You are on page 1of 29

BAB I

LAPORAN KASUS (CASE REPORT)


Identitas
Nama

: Tn. MAN

Umur

: 47 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Suku bangsa

: Lampung

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Rajabasa, Bandarlampunng

Anamnesis
Anamnesis pada pasien dilakukan secara Autoanamnesa pada tanggal 16
September 2016
Keluhan Utama:
Nyeri pada telinga kanan dan kiri sejak 2 hari yang lalu.
Keluhan Tambahan :
Pendengaran telinga kanan menurun, keluar cairan bening dan gatal pada
telinga kanan
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Poli THT RSUD Abdul Moeloek dengan keluhan nyeri
telinga kanan sejak 2 hari yang lalu. Nyeri telinga kiri dirasakan terusmenerus dan semakin berat bila tertekan di bagian cuping telinga dan
belakang telinga. Pasien juga mengeluhkan pendengaran pada telinga kanan
terasa menurun dan liang telinga kanan gatal. Pasien mengatakan, 2 hari
sebelum keluhan ini telinga kanan pasien kemasukan semut sehingga pasien
mengorek telinganya menggunakan cotton bud terus menerus agar semut bisa
keluar. selain itu juga pasien masukkan air pada bagian telinganya untuk
mengeluarkan semut tersebut.

Keluhan gatal semakin memberat. Satu hari sebelumnya pasien mengeluhkan


keluar cairan bening dari telinga kanannya namun tidak berbau. Pasien juga
mengeluhkan demam sejak 1 hari yang lalu. Tidak ada riwayat berenang
sebelumnya. Tidak ada riwayat telinga berdenging. Tidak ada keluhan pusing
(perasaan berputar) ataupun sakit kepala.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengatakan belum pernah mengalami penyakit telinga sebelumnya.
Riwayat penyakit diabetes mellitus (-), riwayat penyakit hipertensi (-),
riwayat batuk dan pilek (-),
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami keluhan yang sama
dengan pasien.
Riwayat Alergi
Pasien memiliki tidak memiliki riwayat alergi.
Riwayat Pengobatan
Pasien belum pernah berobat untuk mengatasi keluhannya.
Pemeriksaan Fisik
Status Present
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,70C

Status Generalis
Kepala

: Tidak ada kelainan

Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Thorak

: Jantung dan paru dalam batas normal

Abdomen

: Hepar dan lien tidak teraba, bising usus (+), normal

Ekstremitas

: Edema tidak ada, perfusi jaringan baik

Status Lokalis THT


Telinga
KANAN

TELINGA LUAR

KIRI

Normotia

Bentuk telinga luar

Normotia

Deformitas (-),nyeri
tarik (+),warna kulit
sama dengan sekitarnya,
edema (-)

Daun telinga

Deformitas (-), nyeri tarik


(-), warna kulit sama dengan
sekitarnya, edema (-)

Warna kulit sama


dengan sekitar, nyeri
tekan tragus (+), fistula
(-), edema (-), abses (-)

Preaurikular

Warna kulit sama dengan


sekitar, nyeri tekan tragus
(-), fistula (-), edema (-),
abses (-)

Hiperemis (-),nyeri
tekan (-), benjolan (-),
fistula (-)

Retroaurikular

Hiperemis (-),nyeri tekan (-),


benjolan (-),fistula (-)

Tidak ada

Tumor

Tidak ada

KANAN

LIANG TELINGA

KIRI

Sempit

Lapang / Sempit

Lapang

Hiperemis

Warna Epidermis

Warna menyerupai kulit

Gambaran massa
putih keabu-abuan
dengan bintik hitam
dan filamen halus
(Debris (+), hifa (+),
spora (+)

Sekret

Tidak Ada

Ada

Serumen

Ada

Tidak ada

Tumor

Tidak ada

Ada

Edema

Tidak ada

KANAN

MEMBRAN TIMPANI

KIRI

Sulit dinilai

Warna

Putih Mutiara

Sulit dinilai

Reflek Cahaya

(+) Arah jam 7

Sulit dinilai

Perforasi

(-)

Sulit dinilai

Bulging/Retraksi

Retraksi (-), bulging (-)

Kesan :
- Telinga Kanan terdapat nyeri tekan, nyeri tragus (+), canalis
auricularis eksternus sempit, edema (+), hiperemis (+), hifa (+),
spora (+), membran timpani sulit dinilai
-

Telinga kiri dalam batas normal

Hidung
KANAN

HIDUNG LUAR

KIRI

Warna sama dengan


sekitarnya

Kulit

Warna sama dengan


sekitarnya

Normal

Bentuk Hidung Luar

Normal

Tidak ditemukan

Deformitas

Tidak ditemukan

Tidak ada
Tidak ada

Nyeri Tekan
Dahi

Tidak ada
Tidak ada

Pipi
Tidak ditemukan

Krepitasi

Tidak ditemukan

Tidak ditemukan

Tumor , Fistel

Tidak ditemukan

Rhinoskopi Anterior
Kanan

Kiri
4

Hiperemis (-)
Tidak ada
Tidak berbau
Mukosa hiperemis (-),
eutrofi
Sulit dinilai
Tidak ada

Mukosa Cavum Nasi


Sekret
Bau
Konka inferior

Hiperemis (-)
Tidak ada
Tidak berbau
Mukosa hiperemis (-),

Konka media
Ada deviasi septum nasi
Krista, abses, massa

eutrofi
Sulit dinilai
Tidak ada

Rhinoskopi Posterior (Nasofaring)


Tidak dilakukan pemeriksaan
Cavum Oris
CAVUM ORIS

Hasil Pemeriksaan

Mukosa

Tidak hiperemis

Gingiva

Ulkus (-), edema (-)

Gigi

Karies (-)

Lidah

Bentuk normal, Ulkus (-), Plak (-)

Palatum durum

Permukaan licin

Palatum mole

Permukaan licin

Uvula

Posisi ditengah

Tumor

Tidak ada

FARING

Hasil Pemeriksaan

Dinding Faring

Tidak oedem, tidak bergranular

Mukosa

Tidak hiperemis

Uvula

Ditengah

Arkus Faring

Simetris, tidak hiperemis

Sekret

Tidak ada

TONSIL

Hasil Pemeriksaan

Pembesaran

T1-T1

Kripta

Tidak melebar

Destritus

Tidak ada

Faring

Tonsil

Perlekatan
Sikatrik
Pemeriksaan Laring

Tidak ada
Tidak ada

Tidak dilakukan pemeriksaan


Pemeriksaan Nervi Kranialis
Tidak dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening Leher
Inspeksi : Tidak terlihat pembesaran kelenjar getah bening
Palpasi

: Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening.

