You are on page 1of 51

3.

MANAJEMEN PENGOPERASIAN PEMBANGKIT LISTRIK HIDRO


DAN THERMAL SECARA EKONOMIS .
3.1 KARAKTERISTIK INPUT-OUTPUT
Karakteristik ini menyatakan hubungan antara input pembangkit sebagai fungsi
dari output pembangkit.
INPUT PEMBANGKIT :
a. Pada pembangkit thermal berupa satuan panas (Btu/jam atau kalori/jam)
dari bahan bakar yang di berikan pada boiler untuk menghasilkan output
pembangkit.
Notasi yang digunakan H ( M Btu/h)
Dapat di nyatakan dalam nilai uang yang menyatakan besarnya biaya yang
diperlukan untuk bahan bakar.
Notasi yang digunakan F (R/H)
R/M Btu = nilai uang (biaya) yang diperlukan persatuan panas dari bahan
bakar
F = H x R/M Btu
acre ft

b. Pada pembangkit hidro berupa debit air

yang diperlukan

untuk menghasilkan Output pembangkit notasi yang digunakan


OUTPUT PEMBANGKIT :
Adalah daya yang diperlukan oleh generator untuk bebannya di luar dan untuk
keperluan pembangkit sendiri.
Jadi karakteristik input-output daya output adalah berupa daya netto pembangkit.
Notasi yang digunakan P (MW)
KARAKTERISTIK INPUT-OUTPUT PERSAMAANNYA
H = f (P) ; atau
F = f ( P)

karakteristik ini di peroleh dari perencanaan disain atau melalui test


pembangkit.

KARAKTERISTIK HEAT-RATE
Menyatakan hubungan daya output pembangkit sebagai fungsi heat-rate.
Heat rate diperoleh dari karaktersitik Input-Output -

H
( Btu/Kwh)
P

Pembangkit Thermal

KARAKTERISTIK INCREMENTAL HEAT RATE


INCREMENTAL FUEL COST
Menyatakan hubungan daya output pembangkit sebagai fungsi incremental

heat rate/ Feul cost.


Dari karakteristikl input-output
Incremental heat rate =

H
Btu / Kwh
P

Incremental feul Cost =

F
R / Kwh
P

Bila harga sangat kecil maka dapat di nyatakan :

Incremental heat rate =

dH
dP

Incremental feul Cost =

dF
dP

3.2

ECONOMIC

DISPATCH

PADA

SISTEM

TENAGA

UNTUK

PEMBANGKIT THERMAL
Yang dimaksud dengan economic dispatch adalah pembagian pembebanan dari
pembangkit-pembangkit yang ada dalam system secara optimal ekonomi pada
harga beban system tertentu.
Beban system tenaga selalu berubah setiap periode waktu tertentu, perhitungan
economic dispatch dilakukan untuk setiap harga tertentu dari beban tersebut.
Metode yang di pakai antara lain :
-

factor pengali Lagrange( )

Iterasi Lamda

Base point dan factor parsipasi

3.2.1 METODE FAKTOR PENGALI


a. KERUGIAN TRANSMISI DI ABAIKAN .
Dalam sistem tenaga kerugian transmisi merupakan kehilangan daya yang harus
di tangggung oleh sistem pembangkit, jadi merupakan tambahan beban bagi
system tenaga.
Dengan pembahasan tenaga kerugian transmisi di abaikan, system digambarkan
sebagai berikut :

keterangan :
system dengan N buah pembangkit thermal melayani beban tertentu sebesar PR
input system di atas adalah biaya bahan bakar F, totalnya adalah :
FT F1 F2 F3 FN
N

Fi Pi
i 1

persamaan terakhir menunjukkan bahwa input ( bahan bakar) adalah merupakan


fungsi dari output setiap pembangkit yang bersangkutan.
Persamaan di atas merupakan fungsi obyektif yang akan di optimasi.
Beban system PR dank arena rugi transmisi di abaikan maka jumlah output setiap
pembangkit digunakan untuk melayani PR, jadi :
PR = P1 + P2 + P3 + .+PN
N

PR =

Pi
i 1

Atau

0 PR Pi
i 1

Persamaan Langrage :

Persamaan ini disebut CONSTRAIN

FT
N
N

Fi Pi Pi Pi
i 1
i 1

= factor pengali Langrage


persamaan Langrage tersebut merupakan fungsi dari output pembangkit, keadaan
optimum dapat diperoleh dengan operasi Gradient dari persamaan Langrage sama
dengan nol.
0
FT 0
FT
Pi

PR

Pi
Pi
Pi Pi

atau

Fi
0 1 0
Pi

Fi
persamaan ini menunjukkan bahwa kondisi optimum dapat di capai
Pi

bila Incremental feul cost setiap pembangkit adalah sama ( = )


Kondisi optimum tersebut tentunya di perlukan persamaan pembatas ( Constraint)
yaitu daya output dari setiap unit pembangkit harus lebih besar atau sama dengan
daya output minimum dan lebih kecil atau sama dengan daya maksimum yang di
ijinkan.
Dari N buah pembangkit dalam system tenaga di atas dan beban system sebesar
PR, dan dari uraian di atas dapat di simpulkan persamaan yang digunakan untuk
penyelesaian economic dispatch adalah :
d Fi x

d Pi

ada N buah persamaannya

Pi min Pi Pi max

ada 2N buah ketidak samaan

Pi P
i 1

ada 1 buah constraint

i = indeks pembangkit ke-i


dari batasan ketidaksamaan di atas, dapat di perluas menjadi :
d Fi

d Pi

untuk

Pi min < Pi < Pi max

d Fi

d Pi

untuk

Pi min = Pi max

d Fi

d Pi

untuk

Pi = Pi min

keterangan : x = karena Fi hanya sebagai fungsi Pi


Fi

d Fi

maka Pi d Pi
b. DENGAN MEMPERHITUNGKAN KERUGIAN TRANSMISI
Sistem di gambarkan sebagai berikut :

Dari system di atas di peroleh :


Persamaan obyektif : FT = F1 + F2 + F3 + + FN
N

Fi Pi
i 1

Constraint

: 0 PR PL Pi
i 1

Persamaan Langrage : = FT +
Syarat optimum :

d PR PL Pi
d d Fi

0
d Pi d Pi
d Pi Pi Pi
d Fi
PL


1 0
d Pi
Pi

PL
d d Fi

1
0
d Pi d Pi
Pi

P
d Fi

1 L
d Pi
Pi

atau

PL
d Fi

d Pi
Pi

Keterangan :
d PR
0
d Pi

PR tidak tergantung atas perubahan Pi maka

PL perubahannya tergantung harga arus dan impedansi jarring transmisi


maka

PL
d PL

Pi
d Pi

3.2.2 METODE ITERASI LAMDA


Pada metode ini di tentukan terlebih dahulu, kemudian dengan menggunakan
syarat optimum di hitung Pi ( output setiap pembangkit).
Dengan menggunakan constrait di periksa apakah jumlah total dari output sama
dengan beban system, bila belum harga di tentukan kembali.
Konsepsi dari metode ini dijelaskan dengan kurva Incremental feul cost di bawah:

CATATAN :
Kerugian transmisi di abaikan
Dari kurva-kurva tersebut dengan menetpakan harga , maka dapat diperoleh
harga P1, P2, P3.
Untuk penetapan harga yang pertama tentunya belum merupakan harga yang
benar.
Bila harga P1 + P2 + P3 lebih kecil dari PR maka ditentukan kembali harga yang
lebih besar dari harga yang pertama ( dan sebaliknya), kemudian di hitung
penyelesaiannya.
Dengan telah diperoleh dua hasil perhitungan dai atas maka secara ekstrapolasi
dapat di tentukan harga selanjutnya sampai di capai harga yang dikehendaki.
( saat di capai P1 + P2 + P3 = PR )

penyelesaian metode ini dengan menggunakan computer, flow chartnya adalah


sebagai berikut :

3.2.3 BASE POINT DAN FAKTOR PARTISIPASI


Pada metoda ini di misalkan telah di lakukan penyelesaian economic dispatch
untuk suatu beban tertentu, kemudian di lakukan pengulangan perhitungan untuk
beban yang baru, dengan partisipasi perubahan output pembangkit pada kondisi
optimum yang baru,
Keadaan optimum awal di gunakan sebagai dasar ( base point) untuk perhitungan
keadaan optimum yang baru.
Perhatikan kurva Incremental feul cost untuk ke-i pembangkit.

Pada awalnya system dengan beban tertentu di capai keadaan optimum dengan
harga lamda 0
Bila kemudian beban berubah, maka akan diperoleh harga lamda pada keadaan
optimum yang baru adalah 0 + .
Karena syarat optimum adalah harga lamda setiap pembangkit adalah sama, maka
perubahan lamda :

i Fi " Pi 0 Pi
Maka bila dalam system ada N pembangkit :
P
1

P
2
P
3

F2

P
N

Jika PD adalah total beban maka :

PD P1 P2 P3 PN
1

i 1 Fi"
N

factor partisipasi di nyatakan sebagai berikut :

F
1 "

"

F
3

"

FN

"


Pi
P
D

Fi"
1

Fi "

KERUGIAN JARING TRANSMISI


Adanya tahanan listrik sepanjang jaringan transmisi dapat menimbulkan kerugian
daya yang sebanding dengan 3 I2R ( 3 phase)
Dalam suatu system tenaga listrik yang banyak terdapat pusat-pusat pembangkit,
dan system jaring transmisi yang menghubungkan antara bus-bus pembangkit dan
bus-bus beban maka kerugian transmisi pada setiap saluran dapat berubah-ubah
besarnya tergantung dari besar kecilnya daya yang disalurkan melaluinya.
Untuk mengkoordinasi kerugian transmisi di dalam menentukan pembebanan
yang ekonomis dari pusat-pusat pembangkit, maka arus dapat dinyatakan suatu
persamaan dari kerugian jaring transmisi total sebagai fungsi dari pembebanan
(output) dari pusat-pusat pembangkit.
Persamaan umum dari kerugian transmisi :
PL =

Pm

Bmn

Pn

Dimana :
Pm , Pn = output pembanding
Bmn

= koefisien kerugian transmisi

m dan n menyatakan penjumlahan individu untuk semua pembangkit


Koefisien kerugian jaring transmisi Bmn dapat di anggap konstan untuk perubahan
daya output setiap pembangkit di dalam system, yaitu dengan menggunakan
aumsi-asumsi sebagai berikut :
1. Tegangan pada setiap bus pembangkit harus tetap sama, ( magnitude-nya)
untuk perubahan output pembangkit.
2. Power factor pada setiap pembangkit harus tetap konstan ( perbandingan
Qn/Pn tetap).

3. Torgue angle ( sudut torsi) dari tegangan pada bus pembangkit tetap
konstan.
Dengan adanya koefisien kerugian transmisi tersebut permasalahannya menjadi
sederhana, karena untuk menghitung kerugian jaring transmisi tidak perlu harus
menghitung daya/arus yang mengalir dalam setiap saluran tetapi cukup dari output
yang dikeluarkan pembangkit.
Dalam bentuk matriks adalah
PL = Pt B P
Dimana
P1
P
2

B12
B22

B13
B23

B15
B25

B31

B32

B33

B35

dan

B11
B
21

P3

Pt = transpose matrix P
Catatan tambahan
-

Persamaan koordinasi dari Incremental Losses dan penalty factor.


Dari persamaan Langrage :
= FT +
N

dimana FT =

Fi Pi ;

dan

i 1

PR PL P1 , P2 , ........PN Pi
i 1

untuk optimum dari persamaan Langrage :


a

a Pi

untuk Pimin Pi Pimax

a PL
a d Fi

1
0
Pi d Pi
a Pi

atau

1
a PL
1
a Pi

dimana

d Fi Pi

d Pi

a PL
= Incremental loss untuk bus i
a Pi

P fi

1
a PL
1
a Pi

= Penalty factor

catatan : jika kerugian transmisi naik karena naiknya daya yang di salurkan
dari bus, maka Incremental loss adalah positif dan Penalty factor
lebih besar dari satu.

3.3 UNIT COMMITMENT


Dalam suatu siklus waktu, misalnya harian yang terbagi dalam interval waktu 1
jam untuk 24 jam, beban listrik dalam system tenaga selalu berubah.
Operasi pusat-pusat pembangkit didalam system tenaga selalu harus di
koordinasikan di dalam pembagian pembeban secara optimum ekonomi pada
setiap perubahan beban dalam interval waktu untuk siklus waktu tertentu.
Oleh karena itu dalam koordinasi operasi dari pusat-pusat pembangkit tersebut
untuk siklus waktu tertentu di perlukan penjadwalan operasi unit-unit pembangkit.
Penjadwalan ini menentukan mana unit pembangkit yang commit (ON) dan unit
mana yang OFF didalam melayani beban system selama periode ( siklus) waktu
tertentu.
Dalam memuat penjadwalan tersebut menggunakan pertimbangan teknis dan
ekonomis. Penjadwalan ini di kenal dengan system UNIT COMMITMENT.

3.3.1 CONSTRAINT PADA UNIT COMMITMENT


Pertimbangan-pertimbangan dalam membuat unit commitment adalah merupakan
constraint ( syarat yang merupakan pembatasan ).

