You are on page 1of 14

1

BAB I
PENDAHULUAN
Setiap tindakan operasi akan menyebabkan terjadinya suatu stress. Stress
operasi dapat merupakan stress psikologi, stress anestesi dan stress pembedahan.
Respon tubuh terhadap stress operasi menunjukkan suatu pola tertentu, yang
bersifatsentral, perifer dan imunologikal1. Pembedahan memicu gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit puasa sebelum pembedahan, terjadi kehilangan
banyak cairan melalui saluran cerna (muntah, dilatasi lambung atau usus, diare),
perdarahan atau berpindahnya cairan ke rongga ketiga (peritonitis, ileus
obstruksi). Masalah keseimbangan cairan dan elektrolit pada saat pembedahan
bertambah rumit jika terdapat komorbid, misalnya penyakit ginjal, jantung dan
masalah paru-paru2.
Manajemen cairan perioperatif telah menjadi topik perdebatan selama
bertahun-tahun dan makin meningkat terutama selama beberapa tahun terakhir.
Kontroversi terjadi pada jenis cairan, waktu pemberian dan volume cairan. Setelah
sekian banyak diskusi dan kontroversi yang sedang berlangsung tentang koloid
dan kristaloid serta komposisi ideal dari berbagai cairan intravena, fokus utama
baru-baru ini yaitu lebih mengarah kepada volume cairan. Lebih dari satu dekade
studi klinis menunjukkan manfaat dari tujuan Goal Directed Fluid Therapy
(GDT). Sedangkan studi yang lebih baru telah menunjukkan peningkatan hasil
pasca operasi dengan pemberian cairan yang dibatasi pada periode perioperatif 3.
Tujuan umum pemberian cairan dan elektrolit adalah mengganti atau
mempertahanan volume cairan intravascular, interstisial dan intraselular;
mempertahankan keseimbangan air, elektrolit dan komponen darah; atau
mempertahankan kadar protein darah. Sedangkan tujuan khususnya adalah
mempertahankan beban pra-jantung (beban preload), serta curah jantung (cardiac
output). Dengan demikian, oksigenasi dan perfusi jaringan dapat menjamin
keseimbangan metabolisme sel. Pemahaman tentang keseimbangan cairan dan
elektrolit sangat penting dalam menangani penderita yang akan, sedang atau
selesai menjalani pembedahan2. Untuk itu, pada tinjauan pustaka ini akan dibahas
tentang manajemen cairan serta koreksi elektrolit dalam aspek pembedahan.

. Pengaruh puasa pra bedah. Dalam keadaan normal. perdarahan atau berpindahnya cairan ke rongga ketiga (peritonitis. Perubahan-perubahan tersebut terutama sebagai akibat dari4: 1. 2. sedang atau selesai menjalani pembedahan. dilatasi lambung atau usus. kerusakan jaringan dan fasepenyembuhan. interstisial dan intraselular. saluran cerna maupun cara lain (insensible loss)2. ileus obstruksi). keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan dengan menjaga keseimbangan antara jumlah asupan cairan dan jumlah cairan yang hilang melalui ginjal. Masalah keseimbangan cairan dan elektrolit pada saat pembedahan bertambah rumit jika terdapat komorbid. terjadi kehilangan banyak cairan melalui saluran cerna (muntah. Trauma. misalnya penyakit ginjal. Kehilangan dan perpindahan cairan baik lokal maupun umum 3. serta curah jantung (cardiac output). elektrolit dan komponen darah.2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pembedahan memicu gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit puasa sebelum pembedahan. atau mempertahankan kadar protein darah. Sedangkan tujuan khususnya adalah mempertahankan beban pra-jantung (preload). Kerusakan sel di lokasi pembedahan 2. pembedahan dan anestesi akan menimbulkan perubahanperubahan pada keseimbangan air dan metabolisme yang dapat berlangsung sampaibeberapa hari pasca trauma atau bedah. jantung dan masalah paru-paru2.1 Tujuan Terapi Cairan dan Koreksi Elektrolit Tujuan umum pemberian cairan dan elektrolit adalah mengganti atau mempertahankan volume cairan intravascular. Terjadi peningkatan metabolisme. mempertahankan keseimbangan air. selama pembedahan dan pasca bedah 4. Dengan demikian. diare). Pemahaman tentang keseimbangan cairan dan elektrolit sangat penting dalam menangani penderita yang akan. oksigenasi dan perfusi jaringan dapat menjamin keseimbangan metabolisme sel2.

