You are on page 1of 15

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGUE HEMORAGIC FEVER (DHF)

OLEH
SAESAR QUINEN MANDATARI

I4B016026

PROGRAM PROFESI NERS


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2016
A. LATAR BELAKANG
Penyakit DHF ditemukan nyaris di seluruh belahan dunia terutama di negaranegara tropik dan subtropik baik sebagai penyakit endemik maupun epidemik.
Hasil studi epidemiologi menunjukkan bahwa DHF terutama menyerang
kelompok umur balita sampai dengan umur sekitar 15 tahun serta tidak ditemukan
perbedaan signifikan dalam hal kerentanan terhadap serangan dengue antar
gender. Outbreak (KLB, Kejadian Luar Biasa) dengue biasanya terjadi di daerah
endemik dan berkaitan dengan datangnya musim penghujan. Hal tersebut sejalan
dengan aktivitas vektor dengue yang justru terjadi pada musim penghujan.
Penularan penyakit DHF antar manusia terutama berlangsung melalui vektor

nyamuk Aedes aegypti. Sehubungan dengan morbiditas dan mortilitasnya, DHF


disebut sebagai the mosquito transmitted disease.
Demam berdarah dengue yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang
masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aedypti. Demam berdarah
dengue merupakan penyakit akut yang disebabkan oleh infeksi virus yang dibawa
oleh nyamuk Aedes aegypti dan aedes Albopictus betina yang umumnya
menyerang pada musim hujan dan musim panas. Virus itu menyebabkan
gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada system pembekuan darah,
sehingga mengakibatkan pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahanperdarahan. Manifestasi klinis dari infeksi virus dengue dapat berupa demam
dengue dan DBD dengue. Infeksi virus dengue terus mengalami peningkatan
prevalensi.
Setiap tahunnya, diperkirakan terdapat 50 juta-100 juta demam dengue dan
lebih dari 500.000 kasus demam berdarah dengue di dunia. Penyakit infeksi virus
dengue banyak menyerang kelompok umur 5-9 tahun, 10-15 tahun, dan 15-44
tahun. Hasil-hasil penelitian para peneliti menunjukan adanya hubungan
perubahan iklim, kelembapan, kepadatan larva aedes aegypti, perilaku bersih dan
sehat belum terwujud dan lingkungan hidup yang belum memadai dengan
kejadian luar biasa penyakit DBD.

Demam berdarah dengue (DBD) menjadi masalah kesehatan global pada


decade terakhir dengan meningkatnya insiden DBD didunia. WHO melaporkan
lebih dari 2,5 miliar orang dari 2/5 populasi dunia saat ini beresiko terinfeksi virus
dengue. Jumlah Negara yang melaporkan kasus DBD dari tahun ke tahun terus
meningkat. Tercatat tahun 2007 ada 68 negara yang melaporkan kasus ini. Jumlah
tersebut meningkat dari tahun 1999 dimana hanya 29 negara saja yang
melaporkan. Saat ini lebih dari 100 negara di afrika, Amerika, Mediterania Timur,
Asia Tenggara dan Pasifik Barat merupakan wilayah dengan dampak DBD serius.
B. DEFINISI
DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang di tularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti dan aedes albopictus. Virus ini akan mengganggu

kinerja darah kapiler dan system pembekuan darah, sehingga mengakibatkan


perdarahan-perdarahan. Penyakit ini banyak ditemukan di daerah tropis, seperti
Asia Tenggara, India, Brazil, Amerika, termasuk di seluruh pelosok Indonesia,
kecuali ditempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas
permukaan air laut. Demam Berdarah Dengue tidak menular melalui kontak
manusia dengan manusia. Virus dengue sebagai penyebab demam berdarah hanya
dapat ditularkan melalui nyamuk. (Prasetyo, 2012, )
DHF adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan
manifestasi klinis demam, nyeri otot / nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam,
limfadenopati, trombositopenia dan diathesis hemoragik. Pada DBD terjadi
perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit)
atau penumpukan cairan dirongga tubuh. (Sudoyo, dkk, 2006).
Klasifikasi DHF berdasarkan kriteria menurut WHO yaitu :
1. Derajat I ( ringan )
Demam mendadak dan sampai 7 hari di sertai dengan adanya gejala yang tidak
khas dan uji turniquet (+).
2. Derajat II ( sedang )
Lebih berat dari derajat I oleh karena di temukan pendarahan spontan pada kulit
misal di temukan adanya petekie, ekimosis, pendarahan

