You are on page 1of 10

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh
tekanan darah yang sangat tinggi dengan kemungkinan akan timbulnya atau telah
terjadi kelainan organ target. Dalam kata lain, krisis hipertensi merupakan
peningkatan tekanan darah yang mendadak dengan tekanan darah sistolik ≥180
mm Hg dan atau diastolik ≥120 mm Hg, yang membutuhkan penanggulangan
segera.
Dimana, pada umumnya krisis hipertensi terjadi pada pasien yang tidak teratur
atau tidak mengkonsumsi obat antihipertensi. 6
JNC 7 membagi krisis hipertensi berdasarkan ada atau tidaknya bukti
kerusakan organ target yang progresif (hipertensi emergensi dan hipertensi
urgensi). Bukti kerusakan organ target yang dimaksud antara lain ensefalopati
hipertensif, infark miokard akut, gagal jantung kiri disertai edema paru, diseksi
aneurisma aorta, dan eklamsia. Dimana, klasifikasi ini berdampak pada
tatalaksana pasien itu sendiri. Upaya penurunan tekanan darah pada kasus
hipertensi emergensi harus dilakukan segera (< 1 jam) sedangkan pada kasus
hipertensi urgensi dapat dilakukan dalam beberapa kurun waktu beberapa jam
hingga beberapa hari. 4
Krisis hipertensi terdiri dari:
1. Hipertensi mendesak (urgency hypertension), yang apabila tekanan darah
sistolik >180 mmHg atau diastolik >120 mmHg tanpa disertai kerusakan
organ target sehingga penurunan tekanan darah dapat dilaksanakan lebih
lambat (dalam hitungan jam sampai hari).
2. Hipertensi darurat (emergency hypertension), yang apabila tekanan darah
sistolik >180 mmHg atau diastolik >120 mmHg, dan terdapat kelainan
atau kerusakan organ target yang progresif sehingga tekanan darah harus
diturunkan dengan segera (dalam menit sampai jam) guna untuk mencegah
kerusakan organ target yang terjadi. 6
8

1 3. diperlukan pemahaman mengenai autoregulasi tekanan darah dan aliran darah.katan resistensi vaskular. berupa disfungsi endotel. yang menyertai pengetahuan 9 . namu para kilinisi harus tetap waspada akan kejadian krisis hipertensi. Namun. remodeling. 4 Walaupun telah banyak kemajuan dalam pengobatan hipertensi. Peningkatan tekanan darah yang mendadak ini akan menyebabkan jejas endotel dan nekrosis fibrinoid arteriol sehingga membuat keru.6 Secara global. Diduga karena terjadinya peningkatan tekanan darah secara cepat disertai pening. karena penderita krisis hipertensi dapat membahayakan jiwa atau dalam kata lain dapat mengakibatkan kematian. dan arterial striffness. Rendahnya angka tersebut tampaknya disebabkan oleh makin terjangkaunya terapi hipertensi.Kedua jenis krisis hipertensi ini perlu dibedakan dengan cara anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pengobatan yang cepat dan tepat serta intensif lebih diutamakan daripada prosedur diagnostik karena sebagian besar komplikasi krisis hipertensi bersifat reversibel. angka kejadian hipertensi primer yang mengalami progresi menjadi krisis hipertensi hanya kurang dari 1%. 3. apabila tidak ditanggulangi dengan cepat dan tepat. pengobatan yang selektif dan terarah terhadap masalah medis. fibrin dan kerusakan fungsi autoregulasi. faktor penyebab krisis hipertensi (hipertensi emergensi dan hipertensi urgensi) masih belum diketahui.3 Epidemiologi Prevalensi rata-rata 1-5 % penduduk dewasa tergantung dari kesadaran pasien akan adanya hipertensi dan derajat kepatuhan makan obat.2 Etiologi Faktor penyebab hipertensi intinya terdapat perubahan vascular. kepuasaan janganlah sampai ada sebab semua hipertensi memiliki potensi untuk berkembang menjadi krisis hipertensi. Akan tetapi. deposisi platelet. karena baik faktor risiko dan penanggulangannya berbeda. Dalam menanggulangi krisis hipertensi dengan obat antihipertensi.sakan vaskular.

