You are on page 1of 45

1

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Siapakah yang tidak tahu Muhammadiyah, organisasi
sosial modernis Islam tertua di Indonesia. Muhammadiyah
adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia.
Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad
s.a.w. Muhammadiyah adalah salah satu organisasi sosial
Islam yang terpenting di Indonesia sebelum Perang Dunia II
dan mungkin juga sampai saat sekarang ini.
Muhammadiyah
organisasi

Islam

juga

merupakan

pembaharu

di

salah

Indonesia.

satu

Gerakan

Muhammadiyah yang dibangun oleh K.H. Ahmad Dahlan
sesungguhnya merupakan salah satu mata rantai yang
panjang dari gerakan pembaharuan Islam yang dimulai
sejak tokoh pertamanya, yaitu Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim
al-Jauziyah,

Muhammad

bin

Abdul

Wahab,

Sayyid

Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan
sebagainya. Pengaruh gerakan pembaharuan tersebut
terutama berasal dari Muhammad Abduh melalui tafsirnya,
al-Manar, suntingan dari Rasyid Ridha serta majalah alUrwatul Wustqa.
Prof.

Dr.

mendorong

Hamka

mencatat

lahirnya

tiga

faktor

Muhammadiyah.

yang

Pertama,

keterbelakangan dan kebodohan umat Islam Indonesia
dalam

hampir

semua

bidang

kehidupan.

Kedua,

2

kemiskinan yang parah yang diderita umat Islam dalam
suatu negeri kaya seperti Indonesia.

Ketiga, kondisi

pendidikan Islam yang sudah sangat kuno seperti

yang

terlihat pada pesantren masa itu. Ucapan KH Ahmad
Dahlan

yang

amat berkesan,

“Tidak

mungkin

Islam

lenyap dari seluruh dunia, tapi tidak mustahil Islam
hapus

dari

bumi

Indonesia.

Siapakah

yang

bertanggung jawab?”
Muhammadiyah

mencita-citakan

terwujudnya

masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam arsip
Anggaran Dasar dapat dibaca,
memajukan

pelajaran

memajukan

dan

dan

“Menggembirakan dan
pengajaran

menggembirakan

Islam

hidup

serta

sepanjang

kemauan agama Islam.” Hal itu ingin dicapai dengan
kembali

pada

Al

Quran

dan

Sunnah

serta

membersihkan Islam dari bid‘ah, khurafat dan tahayul
yang terdapat di kalangan umatnya.
Maka, makalah ini disusun dalam rangka mengupas
sejarah berdirinya dan tokoh sentral dalam gerakan ini.
Sebagai salah satu mata rantai sejarah pergerakan islam
pada awal abad ke-20 di Indonesia.

2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas,
rumusan masalah yang menjadi acuan pembahasan pada
makalah ini adalah:
1. Bagaimana

latar

Muhammadiyah?

belakang

berdirinya

3

2. Apa maksud dan tujuan Muhammadiyah?
3. Bagaimana perkembangan Muhammadiyah?

3. Tujuan Penulisan
Tujuan disusunnya makalah ini adalah agar para
pembaca

dapat

berdirinya

Muhammadiyah,

Muhammadiyah

mengetahui
itu

bagaimanakah

apa

dibentuk

maksud
dan

perkembangan Muhammadiyah di Indonesia.

dan

sejarah
tujuan

bagaimana

4

BAB II
PEMBAHASAN

1. Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah
a. Setting Sosial Budaya Indonesia Pada Masa Kolonial
Struktur masyarakat kolonial diwarnai pola hubungan
sosial yang sangat diskriminatif dan opresif. Pelapisan
sosial yang sangat ketat menempatkan bangsa Eropa
sebagai kelompok teratas dan memiliki hak istimewa
seperti menikmati berbagai fasilitas sosial. Lapisan kedua
ditempati oleh bangsawan tradisional dengan segala hak
istimewa dalam masyarakat feodal tradisional seperti
memperoleh pelayanan wajib dari masyarakat tradisional
rendahan. Masuk dalam lapisan kedua ini adalah golongan
timur asing, yaitu orang Cina dan Arab. Lapisan ketiga atau
paling bawah adalah masyarakat kebanyakan yang hanya
memiliki kewajiban untuk melayani masyarakat dari lapisan
atas tanpa mempunyai hak.
Pada masa kolonial, bangsa Eropa disamping sebagai
pemegang

kekuasaan

pemegang

kendali

politik
ekonomi.

juga
Di

berperan

sebagai

daerah

kerajaan

(Vorstenlanden) seperti Yogyakarta dan Surakarta maupun
daerah

lain

Pakualaman,

seperti

Cirebon,

pemerintah

kolonial

Mangkunegaran,
tidak

dan

menguasainya

secara langsung, tetapi pengaruhnya cukup kuat seperti
yang tampak dalam pemilihan patih dan urusan keuangan
internal. Sementara itu, di daerah yang langsung dikuasai

5

kumpeni terjadi hubungan langsung antara rakyat pribumi
dengan orang Barat. Dalam politik pemerintahan, pejabat
Belanda

diposisikan

residen,

dan

sampai

kontrolir

di

tingkat

tingkat

residen,

asisten

Regentschaap

atau

kabupaten. Di wilayah perkebunan sepertiKaresidenan
Surakarta

hampir

pengusahaan

tidak

tanaman

ada

desayang

perkebunan

terbebas

oleh

dari

perusahaan

swasta Belanda.
Di luar Jawa seperti di Sumatra Barat, Sistem Tanam
Paksa memang pernah dicobatetapi tidak dilanjutnya.
Meskipun demikian, pengusahaan tanaman perkebunan
seperti

kopi

oleh

penduduk

asli

justru

berhasil

meningkatkan ekonomi daerah (Dobbin, 1992). Di Maluku,
sistem

pengusahaan

tanaman

rempahrempah

seperti

cengkeh, dan pala dikontrol secara ketat oleh penguasa
kolonial

lewat

tradisional.

Di

kaki

tangan

Jawa

mereka,

Sistem

yaitu

Priangan

penguasa

yang

sangat

menguntungkan penguasa di Tanah Pasundan diadopsi oleh
Van den Bosch dalam mengusahakan tanaman kopi di
berbagai daerah di Indonesia. Daerah di Jawa Timur dan
Jawa Barat dikenal sebagai penghasil gula dengan tiga
wilayah

sentralnya,

Surabaya,

yaitu

Karesidenan

di

kompleks

Rembang,

Karesidenan

serta

kompleks

Karesidenan Cirebon (Dick, 1998). Di wilayah perkebunan,
pengusaha swasta Belanda memperoleh tanah dengan
cara menyewa dari penguasa feodal yang memiliki tanah
dan penduduk. Oleh karena itu, pengusaha Belanda yang
menyewa

tanah

dari

penguasa

tradisional

akan

memperoleh tenaga kerja yaitu penduduk yang ada di
wilayah tersebut. Tanah dan tenaga kerja yang diperoleh
dengan

murah

itu

diikat

dengan

kerja

wajib

untuk

6

kepentingan perusahaan perkebunan. Kerja wajib oleh
penduduk desa pada perusahaan perkebunan sebenarnya
adalah kelanjutan dari kerja wajib yang harus disangga
oleh penduduk pada penguasa tanah yaitu bangsawan
pejabat kerajaan yang tinggal di ibu kota. Di bawah
koordinasi penguasa desa, yaitu bekel, penduduk desa
melakukan kegiatan usaha tani yang disebut sistem maro.
Kecuali harus menyerahkan separuh dari hasil panen
kepada pemilik tanah atau patuh, penduduk juga harus
menyangga sekitar 27 kerja wajib bagi kepentingan desa
dan penguasa pemilik tanah (Padmo, 2004; Suhartono,
1991; Abdullah, 1987).
Kewajiban untuk menyerahkan hasil panen kepada
pemilik

lahan

di

kota

merupakan

acara

rutin

atau

pisowanan yang ditradisikan dua kali setiap tahun, yaitu
pada setiap grebeg Mulud dan Besar. Setelah Perang
Diponegoro, kewajiban sowan ke kota menjadi tiga kali,
yaitu pada grebeg Mulud, Puasa, dan grebeg Besar. Tujuan
dari pisowanan ini adalah untuk melakukan pengawasan
dari raja kepada pejabat yang lebih rendah yang bermukim
di luar istana atau penguasa di daerah lainnya. Selama
pisowanan itu, kegiatan para pejabat adalah berjudi dan
berfoya-foya

dengan

wanita

dan

minuman

keras.

