You are on page 1of 29

BAB I

(PENDAHULUAN)
A. Latar Belakang
Sistem perkemihan merupakan sistem pengeluaran zat-zat metabolisme tubuh
yang tidak berguna lagi bagi tubuh yang harus dikeluarkan (dieliminasi) dari dalam
tubuh karena dapat menjadi racun. proses eliminasi ini dapat dibagi menjadi eliminasi
unrine (buang air kecil) dan eliminasi alvi (buang air besar).
Gangguan saluran kemih adalah gangguan dari kandung kemih atau uretra.
Ginjal, Uretra, kandung kemih adalah organ-organ yang menyusun saluran kemih.
Fungsi utama dari saluran ini adalah untuk membuang air dan sisa metabolisme dan
mengeluarkannnya sebagai urin.
Penurunan fungsi ginjal dapat mempengaruhi seluruh fungsi tubuh, sehingga
pengkajian riwayat penyakit dan fisik pasien penting dalam menentukan keberadaan,
tingkat, dan komplikasi gagal ginjal. Pengkajian yang tepat harus dilakukan dari
inspeksi dan auskultasi kemudian perkusi dan dilanjutkan dengan palpasi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja anatomi sistem renal ?
2. Apa saja fungsi ginjal ?
3. Bagaimana fisiologi sistem renal ?
4. Bagaimana pengkajian sistem renal ?
5. Apa saja pemeriksaan diagnostic dan laboratorium sistem renal ?
C. Tujuan
1. Mengetahui anatomi sistem renal
2. Mengetahui fungsi dari ginjal
3. Mengetahui fisiologi dari sitem renal
4. Mengetahui bagaimana pengkajian sistem renal
5. Mengetahui pemeriksaan diagnostic dan laboratorium dari sistem reanal

BAB II
(PEMBAHASAN)
A. Anatomi Sistem Renal

Ket. : gambar anatomi ginjal tampak


dari depan

Ket. : gambar anatomi ginjal tampak dari


samping

Bentuk ginjal menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap


kemedial. Pada sisi ini terdapat hilus ginjal yaitu tempat sruktur - struktur pembulu
darah, sistem limfatik, sistem syaraf dan ureter menuju dan meninggalkan ginjal.
Ginjal terletak di rongga abdomen ,retroperitoneal primer kiri dan kanan kolumna
vertebralis yang dikelilingi oleh lemak dan jaringan ikat di belakang peritoneum.
Batas atas ginjal kiri setinggi iga ke- 11 dan ginjal kanan setingi iga ke- 12 dan batas
bawah ginjal kiri setinggi vertebra lumbalis ke-3. Setiap ginjal memiliki panjang 1125cm, lebar 5-7 cm, dan tebal 2,5 cm.ginjal kiri lebih panjang dari ginjal kanan. Berat
ginjal pada pria dewasa 150-170 gram dan pada wanita dewasa 115-155 gram dengan
bentuk seperti kacang, sisi dalamnya menghadap ke vertebra thorakalis, sisi luarnya
cembung dan di atas. Setiap ginjal terdapat kelenjar suprarenal (Setiadi, 2007).
Struktur ginjal, setiap ginjal dilengkapi kapsul tipis dari jaringan fibrus yang dapat
membungkusnya ,dan membentuk pembungkus yang halus.

1.

Struktur ginjal
2

Ginjal ditutupi oleh kapsul tunika fibrosa yang kuat. Apabila kapsula
dibuka terlihat permukaan dari ginjal yang licin dengan warna merah tua. Dengan
potongan vertical dari ginjal melalui margo lateralis ke margo medialis akan
terlihat hilus yang meluas ke ruangan sentral yang disebut sinus renalis bagian
atas dari pelvis renalis.
Struktur ginjal terdiri dari hilus renalis, sinus renalis, dan pelvis renalis,
parenkim renalis, lobus renalis. Hilus renalis, tingkat kecekungan tepi medial
ginjal sebagai tempat struktur-struktur pembuluh darah, sistem limfatik, saraf,
ureter menuju & meninggalkan ginjal. Sinus renalis adalah rongga berisi lemak
yang membuka pada hilus, sebagai jalan masuk dan keluar ureter, vena, dan arteri
renalis, saraf & limfatik. Pelvis renalis, merupakan perluasan ujung proksimal
ureter. Paremkim renalis, yaitu jaringan yang menyelubungi struktur ginjal, yang
terbagi atas medula dan korteks. Warnanya ungu tua dan terdiri atas bagian
korteks di sebelah luar,dan bagian medulla di sebelah dalam. Bagian medulla ini
tersusun atas lima belas sampai enam belas massa berbentuk piramid,yang
disebut piramid ginjal. Puncaknya langsung mengarah ke helium dan berakhir di
kalies. kalies ini menghubungkan ke pelvis ginjal. Bagian dalam medulla terdiri
dari substansia medularis terdiri dari pyramid renalis jumlahnya antara 8-16 buah
yang mempunyai basis sepanjang ginjal, sedangkan apeksnya menghadap ke
sinus renalis. Bagian korteks terdiri dari substansia kortekalis berwarna coklat
merah, konsistensi lunak dan bergranula. Substansia ini tepat dibawah tunika
fibrosa, melengkung sepanajang basis pyramid yang berdekatan dengan sinus
renalis, bagian dalam diantara pyramid dinamakan kolumna renalis. Lobus renalis
2.

yang setiap lobusnya terdiri atas 1 piramida.


Pembungkus ginjal
Ginjal dibungkus oleh suatu massa jaringan lemak yang disebut kapsula
adiposa. Bagian yang paling tebal terdapat pada tepi ginjal yang memanjang
melalui hilus renalis. Gonjal dan kapsula adipose tertutup oleh suatu lamina
khusus dari fasia subserosa yang disebut fasia renalis yang terdapat diantara
lapisan dalam dari fasia profunda dan stratum fasia subserosa internus. Fasia
subserosa terpecah menjadi dua bagian yaitu lamella anterior (fasia prerenalis)

3.

dan lamella posterior (fasia retrorenalis).


Struktur mikroskopis ginjal
Satuan fungsional ginjal disebut nefron. Giinjal mempunyai lebih kurang
1,3 juta nefron yang selama 24 jam dapat menyaring 170 darah dari arteri renalis.
3

Lubang- lubang yang terdapat pada piramid renal masing-masing membentuk


simpul satu badan milfigi yang disebut glomelurus. Nefron adalah masa tubulus
mikroskopis ginjal yang merupakan satuan fungsional ginjal. Nefron menyaring
darah dan mengontrol komposisinya. Setiap nefron berawal dari berkas kapiler
yang tertidi dari:

Glomerolus
Glomulorus merupakan gulungan atau anyaman kapiler yang terletak di dalam
kapsul bowman (ujung buntu tubulus ginjal yang bentuknya seperti kapsul
cekung menutupi glomelurus yang saling melilitkan diri).glomelurus
menerima darah dari arteri aferen dan menuruskan darah ke sistem vena
melalui arteriola eferen. Natrium secara bebas di filtrasi dalam glomelurus
sesui dengan konsentrasi dalam plasma, kalium juga difiltrasi secara
bebas.diperkirakan 10-20% kalium plasma terikat oleh protein dan tidak bebas
difiltrasi sehingga kalium dalam keadaan normal.
Tubulus proksimal konvulta
Tubulus proksimal konvulta, tubulus ginjal yang langsung berhubungan
dengan kapsul bowman dengan panjang 15 mm dan diameter 55 mm. Bentuk
berbelok-belokmenjalar dari korteks ke bagian medula dan kembali ke korteks.
Sekitar 2/3 dari natrium yang terfiltrasi diabsoprsi secara isotonik bersama
klorida dan melibatkan trasportasi aktif natrium. Peningkatkan reabsorbsi
4

