You are on page 1of 33

APORAN PENDAHULUAN MELENA

A. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian
Melena adalah pengeluaran feses atau tinja yang berwarna hitam seperti ter yang
disebabkan oleh adanya perdarahan saluran makan bagian atas. BAB darah atau biasa disebut
hematochezia ditandai dengan keluarnya darah berwarna merah terang dari anus, dapat
berbentuk gumpalan atau telah bercampur dengan tinja. Sebagian besar BAB darah berasal dari
luka di usus besar, rektum, atau anus. Warna darah pada tinja tergantung dari lokasi perdarahan.
Umumnya, semakin dekat sumber perdarahan dengan anus, semakin terang darah yang keluar.
Oleh karena itu, perdarahan di anus, rektum dan kolon sigmoid cenderung berwarna merah
terang dibandingkan dengan perdarahan di kolon transversa dan kolon kanan (lebih jauh dari
anus) yang berwarna merah gelap atau merah tua.
2. Tanda dan gejala
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Syok (denyut Jantung, Suhu Tubuh),
Penyakit hati kronis (sirosis hepatis),
Demam ringan 38-39°C,
Nyeri di perut,
Hiperperistaltik,
Penurunan Hb dan Hmt yang terlihat setelah beberapa jam,
Peningkatan kadar urea darah setelah 24-48 jam karena pemecahan protein darah oleh bakteri
usus.

3. Etiologi
a.
b.
c.
d.
e.

Adanya luka atau pendarahan di lambung atau usus.
Tukak lambung .
Wasir.
Disentri.
Minuman beralkohol.

4. Patofisiologi

Pada gagal hepar sirosis kronis, kematian sel dalam hepar mengakibatkan peningkatan
tekanan vena porta. Sebagai akibatnya terbentuk saluran kolateral dalam submukosa esopagus
dan rektum serta pada dinding abdomen anterior untuk mengalihkan darah dari sirkulasi splenik
menjauhi hepar. Dengan meningkatnya teklanan dalam vena ini, maka vena tersebut menjadi
mengembang dan membesar (dilatasi) oleh darah (disebut varises). Varises dapat pecah,
mengakibatkan perdarahan gastrointestinal masif. Selanjutnya dapat mengakibatkan kehilangan
darah tiba-tiba, penurunan arus balik vena ke jantung, dan penurunan curah jantung. Jika
perdarahan menjadi berlebihan, maka akan mengakibatkan penurunan perfusi jaringan. Dalam
berespon terhadap penurunan curah jantung, tubuh melakukan mekanisme kompensasi untuk

mencoba mempertahankan perfusi. Mekanisme ini merangsang tanda-tanda dan gejala-gejala
utama yang terlihat pada saat pengkajian awal. Jika volume darah tidak digantikan , penurunan
perfusi jaringan mengakibatkan disfungsi seluler. Sel-sel akan berubah menjadi metabolsime
anaerobi, dan terbentuk asam laktat. Penurunan aliran darah akan memberikan efek pada seluruh
sistem tubuh, dan tanpa suplai oksigen yang mencukupi sistem tersebut akan mengalami
kegagalan.
5. Pemeriksaan diagnosis
a.

Laboratorium (pemeriksaan darah)
Hitung darah lengkap: penurunan Hb, Hmt, peningkatan leukosit.
Elektrolit : penurunan kalium serum, peningkatan natrium, glukosa serum dan laktat.

b. Radiologi
 Barrium Foloow through.
 Barrium enema.
c.

Colonoscopy
Pemeriksaan ini dianjurkan pada pasien yang menderita peradangan kolon.

6. Penatalaksanaan
a. Pengaturan diet
Bila terjadi konstipasi berikan makan dengan makanan tinggi serat. Dianjurkan untuk
menghindari susu.
b. Pengaturan obat-obatan
7.
a.
b.
c.

Komplikasi
Encelofati
Asites
Sirosis Hepatis

B. Konsep Asuhan Keperawatan
1.
a.
1)
2)
3)

Pengkajian Keperawatan
Anamnese
Identitas klien.
Riwayat keperawatan.
Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi
gejala dehidrasi,berat badan menurun. tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan

bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
4) Riwayat kesehatan masa lalu.
5) Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.

Perkusi : adanya distensi abdomen. Ansietas berhubungan dengan sakit kritis. BAK sedikit atau jarang.  Pola eliminasi Perubahan BAB lebih dari 4 kali sehari. mulut dan bibir kering. c.  Pola nutrisi Diawali dengan mual. darah lengkap. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake asupan yang tidak adekuat. c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.6) Riwayat psikososial keluarga.  Pola istirahat dan istirahat Terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Pemerikasaan fisik 1) Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah.  Pola aktivitas Terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen. cairan yang berlebihan. nadi cepat dan lemah. menyebabkan penurunan berat badan pasien. pernapasan agak cepat. 7) Kebutuhan dasar. d. kesadaran composmentis sampai koma. suhu tubuh tinggi. Palpasi : Turgor kulit kurang elastis Auskultasi : terdengarnya bising usus. Tujuan dan kriteria hasil: . Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan tinja. berat badan    menurun. Diagnosa 1 Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan. ubun-ubun besar.  Pola hygiene Kebiasaan mandi setiap harinya. Diagnosa keperawatan a. selaput lendir. 2) Pemeriksaan sistematik :  Inspeksi : mata cekung. 2. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output b. anopreksia. b. 3. anus kemerahan. Rencana Keperawatan a. muntah.

 Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering.  Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien. d. Rencana Tindakan :  Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. mual. b. Rencana Tindakan : Observasi tanda-tanda vital. ekspresi wajah tenang. Atur posisi yang nyaman bagi klien.      Tujuan dan Kriteria hasil : Nyeri dapat teratasi. Hitung input dan output cairan (balance cairan). . pemeriksaan lababoratorium  elektrolit.  Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.  Lakukan pemeriksaan fisik abdomen (palpasi.  Timbang berat badan klien. diet habis 1 porsi yang disediakan. Tujuan dan kriteria hasil: Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi. Beri kompres hangat pada daerah abdomen. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Diagnosa 2.Tanda-tanda dehidrasi tidak ada. Kaji tingkat rasa nyeri. Intake nutrisi klien meningkat. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah garam. dan auskultasi).Devisit cairan dan elektrolit teratasi. Diagnosa 3 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake asupan yang tidak kuat. Diagnosa 4 Ansietas berhubungan dengan sakit kritis. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi analgetik sesuai indikasi. mukosa mulut dan bibir     lembab. Nyeri dapat berkurang / hilang. balance cairan seimbang. c. perkusi. muntah tidak ada. Rencana Tindakan : Observasi tanda-tanda vital. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi cairan.

Evaluasi a. e. . Diagnosa Keperawatan.com/download-askep/ diakses tanggal 23 November 2011 pukul 18.wordpress. 2000. b. c.blogspot. Be ikan kenyamanan. Catat waktu dan orang yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan tindakan. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan. d. Identifikasi alat yang digunakan. Catat semua respoinformasi tentang pasien. 5. Pasien tampak rileks.00.com/ diakses tanggal 23 November 2011 pukul 18. dan perhatikan lingkungan selama melalukan tindakan keperawatan. c. Jakarta : EGC. Edisi 8. Ciptakan suasana yang menyenangkan bagi pasien 4. Rasa nyaman terpenuhi. Gunakan deskripsi tindakan untuk menentukan apa yang telah dikerjakan. REFERENSI Dongoes. Rencana tindakan : Kaji rasa cemas pasien. Berikan motivasi pada pasien untuk semangat sembuh.10.    Tujuan dan kriteria hasil : Rasa cemas pasien teratasi. http://yandrifauzan. Rasa cemas pasien teratasi. b. d. Implementasi Keperawatan a. keamanan. Berikan penjelasan mengenai sakit yang diderita pasien. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh. http://hidayat2.

1.LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HEMATEMESIS MELENA A. (Suyono. 2. tidak berbusa.2 %). KONSEP DASAR PENYAKIT Definisi/Pengertian Hematemesis Melena Hematemesis adalah muntah darah berwarna merah kehitaman/seperti kopi. 2001) Melena adalah buang air besar darah berwarna hitam. Epidemiologi/Insiden kasus Dari penelitian retrospektif di Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta selama 3 tahun (1996-1998) didapatkan penyebab perdarahan SCBA terbanyak adalah pecahnya varises esofagus (27. Tukak duodenum dan tukak lambung menempati nomor 5 dan 6 sebagai penyebab perdarahan SCBA. Penyebab Perdarahan SCBA dengan pemeriksaan endoskopi di RSCM (1996-1998) Penyebab Presentase (%) Pecahnya varises esofagus Kombinasi Gastritis erosif . bercampur makanan dan PH asam lambung yang berasal dari saluran cerna bagian atas (SCBA). encer yang berasal dari saluran cerna bagian atas (SCBA).

7 5.0 11. .Gastropati hipertensi portal Tukak duodenum Tukak lambung Pecahnya varises fundus Kanker duodenum Kanker lambung Esofagitis erosif 27.5 1.7 5.7 Dikutip dari Simadibrata M 3.9 0. Infamasi pada lambung dan usus. 2) Disebabkan sebagai salah satu gejala penyakit sistemik Misalnya : penyakit darah.9 1.2 22.1 0.1 19. tumor. Penyebab/faktor predisposisi Penyebab hematemesis melena antara lain : 1) Bila ada penyakit pada selaput lendir pada alat pencernaan Misalnya : tukak. infeksi.

3) Kerusakan pembuluh darah di selaput lendir pada saluran pencernaan dan sirosis hepatis karena tekanan darah portal yang meningkat. pusing § Ekstremitas dingin § Wajah pucat § Turgor kulit jelek 5. Gejala klinis § Demam ringan (38-39 º C) § Mual. membran mukosa pucat § Lemah. Patofisiologi terjadinya penyakit . 4) Ketidakseimbangan faktor agresif dan faktor defensif pada mukosa. 4. muntah darah berwarna kehitaman § BAB berwarna hitam dan berbau busuk § Tekanan darah menurun (90/60 mmHg) § Distensi abdomen § Bising usus hiperaktif § Berkeringat.

