You are on page 1of 25

TUGAS

PRAKTEK ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA


SARAF PERIFER DAN OTOT RANGKA

Oleh:
Kelompok G-1
1.

Lilyana

1080849

2.

Cynthia Santoso

1080868

3.

Angelina Santoso

1080869

4.

Melya

1080870

5.

Stevie Pramudita W

1080871

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SURABAYA
2008

DAFTAR ISI

Halaman

Judul. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Daftar isi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bab I
Pendahuluan

ii

1.1 Tinjauan Pustaka. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


1.2 Rumusan Masalah. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
1.3 Tujuan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2.1 Sarana. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2.2 Prosedur. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Hasil Praktikum. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bab III
Bab IV

6
6

Metode Kerja
Bab II

7
7
13

Pembahasan
4.1 Kepekaan Saraf Perifer. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4.2 Kontraksi Otot Tetani. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4.3 Pengaruh Pembebanan terhadap Kekuatan Kontraksi Otot

17
18

dan Kerja Otot : after loaded dan pre loaded. . . . . . . . . . . . .


Kesimpulan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bab V
Daftar Pustaka
Lampiran : 1. Tabel 1. Kepekaan Saraf Perifer
2. Tabel 2. Data Kontraksi After Loaded
3. Tabel 3. Data Kontraksi Preloaded
4. Tabel 4. Data Kontraksi Berbagai Rangsangan Frekuensi
5. Grafik 1. Kepekaan Saraf Perifer
6. Grafik 2. Kontraksi After Loaded
7. Grafik 3. Kontraksi Preloaded
8. Kimograf

BAB I
PENDAHULUAN
2

19
21

1.1 Tinjauan pustaka


1.1.1 Saraf perifer
Seperti yang telah diketahui bersama, bahwa sistem saraf adalah
serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan. Dan sistem saraf
ini dibedakan menjadi dua, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf
perifer atau sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan
medula spinalis atau sumsum tulang belakang yang dilindungi oleh
tulang kranium dan kanal vertebrata.
Sistem saraf perifer adalah sistem saraf yang terdiri atas saraf
cranial dan saraf spinal yang menghubungkan otak dan medula spinalis
dengan reseptor dan efektor.
Berdasarkan asal atau kaitannya, sistem saraf tepi dibedakan
menjadi dua macam, yaitu:
A. Saraf otak / saraf cranial
Berjumlah dua belas pasang serabut saraf ( olfactory, optic,
oculomotor, trachlear, trigeminal, abducens, facial,

vesti-

bulocochlear, glossopharyngeal, vagus, acessory, hypoglossal ).


B. Saraf tulang belakang
Berjumlah 31 pasang serabut saraf.
Berdasarkan arah impuls, sistem saraf tepi dibedakan menjadi
dua macam, yaitu:
A. Sistem aferen/ sensori nerves/ afferent nerves
Membawa impuls saraf dari reseptor menuju ke sistem saraf pusat.
B. Sistem efferent/ motor nerves
Membawa impuls saraf dari sistem saraf pusat ke efektor. Efektor
dapat berupa otot atau berupa kelenjar
subdivisi, yaitu:

Divisi Somatik atau volunter

Siste ini memiliki dua

Berkaitan dengan perubahan lingkungan eksternal dan

pembentukan respon motorik volunter atau involunter.


Divisi Otonom atau involunter
Mengendalikan seluruh respon involunter pada otot polos,
otot jantung, dan kelenjar dengan cara mentransmisi impuls
saraf melalui dua jalur, yaitu saraf simpatis yang berasal
dari area toraks dan lumbal pada medula spinalis dan saraf
parasimpatik yang berasal dari area otak dan sacral pada
medula spinalis. Sebagian besar dari organ internal di
bawah kendali otonom memiliki inervasi simpatis dan
parasimpatis.

