You are on page 1of 15

JENIS PUISI INDONESIA DILIHAT DARI PERIODE;

PUISI LAMA, PUISI MODERN, DAN PUISI
MUTAKHIR
Seperti yang telah dibahas dalam makalah sebelumnya yaitu tentang
pengertian, hakikat, dan perkembangan puisi di Indonesia. Dijelaskan
bahwa puisi berasal dari bahasa Yunani ‘poema’ yang berarti membuat
dan ‘poesis’ yang berarti pembuat pembangun atau pembentuk.
Sedangkan menurut Tjahyono, puisi dikatakan sebagai pembangun atau
pembentuk karena memang pada dasarnya dengan menciptakan seuntai
puisi maka seorang penyair telah membangun, membuat atau
membentuk sebuah dunia baru, secara lahir maupun batin (Primadeka,
Makalah, 2014).
Pada makalah ini akan membahas tentang puisi sesuai dengan periodenya
seperti puisi lama, modern, dan mutakhir. Namun karena ada beberapa
sumber yang menjelaskan lebih lanjut tentang pembagian puisi menurut
periodenya yaitu puisi baru pada pembagian puisi menurut periode, maka
pemakalah pun menambah pembahasan tersebut. Adapun penjelasan
lebih lanjut tentang pembagian tersebut akan dibahas pada materi
makalah di bawah ini.
PUISI LAMA
Puisi lama bersifat statis dan sangat terlihat sekali menunjukkan
penggambaran keadaan dan kebiasaan masyarakat itu sendiri, puisi
tersebut dipengaruhi oleh karya sastra bangsa Arab, Persia, dan India. Ciri
paling umum dari puisi lama adalah penyebarannya yang cepat melalui
mulut ke mulut, karena memang mayoritas masyarakat pada zaman itu
masih buta huruf. Maka, banyak yang tidak diketahui siapa pengarangnya.
Puisi lama masih terikat oleh aturan-aturan. Di mana aturan-aturan itu
antara lain: jumlah kata dalam satu baris, jumlah baris dalam satu bait,
rima, banyaknya suku kata dalam baris, dan irama.
Ciri-ciri puisi lama:

Merupakan puisi rakyat yang tidak dikenal siapa pengarangnya

Merupakan sastra lisan karena disampaikan dari mulut ke mulut

Terikat dengan aturan seperti jumlah bait, baris, suku kata, dan rima
Puisi lama terbagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan periode: yaitu
mantra, gurindam, syair, dan pantun.
1. Mantra
Mantra adalah salah satu jenis puisi lama. Mantra dianggap memiliki
kekuatan gaib, biasanya digunakan oleh pawang atau dukun, untuk

penahan atau penguat. hanya penggunaannya yang ekslusif yaitu untuk orang-orang tertentu saja. penunduk. mereka hanya mengerti kapan harus membaca mantra tersebut.  Mantra merupakan bentuk puisi lama yang mempunyai atau dianggap dapat mendatangkan kekuatan gaib yang biasanya diajarkan atau diucapkan oleh pawang untuk menandingi kekuatan yang lain (Suprapto. rima dan irama. Contoh mantra penunduk buaya: Hai si jambu rakai Sambutlah pekiriman putri Runduk di gunung Ledang Embacang masak sebiji bulat . mantra sangat terkenal sekali seperti halnya puisi dan syair. susunan kata yang berunsur puisi (rima. irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib. disebut juga sebagai penangkal. mantra dibagi menjadi empat jenis. Jenisnya ada beberapa macam seperti. Dalam masyarakat Melayu. Pengertian mantra menurut para ahli:  Mantra ditujukan kepada makhluk gaib. yaitu: a. 1981: 213-216). seru. serapah. Mantra sebenarnya lebih merujuk kepada puisi bebas karena tidak terikat dengan baris. cuca. pelindung. tawar. 1997: 558). Mantra Pelindung Diri: digunakan untuk penjaga diri. terkadang dukun dan pawang juga tidak mengerti maksud dari kalimat mantra tersebut. Bahasa yang digunakan dalam mantra sangat sulit diterjemahkan. dan pembenci. dan tangkal. sehingga benda tersebut memiliki kekuatan gaib dan dapat melindungi si pemiliknya. puja. biasanya dibacakan pada benda tertentu. sembur. Berdasarkan tujuan pelafalannya. 1993: 48). meskipun unsur tersebut ada.  Mantra adalah perkataan atau ucapan yang mendatangkan daya gaib. pemanis atau pengasih. maka kalau dihadapkan pada manusia itu menjadi sesuatu yang tidak dipahami atau sesuatu yang misterius (Yunut.menandingi kekuatan gaib yang lain. Mantra disebut sebagai puisi lama karena memiliki unsur seperti puisi (rima dan irama). biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain (Depdikbud. Masyarakat Melayu memiliki nama sebutan untuk mantra seperti jampi.

