You are on page 1of 41

DAYA RUMAH PERUMAHAN DINAS

1.
2.
3.
4.

Perumdin type 45 Daya rumah 2200 VA, 25 rumah


Perumdin type 36 Daya rumah 1300 VA, 30 rumah
Perumdin type 45 Daya rumah 900 VA, 35 rumah
Sarana Olahraga Sepak Bola (110m x 70m)

DATA SURVEY LAPANGAN


1. Jarak SUTM yang ada dengan GTT yang akan dibangun 200 m
(Perumahan Dinas)
2. Jarak GTT terhadap tiang akhir jaringan SUTR 300 m
3. Data pabrik pada LVMDP :
a. Kelompok 1 = 500 kVA
b. Kelompok 2 = 300 kVA
c. Kelompok 3 = 200 kVA
d. Kelompok 4 = 600 kVA
e. Kelompok 5 = 400 kVA
Dengan jarak gardu distribusi terhadapa SUTM yang ada adalah 200 m.
PERENCANAAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Single Line Diagram Pabrik, Perumahan Dinas, PJU.


Rencana Anggaran Biaya SUTM
Rencana Anggaran Biaya GTT
Gambar Konstruksi.
Biaya investasi SUTM, SUTR, GTT
\Biaya pasang baru pabrik dan rumah
BP, UJL (Gambar lihat TDL)

PERENCANAAN PABRIK INDUSTRI LOGAM


1. Menentukan Daya Terpasang
Data dari LVMDP Pabrik :
Kelompok 1

= 500 kVA

Kelompok 2

= 300 kVA

Kelompok 3

= 200 kVA

Kelompok 4

= 600 kVA

Kelompok 5

= 400 kVA

Total daya

= 2000 kVA

Untuk memilih trafo yang akan digunakan dalam instalasi TM/TM/TR maka
harus memperhatikan ketentuan-ketentuan diantaranya:
1

Harus mengetahui nilai beban total.


Pemilihan harus memperhatikan hubungan daya terpasang (riil) dan
daya tersambung (dari PLN) dengan daya pada trafo. Hal ini ditujukan
untuk menentukan nilai daya tersambung yang sesuai dengan nilai daya
yang tersedia pada tarif dasar listrik (TDL).
Nilai total daya terpasang diperoleh dari penjumlahan ketujuh
kelompok beban yang sudah ditentukan, sebagai berikut
S = Kel-1 + Kel-2 + Kel-3 + Kel-4 + Kel-5
S = 500 + 300 + 200 + 600 + 400
S = 2000 kVA
Dari nilai total daya terpasang dapat ditentukan nilai daya tersambung
yang tersedia pada TDL. Nilai total daya terpasang yang telah dihitung
adalah sebesar 2000 kVA.

Kebutuhan Beban Maksimum


= FK x Daya Total
= 0,7 x 2000
= 1400 KVA
3

Hubungan dengan prediksi pertambahan beban mendatang.


Dalam penggunaan energi listrik pada masa mendatang nilai beban
dapat kita prediksi akan bertambah. Pertambahan beban harus diantisipasi
dari sekarang dengan memberikan kuota daya lebih dari total nilai daya
terpasang. Oleh karena itu daya terpasang dapat dipertimbangkan agar
dibebankan sebesar 80% dari nilai daya maksimum trafo. Dan
diperkirakan penambahan beban sebesar 20 % Sehingga daya trafo yang
dibutuhkan sebesar :
Kapasitas Daya Terpasang :
= Kebutuhan Beban Maksimum x 120 %
= 1400 x 120 %
= 1680 KVA
Sehingga trafo harus memenuhi nilai daya sebesar 1680 kVA.

Dengan mempertimbangkan penentuan kebutuhan Maksimum sebesar


1400 kVA dan perhitungan daya trafo yang dibutuhkan sebesar 1680 kVA,
maka sesuai standar nilai daya trafo yang tersedia di pasaran dipilih trafo
dengan daya sebesar 2000 kVA.

Berdasarkan peraturan yang ada dengan daya trafo di atas 200 kVA adalah trafo
milik pelanggan, sehingga trafo yang di gunakan adalah trafo milik pelanggan
karena rugi-rugi trafo di tanggung oleh pelanggan.
Trafo distribusi di Indonesia umumnya pada sisi tegangan tinggi
menggunakan 20 kV dan sisi tegangan rendah sebesar 220/380 V. Trafo yang di
pilih pada system ini sisi tegangan rendahnya sebesar 400 V. Pada trafo tenaga,

variasi tegangan yang di perbolehkan adalah 5% sehingga trafo harus di lengkapi


dengan tap-changer. Untuk pemilihan kelas isolasi, kelas isolasi yang di pilih
adalah 24 kV. Hal ini bertujuan apabila surja datang dari saluran trafo yang
serentak tiga fasa, trafo akan tetap aman. Karena kemungkinan titik netral trafo
yang di ketanahkan mengalami tekanan yang berbahaya, oleh karena itu kelas
isolasi yang di pilih berdasarkan tegangan primer trafo yaitu 20 kV dengan BIL
150 kV.
Supaya pemilihan trafo lebih maksimal maka sebelum memilih trafo yang
akan di gunakan harus membandingkan antara trafo merk satu dengan yang
lainya, sistem ini membandingkan 3 merk terkenal product trafo dari Indonesia
maupun luar Indonesia. Sehingga trafo yang di pilih memiliki spesifikasi minimal
sebagai berikut:
a. Spesifikasi Mekanis
Panjang

Lebar

Tinggi

Berat

(mm)
1950

(mm)
1135

(mm)
1755

(Kg)
3550

Volume Minyak (l)


875

o
1850
1150
B&D
2050
1200
b. Spesifikasi Elektrikal

1900
1945

3200
4300

840
1100

Merk
Trafindo
Centrad

Rugi
Impedansi

Rugi Tanpa

Berbeban

Efisiensi saat

Noise

Merk
Trafindo
Centrad

(%)
5,5

Beban (W)
2500

(W)
15000

75%
98,85

(dB)
59

o
B&D

5,5
5,5

2160
2500

15000
15000

98,88
-

63
-

Dari data yang telah diperoleh, dipilih trafo dengan merk TRAFINDO dengan
pertimbangan :
1.
2.
3.
4.