Hal tersebut memicu kaskade koagulasi dan deposisi fibrin. 2 3. variasi regimen pengobatan untuk mendapatkan hasil pengobatan yang memadai dan efek samping yang minimal. Peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan stress mekanik dan jejas pada endotel sehingga permeabilitas pembuluh darah meningkat. saluran cerna. Siklus tersebut berlangsung berkelanjutan sehingga disfungsi organ target bersifat progresif (semakin berat). 4 Diperkirakan. kemudia menyebabkan iskemia serta hipoperfusi organ yang menyebabkan gangguan fungsi. 5 10 .mengenai obat parenteral dan oral antihipertensi. ginjal. krisis hipertensi diakibatkan oleh kegagalan fungsi autoregulasi dan peningkatan resistensi vascular sistemik yang mendadak dan cepat. jantung. serta darah.4 Patofisiologi Tanda dan gejala krisis hipertensi merupakan gambaran kerusakan akut dinding endotel vaskuler dan aktivasi platelet. Temuan klinis krisis hipertensi dapat terlihat melalui pemeriksaan fisik umum berupa pengukuran tekanan darah serta pemeriksaan khusus yang mencakup berbagai fungsi organ seperti mata.

penurunan tingkat kesadaran dan tanda neurologi fokal berupa hemiparesis atau paresis nervus cranialis. Pada hipertensi ensefalopati didapatkan penurunan kesadaran dan atau defisit neurologi fokal. Pada pemeriksaan fisik pasien bisa saja ditemukan retinopati dengan perubahan arteriola. Tanda dan gejala hipertensi krisis berbeda-beda setiap pasien. perdarahan dan eksudasi maupun papiledema. Pada pasien dengan hipertensi krisis dengan perdarahan intrakranial akan dijumpai keluhan sakit kepala. Pada sebagian pasien yang lain manifestasi kardiovaskular bisa saja muncul lebih dominan seperti.Gambar 1 Patofisiologi hipertensi krisis 3.5 Manifestasi Klinis Manifestasi klinis hipertensi krisis berhubungan dengan kerusakan organ target yang ada. akut miokardial infark atau gagal jantung kiri akut. Dan beberapa 11 . angina.

Penilaian awal dari pasien hipertensi harus termasuk riwayat lengkap dan pemeriksaan fisik untuk memastikan sebuah diagnose dari hipertensi. Tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan yang menyeluruh walaupun dengan data-data yang minimal. Manifestasi Klinis Hipertensi Emergency 3. karena hasil terapi tergantung kepada tindakan yang cepat dan tepat. meliputi : 12 .Meskipun kebanyakan memikirkan bahwa timbul sebuah gejala ketika terjadi kenaikan tekanan arterial. 2 Kemampuan dalam mendiagnosis hipertensi emergensi dan urgensi harus dapat dilakukan dengan cepat dan tepat sehingga dapat mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pasien.6 Diagnosis Diagnosis untuk kasus krisis hipertensi harus ditegakkan sedini mungkin. Kebanyakan pasien dengan hipertensi memiliki gejala yang tidak spesifik terkait dengan kenaikan tekanan darah. palpitasi.pasien yang lain gagal ginjal akut dengan oligouria dan atau hematuria bisa saja terjadi.Sakit kepala karena hipertensi umunya terjadi pada pagi dan terlokalisasi pada region oksipitalis.Gejala non spesifik lainnya yang mungkin dapat berhubungan kenaikan tekanan darah termasuk pusing. dan impotensi. Berikut hal-hal yang harus dilakukan dalam menegakkan diagnosa. Gambar 2. sakit kepala umumnya terjadi hanya pada pasien dengan hipertensi berat. mudah lelah. sudah dapat mendiagnosa suatu krisis hipertensi.

Hematokrit dan apusan darah b. kehilangan penglihatan. Status kardiopulmoner e. Pemeriksaan Fisik a. Foto thorax (jika terdapat kecurigaan gagal jantung atau diseksi aorta). 6 13 . Urinalisis: proteinuria. eksudat retina. f. Funduskopi: untuk melihat adanya spasme arteri segmental. azotemia (ureum >200 mg/dL). papiledema.1. eritrosit pada urin. Ultrasonografi: untuk melihat struktur ginjal. c. Anamnesis Sewaktu penderita masuk. defisit fokal neurologis. dan fungsi penglihatan). koma. Pemeriksaan cairan tubuh: oliguria pada gangguan ginjal akut. Pemeriksaan Penunjang a. d. d. edema retina. atau titik). perdarahan retina (superfisial. Yang ditanyakan pada saat anamnesis ialah adanya riwayat hipertensi dan pengobatan hipertensi sebelumnya. Pemeriksaan denyut nadi perifer 3. f. b. perlu dilakukan anamnesa singkat. berbentuk api. glukosa. Tekanan darah: tekanan darah sistolik >180 mmHg. bingung. 2. elektrolit. Pemeriksaaan neurologis: sakit kepala. tekanan darah diastolic >120 mmHg. vena membersar. hipertrofi ventrikel kiri. e. kejang. Gejala organ target yang dirasakan (serebrosvaskular. jantung. c. Elektrokardiografi: adanya iskemia. Kimia darah: peningkatan kreatinin.