Constraint tersebut antara lain :


a. Spinning Reserve
Merupakan cadangan daya yang harus di perhitungkan dari unit-unit yang
beroperasi ( yang commit), di mana apabila ada salah satu unit yang
mengalami kegagalan operasi ( jatuh/trip) maka daya yang berkurang
akibat kegagalan operasi dari unit tersebut dapat diganti/di tanggulangi
oleh cadangan daya tersebut.
Umumnya cadangan daya yang ada di perhitungkan untuk mampu
menggantikan apabila unit yang terbesar mengalami kegagalan operasi.
b. Thermal Unit Constraint
Ada beberapa constraint antara lain :
- Minimum Up time
Adalah Interval waktu minimum dimana suatu unit yang baru ON
( terhubung ke sistem ) tidak boleh dilepas ( OFF ) kembali sebelum
melewati batas Up timenya
Contoh : sebuah unit (nempunyai minimum Up time 2 jam.
Artinya : Bila unit ini baru terhubung ( ON ) ke sistem belum ada 2 jam
( kurang dari 2 jam ), unit ini tidak boleh dilepas ( OFF )
- Minimum down time
Adalah Interval waktu minimum dimana suatu unit

dalam

keadaan

decommited '' ( OFF ) tidak boleh di hubungkan / commited ( 0N )


sebelum melewati batas " down time " nya.
3.3.2 BIAYA START ( START UP COST )
Adalah biaya yang diperlukan oleh pembangkit untuk start dari keadaan tidak
beroperasi sampai pembangkit beroperasi ( terhubung ke sistem tenaga listrik )
Ada 2 macam biaya start :
a. Biaya start pada kondisi dingin
Kondisi ini terjadi karena saat pembangkit dilepas dari sistem ( tidak
beroperasi ) temperatur boiler dibiarkan turun dari temperatur kerjanya,

sehingga pada saat akan beroperasi kembali baru dilakukan pemanasan


kembali.
Biaya start = Cc ( 1 - e -t/ ) F + Cf

Cc = cold start cost ( MBtu )


F = fuel cost
Cf = fixed cost
t = waktu se1ama unit dingin
( dihitung dari awal unit tidak beroperasi )
= thermal time constant
b. Biaya start pada kondisi temperatur boiler dijaga pada temperatur kerja (
banking )
Kondisi ini terjadi karena saat pembangkit dilepas dari system temperatur
boiler tetapj dijaga pada temperatur kerja.
Biaya start

= Ct . t . F + Cf

C t = biaya untuk mempertahankan temperatur kerja( MBtu / jam )

3.4 METODE - METODE PENYELESAIAN UNIT COMMITMENT


Pada penjadwalan unit-unit pembangkit yang akan beraperasi ( to corn mil ),
pembagian pembebanannya harus dalam keadaan optimum ekonomi.
Dari jumlah unit pembangkit yang banyak, maka untuk menentukan mana unit
yang beroperasi dan tidak pada jam tertentu dapat diperhitungkan dengan
membuat kombinasi operasi dari unit-unit yang ada dan dalam kondisi aptiniu
optimum ekonomi kemudian baru dipilih kombinasi mana yang termurah biaya
operasinya.
Dari haltersebu t dapat di lihat besarnya jumlah persamaan yang diperlukan, mi
sal di dalam sistem terdapat N buah pembangkit maka kombinasi pembangkit
yang mungkin adalah
C (N,1) + C (N,2) + .. + C (N,N-1) + C (N,N) = 2N -1

Daftar prioritas disusun berdasarkan biaya produksi rata-rata pembangkit dengan


urutan untuk pembangkit dengan biaya produksi rata rata termurah menempati
urutan yang pertama ( teratas ), demikian selanjutnya sampai pembangkit dengan
biaya produksi rata-rata termahal pada urutan terakhir.
Daftar ini memberikan arti pembangkit yang berada pada urutan pertama
mempunyai prioritas tertinggi untuk dioperasikan.
Contoh misalkan ada 4 buah pembangkit dengan biaya produksi rata-rata untuk
daya output maksimum sebagai berikut :
Unit

9,75 R/Mwh

Unit

9,40 R/Mwh

Unit

11,38 R/Mwh

Unit

10,44 R/Mwh

Daftar prioritasnya adalah :


Unit

R/Mwh

9,40

9,79

4
3

10,44
11,38

untuk kombinasi operasinya sebagai berikut :


Kombinasi unit-unit pembangkit
2+1+4+3
2+1+4
2+1
2

TABEL 3.1 Unit Characteristic, load pattern and Initial Status for the Cases in
example SE

Incremental
UNIT

Max

Min

( MW)

(MW)

80
250
300
60

25
60
75
20

1
2
3
4

Unit

heatrate
(Btu/KWh)
10.440
9.000
8.730
11.900

No-load
cost (R/h)
213.00
585.62
684.74
252.00

Full-load

Minimum

ave cost

Times (h)

(R/mWh) Up
23.54
4
20.34
5
19.74
5
28.00
1

Initial Condition
Hours off-line (-) or Hot

Startup costs
Cold
Cold Start

on-line (+)

( R)
350
400
1.100
02

1
2
3
4

5
8
8
6

( R)
150
170
500
0

Down
2
3
4
1

(h)
4
5
5
0

Load pattern
Load
Hour
(MW)
1
450
2
530
3
600
4
540
5
400
6
280
7
290
8
500
This is the cost when the f(P) function ( in this case a straight line) is extended
to P = 0 MW. Note that we do not allow the unit to operate at zero output. That
is, if the unit is on-line, it must be loaded between its min and max. If it is offline, it must have zero output and its operating cost will be zero R/h. Feul cost
are 2.00 R/MBtu.
Dari kombinasi operasi tersebut terlihat bahwa unit-unit, yang termurah biaya
operasinya selalu digunakan pada set tap kombinasi.
Pada metode ini terlihat pada contoh di atas bahwa kombinasi yang mungkin
untuk digunakan hanya ada 4 kombinasi untuk 4 buah pembangkit bila di
dasarkan daftar prioritas.

Untuk penjadwalan unit commitment pada metode ini pada setiap level beban
mengikuti algorithma sebagai berikut :
- Pada setiap jam di mana level beban turun, tentukan unit mana yang dilepas
dengan melihat kombinasi unit berdasar daftar proritas.. Juga diperhitungkan
apakah jumlah daya dari pembangkit yang beroperasi cukup untuk melayani
beban dan spinning reserve bila salah satu unit di1epas.
Bila tidak mampu, cari unit lain untuk dilepas dan bila mampu lanjutkan pada
step berikutya .
- Tentukan waktu H jam untuk unit yang dilepas akan beroperasi kemba1i, dengan
asumsi dalam selang waktu H jam tersebut beban akan naik kembali .
- Jika H jam lebih kecil dp minimum down time maka komitmennya dapat
dipertahankan, bila H jam Iebih besar dp minimum down time lanjutkan pada
step berikutnya.
- Hitung dua macam biaya
a. Dengan menganggap unit tidak dilepas., dihitung biaya produksi per jam
untuk waktu H jam tersebut.
b. Dengan menganggap unit dilepas dan akan start kembali. Dihitung biaya start
untuk : - start kondisi boiler dingin
- start kondisi temperatur boiler dipertahankan pada temperatur kerja
Dari dua macam biaya start tersebut dipilih yang lebih murah.
Biaya pada point a dan b dibandingkan, misal bila point a lebih murah berarti
unit tetap beroperasi .
-

Ulangi prosedure di atas untuk level beban yang lain.