Sebagai akibatnya terbentuk saluran kolateral pada dinding abdominal anterior. asam lambung. infeksi H. Hematemesis biasanya bersumber di atas ligamen Treitz (pada jungsi denojejunal). stres. disertai penonjolan tidak teratur mukosa diatasnya ke dalam lumen. Hemoragi gastrointestinal dapat menimbulkan hematemesis melena. Feses akan seperti ter. Dengan meningkatnya tekanan dalam vena ini. Vena-vena yang melebar dan berkeluk-keluk terutama terlatak di submukosa esofagus distal dan lambung proksimal. Pemeriksaan diagnostik/Penunjang a) Pemeriksaan laboratorium . mengakibatkan hemoragi gastrointestinal.Pylori dapat mengakibatkan erosi pada mukosa lambung sampai mencapai mukosa muskularis disertai dengan kerusakan kemampuan mukosa untuk mensekresi mukus sebagai pelindung. Dapat mengalami ulserasi superficial yang menimbulkan radang. Gagal hepar sirosis kronik. rokok. Pembuluh yang berdilatasi ini disebut varises dan dapat pecah. mengakibatkan hemoragi gastrointestinal. Penyebab hematemesis melena yang lainnya adalah alkohol dan hipertensi portal berat dan berkepanjangan yang dapat menimbulkan saluran kolateral bypass : melalui vena koronaria lambung ke dalam vena esofagus subepitelial dan submukosal dan akan menjadi varises pada vena esofagus. 6. Hal ini akan menimbulkan peradangan pada sel yang akan menjadi granulasi dan akhirnya menjadi ulkus. Muntah dapat berwarna merah terang atau seperti kopi. maka vena tersebut menjadi mengembang oleh darah dan membesar. beku darah yang melekat dan kemungkinan ruptur. Asam lambung mengubah hemoglobin merah terang menjadi hematin coklat dan menerangkan tentang warna seperti kopi drainase yang dikeluarkan.PENJELASAN Penyebab terjadinya hematemesis melena salah satunya yaitu aspirin. Dari hematemesis akan timbul muntah darah. tergantung dari jumlah kandungan lambung pada saat perdarahan dan lamanya darah telah berhubungan dengan sekresi lambung. dan dapat mengakibatkan hemoragi gastrointestinal. kortikosteroid. kematian sel dalam hepar termasuk penyebab hematemesis melena yang dapat mengakibatkan peningkatan tekanan vena porta. Sedangkan melena terjadi apabila darah terakumulasi dalam lambung dan akhirnya memasuki traktus intestinal. OAINS. Feses ter dapat dikeluarkan bila sedikitnya 60 ml darah telah memasuki traktus intestinal. Cairan lambung yang berwarna merah marun atau merah terang diakibatkan dari perdarahan hebat dan sedikit kontak dengan asam lambung.

Burr Cell. 7. lambung dan duodenum. b) Pemeriksaan esofagogastroduodenoskopi Merupakan pemeriksaan penunjang yang paling penting karena dapat memastikan diagnosis pecahnya varises esofagus atau penyebab perdarahan lainnya dari esofagus. Pada . pemeriksaan fungsi hati untuk menunjang adanya sirosis hati. pemeriksaan adanya infeksi Helicobacter pylori. Sebaiknya bila dicurigai adanya kelainan pembekuan darah seperti Disseminated Intravascular Coagullation (DIC) dan lainnya.9% dan lainnya) ataupun koloid (plasma expander) sambil menunggu darah dengan/tanpa komponen darah lainnya bila diperlukan. Pasien harus diperiksa darah perifer (hemoglobin.Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan yaitu pemeriksaan darah rutin berupa hemoglobin. Terapi/Tindakan penanganan Penatalaksanaan perdarahan saluran cerna bagian atas dapat dibagi atas: 1. masa pembekuan. leukosit dan trombosit) tiap 6 jam untuk memonitor aktifitas perdarahan. APTT. masa protrombin. masa trombin. Penatalaksanaan umum/suportif Penatalaksanaan ini memperbaiki keadaan umum dan tanda vital. harus dilakukan pemeriksaan pembekuan darah seperti masa perdarahan. hematokrit. D dimmer dan lainnya. Selang nasogastrik perlu dipasang untuk memonitor apakah perdarahan memang berasal dari SCBA dan apakah masih aktif berdarah atau tidak dengan melakukan bilasan lambung tiap 6 jam sampai jernih. trombosit. Kita harus secepatnya memasang infus untuk pemberian cairan kristaloid (seperti NaCL 0. d) Ongiografi Bermanfaat untuk pasien-pasien dengan perdarahan saluran cerna yang tersembunyi dari visual endoskopik. pemeriksaan fungsi ginjal untuk menyingkirkan adanya penyakit gagal ginjal kronis. c) Kontras Barium (radiografi) Bermanfaat untuk menentukan lesi penyebab perdarahan. Pada penderita dengan hipertensi portal dimana perdarahan disebabkan pecahnya varises esofagus dapat diberikan obat somatostatin atau oktreotide. Bila terdapat kelainan pembekuan darah harus diobati sesuai kelainannya. Yang paling penting pada pasien perdarahan SCBA adalah memberikan resusitasi pada waktu pertama kali datang ke rumah sakit. hematokrit. pemeriksaan hemostasis lengkap untuk mengetahui adanya kelainan hemostasis. Ini dilakukan atas dasar urgensinya dan keadaan kegawatan. leukosit.

dan memberikan edukasi mengenai penyakit pada pasien dan keluarga misal memberi tahu mengenai penyebab perdarahan dan bagaimana cara-cara pencegahaan agar tidak mengalami perdarahan lagi. Pada perdarahan karena kelainan non varises. Memberikan obat yang dapat mengurangi asam lambung seperti antasida. karena PPI dapat . Memperbaiki/menghindari faktor predisposisi atau risiko seperti gizi. OAINS. atau koagulasi dengan bipolar probe atau yang paling baik yaitu hemostatik dengan terapi metal clip. Usaha menghilangkan faktor agresif Usaha yang diperlukan untuk menghilangkan faktor agresif pada perdarahan SCBA karena kelainan non varises antara lain : a. Penatalaksanaan khusus Penatalaksanaan khusus merupakan penatalaksanaan hemostatik perendoskopik atau terapi embolisasi arteri. penghambat pompa proton (PPI). hemostatik endoskopik gagal atau kelainan berasal dari usus halus dimana skop tak dapat masuk dapat dilakukan terapi embolisasi arteri yang memperdarahi daerah ulkus. kortikosteroid dan lainnya. Pada prinsipnya. 2. stres. Terapi ini dilakukan oleh dokter spesialis radiologi intervensional. dan mengobati kelainan kejiwaan/psikis bila ada. lingkungan. Bila pengobatan konservatif. 3. c. cuka. Selain pengobatan pada pasien perdarahan perlu diperhatikan pemberian nutrisi yang optimal sesegera mungkin bila pasien sudah tidak perlu dipuasakan lagi .perdarahan non varises yang masif. Menghindari/menghentikan paparan bahan atau zat yang agresif seperti asam. rokok. penghambat reseptor H2 (H2RA). Terapi hemostatik perendoskopik yang diberikan pada pecah varises esofagus yaitu tindakan skleroterapi varises perendoskopik (STE) dan ligasi varises perendoskopik (LVE). dapat juga diberikan somatostatin atau oktroetide tetapi jangka pendek 1-2 hari saja. PPI diberikan per injeksi bolus intra vena 2-3 kali 40 mg/hari atau bolus intra vena 80 mg dilanjutkan kontinu infus drip 8 mg/jam selama 12 jam kemudian intra vena 4 mg/jam sampai 5 hari atau sampai perdarahan berhenti lalu diganti oral 1-2 bulan. Alasan mengapa PPI diindikasikan pada perdarahan non varises. dilakukan suntikan adrenalin di sekitar tukak atau lesi dan dapat dilanjutkan dengan suntikan etoksi-sklerol atau obat fibrinogen-trombin atau dilakukan terapi koagulasi listrik atau koagulasi dengan heat probe atau terapi laser. b. urutan penatalaksanaan perdarahan SCBA dapat mengikuti anjuran algoritme penatalaksanaan dari Konsensus Nasional Indonesia atau Palmer atau Triadapafilopoulos. antimuskarinik. sosioekonomi.

