You are on page 1of 86

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Program studi DIII Teknik Listrik sebagai salah satu pendidikan vokasi
mempunyai misi menghasilkan tenaga terampil yang menunjang kegiatan
ekonomi, harus dapat menempatkan diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dari sektor industri jasa maupun industri manufaktur. Program Studi DIII
Teknik Listrik diharapkan dapat mempersiapkan dasar yang kuat guna
menghasilkan lulusan yang memiliki sumber daya manusia yang berkualitas
dan berdaya saing dalam menghadapi era pasar bebas, sumber daya yang
mampu berkembang dan tanggap terhadap tuntutan dan persaingan dalam
dunia kerja yang makin kompetitif.
Untuk itu, pendidikan melalui bangku perkuliahan yang dikombinasikan
dengan pembelajaran di lapangan diharapkan dapat mempersiapkan dasar
yang kuat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam
menghadapi era pasar bebas, sumber daya yang mampu berkembang dan
tanggap terhadap tuntutan produk yang kompetitif dan keahlian yang dimiliki
oleh lulusan Program Studi DIII Teknik Listrik harus mencakup aspek
kompetensi professional (professional competence) serta aspek tingkah laku
professional (professional attitude). Kedua aspek tersebut dibentuk melalui
proses pendidikan baik yang diselenggarakan dalam kampus maupun di luar
kampus. Salah satu pelaksanaan pendidikan di luar kampus adalah Praktek
Kerja Lapangan (PKL).

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 1

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Kerja praktek dapat dikatakan sebagai ajang simulasi profesi mahasiswa


Teknik Industri. Paradigma yang harus ditanamkan adalah bahwa selama kerja
praktek mahasiswa bekerja di perusahaan yang dipilihnya. Bekerja, dalam hal
ini mencakup kegiatan perencanaan, perancangan, perbaikan, penerapan dan
pemecahanan masalah. Oleh karena itu, dalam kerja praktek kegiatan yang
dilakukan oleh mahasiswa adalah:
1. Mengenali ruang lingkup perusahaan.
2. Mengikuti proses kerja di perusahaan secara kontinu.
3. Melakukan dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh atasan, supervisor
atau pembimbing lapangan.
4. Mengamati perilaku sistem.
5. Menyusun laporan dalam bentuk tertulis.
6. Melaksanakan ujian kerja praktek.

Dengan diadakannya kegaiatan Praktek Kerja Lapangan ini akan


menambah nilai tambah bagi mahasiswa untuk dapat mengerti, mengetahui,
dan memahami proses-proses yang terjadi di dunia industri dari awal sampai
akhir sehingga dari proses kerja lapangan tersebut mahasiswa memperoleh
gambaran bagaimana caranya menerapkan ilmu yang telah diperoleh di
kampus ke dalam dunia kerja. Harapan utama dari penyelenggaran praktik di
dunia usaha / industri ini di samping keahlian professional mahasiswa dapat
meningkat sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia usaha / industri, juga
mahasiswa nantinya akan memiliki etos kerja yang meliputi kemampuan kerja,

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 2

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

motivasi kerja, inisiatif, kreativitas, hasil pekerjaan yang berkualitas, disiplin


waktu dan kerajinan dalam bekerja.
Pada setiap perusahaan besar yang mempunyai kebutuhan listrik tinggi
biasanya memiliki sisitem pembangkit listrik sendiri. Di CPP - Gundih sendiri
memiliki 4 unit Gas Turbin Engine (Kawasaki GPB30) dan 1 unit Generator
Diesel (Emergency Diesel engine). Dalam proses produksi, pembangkit itu
yang menyuplai tenaga listrik untuk operasi produksi sales gas. Untuk bahan
bakar utama pada engine didapatkan dari sebagian kecil produk gas yang
dihasilkan sehingga meningkatkan efisiensi perusahaan itu sendiri. Kontinuitas
serta kehandalan sistem lebih terjaga dibandingkan menggunakan listrik dari
PLN.
Dalam proses power plant sendiri tidak hanya sesederhana yang kita
bayangkan, sistem diharuskan mempunyai kehandalan untuk menjaga
kontinuitas proses. Untuk itu diperlukan orang-orang yang berkompeten serta
sistem maintenan yang baik untuk menunjang kelancaran unit. Dengan
kehandalan power plant maka losses produksi yang diakibatkan shut down
power plant bisa ditekan seminimal mungkin.

1.2 Tujuan
Secara umum tujuan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan adalah
agar mahasiswa dapat menerapkan dan membandingkan antara pengetahuan
teori maupun praktek yang didapat di bangku kuliah dengan pekerjaan
sebenarnya yang ada di lingkungan dunia usaha/ dunia industri.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 3

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Selain itu, dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan di harapkan dapat


meningkatkan

pengalaman

dan

pengetahuan

ketrampilannya

secara

professional sesuai dengan tuntutan dunia kerja dan perkembangan teknologi


yang berkembang di masyarakat. Adapun tujuan PKL bagi siswa adalah sbb:
1. Memiliki wawasan yang luas tentang kegiatan lingkungan industri yang
ada di Central Processing Plant - Gundih.
2. Mengetahui sistem tenaga listrik yang digunakan di Central Processing
Plant Gundih.
3. Memperhatikan kualitas dan tanggung jawab perkerjaan sesuai dengan
tuntutan profesi.
4. Mengetahui beban motor tegangan menengah sekaligus cara starting,
proteksi dan perawatannya.

1.3 Manfaat
1.3.1

Bagi Mahasiswa
1. Memperoleh pengalaman praktis tentang sistem operasi peralatan
yang diterapkan di CPP Gundih
2. Mengetahui terapan-terapan teori dan relevansinya.
3. Mengenal

dan merasakan sikap professional yang dibutuhkan di

dunia industri.
4. Menambah pengetahuan serta wawasan mahasiswa dalam dunia
kelistrikan,

khususnya

dalam

bidang

yang

dijadikan

pokok

permasalahan.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 4

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

5. Sebagai studi perbandingan antara teori dan praktek yang telah


didapatkan di bangku perkuliahan dengan kenyataan yang sebenarnya
di lapangan (dunia kerja).
6. Mengetahui secara lebih jelas mengenai kegiatan perusahaan
khususnya yang berkaitan dengan kelistrikan dan bisa mendapatkan
pengalaman kerja serta dapat berinteraksi dalam suatu team work.
7. Dapat mengukur kemampuan atau keterampilan yang dimiliki serta
mendapatkan pengalaman dan keterampilan baru.
8. Membantu mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman kerja secara
nyata dalam lingkap pekerjaan di lingkungan perusahaan.
9. Mendapatkan data-data yang detail dan akurat yang akan digunakan
dalam penyusunan laporan Praktek Kerja Lapangan, khususnya pada
bidang yang menjadi pokok permasalahan.
10. Dapat membina hubungan yang baik dengan industri sehingga
memungkinkan untuk dapat bekerja di industri tempat pelaksanaan
Praktek Kerja Lapangan tersebut setelah lulus dari kuliah.

1.3.2

Bagi Politeknik Negeri Malang


1. Mewujudkan visi dan misi Politeknik Negeri Malang
2. Merupakan salah satu evaluasi dari pencapaian materi yang telah
dikuasai oleh mahasiswa.
3. Memperoleh masukan dari perusahaan tempat Praktek Kerja Lapangan
sehingga program studi DIII Teknik Listrik Politeknik Negeri Malang

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 5

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

dapat memperbaiki kurikulum dan silabus agar menghasilkan lulusan


yang sesuai dengan kebutuhan di dunia kerja saat ini.
4. Memperkenalkan kampus kepada perusahaan atau instansi baik
pemerintah ataupun swasta dan lingkungan sekitarnya.
5. Dapat menjalin kerjasama dengan pihak perusahaan.
6. Memperoleh informasi dari industri atau perusahaan tentang peluang
lapangan kerja serta kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan.

1.3.3

Bagi Perusahaan
1. Sarana mengetahui kualitas pendidikan di perguruan tinggi negeri,
khususnya POLINEMA.
2. Sarana untuk mengenalkan teknologi industri pada dunia pendidikan.
3. Sarana untuk memberikan kriteria tenaga kerja yang dibutuhkan oleh
badan usaha terkait.

1.4 Batasan Masalah


Agar pembahasan laporan tidak terlalu luas maka perlu adanya
pembatasan masalah. Adapun dalam penyusunan laporan Praktek Kerja
Lapangan hanya meliputi Beban Motor 6,6 kV pada Biological Sulphur
Recovery Unit di CPP Gundih.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 6

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

1.5 Metode Pengambilan Data PKL


1. Metode literatur
Mahasiswa mendapatkan data-data yang sesuai dengan judul
penulisan laporan dalam bentuk soft copy bahan yang tersedia, ataupun
literature-literatur yang disediakan.
2. Metode diskusi
Diskusi dilakukan dengan dialog interktif atau tanya jawab langsung
kepada pembimbing teknis di lapangan.
3. Metode Observasi
Mahasiswa melakukan metode observasi langsung ke lapangan
dengan mengikuti berbagai arahan dan penjelasan pembimbing teknis.

1.6 Waktu dan Tempat


Sesuai dengan kalender akademik dari Politeknik Negeri Malang tahun
ajaran 2014/2015 dan kesepakatan oleh pihak Central Processing Plant
Gundih maka Praktik Kerja Lapangan dilaksanakan mulai tanggal 31 Juli
2015 sampai dengan tanggal 31 Agustus 2015.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 7

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Sejarah Berdirinya PT. Pertamina EP


PT PERTAMINA EP adalah perusahaan yang menyelenggarakan
kegiatan usaha di sektor hulu bidang minyak dan gas bumi, meliputi
eksplorasi dan eksploitasi. Di samping itu, PT PERTAMINA EP juga
melaksanakan kegiatan usaha penunjang lain yang secara langsung maupun
tidak langsung mendukung bidang kegiatan usaha utama.
Era 1800 : Awal Pencarian
Di Indonesia sendiri, pemboran sumur minyak pertama dilakukan oleh
Belanda pada tahun 1871 di daerah Cirebon. Namun demikian, sumur
produksi pertama adalah sumur Telaga Said di wilayah Sumatera Utara yang
dibor pada tahun 1883 yang disusul dengan pendirian Royal Dutch Company
di Pangkalan Brandan pada 1885. Sejak era itu, kegiatan ekspolitasi minyak
di Indonesia dimulai.
Era 1900 : Masa Perjuangan
Setelah diproduksikannya sumur Telaga Said, maka kegiatan industri
perminyakan di tanah air terus berkembang. Penemuan demi penemuan terus
bermunculan. Sampai dengan era 1950an, penemuan sumber minyak baru
banyak ditemukan di wilayah Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 8

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Tengah, dan Kalimantan Timur. Pada masa ini Indonesia masih dibawah
pendudukan Belanda yang dilanjutkan dengan pendudukan Jepang.
Ketika pecah Perang Asia Timur Raya produksi minyak mengalami
gangguan. Pada masa pendudukan Jepang usaha yang dilakukan hanyalah
merehabilitasi lapangan dan sumur yang rusak akibat bumi hangus atau
pemboman lalu pada masa perang kemerdekaan produksi minyak terhenti.
Namun ketika perang usai dan bangsa ini mulai menjalankan
pemerintahan yang teratur, seluruh lapangan minyak dan gas bumi yang
ditinggalkan oleh Belanda dan Jepang dikelola oleh negara.
1957 : Tonggak Sejarah Pertamina
Untuk mengelola aset perminyakan tersebut, pemerintah mendirikan
sebuah perusahaan minyak nasional pada 10 Desember 1957 dengan nama PT
Perusahaan Minyak Nasional, disingkat PERMINA. Perusahaan itu lalu
bergabung dengan PERTAMIN menjadi PERTAMINA pada 1968. Untuk
memperkokoh perusahaan yang masih muda ini, Pemerintah menerbitkan UU
No. 8 pada 1971, yang menempatkan PERTAMINA sebagai perusahaan
minyak dan gas bumi milik negara. Berdasarkan UU ini, semua perusahaan
minyak yang hendak menjalankan usaha di Indonesia wajib bekerja sama
dengan PERTAMINA. Karena itu PERTAMINA memainkan peran ganda
yakni sebagai regulator bagi mitra yang menjalin kerja sama melalui
mekanisme

Kontrak

Kerja

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Sama

(KKS)

di

wilayah

kerja

(WK)

