You are on page 1of 11

efferent (motor) ke saraf afferen.

pengakhiran

Pada rangsangan seperti sakit, panas,

nurotransmiter.Obat-obat lain dapat

rasa,

memacu atau menghambat reseptor

cahaya,

diterima

oleh

suara

mula-mula

sel-sel

penerima

postsinaptik.

kerja

memberikan

tujuan

(reseptor) dan kemudian dilanjutkan

umum SSP dengan focus pada

ke

otak

dan

sum-sum

tulang

neurotransmitter yang terkait dalam

sakit

dapat

penggunaan obat-obat SSP dalam

disebabkan oleh perangsangan rasa

klinik (Mycek, 2013).


Obat yang bekerja pada system

belakang.Rasa
sakit

diotak

besar

sedangkan

analgetik narkotik menekan reaksi


emosional yang timbulkan oleh rasa
Organisasi struktur sistem saraf
1. Sistem saraf pusat (SSP) terdiri
dari otak dan medulla spinalis
yang dilindung tulang kranium
dan kanal vertebral.
2. Sistem saraf perifer meliputi
seluruh jaringan saraf lain dalam
tubuh. Sistem ini terdiri dari
saraf kranial dan saraf spinal
yang menghubungkan otak dan
medulla spinalis dengan reseptor
obat yang

mempengaruhi SSP bekerja dengan


mengubah beberapa tahapan dalam
yang

neurotransmisi.
mempengaruhi

Obat-obat
SSP

dapat

bekerja presinaptik, mempengaruhi


produksi,

penyimpanan

(memblokir

tidur),

sedative
Stimulan

rasa

atau

sakit),

(menyebabkan
Sistem

antidepresi,

terbagi atas (Sloane, 2013) :

proses

umum
hipnotik

sakit tersebut (Ganiswara, 2007).

dan efektor.
Sebagian besar

saraf pusat terbagi menjadi anestetik

Saraf,

antikunvulasi

(menghilangkan kejang), analgetik


(menngurangi rasa sakit), opoid,
analgeik-antipiretik-antiinflamasi
dan peragsang susuan saraf pusat
(Tjay, 2007).
Anastesi

yaitu

hilangnya

sensasi, biasanya akibat cedera saraf


atau reseptor. Hilangnya kemampuan
untuk merasakan nyeri, disebabkan
oleh pemberian obat atau intervensi
medis lainya (Hartanto, 2014).
Anastesia
artinya
hilang
perasaan.

Ada

macam

yaitu

anestesia umum merupakan keadaan


tidak

terdapatnya

berhubungan

sensasi

dengan

yang

hilangnya

kesadaran yang reversibel.Anestetik


lokal adalah obat yang digunakan

untuk mencegah rasa nyeri dengan

gerakan mata dan refleks mata

memblok

hilang

serabut

konduksi
saraf

sepanjang

secara

(Kadzung, 2013).
Anestesi terbagi

reversibel
atas

dua

sedangkan

menjadi lemas.
4. Perlumpuhan sum-sum tulang,
kerja jantung dan pernapasan

macam anestesi umum dan anestesi

terhenti.

lokal. Anestesi umum merupakan

mungkin dihindari.

keadaan tidak terdapatnya sensasi

otot-otot

Taraf

Teknik

ini

pemberian

sedapat
obat

yang berhubungan dengan hilangnya

anastetik umum terbagi dua yaitu

kesadaran

(Hoan, 2010) :

yang

reversible.

Sedangkan annestesi lokal adalah


obat

yang

untuk

halotan, enfluran, isofluran, dan

dengan

sevofluran. Obat ini diberikan

memblok konduks sepanjang serabut

sebagai uap melalui saluran

saraf secara reversible (Neal, 2006).


Anastetika
umum
dapat

nafas.
b. Anastetik intravena : toipental,

menekan SSP secara bertingkat dan

diazepam, dan ketamin. Obat-

berturut-turut menghentikan aktifitas

obat ini dapat diberikan dalam

bagian-bagiannya.

bentuk supositoria secara rectal.