Rugi rugi rendah, baik rugi tanpa beban maupun rugi berbeban.
Dimensi trafo yang relatif kecil dibandingkan dengan trafo merk lainnya.
Data pada katalog yang lengkap sehingga mempermudah perencanaan.
Mudah pemesanan karena trafo yang dipilih merupakan trafo produk

dalam negeri.
5.
4. Perhitungan dan Pemilihan Penghantar Tiap Kelompok

Kelompok 1

= 600 kVA dengan Demand Factor 0,7

Kelompok 2

= 300 kVA dengan Demand Factor 0,7

Kelompok 3

= 200 kVA dengan Demand Factor 0.7

Kelompok 4

= 600 kVA dengan Demand Factor 0,7

Kelompok 5

= 400 kVA dengan Demand Factor 0,7

1. Kelompok 1 (500 kVA Demand Factor 0,7)


S=500 kVA x 0,7=350 kVA

I n=

S
350 kVA
=
=531,76 A
3 x V 3 x 380 V

KHA minimal =125 x I n=125 x 531,76 A=664,71 A


Penghantar yang dipilih adalah NYY 150 mm dengan KHA pada 30C Flat
Formation 430 A. Dengan demikian jumlah penghantar :
Jumlah Penghantar=

KHA minimal 664,71 A


=
=1,5 A 2 Penghantar
KHA penghantar
430 A

Faktor Suhu
Faktor koreksi untuk KHA terus menerus pada kabel instalasi tunggal
berisolasi PVC pada suhu keliling 45C adalah :
KHA penghantar =0,79 x 430 A=339,7 A

Faktor Penempatan
Penghantar diletakkan pada cable tray sehingga penempatannya adalah

laid on the racks in flat formation dengan jumlah Cable Tray sejumlah 1 buah
maka KHA menjadi :
KHA penghantar =0,96 x 339,7=326,12 A
Dengan demikian dipilih penghantar
Supreme Cable

NYY 2 ( 1 x150 mm ) / Fasa


NYY 1( 1 x 150 mm) / Netral

Berdasarkan hasil perhitungan KHA penghantar maka dapat ditentukan busbar


yang digunakan dengan KHA busbar 326,1 A, dengan jenis busbar dilapisi lapisan

konduktif dengan jumlah batang (2) dengan ukuran 30 x 5, dengan suhu sekitar
30-35C PUIL hal 235 Tabel 6.6-1
2. Kelompok 2 ( 300 kVA Demand Factor 0,7)
S=300 kVA x 0,7=210 kVA

I n=

S
210 kVA
=
=319,06 A
3 x V 3 x 380 V

KHA minimal =125 x I n=125 x 319,06 A=398,82 A


Penghantar yang dipilih adalah NYY 95 mm dengan KHA pada 30C Flat
Formation 320 A. Dengan demikian jumlah penghantar :
Jumlah Penghantar=

KHA minimal 398,82 A


=
=1,2 A 2 Penghantar
KHA penghantar
320 A

Dengan demikian :
KHA sebenarnya=2 x 320 A=640 A

Faktor Suhu
Faktor koreksi untuk KHA terus menerus pada kabel instalasi tunggal
berisolasi PVC pada suhu keliling 45C adalah :
KHA penghantar =0,79 x 640 A=505,6 A

Faktor Penempatan

Penghantar diletakkan pada cable tray sehingga penempatannya adalah laid on the
racks in flat formation dengan jumlah Cable Tray sejumlah 1 buah maka KHA
menjadi :
KHA penghantar =0,96 x 505,6 A=485,37 A
Dengan demikian dipilih penghantar
Supreme Cable

NYY 2 x ( 1 x 95 mm ) / Fasa
NYY 1 x ( 1 x 95 mm) / Netral

Berdasarkan hasil perhitungan KHA penghantar maka dapat ditentukan busbar


yang digunakan dengan KHA busbar 669,6 A, dengan jenis busbar dilapisi lapisan

konduktif dengan jumlah batang (2) dengan ukuran 25 x 5, dengan suhu sekitar
30-35C PUIL hal 235 Tabel 6.6-1

Kelompok 3 ( 200 kVA Demand Factor 0,7)


S=200 kVA x 0,7=140 kVA

I n=

S
140 kVA
=
=212,70 A
3 x V 3 x 380 V

KHA minimal =125 x I n=125 x 212,70 A=265,8 A


Penghantar yang dipilih adalah NYY 70 mm dengan KHA pada 30C Flat
Formation 260 A. Dengan demikian jumlah penghantar :
Jumlah Penghantar=

KHA minimal 265,8 A


=
=1 A 1 Penghantar
KHA penghantar 260 A

Dengan demikian
KHA sebenarnya=1 x 260 A=260 A
Faktor Suhu
Faktor koreksi untuk KHA terus menerus pada kabel instalasi tunggal berisolasi
PVC pada suhu keliling 45C adalah :
KHA penghantar =0,79 x 260 A=205,4 A

Faktor Penempatan

Penghantar diletakkan pada cable tray sehingga penempatannya adalah laid on the
racks in flat formation dengan jumlah Cable Tray sejumlah 1 buah maka KHA
menjadi :
KHA penghantar =0,96 x 205,4 A=197,18 A
Dengan demikian dipilih penghantar
Supreme Cable

NYY 3 x ( 1 x 70 mm ) / Fasa
NYY 2 x ( 1 x 70 mm) / Netral

Berdasarkan hasil perhitungan KHA penghantar maka dapat ditentukan busbar


yang digunakan dengan KHA busbar 197,18 A, dengan jenis busbar dilapisi

lapisan konduktif dengan jumlah batang (2) dengan ukuran 20 x 2, dengan suhu
sekitar 30-35C PUIL hal 235 Tabel 6.6-1
Kelompok 4 (600 kVA dengan Demand Factor 0,7)
S=600 kVA x 0,7=420 kVA

I n=

S
420 kVA
=
=638,12 A
3 x V 3 x 380 V

KHA minimal =125 x I n=125 x 638,12 A=797,65 A


Penghantar yang dipilih adalah NYY 150 mm dengan KHA pada 50C Flat
Formation 430 A. Dengan demikian jumlah penghantar :
Jumlah Penghantar=

KHA minimal 797,65 A


=
=1,8 2 Penghantar
KHA penghantar
430 A

Dengan demikian :
KHA sebenarnya=2 x 430 A=860 A

Faktor Suhu
Faktor koreksi untuk KHA terus menerus pada kabel instalasi tunggal berisolasi
PVC pada suhu keliling 45C adalah :
KHA penghantar =0,79 x 860 A=679,6 A