Kekurangan cairan atau volume dapat berupa kekurangan cairan tubuh yang sebenarnya akibat kehilangan cairan berlebihan atau berkurangnya asupan (intake) atau berupa kekurangan relative akibat pergeseran (shifting) cairan intravascular ke interstisial atau ke “rongga ketiga”2. Perlakuan anestesi spinal dapat menyebabkan terjadinya hipotensi akibat hilangnya mekanisme kompensasi seperti takikardi dan vasokonstriksi4. pemberian obat sebelum proses operasi dan restriksi cairan sebelum operasi. selama pembedahan dan sesudah pembedahan. Selain untuk mempertahankan atau memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit. Kekurangan cairan terbagi menjadi kekurangan cairan isotonic.2 Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Secara umum. tindakan maupun penyakit. Faktor sebelum bedah berhubungan dengan kondisi penyerta. kelebihan cairan dapat berupa . 2. Keseimbangan cairan didalam tubuh akan menjaga fungsi organ sehingga dapat bekerja dengan baik.Kedua masalah tersebut dapat disebabkan oleh bermacam-macam keadaan. kehilangan cairan ke rongga ketiga dan kehilangan cairan lambung. Pemberian cairan diperlukan karena gangguan dalam keseimbangan cairan danelektrolit merupakan hal yang umum terjadi pada pasien dengan tindakan bedah. mengganti kehilangan darah. prosedur diagnostic yang dilakukan sebelum operasi. dan kehilangan cairan akibat proses penguapan oleh karena proses operasi yang lama. penderita yang akan atau sedang menjalani masa pasca bedah memerlukan tambahan pemberian cairan untuk mengganti asupan cairan selama pasien dipuasakan. dan lain-lain2. Gangguan cairan yang terjadi dikarenakan kombinasi dari faktor-faktor sebelum pembedahan.Seperti halnya kekurangan cairan. hipertonik atau hipotonik. kehilangan akibat perdarahan. gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat berupa kekurangan cairan (dehidrasi) atau kelebihan cairan (overhidrasi). Fungsi organ yang baik akan mengoptimalkan proses metabolisme sehingga proses penyembuhan terjadi 5 . Faktor selama pembedahan berhubungan dengan perlakuan anestesi.3 Cairan diperlukan tubuh untuk mempertahankan isi vaskuler yang berfungsi menjaga hemodinamik.