Resume
Dari anamnesis didapatkan seorang pasien laki-laki, berusia 47 tahun dengan
keluhan Nyeri pada telinga kanan sejak 2 hari yang lalu. Pasien juga
mengeluhkan pendengaran pada telinga kanan terasa menurun dan liang
telinga kanan gatal. riwayat dikorek-korek dengan cotton bud (+), riwayat
dimasukan air ke dalam telinga kanan (+) untuk mengeluarkan semut.
riwayat berenang (-), riwayat alergi (-), riwayat DM (-) riwayat HT (-).
Pemeriksaan fisik telinga kanan ditemukan nyeri tekan (+), Nyeri tekan
Tragus (+), CAE hiperemis (+), edema (+), debris hifa (+), spora (+).
Pemeriksaan Anjuran
Pemeriksaan KOH
Diagnosa Kerja
Otitis Eksterna Difusa Auris Dextra + Otomikosis auris dextra
Diagnosa Banding
-

Otitis eksterna sirkumskripta auris dextra + otomikosis auris dextra


Otitis eksterna Maligna auris dextra + Otomikosis auris dextra

Penatalaksanaan
Medikamentosa
Lokal :

- Irigasi liang telinga menggunakan normal saline hangat


- Tampon antibiotika ke liang telinga
- clotrimazole salep 2x1
Sistemik :
- Antipiretik: Paracetamol 500 mg 3x/hari
- Antiinflamasi : Kalium Diclofenac 500mg 2x/hari
- Antibiotik : Cefixime 100mg 2x/hari
- Antihistamin : Cetrizine 10mg tab 1x/hari
Nonmedikamentosa
Edukasi:
- Pasien dianjurkan untuk tidak mengorek-ngorek liang telinga.
- Sebaiknya kedua telinga tidak terkena air dulu. Bila mandi, kedua telinga

ditutup.
- Jika pasien merasa ada cairan yang keluar dari telinga, atau telinga
kemasukan air, gunakan tisu yang telah dipotong dan dibentuk meruncing
ujungnya, dimasukkan ke dalam liang telinga untuk menyerap cairan.
- Istirahat yang cukup.

- Menggunakan obat sesuai anjuran


- Kontrol 3-7 hari
Prognosa
Quo ad Vitam

: Ad bonam

Quo ad Functionam

: Ad bonam

Quo ad Sanationam

: Ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Otitis eksterna difus dikenal dengan swimmer ear (telinga perenang)
atautelingacuaca panas(hot weather ear)adalah infeksi pada 2/3 dalam liang
telinga akibat infeksi bakteri yangmenyebabkan pembengkakan stratum
korneum kulit sehingga menyumbat saluran folikel.1

2.1.2 Epidemiologi
Berdasarkan data yang dikumpulkan mulai tanggal Januari 2000
s/dDesember 2000 di Poliklinik THT RS H.Adam Malik Medan didapati
10746 kunjungan barudimana, dijumpai 867 kasus (8,07%) otitis eksterna,
282 kasus (2,62%) otitis eksterna difusadan 585 kasus (5,44%) otitis eksterna
sirkumskripta. Penyakit ini sering diumpai pada daerah-daerah yang panas
dan lembab dan jarang pada iklim- iklim sejuk dan kering. Nan Sati
CNdalam penelitiannya di RSSumber Waras / FK UNTAR Jakarta mulai 1
Januari 1980 sampai dengan30 Desember 1980 mendapatkan 1.370
penderitabaru dengan diagnosis otitis eksterna yangterdiri dari 633 pria dan
737 wanita.1

2.1.3 Etiologi
Organisme yang paling sering ditemukan pada pasien dengan otitis
eksterna difusa adalah bakteri gram negatif Pseudomonas aeruginosa
(Bacillus pyocaneus) dan staphylococci. Yang lebih jarang ditemukan adalah
bakteri streptococci dan Proteus vulgaris.Selain itu, jamur dapat terlibat
dalam infeksi pada telinga luar, yaitu jamur Candida albicans dan Aspergillus
niger.Otitis eksternadifusa dapat juga terjadi sekunder pada otitis media
supuratif kronis. 2,3
Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya otitis eksterna, yaitu :4

Derajat keasaman (pH)


pH pada liang telinga biasanya normal atau asam, pH asam berfungsi
sebagai protektor terhadap kuman. Peningkatan pH menjadi basa (di
atas6.0) akan mempermudah terjadinyaotitis eksterna yang disebabkan
oleh karena proteksi terhadap infeksi menurun.

Udara
Udara yang hangat dan lembab lebih memudahkan kuman dan jamur
mudah tumbuh.

Trauma
Trauma ringan misalnya mengorek-ngorek telinga dengan benda tumpul
seperti cotton bud merupakan faktor predisposisi terjadinya otitis
eksterna.