Bismuth subsitrat 2 kali 2 tablet per hari d. 4. Bismuth + PPI + amoksisilin + klaritromisin 2. Tephrenone 3 kali 50 mg per hari f. tidak lisis. Cetraxate 4 kali 200 mg per hari c. Rebamipide 3 kali 100 mg per hari 5. Komplikasi stenosis pilorus-duodenum. bila tripel gagal : 1. Bismuth + PPI + metronidazol + klaritromisin 3. Keadaan gawat I sampai II b. Memberikan obat eradikasi kuman Helicobacter pylori dapat berupa terapi tripel dan terapi kuadrupel selama 1. PPI + metronidazol + tetrasiklin Terapi kuadrupel. perforasi.2 minggu : Terapi tripel : 1. Bismuth + PPI + tetrasiklin + metronidazole (untuk daerah resistensi tinggi klaritromisin). PPI + metronidazol + klaritromisin 3. tukak duodenum refrakter .menaikkan pH diatas 6 sehingga menyebabkan bekuan darah yang terbentuk tetap stabil. Sukralfat 3 kali 500-1000 mg per hari b. PPI + amoksisilin + klaritromisin 2. Biasanya pembedahan dilakukan bila pasien masuk dalam : a. Prostaglandin eksogen 2-3 kali 1 tablet per hari e. Penatalaksanaan bedah/operatif Penatalaksanaan bedah/operatif merupakan penatalaksanaan yang cukup penting bila penatalaksanaan konservatif dan khusus gagal atau memang sudah ada komplikasi yang merupakan indikasi pembedahan. Usaha meningkatkan faktor defensif Usaha ini dilakukan dengan memberikan obat-obat yang meningkatkan faktor defensif selama 4 – 8 minggu antara lain : a. d.

frekwensi BAB 1-2 x/hari § Pasien terlihat gelisah dan cemas § Tekanan darah menurun § Ekstremitas dingin 2. Diagnosa Keperawatan 1) Ansietas berhubungan dengan sakit kritis. . atau ketidakmampuan yang permanen. sedangkan gawat II adalah bila dalam 24 jam pertama setelah gawat I pasien masih membutuhkan darah untuk transfusi sebanyak 2 liter.Yang dimaksud dengan gawat I adalah bila perdarahan SCBA dalam 8 jam pertama membutuhkan darah untuk transfusi sebanyak 2 liter. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian Data subyektif : § Pasien mengeluh mual. 4) Risiko infeksi berhubungan dengan nutrisi parenteral. muntah § Pasien mengatakan BAB berwarna hitam encer § Pasien mengatakan cemas dan sering bertanya-tanya tentang penyakitnya. perubahan peran dalam lingkup sosial. 1. 2) PK Anemia 3) Risiko aspirasi berhubungan dengan reflek muntah. B. ketakutan akan kematian ataupun kerusakan bentuk tubuh. Data obyektif : § Pasien muntah darah kehitaman § Membran mukosa pucat dan turgor kulit jelek § Feses berwarna hitam cair.

6) Risiko aspirasi berhubungan dengan reflek muntah. ü Validasikan pengetahuan dasar pasien dan keluarga tentang penyakit kritis. 2) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah akut. penggantian cepat volume dengan cairan kristaloid. ü Berikan penjelasan yang sederhana untuk peristiwa-peristiwa dan stimuli lingkungan. Dx : Ansietas ü Berikan lingkungan yang mendorong diskusi terbuka untuk persoalan-persoalan emosional. penggantian cepat volume dengan cairan kristaloid. Dengarkan dengan aktif. Rencana Keperawatan 1. Prioritas diagnosa keperawatan Adapun prioritas diagnosa keperawatan yang dapat disusun adalah : 1) Ansietas berhubungan dengan sakit kritis.5) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah akut. hal yang dilakukan adalah : menentukan prioritas diagnosa keperawatan. b. 3. ü Berikan waktu pada pasien untuk mengekspresikan diri. menentukan tujuan. Intervensi/Rencana tindakan Keperawatan Pada tahap penyusunan rencana tindakan. 3) PK Koma Hepatikum. atau ketidakmampuan yang permanen. . ketakutan akan kematian ataupun kerusakan bentuk tubuh. a. 4) PK Anemia 5) Risiko infeksi berhubungan dengan nutrisi parenteral. menentukan kriteria evaluasi dan menentukan rencana tindakan. perubahan peran dalam lingkup sosial. ü Berikan dorongan komunikasi terbuka antara perawat dan keluarga mengenai masalah-masalah emosional. 6) PK Koma Hepatikum.

