You are on page 1of 5

Terapi Kasus Pada Skenario

1

Oksigenasi
Indikasi pemberian O2 adalah adanya hipoksemia, yang dilihat dari:
a Tanda klinis: Peningkatan frekuensi nafas, tarikan dinding dada yang dalam, napas

cuping hidung, bunyi napas abnormal, kejang lama, letargi atau koma.
b Oksimeter denyut (Pulse oxymeter)
c Analisis gas darah: pada lansia saturasi oksigen sudah mulai menurun
2 Pemberian Antibiotik pada Lansia
Salah satu kelompok umur yang sering luput dari pertimbangan-pertimbangan
khususdalam pemakaian obat adalahn kelompok usia lanjut. Hal ini dapat dimengerti
mengingat usialanjut secara fisiologis umumnya dianggap sama dengan kelompok umur dewasa.
Namunsebenarnya, pada periode tertentu telah terjadi berbagai penurunan fungsi
berbagai organtubuh. Penurunan fungsi bisa disebabkan karena proses menua,
maupun perubahan-perubahan lain yang secara fisik kadang tidak terdeteksi. Terdapat
perbedaan pendapatmengenai batasan usia lanjut, namun pada umumnya para peneliti
mengambil batas 65 tahun.Yang perlu mendapat perhatian adalah, bahwa ternyata pada pasien
usia lanjut, umumnyadijumpai lebih dari satu jenis penyakit, satu atau lebih di antaranya
bersifat kronis, sementara penyakit lain yang akut, jika tidak ditangani dengan baik
dapat memperburuk kondisipenderita.
Dari aspek penderita, faktor-faktor seperti penurunan aktivitas/fungsi organ,
derajatpenyakit, penurunan kemampuan untuk mengurus diri sendiri, menurunnya
masukan cairandan makanan, serta kemungkinan menderita lebih dari satu macam
penyakit, seringmempersulit proses pengobatan secara opitmal. Penguasaan dokter
terhadap aspek-aspek klinis serta prinsip penggunaan obat untuk usia lanjut dengan
demikian menjadi pentinguntuk meningkatkan kualitas pengobatan.
Kebanyakan pengobatan penyakit pada usia lanjut atau manula dilakukan
denganpendekatan secara empiris yaitu dengan menggunakan antibiotik spektrum
luas dengan tujuanagar antibiotik yang dipilih dapat melawan beberapa kemungkinan
antibiotik penyebabinfeksi. Padahal tanpa disadari penggunaan antibiotik spektrum
luas secara tidak terkendalisangat memungkinkan timbulnya masalah yang tidak
diinginkan seperti timbulnya efek samping obat maupun potensi terjadinya resistensi.
Alasan penggunaan antibiotik sprektrumluas ini disebabkan oleh penyakit penyerta
yang banyak diderita oleh para lansia dan kondisitertentu seperti diabetes melitus,
payah jantung kronik, penyakit vaskuler, penyakit paruobstruksi kronik (PPOK),
peminum alkohol dan penyakitpenyakit lainnya. Penyakit-penyakittersebut di atas

