You are on page 1of 54

LANSIA OSTEOARTHRITIS DAN DEPRESI RINGAN

DALAM KELUARGA MAJEMUK DENGAN RIWAYAT
KESEHATAN IBU HIPERTENSI : PELAYANAN
KEDOKTERAN KELUARGA

Disusun Oleh :
Siti Alfiana C

1220221113

Pembimbing
Drg. Nunuk Nugrohowati, MS

KEPANITERAAN KLINIK
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN
NASIONAL VETERAN JAKARTA
PERIODE 08 JANUARI – 27 FEBRUARI 2015

1

LEMBAR PENGESAHAN
LANSIA OSTEOARTHRITIS DAN DEPRESI RINGAN
DALAM KELUARGA MAJEMUK DENGAN RIWAYAT
KESEHATAN IBU HIPERTENSI : PELAYANAN
KEDOKTERAN KELUARGA

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
Periode 08 Januari – 27 Februari 2015

Telah disetujui
Tanggal :
.............................................................

Disusun oleh :
Siti Alfiana C

1220221113

Pembimbing

Drg. Nunuk Nugrohowati, MS

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME,
berkat

karunia-Nya

penulis

dapat

menyelesaikan

LANSIA

OSTEOARTHRITIS DAN DEPRESI RINGAN DALAM KELUARGA
MAJEMUK DENGAN RIWAYAT KESEHATAN IBU HIPERTENSI :
PELAYANAN KEDOKTERAN KELUARGA
yang merupakan salah satu syarat dalam mengikuti ujian kepaniteraan
klinik Pendidikan Profesi Dokter Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
Periode 08 Januari – 27 Februari 2015.
Dalam menyelesaikan studi kasus ini penulis mengucapkan rasa
terima kasih kepada Drg. Nunuk Nugrohowati, MS sebagai dokter
pembimbing. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Studi Kasus ini
banyak terdapat kekurangan dan juga masih jauh dari kesempurnaan,
sehingga penulis mengharap kritik dan saran dari pembaca.
Semoga Studi kasus kedokteran keluarga ini dapat bermanfaat bagi
teman-teman pada khususnya dan semua pihak yang berkepentingan bagi
pengembangan ilmu kedokteran pada umumnya. Amin.

Jakarta, Februari
2015

Penulis

3

ABSTRAK

4

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN..........................................................................ii
KATA PENGANTAR..................................................................................iii
ABSTRAKDAFTAR ISI..............................................................................v
DAFTAR ISI.................................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................1
I.1.

LATAR BELAKANG.........................................................................1

I.2.

TUJUAN

3

I.2.1. Tujuan Umum.....................................................................................3
I.2.2. Tujuan Khusus....................................................................................4
I.3.

MANFAAT..........................................................................................4

I.3.1. Manfaat bagi Puskesmas.....................................................................4
BAB II............................................................................................................5
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................5
II.1.

OSTEOARTRITIS..............................................................................5

II.1.1. Definisi

5

II.1.2. Epidemiologi.......................................................................................5
II.1.3. Etiopatologis.......................................................................................6
II.1.4. Etiopatologi Nyeri pada Osteoartritis.................................................8
II.1.5. Klasifikasi 9
II.1.6. Manifestasi klinis..............................................................................10
II.1.7. Diagnosis 11
II.1.8. Penatalaksanaan................................................................................11
II.2.

DEPRESI PADA LANSIA..............................................................14

II.2.1. Lanjut Usia........................................................................................14
II.2.2. Definisi Depresi................................................................................14
5

23 BAB III PEMBAHASAN............................4......................... Tatalaksana...................22 II........2.......... Diagnosis Keluarga....5.......................................................3....... Etiologi Depresi.47 DAFTAR PUSTAKA.....................................Hasil Pembinaan....................................35 III..............................2.......................................Pembahasan............. Identifikasi Masalah Keluarga......7.........32 III......... Indikator Keberhasilan.................38 III................40 III...............................34 III.......................... Penilaian Struktur dan Komposisi Keluarga..........................49 6 ...........................................................12....................................................... Tujuan Umum Penyelesaian Masalah Pasien dan Keluarga.............38 III...............6........................6................38 III.................................................................................................................. 44 BAB IV PENUTUP..........................5.............................47 IV...3...................1..........2.......7...........2...........................38 III....47 IV............................................1.................................. Diagnosis Holistik.............................................. Klasifikasi Depresi.............10....................... Tindak Lanjut Terhadap Pasien...............................................................................................31 III..................43 III........14 II....... Pemeriksaan Pasien Depresi...1......31 III.............. Gejala Depresi................................15 II................2............................37 III... Kesimpulan....................... Saran........II...........................21 II.....................................................9...............2...............................8.................................................................................. Alur penatalaksaan pasien......13.................. Ilustrasi Kasus.................................. Penilaian Terhadap Keluarga......................4..................................

.7% pada wanita. vertebra. 2003). dan kaku pagi hari tidak lebih dari setengah jam. Prevalensi OA meningkat seiring dengan pertambahan usia (Haq. penemuan radiologis dapat menunjang diagnosis OA dengan adanya penyempitan celah sendi. dan itis yang berarti inflamasi meskipun sebenarnya penderita osteoartritis tidak mengalami inflamasi atau hanya mengalami inflamasi ringan (Carter. 2006). dan ditandai dengan adanya deteriorasi dan abrasi rawan sendi serta pembentukan tulang baru pada permukaan sendi. lutut.BAB I PENDAHULUAN I. serta kista. Meskipun begitu. berjalan progresif lambat. Osteoartritis biasanya mengenai sendi penopang berat badan (weight bearing) misalnya pada panggul. Di Indonesia. seringkali tidak meradang atau hanya menyebabkan inflamasi ringan. Untuk osteoartritis lutut (genu) prevalensinya cukup tinggi yaitu 15. formasi osteofit. dan pergelangan kaki (Zhang. pasien berusia lebih dari 45 tahun. Osteoartritis adalah penyakit degeneratif sendi yang bersifat kronik.. Selain itu. et al.5% pada pria dan 12. 7 . (Soeroso. LATAR BELAKANG Osteoartritis berasal dari bahasa Yunani yaitu osteo yang berarti tulang. et al. 2006) Diagnosis kerja OA meurut Guideline Development Group ditegakkan terutama dengan anamnesis nyeri sendi perifer yang memberat dengan gerakan. diagnosis kerja OA ditegakkan dengan menyingkirkan kelainan sendi inflamatorik serta kelainan jaringan penunjang seperti tidak adanya tanda inflamasi pada sendi (Haq. et al.. arthro yang berarti sendi. 2008). tetapi dapat juga mengenai bahu. Pasien dengan keluhan di atas tidak memerlukan pemeriksaan radiologis maupun laboratorium lanjutan. 30% pada usia 40-60 tahun.1. prevalensi osteoartritis mencapai 5% pada usia <40 tahun. dan 65% pada usia >61 tahun. penebalan tulang subkondral. et al.. 2003). sendi-sendi jari tangan.

3 tahun dan wanita 72.6. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.. psikologis.Osteoartritis (OA) adalah sindrom klinis nyeri persendian yang seringkali menyebabkan gangguan fungsional dan penurunan kualitas hidup (Birrell. 2003). termasuk adalah gangguan depresi (Departemen Kesehatan Republik Indonesia[DepKes RI]. 2003).2 juta jiwa atau 8. India dan USA. 2008) sehingga dapat menurunkan kualitas hidup (Haq. Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik. et al. yaitu depresi berat unipolar akan menggantikan 8 .13 tahun (Badan Pusat Statistik[BPS]. Diperkirakan dimasa mendatang (2020) pola penyakit negara berkembang akan berubah.. Kelompok lansia dipandang sebagai kelompok masyarakat yang beresiko mengalami gangguan kesehatan. Pada tahun 2005 diperkirakan jumlah lansia menjadi 18. 2008). termasuk masalah kesehatan jiwa. Indonesia merupakan negara urutan ke-4 dengan jumlah lansia paling banyak sesudah Cina. Berdasarkan sensus penduduk yang diperoleh bahwa pada tahun 2000 jumlah lansia mencapai 15.. Sejauh ini. et al.6 %. Gangguan sendi OA merupakan ganguan tersering dan menyebabkan nyeri muskuloskeletal kronik serta gangguan mobilitas pada populasi lanjut usia di seluruh dunia (Zhang. Pada tahun 2000.4 juta jiwa atau 10 %. Menurut hasil survey World Health Organization (WHO) 1990 setiap tahunnya terdapat 100 juta kasus depresi (Handajani. 2008). Untuk laki-laki 67. maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. 2004).57 tahun.8 juta jiwa atau 7. et al.97 juta jiwa dengan usia harapan hidup 69. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2008 sekitar 241.5% dengan perbandingan wanita-pria 14. prevalensi depresi pada lansia di dunia berkisar 8%-15% dan hasil meta analisis dari laporan negara-negara di dunia mendapatkan prevalensi rata-rata depresi pada lansia adalah 13.1: 8.2 % dan pada tahun 2015 menjadi 24. Pertumbuhan jumlah penduduk lansia di Indonesia tercatat sebagai paling pesat di dunia.

9 . Oleh karena itu. menyelesaikan masalah klinis pada pasien dan keluarga. Dukungan keluarga terhadap lansia merupakan upaya rehabilitatif dan kuratif. 2005). Hal tersebut melatarbelakangi penulis untuk melakukan studi kasus untuk menganalisis konsep kedokteran keluarga pada pasien ini. Untuk itu lansia sangat membutuhkan dukungan keluarga dan koping yang adaptif untuk mencegah dan mengatasi depresi (Amir.penyakit-penyakit saluran pernafasan bawah sebagai urutan teratas (Amir. penulis menyadari sangat dibutuhkannya dukungan dan partisipasi dari keluarga untuk penatalaksanaan pasien. Depresi merupakan perasaan sedih dan tertekan yang menetap.1. .2. Bila keadan ini lebih berat maka bisa muncul keinginan untuk mengakhiri hidup dan bahkan melakukan percobaan bunuh diri. Tujuan Umum Mendapatkan gambaran pelaksanaan program kedokteran keluarga pada lansia sebagai evaluasi dalam penerapan kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Cimanggis Kota Depok dengan cara mengidentifikasi masalah klinis pada pasien dan keluarga serta faktor-faktor yang berpengaruh. studi kasus ini dilakukan untuk memperlihatkan pentingnya peran serta keluarga sebagai pelaku rawat dalam keberhasilan penatalaksanaan pada Lansia Osteoarthritis Dan Depresi Ringan Dalam Keluarga Majemuk Dengan Riwayat Kesehatan Ibu Hipertensi : Pelayanan Kedokteran Keluarga. Perasaan tertekan sedemikian beratnya sehingga lansia tidak dapat melakukan fungsi sehari-hari serta merasa putus asa dan tidak menikmati kegiatan yang ia lakukan. dan mengubah perilaku kesehatan pasien dan keluarga serta partisipasi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan yang dialami. TUJUAN I. 2005).2. Selain itu. I.