Berenang
Terutama jika berenang pada air yang tercemar. Air kolam renang
menyebabkan maserasi kulit dan merupakan sumber kontaminasi yang
sering dari bakteri

2.1.4 Patofisiologi
Saluran telinga dapat membersihkan dirinya sendiri dengan cara
membuang sel-sel kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran
telinga. Membersihkan saluran telinga dengan cotton bud bisa mengganggu
mekanisme pembersihan ini dan bisa mendorongsel-sel kulit yang mati ke
arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana.1
Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan
penimbunan air yang masuk ke dalam liang telinga ketika mandi atau
berenang.Terjadinya kelembaban yang berlebihan karena berenang atau
mandi menambah maserasikulit liang telinga dan menciptakan kondisi yang
cocok bagi pertumbuhan bakteri. Perubahan inidapat juga menyebabkan rasa
gatal di liang telinga sehingga menambah kemungkinan traumakarena
garukan.4

INCLUDEPICTURE
"http://htmlimg3.scribdassets.com/7pzoesxfcwym91c/images/95fbc8f5cdb.jpg" \* MERGEFORMATINET INCLUDEPICTURE
"http://htmlimg3.scribdassets.com/7pzoesxfcwym91c/images/95fbc8f5cdb.jpg" \* MERGEFORMATINET INCLUDEPICTURE
"http://htmlimg3.scribdassets.com/7pzoesxfcwym91c/images/95fbc8f5cdb.jpg" \* MERGEFORMATINET INCLUDEPICTURE
"http://htmlimg3.scribdassets.com/7pzoesxfcwym91c/images/95fbc8f5cdb.jpg" \* MERGEFORMATINET

Gambar 1. Patofisiologi terjadinya otitis eksterna difusa


Klasifikasi otitis eksterna
a. Penyebab tidak diketahui :
- Malfungsi kulit : dermatitis seboroita, hiperseruminosis, asteotosis
- Eksema infantil : intertigo, dermatitis infantil
- Otitis eksterna membranosa
- Meningitis kronik idiopatik
- Lupus erimatosus, psoriasis

10

b. Penyebab infeksi
- Bakteri gram (+) : furunkulosis, impetigo, pioderma, ektima,
-

sellulitis, erisipelas
Bakteri gram (-) : Otitis eksterna diffusa, otitis eksterna bullosa,

otitis eksterna granulosa, perikondritis


Bakteri tahan asam : mikrobakterium TBC
Jamur dan ragi (otomikosis) : saprofit atau patogen
Meningitis bullosa, herpes simplek, herpes zoster, moluskum

kontangiosum, variola dan varicella


- Protozoa
- Parasit
c. Erupsi
neurogenik
:
proritus

simpek,

neurodermatitis

lokalisata/desiminata, ekskoriasi, neurogenik


d. Dermatitis alergika, dermatitis kontakta (venenat), dermatis atopik,
erupsi karena obat, dermatitis eksamatoid infeksiosa, alergi fisik
e. Lesi traumatika : kontusio dan laserasi, insisi bedah, hemorhagi
(hematom vesikel dan bulla), trauma (terbakar, frosbite, radiasi dan
kimiawi)
f. Perubahan senilitas
g. Deskrasia vitamin
h. Diskrasia endokrin3
Klasifikasi Otitis Eksterna menurut G.G.Browning:
Klasifikasi
Lokal ( Furunkulosis)
Otitis Eksterna Difus

Keadaan Umum Kulit

Subklasifikasi
Idhiopatik
Trauma
Iritan
Alergi
Bakteri, fungal
Iklim dan lingkungan
Dermatitis Seboroika
Dermatitis Alergi
Dermatitis Atopik
Psoriasis

Invasif(Granula/Nekrotizing Maligna)
lainnya (Keratosis Obturan)
Tabel 1. Klasifikasi otitis eksterna
Penatalaksanaan
Otitis eksterna difusa harus diobati dalam keadaan dini sehingga dapat
menghilangkanedema yang menyumbat liang telinga. Dengan demikian,

11

biasanya perlu disisipkan tampon berukuran x 5 cm kedalam liang telinga


mengandung obat agar mencapai kulit yang terkena.Setelah dilumuri obat,
tampon kasa disisipkan perlahan-lahan dengan menggunakan forsep aligator.
Penderita harus meneteskan obat tetes telinga pada kapas tersebut satuhingga
dua kali sehari. Dalam 48 jam tampon akan jatuh dari liang telinga karena
lumen sudah bertambah besar.Polimiksin B dan colistemethate merupakan
antibiotik yang paling efektif terhadap Pseudomonasdan harus menggunakan
vehiculum hidroskopik seperti glikol propilen yang telahdiasamkanbahan
kimia lain, seperti gentian violet 2% dan perak nitrat 5% bersifat bakterisid
dan bisa diberikan langsung ke kulit liang telinga. Setelah reaksi peradangan
berkurang, dapatditambahkan alcohol 70% untuk membuat liang telinga
bersih dan kering.4
Terapi sistemik hanya dipertimbangkan pada kasus berat; dianjurkan
untuk melakukan pemeriksaan kepekaan bakteri. Antibiotik sistemik
khususnya diperlukan jika dicurigai danya perikondritis atau kondritis pada
tulang rawan telinga. 5
Pasien harus diingatkan mengenai kemungkinan kekambuhan yang
mungkin

terjadi

pada pasien,

terutama

setelah

berenang.

Untuk

menghindarinya pasien harus menjaga agar telinganyaselalu kering, dengan


cara menggunakan alkohol encer secara rutin tiga kali seminggu. Pasien juga
harus diingatkanagar tidak menggaruk/membersihkan telinga dengancotton
budterlalu sering. 2
Komplikasi
-

Perikondritis
Selulitis
Dermatitis aurikularis 4

Prognosis
Otitis eksterna adalah suatu kondisi yang dapat diobati biasanya sembuh
dengan cepat dengan pengobatan yang tepat. Paling sering, otitis ekserna
dapat dengan mudah diobati dengan tetes telinga antibiotik. Otitis eksterna
kronis yang mungkin memerlukan perawatan lebih intensif. Otitis eksterna
biasanya tidak memiliki komplikasi jangka panjang atau serius. 5

12

2.2

OTOMIKOSIS
Otomikosis adalah infeksi akut, subakut, dan kronik pada epitel skuamosa
dari pinna dan kanalis akustikus eksterna oleh ragi dan filamen jamur.
Jamur adalah penyebab utamanya, namun penyakit ini juga dapat terjadi
akibat infeksi bakteri kronis pada kanalis auditorius eksternus atau telinga
tengah yang menyebabkan menurunnya

imunitas lokal sehingga

memudahkan terjadinya infeksi jamur sekunder. Pada kasus dengan


perforasi membran timpani, jamur juga dapat menyebabkan infeksi pada
telinga tengah.8,9,10,11
2.2.1

