You are on page 1of 5

International Journal of Advances in Medicine

Anand AS et al. Int J Adv Med. 2016 Feb;3(1):5-10


http://www.ijmedicine.com

pISSN 2349-3925 | eISSN 2349-3933

DOI: http://dx.doi.org/10.18203/2349-3933.ijam20151251

Artikel Penelitian

Jadwal Kemoterapi Sistemik Primer Pada Kanker Payudara Lokal


Stadium Lanjut Menggunakan Kombinasi Kemoterapi Taxane Versus
Non Taxane
Aravindh S. Anand*, Biju U. Francis
Department of Radiotherapy & Oncology, Government Medical College, Thiruvananthapuram,
Kerala, India
Received: 01 November 2015
Accepted: 23 November 2015

ABSTRAK

Latar Belakang: Kemoterapi sistemik primer (PST) membentuk peran penting


dalam penatalaksanaan kanker payudara, terutama pada kanker payudara
lokal stadium lanjut (Locally Advanced Breast Cancer / LABC) yang tidak dapat
dioperasi. Penelitian menunjukkan bahwa respon patologis lengkap (pCR)
merupakan marker pengganti yang menunjukkan prognosis kelangsungan
hidup

pasien

LABC.

Dalam

penelitian

ini

kami

bermaksud

untuk

membandingkan dua regimen kemoterapi yaitu TAC vs FAC / FEC. Titik


temunya adalah tingkat pCR dan kadar toksisitas.
Metode: 130 pasien LABC terutama yang tidak dapat dioperasi serta menerima
PST baik kemoterapi TAC yang mengandung taxane (Docetaxe L75 mg / m2,
adriamycin 50 mg / m2, siklofosfamid 500 mg / m2) atau kemoterapi FAC nontaxane (5-fluorouracil 500 mg / m2, adriamycin 50 mg / m2, Cyclophosphamide
500 mg / m2) / FEC (5-fluorouracil 500 mg / m2, Epirubicin 100 mg / m2,

Cyclophosphamide 500 mg / m2) diamati secara prospektif dan dipelajari


sebagai dua pengobatan yaitu lengan taxane (70 pasien ) atau lengan non-taxane
(60 pasien). Pasien di setiap lengan menerima maksimum 6 siklus kemoterapi
taxane atau non-taxane. Yang dinilai adalah respon tumor & toksisitas.
Hasil: 25,7% pasien dari lengan taxane dan 10% pasien dari lengan non-taxane
memiliki respon patologis lengkap (p = 0,014). 90% pasien dari lengan taxane
dan 86,7% dari lengan non taxane menjadi "operable / dapat dioperasi" setelah
diberikan PST (p = 0,564). Neutropenia derajat 3 atau 4 terlihat masing-masing
pada 45,7% dan 3,3% pasien lengan taxane dan lengan non-taxane (p = 0,000).
Semua pasien menyelesaikan pengobatan yang direncanakan terlepas dari
insiden neutropenia derajat 3/4 yang lebih tinggi pada lengan docetaxel.

Kesimpulan: TAC memiliki respon patologis lengkap yang secara signifikan


lebih baik dan toksisitasnya lebih dapat ditoleransi. Oleh karena itu, pada
pasien LABC di India, kemoterapi yang mengandung taxane menjadi opsi yang
lebih baik. Penelitian ini jika dilanjutkan lebih lama, dapat mengkonfirmasi
apakah respon patologis yang lebih baik dapat diartikan memberi kelangsungan
hidup yang lebih baik atau tidak.
Kata kunci: Kanker payudara lokal stadium lanjut, respon tumor, taxane

PENGANTAR
Kanker payudara adalah kanker yang paling sering terjadi pada wanita baik di
seluruh dunia maupun pada populasi perkotaan di India. Di India 1 dari 28 wanita
mengalami kanker payudara setidaknya sekali selama hidupnya. Angka ini lebih
tinggi di daerah perkotaan yaitu 1 dari 22 dan di daerah pedesaan relatif rendah yaitu
1 diantara 60 wanita.1 Di negara bagian Kerala meskipun indikator kesehatannya

