You are on page 1of 11

PROPOSAL PROGRAM KREATIF MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
PEMODELAN SPASIAL RISIKO BANJIR LUAPAN KALI LAMONG
BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT DI KECAMATAN BENJENG
KABUPATEN GRESIK
BIDANG KEGIATAN :
PKM PENELITIAN

Diusulkan Oleh :
Mega Utami Ciptaningrum
Nita Kadiana
Anggakara V.W

3613100034
3615100059
3616100048

Angkatan 2013
Angkatan 2015
Angkatan 2016

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2016

klimatologis dan demografis (Perka BNPB.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana).Kodoatie (2002). Selain itu bencana tersebut juga menyebabkan 21. Terdapat dua sungai lintas Kabupaten yang mengalir di Kabupaten Gresik. 2015). Terjadinya bencana kerap menimbulkan kerugian baik kerugian materi maupun non-materi. banjir.1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.7% bencana alam yang terjadi di Indonesia dari awal tahun 2016 hingga Agustus 2016 adalah bencana banjir (DIBI BNPB. Indonesia adalah negara yang rawan bencana dilihat dari aspek geografis. Permasalahan banjir akibat meluapnya Kali Lamong sudah menjadi bencana rutin yang terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Gresik dan Kota Surabaya (Santoso. Bencana alam merupakan salah satu jenis bencana yang sering terjadi di Indonesia. dan tanah longsor (UU No. tsunami. 2014). bencana non alam. kerugian harta benda. angin topan. 2016). Dari berbagai macam jenis bencana alam tersebut.769 jiwa menderita dan mengungsi. Menurut Robert J. Bencana alam didefinisikan sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi. Berdasarkan data sementara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai dari bulan Januari hingga Agustus 2016 telah terjadi sebanyak 1. yaitu DAS Brantas yang memiliki hilir Kali Surabaya (Orde 1) dan Kali Tengah (Orde 2) dengan wilayah pelayanan Gresik dan Surabaya. 2012). 2016).512 kejadian bencana di Indonesia yang mengakibatkan 322 orang meninggal dunia serta 2. 2013).. kerusakan lingkungan. kecuali Kecamatan Panceng yang mempunyai ketinggian lebih dari 25 meter di atas permukaan air laut (PEMDA Gresik. Kecamatan Benjeng merupakan Kecamatan . Menurut RTRW Kabupaten Gresik tahun 2011-2031. Kecamatan Benjeng. dan dampak psikologis (UU No. Salah satu daerah yang hampir setiap tahunnya dilanda banjir adalah Kabupaten Gresik. Selain itu juga terdapat DAS Bengawan Solo yang memiliki hilir Kali Lamong (Orde 1) dengan wilayah pelayanan Gresik dan Lamongan (RTRW Kabupaten Gresik 20112031). kawasan rawan bencana banjir di DAS Kali Lamong Kabupaten Gresik meliputi Kecamatan Balongpanggang. Bencana dikelompokkan menjadi tiga jenis. gunung meletus. Kecamatan Cerme dan Kecamatan Menganti. Menurut Seniarwan (2013) kejadian bencana banjir memberikan dampak negatif pada wilayah yang berkaitan dengan aktivitas manusia yaitu dapat menimbulkan korban jiwa dan kerugian material serta efek psikologis (trauma) terhadap masyarakat yang terkena dampak (Rakhman. kekeringan. banjir di Indonesia menimbulkan kerusakan sebesar dua pertiga dari bencana alam yang pernah terjadi (Indawati. 2014). yaitu bencana alam. banjir merupakan bencana alam yang mendominasi.1 Latar Belakang Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia.537 unit permukiman mengalami kerusakan (DIBI BNPB.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana). BNPB mencatat 35. Kabupaten Gresik merupakan dataran rendah dengan ketinggian 2-12 meter di atas permukaan air laut.086. dan bencana sosial. Banjir di Kabupaten Gresik diakibatkan oleh luapan sungai maupun naiknya permukaan air laut. et al.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh LAPAN tahun 2008.2 Perumusan Masalah Bencana banjir luapan Kali Lamong di Kecamatan Benjeng yang hampir setiap tahun terjadi menimbulkan kerugian besar. baik berupa kerugian materi maupun kerugian non materi. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. 2013). BNPB mencatat banjir yang pernah terjadi di Kecamatan Benjeng yaitu pada bulan Maret dan Desember tahun 2013 serta bulan Februari dan Maret tahun 2015. Kabupaten Gresik berdasarkan hasil pemodelan spasial menurut persepsi masyarakat?” 1. Potensi dampak negatif tersebut dihitung berdasarkan tingkat ancaman.go. Membangun model spasial tingkat ancaman/bahaya (hazard) banjir berdasarkan hasil model formula matematika dengan melibatkan persepsi masyarakat 2. Dalam mengkaji risiko bencana diperlukan pengkajian terhadap ancaman/bahaya dan kerentanan terlebih dahulu. tingkat kerentanan dan kapasitas kawasan. 1.2 yang cukup sering dilanda banjir. Kabupaten Gresik dapat memberikan gambaran karakteristik banjir dengan berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya.520 KK atau setara dengan 4. Kerugian yang diakibatkan oleh banjir di Kecamatan Benjeng ini juga cukup besar. mengingat wilayah ini kerap dilanda banjir akibat luapan Kali Lamong. Pemodelan risiko banjir di Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik sangat diperlukan.bnpb. Kejadian banjir yang terus terjadi setiap tahun juga mengindikasikan kurang efektifnya upaya pengendalian banjir yang telah dilakukan.3 Tujuan Program Berdasarkan perumusan masalah di atas. 2008). Pengkajian risiko bencana merupakan pendekatan untuk memperlihatkan potensi dampak negatif yang mungkin timbul akibat suatu potensi bencana yang melanda. maka pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah tingkat risiko banjir luapan Kali Lamong di Kecamatan Benjeng. Selain itu sebanyak 1. Membangun model spasial tingkat kerentanan (vulnerability) banjir berdasarkan variabel-variabel yang mempengaruhi .432 jiwa terdampak oleh banjir. & Gandasasmita. Berdasarkan rumusan masalah tersebut.245 unit rumah terendam dengan ketinggian 30-60 cm (http://geospasial. Oleh karena itu diperlukan pemahaman mengenai karakteristik banjir yang selanjutnya dapat digunakan sebagai referensi pengambilan keputusan dalam upaya pengendalian banjir yang efektif. Kecamatan Benjeng yang mayoritas berupa daratan aluvial merupakan daerah penanganan banjir prioritas II (Wiweka. Pemodelan spasial risiko banjir luapan Kali Lamong di Kecamatan Benjeng. Salah satunya banjir yang terjadi pada 2 Maret 2015 menyebabkan 1. Hasil dari pemodelan tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu referensi bagi pemerintah setempat untuk merencanakan dan mengambil keputusan terkait tata ruang dan upaya mitigasi guna mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari banjir. Baskoro.id) Kurangnya informasi khususnya data spasial mengenai kondisi wilayah yang berpotensi terdampak banjir dapat memperparah kerugian yang ditimbulkan. Kajian spasial wilayah bencana banjir penting untuk dilakukan sebagai referensi upaya mitigasi (Seniarwan.