EPIDEMIOLOGI
Prevalensi otitis eksterna fungi bervariasi sesuai dengan keadaan geografis
dan faktor predisposisi pasien dan merupakan 9-50% dari seluruh kasus
otitis eksterna. Umumnya ototitis eksterna fungi lebih sering dijumpai
pada daerah tropis dan sub tropis seperti Mesir, India, Birma, Pakistan,
Bahrain, Israel dan Indonesia berhubungan dengan faktor lingkungan
yakni suhu dan kelembaban di daerah-daerah tersebut.8,12
Lingkungan yang lembab dengan iklim tropis meningkatkan insiden otitis
eksterna fungi karena kontribusinya dalam meningkatkan produksi
keringat dan mengubah permukaan epitel kanalis akustikus eksterna
sehingga menjadi media yang baik bagi pertumbuhan dan proliferasi
jamur. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa otitis eksterna fungi lebih
sering didapati pada wanita dan lebih sering terjadi pada orang dewasa
dibandingkan anak-anak. Otitis eksterna fungi unilateral dilaporkan pada

13

90% dari kasus dan tidak menunjukkan sisi mana yang lebih sering
terjadi.8
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa otitis eksterna fungi lebih sering
ditemukan pada pasien dengan penyakit penyerta dibetes melitus tipe 2.
Hal ini dikarenakan pada diabetes melitus tipe 2 terjadi penurunan
imunitas seluler yang berdampak pada mudahnya infeksi dan proliferasi
jamur, keadaan hiperglikemia juga dapat membentuk lingkungan yang
baik bagi pertumbahan jamur. Otitis eksterna fungi pada pasien dengan
diabetes melitus tipe 2 membutuhkan pengobatan dan pemantauan dalam
jangka panjang karena mudah mengalami rekurensi dan resisten oleh
karena pada diabetes melitus tipe 2 terjadi gangguan mikrovaskular yang
dapat memperburuk perfusi aliran darah perifer.13
2.2.3

FAKTOR PREDISPOSISI9
a.

Kelembaban
Saluran telinga mudah terinfeksi karena gelap dan hangat, sehingga
pada keadaan kelembaban yang tinggi dan cuaca yang panas dapat
memudahkan terjadinya pertumbuhan dan proliferasi bakteri dan
jamur dalam saluran telinga. Hal ini terutama terjadi di daerah tropis

b.

dan subtropis.
Pasien imunokompromis
Pada pasien dengan imunokompromis, infeksi jamur menjadi lebih
mudah terjadi karena sistem imun pasien tidak mampu melindungi

c.

tubuhnya.
Penggunaan jangka panjang tetes telinga antibiotik
Keadaan normal telinga dan sel epitel mukosa saluran telinga dapat
mengalami perubahan akibat penggunaan jangka panjang tetes telinga
antibotik, sehingga memudahkan terjadi pertumbuhan dan proliferasi
jamur. Perubahan tersebut juga dapat mengakibatkan flora normal
dalam saluran telinga berubah menjadi patologis.

d.

Perenang
Jika terlalu banyak air masuk ke dalam saluran telinga, misalnya saat
berenang,

terutama

di

air

yang

mengandung

klorin

atau

14

membersihkan

telinga

dengan

air

pada

saat

mandi

akan

memudahkan jamur bertumbuh dan berproliferasi karena air tersebut


meningkatkan kelembaban, meningkatkan pH dan membersihkan
serumen yang melengket pada mukosa saluran telinga yang pada
keadaan

normal

sebenarnya

berfungsi

melindungi

dan

mempertahankan mukosa saluran telinga. Dengan demikian,


perenang sebaiknya menggunakan ear plug atau penyumbat telinga
e.

pada saat berenang.


Terlalu sering membersihkan telinga
Terlalu sering membersihkan telinga menggunakan cotton bud dapat
mengakibat trauma lokal pada saluran telinga sehingga memudahkan
terjadinya infeksi, pertumbuhan dan proliferasi bakteri dan jamur.

2.2.4

ETIOLOGI
Sebagian besar Otomikosis disebabkan oleh jamur Aspergillus spp. dan
Candida. Aspergillus niger adalah yang paling sering ditemui pada
pemeriksaan kultur karena jumlahnya yang mendominasi kanalis auditoris
eksterna, jenis jamur lain yang dapat menyebabkan otomikosis adalah A.
flavus, A. fumigatus, A. terreus (jamur filamentosa), Candida albicans dan
C. parapsilosis (jamur ragi). Selain itu beberapa jamur lain yang juga dapat
menyebabkan otitis eksterna fungi namun jarang ditemukan ialah jamur
jenis Phycomycetes, Rhizopus, dan Penicillium.8
Pada penelitian yang dilakukan Kumar (2005) pada pasien otitis eksterna
fungi menunjukkan bahwa jenis jamur yang paling sering ditemui, yakni
Aspergillus niger (52,43%), Aspergillus fumigates (34,14%), Candida
albicans (11%), Candida pseudotropicalis (1,21%). Beberapa peneliti juga
melaporkan jamur kausatif yang lain, yakni jenis Penicillium sp. dan jenis
Candida yang lain dalam berbagai persentase. Umumnya penelitianpenelitian tersebut menunjukkan bahwa persentase jenis jamur Aspergillus
lebih banyak dibandingankan Candida. Meskipun demikian, pada keadaan
imunokompromis atau dengan penyakit penyerta tertentu, misalnya