Neurotransmiternya
yaitu

mencegah

digunakan

a. Anastetik inhalasi : gas tawa,

rasa

nyeri

Dikenal

empat

rataf dalam narkosa, yaitu (Cambell,


2002) :
1. Analgesia, kesadaran bekurang,

GABA,

dan

GABAA,

reseptornya
GABAB,

adalah
GABAC.

rasa nyeri hilang dan terjadi

Neurotransmitter

euphobia (rasa nyaman) yang

penghantaran

disertai

mirip

mnyebabkan mediator kimia. Adapun

halusinasi.
2. Eksitasi, kesadaran hilang dan

Neurotransmitter SSP annara lain

terjadi kegelisahan. Disebut juga

dimaa

impian

yang

taraf induksi.
3. Anatesia, pernapasan menjadi
dangkal dan cepat, secara teratur
seperti
(pernapasan

keadaan

tidur

perut),

gerakan-

adalah
impuls

(Mycek, 2013) :
1. Glutomat,
neurotransmitter

ini

suatu
yang

terdapat

dalam konsentrasi tinggi di otak


maupun

sum-sum

tulang

belakag

dibangdingkaan

system syaraf, baik SS pusat

neurotransmitter lainnya.
2. GAMA (Gamma Amine Butyric
Acid)

merupakan

neurotransmitter

penghambat

maupun

SS

perifer.

Seperti

halnya di SS perifer, di SSP juga


terdapat dua reseptor nikotinik.
6. Norepinefrin merupakan proses

utama dibagian otak, sedangkan

sintesis,

glisin

pelepasannya sama dengan di SS

merupakan

penyimpanan

neurotransmitter penghambat di

perifer.

sum-sum tulang belakang. Selain

noradrenergic berasal dari pons

itu,

dann

GABA juga

reseptor

merupakan

transmembran

metabopropik

baik

di

pons,

eksploratif.
7. Histamin di
disbanding

norepinefrin.
4. Serotinin disebut juga dengan 5-

siklus

Serotonin

hari,

oksidatif

pelepasan

aktivitas

otak sangat kecil


di

jaringan

dan

sirkardian.

Syaraf

ini

kolinergik akan aktif di siang


sedangkan

potensial

aksinya berkurang pada malam

dengan enzim MAO. Proses


penyimpanan,

dan

pelepasannya di otak mengikuti

mengalami metabolism melalui


deaminase

dimana

dalam otak, dan berperan dalam

dibangding

hidroksitriptamin.

berujung

tempat

kesadaran
Dalam

oak jumlah dopamine relatife

reaksi

dan

norepinefrin banyak dihasilkan

misalnnya

sedikit

aksonya

cerules merupakan bagian dari


peran

dalam beberapa penyakit otak

lebih

sel

diberapa lokasi di kortik. Locus

penting dalam otak dan terlibat

Parkinson,skizofrenia,.

soma

medulla,

mencabang

SSP

ataupun SS perifer.
3. Dopamine mempunyai

Bagian

dan

ini.
Hipnotika

dan

atau

obat

tidur

pengambilan kembali serotonin

adalah obat-obat yang dalam dosis

adalah

terapi

norepinefrin.
5. Asetilkolin

mirip

dengan

diperuntukkan

untuk

meningkatkan keinginan untuk tidur


merupakan

neurotransmitter pennting dalam

dan

mempermudah

atau

menyebabkan tidur. Lazimnya obat

ini diberikan pada malam hari.

alamiah

mengenai

Bilamana zat-zat ini diberikan pada

EEGnya.

Sedangkan

siang hari dalam dosis yang rendah

berfungsi

untuk

menurunkan

untuk tujuan menenangkan maka

aktivitas,

mengurangi

ketegangan

dinamakan sedative (Tjay, 2007).


Sedative
berfungsi

dann menenangkan penggunanya.

menurunkan aktivitas, mengurangi


ketegangan

dan

menenangkan

penggunanya. Keadaan sedasi juga


merupakan efek samping dari banyak
obat

yang

khasiatnya

tidak

menenangkan system saraf pusat


misalnya

antikolinergik,

menimbulkan
(dowsiness)

hipnotik

rasa

kantuk,

mempercepat

tidur

sifat-sifat
sedative

Dalam tidur terdapat dua stadium


yaitu tidur REM disebut juga tidur
mimpi, terjadi pada tahap ke lima
yang ditandai dengan pernafasan dan
denyut jantung naik turun, aliran
darah ke otak meningkat,sedangkan
tidur non REM yaitu tidur pulas
terjadi 1-4 tahap yang ditandai
dengan

pernafasan

dan

denyut

sepanjang malam, mempertahankan

jantung mulai teratur (Tjay, 2007).