natrium akan mengurangi pengeluaran air dan natrium. Hal ini dapat
mengganggu pengenceran dan pemekatan urine yang normal. Kalium di
reabsorpsi lebih dari 70% kemungkinan dengan mekanisme trasfortasi aktif
akan terpisah dari natrium
Ansa henle/ loop of henle/ lengkung henle
Ansa Henle, bentuknya lurus dan tebal, diteruskan ke segmen tipis selanjutnya
ke segmen tebal, panjangnya 12 mm, total panjang ansa Henle 2-14mm.
Klorida secara aktif diserap kembali pada cabang asendens ansa Henle natrium
bergerak secara pasif untuk mempertahankan kenetralan listrik. Sekitar 25%
natrium yang difiltrasi diserap kembali karena nefron bersifat tidak permeabel
terhadap air. Respon klorida dan natrium di pars asendens penting untuk
pemekatan urine karena membantu mempertahankan integritas gradiens
konsentrasi medula. Kalium terfiltrasi sekitar 20-25% diabsorpsi pada pars
asenden lengkung henle proses pasti terjadi karena gradien elektrokimia yang
timbul sebagai akibat dari rebsorpsi aktif klorida pada segmen nefron ini.
Tubulus distal konvulta
Tubulus distal konvulta, bagian tubulus ginjal yang berkelok-kelok dan jauh
letaknya dari kapsul bomman, panjangnya 5 mm. Tubulus distal dari masingmasing nefron bermuara di duktus kolagen yang panjangnya 20 mm. Masingmasing duktus kolagens berjalan melaui korteks dan medula ginjal, bersatu
membentuk suatu duktus yang berjalan lurus dan bermuara ke dalam duktus
belini seterusnya menuju kaliks minor ke kaliks mayor. Akhirnya
mengosongkan isinya ke dalam pelvis renalis pada apek masing-masing
piramid medula ginjal. Panjang nefron keseluruhan ditambah duktus kolagens
45-65 mm. Nefron yang berasal dari glemolurus korteks (nefron korteks),
mempunyai ansa henle yang memanjang ke dalam piramid medula. Dalam
kedaan normal sekitar 5-10% natrium terfiltrasi mencapai daerah reabsorpsi di
bagian distal. Mekanisme pasti diabsorpsi natrium pada daerah ini ditukar
dengan ion hidrogen atau kalium di bawah pengaruh aldosteron. Sekresi
kalium terjadi secara murni. Suatu proses pasif yang terjadi karena gradien
elektrokimia yang ditimbulkan oleh perbedaan besar potensial pada segmen
nefron ini. Gradien ini dipertahankan oleh pertukaran aktif natrium dan kalium

pada membran basolateral sel tubulus. Mekanisme ini dikendalikan oleh


aldosteron yang mengendalikan tubulus distal terhadap sekresi kalium.
Duktus koligen medulla
Duktus kolagen medula, bukan merupakan saluran metabolik tidak aktif, tetapi
pengaturan secara halus ekskresi natrium urine terjadi di sini dengan
aldesteron yang paling berperan terhadap reabsorpsi natrium. Peningkatan
aldosteron dihubungkan dengan peningkatan reabsopsi natrium. Duktus ini
memiliki kemampuan mereabsorpsi dan menyekresi kalium. Ekskresi aktif
kalium diperlihatkan pada duktus koligen kortikal dan dikendalikan oleh
aldosteron. Reabsorpsi aktif kalium murni terjadi dalam duktus kolagen
medula.
4.

Aparatus juksta glomerulus


Arteriol aferen dan ujung akhir ansa henle asendens tebal, nefron yang sama
bersentuhan untuk jarak yang pendek. Pada titik persentuhan sel tubulus (ansa
Henle) asendens menjadi tinggi dinamakan makula densa, dinding arteriola yang
bersentuhan dengan ansa Henle menjadi tebal karena sel-selnya mengandung
butir-butir sekresi renin yang besar disebut sel juksta glomelurus. Makula densa
dan sel juksta glomelurus erat sekali kaitannya dengan pengaturan volume cairan
ekskresi dan tekanan darah.

5.

Elektromikroskopis glomerolus
Glomelurus berdiameter 200 m, dibentuk oleh invaginasi suatu anyaman kapiler
yang menetapi kapsul bowman, mempunyai dua lapisan seluler yang memisahkan
darah dalam kapiler glomelurus dan filtrat dalam kapsul bowmman yaitu lapisan
endotel kapiler dan lapisan epetil khusus yang terletak di atas kapiler glomelurus.
Kedua lapisan ini dibatasan oleh lamina basalis, di samping itu terdapat sel-sel
stelata yang disebut sel masangial. Sel ini mirip dengan sel-sel parasit yang
terdapat pada dinding kapiler seluruh tubuh. Zat-zat ini bermuatan netral,
diameter 88 nm hampir semuanya terhambat. Di samping diameter bermuatan
molekul, juga memengaruhi daya tubulus glomerulus sehingga tidak dapat
melewati glomelurus.

6.

Peredaran darah ginjal


Ginjal mendapat darah dari arteri renalis merupakan cabang dari aorta
abdominalis, sebelum masuk ke dalam massa ginjal. Arteri renalis mempunyai
cabang yang besar yaitu arteri renalis anterior dan yang kecil arteri renalis
6

posterior. Cabang anterior memberikan darah untuk ginjal anterior dan ventral.
Cabang posterior memberikan darah untuk ginjal posterior dan bagian dorsal. Di
antara kedua cabang ini terdapat suatu garis (Brudels line) yang terdapat di
sepanjang margo lateral dari ginjal. Pada garis ini tidak terdapat pembuluh darah
sehingga, kedua cabang ini akan menyebar sampai bagian anterior dan posterior
dari kolisis sampai ke medula ginjal, terletak di antra piramida dan disebut arteri
interlobularis. Setelah sampai di daerah medula membelok 90 melalui basis
piramid yang disebut arteri Arquarta. Pembuluh ini akan bercabang menjadi arteri
interlobularis yang berjalan tegak ke dalam korteks berakhir sebagai:
1. Vasa aferen glomelurus untuk 1-2 glomelurus
2. Pleksus kapiler sepanjang tubulus melingkar dalam korteks tanpa berhubungan
dengan glomelurus
3. Pembuluh darah menembus kapsul bowmman
Dari glomelurus keluar pembuluh darah eferen, selanjutnya terdapat suatu
anyaman yang mengelilingi tubulu kontorti. Di samping itu ada cabang yang
lurus menuju ke pelvis renalis memberikan darah untuk ansa Henle dan duktus
kolagen yang dinamakan arteri rektal. (A. Spuriase.). dari pembuluh rambut ini
darah kemudian berkumpul dalam pembuluh kapiler vena, bentuk seperti bintang
disebut vena stellata berjalan ke vena interlumbalis.
Pembuluh limfe mengekitu perjalanan A. renalis menuju ke noda limfa
tikus aorta lateral yang terdapat di sekitar pangkal A. renalis, dibentuk olek
pleksus yang berasal dari massa ginjal, kapsula fibrosa dan bermuatan di nodus
lateral aortika

7.

Persarafan ginjal
Saraf ginjal kurang lebih 15 ganglion. Ganglion ini membentuk pleksus renalis
yang berasal dari cabang yang terbawah dan diluar ganglion pleksus seliaka,
pleksus askutikus, dan bagian bawah splenikus. Pleksus renalis bergabung dengan
pleksus spermatikus dengan cara memberikan beberapa serabut yang dapat

8.

menimbulkan nyeri pada testis pada kelainan ginjal.


Ureter
Ureter adalah dua buah saluran, masing-masing bersambung dari ginjal
ke kandung kemih (vesika urinaria), panjangnya 25-30 cm, dengan penampang
0,5 cm, mempunyai tiga lapisan di sepanjang jalan. Paila ginjal berhubungan
dengan ureter, menjadi kaku ketika melewati tepi pelvis dan ureter menembus
kandung kemih.
Ureter Pria dan Wanita
Ureter pada pria terdapat di dalam visura seminalis bagian atas dan
disilang oleh duktus deferens dan dikelilingi oleh pleksus vesikalis. Akhirnya
ureter berjalan obliq sepenjang 2 cm di dalam dinding vesika urinaria di
dalam sudut lateral dari trigonum vesika. Sewaktu menembus viseka urinaria,
dinding atas dan diding bawah ureter akan tertutup pada waktu vesika urinaria
penuh, membentuk katup (valvula) dan mencegah pengembalian urine dari
vesika urinaria.
Ureter pada wanita terdapat dibelakang fossa ovarika, berjalan ke
bagian medial dan ke depan bagian lateralis serviks uteri bagian atas vagina
8

untuk mencapai pundus vesika urinaria. Dalam perjalanan ureter didampingi


oleh arteri uterina sepanjang 2,5 cm. Selanjutnya arteri ini menyilang ureter
dan menuju ke atas di antra lapisan ligamentum latum. Ureter mempunyai
jarak 2 cm dari sisi serviks uteri. Ada tiga tempat yang penting dari ureter
tempet mudah terjadi penyumbatan.
1. Pada ureter pelvis junction diameter 2 mm
2. Penyilangan vassa iliaka diameter 4 mm
3. Pada saat masuk le vesika urinaria diameter 1-5 mm.
9.

