You are on page 1of 5

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
A.

PENGKAJIAN

1. Identitas
Nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, agama, alamat, dll.

2. Keluhan Utama
Pada pasien dengan artritis reumatoid, mengeluh nyeri sendi dan nyeri tekan
disertai dengan kemerahan dan bengkak pada jaringan lunak sekitar sendi.

3. Riwayat Penyakit Sekarang

P : Provokatif (Sebab Masalah)
Apakah yang menyebabkan klien merasa nyeri pada sendi yang disertai
dengan kemerahan dan bengkak pada jaringan lunak.

Q : Quality (Kualitas, kuantitas masalah)
Kaji tingkat nyeri yang dirasakan oleh pasien, apakah nyeri yang
dirasakan :

i.
ii.
iii.

Ringan : 0 – 3
Sedang : 3 – 7
Berat : 7 – 10

Dan apakah selama aktivitas daat melakuakn kesehariannya.
 R : Reagent (Tempat, area yang dirasakan )
Tanyakan pada pasien, apakah dapat menunjukkan letak lokasi nyeri yang
dirasakan ?

maupun dirumah. keluarga. apakah pasien menjalankan ibadahnya menurut keyakinan dan agama yang pasien anut ? Pemenuhan Kebutuhan a. S : Sifikti & Skill (Usaha yang dilakukan) Tanyakan usaha apakah yang telah dilakukan oleh pasien untuk mengatasi nyeri ?  T : Time (Waktu) Berapa lama rasa nyeri yang dialami pasien biasanya ? (Obat dapat menuntaskan penyakitnya / rasa nyeri hanya dalam jangka waktu sementara) 4. Pola Makan  Kaji kebiasaan makan klien selama dirumah sakit atau dirumah  Biasanya nafsu makan menurun  Kesulitan untuk mengunyah  Terjadi penurunan berat badan. apakah ada keluarga yang menderita penyakit “AR” ? atau penyakit turunan lainnya misalnya DM. apakah mempunyai riwayat penyakit infeksi lain ? atau gangguan sistem normonal yang berhubungan dengan faktor genetika / keturunan ? 5. HT. Pengkajian Psikososial – Spiritual a) Psikologi : Apakah pasien merasa cemas terhadap penyakitnya ? b) Sosial : Kaji. b. Bagaimana hubungan interaksi pasien dengan dokter. Pola Minum  Kaji kebebasan pola minum klien selama dirumah sakit. Riwayat Penyakit Keluarga Tanyakan pada pasien. dan sesama pasien lain. dll ? 6. perawat. vitamin. atau Riwayat penyakit keluarga lain yang berhubungan dengan penggunaan makanan. c) Spiritual : Kaji. Riwayat Penyakit Dahulu Tanyakan kepada pasien.  Nampak penurunan / masukan cairan yang tidak adekuat.  Terjadi kekeringan pada membran mukosa . riwayat perikarditis lesi katup.

bau. nyeri tekan. Pernafasan : Pada umumnya klien dengan penyakit seperti ini tingkat kesadaran v. biasanya pada klien dengan artritis reumatoid berhubungan dengan keterbatasn rentang gerak. g.c. Istirahat Tidur Berhubungan dengan nyeri sendi. TD : ii. Aktifitas Klien membatasi kegiatan yang berlebihan. Pemeriksaan Fisik  Kaji obervaasi tanda-tanda vital (TTV) i. dll. dan konsistensinya. Eliminasi Urine (BAK)  Kaji pola kebiasaan BAK pasien : warna. Eliminasi Alvi (BAB)  Kaji pola kebiasaan BAB pasien . dan biasanya tacikardi. S: iii. Kebutuhan Kebersihan Diri Biasanya klien dengan penyakit semacam ini akan mengalami kesulitan melaksanakan aktivitas perawatan pribadi. d. atrofi otot. N: iv. yang dapat berpengaruh besar bagi kegiatan kesehariannya. Ketergantungan pada orang lain. kulit kontraktur / kelainan pada sendi dan otot. menyebabkan pasien sulit untuk istirahat tidur yang disertai karena adanya pengaruh gaya hidup atau pekerjaan. Pengkajian Persistem . e. dalam keadaan sadar /compus mentis dengan GCS : 4-5-6 Pada umumnya suhu tubuh mengalami demam ringan (Selama periode eksaserbasi). f. warna.

d. Sistem Integumen  Kulit nampak mengkilat. tekstur (penebalan pada kulit)  Integritas (lecet. Sistem Pernafasan Gejala keterlibatan saluran nafas atas ini dapat berupa nyeri tenggorokan. Dengan skala nyeri : i. Sistem penglihatan  Inspeksi : Kelainan mata yang sering dijumpai pada “AR” adalah kerato konjungtivitis sicca yang merupakan manifestasi sindrom sjogren.  Turgor. nyeri menelan / disfunia yang sering dirasakan pada pagi hari dengan gejala efusi pleura dan fibrosa paru luas. Dapat pula dijumpai gejala skleritis yang secara histologis menyerupai nodul reumatoid dan dapat terjadi erosi sklera sampai pada palpasi koroid serta menimbulkan gejala sklero malaia pektorans sebagai akibat terjadi kebutaan. kemerahan. gengguan siikulasi ke ekstremitas). luka. spina torakal.  Palpasi :  Adanya nyeri sendi padadaerah yang disertai kemerahan / bengkak. Sistem Muskuloskeletal  Inspeksi :  Perhatian keadaan sendi-sendi pada leher. b. Ringan : 0 – 3 ii. lutut. spina servikal. pergelangan. Sistem Kardiovaskuler Pada “AR” jarang dijumai gejala perikarditis berupa nyeri dada gangguan faal jantung akan tetapi pada beberapa pasien dapat pula dijumpai gejala perikarditis konstriktif yang .a. pinggul. Sedang : 3 – 7 iii. Berat : 7 – 10  Temperatur hangat pada sendi yang nyeri. bahu siku. lumbai. e. ekstermitas bawah dan panggul  Amati kemerahan dan bengkak pada jaringan lunak sekitar sendi. tangan dan jari tangan. c. Pada keadaan itu gejala ini sering kali tidak dirasakan oleh pasien pada episode episkleritis yang ringan.

Sistem Reproduksi Tidak adanya penyakit kelamin. 3. i. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas skeletal. depresi . f. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal. namun dalam hal ini “AR” dapat mengakibat kanulkus peptikum. 4. tenoken embolisasi. servikal. Kurang pengetahuan / kebutuhan belajar mengenai penyakit. /neuropati iskemik akibat nasulilitis. Sistem Perkemihan Dapat ditentukan adanya neuro karotis pati dan papilar ginjal. 5. Sistem Pencernaan Pada kasus ini kx tidak mengalami traktus gastrointeskinalis yang spesifik. Sistem Persyarafan Pada sistem ini gejala tidak begitu jelas “AR” berhubungan dengan miesopati akibat insabilitas vertebra. deformitas. Lesi inflamatis yang merupakan nodul reumatoid dapatdijumpai pada miokardium dan katup jatung/. intoleransi terhadap aktivitas. penruunan kekuatan otot. B. g3 konduksi aortitis dan kardiomopati. daya tahan. rasa nyeri 6. g. h. Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rheumatoid. Pada G I (Gastritis) merupakan komplikasi utama obat anti inflamasi dari gejala “AR”.berat. neuropati zepitan. nyeri pada waktu bergerak. prognosis. 2. dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/ mengingat. penurunan kekuatan. Lesi dapat menyebabkan disfungsi katup. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh. sendi. bengkok. Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot. kesalahan interpretasi informasi. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.