2012). Salah satu Bahaya/Ancaman tersebut adalah banjir. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. sakit. Selain itu hasil penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penyusunan upaya mitigasi bencana. . tingkat kapasitas (capacity). 2.. Terbentuknya model spasial tingkat risiko bencana benjir Kali Lamong di Kecamatan Benjeng. 2012). 2012). jiwa terancam. ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri. Jenis bencana dibedakan menjadi tiga.3 3. Indonesia secara garis besar memiliki 13 Bahaya/Ancaman Bencana (BNPB. sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi. yaitu bencana alam. tingkat risiko bencana serta pengkajian terhadap kebijakan penanggulangan bencana berdasarkan hasil kajian dan peta risiko bencana (Perka BNPB. luka. 1. Manfaat Praktis Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pemerintah Kabupaten Gresik sebagai sumber informasi dan referensi dalam pengambilan kebijakan terkait tata ruang di wilayah Kabupaten Gresik khususnya Kecamatan Benjeng agar terhindar dari dampak negatif adanya banjir luapan Kali Lamong. 2007). terlebih dahulu diperlukan pengkajian-pengkajian mengenai tingkat ancaman/bahaya (hazard).. bencana non alam dan bencana sosial (BNPB. Kabupaten Gresik 2. dan gangguan kegiatan masyarakat (Perka BNPB.. Dalam pengkajian risiko bencana.4 Luaran yang Diharapkan Luaran yang diharapkan dari penelitian ini antara lain: 1. Pengkajian risiko bencana digunakan sebagai landasan .1 Bencana UN-ISDR Terminology on Disaster Risk Reduction 2009 mendefinisikan bencana sebagai suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat.2 Risiko Bencana (Disaster Risk) Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu kawasan dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian. Manfaat Teoritis Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah memberikan kontribusi ilmu pengetahuan dalam bidang pemodelan risiko banjir luapan sungai dengan mempertimbangkan persepsi masyarakat terdampak banjir. mengungsi. kerusakan atau kehilangan harta. b. Terjadinya suatu bencana tidak terlepas dari adanya risiko bencana. Membangun model tingkat risiko banjir berdasarkan model spasial tingkat ancaman/bahaya (hazard) dan tingkat kerentanan (vulnerability) banjir 1.. . 3. tingkat kerentanan (vulnerability). hilangnya rasa aman.5 Kegunaan Program a.