Faktor Penempatan

Penghantar diletakkan pada cable tray sehingga penempatannya adalah laid on the
racks in flat formation dengan jumlah Cable Tray sejumlah 1 buah maka KHA
menjadi :
KHA penghantar =0,96 x 860 A=825,6 A
Dengan hasil tersebut masih aman karena diatas In minimal, dengan demikian
dipilih penghantar
Supreme Cable

NYY 2 x ( 1 x 150 mm ) / Fasa


NYY 1 x ( 1 x 150 mm) / Netral
BC 1 x 70 mm

Berdasarkan hasil perhitungan KHA penghantar maka dapat ditentukan busbar


yang digunakan dengan KHA busbar 825 A, dengan jenis busbar dilapisi lapisan
konduktif dengan jumlah batang (2) dengan ukuran 40 x 5, dengan suhu sekitar
30-35C PUIL hal 235 Tabel 6.6-1

Kelompok 5 ( 400 kVA Demand Factor 0,7)


S=400 kVA x 0,7=280 kVA

I n=

S
280 kVA
=
=425,41 A
3 x V 3 x 380 V

KHA minimal =125 x I n=125 x 425,41 A=531,76 A


Penghantar yang dipilih adalah NYY 120 mm dengan KHA pada 30C Flat
Formation 375 A. Dengan demikian jumlah penghantar :
Jumlah Penghantar=

KHA minimal 531,76 A


=
=1,4 A 2 Penghantar
KHA penghantar
375 A

Dengan demikian :
KHA sebenarnya=2 x 375 A=750 A

Faktor Suhu
Faktor koreksi untuk KHA terus menerus pada kabel instalasi tunggal
berisolasi PVC pada suhu keliling 45C adalah :
KHA penghantar =0,79 x 750 A=592,5 A

Faktor Penempatan

Penghantar diletakkan pada cable tray sehingga penempatannya adalah laid on the
racks in flat formation dengan jumlah Cable Tray sejumlah 1 buah maka KHA
menjadi :
KHA penghantar =0,96 x 592,5 A=568,8 A

Dengan demikian dipilih penghantar


Supreme Cable

NYY 2 x ( 1 x 120 mm ) / Fasa


NYY 1 x ( 1 x 120 mm) / Netral

Berdasarkan hasil perhitungan KHA penghantar maka dapat ditentukan busbar


yang digunakan dengan KHA busbar 568,8 A, dengan jenis busbar dilapisi lapisan
konduktif dengan jumlah batang (2) dengan ukuran 30 x 5, dengan suhu sekitar
30-35C PUIL hal 235 Tabel 6.6-1
Busbar Utama
I n=

S
1250 kVA
=
=1806,3 A
3 x V 3 x 400 V

KHA min=125 x 125 x 1806,3 A=2257,875 A


Dengan KHA minimal sebesar 2257,875 A, maka dipilih busbar dengan dimensi
10x63x1 mm dengan KHA 1569 A, Karena membutuhkan 2 busbar tiap fasanya,
maka KHA busbar menjadi :
KHA 2busbar =1,72 x 1569 A=2698,68 A
Busbar yang dipilih
Isoflexx Busbar

2 x ( 10 x 63 x 1 ) mm / F
1 x ( 10 x 63 x 1 ) mm / N

Perhitungan dan Pemilihan Pengaman


1. Pengaman Kelompok 1
S=600 kVA x 0,8=480 kVA
I n=

S
480 kVA
=
=693,64 A
3 x V 3 x 400 V

KHA minimal =125 x I n=125 x 693,64 A=867,05 A


Rating Max=250 x I n=250 x 867,05 A=2167,625 A
Sesuai dengan data di atas, maka rating pengaman yang dipilih adalah In Rating
Pengaman KHA Minimal Penghantar. Pengaman yang dipilih dengan
spesifikasi :
Compact NS800N 3P
Trip Unit
= Micrologic 2.0
Rated Current = 800 A
Icu
= 50 kA
2. Pengaman Kelompok 2
S=350 kVA x 0,8=280 kVA

I n=

S
280 kVA
=
=404,62 A
3 x V 3 x 400 V

KHA minimal =125 x I n=125 x 404,62 A=505,8 A


Rating Max=250 x I n=250 x 404,62 A=1011,55 A
Sesuai dengan data di atas, maka rating pengaman yang dipilih adalah In Rating
Pengaman KHA Penghantar. Pengaman yang dipilih dengan spesifikasi :
Compact NS630N 3P
Trip Unit
= STR53
Rated Current = 630 A
Icu
= 42 kA
3. Pengaman Kelompok 3
S=300 kVA x 0,8=240 kVA
I n=

S
240 kV A
=
=346,8 A
3 x V 3 x 400 V

KHA minimal =125 x I n=125 x 346,8 A=433,52 A


Rating Max=250 x I n=250 346,8 A=867 A

Sesuai dengan data di atas, maka rating pengaman yang dipilih adalah In Rating
Pengaman KHA Minimal Penghantar. Pengaman yang dipilih dengan
spesifikasi :
Compact NS400N 3P
Trip Unit
= STR23 (electronic)
Rated Current = 400 A
Icu
= 36 kA
4. Pengaman Kelompok 4
S=150 kVA x 0,8=120 kVA
I n=

S
120 kVA
=
=1 73,4 A
3 x V 3 x 400 V

KHA minimal =125 x I n=125 x 173,4 A=216,75 A


Rating Max=250 x I n=250 x 173,4 A=433,5 A
Sesuai dengan data di atas, maka rating pengaman yang dipilih adalah In Rating
Pengaman KHA Minimal Penghantar. Pengaman yang dipilih dengan
spesifikasi :
Compact NS250N 3P
Trip Unit
= STR22 (electronic)
Rated Current = 250 A
Icu

= 35 kA
5. Pengaman Utama
S total=S kelompok 1+ S kelompok 2 + Skelompok 3 + S kelompok 4
S total=480 kVA+280 kVA +240 kVA +120 kVA
S total=1120 kVA

I total =I n 1 + I n 2+ I n 3 + I n 4
I total =693,64 A + 404,63 A+348,8 A+173,4 A
I total =1620,47 A

