You are on page 1of 30

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

01

A. LATAR BELAKANG

02

B. RUMUSAN MASALAH

09

C. TUJUAN

09

D. MANFAAT

10

E. LANDASAN HUKUM

10

F. LANDASAN TEORI

11

G. METODE PENELITIAN

25

H. SISTEMATIKA PENULISAN

27

DAFTAR PUSTAKA

29

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertumbuhan pasar yang semakin hari semakin bersaing telah menjadikan
kekayaan materil dan keuntungan komersil sebagai tujuan dasar dari sebuah
perusahaan. Pendekatan ekonomi menjadikan perusahaan semakin agresif dan tidak
mengenal waktu istirahat untuk berkompetisi memperluas jaringan usahanya. Pada
jaman saat ini tidak usah diragukan lagi bahwa ekonomi merupakan motivator yang
sangat kuat dan menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.
Konflik-konflik inilah yang menimbulkan dilema antara pengambilan keputusan
berdasarkan nilai-nilai etis yang berlaku dan tekanan ekonomi demi keberlangsungan
perusahaan. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Kantor
Perwakilan Bank Indonesia menyatakan bahwa sektor yang akan mengalami
peningkatan pertumbuhan adalah sektor perdagangan. Dari hasil Survei Penjualan
Eceran (SPE) triwulan III-2016 yang dilakukan PKw BI Sulsel memperlihatkan
kegiatan usaha pada sektor ini mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan
triwulan sebelumnya, tercermin dari rata-rata Indeks Penjualan Rill (IPR) yang
mengalami kenaikan menjadi 125,25 dari triwulan II-2016 sebesar 123,48, meningkat
1,43 persen per kuartal1.

1 http://bisnissulawesi.com/2016/11/09/pelaku-usaha-optimis-bi-prediksikegiatan-dunia-usaha-meningkat/

2

Sebagai negara negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar, Indonesia
menjadi pangsa bisnis yang besar. Selain itu sumber daya alamnya juga melimpah
dan cocok untuk mengembangkan bisnis di berbagai bidang. Hal ini membuat
berbagai pelaku usaha tumbuh pesat di Indonesia. Salah satunya adalah pelaku usaha
rokok. Banyak pelaku usaha rokok skala kecil atau besar yang berkembang di
Indonesia. Mulai dari perusahaan rokok hingga industri-industri rokok rumahan yang
diproduksi oleh penduduk sendiri. Sejumlah fakta menyudutkan bahwa industri ini
telah menciptakan pertumbuhan perekonomian. Seperti yang disampaikan oleh
Hasbullah Thabrany, Guru Besar Universitas Indonesia, bahwa industri rokok
berhasil memengaruhi penduduk untuk “membakar” Rp 165 triliun dalam setahun. 2
Dari pernyataan ini tentunya persaingan usaha dalam dunia rokok ini menjadi daya
tarik sendiri bagi para pengusaha rokok di negeri ini, bagamainana tidak pendapatan
yang didapat dari industry rokok mendatangkan keuntungan yang tidak bisa dibilang
sedikit. Bukan hanya itu saja pelaku usaha rokok untuk menarik minat dari konsumen
berbagai cara dilakukan oleh perusahaan rokok tersebut mulai dari rasa atau jenis
rokok dengan menyempurnakan komposisi TAR dan NIKOTIN sesuai dengan
keinginan konsumen. Selain itu perusahaan rokok juga membuat rokok yang
beraneka rasa mulai dari rasa mentol, buah-buahan, coklat,dll sampai bungkus rokok
yang dikemas semenarik mungkin, hal ini tentunya bukan hanya menarik minat
perokok yang telah aktif tetapi orang-orang yang tidak merokok menjadi perokok.

2 http://arthaprissa.pun.bz/pengaruh-perusahaan-rokok-terhadapperek.xhtml

3

nicotiana rustica. melainkan telah menjadi suatu kebiasaan masyarakat untuk mengkonsumsi rokok. Rokok menurut Wikipedia Indonesia Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. dan spesies lainnya atau sintetisnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar. rokok putih. termasuk rokok kretek.org/wiki/Rokok 4 . dari data global adult tobacco survey atau GATS pada tahun 2011 bahwa jumlah perokok di indonesia mencapai 61 Juta jiwa atau 36% total penduduk di Indonesia. tertulis bahwa Rokok adalah salah satu Produk Tembakau yang dimaksudkan untuk dibakar dan dihisap dan/atau dihirup asapnya.Di Indonesia rokok bukan lagi benda asing untuk dikonsumsi. Asumsi bahwa merokok adalah warisan budaya Indonesia adalah cikal bakal dari masyarakat Indonesia banyak yang mengkonsumsi rokok. Bahkan sebagian orang telah menjadikan rokok sebagai kebutuhan hidup yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kehidupan sehari–hari. dengan atau tanpa bahan tambahan.wikipedia. 3 https://id. Belum lagi tahun 2012 hingga 2016 pengkonsumsi rokok semakin meningkat dan semakin banyak. Dari tahun ke tahun perokok di Indonesia semakin meningkat dan semakin banyak.3 Lain lagi menurut pp no 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan. cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotiana tabacum.

Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah kedalam saku. nikotin dapat melumpuhkan otak dan rasa. kewajiban tersebut tercantum di dalam pasal 5 . Setiap pelaku usaha rokok berkewajiban mencantumkan peringatan kesehatan di setiap bungkus rokok yang diproduksinya sebagai peringatan bagi para konsumen. sedangkan 40 dari bahan tersebut dapat menyebabkan kanker. Sebagain lainnya berupa penumpukkan zat kapur.Sudah kita ketahui bersama bahwa rokok mengandung lebih dari 4. misalnya kanker paru-paru.000 jenis bahan kimia tersebut. Nikotin menstimulasi otak untuk terus menambah jumlah nikotin yang dibutuhkan. Nikotin menyebabkan ketergantungan. Bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya disertai peringatan kesehatan yang memperingatkan akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok. karena sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan ketergantungan seseorang pada rokok. Pada rokok atau cerutu. serta candium dan nikel. Artinya jantung membutuhkan lebih banyak oksigen agar dapat terus memompa. dan 400 dari bahan-bahan tersebut dapat meracuni tubuh.000 jenis bahan kimia. Semakin lama. dan B-naphthyl-amine. serangan jantung. yang menyebabkan jantung diberi peringatan atas reaksi hormonal yang membuatnya berdebar lebih cepat dan bekerja lebih keras. tar adalah partikel penyebab tumbuhnya sel kanker. Nikotin juga menyebabkan pembekuan darah lebih cepat dan meningkatkan risiko serangan jantung. Dua bahan kimia tersebut adalah Nikotin dan Tar. serta meningkatkan adrenalin. khususnya konsumen rokok. Sedangkan Tar adalah zat yang digunakan untuk melapisi jalan atau aspal. nitrosmine. Diantara 4. ada dua jenis bahan kimia yang menjadi fokus utama dalam rokok.

pemerintah mengeluarkan Undang-undang nomer 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan harapan aturan tersebut dapat menjadi landasan bagi konsumen dan lembaga perlindungan konsumen dalam memperdayakan dan melindungi kepentingan konsumen serta dapat membuat produsen rokok lebih bertanggung jawab dalam memasarkan produknya. 2000. Jadi jika suatu saat ditemukan adanya permasalahan terhadap suatu produk yang dipakai oleh konsumen. cara penjualan. 109 4 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang 4 Sri Rejeki Hartono. karena jika dilihat kedudukan konsumen berada pada posisi yang lemah. Keadaan konsumen yang universal tersebut pada satu sisi menunjukan kelemahan bagi konsumen itu sendiri karena secara mendasar konsumen juga membutuhkan perlindungan hukum yang bersifat universal 4. Pada dasarnya manusia dalam keadaan sendiri maupun berkelompok dengan orang lain. Untuk memberikan perlindungan terhadap konsumen rokok.7 UU No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (yang selanjutnya disebut UUPK). Bandung: Madar Maju. Aspek-aspek Hukum Perlindungan Konsumen dalam Rangka Era Perdagangan Bebas dalam Hukum Perlindungan Konsumen. pasti menjadi konsumen untuk produk barang dan/atau jasa tertentu. serta penerapan perjanjian baku yang nantinya akan dapat merugikan konsumen. 6 . Hal 33. konsumen pastinya dijadikan objek aktivitas bisnis untuk meraut keuntungan yang sebesar-besarnya oleh pelaku usaha melalui berbagai promosi. para pelaku usaha wajib bertanggungjawab atas produk yang dikeluarkannya. Sesuai dengan PP No. Kewajiban pelaku usaha ini adalah salah satu upaya perlindungaan terhadap konsumen.