Pada dasarnya, fungsi dari sistem simpatis adalah memobilisasi


energi dalam situasi yang membuat stres peningkatan frekuensi jantung,
tekanan darah, konsentrasi darah, dan aliran darah ke otot rangka.
Sedangkan sistem parasimpatis, bekerja berlawanan dengan sistem
simpatis. Sistem ini mengubah dan menyimpan energi melalui
penurunan frekuansi jantung dan tekanan darah serta stimulasi saluran
pencernaan untuk memproses makanan. Kedua sistem ini bekerja di
bawah sadar untuk mempertahankan lingkungan internal atau
homeostasis.
Dalam percobaan yang telah dilakukan yaitu menguji kepekaan
saraf perifer, saraf yang digunakan adalah saraf nervus ischiadus yaitu
saraf perifer pada kaki katak. Nervus ischiadus mengandung banyak
serat-serat

motorik

yang

dikelompokkan

menjadi

rangsangan

subliminal, rangsangan liminal, rangsangan supraliminal, rangsangan


submaksimal, rangsangan maksimal, dan rangsangan supramaksimal.
Berikut penjelasan masing-masing rangsangan tersebut:

1. Rangsangan subliminal

Rangsangan yang diberikan tetapi belum ada satu motor unit yang
beraksi terhadap rangsangan tersebut dalam bentuk potensial aksi,
atau dengan kata lain belum mencapai batas ambang potensial aksi.
2. Rangsangan liminal
Rangsangan pertama kali yang diberikan pada satu motor unit yang
paling peka.
3. Rangsangan supraliminal
Rangsangan yang diberikan dimana sebagian kecil motor unit
mengalami potensial aksi yang besarnya sedikit lebih besar daripada
rangsangan liminal namun masih sangat lemah.
4. Rangsangan submaksimal
Rangsangan yang diberikan dimana ada beberapa motor unit yang
memberikan reaksi dan terlibat sebagai suatu kontraksi.
5. Rangsangan maksimal
Rangsangan yang diberikan untuk menghasilkan kontraksi yang
paling besar.
6. Rangsangan supramaksimal
Rangsangan yang diberikan setelah rangsangan maksimal dan
menimbulkan kontraksi yang sama besar atau lebih besar dari
rangsangan maksimal.
Semua rangsangan tersebut merupakan salah satu penerapan dari
hukum ALL OR NONE, yaitu jika stimulus lebih kecil dari nilai
ambang tidak akan terjadi potensial aksi, sebaliknya jika stimulus lebih
besar dari nilai ambang akan terjadi potensial aksi.
1.1.2 Otot
Otot merupakan alat gerak aktif karena kemampuannya
berkontraksi. Otot memendek jika berkontraksi dan memanjang jika
sedang berelaksasi. Kontraksi tersebut menghasilkan gerakkan. Otot
memiliki tiga karakteristik yaitu: kontrabilitas, ekstensibilitas, dan
elastisitas. Otot dapat berkontraksi karena adanya rangsangan.
Rangsangan yang dapat menimbulkan kontraksi otot bukan hanya satu
rangsangan saja melainkan karena suatu rangkaian rangsangan yang
berurutan. Rangsangan kedua memperkuat rangsangan pertama,

rangsangan ketiga memperkuat rangsangan kedua dan seterusnya.


Dengan demikian terjadilah tegangan maksimum.
Jenis - jenis otot adalah sebagai berikut:
1. Otot rangka
Otot ini merupakan otot lurik karena serabut kontraktilnya
memantulkan cahaya yang berselang-seling, gelap ( anisotrop ) dan
terang ( isotrop ), berjajar teratur membentuk pita ventrikel terhadap
poros otot; volunter karena bekerja dibawah kesadaran; biasanya
menempel pada rangka, lidah, bibir, kelopak mata dan diafragma.
Serabut otot sangat panjang kurang lebih 30 cm, berbentuk silinder
dengan lebar 10 100 mikron. Setiap serabut memiliki banyak inti
yang terletak di tepi sarkoplasma. Kontraksi otot rangka cepat, kuat
tetapi cepat lelah.
Ketika terjadi rangsangan, rangsangan akan disalurkan ke
otot melalui saraf motorik. Impuls yang mengalir ke terminal akson
menyebabkan terbukanya pori-pori membran kemudian menuju ke
membran ( ion Ca2+ ). Adanya ion ini mendorong ventrikel
ventrikel yang berisi neurotransmitter ke tepi membran dan
mengeluarkannya ke luar membran
2. Otot polos
Otot polos dapat ditemukan pada dinding berongga seperti
kandung kemih dan uterus, serta pada dinding tuba seperti pada
sistem respirator, pencernaan, reproduksi, urinarius, dan sistem
sirkulasi darah. Otot polos ini bekerja involunter atau tidak sadar.
Ciri khusus otot polos ini adalah tidak berlurik, serabut ototnya
berbentuk spindel, inti sel terletak di tengah, kontraksinya kuat dan
lamban dan serabutnya berukuran kecil yaitu berkisar 20 mikron 5
mm pada uterus orang hamil.
3. Otot jantung
Otot jantung merupakan