KHA minimal =125 x 1620,47 A=2025,6 A


Setting Pengaman Max =250 x 1620,47 A=4051,1 A

Dengan demikian dipilih rating pengaman sebesar 2000 A, dipilih pengaman


ACB Masterpack NW20H1 + Micrologic 2.0
In

= 2000 A

Breaking Capacity

= 65 kA

Trip Unit

= Micrologic 2.0 A (Ammeter and Protection)

Perhitungan Breaking Capacity

1. Jaringan Sisi Atas


Psc=500 MVA 81,3

sin=0,988
cos=0,15

Z 1=

U 02 400 2
=
=0,32m
MVA 500

R1=Z 1 x cos x 10 =0,32 x 0,15 x 10 =0,048 m


X 1=Z 1 x sin x 103=0,32 x 0,988 x 103=0,316 m
2. Transformator
Diketahui transformator dengan :
S
Uo
Psc
%U

= 1250 kVA
= 400 V
= 17500 W
= 5,5 %
2
Usc U 0
5,5 4002
Z 2=
x
=
x
=7,04 m
100 kVA 100 1250

Pcu x 103 17500 x 103


R 2=
=
=1,79 m
3. I n2
3.(1804,2)2
X 2= (Z 22R22 )= (7,04 21,792 )=6,9 m

3. Penghantar Outgoing Trafo


Penghantar outgoing trafo menuju LVMDP menggunakan NYY 6 x ( 1 x 150
mm) sepanjang 15 m. Maka
R3=

L 22,5 15
=
x
=0,375 m
A
6
150

X 3=0,08 x L=0,08 x 15=1,2 m

4. Isc pada Circuit Breaker Utama


Besarnya nilai arus hubung singkat pada pengaman utama adalah :
Rtotal=R1 + R2 + R3 =0,048+1,79+0,375=2,213 m
X total= X 1+ X 2 + X 3 =0,316+6,9+1,2=8,416 m
I sc=

U0
400
=
=26,53 kA
3 x Zt 3 x 2,2132 +8,4162

5. Busbar Utama
Busbar Utama menggunkan busbar Isoflexx 2 x ( 10 x 63 x 1 ) mm sepanjang 4
m. Karena pada busbar nilai resistansi diabaikan, maka
R=0

X =0,15 x 4 m=0,6

6. Arus Hubung Singkat pada pengaman cabang


Rtotal=Rt 1+ R 5=2,213+0=2,213 m
Xtotal=Xt 1+ X 4 =8,416+0,6=9,016 m
I sc=

U0
400
=
=24,87 kA
3 x Zt 3 x 2,2132 +9,016 2

Dengan perhitungan Isc pada masing masing pengaman maka dapat ditentukan
pengaman adalah sebagai berikut :
1. Pengaman Utama : ACB Masterpack NW20H1 + Micrologic 2000A Icu
2.
3.
4.
5.

65 kA
Pengaman Kelompok 1 : MCCB Compact NS800N 800 A Icu 50 kA
Pengaman Kelompok 2 : MCCB Compact NS630N 630 A Icu 50 kA
Pengaman Kelompok 3 : MCCB Compact NS400N 400 A Icu 50 kA
Pengaman Kelompok 4 : MCCB Compact NS250N 250 A Icu 36 kA

Perhitungan, Perencanaan, dan Desain Arester


Arrester dipakai sebagai alat proteksi utama dari tegangan lebih. Oleh
karena pemilihan arrester harus sesuai dengan peralatan yang dilindunginya.
Karena kepekaan arrester terhadap tegangan, maka pemakainya harus disesuikan
dengan tegangan sistem. Pemilihan lightning arrester dimaksudkan untuk
mendapatkan tingkat isolasi dasar yang sesuai dengan Basic Insulation Level
(BIL) peralatan yang dilindungi, sehingga didapatkan perlindungan yang baik.
Pada pemilihan arrester ini dimisalkan tegangan impuls petir yang datang
berkekuatan 400 KV dalam waktu 0,1s, jarak titik penyambaran dengan
transformator 5 Km.

Tegangan dasar arrester


Pada jaringan tegangan menengah arrester ditempatkan pada sisi tegangan

tinggi (primer) yaitu 20 KV. Tegangan dasar yang dipakai adalah 20 KV sama
seperti tegangan pada sistem. Hal ini dimaksudkan agar pada tegangan 20 KV
arrester tersebut masih bisa bekerja sesuai dengan karakteristinya yaitu tidak
bekerja pada tegangan maksimum sistem yang direncanakan, tetapi masih tetap
mampu memutuskan arus ikutan dari sistem yang effektif.

Tegangan sistem tertinggi umumnya diambil harga 110% dari harga tegangan
nominal sistem. Pada arrester yang dipakai PLN adalah :
Vmaks

= 110% x 20 KV
= 22 KV, dipilih arrester dengan tegangan teraan 28 KV.

Koefisien Pentanahan
Didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan rms fasa sehat ke

tanah dalam keadaan gangguan pada tempat dimana penangkal petir, dengan
tegangan rms fasa ke fasa tertinggi dari sistem dalam keadaan tidak ada gangguan
Untuk menetukan tegangan puncak (Vrms) antar fasa dengan ground digunakan
persamaan :
Vm
2

Vrms

=
22
2

= 15,5 KV
Dari persamaan di atas maka diperoleh persamaan untuk tegangan
phasa dengan ground pada sistem 3 phasa didapatkan persamaan :

Vrms 2
3
Vm(L - G) =

15,5 2
3
=
= 12,6 KV
12,6 KV
15,5 KV

Koefisien pentanahan

=
= 0,82

Keterangan :
Vm

= Tegangan puncak antara phasa dengan ground (KV)

Vrms

= Tegangan nominal sistem (KV)

Tegangan pelepasan arrester


Tegangan kerja penangkap petir akan naik dengan naiknya arus

pelepasan, tetapi kenaikan ini sangat dibatasi oleh tahanan linier dari penangkap
petir. Tegangan yang sampai pada arrester :

E=

e
K .e.x

400 KV
0,0006 5 Km

E=
= 133,3 KV
Keterangan :
I

= arus pelepasan arrester (A)

= tegangan surja yang datang (KV)

Eo

= tegangan pelepasan arrester (KV)

= impedansi surja saluran ()

= tahanan arrester ()

Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari saluran
yang dibatasi oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi teganagn flashover dan
probabilitas tembus isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya, sehingga
harga e adalah :
e =1,2 x BIL saluran
Keterangan :