Karena pemilihannya tergantung pada tipe dan komposisi elektrolit daricairan yang hilang seperti keseluruhan darah. Hal ini dipicu akibat adanya peningkatan angka insidensi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pasca operasi7. Sejak Oktober 2006. Hal ini bertujuan menghindari penyulit iatrogenic akibat terapi yang berlebihan2. The Association for Clinical Biochemistry danThe Renal Associationtelah merancang beberapa konsensus tentang pemberian cairan peri-operatif. Koreksi tidak perlu dilakukan sampai mencapai nilai normal. Keempat gangguan elektrolit tersebut sering dijumpai pada kasus pembedahan baik pada perawatan prabedah maupun pascabedah2. SARS.3 Terapi Cairan dan Koreksi Elektrolit Pemilihan pemberian terapi cairan yang sesuai untuk perbaikan dan perawatan stabilitas hemodinamik pada tubuh sangat sulit dan kontroversial.4 kelebihan aktual maupun relatif pada satu atau lebih kompartemen cairan dan dapat juga diklasifikasikan sebagai isotonik. hipertonik atau hipotonik. koreksi kekurangan atau kehilangan cairan. plasma dan air. Makanan atau cairan harus diberikan secara oral secepat mungkin dan cairan intravena dihentikan secepat mungkin7. Perlu ditekankan sebelumnya bahwa pemberian cairan intravena bukanlah merupakan suatu rutinitas yang dilakukan pasca operasi. Tiga prinsip utama yang harus dipenuhi untuk melakukan terapi cairan yaitu memenuhi kebutuhan normal per hari. pemilihan penggantian cairan tubuh dikaitkan dengan pemantauan dari tenaga kesehatan serta biaya. Terapi cairan yang digunakan adalah cairan kristaloid dan cairan koloid6. dan koreksi kekurangan atau kehilangan elektrolit. . The Intensive Care Society. BAPEN Medical. 2.Pembahasan tentang gangguan keseimbangan elektrolit meliputi hiper-/hiponatremia atau hiper/hipokalemia. The Association of Surgeons of Great Britain and Ireland. namun cukup sampai masuk ke batas kompensasi karena selanjutnya akan diatasi oleh mekanisme homeostasis tubuh. Selain itu.

enteral atau parenteral atau kombinasi.5 Terdapat 28 rekomendasi British Consensus Guidelines on Intravenous Fluid Therapy for Adult Surgical Patients Tahun 2011. Jumlah tambahan hanya boleh diberikan untuk hilang. grafik keseimbangan cairan.18% dapat digunakan sebagai rumatankadar air tetapi harus digunakan dengan hati-hati terutama pada anak-anak dan orang tua karena jumlah berlebihan dapat menyebabkan hiponatremia. (Evidence level 1b). cairan diberikan melalui infus atau pipa lambung.5-2.3. dan pengukuran kenaikan berat badan bila memungkinkan. pasien dewasa harus menerima natrium 50-100 mmol/hari. paru-paru dan keringat. kecuali pada kasus hipokloremia seperti pada keadaan muntah atau drainase lambung. (Evidence level 5). Dalam perhitungan pemberian cairan . larutan garam seimbang misalnya ringer laktat atau asetat atau larutan Hartmann dapat digunakan sebagai pengganti Saline 0.Rekomendasi tersebut antara lain7:  Rekomendasi 1 Karena risiko asidosis hiperkloremik dapat terjadi dalam praktek rutin. Bila pasien tidak dapat minum.  Rekomendasi 2 Cairan seperti dekstrosa 4% atau 5% atau saline 0. Cairan ini tidak sesuai untuk resusitasi atau terapi pengganti kecuali dalam kondisi defisit air yang signifikan misalnya pada diabetes insipidus. Rata-rata kebutuhan cairan 30-40 ml/kg/24 jam. (Evidence level 1b).5 liter air per oral.  Rekomendasi 3 Untuk memenuhi kebutuhan rumatan. kalium 40-80 mmol/hari dalam 1.1 Terapi Cairan Preoperatif Pemenuhan kebutuhan normal cairan adalah untuk mengganti cairan yang normalnya keluar melalui ginjal.9%. 2.Pemantauan memperbaiki hati-hati defisit harus atau dilakukan mengganti dengan cairan yang menggunakan pemeriksaan klinis. bila terdapat indikasi untuk melakukan resusitasi dengan kristaloid. saluran cerna.

