BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN
4. 1.

Gambaran Umum
Ruas jalan Retraen-Baun merupakan ruas jalan yang berstatus jalan Propinsi

dengan fungsinya merupakan jalan kolektor. Sehingga wewenang peyelenggaranya
dilaksanakan oleh propinsi Nusa Tenggara Timur,dalam hal ini Dinas Pekerjaan
Umum Bidang Bina Marga,dengan sumber dana berasal dari APBD Propinsi. Ruas
jalan tersebut menghubungkan Kabupaten Kupang dengan kota Kupang. Berikut ini
data-data administrasi dan teknis:
-

Nama Ruas Jalan

: Retraen – Baun

-

Lokasi Segmen

: Kecamatan Amarasi Selatan

-

Status Jalan

: Provinsi

-

Fungsi Jalan

: Kolektor

-

Stasioning Segmen

: 25+500 s/d 26+500

-

Segmen yang Tinjau

:

-

Existing Segmen

: Lapen ( kondisi ± 30 % )

-

Lebar Segmen

: 3,5 m (tidak termasuk bahu jalan)

-

Lebar bahu jalan

: 2 m (kiri + kanan)

-

Tipe jalan

1 Km

: 1 jalur - 2 arah tak terbagi (tanpa median)

Dalam konteks jaringan jalan,ruas jalan Retraen – Baun merupakan ruas jalan
dengan fungsi pelayanan yang cukup penting.Pentingnya jalur ini antra lain karna
merupakan jalur utama dari kota kupang menuju ke kota-kota kecamatan di
kabupaten kupang.Daerah yang di hubungkan oleh jalur inimerupakan akses utama
untuk mobilisasi orang dan barang,terutam kekayaan alam seperti berbagai jenis
batuan yang bernilai eksport dan juga hasil-hasil pertanian, pertenakan ,dan
kehutanan.
Dari sisi umur konstruksi, ruas jalan sudah berumur 15 tahun dimana jalan ini
dibangun tahun 1998. Jenis konstruksi yang digunakan adalah Lapen(Lapisan
Penetrasi Makadam) dengan ketebalan 5 cm.berkaitan dengan fungsi pelanan,jenis
72

kendaraan yang melewati awalnya didominasi oleh pick up dan tuk ringan. seiring
dengan perkembangan waktu saat ini jenis kendaraan yang melewati didominasi oleh
truk besar,bus dan pick up. Hal ini karena untuk mengankut hasil bumi berupa sapi,
babi,kelapa, pisang dan lain-lain.
Ruas jalan ini masih dalam kondisi eksisting perkerasan lapis penetrasi
macadam yang sudah rusak berat dan telah berdampak lamanya waktutempuh
kendaraan

serta

mengganggu

rasa

aman

dan

nyaman

bagi

pengguna

jalan.Berdasarkan hasil pengatan secara visual pada ruas jalan tersebut telah
mengalami beberapa jenis kerusakan antara lain : Lubang,retak halus ,pelepasan
butiran,Amblas,retak kulit buaya,retak memanjang dan pengelupasan lapisan
permukaan dengan nilai indeks kondisi jalan (RCI) 3. kategori tidak mantap dan
rusak berat. Penilain kodisi tersebut merekomondasi alternatf penangan dengan
peningkan tebal perkerasan lentur HRS-Base.
4.2.Analisa Perhitungan Tebal Perkerasan Lentur Dengan MAK
Pada Bab II telah dijelaskan metode – metode yang sesuai dengan kondisi
alam, lingkungan dan sifat tanah dasar untuk merencanakan tebal perkerasan lentur.
Lokasi penelitian ini berada di Indonesia maka tebal perkerasan lentur direncanakan
menggunakan metode analisa komponen karena metode analisa komponen (SKBI2.3.26.1987 UDC:625.73/ SNI No:1732-1989-F) merupakan metode yang bersumber
dari metode AASHTO’72 yang dimodifikasi sesuai dengan kondisi jalan di
Indonesia.
Perhitungan tebal perkerasan lentur sebagai berikut :
4.2.1 .Jumlah Jalur dan Koefisien Distribusi Kendaraan (C)
Jumlah jalur ditentukan berdasarkan lebar perkerasan yang direncanakan 9 m untuk
jalan kolektor primer dan

dipilih 2 Jalur (tabel 2.5 Hal 33) sedangkan untuk

koefisien distribusi kendaraan, karena jalan terdiri dari 2 jalur dan 2 arah, maka nilai
C untuk kendaraan ringan = 0,50 dan kendaraan berat = 0,50 (tabel 2.6 Hal 33).