3.5 METODE DINAMIC PROGRAMMING ( DP)


Ada 2 macam : - Backward DP approach
- Forward DP approach

Yanq dibahas Dengan menggunakan Forward DP approach, dimana penyelesaian


dimulai dengan menentukan kondisi awal ( initial condition ) kemudian bergerak
maju sampai pada keadaan akhir yang dituju.
DP dapat digunakan untuk menentukan kebijaksanaan di dalam memperoleh
pengeluaran biaya yang minimum di dalam suatu proses dengan berbagai macam
pilihan untuk menuju ke kondisi akhir.
State : adalah terminal-terminal dengan kondisi tertentu
Stage : adalah kumpulan dari state pada level tertentu
Berikut ini suatu model penggunaan dari DP dalam menentukan kebijaksanaan
untuk menentukan biaya minimum dari state A menuju tujuan akhir state N,
dimana banyak cabang-cabang yang dapat dilalui dengan kemungkinan biaya
yang berbeda.

- A, B, C, DN

State

- A State awal, N State akhir


- 1, 2, 3, 4, 5

Stage

- panah menyatakan lintasan perpindahan state yang dapat di lalui


- Angka di atas menyatakan biaya yang di perlukan pada perpindahan state.
Jan ( J = 7)
Beban ( MW)
State K (5), J = 7
Pada J-1: (L) = (5)
P1
P2

7
290
5
5
0
0

P3
P4
F1
F2
F3
F4
Pcost ( 7,K)
Scost ( 6, L; 7,K)
Fcost ( 6,L)
Fcost ( 7,K)

Jan ( J = 8)
Beban ( MW)
State K (15,14,12), J =8
Pada J-1: (L) = (5)
P1
P2
P3
P4
F1
F2
F3
F4
Pcost ( 8,K)
Scost ( 7, L; 8,K)
Fcost ( 7,L)
Fcost ( 8,K)

8
500
15
5
25
155
300
20
734.9375
3375.236
5922.000
728
10760.17
750.02
62922.84
74433.04

290
0
0
0
5747.425
0
5747.425
0
57175.42
62922.84*)

8
500
14
5
25
175
300
0
734.9375
3735.186
5922.000
0
10392.12
750
62922.84
74064.97

8
500
12
5
0
200
300
0
0
4185.124
5922.000
0
10107.12
350
62922.84
73379.97*)

Dari state I menuju state j, biaya yang di perlukan untuk setiap pilihan yang di
ambil pada perpindahan stage dapat di nyatakan dengan Cij berikut :

Jika Xn ( n = 1, 2, 3, 4, 5) adalah variable setiap stage, maka dari A menuju N,


tentunya adalah :
A

X1

X2

X3

X4

X5

Dimana

variable

X1 = B, C, D

Variable

X2 = E, F, G

Variable

X3 = H, I, J, K

Variable

X4 = L, M

Variable

X5 = N

Untuk menyatakan persamaan biaya total yang di perlukan pada perpindahan


stage menuju state lain pada stage yang berbeda adalah sebagai berikut :
-

S adalah state yang menu ke Xn ( state yang di pilih) pada stage n

Total biaya dan state S untuk menuju ke Xn di nyatakan fn adalah ( S, Xn)


biaya komulatip

State S di mana biaya menuju Xn minimum dinyatakan S*

Biaya komutatip dari state S ke Xn yang biayanya minimum di nyatakan


dengan fn * (Xn)

Biaya dari state S ke Xn adalah Cs, n

Maka biaya komulatip dari state S ke Xn dapat dinyatakan :


fn ( S, Xn ) = Cs,n + fn-1* ( Xn-1)
dari persamaan ini penyelesaian DP dari model tersebut adalah sebagai berikut :

n=1
X1
B

f1*(X1)
5

S*
A

D
n=2

S
X2

Pada level 9 ( stage ) ini biaya dari state


A ke B, C, D merupakan f1* (S) karena
state A merupakan state awal start.

f2 ( S, X2) =
Cs, X2 + f1* (X1)
B
C
D

f2* (X2)

S*

16

10

10

10

10

10

11

Cs, X3 + f2* (X2)


E
F
G
13
14
10

f3* (X3)
13

S*
E

12

17

10

12

10

11

10

11

10

15

13

13

n=3
f3 ( S, X3) =

S
X3

n=4
F4 ( S, X4) =

Cs, X4 + f3* (X3)


H
I
J

X4

22

15

18

10

F3* (X3)
10

10

18

19

18

18

S*
I
I atau K

n=5
f5 ( S, X5) =

Cs, X5 + f4* (X3)


L
M
19
21

X5
N

f* (X5)
10

S*
L

jadi dari state A menuju state N, state-state yang di lalui dengan biaya
akumulatip minimum adalah :
A

L - N = 19

Penggunaan DP pada penjadwalan operasi pembangkit dalam unit commitment


adalah sebagai berikut :

- State berisikan kombinasi unit-unit pembangkit yang beroperasi dan tidak


beroperasi
- Stage adalah menyatakan level beban pada jam-jam tertentu (Intervalwaktu )
- Feasible state adalah state dimana Limit-Limitnya yang beroperasi dapat
mencukupi untuk mensupply beban yang memerlukan.
Flow chartnya adalah sebagai berikut :

unit commitment via forward dynamic programming.


K = menyatakan stage/jam ke .umtuk level beban tertentu
I = State = kombinasi tertentu dari unit-unit pembangkit.
Sedang :

F cost (K,I) = biaya komutatip yang diperlukan untuk sampai ke State I pada level
(Stage) K yang terendah.
Pcost (K,I) = biaya produksi pada State I untuk level/Stage K.
Scost (K-I, L; K, I) = biaya transisi dari State L pada level K-I ke State I pada
level K.
X = Jumlah state yang harus diperiksa pada setiap interval waktu (pada setiap
stage)
N = Jumlah strategi yang harus diambil untuk setiap tahapan
Dalam sistem tenaga yang umumnya jumlah pembangkitnya banyak, maka jumlah
kombinasi yang mungkin ada dari pengoperasian unit-unit pembangkit juga akan
semakin banyak adanya X dan N di atas adalah untuk membatasi jumlah
persamaan/jumlah state yang akan diperiksa (jadi tidak harus seluruh state yang
ada diperiksa).
Jumlah N strategi yang diambil dari beberapa state pada level yang tuju, dimana
biaya komulatip untuk sampai state tersebut rendah ( prioritas yang termurah).
Jumlah X state yang akan diperiksa didasarkan pada kapasitas daya pada state
yang mencukupi untuk bebannya dan didasarkan daftar prioritas.
Pada gambar di bawah diperilihatkan dimana state yang diperiksa hanya 5 state X
= 5 dan strategi vang diambil N = 3

Artinya dalam penggunaan DP dari stage K = 1 sampai stage yang terakhir K =


m dari state yang ada pada setiap stage berdasarkan hasil perhitungan.
Pcost setiap state dari 5 state hanya di ambil 3 state, untuk kemudian di
lanjutkan pada 5 state yang lain pada stage berikutnya.