pusing. Dx : Risiko infeksi ü Ukur suhu tubuh tiap 4 jam.ü Libatkan sistem pendukung religius sesuai kebutuhan. ü Gantikan cairan dan produk darah dalam jumlah yang mencukupi untuk mengatasi koma hepatikum. 5. Dx : Defisit volume cairan ü Pantau tanda-tanda vital setiap jam atau prn. Dx : PK Anemia ü Pantau adanya tanda-tanda anemia seperti konjungtiva pucat. ü Lepaskan dan lakukan pemeriksaan kultur bila terjadi tanda-tanda dan gejala infeksi. ü Pantau nilai-nilai hemodinamik ü Ukur haluaran urine setiap 1 jam. . ü Berikan cairan pengganti dan produk darah sesuai instruksi. ü Tirah baring total. akral dingin. 2. 3. ü Kolaborasi dengan ahli gizi tentang perencanaan menu untuk mengatasi anemia. cappilary refil. ü Periksa feses darah untuk 72 jam setelah masa akut. baringkan pasien pada posisi terlentang dengan kaki ditinggikan untuk meningkatkan preload jika pasien mengalami hipotensif. 4. ü Gunakan teknik aseptik saat mengganti balutan dan selang. ü Kolaborasi pemberian obat anemia. lemas. Dx : PK Koma Hepatikum ü Kaji keparahan perdarahan.

ü Bersihkan sekresi dari mulut dengan tisu. § Pasien akan tetap stabil secara hemodinamik. 4. § Pasien tidak mengalami anemia (Konjungtiva merah muda. ü Aspirasi isi residu sebelum pemberian makan melalui selang. § Pasien tidak mengalami aspirasi dan mengungkapkan tindakan untuk mencegah aspirasi. Evaluasi § Pasien akan mengekspresikan ansietasnya pada narasumber yang tepat. ü Berikan makan jika isi residu kurang dari 150 ml (Intermiten) atau berikan makan jika residu tidak lebih dari 150 ml pada 10 % sampai 20 % dari frekuensi setiap jam (kontinue). Dx : Risiko aspirasi ü Atur posisi pasien dengan kepala lebih tinggi atau posisi berbaring miring untuk menghindari aspirasi sewaktu muntah jika tidak ada kontra indikasi karena cedera. § Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda koma hepatikum. ü Tinggikan bagian kepala tempat tidur 30-45 menit selama periode makan dan 1 jam setelahnya untuk mencegah refluks karena adanya gaya gravitasi. ü Periksa bahwa selang makan tidak berubah letaknya sejak pemasangan. . akral hangat). § Pasien tidak akan mengalami infeksi nosokomial.6.

sehingga dapat berwarna seperti kopi atau kemerah-merahan dan bergumpal-gumpal.1 Pengertian Melena adalah pengeluaran faeses atau tinja yang berwarna hitam seperti ter yang disebabkan oleh adanya perdarahan saluran makan bagian atas. Hematemesis dan melena merupakan suatu keadaan yang gawat dan memerlukan perawatan segera di rumah sakit. Warna hematemesis tergantung pada lamanya hubungan atau kontak antara drah dengan asam lambung dan besar kecilnya perdarahan. baru dijumpai keadaan melena. Biasanya terjadi hematemesis bila ada perdarahan di daerah proksimal jejunun dan melena dapat terjadi tersendiri atau bersama-sama dengan hematemesis. Banyaknya darah yang keluar selama hematemesis atau melena sulit dipakai sebagai patokan untuk menduga besar kecilnya perdarahan saluran makan bagian atas.AB 1 LANDASAN TEORI MELENA 1. Paling sedikit terjadi perdarahan sebanyak 50-100 ml. .

adanya kolateral. eritema palmaris. misalnya hepatitis. ginekomasti. 4) Penyakit sistemik lainnya: uremik. alkohol. kesadaran.1.2 Etiologi Penyebab perdarahan saluran makan bagian atas : 1) Kelainan esofagus: varise. dan lai-lain. nadi. DIC (disseminated intravascular coagulation). seperti spider naevi. . Disamping itu dicari tanda-tanda hipertensi portal dan sirosis hepatis. dan lain-lain. alkoholisme.3 Diagnosis Melena Dilakukan anmnesis yang teliti dan bila keadaan umum penderita lamah atau kesadaran menurun maka dapat diambil aloanamnesis. penyakit hati menahun. berapa kaleng dan lainlain. keganasan. hepatosplenomegali dan edema tungkai. tanda-tanda anemia dan gejala-gejala hipovolemik agar dengan segera diketahui keadaan yang lebih serius seperti adanya rejatan atau kegagalan fungsi hati. kortikosteroid. penyakit lambung. 6) Penting sekali menentukan penyebab dan tempat asal perdarahan saluran makan bagian atas. esofagitis. 2) Kelainan lambung dan duodenum: tukak lambung dan duodenum. tekanan darah. karena terdapat perbedaan usaha penanggulangan setiap macam perdarahan saluran makan bagian atas. keganasan dan lain-lain. Biasanya pada perdarahan saluran makan bagian atas yang disebabkan pecahnya varises esofagus tidak dijumpai adanya keluhan rasa nyeri atau pedih di daerah epigastrium dan gejala hematemesis timbul secara mendadak. Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu. Dari hasil anamnesis sudah dapat diperkirakan jumlah perdarahan yang keluar dengan memakai takara yang praktis seperti berapa gelas. Penyebab perdarahan saluran makan bagian atas yang terbanyak dijumpai di Indonesia adalah pecahnya varises esofagus dengan rata-rata 45-50 % seluruh perdarahan saluran makan bagian atas (Hilmy 1971: 58 %) 1. pemakaian obat-obat ulserogenik dan penyakit darah seperti: leukemia dan lain-lain. asites. 5) Pemakaian obat-obatan yang ulserogenik: golongan salisilat. purpura trombositopenia dan lain-lain. 3) Penyakit darah: leukemia. Pemeriksaan fisik penderita perdarahan saluran makan bagian atas yang perlu diperhatikan adalah keadaan umum. caput medusae.