Pada setiap malam terdapat 4-5

keadaan tidur yang menyerupai tidur

siklus

alamiah

terdapat 2 tahapan yaitu (Tjay, 2013)


1. Tidur non-REM (Slow Wave

mengalami

sifat-sifat

EEGnya selain sifat-sifat ini. Secara


ideal obat tidur tidak memiliki
aktivitas sisa terhadap esok harinya

tidur. Dalam

satu

siklus

Sleep) ditandai dengan denyut


jantung, tekanan darah dann
pernapasan yang teratur. SWS

(Kadzung, 2013).
Hipnotik merupakan

zat-zat

ini berlangsung kurang lebih

terapi

satu jam lamanya yang meliputi

meningkatkan

untuk fase 3-4 merupakan fase

keinginan faali untuk tidur dan

bentuk tidur terdalam. Peristiwa

mempermudah atau menyebabkan

ini penting untuk daya tahan

tidur. Hipnotik itu sendiri dapat

tubuh, metabolisme dan respon

yang

dalam

diperuntukkan

menimbulkan

dosis

rasa

kantuk,

mempercepat tidur dan sepanjang


malam
tidur

mempertahankan
yang

keadaan

mennyerupai

tidur

sel-sel tubuh.
2. Tidur
REM

(Rapid

Eye

Movemennt) ditanndai dengan


gerakan mata ke satu arah.

Disamping itu, jantung, tekanan

antihistamin,

klorathidrat,

dan

darah dan pernapasan naik turun,

golongan obat ansiolitik lain seperti

alirann darah seolah meningkat

buspiron dan hidroksizin (Mycek,

dan otot dalam keadaan rileks.

2013).

Pada fase ini, kedua siklus

Adapun mekanisme kerja dan

pertama berlangsung 5-15 menit

contoh obat-obatnya sebagai berikut

dengan

(Harvey, 2013) :

timbulnya

banyak

impian. Fase ini berlangsung


menjadi lebih panjang hingga
pada

pagi

hari

berlangsung

1. Benzodizepine
Target kerja
adalah

benzodiazepine

reseptor

Benzodiazepine

dalam 20-30 menit.


Mekanisme kerja

hipnotik-

efek

asam.

memodivikasi

GABA

melalui

ikatan

sedative yaitu pengikatan GABA ke

dengan tempat yang berafinatas

reseptornya. Pada membran sel akan

tinggi dan spesifik pada lokasi

membuka

klorida,

pertemuan antara sub unit dan

meninkatkan efek konduksi klorida.

y2. Peningkatan GABA dengan

Aliran ion klorida yang masuk

reseptornya

akan

memicu

menyebabkan hiperpolarisasi lemah

pembukaan

kanal

klorida.

menurunkan potensi postsinaptik dari

Benzodiazepine

ambang

menngkatkan

saluran

letup

dan

meniadakan

akan
frekuensi

pembentukan kerja potensial (Tjay,

pembukaan kanal oleh GABA.

2013).
Penggolongan obat hipnotik

Aliran

sedative terbagi menjadi golongan


benzodiazepine seperti alprazolam,
klorazolam, diazepam, lorazepam,
triazolam,

golongan

antagonis

benzodiazepine seperti flumazenil,


golongan obat barbiturate seperti
fenobarbital,

pentobarbital,

thiopental, golongan obat sedative


non

barbiturate

seperti

etanol,

masuk

menyebabkan

ion

klorida
sedikit

hipopolarisasi yang menurunkan


potensi pascasinaps dari ambang
letup hingga meniadakan potensi
aksi.Contoh
Benzodiazepine

obat-obat
adalah

Alprazolam, Chlordiazepoxide,
Clonarezepate,
Estazolam,

Diazepam,
Flurazepam,

Lorazepam,

Quazepam,

Oxazepam,

dan

mempunyai efek yang hampir sama,

Triozolam.
2. Antagonis Benzodiazepine
Flumazenil merupakan contoh

namun secara kuantitatif spectrum

dari

Temazepam

Secara kualitatif benzodiazepin

obat

antagonis

benzodiazepam.