distribusi dan pengiklananpun menjadi tanggung jawab BPOM. maka ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengawasan Obat Dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) tentang Tata Laksana Pengawasan Produk Rokok yang Beredar dan Iklan. Hal ini guna melindungi masyarakat dari informasi pada lebel/kemasan produk termasuk iklan dan promosi yang tidak benar. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ditunjuk sebagai salah satu Laboratorium penguji rokok. keselamatan dan kesehatan konsumennya baik di dalam maupun di luar negri. jadi dapat diartikan kalau BPOM adalah suatu lembaga penguji segala jenis produk yang di konsumsi oleh masyarakat. merugikan dan menyesatkan. Tetapi pengujian terhadap rokok konvensional hanyalah 7 . 62/MPP/Kep/2/2004 Tentang Pedoman Cara Uji Kandungan Kadar Nikotin Dan Tar Rokok. mencegah dan mengawasi setiap jenis produk dengan tujuan melindungi keamanan. Harus kita pahami bahwa BPOM dalam hal ini adalah salah satu dari lembaga pemerintahan pusat yang mempunyai tugas di bidang pengawasan obat dan makanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan KEPPERS no 103. Di dalam Keputusan Menteri Perindustrian Dan Perdagangan Republik Indonesia No. Oleh karena itu pemerintah terus berupaya untuk melindungi konsumen rokok.Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Bukan hanya tembakaunya saja yang diawasi oleh BPOM dari mulai produksi. Sistem Pengawasan Obat dan Makanan (SisPOM) yang efektif dan efisien yang mampu mendeteksi. Termasuk juga rokok yang mana segala jenis rokok haruslah lulus uji oleh BPOM. Lebih lengkapnya Badan Pengawas Obat dan Makanan atau disingkat BPOM adalah lembaga di Indonesia yang berfungsi mengawasi peredaran obat-obatan dan makanan di Indonesia.

penulis melihat bahwa meskipun rokok dengan segala kerugian yang dapat ditimbulkan bagi kesehatan manusia. padahal terdapat bahan-bahan kimia yang berbeda masing-masing komposisi rokok tersebut. Walaupun asumsi ini tidak diatur dalam pengaturan BPOM dan UU perlindungan konsumen. Adapun asumsi bahwa untuk meyakinkan konsumen pada suatu produk barang maka “Suatu barang konsumsi yang telah diuji oleh BPOM RI. pemberian nomor registrasi BPOM adalah wewenang BPOM pada setiap produk yang telah lulus uji. BPOM RI ditunjuk sebagai penguji kadar nikotin dan tar rokok. Akan tetapi pencantuman nomer registrasi sangat penting bagi produk rokok karena itu salah satu cara mengetahui apakah rokok yang di konsumsi konsumen mendapatkan lolos uji dari BPOM. pada kemasannya oleh pelaku usaha akan mencantumkan nomor registrasi”. Berdasarkan fakta di atas. Berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan. 8 . Pemberian nomor registrasi BPOM ini bertujuan untuk menginformasikan kepada masyarakat bahwa barang konsumsi tersebut telah lulus uji dan dinyatakan layak untuk beredar. Namun pada kenyataannya tidak terdapat nomor registrasi BPOM pada kemasan rokok yang telah lulus uji dari BPOM.sebatas pada tembakaunya saja mengukur kadar Nikotin dan Tar pada rokok tersebut. Hal ini menurut penulis akan menimbulkan permasalahan dalam aspek perlindungan konsumen. Padahal rokok konvensional melalui perkembangannya juga ada yang memakai filter yang mana berfungsi untuk mengurangi kadar Nikotin dan Tar pada rokok dan juga pengujian tersebut tidak mengikut sertakan lapisan seperti kertas yang berfungsi untuk membungkus tembakau tersebut.

yaitu : “PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN ROKOK TERHADAP KEMASAN ROKOK YANG TIDAK TERCANTUM NOMOR REGISTRASI BPOM” Untuk menganalisis dan memecahkan problematika pada isu sentral tersebut diatas. Bagaimana perlindungan konsumen terhadap tidak adanya pengujian pada filter rokok dan kertas rokok ? 2. maka dalam penelitian ini terdapat isu sentral.perlindungan hukum terhadap konsumennya tetaplah harus memberikan kepastian. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut. Dengan demikian. maka akan terlihat hak-hak konsumen rokok yang dikindungu oleh hukum di Indonesia. Tujuan Penelitian Dengan mengadakan penelitian tentang perlindungan konsumen melalui perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan konsumen rokok. B. konsumen rokok yang jumlahnya sangat besar dapat mengetahui 9 . maka penulis memandang perlu untuk memberikan rumusan masalah sebagai berikut: 1. kemanfaatan. Bagaimana perlindungan konsumen terhadap tidak adanya pencantuman nomor registrasi BPOM pada kemasan rokok ? C. dan keadilan.

