You are on page 1of 6

MEDIA PROMOSI KESEHATAN

Pengertian
Media pendidikan kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk
menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh
komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronik dan media luar
ruang, sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuannya yang akhirnya
diharapkan dapat berubah perilakunya kearah positif terhadap kesehatan
(Notoatmodjo, 2005). Media pendidikan kesehatan pada hakikatnya
adalah alat bantu pendidikan. Alat-alat tersebut merupakan alat untuk
memudahkan penyampaian dan penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi
masyarakat (Fitriani, 2011).
Kegunaan
Biasanya alat peraga digunakan secara kombinasi, misalnya
menggunakan papan tulis dengan photo dan sebagainya. Tetapi dalam
menggunakan alat peraga, baik secara kombinasi maupun tunggal, ada
dua hal yang harus diperhatikan, yaitu :

Alat peraga harus mudah dimengerti oleh masyarakat sasaran


Ide atau gagasan yang terkandung di dalamnya harus dapat
diterima oleh sasaran Alat peraga yang digunakan secara baik
memberikan keuntungan-keuntungan :
Dapat menghindari salah pengertian/pemahaman atau salah tafsir.
Dengan contoh yang telah disebutkan pada bagian atas dapat
dilihat bahwa salah tafsir atau salah pengertian tentang bentuk
plengsengan dapat dihindari.
Dapat memperjelas apa yang diterangkan dan dapat lebih mudah
ditangkap.
Apa yang diterangkan akan lebih lama diingat, terutama hal-hal
yang mengesankan. Dapat menarik serta memusatkan perhatian.
Dapat memberi dorongan yang kuat untuk melakukan apa yang
dianjurkan (Dinkes Sleman, 2011).

Jenis / Macam Media


Alat-alat peraga dapat dibagi dalam 4 kelompok besar :
1. Benda asli, yaitu benda yang sesungguhnya baik hidup maupun
mati. Merupakan alat peraga yang paling baik karena mudah serta
cepat dikenal, mempunyai bentuk serta ukuran yang tepat. Tetapi
alat peraga ini kelemahannya tidak selalu mudah dibawa ke manamana sebagai alat bantu mengajar. Termasuk dalam macam alat
peraga ini antara lain :

a. Benda sesungguhnya, misalnya tinja di kebun, lalat di atas


tinja, dsb
b. Spesimen, yaitu benda sesungguhnya yang telah diawetkan
seperti cacing dalam botol pengawet, dll
c. Sample
yaitu
contoh
benda
sesungguhnya
untuk
diperdagangkan seperti oralit
2. Benda tiruan, yang ukurannya lain dari benda sesungguhnya. Benda
tiruan bisa digunakan sebagai media atau alat peraga dalam
promosi kesehatan. Hal ini dikarena menggunakan benda asli tidak
memungkinkan, misal ukuran benda asli yang terlalu besar, terlalu
berat, dll. Benda tiruan dapat dibuat dari bermacam-macam bahan
seperti tanah, kayu, semen, plastik dan lain-lain.
3. Gambar/Media grafis, seperti poster, leaflet, gambar karikatur,
lukisan, dll.
a. Poster
Adalah sehelai kertas atau papan yang berisikan gambargambar dengan sedikit katakata. Kata-kata dalam poster
harus jelas artinya, tepat pesannya dan dapat dengan mudah
dibaca pada jarak kurang lebih 6 meter. Poster biasanya
ditempelkan pada suatu tempat yang mudah dilihat dan
banyak dilalui orang misalnya di dinding balai desa, pinggir
jalan, papan pengumuman, dan lain-lain. Gambar dalam
poster dapat berupa lukisan, ilustrasi, kartun, gambar atau
photo. Poster terutama dibuat untuk mempengaruhi orang
banyak, memberikan pesan singkat. Karena itu cara
pembuatannya harus menarik, sederhana dan hanya berisikan
satu ide atau satu kenyataan saja. Poster yang baik adalah
poster yang mempunyai daya tinggal lama dalam ingatan
orang yang melihatnya serta dapat mendorong untuk
bertindak.
b. Leaflet
Leaflet adalah selembaran kertas yang berisi tulisan dengan
kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan
gambar-gambar yang sederhana. Ada beberapa yang disajikan
secara berlipat. Leaflet digunakan untuk memberikan
keterangan singkat tentan suatu masalah, misalnya deskripsi
pengolahan air di tingkat rumah tangga, deskripsi tentang
diare dan penecegahannya, dan lain-lain. Leaflet dapat
diberikan atau disebarkan pada saat pertemuanpertemuan
dilakukan seperti pertemuan FGD, pertemuan Posyandu,
kunjungan rumah, dan lain-lain. Leaflet dapat dibuat sendiri
dengan perbanyakan sederhana seperti di photo copy.
4. Gambar alat optik. seperti photo, slide, film, dll
a. Photo