Semuanya merupakan isi dan mengandung sebab akibat. c.Penyikat tujuh penyikat Pengarang tujuh pengarang Diorak dikembang jangan Kalau kau sambut Dua hari jalan ketiga Ke darat kau dapat makan Ke laut kau dapat aku Aku tau asal kau jadi Tanah liat asal kau jadi Tulang buku tebu asal kau jadi Darah kau gila. dan dibacakan oleh orang-orang tertentu seperti orang yang dihormati atau dipercaya oleh penduduk setempat. Mantra Adat-istiadat: mantra ini biasanya digunakan saat ada upacara adat di suatu daerah. terdiri dari dua baris dalam setiap baitnya. dada kau upih b. suruh dan tegahnya tiada ia menyalah . Mantra Pekerjaan: mantra ini digunakan untuk mempermudah pekerjaan. Salah satu gurindam yang terkenal adalah yang ditulis oleh Raja Ali Haji yang berjudul “Gurindam dua belas”. maka ia itulah orang ma'rifat Barang siapa mengenal Allah. pawang atau dukun. masyarakat Melayu percaya bahwa sebenarnya penyakit itu datangnya tidak hanya dari faktor alam saja. mantra semangat padi. Mantra Pengobatan: mantra ini digunakan untuk mengobati penyakit. dan sebagainya. dan lain-lain. biasanya diucapkan sebelum memulai pekerjaan. 2. tetapi juga ada pengaruh gaib. Gurindam Adalah puisi yang berisikan nasehat. mantra untuk tanaman jagung. d. sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama Barang siapa mengenal yang empat. bercocok tanam. mantra menanam benih. Pekerjaan yang biasanya dibacakan mantra adalah pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari seperti berternak. sehingga dengan membacakan mantra maka akan dapat mempercepat sembuhnya penyakit. di antaranya yaitu: I Barang siapa tiada memegang agama. melaut. berburu. Jenis-jenis mantra untuk pekerjaan adalah. mantra pengusir hama tikus.

tiadalah hartanya beroleh berkat Barang siapa meninggalkan haji. seperti rumah tiada bertiang Barang siapa meninggalkan puasa. keluarlah fi'il yang tiada senonoh Anggota tengah hendaklah ingat. nescaya dapat daripadanya faedah Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan. sedikitlah cita-cita Apabila terpelihara kuping. tiadalah ia menyempurnakan janji III Apabila terpelihara mata. akses 4 Februari 2014). daripada segala berat dan ringan Apabila perut terlalu penuh. tahulah ia makna takut Barang siapa meninggalkan sembahyang. tidaklah mendapat dua temasya Barang siapa meninggalkan zakat.Barang siapa mengenal diri.wikipedia. khabar yang jahat tiadalah damping Apabila terpelihara lidah. daripada berjalan yang membawa rugi (Wikipedia. http://id. maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari Barang siapa mengenal dunia.org/wiki/Gurindam_Dua_Belas. tahulah ia barang yang terpedaya Barang siapa mengenal akhirat. di situlah banyak orang yang hilang semangat Hendaklah peliharakan kaki. tahulah ia dunia mudarat II Barang siapa mengenal yang tersebut. .

. yaitu: a.3. 1951) 4.. Pantun Berkait (Seloka). Contoh: Lalulah berjalan Ken Tambuhan diiringkah penglipur dengan tadahan lemah lembut berjalan perlahan-lahan lakunya manis memberi kasihan . tiap baris ada 8-12 suku kata. Pantun Biasa Contoh: Kalau ada jarum patah Jangan dimasukkan ke dalam peti Kalau ada kataku yang salah Jangan dimasukan ke dalam hati b. Syair Berasal dari bahasa Arab yang berarti sajak (puisi). Semua baris adalah isi dan biasanya tidak selesai dalam satu bait karena merupakan alur sebuah cerita. Pantun Adalah puisi lama yang bercirikan rima a-b-a-b. Ciri-ciri puisi seloka :  Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua  Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga Contoh: Warna merah menghias buku Indah nian kian ku pandang Anak kecil menangis sendu Seharian ia tak makan . pantun ini tidak hanya cukup dengan satu bait. tiap bait ada 4 baris. Pantun juga memiliki jenis-jenis sendiri. karena berkaitan dengan bait selanjutnya. berisi nasehat atau cerita (Waluyo. dengan ciri tiap bait ada empat baris bersajak a-a-a-a. dua baris awal sebagai sampiran dan dua baris di akhir sebagai isi. (Perintis sastra. 2002: 49-50).