15

diabetes melitus tipe 2, jenis jamur Candida justru lebih sering


ditemukan.8,13
2.2.5

PATOFISIOLOGI8
Patofisiologi otitis eksterna fungi berkaitan dengan anatomi, fisiologi dan
histologi kanalis akustikus eksterna. Kanalis akustikus eksterna adalah
sebuah saluran atau kanal dengan panjang rata-rata 2,5 cm dan lebar ratarata 7,9 mm pada orang dewasa. Saluran atau kanal ini berbentuk silinder
dan dilapisi dengan epitel berlapis gepeng bertanduk hingga ke bagian luar
membrana timpani. Bagian depan dari resesus membrana timpani, hingga
isthmus sering menjadi tempat akumulasi debris keratin dan serumen dan
sulit dibersihkan.
Serumen memiliki suatu zat antimikotik, bakteriostatik dan insect
repellent. Serumen terdiri dari lipid (46-73%), protein, asam amino bebas,
mineral, lisosim, imunoglobulin, dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak
tak jenuh rantai panjang yang terdapat pada kanalis akustikus eksterna
yang normal dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Komposisi
hidrofobik ini memungkinkan serumen berperan dalam mengeluarkan air
dari kanalis akustikus eksterna, serta membuat permukaan kanalis tidak
permeabel, dan mencegah maserasi dan kerusakan epitel.
Flora normal atau komensal yang terdapat di dalam kanalis akustikus
eksterna diantaranya, Staphylococcus epirdemidis, Corynebacterium sp,
Bacillus sp, Gram positive cocci (Staphylococcus aureus, Streptococcus
sp, non-pathogenic micrococci), Gram negative bacilli (Pseudomonas
aeruginosa, Escherichia coli, Hemophilus influenza, Morazella catarrhalis,
etc) dan jenis jamur miselia dari genus Aspergillus dan Candida sp. Flora
normal atau komensal ini tidak bersifat patogen apabila lingkungan kanalis
aksutikus eksterna dan keseimbangan antara bakteri dan jamur tetap
terjaga.

16

Faktor faktor yang berperan dalam perubahan lingkungan kanalis


akustikus eksterna yang kemudian mengakibatkan jamur saprofit menjadi
patogen, diantaranya faktor lingkungan (suhu dan kelembaban), perubahan
pada epitel kanalis akustikus eksterna akibat dermatitis atau trauma mikro,
peningkatan pH, penurunan kualitas dan kuantitas serumen, faktor
sistemik (imunokompromis, neoplasma, diabetes melitus, penggunaan
antibiotik lama, agen sitostatik dan kortikosteroid), riwayat otitis eksterna
bakteri atau otitis media supuratif, dermatomikosis, serta kondisi sosial.
2.2.6

Diagnosis Otomikosis
Otomikosis bisa terjadi dengan atau tanpa gejala. Gejala yang paling
sering terjadi adalah rasa gatal atau pruritus. Penderita mengeluh rasa
penuh dan sangat gatal di dalam telinga. Liang telinga merah sembab dan
banyak krusta. Inflamasi disertai eksfoliasi permukaan kulit atau
pendengaran dapat terganggu oleh karena liang telinga tertutup oleh massa
kotoran kulit dan jamur. Infeksi jamur dan invasi pada jaringan di bawah
kulit menyebabkan nyeri dan supurasi. Bila infeksi berlanjut, eksema dan
likenifikasi dapat jelas terlihat dan kelainan ini dapat meluas ke telinga
bagian luar hingga bawah kuduk. Tulang rawan telinga dapat juga
terserang.6,16 Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan umum pada
tahap awal dan sering mengawali terjadinya rasa nyeri. Rasa sakit pada
telinga bisa bervariasi mulai dari hanya berupa perasaan tidak enak pada
telinga, perasaan penuh dalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga
berdenyut diikuti nyeri yang hebat. Keluhan rasa sakit yang dikeluhkan
sering menjadi gejala yang mengelirukan, walaupun rasa sakit tersebut
merupakan gejala yang dominan. Derajat rasa sakit belum bisa
menggambarkan derajat peradangan yang terjadi. Hal ini dijelaskan
bahwasanya kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan dengan
periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis akan menekan
serabut saraf yang mengakibatkan rasa nyeri. Selain itu, kulit dan tulang
rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit dan tulang rawan
daun telinga, sehingga gerakan dari daun telinga akan mengakibatkan rasa
sakit yang hebat pada kulit dan tulang rawan di liang telinga luar.

17

Kurangnya pendengaran mungkin dapat terjadi akibat edema kulit liang


telinga, sekret yang purulen, atau penebalan kulit yang progresif yang bisa
menutup lumen dan mengakibatkan gangguan konduksi hantaran suara.

17

Pada pemeriksaan menggunakan otoskopi, umumnya akan didapatkan


lumen MAE mengalami edema ringan, eritem, dan terlihat debris atau
sekret jamur berwarna putih, keabuan, atau hitam. Pasien biasanya sudah
menggunakan berbagai obat tetes telinga antibiotik maupun per oral,
namun keluhan tidak berkurang.9
Karateristik pada otitis eksterna fungi ialah pada infeksi akibat Aspergillus
umumnya akan terlihat hifa halus dan spora (konidiofor) sedangkan pada
infeksi akibat Candida akan terlihat miselia yang panjang yang jika
bercampur dengan serumen akan berwarna kekuningan. Infeksi akibat
Candida lebih sulit diidentifikasi secara klinis karena kurangnya tampilan
klinis seperti pada infeksi akibat Aspergillus.8
Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan mengidentifikasi komponen jamur
menggunakan tes KOH atau menggunakan kultur jamur yang positif.
Namun, kultur sangat jarang dibutuhkan dan umumnya tidak mengubah
terapi karena jamur yang menyebabkan otomikosis kebanyakan adalah
jamur jenis saprofit yang merupakan jenis flora normal/komensal dalam
MAE normal. Morfologi dari koloni juga dapat memudahkan untuk
membedakan yeast like fungi atu jamur ragi dan filamentous fungi atau
jenis jamur filamentosa. Koloni yang berwarna putih atau putih
kekuningan, halus dan kadang-kadang kasar, adalah jenis jamur ragi.
Sedangkan jenis jamur filamentosa berbentuk seperti kumpulan debu, kain
wol, atau kain beludru yang dilipat. Koloni ini dapat menampilkan berbagi
jenis warna seperti, hitam, putih, kuning, hijau, biru, dan biru kehijauan.8