karena induksi anastesia pada dehidrasi berat akan membahayakan pasien. pengobatan pra operasi dengan cairan intravena dan inotropik harus diberikan untuk mencapai curah jantung dan penyampaian oksigen yang optimal terkait dengan prognosis. Sedangkan pada British Consensus Guidelines on Intravenous Fluid Therapy for Adult Surgical Patients Tahun 2011 terapi cairan pre-operatif yang direkomendasikan adalah sebagai berikut7:  Rekomendasi 7 Bila terdapat penggunaan mechanical bowel preparation. ( Evidence level 2a for Hartmann’s versus 0. dan dengan penambahan kalium yang cukup serta observasi diharapkan tidak menyebabkan kadar natrium yang berlebihan.Sebelum dilakukan pembedahan sebaiknya masalah dehidrasi diatasi terlebih dahulu. Hipochloremia merupakan indikasi untuk menggunakan saline 0.9% saline.9%. ( Evidence level 1b) .Pada hari pertama atau kedua pascabedah biasanya tidak diperlukan pemberian kalium kecuali jika hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan hipokalemia.)  Rekomendasi 9 Pada pasien bedah berisiko tinggi.(Evidence level 1b)  Rekomendasi 8 Kehilangan cairan akibat aspirasi lambung atau muntah harus diterapi sebelum operasi dengan larutan kristaloid yang tepat yang mencakup suplemen kalium yang sesuai. gangguan cairan dan elektrolit umum terjadi dan harus diperbaiki dengan terapi intravena cairan secara kontinus dengan Hartmann atau Ringer Laktat atau cairan asetat lainnya. Resusitasi cairan dapat menggunakan cairan Ringer Laktat atau Ringer Asetat2. juga dihitung kebutuhan elektrolit terutama natrium dan kalium.Kebutuhan natrium harian adalah 2-4 mEq/kg/24 jam.6 selain dihitung jumlah cairan. sedangkan kebutuhan harian kalium adalah 1-2 mEq/kg/24 jam.

peritonitis. Pemberian koloid dalam jumlah banyak tanpa kadar air yang cukup seperti dekstrosa 5% dapat memicu pasien mengalami status hiperonkotik. rendahnya keluaran urin tidak dapat menjadi tanda pasti hipovolemik. Volume to be given: Evidence level 5 (consensus)For suitable colloid: Evidence level 1b36 ). ( Suitable colloid or crystalloid for hypovolaemia: Evidence level 1b)  Rekomendasi 12 Saat diagnosis hipovolemi diragukan dan tekanan vena sentral tidak meningkat. Hipovolemik akibat inflamasi berat seperti infeksi. Alternatif pengukuran dapat dilakukan dengan respon klinis pulsasi. tekanan vena sentral atau tekanan darah yakni sebelum dan lima belas menit setelah pemberian bolus. ( Diagnosis of hypovolaemia: Evidence level 1b)  Rekomendasi 11 Hipovolemik akibat kehilangan darah harus diterapi dengan cairan kristaloid atau koloid yang cocok hingga produk darah packed red cellstersedia. ( Evidence level for flow-based measurements: 1b47.Respon dilihat melalui curah jantung dan stroke volume yang dihitung dengan flow-based technology bila memungkinkan. sehingga mereka berpotensi untuk mengalami edema interstisial.Kemampuan ekskresi kelebihan natrium dan air pada pasien dengan critical ill adalah terbatas. pemberian bolus 200 ml koloid atau kristaloid yang cocok dapat dicoba. Bolus harus diulang hingga respon peningkatan stroke volume atau respon klinis tidak ada lagi.7  Rekomendasi 10 Diagnosis hipovolemik saat pre-operatif maupun intra-operatif harus dapat ditegakkan meskipun tidak semua pusat kesehatan mampu. pankreatitis atau luka bakar diterapi dengan menggunakan koloid atau kristaloid yang cocok. waktu pengisian kapiler. For bolus infusion: Evidence level 1b48. . Namun.Observasi tetap diharuskan demi mencegah terjadinya kelebihan cairan. Hipovelemik dapat didiagnosis secara klinis atau laboratoris.