otot

yang

spesial,

karena

mempunyai bentuk seperti otot lurik dan mepunyai ciri yang sama
dengan otot polos. Panjangnya berkisar antara 85 100 mikron dan

diameternya sekitar 15 mikron. Kontraksi otot jantung kuat dan


berirama.
Dalam aktivitasnya otot melakukan kontraksi, salah satunya kontraksi
tetani. Kontraksi tetani dibagi menjadi dua:
1. Tetani Sempurna
Saraf diberi rangsang terus-menerus dengan interval pendek,
hasilnya otot secara maksimal sebagai gabungan dari beberapa
kontraksi dalam waktu yang lama selama ada rangsangan.
Pada kontraksi tetani, jika frekuensi stimulus meningkat
melebihi batas relaksasi otot maka kontraksi akan bergabung
menjadi kontraksi yang panjang dan kuat. Kontraksi tetani penting
dan sering terjadi dalam gerakan otot yang biasa. Stimulus berlanjut
yang diberikan pada otot dalam keadaan tetani akan mengakibatkan
keletihan

otot

dan

ketidakmampuan

untuk

mempertahankan

kontraksi.
Contoh grafik tetani

2. Tetani Tidak Sempurna


Jika interval rangsang diperpanjang, kontraksi individual
masih bisa terlihat. Tetani tidak sempurna juga dapat disebut sebagai
sumasi. Sumasi gelombang adalah gabungan kedutan akibat
stimulasi berulang. Jika stimulus diberikan secara berturut-turut
dengan cepat sehingga kontraksi kedua pada otot dimulai sebelum

kontraksi pertama selesai, maka kedua kontraksi dipadukan untuk


menghasilkan kontraksi yang lebih besar dan lebih lama.
Contoh grafik tetani tidak sempurna:

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana kepekaan saraf perifer (nervus aschiadicus) pada katak?
1.2.2 Bagaimana kontraksi otot tetani (musculus gastrocnemius) pada katak ?
1.2.3 Bagaimana pengaruh pembebanan terhadap kekuatan kontraksi otot dan
kerja otot (musculus gastrocnemius): after load dan preload?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum yang telah kami lakukan adalah sebagai
berikut:
1. Mempelajari dan mengetahui kepekaan saraf perifer (nervus ischiadicus)
2. Mempelajari dan mengetahui kontraksi otot tetani (musculus
gastroenemius)
3. Mengetahui pengaruh pembebanan terhadap kekuatan kontraksi oto dan
kerja otot (musculus gastroenemius) : after load dan preload.
BAB II
METODE KERJA
2.1 Sarana
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Statif + alat penulis + sekrup penyangga
2. Tempat beban + beban
3. Papan fiksasi + jarum fiksasi

4. Alat atau jarum penusuk


5. Kimograf dan kertas grafik
6. Stimulator listrik
7. Larutan ringer
8. Pipet
9. Benang
10. Katak
2.2 Prosedur
2.2.1 Preparasi Katak
1. Merusak Otak dan Medula Spinalis
Tujuannya agar hewan coba tidak lagi merasa sakit. Disamping itu
juga untuk menghilangkan pengaruh susunan saraf pusat yang dapat
mengganggu jalannya percobaan.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk merusak otak dan medula
spinalis yaitu :
1. Memegang katak dengan tangan kiri sedemikian rupa, jari
telunjuk diletakkan di bagian belakang kepala dan ibu jari di
bagian punggung.
2. Menekan jari telunjuk agar kepala katak sedikit merunduk
sehingga terdapat lekukan antara kranium dan columna
vertebralis.
3. Menusukkan jarum penusuk pada lekukan tersebut dimana sela
interspinalis lebar. Kemudian mengarahkan jarum ke dalam
rongga tengkorak dan gerakan kian kemari untuk merusak otak
katak. Setelah itu memindahkan arah jarum ke jurusan medula
spinalis. Memutar jarum ke arah yang berlainan untuk merusak
medula spinalis. Tanda bahwa jarum masuk ke dalam rongga dan
merusak medula spinalis adalah kekejangan dari kedua otot kaki
katak.
2. Membuat Sediaan Musculus Gastroenemius