Page 9

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

PERTAMINA. Sementara di sisi lain PERTAMINA juga bertindak sebagai


operator karena juga menggarap sendiri sebagian wilayah kerjanya.
Era 2000 : Perubahan Regulasi
Sejalan dengan dinamika industri migas di dalam negeri, Pemerintah
menerbitkan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi No. 22 tahun 2001.
Sebagai konsekuensi penerapan UU tersebut, Pertamina beralih bentuk
menjadi PT Pertamina (Persero) dan melepaskan peran gandanya. Peran
regulator diserahkan ke lembaga pemerintah sedangkan Pertamina hanya
memegang satu peran sebagai operator murni.
Peran regulator di sektor hulu selanjutnya dijalankan oleh BPMIGAS
yang dibentuk pada tahun 2002. Sedangkan peran regulator di sektor hilir
dijalankan oleh BPH MIGAS yang dibentuk dua tahun setelahnya pada 2004.
Di sektor hulu, Pertamina membentuk sejumlah anak perusahaan sebagai
entitas bisnis yang merupakan kepanjangan tangan dalam pengelolaan
kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak, gas, dan panas bumi, pengelolaan
transportasi pipa migas, jasa pemboran, dan pengelolaan portofolio di sektor
hulu. Ini merupakan wujud implementasi amanat UU No.22 tahun 2001 yang
mewajibkan PT Pertamina (Persero) untuk mendirikan anak perusahaan guna
mengelola usaha hulunya sebagai konsekuensi pemisahan usaha hulu dengan
hilir.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 10

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

2005 : Entitas Bisnis Murni


Atas dasar itulah PT Pertamina EP didirikan pada 13 September 2005.
Sejalan dengan pembentukan PT Pertamina EP maka pada tanggal 17
September

2005,

PT

Pertamina

(Persero)

telah

melaksanakan

penandatanganan Kontrak Kerja Sama (KKS) dengan BPMIGAS (sekarang


SKKMIGAS) yang berlaku surut sejak 17 September 2003 atas seluruh
Wilayah Kuasa Pertambangan Migas yang dilimpahkan melalui perundangan
yang berlaku. Sebagian besar wilayah PT Pertamina (Persero) tersebut
dipisahkan menjadi Wilayah Kerja (WK) PT Pertamina EP. Pada saat
bersamaan, PT Pertamina EP juga melaksanakan penandatanganan KKS
dengan BPMIGAS (sekarang SKKMIGAS) yang berlaku sejak 17 September
2005.
Dengan demikian WK PT Pertamina EP adalah WK yang dahulu dikelola
oleh PT Pertamina (Persero) sendiri dan WK yang dikelola PT Pertamina
(Persero) melalui TAC (Technical Assistance Contract) dan JOB EOR (Joint
Operating Body Enhanced Oil Recovery).
Dengan tingkat pertumbuhan produksi rata-rata 6-7 persen per tahun, PT
Pertamina EP memiliki modal optimisme kuat untuk tetap menjadi
penyumbang laba terbesar PT Pertamina (Persero). Keyakinan itu juga
sekaligus untuk menjawab tantangan pemeritah dan masyarakat yang
menginginkan peningkatan produksi migas nasional.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 11

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Saat ini tingkat produksi PERTAMINA EP adalah sekitar 127.635 barrel


oil per day (BOPD) untuk minyak dan sekitar 1.054 million standard cubic
feet per day (MMSCFD) untuk gas.
PT PERTAMINA EP juga memiliki beberapa sertifikasi. Sampai dengan
Desember 2011, telah dilakukan proses sertifikasi ISO 9001:2008 di 14
Lapangan yaitu Lapangan Cepu, Jatibarang, Subang, Tambun, Prabumulih,
Pendopo, Rantau, Pangkalan Susu, Bunyu, Sangatta, Papua, Limau, Tarakan
dan Sangasanga. Selain itu Sertifikat ISO 9001 juga diraih oleh 3 Fungsi di
PT PERTAMINA EP yaitu Supply Chain Management (Kantor Pusat),
Human Resources (Region Jawa) dan Keuangan (Region Jawa). Untuk
meningkatkan kinerja dan mencapai Operating Excellence di tahun 2014,
salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan sertifikasi menggunakan
standar internasional. Tahun 2011 lapangan yang telah berhasil mendapatkan
Sertifikat ISO 14001 dan OHSAS 18001 adalah Lapangan Rantau, Pangkalan
Susu, Prabumulih, Pendopo, Cepu, Jambi, Limau, Sangasanga Tarakan dan
Bunyu. Selain itu juga ada tujuh PROPER Hijau dari Kementerian
Lingkungan Hidup. Lapangan yang mendapatkan sertifikasi ini terdiri dari
beberapa lapangan yang dioperasikan oleh PERTAMINA EP yaitu lapangan
Rantau, Jambi, Tanjung, Subang dan Tambun. Serta dua lapangan yang
dikelola bersama mitra yakni TAC PERTAMINA - Semberah Persada Oil dan
TAC PERTAMINA Binawahana Petrindo Meruap.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 12

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

2.1.1 Pertamina EP Asset 4 Field Cepu


Proyek pengembangan gas Jawa-Cepu merupakan proyek pengembangan
lapangan gas Blok Gundih yang berasal dari struktur Kedungtuban,
Randublatung, dan Kedunglusi di wilayah Blora Jawa Tengah. Blok Gundih
saat ini memproduksikan 50 MMscfd yang akan disalurkan sebagai bahan
bakar pembangkit listrik di Tambak Lorok. Dengan penggunaan gas sebagai
bahan bakar untuk pembangkit listrik maka ada potensi penghematan Rp21,4
triliun dari selisih biaya penggunaan HSD dan gas bumi.
Selain menghemat biaya bahan bakar pembangkit, proyek ini juga telah
membuka lapangan kerja yang luas. Penyerapan tenaga kerja untuk proyek
tersebut mencapai 1.700 orang dengan 65% di antaranya merupakan
penduduk lokal.
Proyek ini juga memberikan value tersendiri dengan adanya Satu Central
Porcessing Plant Gundih yang merupakan Green Plant, karena didesain
dengan penggunaan own use/BBG yang efisien dan dapat mengurangi emisi.
Hal ini selaras dengan concern Pertamina untuk terus meningkatkan aspek
lingkungan dalam setiap pengelolaan operasi perusahaan.

2.1.2 CPP (Central Processing Plant) Gundih


Gas alam yang di ambil dari sumur-sumur gas tidak mungkin bisa
langsung digunakan untuk bahan bakar, oleh karena itu diperlukan suatu
sistem pengolahan gas agar gas yang diambil dari alam dapat digunakan
untuk bahan bakar. CPP (Central Processing Plant) Gundih merupakan suatu
field PT Pertamina EP yang bergerak di bidang pengolahan gas yang berada

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 13

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

di desa sumber kecamatan Kradean Blora, Jawa Tengah. Yang hasil


produksinya langsung di kirim ke power plant milik Indonesia Power di
Tambak Lorok melalui pipe line sepanjang 135 Km dengan gas sejumlah 50
MMSCFD selain itu sebagian gasnya juga digunakan untuk pemakaian
sendiri yaitu untuk bahan bakar Gas Turbine Generator (GTG).
Field ini memiliki 8 sumur gas di 3 daerah berbeda yaitu Kedungtuban
(KTB-01,KTB-02,KTB-03,KTB-04,KTB-06), Randublatung (RBT-01,RBT02), dan Kedunglusi (KDL-01). Dari ke-8 sumur tersebut yang masih bisa
dioperasikan hanya 4 buah sumur.
Input dari field ini adalah gas alam yang masih memiliki banyak
kandungan H2S dan CO2 yang merupakan gas yang harus di minimalkan
agar memenuhi syarat gas bahan bakar yang hanya memiliki kandungan H2S
= 3 ppm dan CO2 = 5% dari proses pemurnian gas ini dihasilkan output
berupa gas bahan bakar, disulfit oil, dan sulfur.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 14

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

2.2 Struktur Organisasi

Cepu Field Manager


702889 WRESNIWIRO

Secretary

Operation Planing
Assistant Manager
676256 FX. BAMBANG
E.K

Production Operation
Assistant Manager
744433 NDIRGA ANDRI
SISWORO

Cepu RAM Assistant


Manager
19012116 RINALDI
BURSIANO

Cepu HSSE Assistant


Manager

CPP Gundih
Supervisor

19010994 - SUPRIYADI

M. SIBRO
MUHLIS

Opperation Support
Assistant Manager

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 15

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

2.3 Visi dan Misi


Setiap perusahaan pastilah memiliki visi dan misi perusahaan. Visi dan
misi merupakan tujuan dari perusahaan dan alasan mengapa perusahaan itu
ada. Lewat visi dan misi maka perusahaan akan mengerti tentang
eksistensinya dan mejadi pedoman dalam bekerja.
Visi :
-

Menjadi perusahaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi


kelas dunia.

Misi :
-

Melaksanakan pengusahaan sektor hulu minyak dan gas dengan


penekanan pada aspek komersial dan operasi yang baik serta tumbuh
dan berkembang bersama lingkungan hidup.

Tata nilai (6C) :


1. CLEAN
Dikelola secara professional, menghindari benturan kepentingan, tidak
menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas.
Berpedoman pada asas-asas tata kelola korporasi yang baik.
2. COMPETITIVE
Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional,
mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar
biaya dan menghargai kinerja.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 16

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

3. CONFIDENT
Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam
reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa
4. CUSTOMER FOCUSED
Berorientasi pada kepentingan pelanggan dan berkomitmen untuk
memberikan pelayanan terbaik pada pelanggan.
5. COMMERCIAL
Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil
keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat.
6. CAPABLE
Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang professional dan memiliki
talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun
kemampuan riset dan pengembangan.

2.4 Kebijakan Perusahaan


PT PERTAMINA EP berkeyakinan bahwa penerapan prinsip-prinsip
dan praktik terbaik GCG merupakan suatu keharusan dalam rangka
mewujudkan visi menjadi World Class Company pada tahun 2014 yaitu
dengan akan diperolehnya manfaat sebagai berikut :
1. Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan
yang didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas,
independensi serta kewajaran dan kesetaraan.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 17

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

2. Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ


perusahaan.
3. Mendorong pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan anggota
Direksi agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya
dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan.
4. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan
terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar
perusahaan.
5. Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap
memperhatikan pemangku kepentingan lainnya.
6. Meningkatkan

daya

saing

perusahaan

secara

nasional

maupun

internasional
2.5 Wilayah Kuasa Pertambangan (WKP)

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 18

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 2.1 Wilayah Kuasa Pertambangan


PT Pertamina EP Field Cepu memiliki wilayah kerja seluas 973
km2 yang membentang dari Jawa Tengah bagian timur meliputi kabupaten
Blora hingga Jawa Timur meliputi Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan
Gresik. Lapangan produksi terdapat di daerah Kawengan, Nglobo, Ledok,
Semanggi, dan Banyuasin. Wilayah kuasa pertambangan (WKP) Cepu
diserahterimakan dari PPT Migas ke Pertamina pada tanggal 1 April
1988.

Sejak

tanggal

17

September 2005,

Perusahaan

telah

menandatangani Kontrak Kerja Sama dengan BPMIGAS (sebagai wakil


pemerintah, yang kini menjadi SKK Migas) untuk mendapatkan hak
pengelolaan Wilayah Kerja Pertambangan minyak & gas seluas
138.611 km2 dengan pola kerjasama bagi hasil dengan pemerintah. Dalam

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 19

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

mengelola

wilayah

kerjanya,

Perusahaan

membagi

operasionalnya

menjadi pengoperasian sendiri (own operation) dan melalui kerja sama


kemitraan. Dalam mengelola

dan mengoperasikan wilayah

kerjanya,

Perusahaan mengelompokan asset area eksplorasi dan asset area produksi


menjadi lima kawasan yakni Asset 1, Asset 2, Asset 3, Asset 4 dan Asset 5.
yang terdiri dari 19 Field, 4 proyek pengembangan migas, 7 area
unitisasi dan 52 area kontrak kerjasama kemitraan terdiri dari 27 kontrak
Technical Assistant Contract (TAC), 25 kontrak Kerja Sama Operasi (KSO).