Pemberian loading dose obat oral antihipertensi dapat menimbulkan efek akumulasi dan pasien akan mengalami hipotensi saat pulang ke rumah. Alur pendekatan diagnosis Hipertensi krisis 3.7 Penatalaksanaan 3.7. Optimalisasi penggunaan kombinasi obat oral merupakan pilihan terapi untuk pasien dengan hipertensi urgensi. Pada fase awal standard goal penurunan tekanan darah dapat diturunkan sampai 160/110 mmHg. Pemberian obatobatan oral aksi cepat akan memberi manfaat untuk menurunkan tekanan darah dalam 24 jam awal Mean Arterial Pressure (MAP) dapat diturunkan tidak lebih dari 25%.1 Hipertensi Urgency  Penatalaksanaan umum: Manajenem penurunan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi urgensi tidak membutuhkan obat-obatan parenteral.Gambar 3.obatan spesifik untuk hipertensi urgency 14 .7  Obat . Penggunaan obat-obatan anti-hipertensi parenteral maupun oral bukan tanpa risiko dalam menurunkan tekanan darah.

hipotensi.7 Nifedipine adalah golongan calcium channel blocker yang memiliki pucak kerja antara 10-20 menit. Efek yang sering terjadi yaitu batuk.7 mg.2 mg kemudian berikan 0. dan gagal ginjal (khusus pada pasien dengan stenosis pada arteri renal bilateral). Penggunaan dosis oral biasanya 30 mg dan dapat diulang setiap 8 jam hingga tercapai tekanan darah yang diinginkan. angioedema.05-0. Dosis awal bisa diberikan 0.7 Nicardipine adalah golongan calcium channel blocker yang sering digunakan pada pasien dengan hipertensi urgensi.mulut kering dan hipotensi ortostatik. Secara umum labetalol dapat diberikan mulai dari dosis 200 mg secara oral dan dapat diulangi setiap 3-4 jam kemudian.Captopril adalah golongan angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dengan onset mulai 15-30 menit. Efek samping yang sering terjadi adalah sedasi.1 mg setiap jam sampai tercapainya tekanan darah yang diinginkan. Pada penelitian yang dilakukan pada 53 pasien dengan hipertensi urgensi secara random terhadap penggunaan nicardipine atau placebo. dosis maksimal adalah 0. berkeringat dan sakit kepala. hiperkalemia.1-0. setiap grup dibagi menjadi 3 kelompok. diberikan dosis 100 mg. Nicardipine memiliki efektifitas yang mencapai 65% dibandingkan placebo yang mencapai 22% (p=0. Efek samping yang sering muncul adalah mual dan sakit kepala. Penelitian secara random pada 36 pasien. Nifedipine kerja cepat tidak dianjurkan oleh FDA untuk terapi hipertensi urgensi karena dapat menurunkan tekanan darah 15 . Efek samping yang sering terjadi seperti palpitasi. 200 mg dan 300 mg secara oral dan menghasilkan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik secara signifikan.7 Clonidine adalah obat-obatan golongan simpatolitik sentral (α2 adrenergicreceptor agonist) yang memiliki mula kerja antara 15-30 menit dan puncaknya antara 2-4 jam.7 Labetalol adalah gabungan antara α1 dan β-adrenergic blocking dan memiliki waktu kerjamulai antara 1-2 jam. Captopril dapat diberikan 25 mg sebagai dosis awal kemudian tingkatkan dosisnya 50-100 mg setelah 90-120 menit kemudian. Dalam penelitian labetalol memiliki dose range yang sangat lebar sehingga menyulitkan dalam penentuan dosis.002).