3. Derajat III ( berat )


Adanya gagal sirkulasi di tandai dengan laju cepat lembut kulit dngin gelisah tensi
menurun manifestasi pendarahan lebih berat( epistaksis, melena)
4. Derajat IV ( DIC )
Gagal sirkulasi yang berat pasien mengalami syok berat tensi nadi tak teraba.
C. ETIOLOGI
Penyakit ini disebabkan koleh virus dengue, ditularkan melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti betina. Virus ini menyebabkan gangguan pada pembuluh darah
kapiler dam sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan perdarahan, dapat
menimbulkan kematian. Penyebab penyakit adalah virus yang mengganggu

pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga


mengakibatkan perdarahan-perdarahan.
DHF juga disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus yang berbeda
antigen. Virus ini adalah kelompok flavirus dan serotipenya adalah DEN-1, DEN2, DEN-3, DEN-4. Infeksi oleh salah satu jenis serotipe ini akan memberikan
kekebalan seumur hidup, tetapi tidak menimbulkan kekebalan terhadap serotipe
yang lain. Sehingga seseorang yang hidup di daerah endemis DHF dapat
mengalami infeksi sebanyak 4 kali seumur hidupnya.
D. PATOFISIOLOGI
Fenomena patofisiologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatnya
permeabilitas dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma
ke ruang extra seluler. Hal pertama yang terjadi setelah virus masuk kedalam
tubuh penderita adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam,
sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik
merah pada kulit (petekie), hiperemi tenggorokan dan hal lain yang mungkin
terjadi seperti pembesaran kelenjer getah bening, pembesaran hati (hepatomegali),
dan pembesaran limpa (splenomegali).
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler terjadi karena penglepasan zat
anafilaktosin, histamin dan serotonin serta aktivasi sistem kalikren yang berakibat
ekstravisasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plasma,
terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia serta renjatan/shock.
Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan adanya
kebocoran / prembesan plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk
patokan pemberian cairan intra vena. Jika pemberian cairan tidak adekuat,
penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi
yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan. Jika hipovolemik atau renjatan
berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian
apabila tidak segera diatasi dengan baik.
E. PATHWAY

F. MANIFESTASI KLINIS
Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan
masa inkubasi antara 13 15 hari, rata rata 2 8 hari. Penderita biasanya
mengalami ;
-

Demam akut / suhu meningkat tiba-tiba (selama 2 7 hari).

- Sering disertai menggigil


-

Perdarahan pada kulit ( petekie, ekimosis, hematoma ) serta perdarahan

lain seperti epitaksis, hematemesis, hematuria dan malena


-

Keluhan pada saluran pernapasan ; batuk, pilek, sakit waktu menelan

Keluhan pada saluran cerna ; mual, muntah, tak nafsu makan, diare,

konstipasi
-

Keluhan sistem tubuh yang lain ; nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot,

tulang dan sendi, nyero otot abdomen, nyeri ulu hati, pegal-pegal pada seluruh
tubuh, kemerahan pada kulit, kemerahan pada muka, pembengkakan sekitar
mata, lakrimasi dan fotopobia, otot-otot sekitar mata sakit bila disentuh.
-

Hepatomegali, splenomegali

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Infeksi virus dengue dapat bersifat asimptomatik atau simptomatik
berbentuk undiffereintiated fever, demam dengue, demam berdarah dengue
atau sindroma renjatan dengue. Gambaran klasik demam berdarah dengue
ditandai oleh 4 gejala utama yaitu: demam tinggi, manifestasi perdarahan,
hepatomegali tanpa atau disertai renjatan, dan dua kelainan laboratorium
utama yaitu trombositopenia dan hemokonsentrasi.
Dasar diagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF)WHO tahun 1986:
Kriteria klinis :
a. Panas dengan onset yang akut, tinggi dan menetap selama 2-7 hari
b. Menifestasi perdarahan petikie, melena, hematemesis (test rumple
leed).
c. Pembesaran hepar.
d. Syock yang ditandai dengan nadi lemah, cepat, tekanan darah
menurun, akral dingin dan sianosis, dan gelisah.
Kriteria laboratorium:
a. Trombositopenia (kurang atau sama dengan 100.000/ mm3)
b. Hemokonsentrasi : terdapat kenaikan hematokrit lebih atau sama
dengan 20% pada masa akut dibandingkan dengan masa
penyembuhan.
Menurut pedoman tersebut diagnosis klinis demam berdarah
dengue sudah dapat ditegakkan bila ditemukan dua gejala klinis disertai