Sebagai bahan untuk alat peraga, photo digunakan dalam


bentuk :
i. Album, yaitu merupakan foto-foto yang isinya
berurutan, menggambarkan suatu cerita, kegiatan dan
lain-lain. Dikumpulkan dalam sebuah album. Album ini
bisa dibawa dan ditunjukan kepada masyarakat sesuai
dengan topik yang sedang di diskusikan. Misalnya album
photo yang berisi kegiatan-kegiatan suatu desa untuk
merubah kebiasaan BABnya menjadi di jamban dengan
CLTS sampai mendapat pengakuan resmi dari Bupati.
ii. Dokumentasi lepasan. Yaitu photo-photo yang berdiri
sendiri dan tidak disimpan dalam bentuk album.
Menggambarkan satu pokok persoalan atau titik
perhatian. Photo ini digunakan biasanya untuk bahan
brosur, leaflet, dll
b. Slide
Slide pada umumnya digunakan dengan sasaran kelompok
atau grup. Slide ini sangat effektif untuk membahas suatu
topic tertentu, dan peserta dapat mencermati setiap materi
dengan cara seksama, karena slide sifatnya dapat diulangulang
c. Film
Film lebih kearah sasaran secara masal, sifatnya menghibur
namun bernuansa edukatif (Dinkes Sleman, 2011).
Sedangkan media promosi kesehatan yang digunakan menurut
Notoatmodjo (2007) terdapat 3 macam media, antara lain :
1. Media bantu lihat (visual) yang berguna dalam menstimulasi
indra mata pada waktu terjadinya proses pendidikan. Dimana
media bantu lihat ini dibagi menjadi 2 yaitu media yang
diproyeksikan misalnya slide, film, film strip dan sebagainya,
sedangkan media yang tidak diproyeksikan misalnya peta,
buku, leaflet, bagan dan lain sebagainya.
2. Media bantu dengar (audio) dimana merangsang indra
pendengaran
sewaktu
terdapat
proses
penyampaian,
misalnya radio, piring hitam, pita suara
3. Media lihat-dengar seperti televisi, video cassete dan lain
sebagainya (Notoatmodjo, 2005).
Edgar Dale membagi alat peraga menjadi 11 macam dan
menggambarkan tingkat intensitas tiap alat tersebut dalam sebuah
kerucut (Notoatmodjo, 2005).

Gambar 1. Kerucut Edgar Dale (Notoatmodjo, 2005).

Dari kerucut tersebut dapat dilihat bahwa lapisan yang paling dasar
adalah pengalaman langsung sedangkan yang paling atas adalah simbol
verbal (kata kata). Hal ini berarti bahwa dalam proses pendidikan,
pengalaman langsung mempunyai intensitas yang paling tinggi untuk
mempersepsikan bahan pendidikan/promosi kesehatan. Sedangkan
penyampaian bahan yang hanya dengan kata kata saja sangat kurang
efektif
sebagai
bahan
peraga
pendidikan/promosi
kesehatan
(Notoadmodjo, 2005).
Menurut Levie & Lentz (1982) menjelaskan bahwa terdapat empat
fungsi yang didapatkan dari media visual, diantaranya fungsi atensi,
fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris.
1. Fungsi atensi sendiri dimaksudkan untuk menarik dan
mengarahkan siswa untuk berkonsentrasi terhadap isi
pelajaran yang berhubungan dengan makna visual yang
ditampilkan atau dapat berupa teks pelajaran.
2. Fungsi afektif berhubungan dengan tingkat kenyamanan siswa
dalam membaca atau melihat gambar yang sedang dibaca
dimana dari teks dan gambar tersebut dapat menggugah rasa
emosi dan sifat siswa misalnya informasi yang menyangkut
sosial dan ras.
3. Fungsi kognitif media visual terlihat 15 dari temuan-temuan
penelitian yang menggungkapkan bahwa lambang visual atau
gambar mempelancar pencapaian tujuan untuk memahami

dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam


gambar.
Sedangkan pada fungsi audio menurut Hamdani (2011) merupakan
suatu proses penyampaian pesan yang hanya didapat melalui
pendengaran yang dapat merangsang proses pikiran, perasaan, perhatian
dan kemampuan dari para siswa untuk memperoleh bahan ajar (Hamdani,
2011). Semakin banyak pancaindra yang digunakan, semakin banyak dan
semakin jelas pula pengertian atau pengetahuan yang diperoleh. Hal ini
menunjukkan bahwa keberadaan alat peraga dimaksudkan mengerahkan
indera sebanyak mungkin pada suatu objek sehingga memudahkan
pemahaman.
Menurut penelitian para ahli, pancaindera yang paling banyak
menyalurkan pengetahuan ke otak adalah mata (kurang lebih 75% - 87%),
sedangkan 13% - 25% pengetahuan manusia diperoleh atau disalurkan
melalui indra lainnya. Perpaduan saluran informasi melalui mata 75% dan
telinga 13% akan memberikan rangsangan yang cukup baik sehingga
dapat memberikan hasil yang optimal (Kapti, 2010).

Daftar Pustaka
Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, 2011. Media Promosi Kesehatan.
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Fitriani. S. 2011. Promosi Kesehatan. Ed 1. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. CV Pustaka Setia, Bandung
Kapti R.E., 2010. Efektifitas Audiovisual Sebagai Media Penyuluhan
Kesehatan Terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam
Tatalaksana Balita dengan Diare di Dua Rumah Sakit Kota Malang,
Program Studi Magister Ilmu Keperawatan FIK UI Depok. Tesis.

Levie, W. H. and Lentz, R.. 1982. Effects of text illustrations: a review of


research. Educational Communication and Technology. Journal 30,
195-232
Notoatmodjo, S., 2005, Metode Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta,
Jakarta.