cukup baik, kanker payudara masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan
insidensi tahunannya adalah 14,9 / 100.000 penduduk.2
Satu dekade terakhir menjadi saksi perubahan dramatis dalam pemahaman
tentang biologi dan heterogenitas kanker payudara. pengetahuan lanjutan dalam
biologi membuka jalan untuk pengembangan terapi baru dan strategi pengobatan
dengan mengutamakan terapi per-individu (tailoring therapy). Kanker payudara lokal
stadium lanjut (LABC) menduduki lebih dari 50% kanker payudara yang diagnosis di
negara-negara berkembang seperti India. Kemoterapi sistemik primer (PST) diikuti
dengan modifikasi mastektomi radikal mencakup aksila, radioterapi lokal dan
pengobatan hormonal adalah standar yang diterima sebagai pengobatan untuk pasien
dalam kelompok ini.
Pendekatan pengobatan multi-modalitas ini dapat memberikan control
penyakit loco-regional dan sistemik yang lebih baik. Namun pengobatan yang
optimal pada kelompok ini belum ditentukan karena sifat heterogenitasnya. Mengenai
regimen kemoterapi sistemik primer, rencana kemoterapi anthracycline yang paling
umum adalah FAC (Fluracil, adriamycin, Cyclophosphamide) atau FEC (Fluracil,
Epirubicin, Cyclophosphamide) sementara rejimen mengandung taxane yang umum
digunakan adalah AC (docetaxel, adriamycin, Cyclophosphamide) atau AT
(Adriamycin , Docetaxel).
Regimen kemoterapi pra operasi yang memiliki tingkat respon klinis yang
tinggi

termasuk

rejimen

yang

mengandung

antrasiklin

(adriamycin

&

Cyclophosphamide) diikuti oleh taxane (paclitaxel atau docetaxel) atau sebaliknya.


Beberapa data terakhir menunjukkan bahwa tingkat respons

patologis lengkap

meningkat seiring dengan kepadatan dosis rejimen. Kemoterapi neoadjuvant memiliki


dampak yang sama terhadap kelangsungan hidup seperti kebanyakan kemoterapi
adjuvant. Hal ini sudah menunjukkan tingkat respons klinis lengkap mulai dari 20%
menjadi 53% dan tingkat respon parsial mulai dari 37% sampai 50%, dengan tingkat
respon total 80 sampai 90%. Tingkat respons Patologis lengkap pada kanker payudara
primer dan kelenjar getah bening aksila telah secara signifikan meningkatkan

kelangsungan hidup bebas penyakit dibandingkan dengan mereka yang memiliki pCR
kurang. 3
Respon Patologis lengkap pada kemoterapi neoadjuvant telah menjadi
penanda dalam menilai kelangsungan hidup bebas penyakit dan angka kelangsungan
hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu faktor yang memprediksi respon patologis
lengkap telah menjadi fokus dari sejumlah uji klinis saat ini. Dampak kemoterapi
sistemik pada kontrol lokal mendapat peningkatan perhatian karena adanya
metaanalisis terbaru dari percobaan acak yang menunjukkan bahwa kematian akibat
satu kanker payudara dapat dihindari untuk setiap empat rekurensi lokal yang
dicegah.

Di India di mana insiden LABC cukup tinggi dan biologi tumor tinggi,
penelitian yang membandingkan taxane vs kemoterapi Non-taxane sebagai neoajuvan terbilang cukup jarang. Dalam penelitian ini tujuan utama kami adalah menilai
PCR dan tujuan sekundernya adalah menilai respon klinis, kelayakan operasi,
toksisitas dan tolerabilitas.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif observasional terhadap
130 pasien LABC terutama yang tidak bisa dioperasi dan menerima kemoterapi
sistemik primer baik dengan taxane atau kombinasi kemoterapi yang mengandung
non-taxane mulai Januari 2013 sampai Januari 2014 di institusi kami. Kriteria inklusi
adalah pasien wanita kurang dari 75 tahun, terutama LABC yang tidak bisa di
dioperasi, biopsi inti dengan bukti histopatologi kanker invasif, cadangan sumsum
tulang, ginjal, hati dan fungsi jantung yang normal. Pasien yang tidak bersedia untuk
menjalani penelitian ini, orang-orang dengan riwayat pengobatan sebelumnya untuk
keganasan lain dan dengan kontraindikasi terhadap anthracycline, dikeluarkan dari
studi.
Pasien konsekutif yang memenuhi kriteria inklusi dan bersedia untuk
menjalani penelitian ini didaftar setelah dilakukan informed consent. Mereka
dikelompokkan menjadi dua lengan yaitu, taxane dan lengan non-taxane. Pasien
lengan taxane menerima TAC (docetaxel 75 mg / m2, Doksorubisin 50 mg / m2,
Cyclophosphamide 500 mg / m2) tiga mingguan hingga 6 siklus. Lengan non taxane
menerima kemoterapi baik dengan FAC (Fluracil 500 mg / m2, adriamycin 50 mg /
m2, Cyclophosphamide 500 mg / m2) atau FEC (Fluracil 500 mg / m2, Epirubicin
100 mg / m2, Cyclophosphamide 500 mg / m2) tiga mingguan hingga 6 siklus.