18

Gambar 2. Otomikosis Aspergillus niger (kanan) dan Otomikosis-Aspergillus


speciea (kiri).18

Gambar 3. Otomycosis-aspergillus fumigatus (kanan) Severe otomycosisAspergillus Niger (kiri)18

19

Gambar 4. Histopathology-Aspergillus Niger18

Gambar 5. Otomikosis- Candida albicans18

Gambar 6. Candida Albicans-Plate culture (kanan) Candida AlbicansHistopathology (kiri)18

20

Gambar 7. Gambaran hifa dan filamen pada tes KOH19


2.2.7

TERAPI
Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan beberapa obat baik
topikal maupun per oral yang dapat digunakan dalam penanganan otitis
eksterna fungi, namun belum ada konsesus yang memuat mengenai obat
dan cara yang paling efektif diantara yang lain. Penanganan yang sering
dilakukan saat ini adalah dengan pemberian antifungi topikal dan
pembersihan liang telinga dari debris dan sekret jamur yang terbukti dapat
memberikan hasil yang baik, walaupun membutuhkan waktu yang cukup
lama.8
Banyak peneliti meyakini bahwa hal terpenting dalam penanganan otitis
eksterna fungi adalah dengan mengidentifikasi jamur penyebab untuk
memberikan terapi medikamentosa yang adekuat. Untuk saat ini, belum
ada terapi khusus yang direkomendasikan untuk otitis eksterna fungi
karena banyaknya antifungi yang dapat digunakan klinisi secara luas yang
membuktikan bahwa terapi ini juga tergantung pada pasien sebagai
individu.8
Sediaan antifungi dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni antifungi
spesifik dan non spesifik. Antifungi non spesifik diantaranya adalah
larutan asam dan pembersih:8

21

Boric acid adalah medium asam dan sering digunakan sebagai


antiseptik dan insektisida. Dapat diberikan bila penyebabnya adalah

Candida albicans.
Gentian Violet yang disediakan dalam bentuk larutan konsentrasi
rendah. Misalnya 1% dalam air. Gentian violet bersifat antibakteri,
antifungi,

antiinflamasi

dan

antiseptik.

Beberapa

penelitian

menunjukkan efektivitas agen ini hingga 80%.


Castellanis paint (acetone, alkohol, fenol, fuchsin, resocinol)
Cresylate (merthiolate, M-cresyl acetate, propyleneglycol, bric acid,

dan alkohol)
Merchurochrome yang merupakan antiseptik topikal dan antifungi.
Penelitian menunjukkan efektivitasnya hingga 93, 4%.

Antifungi spesifik, diantaranya8,11,15:


-

Nystatin adalah antibiotik makrolid polyene yang dapat menghambat


sintesis sterol di membran sitoplasma. Keuntungan dari nistatin adalah
tidak diserap oleh kulit yang intak. Dapat diresepkan dalam bentuk

krim, salep, atau bedak. Efektif hingga 50-80%.


Azole adalah agen sintetis yang mengurangi konsentrasi ergosterol,
sterol esensial pada membran sitoplasma normal.
1. Clotrimazole digunakan secara luas sebagai topikal azole. Efektif
hingga 95-100%. Clotrimazole memiliki efek bakterial dan ini
adalah keuntungan untuk mengobati infeksi campuran bakterijamur. Clotrimazole tersedia dalam bentuk bubuk, lotion, dan
solusio dan telah dinyatakan bebas dari efek ototoksik.
2. Ketokonazole dan fluconazole memiliki spektrum

luas.

Ketokonazole (2% krim) efektif hingga 95-100% melawan


Aspergillus dan C. Albicans. Fluconazole topikal efektif hingga
90% kasus.
3. Miconazole (2% krim) adalah imidazole yang telah dipercaya
kegunaannya selama lebih dari 30 tahun untuk pengobatan
penyakit superfisial dan kulit. Agen ini dibedakan dari azole yang
lainnya dengan memiliki dua mekanisme dalam aksinya.
Mekanisme pertama adalah

inhibisi dari sintesis ergosterol.

Mekanisme kedua dengan inhibisi dari peroksida, dimana

22

dihasilkan oleh akumulasi peroksida pada sel dan menyebabkan


kematian sel. Efektif hingga 90%.
4. Bifonazole. Solusio 1% memiliki potensi sama dengan klotrimazol
dan miconazole. Efektif hingga 100%.
5. Itraconazole memiliki efek in vitro dan in vivo melawan spesies
Aspergillus. Selain itu berdasarkan penelitian yang dilakukan
Venkataramanan dan Kumar (2016) menunjukkan pemberian
itrakonazole per oral pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan
otitis eksterna fungi rekuren selama 5 hari sangat efektif.
Tabel 2. Obat yang digunakan pada kasus otomikosis dan efikasinya

Bentuk salep lebih memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan


formula tetes telinga karena dapat bertahan di kulit untuk waktu yang
lama. Salep lebih aman pada kasus perforasi membran timpani karena
akses ke telinga tengah sedikit diakibatkan tingginya viskositas.
Penggunaan cresylate dan gentian violet harus dihindari pada pasien
dengan perforasi membran timpani karena memiliki efek iritasi pada
mukosa telinga tengah. Serta menghentikan penggunaan antibiotik topikal
bila dicurigai sebagai penyebabnya.Pada pasien immunocompromised,
pengobatan otomikosis harus lebih kuat untuk mencegah komplikasi
seperti hilangnya pendengaran dan infeksi invasif ke tulang temporal.7

23

Otomikosis terkadang sulit diatasi walaupun telah diobati dengan


pengobatan yang sesuai. Maka dari itu perlu ditentukan apakah kondisi ini
akibat penyakit otomikosis itu sendiri atau berhubungan dengan gangguan
sistemik lainnya atau hasil dari gangguan immunodefisiensi yang
mendasari. Pengobatan lain selain medikamentosa yaitu menjaga telinga
tetap kering dan mengarahkan pada kembalinya kondisi fisiologis dengan
mencegah gangguan pada kanalis akustikus eksternus.8
2.2.8