mempergunakan dosis antibiotik untuk segala jenis penyakit. trakeotomi.yang ekskresi utamanya melalui ginjal. Prinsip-prinsipdasar pemakaian antibiotika pada usia lanjut tidak berbeda dengan kelompok usia lainnya. Faktor predesposisi lain antara lainberupa kebiasaan merokok. penggunaan antibiotik dan obat suntik iv. bahankimia tersebut harus dinetralkan tubuh supaya aman. Sepertidiketahui. tetapi perlu beberapa penyesuaian seperti dosis dan perhatianlebih besar pada kemungkinan efek samping. kanamisin. tidak saja diambilberdasarkan ketentuan dewasa. sampai gangguan napas. kelopak mata. antibiotik juga bisa mengakibatkan kelainan hati.Khawatir masyarakat awam yang tidak paham. Selain berfungsi membunuh kuman. Lebih berbahaya lagi. Perlu diteliti faktor lingkungan khususnyatempat kediaman misalnya di rumah jompo. keadaan imunodefisiensi. dan lebih rentannya usia lanjut terhadap efek samping/efek toksik obat. Sebab. Juga ada tindakan invasive sepertiinfuse. Penderita dapat mengalami reaksi alergi8.bisa jadi penderita alergi dengan antibiotik tersebut. dan netilmisin dapat meningkat sampai dua kalilipat) dan memberi efek toksik pada ginjal (nefrotoksik). Pasien bisa mengalami anafilaktik shock atau shock karena penggunaan antibiotik tersebut. maupun organ lain (misalnyaototoksisitas) ( Katzung. 1986). Efek yang terjadi dari ringan hinggaberat. mual. 3 Rehabilitasi Medis . di mana waktu paruh obat menjadi lebihpanjang (waktu paruh gentasimin. kelainan ataukelemahan stuktur organ dada dan penurunan kesadaran. karena adanya perbedaan fungsi organorgantubuh.Yang perlu diwaspadai adalah pemakaian antibiotika golongan aminoglikosida dan laktam. Misalnya.umumnya terdapat pada usia lanjut. atau pemasangan ventilator. Penurunan fungsi ginjal karena usia lanjut akanmempengaruhi eliminasi antibiotika tersebut. 2009). Pertimbangan pemberian obat terutama antibiotik pada usia lanjut. muntah). Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan berlebihan dapat membahayakankesehatan. mengakibatkan gangguan saluran pencernaan (diare. antibiotik memiliki bahan dasar kimia. sertaalkoholik yang meningkatkan terjadinya kuman gram negative (Khairudin. 1986). Mulai yang ringan seperti ruam dangatal hingga berat seperti pembengkakan bibir. pasca infeksi virus. Caranya adalah dengan memecah bahankimia tersebut (Katzung.

Disability dan handicap semaksimal mungkin. c. “HANDICAP” (tingkat sosial): cacat menetap. Proses RM a. “IMPAIRMENT” (tingkat organ) dimana penderita masih memerlukan / tergantung pada perawatan dan terapi secara aktif. maka diagnosis merupakan tonggak penting pada penatalaksanaan infeksi pada usia lanjut. Trombosis Vena Langkah 3 :Mengembalikan fungsi yang hilang Langkah 4:Ciptakan kemampuan adaptasi pasien Langkah 5:Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman Langkah 6 (Adaptasi keluarga) : 85% aktifitas usia lanjut dikerjakan dirumah. Pemeriksaan fisik. Penatalaksanaan Infeksi Pada Usia Lanjut a. keterbatasan kemampuan. para usia lanjut butuh waktu untuk ‘menerima’ kondisinya. “DISABILITY” (tingkat manusia): disebut juga “recovery period” dimana penderita mulai dapat melaksanakan pekerjaan sesuai keadaan kesembuhan penyakitnya. Geriatri dalam hal ini perlu dikonsulkan ke RM untuk mengetahui kemampuan aktivitas pasien yang selanjutnya ditentukan apakah perlu di ikutkan program dalam RM atau tidak. Kontraktur. Gangguan kognisi. sehingga kemungkinan misatau under diagnosis bisa dihindari sekecil mungkin dengan asessmen geriatri ini juga dapat ditegakkan : - Penyakit infeksi yang terdapat . sehingga tidak mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari (ADL). e. Ketergantungan Psikologis. Inkontinensia. Jika perlu. Untuk hal tersebut asessmen geriatri merupakan tata cara baku yang dianjurkan. keluarga makna hidup bagi para usia lanjut. Langkah 1: Atasi masalah medis utama. dan melaksanakan tugas pekerjaan. Dekubitus.Rehabilitasi medik ialah meningkatkan kemampuan fungsional seseorang sesuai dengan potensi yang dimiliki untuk mempertahankan dan atau meningkatkan Kualitas hidup dengan cara mencegah atau mengurangi Impairment. Langkah 2 :Cegah komplikasi sekunder: Malnutrisi. b. d. Diagnosis 4 Mengingat gejala dan tanda infeksi pada usia lanjut yang tidak khas dan sering menyelinap. g. “temporary disability”. keluargamitra kerja tenaga medis/paramedis. menjadi landasan untuk mengawali program Rehabilitasi Medis b. psikis dan lingkungan dan pemeriksaan tambahan yang penting secara menyeluruh sesuai form baku perlu dilaksanakan dengan baik. selanjutnya rencanakan program-program yang mendukung sesuai keluhan dan keterbatasan kemampuan beraktivitas. a. kcondisi stabil. Depresi. Pneumonia. Sindroma dekondisi. f.