a. Angka Ekivalen (E) Beban Sumbu Kendaraan

73

0004 5000 4 + 8160 4 (rumus 2....rata Pada Tahun 2015 (Awal Umur Rencana) 74 .0577 + 0.7.0002 = 0.1 Tabel 2.3500 b.7.0183 + 0.4  beban 1 sumbu tung gal dalam kg  Angka ekivalen sumbu tung gal    . Data Lalu lintas Tahun 2013 Mobil Penumpang 2 Ton (1+1) Bus 8 Ton (3+5) Truk 2 As 10 Ton (4+6) Σ LHR = 153 Kendaraan (lampiran 2) = 2 Kendaraan (lampiran 2) = 38 Kendaraan (lampiran 2) = 193 Kendaraan/Hari/2 arah e..0002 + 0.4) Bus 8 Ton (3+5) = = 0.2923 = 0.Tabel 2..086   .. Tabel 2.4 ) ( 3000 8160 ) ( ) = 0.( 2.2) 8160   Mobil Penumpang 2 Ton (1+1) = ( 1000 8160 ) 4 + ( 1000 8160 ) 4 (rumus 2. tingkat pertumbuhan lalu lintas untuk daerah di luar Pulau Jawa dan Sumatera (pulau – pulau lain) diambil sebesar 6 % c. untuk kelas jalan IIIA dan IIIB.1. Pertumbuhan Lalu-Lintas (i) Berdasarkan buku Petunjuk Teknik dan Survey Perencanaan Teknik Jalan Kabupaten No.7 hal.1...Hal 3.1) 8160   4  beban 1 sumbu ganda dalam kg  Angka ekivalen sumbu ganda  0.(2... d.Hal 3. Perhitungan Lalu lintas Harian Rata . 34) = 0.1593 4000 6000 4 Truk 2 As 10 Ton (4+6) = 8160 + 8160 ( ) ( ) 4 (rumus 2. Umur Rencana (UR) diambil selama 10 Tahun.. 013/T/Bt/1995 halaman 63..1410 = 0. Umur Rencana (UR) Berdasarkan buku Petunjuk Teknik Evaluasi Kinerja Perkerasan Lentur kerjasama Departemen Pekerjaan Umum dengan JICA tahun 2005 halaman 72.

Perhitungan Lintas Ekivalen Rencana (LER) LER = LET x (UR/10) LER = 14.24746 h.7 75 .06)2 x 38 = 41 Kendaraan LHR Awal Umur Rencana (Kend/Hari/2 arah) = 216 Kendaraan f.03806 7.06)10 x 172 = 308 Kendaraan = (1+0.06)10 x 3 = 6 Kendaraan = (1+0.03440 0. Daya Dukung Tanah Dasar (DDT) CBR = 3.06)10 x 41 = 126 Kendaraan LHR Akhir Umur Rencana (Kend/Hari/2 arah) = 440 Kendaraan g.60 % (Lampiran 3a) Daya Dukung Tanah Dasar (DDT) = 4. Perhitungan Lintas Ekivalen Permulaan (LEP) LEP = LHR Awal Umur Rencana x C x E Mobil Penumpang 2 Ton (1+1) Bus 8 Ton (3+5) Truk 2 As 10 Ton (4+6) LEP = 172 x 0.06160 Bus 8 Ton (3+5) = 6 x 0.1593 = = 41 x 0.500 x 0.rata Pada Tahun Ke-10 (Akhir Umur Rencana) LHR Akhir Umur Rencana = (1 + i) UR x LHR Awal Umur Rencana Mobil Penumpang 2 Ton (1+1) Bus 8 Ton (3+5) Truk 2 As 10 Ton (4+6) = (1+0.500 x 0.3 Log. 918480 x (10/10) = 14. Perhitungan Lalu lintas Harian Rata .05000 LEA = 22.06)2 x 153 = 172 Kendaraan Bus 8 Ton (3+5) = (1+0.LHR Awal Umur Rencana = (1 + i)n x LHR saat survey n =waktu (dalam tahun) antara saat survay dan Awal Umur Rencana Mobil Penumpang 2 Ton (1+1) = (1+0.24746 + 22.500 x 0.500 x 0.0004 = 0. CBR + 1.1593 = 0.918480 j.500 x 0.47790 Truk 2 As 10 Ton (4+6) = 126 x 0.3500 = = 0.58950 2 LET = 14.3500 = 22.06)2 x 2 = 3 Kendaraan Truk 2 As 10 Ton (4+6) = (1+0. Perhitungan Lintas Ekivalen Tengah (LET) LET = ( LEP + LEA) / 2 LET = 7. Perhitungan Lintas Ekivalen Akhir (LEA) LEA = LHR Akhir Umur Rencana x C x E Mobil Penumpang 2 Ton (1+1) = 308 x 0.58950 i.0004 = = 3 x 0.500 x 0. 918480  15 k.17500 7.

Departemen Pekerjaan Umum. CBR + 1.60 + 1.pelatihan pelaksanaan pekerjaan jalan. 2. 3.2 CBR = 6.55 % (Lampiran 3b) Daya Dukung Tanah Dasar (DDT) = 4. CBR yang ekonomis untuk tanah dasar adalah sama dengan atau diatas 6%. ( SUMBER. Bilamana CBR tanah dasar agak kecil maka tanah dasar tersebut harus di tingkatkan dengan cara yang ekonomis yaitu pemasangan capping layer yang terdiri dari * Timbunan pilihan* (CBR > 10 ) : 1.3 Log.= 4. Wilayah II surabaya ) Sehingga berdasarkan poin 1 di atas maka pada perencanaan ini dipakai nilai CBR minimum 6 % maka DDT diperoleh : CBR = 6. modul 06 / Bahan jalan .3 Log.jika CBR dibawah 3 maka digunakan capping layer sekitar 35 cm.1 % Secara Umum.7 = 5. Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi.7 = 4. 6 + 1.7 = 4.2 % DDT = 5. Pemasangan caping layer ini dimaksutkan untuk memperoleh CBR gabungan antara capping layer dengan tanah dibawahnya yang mendekati 6 %.3 Log.Badan Pembinaan konstruksi dan Sumber Daya Manusia.55% 76 .Jika CBR antara 3 sampai 5 maka digunakan capping layer sekitar 20 cm.