trombositopenia dan hemokonsentrasi atau peningkatan hematokrit. Bila


ditemukan anemia atau perdarahan hebat, efusi pleura dan atau adanya
hipoalbuminemi, menandakan adanya kebocoran plasma.
Syok dengan hematokrit yang tinggi (kecuali pada penderita
dengan perdarahan berat) dan trombositopenia yang nyata menunjang
diagnosis demam berdarah dengue/ sindrom renjatan dengue.
H. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut:
a. Tirah baring atau istirahat baring.
b. Diet makan lunak.
c. Minum banyak (2 2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirup dan
beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling penting
bagi penderita DHF.
d. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali) merupakan
cairan yang paling sering digunakan.
e. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika kondisi
pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.
f. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.
g. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen.
h. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
i. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.
j. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan tandatanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk.
k. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam.
Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan segera
dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila tidak tampak
perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran sebanyak 20
30 ml/kg BB. Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit
dipertahankan 12 48 jam setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan telah teratasi
nadi sudah teraba jelas, amplitudo nadi cukup besar, tekanan sistolik 20 mmHg,
kecepatan plasma biasanya dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam. Transfusi darah
diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang hebat. Indikasi

pemberian transfusi pada penderita DHF yaitu jika ada perdarahan yang jelas
secara klinis dan abdomen yang makin tegang dengan penurunan Hb yang
mencolok. Pada DBD tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu 1-2 liter
dalam 24 jam. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkan orang tua.
Infus diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila :
a. Pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga
mengancam terjadinya dehidrasi.
b. Hematokrit yang cenderung mengikat.
I. KOMPLIKASI
1.

DHF mengakibatkan perdarahan pada semua organ tubuh seperti; perdarahan

ginjal, otak, jantung, patu-paru, limfa dan hati karena pembuluh darah mudah
rusak dan bocor. Sehingga tubuh kehabisan darah dan cairan, serta menyebabkan
kematian.
2.

Enselopati

3.

Gangguan kesadaran dan disertai kejang

4.

Disorientasi

J. PENGKAJIAN
Dalam memberikan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan dasar utama
dan hal penting dilakukan oleh perawat. Hasil pengkajian yang dilakukan perawat
terkumpul dalam bentuk data. Adapun metode atau cara pengumpulan data yang
dilakukan dalam pengkajian : wawancara, pemeriksaan (fisik, laboratorium,
rontgen), observasi, konsultasi.

a. Data subyektif
Adalah data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan pasien atau keluarga pada
pasien DHF, data obyektif yang sering ditemukan menurut Christianti Effendy,
1995 yaitu :
1.)Lemah.
2.)Panas atau demam.
3.)Sakit kepala.
4.)Anoreksia, mual, haus, sakit saat menelan.

5.)Nyeri ulu hati.


6.)Nyeri pada otot dan sendi.
7.)Pegal-pegal pada seluruh tubuh.
8.)Konstipasi (sembelit).
b. Data obyektif :
Adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi
pasien. Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara lain :
1)Suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan.
2)Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor.
3)Tampak bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+), epistaksis,
ekimosis, hematoma, hematemesis, melena.
4)Hiperemia pada tenggorokan.
5)Nyeri tekan pada epigastrik.
6)Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa.
7)Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah, hipotensi, ekstremitas
dingin, gelisah, sianosis perifer, nafas dangkal.
c. Pemeriksaan laboratorium pada DHF akan dijumpai :
1)Ig G dengue positif.
2)Trombositopenia.
3)Hemoglobin meningkat > 20 %.
4)Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat).
5)Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia, hiponatremia,
hipokloremia.
Pada hari ke- 2 dan ke- 3 terjadi leukopenia, netropenia, aneosinofilia,
peningkatan limfosit, monosit, dan basofil.
1)SGOT/SGPT mungkin meningkat.
2)Ureum dan pH darah mungkin meningkat.
3)Waktu perdarahan memanjang.
4)Asidosis metabolik.
5)Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan.
K. Diagnosa Keperawatn

a.