Setelah tindakan merusak otak dan medula spinalis selesai,


selanjutnya membuat sediaan musculus gastroenemius dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menggunting kulit tungkai bawah kanan melingkar setinggi
pergelangan kaki.
2. Mengangkat kulit yang telah lepas ke atas dengan pinset.
3. Memisahkan tendon achilles dari jaringan sekitarnya dengan alat
tumpul. Tendon Achilles jangan dipotong dulu.
4. Mengikat tendon Achilles dengan benang yang telah disediakan
berupa ikatan mati yang kuat pada insertionya. Kemudian
memotong tendon Achilles tersebut pada bagian distal dari ikatan
benang tersebut.
5. Membebaskan musculus gastroenemius dari jaringan sekitarnya
sampai mendekati persendian lutut (jangan memotong musculus
gastroenemius).
6. Memasang ikatan benang yang kuat pada tulang tibia, fibula serta
otot-otot yang melekat pada tulang tersebut (kecuali musculus
gastroenemius) kira-kira 5 mm di bawah lutut.
7. Memotong tulang-tulang tibia, fibula serta otot-otot yang melekat
pada tulang tersebut di bawah ikatan benang.
8. Mengembalikan kulit tadi ke bawah sehingga menutupi kembali
otot-otot gastroenemius untuk melindunginya agar tidak kering.
9. Membasahi sediaan ini setiap kali dengan larutan Ringer.
3. Membuat Sediaan Nervus Ischiadicus
1. Meletakkan katak pada posisi tertelungkup, menggunting kulit
memanjang pada bagian paha belakang kanan sehingga ototnya
terlihat.
2. Mencari nervus isciadicus dengan cara memisahkan otot-otot
pada daerah paha belakang menggunakan alat tumpul. Hati-hati
jangan merusak pembuluh darah yang berjalan bersama-sama
nervus ischiadicus.
3. Membuat

simpul

longgar

pada

nervus

ischiadicus

mengembalikan nervus ischiadicus di antara otot-otot.

10

dan

4. Mempersiapkan Sediaan Nervus Ischiadicus dan Musculus


Gastroenemius untuk Percobaan Selanjutnya
1. Meletakkan katak tertelungkup pada papan katak.
2. Memfiksir kaki kanan, dengan lutut pada tepi bawah papan
sehingga nantinya musculus gastroenemius dapat tergantung
bebas.
3. Memfiksir ketiga kaki yang lain, sehingga paha kanan dalam
posisi tegak lurus untuk memudahkan pemasangan electrode
perangsang.
4. Menghubungkan tali pada ujung tendon Achilles dengan penulis.
5. Mengatur posisi penulis, tanda rangsang dan tanda waktu
sehingga percobaan dapat berlangsung dengan benar.
2.2.2 Kepekaan Saraf Perifer
Untuk mempelajari dan mengetahui kepekaan saraf perifer, melakukan
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menyiapkan

sediaan

nervus

ischiadicus

dan

musculus

gastroenemius.
2. Memberikan rangsangan tunggal (dengan menggunakan elektroda
stimulator listrik) pada nervus ischiadicus dimulai dengan intensitas
rangsangan yang paling kecil, selanjutnya secara bertahap besar
intensitas rangsangan dinaikkan dengan interval waktu 30 detik.
Setiap kali menambah intensitas rangsangan, drum kimograf diputar
sekitar 0,5 cm supaya gambaran alat penulis pada kertas kimograf
tidak tumpang tindih.
3. Memperhatikan apa yang tergambar oleh penulis pada kertas
kimograf. Dengan melihat hasil yang tergambar pada kertas
i.
ii.
iii.
iv.
v.
vi.

kimograf, menentukan besar:


Rangsangan subliminal
Rangsangan liminal
Rangsangan supraliminal
Rangsangan submaksimal
Rangsangan maksimal
Rangsangan supramaksimal