State no
5

Unit Status
0010

Capacity ( MW)
300

12

0110

550

14

1110

630

15

1111

690

State with

Pointer for

Hour
1

Min total cost


12 (9208)

previous hour
12

12 (19857)

12

14 (32472)

12

12 (43300)

14

3.6 KOORDINASI HIDRO THERMAL


Pada umumnya pada sebagian besar system tenaga listrik, terdiri atas pembangkit
hidro dan thermal. Jarang dijumpai system tenaga yang hanya terdiri pembangkit
hidro saja.
Shedule pengoperasian pembangkit hidro lebih komplek, Karena setiap
pembangkit hidro selalu berada system pengoperasiannya.
Pengoperasian

pembangkit

hidro

sangat

di

tentukan

oleh

penggunaan

air/pengeluaran air, misalnya untuk pertanian, pariwisata dimana perubahan


elevasi air tidak boleh terlampau besar.
Dari hal tersebut maka tidaklah memungkinkan untuk dapat mengoperasikan
pembangkit pada kapasitas maksimum dalam jangka waktu yang panjang/sesuai
kebutuhan beban, dan oleh karena itulah diperlukan koordinasi dengan unit
thermal.
Pada koordinasi pengoperasian pembangkit-pembangkit hidro di kenal :
-

Long range Hydro scheduling

Short range Hydro scheduling

Pada Long range Hydro scheduling meliputi ramalan jangka panjang dari
penggunaan air dan schedule pengeluaran air dari reservoir dalam suatu interval
waktu yang tergantung dari kapasitas reservoir.
Jangka panjang (Long range Hidro Scheduling) waktunya adalah dari 1 minggu
sampai 1 tahun atau beberapa tahun.
Short range hydro scheduling waktunya 1 hari sampai 1 minggu, dimana
schedulenya dibuat dalam tiap jam ( untuk seluruh pembangkit yang beroperasi
dalam system) dengan production cost yang minimum dalam interval waktu
tersebut.
Dalam koordinasi pembangkit hydro-thermal ada 3 persoalan yang di perhatiakn
yaitu kondisi balance antara pembangkitan tenaga listrik dari pembangkit hydro,
pembangkit thermal dan beban.

Dasar dari koordinasi hydro-thermal adalah schedule energi dimana supply dari
pembangkit hidro dalam jangka waktu tertentu telah di tentukan dan sisanya oleh
pembangkit thermal dan yang dilakukan optimasi adalah pada pembangkit
thermal.
Perhatikan system tenaga dengan sebuah pembangkit hidro dan sebuah
pembangkit thermal dalam mensupply energi ke beban.

Dilihat dari kapasitas maksimum dari pembangkit hydro sebenarnya cukup untuk
melayani bebannya, sehingga dapat dinyatakan dalam setiap saat pada periode
waktu j,

max
PLj

J = 1 .jmax(1)

PHj
PHj max = Daya maksimal dari pembangkit hidro untuk setiap saat dalam periode
j
PLj = beban setiap saat dalam periode j
Akan tetapi energi yang dapat di peroleh dari pembangkit hidro tidak mencukupi
untuk beban dalam jangka waktu nj (nj = jumlah jam dalam periode j ) jadi :
i max

PH j n j
j 1

i max

n
j 1

i max

P
j 1

Lj

n j ..(2)

Tmax = Interval total.

Kekurangn energi yang harus di tanggung oleh pembangkit thermal adalah :


i max

PL j n j

i max

j 1

energi beban

j 1

n j E ..(3)

H j

energi pemb.Hidro

energi pemb. Thermal

pembangkit thermal dalam memberikan energinya tidak harus dalam waktu


seluruh interval ( Tmax), tetapi cukup dalam beberapa waktu saja misalnya dalam
NS, sehingga :
NS

j 1

PSj nj = E (4)

dimana
NS

nj < Tmax

j 1

biaya produksi ( bahan bakar ) dari pembangkit thermal dalam memberikan


energi E tersebut adalah :
NS

FT =

j 1

F PSi n j (5)

Dalam koordinasi hidro thermal ini yang akan di minimumkan adalah persamaan
(5)
NS

Constraintnya adalah :

j 1

PSj nj - E = 0 (6)

Persamaan La Grange:

NS

FT E PSi n j
j 1

NS
NS

F PSi n j E PSi n j (7)


j 1
j 1

syarat optimum bila :


L
0 untuk j = 1 ..NS.(8)
PS j

maka

d F PS
L

PS j
d PS j

atau

d F PS i
d PS i

untuk j = 1 NS

(9)

dari persamaan terakhir ini menyatakan bahwa pembangkit thermal harus


beroperasi pada incremental cost yang konstan dalam periode waktu j = 1 s/d N 2
untuk memperoleh optimum ekonomi.
Dari keadaan optimum yang di capai pada persamaan (9), seperti di turunkan
persamaan untuk menentukan daya dari pembangkit thermal yang optimum
sebagai berikut :
Misal dinyatakan untuk kondisi optimum daya yang dikeluarkan pembangkit
thermal : PS*

maka biaya total yang di perlukan dalam interval waktu tersebut adalah :

NS NS

FT =

FP*nFP*nFP*T

Sj S j SS
j 1 j 1

Dimana :
NS

TS =

j 1

n j waktu total dimana pembangkit thermal beroperasi

Jika persamaan biaya bahan bakar dinyatakan :


F (PS) = A + B PS + C PS2
Maka biaya total untuk periode waktu TS :
FT = ( A + B PS* + C PS*2 ) TS
Juga untuk :
NS

j 1

NS

PS j n j PS * n j PS * T S E
j 1

sehingga di peroleh : TS =

E
PS *

maka : FT = ( A + B PS* + C PS*2 )

E
PS *

Harga PS* dapat di peroleh dengan meminimumkan


FT :

d FT AE

CE 0
2
d PS * PS *
maka
P S* =

A/C

Dengan cara lain, missal persamaan bahan bakar


F (PS) = A + B PS + C PS2 = fC H ( PS)
Dimana : fC = biaya persatuan panas bahan bakar
Heat rate :

H PS
1 A

B C PS

PS
f C PS

Heat rate minimum bila :

H PS

PS

d PS

A
PS

maka efisiensi terbaik bila pembangkit thermal pada daya output :


PS =

A/C

= PS*

3.6.1 METODE ITERASI PADA KOORDINASI HIDRO THERMAL


Metode ini di gunakan untuk menyelesaikan schedule operasi hydrothermal
dengan penggunaan air yang tertentu di mana untuk meminimumkan biaya
operasi dari unit thermal.
Perhatikan gambar berikut :

i
ri
Vi
Qi
Si

=
=
=
=
=

interval waktu
input air selama i
volume air pada akhir i
pengeluaran air selama i
pelimpahan air selama i