Nyeri akut b.d agen injury biologi

b.

Hipertermia b.d proses penyakit

c. Ketidakseimbangan

nutrisi:

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

b.d.

ketidakmampuan memasukkan makanan (nausea)


d. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, pencegahan dan pengobatan
b.d kurangnya informasi.

N
o
1

Diagnosa Keperawatan
Nyeri

Tujuan dan
Kriteria Hasil

Intervensi

NOC :

NIC :

Pain Level,
Pain control,
Comfort level
Kriteria Hasil :

I.

Mampu mengontrol
nyeri (tahu penyebab
nyeri,
mampu
menggunakan
tehnik
nonfarmakologi
untuk
mengurangi nyeri, mencari
bantuan)
Melaporkan bahwa
nyeri berkurang dengan
menggunakan manajemen
nyeri
Mampu mengenali
nyeri (skala, intensitas,
frekuensi dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
Tanda vital dalam
rentang normal

PAIN

MANAGEMENT
Lakukan pengkajian
nyeri secara komprehensif
termasuk
lokasi,
karakteristik,
durasi,
frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi
Observasi
reaksi
nonverbal
dari
ketidaknyamanan
Gunakan
teknik
komunikasi terapeutik untuk
mengetahui
pengalaman
nyeri pasien
Kaji
kultur
yang
mempengaruhi respon nyeri
Evaluasi pengalaman
nyeri masa lampau
Evaluasi
bersama
pasien dan tim kesehatan
lain tentang ketidakefektifan
kontrol nyeri masa lampau
Bantu pasien dan
keluarga untuk mencari dan
menemukan dukungan
Kontrol
lingkungan
yang dapat mempengaruhi
nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan
dan
kebisingan

Kurangi
faktor
presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan
penanganan
nyeri
(farmakologi,
non
farmakologi
dan
inter
personal)
Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk menentukan
intervensi
Ajarkan tentang teknik
non farmakologi
Berikan
analgetik
untuk mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak berhasil
Monitor penerimaan
pasien tentang manajemen
nyeri

Hipertermia

NOC
:
NIC :
Fever
Thermoregulation
treatment
Kriteria
Monitor suhu sesering
Hasil :
mungkin
Suhu tubuh

Monitor IWL
dalam rentang

Monitor warna dan


normal
suhu kulit
Nadi dan RR
Monitor tekanan darah,
dalam rentang
nadi dan RR
normal
Monitor
penurunan
Tidak ada
tingkat kesadaran
perubahan warna
Monitor WBC, Hb, dan
kulit dan tidak
Hct
ada pusing
Monitor intake dan
output
Berikan anti piretik
Berikan pengobatan
untuk
mengatasi
penyebab demam
Selimuti pasien
Lakukan tapid sponge
Kolaborasipemberian
cairan intravena
Kompres pasien pada

lipat paha dan aksila


Tingkatkan
sirkulasi
udara
Berikan pengobatan
untuk
mencegah
terjadinya menggigil

Temperature
regulation
Monitor suhu minimal
tiap 2 jam
Rencanakan
monitoring
suhu
secara kontinyu
Monitor TD, nadi, dan
RR
Monitor warna dan
suhu kulit
Monitor tanda-tanda
hipertermi
dan
hipotermi
Tingkatkan
intake
cairan dan nutrisi
Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
Ajarkan pada pasien
cara
mencegah
keletihan akibat panas
Diskusikan
tentang
pentingnya pengaturan
suhu dan kemungkinan
efek
negatif
dari
kedinginan
Beritahukan tentang
indikasi
terjadinya
keletihan
dan
penanganan
emergency
yang
diperlukan
Ajarkan indikasi dari
hipotermi
dan
penanganan
yang
diperlukan
Berikan anti piretik jika
perlu