Vesika urinary
Viseka urinaria terletak tepat di belakang os pubis. Bagian ini tempat
menyimpan urine, berdinding otot kuat, bentuknya bervariasi sesui dengan
jumlah urine yang dikandung. Viseka urinaria waktu kosong terletak di apeks
vesika urinaria di belakang tepi atas simfisis pubis. Permukaan posterior vesika
urinaria berbentuk segitiga, merupakan muara ureter dan sudut inferior
membentuk ureter.
Bagian atas permukaan vesika urinaria ditutup oleh peritonium yang
membentuk diding anterior. Bagian bawah permukaan posterior dipisahkan dari
rektum oleh duktus deferens, viseka sminalis, dan vesika retrovesikalis.
Permukaan superior seluruhnya ditutup oleh peritoneum dan berbatas dengan
gulungan ileum dan kolon sigmoid, sepanjang lateral permukaan peritoneum
melipat ke diding lateral pelvis. Apabila vesika urinaria terisi penuh, permukaan
superior membesar dan menonjol ke atas masuk, ke dalam rongga abdomen.
Peritoneum menutup bagian bawah dinding anterior kolumna vesika urinaria,
terletak di bawah vesika urinaria dan permukaan atas prostat. Serabut otot polos
prostat kollum vesika urinaria yang dipertahankan pada tempatnya pada pria oleh
ligamentum puboprostatika dan wanita ligamentum pubovesikalis, yaitu
merupakan penebalan fasia pelvis.
Membran mukosa vesika urinaria dalam keadaan kosong berlipat-lipat.
Lipatan ini menghilang apbila vesika urinaria terisi penuh. Daerah membran
mukosa permukaan dalam adalah basis vesika urinaria secara miring membentuk
seperti katup untuk mencegah aliran balik urine ke ginjal pada waktu vesika
urinaria terisi. Lapisan otot vesika urinaria terdiri dari otot polos, tersusun dan
saling berkaitan dengan M. detrusor viseka. Peredaran darah vesika urinaria
berasal dari arteri vesikalis superior dan inferior yang merupakan cabang dari
arteri

iliaka

interna.

Venanya

membentuk

pleksus

prostatikus

yang
9

mengalirkandarah vena iliaka interna. Pembuluh limfe vesika urinaria


mengalirkan cairan limfe ke dalam nodi limfatik iliaka interna dan nodi limfatik
iliaka eksterna.
Persarafan berasal dari pleksus hipogastrika inferior, serabut gangglion
simpatikus berasal dari gangglion lumbalis 1 dan 2 berjalan turun ke vesika
urinaria melalui pleksus hipogastrikus. Serabut preganglion parasimpatis yang
keluar dari nervus splenikus pelvis yang berasal dari nervus sakralis II, III, dan IV
berjalan melalui hipogastrik inferior mencapai dinding vesika urinaria. Sebagian
besar serabut aferen sensoris yang keluar dari vesika urinaria menuju system
susunan saraf pusat melalui nervus splangnikus pelvikus berjalan bersama saraf
simpatis melalui pleksus hipogastrikus masuk ke dalam segmen lumbal I dan II
medulla spinalis
10. Uretra
Uretra merupakan alur sempit yang berpangkal pada kandung kemih dan
fungsinya menyalurkan urine keluar.

URETRA PRIA
Uretra pria mulai dari orifisium uretra interna di dalam vesika urinaria
sampai orifisium uretra eksterna pada penis, panjangnya 175-20 cm yang
terdiri dari:
a. Uretra prostatika merupakan saluran panjang terlebar, panjangnya 3 cm,
berjalan hampir vertical melalui glandula prostat, mulai dari basis sampai
ke apeks dan lebih dekat ke permukaan anterior. bentuk salurannya seperti
kumparan yang bagian tengah lebih luas, makin ke bawah mangkin
dangkal kemudian bergabung

dengan pars membranasea. potongan

transversal saluran ini menghadap ke depan. pada dinding posterior


terdapat Krista uretralis yang berbentuk penonjolan membrane mukosa
dan jaringan di bawahnya dengan panjang 15-17 cm tnggi 3 cm. pada kiri
dan kanan Krista uretralis terdapat sinus protatikus yang di tembus oleh
orifisium duktus prostatikus . dari lobus lateralis glandula prostate dan
duktus dari lobus medial glandula prostat bermuara di belakang Krista
uretralis. bagian depan dari Krista uretralis terdapat benjolan yang disebut
kolikus seminalis yang pada orifisium utrikulus prostatikus berbentuk
kantong sepanjang 6 cm yang berjalan ke atas dan kebelakang di dalam
subtrasia prostat di belakan lobus medial. Dindingnya terdiri dari jaringan

10

ikat lapisan muskularis dan membrane mukosa, beberapa glandula kecil


b.

yang terbuka ke permukaan dalam .


Uretra pars membranesea, Saluran uretra ini yang paling pendek dan
paling dangkal, berjalan mengarah ke bawah dan kedepan di antara apeks
glandula prostate dan bulbus

uretra. pars membranasea menembus

diafragma urogenitalis, panjangnya kira-kira 2,5 cm di bawah belakan


simfisis pubis, dilputi oleh jaringan sfingter uretra membranesea . didepan
saluran ini terdapat vena dorsalis penis yang mencapai pelvis di antara
c.

ligamentum transversal pelvis dan ligamentum arquarta pubis.


Uretra pars kavernosus, merupakan saluran terpanjang dari uretra terdapat
di dalam korpus kavemosus uretra ke orifisium superfisialis panjangya
kira-kira 15 cm mulai dari pars membranesea sampai diafragma
urogenetalis. pars kavemosus uretra berjalan ke depan dank e atas menuju
bagian depan simfisis pubis. pada keadaan penis berkontraksi, uretra
bagian ini bawah dan kedepan. pars kovernosus ini dangkal sesuai dengan
korpus penis (6 mm) dan berdilatasi ke belakang . Bagian depan
berdilatasi di dalam glans penis yang akan membentuk fossa navikularis

d.

uretra.
Orifisium uretra eksterna merupakan bagian erector yang paling
berkontraksi, berupa sebuah celah vertikel . kedua sisi di tutupi oleh dua
bibir kecil, panjangnya 6 mm. Ke dalam uretra bermuara glandula
uretralis dan di bagi dalam 2 bagian:
a. Glandula yang terdapat di bawah tunika mukosa di dalam korpus
kavernosus uretra (glandula pars uretralis).
b. lacuna bagian dalam epithelium. Lakukan yang lebih besar di
permukaan atas disebut lacuna magna . orifisium dari lacuna ini
menyebar ke depan sehingga dengan mudah menghalangi ujung kateter
yang dilalui sepanjang saluran.

Uretra Wanita
Uretra wanita terletak di belakang simpisis , berjalan sedikit miring kea rah
atas. Salurannya dangkal panjang nya kira-kira 4cm mulai dari orifisium uretra
interna sampai ke orifisium uretra eksterna, uretra ini terdapat di belakang
simfisis pada dinding anterior vagina, menjurus obliq ke bawah dan
menghadap ke depan. Apabila tidak berdilatasi diameternya 6 cm. uretra ini
11

