You are on page 1of 7

Tugas:

MEDIA PEMBELAJARAN

OLEH
I PUTU SUARDIKA
A1B314107

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (S1)
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016

Pengertian Media Pembelajaran


1. Media pembelajaran berasal dari kata latin, merupakan bentuk jamak
dari kata medium. Secara harfiah kata tersebut mempunyai arti
prantara atau pengantar. Akan tetapi sekarang kata tersebut
digunakan baik untuk bentuk jamak maupun mufrad. Kemudian telah
banyak pakar dan juga
organisasi yang memberikan batasan
mengenai pengertian media adalah sebagai berikut:
Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk
keperluan pembelajaran. Jadi media adalah perluasan dari guru
(schram, 1982).
National Education Asociation (NEA) memberikan batasan bahwa
media merupakan sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun
audio visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya.
Briggs berpendapat bahwa media merupakan alat untuk
memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar.
Asociation Of
Education Comunication Technology (AECT) memberikan batasan
bahwa media merupakan segala bentuk dan saluran yang
dipergunakan untuk proses penyaluran pesan.
Sedangkan gagne berpendapat bahwa sebagai jenis komponen
dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk
belajar.
Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan
yang dapat merangsang pikiran , perasaan, perhatian, dan
kemauan siswa untuk belajar (Miarso, 1989).
(sumber: Drs. Susilana, Rudi dan Riyana, Cepi. 2009. Media
Pembelajaran Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan dan Penilaian.
Bandung: CV Wacana Prima.)

Kedudukan Media dalam Konteks Komunikasi Pendidikan


Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkkan seseorang
dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif
dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. pembelajaran dapat
melibatkan dua pihak yaitu siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai
fasilitator. Yang terpenting dalam kegaiatan pembelajaran adalah terjadinya
proses belajar (learning process). Sebab sesuatu yang dikatakan hasil
belajaran kalau memenuhi beberapa ciri berikut:

1. Belajar sifatnya sendiri, dalam hal ini siswa merasa bahwa dirinya
sedang belajar, timbul dalam dirinya motivasi-motivasi untu memliki
pengetahuan yang diharapkan sehingga tahapan-tahapan dalam
belajar sampai pengetahuan itu dimiliki secara permanen betul-betul
disadari sepenuhnya.
2. Hasil belajar diperoleh dengan adanya proses, dalam hal ini
penetahuan diperoleh tidak secara spontanitas, instan, namaun
bertahap.
3. Belajar
membutuhkan
interaksi,khususnya
interaksi
bersifat
manusiawi, seseorang siswa akan lebih cepat memiliki pengetahuan
karena bantuan dari guru, pelatih, ataupun istruktur. Dalam hal ini ada
komunikasi dua arah antara siswa dengan guru.
Kaitanya bahwa belajar membutuhkan interaksi, hal ini menunjukan
bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, artinya
didalam terjadinya proses penyampaian pesan dari seseorang kepada
seseorang atau sekelompok orang, Kemp (1975 : 15) menggambarkan
proses komunikasi sebagai berikut:

Source of
message

Messeag
e encode

channe
l

Message
received and
decoded

Destination
of message

(sumber: Drs. Susilana, Rudi dan Riyana, Cepi. 2009. Media Pembelajaran
Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan dan Penilaian. Bandung: CV Wacana
Prima.)

Kedudukan Media dalam System Pemebelajaran


Sistem adalah suatu totalitas yang terdiri dari sejumlah komponen
atau bagian yang saling berkaitan yang saling mempengaruhi satu dengan
yang lainya pembelajaran dikatakan system karena didalamnya mengantung
komponen yang saling berkaitan unttuk mencapai suatu tujuan yang telah
ditetapkan. Komponen-komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, metode,
media dan evaluasi. Masing-masing komponen saling berkaitan erat
merupakan satu kesatuan. Untuk lebih memahami system pembelajaran
lihatlah gambar dibawah ini:

N
J
S
U
L
A
V
E
I
R
M
D
O
T

Proses perancangan pembelajaran selalu diawali dengan perumusan


tujuan instruksional khusus sebagai pengembangan dari tujuan instruksional
umum. Dalam kurikulum 2006 perumusan indicator selalu merunjuk pada
kompetensi dasar dan kompetensi dasar selalu merunjuk pada standar
kompetensi. Usaha untuk menunjang pencapaian tujuan pembelajaran
dibantu oleh penggunaan alat bantu pembelajaran yang tepat dan sesuai
karakteristik komponen penggunaanya. Setelah itu guru menentukan alat
dan melaksanakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat menjadi bahan
masukan atau umpan balik kegiatan yang telah dilaksanakan. Apabila
ternyata hasil beelajar siswa rendah , maka kita mengidentifikasi bagianbagian apa yang mengakibatkanya. Khususnya dalam pengunaan media,
maka perlu melihat bagaimana efektifitas apakah yang menjadi factor
penyebabnya.