disebut juga sebagai pantun kilat karena jumlahnya yang pendek. Ciri-cirinya adalah:  Setiap bait terdiri dari 2 baris  Baris pertama merupakan sampiran  Baris kedua merupakan isi  Bersajak a – a  Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata Contoh : Dahulu parang sekarang besi (a) Dahulu sayang sekarang benci (a) Sedangkan jika dilihat dari isinya. adalah pantun yang jumlah barisnya harus lebih dari empat baris. Karmina. 8. Jika satu bait terdiri dari enam baris. pantun terbagi menjadi beberapa jenis. maka tiga baris pertama sampiran dan tiga baris terakhir isi. 10 baris atau lebih.Indah nian kian ku pandang Kalau boleh tentu ku mau Seharian ia tak makan Adakah besuk nasi dan lauk Kalau boleh tentu ku mau Namun sayang itu milikmu Adakah besuk nasi dan lauk Walau sekedar pengganjal perut c. Contoh : Kalau anak pergi ke pekan Yu beli belanak pun beli (sampiran) Ikan panjang beli dahulu Kalau anak pergi berjalan Ibu cari sanak pun cari (isi) Induk semang cari dahulu d. Jika ada enam baris dalam satu bait. Pantun Anak-anak Contoh : Elok rupanya si kumbang jati . tetapi harus genap bisa 6. yaitu: a. maka rimanya a-b-c-a-b-c dan seterusnya. begitu seterusnya. Talibun.

Pantun Orang Muda Contoh : Tanam melati di rama-rama Ubur-ubur sampingan dua Sehidup semati kita bersama Satu kubur kelak berdua c. dua bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait terakhir masing-masing tiga baris. Pantun Jenaka Contoh : Elok rupanya pohon belimbing Tumbuh dekat pohon mangga Elok rupanya berbini sumbing Biar marah tertawa juga PUISI BARU Puisi baru lahir pada angkatan pujangga baru. Soneta adalah puisi yang terdiri dari empat belas baris yang dibagi dua. Contoh Soneta karya Muhammad Yamin: GEMBALA Perasaan siapa ta ‘kan nyala (a) Melihat anak berlagu dendang (b) . Karena gaya hidup dan corak masyarakat yang juga mengalami perubahan sehingga mempengaruhi gaya puisi pada masa itu.Dibawa itik pulang petang Tidak terkata besar hati Melihat ibu sudah datang b. Puisi pada angkatan pujangga baru ini dipengaruhi oleh soneta yang dibawa dari Belanda ke Indonesia oleh Muhammad Yamin dan Roestam Effendi. Soneta dalam bahasa Italia berasal dari kata ‘sonneto’perubahan dari kata ‘sono’ yang berarti suara. Di mana pada saat itu puisi mengalami perubahan pesat dan bertentangan dengan puisi lama. Pantun Orang Tua Contoh : Asam kandis asam gelugur Kedua asam riang-riang Menangis mayat di pintu kubur Teringat badan tidak sembahyang d.

puisi yang tiap baitnya terdiri atas tiga baris (puisi tiga seuntai). adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas dua baris (puisi dua seuntai). Contoh: Dalam ribaan bahagia datang Tersenyum bagai kencana Mengharum bagai cendana Dalam bah’gia cinta tiba melayang Bersinar bagai matahari Mewarna bagaikan sari (Sanusi Pane) c. puisi yang tiap baitnya terdiri atas empat baris (puisi empat seuntai). Kuatrain.Seorang saja di tengah padang (b) Tiada berbaju buka kepala (a) Beginilah nasib anak gembala (a) Berteduh di bawah kayu nan rindang (b) Semenjak pagi meninggalkan kandang (b) Pulang ke rumah di senja kala (a) Jauh sedikit sesayup sampai (a) Terdengar olehku bunyi serunai (a) Melagukan alam nan molek permai (a) Wahai gembala di segara hijau (c) Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau (c) Maulah aku menurutkan dikau (c) Adapun jenis puisi baru dilihat dari bentuknya. Terzina. Contoh: Berkali kita gagal Ulangi lagi dan cari akal Berkali-kali kita jatuh Kembali berdiri jangan mengeluh (Or. Mandank) b. Contoh : Mendatang-datang jua Kenangan masa lampau Menghilang muncul jua . Distikon. antara lain: a.

adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas lima baris (puisi lima seuntai). Kuint. Contoh: Hanya Kepada Tuan Satu-satu perasaan Hanya dapat saya katakan Kepada tuan Yang pernah merasakan Satu-satu kegelisahan Yang saya serahkan Hanya dapat saya kisahkan Kepada tuan Yang pernah diresah gelisahkan Satu-satu kenyataan Yang bisa dirasakan Hanya dapat saya nyatakan Kepada tuan Yang enggan menerima kenyataan (Or. Sektet. Mandank) e. adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas enam baris (puisi enam seuntai). adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas tujuh baris (tujuh seuntai).M. Contoh: INDONESIA TUMPAH DARAHKU .Yang dulu sinau silau Membayang rupa jua Adi kanda lama lalu Membuat hati jua Layu lipu rindu-sendu (A. Septime. Contoh: Merindu Bagia Jika hari’lah tengah malam Angin berhenti dari bernapas Sukma jiwaku rasa tenggelam Dalam laut tidak terwatas Menangis hati diiris sedih (Ipih) f. Daeng Myala) d.

Amir Hamzah. dunia! dunia! Saya pusing di atas kau Adakah sudah suratan saya Akan selalu menghimbau-himbau? Ya Allah! Illahi! Tuhanku. di mana mereka diperbolehkan memakai bahasa Indonesia. Selain Sutan Takdir Alisjahbana. Oktaf/Stanza. serasa berangan Bertambah lama. Sehingga kesempatan tersebut dipergunakan oleh para penyair sebagai senjata dalam melawan penjajah Jepang. Seperti contoh puisi baru dari Sutan Takdir Alisjahbana: Betapa Seni Ah. Y. Muhammad Yamin. Sanusi Pane.. berbeda saat masa penjajahan Belanda yang melarang penggunaan bahasa Indonesia. PUISI MODERN Puisi modern hadir saat penjajah Jepang datang ke Indonesia yaitu pada periode angkatan 1945..Duduk di pantai tanah yang permai Tempat gelombang pecah berderai Berbuih putih di pasir terderai Tampaklah pulau di lautan hijau Gunung gemunung bagus rupanya Ditimpah air mulia tampaknya Tumpah darahku Indonesia namanya (Mohammad Yamin) g. ada beberapa tokoh puisi pada angkatan pujangga baru yang terkenal seperti Ali Hasjmy. Isi dari puisi modern banyak mengangkat tentang pemberontakan . Contoh: AWAN Awan datang melayang perlahan Serasa bermimpi.E Tatengkeng. dan Rustam Effendi. adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas delapan baris (double kutrain atau puisi delapan seuntai). Kedatangan Jepang memberikan angin baru bagi rakyat Indonesia. lupa di diri Bertambah halus akhirnya seri Dan bentuk menjadi hilang Dalam langit biru gemilang Demikian jiwaku lenyap sekarang Dalam kehidupan teguh tenang (Sanusi Pane) Ciri khas dari puisi baru adalah di mana dalam puisi tersebut nampak sifat egois dari si penyair yang ditunjukkan bagi pihak Belanda yang sedang menjajah.