(Orthopaedic surgery: Evidence level 1b. Jumlah cairan untuk menggantikan darah yang keluar yaitu cairan NaCl 0. sedangkan kebutuhan pengganti adalah sejumlah . 2. Abdominal surgery: Evidence level 1a)  Rekomendasi 14 Bila pasien menjalani bedah mayor abdominal atau ortopedi nonelektif. Cairan rumatan selama pembedahan. dan kekurangannya 2 liternya dibagi menjadi 1 liter pertama diberikan dalam 8 jam pertama sedangkan sisa 1 liternya diberikan pada 16 jam berikutnya) 3. Kebutuhan basal adalah kebutuhan normal per hari. cairan intraoperatif diberikan untuk mencapai stroke volume optimal terkait dengan penurunan angka komplikasi pasca operasi serta lama rawatan.2 Terapi Cairan Intra-Operatif Selama pembedahan. bergantung pada jenis operasinya.3.3 Terapi Cairan Post-Operatif Perhitungan kebutuhan cairan pascabedah juga harus selalu didasarkan pada kebutuhan basal ditambah kebutuhan pengganti.5 ml/kg/jam (untuk operasi pada permukaan/ superfisial) hingga 15 ml/kg/jam (untuk operasi yang membuka rongga abdomen).8 2. pemberian cairan didasarkan pada2: 1.3. Dapat pula ditambhkan dengan infus dopexamine dosis rendah. Sedangkan pada British Consensus Guidelines on Intravenous Fluid Therapy for Adult Surgical Patients Tahun 2011 terapi cairan intra-operatif yang direkomendasikan adalah sebagai berikut7:  Rekomendasi 13 Bila pasien menjalani bedah ortopedi atau abdominal. Perkiraan deficit cairan yang belum sepenuhnya terkoreksi (misalnya deficit cairan 5 liter. cairan intravena harus diberikan untuk mencapai stroke volume optimal selama operasi dan 8 jam pertama pasca operasi. berkisar antara 2. diberikan resusitasi cairan awal 3 liter.(Evidence level 1b).9% atau ringer laktat sebanyak 3x jumlah perdarahan 2.

Sedangkan pada British Consensus Guidelines on Intravenous Fluid Therapy for Adult Surgical Patients Tahun 2011 terapi cairan post-operatif yang direkomendasikan adalah sebagai berikut7:  Rekomendasi 17 Pada pasien dengan euvolemik dan secara hemodinamik stabil dapat menghentikan jalur intravena dan mengganti ke jalur per oral sesegera mungkin. (Evidence levels 1b)  Rekomendasi 19 Hemodinamik dan keseimbangan cairan pada pasien yang gagal untuk mengekskresi kelebihan natrium pasca operasi. polyuria.(Evidence levels 1b)  Rekomendasi 18 Pada pasien yang masih memerlukan cairan rumatan. maka cairan lebih baik yang rendah natrium dan rendah volume sampai kadar natrium dan keseimbangan cairan kembali seperti pra-operatif.9 cairan yang hilang akibat demam tinggi. drainase lambung. dengan maksud untuk mengoptimalkan kebutuhan oksigen jaringan sebagaimana hal ini dapat mengurangi komplikasi dan lama rawatan pasca operasi. Jika terdapat kehilangan cairan yang sedang berlangsung. diare atau perdarahan2. (Evidence level 1b) . (Evidence levels 1b)  Rekomendasi 20 Pada pasien dengan resiko tinggi yang menjalani bedah abdominal. maka pasien harus dievaluasi lebih lanjut. maka kehilangan cairan harus diganti. muntah. cairan intravena pasca operasi dan pemberian doxapemine dosis rendah dapat dipertimbangkan. dan pada pasien dengan natrium urin <20mmol/L.