= tegangan surja yang datang (KV)

BIL

= tingkat isolasi dasar transformator (KV)

Arus pelepasan nominal (Nominal Discharge Current)

2e Eo
ZR

Z adalah impedansi saluran yang dianggap diabaikan karena jarak


perambatan sambaran tidak melebihi 10 Km dalam arti jarak antara GTT yang
satu dengan yang GTT yang lain berjarak antara 8 KM sampai 10 KM. ( SPLN
52-3,1983 : 11 )
tegangankejutimpuls100%
aruspemuat

=
105 KV
2,5KA

=
= 42

2 400 KV 133,3KV
0 42

= 15,8 KA
Keterangan :
E

= tegangan yang sampai pada arrester (KV)

= puncak tegangan surja yang datang

= konsatanta redaman (0,0006)

= jarak perambatan

Jatuh tegangan pada arrester dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :


V =IxR

Sehingga tegangan pelepasan arrester didapatkan sesuai persamaan :


ea = Eo + (I x R)

(25)

Keterangan :
I

= arus pelepasan arrester (KA)

Eo

= tegangan arrester pada saat arus nol (KV)

ea

= tegangan pelepasan arrester (KV)

= impedansi surja ()

= tahanan arrester ()

Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)

Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam impulse
crest voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu gelombang 1,5 x 40
s. Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik harus mempunyai karakteristik
ketahanan impuls sama atau lebih tinggi dari BIL tersebut.

Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)


Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari saluran

yang dibatasi oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi tegangan flasover dan
probabilitas tembus isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya, sehingga
harga E adalah :
e =1,2 BIL saluran
e = 1,2 x 150 KV
e = 180 KV
Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam impulse crest
voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu gelombang 1,2/50 s.
Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik harus mempunyai karakteristik
ketahanan impuls sama atau lebih tinggi dari BIL tersebut. Sehingga dipilih BIL
arrester yang sama dengan BIL transformator yaitu 150 KV

Margin Perlindungan Arrester


Untuk mengitung dari margin perlindungan dapat dihitung dengan rumus

sebagai berikut :
MP

= (BIL / KIA-1) x 100%

MP

= (150 KV/ 133,3 1) x 100%


= 125.28 %

Keterangan :
MP

= margin perlindungan (%)

KIA

= tegangan pelepasan arrester (KV)

BIL

= tingkat isolasi dasar (KV)

Berdasarkan rumus di atas ditentukan tingkat perlindungan untuk tafo daya.


Kriteria yang berlaku untuk MP > 20% dianggap cukup untuk melindungi
transformator .

Jarak penempatan Arrester dengan Peralatan


Penempatan arrester yang baik adalah menempatkan arrester sedekat

mungkin dengan peralatan yang dilindungi. Jarak arrester dengan peralatan Yang
dilindungi digunakan persamaan sebagai berikut :

Ep

= ea +

2 A x
v

2 4000 KV / s x
300m / s

125

= 133,3 KV+
8,3

= 26,6x

= 0,31 m

jadi jarak arrester sejauh 31 cm dari transformator yang dilindungi.


Perhitungan

jarak

penempatan

arrester

di

atas

digunakan

untuk

transformator tiang. Namun di wilayah Malang juga terdapat penempatan


transformator

di

permukaan

tanah

dengan

menggunakan

kabel

tanah.

Transformator tersebut berada dalam tempat terpisah dengan pengaman


arresternya. Transformator diletakkan di atas tanah dan terhubung dengan arrester
yang tetap diletakkan di atas tiang melalui kabel tanah.
Tabel Batas Aman Arrester
IMPUL

BIL

BIL

S PETIR

ARRESTE

TRAF0

(KV)

(125 KV)

KONDISI

KETERANGAN

(150 KV)
Tegangan masih
di bawah rating

120 KV

< 150 KV

<125 KV

Aman

transformator
maupun arrester
Tegangan masih

125 KV

<150 KV

=125 KV

Aman

memenuhi
batasan
keduanya
Tegangan

130 KV

<150 KV

>125 KV

Aman

lebih

diterima arrester
dan dialirkan ke
tanah
Masih
memenuhi batas

150 KV

=150 KV

>125 KV

Aman

tegangan
tertinggi
bisa

200 KV

>150 KV

>125 KV

yang
diterima

Tidak

arrester.
Arrester

aman

transformator

rusak,

rusak
Berdasarkan keterangan diatas maka pemilihan BIL arrester harus
mempunyai kemampuan yang sama atau diatas tegangan BIL petir (150 kV),
sedangkan untuk BIL trafo dapat menggunakan BIL yang lebih rendah yaitu 125
kV.
Oleh karena itu dipilih arrester merk HUBBEELL OHIO BRASS , yang
mempunyai spesifikasi umum sebagai berikut:

Type
Voltage Nominal (Ur)
1,2/50 BIL

: 300620
: 24 kV
: 165 kVcr

(NB: Keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada katalog)

Pemilihan Arrester
Dalam hal ini pemilihan arrester yang digunakan untuk sistem tegangan
menengah yaitu arrester katup. Arrester ini terdiri dari atas beberapa sela
percik yang dihubungkan seri dengan resistor tak-linier. Resistor tak linier

mempunyai tahanan yang rendah bila dialiri arus besar dan mempunyai
tahanan yang besar saat dialiri arus kecil. Resistor tak-linier umumnya
digunakan untuk arrester yang terbuat dari bahan silikon karbid. Kerja
arrester ini tidak dipengaruhi keadaan udara sekitar karena sela percik dan
resistor tak-linier keduanya ditempatkan dalam tabung isolasi tertutup.
Buatan