1.5 Pohon masalah (Web of Caution) .4 Manifestasi klinik Gejala-gejala yang ditimbulkan pada pasien melena adalah sebagai berikut: 1) Gelisah 2) Suhu badan mungkin meningkat 3) Nafsu makan berkurang atau tidak ada 4) Berak yang bercampur darah. sediaan darah hapus. lendir.Pemeriksaan laboratorium seperti kadar hemoglobin. hematokrit. golongan darah dan uji fungsi hati segera dilakukan secara berkala untuk dapat mengikuti perkembangan penderita. leukosit. lemak dan berbuih 5) Rasa sakit di perut 6) Rasa kembung 7) Tonus dan turgor kulit berkurang 8) Selaput lendir dan bibir kering 1.

Ca dan Potassium serum pada diare yang disertai kejang).1.K. untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif dan kualitatif terutama pada diare kronik. 4) Duodenal intubation.6 Pemeriksaan penunjang 1) Pemeriksaan tinja Makroskopis dan mikroskopis. analisis gas darah dan elektrolit (terutama Na. 3) Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk mengetahui faal ginjal. ph dan kadar gula jika diduga ada intoleransi gula. biakan kuman untuk mencari kuman penyebab dan uji resistensi terhadap berbagai antibiotika (pada diare persisten). 2) Pemeriksaan darah Darah perifer lengkap. .

Penurunan berat badan 2. Barium meal 3) Pemeriksaan laboratorium 1. Kolonoskopi 4.1. Foto dada 6. LED 2. Demam 2) Pemeriksaan khusus 1.8 Penatalaksanaan Melena Pengobatan penderita perdarahan saluran makan bagian atas harus sedini mungkin dan sebaiknya diraat di rumah sakit untuk mendapatkan pengawasan yang teliti dan pertolongan yang lebih baik. Rektosigmoideskopi 3. Serum albumin tinggi 4) Radiologis 5) Kolonoskopi 1. Barium enema 5. Avitaminosis D 4. Pengobatan penderita perdarahan saluran makan bagian atas meliputi : 1) Pengawasan dan pengobatan umum .7 Pemeriksaan diagnostik 1) Pemeriksaan fisik 1. Colon rektal 2. Anemia 3. Hipokalsemia 3.

Dilakukan klisma atau lavemen dengan air biasa disertai pemberian antibiotika yang tidak diserap oleh usus. meperidin dan paraldehid sebaiknya dihindarkan. dengan demikian diharapkan perdarahan varises dapat berhenti. Penderita dipuasakan selama perdarahan masih berlangsung dan bila perdarahan berhenti dapat diberikan makanan cair. Penderita harus diistirahatkan mutlak. obat-obat yang menimbulkan efek sedatif morfin. 6. Pemberian obat-obatan hemostatik seperti vitamin K. nadi. Pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit perlu dilakukan untuk mengikuti keadaan perdarahan. 4 x 10 mg/hari. kesadaran penderita dan bila perlu dipasang CVP monitor. Transfusi darah diperlukan untuk menggati darah yang hilang dan mempertahankan kadar hemoglobin 50-70 % harga normal.1. 3) Pemberian pitresin (vasopresin) Pitresin mempunyai efek vasokoktriksi. antasida dan golongan H2 reseptor antagonis (simetidin atau ranitidin) berguna untuk menanggulangi perdarahan. lavage (kumbah lambung) dengan air . karbasokrom (Adona AC). 4. Pengawasan terhadap tekanan darah. Perlu diingat bahwa pitresin dapat menrangsang otot polos sehingga dapat terjadi vasokontriksi koroner. Pemberian air pada kumbah lambung akan menyebabkan vasokontriksi lokal sehingga diharapkan terjadi penurunan aliran darah di mukosa lambung. Pemeriksaan endoskopi dapat segera dilakukan setelah cairan aspirasi lambung sudah jernih. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya peningkatan produksi amoniak oleh bakteri usus. dan pemberian obat-obatan. 2) Pemasangan pipa naso-gastrik Tujuan pemasangan pipa naso gastrik adalah untuk aspirasi cairan lambung. 8. Karena itu perlu . sebagai tindadakan sterilisasi usus.150 ml sampai cairan aspirasi berwarna jernih dan bila perlu tindakan ini dapat diulang setiap 1-2 jam. 7. 3. Infus cairan langsung dipasang dan diberilan larutan garam fisiologis selama belum tersedia darah. dan ini dapat menimbulkan ensefalopati hepatik. karena itu harus berhati-hati dengan pemakaian obat tersebut terutama pada penderita penyakit jantung iskemik. dengan demikian perdarahan akan berhenti. Kumbah lambung ini akan dilakukan berulang kali memakai air sebanyak 100. pada pemberian pitresin per infus akan mengakibatkan kontriksi pembuluh darah dan splanknikus sehingga menurunkan tekanan vena porta. 5. 2.