bahkan kerusakan neurologis yang permanen. Hiponatremia akibat kelebihan cairan CES diatasi dengan mengobati penyakit dasarnya. melainkan untuk mengatasi keluhan neurologis. Strategi koreksi hiponatremia yakni2: Misalnya kadar Na+ 120 mEq/L pada seorang yang berat badannya 60 kg. koma. Koreksi hiponatremia yang terlalu cepat dapat mengakibatkan kerusakan saraf yang permanen bahkan dapat menyebabkan kematian karena terjadi central pontine myelinolisis. Bila terdapat defisit volume CES.10 2.4 Koreksi Elektrolit Hiponatremia Tanda dan gejala hiponatremia bergantung pada kecepatan penurunannya dan seberapa rendahnya konsentrasi Na+. terapinya adalah resusitasi cairan. muntah atau bingung. serta restriksi pemberian air. Bila kadar Na+ 120-125 mEq/L. koreksi hiponatremi menggunakan NaCl 3% sebanyak (360/250) x 500 cc yakni 720 cc Gambar 1. memberikan diuretic (hindari golongan thiazide). Koreksi hiponatremi harus dilakukan secara bertahap dan perlahan sehingga kadar kenaikan kadar natrium plasma tidak melebihi 5-7 mEq/ hari2. . akan timbul keluhan pusing.  Target Na+ adalah 130 mEq/L  Defisit Na+ = 0. sedangkan apabila kadarnya turun sampai <115 mEq/L akan terjadi kejang.3. Koreksi Hiponatremia2 Koreksi hiponatremi adalah bukan semata-mata untuk mencapai kadar normal natrium.6 x BB x (130-120) = 360 mEq  NaCl 3% dalam 500 cc mengandung 250 mEq Natrium  Sehingga. koreksi gangguan elektrolit yang lain atau pemberian larutan NaCl hipertonik (NaCl 3%). Terapi hiponatremia bergantung pada volume CES. mual.

Tahap pertama penanganan hypokalemia adalah menghentikan kehilangan cairan yang sedang berlangsung (“ongoing losses”) dan mengatasi penyebab redistribusi cairan ke intrasel. Kalium intravena umumnya dianjurkan diberikan dalam konsentrasi 40 mEq/liter (dilarutkan dalam cairan garam fisiologis) dengan kecepatan 10-20 mEq/ jam atau maksimal 100 mEq/ hari disertai pemantauan kadar serum kalium secara berkala. harus selalu diperiksa kadar natrium urin dan osmolaritas urin. depresi segmen ST. polyuria. Hipokalemia Gejala klinis yang ringan dapat muncul sebagai haus. Pemberian kalium per oral lebih dianjurkan jika dapat ditoleransi.Hipokalemia berat menyebabkan gangguan konduksi jantung dan akhirnya henti jantung. Terapi hipernatremia meliputi pemberian air atau larutan dekstrosa 5% atau diuretik. .Untuk terapi diare dan muntah. Kecepatan pemberian di atas 20 mEq/ jam hanya dilakukan pada hypokalemia berat dan hanya diberikan selama beberapa jam pertama disertai dengan pemantauan EKG2. Untuk menegakkan diagnosis hypernatremia. berikan H 2 bloker. iritabel. biasanya dalam dua hari2. Hypernatremia berat meningkatkan angka kematian sampai > 50%. Koreksi hypernatremia tidak boleh terlalu cepat. Kalium intravena menimbulkan iritasi pembuluh darah sehingga terjadi phlebitis.Pemberian diuretik kuat dihentikan atau diganti dengan diuretik hemat kalium. gambaran PVC (premature ventricle contraction) dan takikardia. Kalium tidak boleh diberikan secara cepat karena akan mengakibatkan aritmia yang fatal. Tahap berikutnya adalah pemberian suplemen kalium per oral atau parenteral.Hipokalemia berat menyebabkan kelumpuhan otot hingga gagal napas.Pemeriksaan EKG menunjukkan gelombang T mendatar. kejang dan koma.11 Hipernatremia Gejala atau keluhan yang berhubungan dengan hypernatremia antara lain dapat berupa letargi. otot kaku dan rasa lemah.