9.38 % (lampiran 2) ≤ 30 % = 110. hal.5 (tabel 2.rata Persentasi kendaraan berat Iklim/Curah Hujan Faktor Regional (FR) = 0.5 (tabel 2.1.9 .91. dengan jenis lapis permukaan menggunakan HRS dimana nilai indeks permukaan pada awal umur rencana (IPo) adalah sebesar 3.11. hal.5 (tabel 2. maka diambil indeks permukaan pada akhir umur rencana (IPt) = 1. Grafik Korelasi DDT & CBR l. Faktor Regional (FR) Kelandaian rata .Gambar 4. 40).781 % (lampiran 4) < 6% = 7. 39) m. 77 .4 mm/th (lampiran 5) < 900 mm/th = 0. 41) sehingga dipakai Nomogram 5. Indeks Permukaan (IP) Setelah mempertimbangkan fungsi jalan (Kolektor Primer) dan nilai LER = 14.3. hal.10.

hal. 42) Agregat Kelas A a2 = 0. Koefisien Kekuatan Relatif (a) Penggunaan campuran HRA (Hot Rolled Asphalt) merupakan campuran aspal panas yang mempunyai komposisi bahan agregat. sifat dan karakteristik yang sama dengan campuran HRS (Hot Rolled Sheet) untuk itu penulis merencanakan perkerasan HRS namum penggunaan koefisien kekuatan relatif (a) memakai bahan campuran HRA .2) n.13 (tabel 2. Grafik Nomogram 5 (ITP =4. HRS a1 = 0. hal. 42) Agregat Kelas B a3 = 0.4.5 5. hal.2 0.14 (tabel 2. 42) 78 .30 (tabel 2.2.12.12.12.2 15 Gambar 4.

b. Kekuatan jalan lama: 79 . 43) p. nilai D1 dan D3 diambil nilai minimum berdasarkan batas .3 D2 = 4.13 D3 4. hal.2 = 1. Penentuan nilai D1.5+1.13.batas minimum tebal perkerasan : D1 = 5 cm D2 = 20 cm D3 = ? cm ITP = a1D1 + a2D2 + a3D3 4.14x20 + 0.2 = 0. nilai D1 dan D2 diambil nilai minimum berdasarkan batas .5 + 1.3 D1 = 4.3 cm dipakai tebal minimum 5 cm (HRS .13x10 4.14x10 + 0.b. Batas – batas Minimum Tebal Perkerasan HRS = 5 cm (tabel 2.14 D2 = 10 cm (Agregat kelas A) 3.2 = 0.2 – 4.2 – 2.13 D3 D3 = 4. Menentukan Tebal Perkerasan Untuk Pelebaran HRS = D1 = ? cm Agregat Kelas A = D2 = ? cm Agregat Kelas B = D3 = ? cm 1.30x5 + 0.13 D3 = 10 cm dipakai tebal minimum 20 cm (Agregat Kelas B) q.batas minimum tebal perkerasan : D1 = ? cm D2 = 20 cm D3 = 10 cm ITP = a1D1 + a2D2 + a3D3 4. Penentuan nilai D3.13x10 4.batas minimum tebal perkerasan : D1 = 5 cm D2 = ? cm D3 = 10 cm ITP = a1D1 + a2D2 + a3D3 4.8 + 1.30 D1 + 2.3) 0.2 = 0. hal.9 0. 43) Agregat Kelas B = 10 cm (tabel 2.13.Base) 2.1 0.30 D1 + 0.a.4 + 0. 43) Agregat Kelas A = 20 cm (tabel 2.30 D1 = 3.2 – (1.30x5 + 0.5 + 0. Menentukan Tebal Lapis Tambah Diatas Jalan Lama a.13.2 = 0.14 D2 + 1.o. nilai D2 dan D3 diambil nilai minimum berdasarkan batas . hal.14 D2 + 0.2 = 1. Penentuan nilai D2.