Riwayat penyakit darah. 5) Pemakaian bahan sklerotik Bahan sklerotik sodium morrhuate 5 % sebanyak 5 ml atau sotrdecol 3 % sebanyak 3 ml dengan bantuan fiberendoskop yang fleksibel disuntikan dipermukaan varises kemudian ditekan dengan balon SB tube. Riwayat mengidap : Penyakit Hepatitis kronis. hepatoma. misalnya DIC 4. 1.pemeriksaan elektrokardiogram dan anamnesis terhadap kemungkinan adanya penyakit jantung koroner/iskemik. Beberapa peneliti mendapatkan hasil yang baik dengan pemakaian SB tube ini dalam menanggulangi perdarahan saluran makan bagian atas akibat pecahnya varises esofagus. Kanker saluran pencernaan bagian atas 3. cara pemasangannya dan kemungkinan kerja ikutan yang dapat timbul pada waktu dan selama pemasangan. ulkus peptikum 2. Riwayat penggunaan obat-obat ulserogenik . Komplikasi pemasangan SB tube yang berat seperti laserasi dan ruptur esofagus. sehingga penderita dapat diberitahu dan dijelaskan makna pemakaian alat tersebut. obstruksi jalan napas tidak pernah dijumpai. Tindakan ini tidak memerlukan narkose umum dan dapat diulang beberapa kali. Operasi efektif dianjurkan setelah 6 minggu perdarahan berhenti dan fungsi hari membaik. Tindakan operasi yang basa dilakukan adalah : ligasi varises esofagus. cirrochis hepatis. 6) Tindakan operasi Bila usaha-usaha penanggulangan perdarahan diatas mengalami kegagalan dan perdarahan tetap berlangsung. maka dapat dipikirkan tindakan operasi . Sebaiknya pemasangan SB tube dilakukan sesudah penderita tenang dan kooperatif.9 Pengkajian 1) Riwayat Kesehatan 1. 4) Pemasangan balon SB Tube Dilakukan pemasangan balon SB tube untuk penderita perdarahan akibat pecahnya varises. transeksi esofagus. pintasan porto-kaval. Cara pengobatan ini sudah mulai populer dan merupakan salah satu pengobatan yang baru dalam menanggulangi perdarahan saluran makan bagian atas yang disebabkan pecahnya varises esofagus.

konsistensi pekat. kebiasaan makan 2) Pengkajian Umum 1. temperatur. Respirasi : sesak. halusinasi. 2. dyspnoe. Aktifitas : lemah. Neurosensori : adanya penurunan kesadaran (bingung. Intake : anorexia. adakah melena (warna darah hitam. Kebiasaan/gaya hidup : Alkoholisme. jumlahnya) b) BAK : warna gelap. mual. 4. hipoxia 5. koma). respirasi Inspeksi : Mata : conjungtiva (ada tidaknya anemis) Mulut : adanya isi lambung yang bercampur darah Ekstremitas : ujung-ujung jari pucat Kulit : dingin . Eliminasi : a) BAB : konstipasi atau diare. muntah. tekanan darah.5. nadi. penurunan berat badan. penurunan tonus otot 3) Pengkajian Fisik Kesadaran. konsistensi pekat 3. letargi. lelah.

kepekatan Pemeriksaan penunjang : esophagoscopy. Protrombin. USG. BUN. Ht.Auskultasi : Paru Jantung : irama cepat atau lambat Usus : peristaltik menurun Perkusi : Abdomen : terdengar sonor. RBC. CT Scan. amonoiak.10 Diagnosa keperawatan Dx 1 : Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan abnormal 1) Tujuan Pasien menunjukkan status hidrasi yang baik selama perawatan 2) Kriteria Hasil . Pemeriksaan urin : BJ. warna. serum. 1. endoscopy. Fibrinogen. kembung atau tidak Reflek patela : menurun Studi diagnostik Pemeriksaan darah : Hb. albumin.

Masukan dan haluaran seimbang 3) Intervensi 1. 2) Kriteria hasil . Pasien menunjukkan status hidrasi yang baik selama perawatan 2. Tanda vital yang stabil 2. 4. 3. Pertahankan cairan parenteral dengan elektrolit dan vitamin R : Memenuhi kebutuhan cairan selama cairan oral tidak memungkinkan 3. Kaji status hidrasi. Timbang klien setiap hari karena pada waktu yang sama dengan pakaian dan alat penimbang sama R : Penimbangan berat badan tiap hari dapat mendeteksi kehilangan cairan 4) Evaluasi: 1. Masukan dan haluaran seimbang Dx 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan perubahan absorpsi 1) Tujuan Nutrisi terpenuhi selama perawatan sesuai dengan kebutuhan. Hidrasi adekuat seperti yang ditunjukkan dengan turgor kulit yang normal dan membran mukosa lembab. Tanda vital yang stabil 3. 2. Hidrasi adekuat seperti yang ditunjukkan dengan turgor kulit yang normal dan membran mukosa lembab. R : Mengetahui status cairan yang dibutuhkan pasien.1. Ukur masukan dan haluaran setiap 8 jam R : Memantau keseimbangan masukan dan pengeluaran cairan 4. Pantau elektrolit R : Elektrolit seperti natrium dan kalium banyak hilang saat diare 5.

Pertahankan catatan masukan dan hindari makanan yang telah di rencanakan R : Muntah dan diare dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi. Berikan dorongan klien untuk mengikuti waktu makan yang telah direncanakan R : Jadwal makan tepat waktu akan membantu proses pengosongan usus 4. Berikan diet tinggi kalori. rendah zat sisa. dan mineral. dan menggigit dalam jumlah sedikit R : Makan terlalu cepat dapat meningkatkan resiko iritasi lambung 6.1. protein. 2. 2. Sajikan makanan dengan menarik di ruangan yang berventilasi baik R : Menambah nafsu makan 4) Evaluasi: 1. lemak dan serat R : Makanana tinggi serat dan tinggi lemak akan menyebabkan iritasi saluran usus. 5. Hasil pemeriksaan laborat dalam batas normal 3) Intervensi 1. menyunyah dengan baik.dan mengkonsumsi gula akan menyebarkan gelembung udara untuk mengurangi distensi lambung. Kaji status nutrisi dan kaji klien dengan mengidentifikasikan makanan yang mengiritasi R : makanan yang mengandung sarbitol dapat menyebabkan atau memperberat diare. Hasil pemeriksaan laborat dalam batas normal Dx 3 : Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan iritasi 1) Tujuan . Nutrisi terpenuhi selama perawatan sesuai dengan kebutuhan. Pasien dapat mempertahankan berat badan sesuai umur 2. Berikan dorongan pada klien untuk makan dengan perlahan. Pasien dapat mempertahankan berat badan sesuai umur 3. 3.