2. Itu adalah tujuan utama dari penelitian ini.perlindungan hukum atas hak-hak mereka sebagai konsumen. 2. untuk memperjelas perlindungan konsumen terhadap rokok konvensional yang tidak dilakukan pengujian pada filter rokok dan juga kertas rokok dan tidak terdapat nomer registrasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga terpenuhinya hak keamanan dan kejelasan informasi kepada konsumen. sedangkan tujuan khususnya adalah sebagai berikut : 1. Dan bagi para akademisi. D. Untuk mengetahui perlindungan konsumen terhadap tidak adanya pencantuman nomor registrasi BPOM pada kemasan rokok. Untuk mengetahui perlindungan konsumen terhadap tidak diujinya filter rokok dan kertas rokok. untuk meberikan manfaat bagi konsumen rokok dan juga para akademisi. sehingga dimasa yang akan datangmampu membuat peraturan perundang-undangan yang lebih baik untuk melindungi konsumen rokok konvensional. Dengan demikian pemahaman tersebut akan membawa akademisi berfikir lebih luas mengenai perlindungan hukum. 10 . Manfaat Penelitian 1. Secara teoristis. Secara praktis. penelitian ini akan membantu untuk memahami perlindungan hukum atas hak-hak konsumen terhadap tidak d\ada pengujian atas filter dan kertas rokok dan juga tidak adanya nomer regristrasi BPOM pada bungkus rokok. Bagi konsumen rokok mereka akan mengetahui hak-hak yang diberikan undang-undang sebagai perlindungan bagi konsumen rokok.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NO. DAN TATA KERJA LEMBAGA PEMERINTAH NON DEPARTEMEN d. KEWENANGAN. 11 . Data Sekunder Yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber internet dan mempelajari buku-buku dan literatur lainnya yang berhubungan dengan masalah yang penulis angkat untuk memperoleh dasar teoritis. TUGAS.E. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 109 TAHUN 2012 TENTANG PENGAMANAN BAHAN YANG MENGANDUNG ZAT ADIKTIF BERUPA PRODUK TEMBAKAU BAGI KESEHATAN b. SUSUNAN ORGANISASI. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN c. 62/MPP/KEP/2/2004 TENTANG PEDOMAN CARA UJI KANDUNGAN KADAR NIKOTIN DAN TAR 2. Landasan Hukum 1. Data Primer a. FUNGSI. KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 103 TAHUN 2001 TENTANG KEDUDUKAN.

Jadi. yaitu: pertama. untuk memperoleh perlindungan atas kerugian yang diderita atas transaksi suatu barang dan jasa. Kedua. Tujuan pembangunan nasional diwujudkan melalui sistem pembangunan ekonomi yang demokratis sehingga mampu menumbuhkan dan mengembangkan dunia yang memproduksi barang dan jasa yang layak dikonsumsi oleh masyarakat. Undang-Undang dasar 1945. UndangUndang Nomer 8 tahun 1999 tentang Perllindungan Konsumen (selanjutnya disingkat UUPK). sebagai sumber dari segala hukum di Indonesia. UUPK menjamin adanya kepastian hukum bagi konsumen. Landasan Teori 1. Dalam berbagai literatur ditemukan dua istilah mengenai hukum yang berkaitan dengan konsumen. Perlindungan Konsumen Pada hakikatnya. terdapat dua instrumen hukum penting menjadi landasan kebijakan perlindungan konsumen di Indonesia. sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen adalah dua bidang hukum yang sulit dipisahkan dan ditarik 12 . mengamanatkan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Lahirnya Undang-Undang ini memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia. Dikarenakan posisi konsumen yang lemah maka ia harus dilindungi oleh hukum. yaitu hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen. Salah satu sifat.F. sekaligus tujuan hukum itu adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat.

6 Az. Cet. 5 Celina Tri Swi Kristiyanti. 1. PT Rajagrafindo Persada. 6.1.2010. Kalimat yang menyatakan “ segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum”. Pengertian. 2007. Hukum Perlindungan Konsumen. hal. Suatu Pengantar. hukum konsumen adalah: “Keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur hubungan dan masalah penyedia dan penggunanya. Nasution. Adapun menurut Az. Cet. “Hukum Perlindungan Konsumen”. hal 13. 2011). (Jakarta: Sinar Grafika. Nasution. Sedangkan hukum perlindungan konsumen sebagai bagian khusus dari hukum konsumen yang mana adalah: “Keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur dan melindungi konsumen dalam hubungan dan masalah penyediaan dan penggunaan produk (barang dan/atau jasa) konsumen antara penyedia dan pengguna dalam kehidupan bermasyarakat7. Cet. hal 37. dalam kehidupan bermasyarakat”6. 7 Ibid 8 Ahmadi Miru & Sutarman Yodo. Rumusan pengertian perlindungan konsumen yang terdapat pada pasal 1 angka 1 ini cukup memadai. Jakarta. Hukum Perlindungan Konsumen.batasnya5. 2. Jakarta: Diadit Media. diharapkan sebagai benteng untuk meniadakan tindakan sewenang-wenang yang merugikan pelaku usaha hanya demi untuk kepentingan perlindungan konsumen8. yaitu : “ perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum member perlindungan kepada konsumen”.3. 13 . Asas dan Tujuan Pengertian perlindungan konsumen diatur dalam pasal 1 angka (1) UU no 8 tahun 1999.

Asas Kepastian Hukum Asas ini dimaksud agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen. tujuan perlindungan konsumen diatur dalam pasal 3 UU no 8 tahun 1999. Asas manfaat Maksud asas ini adalah untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara menyelurus. pemakaian. serta negara menjamin kepastian hukum. yaitu: 1. Asas Keadilan Asas ini dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat bisa diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil. 4. 5. Setiap undang-undang memiliki tujuan khusus. dan pemanfaatan barang/jasa yang dikonsumsi atau digunakan.Adapun 5 asas perlindungan konsumen yang diatur dalam UU nomer 8 tahun 1999. pelaku usaha. 3. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen Asas ini dimaksud untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan. yaitu : 14 . 2. dan pemerintah dalam arti material atau spiritual. Asas Keseimbangan Asas ini dimaksudkan untuk member keseimbangan antara kepentingan konsumen.

keselamatan fisik 2.a. mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari akses negatif pemakaian barang dan/atau jasa. menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha. meningkatkan kesadaran. kesehatan. meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa. dan keselamatan konsumen. dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen. keamanan. Berkenann dengan perlindungan konsumen. Pasal 3 undang-undang perlindungan konsumen ini merupakan isi pembangunan nasional sebagaimana disebut dalam pasal 2 sebelumnya. hal 34. kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri. c. menentukan. peningkatan serta perlindungan ekonomis konsumen 9 OpCit. e. b. meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi. 15 . f. kenyamanan. bidang-bidang perlindungan konsumen dapat dirincikan sebagai berikut: 1. karena tujuan perlindungan konsumen yang ada itu merupakan sasaran ahkir yang harus dicapai dalam pelaksanaan pembangunan di bidang hukum perlindungan konsumen9. d.

obat-obatan. Dari keterangan di atas maka hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen dan menemukan kaidah hukum konsumen dalam berbagai peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia tidaklah mudah. Mandar Maju. upaya-upaya untuk memungkinkan konsumen melaksanakan tuntutan ganti kerugian 6. pengaturan dan masalah-masalah khusus seperti makanan. dapat ditarik kesimpulan bahwa sangat penting untuk dapat melindungi konsumen dari berbagai hal yang dapat mendatangkan kerugian bagi mereka. Seringkali konsumen tidak berdaya menghadapi posisi yang lebih kuat dari para pelaku usaha. pemerataan fasilitas kebutuhan pokok 5. karena konsumen dianggap memiliki suatu “kedudukan” yang tidak seimbang dengan para pelaku usaha. dan kosmetik Dari apa yang dikemukakan di atas. minuman. Hukum Perlindungan Konsumen. program pendidikan dan penyebarluasan informasi 7. 2000). dkk. (Bandung: CV. Keseimbangan ini menyangkut bidang pendidikan dan posisi tawar yang dimiliki oleh konsumen. 82 16 . standar untuk keselamatan dan kualitas barang serta jasa 4. 10 Erman Rajagukguk. hal ini dikarenakan tidak dipakainya istilah konsumen dalam peraturan perundang-undangangan tersebut walaupun ditemukan sebagian dari subyek-subyek hukum yang memenuhi kriteria konsumen10. hal.3. Konsumen perlu dilindungi.

atas informasi yang benar. keamanan. Jakarta: Gelora Aksara Pratama. Upaya perlindungan bagi konsumen dimana mereka dapat mengilustrasikan pencarian untuk membeli. mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen. dan/atau penggantian. (Penerjemah). Serta ntuk mendapatkan kompensasi. Konsumen Menurut pengertian Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Perlindungan Konsumen. 1996. apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian dan tidak sebagaimana mestinya. mendapatkan advokasi. untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan. mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa mereka11. "Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam 11 Sihombing. dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa. jelas. hak konsumen tersebut hak atas kenyamanan. dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.Dari upaya perlindungan hukum bagi konsumen. ganti rugi. 17 . 67. Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran. perlindungan. maka dapat menggunakan sumber daya mereka yang telah tersedia untuk mengkonsumsi suatu barang. Consumen Behavior. dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. 3. Subjek Hukum serta Hak dan Kewajiban a. Dengan berbagai perilaku konsumen. Dan konsumen diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. hal. Untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. menggunakan.

yaitu pemakai. pengguna dan/atau pemanfaat barang dan/atau jasa konsumen untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri.” b. Konsumen antara. Konsumen akhir. dengan tujuan komersial. yaitu pemakai. maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan kembali. baik bagi kepentingan diri sendiri. Konsumen (akhir) inilah yang dengan jelas diatur perlindungannya dalam UU Perlindungan Konsumen tersebut. keluarga. pengguna dan/atau pemanfaat barang dan/atau jasa untuk diproduksi (produsen) menjadi barang /jasa lain atau untuk memperdagangkannya (distributor). Konsumen dalam arti umum. Undang-undang ini mendefinisikan konsumen (pasal 1 angka 2) sebagai berikut: “Setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat. orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.masyarakat. yang dimaksudkan adalah konsumen akhir. Konsumen antara ini sama dengan pelaku usaha. Hak dan kewajiban 18 . yaitu pemakai. keluarga. pengguna dan/atau pemanfaat barang dan/atau jasa untuk tujuan tertentu. dan 3. 2. baik bagi kepentingan diri sendiri. terdiri atas: 1.” Pengertian Konsumen Menurut Undang-Undang Perlindungan Konsumen sesungguhnya dapat terbagi dalam tiga bagian. Selanjutnya apabila digunakan istilah konsumen dalam Undang-Undang. orang lain. keluarga atau rumah tangganya dan tidak untuk diperdagangkan kembali.

e. keamanan. f. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan. ganti rugi dan/atau penggantian. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara besar dan jujur serta tidak diskriminatif. perlindungan. apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Hak atas informasi yang benar. c. Hak untuk mendapatkan kompensasi. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. h. dan keselamatan konsumen merupakan hal yang paling pokok dan utama dalam perlindungan konsumen. g. dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa. terlihat bahwa masalah kenyamanan. Hak untuk mendapatkan advokasi. Hak atas kenyamanan. dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. keamanan. d. Dari Sembilan butir hak konsumen yang di atas. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. diatur mengenai hak-hak konsumen adalah: a. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen. jelas.Hak dan Kewajiban konsumen diatur dalam Pasal 4 dan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen. b. Barang dan/atau jasa yang 19 . i. Dalam Pasal 4 UUPK.

3. yaitu12: 1. baik yang berbentuk badan hukum maupun yang tidak berbadan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara Republik 12 Opcit. sehingga dapat dijadikan / merupakan prinsip perlindungan hukum bagi konsumen di Indonesia. Oleh karena ketiga hak / prinsip dasar tersebut merupakan himpunan beberapa hak konsumen sebagaimana diatur dalam UUPK. terlebih lagi yang tidak aman atau membahayakan keselamatan konsumen jelas tidak layak untuk diiedarkan dalam masyarakat. baik kerugian personal maupun kerugian harta kekayaan.penggunaannya tidak memberikan kenyamanan. Hak untuk memperoleh penyelesaian yang patut terhadap permasalahan yang dihadapi. namun secara garis besar dapat dibagi dalam tiga hak yang menjadi prinsip dasar. Hak untuk memperoleh barang dan/jasa dengan harga yang wajar. maka hal tersebut sangat esensial bagi konsumen. Hak yang dimaksudkan untuk mencegah konsumen dari kerugian. bahwa: “Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha. Bagaimanapun ragamnya rumusan hak-hak konsumen yang telah dikemukakan. 20 . Pelaku Usaha Berdasarkan Pasal 1 angka (3) Undang-undang Perlindungan Konsumen. 2. hal 47. dan. i.

e. Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik. d. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha Hak pelaku usaha sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UUPK yaitu: a. baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan dalam berbagai bidang ekonomi. b. ii.Indonesia. Hak pelaku usaha untuk menerima pembayaran sesuai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nikai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. menunjukkan bahwa pelaku usaha tidak dapat menuntut lebih banyak jika kondisi barang dan/atau jasa yang diberikannya kepada konsumen tidak atau kurang memadai menurut harga yang berlaku pada 21 . c. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.” Jadi pelaku usaha disini dalam artian pelaku usaha rokok adalah produsen terahkir yang mana prlaku usaha yang menghasilkan barang jadi (rokok) dan mendistribusikannya ke masyarakat. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen.

Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya.umumnya atas barang dan/atau jasa yang sama. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta member penjelasan penggunaan. f. d. Memberi kompensasi. b. pemakaian. perbaikan dan pemeliharaan. Memberi kompensasi. Menjamin mutu barang dan/jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standart mutu barang dan/atau jasa yang berlaku. Dalam praktek yang biasa terjadi.Kewajiban pelaku usaha diatur dalam Pasal 7 UUPK. c. dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan. suatu barang dan/atau jasa yang kualitasnya lebih rendah daripada barang yang serupa. yaitu: a. Dalam UUPK tampak bahwa itikad baik lebih ditekankan pada pelaku usaha. karena meliputi semua tahapan dalam melakukan kegiatan usahanya. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. sehingga dapat diartikan bahwa 22 . maka para pihak menyepakati harga yang lebih murah. ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji. Memberikan informasi yang benar. e. Dengan demikian yang dipentingkan dalam hal ini adalah harga yang wajar. ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian. dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.