11

2.2.3 Pengaruh Pembebanan Terhadap Kekuatan Kontraksi dan Kerja


Otot Rangka
Pembebanan pada otot dapat dibagi menjadi 2, yaitu:
- Pembebanan yang diberikan pada saat otot kontraksi (after loaded)
- Pembebanan yang diberikan sebelum otot kontraksi (preloaded)
Kontraksi After Loaded
Tahapan dalam mengamati kontraksi after loaded sebagai berikut:
1. Mengatur sekrup penyangga sehingga ujung sekrup menyangga
penulis dan garis dasar (baseline) penulis tidak berubah. Dengan
demikian panjang otot tidak akan berubah (tidak direnggang oleh
tempat beban maupun beban yang ditambahkan).
2. Dalam keadaan tanpa pengisian beban dengan kimograf dalam
keadaan diam, merangsang nervus ischiadicus dengan rangsangan
tunggal maksimal.
3. Memberi beban 10 gram, memutar kimograf 0,5 cm, interval waktu
rangsangan 30 detik kemudian beri rangsangan tunggal maksimal
lagi.
4. Mengulang tindakan di atas dengan setiap kali menambah beban
sebesar 10 gram hingga otot tidak dapat mengangkat beban lagi.
5. Dari hasil gambaran penulis pada kertas kimograf:
a. Menghitung kerja otot (W) untuk setiap pembebanan.
b. Membuat grafik yang menggambarkan hubungan antara besar
beban (pada absis) dengan besar kerja otot (pada ordinat).
c. Memberi penjelasan dan kesimpulan tentang grafik tersebut.
Kontraksi Preloaded
Tahapan dalam mengamati kontraksi preloaded sebagai berikut:
1. Melonggarkan sekrup penyangga yang menyangga penulis sehingga
musculus gastroenemius secara langsung menahan tempat beban.
Mengatur letak penulis sehingga posisinya horisontal.
2. Merangsang nervus ischiadicus dengan rangsangan tunggal
maksimal.
3. Memberi beban 10 gram, putar kimograf 0,5 cm, mengembalikan
penulis pada posisi horisontal, kemudian beri rangsangan tunggal
maksimal lagi.

12

4. Mengulangi tindakan di atas dengan setiap kali menambah beban 10


gram, sehingga otot tidak dapat mengangkat beban lagi.
5. Dari hasil gambaran penulis pada kertas kimograf:
a. Menghitung kerja otot (W) untuk setiap pembebanan.
b. Membuat grafik yang menggambarkan hubungan antara besar
beban (pada absis) dengan besar kerja otot (pada ordinat).
c. Memberi penjelasan dan kesimpulan tentang grafik tersebut.
d. Membandingkan dan memberi penjelasan mengenai perbedaan
antara grafik pada kontraksi after loaded dengan kontraksi
preloaded.
2.2.4 Kontraksi Tetani
Untuk mempelajari dan mengetahui kontraksi tetani, melakukan
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Memberi rangsangan maksimal secara beruntun (multiple maximal
stimulus, successive maximal stimulus) dimulai dengan frekuensi
rendah selama 3-5 detik, selanjutnya secara bertahap frekuensi
rangsangan ditingkatkan dengan interval waktu sekitar 60 detik
(untuk memberi istirahat yang cukup bagi otot) sampai terjadi
complete tetanic contraction (kontraksi tetani lurus).
2. Memperhatikan apa yang tergambar oleh penulis pada kertas
kimograf, dengan melihat hasil yang tergambar pada kertas
kimograf, mencatat masing-masing data frekuensi rangsangan dan
gambar grafik kontraksi yang dihasilkan, selanjutnya memasukkan
data tersebut pada tabel data yang tersedia.

13

BAB III
HASIL PRAKTIKUM

Setelah kami melakukan praktikum, didapat data sebagai berikut:


Tabel I. Data Kepekaan Saraf Perifer
Kepekaan Saraf Perifer
(nervus ischiadicus)
Rangsangan (volt)
0,01

Kontraksi (cm)
0

0,05

0,05

0,1

0,1

0,15

0,1

0,20

0,2

0,25

0,2

0,5

0,3

2,8

1,5

3,2

3,2

14

2,5

10

3,1

15

2,7

20

25

2,8

Besar rangsangan subliminal

0,01 V

Besar rangsangan liminal

0,05 V

Besar rangsangan supraliminal

0,1 V

Besar rangsangan submaksimal

1V

Besar rangsangan maksimal

1,5 V

Besar rangsangan supramaksimal

2V

Grafik I. Kepekaan Saraf Perifer

3.5

Kontraksi (cm)

3
2.5
2
1.5
1
0.5

Rangsangan (Volt)

0
0,01 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 5,00 10,0 15,0 20,0 25,0