Sementara itu, pengikutnya melakukan tugas memperbaiki
bangunan milik bangsawan ataupun membangun gedung
atau fasilitas lain yang diperlukan. Singkatnya kegiatan
pisowanan sebenarnya adalah mekanisme control oleh
pemerintah pusat untuk menghilangkan akumulasi surplus
di kalangan Soegijanto Padmo – Gerakan Pembaharuan
Islam Indonesia dari Masa ke Masa pejabat kecil di luar
istana sehingga kemungkinan munculnya pesaing bagi

7

penguasa pusat menjadi sangat kecil. Sementara itu petani
pedesaan yang menjadi sumber pendapatan penguasa
daerah juga banyak disibukkan dengan kerja wajib serta
pekerjaan lain di istana sehingga produksi yang mereka
hasilkan sangat sedikit. Dalam kondisi seperti itu serta
adanya kebiasaan pejabat untuk mengambil apapun milik
rakyat kecil seenaknya mendorong masyarakat untuk tetap
berada dalam keadaan miskin karena petani di Jawa tidak
pernah terangsang untuk menghasilkan surplus karena apa
pun yang mereka miliki pada siang hari akan menjadi
incaran penguasa kerajaan dan pada malam hari akan
menjadi incaran perampok.
Di luar Jawa, seperti Sumatra Barat, kehidupan
masyarakat sangat dipengaruhi adat yang berada dalam
control kaum adat. Kebiasaan berjudi dan sabung ayam
serta

minum

minuman

keras

merupakan

hal

yang

dikerjakan oleh masyarakat. Meskipun kaum ulama cukup
penting dalam kehidupan masyarakat, tetapi kaum adat
lebih kuat pengaruhnya terhadap keberlangsungan praktik
yang

telah

mewarnai

kehidupan

masyarakat

yang

sebenarnya dilarang oleh agama. Kaum adat di Sumatra
Barat dan kelompok feudal tradisional di daerah lain di
nusantara yang memegang kekuasaan politik dan ekonomi
mempunyai peran penting dalam proses akumulasi surplus
pada masingmasing wilayah. Secara umum, kelompok
masyarakat dari lapisan bawah adalah mereka yang harus
menanggung beban dalam melakukan berbagai kerja wajib
untuk kepentingan penguasa serta kerja wajib lain tanpa
upah. Dalam konteks itulah, penderitaan dan kemiskinan
yang

mendera

selama

beberapa

generasi

dirasakan

sebagai penderitaan yang hanya bisa diatasi oleh kekuatan

8

supranatural berupa kepercayaan cargo cult (Fox, t.th) dan
gerakan mesianisme yaitu kepercayaan akan datangnya
Ratu Adil (Kartodirdjo, 1962).
Dalam kondisi yang serba menghimpit kehidupan
wong cilik semacam itulah, misalnya, KH Ahmad Dahlan
sampai

pada

penilaian

bahwa

masalah

utama

yang

dihadapi oleh masyarakat Jawa adalah kemiskinan dan
keterbelakangan. Penyebab dari adanya masalah tersebut
adalah penindasan oleh peguasa kolonial dan keserakahan
penguasa tradisional. Untuk mengentaskan masyarakat
dari penderitaan itu, kuncinya hanyalah pendidikan. Secara
harafiah,

KH

Ahmad

Dahlan

menyebutkan

bahwa

pendidikan berupa penguasaan ilmu agama dan ilmu
pengetahuan dan teknologi modern dan disimbolisasikan
dengan

penguasaan

kitab

kuning

dan

kitab

putih.

Femomena di daerah lain di Indonesia pada dasarnya mirip
dengan apa yang disampaikan oleh KH Ahmad Dahlan
bahwa para ulama mendirikan organisasi sebagai wadah
bagi gerakan yang merupaya untuk mendorong proses
transformasi sosial dan budaya bukan saja ditujukan untuk
masyarakat Islam tetapi juga untuk seluruh kelompok
miskin dan tertindas sesuai dengan ajaran Islam yang
membawa rahmat bagi seluruh alam.
b. Gerakan Pembaharuan Islam
Abad ke-20 dinilai sebagai awal terjadinya gerakan
untuk menegakkan Islam demi kemuliaan agama Islam
sebagai idealita dan kejayaan umat sebagai realita dapat
diwujudkan

secara

konkret

dengan

organisasi sebagai alat perjuangannya.

menggunakan

9

Kesadaran

baru

yang

muncul

saat

itu

adalah

keyakinan bahwa cita-cita yang besar dan berat itu hanya
dapat direalisasikan dengan organisasi yang efisien dan
efektif. Disadari pula gagasan baru itu hanya akan tersebar
luas jika digunakan media yaitu majalah. Gagasan perlunya
pembaharuan memang telah muncul sebelum abad ke-20,
yaitu

sejalan

dengan

pulangnya

ulama

yang

telah

menuntut ilmu di Mekah yang bersamaan pula dengan
berkembangnya
pemurnian

gerakan

pelaksanaan

Wahabi
ajaran

yang

Islam.

menginginkan
Gerakan

yang

muncul mulai dari upaya perseorangan dengan membuka
surau

atau

madrasah,

penerbitan

majalah,

serta

pembentukan organisasi sosial, ekonomi, keagamaan, dan
bahkan kemudian bergeser ke organisasi politik.
c. Kyai Haji Ahmad Dahlan

Gambar K.H. Ahmad Dahlan

Pendiri Muhammadiyah adalah K.H. Ahmad Dahlan. Ia
lahir di Kampung Kauman, Yogyakarta, tahun 1868 M
dengan nama Muhammad Darwis. Ayahnya adalah K.H.
Abubakar,

seorang

Khotib

masjid

Besar

Kesultanan

10

Yogyakarta, yang apabila dilacak silsilahnya sampai kepada
Maulana Malik Ibrahim. Ibunya bernama Siti Aminah, putri
K.H. Ibrahim, Penghulu kesultanan Yogyakarta. Jadi, kedua
orang tua K.H. Ahmad Dahlan juga merupakan keturunan
ulama.
Meskipun Muhammad Darwis berasal dari kalangan
keluarga yang cukup terkemuka, tetapi ia tidak sekolah di
Gubernemen (waktu itu), melainkan diasuh dan dididik
mengaji Alquran dan dasar-dasar ilmu agama Islam oleh
ayahnya sendiri di rumah. Hal itu karena pada waktu itu
ada suatu pendapat umum bahwa barangsiapa memasuki
sekolah Gubernemen, maka dianggap kafir atau Kristen.
Pada usia delapan tahun ia telah lancar membaca
Alquran hingga khatam. Kemudian ia belajar fikih kepada
K.H. Muhammad Shaleh, dan nahwu kepada K.H. Muhsin.
Keduanya adalah kakak ipar Muhammad Darwis sendiri. Ia
juga berguru kepada K.H. Muhammad Nur dan K.H. Abdul
Hamid dalam berbagai ilmu.
Pada tahun 1889 M ia dinikahkan dengan saudara
sepupunya, Siti Walidah, putri K.H. Muhammad Fadil,
Kepala Penghulu Kesultanan Yogyakarta. Beberapa bulan
setelah pernikahannya, atas anjuran ayah bundanya,
Muhammad Darwis menunaikan ibadah haji. Ia tiba di
Mekah pada bulan Rajab 1308 H (1890 M). Setelah
menunaikan umrah, Ia bersilaturahmi dengan para ulama,
baik

dari

mendatangi

Indonesia
ulama

maupun
mazhab

Arab.
Syafi'i

Di

antaranya,

Bakri

Syata'

ia
dan

mendapat ijazah nama Haji Ahmad Dahlan. Ia telah
berganti nama, dan juga bertamabah ilmunya. Sepulang
dari ibadahnya itu, ia membantu ayahnya mengajar santri-

11

santri remaja. Sehingga, ia mendapat sebutan K.H. Ahmad
Dahlan.
Pada tahun 1896 M ia diangkat menjadi khotib di
masjid Besar oleh kesultanan Yogyakarta dengan gelar
"khotib amin". Ia juga berdagang batik ke kota-kota di Jawa.
Ia pernah diberi modal oleh orang tuanya sebanyak F. 500,pada tahun 1892, tetapi sebagian besar digunakan untuk
membeli kitab-kitab Islam. Dalam perjalanan dagang itu, ia
selalu bersilaturahmi kepada para ulama setempat dan
membicarakan perihal agama Islam dan masyarakatnya.
Perjalanan demikian bertujuan untuk mempelajari sebabsebab kemunduran kaum muslimin dan mencari jalan
keluar untuk mengatasinya.
Tahun 1909 K.H. Ahmad Dahlan bertemu dengan Dr.
Wahidin

Sudirohusodo

di

Ketandan,

Yogyakarta.

Ia

menanyakan berbagai hal tentang perkumpulan Budi
Utomo dan tujuannya. Setelah mendengarkan penjelasan
darinya, ia ingin bergabung dengan organisasi tersebut. Ia
mulai belajar berorganisasi. Pada tahun 1910, ia pun
menjadi anggota ke-770 perkumpulan Jami'at Khair Jakarta.
Ia tertarik kepada organisasi ini karena organisasi ini telah
lebih awal membangun sekolah-sekolah agama dan bahasa
Arab, disamping bergerak dalam bidang sosial dan giat
membina

hubungan

negara-negara

Islam

dengan

pemimpin-pemimpin

yang

telah

maju.

di
Dari

pengalamannnya yang ia dapatkan, ia menyadari bahwa
usaha

perbaikan

masyarakat

itu

tidak

mudah

jika

dilaksanakan sendirian, melainkan dengan berorganisasi
bekerja sama dengan banyak orang.
d. Berdirinya Muhammadiyah

12

Gambar Lambang Muhammadiyah

Salah sebuah organisasi sosial Islam yang terpenting
di Indonesia sebelum Perang Dunia II dan mungkin juga
sampai

saat

sekarang

ini

adalah

Muhammadiyah.

Organisasi ini didirikan di Yogyakarta pasa tanggal 18
November 1912 oleh Kiyai Haji Ahmad Dahlan atas saran
yang diajukan oleh murid-muridnya dan beberapa orang
anggota Budi Utomo untuk mendirikan suatu lembaga
pendidikan yang bersifat permanen.
Dahlan telah

menghayati

cita-cita

pembaharuan

sekembali dari hajinya yang pertama. Tidak dapat kita
buktikan dengan pasti, apakah ia sampai pada pemikiran
pembaharuan itu secara perorangan ataukah dipengaruhi
oleh

orang-orang

lain

dalam

hal

ini.