2 – 3. Secara umum jenis – jenis pekerjaan yang di laksanakan 80 . 0.14 = 1. yang merupakan satu kesatuan dalam perhitungan rencana anggaran biaya. 0. 0. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya Estimasi besar biaya pelaksanaan pekerjaan lapisan perkerasan lentur pada Ruas Jalan Retraen.45 = 3.13 = 1. D1 0.T=20 cm Tanah Dasar Gambar 4. Penentuan Nilai ∆ ITP : ∆ ITP = ITP (Umur Rencana) – ITP (Sisa) = 4. T=5 cm D2 Agregat A.3.340) = 30% .Amarasi Selatan.HRS .40 Agregat Kelas B (CBR 70) = 70% . Penentuan Nilai D1 Diatas Jalan Eksisting : ∆ ITP = a1 .53 = 0. T=10 cm D3 Agregat B.30 Agregat Kelas A (CBR 100) = 100% . Baik itu untuk pelebaran badan jalan maupun untuk tebal lapis tambah diatas perkerasan jalan lama.53 c.53 0.Baun.67 b. Kabupaten Kupang sebagaimana terdapat dalam lampiran 7.Base (MS.67 = 0.30 x D1 D1 = 0. 5 . Susunan Tebal Lapis Perkerasan 4. 10 .3 D1 = 1.3) sebagai berikut : D1 HRS-Base.3. 20 . Adapun detail gambar potongan melintang beserta susunan tebal lapis perkerasaannya ditunjukan dalam (gambar 4.82 ITP Sisa = 0.77 diambil 3 cm (HRS – Base) Berdasarkan hasil analisa perhitungan tebal perkerasan lentur diatas maka telah diketahui susunan tebal lapis perkerasannya.

565.287. Adapun rekapitulasi anggaran biaya sebagai berikut : Tabel 4. Prop / Kab / Kodya : Nusa Tenggara Timur / Kab.422.KM 26+500 Kec. III.VIII ).1. Rekapitulasi Anggaran Biaya Ruas Jalan Retraen-Baun REKAPITULASI PERKIRAAN HARGA PEKERJAAN Kampus : Politeknik Negeri Kupang Program : Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur.757 1.063 1.750.378 0 63.877.165.VI.meliputi divisi (I.325 1.565.056.000 0 0 183.741.425.000 81 .165. Divisi Uraian Pekerjaan (Rupiah) 1 Umum 2 Drainase 3 Pekerjaan Tanah 215.727 4 Pelebaran Perkerasan dan Bahu Jalan 731. IV .904.400 5 Pekerasan Non Aspal 6 Perkerasan Aspal 7 Struktur 8 Pengembalian Kondisi dan Pekerjaan Minor 9 Pekerjaan Harian 0 10 Pekerjaan Pemeliharaan Rutin 0 (A) Jumlah Harga Pekerjaan (termasuk Biaya Umum dan Keuntungan ) (B) Pajak Pertambahan Nilai ( PPN ) = 10% x (A) (C) JUMLAH TOTAL HARGA PEKERJAAN = (A) + (B) Dibulatkan 228. Amarasi Selatan. Kupang Jumlah Harga No.568 142. RAB Serta Metode Pelaksanaan Paket : Ruas Jalan Retraen -Baun KM 25+500 .

Tire Roller 8-10 T. 2014. Tukang. Pembantu Sopir. pelaksanaan pembuatan dan pemasangan papan nama proyek dengan ketentuan ukuran standar 150x100cm2 terbuat dari papan kayu klas II dilapisi dengan seng.III. Excavator 80-140 Hp. bagian bawah tiang penyangga dan penyokong kemudian dicor beton tumbuk campuran 1pc:3ps:5kr sedalam 40cm di dalam tanah dan 10cm di atas tanah.6 M3. Water Tanker 3000-4500 L. Wheel Loader 1. Papan Proyek. Mobilisasi peralatan berat ke lokasi proyek berupa Generator Set. Mandor. mobilisasi peralatan berat dan personil sangat diperlukan untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan dilapangan sesuai dengan jenis dan kuantitas pekerjaan yang harus dilaksanakan. Sopir. Dump Truck 3-4 M3. masa pemeliharaan. Mobilisasi dan Demobilisasi. nilai kontrak. Sumber : Hasil Perhitungan. untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan dalam rangka meningkatkan pengawasan pelaksanaan pekerjaan tersebut diatas baik dalam pengawasan terhadap mutu maupun kuantitas. Mekanik dan Pembantu Mekanik. 3. Isi tulisan terdiri dari data proyek berupa nama kegiatan. tanggal kontrak. Direksi keet. Motor Grader >100 Hp. Umum (Divisi I) 1. masa pelaksanaan. yang satu ditempatkan pada STA 25+500 dan satunya lagi pada STA 26+500. Vibratory Roller 5-8 T. maka diperlukan Barak kerja atau Direksi keet dengan ukuran standar (4x5)m2 dan penyediaan fasilitas yang diperlukan dalam pekerjaan 82 .IV. Adapun metode pelaksanaan itu sebagai berikut : A. nomor kontrak. pelaksana dan konsultan pengawas.4. Pembantu Operator.VI). Track Loader 75-100 Hp. Terdiri dari dua buah papan nama. dan mobilisasi semua personil yaitu Pekerja. Metode Pelaksanaan Pelaksanaan pekerjaan pembangunan Ruas Jalan Retraen – Baun direncanakan sesuai dengan jenis – jenis pekerjaan dalam divisi (I.Terbilang: Satu milyar lima ratus enam puluh lima juta seratus enam puluh lima ribu rupiah. tiang penyangga dan penyokong dibuat dari kayu klas I ukuran 5x7cm 2. Compressor 4000-6500 L\M. Lampiran 7 4. Asphalt Finisher. pemasangan papan nama sedemikian rupa sehingga tepi bawah papan terletak setinggi 2m dari permukaan tanah.0-1. pekerjaan. Asphalt Sprayer. Three Wheel Roller 6-8 T. Tandem Roller 6-8 T. 2. lokasi. Operator.