2.6 Central Processing Plant (CPP) Gundih


2.6.1

Wellhead Flowline
Terdapat delapan (8) sumur gas produksi, dari masing masing sumur
selanjutnya dialirkan ke production atau test manifold melalui flowline
berukuran 4 x 6 inch dengan panjang yang bervariasi dari Xmas Tree
(Well Head) sampai header manifold. Keselurhan flowline didesain untuk
mengalirkan feed gas 75 MMSCFD.
Flowline disetiap sumur dilengkapi dengan High-Low Shut Down
Valve yang terletak dimasing-masing area well head dilengkapi dengan
tujuan untuk memproteksi flowline dalam hal terjadi tekanan berlebih dari
sumur produksi, proteksi ini diperlukan karena design pressure flowline
lebih rendah daripada production tubing sumur dan flowline terbuat dari
material tahan korosi (clad pipe).
Untuk kebutuhan pnumatic High-Low Shut Down Valve digunakan
gas N2 yang disimpan dalam botol-botol bertekanan. Sedangkan untuk
kebutuhan

menggunakan

energi

panas

matahari

(solar)

sebagai

pembangkit listrik.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 20

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Wellhead Control Panel (WHCP) untuk masing-masing sumur dan


flowline disediakan untuk mengontrol HLSDV sesuai dengan spesifikasi
yang ditentukan. WHCP berfungsi untuk mengaktifkan HLSDV jika
kondisi tekanan pada flowline melebihi batas maksimm/minimum
ditentukan WHCP. Juga dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran gas
(Leak Gas Detection) dan detektor api. Sumber catu daya sistem deteksi
kebocoran gas diperoleh dari solar panel yang di back up oleh batteray.
Detektor api dan detector gas serta audio dan visal alarm disediakan
sebagai instrument. Jika terjadi kebocoran gas area wellhead. Maka system
deteksi kebocoran gas akan mengaktifkan HLSDV untuk shutdown,
disamping itu juga mengaktifkan audio dan visual alarm.
WHCP ini adalah system stand alone, dan tidak ada komunikasi
dengan CPP. Operator (well & flowline checker) akan melakukan
pengecekan secara rutin pada daerah di sekitar wellhead tersebut setiap
dua jam sekali.
2.6.2

Inlet Manifold
Seluruh flowline akan menuju production dan test maniflod production
manifold dirancang untuk menampung seluruh production fluid well
sebanyak 75 MMSCFD. Sedangkan test manifold dirancang untuk
melakukan test terhadap production fluid dari satu sampai tiga well dengan
maximum flow 15 MMSCFD. Seluruh production dari production dan test
manifold selanjutnya dialirkan menuju gas separation unit (GSU).
Terdapat juga relief line dari masing-masing flowline menggunakan
pressure Safety Valve (PSV) dengan tujuan proteksi flowline. Set pressure
PSV lebih tinggi daripada set pressure Hi-lo Shut Down Valve.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 21

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 2.2 Intet Manifold


2.6.3

Gas Separation Unit (GSU)


Gas Separation Unit berfungsi memisahkan fluida 3 phase yang
mengalir dari sumur phase : gas, condensate, dan air terproduksi. Peralatan
utama Gas Separation Unit terdiri dari :
1. HP Separator (D-0101)
2. HP Test Separator (D-0102)

Gambar 2.3 HP Test Separator


3. HP Scrubber (D-0103)

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 22

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 2.4 HP Scrubber


4. LP Separator (D-0104)

Gambar 2.5 LP Separator


5. Inlet Cooler (E-0101)
6. Water Wash Column (V-0101)
7. Filter Separator (F-0101 A/B)

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 23

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 2.6 Filter Separator


8. Filter Coalescer (F-0102 A/B)
Fungsi utama dari unit separasi ini yaitu untuk memisahkan gas
umpan dari cairan baik kondensat maupun air terproduksi sehingga gas
siap diproses pada tahap selanjutnya. Selain itu jugas diharapkan feed gas
yang dihasilkan akan bersih dari partikel padat dan garam yang mungkin
terbawa.
HP Separator (D-0101) berbentuk bejana horizontal berfungsi untuk
memisahkan gas, condensate, air terproduksi. Sesuai dengan dokumen
teknis peralatan ini didesain untuk memisahkan fasa gas 75 MMSCFD,
liquid condensate BOPD dan air produksi 2500 BWPD. Peralatan ini
beroprasi pada 450 pslg;150F.
Condensate yang telah terpisahaan dialiran ke LP separator (D-0104)
sedangkan air terproduksi dialirkan ke Produced Water Injection Unit
masing-maing melalui level control valve. Tekanan operasi HP seaparator
tidak dibuat tetap, jika terkadi tekanan berlebih maka akan dialirkan
melalui PV (Pressure Valve). Namun tekanan keluar dibuat konstan
dengan menggunakan PV. LP Separator (D-0104) terdiri dari separator
horizontal tiga fasa berfungsi untuk memisahkan gas, condensate dan air
formasi yang berasal dari aliran kondensate dari HP Separator, Hoalescer
Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 24

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

dan Test Separator. Gas bisa terbentuk di LP Separator akibat flash karena
perlatan ini beroperasi pada 150 pslg;140F. Hasil separator berupa air
terproduksi dialirakan ke produced Water Injection Unit dan Kondensat
dialirkan ke Condensate Handling Unit masing-masing menggunakan level
Control vave. Sedangkan tekanan LP Separataor dibuat konstan
menggunkana PV.
Test Separator (D-0102) berfungsi untuk melakukan test terhadap satu
atau lebih sumur produksi. Peralatan in terdiri dari separator tiga fasa gas,
condensate, air terproduksi pada setiap outlet test separator dipasang
pengukur laju alir. Dengan demikian rasio gas dengan liquid dari suatu
sumur dapat diketahui. Kondisi operasi tekanan dan temperatur peralatan
ini sama dengan HP Separator. Test separator didesain dengan kapasitas
gas 15 MMSCFD. Produk kondensat setelah diukur selanjutnya dikirim ke
condensate, air terproduksi dikirim ke Produced Water Injection Unit
masing-masing menggunakan level control valve. Tekanan test Separator
dubuat konstan pada tekanan tertentu menggunakan PV supaya test sumur
bisa dilakukan pada kondisi yang stabil.
Inlet Cooler (E-0101) berfungsi menurunkan temperatur feed gas
sampai dengan 110F menggunakan medium pendingin udara agar proses
pemisahan pengotor dari gas didalam Unit AGRU bisa lebih efektif.
Diharapkan dengan penurunan temperatur ini akan terdapat fraksi berat
yang terkondensasi sehingga tidak masuk ke sistem AGRU. selain itu
proses penghilangan acid gas akan lebih optimum pada temperatur rendah.
Gas yang terkondensasi kemudian dipisahkan didalam HP Scrubber (D0103).

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 25

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Di HP Scrubber berfungsi untuk memisahkan gas dan cairan yang


terbentuk dari hasil kondensasi di Inlet Cooler. Produk cairan selanjutnya
dikirim ke LP Separator melalui level Control Valve. Gas selanjutnya
masuk ke re-Wash Column (V-0101).
Karena air terproduksi dari smur-sumur gas mengandung garam
klorida dalam kadar lebih tinggi, dimana sejumlah kecil air masih terbawa
oleh gas maka gas yang keluar dari HP Scrubber (D-0103) diumpan akan
terserap oleh air tawar. Air tawar akan disirkulasikan ke V-0101
menggunakan circulation Pump P-0101 A/B apabila telah jenuh dengan
garam maka sebagian di buang ke Produced Water Injection Unit. Selain
itu tterdapat fasilitas untuk menambah air tawar ke V-0101 (make up).
Jumlah air tawar yang masuk ke V-0101 disaring oleh filter Separator (f0101 A/B) dan filter coalesce (F-0102) untuk menghilangkan partikel kecil
padatan maupun tetesan cairan yang terlalu halus sehingga lolos dari
scrubber dan wash column namun cukup kasar untuk dapat ditangkap oleh
kedua alat tersebut. Filter separator dan filter coalescer masing-masing
dalam keadaaan beroperasi dan standby. Filter separator berfungsi
menangkap partikel padatan yang mungkin terbawa aliran gas sedangkan
coalascer berfungsi menangkap butiran-butiran cairan halus didalam fead
gas dalam bentuk aerosol juga menangkap hydrocarbon berat yang
terbawa oleh aliran. Dengan demikian fead gas yang masuk ke AGRU
dalam kondisi kering agar potensi terjadinya foaming dapat diminimize.
2.6.4

Condensate Handling Unit (CHU)


Seluruh kondensat dari unit LP Separator dikirim ke condensate
Stbilizer Column (V-0701) yang beroperasi pada tekanan 100 pslg. Fungsi

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 26

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

unit ini adalah untuk memperoleh kondensat stabil dengan RVP sebesar
maximum 12 psi dan kandungan H2S maksimum 10 ppm dengan cara
menghilangkan komponen - komponen yang mudah menguap. Unit ini
juga berfungsi untuk menghilangkan pengontrol H2S yang mercaptan dari
produk kondensat. Kondisi operasi condensate Stabilizer adalah 100-110
psig;390 F.

Gambar 2.7 Condensate Stabilizer Column


Tekanan 100-110 psig dipilih untuk optimasi dari gas striping.
Sedangkan temperatur operasi 390F berdasarkan simulasi pada tekanan
dan temperatur tersebut H2S dan mercaptan bisa lepas dari kondensat.
Panas yang diperlukan untuk pemisahan dipasok ke Reboiler
condensate Drum (D-0701) dengan menggunakan electric heater (H-0701
A/B) sebagai pemanas. Temperatur operasi condensate stabilizer dikontrol
oleh temperature controller yang akan mengatur junlah panas yang masuk.
Gas yang dilepaskan dari puncak condensate stabilizer dialirkan ke
thermal oxidizer melalui PV yang gunanya untuk mentain tekanan di
stabilizer, setelah dicampur melalui LV dialirkan ke condenste cooler (E0702 A/B) dan disimpan di condensate storage tank (T-0701 A/B/C).

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 27

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 2.8 Condensate Storage Tank


Terdapat sedikit gas terbentuk dalam aliran yang menuju tangki
kondensat akan tetapi gas tersebut akan terlepaskan jika tangki kondensat
beroperasi melebihi tekanan normal.
Sebelum unit metering package dipasang untuk memantau dan
merekam kuantitas total kondensat yang dikirim ke PT PERTAMINA EP
CEPU dengan truk tangki sebanyak 10-12 kali pengiriman tiap hari pada
kapasitas truk 8000 liter.
2.6.5

Acid gas Removal Unit (AGRU)


Peralatan utama yang terdapat di sistem AGRU antara lain :
1. Absorber Column (V-0201)

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 28

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 2.8 Absorber Column


2. Solvent Acid Gas HP Flash Drum (D-0203)

Gambar 2.9 Solvent Acid Gas HP Flash Drum


3. Regenerator Column (V-0201)

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 29

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 2.10 Regenerator Column


4. Solvent Regenerator Reboiler (E-0204 A/B)

Gambar 2.11 Solvent Regenerator Reboiler


5. Lean Solvent Cooler (E-0201)
6. Lean / Rich Exchanger (E-0202 A/B)

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 30

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 2.12 Lean / Rich Exchanger


7. Filtration System
8. Overhead Regenerator Condenser (E-0203)
9. Treated Gas Cooler (E-0205)
10. Production Gas Wash Drum (D-0202)
Feed gas masuk melalui bagian bawah absorber Column (V-0201) dan
kontak dengan lean solvent yang berupa ucarsol @AP-814 (455 wt) dingin
yang telah diregenerasi yang masuk kedalam absorber column melalui
bagian atas kolom. acid gas yaitu feed gas yang mengandung CO 2 dan
H2S akan diserap dari phasa gas kedalam phasa liquid pada saat feed gas
mengalir melalui absorber column. Untuk meminikan adanya amine yang
terbawa oleh gas maka product Gas Wash Drum (D-0202) dipasang setelah
absorber column untuk dilakukan Water Wash yakni dengan
mengalirkan demin water dari bagian atas D-0202 yang disirkulasikasi
internal oleh Wash water Pump, amine yang tertangkap dialirkan menuju
HP Flash Drum sedangkan treated gas yang keluar dari sisi atas D-0202
selanjutnya dikirim ke HP Flash Drum (D-0203) untuk menglilangkan
hydrocarbon dari solvent hasil dari co-absorpion solvent dengan acid gas,

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 31

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

hydrocarbon gas keluar dari bagian atas flash column (V-0203) mengalir
menuju Thermal Oxidizer.
Solvent dari HP flash Drum dikirim ke lean / Rich Solvent Exchanger
(E-0202), dimana temperatur solvent dinaikan dengan cara menukar panas
dengan lean solvent yang datang dari bagian bawah regenator column (V0202) melalui Solvent Booster Pump (P-0202 A/B). Kemudian rich solvent
dari lealrich exchanger dialirkan ke regenarator column. Didalam
regenerator column solvent di regenarator Reboiler (E-0204 A/B).
Regenerator reboiler menggunakan pemanas hot oil untuk memanaskan
sebagian regenerasi solvent dibagian bawah kolom.
Gas Asam dari regenerator colom dikondensasikan secara parsial oleh
over head regenerator condenser dan mengalir menuju overhead
accumulator reflex Drum (D-0204). Kondensat yang terbentuk dalam
reflex Drum dikembalikan ke dalam Regenerator Column sebagai reflux
dan gas alam dari bagian atas reflux Drum dikirim ke BSRU.
Lean solvent dari bagian bawah regenerator column dikirim ke LeanRich Exchanger (untuk diturunkan temperaturnya) melalui lean Booster
Pump

(P-0202

A/B).

