You are on page 1of 4

PENGOBATAN TUBERKULOSIS

1. OBAT – OBATAN YANG DIGUNAKAN DALAM PENGOBATAN
TUBERKULOSIS

a. Kelompok Obat Lini-Pertama:
1) Isoniazid (INH)
2) Rifampisin (R)
3) Etambutol (E)
4) Streptomisin (S)
5) Pirazinamid (P)
b. Kelompok Obat Lini-Kedua:
1) Antibiotik golongan flurokuinolon (siprofloksasin, ofloksasin,
levofloksasin)
Sikloserin
Etionamid
Amikasin
Kanamisin
Kapreomisin
Paraaminosalisilat (PAS)

2)
3)
4)
5)
6)
7)

Obat-obat lini kedua berfungsi untuk dicadangkan pada kasus-kasus
resisten multi-obat.

2. PRINSIP PENGOBATAN TUBERKULOSIS

a. Faktor Aktivitas obat:
Terdapat 2 macam sifat/aktivitas obat terhadap tuberkulosis, yakni:
1) Aktivitas Bakterisid
- Obat bersifat membunuh kuman-kuman yang sedang tumbuh
-

(ditandai dengan metabolismenya yang masih aktif).
Aktivitas bakterisid biasanya diukur dari kecepatan obat
membunuh kuman sehingga pada pembiakan akan didapatkan

-

hasil yang negatif (2 bulan dari pengobatan awal)
Hampir semua obat tuberkulosis mempunyai sifat bakterisid:
 INH & Rifampisin (R) disebut bakterisid lengkap (complete
bactericidal drug) karena kedua obat ini dapat masuk ke

seluruh populasi kuman. Kedua obat ini nilainya satu.
Streptomisin (S) dan Pirazinamid (Z) masing-masing hany
mendapat nilai setengah karena Z hanya bekerja dalam

lingkungan asam sedangkan S dalam lingkungan basa
Etambutol dan Tiasetazon tidak mendapat nilai karena
sifatnya bukan sebagai bakterisid namun hanya sebagai
bakteriostatik

2) Aktivitas Sterilisasi
- Obat bersifat membunuh kuman-kuman yang pertumbuhannya
-

lambat (metabolisme kurang aktif).
Aktivitas sterilisasi diukur dari angka kekambuhan setelah

-

pengobatan dihentikan.
Obat TB yang memiliki sifat sterilisasi yang baik adalah
Rifampisin (R) dan Pirazinamid (Z), dan sifat sterilisasi R dan P
ini, lebih baik jika dibanding dengan Isoniazid (INH) dan
streptomisin

b. Faktor Populasi Kuman
Penelitian Mitchison telah membagi kuman M. Tuberculosae dalam
beberapa populasi dalam hubungan antara pertumbuhannya dengan
aktivitas obat yang membunuhnya:
1) Populasi A
- Kuman yang tumbuh dan berkembangbiak terus menerus
-

dengan cepat.
Banyak terdapat di dinding kavitas atau dalam lesi yang pH-nya

-

netral.
Obat yang paling efektif sebagai pembunuh bakteri populasi ini

adalah INH.
2) Populasi B
- Kuman yang tumbuh sangat lambat dan berada dalam
lingkungan asam (pH rendah). Lingkungan asam dapat
melindungi kuman terhadap OAT tertentu
- Hanya Pirazinamid yang dapat bekerja disini
3) Populasi C
- Kuman berada dalam keadaan dormant (tidak ada aktivitas
metabolisme) hampir sepanjang waktu hanya kadang – kadang
saja mengadakan metabolisme aktif dalam waktu singkat
- Banyak terdapat di dinding kavitas
- Hanya Rifampisin yang efektif bekerja
4) Populasi D
- Kuman yang sepenuhnya bersifat dormant (complete dormant)
- Sama sekali tidak dapat dipengaruhi OAT, hanya dimusnahkan
oleh mekanisme pertahanan tubuh manusia itu sendiri

Tinggi

A
Tumbuh aktif

Kecepatan Pertumbuhan Kuman

H (R, S)

R

Z

B
C
Metabolisme kadang Hambatan
aktif
asam

D
Dorman Populasi Basil yang dibunuh dengan
Gambar 1. Hubungan
obat tertentu (Mitchison, 1998)
Rendah