belanja alat. B. pekerjaan timbunan pada proyek ini merupakan pekerjaan timbunan di atas badan jalan dengan menggunakan material timbunan biasa sebagai bahan dasar.2m dan 1. melaksanakan pengukuran dengan pengawasan Direksi atau pengawas lapangan.5 m. kamera photo serta peralatan pengukuran seperti water pass dan roll meter. Timbunan Biasa. alat tulis.2 faktor kembang material (lepas-padat). material ditumpuk secara teratur dan tidak mengganggu arus lalu lintas. jarak tiap tumpukan disesuaikan dengan ketebalan yang akan dihampar/direncanakan yaitu 18 m3 (6 DT Kapasitas 3m3/DT) untuk satu tumpuk tiap jarak 10 m dengan lebar badan jalan 7. Pekerjaan Tanah (Divisi III) 1. lapisan harus dipadatkan menggunakan Three Wheel Roller sampai didapatkan 83 . laporan mingguan dan laporan bulanan. belanja perlengkapan kesehatan dan keselamatan kerja (K3). tebal timbunan biasa 0. Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan. mendokumentasikan proses pekerjaan berupa foto – foto setiap pekerjaan. Material timbunan diterima dilokasi pekerjaan. Lapis Timbunan berguna untuk penyamarataan badan jalan dan berguna untuk memperkuat konstruksi badan jalan sebagai lapis pondasi dasar. Timbunan ditempatkan di permukaan yang telah disiapkan dan disebar dalam lapisan yang merata. sehingga memudahkan proses penghamparan dan tidak ada material sisa/terbuang. Setelah pengukuran kemudian pematokan dengan menggunakan paton sementara memakai kayu kelas II. 4. Pematokan pada as jalan dilakukan pada tiap jarak 50m dan pada setiap belokan. Pengukuran dan Pemasangan Bouplank. merancang system administrasi berupa format laporan dan format belanja. air bersih. Material timbunan dihampar menggunakan Motor Grader sesuai dengan ketebalan dan kemiringan yang telah ditentukan. Pemasangan bouwplank memakai kayu kelas II dilakukan setelah pematokan pada lokasi bangunan. Hasil pengukuran ini berupa data dan gambar sket. membuat laporan hasil pekerjaan berupa laporan harian. b. Hasil pengukuran ini dipakai sebagai dasar untuk menentukan tempat bangunan atau bangunan pelengkap lainnya. Administrasi dan Pelaporan. mebel. Metode pelaksanaan untuk timbunan biasa sebagai berikut : a. mencatat semua pengeluaran keuangan proyek berupa perlengkapan proyek seperti belanja material. c.tersebut diatas berupa penerangan. 5.

berupa pekerjaan pengupasan lapisan perkerasan lama pada tanah dasar. Lapis Pondasi Agregat Kelas B.7% CBR design. b. c.Perkerasan Aspal (Divisi VI) 84 . pohon-pohon yang tumbang. C. Bilamana memungkinkan. Pekerjaan ini menggunakan Motor Grader. Pekerjaan ini mencakup : a.alat konstruksi dapat dilewatkan di atas pekerjaan timbunan. Pengupasan lahan (Stripping). maka ditentukan CBR lapangan = 3%  2. pembersihan semua pohon–pohon yang menghalangi atau mengganggu pekerjaan. sekelompok pekerja merapihkan tepi hamparan. d. menambah atau mengurangi bahan pada badan jalan dan penyamarataan permukaan dengan menggunakan alat bantu. tumbuh-tumbuhan lainnya. pekerjaan ini b e r u p a pengangkutan agregat kelas B untuk bahan bahu jalan dengan penghamparan dan pemadatan bahu jalan. lahan yang akan dibangun dibersihkan dari semaksemak. yang akan dijadikan lapisan Sub grade untuk pembangunan jalan. Pembersihan lahan (Land Clearing). Pemadatan Dasar Timbunan. Pelebaran Perkerasan dan Bahu Jalan (Divisi IV) 1. lalu lintas alat . akar dan pembuangan semua ceceran bahan yang diakibatkan oleh pembersihan. Pembersihan lahan menggunakan Track Loader. Wheel Loader. timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju kearah sumbu jalan sedemikian rupa sehingga setiap ruas akan menerima pemadatan yang sama. 2. sampah. Selama penghamparan dan pemadatan. Penyiapan Badan Jalan.kepadatan yang disyaratkan dalam spesifikasi (CBR lapangan  CBR design). Untuk mengetahui kepadatan yang dicapai dilakukan pengetesan dengan menggunakan metode kerucut pasir (sand cone). Perataan tanah. dilakukan sebelum penghamparan timbunan pada setiap tempat. Pelaksanaan bahu jalan dilakukan sesuai dengan kemiringan bahu jalan yaitu 4% dengan lebar bahu 1m dan dihampar sepanjang ruas jalan untuk sisi kiri dan kanan jalan. Pemadatan dilakukan sebanyak 8 kali lintasan. D. 3. Excavator. pekerjaan dilakukan menggunakan Motor Grader untuk membentuk badan jalan dengan kemiringan 2% dan pemadatan permukaan tanah dasar dengan Vibro Roller. dan semua bahan yang tidak dikehendaki.