Selanjutnya

lean

solvent

diturunkan

lagi

temperaturnya didalam lean solvent cooler (E-0201). Sebagian kecil aliran


lean solvent diambil setelah lean solvent dan disaring dengan solvent prefilter (F-0201 A/B), solvent carbon filter (F-0202) dan solvent after filter
(F-0203). Lean solvent yang telah disaring dikembalikan ke suction dari
solvent Charge Pump (P-0201 A/B/C).

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 32

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Sirkulasi Ucarsol solution yang diperlukan mencapai 370 M3/HR


dengan kebutuhan energi di reboiler mencapai 76 MMBTUIHR. Untuk
flow feed gas 75 MMSCFD diperoleh produk sweet gas 60 MMSCFD.
2.6.6

Caustic Treated Unit (CTU)


Caustic Treater Unit (Merox) dirancang untuk menghilangkaan
mercaptant dari treated gas keluaran AGRU dan caustic unit terdiri dari
bagian-bagian sebagai berikut :

Gambar 2.13 Combination Column


Prewas section, diarea bagian bawah dari kombinasi kolom (V-0301),
dimana aliran gas dari AGRU dimasukkan untuk penghilangan residu CO 2
dan H2S. Gas naik melalui try prewash column dimana gas dikontakkan
dengan larutan 10 baume (~1.065 et %) NaOH (caustic). Make-up 20
baume caustic diisikan kedalam bagian bawah vessel. Larutan caustic yang
telah terpakai dialirkan kedalam sebuah spent caustic degassing drum (V0302) yang kemudian dialirkan ke WAO (Wet air Oxidation) melalui spent

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 33

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

caustic pump (P-0302 A/B) untuk ditreatment sebelum cairan yang sudah
dinetralkan dibuang ke sumur injeksi RBT-03.

Gambar 2.14 Disulfide Separator


Extraction Section, bagian yang berada diatas prewash section,
dimana terdapat kontak secara counter current dengan generasi 20 baume
yang telah diregenerasi yang masuk melalui bagian atas dari extraction
section. Melalui kontak counte cyrrent antara caustic dengan gas umpan,
maka mercaptant akan diabsorp kedalam larutan caustic. Terdapat 3 atau
lebih tahapan ekstraksi yang termasuk kedalam unit merox. Hal ini untuk
memastikan maksimum desulfurasi dengan minimum laju sirkulasi caustic.

Gambar 2.15 Caustic Heater

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 34

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Water Wash Section -

water wash section ditempatkan diatas

Extraction Section. Gas dari bagian Extraction Section naik melewati


trayed water wash, dimana air disirkulasi secara counter current untuk
menghilangkan butiran butiran halus cairan caustic yang terbawa oleh
gas tersebut. Air secara terus menerus diumpankan kedalam sirkulasi
caustic pada bagian water wash untuk mendapatkan konsentrasi caustic
sirkulasi sebesar 10 Baume.

Gabar 2.16 Oxidizer


Regeneration Section termasuk oxidizer (V-0303), disulfide
separation (D-0302), Disukfide Sand Filter (F-0301). Waash Oil Settler
and Vent KO Drum (D-0304). Rich solvent banyak mengandung
mercaptant, dan juga mengganggu catalyst merox, dikirim kebagian
regenerasi dimana udara diinjeksikan dan mercaptant yang ada dioksidasi
menjadi sulfide. Disulfide setelah itu diisahkan dari solvent dengan cara

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 35

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

memutar, gravitasi dan didekantasi, regenerasi lean caustic dikembalikan


kedalam combination column.
Disulfide Oil yang terbentuk akan ditampung didalam sulfide oil
storage tank (T-0301) yang kemudian akan dikirim ke area lain (P3
menggung) dengan menggunakan truk tangki.

Gambar 2.17 Vent KO Drum

2.6.7

Dehydration Unit (DHU)


Dehydration Unit adalah unit untuk menurunkan kadar air yang
terdapat dalam treated gas sehingga memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.
Dehydration unit menggunakan media pengering Triethylene Glycol
(TEG) merupakan proses yang sudah umum digunakan pengolahan gas.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 36

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 2.18 Triethylene Glycol


Treated gas mengalir melewati knockout section dari gas / glycol
contractor untuk menghilangkan cairan yang terbawa, treated gas mengalir
keatas melewati chimney tray masuk kedalam absorption section dari gas /
glycol contractor. TEG diumpankan dari bagian atas contactor mengalir
kebawah dan menyerap air dari treated gas. Gas yang telah kering
meninggalkan bagian atas contractor dan digunakan sebagai pendingin
umpan glycol pada gas / glycol exchanger.
Rich glicol mengalir keluar dari bagian bawah contractor dan harus
dipekatkan lagi sebelum digunakan lagi untuk penyerapan air pada glycol
regeneration section yakni dengan memanaskan pada glycol reboiler
berikut

perangkat

pemishan,

penyaringan

dan

heat

exchanger

pendukungnya sehingga air terserap dengan glycol menguap dalam glycol


still column. Gas yang telah memenuhi persyarattan air, CO2, H2S tertentu
selanjutnya dialirkan ke custody meter.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Gambar 2.19 Glycol Flash Separator

Page 37

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 2.20 Glycol Reboiler / Surge Tank

2.6.8

Biologycal Sulfur Recovery Unit (BSRU)


BSRU berfungsi untuk mengkonversi H2S yang diserap di AGRU
Gambar 2.21
Glycol
Reflux Condenser
Still Coloumn
menjadi elemental
Sulphur
menggunakan
bakteri/ Glycol
Thiobacillus.
Proses
yang digunakan menggunakan lisensi Shell Paques. Peralatan Utama yang
terdapat dalam Shulpur Recovery Unit adalah sebagai berikut :
1. H2S Absorber (V-0401 A/B)

Gambar 2.22 H2S Absorber


2. Bioreactor (R-0401)
Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 38

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

3. Sulphur Solidification (PE-0404)


4. Sulfur Melter (Y-0403)
5. Sulfur Bagging Package (PE-0405)

Lean
Solution

Settler Effluent

Gambar 2.23 Bioreactor, Sulphur Settler, Settler Effluent Tank.


Bioreactor
Lean Solution Tank
H2S Absorber berfungsi untuk menyerap gas yang mengandung H2S
Sulfur

cleh solvent caustic. Acid gas masuk dari bawah kolom absorber
sementara solution masuk dari atas kolom absorber. Gas Asam H 2S akan
terserap oleh solution. Dari bottom absorber selanjutnya solution dipompa
oleh rich solution circulation Pump P-040 A/B/C ke boireaktor R-0401
melalui Rich solution chiller (E-0401) untuk diturunkan suhunya. Acid gas
keluaran dari H2S Absorber selanjutnya dikirim ke theral oxidizer (PE0401) untuk dibakar menjadi SO2 dengan bahan bakar fuel gas. Udara
pembakaran di campurkan dilebihkan 25 26% dalam rangka mencapai
efisiensi destruksi acid gas yang optimum. Panas hasil pembakaran
dugunakan untuk memanaskan hot oil didalam WHRU Unit pada daerah
breeching (buritan) thermal ioxidizer. Recirculatoion line/ duct dan fan
blower juga disediakan pada antara keluaran dan masukan WHRU dalam
rangka memperoleh efisiensi therma yang lebih baik.
Sebelum masuk Bioreaktor solution didinginkan ke 102.2 F dengan
chilling waterdi Rich Solution Chiller E-0401. Temperatur outletnya

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 39

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

dikontrol dengan mengatur flowrate chilling water. Sirkulasi solition


mencapai 8365 gpm.
H2S yang terkandung didalam larutan yang berada dalam aerobic
boireactor dioksidasi menjadi elemental sulfur. Jadi pembentukan dari
elemental sulfur bukan pada absorber akan tetapi didalam bioreactor.
Aerobic Boireactor mengandung microorganisme thiobacillus yang
mengoksidasi sulfide yang terlarut menjadi elemental sulfur. Kebutuhan
udara untuk reaksi oksidasi disupply oleh bioreactor air Blower K-0401
A/B dimana outletnya didinginkan di E-0402 Air Blower Cooler.
Kebutuhan Udara Mencapai total 8750 Kf/jam.
Mulai dialirkan ke boireactor melalui bagian bawah. Ukuran
bioreactor mencapai 10 m (ID) X 23.5 m (H). Konversi H2S menjadi
elemental S adalah proses biologi, dan secara periodik biocatalyst
memerlukan nutrient ntk menjaga

performence tetap baik. Nutrient

termasuk kandungan garam tertentu diperlukan untuk bakteri tumbuh dan


menjaga performence.
Produk elemen sulfur selanjutnya dipisahkan dari solvent didalam
sebuah sulfur setler Y-0401 untuk dipisahkan secara grafitasi solution yang
ter-recovery selanjutnya dikirim ke Bioreactor. Sedangkan produk
elemental sulfur dengan kadar 10% dipompa ke Decanter Centrifugi PE0403 hingga dihasilkan kadar 50 60 %. Solution yang ter-recovery dari
decanter selanjutnya dikembalikan ke Bioreactor dan sebagian dikirim ke
water treatment (bleeding) karena mengandung garam-aram akibat
terjadinya reaksi samping seperti sodium sulphate, sodium thio sulphate.
Pemurnian shulpur selanjutnya dilakuan di Melter unit Y-0403. Unit
ini terdiri dari tangki pemurnian dimana sulfur slurry akan dicuci kembali

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 40

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

sehingga garam-garam yang menempel bisa terlepas selanjutnya sulfur


slurry dipanaskan menggunakan hot oil untuk menguapkan impurities
sehingga produk sulfur dengan kemurnian 99.8%.
Produk sulfur selanjutnya dikirim ke sulfur solidification unit (PE0404) untuk dirubah bentuknya dari molten sulfur menjadi pastillies. Di
unit ini sulfur akan didinginkan dengan chilling water dan masuk ke
rotofrom untuk dibentuk menjadi pastilles.
Proses selanjutnya adalah sulfur Bagging Package PE-0405 dimana
produk sulfur dimasukkan ke dalam kantong-kantong berukuran 1 Ton
untuk kemudian disimpan di gudang yang dirancang untuk menampung
selama 7 hari produksi shulpur, pengambilannya hanya dilakukan pada
siang hari.
Untuk menjaga alkalinitas dari larutan dan untuk memfasilitasi
penyerapan H2S maka larutan caustic ditambahkan kedalam sistem.
Larutan caustic yang ditambahkan mempunyai konsentrasi 20 -50 % wt
larutan. Jumlah larutan caustic yang ditambahkan adalah 21 ton/hari.
Ke dalam sistem BSRU juga ditambahkan sejumlah air sebagai
pengganti kehilangan air yang terbawa berasa bleed, penguapan didalam
absorber, reactor dan terikat bersama sulphur. Dalam massa Turn Around
Acid gas absorber dapat dikosongkan satu persatu dengan mengalirkan
solvent yang terdapat didalam absorber kedalam bioreactor. Alternatif
lainnya adalah dengan menyewa kontainer yang bersih untuk menampung
solvent dari absorber. Sedangkan untuk inspeksi bioreactor, solvent
didalam bioreactor dapat dialirkan ke peralatan lainnya dan jika tidak
mencukupi dapat menyewa kontainer yang bersih untuk menampung
solvent dari bioreactor.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 41

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Untuk detail prosedurnya akan dituangkan dalam manual. Solution


yang digunakan adalah Nutri mix 34/32 yang diperlukan untuk menjaga
thiobacillus bactery akan supply akan disupplay oleh paques BV.
2.7 Sistem Utilitas dan Offsite

2.7.1

Gambar 2.24 Sistem Utilitas dan Offsite


Bahan Bakar Gas (Fuel Gas System)
Selama operasi normal, sebagian dari sales gas digunakan sebagai
bahan bakar CPP. Selama periode black start dan star up tidak tidak
tersedia gas kadar gas asam rendah, sehingga digunakan minyak diesel.
Dengan mempertimbangkan hal ini, semua burner harus menerapkan
sistem duel fuel (bahan bakar ganda yakni gas alam dan minyak diesel).
Terdapat 2 (dua) sistem bahan bakar gas yaitu High Pressure yang dikirim
ke berbagai unit sesuai dengan kebutuhannya.
HP fuel gas diambil dari bagian dari sales gas melalui HP Fuel Gas
Scrubber (D-1001) sedangan LP fuel gas diambil dari aliran liran HP fuel
gas yang diturunkan tekanannya. HP fuel gas yang digunakan untuk bahan
bakar GTG dengan memfiltrasi dengan filter F-1001 A/B dan memanaskan
dengan pemanas listrik (H-1001 A/B) sebelum digunakan.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 42

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 2.25 Tangki T-1101 Diesel Fuel Storage


2.7.2

Sistem Pemanas (Hot Oil System)


Sistem ini dirancang untuk menyediakan sirkulasi media pemanas

yang digunakan untuk tujuan pemanasan reboiler di AGRU, sulfur


solidification, sulfur Melter, Caustic heater, WAO Unit. Sistem ini
termasuk sistem drainenase untuk aktifitas selama pemeliharaan.Peralatan
yang termasuk dalam sistem Pemanas adalah sebagai berikut :
1. Hot Oil Transfer Pump (P-1301 A/B/C)
2. Hot Oil Filter-2 (F-1302)
3. Hot Oil Expansion Drum (D-1301)
4. Hot Oil Return Pump (P-1303)
5. Hot Oil Filter-I (F-1301 A/B)
6. Hot Oil drain vessel (D-1320)
7. Emergency Hot Oil Transfer Pump (P-1304)
Untuk pengisian pertama, hot oil akan ditampung didalam hot oil drain
(D-1302). Hot oil dipompa ke dalam sistem dengan menggunakan Hot Oil
Return Pump P-1303 yang sebelum dilewatkan ke F-1302 untuk
menghilangkan berbagai partikel yang terbawa.
Hot oil akan disirkulasi dengan menggunakan Hot Oil Transfer pump
P-1301 A/B/C. Sebagian hot oil akan dikembalikan kebagian suction
melewati hot oil filter F-1301 A/B untk menghilangkan berbagai particle
yang terbawa yang kemungkinan akan mengganggu performance
pemanasan. Hot oil Expansion Drum D-1301 adalah horizontal vessel
yang digunakan sebagai ruang untuk mengembang karena kenaikan
temperature dari hot oil setelah dipanaskan didalam thermal oxidiser.
Drum berlokasi diposisi paling tinggi didalam hot oil sistem untuk
memfasilitasi venting gaas yang mungkin masuk kedalam sistem.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 43

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Temperatur hot oil adalah 350 F. Sebelum dan digunakan sebagai


pemanas reboiller di AGRU dan sistem lainnya untuk keperluan aktifitas
pemeliharaan atau kondisi lainnya disediakkan hot oil drainase. Hot Oil
Rentum Pump P-1303 akan beroperasi untuk mengalirkan hot oil drain
kembali ke sistem, tergantung dari temperaturnya.
2.7.3

System Utility and Instrument Air


Utility dan instrument air Sistem dirancang untuk memenuhi
kebutuhan utility dan instrument air yang jumlahnya memenuhi kondisi
normal dan abnormal dan juga untuk mencukupi waktu operasi pada saat
plant shutdown dalam kondisi aman.
Peralatan yang terdapat dalam sistem utilitasr dan instrument air
adalah sebagai berikut :
1. Air compressor package (K-1401 A/B)
2. Tility Air Reeeceiver (D-1401)
3. Air Dry Package (PE-1401)
4. Instrment Air Receiver (D-1402)
Utility dan instrument air disppaly dari 2 bah compressor yang satu
beroperasi dan yang satu stand by, dengan penggerak electric motor. Air
compressor package mempunyai tekanan discharge 140 psig.
Udara dari compressor dikirim ke vertical type uutility air Receiver D1401. Utility air dari receiver adalah 50 % dari dari total kebethuhan udara
dengan waktu tinggal 30 menit.
Air dryer Package PE-1401 terdiri dari dua pengering dengan jenis
desicant (sat operasi,sat stand-by), dengan otomatis reaktifis secara timed
cycle, pre and post filters, dan hcatless regeneration type. Package tersebut
untuk mendapatkan -40F

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 44

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Water dew point. Udara kering dari paket pengering mengalir ke


vertical type instrumentair receiver D-14002 dan kemudian didistribusikan
ke instrument air header. Kapasitas dari instrment air receiver adalah 50%
dari total kebuthan udara instrument dengan waktu tinggal 40 menit.
2.7.4

Penyedia Air dan Pengolahannya


Sistem ini dirancang untuk menyediakan demineralisecl water, potable
water, fire water, dan utility water yang diperlukan CPP pada saat
beroprasi. System ini terdiri dari :
1. Wall Water Pmps (P-1601 A/B)
2. Raw Water Filtering Package (PE-1601)
3. Raw Water Storage (T-1601)
4. Raw Water Tranfer Pumps (P-1602 A/B)
5. Demin Water Treatment Package (PE-1801)
6. Demin Water Storage Tank (T-1801)
7. Demin Water Distribution Pumps (P-1801 A/B)
8. Demin Water Make p Pump (P-1802 A/B)
9. Portable Water Treatment Package (PE-1701)
10. Domestic Water Storage Tank (T-1201)
11. Portable Water Pmps (P-1701 A/B)
12. Elevated Water Tank (T-1702)
13. Fire Water Pond (Y-1201)
14. Fire Water Main Pump (P-1201 A/B)
15. Jockey Pmp (P-2002)
Water untuk memenuhi kebutuhan CPP diambil dari sumur dalam
dengan menggunakan Well Waer ke Raw Water Pmp P-1601 A/B berjenis
submerged pumps Raw water ke Raw Water Filtering Package nit (PE1601) yang kemudian ditampung di dalam Raw Meter storage Tank (T1601) dan untuk pengisian fire water pond untuk air pemadaman. Raw
meter kemudian dipompa ke demain Water Treatment Package dan Potable
Water Treatment Package dan distribsi ke tility water header oleh raw
water Transfer Pump P-1602 A/B.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 45

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Demin water dihasilkan dengan mengolah raw water melalui Demin


Water

Treatment

Package

menggunakan

media

cation

anion

exchange.Produk air demin disimpan di demin water storage Tank T-1801


yang memiliki kapasitas penyimpanan 2 hari kebutuhan. Air demin
selanjutnya dikirim ke GSU, AGRU dan BSRU menggunakan Demin
Water Distribtion Pmp, P-1801 A/Bdan Demin Water Make-Up Pmps P1802 A/B.
2.7.5

Chilling Water
Untuk kebutuhan pendinginan yang tidak bisa dicapai oleh air Fin
Cooler, terutama yang memerlukan temperatur dibawah temperatur udara
lingkungan maka digunakan air pendingin dengan tenperatur 68 F. Air
pendingin ini di suplay dari chilling Water Package yang terdiri dari
refrigation unit lengkap dengan chiller, chilling Water Tank, dan Chilling
Water Pump.

Gambar 2.26 Chilling Water

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 46

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 2.27 Panel Chilling Water


2.7.6

Nitrogen System
Gas nitrogen diperlukan pada saat precommissioning/ commisioning
seperti untuk kebutuhan purging dan operational seperti blanketing dan
pneumatic di area well head. Nitrogen System terdiri dari nitrogen
Generator Package dan Nitrogen Bottle Rack. Untuk kebutuhan tersebut
nitrogen dihasilkan dari nitrogen Generator dan disediakan Nitrogen Bottle
Rack sebagai cadangan.

2.7.7

Wet Air Oxidation


Untuk memenuhi baku mutu lingkungan sesuai dengan kap Men LH
NO 4 tahn 2007 limbah cair yang akan dibuang ke lingkungan harus
diolah terlebih dahulu. Sehingga memenhi baku mutu limbah sesuai
dengan yang dipersyaratkan.
WWT (Water Waste Treatment) yang berfungi untuk mengolah limbah
yang dihasilkan dari air buangan yang disebut Bleed hasil dari pemisahan
elemental sulfur dan garam tidak stabil yang terlarut didalam BSR dan
Spent caustic yang merupakan buangan dari Castic Treater unit Teknologi
yang digunakan adalah Wet Air Oxidation.

2.7.8

Closed Drain System


Untuk menampung cairan hydrocarbon yang dibuang dari peralatan
yang bertekanan dan mengandung gas berbahaya maka disediakan closed

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 47

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

drain system. Semua cairan akan dikumpulkan dalam closed drain drm (D34021). Cairan terkumpul mengandung minyak/kondensat akan dialirkan
kembali ke LP separator dan ke liquid disposal pit jika diperlukan untuk
dimusnahkan.
2.7.9

Open Drain System


Open drain system Akan menampung cairan dari pemeliharaan
peralatan yang mengandung minyak. Open drain pipa utama akan
mengalirkan cairan-cairan tersebut ke API separator secara grafity.
Didalam API separator (Y-3001) cairan akan dipisahkan antara cairan
yang mengandung minyak dan air.
Air keluaran dari API Separator yang memungkinkan masih
mengandung minyak akan dialirkan ke CPI Separator untuk memenuhi
baku mutu air bangan dengan kadar kandungan minyak dan lemak sebesar
15 mg/L, kadar COD menjadi 160 mg/L dan kadar TDS menjadi 4000
mg/L 15 ppm. Cairan minyak akan dialirkan ke liquid disposal untuk
dimusnahkan.

2.7.10 Flare System dan Liquid Disposal System


Didalam CPP terdapat satu flare system yang dapat melayani 2 header
berbeda yaitu HP flare dan Acid gas Flare. Diperlengkap dengan flare
stack dan flare tip beserta ignition system yang digabung menjadi sat. HP
flare system berfungsi untuk mengalirkan bangan gas ari peralatan yang
bertegangan tinggi,baik dari safety valve maupun blowdown valve. Gas
dari tiap flare header akan mengalir ke HP flare KO drm D-3301, didalam
HP Flare KO Drm butiran butiran cairan yang terbentuk dikarenakan
adanya perubahan tekanan dikumpulkan dan setelah pada level tertentu
maka cairan yang tekumpul akan dialirkan ke LP Separator. Acid gas flare

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 48

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

berfungsi untuk menangani buangan gas acid yang kesemuanya


bertekanan rendah yaitu di bawah 100 psig.
Pada umumnya peralatan yang mempunyai

tekanan

rendah

mengandung gas asam dengan konsentrasi yang tinggi. Gas akan mengalir
ke header dari acid gas flare yang kemudian juga menuju acid gas flare
KO drm D-3301. Didalam acid flar KO drum gas dipisahkan dari cairan
yang kemudian dibakar di flare stack yang diperlengkapi oleh flare tip.
2.7.11 Sistem Bahan Bakar Diesel
Sistem bahan bakar diesel dirancang untuk mensuply kebutuhan total
dari bahan bakar diesel, yang terutama untuk emergency generatar
package dan diesel file water pump. Pada tahap start up bahan bakar diesel
disediakan untuk menghidupkan peralatan yang memerlukan bahan bakar
gas, sementara gas bersih belum tersedia dalam jumlah yang cukup
peralatan yang masuk kedalam system bahan bakar diesel sbb:
1. Diesel fuel setorage Tank ( T 1101).
2. Diesel Fuel Distribution Pump ( P 1101 A /B )
3. Diesel Fuel filter ( F -1101)
Kapasitas diesel fuel sytem dirancang mencukupi kebutuhan pada
waktu black start up selama fuel gas tidak tersedia. Pada saat black start up
peralatan peralatan seperti emergency Diesel (G-1202), GTG (G-1201),
Thermal oxidizer (PE-0401), dan diesel water pump (P-1201),Glycol
reboiler memerlukan diesel sebagai bahan bakar. Untuk persediaan pada
tahap start up maka diesel fuel akan ditampung dalam Diesel Storage Tank
(D -1101).
2.7.12 Distributed Control System (DCS)

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 49

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Akan

melaksanakan

fungsi

pengendalian

dan

pengawasan

(monitoring) proses dari gas proses dan fasilitas pendukungnya, yang ada
di CPP gundih.
DCS dirancang dengn redudent power supply, processor, control
network dan beberapa input / output kritis, dengan mode bump-less, yang
terintegrasi dengan system emergency shutdown system (ESS) dan fire &
Gas System (FGS) pada control network melalui gateway atau serial. DCS
juga memilik interface dengan sub system yang disediakan oleh paket
equipment melalui modbus RS-485 (untuk indikasi dan status). Serta
koneksi hardwire untuk interlock signal.
DCS juga memiliki interfacce dengan MCC, Switcgear melalui
komunikasi serial atau hardwire, untuk memperoleh status motor dan
status switcgear. Perintah start dan stop yang keduanya jika dibutuhkan
untuk diaktifkan dari DCS harus berupa hardwire dari DCS ke MCC
melalui panel interposing relay.
2.7.13 Emergency Shutdown System (ESS)
ESS disediakan untuk keselamatan dan perintah shutdown dari CPP
sebagaimana ditujukan pada P&ID. ESS berbasis PLC, digunakan untuk
melaksanakan fungsi secara berurutan perintah shutdown, yang meliputi
level shutdown peralatan (equipment shutdown), shutdown unit proses
(proses shutdown) dan emergency shutdown. Untuk keperluan monitoring
di DCS HMI, ESS dihubungkan ke DCS network control melalui
gaeteway maupun serial. Dengan demikian ESS dapat dimonitor secara
penuh,dimana status peralatan instrument sefety, juga dapat dimonitor
pada layar HMI secara bersamaan. Perintah shutdown ke MCC digunakan
melalui hardwire. Peralatan utama ESS memiliki sertifikasi SIL-3.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 50

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

2.7.14 Fire and Gas System (FGS)


FGS disediakan adalah PLC blased, digunakan untuk pendeteksian api
dan atau gas bocor didalam fasilitas fasilitas proses dan mengaktifkan
peringatan sara (sirine) dan peringatan visal (beacon) yang akan dipasang
untuk memberi peringatan kepada operator.
FGS juga berfungsi interface secara hardwire ke ESS, untuk perintah
shutdown, jika terjadi kebocoran / kebakaran didalam plant. Peralatan FGS
ini dirancang dengan raddant control processor, power spply dan control
network, Dn disertifikasi dengan SIL3. Detektor api dan gas serta
peralatan lain seperti MCP dll, dihubungkan secara hardwire ke FGS.
Individual alarm FGS ditampilkan ke dalam grafik di operator workstation
(terpisah dengan DCS work station).

2.7.15 Sistem Gas Matering


Sistem gas meter haruslah disajikan untuk mengukur laju alir dari
sales gas dengan kompensasi tekanan & temperatur pada outlet CPP. Gas
meter ini mengggunakan Senior Orificle Flowmeter, Multipath sensor
yang dikompensasi dengan pressure dan temperatur. Gas matering ini
dilengkapi dengan analyzer Gas, dan flow Computer untuk kalkulasi
penjualan gas sesuai dengan persyaratan yang diminta dalam AGA-3.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 51

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

3.1 Tata Cara Memasuki Kawasan CPP Gundih


Sebelum melakukan PKL, ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi
oleh setiap mahasiswa/ peserta PKL. Mahasiswa harus mengisi buku tamu
di Security Post. Pengisian buku tamu tersebut dapat dilayani oleh para
Security yang berjaga di area Security Post. Security yang melayani kami
adalah Bapak Sudarsono. Terdapat beberapa kolom pengisian pada buku
tamu antara lain nama, jam masuk dan keluar, serta tanda tangan. Setelah
itu tamu dalam hal ini adalah peserta PKL diberikan tanda pengenal
sebagai Visitor untuk membedakan antara tamu dan keryawan yang ada di
kawasan CPP Gundih.

3.2 Safety Induction


CPP Gundih memiliki unit keselamatan kerja yang bernama HSE
(Healthy Safety and Environment). HSE ini berlokasi di ruang Security
Post. Dalam ruangan ini akan diberikan pengarahan mengenai Safety
Induction yaitu tata cara dan peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap
peserta PKL. Untuk memasuki area CPP Gundih ada beberapa perlengkapan
keselamatan yang harus dipakai, antara lain : sepatu, helm, kacamata dan
penutup telinga, yang keseluruhan harus sesuai dengan standar K3
(Keselamatan Kerja).

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 52

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

3.3 Pengenalan Staf dan Karyawan


Dalam melaksanakan kegiatan PKL tentunya kami bertemu dan
bersosialisasi dengan para karyawan. Sosialisasi tersebut mencakup seputar
pengenalan area CPP Gundih dan seluruh peralatan dan sistem
ketenagalistrikan.

Sosialisasi dilakukan dengan melakukan wawancara

dengan para keryawan dan staf. Berikut adalah daftar karyawan dan staf
yang pernah kami temui di area CPP Gundih.
No

Nama

Jabatan

1.

M. Sibro Muhlis

Supervisor Utilities

2.

Arbisah

Operator Process Leader

3.

Joko Ainun

Mechanical Leader

4.

Gitab Bangkit

Instrumental Leader

5.

Tomi Adrian

Processing Operator

6.

Yarsinto

Substantion Operator

7.

Suyono

BSRU Operator

8.

Supadi

DHU Operator

9.

Syaiful Anwar

Substantion Operator

10.

Teguh Budi Utomo

Substantion Operator

11.

Dika Puji M

Maintenance Electric

12.

Erwin Setyo

Maintenance Electric

13.

Hariyono

Maintenance Piping

14.

AV Toni Joelianto

Maintenance Leader

3.4 Jam Kerja bagi Karyawan CPP Gundih

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 53

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

CPP Gundih dituntut untuk selalu memproduksi gas selama 24 jam


terus menerus tanpa henti. Untuk itu diperlukan karyawan yang selalu
memantau dan melakukan perawatan secara berkala pada mesin-mesin
produksi. Untuk jam kerja para karyawan ternagi atas 4 shif antara lain :
1. Jam kerja pagi, dari pukul 07.00 sampai pukul 15.00 WIB
2. Jam kerja sore, dari pukul 15.00 sampai pukul 23.00 WIB
3. Jam kerja malam, dari pukul 23.00 sampai pukul 07.00 WIB
4. Cuti / Libur

3.5 Jurnal Pelaksanaan PKL


Pelaksanaan PKL berlangsung lima hari dalam satu minggu dimulai
pada hari Senin sampai hari Jumat pukul 07.00 sampai 15.00 WIB.
Sementara hari Sabtu dan Minggu libur.

Kami menunggu kedatangan

karyawan/ leader yang akan membimbing kegiatan yang sudah dijadwalkan


sebelumnya. Berikut akan dijelaskan mengenai serangkaian kegiatan
praktek yang kami lakukan selama berada di CPP Gundih.

JURNAL KEGIATAN HARIAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 54

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

No

Hr/Tanggal

Jenis Pekerjaan

Uraian Pekerjaan

1.

Jumat/31-07-2015

Pendahuluan

Safety Induction dan


Pengenalan Lokasi CPP
Gundih

2.

Senin/03-08-2015

Pendahuluan

Pengenalan P and ID Processing


Unit (GSU dan AGRU)

3.

Selasa/04-08-2015

Pendahuluan

Pengenalan P and ID Processing


Unit (BSRU dan CTU)

4.

Rabu/05-08-2015

Pendahuluan

Pengenalan P and ID Processing


Unit DHU

5.

Kamis/06-08-2015

Survey Lapangan

6.

Jumat/07-08-2015

Pendahuluan

Pengenalan Sistem Utilities dan


Substantion

7.

Senin/10-08-2015

Maintenance

- Membongkar dan mengganti


motor pompa P-0401B pada
BSRU

Pengenalan Komponen pada


semua Processing Unit

- Melakukan starting and


warming up EDG selama 10
menit
8.

Selasa/11-08-2015

Maintenance

Melakukan pengetesan suhu


termal pada van MSPP
menggunakan Thermal
photograph

9.

Rabu/12-08-2015

Pendahuluan

Pengenalan Seputar GTG,


Transformator Daya, UPS dan
proteksinya

10. Kamis/13-08-2015

Maintenance

Pembersihan trainer/filter
pompa di unit MSPP

11. Jumat/14-08-2015

Survey Lapangan

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Pengenalan transformator daya

Page 55

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

dan bagian-bagiannya
12. Selasa/18-08-2015

Survey Lapangan

Pengenalan peralatan
pendukung pada GTG

13. Rabu/19-08-2015

Pendahuluan

Pengenalan Field Instrument

14. Kamis/20-08-2015

Instalasi

Pemasangan tray kabel dan


Instalasi Stop Kontak pada
ruang kantor

15. Jumat/21-08-2015

Survey Lapangan

16. Senin/24-08-2015

Pendahuluan

17. Selasa/25-08-2015

Survey Lapangan

Pengenalan sistem dan


komponen Demin Water
Package

18. Rabu/26-08-2015

Survey Lapangan

Pengenalan sistem dan


komponen Nitrogen & Air
Instrument Package

19. Kamis/27-08-2015

Pendahuluan

Pengenalan Sistem Kontrol


Distribusi

20. Jumat/28-08-2015

Survey Lapangan

Pengenalan peralatan instrumen


(control valve) dan cara
kerjanya
Pengenalan Sistem Utilities

Survey Lapangan ke Distributed


Control System
Cepu, 31 Agustus 2015

Mengetahui,
Pembimbing Industri

Pembimbing Politeknik

M. Sibro Muhlis

Sulistyowati, ST. MT

DAFTAR HADIR PRAKTEK KERJA LAPANGAN


TAHUN AKADEMIK 2014/2015

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 56

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Bulan

Nama DU/DI

Prog.Keahlian

Alamat

Ahmad Irfan S

Ichwan Bayu Kusuma

Jefrry Ardiansyah

Rido Hernando

Tgl Datang Pulang


Paraf
. Jam Jam

Tgl Datang Pulang


Paraf
. Jam Jam

Tgl Datang Pulang


Paraf
. Jam Jam

Tgl.

31

31

31

31

10

10

10

10

11

11

11

11

12

12

12

12

13

13

13

13

14

14

14

14

15

15

15

15

16

16

16

16

17

17

17

17

18

18

18

18

19

19

19

19

20

20

20

20

21

21

21

21

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Datang Pulang
Jam

Jam

Page 57

Paraf

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

22

22

22

22

23

23

23

23

24

24

24

24

25

25

25

25

26

26

26

26

27

27

27

27

28

28

28

28

Cepu, 31 Agustus 2015


Mengetahui,
Pembimbing Industri

Pembimbing Politeknik

M. Sibro Muhlis

Sulistyowati, ST. MT

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Sistem Pembangkit CPP Gundih

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 58

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Pada CPP Gundih terdapat 4 set Gas Turbin Generator (GTG) dengan
kapasitas masing-masing adalah sekitar 2,25 MW dan tegangan keluaran 6.6
kV. Selain itu juga terdapat Diesel Emergency Generator (DEG). Seluruh
GTG akan beroperasi secara continue untuk keperluan tenaga listrik
terhadap beban-beban di seluruh plant.

Gambar 4.1 Gas Turbine Generator dan Emergency Diesel Generator


Beban-beban di CPP Gundih meliputi beban Non Essential, Essential
dan Emergency. Beban Non Essential adalah beban yang dishedding pada
saat GTG trip selama beberapa saat meliputi standby GTG start. Beban
Essential adalah beban pada saat satu GTG trip selama beberapa saat sampai
standby GTG start. Beban Emergency adalah beban pada saat tiga GTG trip,
tidak beroperasi, atau untuk keperluan Black-Start-up yang di cover oleh
DEG.
4.2 Beban motor 6,6 kV pada Biologycal Sulfur Recovery Unit (BSRU)

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 59

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

BSRU berfungsi untuk mengkonversi H2S yang diserap di AGRU


menjadi elemental Sulphur menggunakan bakteri Thiobacillus. Proses yang
digunakan menggunakan lisensi Shell Paques. Peralatan Utama yang
terdapat dalam Biologycal Shulpur Recovery Unit adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

H2S Absorber (V-0401 A/B)


Bioreactor (R-0401)
Sulphur Solidification (PE-0404)
Sulphur Melter (Y-0403)
Sulphur Bagging Package (PE-0405)
Pada BSRU terdapat 2 jenis motor berkapasitas 6,6 kV. Motor tersebut

mempunyai fungsi sendiri-sendiri sesuai dengan plant yang sudah


ditentukan. Motor terebut akan dikopel oleh sebuah peralatan yang akan
menunjang kinerja suatu unit.
Alasan mengapa pada BSRU menggunakan beban motor dengan
tegangan 6,6 kV adalah berdasarkan fungsi dari motor itu sendiri.
Penggunaan motor disini adalah sebagai penyuplai udara bertekanan. Agar
udara dapat mengalir dengan tekanan dan suhu yang sesuai maka
dibutuhkan pula suatu penggerak udara motor yang mampu mengeluarkan
tenaga (power) yang besar pula. Pada setiap motor akan dipasang peralatan
instrumentasi berupa kontrol yang akan mengatur parametr-parameter udara.
Parameter tersebut antara lain berupa aliran, tekanan dan suhu. Maka dari
itu dibutuhkan sebuah control valve untuk mengatur parameter tersebut.

4.2.1

Motor 6,6 kV sebagai Blower


Blower berfungsi menaikkan tekanan gas, juga untuk mensirkulasikan
gas di dalam tahap proses kimiawi yang terjadi di Bioreactor. Blower yang

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 60

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

digunakan berkapasitas 370 kW, oleh karena itu tegangan suplai yang
digunakan sebesar 6,6 kV dengan maksud agar mengurangi arus yang
mengalir yaitu sebesar 37,5 A.

Jumlah motor yang digunakan untuk

blower adalah dua buah, masing-masing mendapatkan supply tegangan


essensial dan non essensial.

Gambar 4.2 Motor Blower 6,6 kV


Motor Blower mendapat supply tegangan langsung dari GTG (Gas
Turbine Generator) melalui switchgear 4111. Terdapat dua macam beban
yaitu beban essensial dan non essensial. Motor blower termasuk dalam
beban essensial dan non essensial dengan kode penamaan K-0403A untuk
beban essensial dan K-0403B untuk beban non essensial. Apabila blower
K-0403A mengalami gangguan maka akan digantikan oleh blower K0403B. Hal ini merupakan salah satu penerapan Load Shedding dan untuk
menjaga operasional di CPP (jika ada gangguan proses produksi akan tetap
bisa berjalan)

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 61

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Berikut adalah spesifikasi electric untuk motor blower.


Tegangan 6600 V
Efisiensi 95,4 %
Daya Output 370 kW
Putaran rotor 2970 rpm
Frekuensi 50 Hz
merk TECO Westinghouse
4.2.2

Arus 37,5 A
Temperature rise 40 C
Weight 3300 kg
Power factor 0,905
IP 55
Type AEJH-TK

Motor 6,6 kV sebagai Kompressor


Kompresor berfungsi menyalurkan O2 bebas untuk oksidasi oleh
mikroorganisme di dalam tahap proses kimiawi yang terjadi di Bioreactor.
Kompresor yang digunakan berkapasitas 750 kW, oleh karena itu tegangan
suplai yang digunakan sebesar 6,6 kV dengan maksud agar mengurangi
arus yang mengalir yaitu sebesar 81 A. Jumlah motor yang digunakan
untuk kompresor adalah dua buah, masing-masing mendapatkan supply
tegangan essensial dan non essensial.

Gambar 4.3 Kompressor 6,6 kV


Motor kompresor mendapat supply tegangan langsung dari GTG (Gas
Turbine Generator) melalui switchgear 4111 dan 4112.

Terdapat dua

macam beban yaitu beban essensial dan non essensial. Motor kompresor

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 62

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

termasuk dalam beban essensial dan non essensial dengan kode penamaan
K-0401A untuk beban essensial dan K-0401B untuk beban non essensial.
Apabila kompresor K-0401A mengalami gangguan maka akan digantikan
oleh blower K-0401B. Hal ini merupakan salah satu penerapan Load
Shedding dan untuk menjaga operasional di CPP (jika ada gangguan
proses produksi akan tetap bisa berjalan).
Berikut adalah spesifikasi electric untuk motor blower.
Tegangan 6600 V
Efisiensi 95,4 %
Daya Output 750 kW
Putaran rotor 1489 rpm
Frekuensi 50 Hz
Merk SIEMENS
4.2.3

Arus 81 A
Temperature rise 105 K / SF 1,1
Temperature rise 80 K / SF 1,0
Power factor 0,84
IP 55
Type D-90441

Starting Motor 6,6 kV


Panel Standart Soft Starter adalah kontrol motor berbasis SCR yang
dirancang untuk starting, perlindungan dan pengendalian tegangan
menengah AC pada motor. Panel ini mengandung beberapa SCR, koneksi
serat optik dan kontrol sirkuit bertegangan rendah yang siap untuk
dihubungkan dengan komponen dan peralatan yang diperlukan untuk
menghasilkan kelas E2 tegangan menengah untuk motor soft starter.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 63

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 4.4 Keypad Operator Interface


Panel Standar soft starter memiliki beberapa fitur berikut :
1. SCR Modul Power
SCR disesuaikan berpasangan paralel terbalik dan string seri
seperti untuk menunjukkan grafik yang memfasilitasi level Inverse
Voltage puncak.

2. RC Snubber Networks
Menyediakan Transient Voltage Protection untuk SCR Modul
Power setiap tahap untuk menghindari kerusakan pada komponen.

3. Firing Circuit
SCR dioperasikan menggunakan Sustained Pulse Firing Circuit.
Sirkuit ini diperkuat dan terisolasi oleh kontrol tegangan dengan
menggunakan serat optik dan transformer cincin.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 64

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Kemampuan soft starter berada dalam CPU berupa perlindungan


dan sistem kontrol berbasis mikroprosesor untuk motor dan perakitan
starter. CPU menggunakan Phase Angle Firing SCR untuk
mengurangi tegangan ke motor, dan kemudian perlahan-lahan
meningkatkan torsi melalui kontrol tegangan dan arus sampai motor
berada pada kecepatan penuh. Metode ini mulai menurunkan arus
starting dari bermotor, mengurangi gangguan listrik pada sistem
tenaga dan motor. Hal ini juga mengurangi puncak tekanan torsi mulai
pada tiap motor dan beban komponen mekanik, memperpanjang
waktu pengoperasian lebih lama.

Akselerasi Motor
Soft Starter menghadirkan beberapa metode untuk mempercepat
putaran motor sehingga dapat diprogram untuk menyesuaikan hampir
semua industri aplikasi motor AC.
Pengaturan standar pada pabrik menerapkan Voltage Ramp
dengan batas tertentu karena ini telah terbukti merupakan metode awal
yang paling dapat diandalkan untuk sebagian besar aplikasi.
Dengan menggunakan metode ini, pengaturan torsi awal berlaku
hanya cukup disuplai tegangan ke motor menyebabkan poros motor
mulai berputar. Tegangan ini kemudian secara bertahap meningkat
dari waktu ke waktu (sesuai pengaturan Ramp Time) sampai salah
satu dari tiga hal terjadi: motor berakselerasi dengan kecepatan penuh,
Ramp Time berakhir atau pembatas arus tercapai.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 65

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Jika motor berakselerasi dengan kecepatan penuh sebelum


pengaturan waktu jalan telah berakhir, Anti-Oscillation akan menimpa
jeda waktu yang tersisa dan tegangan penuh akan diterapkan. Ini akan
mencegah gelombang atau denyut di torsi motor, yang menyebabkan
beban tidak bisa sepenuhnya digabungkan ke motor saat beroperasi
pada tegangan rendah dan torsi tingkat.
Jika motor belum mencapai kecepatan penuh pada akhir
pengaturan waktu jalan, pembatas arus akan mengontrol torsi output
maksimum. Umpan balik sensor di soft starter memberikan
perlindungan dari kondisi stall, kondisi overload atau waktu akselerasi
yang terlalu panjang karena permasalahan tersebut di atas. Pembatas
arus disediakan untuk mengakomodasi instalasi di manaada kekuatan
yang terbatas (misalnya, di tempat listrik generator atau utilitas baris
dengan kapasitas terbatas). Torsi meningkat sampai arus motor
mencapai pra-set point Current Limit. Pembatas arus akan menimpa
pengaturan Ramp Timing

sehingga

jika motor

tidak

dapat

berakselerasi sampai kecepatan penuh di bawah pengaturan pembatas


arus, arus akan dibatasi selama masih dibutuhkan motor untuk
berakselerasi pada kecepatan penuh.
Ketika motor mencapai kecepatan penuh dan arus turun pada
running levels, soft starter mendeteksi kecepatan motor dan menutup
kontaktor Bypass. Bypass Kontaktor berfungsi untuk melangsir listrik
sekitar SCR untuk mencegah panas build-up yang disebabkan oleh
drop tegangan pada SCR. Pada kondisi ini, soft starter pada motor

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 66

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

beroperasi pada tegangan penuh, seperti pada kondisi starting lainnya.


Metode starting lain yang tersedia untuk soft starter adalah:
1. Current Ramp : menggunakan umpan balik PID loop arus tertutup
untuk memberikan peningkatan torsi linier sampai ke level
maksimum.
2. Constan Current : arus akan segera meningkat ke titik Current
Limit dan ditahan sampai motor mencapai kecepatan penuh.
3. Curve Custom : memberikan pengguna kemampuan untuk
merencanakan

torsi

dan

waktu

poin

pada

grafik. Soft Starter akan mempercepat motor sesuai pada point ini.
4. Tachometer Input : menggunakan sinyal monitoring antara 4 - 20
mA dari motor atau beban poros.

Deselerasi Motor
Soft starter menyediakan pengguna dengan pilihan untuk
mengendalikan

deselerasi

dengan

perlahan-lahan

mengurangi

tegangan ke motor setelah memulai perintah berhenti. Fitur Decel


adalah kebalikan dari injeksi DC pengereman di motor yang akan
memakan waktu lebih lama untuk berhenti daripada jika dibiarkan
berhenti dengan sendirinya. Aplikasi yang paling umum untuk fitur
Decel adalah pada aplikasi pemipaan dimana dikendalikan agar

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 67

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

berhenti dengan mencegah palu air dan kerusakan mekanis pada


sistem.

Gambar 4.5 Panel Bioreactor Air Blower K-0401A

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 68

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 4.6 Panel Bioreactor Air Blower K-0401A


4.2.4

Proteksi Secara Umum


Pada pengoperasian motor 6,6 kV pada BRSU menggunakan metode
soft starter dan dapat dibagi menjadi empat tahap yaitu : ready, start,
running dan stop. Sehingga menyediakan proteksi motor dalam 4 model.
Rincian pada tiap proteksi dapat ditemukan pada tiap proses, yaitu :
1. Ready Mode :
Dalam tahap ini rangkaian kontrol dan tenaga dapat digunakan
dan siap menerima perintah start. Proteksi selama tahap persiapan
yaitu pemantauan terhadap kebocoran arus karena konsleting pada
SCR atau sambungan kontak pada bypass contactor. Proteksi lain
adalah :

Starter SCR Temperature

Shorted SCR

Blown Fuse Indication

Phase Reversal (if enabled)

Line Frequency Trip Window

External Input Faults

2. Mode Start :
Penambahan fungsi proteksi dimungkinkan saat soft starter
diaktifkan ketika menerima perintah start. Proteksi untuk tahap ini
terdiri dari :

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 69

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Phase Reversal

Start Curve

Acceleration Timer

Phase Imbalence

Load Pre-Check

Ground Fault

External Input Faults

Accumulated Starting FLA Units

Overload Protection

Thermal Capacity

3. Run Mode
Soft Starter masuk Run Mode ketika motor mencapai tegangan
output penuh dan drop arus motor di bawah pengaturan FLA untuk
periode waktu yang telah ditentu. Selama Run Mode ditambah
proteksi, yaitu :

Running Overload Curve

Phase Loss

Under Current

Over Current/ Electronic Shear Pin

External Input Fault

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 70

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

4. Stop Mode
Pada saat perintah Stop diberikan, unit proteksi merubah
pengaturan, tergantung Stop Mode yang dipilih.

Decel Mode : Menahan semua proteksi saat Run Mode. Akhir dari
Decel, Motor akan berhenti.

Coast To Stop Mode : daya dengan segera lepas dari motor dan soft
starter kembali ke Ready Mode

Coast Down / Back Spin Timer

Starts per Hour

Time Between Start

External Input Faults

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 71

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 4.7 Layar Indicator Protetion and Measuring Relay


5. Thermal Overload Protection
Thermal Overload pada soft starter memainkan peranan penting
dalam pengaman motor, yang mana untuk memantau temperatur
motor dalam kondisi starting, running atau kondisi darurat. Soft
starting mempunyai sistem pencatat temperatur secara dinamis di
dalam CPU yang mana menyediakan nilai matematis yang mewakili
keadaan temperatur motor. Informasi temperatur akan disimpan dalam
memori. Input berasal dari arus tidak seimbang dan pengukuran RTD
yang membuat dinamis tersebut melibatkan semua proses dalam
motor. Soft starter memantau kondisi secara terpisah selam start dan
running untuk mendapatkan temperatur pengaman beban berlebih
dalam tiap waktu. Proteksi Beban lebih Start Mode adalah salah satu
dari tiga metode :

Basic Protection :
Data akumulasi dan diplot berdasarkan kurva overload yang dipilih
dalam pemrograman

Measured Start Capacity


Memasukkan jumlah dari kapasitas termal yang diukur dari register
thermal.

Proteksi Beban lebih Saat Run Mode, dimulai ketika rms motor naik di
atas pick up point (sesuai FLA motor). Perlindungan ini dijalankan oleh

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 72

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Dynamic Register Thermal. Dynamic Register Thermal diubah oleh


kondisi seperti :

4.2.5

Arus tak seimbang

Normal Cooling

RTD input

Dynamic Reset

Retentive memory

Learned Reset Capacity

Maintenance and Repairing


Soft starter di desain untuk perawatan. Namun, semua peralatan
elektronik, unit harus diperiksa secara berkala untuk kotoran, kelembaban,
dan kontaminan industri. Ini dapat menyebabkan arc-over tegangan tinggi,
pelacakan karbon atau mencegah pendinginan yang tepat dari SCR heat
sink. Semua baut harus diperiksa setiap tahun untuk kerapatan tepat
dengan menggunakan kunci momen akurat. Menurut petunjuk produk,
periksa kontaktor untuk jarak celah udara dari botol vakum.
Catatan : Jika unit dipasang di lingkungan tercemar dan pendinginan
udara paksa digunakan, filter blower harus diperiksa dan dibersihkan
secara teratur untuk memastikan aliran udara yang tepat dan pendinginan
kandang.
Ketika kesalahan terjadi, LCD akan menampilkan kesalahan
kesalahan dan terdaftar LED dan AUX Relay akan menyala. Diharapkan

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 73

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

membereskan semua kesalahan sebelum mencoba untuk me-restart unit.


Berikut adalah beberapa contoh permasalahan dan cara mengatasinya :

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 74

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Berikut permasalahan yang terjadi di beban motor 6,6 kV :

1. SCR Terbakar
SCR digunakan berfungsi untuk mengontrol start atau mengurangi atau
mengatur arus starting. Pada CPP Gundih dengan menggunakan SCR maka
arus starting dapat dikontrol menjadi 3x arus nominal motor, hal itu
digunakan karena jumlah kapasitas daya motor yang digunakan di CPP
Gundih hanya selisih sedikit dengan kapasitas daya pembangkit.
Pada motor 6,6 KV Kompresor BSRU memiliki masalah pada SCR, SCR
pada motor 6,6 KV CPP Gundih mendapat rekomendasi oleh pihak Vendor
agar tidak mengoprasikan Start-Stop sebanyak 7 kali dalam satu jam karena
dapat merusak atau memperpendek umur dari SCR karena setingan pada
interface yang tidak diaktifkan atau disable.
Pada

kerusakan

yang

SCR

terbakar

indikator

pada

Interface

menunujukkan indikasi alarm phase foult dan phase short circuit. Pada saat
pengecekan aktual dilapangan tidak ditemukan short sirkuit, kemungkinan
SCR terbakar dikarenakan ada koneksi kabel power yang kendor serta

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 75

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

muncul indikasi unbalance di phasenya yang mengakibatkan SCR terbakar


maka dilakukan pentorsian ulang dan SCR yang terbakar dilakukan perbaikan
atau pemesanan SCR ulang.
2. Terbakarnya Sepatu Kabel pada Motor
Terbakarnya sepatu kabel pada motor diakibatkan karena seringnya
dilakukan pengtorsian ulang pada sepatu kabel, hal itu menyebabkan
pengecilan luas penampang yang menyebabkan kuat hantar arus (KHA) pada
sepatu kabel tersebut mengecil, sedangkan arus yang mengalir pada motor
tetap. Pengtorsian ulang tersebut dilakukan karena getaran pada motor yang
menyebabkan sepatu kabel longgar dan harus dilakukan pengtorsian ulang,
akan tetapi jika pembesaran ukuran lubang sepatu kabel yang terlalu sering
dan terlalu besar yang tidak sesuai dengan arus yang dipikul oleh sepatu kabel
tersebut bisa menyebabkan terjadinya kebakaran pada kabel karena arus yang
mengalir pada sepatu kabel terlalu besar. Untuk perbaikan dengan mengganti
sepatu kabel yang terbakar dan melakukan pengtorsian ulang.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 76

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 4.8 Penggantian sepatu kabel pada motor 6,6 kV di BSRU

Perawatan motor 6,6 KV di BSRU dengan pembersihan pada saluran pipa


atau filter pada pipa, hal ini dilakukan untuk mengurangi beban motor karena
pemampatan pada saluran pipa. Pemampatan pada saluran pipa dapat
menyebabkan Over Load yang akan terindikasi di interface dan akan
mematikan motor.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 77

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 4.9 Pembersihan filter pada salah satu pipa.

Pada motor 6,6 KV tidak dapat menggunakan Megger karena Megger


hanya mampu 5 KV, maka dengan menggunakan megger akan terjadi over
load yang mengakibatkan pengukuran yang tidak akurat.

Gambar 4.10 Insulation Tester 5 kV


Maka digunakan insulation tester yang kemampuannya diatas 6,6 kV
sehingga penggukuran dapat akurat. Dengan kemampuan alat hingga 70 kV.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 78

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Gambar 4.11 Insulation Tester 5 kV

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 79

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

4.2.6

Uraian Kegiatan Praktek Kerja Lapangan


1. Minggu ke 1 (Jumat, 31 Juli 2015)
Pada minggu ini kami menemui pembimbing lapangan di
kantor PT. Pertamina EP Asset 4 Field Cepu dan diantarkan ke
tempat kerja di CPP (Central Processing Plant) Gundih.
Disana kami diberi pengarahan tentang tata cara memasuki
kawasan kerja CPP Gundih serta perlengkapan safety yang harus
dikenakan. Disana juga kami diberikan penjelasan tentang tandatanda bahaya yang ada di CPP Gundih yang harus diperhatikan,
dan jika terjadi bahaya maka harus segera berkumpul di Master
Point.
Setelah dijelaskan tentang keamanan dan keselamatan kerja
maka kami sudah diperbolehkan untuk memasuki kawasan kerja
CPP Gundih.
Di minggu ini kami diberikan penjelasan secara umum tentang
proses pengolahan gas yang ada di CPP Gundih serta di ajak
melihat langsung di lapangan oleh pegawai Pertamina bagian
processing.

2. Minggu ke 2 (Mulai Senin, 3 Agustus 2015)


Pada minggu ke 2 ini kami dijelaskan tentang proses akan
tetapi lebih di perdalam tentang apa yang akan dituju atau hasil
prosuksi oleh CPP Gundih.
Kami diberikan teori didalam ruangan tentang bagian-bagian
atau unit yang ada di CPP Gundih beserta fungsinya. Setelah

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 80

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

dijelaskan bagian-bagian unit yang ada, kami dijelaskan tentang


prinsip kerja per bagian unit-unit tersebut.
Setelah cukup banyak teori yang kami terima, kegiatan
selanjutnya adalah survei lapangan yang di pimpin langsung oleh
leader produksi dan dibantu oleh operator di masing-masing unit
proses di CPP Gundih.
3. Minggu ke 3 (Mulai Senin, 10 Agustus 2015)
Pada minggu ke 3 ini kami diberikan penjelasan tentang ruang
kontrol atau panel-panel listrik yang ada di CPP Gundih.
Mendapatkan penjelasan tentang single line secara umum di
CPP Gundih tentang proteksi serta pembagian beban yang ada di
CPP Gundih.
Setelah mendapat cukup teori maka kegiatan kami selanjutnya
yaitu survei dilapangan untuk dijelaskan langsung prinsip kerjanya
pembagian beban esensial dan non esensial serta melihat langsung
alatnya dan cara pengoprasiannya.
Pada minggu ke 3 ini juga diberikan penjelasan tentang sistem
pembangkitan di CPP Gundih yaitu dengan menggunakan GTG
(Gas Turbin Generator) dan DEG (Diesel Emergency Generator).
Setelah mendapatkan penjelasan dari leader, maka kegiatan
selanjutnya yaitu melihat ke lapangan serta penjelasan dilakukan
langsung

dilapangan

tentang

pengoprasiannya

dan

pengontrolannya.
4. Minggu ke 4 (Mulai Selasa, 18 Agustus 2015)
Pada minggu ke 4 ini kegiatan kami yaitu melanjutkan
pemahaman tentang GTG atau generator system serta melakukan
kegiatan pemanasan DEG yang bertujuan untuk pengecekan
generator emergency agar selalu siap dan selalu dalam kondisi baik

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 81

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

jika sewaktu-waktu digunakan untuk membackup GTG jika terjadi


gangguan. Pemanasan DEG ini dilakukan agar sirkulasi oli pada
generator tetap terjaga sehingga tidak merusak komponen yang ada
di dalam generator.
Pada minggu ke 4 ini kami juga melakukan perawatan dengan
membersihkan filter yang mengalami penyumbatan yang ada di
pipa, karena jika filter tersumbat maka motor yang bekerja pada
aliran tersebut akan mengalami beban lebih atau over load.
Pada minggu ke 4 ini kami melakukan pengecekan suhu pada
titik-titik sambungan dengan menggunakan thermal photograph,
agar tidak terjadi pemanasan pada titik-titik sambungan di panel.
5. Minggu ke 5 (Mulai Senin, 24 Agustus 2015)
Pada minggu ke 5 ini kami dijelaskan tetang motor-motor yang
ada di CPP Gundih, mulai dari daya motor, serta cara starting dan
proteksi yang ada di CPP Gundih. Ada 2 cara starting yang
dilakukan di CPP Gundih, antara lain jika tegangan motor 400 Volt
maka digunakan starting DOL (Direct On Line) dan jika tegangan
motor 6 KV maka digunakan starting Soft Starter.
Pada minggu ini juga kami dijelaskan di substation untuk
pengontrolan motor-motor serta proeksinya, antara lain :
MCB,ACB, VCB,dll.
Pada minggu ke 5 ini kami juga melakukan pemasangan
instalasi di kantor CPP Gundih.
Serta di minggu ini kami melakukan konsultasi tentang laporan
PKL kami pada pembimbing lapangan kami di CPP Gundih.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 82

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Pada CPP Gundih ini Terdapat 4 Motor dengan daya 6,6 kV pada Unit
BSRU yang terbagi menjadi dua. Dua buah sebagai blower dan dua buah
lainya sebagai kompresor. Masing masing hanya satu buah motor yang
harus selalu bekerja, sementara yang lainnya sebagai cadangan.
2. Pada beban motor 6,6 kV cara starting menggunakan metode soft starter
dengan panel standart soft starter adalah kontrol motor berbasis SCR yang
dirancang untuk starting, perlindungan dan pengendalian tegangan
menengah AC pada motor.
3. Untuk pengoperasian motor 6,6 kV dengan menggunakan metode soft
starter dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu : ready, start, running dan
stop.
4. Dikarenakan motor mengalami empat kondisi yang berbeda maka untuk
proteksinya juga akan menyesuaikan kondisi motor. Pada saat motor dalam

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 83

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

kondisi redy dibutuhkan pemantauan terhadap kebocoran arus karena


konsleting pada SCR atau sambungan kontak pada bypass contactor. Pada
saat motor dalam kondisi start menggunakan proteksi seperti Phase
Reversal, Start Curve, Acceleration Timer, Phase Imbalence, Load PreCheck, Ground Fault, External Input Faults, Accumulated Starting FLA
Units, Overload Protection, Thermal Capacity. Pada kondisi start
diperlukan proteksi berupa Running Overload Curve, Phase Loss, Under
Current, Over Current/ Electronic Shear Pin, External Input Fault. Pada
saat perintah Stop diberikan, unit proteksi merubah pengaturan, tergantung
Stop Mode yang dipilih. Misal Decel Mode untuk Menahan semua
proteksi saat Run Mode. Akhir dari Decel, Motor akan berhenti atau Coast
To Stop Mode yaitu ketika daya dengan segera lepas dari motor dan soft
starter kembali ke Ready Mode.
5. Proteksi yang berfungsi pada semua kondisi yaitu Thermal Overload
Protection
6. Pada CPP Gundih sudah memiliki peralatan yang cukup canggih untuk
memudahkan

mengontrol

dan

mengecek,

sehingga

memudahkan

maintenance untuk melakukan pengecekan secara berkala untuk


mengurangi peluang kerusakan yang berakibat fatal.

5.2 Saran
Berdasarkan pelaksanaan dan pembuatan laporan kerja praktek di PT.
Pertamina EP Asset IV Field Cepu, ada beberapa hal yang menjadi

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 84

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

pertimbangan yang mendukung pelaksanaan operasional di PT. Pertamina EP


Asset IV Field Cepu, antara lain:
1. Diharapkan kerjasama antar perguruan tinggi dan dunia industri yang
selama ini telah terjalin, khususnya antara PT. Pertamina EP Asset IV
Field Cepu dan Diploma III Teknik Listrik Politeknik Negeri Malang
dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi serta semoga kerja praktek
selanjutnya dapat memberikan nilai tambah dan manfaat bagi mahasiswa
dan lembaga yang bersangkutan.
2. Diharapkan pemberian materi dari pihak PT. Pertamina EP Asset IV Field
Cepu lebih banyak diberikan bagi mahasiswa yang sedang PKL dengan
tujuan agar mahasiswa PKL mendapat pengetahuan yang luas tentang
instrument -

instrument yang digunakan di CPP Gundih serta dapat

membantu mahasiswa PKL dalam penyelesaian laporan.


3. Diharapkan kerjasama antara PT. Pertamina EP Asset IV Field Cepu
dengan pihak lapangan agar mahasiswa PKL dapat mempermudah dalam
pengambilan data.
4. PT. Pertamina EP Asset IV Field Cepu perlu semakin meningkatkan
teknologi berbagai perlengkapan eksplorasi dan produksinya agar dapat
meningkatkan jumlah kuantitas dan kualitas produksinya.

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 85

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

LAMPIRAN

Laporan Paktek Kerja Lapangan

Page 86