2. Menjadi masukan bagi evaluasi penerapan kedokteran keluarga selanjutnya. Manfaat bagi Puskesmas a. b. e. I.2.3. I. Sebagai bahan kajian dalam penerapan kedokteran keluarga di Puskesmas Cimanggis Kota Depok dalam upaya peningkatan kualitas kerja. dan ekonomi. d. psikologis.1.I. Membantu keluarga untuk memahami fungsi-fungsi anggota keluarga secara biologis. 10 . Manfaat bagi perguruan tinggi a.3. Meningkatkan kualitas kesehatan seluruh anggota keluarga pasien. b. Membantu seluruh anggota keluarga untuk mengenali masalah yang ada di dalam keluarga tersebut terkait penyakit Osteoarthritis. Mengamalkan tridarma perguruan. Dirumuskan solusi dalam pemecahan masalah kedokteran keluarga pada pasien lansia di Puskesmas Cimanggis Kota Depok. Manfaat bagi mahasiswa Melakukan penerapan kedokteran keluarga dan mampu menentukan tatalaksana terhadap masalah yang ditemukan. Diketahuinya masalah dan peyebab masalah kedokteran keluarga pada pasien lansia di Puskesmas Cimanggis Kota Depok.3. c.3. Membentuk perilaku hidup sehat di dalam keluarga guna meningkatkan derajat kesehatan keluarga. I. Tujuan Khusus a. f. b. Memberikan informasi penerapan kedokteran keluarga di Puskesmas Cimanggis Kota Depok.2. MANFAAT I. sosial.3.

2006). Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan terjadinya osteoarthritis pada obesitas dan sendi penahan beban tubuh (KNIRI. II. Definisi Osteoarthritis (OA.1.3 juta orang pada tahun 2002 dan mencapai 36.75 juta orang mengalami gejala OA.1.5 juta orang pada tahun 2007.700/orang/tahun (Wibowo. dimana terjadi proses degradasi interaktif sendi yang kompleks.5 Penyakit ini menempati urutan kedua setelah penyakit kardiovaskuler sebagai penyebab ketidakmampuan fisik. Di Inggris dan Wales. terdiri dari proses perbaikan pada kartilago. 2003).. penyakit degeneratif sendi) merupakan penyakit sendi degeneratif yang mengenai sendi-sendi penumpu berat badan dengan gambaran patologis yang berupa kerusakan kartilago sendi. Di Amerika. 2005). Diperkirakan 1 sampai 2 juta orang lanjut usia di Indonesia menderita cacat karena osteoarthritis. 1 dari 7 penduduk menderita OA (Reginster.3 hingga 1. OSTEOARTRITIS II. Bahkan sejak tahun 2001 hingga 2010 dicanangkan sebagai dekade penyakit tulang dan sendi di seluruh dunia.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. dikenal juga sebagai arthritis degeneratif.1. termasuk di Indonesia. Epidemiologi Osteoartritis merupakan penyakit sendi yang paling banyak ditemukan di dunia. yaitu mencapai $Aus 2. diperkirakan biaya nasional untuk OA sebesar 1% dari GNP. 2002) Di Australia pada tahun 2002. Di Indonesia sendiri.2. prevalensi total OA sebanyak 34. tulang dan sinovium diikuti komponen sekunder proses inflamasi (Soeroso et al. sekitar 1. 11 17 .

Umur Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis. jarang pada umur di bawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60 tahun Hal ini disebabkan karena adanya hubungan antara umur dengan penurunan kekuatan kolagen dan proteoglikan pada kartilago sendi. faktor ketuaan adalah yang terkuat. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaaan pada frekuensi pada kelainan kongenital dan pertumbuhan. Wanita lebih sering terkena OA lutut dan OA banyak sendi. dan lelaki lebih sering terkena OA paha. inflamasi. 2. Suku bangsa Osteoartritis primer dapat menyerang semua ras meskipun terdapat perbedaan prevalensi pola terkenanya sendi pada osteoartritis. beberapa faktor predisposisi terjadinya osteoarthritis dipengaruhi antara lain: 1. herediter.II. dan beratnya osteoartritis semakin meningkat dengan bertambahnya umur. 2007). pertumbuhan. OA sekunder adalah OA yang didasari oleh adanya kelainan endokrin.1. Osteoartritis primer lebih sering ditemukan dibanding OA sekunder (Tjokroprawiro. metabolik. Usia kurang dari 45 tahun Osteoarthritis lebih sering terjadi pada pria dari wanita. prevalensi terkenanya osteoartritis pada wanita lebih tinggi dari pria. 3. pergelangan tangan dan leher. Tidak ada bakteri atau virus yang menyebabkan osteoarthritis.3. Jenis kelamin Pada orang tua yang berumur lebih dari 55 tahun. Etiopatologis Berdasarkan patogenesisnya OA dibedakan menjadi dua yaitu OA primer dan OA sekunder. Prevalensi. OA hampir tidak pernah pada anak-anak. Osteoartritis primer disebut juga OA idiopatik yaitu OA yang kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. jejas mikro dan makro serta imobilisasi yang terlalu lama. 12 .

Genetik Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis. 7. 8.4. Cedera sendi (trauma). Kegemukan dan penyakit metabolik Berat badan yang berlebih ternyata dapat meningkatkan tekanan mekanik pada sendi penahan beban tubuh.diabetes melitus dan hipertensi. Faktor-faktor lain Tingginya kepadatan tulang dikaitkan dapat meningkatkan risiko timbulnya OA. Adanya mutasi dalam gen prokolagen atau gen-gen struktural lain untuk unsurunsur tulang rawan sendi seperti kolagen. pekerjaan dan olah raga Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian suatu sendi yang terusmenerus. proteoglikan berperan dalam timbulnya kecenderungan familial pada osteoartritis. Akibatnya tulang rawan sendi menjadi lebih mudah robek. Faktor ini diduga berperan pada lebih tingginya OA pada orang gemuk dan pelari (karena tulangnya lebih padat) dan kaitannya negatif antara osteoporosis dengan OA. Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih padat (keras) tak membantu mengurangi benturan beban yang diterima oleh tulang rawan sendi. Demikian juga cedera sendi dan oleh raga yang sering menimbulkan cedera sendi berkaitan resiko osteoartritis yang lebih tinggi. diduga terdapat faktor lain (metabolik) yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut antara lain penyakit jantung koroner. 6. Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban. berkaitan dengan peningkatan resiko osteoartritis tertentu. Kelainan pertumbuhan Kelainan kongenital dan pertumbuhan pahav(misalnya penyakit Perthex dan dislokasi kongenital paha) telah dikaitkan dengan timbulnya OA paha pada usia muda. 5. dan lebih sering menyebabkan osteoartritis lutut. 13 . tetapi juga dengan osteoartritis sendi lain.

sinovitis dan penebalan kapsul dalam OA sendi intervertebralis serta herniasi dari disko merosot dengan iritasi mekanik dan kimia struktur saraf dapat menyebabkan nyeri neurogenik asal perifer yang kadang-kadang sulit untuk dibedakan dari rasa sakit di nociceptive degenerative. Gangguan pada fungsi khondrosit itulah yang akan memicu proses patogenik OA. Para pakar yang meneliti penyakit ini sekarang berpendapat bahwa OA ternyata merupakan penyakit gangguan homeostasis dari metabolisme kartilago dengan kerusakan struktur proteoglikan kartilago yang penyebabnya belum jelas diketahui. Etiopatologi Nyeri pada Osteoartritis Nyeri biasanya dicirikan sebagai nociceptive. Nyeri pada OA dapat mulai baik dari tulang subchondral. serta OA dapat diinduksi pada percobaan hewan yang distimulasi menggunakan zat kimia atau trauma buatan. Osteophytes.Selama ini OA sering dipandang sebagai akibat dari suatu proses penuaan yang tidak dapat dihindari. 2007) II. 14 .4. seperti proteoglikan.1. OA dan proses penuaan (aging process). 2000). idiopatik atau psikogenik. neuropatik. Proses utama OA tersebut sebenarnya terdapat pada khondrosit yang merupakan satu-satunya sel hidup yang ada di dalam rawan sendi.( Soeroso. Khondrosit akan mensintesis berbagai komponen yang diperlukan dalam pembentukan rawan sendi. Disamping itu ia akan memelihara keberadaan komponen dalam matriks rawan sendi melalui mekanisme turn over yang begitu dinamis. kolagen dan sebagainya. seperti ketika OA berkembang sebagai penyebab dari nekrosis avaskular di kepala femoral dari lesi primer tulang rawan atau dari sendi bengkak dan reaksi inflamasi disertai distensi dari kapsul (Subagjo.

ligamentum (hiperostosis.glenohumeral − Hipotiroidisme .akromioklavikular .eksentrik (superior) .haluks valgus .artritis erosif interfalang .jari kontraktur (hammer/cock-up toes) .tibiotalar Penyakit Deposit Kalsium .haluks rigidus .sendi apofiseal . penyakit Endokrin Forestier. diffuse idiopathic skeletal − Akromegali hyperostosis=DISH) − Hiperparatiroidisme − Diabetes melitus Tempat lainnya: − Obesitas .talonavikulare Coxa .difus (koksa senilis) SEKUNDER Trauma − akut − kronik (okupasional.sakroiliaka − deposit kalsium pirofosfat .nodus Heberden dan Bouchard (nodal) .karpal-metakarpal I Kaki: . medial) .1. 1 Osteoartritis idiopatik dan sekunder.5.sendi intervertebral .spondilosis (osteofit) . 2000) 15 . (Setyohadi. port) Kongenital atau developmental: Gangguan setempat: − Penyakit Leg-Calve-Perthes − Dislokasi koksa kongenital − Slipped epiphysis Faktor mekanik − Panjang tungkai tidak sama − Deformitas valgus / varus − Sindroma hipermobilitas Metabolik − Okronosis (alkaptonuria) − Hemokromatosis − Penyakit Wilson − Penyakit Gaucher Vertebra .konsentrik (aksial.temporomandibular dihidrat − artropati hidroksiapatit Menyeluruh: Meliputi 3 atau lebih daerah yang Penyakit Tulang dan Sendi tersebut diatas (Kellgren-Moore) lainnya Setempat: − Fraktur −Nekrosis avaskular Table 2.II. Klasifikasi IDIOPATIK Setempat Tangan: .