: Elpro

Rated Voltage

: 21 kV

MCOV

: 17 kV

Ref. Voltage

: 21 kV

Arus pelepasan

: 5 kA

Switcing impulse

: 125 A

Karakteristik Pemilihan Cut Out


Karakteristik utama suatu cut-out adalah sehubungan dengan kebuuhan
antara waktu dan arus. Hubungan antara minimum melting dan maksimim
clearing time, ditentukan dari test data yang menghasilkan karakteristik waktu dan
arus. Kurva minimum melting time dan maksimum clearing time adalah petunjuk
yang penting dalam penggunaan fuse link pada system yang dikoordinasikan.
Melting time adalah interval waktu antara permulaan arus gangguan dan
pembusuran awal. Interval selama dalam masa pembusuran berakhir adalah
arching time. Sedangkan clearing time adalah melting time ditambah dengan
arching time.
Factor-faktor dalam pemilihan fuse cut-out
Penggunaan cut-out tergantung pada arus beban, tegangan, type system,
dan arus gangguan yang mungkinterjadi. Keempat factor diatas ditentukan dari
tiga buah rating cut-out, yaitu :
1) Pemilihan rating arus kontinyu
Rating arus kontinyu dari fuse besarnya akan sama dengan atau lebih besar
arus arus beban kontinyu maksimum yang diinginkan akan ditanggung. Dalam
menentukan arus beban dari saluran, pertimbangan arus diberikan pada kondisi
normal dan kondisi arus beban lebih ( over load ).
Pada umumnya outgoing feeder 20 kV dari GI dijatim mampu menanggung
arus beban maksimum 630 A, maka arus beban sebesar 100 A. pada cabang adalah
cukup. Di Jatim rating arus tertinggi cut-out adalah 100 A.
2) Pemilihan Rating tegangan
Rating tegangan ditentukan dari karakteristik sebagai berikut :

Tegangan system fasa atau fasa ke tanah maksimum.

System pentanahan.

Rangkaian satu atau tiga fasa.


Sesuai dengan teganga sisitem di Jatim maka rated tegangan cut-out dipilih

sebesar 20 kV dan masuk ke BIL 150 kV.


3) Pemilihan rating Pemutusan.

Setiap transformator berisolasi minyak harus diproteksi dengan gawai proteksi


arus lebih secara tersendiri pada sambungan primer, dengan kemampuan atau
setelan tidak lebih dari 250 %dari arus pengenal transformator.
Setelah melihat data- data diatas maka perhitungan pemilihan fuse cut-out
adalah sebagai berikut :

Arus untuk cut-out.


I co=

kVA (Trafo)
3 x 20 kV

I co=

1250 kVA
=36,084 A
3 x 20 kV

Nilai tersebut adalah nilai maksimum sedangkan dalam perencanaan ini


digunakan CO dengan perhitungan 120 % dikalikan dengan arus pengenal
transformator pada sisi primer, yaitu 43,3 A, 20 % diambil dari pertimbangan
factor pengembangan.
Rating arus kontinyu dari fuse besarnya dianggap sama atau lebih besar
dari beban kontinyu maksimal yang diinginkan / ditanggung. Oleh karena itu
dipili CO dengan arus sebesar 50 A.

Pentanahan Body Trafo, Sangkar Faraday, Body Cubicle, dan Kabel


N2XSEFGbY
Pentanahan body trafo, sangkar faraday, body kubikel, dan kabel
N2XSEFGbY harus mempunyai tahanan maksimum 5 ohm. Dalam pentanahan ini
menggunakan sistem pentanahan elektroda batang dengan catatan :
1. Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis 100 ohm /
meter
2. Menggunakan sistem pentanahan dengan konfigurasi triangle
3. Panjang elektroda = 1,5 m
4. Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda
Supaya batang elektroda tidak terlalu panjang maka dalam perencanaan
pentanahan ini metode yang digunakan adalah metode triangle. Untuk
merencanakan metode pentanahan tersebut diketahui data sebagai berikut :
D = 14,2 mm = 0,142 m , r = 0,071 m
l

= 1,5 m

l = 3 m (Jarak)

= 100

Untuk menghitunga tahanan pentanahan maka terlebih dahulu menghitung


faktor pengali (k) sesuai dengan metode yang dipilih yaitu :
x=

1+l 1+3
=
=1,33
l
3

m=

k=

ln x ln 1,33
=
=0,0934
l
1,5
ln
ln
r
0,071

1+2 m 1+2( 0,0934)


=
=0,3956
3
3

Setelah melihat data data tersebut maka tahanan pentanahannya adalah, dapat
dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Rpt=

x k 100 x 0,3956
=
=2,099
2 L
2 3

Rpt = 2,099

Dengan menggunakan metode triangle maka tidak membutuhkan elektroda


yang terlalu panjang

Pentanahan Arester
Dalam perencanaan pentanahan ini metode yang digunakan adalah metode
triangle, untuk merencanakan metode pentanahan tersebut diketahui data data
sebagai berikut :
r

= 0,071 m

= 1,5 m

L = 3 m (jarak)

=100 /m

Untuk menghitung tahanan pentanahan maka terlebih dahulu menghitung


factor pengali (k) sesuai dengan metode yang dipilih yaitu :
x=

1+ L 1+3
=
=1,33
L
3

m=

k=

ln x ln1,33
=
=0,0934
l
1,5
ln
ln
r
0,071

1+2 m 1+2( 0,0934)


=
=0,3956
3
3

Setelah melihat data data tersebut maka tahanan pentanahannya dapat


dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Rpt=

x k 100 x 0,3956
=
=2,099
2 L
2 3

Karena pada arrester tahanan maksimum adalah 1 ohm sedangkan hasil yang
di dapat 2,099

, maka elektroda diparalel agar mendapatkan nilai resistansi

dibawah batas maksimal.


1
1
1
1
3
=
+
+
=
Rpt 2,099 2,099 2,099 2,099
Rpt=

2,099
=0,699 memenuhi syarat
3

Pentanahan titik netral trafo, Panel MDP, Body Genset, Panel Genset
Pada pentanahan titik netral trafo, Panel MDP, Body Genset, Panel Genset
harus mempunyai tahanan maksimum 5 ohm. Dalam pentanahan ini,
menggunakan pentanahan sistem triangle. Diket :
r

= 0,071 m

= 1,5 m

L = 3 m (jarak)

=100 /m

Untuk menghitung tahanan pentanahan maka terlebih dahulu menghitung


factor pengali (k) sesuai dengan metode yang dipilih yaitu :
x=

1+ L 1+3
=
=1,33
L
3

m=

k=

ln x ln1,33
=
=0,0934
l
1,5
ln
ln
r
0,071

1+2 m 1+2( 0,0934)


=
=0,3956
3
3

Setelah melihat data data tersebut maka tahanan pentanahannya dapat


dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Rpt=

x k 100 x 0,3956
=
=2,099
2 L
2 3

PEMILIHAN GENSET

Daya Genset
Tenaga yang dicadangkan adalah sebesar 60%, jadi:
Daya Genset : 60% x Beban Total
: 60% x 1400
: 840 kVA
Jadi dipilih Genset dengan kapasitas sebesar 900 kVA, dimana pada
catalog tidak terdapat genset dengan daya 840 kVA. (lihat lampiran

halaman )
Rating Pengaman Genset
900 kVA
=
=1299 A
3 x 400
Untuk rating maksimal
2,5 x
2,5 x 1299