menembus fasiaoris. Glandula uretra bermuara ke uretra, yang terbesar di


antaranya adalah glandula uretralis (Skene) yang bermuara ke dalam orifisium
uretra dan hanya berfungsi sebagai saluran ekskresi. Lapisan uretra wanita
terdiri
1. Tunika muskularis
2. Lapisa spongeosa.
3. lapisan mukosa sebelah dalam diafragma urogenitalis dan orifisium
eksterna langsung di depan permukaan vagina 2,5 cm di belakang gland
klitoris.
B. Fungsi Ginjal
Pembentukan urine adalah untuk mempertahankan homeostasis dengan mengatur
volume dan komposisi darah. Proses ini meliputi pengeluaran larutan sampah organic
produk metabolism. Produk sampah yang perlu mendapat perhatian adalah urea,
kreatinin, dan asam urat. Produk sampah ini larut dalam aliran darah, dan hanya dapat
dibuang dengan dilarutkannya urine. Pembuangan bahan-bahan sampah ini disertai
dengan kehilangan air yang tidak dapat dihindarkan. Ginjal dapat menjamin bahwa
cairan yang hilang tidak mengandung substrat organic yang sangat bermanfaat yang
terdapat dalam plasma darah, seperti gula dan asam amino.
Fungsi ginjal :
1. Mengatur volume air (cairan) dalam tubuh. Kelebihan air dalam tubuh akan
disekresi oleh ginjal sebagai urine (kemih) yang encer dalam jumlah besar.
Kekurangan air (kelebihan keringat) menyebabkan urine yang disekresi
berkurang dan konsentrasinya lebih pekat, sehingga susunan dan volume
cairan tubuh dapat dipertahankan relative normal.
2. Mengatur keseimbangan osmotic dan mempertahankan keseimbangan ion
yang optimal dalam plasma (keseimbangan elektrolit). Bila terjadi
pemasukkan/ pengeluaran yang abnormal ion-ion akibat pemasukan garam
yang berlebihan/ penyakit perdarahan (diare dan muntah) ginjal akan
meningkatkan sekresi ion-ion yang penting (misalnya Na, K, Cl, Ca. dan
fosfat).
3. Mengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh, bergantung pada apa yang
dimakan. Campuran makanan menghasilkan urine yang bersifat agak asam,
pH kurang dari 6, ini disebabkan hasil akhir metabolism e protein. Apabila
banyak makan sayur-sayuran, urine akan bersifat basa. pH urine bervariasi
antara 4,8-8,2. Ginjal menyekresi urine sesuai dengan perubahan pH darah.
12

4. Ekskresi sisa-sisa hasil metabolism (ureum, asam urat, kreatinin) zat-zat


toksik, obat-obatan, hasil metabolism hemoglobin dan bahan kimia asing
(pestisida).
5. Fungsi hormonal dan metabolisme. Ginjal menyekresi hormone rennin yang
mempunyai peranan penting mengatur tekanan darah (sistem rennin
angiostensin aldosteron); membentuk eritropoiesis ; mempunyai peranan
penting untuk memproses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis).
Disamping itu ginjal juga membentuk hormone dihidroksikolekalsiferol
(vitamin D aktif) yang diperlukan untuk absorpsi ion kalium di usus.
C. Fisiologi Sistem Renal
1. Pengaturan volume cairan tubuh
a.
Pengaturan volume cairan
b.
Pengaturan keseimbangan asam basa
2. Proses pembentukan urin
Glomerulus berfungsi sebagai ultrafiltrasi pada simpai Bowman untuk
menampung hasil filtrasi dari glomerulus. Pada tubulus ginjal akan terjadi
penyerapan kembali zat-zat yang sudah di saring pada glomerulus dan sisa cairan
akan diteruskan ke piala ginjal. Urine yang berasal dari darah dibawa oleh arteri
renalis masuk ke dalam ginjal . langkah pertama proses pembentukan urine
ultrafiltrasi darah/plasma dalam kapiler glomerulus berupa air dan kristaloid.
Selanjutnya di dalam tubuh ginjal disempurnakan dengan proses rebsorpsi zat-zat
yang esensial dari cairan filtrasi untuk dikembalikan ke dalam darah. Selanjutnya
proses sekresi dikeluarkan ke dalam urine.
Tahap Pembentukan Urine
a.
Proses filtrasi
Pembentukan urine dimulai dengan filtrasi jumlah besar cairan yang
bebas protein dari kapiler glomerulus ke kapsula Bowman. Kebanyakan zat
dalam plasma difiltrai secara bebas kecuali protein sehingga filtrasi glomerulus
dalam kapsula Bowman hampir sama dengan plasma diubah oleh reabsorpsi
air dan zaat terlarut spesifik, kembali ke dalam darah atau oleh sekresi zat lain
dari kapiler peritubulus ke dalam tubulus.Proses filtrasi (ultrafiltrasi) terjadi
pada glomerulus . proses ini terjadi karena permukaan aferen lebih besar dari
permukaan eferen sehingga terjadi penyerapan darah. setiap menit kira-kira
1.200 ml darah, terdiri dari 450 ml sel darah dan 660 ml plasma masuk ke
dalam kapiler glomerulus . Untuk proses filtrasi di perlukan tekanan filtrasi
untuk mendapat hasil akhir:
13

1) Tekanan yang menyebabkan filtrasi, merupakan hasil kerja jantung


tekanan hidrostaltik kapiler glomerulus kira-kira 50 mmHg tekanan ini
cenderung mendorong air dan garam melalui glomerulus.
2) Tekanan yang melawan filtrasi. Tekanan hidrostaltik cairan di dalam
kapsul bawman kira-kira 5mmHg. Tekanan osmotic koloid protein kirakira 30 mmHg yang cenderung menarik air dan garam ke dalam pembuluh
kapiler.
3) Tekanan akhir menyebabkan filtrasi dikurangi tekanan yang melawan
filtrasi sama denganfiltrasi aktif (50-30+5mmHg=25mmHg). kira-kira
120ml plasma difiltrasi setiap menit. pada glomerulus membrane filtrasi
hanya dapat dilalui oleh plasma, garam, glukosa dan molekul kecil lainnya
Sel darah dan plasma terlalu besar untuk di filtrasi dengan cara lain.
susunan cairan filtrasi sama seperti susunan plama darah tetapi tidak ada
proteinnya. Membran glomerulus bekerja sebagai suatu saringan biasa dan
tidak memerlukan energy untuk proses ini . Pembentukan urine dimuali
dengan filtrasi sejumlah besar cairan yang bebas protein dari kapiler
glomerulusu ke kapsula Bowman.
kebanyaan zat dalam plasma difiltrasi secara bebas kecuali protein
sehingga filtrate glomerulus dalam kapsula Bowman hampir sama dengan
dalam plasma. Cairan diubah oleh reabsopsi air dan zat terlarut spesifik
kembali ke dalam darah atau oleh sekresi zat lain dari kapiler peritubulus
b.

ke dalam tubulus.
Proses absorpsi
Penyerapan kembali sebagian besar terhadap glukosa, natrium, klorida fospat,
dan ion bikarbonat. Proses ini terjadi secara pasif yang dikenal dengan
obligator reabsopsi dan terjadi pada tubulus atas. Dalam tubulus ginjal cairan
filtrasi dipekatkan dan zat yang penting bagi tubuh diabsorpsi. Kegiatan ini
banyak di pengaruhi oleh hormone-hormon dan zat-zat yang direabsopsi
berubah sesuai dengan keperluan tubuh setiap saat.
Air diserap denganjumlah yang banyak. Zat esensial yang mutlak di
perlukan (mis., Glukosa, NaCl, dan Garam) direabsorpsi dengan sempurna ke
dalam kapiler peritubular, kecuali kadarnya melebihi ambang ginjal, batas
kadar tertinggi suatu zat dalam darah yang apabila dilampaui menyebabkan
ekskresi zat tersebut masuk ke dalam urine. zat yang sebagian diabsorpsi selsel tubulus bila diperlukan , misalnya kalium. Zat yang hanya diabsorpsi dalam
jumlah kecil dari hasil metabolism misalnya ureum, fosfat, dan asam urat. Dan
14

zat yang sama sekali tidak diabsorpsi tidak dapat disekresi oleh sel tubulus
misalnya kreatinin. Jumlah total air yang diabsorpsi lebih kurang 120
ml/menit. 70-80% diabsorpsi oleh tubulus proksimal.disebut juga reabsopsi air
obligatod. Sisanya 20-30% diabsorpsi secara fakultatif dengan bantuan
hormone. Vasopressin (ADH, hormone antideuritik) di tubulus distal. Sebagian
kecil sisanya diabsorpsi pada duktus koligen yaitu saluran tempat bermuaranya
tubulus distal.
c.

Proses sekresi
Tubulus ginjal dapat mensekresi atau menambahzat-zat kedalam cairan filtrai
selama metabolisme sel-sel membentuk asam dalam jumlah besar. Namun pH
darah dan cairan tubuh dapat di pertahankan sekitar 7,4 (alkalisi). Sel tubuh
membentuk amoniak yang bersenyawa dengan asam kemudian disekresi
sebagai ammonium supaya pH darah dan cairan tubuh tetap alkalis.