Flumazenil

merupakan reseptot GABA yang


dapat secara cept membalikkan
efek Benzodiazepine.
3. Barbiturat
Kerja hipnotik-sedatif barbitura

farmakodinamik

serta

data

farmakokinetiknya berbeda. Hal ini


yang menyebabkan aktifasi terapi
golongan

ini

Benzodiazepin

sangat
berefek

luas.
hipnosis,

sedasi, relaksasi otot, ansiolitik dan


antikonvulsi dengan potensi yang

dapat muncul akibat interaksinya

berbeda-beda (Ganiswara, 2007).


Efek benzodiazepine hampir

dengan reseptor GABA yang

semua

merangsang

transmisi

golongan pada SSP dengan efek

Barbiturat

utama: sedasi, hipnosis, pengurangan

memotensi kerja GABA pada

terhadap rangsangan emosi, reaksi

aliran

yang

otot dan reaksi konvulsi. Hanya dua

dengan

efek saja yang merupakan kerja

memperpanjang

durasi

golongan ini pada jaringan perrifer

pembukaan

kanal

vasodi

GABAenergik.
masuk

menuju

klorida

neuron

merupakan

atasi

hasil

koroner

stelah

klorida.Adapun contoh obat dari

pemberian

Bariturat adalah Amobarbital,

benzodiazepin tertentu secara IV, dan

Phenobarbital,

Pentobarbital,

blockade neuromuscular yang hanya

Secobarbital, dan Thiopental.


4. Obat-obat hipnotik lain
Contoh obat dari Anxiolitik

terjadi pada pemberian dosis sangat

adalah Buspirone, Hyroxyzine,


dan inti depresan. Dan contoh
obat dari hipnotik lainnya adalah
Antihistamin,
Eszopicion,

Cloral

hydrate,

Ramelteon,

Zalepom, dan Zolpidem.

dosis

kerja

terapi

tinggi (Mycek, 2013).


Depresi merupakan aktivitas
fungsional
menurun,

yang
suatu

merendah
keadaan

atau
mental

mood yang menurun yang ditandai


dengan kesedihan, perasaan, putus

asa dan tidak bersemangat (Mycek,

obatnya

2013).

fluvoksamin,

Antidepresi adalah obat-obat


yang mampu memperbaiki suasana
jiwa dengan menghilangkan atau
merngankan gejala keadaan murung,
yang tidak disebabkan oleh kesulitan
soisal ekonomi, obat-obatan atau
penyakit.

Antidepresan

bekerja

dengan jalan menghambat re-uptake


serotonin dan noradrenalin di ujungujung

saraf

demikian

otak

dan

dengan

memperpanjang

tersedianya

waktu

neurotransmitter

tersebut. Disamping itu antidepresive


dapat

mempengaruhi

reseptor

(MAOI),

obatnya

contoh

isokarboksazid,

fenelzin.
4. Obat untuk

mania,

contoh

obatnya : garam litium.


Mekanisme

kerja

obat

antidepresan (Mycek, 2013) :


1. Antidepresan

trisiklik

polisiklik, bekerja dengan cara


menghambat ambilan kembali
norepinefrin dan serotonin di
pascasinaptik.
2. Penyekat
ambilan

dari

bekerja

dapat

nefazodon,

oksidase

serotonin

ini

fluoksetin,

trazodon.
3. Penyekat inhibitor monoamine

postsinaps. Adapun efek samping


antidepresan

kembali

selektif

(SSRI),

dengan

cara

menimbulkan efek samping yang

menghambat ambilan serotonin

tidak diinginkan dan banyak mirip

secara spesifik.
3. Penyekat inhibitor monoamine

dengan efek samping antipsikotika


yaitu sedasi, gangguan mood dan

dengan

lain-lain (Tjay, 2007).


Penggolongan

obat

antidepresan (Mycek, 2013) :


1. Antidepresan
trisiklik
polisiklik,

contoh

oksidase

obatnya

(MAOI),
cara

bekerja

memetabolisme

norepinefrin dan serotonin untuk


dikeluarkan dari sel sebagai

/
:

amitriptilin,

amoksapin,

doksepin,

nortriptilin,

protriptilin, trimipiramin.
2. Penyekat
ambilan
kembali
serotonin selektif (SSRI), contoh

metabolit tidak aktif.