3247,5 A
Pengaman ACB yang dipilih adalah ACB TYPE NW16 1600A Icu

sebesar 50 kA
(lihat lampiran halaman)
Penghantar
KHA=1,25 x
KHA=1,25 x 1299

KHA=1623,8 A
Penghantar untuk Genset dipasang dengan catatan :
1. Menggunakan penghantar NYY 5 x ( 1 x 185 mm )
2. Suhu keliling penghantar adalah 35
3. Penghantar diletakkan pada Cable Tray dengan sirkulasi udara.
Menggunakan kabel NYY merk SUPREME 5 x ( 1 x 185 mm ) dengan
KHA 490A maka :
KHA sebenarnya=5 x 490 A=2450 A
Suhu keliling penghantar adalah 35 , maka KHA penghantar menjadi :
KHA=0,93 x 2450=2278,5 A

Dan penghantar diletakkan di Cable Tray dengan sirkulasi udara, maka KHA
menjadi:

KHA=0,96 x 2278,5 A=2187,36 A

(lihat lampiran halaman)

Busbar
KHA = 1623,8 A
Maka dipilih busbar 5 x ( 8 x 80 x 1 ) dengan KHA 1766 A

PEMILIHAN ATS
Jika sumber dari PLN mati maka Genset harus segera menyala untuk
menggantikan sumber PLN. Dan demikian juga sebaliknya apabila tiba tiba
sumber PLN masuk maka Genset harus segera off, karena genset dan PLN tidak
boleh bekerja secara bersamaan. Apabil sumber PLN dan genset masuk bersamaan
maka akan terjadi kerusakan. Oleh karena itu diperlukan sistem interlocking
antara PLN dan Genset. Dalam perencanaan alat ini, alat yang digunakan adalah
ATS. ATS merupakan alat yang digunakan atau alat yang dapat mentransfer atau
memindah secara otomatis antara PLN dan Genset. Sehingga lebih memudahkan
dalam pengoperasian karena lebih cepat dan menghindarkan terjadinya kerusakan
yang diakibatkan PLN dan Genset bekerja bersama sama.
Daya ATS yang digunakan dipilih yang sama dengan daya genset
yaitu 900 kVA.
=

900
=1299 A
3 x 400

Maka menggunakan ATS dengan spesifikasi :


Merk

= CATERPILLAR

Ampere rating
Pole

= 1600 A

= 3 Poles

PEMILIHAN UPS
1.

Daya UPS
Digunakan beban prioritas pada Cabang 1 karena pada cabang tersebut

diusahakan agar saat sumber dari PLN mati Cabang tersebut masih tetap
beroperasi sebelum sumber dipindah ke genset, sehingga :
Daya Beban Prioritas = Cabang 1 = 600 kVA

Kapasitas Daya = FK x Beban total terpasang


= 0,8 x 500 kVA
= 400 kVA
Maka dipilih UPS dengan spesifikasi :
Merk

: CATERPILLAR

Tipe

: UPS 300 SERIES

Kapasitas

: 500 kVA / 400 kW

Tegangan Input

: 400 V

2. Penghantar UPS
=

500
=759,6 A
3 x 380
KHA=1,25 x
KHA=1,25 x 759,6

KHA=949,5 A
Penghantar untuk Genset dipasang dengan catatan :
1. Menggunakan Penghantar NYY 3 x ( 1 x 150 mm )
2. Suhu keliling Penghantar adalah 35
3. Penghantar diletakkan dengan kabel Tray dengan sirkulasi udara.
Kabel yang digunakan NYY di udara 150 mm2 dengan KHA 430 A
Jumlah kabel=

949,5
=2,2 3 Penghantar
430

maka :
KHA sebenarnya=3 x 430=1290 A
Suhu keliling penghantar adalah 30, maka KHA penghantar menjadi
KHA=0,93 x 1290=1199,7 A
Penghantar diletakkan di kabel tray dengan sirkulasi udara, maka KHA
menjadi
KHA=0,96 x 1199,7=1151 A

Maka Penghantar menggunakan :

Supreme Cable

NYY 3 x ( 1 x 150 mm) /F


NYY 2 x ( 1 x 150 mm)/N
BC 1 x 70 mm

Sepatu kabel untuk kabel NYY 150 mm2 digunakan dengan ukuran diameter
E13 dan Mur dan baut dipilih dengan ukuran 7/16 inchi. (Lebih lengkap lihat
katalog)

PEMILIHAN PERANGKAT ATAU PERALATAN PADA KUBIKEL

Kubikel 20 kV adalah komponen peralatan untuk memutuskan dan


menghubungkan, pengukuran, tegangan, arus maupun daya, peralatan
proteksi dan control. Didalam perencanaan ini, pelanggan memesan
daya kepada PLN sebesar 865 kVA, pelanggan ini termasuk pelanggan
TM / TM / TR sehinga trafo milik pelanggan, rugi-rugi di tanggung
pelanggan, pengukuran di sisi TT dan trafo ditempatkan di gardu
distribusi.
Kubikel terdiri dari dua unit. Pertama adalah milik PLN (yang bersegel)
dan kubikel milik pelanggan (hak pelanggan sepenuhnya). Setiap
kubikel

terdiri

dari

incoming,

metering

dan

outgoing.

Pada

perencanaan ini, kubikel pelanggan dan PLN disamakan spesifikasinya,


karena selain PLN, pelanggan juga perlu memonitoring metering milik
pelanggan itu sendiri. Spesifikasi kubikel ialah:
Incoming : IMC Metering : CM2 Outgoing : DM1-A

1. INCOMING (IMC)
Terdiri atas LBS (load break switch), coupling kapasitor dan CT

LBS
Ialah pemutus dan penyambung tegangan dalam keadaan
berbeban, komponen berbeban terdiri atas beberapa fungsi
yaitu:
1. Earth Switch
2. Disconnect Switch
3. Load Break Switch
Untuk meng-energized, proses harus berurutan (1-2-3) dan
memutus beban harus dengan urutan kebalikan (3-2-1).

kVA trafo
x 115
3 x 20

1250
x 115
3 x 20

=41,49 A

Maka dipilih LBS pada rated voltage 24 kV untuk unit IMC 630

A.
Coupling Capasitor
Dalam penandaan kubikel membutuhkan lampu tanda dengan
tegangan kerja 400 kV. Karena pada kubikel mempunyai
tegangan kerja 20 kV, maka tegangan tersebut harus
diturunkan hingga 400 V menggunakan coupling capasitor

dengan 5 cincin.
Current Transformator (CT)

Trafo yang digunakan adalah trafo dengan daya 1250 kVA.