Pembangkit
Thermal ekuivalen

imax

- Min FT =
i max

j 1

j 1

ni Fi

ni Qi = Q total

- PLJ - PHJ - PSJ = 0


- nj = panjang interval waktu ke j

pengeluaran air total

imax

dengan

j 1

n j Tmax

konstrain lainnya :
Vi

i0

= VS

volume start

Vi

i imax

= VE

volume akhir

Qmin Qi Qmax

batas aliran dalam waktu


i = 1imax

Qi = Qj
Q = Q (PH)
Fungsi La Grange :

L n j F PS j j PL j PH j PS j
imax

j 1

n Q P Q

imax

j 1

H j

tot

dan pada interval spesifik j = k , maka :


L
0
PSK

memberikan : nk
dan

d FSK
k
d PSK

L
0
PHK

memberikan : n k

d Qk
k
d PHk

untuk kerugian transmisi di perhitungkan, maka :


PLj + PLossj PHj PSj = 0
Persamaan La Grange :

L n j F PS j j PL j PLossj PH j PS j
imax

j 1

n Q P Q

j 1

H j

penyelesaian peramaan La Grange di peroleh persamaan koordinasi :


nk

a PLoss k
d F PSk
k
k
d PSk
a PSk

imax

tot

nk

a PLoss k
d Q PHk
k
k
d PHk
a PHk

Flow cahart dari iterasi - untuk koordinasi Hidro-thermal

3.6.2 KOORDINASI HIDRO-THERMAL DENGAN DYNAMIC


PROGRAMING

ri = aliran masuk netto selama j


Vi = volume tersimpan pada akhir periode j
Qi = flow rate ( debit air) yang melalui turbin dalam waktu j
PHi = output hidro dalam waktu j
PSi = output thermal
PLi = level beban
Pi = feul cost rate untuk periode
Jika input-output karakter dari pembangkit thermal :
Fi = a + b PSj + C PSi2 R/h
Dan untuk hidro
Qi = d + g PHi + h PHi2

acre-f +/h untuk PHj > c

Qi = c untuk PHj = 0
Jika untuk setiap interval i lamanya nj, maka perubahan volume air yang
tersimpan adalah :
Vi = Vi-1 + ni ( ri - Qi - Si )
Dalam hal ini di anggap Si = 0
Jika Vi-1 = Vi
Vi = Vk
Maka dari persamaan di atas dapat di peroleh :
Qi =

Vi Vk
ni

ri

{i}

= volume state pada kondisi start dari periode j

{k}

= state-state pada akhir i

TCk (i) = biaya total dari kondisi start untuk periode koordinasi sampai akhir
periode j untuk reservoir storage state Vk.
PC ( i, j-1, k, j) = biaya produksi untuk pembangkit thermal dalam periode j pergi
dari volume awal Vi ke periode akhir untuk volume Vc.
Jadi Algoritma dari FORWARD D.P. dapat dinyatakan dengan persamaan :
TCk (0) = 0
min

TCk (0) = {i}TC i j 1 PC i, j 1, k , j

Contoh 1
Dalam sebuah system tenaga terdapat 3 buah pembangkit thermal dengan data
sebagai berikut :
Unit (1) H1

= 510 + 7,2 P1 + 0,00142 P12

MBtu

jam

P1max = 600 MW ; P1min = 150 MW


Unit (2) H2

= 310 + 7,85 P2 + 0,00194 P22

MBtu

jam

P2max = 400 MW ; P2min = 100 MW


Unit (3) H3

= 78 + 7,97 P3 + 0,00482 P32

MBtu

jam

P3max = 200 MW ; P3min = 50 MW


Biaya bahan bakar persatuan panas
Unit 1 = 1,1 R/MBtu
Unit 2 = 1,0 R/MBtu
Unit 3 = 1,0 R/MBtu
Tentukan pembagian pembebanan secara ekonomis untuk tiap pembangkit bila
beban total system = 850 MW ( rugi transmisi diabaikan)

F1 (P1) = H1 x 1,1 = 561 + 7,92 P1 + 0,001562 P12 ( R/jam)


F2 (P2) = 310 + 7,85 P2 + 0,00194 P22 (R/jam)
F3 (P3) = 78 + 7,97 P3 + 0,00482 P32 (R/jam)
Syarat optimasi =

dF1 dF2 dF3

dP1 dP2
dP3

dF1
= 7,92 + 0,003124 P1.(1)
dP1
dF2
= 7,85 + 0,00388 P2 .(2)
dP2
dF3
= 7,97 + 0,00964 P3..(3)
dP3

= (2) 7,92 + 0,003124 P1 = 7,85 + 0,00388 P2

(1)

P2 =
(1)

0,07 0,003124 P1
0,00388

= (3)
7,92 + 0,003124 P1 = 7,97 + 0,0096413
P3 =

0,05 6,003124 P1
..(3)
0,00964

P1 + P2 + P3 = 850 W
P1 +

0,07 0,003124 P1 0,05 6,003124 P1

850
0,0038
0,00964

P1 = 393,2 MW
(4) P2 = 334,6 MW
(5) P3 = 122,2 MW

(1) = 9,148 R/MWh


F1 = 561 + 7,92 (393,2) + 0,061562 ( 393,2)2
F2 = 310 + 7,85 ( 334,6) + 0,00194 ( 334,6)2
F3 = 78 + 7,97 ( 122,2) + 0,00482 ( 122,2)2
Perlu dilakukan pengaturan output pembangkit yang tidak terlampau jauh dengan
harga optimum hasil perhitungan
P1 = 600 MW ( harga max)
P3 = 50 MW ( harga min)
P2 = 850 650 = 200 MW

dF2
dP2

= 7,85 + 0,00388 (200) = 8,626

R/MWh

200 MW

P2min < Pi < Pimax


dF1
dP1

= 6,48 + 0,00256 ( 600) = 8,016 R/MWh < 8,626 R/MWh


600 MW

memenuhi
dF3
dP3

= 7,97 + 0,00964 (50)

= 8,433 R/MWh < 8,626 R/MWh

50 MW

tidak memenuhi
diatur ulang kembali, pembangkit termurah di beri beban terbesar :
P1 = 600 MW, PRsisa = 850 600 = 250 MW di bagi untuk P2 & P3
dan di optimasi
dF2 dF3

dP2 dP3

0,12 0,0964 P3
P3 250 MW
0,00388

P2 + P3 = 250 MW
7,85 + 0,00388 P2 = 7,97 + 0,00964 P3

P3 = 62,9 MW

memenuhi

P2 = 187,1 MW
P2 =

0,12 0,00964 P3
0,00388

Pimin Pi Pimax

= 7,85 + 0,00388 ( 187,1)