KOMPLIKASI
Perforasi membran dapat terjadi sebagai komplikasi dari otomikosis yang
bermula pada telinga dengan membran timpani intak. Insidens perforasi
timpani pada mikosis ditemukan menjadi 11%. Perforasi lebih sering
terjadi pada otomikosis yang disebabkan oleh Candida albicans.
Kebanyakan perforasi terjadi bagian malleus yang melekat pada membran
timpani. Mekanisme dari perforasi dihubungkan dengan trombosis mikotik
dari pembuluh darah membran timpani, menyebabkan nekrosis avaskuler
dari membran timpani. Enam pasien pada grup immunocompromised
mengalami perforasi timpani. Perforasi kecil dan terjadi pada kuadran
posterior dari membran timpani. Biasanya akan sembuh secara spontan
dengan pengobatan medis. Jarang namun jamur dapat menyebabkan otitis
eksterna invasif , terutama pada pasien immunocompromised. Terapi
antifungal sistemik yang adekuat sangat diperlukan pada pasien ini.8

BAB III
PEMBAHASAN

24

Seorang laki-laki usia 47 tahun datang ke poli THT luar di diagnosis otititis
eksterna difusa auris dextra dan otomikosis auris dextra pada kasus ini ditegakkan
berdasarkan anamnesis gejala klinis dan pemeriksaan fisik pasien. Dari anamnesis
didapatkan bahwa pasien mengeluh nyeri yang terus-menerus pada telinga kanan
dan semakin berat bila tertekan di bagian cuping telinga selama 2 hari. Pasien juga
mengeluhkan demam sejak 1 hari yang lalu. Sebelumnya pasien kemasukan semut
pada telinga kanannya sehingga pasien membersihkan telinganya dengan cotton
bud dan memasukan air ke dalam liang telinga kann untuk membantu
mengeluarkan semut dari dalam telinganya keluhan gatal yang terjadi
kemungkinan akibat trauma ringan yang disebabkan perubahan kulit liang telinga.
Selain itu keluhan juga disertai pendengaran yang berkurang pada telinga kanan .
Pada pemeriksaan telinga kanan pasien didapatkan nyeri tekan tragus dan adanya
tanda-tanda perandangan canalis akustikus eksternus kanan, yaitu adanya edema
dan hiperemis liang telinga. Gambaran massa putih keabu-abuan dengan bintik
hitam dan filamen halus (Debris (+), hifa (+), spora (+) namun membran timpani
sulit dinilai karena liang telinga yang sempit akibat terjadi edema. Hal ini sesuai
dengan gejala otitis eksterna Difus , yaitu nyeri pada liang telinga dan gangguan
pendengaran pada liang telinga dan ditemukannya nyeri tekan tragus, liang telinga
yang sempit, CAE hiperemis dan edema.1
Gejala yang paling sering ditemui pada Otomikosis adalah rasa gatal atau pruritus.
Penderita mengeluh rasa penuh dan sangat gatal di dalam telinga. Liang telinga
merah sembab dan banyak krusta. Inflamasi disertai eksfoliasi permukaan kulit
atau pendengaran dapat terganggu oleh karena liang telinga tertutup oleh massa
kotoran kulit dan jamur. Menurut penelitian yang dilakukann Bayati dkk di Iran
didapatkan gejala dari otomikosis adalah pruritus (65%), otalgia (55%), rasa
penuh ditelinga (46%), otorrhea (40%) and kehilangan pendengaran (33%).1 Ho
mencatat bahwa pruritus ditemukan 23% kasus, otalgia dan otorrhea adalah 48%,
gangguan pendengaran ditemukan pada 45% kasus. Mirip dengan penelitian yang
dilakuakn Ozcan yang ditemukan sebagian besar kasus memiliki gejala aural
seperti gatal, otalgia, gangguan pendengaran, discharge telinga dan tinnitus.
Otomycosis ditemukan pada semua kelompok usia.21,22

25

Kebiasaan membersihkan telinga dengan bulu, batang korek api dan ujung jari
yang terkontaminasi dapat mendorong inokulasi dan pertumbuhan spora jamur
pada CAE terutama pada pasien dengan hygiene pribadi yang buruk. 3 Saluran
telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-sel kulit
yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan saluran
telinga dengan cotton buds (kapas pembersih) dapat mengganggu mekanisme
pembersihan ini dan dapat mendorong sel-sel kulit yang mati beserta serumen ke
arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana. Penimbunan sel-sel
kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan air yang masuk ke
dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah dan lembab pada
saluran telinga akan lebih mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur. 15
Temuan massa putih keabu-abuan dengan bintik hitam dan filamen halus yang
khas untuk otomikosis. Diagnosis pasti dapat dibantu dengan pemeriksaan KOH
untuk mengidentifikasi elemen jamur atau melalui kultur jamur. Kumar
menemukan jamur dari isolat pasien otomikosis sebanyak 43 kasus (52,43%).
Kumar juga mengisolasi Aspergillus niger (52.43%), Aspergillus fumigates
(34.14%), C.albicans (11%), C.pseudotropicalis (1.21%) and Mucor sp (1.21%).
Ahmad et al (1989) yang mempublikasi sebuah karya prospective study pada 53
pasien di poli THT FK UI juga membuktikan bahwa spesies yang sering terisolasi
adalah Aspergillus sp. dari pada Candida sp. 7
Pada otitis eksterna, pengobatannya amat sederhana tetapi membutuhkan
kepatuhan penderita terutama dalam menjaga kebersihan liang telinga.
Pembersihan liang telinga dengan mengorek-ngorek telinga dengan benda asing
seperti cotton bud tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan trauma atau iritasi
yang menjadi tempat masuknya kuman dan merusak barrier proteksi pada liang
telinga. Penatalaksanaannya dapat diberikan obat tetes telinga yang mengandung
neomisin, polimiksin B, anestesi topikal, dan korikosteroid. Kadang- kadang
diperlukan obat antibiotik sistematik.1
Pada kasus ini diberikan terapi berupa obat tetes clotrimazole salep 2x1
obat oral cefixime 100 mg 2 kali sehari 1 tablet serta paracetamol 500 mg 3 kali

