,
maka peserta ditawarkan untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan lain
yang setara atau selisih biaya tersebut menjadi tanggung jawab
fasilitas kesehatan yang bersangkutan.
6. Apabila kelas sesuai hak peserta penuh dan kelas satu tingkat
diatasnya penuh, peserta dapat dirawat di kelas satu tingkat lebih
rendah paling lama 3 (tiga) hari dan kemudian dikembalikan ke kelas
perawatan sesuai dengan haknya. Apabila perawatan di kelas yang
lebih rendah dari haknya lebih dari 3 (tiga) hari, maka BPJS
Kesehatan membayar ke FKRTL sesuai dengan kelas dimana pasien
dirawat.
7. Bila semua kelas perawatan di rumah sakit tersebut penuh maka
rumah sakit dapat menawarkan untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan
yang setara dengan difasilitasi oleh FKRTL yang merujuk dan
berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan.
8. Rumah sakit harus memberikan informasi mengenai biaya yang
harus dibayarkan akibat dengan peningkatan kelas perawatan.
9. Dalam hal peserta JKN (kecuali peserta PBI) menginginkan
kenaikan kelas perawatan atas permintaan sendiri, peserta atau
anggota keluarga harus menandatangani surat pernyataan tertulis dan
selisih biaya menjadi tanggung jawab peserta.

11

2.9 Versi INA CBGs saat pertama launching
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 27 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Sistem Indonesian Case Base
Groups (INA-CBGs), versi INA CBGs saat pertama launcing bulan januari
tahun 2014 implementasi dalam JKN memakai INA CBGs versi 4.0 dengan
penggambaran sebagai berikut :

BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
INA CBGs merupakan kelanjutan dari aplikasi Indonesia
Diagnosis
Related Groups (INA DRGs). Aplikasi INA CBGs menggantikan fungsi dari
aplikasi INA DRG yang saat itu digunakan pada Tahun 2008. Dalam
persiapan penggunaan INA CBG dilakukan pembuatan software entry data
dan migrasi data, serta membuat surat edaran mengenai implementasi INACBGs. Sistem yang baru ini dijalankan dengan menggunakan grouper dari
United Nation University Internasional Institute for Global Health (UNU IIGH). Sistem Casemix INA CBGs merupakan suatu pengklasifikasian dari
episode perawatan pasien yang dirancang untuk menciptakan kelas-kelas
yang relatif homogen dalam hal sumber daya yang digunakan dan berisikan
pasien-pasien dengan karakteristik klinik yang sejenis.
Pada Permenkes No. 71 tahun 2013 tentang pelayanan kesehatan
pada jaminan kesehatan nasional, Peraturan BPJS no 01 Tahun 2014 pasal 62
dan Permenkes No 28 tahun 2014, ketiga permenkes tersebut sama-sama
menjelaskan tentang peningkatan kelas perawatan dengan mengikuti asuransi
tambahan atau membayar sendiri selisihnya dan peningkatan kelas perawatan
tidak diberlakukan pada pasien penerima bantuan iuran. Penjelasannya adalah
sebagai berikut :
(1) Peserta dapat meningkatkan kelas ruang perawatan lebih tinggi dari
yang menjadi haknya dengan mengikuti asuransi kesehatan tambahan, atau
membayar sendiri selisih antara biaya yang dijamin oleh BPJS Kesehatan
berdasarkan tarif INA-CBG’s dengan biaya yang harus dibayar akibat
peningkatan kelas perawatan.
(2) Peningkatkan kelas ruang perawatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tidak berlaku bagi Peserta PBI Jaminan Kesehatan.

12

13

Sedangkan

untuk

frekuensi

peningkatan

kelas

perawatan

dilakukan dalam 1 kali yang dijelaskan pada permenkes no 28 tahun 2014
sebagai berikut :
1. Peserta

JKN,

kecuali

peserta

PBI,

dimungkinkan

untuk

meningkatkan kelas perawatan atas permintaan sendiri pada FKRTL
yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.
2. Untuk pasien yang melakukan pindah kelas perawatan atas
permintaan

sendiri

dalam

satu

episode

perawatan

hanya

diperbolehkan untuk satu kali pindah kelas perawatan.
3. Khusus bagi pasien yang meningkatkan kelas perawatan (kecuali
peserta PBI Jaminan Kesehatan) :
a. sampai dengan kelas I, maka diberlakukan urun biaya selisih
tarif INA-CBGs kelas ruang perawatan yang dipilih dengan tarif
INA-CBGs yang menjadi haknya.
b. Jika naik ke kelas perawatan VIP, maka diberlakukan urun biaya
sebesar selisih tarif VIP lokal dengan tarif INA-CBGs kelas
perawatan yang menjadi haknya.
3.2 Saran
Seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan teknologi,
seyogyanya profesi terkait atau stakeholder terkait dapat mengikutsertakan
kontribusi dan menghimpun informasi terkini guna meningkatkan ilmu
pengetahuan dan menerapkannya dalam praktek kerja sesungguhnya.

14

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 71
Tahun 2013 Tentang Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan
Nasional. Jakarta : Depkes RI.
------------. 2014. Peraturan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan
Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan.
Jakarta : Depkes RI.
------------. 2014. Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27
Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Sistem Indonesian Case Base
Groups (INA-CBGs). Jakarta : Depkes RI.
------------. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28
Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan
Kesehatan Nasional. Jakarta : Depkes RI.
Hosizah. 2012. Case-Mix : Upaya Pengendalian Biaya Pelayanan Rumah Sakit di
Indonesia. Jakarta : Universitas Esa Unggul.
Susilawati. Penerapan Casemix di INA CBGs.
https://www.scribs.com/doc/191754401/Penerapan-Case-Mix-Di-InaSusilawati