2 = 8,5759

Pimin Pi Pimax

3 = 7,97 + 0,00964 ( 62,9) = 8,576

Contoh 2
Kerugian transmisi PL = 0,00003 P12 + 0,00009 P22 + 0,000012 P32
Data pembangkit seperti contoh sebelumnya, dimana :
dF1
= 7,92 + 0,003124 P1
dP1
dF2
= 7,85 + 0,00388 P2
dP2
dF3
= 7,97 + 0,00964 P3
dP3

tentukan : pembagian pembebanan yang optimum untuk unit 1, 2 dan 3 bila


beban system 850 MW.
Jawab : syarat optimum

dFi
dP
1 L
dPi
dPi

dF1
= 7,92 + 0,003124 P1 = ( 1-0,00006) .(1)
dP1
dF2
= 7,85 + 0,00388 P2 = ( 1-0,00018) .(2)
dP2
dF3
= 7,97 + 0,00964 P3 = ( 1-0,00024)..(3)
dP3

P1 + P2 + P3 = 850 + PL.(4)
Untuk penyelesaian dapat dilakukan dengan jalan menentukan terlebih dahulu
harga P1; P2; P3 dan bila terjadi kesalahan di ulang kembali langkahnya :
1). Misal harga awal ditentukan : P1 = 400 MW
P2 = 300 MW
P3 = 150 MW
2). Hitung Incremental losses ( rugi transmisi)
dPL
dP1

= 0,00006 . 400 = 0,024

P1 = 400 MW

dPL
= ( 0,00018) . 300 = 0,054
dP2
dPL
= ( 0,00024) . 150 = 0,036
dP3

PL = 0,00003 ( 400)2 + ( 0,00009) ( 300)2 + ( 0,00012) (150)2 = 15,6 MW


3). Dimasukkan pada persamaan (1), (2), (3).
(1) 7,92 + 0,003124 P1 = ( 1- 0,024) = 0,9760
(2) 7,85 + 0,00388 P2 = 0,9640
(3) 7,97 + 0,00964 P3 = 0,9640
(4) P1 + P2 + P3 850 15,6 = 0
penyelesaian (1), (2), (3), (4) di peroleh = 9,5252 R/MWh
P1 = 440,68 MW
P2 = 299, 12 MW
P3 = 125,77 MW
Dari hasil P1, P2, P3 di bandingkan dengan penentuan.
P1, P2, P3 sebelumnya bila tidak sama maka dilakukan pengulangan perhitungan
dengan menggunakan harga P1, P2, P3 yang di peroleh sebagai harga P 1, P2, P3
baru.
Langkah coba lagi ke (2)
dPL
= 0,00006 ( 440,68) = 0,0264
dP1
dPL
= 0,00018 ( 299,12) = 0,0538
dP2

dPL
= 0,00024 ( 125,77) = 0,0301
dP3

PL = 0,00003 (440,68)2 + 0,00009 ( 299,12)2 + 0,00012 ( 125,77)2


= 15,78 MW
langkah (3)

7,92 + 0,003124 P1 = ( 1- 0,0264) = 0,9736


7,85 + 0,00388 P2 = 0,9462
7,97 + 0,00964 P3 = 0,9699
P1 + P2 + P3 850 15,78 = 0
Dari penyelesaian di peroleh = 9,5275 R/MWh

P1 = 433,94 MW
P2 = 300, 11 MW

bila belum sama di ulang

P3 = 131,74 MW

Tugas :
Data dari contoh pertama
Beban 50 MW
awal = 10,000
dengan iterasi lamda (), tentukan :
P1, P2, P3 optimum
= 0,001
Iterasi
0

P1 (MW)
400

P2 (MW)
300

P3 (MW)
150

PL
15,6

9,5252

440,68

299,12

125,77

15,78

9,5275

433,94

300,11

131,74

15,84

9,5285

435,87

294,94

130,42

15,83

9,5283

435,13

294,99

130,71

15,83

9,5284

cara lain

0 1
3 1

2 1 2 2
3

1 2
2

F1 = 561 + 7,92 P1 + 0,001562 P12


F2 = 310 + 7,85 P2 + 0,00194 P22
F3 = 78 + 7,97 P3 + 0,00482 P32
Pada beban PR = 850 MW
Di peroleh out-put optimum ekonomi untuk setiap pembangkit
= 9,148 R/MWh

P1 = 393,2 MW
P2 = 334,6 MW

base point

P3 = 122,2 MW
P1max = 600 MW

P1min = 150 MW

P2max = 400 MW

P2min = 100 MW

P3max = 200 MW

P3min = 50 MW

Tentukan pembagian out-put pembangkit yang optimum ekonomi untuk beban


1000 MW
Jawab : hasil perhitungan yang telah di gunakan sebagai base point

F1 = 0,003124

1/F1 =

10 6
= 320,1
3124

P1
320,1

=
PD 681,5

1/F2 =

10 5
= 257,7
388

P2 257,7

=
PD 681,5

1/F3 =

10 6
= 320,1
3124

P3 103,7

=
PD 681,5

0,469
F2 = 0,00388
0,378
F3 = 0,00964
0,152

1
1
1

681,5
F1 " F2 " F3 "
PD = 1000 850 = 150 MW
untuk Pbeban = 1000 MW
P1 = P1 base point + P1
= 393,2 + 0,469 150 = 463,7 MW
P2 = 334,6 + 0,328 150 = 391,3 MW
P3 = 122,2 + 0,152 150 = 145,0 MW
1000,0 MW

NB :
Untuk menentukan bahan bakar, maka hanya P1, P2, P3 optimum kita masukkan ke
F1, F2, F3.
3 (tiga) Unit pembangkit yang dioperasikan sbb :
1
ON
ON
ON
OFF
OFF

2
ON
OFF
OFF
ON
ON

3
ON
ON
OFF
ON
OFF

OFF
ON

OFF
ON

ON
OFF

Untuk Penjadwalan kombinasi ON-OFF dari pembangkit yang ada di dalam


system pada sebuah koordinasi beban tertentu, kombinasi yang di pakai adalah
yang biaya totalnya paling murah.
Contoh 3
Unit 1.

P1min = 175 MW, P1max = 700 MW


H1 = 510 + 7,2 P1 + 0,00142

Unit 2.

P12

MBtu/h

P2min = 100 MW, P2max = 400 MW


H2 = 310 + 7,85 P2 + 0,00194 P22

Unit 3

P3min = 50 MW, P3max = 200 MW


H3 = 78 + 7,97 P3 + 0,00482 P32

Biaya bahan bakar persatuan panas


Unit 1

= 1,1 R/MBtu

Unit 2

= 1,0 R/MBtu

Unit 3

= 1,2 R/MBtu

Pada level beban 550 MW, tentukan kombinasi ON OFF.