Ia

mulai

mengintrodusir cita-citanya itu mulanya dengan mengubah
arah orang bersembahyang kepada kiblat yang sebenarnya
(sebelum arah sembahyang biasanya ke Barat). Kira-kira
pada waktu yang sama ia mulai pula mengorganisir kawankawannya di daerah Kauman untuk melakukan pekerjaan
suka rela dalam memperbaiki kondisi higenis daerahnya

13

dengan memperbaiki dan membersihkan jalan-jalan dan
parit-parit.
Perubahan-perubahan

ini,

walaupun

bagi

kita

sekarang mungkin sangat kecil artinya, memperlihatkan
kesadaran Dahlan tentang perlunya membuang kebiasaankebiasaan yang tidak baik dan yang menurut pendapatnya
memang tidak sesuai dengan Islam. Perubahan-perubahan
ini tidak perlu datang dari pengaruh orang-orang lain,
sebab kaum tradisi (dan kitab-kitab mereka juga) mengakui
bahwa kiblat haruslah menuju ke ka’bah, dan bahwa
seorang Muslim haruslah bersih dari segala kotoran.
Masalahnya adalah apakah praktek sama dengan teori dan
dalam hal ini dengan teori yang mudah diperdapat di
dalam kitab-kitab tradisi.
Mungkin

sekali

Dahlan

tiba

pada

cita-cita

pembaharuan itu secara perorangan. Tetapi ia gagal di
dalam merealisasikan perubahan kiblat di mesjid Sultan di
Yogyakarta. Ia memang dapat membangun langgarnya
sendiri dengan meletakkan kiblat yang tepat, tetapi
perubahan ini tidak disenangi oleh penghulu Kiyai Haji
Mohammad

Halil,

yang

memerintahkan

untuk

membinasakan langgar itu. Begitu patah hati Dahlan,
sehingga ia ingin pergi meninggalkan kota kelahirannya itu.
Tetapi

untunglah

seorang

keluarganya

menghalangi

maksudnya itu dengan membangunkan untuknya sebuah
langgar

yang

mengajarkan

lain
dan

dengan

jaminan

mempraktekkan

bahwa
agama

ia

dapat

menurut

keyakinannya sendiri di situ. Kemudian ia menggantikan
ayahnya sebagai khatib di mesjid Sultan. Tetapi ini
bukanlah satu-satunya pekerjaannya sebab ia pun aktif

14

berdagang

batik

sebagai

usaha

memenuhi

nafkah

hidupnya.
Dalam tahun 1909 Dahlan masuk Budi Utomo dengan
maksud memberikan pelajaran agama kepada anggotaanggotanya, Dengan jalan ini ia berharap akan dapat
akhirnya memberikan pelajaran agama di sekolah-sekolah
pemerintah, oleh sebab anggota-anggota Budi Utomo itu
pada umumnya bekerja di sekolah-sekolah yang didirikan
oleh pemerintah dan juga di kantor-kantor pemerintah.
Diapun mempunyai harapan agar guru-guru sekolah yang
diajarnya itu sendiri dapat meneruskan isi pelajarannya
kepada murid-murid mereka pula. Pelajaran-pelajaran yang
diberikan oleh Dahlan kelihatannya memenuhi harapan dan
keperluan anggota-anggota Budi Utomo tadi, sebagai
terbukti dari saran mereka agar ia membuka sebuah
sekolah sendiri, yang diatur dengan rapi dan didukung oleh
organisasi yang bersifat permanen untuk menghindarkan
nasib kebanyakan pesantren tradisional yang terpaksa
ditutup apabila Kiyai yang bersangkutan meninggal.
Setelah pelaksanaan penyelenggaraan sekolah itu
sudah

mulai

teratur,

kemudian

dipikirkan

tentang

organisasi pendukung terselenggaranya kegiatan sekolah
itu.

Dipilihlah

nama

"Muhammadiyah"

sebagai

nama

organisasi itu dengan harapan agar para anggotanya dapat
hidup beragama dan bermasyarakat sesuai dengan pribadi
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Penyusunan
anggaran dasar Muhamadiyah banyak mendapat bantuan
dari R. Sosrosugondo, guru bahasa Melayu Kweekschool
Jetis. Rumusannya dibuat dalam bahasa melayu dan
Belanda. Kesepakatan bulat pendirian Muhamadiyah terjadi
pada tanggal 18 November 1912 M atau 8 Dzulhijjah 1330

15

H. Tgl 20 Desember 1912 diajukanlah surat permohonan
kepada

Gubernur

Jenderal

Hindia

Belanda,

agar

perserikatan ini diberi izin resmi dan diakui sebagai suatu
badan hukum. Setelah memakan waktu sekitar 20 bulan,
akhirnya

pemerintah

Hindia

Belanda

mengakui

Muhammadiyah sebagai badan hukum, tertung dalam
Gouvernement Besluit tanggal 22 Agustus 1914, No. 81,
beserta alamporan statuennya.
Demikianlah Muhammadiyah didirikan. Organisasi ini
mempunyai maksud “menyebarkan pengajaran Kanjeng
Nabi Muhhammad s.a.w kepada penduduk bumiputera”
dan

“memajukan

hal

agama

Islam kepada

anggota-

anggotanya”. Untuk mencapai ini organisasi itu bermaksud
mendirikan

lembaga-lembaga

pendidikan,

mengadakan

rapat-rapat dan tabligh di mana dibicarakan masalahmasalah Islam, mendirikan wakaf dan mesjid-mesjid serta
menerbitkan buku-buku, brosur-brosur, surat-surat kabar
dan majalah-majalah.
Dalam
organisasi

mengerahkan
ini

mengadakan

dalam

kegiatan-kegiatannya,

tahun-tahun

pembagian

tugas

pertama

yang

jelas

tidaklah
di

antara

anggota pengurus. Hal ini semata-mata disebabkan oleh
ruang gerak yang masih sangat terbatas, yaitu sampai
sekurang-kurangnya tahun 1917 pada daerah Kauman,
Yogyakarta saja. Dahlan sendiri aktif bertabligh, aktif pula
mengajar

di

memberikan

sekolah
bimbingan

Muhammadiyah,
kepada

aktif

dalam

masyarakat

untuk

melakukan berbagai macam kegiatan seperti shalat, dan
dalam memberikan bantuan kepada fakir miskin dengan
mengumpulkan dana dan pakaian untuk mereka. Sifat

16

sosial dan pendidikan dari Muhammadiyah memanglah
telah diletakkan di dalam masa-masa ini.

2. Perkembangan Muhammadiyah
a. Perkembangan pada Masa Awal Berdiri
Daerah operasi organisasi Muhammadiyah mulai diluaskan setelah
tahun 1917. Pada tahun itu Budi Utomo mengadakan kongresnya di
Yogyakarta (malahan rumah Kiayi Haji Dahlan dibuat sebagai pusatdari
kongres tersebut) ketika mana Dahlan telah dapat mempesona kongres itu
melalui tabligh yang dilakukannya sehingga pengurus Muhammadiyah
menerima permintaan dari berbagai tempat di Jawa untuk mendirikan
cabang-cabangnya.
Perluasan ini dipermudah oleh berbagai faktor. Pribadi Dahlan dan
caranya ia berpropaganda dengan memperlihatkan toleransi dan pengertian
kepada pendegarnya sangat memberikan bantuan untuk memperoleh
sambutan yang memuaskan. Mereka yang mengenal pembaharuan di
Mesir

melihat

pula

pada

Muhammadiyah

sebagai

jalan

untuk

menyebarkan pemikiran-pemikiran pembaharuan tersebut di Indonesia,
dan oleh sebab itu memberikan bantuannya kepada organisasi itu. Dahlan
sendiri, dan ini dapat dikemukakan secara pasti, telah mengetahui tentang
pemikiran-pemikiran Abduh itu pada tahun 1912. Pembaharuan yang
mula-mula ia lakukan, yaitu tentang praktek-praktek lahiriah seperti kiblat
dan kebersihan, kemudian dirangsang oleh pemikiran dari pembaharu
Mesir itu dan diperluas secara lambat laun pada masalah-masalah
fundamental dari masyarakat dan umat Islam, yaitu tentang persoalan
apakah ijtihad telah tertutup ataukah masih terbuka.
Sekitar tahun 1920, tahun perluasan Muhammadiyah ke luar
Yogyakarta manfaat dari persatuan dan dari berorganisasi pada umumnya
telah dapat diakui oleh sebagian besar kalangan Muslim di Indonesia.