Tabel II. Data Kontraksi After Loaded


Kontraksi After Loaded
15

Beban (gram)
10

(musculus gastroenemius)
Kontraksi (cm)
0,8

Kerja (joule)
8 10-5

20

Grafik II. Kontraksi After Loaded

Kerja (joule)

0
0
0
0
0
0
0
0
0

Beban (gram)

10

Tabel III. Data Kontraksi Perloaded


Kontraksi Preloaded
Beban (gram)
10

(musculus gastroenemius)
Kontraksi (cm)
0

Kerja (joule)
0

20

Grafik III. Kontraksi Preloaded

16

20

1
0.8
0.6
0.4
0.2
0

Kerja (joule)

Beban (gram)

10

20

Tabel IV. Data Kontraksi Rangsangan Berbagai Frekuensi


Kontraksi Sumasi Kontraksi Tetani
Frekuensi Rangsangan
Kontraksi Sumasi (+/-)
Kontraksi Tetani (+/-)
(kali/detik)
0,2 x/detik

0,4 x/detik

0,8 x/detik

1 x/detik

2 x/detik

3 x/detik

4 x/detik

5 x/detik

6 x/detik

7 x/detik

8 x/detik

9 x/detik

10 x/detik

25 x/detik

50 x/detik

100 x/detik

17

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Kepekaan Saraf Perifer
Dari praktikum yang telah kami lakukan, kami mendapatkan data
sebagai berikut:
4.1.1 Rangsangan Subliminal
Rangsangan subliminal adalah rangsangan yang diberikan tetapi belum
ada satu motor unit yang bereaksi terhadap rangsangan tersebut dalam
bentuk potensial aksi. Pada percobaan yang telah kami lakukan
terhadap katak yang kami uji cobakan, besar rangsangan subliminalnya
adalah 0,01 volt di mana besar kontraksinya adalah nol.
4.1.2 Rangsangan Liminal
Rangsangan liminal adalah rangsangan yang diberikan dan mulai terjadi
reaksi dari satu motor unit yang paling peka (terjadi kontraksi pertama
kali). Pada percobaan yang telah kami lakukan terhadap katak yang
kami uji cobakan, besar rangsangan liminalnya adalah 0,05 volt di
mana besar kontraksinya 0,05 cm.
4.1.3 Rangsangan Supraliminal
Rangsangan supraliminal adalah rangsangan yang menyebabkan
terjadinya kontraksi yang lebih besar daripada rangsangan liminal. Pada
percobaan yang telah kami lakukan terhadap katak yang kami uji
cobakan, besar rangsangan supraliminalnya adalah 0,1 volt di mana
besar kontraksinya 0,1 cm.
4.1.4 Rangsangan Submaksimal

18

Rangsangan submaksimal adalah rangsangan yang diberikan sehingga


terjadi kontraksi yang besarnya mendekati nilai maksimalnya. Pada
percobaan yang telah kami lakukan terhadap katak yang kami uji
cobakan, besar rangsangan submaksimalnya adalah 1 volt di mana besar
kontraksinya 2,8 cm.
4.1.5 Rangsangan Maksimal
Rangsangan maksimal adalah rangsangan yang diberikan di mana
semua motor unit memberikan reaksi sehingga menimbulkan reaksi
yang paling tinggi. Pada percobaan yang telah kami lakukan terhadap
katak yang kami uji cobakan, besar rangsangan maksimalnya adalah 1,5
volt di mana besar kontraksinya 3,2 cm.
4.1.6 Rangsangan Supramaksimal
Rangsangan supramaksimal adalah rangsangan yang diberikan setelah
rangsangan maksimal. Pada percobaan yang telah kami lakukan
terhadap

katak

yang

kami

uji

cobakan,

besar

rangsangan

supramaksimalnya adalah 2 volt di mana besar kontraksinya 3 cm.