bertambah berat secara perlahan sejalan dengan bertambahnya nyeri pada sendi d. legs. Metatarsophalangeal I (MTP I). e. Claudicatio intermitten merupakan nyeri menjalar ke arah betis pada osteoartritis lumbal yang telah mengalami stenosis spinal. 2001) : a. Nyeri sendi Nyeri sendi merupakan hal yang paling sering dikeluhkan. lutu. dan paha). Nyeri juga dapat menjalar (radikulopati) misalnya pada osteoarthritis servikal dan lumbal. Krepitasi Rasa gemeretak (seringkali sampai terdengar) yang terjadi pada sendi yang sakit. spine) dengan memperhatikan gejala-gejala dan tanda-tanda sebagai berikut (Moskowitz. c. Perubahan bentuk sendi Sendi yang mengalami osteoarthritis biasanya mengalami perubahan berupa perubahan bentuk dan penyempitan pada celah sendi. arms. Nyeri sendi pada OA merupakan nyeri dalam yang terlokalisir.II. nyeri akan bertambah jika ada pergerakan dari sendi yang terserang dan sedikit berkurang dengan istirahat. Predileksi OA pada sendisendi. Biasanya dilakukan pemeriksaan reumatologi ringkas berdasarkan prinsip GALS (Gait.6. Hambatan pergerakan sendi Hambatan pergerakan sendi ini bersifat progresif lambat. Carpometacarpal I (CMC I). Perubahan ini dapat timbul karena kontraktur sendi yang lama. bahkan sering disebutkan kaku muncul pada pagi hari setelah bangun tidur (morning stiffness). perubahan 16 . b.1. sendi apofiseal tulang belakang. Kaku pada pagi hari (morning stiffness) Kekakuan pada sendi yang terserang terjadi setelah imobilisasi misalnya karena duduk di kursi atau mengendarai mobil dalam waktu yang sukup lama. Manifestasi klinis Seperti pada penyakit reumatik umumnya diagnosis tak dapat didasarkan hanya pada satu jenis pemeriksaan saja.

berbagai kecacatan dan gaya berjalan dan perubahan pada tulang dan permukaan sendi. lutut dan panggul mengalami perubahan gaya berjalan (pincang). Pasien dengan keluhan di atas tidak memerlukan pemeriksaan radiologis maupun laboratorium lanjutan. diagnosis kerja OA ditegakkan dengan menyingkirkan kelainan sendi inflamatorik serta kelainan jaringan penunjang seperti tidak adanya tanda inflamasi pada sendi (Haq. formasi osteofit. II. Selain itu. f. serta kista. penebalan tulang subkondral.7. 2003). Oleh karenanya berat badan harus selalu dijaga agar tidak berlebihan. Keadaan ini selalu berhubungan dengan nyeri. Perubahan gaya berjalan Hal yang paling meresahkan pasien adalah perubahan gaya berjalan. Meskipun begitu. maka harus diusahakan penurunan berat badan. Diagnosis Diagnosis kerja OA meurut Guideline Development Group ditegakkan terutama dengan anamnesis nyeri sendi perifer yang memberat dengan gerakan.1. II. pasien berusia lebih dari 45 tahun. bila mungkin mendekati berat badan ideal..8.1. hampir semua pasien osteoarthritis pada pergelangan kaki. bagaimana tidak bertambah parah serta persendiannya tetap dapat dipakai  Menurunkan berat badan : Berat badan berlebih merupakan faktor resiko dan faktor yang akan memperberat penyakit OA.permukaan sendi. Seringkali pada lutut atau tangan mengalami perubahan bentuk membesar secara perlahan-lahan. et al. Penatalaksanaan  Terapi non-farmakologis:  Edukasi : menjaganya memberitahukan agar penyakitnya tetang penyakitnya. 17 . dan kaku pagi hari tidak lebih dari setengah jam. Apabila berat badan berlebihan. penemuan radiologis dapat menunjang diagnosis OA dengan adanya penyempitan celah sendi.

o Fisioterapi. Analgesik oral o Non narkotik: parasetamol o Opioid (kodein. 18 . yang berguna untuk mengurangi nyeri. asam hialuronat. Obat Sistemik 1. sebagian peneliti menggolongkan obat-obatan tersebut dalam Slow Acting Anti Osteoarthritis Drugs (SAAODs) atau Disease Modifying Anti Osteoarthritis Drugs (DMAODs). Sampai saat ini yang termasuk dalam kelompok obat ini adalah: etrasiklin. tramadol) 2. Pemberian obat ini harus hati-hati pada pasien usia lanjut karena dapat menimbulkan reaksi pada liver dan ginjal. menguatkan otot. Chondroprotective Yang dimaksud dengan chondoprotectie agent adalah obatobatan yang dapat menjaga dan merangsang perbaikan (repair) tuamg rawan sendi pada pasien OA. superoxide desmutase dan sebagainya. Terapi fisik dan Rehabilitasi medik/fisioterapi o Terapi ini untuk melatih pasien agar persendiannya tetap dapat dipakai dan melatih pasien untuk melindungu sendi yang sakit. vitamin-C. kondrotin sulfat. Antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs) Obat pilihan utama untuk paien OA adalah Acetaminophen 500mg maksimal 4gram perhari. dan menambah luas pergerakan sendi.  Terapi Farmakologis: A. glikosaminoglikan. 3.

Pada dasarnya ada 2 indikasi suntikan intra artikular yakni penanganan simtomatik dengan steroid. Injeksi intraartikular/intra lesi Injeksi intra artikular ataupun periartikular bukan merupakan pilihan utama dalam penanganan osteoartritis. dan viskosuplementasi (DMAODs) dengan hyaluronan untuk modifikasi perjalanan penyakit. Pembedahan Sebelum diputuskan untuk terapi pembedahan. Dengan pertimbangan ini yang sebaiknya melakukan tindakan. D. Obat topikal 1. Deformitas menimbulkan gangguan mobilisasi 2. C. Salah satu yang dapat digunakan adalah gel piroxicam. harus dipertimbangkan terlebih dahulu risiko dan keuntungannya. Beberapa sediaan telah tersedia di Indonesia dengan cara kerja pada umumnya bersifat counter irritant. Diperlukan kehatihatian dan selektifitas dalam penggunaan modalitas terapi ini. adalah dokter yang telah melalui pendidikan tambahan dalam bidang reumatologi. Krim NSAIDs Selain zat berkhasiat yang terkandung didalamnya.B. Pertimbangan dilakukan tindakan operatif bila : 1. perlu diperhatikan campuran yang dipergunakan untuk penetrasi kulit. mengingat efek merugikan baik yang bersifat lokal maupun sistemik. Nyeri yang tidak dapat teratasi dengan penganan medikamentosa dan rehabilitatif 19 . dan sodium diclofenac. 2. Krim rubefacients dan capsaicin.

Gangguan depresi berulang Terdapat episode berulang dari episode depresi ringan. Usia sangat tua (Very old) : diatas 90 tahun II. Lanjut usia tua (Old) antara 75 dan 90 tahun 4.2. 1997).2. Klasifikasi Depresi Menurut ICD 10 : 1. (Kaplan dan Saddock. Gangguan afektif bipolar.3.2. pada waktu tertentu terdapat peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktifitas (mania atau hipomania). 3. Klasifikasi Depresi Gangguan depresi pada usia lanjut ditegakkan berpedoman pada PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III) yang merujuk pada ICD 10 (International Classification of Diseases 10). lanjut usia dikelompokkan menjadi : 1. 13 Tahun 1998). 1999). sedang. Episode depresi berat. Lanjut Usia (Ederly) : antara 60 dan 74 tahun 3. Usia pertengahan (Middle age) : kelompok usia 45-59 tahun 2. sedang dan lainnya. Menurut WHO. dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktifitas (depresi). Definisi Depresi Depresi adalah gangguan mental umum yang ditandai dengan mood depresif. 4. II. ringan. 20 . 2. perasaan bersalah atau merasa tidak berharga. gangguan tidur atau nafsu makan.1. kelelahan atau hilangnya energi. sedang dan berat sesuai dengan banyak dan beratnya gejala serta dampaknya terhadap fungsi kehidupan seseorang (Depkes. berat. Terdapat episode berulang. Lanjut Usia Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia enam puluh tahun ke atas (UU No. DEPRESI PADA LANSIA II. Gangguan depresi dibedakan dalam depresi ringan.2. Keadaan mood/afektif menetap termasuk distimia.2. hilangnya kemampuan untuk berpikir atau memusatkan perhatian. hilangnya minat atau kesenangan.II.

Faktor Genetis Diduga gen dominan yang berperan pada depresi ini terikat pada kromosom 11 Gangguan ini diturunkan dalam keluarga. yang mana gangguan ini dapat sebagai faktor predisposisi. Sedangkan bila kedua orang tuanya menderita depresi maka kemungkinanya meningkat menjadi 50 – 75% (Idrus. 2007). meliputi Distimia banyak periode depresi ringan dan hipomania ringan.Siklotimia : ketidakstabilan menetap dari afek (suasana perasaan). Jika salah seorang dari orang tua mempunyai riwayat depresi maka 27 % anaknya akan menderita gangguan tersebut. menurut suatu penelitian dinyatakan bahwa gen-gen yang berhubungan dengan risiko yang meningkatkan untuk lesi kardiovaskular dapat meningkatkan kerentanan untuk timbulnya gangguan depresif. presipitasi atau mempertahankan gejala-gejala gangguan depresif pada orang usia lanjut (Bongsoe.4. 21 . Etiologi Depresi Faktor penyebab timbulnya gangguan depresif pada orang usia lanjut bisa berupa: 1. Faktor Biologis a. 2007). Gangguan pada Otak Antara lain yang termasuk dalam gangguan pada otak sebagai salah satu penyebab timbulnya gangguan depresif pada orang usia lanjut adalah penyakit cerebrovaskular. b.2. Gangguan mood lainnya II. Penelitian lain melaporkan bahwa predisposisi genetis untuk gangguan depresif mayor pada orang usia lanjut dapat dimediasi oleh adanya lesi vaskular (Bongsoe. 2007). Dari segi aspek faktor genetis. : afek depresif yang berlangsung sangat lama yang tidak pernah atau jarang sekali cukup parah. 5.