17

Dalam beberapa tempat kehadiran pedagang-pedagang Minangkabau yang
merupakan hasil dari gerakan pembaharuan di Minangkabau sendiri,
merupakan bantuan yang sangat berharga bagi Muhammadiyah. Jadi Nurul
Islam di Pekalongan yang didirikan oleh para pedagang ini diubah menjadi
sebuah cabang Muhammadiyah . Daerah Surabayapun telah mengenal dan
tertarik kepada pemikiran-pemikiran itu sebagai hasil usaha seorang
pedagang bernama Pakih Hasjim, yang dikenal sebagai ulama Padang,
oleh karena ia memang berasal dari Padang . Ia adalah seorang bekas
murid Haji Abdul Karim Amrullah. Dalam kota Surabaya ini pendirian
Muhammadiyah atas inisiatif ulama-ulama setempat, seperti Kiyai Haji
berasal dari Padang . Ia adalah seorang bekas murid Haji Abdul Karim
Amrullah. Dalam kota Surabaya ini pendirian Muhammadiyah atas
inisiatif ulama-ulama setempat, seperti Kiyai Haji berasal dari Padang . Ia
adalah seorang bekas murid Haji Abdul Karim Amrullah. Dalam kota
Surabaya ini pendirian Muhammadiyah atas inisiatif ulama-ulama
setempat, seperti Kiyai Haji berasal dari Padang . Ia adalah seorang bekas
murid Haji Abdul Karim Amrullah. Dalam kota Surabaya ini pendirian
Muhammadiyah atas inisiatif ulama-ulama setempat, seperti Kiyai Haji
Mas Mansur yang kemudian menjadi ketua umum dari organisasi ini,
mendapatkan tanah yang subur di kalangan pengikut Pakih Hasjim.
Mudah dimengerti bahwa cabang utama yang pertama diluar Jawa
didirikan di Minangkabau. Haji Rasul, yang sangat tertarik pada kegiatan
Muhammadiyah itu pada kunjungannya ke Jawa pada tahun 1925 dan
yang menyadari perlunya organisasi semacam itu untuk daerah asalnya ,
mengembangkan organisasi ini dengan mengubah sebuah organisasi lokal
di tempat kelahirannya (Sendi Aman Tiang Selamat) menjadi cabang
Muhammadiyah pada tahun yang sama. Dari sinilah Muhammadiyah itu
menyebar ke seluruh daerah Minangkabau dengan bantuan dari bekas
murid-muridnya.
Mulanya usaha memperkenalkan Muhammadiyah ke daerah
Minangkabau memperoleh banyak tantangan dari pihak Sumatera

18

Thawalib Padang Panjang yang dipengaruhi orang-orang Komunis.
Memang, seperti dikemukakan diatas, mulai tahun 1922 sampai masa
pengahncuran Komunisme di daerah tersebut oleh pihak Belanda pada
tahun 1927, Sumatera Thawalib di Padang Panjang berada di bawah
pengaruh Komunisme, dalam pengertian sikap yang radikal terhadap
Belanda dan bukan merupakan suatu ideologi yang berdasar historis
materialisme. Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya dua golongan
dalam Thawalib, yaitu yang pro Komunis dan bergabung dengan pihak
Komunis dalam berjuang terhadap Belanda, serta mengakui diri mereka
sebagai termasuk dalam lingkungan gerakan Komunis di satu pihak, dan
golongan lain yang anti Komunis. Golongan anti Komunis ini membatasi
kegiatan mereka pada perjuangan pembaharuan pendidikan tanpa
mempersoalkan kedudukan Belanda di indonesia, sekurang-kurangnya
tidak terlalu secara terbuka.
Sampai pada tahun 1927 golongan pro Komunis mempunyai
pengaruh yang lebih besar di Sumatera Thawalib, sedemikian rupa
sehingga Haji Rasul, yaitu salah seorang pendiri dari Sumatera Thawalib
demikian kecewanya sehingga ia akhirnya menolak untuk mengajar di
lembaga tersebut, walaupun kemjudian lembaga itu telah bersih dari
unsur-unsur

pro

Komunis.

Mungkin

sekali

usaha

Haji

Rasul

memperkenalkan Muhammadiyah di daerah kelahirannya pada tahun 1925
didasarkan pada keyakinannya bahwa Thawalib sebagai suatu organisasi
telah tidak dapat ditolong lagi. Mungkin pula disebabkan oleh alasan inlah
hubungan antara Muhammadiyah dan Thawalib di Minangkabau dingin
saja sesudah tahun 1927, walaupun dalam masalah-masalah agama kedua
organisasi tersebut sebenarnya sefaham. Alasan lain mungkin terletak pada
kenyataan bahwa Thawalib lebih banyak merupakan tempat, sekurangkurangnya sampai pada penumpasan Permi oleh Belanda pada tahun 1934,
untuk kegiatan-kegiatan politik. Dan memang lembaga ini merupakan
tempat seperti itu setelah ia berada di bawah pengawasab dan pembinaan
Permi. Hubungan yang dingin antara kedua organisasi itu akhirnya pecah
menjadi kecaman terbuka antara yang satu terhadap yang lain. Ini

19

tercermin dalam pidato-pidato tokoh mereka masing-masing yang pada
umumnya berkisar pada persoalan “Islam dan Kebangsaan”. Hal ini akan
kita bicarakan pada bagian lain nanti. Cukuplah disebutkan di sini bahwa
pada

umumnya

Thawalib

(Permi)

mengecam

sangat

kalangan

Muhammadiyah yang tidak mempedulikan bidang politik, sedang di pihak
lain Muhammadiyah mengesalkan golongan Thawalib yang dirasakan
tidak puas semata-mata dengan Islam saja.
Dalam tahun 1927 Muhammadiyah mendirikan cabang-cabang di
Bengkuli,

Banjarmasin

dan Amuntai,

sedang

pada

tahun

1929

pengaruhnya tersebar ke Aceh dan Makassar. Muballigh-muballigh dikirim
ke daerah-daerah tersebut dari Jawa atau dari Minangkabau untuk
menyebarkan cita-cita Muhammadiyah. Dalam hubungan ini perlu
dikemukakan bahwa cabang-cabang itu tidaklah semata-mata merupakan
suatu tempat berkumpul orang-orang yang mempunyai kepentingan atau
cita-cita yang sama. Memang hal ini terdapat juga, tetapi agar dapat diakui
sebagai cabang gerakan Muhammadiyah untuk tempat masing-masing itu,
haruslah kegiatan yang bersifat permanen diselenggarakan seperti
umapamanya menyelenggrakan sekolah; kursus-kursus yang teratur
ataupun memelihara anak yatim piatu.
Mudahlah dimengerti bahwa dengan perluasan sayap dan kegiatan
yang demikian luas, pimpinan pusat dari organisasi itu bertambah banyak
pula

bagian-bagiannya.

Pembagian

kerja

antara

anggota-anggota

pimpinannya pun mulai diadakan. Tetapi bagian-bagian itu tidak perlu
tumbuh dari dalam organisasi itu sendiri. Demikian umpamanya, bagian
Muhammadiyah yang bernama Penolong Kesengsaraan Umum (PKU)
mulanya merupakan organisasi yang berdiri sendiri dengan nama yang
sama, didirikan pada tahun 1918 oleh beberapa orang pemimpin
Muhammadiyah untuk meringankan korban yang jatuh disebabkan ileh
meletusnya Gunung Kelud. PKU sebagai organisasi yang berdiri sendiri
melanjutkan usaha-usaha untuk membantu orang-orang miskin dan yatim

20

piatu di Yogyakarta sampai ia menjadi bagian yang khusus dari
Muhammadiyah pada tahun 1921.
PKU tidak mengurangi kegiatannya setelah ia masuk di dalam
Muhammadiyah. Dalam tahun 1921 bersama-sama dengan wakil-wakil
dari organisasi-organisasi lain ia memberikan bantuannya kepada korban
kebakaran di Yogyakarta; pada tahun 1922 didirikan rumah yatim piatu
yang pertama, dan pada tahun 1926 ia membuka klinik yang segera diikuti
oleh orang-orang Muhammadiyah di Surabaya, Malang dan Solo.
Organisasi wanita dari Muhammadiyah, bernama Aisyiah, adalah
mulanya juga sebuah organisasi yang berdiri sendiri. Kaum wanita dari
daerah Kauman di Yogya telah aktif pada tahun 1918 dalam suatu
organisasi yang bernama Sopotrisno yang bergerak di bidang sosial.
Walaupun tanpa Anggaran Dasar atau peraturan lain, organisasi ini telah
mulai mengasuh beberapa orang anak yatim. Seperti halnya dengan PKU
tadi, hubungan pribadi memudahkan kerjasama antara organisasi ini
dengan Muhammadiyah dalam bidang sosial dan pendidikan. Maka
segeralah Sopotrisno, dengan nasihat dari seorang anggota penting dari
Muhammadiyah, bernama Haji Muchtar, diubah menjadi Aisyiah sebagai
suatu organisasi yang mempunyai peraturan-peraturan dan pengurus yang
tetap. Ketika itu, ia masih juga bebas dari Muhammadiyah tetapi kegiatankegiatannya telah bertambah luas dengan mengadakan tabligh-tabligh
untuk para anggotanya dan wanita-wanita lain dan kursus-kursus untuk
pekerja-pekerja wanita dari perusahaan-perusahaan batik setempat. Baru
pada tahun 1922 organisasi ini secara resmi menjadi bagian dari
Muhammadiyah.
Organisasi wanita ini menekankan sekali pentingnya kedudukan
wanita sebagai ibu. Ia berpendapat bahwa oleh karena pendidikan pertama
yang diterima oleh seorang anak adalah di rumah, wanita yaitu ibu
mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk kemajuan
masyarakat melalui asuhan dan didikan anak-anaknya sendiri. Seorang
anak perempuan mudah saja dikirim ke sekolah untuk latihan dan