sikat ijuk atau alat penyapu karet. Permukaan yang akan disemprot dibersihkan dahulu dari debu dan kotoran dengan menggunakan compressor. i.165ºC. Aspal dan minyak tanah/kerosin dimasukkan ke Asphalt Sprayer sesuai komposisinya. Metode pelaksanaan untuk lapis resap pengikat sebagai berikut : a. 4) Timbang lembaran serap/penguji yang telah dilapisi aspal cair. Lapis resap pengikat adalah campuran aspal dan minyak tanah/kerosine dengan komposisi tertentu yang dpanaskan sampai bersuhu 150ºC . Lokasi pekerjaan pada tempat-tempat dimana pekerjaan agregat dilaksanakan. b. Setelah didapatkan ketebalan penyemprotan. Lapis Resap Pengikat-Aspal Cair. 85 . c. Asphalt Sprayer dijalankan ± 5 meter sebelum daerah yang akan disemprot dengan kecepatan tetap. Rambu/tanda2 dibuka setelah akan dilakukan penghamparan perkerasan aspal di atasnya. 2. sehingga menjadi campuran homogen yang siap untuk disemprotkan ke permukaan Agregat. d. 3) Lintaskan semprotan aspal cair dari Asphalt Sprayer di atas lembar penguji. Kertas paling tepi berjarak min 50 cm dari tepi bidang yang disemprotkan dan berjarak 10 m' dari titik awal penyemprotan. dilakukan penyemprotan untuk seluruh lahan yang telah siap. Lintasan penyemprotan minimum sepanjang 200 m'. j. Bahan yang berlebihan/tergenang di atas permukaan harus diratakan dengan alat pemadat karet. kemudian dipanaskan pada suhu 150ºC . Bila diperintahkan lintasan penyemprotan harus satu jalur atau setengah lebar badan jalan. Permukaan agregat yang akan disemprot harus kering/mendekati kering. 5) Perbedaan berat dipakai untuk menentukan takaran kandungan aspal tiap m². h. Lapis resap pengikat merupakan campuran aspal cair yang disemprotkan pada permukaan pekerjaan Agregat dan berfungsi sebagai bahan pengikat. 2) Letakkan lembar penguji di atas permukaan agregat. Sebelum dilaksanakan penyemprotan dilakukan trial ketebalan yang akan digunakan sesuai dengan desain. g. dengan cara sebagai berikut : 1) Timbang lembaran serap untuk lahan penguji seluas 25x25cm sebelum dilaksanakan pengujian (min 3 lembar). maka harus ada bagian yang tumpang tindih (overlap selebar 20 cm). e. f. Lataston-Lapis pondasi (HRS-Base).165ºC. Permukaan jalan yang sudah disemprot.1. Benda uji paper test (kertas ukuran 25x25 cm) diletakkan minimum 3 buah melintang x 5 buah memanjang dalam jarak 200 m'. dilindungi dari kerusakan dan lalu lintas dengan memasang rambu/tanda2 k.

masing yang selanjutnya dibawa ke drier dengan menggunakan conveyor untuk proses pemanasan sampai suhu 140 . Metode pelaksanaan untuk Lataston-Lapis Pondasi (HRS-Base) sebagai berikut : a. selanjutnya material dibawa dengan hot elevator ke screen vibrator untuk dipisahkan berdasarkan ukuran butirannya. b. Material agregat kasa (Batu-Pecah 3/4" dan 1/2") dan agregat halus (pasir dan abu batu) ditempatkan terpisah dalam hopper cold bin masing . yang kemudian ditampung/dimasukkan ke dalam hot bin masing-masing material sesuai takarannya.Lataston-Lapis Pondasi (HRS-Base) adalah campuran antara material agregat (Pasir. selanjutnya dicampur dalam unit pencampuran (mixer) sampai campuran homogen. c. Selanjutnya campuran HRS-Base dituangkan dari unit pencampur (AMP) ke dalam bak Dump Truck untuk kemudian dibawa ke lokasi penghamparan dengan suhu 135 150ºC. Aspal Pen 60/70 dicairkan dan dipanaskan dalam ketel sampai suhu maksimum 140 . Batu pecah 3/4" (19 mm). Jumlah material agregat yang dikeluarkan dari hopper cold bin ditentukan berdasarkan kebutuhan yang telah ditentukan dalam JMF.160ºC. JMF Lataston HRS-Base telah disetujui. g. d. f. Setelah material agregat dipanaskan dalam drier dengan suhu 140 -160ºC. Batu pecah 1/2" (12. yang dicampur dengan suhu maksimum 165ºC hingga terbentuk campuran yang homogen. dimana sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kalibrasi bukaan hopper cold bin. Lokasi pekerjaan di atas permukaan yang telah di-prime.5 mm) dengan Aspal Pen 60/70 dengan komposisi tertentu sesuai JMF. e. Campuran agregat yang telah homogen ditambahkan Aspal Pen 60/70 yang telah ditimbang terlebih dahulu sesuai JMF. 86 .160ºC dan dipompa ke dalam termos AMP. Abu batu.155ºC. kebutuhan masing-masing material agregat ditimbang dengan menggunanakan timbangan AMP sesuai JMF. yaitu dengan cara menyetel bukaan hopper. selanjutnya diaduk/dicampur hingga didapatkan campuran yang homogen dengan menggunakan unit pencampuran AMP dengan suhu 145 . Sebelum material agregat dimasukkan dalam unit pencampuran (mixer).