4. Obat untuk mania, mekanisme
ini

tidak

kemungkinan

diketahui,

tetapi

melibatkan

interaksi dengan sistem second


messenger.

Mekanisme
antidepresan
secara

obat-obat

memotensiasi

langsung

maupunn

Kelompok obat yang bekerja

baik

pada

beberapa

lokasi

tidak

berbeda. Kelompok ini meliputi

langsung kerja norepinefrin dan/atau

bupropion,

serotonin dalam otak. Penggolongan

mirtazadine dan trazodone.

obat antidepresan terbagi menjadi 6

nefazodone,

4. Antidepresan trisiklik (TCA)

yaitu (Richard, 2013) :


1. Penghambat

yang

Menghambat

ambilan-kembali

kembali

serotonin selektif (SSRI)

ambilan-

norepinefrin

dan

serotonin

menuju

sehingga,

seandainya

baru

ditemukan

hari

TCA

dengan beragam kimiawi yang

mungkin

akan

secara

SSRI

merupakann

kelompok

obat

suatu

antidepresann

neufron

ini,

dimasukkan

spesifik

menghambat

dalam SNRI, kecuali perbbedaan

ambilan-kembali

serotonin,

dalam efek samping yang terkait

memiliki selektivitas terhadap

kelas antidepresan yang baru

pengangkutan

tersebut. Contoh obatnya adalah

serotonin

sebanyak 300 hingga 300 kali


lebih

besar

dibandingkan

pengangkutan

amitriptilin.
5. Penghambat MAO

norepinefrin.

Monoamino oksidase adalah

Contoh obat adalah citalopram

enzim

dan escitalopram.

ditemukan

2. Penghambat

ambilan-kembali

dan

saraf

dan

dan hati. Contoh obatnya adalah

Venlafaxine dan duloxetine


serotonin

pada

yang

jaringan lainnya, seperti usus

norepinefrin/serotonin (SNRI)
menghambat ambilan kembali

mitokondria

selegiline.
6. Obat yang digunakan untuk

norepinefrin

mengobati mania dan gangguan

secara selektif. Obat ini dapat

bipolar
Cemas atau annxietas adalah

efektif mengobati depresi pada


pasien yang tidak efektif dengan
SSRI.
3. Antidepresan atipikal

sutu

keadaan

yang

tidak

menyenangkan. Berupa ketegangan,


rasa takut, atau gelisah yang timbul

dari sumber yang tidak diketahui.

Stimulant atau sebagai vitamin

Gangguan cemas ini merupakan

adalah zat-zat kimia organis dengan

gangguan mental tersaring. Gejala

komposisi

fisik kecemasan berat berupa dengan

dalam jumlah kecil dibutuhkan oleh

ketakutan

tubuh manusia

(seperti

beranekaragam

untuk memelihara

takikardia,berkeringat, gemetar dan

metabolism,

palpitasi)

dann

pemeliharaan normal.

pengaktifan

simpatis

melibatkan
(Richard,

2013).

yang

pertumbuhan

dan

Fungsi dari

vitamin itu sendiri sangat bervriasi,


banyak vitamin yang secara biologis

Stimulan sususan saraf pusat

aktif

tetapi

membutuhkan

memiliki dua golongan obat yang

pengubahan

kimia

dalam

bekerja terutama pada susunan saraf

misalnya vitamin B1, B2, B3 dan B6.

pusat (SSP). Golongan pertama yaitu

akibat dari defisiensi vitamin yang

stimulan psikomotor, menimbulkan

menimbulkan gejala khas seperti

eksitasi dan euforia, mengurangi

buta malam (Vitamin A), beri-beri

perasaan lelah dan meningkatkan

(Vitamin B), radang lidah dan bibir

aktivitas motorik. Kelompok kedua,

(Tjay, 2007).
Stimulan bekerja mempercepat

obat-obat

psikotomimetik

halusinogen,

atau

menimbulkan

perubahan mendasar dalam pola


pemikiran dan perasaan, dan sedikit
berpengaruh pada sambungan otak
dan

sumsum

tulang

belakang.

Sebagai suatu kesatuan, stimulant


susunan saraf pusat (SSP) sedikit
sekali digunakan dalam klinik tetapi
penting

dalam

masalah

penyalahgunaan obat, selain obat


depresan

SSP

(Mycek,2013).

dan

narkotik

tidak

tubuh

aktivitas dalam sistem saraf pusat.