Unit pembangkit yang di gunakan
F1 = 560 + 7,92 P1 + 0,001562 P12
F2 = 310 + 7,85 P2 + 0,00194 P22
F3 = 93,6 + 9,564 P3 + 0,005784 P32
dF1
= 7,92 + 0,003124 P1
dP1
dF2
= 7,85 + 0,00388 P2
dP2
dF3
= 9,564 + 0,011568 P3
dP3

dari ketiga unit tersebut ada 7 buah kombinasi ON-OFF masing-masing di periksa
keadaan optimum ekonomisnya dan dari perhitungan optimum ekonomi di
peroleh sebagai berikut :

shut down Rule metode ini adalah pembuatan table untuk biaya termurah pada
level-level beban dengan kombinasi ON-OFF tertentu.

Contoh : dari data 3 pembangkit di atas di buat table ssb :


Level Beban (MW)
1200

Unit 1
ON

Unit 2
ON

Unit 3
ON

1150

ON

ON

ON

1100

ON

ON

ON

1050

ON

ON

ON

1000

ON

ON

OFF

950

ON

ON

OFF

900

ON

ON

OFF

850

ON

ON

OFF

800

ON

ON

OFF

750

ON

ON

OFF

700

ON

ON

OFF

650

ON

ON

OFF

600

ON

OFF

OFF

550

ON

OFF

OFF

500

ON

OFF

OFF

F = f (P)

di hitung F pada harga


P max

biaya produksi rata-rata =

F max

E max
Pmax

DAFTAR PUSTAKA :
1. Allen J. Wood & Bruce F. Wollenberg Power Generation Operation &
Control , John Wiley, New York, 1984
2. Kirchamayer LK, Economic Operation of Power System , John Wiley,
New York, 1958
3. William D. Stevenson, Element Of Power System Analisis , Mc Graw
Hill, Kogakusha, Tokyo, 1975
4. Bernhardt GA Skroteki and William A. Vopat Power Station Enginering
and Economy , TATA Mc Graw Hill, New Delhi, 1960.
5. Ir. Djiteng Marsudi , Operasi Sistem tenaga Listrik

Latihan 1 :
Dalam sebuah system tenaga terdapat 3 buah pembangkit thermal dengan data
sebagai berikut :
Unit (1) H1

= 510 + 7,2 P1 + 0,00142 P12

MBtu

jam

P1max = 700 MW ; P1min = 200 MW


Unit (2) H2

= 310 + 7,85 P2 + 0,00194 P22

MBtu

jam

P2max = 450 MW ; P2min = 125 MW


Unit (3) H3

= 78 + 7,97 P3 + 0,00482 P32

MBtu

jam

P3max = 250 MW ; P3min = 75 MW


Biaya bahan bakar persatuan panas
Unit 1 = 1,2 R/MBtu
Unit 2 = 1,1 R/MBtu
Unit 3 = 1,0 R/MBtu
Tentukan pembagian pembebanan secara ekonomis untuk tiap pembangkit bila
beban total system = 900 MW . Kerugian transmisi PL = 0,00003 P12 + 0,00009
P22 + 0,000012 P32 tentukan pembagian pembebanan yang optimum untuk unit 1,
2 dan 3 bila beban system 900 MW.

Latihan : 2
Misalkan ada 4 buah pembangkit dengan biaya produksi rata-rata untuk daya
output maksimum sebagai berikut :
Unit 1.

P1min = 150 MW, P1max = 700 MW


H1 = 510 + 7,2 P1 + 0,00142

Unit 2.

P12

MBtu/h

P2min = 125 MW, P2max = 400 MW


H2 = 310 + 7,85 P2 + 0,00194 P22

Unit 3

P3min = 75 MW, P3max = 250 MW


H3 = 78 + 7,97 P3 + 0,00482 P32

Unit 4

P4min = 150 MW, P4max = 300 MW


H3 = 105 + 7,65 P4 + 0,00324 P42

Biaya bahan bakar persatuan panas


Unit

9,75 R/Mbtu

Unit

9,40 R/Mbtu

Unit

11,38 R/Mbtu

Unit

10,44 R/Mbtu

Pada level beban 850 MW, tentukan kombinasi ON OFF.


Unit pembangkit yang di gunakan
F1 = 560 + 7,92 P1 + 0,001562 P12
F2 = 310 + 7,85 P2 + 0,001940 P22
F3 = 93,6 + 9,564 P3 + 0,005784 P32
F4 = 98,9 + 9,973 P4 + 0,006790 P42
dari keempatunit tersebut ada buatkan tabel kombinasi ON-OFF masing-masing
di periksa keadaan optimum ekonomisnya dan dibuat tabel dari perhitungan
optimum ekonomi tsb.

Latihan Contoh 3
Unit 1.

P1min = 200 MW, P1max = 700 MW


P12

H1 = 520 + 7,5 P1 + 0,00152


Unit 2.

MBtu/h

P2min = 150 MW, P2max = 500 MW


H2 = 310 + 7,85 P2 + 0,00194 P22

Unit 3

P3min = 100 MW, P3max = 300 MW


H3 = 79 + 7,97 P3 + 0,00484 P32

Biaya bahan bakar persatuan panas


Unit 1

= 1,2 R/MBtu

Unit 2

= 1,1 R/MBtu

Unit 3

= 1,0 R/MBtu

Pada level beban 750 MW, tentukan kombinasi ON OFF.


Buatkanlah tabel dan Analisa keadaan optimum.
Level Beban (MW)
1200

Unit 1
ON

Unit 2
ON

Unit 3
ON

1150

ON

ON

ON

1100

ON

ON

ON

1050

ON

ON

ON

1000

ON

ON

OFF

950

ON

ON

OFF

900

ON

ON

OFF

850

ON

ON

OFF

800

ON

ON

OFF

750

ON

ON

OFF

700

ON

ON

OFF

650

ON

ON

OFF

600

ON

OFF

OFF

550

ON

OFF

OFF

500

ON

OFF

OFF

Mata Ujian
Hari/Tanggal
Waktu
Sifat
Penguji

:
:
:
:
:

Operasi Sistem Tenaga Listrik


Juni 2015
90 menit
Open Book
Ir. Sukarno Budi Utomo, MT

1. Mengapa dalam operasinya PLTU memerlukan waktu yang lama untuk


start pembangkitnya dibandingkan dengan PLTA, PLTG dan PLTD ?
Jelaskan !
2. Sebutkan faktor apa saja yang harus diperhitungkan dalam menyusun
jadwal pemeliharaan unit-unit pembangkit dalam sistem tenaga listrik ?

3. Mengapa gangguan pada saluran udara sebagain besar bersifat temporer ?


4. Apakah yang saudara ketahui tentang Kontinuitas, Kualitas dan kuantitas
pada operasi sistem tenaga listrik ?
5. Bagianmanakah dari sistem tenaga listrik yang paling banyak mengalami
gangguan dan langkah apa untuk mengurangi jumlah gangguan ?
6. Faktor apa saja yang mempengaruhi beban harian sistem ?
7. Jelaskan mengapa komputer banyak digunakan untuk keperluan operasi
sistem Tenaga listrik ?
8. Jelaslkan cara kerja Governor dalam mengatur stabilitas sistem operasi
tenaga listrik dalam melayani beban yang selalu berubah setiap saat ?