Pada tatanan mitra pemerintah. Tiap “aset” memiliki sensitivitas sendiri. rasio orang cacat dan rasio kelompok umur) (BNPB. material yang dihanyutkan aliran banjir. 2012). hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai dasar untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana. c. Pada tatanan pemerintah. “Aset-aset” yang terekspos termasuk kehidupan manusia (kerentanan sosial). Dalam dua kasus informasi disertakan pada komposisi paparan (seperti kepadatan penduduk. b. Parameter atau tolok ukur ancaman/bahaya banjir dapat ditentukan berdasarkan luas genangan. 2. hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai dasar untuk melakukan aksi pendampingan maupun intervensi teknis langsung ke komunitas terpapar untuk mengurangi risiko bencana. pengambilan keputusan daerah tempat tinggal dan sebagainya. atau kerusakan Iingkungan (BNPB. 2013). ketinggian banjir. wilayah ekonomi. teknologi dan bahaya beraspek lingkungan (Ristya. hidrometerologi. Menurut United Nations-International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR). Indikator yang digunakan dalam analisis kerentanan terutama adalah informasi keterpaparan. seperti menyusun rencana dan jalur evakuasi. rasio jenis kelamin. Kebijakan ini nantinya merupakan dasar bagi penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana yang merupakan mekanisme untuk mengarusutamakan penanggulangan bencana dalam rencana pembangunan. 2012). hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai salah satu dasar untuk menyusun aksi praktis dalam rangka kesiapsiagaan.4 Kerentanan (Vulnerability) Kerentanan adalah suatu kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bencana. kehilangan jiwa manusia. struktur fisik dan wilayah ekologi/lingkungan. fisik dan lingkungan. ekonomi. Kajian risiko bencana dilaksanakan menggunakan pendekatan berikut : Ancaman∗Kerentanan Risiko Bencana= Kapasitas Fungsi pengkajian risiko bencana menurut Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 02 tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana adalah sebagai berikut : a. Kerentanan dapat didefinisikan sebagai Exposure kali Sensitivity. 2. tebal endapan lumpur dan lama genangan (Bakornas-PB. . biologi. bahaya dapat dibedakan menjadi 5 kategori yaitu bahaya beraspek geologi.3 Ancaman/Bahaya (Hazard) Bahaya/ancaman (hazard) merupakan suatu situasi atau kejadian atau peristiwa yang mempunyai potensi dapat menimbulkan kerusakan.4 penyelenggaraan penanggulangan bencana di suatu kawasan. Komponen Kerentanan disusun berdasarkan parameter sosial budaya. Pendampingan dan intervensi para mitra harus dilaksanakan dengan berkoordinasi dan tersinkronasi terlebih dahulu dengan program pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. 2007). Pada tatanan masyarakat umum. kecepatan aliran. rasio kemiskinan. yang bervariasi per bencana (dan intensitas bencana).

pengaruh fisiografi/geografi. Bolstad mendefinisikan model spasial sebagai deskripsi sifat dasar dan proses dari sebuah/kumpulan data spasial. 2012). pengurangan kapasitas sungai. yaitu banjir bandang.1 Komposisi analisis kerentanan Sumber : Perka BNPB Nomor 2 tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana Banjir 2.4 Banjir Banjir merupakan limpasan air yang melebihi tinggi muka air normal. kawasan kumuh. 2013). Jenis banjir dapat dibedakan menjadi tiga jenis. melainkan disesuaikan dengan kebutuhan tujuan studi. kerusakan bangunan pengendali banjir dan perencanaan sistem pengendalian banjir yang tidak tepat (Yulaelawati & Syihab. bendungan air. Sedangkan faktor pengaruh tindakan manusia meliputi perubahan kondisi DPS (Daerah Pengaliran Sungai). maka karakteristik sistem yang digambarkan dalam model biasanya tidak menyeluruh. erosi dan sedimentasi. 2008). yaitu : . Karena merupakan tiruan. drainase lahan. Model dapat dikatakan memadai jika telah sesuai dengan tujuan dari analis/pemodel (Putra. kapasitas sungai yang tidak memadai dan pengaruh air pasang. Banjir dapat disebabkan oleh faktor alami maupun akibat dari tindakan manusia. 2011). banjir luapan sungai dan banjir pantai (Yulaelawati & Syihab.Adanya variasi dalam konteks ruang yang dimanipulasi oleh model tersebut . Page. model memiliki sejumlah asumsi yang berkaitan dengan proses/struktur sistem maupun input/output dalam sistem (Priyandari. Sementara Longley memberikan acuan bahwa sebuah model spasial membutuhkan dua syarat. dan Rodin (1990) adalah suatu representasi yang memadai dari suatu sistem.5 Pemodelan Spasial Pengertian model menurut Murthy. 2008).5 Gambar 2. Faktor alami penyebab banjir antara lain curah hujan. 2. sampah. sehingga melimpas dari palung sungai menyebabkan adanya genangan pada lahan rendah di sisi sungai (BNPB. Dengan demikian.