Pasien harus berada di dalam ruangan ICU agar monitoring tekanan darah bisa dikontrol dan dengan pemantauan yang tepat. perdarahan intrakranial dan stroke iskemik akut.2 Hipertensi Emergency  Penatalaksanaan Umum Terapi hipertensi emergensi harus disesuaikan setiap individu tergantung pada kerusakan organ target. Tingkat ideal penurunan tekanan darah masih belum jelas. Obat-obatan tersebut dapat menurunkan tekanan 16 . Secara terus-menerus MAP dipertahankan > 130 mmHg. American Heart Association merekomendasikan penurunan tekanan darah > 180/105 mmHg pada hipertensi dengan perdarahan intrakranial dan MAP harus dipertahankan di bawah 130 mmHg.7. Pada studi yang telah dilakukan. Pasien dengan hipertensi emergensi yang melibatkan iskemik pada otot jantung dapat diberikan terapi dengan nitroglycerin. Kegawatdaruratan neurologi sering terjadi pada hipertensi emergensi seperti hypertensive encephalopathy. Penurunan tekanan darah secara cepat dan berlebihan akan mengakibatkan jantung dan  pembuluh darah orak mengalami hipoperfusi. kemudian dapat dilanjutkan dengan obat-obatan vasodilatasi seperti nitroprusside. tetapi penurunan Mean Arterial Pressure (MAP) 10% selama 1 jam awal dan 15% pada 2-3 jam berikutnya. Kegawatdaruratan yang utama pada jantung seperti iskemik akut pada otot jantung.7 3.yang mendadak dan tidak dapat diprediksikan sehingga berhubungan dengan kejadian stroke. 7 Cardiac emergency. Manajemen tekanan darah dilakukan dengan obat-obatan parenteral secara tepat dan cepat. edema paru dan diseksi aorta. Pada keadaan diseksi aorta akut pemberian obatobatan β-blocker (labetalol dan esmolol) secara IV dapat diberikan pada terapi awal. Pada pasien dengan stroke iskemik tekanan darah harus dipantau secara hati-hati 1-2 jam awal untuk menentukan apakah tekanan darah akan menurun secara sepontan. bahwa nitroglycerin terbukti dapat meningkatkan aliran darah pada arteri koroner. 7 Penatalaksanaan khusus Hipertensi Emergency Neurologic emergency.

oligouria dan atau anuria. Serum creatine merupakan prognostik marker yang paling baik dan dalam studinya didapatkan bahwa 85% dari penderita dengan creatinite <300 umol/l memberikan hasil yang baik dibandingkan dengan penderita yang mempunyai fungsi ginjal yang buruk. Whitworth melaporkan dari penelitiannya sejak tahun 1980 bahwa survival dalam 1 tahun berkisar 94% dan survival 5 tahun sebesar 75%. infrak miocard sebanyak 1%. Pemberian fenoldopam secara parenteral dapat menghindari potensi keracunan sianida akibat dari pemberian nitroprussidedalam terapigagal ginjal. Acute kidney injury ditandai dengan proteinuria. cerebro vascular accident sebanyak 20%. Prognosis menjadi lebih baik akibat ditemukannya obat yang efektif dan penanggulangan penderita gagal ginjal dengan analisis dan transplantasi ginjal.darah sampai target tekanan darah yang diinginkan (TD sistolik > 120mmHg) dalam waktu 20 menit. 2 17 .8 Prognosis Penyebab kematian tersering adalah stroke (25%) . Terapi yang diberikan masih kontroversi. Tidak dijumpai perbedaan hasil antara retionopati KW III dan IV. 7 Kidney Failure. Prognosis menjadi lebih baik apabila penangannannya tepat dan segera.7 3. payah jantung kongestif sebanyak 13%. gagal ginjal (19%) dan gagal jantun (13%). Acute kidney injury bisa disebabkan oleh atau merupakan konsekuensi dari hipertensi emergensi. 1 Sebelum ditemukannya obat anti hipertensi yang efektif survival penderita hanya 20% dalam 1 tahun. payah jantung kongestif disertai uremia sebanyak 48%. yaitu 9%. namun nitroprusside IV telah digunakan secara luas namun nitroprusside sendiri dapat menyebabkan keracunan sianida atau tiosianat. Kematian disebabkan oleh uremia sebanyak 19%. dan diseksi aorta sebanyak 1%. hematuria.