3. Berkemih
a. Reflek berkemih
Ketika kandung kemih terisi banyak urine, tekanan kandung kemih
menjadi lebih tinggi. sinyal sensorik dari reseptor kandung kemih dihantarkan
kesegmen sacral medulla spinalis melaui nervus pelvikus, kemudian secara
reflex kembali lagi ke kandung kemih melelui nervus parasimpatis. ketika
kandung kemih terisi sebagian , kontraksi berkemih biasanya secara spontan
berelaksasi. Setelah beberapa detik otot detrusor berhenti berkontraksi dan
tekanan turun kembali ke garis basal. Oleh karena kandung kemih terus terisi,
reflex berkemih menjadi bertambah sering dan menyebabkan kontraksi otot
detrusor lebih kuat. pada saat berkemih menjadi cukup kuat menimbulkan
reflekslain yang berjalan melalui nervus pudendal ke sfingter eksternus untuk
menghambatnya. jika inhibasi ini lebih kuat dalam otak dari pada sinyal
konstiktor voluter ke sfingter eksterna berkemih pun akan terjadi jiak
berkemih tidak terjadi kandung kemih terisi lagi dan reflex berkemih menjadi
b.

semakin kuat.
Perangsangan berkemih
Refleks berkemih merupakan dasar penyebab terjadinya berkemih, tetapi pusat
yang lebih tingii normalnya memegang peranan. Sebagai pengendali akhir dari
berkemih sebagi berikut:
15

1.

Pusat yang lebih tinggi menjaga secara parsial penghambatan refleks

2.

berkemih, kecuali peristiwa berkemih dikehendaki.


Pusat yang lebih tinggi dapat mencegah berkemih, bahkan jika refleks
berkemih timbul dengan membuat kontraksi tonik terus menerus. Pada
sfingter eksternus kandung kemih sampai mendapat waktu yang baik

3.

untuk berkemih
Jika tiba waktu untuk berkemih, pusat kortikal dapat merangsang pusat
berkemih sakral untuk membantu mencetuskan refleks berkemih. Dalam
waktu bersamaan menghambat sfingter eksternus kandung kemih
sehingga peristiwa berkemih dapat terjadi
Berkemih di bawah keinginan tercetus dengan cara seseorang secara

sadar mengonsentrasikan otot-otot abdomennya yang meningkatkan tekanan


dalam kandung kemih, mengakibatkan urine ekstra memasuki kandung kemih,
sehingga meregangkan dinding kandung kemih. Hal ini menstimulasi reseptor
regang dan merangsang refleks berkemih serta menghambat sfingter eksternus
uretra secara simultan. Biasanya seluruh urine akan keluar dalam keadaan
normal.
c.

Transpor urin pada berkemih


Urine mengalir dari duktus koligentes masuk ke kalik renalis,
meregangkan kaliks renalis, meningkatkan aktivitasnya, yang kemudian
mencetuskan kontraksi peristaltik menyebar ke pelvis renalis kemudian turun
sepanjang ureter. Dengan demikian mendorong urine dari pelvis renalis ke
arah kandung kemih. Dinding ureter terdiri dari otot polos dan dipersarafi oleh
saraf simpatis, kontraksi perstaltik pada ureter ditingkatkan oleh perangsangan
parasimpatis dan dihambat oleh perangsangan simpatis. Ureter memasuki
kandung kemih menembus otot detrusor di daerah trigonum kandung kemih
sepanjang beberapa sentimeter menembus dinding kandung kemih. Dinding
kandung kemih cenderung menekan ureter dengan demikian mencegah aliran
balik urine dari kandung kemih sewaktu terjadi kompresi kandung kemih.
Setiap gelombang peristaltik yang terjadi sepanjang ureter akan meningkatkan
tekanan dalam ureter, sehingga bagian yang menembus dinding kandung
kemih membuka dan memberikan kesempatan urine mengalir ke dalam

kandung kemih.
4. Filtrasi glomelorus
16

Kapiler glomerulus secara relatif bersifat impermeabel terhadap protein


plasma yang lebih besar dan permeabel terhadap air dan larutan yang lebih kecil
seperti elektrolit, asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen.
Glomerulus mengalami kenaikan tekanan darah 90 mmHg. Kenaikan ini
terjadi karena arteriola aferen yang mengarah ke glomerulus mempunyai diameter
yang lebih besar dan memberikan sedikit tahanan dari kapiler yang lain. Tekanan
darah terhadap dinding pembuluh ini disebut tekanan hidrostatik (TH). Gerakan
masuknya ke dalam kapsula Bowman disebut sebagai filtrasi glomerulus. Tiga
faktor dalam proses foltrasi dalam kapsula Bowman menggambarkan integrasi
ketiga faktor tersebut, yaitu :
a. Tekanan osmotik (TO) : Tekanan yang dikeluarkan oleh air (sebagai pelarut)
pada membran semi permeabel sebagai usaha untuk menembus membran
semipermeabel ke dalam area yang mengandung lebih banyak molekul yang
dapat melewati membran semipermeabel. Pori-pori dalam kapiler glomerulus
membuat membran semipermeabel mungkin untuk melewati yang lebih kecil
dan air tetapi mencegah molekul yang lebih besar, misalnya protein dan
b.

plasma.
Tekanan hidrostatik (TH) : sekitar 15 mmHg dihasilkan oleh adanya filtrasi
dalam kapsula dan berlawanan dengan tekanan hidrostatik darah. Filtrasi juga
mengeluarkan tekanan osotik 1-3 mmHg yang berlawanan dengan osmotik

c.

darah.
Perbedaan tekanan osmotik plasma dengan cairan dalam kapsula bowman
mencerminkan perbedaan konsentrasi protein. Perbedaan ini menimbulkan
pori-pori kapiler mencegah protein plasma untuk difiltrasi.
Tekanan hidrostatik plasma dan tekanan osmotik filtrat kapsula
Bowman bekerja sama untuk meningkatkan gerakan air. Molekul permeabel
kecil dari plasma masuk ke dalam kapsula bowman. Tekanan hidrostatik dan
tekanan osmotik filtrat dalam kapsula Bowman bersama-sama mempercepat
gerakan air dan molekul permeabel dari kapsula Bowman masuk ke kapiler.
Jumlah tekanan (90 3) (32 15) = 70 mmHg, akam mempermudah
pemindahan filtrat dari aliran darah ke dalam kapsula Bowman. Laju ini
dinamakan laju filtrasi glomerulus (LFG).
Pada orang sehat jumlah pertukaran filtrasi per enit 125 ml. Faktor
klinis yang memengaruhi LFG adalah tekanan hidrostatik dan tekanan osmotik

17

filtrat. Hipopriteinemia terjadi pada kelaparan akan menurunkan tekanan


osmotik dan meningkatkan LFG.
5. Pengaruh hormone
Ginjal menyekresi hormon renin yang mempunyai peranan penting
mengatur tekanan darah (sistem renin-angiotensin-aldosteron), membentuk
eritropoiesis untuk memroses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis). Di
samping itu ginjal juga membentuk hormon dihidroksikolekalsiferol (vitamin D
aktif) yang diperlukan untuk absorpsi ion kalsium di usus.
Pengaturan final urine diatur oleh 3 jenis hormon. Osmoreseptor pada
hipotalamus sangat sensitif terhadap osmolaritas serum. Selama dehidrasi
osmolaritas serum meningkat. Osmoreseptor pada hipotalamus merangsang
sekresi, meningkat permeabilitas sel tubulus koligentes terhadap air ADH.
Oleh karena penting untuk mempertahankan suatu keseimbangan yang
tepat antara reabsorpsi tubulus dan filtrasi glomerulus, mekanisme saraf, faktor
hormonal, dan kontrol setempat meregulasi reabsorpsi tubulus untuk pengaturan
filtrasi glomerulus. Reabsorpsi dari beberapa zat terlarut dapat diatur secara bebas
terpisah dari yang lain terutama melalui mekanisme pengontrolan hormonal.
Hormon antidiuretik
Hormon antidiuretik (ADH) meningkatkan permeabilitas sel tubulus
kolegentes terhadap air, memungkinkan resorpsi air sehingga cairan
ekstraselular (CES) kembali normal. Hormon lain yang memengaruhi
konsentrasi urine adalah renin. Bila laju filtrasi glomerulus (LFG) turun karena
dehidrasi atau kehilangan darah, kadar natrium di bawah normal pada filtrasi,
yang merangsang sekresi renin. Renin mengubah angiotensin yang disekresi
hati menjadi angiotensin I.
Sel kapiler paru selanjutnya mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II.
Angiotensin II mengonsentrasi otot polos sekeliling arteriola. Hal ini
meningkatkan

tekanan

darah,

selanjutnya

meningkatkan

laju

filtrasi

glomerulus (FLG). Angiotensin II juga mendorong sekresi aldosteron, hormon


ketiga yang memengaruhi osmolaritas urine.Korteks adrenal jika dirangsang
oleh angiotensin II menyekresi aldosteron dengan meningkatkan tekanan
resorpsi air di ginjal, meningkatkan tekanan darah dan menurunkan osmolitas

serum. Aldosteron juga berespons terhadap kadar abnormal natrium darah.