1 Galian Biasa Perhitungan jumlah tenaga kerja ( Bab II.h. Untuk itu. Waktu Pelaksanaan Merupakan salah satu kendala dalam proyek konstruksi selain kendala lainnya yaitu kendala biaya dan mutu. Semua proses pemadatan dimulai dari tepi hamparan menuju tengah hamparan.150ºC. Sesampainya dilokasi penghamparan. Setelah selesai pemadatan utama selanjutnya dilakukan pemadatan akhir (finishing rolling) dengan Tandem Roller sebanyak 6 lintasan pada suhu >95ºC. Selanjutnya pada suhu 100 . i.63 ) 87 . Tebal hamparan gembur disesuaikan dengan ketentuan yang disyaratkan dan suhu pada saat penghamparan adalah 130 .5. 4. l. hal 62.125ºC dilakukan pemadatan utama (intermediate rolling) yaitu dengan menggunakan Tire Roller sebanyak 8 lintasan. Kabupaten Kupang adalah sebagai berikut : DIVISI I (Umum) 1. ketepatan dan percepatan dalam melaksanakan pekerjaan dengan menggunakan setiap metode tertentu harus selalu dianalisa dengan baik. j. Campuran HRS-Base yang telah dihampar selanjutnya dilakukan pemadatan awal (breakdown rolling) dengan Tandem Roller pada suhu 125 .Amarasi Selatan. k. Mobilisasi Volume : Lump Sum (Ls) DIVISI III (Pekerjaan Tanah) 3. sehingga berdasarkan Analisa Produktiviitas dan Volume Setiap item pekerjaan yang akan dikerjakan. dengan menggunakan Asphalt Finisher dibantu tenaga manual untuk merapikan tepi hamparan.Baun. campuran HRS-Base dihampar pada permukaan badan jalan yang telah di-prime coat. didapat durasi waktu pelaksanaan.145ºC sebanyak 6 lintasan. Waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan tergantung dari produksi alat yang digunakan (site out put).1. Adapun durasi kegiatan proyek berdasarkan analisa pada perencanaan ruas jalan Ruas Jalan Retraen.2.

Back UP data ) Jam Kerja Efektif = 7 jam Produktivitas Alat = 22.0187 = 1 Org / Hari = 600 m3 ( lamp 7.91 @ 4 Org / Hari Mandor = 0.87 m3 / Hari Rencana waktu pelaksanaan Penyiapan Badan Jalan = 600 / 156.3 = 1 Org / Hari = 600 m3 ( lamp 7.87 = 3.75 = 6536.36 = 373.0043 koefisien mandor = 0.82 @ 4 Hari Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan: koefisien pekerja = 0.0043 / 0.0187 Mandor Volume = 2 Org / Hari = 0.52 m3 / Hari Rencana waktu pelaksanaan = 600 / 373.analisa harga satuan) Produksi perhari = 7 x 22.0011 = 3.0446 Pekerja = 0.0375 koefisien mandor = 0.analisa harga satuan) Produksi perhari = 7x53.0011 = 1 Org / Hari Volume = 9000 m2 ( lamp 7.0011 Pekerja = 0.2.75 m2 / Jam( lamp 7.1785 koefisien mandor = 0.0187 Pekerja = 0.52 = 1.0375 / 0.1785 / 0.Back UP data) Jam Kerja Efektif = 7 jam Produktivitas Alat = 53.36 m3 / Jam ( lamp 7.1 Timbunan Pilihan Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan: koefisien = 0.41 = 156.25 = 1.38 @ 2 Hari 88 .25 m2 / Hari Rencana waktu pelaksanaan = 9000 / 6536.Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan: koefisien pekerja = 0.0446 Volume 3.41 m3/Jam ( lamp 7.analisa harga satuan) Produksi perhari = 7 x 933.0446 = 4 Org / Hari Mandor = 0. Back UP data ) Jam Kerja Efektif = 7 jam Produktivitas Alat = 933.61 @ 2 Hari 3.