2007). Selain itu juga ditemukan adanya penurunan aktivitas dopaminergik. norepinefrin. dan hormon pertumbuhan pada pria dan wanita. LH. Perubahan Endokrin Pada depresi ditemukan hiperaktivitas aksis sistem limbik -hipotalamus-hipofisis-adrenal yang menyebabkan peningkatan sekresi kortisol. FSH. mendapatkan bahwa konsentrasi norepinephrin dan serotonin berkurang sesuai dengan bertambahnya usia. dan testosteron (Idrus. Penurunan kadar hormon tersebut sejalan dengan perubahan fisiologis karena pertambahan usia. Dengan 22 . proses degenerasi selsel dari organ tubuh makin meningkat. 2007). Gangguan Neurotransmitter / Biogenik Amin Istilah biogenik amin umumnya digunakan untuk komponen katekolamin. testosteron pada pria. tetapi metabolit 5HIAA dan enzim monoamineoksidase meningkat sesuai pertambahan usia (Bongsoe. termasuk di antaranya meningkatnya proses degenerasi sel-sel organ tubuh yang memproduksi hormon tersebut makin berkurang. dopamin dan serotonin..c. Sistem neuron menggunakan biogenik amin relatif kecil dalam sekelompok sel yang berada di batang otak. Dalam hal ini terutama adalah keterlibatan penurunan kadar hormon estrogen pada wanita. d. 2007). Pada suatu penelitian yang dilakukan oleh Robinson. Biogenik amin ini dilepaskan dalam ruang sinaps sebagai neurotransmiter. Selain itu juga ditemukan juga penurunan hormon lain seperti GH. epinefrin. Neurotransmiter yang banyak berperan pada depresi adalah norepinefrin dan serotonin. dkk. Hal ini mendukung hipotesis bahwa gangguan depresi berhubungan dengan biogenik amin (Idrus. Sehingga dengan bertambahnya usia.Pada penelitian postmortem didapatkan penurunan konsentrasi serotonin dalam otak penderita depresi.

Obat-obatan yang dapat menyebabkan depresi organik 1) Antihipertensi a) Beta-blockers b) Methyldopa c) Calcium-channel blockers (misal nifedipine) d) Digoxin 2) Kortikosteroid Prednisolone 3) Analgesik a) Codeine 23 . e. Kondisi medis yang dapat menyebabkan depresi (Best Parctice Advocacy Centre. 2007). systemic lupus 5) 6) 7) erythematosus) Penyakit Parkinson Infark Myocard Gangguan metabolik (misal defisiensi vitamin B12 atau asam folat. (misal insufisiensi gangguan thyroid. malnutrisi) f. 2004). tumor sistem saraf pusat. Pengobatan Beberapa resep obat dapat memicu atau menyebabkan eksaserbasi depresi (Baldwin. Masalah kesehatan Penyakit dan kecacatan. nyeri yang hebat dan kronis. penyakit Alzheimer. hiperparathyroidisme) Keganasan Penyakit cerebrovascular (stroke. dementia vaskular.penurunan kadar hormon tersebut. hal ini akan mempengaruhi produksi neurotransmitter terutama serotonin dan norepinephrin (Bongsoe. kemunduran kognitif serta kerusakan bagian tubuh yang disebabkan karena pembedahan atau penyakit dapat menyebabkan individu lanjut usia jatuh ke dalam kondisi depresi. 2009) : 1) 2) Infeksi virus Gangguan endokrin Cushing’s 3) 4) tertentu syndrome. kelenjar adrenal.

dan kognitif (Bongsoe. psikodinamik. rofecoxib) 4) Obat Anti-Parkinsonian a) Levo-dopa b) Amantadine c) Tetrabenazine 5) Psikotropik (mungkin menyebabkan gambaran klinis seperti depresi ) a) Antipsikotik b) Benzodiazepine 2. a) Teori Perilaku Dari konsep teori perilaku terjadinya gangguan depresif pada individu usia lanjut oleh karena orang-orang usia lanjut cukup banyak mengalami peristiwa-peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan atau yang cukup berat sehingga terjadinya gangguan depresif tersebut sebagai respons perilaku terhadap stressor-stressor kehidupan yang dialaminya tersebut. 2007). c) Teori Kognitif 24 .b) Opioids c) COX-2 inhibitors (misal celecoxib. Penelitian lain melaporkan bahwa ada kaitan terjadinya gangguan depresif pada orang usia lanjut dengan sejumlah peristiwa kehidupan yang negatif yang dialami individu usia lanjut. Faktor Psikologis: Dapat berupa penyimpangan perilaku. b) Teori Psikodinamis Berdasarkan teori psikodinamis. terjadinya gangguan depresif pada orang usia lanjut. oleh karena pada orang usia lanjut sering terjadi ketidaksanggupan untuk menyelesaikan pencarian pemulihan sekunder dari peristiwa-peristiwa kehilangan yang tak terelakkan oleh individu tersebut.

d) Kepribadian premorbid Tipe kepribadian tertentu seperti kepribadian dependen. kecemasan atas masalah keuangan atau problem kesehatan (Segal. b) Ketakutan akan kematian atau ketidakberdayaan. 2007). e) Faktor psiko-analitik Menurut Karl Abraham manifestasi penyakit depresi dicetuskan karena kehilangan objek libidinal yang berakhir dalam suatu proses regresi di mana terjadi penurunan fungsi ego yang telah matang ke tingkat oral sadistik dari tingkat perkembangan libidinal akibat trauma infantil yang menyebabkan proses fiksasi pada anak usia dini. obsesi kompulsif dan histrionik mempunyai risiko lebih besar untuk menjadi depresi dibanding dengan kepribadian anti sosial dan paranoid (Idrus. Dalam hal ini berkaitan dengan bagaimana interpretasi seseorang terhadap peristiwa-peristiwa kehidupan yang dialaminya. c) Kekurangan kemampuan untuk mengadakan hubungan intim. Terjadinya distorsi kognitif pada orang usia lanjut oleh karena pada individu usia lanjut tersebut memiliki harapanharapan yang tidak realistis dan membuat generalisasi yang berlebih-lebihan terhadap peristiwa kehidupan tertentu yang tidak menyenangkan individu tersebut. 2007). Kondisi-kondisi psikologis lain yang memungkinkan sebagai penyebab depresi adalah : a) Menurunnya perasaan berguna Perasaan tidak berguna atau kehilangan identitas berkaitan dengan kemuduran atau keterbatasan fisik dalam beraktifitas (Segal.Salah satu teori psikologis tentang terjadinya gangguan depresif adalah terjadinya distorsi kognitif. Sedangkan menurut Freud. 2007). introjeksi 25 .

dampak kehidupan situasi seharihari. kehilangan minat dan kegembiraan 3. 2007). 2007). 2007). karena kehilangan pasangan hidup. 3. Gejala Depresi Menurut PPDGJ III (Maslim. II. 2. kehilangan pekerjaan. b) Faktor sosial lingkungan. Data menunjukkan bahwa kehilangan orang tua sebelum usia 11 tahun dan kehilangan pasangan merupakan awal dari penyakit yang berhubungan dengan depresi (Idrus. 2002). pasca bencana. Disertai gejala lain: 1.ambivalen terhadap kehilangan objek dalam ego membawa ke suatu depresi tipikal (Idrus. c) Kurangnya hubungan sosial (Kesendirian dan pengasingan) (Segal. Faktor Sosial: Para klinikus percaya bahwa peristiwa kehidupan yang dapat menimbulkan stres memegang peranan penting dalam terjadinya depresi. 4. 5. Faktor-faktor sosial yang mungkin dapat menyebabkan depresi pada lansia antara lain : a) Hilangnya status peranan sosialnya atau hilangnya sokongan sosial yang selama ini dimilikinya (Bongsoe. berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lalah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktifitas. konsentrasi dan perhatian berkurang harga diri dan kepercayaan diri berkurang gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna panandangan masa depan yang suram dan pesimistis gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri 26 . d) Kemiskinan.5. afek depresi 2.2. 3. 2007). pada gangguan depresi ada tiga gejala utama yaitu : 1.

Sampai saat ini belum ada suatu konsensus atau prosedur khusus untuk penapisan/skrining depresi pada populasi usia lanjut. nafsu makan berkurang Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis. 1999).6.2. 4. II. 2. (Depkes. Pemeriksaan Pasien Depresi Salah satu langkah awal yang penting dalam penatalaksanaan depresi adalah mendeteksi atau mengidentifikasi. Salah satu instrumen yang dapat membantu adalah Geriatrik Depression Scale (GDS) yang terdiri dari 30 pertanyaan yang harus dijawab oleh pasien sendiri. 5. Geriatric Depression Scale: 1. akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat. tidur terganggu 7. Apakah anda pada dasarnya puas dengan kehidupan anda? Apakah anda mengalami penurunan banyak kegiatan dan minat? Apakah anda merasa hidup anda kosong? Apakah anda merasa sering bosan? Apakah anda mersa semangat terus pada sebagian besar kehidupan anda? 6. 3.6. GDS ini dapat dimampatkan menjadi hanya 15 pertanyaan saja dan ini mungkin lebih sesuai untuk dipergunakan dalam praktek umum sebagai alat penapis Depresi pada usia lanjut. Apakah anda takut kalau hal-hal jelek menimpa kehidupan anda? 7. Apakah anda sering merasa tidak berdaya? 27 .