Hormon aldosteron
Hormon aldosteron dihasilkan oleh korteks adrenal. Hormon ini mengeluarkan
efek dalam sekresi natrium oleh ginjal. Saat sekresi aldosteron meningkatkan
18

aktivitas meningkatkan aktivitas pompa natrium menyebabkan natrium diserap


dari urine yang dibentuk dalam tubulus distal ke dalam aliran darah.
Sekresi aldosteron dirangsang oleh turunnya konsentrasi natrium darah.
Perubahan ini dideteksi oleh reseptor dalam ginjal (aparatus juksta glomerulus)
yang melepaskan substansi renin dalam darah, diubah menjadi angiotensin.
Angiotensin bekerja pada korteks adrenal. Pada saat pasien mengonsumsi diet
bebas natrium, urinenya tidak mengandung natrium. Kehilangan natrium dapat
terjadi bila berkeringat banyak karena aktivitas fisik, dalam kondisi panas, saat
muntah dan diare. Penurunan konsentrasi natrium cairan ekstraselular akan
merangsang aldosteron secara langsung dari korteks adrenal, menyebabkan
penurunan natrium tubular. Hal ini merangsang sekresi renin dari juksta
glomerulus, secara tidak langsung merangsang resorpsi natrium dari sel-sel
tubulus distal.
Ginjal juga berfungsi dalam homeostasis kadar kalium plasma. Bila terjadi
peningkatan kalium dan kadar natrium normal, tubulus distal dan tubulus
kolegentes dengan aktif menyekresi kalium kembali kedalam urine. Terdapat
mekanisme reabsorpsi khusus untuk ion divalen seperti kalsium, magnesium,
dan fosfat, serta mengatur konsentrasi plasma dari ion-ion. Mekanisme umpan
balik yang mengendalikan sekresi vasopresin dan cara vasopresin dirangsang
dengan peningkatan dan dihambat oleh penurunan dalam tekanan osmotik.
Diuresis air yang ditimbulkan oleh minum banyak cairan hipotonik dimulai
sekitar 15 menit setelah minum. Beban air mencapai maksimum sekitar 40
menit. Kerja minum menimbulkan penurunan kecil dalam sekresi vasopresin
sebelum air diabsorpsi. Hambatan yang timbul karena penurunan osmolitas
plasma setelah air diabsorpsi. Sementara menyekresi, beban osmotik rata-rata
aliran urine maksimum yang dapat ditimbulkan selama diuresis akut sekitar
16ml/menit. Jika air minum pada kecepatan lebih tinggi untuk waktu tertentu
maka terjadi pembengkakan sel karena ambilan air dari CES hipotonik
menjadi parah, gejala keracunan air timbul karena pembengkakan sel (edema).
6. Reabsorpsi dan sekresi tubulus

Reabsorpsi tubulus

Mekanisme pasif

Transpor aktif

Reabsorpsi tubulus proksimal

Transpor zat dalam ansa henle

Tubulus distal
19

Tubulus koligentes
Duktus koligentes kortikalis
Duktus kolingentes medulla

D. Pengkajian Sistem Renal


Penurunan fungsi ginjal dapat mempengaruhi seluruh fungsi tubuh, sehingga
pengkajian riwayat penyakit dan fisik pasien penting dalam menentukan keberadaan,
tingkat, dan komplikasi gagal ginjal. Pengkajian yang tepat harus dilakukan dari
inspeksi dan auskultasi kemudian perkusi dan dilanjutkan dengan palpasi.
1. Riwayat pasien
Riwayat pasien harus meliputi tinggi dan berat badan pasien dan riwayat
penyakit sebelumnya pada kalkuli ureteral, tumor, glomerulonefritis, penyakit
ginjal kistik, maslah jantung, diabetes, dan hipertensi. Pasien-pasien yang
berisiko tinggi mengalami gagal ginjal adalah mereka yang menderita diabetes,
hipertensi, glomerulonefritis, dan penyakit ginjal kistik.
Pengkajian nutrisi harus meliputi informasi tentang riwayat berat badan
pasien dan pola diet pasien sebelumnya, pola asupan makanan, status sosial
ekonomi, pola hidup secara umum. Informasi ini sangat penting jika ternyata
pasien membutuhkan diet khusus seperti pengimbangan protein dan pembatasan
kalium-natrium untuk mengontrol udema dan uremia. Pertanyaan tentang
kenaikan berat badan dan pola BAB dan BAK dapat berkembang, jika terdapat
penimbunan cairan. Pasien dengan uremia biasanya mengalami penurunan
nafsumakan, mual, dan muntah yang dapat menyebabkan gangguan nutrisi dan
cairan/elektrolit. Tanyakan ke pasien apakah obat-obat yang biasa dikomsumsi
merupakan obat yang nefrotoksik. Obat-obatan yang dapat menyebabkan
kerusakan pada ginjal yaitu antibiotic, aminoglikosida, sefalosporin, sulfonamide,
deuretik tiazid, dan fenitoin. Apakah pasien baru-baru ini melakukan tes-tes yang
kemungkinan menginjeksikan pewarnaan/kontras yang nefrotoksik seperti pada
kateterisasi jantung atau arteriogram ginjal? Pewarnaan/kontras yang digunakan
pada tes-tes seperti di atas sering menyebabkan nekrosis tubular akut (ATN) yang
dapat menyebabkan gagal ginjal.Tanyakan pada pasien apakah dia mengalami
perubahan aktivitas seksual seperti impotensi atau penurunan energy/dorongan
seksual, disminorea, atau amenorea. Keracunan uremia juga dapat memengaruhi
2.

kesehatan seksual.
Inspeksi
Mencermati pasien secara seksama dapat memberikan perawat informasi
yang berharga. Seluruh bagian tubuh harus diinspeksi. Berapa tanda dan gejala di
20

bawah ini dapat dilihat pada pasien penyakit ginjal.Tentukan level penurunan
pasien dan penyebabnya dengan tepat. Tingginya level produk metabolism dalam
tubuh seperti urea dan nitrogen dapat menyebabkan gangguan pola tidur,
kelelahan, letargi, sakit kepala, pandangan kabur, kebingungan dan penurunan
kesadaran. Tidak jarang tingginya level urea dan nitrogen ini juga menyebabkan
kecemasan, depresi, dan psikosis.
Observasi tremor dan spasme pada pasien. Hipokalsemia yang dapat
berkembang pada gagal ginjal dapat menyebabkan eksitabilitas neuromuscular,
mengakibatkan depolarisasi sel yang tidak dapat dikendalikan. Dengan
memasang pompa pengukur tekanan darah pada lengan selama 10 menit, dapat
menstimulasi munculnya tanda trousseau, seperti spasme karpopedal, tanda klinis
dari tetanus. Pasien mungkin akan menyampaikan pada perawat jika dia
mengalami mati rasa dan perasaan gatal (parestesia) di sekitar mulut dan
ekstrimitasnya. Menampar pasien tepat diwajahnya dapat menyebabkan kejang
pada otot wajah, yang dikenal sebagai tanda chvostek.
pada daerah pinggang atau abdomen sebelah atas harus diperhatikan
pada saat melakukan inspeksi pada daerah ini. Pembesaran itu mungkin
disebabkan oleh karena hidronefrosis atau tumor pada daerah retroperitonium.
edema terutama di wajah dan mata, ekstremitas bawah, dan jika pasien dalam
keadaan bedfast kaji edema pada permukaan sakral. Kaji turgor kulit dan status
hydrasi, Observasi warna kulit, pallor menandakan anemia.
Fullness pada flank, kemungkinan adanya tumor, kista, abses atau
akumulasi cairan pada pelvis renal (hydronephrosis). Hal ini akan menjadi
bertambah terasa jika pasien duduk dan lean forward. Suprapubic bulge, jika
terjadi distensi bladder (500mL) atau lebih. Inspeksi meatus uretra jika ada
edema, kemerahan, dan sekresi, Pada pemeriksaan buli-buli diperhatikan adanya
benjolan/massa jaringan parut bekas irisan/operasi di suprasimfisis. Pada inspeksi
genetaliaeksterna diperhatikan kemungkinan adanya kelainan pada penis/uretra
antara lain: mikropenis, makropenis, hipospadia, kordae, epispadia, stenosis pada
meatus uretra eksterna, fimosis/parafimosis, fistel uretro-kutan, dan ulkus/tumor
penis.
Perhatikan apakah ada pembesaran pada skrotum. Untuk membedakan
antara massa padat dan massa kistus yang terdapat pada isi skrotum, dilakukan
pemeriksaan transiluminasi (penerawangan) pada isi skrotum dengan cahaya
21

terang. Jika isi skrotum tampak menerawang berarti berisi cairan kistus dan
dikatakan sebagai transiluminasi positif atau diafanoskopi positif.
3.

Auskultasi
Ukur TD pasien, catat apakah TD pasien normal atau ada perubahan.
Apakah pasien mengalami hipertensi? Banyak pasien dengan gangguan ginjal
memiliki masalah dengan penimbunan cairan yang meningkatkan volume
intravaskuler sehingga meningkatkan TD. Selanjutnya, auskultasi suara paru-paru
pasien, apakah ada cairan di dalamnya dengan mendengarkan apakah ada suara
crackles, gurgles atau wheeze. Suara-suara tersebut dapat mengindikasikan bahwa
pasien juga menimbun cairan yang berlebih. Auskultasi juga dilakukan untuk
mengecek apakah fistula atau cangkok AV untuk hemodialisi berfungsi dengan
baik. Mungkin penting juga untuk dilakukan untuk mengeek bruit atau desiran
aliran darah di situs akses vaskuler yang baru sampai spasme setelah oprasi
membaik.
Biasanya perawat tidak akan mengauskultasi tepat di atas ginjal. Tetapi,
jika pasien mengalami stenosis arteri renalis, bruit memungkin akan terdengar di
atas kuadran kiri atas dan kanan atas abdomen. Digunakan untuk mendeteksi
bruits pada arteri renal posterior pada area sudut costovertebral dan anterior pada
area abdomen kuadran atas.

4.

Perkusi
Anjurkan pasien untuk buang air kecil sebelum diperkusi. Pemeriksaan
perkusi pada ginjal dilakukan untuk mengecek apakah ada pembesran akibat
penyakit polikistik. Apakah pasien melaporkan adanya nyeri atau kaku ketika
diperkusi. Jika ya, hal ini mengindikasikan adanya infeksi atau tumor. Perkusi
kandung kemih harus dilakukan untuk mengetahui adanya nyeri dan penuh atau
tidaknya kandung kemih.
Perkusi dapat digunakan untuk mendeteksi distensi bladder, dengan cara:
a.
Dilakukan pada posisi setinggi umbilikus
b. Pelaksanaan perkusi yang tegas pada area costovertebral hanya dilakukan oleh
dokter dan perawat yang berpengalaman untuk menemukan tenderness renal.
Tendernes renal menunjukkan adanya infeksi.
c. Perkusi atau pemeriksaan ketok ginjal dilakukan dengan memberikan ketokan
pada sudut kostovertebra (yaitu sudut yang dibentuk oleh kosta terakhir
22

dengan tulang vertebra). Pembesaran ginjal karena hidronefrosis atau tumor


ginjal, mungkin teraba pada palpasi dan terasa nyeri pada perkusi
d. Perkusi tidak boleh dilakukan jika kasusnya polikistik ginjal atau transplantasi
ginjal.
5.

Palpasi
Secara anatomis, lobus atas kedua ginjal menyentuh diagfragma dan ginjal
turun sewaktu inhalasi. Ginjal kanan nornalnya lebih mudah di palpasi daripada
ginjal kiri karena ginjal kanan terletak lebih rendah daripada ginjal kiri. Ginjal
kanan terletak sejajar dengan tulang rusuk ke-12 dan ginjal kira sejajar dengan
tulang rusuk ke-11. Ginjal orang dewasa pada umumnya mempunyai ukuran
panjang 11 cm, lebar 4-7 cm, dan tebal 2,5 cm.
Palpasi perlu dilakukan pada bagian tubuh pasien untuk memastikan
apakah terjadi edema perifer. Pada kasus kelebihan volume cairan, cairan
berpindah dari system vaskuler ke keruang interstisial. Cek pasien untuk kekuatan
ekstrimitasnya. Kelemahan pada kaki merupakan tanda bahwa pasien mengalami
neuropati uremikum. Palpasi sendi pasien dan gerakkan ekstrimitas pasien dengan
gerakan ROM. Apakah pergerakan yang dilakukan akan menimbulkan nyeri sendi
atau tulang; apakah gerakan tersebut menyebabkan prestesia atau mati rasa pada
ekstrimitasnya? Masalah sendi dapat terjadi karena kekurangan vitamin D dan
demineralisasi tulang akibat rendahnya level kalsium. Sehingga menyebabkan
osteodistrofi ginjal. Racun urea juga dapat mengakibatkan nyeri dan prestesia
(sensai nyeri tajam dan terbakar).
Biasanya ginjal tidak dapat di palpasi karena ginjal berada didalam
abdomen dan dilindungi oleh otot-otot. Tetapi pada pasien yang kurus terkadang
kita dapat merasakan keberadaan ginjal ketika sedang menarik napas dalamdalam. Ginjal teraba lembut dan bulat, tidak padat atau menggumpal. Kandung
kemih dapat di palpasi dengan mudah dan teraba lembut, tidak padat atau ada
tonjolan. Sebagai tambahan untuk melakukan pemeriksaan fisik yang
berkesinambungan, perawat akan mendampingi pasien untuk persiapan dan
melakukan beberapa tes laboratorium dan foto diagnostic.
Dalam melakukan palpasi ginjal, posisi pasien terlentang dan perawat yang
melakukan palpasi berdiri disisi kanan pasien.
Cara palpasi ginjal :
a. Dalam melakukan palpasi ginjal kanan, letakkan tangan kiri anda di bawah
panggul, dan elevasikan ginjal kearah anterior.
23

b. Letakkan tangan kanan anda pada dinding abdomen anterior di garis


midklavikula pada tepi bawah batas kosta.
c. Tekan tangan kanan anda secara langsung keatas sementara pasien menarik
napas panjang. Ginjal tidak teraba pada orang dewasa yang normal, tetapi pada
orang yang sangat kurus, bagian bawah ginjal kanan dapat dirasakan.
d. Bila ginjal teraba, rasakan kontur (bentuk), ukuran, dan amati adanya nyeri
tekan.
e. Untuk melakukan palpasi ginjal kiri, lakukan di sisi kiri tubuh pasien, dan
letakkan tangan kiri anda di bawah panggul kemudian lakukan tindakan seperti
pada palpasi ginjal kanan.
E. Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik
1. Pemeriksaan laboratorium
Nitrogen urea darah (BUN/blood urea nitrogen) Level serum yang
meningkat dengan menurunnya aliran darah ke ginjal yang menyebabkan urea
lebih banyak diabsorpsi dan hanya sedikit yang di ekskresikan di dalam darah.
Nilai serum ini juga akan meningkat dengan tingginya diet protein dan kondisi
pra gagal ginjal, dan karena itulah kadar BUN bukan merupakan indicator
terbaik tingkat kerusakan ginjal. Nilai normalnya 5-25 mg/dL.
Hitung darah lengkap (CBC/Complete blood cell count) jumlah sel darah
merah (RBC), hemoglobin, dan hematokrit yang rendah pada gagal ginjal
kronis berhubungan dengan kurangnya stimulasi eritropoetin. RBC diperlukan
untuk proses oksigenasi di jaringan. Nilai normal RBC = 4,2-5,9 X 10 6/mm3;
Hb = 12-17 g/dL; hematokrit =36-52%.
Hitung sel darah putih(WBC) sel darah putih diperlukan untuk melawan
infeksi. Jumlahnya meningkat saat infeksi saluran kemih (ISK), Peritonitis,
dan ketidak cocokan transplatasi ginjal. Nilai normalnya 5.000-10.000/mm3.
Bersihan (clearance) kreatinin indicator terbaik untuk mengukur LFG. Nilai
bersihan kreatinin di bawah normal menunjukkan kerusakan fungsi ginjal
50%. Nilai normalnya 85-135 mL/menit.
Ekskresi fraksional natrium (FENa) untuk mengkaji sebaik apa ginjal
memekatkan urine dan menyerap garam. Nilai normalnya kurang dari 1%.
Laju filtrasi glomerulus (LFG) laju dimana filtrate urine terbentuk. Biasanya
125mL/menit.
Kalsium serum Komponen utama tulang dan gigi didalam intravascular
memegang peranan penting dalam proses pembekuan darah, kontraksi otot dan
impuls saraf. Biasanya kadar kalsium menurun pada pasien gagal ginjal akut
24

dan kronis. Kalsium dikontrol oleh kelenjar paratiroid dan tiroid. Nilai
normalnya 8,5-10,5 mg/dl.
Klorida serum anion utama di cairan ekstraseluler. Sangat penting didalam
keseimbangan asam basa, misalnya akan meningkat jika nilai HCO2 menurun.
Peningkatan mengindikasikan asidosis metabolic akibat gagal ginjal kronis.
Nilai normalnya 96-115 mEq/L.
Osmolalitas serum Menunjukkan konsentrasi komponen yang terlarut dalam
serum. Nilai normalnya 275-295 mOsm/kg. peningkatan osmolaritas serum
mengindikasikan dehidrasi sedangkan penurunannya mengindikasikan adanya
kelebihan cairan.
Fosfor serum Banyak ditemukan di tulang. Bekerja bersama ATP dan
keseimbangan asam-basa. Bekerja berlawanan dengan kalsium, jadi ketika
nilai fosfor rendah maka nilai kalsium tinggi, diatur oleh hormone peransang
paratiroid. Nilai fosfor biasanya tinggi pada penderita gagal ginjal. Nilai
normalnya 2,5-4,5 mg/dL.
Kalium serum Kation intraseluler terbanyak. Ikut keluar jika terjadi rupture
dinding sel. Juga tertimbun pada gagal ginjal, dan dapat menyebabkan
gangguan jantung serius. Nilai normalnya 3,5-5,0 mEq/L.
Magnesium serum Sangat penting dalam berbagai reaksi enzimatis seperti
pada sintesis karbohidrat dan protein serta kontraksi jaringan otot. Magnesium
dan kalsium sangat berhubungan erat, kekurangan kadar pada salah satunya
menimbulkan efek yang signifikan pada yang lainnya. Hal ini disebabkan
karena magnesium membantu penyerapan kalsium di usus. Pada penurunan
fungsi ginjal, jumlah magnesium yang berlimpah tertimbun di tubuh, oleh
karena itu terjadi peningkatan level darah. Nilai normalnya 1,3-2,1 mEq/L.
Natrium serum Kation terbanyak di cairan ekstra seluler. Biasanya jika
natrium keluar, diikuti oleh pengeluaran air. Dipengaruhi oleh ADH dan
Aldesteron. Nilai normal 135-145 mEq/L.
Asam urat pada gagal ginjal nilainya akan meningkat seiring dengan
ketidakmampuan

ginjal

mengekskresikan

asam

urat

sebagai

produk

metabolism purin. Nilai normal 2,5-7,0 mol/L.


Osmolalitas urine Ujikonsentrasi yang terlarut dalam urine. Kemampuan
untuk memekatkan urine menurun pada kondisi gagal ginjal. Nilai normal
1,010-1,025.

25

Protein urine Ginjal tidak mengekskresikan protein karena protein molekul


yang besar dan tidak bisa melewati nefron. Pada penyakit ginjal, proteinuria
bisa terjadi. Normalnya tidak terdapat protein dalam urine.
RBC dalam urine RBC juga merupakan molekul yang besar, normalnya
tidak ada ditemukan di urine. Adanya sel darah merah dalam urine
mengindikasikan terjadinya ISK, obstruksi renal, inflamasi, atau cedera.
Normalnya urine tidak mengandung sel darah merah.
WBC dalam urine I- infeksi saluran kemih (ISK) dari inflamasi akan
berdampak pada peningkatan WBC dalam urine. Normalnya

urine

mengandung tidak lebih dari empas sel darah merah per high-powered field
(HPF).
2.

Studi diagnostic
EKG/ ECG (elektrokardiogram), menunjukkan respons jantung terhadap
ketidakseimbangan

elektrolit

akibat

digambarkan

dengan

perubahan

gelombang EKG dan ada tidaknya gangguan gangguan irama.


KUB (rontgen ginjal, ureter, dan kandung kemih), menunjukkan posisi ginjal
dan ada tidaknya kalkuli renalis atau tumor. Pemeriksaan ini tidak
menggunakan kontras.
Biopsi ginjal, sejumlah kecil sampel ginjal yang diambil untuk melihat tipe
seluler (tumor), kerusakan (pielonefritis), atau penolakan (transplantasi ginjal).
Perawat harus selalu mengukur tanda-tanda vital secara teratur serta
memonitor ada tidaknya perdarahan dan infeksi pada area biopsy.
Angiografi ginjal, pemeriksaan ini menggunakan kontras yang diinjeksikan
melalui percabangan arteri renalis untuk memvisualisasikan struktur ginjal
melalui fluoroskopi. Angiografi ginjal menunjukkan ada tidaknya abnormalitas
aliran darah, stenosis arteri renalis, kista atau tumor, cedera renal, dan abses
atau inflamasi. Stenosis arteri renalis dapat menyebabkan pra gagal ginjal dan
hipertensi, yang dapat menyebabkan gagal jantung.
USG (Ultrasonografi) Prinsip pemeriksaan ultrasonografi adalah menangkap
gelombang bunyi ultra yang dipantulkan oleh organ-organ (jaringan) yang
berbeda kepadatanyya. Pemeriksaan ini tidak invasive dan tidak menimbulkan
efek radiasi. USG dapat membedakan antara masa padat (diperekoik) dengan
mas kistus (hipoekoik), sedangkan batu non opak yang tidak dapat dideteksi
dengan foto rontgen akan terdeteksi oleh USG sebagai echoic shdow.
26

CT scan dan MRI (computerized Tomography Scan dan Magnetic Resonance


Imaging) Pemeriksaan ini lebih baik daripada ultrasonografi tetapi harganya
masih sangat mahal, kedua pemeriksaan ini banyak dipakai dalam bidang
onkolgi untuk menetukan penderajatan (staging) tumor yaitu batas-batas
tumor, invasi ke organdi sekitar tumor, dan mencari adanya metastasis ke
kelenjar limfe serta ke organ lain.

27

BAB III
(PENUTUP)
A. Kesimpulan
Sistem perkemihan merupakan sistem pengeluaran zat-zat metabolisme tubuh
yang tidak berguna lagi bagi tubuh yang harus dikeluarkan (dieliminasi) dari dalam
tubuh karena dapat menjadi racun. proses eliminasi ini dapat dibagi menjadi eliminasi
unrine (buang air kecil) dan eliminasi alvi (buang air besar). Ginjal mempunyai fungsi
yaitu mengatur volume air (cairan) dalam tubuh, mengatur keseimbangan osmotic dan
mempertahankan keseimbangan ion yang optimal dalam plasma (keseimbangan
elektrolit), mengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh dengan bergantung pada
apa yang dimakan, ekskresi sisa-sisa hasil metabolism (ureum, asam urat, kreatinin)
zat-zat toksik, obat-obatan, hasil metabolism hemoglobin dan bahan kimia asing
(pestisida), fungsi hormonal dan metabolisme.
Penurunan fungsi ginjal dapat mempengaruhi seluruh fungsi tubuh, sehingga
pengkajian riwayat penyakit dan fisik pasien penting dalam menentukan keberadaan,
tingkat, dan komplikasi gagal ginjal. Pengkajian yang tepat harus dilakukan dari
inspeksi dan auskultasi kemudian perkusi dan dilanjutkan dengan palpasi.
B. Saran
Diharapkan bagi para pembaca untuk dapat lebih mencari sumber-sumber lain
yang dapat dijadikan panduan mengenai askep pengkajian sistem renal untuk
menunjang kemampuan diri sebagai perawat professional di masa yang akan datang.

28

DAFTAR PUSTAKA

Brenner BM, Lazarus JM. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Volume 3 Edisi 13. Jakarta:
EGC, 2000.1435-1443.
Priharjo, Robert. 2006. Pengkajian Fisik Keperawatan Edisi 2. Jakarta : EGC
Syafuddin, Haji. 2012. Anatomi Fisiologi. Jakarta : EGC
Terry, Cynthia Lee. 2013. Keperawatan Kritis Demystified. Jakarta : Penerbit ANDI
Asmawati dkk.2013.Makalah Pengkajian Sistem Perkemihan.Diakses dari www.scrib.com
tanggal 12 November 2016, time 16.00.

29