pemakaian antibiotika harus langsung diberikan dengan menggunakan dosis penuh. Pada usia lanjut. terapi cairan diberikan untuk mencegah dehidrasi dan hipoglikemi. ginjal PPOM. serta untuk indikasi adanya peningkatan frekuensi pernafasan. - Gangguan mental/kognitif yang mungkin mempersulit pengobatan b. bila perlu dengan pemberian nutrisi enteral/parenteral. Terapi oksigenasi diberikan untuk menjaga asupan oksigen pada pasien sehingga tidak timbul hipoksia. 1996). penyakit hati dll. dimana pemberian oksigenasi ini diberikan jika frekuensi pernafasan > 24 kali/ menit. antara lain gangguan imunologik. Secara empiris antibiotika berspektrum luas. akan tetapi tetap memperhatikan kemungkinan efek samping yang terjadi. c. Terapi Suportif Harus selalu diingat bahwa sebagian besar usia lanjut sudah dalam keadaan status gizi yang kurang baik sebelum sakit (keadaan ini pula yang menyebabkan lansia mudah terserang infeksi). Pemberian diet dengan kalori dan protein yang cukup harus diupayakan. Terapi kuratif diberikan pada pasien untuk mengatasi gejala yang timbul. Pemberian vitamin dan mineral (Cu. Sedangkan pemberian antibiotik dilakukan untuk mengobati infeksi bakterial yang terjadi pada pasien. Hidrasi yang cukup juga seringkali diperlukan untuk membantu penyembuhan penderita. Zn) seringkali diperlukan pada keadaan gizi yang kurang baik. Pada tahap awal sebaiknya diberikan antibiotik empirik bersprektum luas yang sesuai dengan lokasi infeksi. Antibiotika berspektrum sempit baru bisa apabila hasil kultur dan sensitivitasnya mendukung (Hadi Martono. antara lain golongan beta-laktam atau kuinolon dapat diberikan. .- Penyakit ko-morbid yang menyertai. Pada pasien telah dilakukan terapi oksigenasi. penyakit jantung. pemberian antibiotik dan terapi cairan. Terapi Antibiotika Terapi antibiotika harus segera dilakukan bila semua spesimen untuk pemeriksaan mikrobiologis sudah dikirimkan.

untuk mengatasi dekubitus yang terjadi pada pasien disesuaikan derajatnya. Dalam pemberian dosis dan pemilihan jenis antibiotika perlu diperhatikan adanya perubahan fungsi organ sebagai akibat proses menua serta komorbid yang ada pada lansia yang seluruhnya akan berakibat pada terjadinya perubahan distribusi obat. Untuk pasien pneumonia yang dirawat dirumah sakit dapat diberikan klindamisin dan seftazidim.lokasi penderita dan lokasi terjadinya infeksi (di masyarakat atu dirumah sakit) sambil menunggu hasil kultur dari dahak. aktivitas penguatan aerobik. selain pemberian kasur dekubitus diperlukan penatalaksanaan sesuai derajatnya seperti yang tercantum pada tinjauan pustaka. eksresi dan interaksi obat. Sementara itu. Kedua. Ketiga. Pertama. Rehabilitasi medik dilakukan dengan latihan bertahap dan aman bagi pasien. pemeliharaan ventilasi yang normal meliputi hiperinflasi dan mobilisasi serta menghilangkan sekresi. metabilisme obat. pemeliharaan sirkulasi yang adekuat. Keempat. Pemberian kasur dekubitus merupakan hal yang tepat. Terakhir. . Tujuan terapi rehabilitasi adalah untuk mempertahankan monilitas dan kekuatan otot serta menurunkan ketergantungan pasien terhadap orang lain. Pasien dirujuk ke bagian rehabilitasi medik untuk dilakukan terapi rehabilitasi. yang termasuk pengkondisian program latihan harian baik kontraksi otot isometrik dan isotonik. posisi yang tepat dengan mengatur posisi tungkai dengan ketergantungan minimal (misalnya meninggikan tungkai diatas dudukan kaki) mencegah pengumpulan darah pada ekstremitas bawah. nutrisi untuk meningkatkan anabolisme protein dan pembentukan tulang. pemeliharaan fungsi urinaria dan usus yang normal bergantung pada dukungan nutrisi dan struktur lingkungan serta rutinitas-rutinitas untuk memfasilitasi eliminasi. pemeliharaan fleksibilitas sendi yang terlibat dalam latihan rentang gerak. latihan rehabilitasi medik meliputi pemeliharaan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal.