You are on page 1of 5

Nama

: Mochammad Dany Rizaldy

Nim

: 15030234035

Kelas

: KA 2015

Kelompok

: IV

Judul Praktikum

: Pembahasan titrasi penetralan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN


a. Menentukan Standarisasi Larutan HCl 0,1 N dengan Na 2CO3 Sebagai
Baku

Percobaan yang pertama yaitu penentuan konsentrasi asam klorida (HCl)


dengan natrium karbonat (Na2CO3) sebagai baku. Larutan baku Na2CO3 anhidrat
ini berupa butiran serbuk kecil yang berwarna putih yang memiliki kemurnian
99,9 persen dan mengandung sedikit kelembapan. Sebelum dititrasi, 1,3001
gram serbuk putih Na2CO3 dimasukkan terlebih dahulu kedalam labu ukur 250
mL dan ditambahkan aquades sampai tanda batas (miniskus),cara penambahan
dilakukan dengan cara ditambahkankan aquades sampai sepertiga volume dan
dikocok untuk melarutkanya. Setelah itu ditambahkan aquades sampai 2 cm
dibawah tanda meniscus dan ditambahkan aquades lagi menggunakan pipet tetes,
hal ini dilakukan agar volume aquades yang ditambahkan tidak melebihi batas
meniscus. Setelah itu dikocok dengan cara menjungkir balikkan labu ukur supaya
zat tercampur dengan sempurna(homogen),dan akan menghasilkan larutan bening
tidak berwarna. Reaksi pengenceran ini adalah :
Na2CO3(s) + H2O(l) Na2CO3(aq)
Setelah itu dipipet 10 mL larutan Na2CO3 dengan menggunakan pipet
seukuran dan dimasukkan kedalam labu erlenmeyer. Dalam proses pengambilan
ini perlu diperhatikan dinding luar pipet seukuran hendaknya kering supaya hasil
yang diperoleh teliti. Kemudian ditambahkan 10 mL aquades pada labu ukur hal
ini bertujuan agar pada saat proses titrasi perubahan warna dapat mudah diamati
karena volume dari larutan Na2CO3 bertambah, sebelum dititrasi dengan HCl
ditambahkan indikator metil jingga. Penambahan indikator ini bertujuan untuk

mempermudah pendeteksian perubahan warna yang menandakan bahwa telah


tercapai titik ekivalen pada titrasi. Dengan adanya penambahan indikakor ini,
menjadikan larutan yang semula tidak berwarna berubah menjadi berwarna
kuning muda. Indikator metil jingga cocok digunakan karena larutan Na2CO3
(basa kuat) ditambah HCl (asam kuat) akan menghasilkan H 2CO3 yang memiliki
pH sekitar 3,9 pada titik akhir titrasinya sesuai dengan rentan pH yang dimiliki
oleh indikator metil jingga yaitu pada pH 3,1-4,4. Metil jingga memiliki
perubahan warna seiring dengan meningkatnya pH yaitu merah ke kuning.
Sehingga bila HCl yang ditambahkan, perubahan warna akan menuju ke arah
merah karena pH akan semakin turun atau menjadi asam.
Setelah ditambahkan indikator, lalu dititrasi dengan HCl dan ditaruh kertas
putih sebagai alas, hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam mengamati
perubahan warna. Titrasi dihentikan setelah mencapai titik akhir titrasi. Titik akhir
titrasi ditandai dengan adanya perubahan warna dari kuning menjadi merah muda.
Titik akhir yaitu titik dalam suatu titrasi dimana suatu indikator berubah warna.
Perubahan warna ini terjadi karena indikator yang bereaksi dengan ekses dari
HCl. Reaksi yang terjadi yaitu sebagai berikut:
Na2CO3 (aq) + 2HCl (aq) 2NaCl (aq) + H2CO3 (aq)
Titrasi dilakukan tiga kali supaya hasil yang didapatkan lebih akurat.
Volume titrasi yang dihasilkan tiga kali berturut-turut yaitu 9,6 mL; 8,8 mL; dan
8,5 mL. Dengan demikian dihasilkan pula Normalitas HCl berturut-turut yaitu
0,1022 N; 0,115 N; dan 0,1154 N, sehinga diperoleh Normalitas
dari HCL yaitu 0,1097 N.Nilai normalitas HCl diperoleh dari rumus :
Normalitas HCl x Volume HCl = Normalitas Na2CO3 x Volume Na2CO3

b. Pengaplikasian Titrasi Penetralam (Menentukan Kadar NaHCO 3 dalam


soda kue cap NONIK

Pada percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadar NaHCO3 dalam soda
kue. Catat terlebih dahulu merk soda kue, pada percobaan ini menggunakan soda

kue cap Nonik. Serbuk putih soda kue ditimbang dengan teliti sebanyak 3,6013
gram kemudian dimasukkan terlebih dahulu kedalam labu ukur 250 mL.
Kemudian ditambahkan air sampai garis batas (miniskus) ),cara penambahan
dilakukan dengan cara ditambahkankan aquades sampai sepertiga volume dan
dikocok untuk melarutkanya. Setelah itu ditambahkan aquades sampai 2 cm
dibawah tanda meniscus dan ditambahkan aquades lagi menggunakan pipet tetes,
hal ini dilakukan agar volume aquades yang ditambahkan tidak melebihi batas
meniscus.. Setelah itu dikocok hingga homogen dengan cara menjungkir balikkan
labu ukur. Reaksi yang terjadi:
NaHCO3(s) + H2O(l) NaHCO3(aq)
Setelah itu dipipet 10 mL dengan menggunakan pipet seukuran dan
dimasukkan kedalam labu erlenmeyer. Dalam proses pengambilan ini perlu
diperhatikan dinding luar pipet seukuran hendaknya kering supaya hasil yang
diperoleh teliti. Kemudian ditambahkan 10 mL aquades pada labu ukur hal ini
bertujuan agar pada saat proses titrasi perubahan warna dapat mudah diamati
karena volume dari larutan NaHCO3 bertambah, sebelum dititrasi tambahkan dua
tetes indikator metil jingga. Penambahan indikator ini bertujuan untuk
mempermudah pendeteksian perubahan warna yang semula larutan tidak
berwarna berubah menjadi berwarna kuning muda. Sama dengan penjelasan
sebelumnya bahwa indikator metil jingga cocok digunakan karena larutan
NaHCO3 (basa kuat) ditambah HCl (asam kuat) akan menghasilkan H 2CO3 yang
memiliki pH sekitar 3,9 pada titik akhir titrasinya sesuai dengan rentan pH yang
dimiliki oleh indikator metil jingga yaitu pada pH 3,1-4,4. Metil jingga memiliki
perubahan warna seiring dengan meningkatnya pH yaitu merah ke kuning.
Sehingga bila HCl yang ditambahkan, perubahan warna akan menuju ke arah
merah karena pH akan semakin turun atau menjadi asam. Penggunaan indikator
yang sesuai memungkinkan titik akhir tepat berimpit dengan titik ekuivalennya.
Setelah ditambah indikator, langkah selanjutnya adalah melakukan titrasi
antara larutan NaHCO3 dengan larutan standar HCl 0,1N yang telah dimasukkan
ke dalam buret. Sebelum titrasi dilakukan, letakkan kertas putih di bawah

erlenmeyer untuk mengetahui perubahan warna yang terjadi dengan mudah. Pada
saat titrasi dilakukan, reaksi yang terjadi adalah :
NaHCO3(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2CO3(aq)
Setelah larutan berubah warna dari menjadi merah muda, maka titrasi
dihentikan yang menandakan titrasi telah mencapai titik akhir. Titik akhir yaitu
titik dalam suatu titrasi dimana suatu indikator berubah warna. Perubahan warna
ini terjadi karena indikator yang bereaksi dengan ekses dari HCl. Titrasi dilakukan
sebanyak tiga kali untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Volume titrasi yang
dihasilkan tiga kali berturut-turut yaitu 16,5 mL; 16,5 mL; dan 16,8 mL. Dengan
demikian dihasilkan pula kadar NaHCO3 berturut-turut yaitu sebesar 4,2219%;
4,2219%; dan 4,2987%, sehinga diperoleh kadar NaHCO3 rata-rata yaitu sebesar
4,2475%. Nilai kadar NaHCO3 diperoleh dari rumus :
kadar NaH CO 3=

N HCl x V HCl x Be
x 100
massa sampel