80 = 1 Hari DIVISI VI (Perkerasan Aspal) 6.94 = 1049.0067 = 7 Org / Hari Mandor = 0.1 Lapis Resap Pengikat – Aspal Cair Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan: koefisien pekerja = 0.0067 = 1 Org / Hari Volume = 1000 m3 ( lamp 7.0002 = 5 Org / Hari Mandor = 0.DIVISI IV (Pelebaran Perkerasan Dan Bahu Jalan) 4.0010 koefisien mandor = 0.1.analisa harga satuan) Produksi perhari = 7 x 149.analisa harga satuan) Produksi perhari = 7 x 149.0067 Mandor = 0.0067 = 1 Org / Hari Volume = 500 m3 ( lamp 7.40 m3/Jam (lamp 7.0067 Pekerja = 0.0010 /0.2.94 m3/ Jam ( lamp 7.0469 koefisien mandor = 0.2.40 = 1045.0469 / 0.58 = 1 Hari 4.80 m3 / Hari Rencana waktu pelaksanaan = 1000 / 1045.97 @ 7 Org / Hari Jam Kerja Efektif = 7 jam Produktivitas Alat = 149.0067 Pekerja = 0.58 m3 / Hari Rencana waktu pelaksanaan = 500 / 1049.0002 Pekerja = 0.0467 / 0.1 Lapis Pondasi Agregat Kelas A Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan: koefisien pekerja = 0.0467 koefisien mandor = 0.0002 = 1 Org / Hari 89 . Back UP data ) Jam Kerja Efektif = 7 jam Produktivitas Alat = 149.2 Lapis Pondasi Agregat Kelas B Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan: koefisien pekerja = 0. Back UP data ) = 6.

1.40 m3/Jam (lamp 7.1563 = 6.40 = 44. Back UP data ) Jam Kerja Efektif =7 jam Produktivitas Alat = 6. Back UP data) Jam Kerja Efektif = 7 jam Produktivitas Alat = 4980 Liter/Jam (lamp 7.00 Liter / Hari Rencana waktu pelaksanaan = 5000 / 34860 = 1 Hari 6.80 m3 = 5.1563 = 1 Org / Hari Volume = 250 m3 ( lamp 7.Volume = 5000 Liter ( lamp 7.2 Pondasi Agregat Kelas B Untuk Pekerjaan Minor Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan: koefisien pekerja = 0.1563 Pekerja = 1.80 m3 / Hari Rencana waktu pelaksanaan = 250 / 44.07 / 1045.1673 / 0.0938 / 0.analisa harga satuan) Produksi perhari = 7 x 4980 = 34860. Back UP data ) Jam Kerja Efektif = 7 jam Produktivitas Alat = 149.1 Pondasi Agregat Kelas A Untuk Pekerjaan Minor Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan: koefisien pekerja = 0.40 = 1045.3.analisa harga satuan) Produksi perhari = 7 x 149.97 @ 25 Org / Hari Mandor = 0.07 m3 ( lamp 7.1.0938 koefisien mandor = 0.analisa harga satuan) Produksi perhari = 7 x 6.1063 90 .0067 = 1 Org / Hari Volume = 83.4 Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan: koefisien pekerja = 1.40 m3/ Jam ( lamp 7.80 = 1 Hari 8.9978 @ 7 Org / Hari Mandor = 0.0067 Pekerja = 0.80 m3 / Hari Rencana waktu pelaksanaan = 83.0067 = 24.1673 koefisien mandor = 0.58 @ 6 Hari DIVISI VIII (Pengembalian Kondisi Dan Pekerjaan Minor) 8.

70 = 1 Hari 8.Galian Untuk Bahu Jalan dan Pekerjaan Minor Lainnya Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan: koefisien pekerja = 1.1063 / 0.0000 koefisien mandor = 0. 2.52 = 38.1000 = 10 Org / Hari Mandor = 0.84 / 987.0071 = 1 Org / Hari = 53.analisa harga satuan) Produksi perhari = 7 x 5. Back UP data ) Jam Kerja Efektif = 7 jam Produktivitas Alat = 5.0071 = 987.70 m3 / Hari Rencana waktu pelaksanaan = 53. Jenis Kegiatan Durasi (Hari) Pendahulu Pengikut 91 .64 = 1 Hari Rekapitulasi Tabel 4.0000 / 0.koefisien mandor = 0.10 m3/ Jam (lamp 7.52 m3 /Jam( lamp 7.0071 Pekerja = 0.64 m3 / Hari Rencana waktu pelaksanaan = 17 / 38.1000 = 1 Org / Hari Volume = 17 m3 ( lamp 7.(1). Keg.0071 = 14.2.97 @ 15 Org / Hari Mandor = 0.84 m3 ( lamp 7.1000 Pekerja = 1. Back UP data ) Volume Jam Kerja Efektif = 7 jam Produktivitas Alat = 141. Perhitungan Durasi waktu pelaksanaan pada ruas jalan Retraen – Baun No.analisa harga satuan) Produksi perhari = 7 x 0.

D Penyiapan Badan Jalan 2 A B.1. F Lapis Pondasi Agg. A Mobilisasi 7 - D 2. G Lapis Resap Pengikat Aspal Cair 1 E. 2013. A Pek. Kls. C Timbunan Pilihan 4 H L 4. I Lapis Pondasi Agg. A 1 F G 6. Kls. Kls. Kls. B Pek. Minor Lain 1 D J 12 L Demobilisasi 6 C - Sumber : Hasil Perhitungan.I H 8. B 1 B E 7. Minor 1 K I 11 K Galian Bahu Jalan dan Pek. Minor 1 J G 10 J Lapis Pondasi Agg.K 5 E Lapis Pondasi Agg. B Galian Biasa 2 D F 3. H HRS-Base 6 G C 9. 92 .