Pada percobaan kepekaan saraf perifer pada katak, ketika saraf katak
diberi rangsangan 2 volt terjadi kontraksi sepanjang 3,2 cm. Namun dari
grafik data percobaan kami, didapati ternyata bahwa panjang kontraksi tidak
meningkat seiring dengan besarnya rangsangan yang diberikan. Setelah
rangsangan 2 volt ternyata kontraksi menurun dan meningkat secara tidak
beraturan. Hal ini mungkin disebabkan karena selang waktu yang diberikan
untuk otot beristirahat kurang lama sehingga kepekaan otot berkurang. Selain
itu juga, karena katak yang kami gunakan berukuran kecil, maka
kemungkinan waktu membedah dan mempersiapkan alat-alat agak lama
sehingga kondisi tubuh katak menjadi tidak stabil.
4.2 Kontraksi Otot Tetani
Kontraksi tetani dibagi menjadi dua:
4.2.1 Tetani Sempurna

19

Saraf diberi rangsang terus-menerus dengan interval pendek,


hasilnya otot secara maksimal sebagai gabungan dari beberapa
kontraksi dalam waktu yang lama selama ada rangsangan. Dari
percobaan yang telah kami lakukan, di dapat bahwa kontraksi tetani
mulai ada pada frekuensi ransangan 10kali/detik 100kali/detik.

4.2.2 Tetani Tidak Sempurna


Jika interval rangsang diperpanjang, kontraksi individual masih
bisa terlihat. Tetani tidak sempurna juga dapat disebut sebagai sumasi.
Sumasi gelombang adalah gabungan kedutan akibat stimulasi berulang.
Jika stimulus diberikan secara berturut-turut dengan cepat sehingga
kontraksi kedua pada otot dimulai sebelum kontraksi pertama selesai,
maka kedua kontraksi dipadukan untuk menghasilkan kontraksi yang
lebih besar dan lebih lama.
Dari percobaan yang telah kami lakukan, frekuensi rangsangan dari 0,29 x/detik termasuk kontraksi sumasi dan 10-100 x/detik termasuk kontraksi
tetani.
4.3 Pengaruh Pembebanan terhadap Kekuatan Kontraksi Otot dan Kerja
Otot : after loaded dan pre loaded
4.3.1 After loaded
After loaded adalah pembebanan yang diberikan saat otot
berkontraksi. Pada saat pemberian beban sebesar 10 gram, terjadi
kontraksi otot sebesar 0,8 cm. Sedangkan saat penambahan beban
sehingga berat beban menjadi 20 gram, tidak terjadi kontraksi otot. Hal
ini mungkin dikarenakan waktu yang digunakan dalam preparasi katak
terlalu lama sehingga menyebabkan kondisi katak menjadi tidak stabil.
Sehingga meskipun otot sudah melakukan usaha, tetap tidak mampu
mengangkat beban yang diberikan.
4.3.2 Preloaded

20

Preloaded adalah pembebanan yang diberikan sebelum otot


kontraksi. Pada percobaan yang telah kami lakukan terhadap katak,
pertama-tama saat katak diberikan beban pertama sebesar 10 gram tidak
terjadi kontraksi. Hal tersebut juga terjadi pada saat penambahan beban
berikutnya dilakukan. Hal tersebut mungkin disebabkan karena kondisi
tubuh katak yang tidak stabil dan waktu yang diberikan untuk otot
berelaksasi tidak cukup.

21

BAB V
KESIMPULAN
Berikut kesimpulan yang dapat kami peroleh dari percobaan yang
telah kami lakukan:
5.1 Semakin besar rangsangan yang diberikan, semakin panjang kontraksi yang
dihasilkan. Pada percobaan yang telah kami lakukan makin besar
rangsangan yang diberikan, panjang kontraksi yang dihasilkan tidak
meningkat, tetapi ada yang menurun. Hal ini disebabkan oleh waktu yang
dibutuhkan untuk otot berelaksasi yang kurang dan kondisi tubuh katak.
5.2 Frekuensi rangsangan dari 0,2-9 x/detik termasuk kontraksi sumasi dan 10100 x/detik termasuk kontraksi tetani.
5.3 Katak yang dipakai dalam percobaan memiliki keadaan yang tidak stabil,
yang disebabkan waktu yang lama dalam mempersiapkan segala
peralatannya.

22

DAFTAR PUSTAKA
Ganong, William F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Guyton & Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Marieb, Elaine N. 1994. Essentials of Human Anatomy & Physiology.
California: The Benjamin/Cummings Publishing Company, inc.
Sloane, Ethel. -. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.

23

LAMPIRAN

Kimograf Kepekaan Saraf Perifer

Kimograf Kontraksi After Loaded

24

Kimograf Kontraksi Preloaded

Kimograf Kontraksi Berbagai Rangsangan Frekuensi

25