21

pelajaran di samping latihan dan pelajaran yang diperolehnya di rumah,
tetapi wanita yang telah dewasa apalagi pada masa permulaan berdirinya
Aisyiah itu hanya mungkin dilatih dengan kerelaan dan kemauan dari
saudara-saudaranya wanita sesama Muslim untuk kehidupan mereka
sebagai ibu. Demikianlah dirasakan perlu organisasi Aisyiah itu didirikan.
Dalam tahun-tahun kemudian Aisyiah juga memberikan perhatian
kepada anak-anak perempuan remaja, dan untuk ini dibangun pula suatu
bagian khusus bernama Nasyatul Aisyiah.
Kegiatan-kegiatan Muhammadiyah tidaklah tumbuh semata-mata
dari buah pikiran pemimpinnya saja. Pengaruh-pengaruh luar telah kita
catat sebagai terlihat pada pendirian PKU dan Aisyiah. Di antara
pengaruh-pengaruh luar itu kegiatan missionaris Kristen yang memang
telah memasuki jantung pulau Jawa semenjak abad yang lalu, bukan saja
dianggap sebagai suatu tantangan, tetapi juga merupakan suatu contoh
bagi pemimpin-pemimpin Muslim tersebut. Sekurang-kurangnya cara-cara
yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang dilakuka oleh para
Missionaris Kristen itu banyak sedikitnya dijadikan contoh. Perawatan
fakir miskin dan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan dan
sebagainya, mungkin ada dilakukan secara tradisi, tetapi ini semata-mata
terletak pada inisiatif perseorangan. Malah pengumpulan zakatpun
bergantung semata-mata terletak pada inisiatif pada kesediaan orang-orang
Islam sendiri. Anak-anak yatim pada umunya mendapat tempat
perlindungan pada keluarga berada; sebuah keluarga Muslim secara tradisi
ingin memelihara anak-anak yatim tersebut oleh karena kepercayaan
bahwa ini akan membawa berkat juga bagi mereka. Oleh sebab itu
pengaturan anak yatim dengan menyediakan rumah dan mengatur rumah
yang khusus begi mereka, adalah suatu inovasi, demikian pula halnya
dengan klinik kesehatan.
Sebuah kegiatan lain daripada missionaris Kristen yang dijadikan
contoh

oleh Muhammadiyah

ialah gerakan

kepanduan.

Gerakan

kepanduan Muhammadiyah, Hizbul Wathan, dibentuk pada 1918 oleh

22

Kiyai Haji Ahmad Dahlan setelah memperoleh keterangan tentang
persoalan kepanduan ini dari seorang guru Muhammadiyah yang mengajar
di Solo.
Mulanya Hizbul Wathan ini merupakan bagian dari Departemen
Pendidikan Muhammadiyah. Perluasannya kepada beberapa tempat di
Jawa, menyebabkan Kongres Muhammadiyah tahun 1926 memutuskan
untuk membentuk departemen yang khusus bagi gerakan kepanduan yang
dinamakan Majelis Hizbul Wathan. Dua tahun kemudian cabang-cabang
Hizbul Wathan didirikan di luar Jawa; cabang yang pertama di daerah
Minangkabau. Enam belas orang wakil dari Sumatera , kebanyakan
diantaranya dari daerah Minangkabau, tinggal di Yogyakarta setelah
berakhirnya kongres ke-17

Muhammadiyah pada tahun 1928 untuk

mempelajari dan mendapat latihan tentang hal-hal yang bersangkutan
dengan Hizbul Wathan. Merekalah yang merupakan pelopor-pelopor
Hizbul Wathan untuk daerah mereka masing-masing.
Satu bagian yang penting pula dari Muhammadiyah ialah Majlis
Tarjih, didirikan atas dasar keputusan kongres organisasi itu di Pekalongan
pada tahun 1927. Fungsi dari majlis ini adalah mengeluarkan fatwa atau
memastikan hukum tentang masalah-masalah tertentu yang dipertikaikan
oleh masyarakat muslim.
Pembentukan Majlis Tarjih juga didasarkan atas kekhawatirab
bahwa pertikaian yang dijumpai dalam masyarakat Islam pada umumnya
mungkin sekali masuk ke dalam organisasi Muhammadiyah sendiri
dengan kemungkinan menghambat kemajuan organisasi itu. Keputusankeputusan mejlis ini, oleh sebab itu, dapat dijadikan pedoman oleh para
pemimpin dan anggota Muhamadiyah.
Sementara itu penyebaran Muhammadiyah sangat pesat pada
masanya. Dalam tahun 1925 organisasi ini telah mempunyai 29 cabangcabang dengan 4000 orang anggota, sedangkan kegiatan-kegiatannya
dalam bidang pendidikan meliputi delapan Hollands Inlandse School,

23

sebuah sekolah guru di Yogyakarta, 32 buah sekolah dasar lima tahun,
sebuah Schakelschool, 14 madrasah, seluruhnya dengan 119 orang guru
dan 4000 murid. Dalam bidang sosial, ia mencatat dua buah klinik di
Yogyakarta dan Surabaya di mana 12000 pasien memperoleh pengobatan;
sebuah rumah miskin dan dua buah rumah yatim piatu. Dalam tahun 1929
peserta-peserta dari kongres tahunannya berasal dari hampir pulau-pulau
besar di Indonesia (kecuali Kalimantan). Kongres ini mencatat 19000
anggota

Muhammadiyah,

sedangkan

bagian

publikasi

dari

Muhammadiyah telah pula menerbitkan sejumlah 700.000 buah buku dan
brosur. Cabang organisasi ini di Solo telah membuka sebuah klinik mata
dan di Malang sebuah klinik lain pula. Kongres tahun 1930 yang diadakan
di Bukittinggi, tempat pertama kongres di luar Jawa, mencatat 112 cabangcabang dengan 24.000 orang anggota. Keanggotaan ini bertambah menjadi
43.000 pada tahun 1935, tersebarpada 710 cabang-cabang termasuk 216 di
Jawa, 186 di Sumatera, 79 di Sulawesi dan 29 di Kalimantan. Pada tahun
1938 terdapat 852 cabang-cabang serta 898 kelompok (yang belum
berstatus cabang), seluruhnya dengan 250.000 anggota. Iapun memelihara
834 mesjid dan langgar, 31 perpustakaan umum dan 1.774 sekolah. Di
samping itu terdaftar pula propagandis Muhammadiyah sebanyak 5516
laki-laki dan 2114 wanita.
b. Perkembangan Masa Sekarang
Sepanjang sejarah Muhammadiyah sampai dengan hari ini, ia telah
mengalami

perkembangan

yang

sangat

signifikan.

Perkembangan

Muhammadiyah tersebut dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Perkembanngan secara Vertikal
Dari

segi

perkembangan

secara

vertikal,

Muhammadiyah telah berkembang ke seluruh penjuru
tanah

air.

Akan

tetapi,

dibandingkan

dengan

perkembangan organisasi NU, Muhammadiyah sedikit
ketinggalan. Hal ini terlihat bahwa jamaah NU lebih

24

banyak dengan jamaah Muhammadiyah. Faktor utama
dapat dilihat dari segi usaha Muhammadiyah dalam
mengikis

adat-istiadat

yang

mendarah

kalangan

masyarakat,

sehingga

daging

banyak

di

menemui

tantangan dari masyarakat.
2. Perkembangan secara Horizontal
Dari segi perkembangan secara Horizontal, amal
usaha Muhamadiyah telah banyak berkembang, yang
meliputi berbagai bidang kehidupan. Perkembangan
Muhamadiyah dalam bidang keagamaan terlihat dalam
upaya-upayanya, seperti terbentukanya Majlis Tarjih
(1927), yaitu lembaga yang menghimpun ulama-ulama
dalam Muhammadiyah yang secara tetap mengadakan
permusyawaratan

dan

memberi

fatwa-fatwa

dalam

bidang keagamaan, serta memberi tuntunan mengenai
hukum. Majlis ini banyak telah bayak memberi manfaat
bagi

jamaah

dengan

usaha-usahanya

yang

telah

dilakukan:

Memberi tuntunan dan pedoman dalam bidang
ubudiyah

sesuai

dengan

contoh

yang

telah

diberikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Memberi pedoman dalam penentuan ibadah puasa
dan hari raya dengan jalan perhitungan "hisab"
atau

"astronomi"

sesuai

dengan

jalan

perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Mendirikan mushalla khusus wanita, dan juga
meluruskan arah kiblat yang ada pada amasjidmasjid dan mushalla-mushalla sesuai dengan arah
yang benar menurut perhitungan garis lintang.

25

Melaksanakan

dan

menyeponsori

pengeluaran

zakat pertanian, perikanan, peternakan, dan hasil
perkebunan, serta amengatur pengumpulan dan
pembagian zakat fitrah.

Memberi

fatwa

dan

tuntunan

dalam

bidang

keluarga sejahtera dan keluarga berencana.

Terbentuknya

Departemen

Agama

Republik

Indonesia juga termasuk peran dari kepeloporan
pemimpin Muhammadiyah.

Tersusunnya rumusan "Matan Keyakinan dan CitaCita hidup Muhammadiyah", yaitu suatu rumusan
pokok-pokok agama Islam secara sederhana, tetapi
menyeluruh.

Dalam

bidang

pendidikan,

usaha

yang

ditempuh

Muhammadiyah meliputi:

mendirikan

sekolah-sekolah

umum

dengan

memasukkan ke dalamnya ilmu-ilmu keagamaan,
dan

mendirikan madrasah-madrasah yang juga diberi
pendidikan

pengajaran

ilmu-ilmu

pengetahuan

umum.
Dengan usaha perpaduan tersebut, tidak ada lagi
pembedaan

mana

ilmu

agama

dan

ilmu

umum.