berat penyakit. Apakah anda merasa senang dengan mengambil cara yang tidak berharga seperti sekarang ini? 13. Apakah anda merasa kebanyakan orang-orang lebih baik daripada anda? Dari 15 pertanyaan masing-masing memiliki skor 1. Apakah anda lebih suka di rumah daripada pergi keluar dan melakukan hal-hal yang baru? 9. Terapi Kognitif 28 . meminimalkan resiko relaps / rekurens Macam-macam terapi depresi : 1. umur pasien. dan beberapa memerlukan tambahan terapi fisik. 2005).7. Terapi ini dilakukan dengan jalan pembentukan hubungan yang professional antara terapis dengan pasien. di mana masingmasing jawaban terdiri dari ya dan tidak. Apakah anda merasa bahwa yang menarik bagi anda tidak berguna lagi? 12. a. mengembalikan fungsi utama 3. dan depresi berat skor ≥ 10 (Bongsoe. Tatalaksana Semua pasien depresi harus mendapat psikoterapi.8. 2007). respon terhadap terapi sebelumnya (Nurmiati.2. Jenis terapi bergantung dari diagnosis. Apakah anda berfikir sangat indah kehidupan sekarang? 11. Apakah anda merasa mempunyai banyak masalah daya ingat pada sebagian besar waktu anda? 10. Apakah anda merasa penuh energI? 14. gejala 2. Apakah anda merasa situasi anda tidak ada harapan? 15. depresi sedang skor 5 – 9 . Terapi depresi pada lansia bertujuan untuk : 1. Psikoterapi Psikoterapi menghilangkan yaitu terapi keluhan-keluhan yang dan digunakan mencegah untuk kambuhnya gangguan psikologik atau pola perilaku maladaptive. II. menurunkan / menghilangkan tanda. Jika skor depresi ringan skor < 5 .

dan masa depan dapat menyebabkan depresi. b. Terapi ini berlangsung lebih kurang 12 sampai 16 sesi. Dari perspektif kognitif. pasien dilatih untuk mengenal dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif dan harapan-harapan negatif. Kemudian dia harus belajar cara merespon cara pikir yang salah tersebut dengan cara yang lebih adaptif. Pasien harus menyadari cara berpikirna yang salah. Dasar pendekatannya adalah suatu asumsi bahwa kepercayaankepercayaan yang mengalami distorsi tentang diri sendiri. dan mengkonsolidasikan pembelajaran melalui tugas-tugas terapi sendiri. Membantu pasien mengenal akar kepercayaan diri. 3) Fase Akhir (sesi 13-16) : Menyiapkan pasien untuk terminasi dan memprediksi situasi berisiko tinggi yang relevan untuk terjadinya kekambuhan. Mengajarkan pasien untuk mengevaluasi pikiran-pikirannya yang otomatis. depresi diterapi dengan memberikan pasien latihan keterampilan dan memberikan pengalaman-pengalaman tentang kesuksesan. 2) Fase pertengahan (Sesi 5-12) : Mengubah secara berangsurangsur kepercayaan yang salah. Terapi Perilaku 29 . Pasien diminta mempraktikkan keterampilan berespon terhadap hal-hal yang depresogenik dan memodifikasinya. Menentukan tujuan terapi. Cara ini dipraktikkan di luar sesi terapi dan ini menjadi modal utama dalam merubah gejala. dunia. Terapi ini bertujuan untuk menghilangkan simptom depresi melalui usaha yang sistematis yaitu merubah cara pikir maladaptif dan otomatik pada pasien-pasien depresi.Ada dugaan bahwa penderita depresi adalah orang yang “belajar menjadi tak berdaya”. Ada 3 fase yaitu: 1) Fase Awal (sesi 1-4) : Membentuk hubungan terapeutik dengan pasien. Mengajarkan pasien tentang bentuk kognitif yang salah dan pengaruhnya terhadap emosi dan fisik.

yaitu kerentanan psikologik terjadi akibat konflik perkenbangan yang tak selesai. Psikoterapi Suportif Psikoterapi Suportif memberikan kehangatan. mengikutkan pasien dalam tugas-tugas yang dapat meningkatkan perasaan yang menyenangkan. dll). Fase awal: pasien diminta untuk memantau aktivitas mereka. c. Psikoterapi Dinamik Dasar terapi ini adalah teori psikodinamik. empati. Diharapkan ilmu yang didapat di dalam terapi dapat digeneralisasi dan dipertahankan dalam lingkungan pasien sendiri. serta kepuasan terhadap aktivitasnya. hostilitas. Latih pasien untuk mengenal tanda-tanda dekompensasi yang akan datang. Bantu memecahkan problem eksternal (misal masalah pekerjaan. Fase akhir: Fokus berpindah ke latihan mengontrol diri dan latihan pemecahan masalah. Temui pasien sesering mungkin (mula-mula 1-3 kali perminggu) dan secara teratur. dapat meningkatkan hubungan interpersonal dan menurunkan interaksi submissive. Terapi ini dilakukan dalam periode jangka panjang. tetapi jangan sampai tidak berakhir atau selamanya. Pasien diminta untuk melakukan sejumlah aktivitas yang menyenangkan. asertif. dan tuntutan yang tak masuk akal. Latihan keterampilan sosial. Tujuan terapi peilaku adalah: meningkatkan aktivitas pasien. pengertian dan optimistik. Bantu pasien identifikasi dan mengekspresikan emosinya Mengidentifikasi faktor-faktor dan bantu presipitasi untuk ventilasi. dan membantu mengoreksi. d. menilai derajat kesulitan aktivitasnya.Intervensi perilaku terutama efektif untuk pasien yang menarik diri dari sosial dan anhedonia. rumah tangga). 30 . Terapi ini sering digunakan bersama-sama dengan terapi kognitif. Kenalilah bahwa beberapa pasien depresi dapat memprovokasi kemarahan terapis (melalui kemarahan.

Terapi kelompok sangat efektif untuk terapi jangka pendek pasien rawat jalan. Untuk depresi yang lebih berat. terapi individu lebih efektif. berkaitan dengan pengalaman yang memalukan.Perhatian pada terapi ini adalah deficit psikologi yang menyeluruh yang diduga mendasari gangguan depresi. h. Juga lebih efektif untuk depresi ringan. pengaturan emosi yang buruk. Ada beberapa keuntungan terapi kelompok : 1) Biaya lebih murah. defisit interpersonal akibat tak adekuatnya hubungan dengan keluarga. Psikoterapi Berorientasi Tilikan Jangka terapi cukup lama. (Nurmiati. 2005) 2. Terapi Biologik 31 . perbaikan hubungan perkawinan merupakan hal penting dalam terapi ini. Terapi Kelompok Tidak ada bentuk terapi kelompok yang spesifik. e. berguna pada pasien depresi minor kronik tetentu dan beberapa pasien dengan depresi mayor yang mengalami remisi tetapi mempunyai konflik. g. 4) Membantu pasien dalam mengaplikasikan keterampilan baru. 2) Ada destigmasi dalam memandang orang lain dengan problem yang sama. f. Psikoterapi Dinamik Singkat Sesinya berlangsung lebih pendek. Misalnya. Ia dapat mempengaruhi penyembuhan fisik. Pasien dapat mengenal materi konfliknya dan dapat mengekspresikannya. Oleh karena itu. Terapi Perkawinan Problem perkawainan dan keluarga sering menyertai depresi. rasa rendah diri. Tujuannya menciptakan lingkungan yang aman buat pasien. problem yang berkaitan dengan rasa bersalah. 3) Memberikan kesempatan untuk memainkan peran dan mempraktikkan keterampilan perilaku interpersonal yang baru.

4) Efek neurotoksis (tremor halus. dll). OBAT-OBATAN ANTI DEPRESAN Trisiklik (TCAs) Selektive Serotonin Reuptake 32 . kinerja psikomotor menurun. antara lain timoleptik atau psychic energizers. walaupun yang mempresipitasi terjadinya depresi jelas terlihat atau dapat diidentifikasi. 2005) Obat antidepresan mempunyai beberapa sinonim. penglihatan kabur. Efek samping yang dapat diakibatkan oleh obat antidepresan antara lain : 1) Sedasi (rasa mengantuk. sinus takikardi. gelisah. Antidepresan tunggal tidak dapat mengobati depresi. retensi urin. 3) Efek anti adrenergik alfa (perubahan EKG.a. hipotensi). Dalam membicarakan obat antidepresi yang menjadi obat acuan adalah Amitriptilin. agitasi. dengan SSRI lebih rendah. kewaspadaan berkurang. Harus hati-hati dengan efek samping dan harus sadar bahwa antidepresan dapat mempresipitasi episode manik pada beberapa pasien bipolar (10% dengan TCA. pertimbangkan anti depresan trisiklik. Beberapa pasien membutuhkan obat pemeliharaan untuk periode jangka panjang. insomnia). Bila tak berhasil. 2) Efek antikolinergik (mulut kering. Farmakoterapi Sebagian besar penderita membutuhkan antidepresan (70%80% pasien berespon terhadap anti depresan). Mulailah dengan SSRI atau salah satu anti depresan terbaru. kemampuan kognitif menurun. konstipasi. namun konsep tentang presipitasi manik masih diperdebatkan). (Nurmiati. 5) Efek samping yang tidak berat biasanya berkurang setelah 2 – 3 minggu bila tetap diberikan dengan dosis yang sama. obat dipertahankan untuk beberapa bulan. atau kombinasi bebrapa obat yang efektif bila obat pertama tak berhasil. dll). Setelah sembuh dari episode depresi pertama. kemudian diturunkan. atau MAOI (terutama pada depresi atipikal.

gangguan fungsi hati.200 mg / hari      Opipramol 50-150 mg / hari Tetrasiklik    Maprotilin 75-150 mg / hari Amoxopin 200-300 mg / hari   Mainserin 30-60 mg / hari Inhibitors (SSRIs) Elvatelin 20-40 mg / hari Protetin 20-40 mg / hari Setralin 50-100 mg / hari Fluvotamin 50-100 mg / hari Fluoxetin 10-20 mg/hari Penghambat Mono Amine Okside (MAOIs) Maclobemid 200-600 mg / hari Untuk sindrom depresi ringan dan sedang yang datang untuk berobat jalan. 33 . carbamazepine. Kontraindikasi : 1) Penyakit jantung koroner 2) Glaukoma. dan fungsi Tiroid. Lithium bermanfaat dalam pengobatan depresi bipolar akut dan beberapa depresi unipolar.    Amitriptilin 75-150 mg / hari Imipramin 75-150 mg / hari Clomipramin 75-150 mg / hari Amineptin 100. Atipikal. MAOI Reversibel Mood stabilizer : Lithium carbonas. ginjal. pemilihan sebaiknya mengikuti urutan : 1) Langkah 1 : Golongan SSRI 2) Langkah 2 : Golongan Trisiklik 3) Langkah 3 : Golongan Tetrasiklik. Ia cukup efektif pada bipolar serta untuk mempertahankan remisi dan begitu pula pada beberapa pasien unipolar.8 meq / l (profilaksis).4-0. valproic acids. indikasi terbatas khususnya episode depresi dari gangguan bipolar. kelainan fungsi jantung. Untuk mencegah kekambuhan digunakan Litium 0. retensi urin. hipertensi prostat. epilepsi 3) Pada penggunaan Litium.