Lama genangan Data parameter kerentanan . 2010). Tabel 1. Tabel 2. Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dikembangkan dalam aplikasi hidrologi perkotaan terutama dalam membuat suatu model seperti halnya fenomena banjir genangan di perkotaan (Raharjo. Pengumpulan data sekunder digunakan untuk kompilasi data berupa dokumendokumen terkait penelitian dari instansi. Sedangkan pengumpulan data primer terkait data parameter bahaya. penilaian skoring serta parameter kerentanan diperoleh melalui wawancara terhadap masyarakat terdampak banjir serta pengamatan langsung di lapangan.Kerentanan ekologi Sumber Data RTRW Kabupaten Gresik 2011-2031 Wawancara masyarakat Instansi Bappeda Kabupaten Gresik Masyarakat Observasi lapangan - .1 Variabel Penelitian Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut. BAB 3 METODE PENELITIAN 3.Ketinggian banjir . 2016 3.6 - Hasil dari model mengubah lokasi dari obyek yang dimanipulasi/dirubah Sehingga dari kedua pendapat tersebut. 2013). Sumber Data Jenis Data Peta daerah rawan banjir di Kabupaten Gresik Data parameter bahaya . dapat ditarik kesimpulan bahwa model spasial merupakan model dari sebuah data atau kumpulan data yang memiliki informasi spasial.Kerentanan fisik  Jenis rumah  Persebaran fasilitas umum . Variabel Penelitian No 1 2 3 Sasaran Memodelkan tingkat ancaman/bahaya (hazard) banjir dengan model matematika berdasarkan parameter bahaya Memodelkan tingkat kerentanan (vulnerability) banjir dengan model matematika berdasarkan variabel terpilih Memodelkan tingkat risiko banjir berdasarkan variabel ancaman bahaya dan kerentanan Faktor Parameter bahaya Kerentanan fisik Kerentanan ekologi Peta Variabel Kedalaman banjir Lama genangan Jenis rumah Fasilitas umum Hutan lindung Hutan alam Hutan bakau Peta ancaman/bahaya (hazard) Peta kerentanan (vulnerability) Sumber : Sintesa Penulis.2 Tahap Pengumpulan Data Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data terdiri dari pengumpulan data primer dan sekunder. dimana informasi spasial tersebut yang menjadi fokus utama dari model itu sendiri (Nurheza.

Analisis .3 Metode Analisis Teknik analisa dalam penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk merumuskan model lahan pertanian pangan berkelanjutan di Kabupaten Subang.Analisis .Analisis pengharkatan Model spasial tingkat kerentanan pengharkatan dan skoring Untuk mendapatkan banjir luapan dan skoring Memodelkan .7  Lokasi hutan lindung  Lokasi hutan alam Sumber : Tim Penyusun.Analisis pengharkatan . 2016 3.Model bahaya dengan model yang akan digunakan banjir luapan matematika dalam pemodelan banjir berdasarkan sungai .SPSS nilai pembobotan bahaya banjir . 2016 .Geographic Information parameter bahaya System Sebagai alat analisis pemodelan banjir dengan teknik Raster Calculator . No Tujuan Analisis Metode Analisis Penjelasan Alat Analisis Hasil .Geographic kepentingan dan skor .Geographic nilai pembobotan sungai tingkat kerentanan kepentingan dan skor Information (vulnerability) tiap variabel kerentanan System 2 banjir dengan .SPSS System untuk pemodelan ancaman/bahaya Untuk mendapatkan bahaya banjir (hazard) banjir formula matematika 1 .Pembobotan pengharkatan dan skoring variabel yang Untuk mendapatkan dan skoring mempengaruhi .Formula Memodelkan Information tiap variabel bahaya matematika tingkat .Geographic Information model matematika System berdasarkan Sebagai alat analisis variabel terpilih pemodelan banjir dengan teknik Weighted Overlay Geographic Geographic Information Model spasial Memodelkan tingkat risiko System tingkat risiko banjir Information Sebagai alat analisis berdasarkan System banjir luapan 3 variabel ancaman pemodelan banjir sungai bahaya dan dengan teknik Weighted kerentanan Overlay Sumber : Penyusun.