Obat yang termasuk kelompok ini
antara

lain

amfetamion

Kafein,

kokain,

(Upper),

dan

hidroklorida metamfetamin (meth).


Dalam dosis sedang, kelompok obat
stimulant

menghasilkan

senang,

percaya

perasaan

diri,

dan

kegembiraan atau euphoria. Dalam


dosis besar, obat-obat ini membuat
seseorang merasa cemas dan gugup.
Dalam dosis yang sangat besar, obatobat ini dapat menyebabkan kejang-

kejang, gagal jantung dan kematian


(Wade, 2008).
Stimulan ganglion. Stimulan
ini mempunyai kerja yang sangat
luas karena menstimulasi reseptor
nikotinik

pada

kedua

neuron

ganglion parasimpatis dan simpatis.


Efek

simpatis

vasokonstriksi,

meliputi

takikardia,

dan

Efedrin

merupakan

suatu

stimulant sentral yang ringan, tetapi


amfetamin yang lebih mudah masuk
ke dalam otak, mempunyai efek
stimulant yang jauh lebih hebat
terhadap mood dan kesigapan serta
mempunyai potensi penyalahgunaan
yang tinggi serta jarang digunakan

parasimpatis

(Neal, 2006).
Atropin merupakan stimulant

meliputi peningkatan motilitas usus

sentral yang lemah, terutama pada

dan peningkatan sekresi kelenjar

nucleus vagus, dan pada dosis rendah

saliva dan bronkus (Neal, 2006).


Amfetamin adalah obat sintetis

menyebabkan

hipertensi.

Efek

yang dikonsumsi dalam bentuk pil,


disuntik,

dihisap,

atau

dihirup.

Metamfetamin secara struktur mirip

yang

cara

yang

sama

pula;

Memfetamin diedarkan dalam dua


bentuk, bubuk (crank, speed) atay
dalam bentuk yang lebih murni,
Kristal padat. Kokain adalah obat
alamiah yang lebih murni yang
dihasilkan dari daun tumbuhan koka.
Amfetamin dan kokain membuat
para penggunanya merasa segar tapi
tidak meningkatkan cadangan energy

tinggi

Alat dan Bahan yang digunakan


Alat yang digunakan pada
penelitian ini yaitu benang godam,
gelas kimia 1000 mL, sonde oral,
spoit

injeksi,

atatif,

penelitian ini yaitu air, amitriptilin,


diazepam, dan kloroform.
Prosedur Kerja
1. Anastesi
Disiapkan alat dan bahan
menggunakan

depresi akan muncul ketika efek


obat-obat ini hilang (Wade, 2008).

toples

Bahan yang digunakan pada

perasaan

dan

dan

bertutup (1-3 liter).

kemudian

terganggu,

menyebabkan

METODE PENELITIAN

dalam bentuk tubuh, rasa lelah,


mudah

Dosis

takikardia (Neal, 2006).

dengan amfetamin dan dikonsumsi


dengan

lebih

bradikardia.

kapas

dibasahi
klorofoorm,

mencit dimasukkan ke dalam

toples, toples ditutup rapat lalu


dihitung onset dan durasi.
2. Hipnotik dan sedatif
Disiapkan alat dan bahan.
Kemudian

mencit

frekuensi

sebelum

diazepam secara oral, kemudian

terlebih

sebelum pemberian obat, mencit


terlebih dahulu digantung untuk
melihat frekuensi gerakannya.
Dicatat. Mencit diberikan obat
diazepam secara oral. Diamati

setelah

menit ke 30 dan 60, dicatat.


4. Stimulant sistem saraf
Disiapkan alat dan bahan,

diberikan

dihitung onset dan durasinya


3. Antidepresi
Disiapkan alat dan bahan,

gerakannya

perlakuan,
dahulu

mencit

dimasukkan

dalam wadah yang berisi air,


dicatat

frekuensi

geraknya.

Mencit diberi obat amitriptilin.


15, 30, 60, dan 71 menit setelah
pemberian

obat,

mencit

dimasukkan kembali ke dalam


wadah yang berisi air. Catat
frekuensi gerakannya.