(sumber: Drs. Susilana, Rudi dan Riyana, Cepi. 2009. Media Pembelajaran
Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan dan Penilaian. Bandung: CV Wacana
Prima.)

Sejarah Pengembangan Media


Selama ini media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids). Alat
bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek, dan alat-alat lain
yang dapat memberikan pengalaman konkrit, motivasi belajar, serta mempertinggi daya serap
belajar siswa. Dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada pertengahan abad 20, alat visual
untuk mengkonkretkan materi pelajaran selanjutnya dilengkapi dengan audio sehingga dikenal
menjadi alat audio-visual atau audio visual aids (AVA).
Berbagai peralatan digunakan oleh guru untuk menyampaikan pesan kepada siswa
melalui penglihatan dan pendengaran dengan maksud menghindari verbalisme yang masih
mungkin terjadi, kalau hanya digunakan alat bantu visual semata. Pada akhir tahun 1950 teori
komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu audio-visual, sehingga selain sebagai
alat bantu, media juga berfungsi sebagai penyalur pesan atau informasi belajar. Sejak saat itu alat
audio-visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga sebagai alat
penyalur pesan atau media.
Sekitar tahun 1960-1965 (Sadiman dkk, 2005 : 8--11) siswa mulai diperhatikan sebagai
komponen yang penting dalam proses pembelajaran. Pada saat itu teori tingkah laku
(behaviorism theory) ajaran B.F. Skinner mulai mempengaruhi penggunaaan media dalam
kegiatan belajar-mengajar. Teori ini mendorong untuk lebih memperhatikan siswa dalam proses
belajar-mengajar. Menurut teori ini mendidik adalah mengubah tingkah laku siswa. Perubahan
tingkah laku ini ditanamkan pada diri siswa sehingga menjadi adat kebiasaan, untuk itu jika ada

perubahan tingkah laku positif ke arah yang dikehendaki, perlu diberikan penguatan
(reinforcement) berupa pemberitahuan bahwa tingkah laku tersebut telah benar.
Pada sekitar tahun 1965-1970 pendekatan sistem (system approach) mulai menampakkan
pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran. Pendekatan sistem ini
mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalam program pembelajaran. Setiap
program pembelajaran perlu direncanakan secara sitematis dengan memusatkan perhatian pada
siswa. Program pengajaran direncanakan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik siswa serta
diarahkan pada perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Dalam
perencanaan ini media yang akan dipakai dan cara yang digunakan telah ditentukan dengan
pertimbangan saksama.
Pada dasarnya guru dan para ahli audio-visual menyambut baik perubahan ini. Guru
mulai merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan tingkah laku siswa. Untuk mencapai tujuan
itu, mulai dipakai berbagai format media. Berdasarkan pengalaman, keberhasilan siswa sangat
berbeda jika digunakan satu jenis media, ada siswa yang lebih senang menggunakan media
audio, namun ada pula yang lebih menginginkan media visual, maka itu digunakan berbagai
macam media sesuai dengan minat siswa, sehingga muncullah konsep penggunaan multi media
dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan perkembangan media di atas ternyata arca (relief) sebagai salah satu bentuk
relief dapat dikatakan sebagai cikal bakalnya media pendidikan, hanya saja sesuai
perkembangan, relief sepertinya terkubur dan telah digantikan oleh media pendidikan moderen
yang muncul belakangan. Selain itu sudah selayaknya media tidak lagi dipandang sebagai alat
bantu belaka bagi guru untuk mengajar, tetapi lebih sebagai penyalur pesan dari pemberi pesan.
Sebagai pembawa pesan media tidak hanya digunakan oleh guru, tetapi yang lebih penting

semestinya dapat digunakan oleh siswa secara mandiri. Sebagai pembawa dan penyaji pesan,
maka media dalam hal tertentu dapat menggantikan peran guru untuk menyampaikan informasi
secara teliti dan menarik. Fungsi tersebut dapat diterapkan tanpa kehadiran guru secara fisik,
dengan demikian pandangan tentang guru sebagai satu-satunya sumber informasi tidak berlaku.
(Sadiman, Arif S. 2010. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, Pemanfaatan.
Jakarta : Rajawali Pers)
(http://gladie-kun.blogspot.com/2009/10/media-pembelajaran-ict.html)