Semuanya adalah perintah dan dalam naungan agama.
Dalam bidang kemasyarakatan, usaha-usaha yang telah
dilakukan Muhammadiyah meliputi:

26

Mendirikan rumah-rumah sakit modern, lengkap
dengan segala peralatan, membangun balai-balai
pengobatan,

rumah

bersalin,

apotek,

dan

sebagainya.

Mendirikan panti-panti asuhan anak yatim, baik
putra maupun putri untuk menyantuni mereka.

Mendirikan perusahaan percetakan, penerbitan,
dan

toko

buku

majalah-majalah,

yang
brosur

banyak
dan

memublikasikan
buku-buku

yang

sangat membantu penyebarluasan paham-paham
keagamaan, ilmu, dan kebudayaan Islam.

Pengusahaan dana bantuan hari tua, yaitu dana
yang diberikan pada saat seseorang tidak lagi bisa
abekerja karena usia telah tua atau cacat jasmani.

Memberikan bimbingan dan penyuluhan keluarga
mengenai hidup sepanjang tuntunan Ilahi.

Dalam bidang politik, usaha-usaha Muhammadiyah
meliputi:

Menentang

pemerintah

Hindia

Belanda

yang

mewajibkan pajak atas ibadah kurban. Hal ini
berhasil dibebaskan.

Pengadilan agama di zaman kolonial berada dalam
kekuasaan penjajah yang tentu saja beragama
Kristen. Agar urusan agama di Indonesia, yang
sebagian besar penduduknya beragama Islam,
juga dipegang oleh orang Islam, Muhammadiyah
berjuang ke arah cita-cita itu.

27

Ikut memelopori berdirinya Partai Islam Indonesia.
Pada tahun 1945 termasuk menjadi pendukung
utama berdirinya partai Islam Masyumi dengan
gedung

Madrasah

Mu'alimin

Muhammadiyah

Yogyakarta sebagai tempat kelahirannya.

Ikut menanamkan rasa nasionalisme dan cinta
tanah

air

Indonesia

di

kalangan

umat

Islam

Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia
dalam tabligh-tablighnya, dalam khotbah ataupun
tulisan-tulisannya.

Pada waktu Jepang berkuasa di Indonesia, pernah
seluruh bangsa Indonesia diperintahkan untuk
menyembah dewa matahari, tuhan bangsa Jepang.
Muhammadiyah pun diperintah untuk melakukan
Sei-kerei,

membungkuk

sebagai tanda

hormat

kepada Tenno Heika, tiap-tiap pagi sesaat matahari
sedang terbit. Muhammadiyah menolak perintah
itu.

Ikut aktif dalam keanggotaan MIAI (Majelis Islam
A'la

Indonesia)

dan

menyokong

sepenuhnya

tuntutan Gabungan Politik Indonesia (GAPI) agar
Indonesia

mempunyai

parlemen

di

zaman

penjajahan. Begitu juga pada kegiatan-kegiatan
Islam Internasional, seperti Konferensi Islam Asia
Afrika, Muktamar Masjid se-Dunia, dan sebagainya,
Muhammadiyah ikut aktif di dalamnya.

Pada saat partai politik yang bisa amenyalurkan
cita-cita perjuangan Muhammadiyah tidak ada,
Muhammadiyah tampil sebagai gerakan dakwah
Islam yang sekaligus mempunyai fungsi politik riil.

28

Pada saat itu, tahun 1966/1967, Muhammadiyah
dikenal

sebagai

kemasyarakatan

ormaspol,
yang

yaitu

juga

organisasi

berfungsi

sebagai

partai politik.
Dengan semakin luasnya usaha-usaha yang dilakukan
oleh Muhammadiyah, dibentuklah kesatuan-kesatuan
kerja yang berkedudukan sebagai badan pembantu
pemimpin
tersebut
Selain

persyarikatan.
berupa

majelis

Kesatuan-kesatuan

majelis-majelis
dan

lembaga,

dan

kerja

badan-badan.

terdapat

organisasi

otonom, yaitu organisasi yang bernaung di bawah
organisasi

induk,

dengan

amasih

tetap

memiliki

kewenangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri.
Dalam

persyarikatan

Muhammadiyah,

organisasi

otonom (Ortom) ini ada beberapa buah, yaitu:

'Aisyiyah

Nasyiatul 'Aisyiyah

Pemuda Muhammadiyah

Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM)

Ikatan Mahasiswa Muhamadiyyah (IMM)

Tapak Suci Putra Muhamadiyah

Gerakan Kepanduan Hizbul-Wathan

Organisasi-organisasi
kelompok

Angkatan

Keenam

organisasi

otonom
Muda

tersebut

termasuk

Muhammadiyah

otonom

ini

(AMM).

berkewajiban

mengemban fungsi sebagai pelopor, pelangsung, dan
penyempurna amal usaha Muhammadiyah.

29

Periode Kepemimpinan Muhammadiyah
1. K.H. Ahmad Dahlan (1912 -- 1923)
2. K.H. Ibrahim (1923 -- 1932)
3. K.H. Hisyam (1932 -- 1936)
4. K.H. Mas Mansur (1936 -- 1942)
5. Ki Bagus Hadikusumo (1942 -- 1953)
6. A.R. Sutan Mansyur (1952 -- 1959)
7. H.M. Yunus Anis (1959 -- 1968)
8. K.H. Ahmad Badawi (1962 -- 1968)
9. K.H. Fakih Usman/H.A.R. Fakhrudin (1968 -- 1971)
10. K.H. Abdur Razak Fakhruddin (1971 -- 1990)
11. K.H. A. Azhar Basyir, M.A. (1990 -- 1995)
12. Prof. Dr. H.M. Amien Rais/Prof. Dr. H.A. Syafi'i Maarif
(1995 -- 2000)
13. Prof. Dr. H.A. Syafi'i Maarif (2000 -- 2005)

3. Maksud dan Tujuan Muhammadiyah
a. Maksud dan Tujuan
Rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah sejak
berdiri hingga sekarang ini telah mengalami beberapa kali
perubahan redaksional, perubahan susunan bahasa dan
istilah.

Tetapi,

dari

segi

isi,

maksud

dan

tujuan

Muhammadiyah tidak berubah dari semula.
Pada

waktu

pertama

berdirinya

Muhamadiyah

memiliki maksud dan tujuan sebagi berikut:
2. Menyebarkan

pengajaran

Kanjeng

Nabi

Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada
penduduk

bumi-putra,

di

dalam

residensi

Yogyakarta.
3. Memajukan hal agama Islam kepada anggotaanggotanya.

30

Hingga tahun 2000, terjadi tujuh kali perubahan
redaksional maksud dan tujuan Muhamadiyah. Dalam
muktamarnya yang ke-44 yang diselenggarakan di Jakarta
bulan Juli 2000 telah ditetapkan maksud dan tujuan
Muhamadiyah, yaitu Menegakkan dan menjunjung tinggi
agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil
dan makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

b. Amal Usaha Muhammadiyah
Usaha

yang

pertama

melalui

pendidikan,

yaitu

dengan mendirikan sekolah Muhammadiyah. Selain itu juga
menekankan pentingnya pemurnian tauhid dan ibadah,
seperti:
1. Meniadakan

kebiasaan

menujuhbulani

(Jawa:

tingkeban), yaitu selamatan bagi orang yang hamil
pertama kali memasuki bulan ke tujuh. Kebiasaan
ini merupakan peninggalan dari adat-istiadat Jawa
kuno, biasanya diadakan dengan membuat rujak
dari kelapa muda yang belum berdaging yang
dikenal dengan nama cengkir dicampur dengan
berbagai bahan lain, seperti buah delima, buah
jeruk,

dan

lain-lain.

Masing-masing

daerah

berbeda-beda cara dan macam upacara tujuh
bulanan ini, tetapi pada dasarnya berjiwa sama,
yaitu

dengan

maksud

mendoakan

bagi

keselamatan calon bayi yang masih berada dalam
kandungan itu.
2. Menghilangkan tradisi keagamaan yang tumbuh
dari kepercayaan Islam sendiri, seperti selamatan

31

untuk menghormati Syekh Abdul Qadir Jaelani,
Syekh Saman, dll yang dikenal dengan manakiban.
Selain itu, terdapat pula kebiasaan membaca
barzanji, yaitu suatu karya puisi serta syair-syair
yang mengandung banyak pujaan kepada Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang
disalahartikan. Dalam acara-acara semacam ini,
Muhammadiyah menilai, ada kecenderungan yang
kuat untuk mengultusindividukan seornag wali
atau nabi, sehingga hal itu dikhawatirkan dapat
merusak kemurnian tauhid. Selain itu, ada juga
acara yang disebut "khaul", atau yang lebih
populer disebut khal, yaitu memperingati hari dan
tanggal kematian seseorang setiap tahun sekali,
dengan

melakukan

ziarah

dan

penghormatan

secara besar-besaran terhadap arwah orang-orang
alim dengan upacara yang berlebih-lebihan. Acara
seperti ini oleh Muhammadiyah juga dipandang
dapat mengeruhkan tauhid.
3. Bacaan surat Yasin dan bermacam-macam zikir
yang hanya khusus dibaca pada malam Jumat dan
hari-hari tertentu adalah suatu bid'ah. Begia ziarah
hanya

pada

waktu-waktu

tertentu

dan

pada

kuburan tertentu, ibadah yang tidak ada dasarnya
dalam agama, juga harus ditinggalkan. Yang boleh
adalah

ziarah

kubur

dengan

tujuan

untuk

mengingat adanya kematian pada setiap makhluk
Allah. Mendoakan kepada orang yang masih hidup
atau

yang

sudah

mati

dalam

Islam

sangat

dianjurkan. demikian juga berzikir dan membaca
Alquran juga sangat dianjurkan dalam Islam. Akan

32

tetapi, jika di dalam berzikir dan membaca Alquran
itu diniatkan untuk mengirim pahala kepada orang
yang sudah mati, hal itu tidak berdasa pada ajaran
agama,

oleh

karena

itu

harus

ditinggalkan.