Hal ini tentu saja disebabkan karena kemungkinan terjadinya kerugian bagi konsumen dimulai sejak barang dirancang / diproduksi oleh produsen (pelaku usaha). kedudukan konsumen seringkali berada pada posisi atau kedudukan yang lemah bila dibandingkan dengan kedudukan pelaku usaha. Namun dalam kenyataannya. sedangkan bagi konsumen kemungkinan untuk dapat merugikan produsen mulai pada saat melakukan transaksi dengan produsen. a.kewajiban pelaku usaha untuk beritikad baik dimulai sejak barang dirancang / diproduksi sampai pada tahap purna penjualan.23 Dalam kenyataannya. Sebagai upaya untuk menghindarkan akibat negatif pemakaian barang dan/atau jasa. sebaliknya konsumen hanya diwajibkan beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/ jasa. konsumen dan pelaku usaha memiliki hubungan yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan sehingga sudah seharusnya kedudukan konsumen dan pelaku usaha berada pada kondisi yang seimbang. timbangan dan jumlah dalam hitungan menurut ukuran yang sebenarnya 23 . Tidak sesuai dengan ukuran. dan jumlah dalam hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket barang tersebut. b. c. Tidak sesuai dengan berat bersih. tarakan. maka pasal 8 UUPK mengatur sebagai berikut: 1) Pelaku Usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang. isi bersih atau neto. Tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

sebagaimana pernyataan “halal” yang dicantumkan dalam label. e. Tidak sesuai dengan kondisi. proses pengolahan. atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut. Tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label. etiket. nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus dipasang/dibuat. g. f. ukuran. aturan pakai. akibat sampingan. h. gaya. j.d. Tidak sesuai dengan mutu. tanggal pembuatan. tingkatan. keistimewaan atau kemanjuran sebagaimana dinyatakan dalam label. iklan atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut. Tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal. komposisi. mode. cacat atau bekas. Tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama barang. etiket atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut. berat/isi bersih atau netto. i. Tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. jaminan. keterangan. 24 . Tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau jangka waktu penggunaan/pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu. 2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak. dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang dimaksud. komposisi.

Larangan mengenai ketersediaan informasi yang tidak benar dan tidak akurat yang menyesatkan konsumen. Penelitian terhadap asas-asas hukum b. Metode Penelitian Bentuk penelitian yang dilakukan adalah bersifat normative. Penelitian hukum normative mencangkup : a. Penelitian terhadap taraf sinkronasi hukum d. cacat atau bekas dan tercemar. Penelitian perbandingan hukum 25 . Penelitian sejarah hukum e.3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang rusak. 4) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari peredaran. Larangan mengenai produk itu sendiri yang tidak memenuhi syarat dan standar yang layak untuk dipergunakan atau dipakai atau dimanfaatkan oleh konsumen. b. 26 Secara garis besar perbuatan yang dilarang oleh pelaku usaha dalam Pasal 8 UUPK dapat dibagi dalam dua larangan pokok. dengan atau tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar. G. yaitu: a. Penelitian terhadap sistematika hukum c.

masih atau menjadi diragukan kebenarannya”13. menemukan berarti berusaha untuk memperoleh sesuatu yang mengisi kekososngan atau kekurangan. Penelitian menggunakan normatif untuk mengetahui apakah Undangundang 8 tahun 1999 mengnai perlindungan konsumen.Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Metode penelitian yang digunakan melalui pendekatan perundang-undangan (Statute Aprroach). Jakarta: Jakarta Press. penulis menggunakan metode penelitian yang berfungsi sebagai sarana dan pedoman dalam perolehan badan hukum serta mengoprasionalkan tujuan peneliti. Menurut Rony Hanintijo Soemitro. Metode Penelitian dan Jurimetri. tujuan penelitian pada umumnya adalah: “untuk menemukan. Penelitianbertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis. dan konsistensi yang terdapat di lapangan. mengembangkan. Dalam hal ini norma itu berisi perintah kepada setiap orang untuk bertingkah laku sebagaimana diinginkan oleh norma tersebut. atau menuju kebenaran pengetahuan . melainkan juga menelaah materi muatan. 1990. Mengembangkan berarti memperluas dan menggali lebih dalam sesuatu yang sudah ada. Hal 43 26 . Penelitian ini merupakan penelitian normatif. dan Undang-undang tentang Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa tembakau bagi kesehatan telah sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku umum. metodologis. 13 Rony Hanintijo Soemitro. Sebagai upaya dalam perolehan bahan hukum yang valid. Pendekatan perundang-undangan bukan saja melihat kepada bentuk peraturan perundang-undangan .