Keterangan:
A = basil tumbuh aktif, terutama dibunuh oleh isoniazid
B = basil semi dorman, kadang-kadang metabolisme aktif
C = basil semi dorman, dalam suasana asam, dibunuh oleh
Pirazinamid
D = basil dorman murni, tidak dapat dibunuh oleh obat

3. TUJUAN DAN TARGET PENGOBATAN
-

Mencegah timbulnya resistensi obat
Mikobakteria merupakan kuman tahan asam yang sifatnya unik
karena tumbuh sangat lambat dan cepat timbul resistensi bila
terpajan dengan 1 obat. Karena itu pengobatan yang dilakukan
harus menggunakan MINIMAL 2 macam obat dan salah satunya

-

harus bakterisid kuat.
Mencegah kekambuhan
Karena ada populasi mikobakteri yang memiliki sifat sangat lambat
dalam pertumbuhan/metabolismenya, dimana basil-basil seperti ini
adalah basil yang sulit dibunuh oleh bakterisid terkuat sekalipun
-karena umumnya antibiotika (bakterisid) bekerja lebih efektif
terhadap kuman yang cepat tumbuh-, maka pengobatan TB perlu
dilakukan dalam jangka waktu yang lebih lama sekalipun gejala
klinis sudah tidak ada untuk mengeliminasi basil persisten ini.
Karena basil persisten ini jika tidak dituntaskan dapat menimbulkan

-

kekambuhan pada pasien.
Mengobati pasien dengan sesedikit mungkin mengganggu
aktivitas harian.
Karena pasien harus mendapat pengobatan yang cukup lama dan
jumlah obat yang banyak (minimal 2, dapat lebih) maka obat itu
dapat diberikan dalam 1 x sehari untuk mengurangi pasien harus

-

menyediakan waktu bolak-balik minum obat.
Mencegah kematian / komplikasi lanjut dari penyakit pasien
Mencegah penularan ke lingkungan

4. RESIMEN PENGOBATAN SAAT INI
Dengan mempertimbangkan prinsip dan tujuan pengobatan diatas, maka
WHO telah menerapkan strategi DOTS ( directly observed treatment, short
course) sebagai teknik pengobatan TB. Dalam strategi ini, terdapat 2
komponen penting penunjang keberhasilan pengobatan, ada pengawas
langsung yang memastikan bahwa pasien meminum obatnya dan

pengobatan diusahakan dalam jangka pendek (dalam hal ini minimal 6
bulan). WHO juga telah menetapkan standar obat dalam 4 kategori seperti
sebagai berikut:

KATEG
ORI
1

RESIMEN
PASIEN TB

FASE AWAL

FASE
LANJUTAN

TBP sputum BTA
positif baru. Bentuk
TBP berat, TB ekstra

2 HRZS (E)

6 HE
4 HR
4 H3R3

2 HRZES/1 HRZE

5 H3R3E3
5 HRE

paru (berat), TBP BTA
2

negatif
Relaps kegagalan

3

pengobatan
TBP Sputum BTA

4

negatif, TB

2 HRZ atau 2

ekstraparu

H3R3E3Z3

2 HR
2 H3R3

(menengah)
TB kronik (BTA masih
positif stlh

Lini kedua

pengobatan ulang)
Yang dipakai di Indonesia : 2 RHZ + 4 RH, dengan variasi 2 RHS + 4
RH, 2 RHZ + 4 R3H3, 2 RHS + 4R2H2
5. EVALUASI PENGOBATAN
Klinis. Biasanya pasien dikontrol dalam 1 minggu pertama, selanjutnya
tiap 2 minggu selama tahap intensif selanjutnya sekali sebulan sampai
akhir pengobatan. Secara klinis hendaknya terdapat perbaikan keluhan,
seperti batuk berkurang, batuk darah hilang, nafsu makan bertambah, BB
naik, dll
Bakteriologis. Anjuran WHO untuk kontrol sputum BTA adalah pada awal
pengobatan, akhir bulan ke-2 (akhir tahap awal) dan akhir pengobatan,
dapat ditambah diantara rentang waktu fase awal sampai akhir
pengobatan. Untuk pengobatan 6 bulan dapat dilakukan pada bulan ke-2,
4,6 dan pada pengobatan 8 bulan pada bulan ke-2, 5 dan 8.