Ketidakseimbangan nutrisi kurang

NOC :

NIC :

dari kebutuhan tubuh

Nutritional Status :
food and Fluid
Intake
Nutritional Status :
nutrient Intake
Weight control
Kriteria Hasil :
Adanya
peningkatan berat
badan sesuai
dengan tujuan
Berat badan ideal
sesuai dengan
tinggi badan
Mampu
mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda
tanda malnutrisi
Menunjukkan
peningkatan fungsi
pengecapan dari
menelan
Tidak terjadi
penurunan berat
badan yang berarti

Nutrition Management

Defisit Volume Cairan


Definisi : Penurunan cairan intravaskuler,
interstisial, dan/atau intrasellular. Ini
mengarah ke dehidrasi, kehilangan cairan
dengan pengeluaran sodium

NOC:

Kaji adanya alergi


makanan
Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan
pasien.
Anjurkan pasien untuk
meningkatkan intake
Fe
Anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein
dan vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang
dimakan mengandung
tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
Berikan makanan yang
terpilih
(
sudah
dikonsultasikan
dengan ahli gizi)
Ajarkan
pasien
bagaimana membuat
catatan
makanan
harian.
Monitor jumlah nutrisi
dan kandungan kalori
Berikan
informasi
tentang
kebutuhan
nutrisi
Kaji
kemampuan
pasien
untuk
mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan

NIC :

Fluid balance
Fluid management
Hydration
Nutritional Status : Timbang
popok/pembalut jika
Food and Fluid
diperlukan
Intake

Pertahankan catatan
intake dan output yang

Batasan Karakteristik :

Kriteria Hasil :

Kelemahan
Haus
Penurunan turgor kulit/lidah
Membran mukosa/kulit kering
Peningkatan denyut nadi, penurunan
tekanan darah, penurunan
volume/tekanan nadi
- Pengisian vena menurun
- Perubahan status mental
- Konsentrasi urine meningkat
- Temperatur tubuh meningkat
- Hematokrit meninggi
- Kehilangan berat badan seketika
(kecuali pada third spacing)
Faktor-faktor yang berhubungan:
-

- Kehilangan volume cairan secara aktif


- Kegagalan mekanisme pengaturan

Mempertahankan
urine output sesuai
dengan usia dan BB,
BJ urine normal, HT
normal
Tekanan darah, nadi,
suhu tubuh dalam
batas normal
Tidak ada tanda
tanda
dehidrasi,
Elastisitas
turgor
kulit baik, membran
mukosa
lembab,
tidak ada rasa haus
yang berlebihan

DAFTAR PUSTAKA
Corwin, E. J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

akurat
Monitor status hidrasi (
kelembaban membran
mukosa, nadi adekuat,
tekanan
darah
ortostatik
),
jika
diperlukan
Monitor hasil lAb yang
sesuai dengan retensi
cairan (BUN , Hmt ,
osmolalitas urin )
Monitor vital sign
Monitor
masukan
makanan / cairan dan
hitung intake kalori
harian
Kolaborasi pemberian
cairan IV
Monitor status nutrisi
Berikan cairan
Berikan diuretik sesuai
interuksi
Berikan cairan IV pada
suhu ruangan
Dorong masukan oral
Berikan penggantian
nesogatrik
sesuai
output
Dorong keluarga untuk
membantu
pasien
makan
Tawarkan snack ( jus
buah, buah segar )
Kolaborasi dokter jika
tanda cairan berlebih
muncul meburuk
Atur
kemungkinan
tranfusi
Persiapan
untuk
tranfusi

Doenges, Marilynn. E. 2000. Rencana asuhan keperawatan. Edisi III. Jakarta :


Penerbit Buku kedokteran EGC
Misnadiarly. 2007. Penyakit Hati (Liver) Edisi 1. Jakarta : Pustaka Obor Populer.
Price S. A., Wilson L.A., 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta : EGC.
Sjamsuhidayat, R. & Jong, W. D. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta:
EGC.
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. 2006. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth (8 ed. Vol. 3). Jakarta: EGC.
Sudoyo A, et al. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : FKUI.
Sudoyo, Aru W.2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi IV.Jakarta:
FKUI. 1495-1499