You are on page 1of 65

SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

I.
II.

Pendahuluan.
Jatuh Tegangan pada Jaringan Distribusi Tegangan Rendah (Distribusi

III.
IV.
V.

Sekunder).
Jatuh Tegangan pada Jaringan Distribusi Primer.
Trafo Distribusi.
Penggunaan Kapasitor pada Jaringan Distribusi.

Turan Gonen, Electric Power Distribution System Enginering, Mc

Graw-Hill.
Pabla, AS,Sistem Distribusi Daya Listrik, Penerbit Erlangga.

DIAGRAM SATU GARIS SISTEM DISTRIBUSI

Tipe Radial

Tipe Loop

Tipe Grid atau Network

JARINGAN DISTRIBUSI
SISTEM SPINDEL

Spindel:

Suatu pola jaringan khusus yang ditandai dengan adanya suatu susunan
beberapa kabel luar dari suatu gardu induk (GI) dan bertemu pada sebuah

gardu hubung (GH).


Meliputi daerah tertentu dengan luas rata-rata 10 25 km2.
Maksimum terdiri dari 6 kabel kerja (feeder) dan 1 kabel cadangan (express
feeder).

Perluasan Jaringan Sistem Spindel


Untuk melayani kerapatan beban yang bertambah di suatu daerah.

Feeder-feeder yang telah ada di perluasan dengan menambah panjang kabel untuk
menghubungkan ke gardu hubung (GH) baru.
Keuntungan dari jaringan sistem spindel dilihat dari faktor:

1. Penggunaan Kabel
Dibandingkan dengan sistem ring (loop)
Jika dianggap beban maksimum kabel dengan panghantar tertentu adalah
Lmax, maka koefisien faktor penggunaan kabel untuk sistem loop adalah:
Lmax
0,5
2
2 buah feeder (kabel) kerja, masing-masing kabel menarik beban tidak lebih
dari 50% dari kemampuan maksimum kabel agar dapat saling digunakan
sebagai pelayanan cadangan pada saat salah satu feeder terganggu.
Dengan jaringan distribusi sistem spindel kemampuan setiap feeder menarik
beban Lmax, sehingga sistem spindel yang terdiri dari 6 kabel (feeder) kerja
dan 1 kabel cadangan, maka koefisien faktor penggunaan kabel:
Jumlah Seluruh Beban Maksimum Feeder Kerja
Jumlah Feeder Daya No min al Feeder

6 Lmax
6
0,85
(6 1) Lmax 7

2. Sistem spindel lebih ekonomis dibandingkan dengan sistem radial.


3. Kontrol dan pengecekan operasi beban sistem spindel lebih mudah
dilaksanakan dibandingkan sistem grid.

Sekunder Radial:

Karakteristik beban
-

Sektor perumahan
Sektor industri

Sektor komersil dan usaha

Definisi-definisi:
1. Kebutuhan (Demand):
Beban pada terminal terima secara rata-rata dalam suatu interval tertentu (KW,
KVA, KA).
2. Selang Kebutuhan (Demand Interval):
Merupakan periode yang dijadikan dasar untuk menghitung beban rata-rata
(diekspresikan dalam waktu dimana kebutuhan itu diukur).
3. Diversitas Kebutuhan (Diversified Demand):
Merupakan perbandingan jumlah maksimum masing-masing beban komposit
tersebut terhadap kebutuhan maksimum seluruh beban komposit.
4. Kebutuhan Maksimum (Maxsimum Demand):
Kebutuhan terbesar yang dapat terjadi dalam suatu selang tertentu.
5. Faktor Beban (LF = Load Factor):
Perbandingan antara beban rata-rata dengan beban puncak yang diukur untuk
suatu periode wakt tertentu (beban puncak sesaat atau beban puncak rata-rata
dalam interval tertentu).
beban rata rata
LF
beban puncak
untuk suatu perioda tertentu.
Dapat diketahui dari kurva beban.
6. Faktor Kebuthan ( DF = Demand Factor):
Perbandingan antara beban puncak dengan beban terpasang.
beban puncak
faktor kebutuhan ( DF )
beban terpasang
untuk suatu perioda tetentu.
- Beban terpasang adalah jumlah kapasitas dari semua beban sesuai dengan
kapasitas yang tertera pada papan nama (plate name).
Besarnya faktor kebutuhan dipengaruhi oleh:
a. Besarnya beban terpasang.
b. Sifat pemakaian.
7. Faktor Diversivitas (FD = Diversity Factor):
Perbandingan antara jumlah demand dari unit-unit beban terhadap demand
-

maksimum dari keseluruhan beban.


demand maksimum unit beban
FD
demand maksimum beban

FD

D1 D2 D3 L Dn
Dg
n

FD

D
i 1

Dg

Atau:
Dengan:
Di
= maxisimum demand Of Load i
Dg
D1 2 3 L n
=

DF

maksimum demand
total connected demand (TCD )

Atau:
Maximum demand = TCD x DF
n

FD

TCD DF
1

i 1

DG

Dengan:
TCDi = Total connected demand of group.
TFi = Demand faktor of group.
8. Faktor Konsiden (FC = Coincidence Factor):
Perbandingan antara demand maksimum seluruh beban dengan jumlah demand
maksimum masing-masing unit beban.
Demand maksimum beban
FC
demand maksimum unit unit beban
FC

Dg
n

D
i 1

FC

1
FD

sehingga
9. Faktor Rugi-Rugi Beban (FLS =Loos Factor):
Perbandingan antara rugi daya rata-rata terhadap rugi daya pada beban puncak
pada periode waktu tertentu.
Rugi Daya Rata rata
FLS
Rugi Daya Pada Beban Puncak
Persamaan empiris dari Buller dan WodDrow:
FLS 0,3 ( LF ) 0, 7 ( LF ) 2 .
10. Faktor Penggunaan (UF = Utility Factor):
Perbandingan antara demand maksimum dengan kapasitas nominal dari sistem
pencatu daya.
Demand Maksimum Sistem
UF
Kapasitas No min al Sistem

Contoh-contoh
1)

Pada trafo distribusi DT 427 terhubung beban 6 unit dengan masing-masing 9 kW, FD
= 1,80 dan DF = 0,65.
Tentukan: Dg
Penyelesaian
6

FD

TCD DF
i 1

Dg

Dg

TCD DF
i 1

FD
6

Dg

9 Kw 0, 65
i 1

1,1
6 9 Kw 0, 65

31,9 Kw
1,1

2) Data beban seperti pada tabel beban puncak pada pukul 5 (17:00).
Tentukanlah:
a.
b.
c.
d.

Constribution factor untuk setiap kelompok beban


FD
Dg
FC

Penyelesaian:

Cst

0 KW
0
100 KW

a.

600 KW
0, 6
1000 KW
1200 KW
Cst
0,1
1200 KW
Cst

FD

i 1

DG

b.
n

Dg

Di

i 1

D
i 1

C D C D
i 1

i 1

100 1000 1200


0 100 0, 60 1000 1, 0 1200
1, 278

FD

c.

D
i 1

Dg

Atau:
n

Dg

i 1

FD

100 1000 1200


1, 278
1800 KW

FC
d.

Dg
n

D
i 1

Atau:

FC

1
FD

1
1, 278
0, 7825

JATUH TEGANGAN TEGANGAN PADA JARINGAN DISTRIBUSI


SEKUNDER

= I (R Cos + X Sin )

= Tahanan Jaringan

= Reaktans Jaringan

= Arus yang melalui R dan X

Cos = Faktor Daya


Total jatuh tegangan dari beberapa jalur jaringan:
V = I (R Cos + X Sin )

Contoh:
1. Sebuah jaringan distribusi bolak-balik dengan panjang 500 m mempunyai
impedans total Z = 0,02 + j 0,04 . Dan jaringan diisi (disuply) dari satu ujung
dengan tegangan pengisian 250 V. pembebanannya adalah sebagai berikut:
a. 50 A dengan Cos = 1, saluran 200 m dari titik pengisian.
b. 100 A dengan Cos = 0,8 lag, saluran 300 m dari titik pengisian.
c. 50 A dengan Cos = 0,6 lag, pada ujung saluran.
Hitunglah:
- Tegangan jatuh total.
- Tegangan di ujung saluran.
Penyelesaian:

METODA I : Vektor Arus.


- Arus Pada Seksi AD:
IAD = 50 + 100 (0,8 j 0,6) + 50 (0,6 j 0,8)
= (160 j 100) A
- Impedansi Seksi AD:
ZAD = (200/500) (0,02 + j 0,04)
= (0,008 + j 0,016)
- Jatuh tegangan pada seksi AD:
VAD = (160 j 100) (0,008 + j 0,016)
= (2,88 + j 1,76) Volt
- Seksi DC:
IDC = (160 j 100) 50 = (110 j 100) A
ZDC = (0,004 + j 0,08)
VDC = (110 j 100) (0,04 + j 0,008)

= (1,24 + j 0,48) Volt


Seksi EB:
ICB = 50 (0,6 j 0,8) = (30 j 40) A
ZCB = (0,008 + j 0,016)
VCB = (30 j 40) (0,008 + j 0,016)
= (0,88 + j 0,16) Volt

Jatuh tegangan total:


V = VAD + VCB + VCB
= (2,88 j 1,76) (1,24 + j 0,48) (0,88 + j 0,16)
= (5 + j 2,4) Volt
Tegangan pada ujung jaringan:
VB = (250 + j 0) (5 + j 2,4)
= (245 j 2,4) Volt

245

2, 4

Vp
245 Volt

METODA II : Komponen Arus Akktif dan Reaktif.

Komponen arus aktif:


50 x 1 = 50 A; 100 x 0,8 = 80 A; 50 x 0,6 = 30 A
Komponen arus reaktif:
50 x 0 = 0; 100 x 0,6 = 60 A; 50 x 0,8 = 40 A

Komponen aktif:

Komponen reaktif:

( V) aktif = 50 x 0,088 + 80 x 0,012 + 30 x 0,02


= 1,96 Volt
( V) reaktif = 60 x 0,024 + 40 x 0,04
= 3,04 Volt
( V) AB = 1,96 + 3,04 = 5,0 Volt

METODA III : Menentukan Pertengahan Pusat Beban (Center Of Gravity = CG).


CG

50 200 100 300 50 500


325 m
200

Tahanan sampai CG = 325 x 0,02/500 = 0,013


Reaktans sampai CG = 325 x 0,04/500 = 0,026

Rata-rata faktor daya =

50 1 100 0,8 50 0, 6
0,8
200

(Cos ) rata-rata = 0, 8 (Sin ) rata-rata = 0,6


V = 200 (0,013 x 0,8 + 0,026 x 0,6)
= 5,2 Volt

2. Sistem 3 fase, 3 kawat, 240 V distribusi sekunder dengan beban seimbang pada A,
B dan C seperti pada gambar.

Tentukanlah:
a. VD (Voltage Drop) total.
b. Daya Real P per fase.
c. Daya Reaktif Q per fase.
d. KVA trafo distribusi dan Cos beban trafo.
Penyelesaian:
a. VD = I (R Cos + X Sin )
VDA = 30 (0,05 x 1,0 + 0,01 x 0) = 1,5 Volt
VDB = 20 (0,15 x 0,5 + 0,03 x 0,866) = 2,62 Volt
VDC = 50 (0,20 x 0,9 + 0,08 x 0,436) =10,744 Volt
VD = VDA + VDB + VDC
= 1,5 + 2,02 + 10,744 = 14,264 Volt
b. P = VI Cos
PA = 240 x 30 x 1 = 7,2 KW
PB = 240 x 20 x 0,5 = 2,4 KW
PC = 240 x 50 x 0,9 = 10,8 KW
P = P A + PB + PC
= 7,2 + 2,4 + 10,8 = 20,4 KW
c. Q = VI Sin
QA = 240 x 30 x 0 = 0 KVAR
QB = 240 x 20 x 0,866 = 2,4 KVAR
QC = 240 x 50 x 0,436 = 5,232 KVAR
Q = Q A + QB + QC
= 9,389 KVAR
d. KVA output trafo distribusi

20, 4

S
2

9,389

22,457 KVA/fase

Total KVA Trafo


S = 3 x 22,457
67,37 KVA

Cos

P
S

20, 4
22, 457
0, 908 lag

3. Distribusi 1 fasa dengan tahanan serta reaktans saluran dan pembebanan seperti
yang digambarkan berikut ini:

Hitunglah:
- Tegangan supply VS
- Sudut fasa antara VS dan VB
Jawab:
Total impedans jaringan:
ZT = (0,2 + j 0,3) + (0,2 + j 0,3) = 0,4 + j 0,6
VB = (2 . . . + j 0)
IB = 100 (0,8 j 0,6) = (80 j 60) A
Drop tegangan pada AB:
VAB = (80 j 60) (0,2 + j 0,3) = (34 + j 12) A
VA = VB + VAB = (240 + j 0) + (34 + j 12) = (274 + j 12) Volt
Beda sudut antara VA dan VB:

12
20301
274
B Cos 1 (0, 6) 53061

tan 1

I A 100 (Cos 500381 j Sin 500381 )


963, 4 j 77,3 A
I IA IB
I (63, 4 j 77,3) (80 j 60) (143, 4 j 137,3) A

Drop tegangan pada SA:


VSA = (143,4 j 137,3) (0,2 + j 0,3) = (69,87 + j 15,56) A
VS = VA + VSA
= (274 + j 12) + (69,87 + j 15,56)
= (343,9 + j 27,6)

= 345

50281

Maka:
-

Tegangan supply VS = 345 Volt


Sudut fase antara VS dan VD = 50281

4. Sebuah jaringan distribusi ring ABC dan pengisian pada titik A. Beban pada titik
B dan C yaitu pada titik B = 20 A dengan p.f = 0,8 lag, di titik C = 15 A dengan
p.f = 0,6 lag. Seperti pada gambar.

Impedans masing-masing seksi:


AB = (1 + j 1)
BC = (1 + j 2)
AC = (1 + j 3)
Hitunglah:
a. Arus yang disupply masing-masing.
b. Arus masing-masing seksi.
Jawab: dengan menggunakan teori Thevenin.
Arus AB : IAB = 20 (0,8 j 0,6) = (16 j 12)
IAC = 15 (0,6 j 0,8) = (9 j 12)

Drop tegangan:
VAB = (16 j 12) (1 + j 1) = (28 + j 4) A
VAC = (9 j 12) (1 + j 3) = (45 + j 15)
Beda tegangan B dan C:
(45 + j 15) (28 + j 4) = (17 + j 11) Volt
Ekivalen Thevenin:

VT = (17 + j 11) Volt


ZT = (2 + j 4)
Arus pada BC:
17 j 11
I I BC
(2 j 4)(1 j 2)
(2, 6 j 1, 53) A
Arus pada AB = (16 j 12) + (2,6 j 1,53)

= (18,6 j 13,53) = 23
360 A
Arus pada AC = (9 j 12) + (2,6 j 1,53)

= 6,4 j 10,5 = 13,2


60,90 A
Total pada arus pengisian pada titik A:
= (16,0 j 12) + (9 j 12)

= (25 j 24) = 34,6


43,80 A

5. Jaringan distribusi ring ABCD, dengan pengisian dari ujung A mensuply beban
yang seimbang beban pada titik B = 50 A dengan p.f = 0,8 lag.
Titik C = 120 A dengan p.f = 0,8 lag.
Titik D = 70 A dengan p.f = 0,866 lag dan referensi ke titik A.
Impedansi per fase dari masing-masing saluran adalah : ZAB = (1 + j 0,6) ;
ZBC = (1,2 + j 0,9) , ZCD = (0,8 + j 0,5) .
Tentukanlah arus masing-masing.
Jawab:

Misalkan arus pada seksi AB:


IAB = X + j Y
Maka:
IBC = (X + j Y) 50 (0,8 j 0,6)
= (X 40) + j (Y + 30)
ICD = (X 40) + j (Y + 30) (120 + + j 0)
= (X 160) + j (Y + 30)
IDA = (X 160) + j (Y + 30) 70 (0,866 j 0,5)
= (X 220,6) + j (Y + 65)

Pada Rangkaian tertutup ABCDA:


V = 0 (Hukum Kircoff)
(1 + j 0,6) (X + j Y) + (1,2 + j 0,9) [(X 40) + j (Y + 30)] + (0,8 + j 0,5) [(X
160) + j (3,0)] + (3 + j 2) [(X 2246) + j (Y + 65)] = 0
Maka: 6 X 4 Y + 1009,8 = 0 dimana X = 139,7 dan Y = - 42,8
4 X + 6 Y 302,2 = 0
Sehingga Arus Pada Seksi-Seksi:
AB = (139,7 j 42,8) A
BC = (99,7 j 12,8) A
CD = ( - 20,3 j 12,8) A
DA = ( - 80,9 j 22,2) A
6.

Jaringan distribusi ring ABC disuplai dari titik A dengan tegangan 400 V. bebanbeban di titik B dan C serta impedans jaringan diberikan seperti data pada gambar
jaringan berikut:

Tentukan:
a. Arus yang terakhir pada masing-masing seksi (I1, I2, I3).
b. Tegangan pada titik B dan C
Jawab: menggunakan teorema Superposisi

(1 j 3) (2 j 3)
(1 j 2) (1 j 3) (2 j 3)
(3 j 6)
(16 j 12)
(12 j 9) A
(4 j 8)

I11 (16 j 12)

I 21 (16 j 12) (12 j 9)


(4 j 3) A

I111 (18 j 24)

1 j 3
4 j 8

(7,5 j 7,5) A

I 211 (18 j 24) (7,5 j 7,5)


(10,5 j 16,5) A

Maka:
I1 I11 I111 (12 j 9) (7,5 j 7,5)
(14,5 j 16,5) A
I 2 I 21 I 211 (4 j 3) (10,5 j 16,5)
(14,5 j 19,5) A
I 3 I111 I121 (7,5 j 7, 5) (4 j 3)
(3,5 j 4, 5) A

Tegangan di:
Titik B: VB = 400 VAB
= 400 (19,5 j 16,5) (1 + j 2)
VB = 347,5 j 22,5 = 348

3,70 Volt

Titik C: VC = 400 VAC


= 400 (19,5 j 16,5) (1 + j 3)
VB = 327 j 24 = 328

4,20 Volt

Karakteristik listrik kabel Twisted TR:


Penampan

Tahanan

g Nominal

(ohm)

(mm2)
16
25
35
50
70

Ohm/km
2,42
1,52
1,10
0,81
0,54

Reaktansi
pada f = 50
Hz
Ohm/km
0,10
0,10
0,10
0,10
0,10

Arus yang diijinkan (A)


200C
85
110
135
160
200

300C
80
100
125
145
135

400C
70
95
110
135
170

JATUH TEGANGAN (VOLTAGE DROP)


PADA JARINGAN DISTRIBUSI PRIMER 20 KV

Toleransi tegangan ukur untuk jaringan disribusi primer adalah 5 % (V =


5%) dari tegangan operasi (U) sistem. Besarnya jatuh tegangan mempengaruhi
pemilihan penampang pengahantar dan panjang saluran sesuai dengan besarnya
beban atau daya yang disalurkan melalui jaringan itu.
Metode perhitungan

V 100 P L

( R x tag )
U
U2

Dengan:
R = Tahanan penghantar per km (/km)
U = Tegangan antar fase (kV)
P = Daya aktif pada saluran (line) [MW]
I

= Arus fasa (A)

X = Reaktans per fase (/km)


= Sudut fasa
d

= Jatuh tegangan (%)

MOMEN LISTRIK (M)


M

P L
2

, beban terdistribusi merata sepanjang saluran.

P x L: Beban 3 fasa seimbang (MW-KW), dengan P terpusat diujung saluran (L).


Unit momen (M1) dari suatu saluran adalah momen listrik dengan jatuh tegangan d %.
U2
1
M1

100 R X tag
Sehingga:
M d M1

Tabel 1 : Data Penghantar


JENIS
Under ground
Cable (AL)
Over Head
Lings (AL
Alloy)

SECTION
(mm2)
240
150
95
228
150
70
35

R(300C) /km R(500C) /km


0,150
0,124
0,519
1,359

0,140
0,231
0,359
-

X /km
0,1
0,1
0,1
0,35
0,35
0,35
0,35

Tabel 2 : Unit-unit Momen dengan Tegangan Kerja 20 kV, pada cos (faktor
daya) yang beda.

Conduktor (AL)
Type
S(mm2)
95
U/6
150
Cables
240
35
70
O/H lines
150
228

1
11,14
17,32
28.50
3,99
7,71
17,69
26,67

0,95
1,21
15,16
23,13
3,56
6,51
11,46
15,09

Faktor Daya
0,9
0,85
9,82
9,50
14,32
13,65
21,23
19,80
3,41
3,28
5,81
5,43
9,93
8,87
13,54
19,90

0,8
9,21
13,65
18,60
3,16
5,12
8,05
9,69

0,7
8,68
12,01
16,51
2,94
4,57
6,77
7,89

Catatan: untuk tegangan kerja dari sistem bukan 20 kV, maka harga pada tabel

dikalikan dengan harga

u

20

Contoh: untuk 30 kV dikali dengan 2,25; untuk 12 kV dikali dengan 0,36.


Tabel 3 : Batas Kapasitas Arus Konduktor Hantaran Udara 20 kV
Material
AL - Alloy

S(mm2)
35
70
150
228

Intensity (A)
138
207
340
445

Power (MVA)
4,8
7,2
11,8
15,4

Catatan: Temperatur sekeliling 370C dan Temperatur konduktor 700C untuk kerja 20
kV.
Tabel 4: Untuk Kabel Tanah, Beban Berubah-ubah, AL Kabel screen dengan isolasi
kertas.
S(mm2)
240
150
95

Inground (A)
430
320
245

In Air (A)
340
250
195

Untuk dua atau lebih kabel tanah di pasang berdekatan harus dikalikan dengan faktor
group:
Number of cables
Group Factor

2
0,9

3
0,8

4
0,75

5
0,7

6
0,65

CONTOH:
1. Konduktor Aluminium isolasi kertas jenis screen dengan luas penampang 3 x
95; 3 x 50 dan 3 x 240 mm2. Daya maksimum yang dapat disalurkan kabel:
3 x 95 mm2 = 8,5 MVA
3 x 150 mm2 = 11,1 MVA
3 x 240 mm2 = 14,9 MVA
Bila cos rata-rata beban 0,8 dan Conincident Factor pembebanan kabel
tanah 0,8.
- Kabel AL 3 x 95 mm2 :
P = 0,8 x 0,8 x 8,5 = 5,44 MW
M1 = 9,21 MW-km Untuk Cos = 0,8
L = 8 km (panjang rata-rata kabel untuk sisem spindel)
P L 5, 44 8
d

4, 725%
M1
9, 21
Sistem beban terdistribusi sepanjang saluran:
4, 75
d
2,363%
2
Jika diinginkan u = 5%
P L
5 9, 21
5% L
8, 46 8, 46 km
M1
5, 44
-

Sistem beban terdistribusi sepanjang saluran: L = 2 x 8,46 = 16,93 km.


Kabel AL 3 x 150 mm2 :
P = 0,8 x 0,8 x 11,1 = 7,104 MW
M1 = 13,07 MW-km
L = 8 km
P L 7,104 8
d

4, 348%
M1
13, 07
d

Beban terdistribusi sepanjang kabel:


Untuk d = 5%
PL
5%
M1
L

4, 348
2,174%
2

5 13, 07
9, 2 km
7,104

Beban terdistribusi sepanjang saluran: L = 2 x 9,2 = 18,4 km.


2.

Beban di D: 5 MVA, Cos = 0,8


Daya aktif PD = 4,0 MW
C: 5 MVA, Cos = 0,8
Daya aktif PC = 2,4 MW
E: 5 MVA, Cos = 0,8
Daya aktif PE = 2,7 MW
Saluran dari gardu induk sampai titik A:
Momen listrik:
M = (4 + 2,4 + 2,7) MW x 2 km.
= 18,2 MW-km

Cos rata-rata

9,1
0,83
11

Unit momen (konduktor 3 x 150 mm2), Cos = 0,83:


M1 = 8,6 MW-km
Maka tegangan jatuh gardu induk A
d1

18, 2
2,12 %
8, 6

Saluran A B
M = (2,7 + 2,4) x 3 = 12,3 MW-km

d1

Cos rata-rata

5,1
0,85
6

Unit momen (konduktor 3 x 70 mm2, Cos = 0,85):


M1 = 5,43 MW-km
Jatuh tegangan A B:
d2

12,3
2, 26 %
5, 43

Saluran B C
M = 2,4 MW x 5 km = 12 MW-km
M1 untuk konduktor 3 x 35 mm2, Cos = 0,8:
M1 = 3,18 MW-km
Jatuh tegangan B C:
d3

12
3, 77 %
3,18

Saluran A D
M = 4 MW x 4 km = 16 MW-km
M1 = 5,12 MW-km
Jatuh tegangan A D:
d4

16
3,12 %
5,12

Saluran B E
M = 2,7 MW x 4 km = 10,8 MW-km
M1 = 3,14 MW-km
Jatuh tegangan B E:
d5

10,8
3,17 %
3,14

Maka total jatuh tegangan dari:

Gardu Induk sampai D : d = 2,12 + 3,12 = 5,24 %


Gardu Induk sampai C : d = 2,12 + 2,26 + 3,77 = 8,15 %
Gardu Induk sampai E : d = 2,12 + 2,26 + 3,17 = 7,55 %

PEMAKAIAN KAPASITOR SERI DAN SHUNT

Pemakaiann Kapasitor Sri dan Shunt


1. Kapasitor Seri:

Tegangan jatuh pada feeder:

VD IR cos IX L sin
= Tahanan Jaringan

XL

= Reaktansi induktif jaringan

Cos = Faktor daya penerima


Z1

= R + j (XL - XC)

VD IR cos IX L sin
XC

= Reaktansi kapasitas kapasitor seri

2. Kapasitor Shunt.

Dengan :

R = Tahanan total feeder ()


XL = Reaktansi induktif feeder ()
IR = Komponen arus real (A)
IX = Komponen arus reaktif (A)

V D I R R I X X L IC X C

IC

Volt

= Komponen arus reaktif leading tehadap tegangan 900 [A]

Koreksi Faktor Daya

Faktor daya = Perbandingan daya aktif (KW) dengan daya semunya [KVA]

P V I Cos

Cos
S
V I

Sebelum kapasitor dipasang

Cos 1

Cos 1

P
S1

Q12

Cos 1
Ketika kapasitor QC kVA dipasang pada beban, faktor daya

akan berubah ke

Cos 2
.

Cos 2

Cos 2

S1

P
P 2 Q12

P Q Q
2

Contoh-Contoh:
1. Andaikan motor induksi tiga fase, 500 HP, 60 Hz, 4160 Volt dihubungkan
secara Y, dan efisiensi beban penuh 88%, faktor daya 0,75 (lagging) dan
dihubungkan pada suatu feeder. Jika diinginkan koreksi faktor daya jadi 0,9
(lagging) dengan menghubungkan tiga kapasitor pada beban.
Tentukanlah:
a. Rating kapasitor (kVAR).
b. Kapasitans setiap kapasitor jika dihubungkan secara (F).
c. Kapasitans setiap kapasitor jika dihubungkan secara Y (F).

Jawab:
a. Daya input motor induksi:
(500 HP )(0, 7457 kW / HP)
P
0,88
423, 69 kW
Daya reaktif motor sebelum faktor daya di koreksi:
Q1 P tan 1
423, 69 tan (Cos 1 0, 75)
423, 69 0,8819
Q1 373, 7 kVAR

Daya reaktif motor setelah faktor daya di koreksi:


Q2 P tan 2
423, 69 tan (Cos 1 0,90)
423, 69 0, 4843
Q2 205, 2 kVAR

Daya reaktif kapasitor yang dipasangkan:


QC Q21 Q2
373, 7 205, 2
QC 168,5 kVAR
b. Kapasitor dihubung :
QC
IL
3 VLL
168,5
3 4,16
23, 41 A

IC

IC
3

23, 41
2

I C 13,53 A

XC

VLL 4160

307,38
I C 13, 53

Jadi kapasitans tiap kapsitor hubung :

106
106

wX C 2 fX C

106
2 60 307,38
517,78 F

c. Kapasitor dihubung secara Y


I L I L 23, 41 A
XC

VL N
IC

4160
3 23, 41
102, 72

106
106

2 fX C 2 60 102, 72

C 25,82 F
2. Beban 360 kW pada faktor daya lagging dihubungkan dengan feeder satu fase
2,4 kV dan arus beban 200 A. Jika diinginkan memperbaiki faktor daya
tentukan:
a. Faktor daya sebelum di koreksi dan beban resistif.
b. Faktor daya yang baru kalau dipasang kapasitor dengan rating 300 kVAR.
Jawab:
a. Sebelum faktor daya dikoreksi
S1 V I
2, 4 200 480 kVA
Cos 1

P 360 kW

S1 480 kVA

Cos 1 0, 75
Q1 S1 Sin (Cos 1 1 )
Q1 317, 5 kVAR

b. Setelah kapasitor 300 kVAR dipasang


Q2 Q1 QC
317,5 300
Q2 17,5 kVAR
Faktor daya baru:

Cos 2

P Q Q
2

360
360 2 17,52

0, 9989

Cos 2 99,89 %
3. Suatu sistem dengan transformator bank tiga trafo 2000 kVA, utuk melayani
beban puncak 7800 kVA pada faktor daya 0,89 lag. Ketiga trafo mempunyai
thermal capability 120 % dari ratingnya. Telah tersedia untuk dipasang
kapasitor shunt 1000 kVAR pada feeder untuk memperbaiki regulasi
tegangan.
Tentukanlah:
a. Apakah diperllukan pemasangan kapasitor tambahan pada feeder untuk
menurunkan beban ke thermal capability trafo.
b. Rating kapasitor tambahan.
Jawab:
a. Sebelum pemasangan kapasitor 1000 kVAR
P S1 Cos
7800 0,89 6942 kW
Q1 S1 Sin
7800 0, 456 3556,8 kVAR
Setelah pemasangan kapasitor 1000 kVAR
P
Cos 2
2
P 2 Q1 QC

6942

6942

2556,8

0,938
Cos 2 0,938 93,8 %
S2

P
6942

Cos2 0,938

7397,9 kVA

Transformator Capability:
ST 6000 1, 2
7200 kVA
Jadi pemasangan kapasitor 1000 kVAR tidak cukup. Maka penambahan
kapasitor diharuskan.
b. Koreksi faktor daya baru:

Cos 2

P
ST

6942
7200
0,9642

2 , baru P tan 2 , baru


P tan(Cos 1 2 , baru )
6942 0, 2752
1910 kVAR

Tambahan kapasitor
QC , tambah Q2 Q2 , baru
1556,8 1910
6942 0, 2752
646, 7 kVAR

TRANSFORMATOR DISTRIBUSI
Ditinjau dari Hubungan Kumparan
a. Y y:

b. Segitiga (Delta = D) = :

c. Hubungan Y - :

Pergeseran fasa 300 antara tegangan line dari sisi primer dan sekunder.
d. Hubungan - Y:
Pergeseran fasa
300 antara tegangan line.

VUW dengan VUW


VWV dengan VWV
VVU dengan VVU

Tegangan titik bintang


Apabila fluks total tidak sama dengan nol dalam trafo tiga fasa, maka jumlah
tegangan terinduksi ke tiga fasa juga tidak nol.
ENR = ER + Eb
ENS = ES + Eb
ENT = ET + Eb
0 = ER + ES + ET + 3Eb
ER + ES + ET = 3Eb
Penyebab tegangan tidak bintang:

Beban tidak simetris.


Bentuk dan konstruksi ini tidak simetris.
Bentuk dari lengkung B H tidak linier.

Menghindari terjadinya tegangan titik bintang:

Menghubungkan titik bintang dengan tanah.


Menghubungkan kumparan sekunder dalam hubungan zig zag (Z).

Sekunder hubungan Z:

ER E1 E2
ES E2 E3
ET E3 E1
ER ES ET 0

Angka Jam:
Angka jam adalah bagaimana kumparan-kumparan sekunder terhadap sisi
kumparan sisi primer.

Golongan-golongan

hubungan

yang lazim menurut standart VDE (Verband Deustcher Elektroteckniker).

W1 = jumlah belitan tiap fasa sisi primer


W2 = jumlah belitan tiap fasa sisi sekunder

E1
E2

Kerja Transformator Paralel


Tujuan:

Untuk mengimbangi adanya pertambahan beban.


Untuk menjaga agar pelayanan tetap berjalan seandainya ada kerusakan pada
salah satu transformator.
Syarat-syarat yang harus di penuhi:
1.
2.
3.
4.

Rating tegangan trafo sama.


Angka transformasi sama (a1 = a2 = a3).
Frekuensi kerja trafo sama.
Polaritas/angka jarum jam sama, jika tidak sama ada arus sirkulasi yang dapat

merusak.
5. Tegangan hubung singkat trafo harus sama.
Tegangan hubung singkat adalah besar tegangan pada sisi primer apabila sisi
sekunder dihubung singkat dan arus sisi primer mencapai arus nominalnya.
Jika tidak sama. Pembebanan trafo tidak akan seimbang.
Contoh:
Tiga buah trafo satu fasa dihubung paralel trafo.
T1 = 50 kVA, tegangan hubung singkat VSC1 = 5%
T2 = 100 kVA, VSC2 = 5%
T3 = 150 kVA, VSC1 = 4%
Jawab:
50 100 100
:
:
3 5
4
16, 66 : 20 : 37,5

I1 : I 2 : I 3

16, 66
300 67 kVA
74,16
20
S 21
300 81 kVA
74,16
37,5
S31
300 152 kVA
74,16
S11

T1 dan T3 mengalami pembebanan lebih:


S1 50 kVA

S11 67 kVA

S3 150 kVA

S31 152 kVA

Contoh:
Trafo 3 fasa dengna hubungan , 150 kVA, 2300/115 Volt, melayani
beban 3 fase, 100 KW dengan faktor daya Cos = 0,8 lag. Hubungan Y, 115 Volt.
Tentukan besar arus yang mengalir pada sisi sekunder dari trafo dan arus pada sisi
primer.
Penyelesaian:

P 3. V I Cos

P
3. V Cos
Arus beban : Ib = I2 =

100 .103
627, 6 A
3 .115 . 0,8

Jadi arus pada sisi sekunder (arus line) I2 = 627,6 A.


(627, 6) / 3 362,35 A

Arus tiap fase =

V1 2300

20
V2 125

I1 (line) 1
627, 6
I1
31,38 A
I 2 (line) a
20

Jadi arus yang mengalir pada sisi primer I1 = 31,38 A.

31,38
18,11 A
3
Arus tiap fase =

TRANSFORMATOR KHUSUS
1. Hubungan Delta Terbuka (Hubungan V):
Pada hubungan trafo bank yiga fasa bila tidak ada tiga buah trafo 1 fasa, maka
dapat digunakan dua buah trafo 1 fasa yang dihubungkan secara terbuka.
Atau.
Bila suatu trafo 3 fasa dalam hubungan - , yang terdiri dari 3 buah trafo 1
fasa, salah satu trafo tersebut rusak (untuk diperbaiki) maka salah satu
tersebut dapat dilepas dan trafo masih tetap bekerja dalam sistem tiga fasa
dengan hubungan delta terbuka (hubungan V).
Trafo Hubungan - :

Trafo Hubungan V:

IA = I R
IB = - I T
IC = 0

Trafo Hubungan :
Tegangan fasa

= V volt

Arus fasa

=IA

Tegangan line

= V volt
3.I A

Arus line

Trafo Hubungan V:
Arus Line = Arus Phasa = 1 A
3 .V

Tegangan line =

volt

P 3 . V . VL . I L Cos
Daya:
P 3 . V . ( 3. I ) Cos

P V 3 . V . I Cos

Sehingga:

P
3 . V . 3 . I Cos

3
PV
3 . V . I Cos

PV

1
. P 0,58 PV
3

PV 0,58 P

Daya nominal yang dapat diberikan oleh 2 trafo (dalam hubungan V) adalah 2/3 daya
nominal dari 3 trafo (hubungan - ).
Atau: Daya nominal yang dapat diberikan oleh 2 trafo dalam hubungan V = 67% dari
daya nominal 3 trafo 1 fasa.
Daya keluaran yang dapat diberikan oleh dua trafo hubungan V:
58
100 % 86, 6 %
67

2. Hubungan T:

Trafo u v disebut trafo main (trafo A).


Trafo o w disebut trafo teaser (trafo B).
Trafo main di tap di tengah-tengah untuk mendapatkan titik nol (0).

Vuo Vov
1
3
Vow 3 . Vuv
Vuv
2
2
Vow 0,886 Vuv

Jadi dalam hubungan T, rating tegangan teaser adalah : 0,866 rating tegangan main.
Bila arus line dari hubungan T = I A, maka rating daya dari dua trafo main dan teaser

( P2 )

P2 VI 0,866 VI
VI (1 0,866)
PT 3 . V . I

Sehingga:

PT
3 .V . I
3

0,926
P2 (1 0,866) V . I (1 0,866)
PT 0,926 P2

3. Hubungan Scott:
Sisi primer hubungan dua fasa dan sisi sekunder hubungan tiga fasa.

Trafo A dan trafo B sama. Primer dihubungkan dua fasa sisi sekunder
dihubungkan dalam sistem 3 fasa, titik 0 diambil di tengah-tengah trafo A pada
kumparan sekunder.
VOT 0,866 VRS

Hubungan scott dengan 2 :


Sumber 3 :

Hubungan scott dengan beban 1 :

Contoh:
1. Trafo hubungan Y terbuka - terbuka (open Y open )
Transformator connection.

2. Dua trafo 1 fasa dihubungkan secara open Y, open - , untuk melayani


beban: 3 fasa, 100 kVA dengan faktor daya Cos = 0,80 lag. Dan beban 1 fasa
50 kVA dengan faktor daya Cos = 0,90 lag. Andaikan tegangan di sisi
primer adalah 7620/13200 Volt dan tegangan di sisi sekunder 240 Volt.
Tentukanlah:
a. Arus yang mengalir di saluran sekunder.
b. Arus yang mengalir di belitan sekunder trafo.
c. Arus yang mengalir di saluran primer.
Penyelesaian:

a.

V an

diambil sebagai acuan.

I A ,3 I b ,3
I c ,3

I c ,3

S L ,3
3 VL L
100
240,8 A
3 240

Beban 3 fasa, dengan Cos 3 = 0,8 lag.

Sehingga:

I a ,3 I a ,3 (Cos3 j Sin3 )
240,8(0,8 j 0, 6)
192, 68 j 144, 5
240,8 36,90 A)

I b ,3 (1 2400 )(240,8 36,90 )


221,5 203,10
221,5 j 94,5 A)

I c ,3 (1 1200 )(240,8 36,90 )


240,8 83,10
28,9 j 239,1 A)

I 1

S L ,1
50

208,33 A
VL L
0, 24

Atau:
I 1 I 1 cos(300 ) j sin(300 1 )
208,33 cos(300 25,80 ) j sin(300 25,80 )
208,33 (cos 4, 20 j sin 4, 20 )
207, 78 j 15, 260 A

Sehingga diperoleh:
I a I a ,3 I a ,1
192, 68 j 114,5 207, 78 j 15, 26
400, 46 j 129, 24
I a 420,8 17,90

I b I b ,3 I1
221,5 j 109, 76
442,8 165, 7 A
I c I c ,3 240,8 83,10 A

b.

I ba I a
420,8 17,90 A
I cb I c
240,8 83,10 A
240,8 83,10 1800
240,8 263,10 A

S L , ba Vba I ba
c.
240 420,8 103
101 kVA

S L , cb Vcb I cb
0, 240 240,8
57,8 kVA
n

7620 v
31, 75
240 v

d.
Maka:
I ba 420,8 17, 90
IA

n
31, 75
13, 25 17, 90
12, 6 j 4, 07 A
IB

I cb 240,8 263,10

n
31, 75

7,58 263,10
0, 91 j 7,53 A

Arus pada kawat netral di primer:

IN IA IB
13, 25 17,90 7, 58 17,90
12, 6 j 4, 07 A
3.

Tentukan:
I a, Ib, Ic

a.
I A, I B , I C

b.
Sekunder

Penyelesaian:
a. Beban 1
Cos = 0,90 lag, 1 = 25,80
90 kVA
I a1
ab 1
0, 240 kV
375 300 25,80
375 (cos 4, 20 j sin 4, 20 )
374 j 27, 50
375 4, 20 A

I b1 I a1
374 27,50 375 4, 20 A
Beban 3 seimbang:
Cos 2 = 0,80 lag, 2 = 36,80
25 kVA
I Q2
Q 0 2
3 0, 240 kV
60, 2 0 0 36,80
I b 2 1 2400 I ab
1 2400 60, 2 36,80
60, 2 203, 2 0 A
I c 2 1 1200 60, 2 36,80
60, 2 83, 2 0 A
Maka:
I a I a1 I a 2
375 4, 20 60, 2 36,80
422, 04 j 8, 44
422,12 1,150 A

I b I b1 I b 2
429,33 j 51, 22
432,37 173, 2 0 A
I c I c1 I c 2
0 60, 2 c
60, 2 173, 20 A
n

7200 V
30
240 V

b.
I a 422,12 1,150
I&A

n
30
14, 07 1,150 A
Ic
60, 2 83, 20
I&B
n
30
0
2 83, 2 A
I N ( I& I&)
A

(14, 07 1,150 2 83, 20 ) A


14, 02 9,3 A

TRAFO UKUR

Untuk keperluan pemasangan alat ukur dan alat proteksi pada instalasi
tegangan tinggi, tegangan menengah dan tegangan rendah diperlukan trofo ukur,
yaitu:
Trafo tegangan
Trafo arus
1. Trafo tegangan (PT).
Trafo yang berfungsi untuk menurunkan tegangan tinggi atau menengah menjadi
tegangan rendah besaran yang sesuai dengan alat-alat ukur atau alat pengaman
yang dipakai.

V1
=a
V2
V 1= A V 2

Besaran pengenal (rating) dari PT:


Rating tegangan primer:

3 fasa
1 fasa

, harga nominal tegangan sistem.

2.

Tegangan sekunder:
Eropa : 100,110 dan 200 volt.
AS dan kanada: 115, 120 dan 200 volt.
Keluaran (VA)
Standart IEC, pada fakto daya 0,8 lag: 10, 15, 25, 30, 50, 75, 100, 150, 200, 300,
400, 500.
Kelas Penelitian :
Untuk pengukuran: 0,1; 0,2; 0,5; 1,0;3,0
Untuk alat proteksi: 3P, 6P
Trafo arus (CT).
Trafo yang berfunsi untuk menurunkan arus besar pada tegangan tinggi atau
tegangan menengah menjadi arus kecil (biasanya disebut aus sekunder) yang
sesuai dengan alat ukur atau alat pengaman yang dipakai.

Tanpa rugi-rugi daya :


Daya input=daya output
V1I1 = V2 I2
1
I1 = I 2
a
Besaran Rating CT
Rating arus
Primer 10; 12,5; 15; 20; 25; 30; 40; 50; 60; 70 A (dan untuk harga
selanjutnya adalah kelipan 10, 100, 1000 dari nilai arus diatas).
Sekunder : 1; 2 dan 5 A
Rating output (burden):
Pada rating arus sekunder: 2,5; 5; 10; 15; 30 {VA}
Kelas ketelitian:
Penggunaan di laboratorium: 0,1; 0,2.
Untuk pengukuran: 0,5; 1,0.
Untuk keperluan proteksi: 3; 5.

TIANG LISTRIK

Jenis Tiang listrik:


1. Berdasarkan fungsinya:
1) Tiang awal/akhir adalah tiang yang dipasang pada permulaan dan akhir
penarikan kawat hantaran, dimana gaya tarikan kawat bekerja terhadap tiang
dari satu arah.
2) Tiang penyangga adalah tiang yang dipasang pada saluran listrik yang lurus
dan hanya berfungsi sebagai penyangga kawat penghantar, dimana gaya yang
dialami oleh tiang adlah gaya karena berat kawat.
3) Tiang sudut adalah tiang yang dipasang pada saluran listrik, dimana pada
tiang tersebut arah pengantar membelok.
4) Tiang penopang adalah tiang yang digunakan untuk menyangga tiang
awal/akhir, tiang sudut agar kemungkinan tiang menjadi miring akibat gaya
tarik kawat dapat terhindar.
2. Berdasarkan bahannya:
1) Tiang kayu
2) Tiang baja
3) Tiang beton
Keuntungan tiang kayu:
a. Harganya lebih murah dari tiang besi dan tiang beton.
b. Ringan, karenanya mudah pengangkutannya.
c. Mudah mendirikan dan menanamnya.
d. Mudah diassembling, umpamanya menjadi tiang double, tiang A.
Kerugiannya tiang kayu:
a. Umurnya relatif pendek
b. Kekuatan tarik pada puncak kecil
c. Kurang baik untuk tegangan tinggi
Keuntungan tiang beton:
a. Pemeliharaan praktis nol
b. Kekuatan puncak sangat besar
c. Umur lama
Kerugian tiang beton:
a. Rapuh (mudah pecah dan patah)
b. Berat, karena untuk daerah yang sukar/berbukit sulit dipasang
c. Mengangkut dan memindahkan sukar

ISOLATOR

Fungsi isolator:
a. Fungsi dari segi listrik:
1) Untuk menyekat/mengisolasi antara kawat phasa dengan tanah
2) Untuk menyekat/mengisolasi antara kawat phasa dengan kawat phasa
b. Fungsi dari segi mekanik:
1) Menahan berat dari pengantar
2) Mengatur jarak dan sudut antar pengantar/kawat dan kawat
3) Menahan adanya perubahan kawat akibat perbedaan temperatur dan angin
Bahan isolator:
1) Isolator gelas
2) Isolator keramik
Isolator tegangan menengah:

a.

Isolator gantung (suspension Type insulato)


Isolator pasak (pintype insulator)
Isolator batang panjang (long rod insulator)
Isolator gantung, digunakan pada:
1. Tiang awal/akhir
2. Tiang sudut
3. Tiang penegang/tarik
b. Isolator pasak, digunakan pada tiang penyanggah
c. Isolator batang panjang, digunakan pada:
1. Tiang penyanggah
2. Ditempat yang banyak terjadi pengotoran garam dan debu.

ALAT PELINDUNG DAN PENGAMAN UNTUK JTM

1. Terhadap tegangan lebih


a) Dari Dalam Sistem (Internal Over Voltage)
Tegangan lebih switching : menimbulkan gejala transien.
Terjadi akibat restrike (terjadinya nyala kembali sesudah arus terputus)
antara kedua kontak pemutus.

TF

= Waktu gelombang muka


= 250S

TT

= Waktu gelombang ekor


= 2500S

b) Dari luar sistem (External Over Voltage)


Tegangan lebih atmosfer (sambaran petir)

ALAT PELINDUNG TERHADAP TEGANGAN LEBIH

(INTERNAL DAN EXTERNAL)

1.

Rod Gap dan Arcing Hom


Arrester (surge Diverte)
Kawat Tanah
Rod Gap dan Arcing Hom
Melindungi isolator terhadap surja.
Biasanya dipasang terhadap isolator atau gandengan isolator dijaringan
tegangan menengah dan tegangan tinggi.

Terjadi Loncatan Listrik pada Arching Horn

Sistem Voltage

Horn Gap

(KV)
10

(Inc)
0,5

15

20

1,625

25

1,75

30

2,25

50

2. Arrester (surge Diverter)


Fungsi:
Alat untuk melindungi isolasi atau peralatan listrik terhadap tegangan lebih yang
di akibatkan oleh sambaran petir atau tegangan transien yang tinggi dari suatu
penyambungan atau pemutusan rangkaian dengan jalan mengalirkan arus denyut
(surge current) ketanah serta mengembalikan keadaan jaringan kekeadaan semula
tanpa mengganggu sistem.
Prinsip kerja arrester:
Bila terjadi tegangan lebih pada jaringan, arrester bekerja dengan mengalirkan
arus surja ketanah. Kemudian setelah tegangan normal kembali, arrester tersebut
harus segerah memutuskan arus yang mengikuti kemudian (follow current)
Karakteristik Arrester:
a. Pada tegangan operasi normal, harus mempunyai impendansi sangat tinggi
b. Bila mendapat tegangan transient diatas tegangan tembusnya, harus tembus
(break down) dengan cepat.
c. Arus pelepasan selama break down tidak boleh melebihi arus pelepasan
nominal supaya tidak merusak

d. Arus dengan frekuensi normal harus diputuskan dengan segerah apabila


tegangan transient telah turun dibawah harga tegangan tembusnya.
Jenis-jenis Arrester:
1. Explusion Arrester
2. Valve Aarrester

1. Explusion Arrester

Metal Electrode (sebagai terminal)

External series gap gunanya untuk mengisolasi dari sistem tegangan normal.
Bila tegangan tinggi timbul pada terminal arrester, gap seri dan spark gap
dalam ruang busur akan terhubung. Arrester menjadi konduktor dengan
impendansi rendah. Proses pemutusan arus terjadi pada ruang busur bukan
pada gap seri.

2. Valve Arrester
Gap seri bertindak sebagai switch. Bila ada spark over
akibat tegangan yang cukup tinggi gap seri akan
tertutup. Sesudah tegangan kembali normal, gap seri
harus terbuka kembali dengan memutus arus ikutan
(follow

current).

Elemen

valve

mempunyai

karakteristik, bila tegangan naik, maka tahanannya


turun dengan cepat. Selama tegangan lebih mencapai
puncaknya,

proses

penurunan

berlangsung dengan cepat sekali.

tahanan

ini

akan

3. Kawat Tanah
Dipergunakan sebagai pelindung kawat-kawat fasa pada saluran udara
terhadap sambaran petir. Sudut perlindungan 200 400.

a. Harus cukup tinggi diatas konduktor fase dan agar


dapat menangkap sambaran langsung.
b. Harus mempunyai jarak yang cukup terhadap
konduktor pada tengah-tengah rentangan.

PENGAMAN ARUS LEBIH UNTUK JARINGAN TEGANGAN


RENDAH DAN JARINGAN TEGANGAN TINGGI

a. Pengaman Lebur
Fungsi:
1. Tanggap terhadap arus lebih dari sistem/peralatan yang dilindunginya,
yang oleh karenanya melebur.
2. Memutus (memadamakan) arus lebih dan tahan terhadap perubahan
tegangan balik (transient recovery voltage) yang timbul karena pemutusan
tersebut.

3. Dapat dikoordinasikan dengan alat pengaman yang lain pada sistem


tersebut agar dapat diusahakan agar daerah yang padam minimum.
Syarat-syarat pelebur (Fuse):
1.
2.
3.
4.

Daya hantarannya tinggi


Dapat melepaskan panas dengan baik
Tidak boleh mengandung oksigen
Pada waktu mencair pembentukan gas sedikit

Bahan elemen lebur:


1.
2.
3.
4.

Perak
Timbel
Seng
Tembaga

Jenis-jenis pelebur:

Pelebur tegangan rendah


Pelebur tegangan tinggi (power fuse)

Pelebur tegangan rendah


1. Pelebur sekrup
Kemampuan dari peleburan ini terbatas antara 6 s/d 100 A

Tanda warna
Hijau
Merah
Abu-abu
Biru
Kuning
Hitam
Putih
Tembaga
Coklat
Kuning emas

Arus Nominal (A)


6
10
15
20
25
35
50
60
80
100

Penggunaannya pada saluran penerangan, saluran cabang untuk motor.


2. Pelebur pipa gelas:
Harga nominalnya: 0,5 30 A
Digunakan pengaman alat-alat ukur rele.
3. Pelebur pita
Untuk instalasi penerangan maupun instalasi tenaga.
4. Pelebur kawat 2 100 A
Untuk instalasi penerangan maupun instalasi tenaga.
5. Pelebur tabung terbuka harga nominal sampai 0,6 1000 A. untuk
saluran-saluran induk jaringan tegangan rendah.
6. Pelebur tabung tertutup

Pelebur tegangan tinggi (power fuse)


1. Berdasarkan cara kerjanya:
(The current awaiting zero type)
Yaitu: peleburan yang menginterupsi sempurna setelah arus yang ditunggu
=0

Termasuk dalam jenis ini:


- Expultion fuse
- Vacum fuse

2. Pelebur pergeseran nol arus (The current zero sifiting type)


Yaitu: pelebur yang didalam waktu singkat mengubah faktor daya yang
rendah menjadi lebih tinggi dalam rangkaian, sehingga menggeser titik
arus=0 mendekati tegangan=0

Pelebur yang termasuk jenis ini ialah current limiting fuse (pelebur
pembatas arus).
- Karakteristik pelebur:
Ialah lamahnya wktu pemutusan yang tergantung dari besarnya arus
-

yang mengalir pada peleburnya.


Rating fuse:
Yaitu angka yang memberikan batasan pada penampilan kerja dan
dasar bagi pengujinya
Rating arus
Rating tegangan
Rating interupsi: arus total terbesar yang dapat diputuskan dengan

baik.
Penggunaan pelebur (fuse) untuk pengaman JTM:
Sebagai pengaman trafo distribusi.
Sebagai pengaman jaringan cabang.
Koordinasi antara dua pelebur dalam hubung seri.

PERALATAN HUBUNGAN

Menurut fungsinya:
a. Pemisah (disconnecting switch)
b. Pemutus tenaga (current breaker)

a. Pemisah
1. Fungsinya: untuk memutuskan atau menghubungkan rangkaian listrik dalam
keadaan tanpa beban.
2. Klasifikasi :
Menurut fungsi kerja:
Disconector
Pole top switch
Air break switch
Sectionalizer

Disconector
Disconector/saklar pemisah: alat memutus rangkaian listrik dalam keadaan tanpa
beban, karena tidak mempunyai alat peredam busur listrik.
Pole Top Switch:
Hanya dapat untuk melepaskan atau memasukkan jaringan dengan keadaan
tanpa beban.
Pemasangan hanya pada tiang listrik (pasangan luar)
Tidak dapat memutuskan jaringan dengan otomatis pada waktu ada gangguan.
Air Break Switch (ABS)
Dapat digunakan untuk memasukkan atau melepaskan beban kurang dari aru
(I) nominal.
Pasangan dapat diluar (pasangan luar) maupun pemasangan dalam.
Tidak akan terbuka dengan sendirinya bila ada gangguan.
Load Breaker Switch (LBS)
Bisa digunakan sebagai pemisah ataupun pemutus tenaga dengan beban
nominal.

Tidak dapat membukan secara otomatis pada waktu gangguan.


Dibuka/ditutup hanya untuk memanipulasi beban.

Sectionalizer
Tidak untuk memutuskan arus gangguan tetapi akan beroperasi/membuka
setelah pemutus tenaga digardu induk membuka, atau setelah otomatic circuit
recloser (OCR) membuka.
Pemasangan sectionalizer diletakkan pada jaringan.
Cara pasangan menurut ketentuan setiap kurang lebih 30 km terpasang satu
sectionalizer.
Fungsinya untuk mengisolir bagian jaringan yang terganggu sehingga bagian
jaringan yang lain tetap dapat menyalurkan/mendistribusi Tenaga listrik.

b. Pemutus Tenaga (Circuit Breaker =CB)


Fungsinya untuk membuka dan menutup rangkaian, dapat bekerja dalam kondisi
normal maupun tidak normal.
Membuka/menutup rangkaian bila dikehendaki oleh operasi atau kerja secara
otomatis bila terjadi gangguan akibat rangsangan yang diterima dari rele
pengaman.
Selatu dalam suatu koordinat dengan rele pengaman yang berfungsi sebagai
pendeteksi adanya gangguan.