Sehingga arus nominalnya ialah:
In = 36,08 A
meter yang digunakan hanya mampu menerima arus sampai
5 A. Sehingga dibutuhkan trafo arus (CT) dengan spesifikasi:
1. Transformer For units IMC Transformer ARM2/N2F
2. Single Primary Winding
3. Double Secondary Winding Untuk Pengukuran dan
Pengaman
4. Arus rating : 50

2. METERING (CM)

Terdiri atas LBS type CS, busbar 3 phasa, LV circuit isolation


switch, LV fuse, 3 fuse type UTE atau DIN 6.3 A, heater 150 W
(karena daerah degan tingkat kelembaban tinggi).
- Load Break Switch type CS
Dioperasikan dengan pengungkit yang terdiri atas :
1. Earth switch
2. Disconnect switch
Auxiliary kontak untuk CM2 yaitu 10 + 2c
- Voltage transformator
Transformer VRC2 / S1 phase to phase 50 Hz
Reted voltege
: 24 kV
Primary voltage
: 20 kV
Secondary voltage : 100 V
Thermal power
: 500 VA
Kelas akurasi
: 0,5

Transformers VRC2/S1 (phase-to-phase) 50 or 60 Hz

Fuse
Fuse yang digunakan pada kubikel metering tergantung dari
tegangan kerja dan transformator yang digunakan. Setelah
melihat tabel seleksi fuse (katalog kubikel), fuse CF dengan
rating 100 A (standart DIN).

Heater 150 W
Heater digunakan sebagai pemanas dalm kubikel. Sumber
listrik heater ini berdiri sendiri 220 V-AC. Difungsikan untuk
menghindari flash over akibat embun yang ditimbulkan oleh
kelembaban di sekitar kubikel.

3. OUT GOING (DM1A)

Terdiri atas:
SF1 atau SF set circuit breaker (CB with SFG gas)
Pemutus dari earth switch
Three phase busbar
Circuit breaker operating mechanism
Dissconector operating mechanism CS
Voltage indicator
Three ct for SF1 CB
Aux- contact on CB
Connections pads for ary-type cables
Downstream earhting switch.
Dengan aksesori tambahan:
Aux contact pada disconnector
Additional enclosure or connection enclosure for cabling from
above
Proteksi menggunakan stafimax relay atau sepam progamable

electronic unit for SF1CB.


Key type interlock
150 W heating element
Stands footing
Surge arrester
CB dioperasikan dengan motor mekanis.

Pada pemilihan LBS untuk unit DM1-1 maka dipilih LBS pada rated
voltage 24 kV untuk unit DM1-A 20 kA.
Pemilihan CT untuk unit DM1 yaitu : Transformer ARJP1/N2F
dengan spesifikasi

Double primary winding


Single secondary winding for measurement and protection
Arus rating = 50/100

Lihat lampiran katalog kubikel

PERHITUNGAN KAPASITOR
Total Beban Keseluruhan

= 950kVA

Power Faktor

= 0,65

Total daya yang didapatkan = 950 x 0,65


= 617,5 kW
Akan dilakukan perbaikan power factor hingga 0,95

Perhitungan pemakaian
Pemakaian perbulan = 10jam / hari x 30 hari x 617,5 kW
= 185.250 kWh
Batas kVARh yang dibebaskan PLN
= 0,62 x 185.250
= 114.855 kWh
Perhitungan Investasi
Tanpa Kompensasi
cos = 0,65 maka tan = 1,17
Daya reaktif terpakai
= daya beban x tan
= 617,5 x 1,17
= 722,475 kVAR
Pemakaian daya reaktif / bulan
= 722,475 x 10jam / hari x 30 hari
= 216.742,5 kVARh
Denda kelebihan pemakaian daya reaktif
= (216.742 - 114.855) x Rp. 573
= Rp. 58.381.251,- / bulan

Dengan Kompensasi
cos = 0,95 maka tan = 0,33
Daya reaktif terpakai
= daya beban x tan
= 617,5 x 0,33
= 203,775 kVAR
Pemakaian daya reaktif / bulan
= 203, 775 x 10jam / hari x 30 hari
= 61.132,5 kVARh
Denda kelebihan pemakaian daya reaktif
= (61.132,5 - 114.855) x Rp. 573
= negatif

Dengan meningkatkan factor daya menjadi 0,95 maka kantor tidak


membayar denda ke PLN. Penghematan perbulan Rp. 58.381.251,- / bulan

Kapasitor Bank yang diperlukan


Q = 617,5 kW x (1,17-0,33) = 518,7 kVAR 550 kVAR
Sehingga menggunakan kapasitor Bank merk ABB (lihat lampiran
halaman)
5 step (@110 kVAR) dengan In = 200A

Pengaman Kapasitor (@Kapasitor 110 kVAR)


Qc
I n=
3 x 400
3

110 x 10
3 x 400

=158,8 A

I pengaman = In x 150% = 158,8 x 1,5 = 238,2 A


Jadi masing-masing kapasitor menggunakan MCCB SCHNEIDER

TYPE EZC250H dengan In = 225A


Pengaman utama Kapasitor
Qc tot
=
3 x 400
3

550 x 10
3 x 400

=793,8 A
I pengaman utama = In x 150% = 793,8 x 1,5 = 1190,7 A
Jadi pengamna utama kapasitor menggunakan ACB MASTERPACT

SCHNEIDER TYPE NW12 dengan In = 1250A


Penghantar Kapasitor
KHA kabel = 125% x In = 1,25 x 158,8 = 198,5
Maka menggunakan penghantar kabel NYY 3 x (1 x 50mm2) dengan In
205A
Perhitungan Kontaktor
Arus puncak = 200% x In = 200% x 158,8 =317,6 A
Menggunakan kontaktor TEYS CONTACTOR TYPE LC1F330 dengan Ie
max = 330A