b.Antikonvulsan mengobati kondisi sama baiknya akut. meskipun dengan kurang lithium untuk efektif untuk pemeliharaan. Psikotik. ECT (Terapi Kejang Listrik). 34 . 3) Pada beberapa depresi psikotik. tunggal atau bersama-sama dengan antidepresan. Lebih dari 90% pasien memberikan respons. litium. Indikasi farmakologi : 1) depresi sedang / berat 2) gambaran melankolik / psikotik 3) episode berulang 4) respon positif terhadap medikasi anti depresan pada masa lalu 5) kegagalan pendekatan terapi psikologik Pengobatan dengan antidepresan dibedakan dalam tiga tahapan. Merupakan terapi pilihan bila : 1) Obat tak berhasil 2) Kondisi pasien menuntut remisi segera (misalnya. antipsikotik atipik juga terlihat efektif. paranoid atau pasien sangat agitasi membutuhkan antipsikotik. bunuh diri yang akut). 4) Pada pasien yang tak dapat mentoleransi obat (misalnya pasien tua yang berpenyakit jantung). Antidpresan dan lithium dapat dimulai secara bersama-sama dan lithium diteruskan setelah remisi. yaitu : 1) Fase akut : 6 sampai 12 minggu 2) Fase lanjutan : 4 sampai 9 bulan 3) Fase rumatan : 1tahun atau lebih Untuk depresi episode berulang dianjurkan lama pemberian obat 1 tahun atau lebih.

35 .

Nyeri semakin berat dirasakan jika pasien selesai bekerja membersikan rumah. Selain itu. kepala : rambut warna hitam dengan rambut warna putih. Pemeriksaan THT dalam batas normal. Pasien belum pernah berobat sebelumnya. Pasien merasa cepat lelah. Tanda vital yaitu tekanan darah pasien 180/100 mmHg. reflek pupil terhadap cahaya positif. Anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien tidak memiliki keluhan yang serupa. Karena keluhan ini. udara dingin di pagi hari dan melakukan gerakan dari jongkok kemudian berdiri dengan Visual Analog Score 7 (VAS 7). sulit tidur nyenyak. Pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi dari ibunya. namun tidak lebih parah (VAS 4) dari keluhan nyeri sendinya. napas 16 kali. pasien juga merasa nyeri hilang timbul pada jari-jari tangan setiap bagun tidur di pagi hari (VAS 5). Pada pemeriksaan fisik pasien di poli lansia puskesmas.5 kg/m2. kesadaran compos mentis.BAB III PEMBAHASAN III. 60 tahun. sering sakit-sakitan. Pasien mengaku hanya melakukan kegiatan sehari-hari berupa pekerjaan rumah tangga dan mengurus cucu. Pasien tidak pernah berolahraga. tinggi badan 160 cm. Pasien juga sering mengalami pegal-pegal terutama pada leher dan bahunya.1. Nyeri akan berkurang jika pasien beristirahat (VAS 3). bangun tidur. 36 . pasien menjadi sulit untuk beraktivitas sehari-hari terutama untuk sholat. berat badan 55 kg. Status gizi pasien. BMI = 21. suhu afebris. Aktivitas sehari-hari pasien hanya dirumah. S. kadang lupa menaruh barang atau mengerjakan sesuatu. datang bersama menantunya ke puskesmas Cimanggis pada tanggal 20 Januari 2015 dengan keluhan nyeri pada sendi lutut kanan dan kiri sejak satu tahun terakhir. Status generalis. Ilustrasi Kasus Ny. nadi 84 kali. Pemeriksaan mata. konjungtiva tidak anemis dan sclera tidak ikterik. didapatkan keadaan umum baik.

CRT . Ekstremitas tidak didapatkan edem. 2 detik. Kunjungan dilakukan pada tanggal tersebut (20 Januari 2015). kolesterol. Namun suami pasien sudah mulai jarang pergi ke luar rumah. Suami pasien sehari-hari membantu mengurus cucu. III. kunjungan terakhir dilakukan pada tanggal 4 Februari 2015. Penilaian Struktur dan Komposisi Keluarga Keluarga terdiri atas 2 generasi dengan tertua berusia 61 tahun.1. kunjungan kedua (intervensi) dilakukan pada tanggal 27 Januari 2015. Bentuk keluarga adalah keluarga besar. Hasil pemeriksaan lab di Puskesmas. Anak 37 . Gambar 1. didapatkan asam urat. dan ibu (pasien) berusia 60 tahun. Genogram Suami pasien (61 tahun) sudah tidak bekerja tetap. berkebun. dan gula darah dalam batas normal. Pasien diresepkan meloksikam tablet 2 kali sehari dan CTM tablet 3 kali sehari.Jantung dalam batas normal. Dari perkawinan ini mereka mempunyai 6 orang anak dan 5 orang cucu. ke masjid dan kadang berdagang batu cincin. Paru terdengar ronkhi (-). lebih sering dirumah karena mudah lelah dan mudah sakit.

anak ketiga Tn. R (24 tahun) memiliki kedekatan yang cukup dekat dengan kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya.A (26 tahun) dan anak keenam Tn. Keluarga ini masuk dalam siklus keluarga 8 yaitu Keluarga dalam masa pensiun dan lansia. Anak kelima Tn. E (30 tahun) memiliki kedekatan yang sangat dekat dengan kedua orang tuanya dan saudara- saudaranya. Anak keempat Ny. anak kedua Tn. Peta Keluarga 38 . Keputusan keluarga biasanya dilakukan dengan musyawarah antara anak keempat dan anak ketiga.pertama Tn.S (34 tahun). Gambar 2. J (39 tahun).S (32 tahun) memiliki kedekatan yang tidak terlalu dekat dengan kedua orang tua dan saudara-saudaranya.

39 . anggota keluarga lainnya yang tinggal serumah jarang dirumah. Anak keempat tidak bekerja.Gambar 3. Anak kedua bekerja sebagai supir toko. suami anak ke empat menjadi tulang punggung keluarga.3. Dari seluruh anggota keluarga. Penilaian Terhadap Keluarga Karena ibu (pasien) dan ayah sudah tidak bekerja. Anak ketiga bekerja sebagai pedagang. membantu ibu (pasien) mengurus kedua orang tua. Anak kelima bekerja sebagai pengamen dan anak keenam bekerja sebagai pengangguran namun sering keluar rumah main bersama teman-temannya. sehingga dapat terlihat bahwa anak keempat sebagai perantara untuk mempererat kedekatan keluarga. Suami dari anak keempat bekerja sebagai pedagang. Pasien dan anak keempat bekerja bergantian. Namun dengan anggota keluarga lain kurang erat karena anak pertama dan kedua sudah tidak tinggal satu rumah. anak dan rumah. hanya anak keempat yang dekat dengan seluruh anggota keluarga. Kumpul keluarga jarang dilakukan. Kedekatan ayah. Anak pertama bekerja sebagai tukang bangunan. ibu dan anak keempat cukup erat. Siklus Keluarga III. Selain itu. Ibu (pasien) sehari-hari membantu mengurus rumah dan 2 orang cucu dari anak keempatnya yang berusia 9 tahun dan 11 bulan.

kurang konsentrasi dalam berkomunikasi. Anak ketiga. begitupun sebaliknya. Namun perhatiannya juga tidak sepenuhnya karena harus mengurus yang lain (ayah. b. Anak pertama dan anak keduanya mulai meninggalkan rumah setelah anak kedua menikah. Fungsi Biologis Pasien mengalami osteoarthritis dan memiliki riwayat hipertensi dari ibunya. sakitsakitan. anak. Pasien membantu suaminya dengan bekerja sebagai tukang cuci para tetangganya sambil mengurus anak di rumah. Kunjungan kerumah pasien dilakukan sejak tanggal 20 Januari sampai dengan 4 Februari 2015. Fungsi Psikologis Pasien memiliki gejala depresi ringan. kelima dan keenam jarang dirumah. Anak pertama tidak menikah. III. mereka mulai bekerja membantu mencari nafkah. Pasien sejak muda selalu aktif bekerja (pekerjaan tidak tetap). Setelah anaknya besar dan mandiri. Pasien merasa sedih karena anak-anaknya menjauh darinya. Identifikasi Masalah Keluarga a. merasa mudah lelah. mudah lelah dan merasa sering sakitsakitan. maka anak keempat mengurus rumah. Pasien juga merasa lesu. suami. Namun setelah menikah dan memiliki anak pasien lebih banyak dirumah dan suaminya yang mencari nafkah diluar rumah.4. namun tinggal bersama dengan anak kedua dan istrinya. Pasien merasa anak-anaknya mulai meninggalkan dirinya dan jarang dirumah. namun pasien tetap terhibur dengan adanya cucu dirumah sehingga pasien tidak terlalu memikirkan masalah tersebut.Jika pasien mengurus cucu. Dapat terlihat bahwa orang yang paling perduli dengan kesehatan pasien adalah anak keempatnya. sulit tidur. 40 . rumah).

Apakah anda lebih suka di rumah daripada pergi keluar dan melakukan hal-hal yang baru? 9. Apakah anda merasa mempunyai banyak masalah daya ingat pada sebagian besar waktu anda? 10. Geriatric Depression Scale Pertanyaan Ya Apakah anda pada dasarnya puas √ dengan kehidupan anda? Apakah anda mengalami penurunan banyak kegiatan dan minat? Apakah anda merasa hidup anda kosong? Apakah anda merasa sering bosan? 5. 3. Apakah anda merasa bahwa yang menarik bagi anda tidak berguna lagi? 12. Apakah anda merasa senang dengan mengambil cara yang tidak berharga seperti sekarang ini? 13.1. Apakah anda takut kalau hal-hal jelek menimpa kehidupan anda? 7. Apakah anda mersa semangat terus pada sebagian besar kehidupan anda? 6. Apakah anda merasa kebanyakan orang-orang lebih baik daripada anda? Skor total Tidak Skor 0 0 √ 0 √ 0 √ 0 √ 0 √ 1 √ 1 √ 1 √ 0 √ 0 √ 0 √ √ √ √ 3 c. 2. Apakah anda merasa penuh energi? 14. Apakah anda sering merasa tidak berdaya? 8. Apakah anda berfikir sangat indah kehidupan sekarang? 11. Fungsi Sosial 41 . 4. Apakah anda merasa situasi anda tidak ada harapan? 15.