Jakarta. Hal. keputusan menteri. Menurut Pasal 1 angka 2 Undang-undang No. peraturan perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara uumum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang meallui prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. 14 Peter Mahmud Marzuki. Hal. Data yang diperoleh. Hukum Administrasi Negara. Dimana pendekatan ini menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dari pengertian tersebut secara singkat dapat dikatakan bahwa yang dibaksum statute berupa legislasi dan regulasi. yaitu suatu keputusan yang diterbitkan pejabat administrasi yang bersifat konkret dan khusus. Rajawali Pers. Penelitian Hukum Edisi Revisi Cet. 142 15 Ridwan HR. selanjutnya dianalisis secara kualitatif. landasan filosofis undang-undang.sehingga peneliti mempelajari dasar ontologism lahirnya undang-undang. Nantinya peneliti akan meneliti berdasaran hierarki dan asas-asas dalam peraturan perundang-undangan. Peneliti juga akan mengkaji Produk yang merupakan beschikking/decree. Jakarta. dan ratio legis dari ketentuan tersebut14. Metode Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deduktif. 12 Tahun 2011. Prenadamedia Group. keputusan bupati dan keputusan suatu badan tertentu15. 139 27 . misalnya keputusan presiden. 2013. data sekunder yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Ke-10. baik melalui studi kepustakaan maupun studi lapangan. 2015.

28 . rokok. pengaturan yang terkait dengan perlindungan konsumen dan tembakau. Bab III : Berisikan Kesimpulan dan Saran Penulis akan menyampaikan akhir kesimpulan dari penelitian atau penulis yang dilakukan dan akan ditutup dengan saran yang diberikan oleh penulis. Sistematika Penulisan Bab I : Pendahuluan Penulis akan menuliskan latar belakang masalah serta merumuskan rumusan masalah dalam skripsi ini. subjek dalam perlindungan konsumen. pengertian tentang perlindungan konsumen. serta menuliskan tujuan dan manfaat dari penulisan skripsi dan dilanjutkan dengan metode penelitian yang berisi tentang cara Penulis untuk meneliti permasalahan yang dikemukakan oleh Penulis. Serta pada bagian akhir Bab II akan disampaikan analisis tentang pelanggaran hak atas perlindungan konsumen dan kurangnya peraturan mengenai rokok yang dijual.H. Bab II : Kajian Pustaka dan Pembahasan Pertama Penulis akan menyampaikan kerangka teori yang dekat dengan penelitian. dan beberapa teori kaitannya hukum dengan perlindungan konsumen.

Susunan Organisasi. 62/MPP/KEP/2/2004 Tentang Pedoman Cara Uji Kandungan Kadar Nikotin dan Tar Buku-Buku 29 . Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia No. dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen d. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen c. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2001 Tentang Kedudukan. Fungsi. Tugas.DAFTAR PUSTAKA Undang-Undang a. Kewenangan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2012 Tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan b.

1. Hukum Perlindungan Konsumen.bz/pengaruh-perusahaan-rokok-terhadap-perek. Jakarta: Gelora Aksara Pratama Sri Rejeki Hartono. Jakarta: Prenadamedia Group Ridwan HR. Bandung: CV. 2013. Jakarta: PT. 2011. Hukum Perlindungan Konsumen. Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran (Penerjemah) Consumen Behavior. 2000. “Hukum Perlindungan Konsumen”.pun. Penelitian Hukum.Ahmadi Miru & Sutarman Yodo. Hukum Perlindungan Konsumen. 2000. Hukum Administrasi Negara. Cet. 1990. Jakarta: Rajawali Pers Rony Hanintijo Soemitro. Cet. 2015. Nasution. Edisi Revisi. Bandung: Madar Maju http://bisnissulawesi. dkk. Cet. Metode Penelitian dan Jurimetri. 2010.xhtml https://id. Jakarta: Jakarta Press Sihombing. Jakarta: Diadit Media Celina Tri Swi Kristiyanti. Suatu Pengantar. Jakarta: Sinar Grafika Erman Rajagukguk. Aspek-Aspek Hukum Perlindungan Konsumen dalam Rangka Era Perdagangan Bebas dalam Hukum Perlindungan Konsumen. Ke-10.org/wiki/Rokok 30 .com/2016/11/09/pelaku-usaha-optimis-bi-prediksi-kegiatandunia-usaha-meningkat/ http://arthaprissa. 3. 6.wikipedia. Cet. 1996. Rajagrafindo Persada Az. 2007. Mandar Maju Peter Mahmud Marzuki.