2. GPS dan peralatan penunjang lainnya (15-25%) 2 Pembuatan proposal.00 Persentase 25% Rp.750.2 Jadwal Kegiatan Biaya Rp.000.000.00 100% . 11.000.00 35% Rp. 2.000.000. 3.650.8 BAB 4 BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN 4.850.00 25% Rp.00 15% Rp. konsumsi tim (20-35%) 3 Survei instansional dan survei primer (15-25%) 4 Lain-lain : publikasi.000. 2016 4. kuesioner.1 Anggaran Biaya Anggaran biaya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan penelitian ini diuraikan sebagai berikut : Tabel 3. seminar dan lainnya (15%) Jumlah Sumber : Tim Penyusun. Ringkasan Anggaran Biaya Penelitian No Jenis Pengeluaran 1 Cetak peta. 1.750.

000 450. Pemakaian 1.000 300.000 250.000 Kuantitas Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 25.000 250.750.000 1 paket 150.000 150. Cetak poster Sosialisasi 7.000 900.000 100.000 255. Peralatan Pennunjang No Material Justifikasi .000 Kuantitas Jumlah (Rp) 50 lembar Harga Satuan (Rp) 500 100 lembar 500 50. Pemakaian 1.000 1. Anggota dan Dosen Pembimbing Lampiran 2. Cetak banner Sosialisasi 6.Peta-peta garis penelitian .Peta ditra satelit .Proposal perijinan .000 200.Peta scenario 5.000 3 buah 75.850. Bahan Habis Pakai No Material Justifikasi . Justifikasi Pemakaian Kuantitas Jumlah (Rp) 3 buah Harga Satuan (Rp) 85.000 . Jasa Surveyor Biaya bantuan 8.Peta skenario SUB TOTAL (Rp) 3.000 95.000 3 buah 2 buah 5 buah 5 orang 150.Surat perijinan . Pembuatan Stempel Stempel sebagai identitas 4.000 5 minggu 5 minggu 5 minggu 50. Konsumsi tim dan Penambah nutrisi surveyor selama penelitian 4. Biodata Ketua.000 1 unit 95. Justifikasi Anggaran Kegiatan 1.000 10.000 2.000 3 buah 750.250.000 60. Meteran Peralatan pengukuran 2.000 50 orang 18.000 50. Print kertas A4 . Kuisioner Penunjang penelitian 3.9 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran 1.Laporan 2.000 2.000 225. Cetak Peta A3 .000 50.Peta administrasi . GPS (Sewa) Mencari titik lokasi 3.000 3. Sumber peta: Penunjang . ATK Perlengkapan ATK SUB TOTAL (Rp) 2. Perjalanan No Material .000 230.150.

Lain-lain No Material Justifikasi .000 1. Pemakaian 1.350.Biaya pendaftaran dan internasional pemakalah tim (per orang) .000 Lampiran 3. Tansportasi ke lokasi Penunjang kegiatan.000 75.650.000 orang 2 minggu 400.000 2 kali 300.Biaya publikasi jurnal 2.000 1 paket 1 paket 125.000 orang 1.000 orang 10 kali x 3 6. Transportasi Penarian dan pembelian peralatan pembelian peralatan 3. Obat-obatan P3K SUB TOTAL (Rp) 10 kali x 3 4.000 75.000 800.000 2.000 Kuantitas Jumlah (Rp) 2 kali Harga Satuan (Rp) 300. Surat Pernyataan Ketua Kegiatan 600.750. Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas Lampiran 4.000 20 kali x 3 7.000 420. Transportasi ke Pencarian peta instansi dan lain-lain 4. Seminar nasional .000 600.Laporan Akhir 4. Spanduk dan brosur Media publikasi 5. Proposal . survey 2.000 2 kali 75.000 150. Transportasi Meringankan surveyor beban surveyor SUB TOTAL (Rp) 4.000 180. Transportasi Biaya transportasi pemakalah ke lokasi 3.000 2 buku 50.000 100.Laporan MONEV .10 1.000 125.000 .