Demikian juga tahlilan dan selawatan pada hari
kematian ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000
hari,

hal

itu

merupakan

bid'ah

yang

mesti

ditinggalkan dari perbuatan Islam. Selain itu, masih
banyak lagi hal-hal yang ingin diusahakan oleh
Muhammadiyah dalam memurnikan tauhid.
c. Landasan Ideal Muhammadiyah
1. Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah
Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah
merupakan rumusan konsepsi yang bersumber pada
Al-Quran
manusia.

dan

Al-Sunnah

Muqaddimah

tentang

pengabdian

Anggaran

Dasar

Muhammadiyah ini menjiwai dan menghembuskan
semangat pengabdian dan perjuangan ke dalam
tubuh dan seluruh gerak organisasi Muhammadiyah.
Matan Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah
secara lengkap antara lain sebagai berikut:
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha
Pemurah dan Penyayang segala puji bagi Allah yang
mengasuh semua alam; yang Maha Pemurah dan
Maha Penyayang, yang memegang pengendalian
pada hari kemudian. Hanya kepada Engkau, hamba
menyembah dan hanya kepada Engkau hamba
mohon pertolongan. Berilah petunjuk kepada hamba
akan jalan yang lempang; jalan orang-orang yang
telah engkau beri kenikmatan; yang tidak dimurkai

33

dantidak

tersesat.”

(Al-Qur’an

Surat

al-Fatihah).

“Saya ridla bertuhan kepada Allah, beragama kepada
Islam dan bernabi kepada Muhammad Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Amma Ba’du, bahwa sesungguhnya ketuhanan
itu adalah hak Allah semata-mata, bertuhan dan
beribadah serta tunduk dan taat kepada Allah adalah
satu-satunya ketentuan yang wajib atas tiap-tiap
Makhluk, terutama Manusia.
Hidup

bermasyarakat

itu

adalah

sunnah

(hukum qudrat-iradat) Allah atas kehidupan manusia
di dunia ini.
Masyarakat

yang

sejahtera,

aman,

damai,

makmur dan bahagia hanya dapat diwujudkan di atas
keadilan,
royong,

kejujuran,

persaudaraan

bertolong-tolongan

dan

dengan

gotong

bersendikan

hukum Allah yang sebenar-benarnya, lepas dari
pengaruh syaitan dan hawa nafsu.
Agama Allah yang dibawa dan diajarkan oleh
sekalian Nabi yang bijaksana dan berjiwa suci, adalah
satu-satunya pokok hukum dalam masyarakat yang
utama dan sebaik-baiknya.
Menjunjung

tinggi

hukum

Allah

lebih

dari

hukum yang manapun juga, adalah kewajiban mutlak
bagi tiap-tiap orang yang mengaku bertuhan kepada
Allah.
Agama Islam adalah agama Allah yang dibawa
oleh sekalian Nabi, sejak Nabi Adam sampai Nabi
Muhammad SAW dan diajarkan kepada umatnya

34

masing-masing untuk mendapatkan hidup bahagia
dunia dan akhirat.
Syahdan, untuk menciptakan masyarakat yang
bahagia

dan

sentosa

tersebut,

tiap-tiap

orang,

terutama ummat Islam ummat yang yang percaya
akan Allah dan hari kemudian, wajiblah mengikuti
jejak sekalian Nabi yang suci; beribadah kepada Allah
dan berusaha segiat-giatnya mengumpulkan segala
kekuatan dan menggunakannya untuk menjelmakan
masyarakat itu di dunia, dengan niat yang murnitulus dan ikhlas karena Allah semata-mata dan hanya
mengharapkan karunia Allah dan ridla-Nya belaka,
serta mempunyai rasa tanggung jawab di hadlirat
Allah atas segala perbuatannya; lagi pula harus sabar
dan tawakkal bertabah hati menghadapi segala
kesukaran atau kesulitan yang menimpa dirinya, atau
rintangan yang menghalangi pekerjaannya, dengan
penuh

pengharapan

akan

perlindungan

dan

pertolongan
Allah yang maha kuasa.
Untuk melaksanakan terwujudnya masyarakat
yang demikian itu, maka dengan berkat dan rahmat
Allah didorong oleh firman Allah dalam Qur’an:
Adakah dari kamu sekalian, golongan yang
mengajak kepada ke-Islaman, menyuruh kepada
kebaikan dan mencegah daripada keburukan. Mereka
itulah golongan yang beruntung dan berbahagia (QS.
Ali Imran: 104).
Pada tanggal Dzulhijjah 133 Hijriyah atau 18
Nopember 1912 Miladiyah, oleh Almarhum KH.A.

35

Dahlan

didirikan

suatu

persyarikatan

sebagai

“gerakan Islam” dengan nama “MUHAMMADIYAH”
yang

disusun

dengan

Majlis-majlis

(Bahagian-

bahagian)nya, mengikuti peredaran zaman serta
berdasarkan “syura yang dipimpin oleh hikmah
kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan

atau

Muktamar.
Kesemua

itu

perlu

untuk

menunaikan

kewajiban mengamalkan perintah-perintah Allah dan
mengikuti sunnah Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW
guna

mencapai

masyarakat

yang

sentosa

dan

bahagia, disertai nikmat dan rahmat Allah yang
melimpah, sehingga merupakan:
Suatu negara yang indah, bersih, suci dan makmur di
bawah perlindungan Tuhan yang Maha Pengampun
(QS. AS-Saba’ :15).
Maka

dengan

Muhammadiyah

ini,

mudah-

mudahan umat Islam dapatlah diantar ke pintu
gerbang syurga “Jannatun Na’im” dengan keridlaan
Allah yang Rahman dan Rahim
2. Kepribadian Muhammadiyah
Kepribadian

Muhammadiyah

memuat

4

(empat) hal yaitu:
1) Apakah Muhammadiyah itu?
Muhammadiyah

adalah

persyarikatan

yang

merupakan gerakan Islam. Maksud gerakannya
adalah dakwah Islam dan amar ma’ruf nahi
munkar

yang

ditujukan

pada

dua

bidang;

36

perseorangan dan masyarakat. Dakwah amar
ma’ruf nahi munkar pada bidang yang pertama
terbagi dalam dua golongan, kepada yang telah
Islam

bersifat

pembaharuan

(tajdid)

yaitu

mengembalikan kepada ajaran-ajaran Islam yang
asli murni. Yang kedua kepada yang belum Islam
bersifat seruan dan ajakan untuk memeluk agama
Islam. Adapun dakwah dan amar ma’ruf nahi
munkar kedua ialah kepada masyarakat, bersifat
perbaikan dan bimbingan serta peringatan.
Kesemuanya

itu

dilakukan bersama

dalam

musyawarah atas dasar taqwa dan mengharap
keridlaan

Allah

semata-mata.

Dengan melaksanakan dakwaf dan amar ma’ruf
nahi munkar dengan caranya masingmasing yang
sesuai,

Muhammadiyah

menggerakkan

masyarakat menuju tujuannya, yaitu: terwujudnya
masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai
Allah SWT.
2) Dasar Amal Usaha Muhammadiyah
Dalam perjuangan melaksanakan usahanya
menuju tujuan terwujudnya masyarakat Islam
yang sebenar-benarnya dimana kesejahteraan,
kebaikan

dan

Muhammadiyah

kebahagiaan

luas

mendasarkan

usahanya

atas

prinsip-prinsip

dalam

uqaddimah

merata,

gerak

amal

yang

tersimpul

Anggaran

Dasar

Muhammadiyah, yaitu:
a) Hidup manusia harus berdasarkan tauhid,
ibadah dan taat kepada Allah;

37

b) Hidup manusia bermanfaat;
c) Mematuhi

ajaran-ajaran

agama

Islam

dengan berkeyakinan bahwa ajaran Islam
itu satu-satunya landasan kepribadian dan
ketertiban

bersama

untuk

kebahagiaan

dunia akhirat;
d) Menegakkan dan menjunjung tinggi agama
Islam dalam masyarakat adalah kewajiban
sebagai ibadah kepada Allah dan ihsan
kepada kemanusiaan;
e) Ittiba’ kepada langkah dan perjuangan nabi
Muhammad SAW; dan
f) Melancarkan amal usaha dan perjuangan
dengan ketertiban organisasi.
3) Pedoman

Amal

Usaha

dan

Perjuangan

Muhammadiyah
Menilik dasar prinsip tersebut diatas, maka
pada

apapaun

yang

diusahakan

dan

bagaimanapun cara perjuangan Muhammadiyah
untuk

mencapai

tujuan

tunggalnya

harus

berpedoman: “Berpegang teguh akan ajaran Allah
dan Rasul-Nya, bergerak membangun di segenap
bidang dan lapangan dengan menggunakan cara
serta menempuh jalan yang diridlai Allah.”
4) Sifat Muhammadiyah
Memperhatikan

uraian

tentang:

(a)

Apakah Muhammadiyah itu, (b) Dasar Amal
Usaha Muhammadiyah, dan (c) Pedoman

38

Amal

Usaha

dan

Muhammadiyah,
memiliki

dan

maka
wajib

Perjuangan
Muhammadiyah

memelihara

sifat-

sifatnya, terutama yang terjalain di bawah
ini:
a. Beramal

dan

berjuang

untuk

perdamaian dan kesejahteraan;
b. Memperbanyak

kawan

dan

mengamalkan ukhuwah Islamiyah;
c. Lapang dada, luas pandangan dengan
memegang teguh ajaran Islam;
d. Bersifat

keagamaan

dan

kemasyarakatan;
e. Mengindahkan segala hukum, undangundang,

peraturan

serta

dasar

dan

falsafah negara yang sah;
f. Amar ma’ruf nahi munkar dalam segala
lapangan serta menjadi contoh teladan
yang baik;
g. Kerjasama

dengan

golongan

Islam

manapun juga dalam usaha menyiarkan
dan mengamalkan ajaran Islam, serta
membela kepentingannya;
h. Aktif dalam perkembangan masyarakat,
dengan maksud: Ishlah pembangunan
sesuai dengan ajaran Islam;
i. Membantu
bekerjasama

pemerintah
dengan

golongan

serta
lain

39

dalam

memelihara

dan

membangun

negara untuk mencapai masyarakat adil
dan makmur yang diridlai Allah; dan
j. Bersifat adil serta korektif ke dalam dank
ke luar dengan bijaksana.
3. Matan

Keyakinan

dan

Cita-cita

Hidup

Muhammadiyah
Rumusan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup
(MKCH) Muhammadiyah ditetapkan dalam siding
Tanwir tahun 1969 di Ponorogo dan kemudian direvisi
pada Tanwir di Yogyakarta pada tahun 1970 dengan
sistematika sebagai berikut:
1. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan

Dakwah

Amar

Ma'ruf

Nahi

Munkar,

beraqidah Islam dan bersumber pada AlQur'an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja
untuk terwujudnya masyarakat utama, adil,
makmur yang diridhai Allah SWT, untuk
malaksanakan

fungsi

dan

misi

manusia

sebagai hamba dan khalifah Allah di muka
bumi.
2. Muhammdiyah berkeyakinan bahwa Islam

adalah

Agama

Allah

yang

diwahyukan

kepada Rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh,
Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai
kepada

Nabi penutup

Muhammad

SAW,

sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada
umat

manusia

sepanjang

masa,

dan

40

menjamin kesejahteraan hidup materil dan
spritual, duniawi dan ukhrawi.
3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam

berdasarkan:
a. Al-Qur'an:

Kitab

Allah

yang

diwahyukan kepada Nabi Muhammad
SAW;
b. Sunnah

Rasul:

Penjelasan

dan

palaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur'an
yang diberikan oleh Nabi Muhammad
SAW

dengan

fikiran

sesuai

menggunakan
dengan

jiwa

akal
ajaran

Islam.
4. Muhammadiyah

terlaksananya

bekerja
ajaran-ajaran

meliputi bidangbidang:
a. Aqidah
Muhammadiyah

untuk
Islam

bekerja

yang

untuk

tegaknya aqidah Islam yang murni,
bersih dari gejalagejala kemusyrikan,
bid'ah

dan

mengabaikan

khufarat,
prinsip

tanpa
toleransi

menurut ajaran Islam.
b. Akhlak

Muhammadiyah
tegaknya

bekerja

nilai-nilai

untuk

akhlak

mulia

dengan berpedoman kepada ajaranajaran Al-Qur'an dan Sunnah rasul,
tidak

bersendi

ciptaan manusia

kepada

nilai-nilai

41

c. Ibadah

Muhammadiyah
tegaknya

ibadah

bekerja
yang

untuk

dituntunkan

oleh Rasulullah SAW, tanpa tambahan
dan perubahan dari manusia.
d. Muamalah Duniawiyah

Muhammadiyah

bekerja

untuk

terlaksananya mu'amalat duniawiyah
(pengolahan
masyarakat)

dunia

dan

dengan

pembinaan
berdasarkan

ajaran Agama serta menjadi semua
kegiatan dalam bidang ini sebagai
ibadah kepada Allah SWT
5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan
bangsa
karunia

Indonesia
Allah

mempunyai

yang

berupa

telah
tanah

sumber-sumber

mendapat
air

yang

kekayaan,

kemerdekaan bangsa dan Negara Republik
Indonesia yang berdasar pada Pancasila dan
Undang-Undang

Dasar

1945,

untuk

berusaha bersama-sama menjadikan suatu
negara yang adil dan makmur dan diridhoi
Allah SWT.
Baldatun thayyibatub wa robbun ghofur.

42

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan
pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H, yakni bertepatan tanggal
18 November 1912 M di kota Yogyakarta. Berdirinya
Muhammadiyah tidak lepas dari peranan KH.Ahmad Dahlan
seseorang yang dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869
dan wafat 1923 dengan nama asli Muhammad Darwis anak
seorang kiai H. Abu Bakar Bin Sulaiman Khatib Masjid
Kauman atau Kesultanan Yogyakarta. Lantas, ia pergi ke
Mekah pada tahun 1890 dan belajar dengan seorang guru
Syekh Ahmad Khathib dari Minang Kabau, salah seorang
ulama yang kharismatik dan besar di Masjid al-Harom.
Setelah sepulang dari Mekah, KH Ahmad Dahlan
tergerak hatinya untuk membangan sebuah perkumpulan,
organisasi atau persyarikatan yang teratur dan rapi di
mana tugasnya melaksanakan misi dakwah Islam amar
Makruf Nahi Munkar di tengah masyarakat Indonesia.
Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah:
1. Menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada penduduk bumiputra, di dalam residensi Yogyakarta.
2. Memajukan
anggotanya.

hal

agama

Islam

kepada

anggota-

43

Mula-mula ajaran awal yang menjadi embrio sejarah
berdirinya organisasi Islam Muhammadiyah ini ditolak,
namun berkat ketekunan dan kesabaran KH Ahmad Dahlan,
akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman
dekatnya

meskipun

dengan

perjuangan

yang

berat.

Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan
beliau

yang

mengingatkan

kita

kepada

sosok

Nabi

Muhammad Saw.
Dalam waktu singkat, ajaran ideologi Muhammadiyah
yang dibawa KH Ahmad Dahlan menyebar ke luar kampung
Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan luar Pulau
Jawa.

Untuk

didirikan

mengorganisir

persyarikatan

pembentukan

kegiatan

tersebut,

Muhammadiyah.

perkumpulan

organisasi

Berawal

maka
dari

Muhammadiyah

sebagai bentuk manifestasi ideologi yang dibawa KH
Ahmad Dahlan, kini Muhammadiyah telah ada diseluruh
pelosok

tanah

air

dan

berpengaruh di Indonesia.

menjadi

organisasi

Islam

44

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku
Mulkhan, Abdul Munir. 2000. Islam Murni dalam Masyarakat
Petani. Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya
Noer, Deliar. 1982. Gerakan Moderen Islam di Indonesia 19001942. Jakarta: Penerbit LP3ES.
Pasha, Mustafa Kamal, dkk., 1975. “Muhammadiyah Sebagai
Gerakan Islam” dalam Mulkhan, Abdul Munir. 2000. Islam
Murni dalam Masyarakat Petani. Yogyakarta: Yayasan
Benteng Budaya.
Sumber Jurnal
Dahlan, Muh. 2014. K.H. Ahmad Dahlan Sebagai Tokoh
Pembaharu. Jurnal Adabiyah, Vol. XIV, Nomor 2/2014.
Padmo, sugijanto. juni 2007. Gerakan pembaharuan islam
indonesia dari masa ke masa: sebuah pengantar. Volume 19.
https://journal.ugm.ac.id/jurnalhumaniora/article/viewFile/899/746 diakses 25 september
2016 pukul 16.40 WIB.
Kusmanto, H. 2015. Profil Organisasi Muhammadiyah, Bab II.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/46445/4/Ch
apter%20II.pdf diakses pada tanggal 25 September 2016
pukul 10.07 WIB.
Sumber Internet

45

Islam Cendekia. 2014. Sejarah Singkat Berdirinya
Muhammadiyah di Indonesia.
http://www.islamcendekia.com/2014/10/sejarah-singkatberdirinya-muhammadiyah.html. Diakses pada tanggal 26
September 2016 pukul 15.30 WIB.
Sejarah Muhammadiyah.
http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-50-detsejarah.html. Diakses pada tanggal 26 September 2016
pukul 15.45 WIB.
Wikipedia bahasa Indonesia. Muhammadiyah.
https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammadiyah diakses pada
tanggal 25 September 2016 pukul 10.10 WIB.
Sumber Gambar
Gambar K.H. Ahmad Dahlan diambil dari;
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/5/5d/Ahmad_dahla
n.jpg
Gambar Lambang Muhammadiyah diambil dari;
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/4/47/Muha
mmadiyah_Logo.svg/1021px-Muhammadiyah_Logo.svg.png