III.000.00 – Rp 70. Sejak kecil. d. e. Pasien tidak setiap hari makan makanan berminyak ataupun mengandung santan.00. Pasien jarang melakukan olahraga karena merasa mudah lelah. Diagnosis Holistik Dilakukan pada kunjungan pertama pada tanggal 18 Februari 2015.000.00.000. anak terakhir main terus tidak bekerja.000. badan pegal terutama leher-bahu. d. mudah lupa.000.00 . Anaknya yang lain juga suka memberikan uang atau sembako untuk membantu kebutuhan sehari-hari Rp 20. a.500. Aspek Fungsional : Derajat 1. Fungsi Ekonomi Dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari pasien merasa kurang cukup. Perilaku Kesehatan Keluarga Pasien dan suaminya jarang berolahraga karena tidak pernah diadakan kegiatan senam sehat di sekitar rumahnya. Aspek Psikososial : Anak-anaknya menjauh. lemas.Pasien jarang berinteraksi dengan para tetangganya dan tidak pernah mengikuti kegiatan pengajian yang sering diadakan di RWnya. Pasien tidak memiliki pola makan khusus. Penyakitnya tidak pernah kontrol karena selama ini pasien merasa sehat. Kebutuhan ini di dapat dari total uang gaji anak ketiga.Rp 2. Aspek Personal : Pasien merasa nyeri sendi lutut. keempat. pasien tidak suka minum susu. 42 . Kebutuhan seharihari pasien kurang terpenuhi.5. dan sulit tidur. Aspek Individual : Pasien jarang melakukan olahraga dan jarang kontrol ke pusat kesehatan. Masih dapat bekerja dengan baik dan dapat merawat diri tanpa bantuan orang lain. dan kelima sebesar total Rp 1. Aspek Klinis : Osteoartritis Genu c. namun pasien lebih senang makan sayuran dari pada daging. e. b.

9. Tujuan Umum Penyelesaian Masalah Pasien dan Keluarga Terselesaikannya masalah pasien dan terwujudnya keadaan keluarga yang lebih sehat baik secara fisik maupun psikis agar terhindar dari segala jenis penyakit yang mungkin timbul mengingat adanya faktor keturunan dari keluarga pasien yang memiliki Hipertensi. Masalah klinis pasien direncanakan dengan tatalaksana farmakologis. yang akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup baik bagi keluarga dan keluarga tersebut.8. III. dengan melakukan interaksi dan 43 .6. Diagnosis Keluarga Keluarga besar dengan dua orang anak sebagai kepala keluarga yang mempunyai penghasilan kurang dan beban keluarga ditanggung tidak hanya kepala keluarga namun juga ditanggung oleh sebagian besar anggota keluarga. Dan membaiknya kualitas antara anak laki-laki dengan orang tuanya. Pembinaan untuk pasien adalah memberikan pengetahuan tentang pentingnya berolah raga dan minum vitamin C. III. sesuai dengan pengobatan yang dilakukan di Puskesmas. Indikator keberhasilan pada keluarga adalah setiap anggota keluarga memahami pentingnya peranan keluarga dalam mencegah perburukan penyakit pasien dan mencegah terjadinya keadaan yang tidak diinginkan.III. Sehingga tercipta suasana yang lebih harmonis dan membuat proses penyembuhan pasien menjadi lebih mudah. Hubungan yang semakin baik antara pasien dengan anak-anak kandungnya. Kurang pahamnya pola hidup sehat (makanan sehat dan olah raga). Pasien juga diberikan edukasi tentang penyakit yang dialami. III.7. Tindak Lanjut Terhadap Pasien Untuk menindak lanjuti permasalahan klinis maka dilakukan rencana penatalaksanaan. Indikator Keberhasilan Pasien dapat memperbaiki kualitas hidupnya dengan rajin berolah raga.

44 . Kondisi psikososial pasien juga perlu ditangani. Masalah kondisi fisik pasien yang jarang berolah raga harus ditangani denga memperbanyak aktivitas fisik seperti berjalan dilingkungan rumah.diskusi bersama. Kekhawatiran pasien ditinggal oleh anak anaknya. sehingga terjadi peningkatan pengetahuan dan kesadaran pasien akan kesehatannya terutama penyakit yang dialaminya. Dukungan berupa sharing dengan pasien yang diharapkan dapat sedikit meringankan beban pikiran nya akan anak-anaknya dan sedikit membantu memberikan saran ataupun masukan untuk mengatasi beban pikirannya seperti mengalihkan perhatian dengan merawat tumbuhan atau pun hewan ternak seperti unggas. Dan menyarankan pasien untuk lebih berpikir positif agar tidak terlalu membebani psikis pasien.

S. PF : KU : CM Pemeriksaan VS:TD :180/100 mmHg Laboratorium BB : 55 kg.Tindakan Terhadap Keluarga 45 darah . Alur penatalaksaan pasien Ny.10. RPK : Pasien memiliki riwayat darah tinggi dari ibu dan tidak ada keluhan yg sama pada anggota keluarganya.. TB : 160cm dalam batas normal BMI : 21. tidak bisa tidur. berusia 60 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri sendi lutut. dan lemas.5 Kebiasaan: jarang berolah raga Osteoartritis Depresi Ringan Penatalaksanaan Penatalaksanaan NonFarmakologi Farmakologi Olah raga teratur Meloksikam 2x1 tab Edukasi kepada keluarga CTM 2mg 3X1 tab pasien untuk memantau dan mendukung keadaan pasien III. perasaan inferior terhadap anak.III. badan terutama leher pegal.11.

Kemudian menjelaskan tentang pentingnya untuk adanya perbaikan kesehatan terutama dalam memperbaiki pola hidup sehat agar mengontrol faktor-fakor resiko penyebab osteoartritis yang akan berpengaruh kepada kondisi pasien yang akan datang.Penatalaksanaan pasien ini memerlukan partisipasi seluruh anggota keluarga dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. penilaian kemampuan mengatasi masalah secara keseluruhan dan kemampuan adaptasi dengan skala : 5 : dapat diselesaikan sepenuhnya oleh pasien dan keluarganya 4 : penyelesaian hampir seluruhnya oleh keluarga dengan sedikit petunjuk dari orang lain / dokter / pelayanan kesehatan 3 : penyelesaian hanya sedikit atas partisipasi keluarga 46 . Selanjutnya diberikan pula motivasi terhadap keluarga untuk memperhatikan pasien. ruang berkumpul keluarga setidaknya dalam sehari sekitar 15-30 menit untuk saling ngobrol demi memperbaiki kualitas kebersamaan mereka sebagai satu keluarga. Dilakukan penilaian terhadap penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi. Mengajak seluruh anggota keluarga untuk berada di satu tempat misalnya ruang makan. oleh sebab itu adanya tanggung jawab kepada keluarga agar bisa saling membantu secara materil maupun dukungan moril dalam memecahkan masalah yang dihadapi pasien dan dianggap sebagai masalah keluarga bersama dan harus dipecahkan secara bersama-sama. Melakukan komunikasi secara personal kepada masing-masing anak pasien tentang masalah yang sedang terjadi pada pasien dan faktor-faktor apa saja yang mungkin memperberat keadaan pasien. Langkah awal yang dilakukan yaitu memberi tahu masalah yang sebenarnya yang sedang dialami mereka. baik dari segi fisik maupun psikis. Keluarga juga harus mendapat pengetahuan yang sejelasjelasnya bahwa peran keluarga sangat besar. sehingga dapat memperbaiki pola hidup dalam keluarga dalam membentuk keluarga yang sejahtera.

Fungsi Ekonomi  Dengan pendapatan rendah.2 : partisipasi keluarga hanya berupa keinginan saja karena tidak mampu. tidak ada penyelesaian walaupun sarana ada 99 :tidak dapat dinilai. No 1 Masalah  Pasien mengalami osteoarthritis dan memiliki riwayat hipertensi dari ibunya. penyelesaian oleh orang lain / dokter / pelayanan kesehatan 1 : tidak ada partisipasi. pasien dan   Edukasi motivasi  untuk bersosialisasi dengan lingkungan tetangganya Edukasi  Pasien berinteraksi dengan tetangganya dan mengikuti pengajian Pasien mulai bisa 47 . Keluarga menjadi lebih perhatian dan dilakukan kumpul keluarga sesering mungkin setidaknya setiap makan malam 2 4 2 4 2 4 2 4 2 4 2 4 Fungsi Sosial  4 Hasil Intervensi Fungsi Biologis:  2 Rencana Intervensi Pasien jarang berinteraksi dengan para tetangganya dan tidak pernah mengikuti kegiatan pengajian yang sering diadakan di RWnya. mudah lelah dan merasa sering sakit-sakitan. Pasien merasa lesu.  3  Edukasi mengenai osteoarthritis dan hipertensi serta faktor risiko. Fungsi Psikologis  Pasien merasa sedih karena anak-anaknya menjauh darinya.  Edukasi motivasi diri untuk olah raga setiap hari  Pasien dan keluarga mengerti mengenai penyakitnya  Pasien menjadi suka berolah raga berjalan disekitar rumah setiap pagi Edukasi motivasi  diri untuk lebih bersemangat walau anak-anaknya sibuk kerja Perhatian keluarga  Edukasi  terhadap pasien kurang pentingnya dan waktu untuk kumpul perhatian dan keluarga jarang waktu kumpul keluarga terhadap pasien Nilai Koping Awal Akhir  Pasien menjadi lebih bersemangat walau anakanaknya sibuk kerja.