1) Tujuan . Nyeri dapat diturunkan sampai skala yang dapat ditolerir pasien antara skala nyeri 1-2 2. Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang Dx 4 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kebutuhan perawatan di rumah. Pasien menunjukkan perilaku yang lebih rileks 3. Ubah posisi pasien secara teratur dan gosok punggung untuk mengurangi rasa tidak nyaman R : Posisi yang sama dalam waktu lama dapat menambah nyeri pada area yang menonjol 4. dan supositoria rektal dan salep R : Sedatif dan analgetik dapat menurunkan nyeri 3. Ambulasikan klien dengan bantuan sesuai toleransi Berikan dorongan dan dan ajarkan metode alternatif penatalaksanaan nyeri R : Pasien dapat menentukan sendiri teknik alternatif bila nyeri dirasakan berat 4) Evaluasi: 1. Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang 3) Intervensi 1. intensitas. dan letak nyeri R : Mengetahui derajat nyeri dan membantu dalam perencanaan intervensi 2. analgesik. Berikan aktivitas yang bersifat hiburan dan istirahat yang teratur pada klien R : Membantu mengalihkan perhatian terhadap keluhan nyeri 5. Kaji karakter. Pasien menunjukkan perilaku yang lebih rileks 2. Kaji ketidakefektifan/efek samping sedatif.Nyeri dapat diturunkan sampai skala yang dapat ditolerir pasien antara skala nyeri 1-2 2) Kriteria hasil 1.

alkohol. Berikan informasi tentang obat-obatan.Pasien dan keluarga dapat mengerti tentang pencegahan dan perawatan lanjutan di rumah. Nyeri dapat diturunkan sampai skala yang dapat ditolerir pasien antara skala nyeri 1-2 2. buah-buahan dan sayuran mentah. Pasien dan keluarga mengatakan mengerti tentang proses penyakit. dan makanan yang menghasilkan gas R : Makanan yang tinggi serat. Pasien menunjukkan perilaku yang lebih rileks . termasuk nama. mengandung gas. dan aturan diet 2. dosis. Berikan instruksi dalam penatalaksanaan diet. jelaskan pentingnya untuk menghindari pemakaian obat yang dijual bebas kecuali bila telah dibicarakan sebelumnya dengan dokter 5. 4. penekanan makanan untuk dihindari. dan alkohol dapat merangsang dan mengiritasi saluran usus 2. Diskusikan pentingnya mencoba satu jenis makanan baru setiap kali makan R : Memodifikasi makanan dapat meningkatkan nafsu makan Diskusikan pentingnya mengindari stres selama waktu makan dan mengunyah makanan dengan baik dan perlahan R : Kondisi stress saat makan akan menyebabkan produksi asam lambung meningkat sehingga timbul perasaan mual dan nyeri perut 3. 4) Evaluasi: 1. efek samping. 2) Kriteria hasil 1. cokelat. Pasien dapat menggunakan kemampuan koping positif secara sederhana 3. tujuan waktu pemberian. Berikan dorongan untuk melakukan perjanjian kunjungan tindak lanjut. Jelaskan hubungan penyebab stres pada proses penyakit dan gejala kekambuhan atau kemajuan penyakit untuk dilaporkan pada dokter. dan interaksi. Pasien dan keluarga dapat merubah gaya hidup dengan makan-makan bergizi tinggi serat 3) Intervensi 1.

Kaji tanda-tanda vital tiap 4 jam 2. Kulit hangat 3) Intervensi 1. Jelaskan perlunya penggunaan pakaian kendur dan penggunaan topi atau payung 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat antipiretik 4) Evaluasi: 1. . 2. Individu dapat mempertahankan suhu tubuh 2. Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang Dx 5 : Hipertermi berhubungan dengan respon imun terhadap peradangan pada saluran cerna 1) Tujuan Individu dapat mempertahankan suhu tubuh 2) Kriteria hasil 1. Anjurkan pentingnya peningkatan asupan cairan selama cuaca hangat dan latihan R : Penggunaan aktivitas berlebih saat cuaca hangat dan saat latihan dapat meningkatkan water loss yang tidak disadari 4. 3. Kulit hangat 1.3. Suhu dalam batas normal antara 36-37 ºC. Pantau asupan dan haluaran 3.11 Evaluasi 1) Pasien menunjukkan status hidrasi yang baik selama perawatan. Beri kompres hangat 6. Suhu dalam batas normal antara 36-37 ºC.

10) Individu dapat mempertahankan suhu tubuh. . 11) Suhu dalam batas normal antara 36-37 ºC. 9) Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang. 8) Pasien menunjukkan perilaku yang lebih rileks. 5) Nutrisi terpenuhi selama perawatan sesuai dengan kebutuhan.2) Tanda vital yang stabil. 7) Nyeri dapat diturunkan sampai skala yang dapat ditolerir pasien antara skala nyeri 1-2. 12) Kulit hangat. 6) Hasil pemeriksaan laborat dalam batas normal. 4) Masukan dan haluaran seimbang. 3) Hidrasi adekuat seperti yang ditunjukkan dengan turgor kulit yang normal dan membran mukosa lembab.

Carpenito Linda Juall.Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan system pencernaan. Penerbit Buku Kedokteran EGC .(2000). Jakarta . (1999). Kapita selekta kedokteran.(2004).Jakarta.Rencana asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta Inayah. SelembaMedika.DAFTAR PUSTAKA Mansjoer Arief.