26

sehari dan kalium dicklofenac 500mg 3 kali sehari. Antibiotika sistemik diberikan
pada otitis eksterna difusa berdasarkan pertimbangan infeksi yang berat dimana
lapisan yang terkena lebih dalam sehingga tidak dapat dijangkau dengan antibiotik
topikal saja. Selain itu juga diberi Paracetamol untuk menurunkan panas dan
natrium diclofenac untuk menghilangkan nyerinya.
Terdapat 4 fundamental terapi otitis eksterna yaitu pembersihan, pemberian
antibiotik yang tepat, terapi terhadap nyeri dan inflamasi, dan pemberian edukasi
untuk mencegah terjadinya penyakit berulang. Antibiotik tetes telinga yang
diberikan adalah untuk infeksi Pseudomonas, dalam hal ini polymixin B dengan
cara meneteskan ke bagian telinga lalu kepala dimiringkan ke sisi yang tidak
nyeri. Selain itu juga dapat diberi antibiotik oral broad-spectrum.6
pengobatan Otomikosis itu sendiri dapat diberikan salep clotrimazole 2x
sehari. Golongan azole merupakan agen sintetik yang dapat mengurangi
konsentrasi ergosterol, yaitu sterol esensial yang terdapat pada membran
sitoplasma normal. Clotrimazole adalah golongan azole yang paling sering
digunakan karena efektifitasnya yang tinggi dalam mengobati otomikosis.
Clotrimazole juga memiliki efek antibakteri sehingga sering digunakan untuk
pengobatan infeksi bakteri-jamur, dan ia tidak memiliki efek ototoksisitas.
Ketokonazole dan flukonazole merupakan antifungal spektrum luas dan
komponen kimianya efektif mengobati penyebab umum otomikosis seperti
Aspergillus dan Candida albicans.
Klotrimazole merupakan anti jamur spektrum luas yang umum digunakan.
Klotrimazol bekerja dengan meningkatkan permeabilitas membran fungi sehingga
menyebabkan kematian pada jamur. Penanganan ditujukan untuk mengeradikasi
jamur penyebab dan mengembalikan kanalis akustikus eksterna dalam kondisi
normalnya serta mengurangi keluhan pasien.
BAB IV
KESIMPULAN

27

1. Diagnosis kasus adalah Otitis Eksterna Difus Auris Dextra Dan otomikosis
Auris dextra sesuai dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
2. Faktor predisosisi yang menyebabkan penyakit pada kasus ini adalah
trauma ringan seperti mengorek telinga. Penyebab terbanyak kasus otitis
eskterna difus adalah bakteri gram negatif Pseudomonas aeruginosa
(Bacillus pyocaneus) dan staphylococci sedangkan pada otomikosis adalah
Aspergillus sp. dan Candida sp.
3. Terapi yang digunakan adalah pembersihan liang telinga, pemberian
tampon berisi obat antibiotik dan pemberian antifungal salep.Obat
sistemik diberikan antipiretik,analgetik dan antibiotik.
4. Perlu kepatuhan dan edukasi yang adekuat untuk mencegah kekambuhan
kasus.

DAFTAR PUSTAKA

28

1. Soepardie EA, Iskandar N, Bashirudin J, Restuti RD, editor. Buku Ajar


Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta: FK UI.
2010.
2. Enriquez A, et al. Basic Otolaryngology. Manila: Department of
Otorhinolaryngology UP - PGH. 1993.
3. Adams G, Boies L, Higler P. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta:
EGC.1997.
4. Lee K.J, Essential otolaryngology: head and neck surgery. Stamford:
Appleton & Lange. 1995.
5. Becker W, Naumann H, Pfaltz C. Ear, Nose, and Throat, A Pocket
Reference. Second, revised edition. New York: Thieme. 1994.
6. Rosen CA dan Johnson JT. Baileys head and neck surgery otolaringology.
Philadelphia : Lippincott William and Wilkins. 2014.
7. Kumar, Ashish. Fungal Spectrum in Otomycosis Patients. JK Science. Vol.
7 No. 3, July-September 2005. Diakses pada tanggal 20 agustus 2016
8. Knott,
Laurence.
Fungal
Ear
Infection
(Otomycosis).http://www.patient.co.uk/doctor/Fungal-Ear-Infection
(Otomycosis).htm diakses pada tanggal 20 agustus 2016.
9. Ballenger, James. Jr, Snow. Manual of Otorhinolaryngology Head and
Neck Surgery. London: BC Decker. 2002
10. Lee KJ. Infection of the ear. In: Lee KJ, editor. Essential otolaryngology
Head & Neck surgery. New York: McGraw Hill;2003:p.462-511.
11. Edward Y, Irfandy D. 2013.
Otomycosis. Available at:
http://repository.unand.ac.id/17717/1/crotomycosis.pdf
12. Chaudhry
A.
Otomycosis.
Available
at:
http://www.rmc.edu.pk/Otomycosis.pdf
13. Munguia, Raymundo. Daniel, Sam J. Ototopical Antifungal and
Otomycosis: A Riview. International Journal of Pediatric
Otorhinolaryngology. 2008. 72, 453459. www.elsevier.com/locate/ijporl
14. Ho T, Vrabec JT, Yoo D, Coker NJ. Otomycosis : Clinical features and
treatment implications. Otolaryngol-Head Neck Surg. 2006;135:787-91.
15. Ozcan K, Ozcan M, Karaarslan A, Karaarslan F. Otomycosis in Turkey;
Predisposing Factors,Etiology and Therapy. J Laryngol & Otol 2003; 117:
39-42.
16. Bailey, BJ. Johnson, JT. Newlands, SD. Head and Neck SurgeryOtolaryngology. 4th Edition. Volume 2. Philadelphia: Lippincott Williams
& Wilkins. 2006

29