Nilai akhir koping keluarga yang didapat sebesar 4 yaitu keluarga mampu menyelesaikan masalahnya dengan arahan dari petugas pelayan kesehatan. Pada akhir studi dilakukan penilaian kembali kemampuan keluarga menyelesaikan masalahnya. Sebagian besar anggota keluarga mulai memperhatikan kesehatan pasien mulai dari menanyakan kondisi pasien. 2. Lebih banyak waktu untuk berkumpul dan ngobrol bersama. Dan juga melakukan solat berjamaah dirumah. namun intervensi dilakukan pada 5 dari 7 anggota keluarga. Seperti disaat makan malam. III.keluarga belum membuat jaminan kesehatan (bpjs) pentingnya membuat jaminan kesehatan mengatur pemasukan yang ada dengan kebutuhan keluarga dan memikirkan untuk membuat jaminan kesehatan daerah. Pasien mengikuti anjuran pembina untuk rutin berolah raga setiap hari. 48 2 .Hasil Pembinaan 1.12. 3. Edukasi mengenai  pentingnya berolah raga dan pola makan sehat Keluarga menyempatkan diri untuk berolahraga walau tidak setiap hari dan keluarga mengetahui pola makan sehat 5 Perilaku Kesehatan Keluarga  Keluarga jarang berolahraga dan memiliki pengetahuan yang kurang mengenai pola makan yang sehat  2 Kesan dari kemampuan penyelesaian masalah awal dalam keluarga adalah keluarga cukup mampu menyelesaikan hampir seluruhnya oleh keluarga dengan sedikit petunjuk dari orang lain/ dokter/ pelayanan kesehatan. Walaupun tidak seluruh anggota keluarga dilakukan intervensi karena sulit menentukan jadwal yang sama. memperhatikan jadwal minum obat yang sudah disepakati bersama-sama untuk jam minum obat kepada pasien agar tidak lupa minum obat.

Selain itu. reflek pupil terhadap cahaya positif. Status gizi pasien. dan kaku pagi hari tidak lebih dari setengah jam. pasien berusia lebih dari 45 tahun. 49 . sering sakit-sakitan. berat badan 55 kg. BMI = 21. suhu afebris. didapatkan keadaan umum baik.Pembahasan Ny. juga terdapat gejala-gejala depresi. kepala : rambut warna hitam dengan rambut warna putih. Untuk menegakkan diagnosis maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Pada pemeriksaan fisik pasien di poli lansia puskesmas.Pasien juga sekarang meiliki pola pikir yang lebih positif kepada anak-anaknya. pasien dan keluarga mau membuat kartu bpjs untuk jaminan kasehatan untuk pasien. Tanda vital yaitu tekanan darah pasien 180/100 mmHg. Pemeriksaan THT dalam batas normal. 4. napas 16 kali. Nyeri semakin berat dirasakan saat beraktivitas dan bangun tidur pagi hari. Untuk menopang kesehatan pasien. kesadaran compos mentis. konjungtiva tidak anemis dan sclera tidak ikterik. Pasien merasa cepat lelah. Dari hasil anamnesis didapatkan gejala-gejala atralgia dan mengarah ke osteoarthritis. Pasien mengaku hanya melakukan kegiatan sehari-hari berupa pekerjaan rumah tangga dan mengurus cucu.. nadi 84 kali. III. yang terdiri atas : nyeri sendi perifer yang memberat dengan gerakan. sulit tidur nyenyak. kadang lupa menaruh barang atau mengerjakan sesuatu.5 kg/m2. Status generalis. tinggi badan 160 cm. S. datang bersama menantunya ke puskesmas Cimanggis pada tanggal 20 Januari 2015 dengan keluhan nyeri pada sendi lutut kanan dan kiri sejak satu tahun terakhir.13. Pemeriksaan mata. Keluarga pasien mulai memikirkan manajemen keuangan yang terarah dari pendapatan keluarga sehingga ada biaya untuk kesehatan keluarga. 60 tahun.

Meloksikam digunakan untuk meringankan rasa sakit. Hasil pemeriksaan lab di Puskesmas. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah yang tinggi. Namun belum dapat ditegakkan diagnosia hipertensi pada pasien. AH1 juga bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas dan keadaan lain yang disertai pelepasan histamin endogen berlebih. sehingga dapat melemahkan diagnosis rheumatoid artrhritis dan gout arthrtritis. CRT . kekakuan dan bengkak yang disebabkan oleh osteoarthritis dan rheumatoid arthritis. bronkus dan bermacam-macam otot polos. didapatkan asam urat. dan gula darah dalam batas normal. Penatalaksanaan yang diberikan kepada Ny. kolesterol. 2 detik. nyeri. Meloksikam diindikasikan untuk pengobatan simptomatik jangka pendek pada eksaserbasi akut osteoarthritis. berkurangnya kewaspadaan dan waktu reaksi yang lambat. Dosis terapi AH1 umumnya menyebabkan penghambatan sistem saraf pusat dengan gejala seperti kantuk. dari pemeriksaan ekstremitas tidak ditemukan tanda-tanda inflamasi dan deformitas pada sendi. Efek samping ini 50 . yaitu Meloksikam tablet 2 kali sehari dan CTM tablet 3 kali sehari. Paru terdengar ronkhi (-). Dari hasil pemeriksaan lab yang normal dapat mencoret diagnosis penyakit metabolik dan gout. karena tensi yang tinggi pada pemeriksaan ini dapat dikarenakan adanya stressor nyeri dan tidak dapat tidur nyenyak. Meloksikam merupakan obat anti inflamasi non steroid yang menghambat sintesa prostaglandin dengan menghambat kerja isoenzim COX-1 & COX-2 (lebih banyak ke arah COX-2). Ekstremitas tidak didapatkan edem. Selain itu. CTM sebagai AH1 menghambat efek histamin pada pembuluh darah.S saat berkunjung di puskesmas Cimanggis sesuai dengan keluhan yang dialami. pengobatan simptomatik jangka panjang pada arthritis reumatoid.Jantung dalam batas normal.

51 . Selain itu masalah dari anaknya juga sudah mulai teratasi dengan mulai menyempatkan waktu untuk berkumpul dan bercengkrama bersama. pasien dan keluarga mau membuat kartu jamkesda untuk jaminan kasehatan untuk pasien.menguntungkan bagi pasien yang memerlukan istirahat. Keluarga sudah dapat lebih memperhatikan dan mengingatkan pasien untuk rutin meminum obat. Dari hasil kunjungan didaptkan perbaikan dari keadaan pasien dan keluarga. Perilaku hidup sehat juga sudah mulai diterapkan oleh keluarga dan pasien dengan rutin berjalan selama 30 menit tiap harinya di pagi hari. Pasien juga sekarang meiliki pola pikir yang lebih positif kepada anak anaknya yang banyak menghabiskan waktu diluar rumah. Seperti disaat makan malam. Dan pada akhirnya keluarga pasien mulai memikirkan manajemen keuangan yang terarah dari pendapatan keluarga sehingga ada biaya untuk kesehatan keluarga dan juga untuk kebutuhan sehari-hari. Anak keenam pasien yang lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah jadi lebih banyak menghabiskan waktu dirumah untuk memperhatikan keadaan ibunya. Untuk menopang kesehatan pasien. Dan juga melakukan solat berjamaah dirumah.

Saran Saran bagi kesinambungan pelayanan adalah: Untuk pembina berikutnya : 1. Mental psikologikal : Untuk melakukan pembinaan terhadap suatu keluarga perlu pendekatan–tertentu seperti rasa simpati dan empati dan memiliki pengetahuan yang baik serta membutuhkan keuletan dalam menjalankan pembinaan.1. IV. 52 . ekonomi dan perilaku keluarga pada pasein. sosial. Sumber Daya Manusia : Dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. maka pembinaan kesehatan perlu kerjasama yang baik antara petugas kesehatan dengan keluarga maupun masyarakat sekitar 2.2. serta sikap seluruh anggota keluarga yang kooperatif sehingga mempunya keinginan untuk mengubah perilaku yang tidak baik bagi kesehatan dan tidak ditemukannya faktor penyulit yang dapat menghambat binaan yang diberikan. Kesimpulan  Program kedokteran keluarga pada lansia telah terlaksana dengan kunjungan ke rumah pasien.  Intervensi yang dilakukan telah tercapai sehingga kualitas kesehatan pasien dan keluarga meningkat. psikologi.  Pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan cukup baik.BAB IV PENUTUP IV.  Terdapat masalah pada fungsi biologi.

apakah keluarga telah dapat membantu secara psikis untuk tidak membuat pasien terlalu banyak berpikir sehingga melupakan untuk memikirkan kesehatannya sendiri 53 . apakah pasien sudah mengerti tentang penyakit yang dialami serta melakukan pengobatan dan kontrol secara rutin agar semua perkembangan dalam kondisi tubuh bisa dipahami dan dikontrol c. 5. Komunikasi : Kemampuan berkomunikasi merupakan hal utama pelayan kesehatan yang bertugas sebagai pembina. 4. Komunikasi yang baik bertujuan untuk menjadi perantara dan juga keluarga yang akan dibina agar lebih terbuka terhadap permasalahannya dan mengerti dengan apa yang disampaikan oleh pembina sehingga program keluarga binaan ini dapat terlaksana. Manajemen klinis : Untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam keluarga perlu adanya kerjasama antara provider kesehatan dan seluruh anggota keluarga. apakah pelaku rawat tetap melakukan pendekatan-pendekatan emosi yang baik kepada pasien dan juga anak-anaknya.3. tetap mulai mengatur dan mengkontrol pola makan serta waktu minum obat pasien b. Evaluasi masalah Menindak lanjuti tindakan yang belum terlaksana yaitu: a.

54 . Diakses tanggal 12 Februari 2015 dari http://www.go. Alwi I. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia. editors. Available at : http:///www. In: Sudoyo AW.org.id/berita. (2008). Simadibrata M.htm Badan Pusat Statistik.Y.go.depsoso. Y. 2002. 7-12. Majalah Kedokteran Atma Jaya. The Prevalence and Burden of Osteoarthritis. 41 (suppl 1) : 3 – 6. Arthritis Research Campaign 2000. 10:21:40. php?name=news&file Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2(1). 1195201. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2005. Osteoartritis. p.uk/about_arth/astats. Pedoman kesehatan jiwa usia lanjut (psikogeriatrik). Setiati S. N. Jakarta: Puskesmas Direktorat Jendral Pelayanan Medik. Broto R.id/modules. (2005). Setiyohadi B. Rheumatology.DAFTAR PUSTAKA Amir. (2004). Isbagio H.arc. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Tantangan bagi Indonesia terhadap peningkatan populasi lanjut usia pada masa mendatang dan antisipasinya.S. http://pemdadiy. 2006. Kalim H. Pramudiyo R. Depresi: Aspek neurobiologi diagnosis dan tatalaksana. Soeroso J. 4th ed. Handajani. (2003). Konggres Nasional Ikatan Reumatologi Indonesia VI. Reginster J.