Oleh sebab itu.  Memacu masuknya kembali kalium dari ekstrasel ke intrasel dengan cara memberikan insulin 10 unit dalam glukosa 40%. Tanda dan gejala seperti aritmia jantung. mengembalikan kalium ke dalam sel dan meningkatkan ekskresinya. kelemahan otot dan hipoventilasi. Gambaran EKG dapat berupa gelombang T yang tinggi. Kadar kalium >5 mEq/L harus segera diturunkan. depresi segmen ST. Bila perubahan EKG akibat hyperkalemia masih ada. lalu diikuti dengan infus dekstrosa 5% untuk mencegah terjadinya hipoglikemi. Prinsip pengobatan hyperkalemia adalah8:  Mengatasi pengaruh hiperkalemia pada membran sel dengan cara memberikan kalsium intravena (kalsium glukonat) 10 ml dalam waktu 2-3 menit dengan monitor EKG. Gejala hiperkalemia biasanya dapat dievaluasi dari fungsi kardiovaskular dan neurologis. 50 ml bolus intravena. pemberian kalsium glukonat dapat diulang setelah 5 menit.12 Hiperkalemia Hiperkalemia biasanya sulit didiagnosis karena gejala dan keluhannya sering tidak jelas. . perjalanan penyakit yang mengarah pada diagnosis ini perlu diperhatikan. QRS yang lebar hingga fibrilasi ventrikel dan asistol.Terapi hiperkalemia ditujukan pada stabilisasi fungsi jantung. kadar kalium 6 mEq/L dapat menyebabkan henti jantung2.

oksigenasi dan perfusi jaringan dapat menjamin keseimbangan metabolisme sel. misalnya penyakit ginjal. interstisial dan intraselular. atau mempertahankan kadar protein darah.13 BAB III KESIMPULAN Pembedahan memicu gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.Tujuan umum pemberian cairan dan elektrolit adalah mengganti atau mempertahanan volume cairan intravascular. mempertahankan keseimbangan air. Dengan demikian. Pemahaman tentang keseimbangan cairan dan elektrolit sangat penting dalam menangani penderita yang akan. . serta curah jantung (cardiacoutput). elektrolit dan komponen darah. sedang atau selesai menjalani pembedahan. jantung dan masalah paru-paru.Masalah keseimbangan cairan dan elektrolit pada saat pembedahan bertambah rumit jika terdapat komorbid. Sedangkan tujuan khususnya adalah mempertahankan beban pra-jantung ( preload ).

2011. 2). 6. p. Tong J. Mantara. Soetomo Surabaya. & Wilson. 2007.45% terhadap Kadar Glukosa Darah Perioperatif. Parlindungan. Jakarta. Thesis. Alwi I. Wong’s nursing care of infants and children. IARS Review Course Lectures.J. EGC. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran UNDIP / RSUP Dr.A. Jatmiko HD. editors. Program Pendidikan Dokter Spesialis I Anestesiologi Universitas Diponegoro Semarang 2. Setiyohadi B. Gangguang Keseimbangan Elektrolit. 7. Syamsuhidayat R. 316-7 3.1862-5 . Widya Mandala Catholic University. et al. British Consensus Guidelines on Intravenous Fluid Therapy for Adult Surgical Patients. 2010. 3). Studi penggunaan larutan koloid pada pasien rawat inap di ROI – IRD RSUD Dr. A. Alfanti. M. p. Hockenberry. Kariadi. Siregar. Does fluid restriction improve outcomes of surgical patients?.5 % NaCl 0. Semarang. Erna Fitriana. D. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.. 2013. Anestesiologi (Ed. Undergraduate thesis. Jeremy Powell. Thesis. Sudoyo AW. Jakarta.14 DAFTAR PUSTAKA 1. 2014. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Tuck. United Kingdom. dkk (Editor). 2010. Canada: Mosby Elsevier. 8. Buku Ajar Ilmu Bedah (Ed. 4. 2007. Gan. International Anesthesia Research Society. Pengaruh Infus Dekstrosa 2. Soenarjo. 282-3 5. 2011. hal.