Disebut sebagai puisi modern karena puisi modern lebih menekankan pada isi puisi tersebut. Ciri-ciri Puisi Modern:       Bentuknya rapi. 1946) PUISI MUTAKHIR Puisi Mutakhir bisa disebut dengan puisi kontemporer yang lahir pada tahun 1970-an sampai sekarang. Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis) Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata. salah satu tokohnya adalah Chairil Anwar yang dinobatkan oleh H. Terasa hari akan jadi malam. sudah berapa waktu bukan kanak lagi. dipukul angin yang terpedam aku sekarang orangnya bisa tahan. Dalam puisi Chairil Anwar yang berjudul “Aku” dia sudah menggunakan bahasa Indonesia yang ekspresif. Sebagian besar puisi empat seuntai. Puisi modern lebih bebas dari pada puisi lama yang terikat dari jumlah suku kata. disebut juga puisi kekinian. DERAI-DERAI CEMARA Cemara menderai sampai jauh.B. terbebas dari bahasa Melayu maupun Belanda. Setiap langkah awal periode puisi selalu mendapat pertentangan dari . baris. Contoh puisi modern dari Chairil Anwar (Waluyo. 2002: 67). dan puisinya memiliki gaya khas yang hanya dimiliki oleh Chairil Anwar. Ada beberapa dahan di tingkap merapuh. Penyair puisi modern termasuk kategori dalam angkatan '45. simetris Mempunyai persajakan akhir (yang teratur). tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah sebelum pada akhirnya kita menyerah (kerikil tajam. Jassin pelopor puisi modern. maupun rima. Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain.yang lebih dalam jika dibandingkan dengan angkatan pujangga baru.

Meskipun demukian sedikit banyak sastra mutakhir merupakan ancang-ancang bagi sastra masa depan (Budi Darma. Tahapan dari karya puisi kontemporer tidah hanya mementingkan diri si penyair. antara lain dia menyatakan: ‘kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Puisi mutakhir atau kontemporer ini bersifat puisi konkret dan ada puisi mantra mutakhir yang pertama kali diperkenalkan oleh Sutardji. 2002: 122). Tokoh-tokoh puisi kontemporer diantaranya adalah Sutardji Calzoum Bachri dan tokoh lainnya seperti Taufiq Ismail. Darmanto Jatman. maka kata adalah kursi itu sendiri bukan alat untuk duduk. Para angkatan pujangga baru yang masih hidup di tahun 1966-1970-an pada awalnya tidak menerima keberadaan puisi kontemporer ini. Kalau diumpamakan dengan kursi. tetapi tuntutan keharusan. Dalam puisi saya.penyair periode sebelumnya. begitu juga dengan munculnya puisi kontemporer ini. Pengertian mutakhir tidak mungkin semata dibatasi oleh waktu khusus untuk sastra yang benar-benar hebat. Pada kenyataannya. Salah satu contoh puisi kontemporer: SEPISAUPI Sutardji Calzoum Bachri sepisau luka sepisau duri sepikul dosa sepukau sepi sepisau duka serisau diri sepisau sepi sepisau sunyi sepisaupa sepisaupi sepisapanya sepikau sepi sepisaupa sepisaupi sepikul diri keranjang duri . Mereka berpendapat bahwa puisi itu bukan berasal dari penyair yang sesungguhnya. bahkan mereka menganggap puisi tersebut dibuat oleh orang-orang yang tidak pantas sebagai penyair. puisi kontemporer ini merupakan hasil dari perkembangan puisi Indonesia. Dalam Kredo puisi Sutardji (kritik sastra Sutardji dalam masalah penulisan) mengemukakan sikapnya dalam berpuisi. kemestian dan kebenaran menjadi tahap yang utama dalam menciptakan sebuah puisi. saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika’ (Waluyo. 1990: 132). dan Rendra.

1981) BATU Sutardji Calzoum Bachri batu mawar batu langit batu duka batu rindu batu janun batu bisu kaukah itu teka teki yang tak menepati janji ? Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan seribu beringin ingin tak teduh. Kau tahu batu risau batu pukau batu Kau-ku batu sepi batu ngilu batu bisu kaukah itu teka teki yang tak menepati janji? AKU INGIN Sapardi Djoko Damono Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan . Dengan siapa aku mengeluh? Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampa mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai sedang lambai tak sampai. Amuk.sepisaupa sepisaupi sepisaupa sepisaupi sepisaupa sepisaupi sampai pisau-Nya ke dalam nyanyi (O. Kapak.

kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (Hujan Bulan Juni. meliputi penempatan persamaan bunyi (rima) pada tempat-tempat tertentu untuk menghidupkan kesan dipadu dengan repetisi atau pengulangan-pengulangannya. Dianie Abdul.wikipedia. "Gurindam Dua Belas. 1994) Penyusunan puisi kontemporer sebagai puisi inkonvensional ternyata juga perlu memperhatikan beberapa unsur sebagai berikut:     Unsur bunyi.html (akses 24 Januari 2014) "Puisi. Teori dan Periodesasi Puisi Indonesia. "Puisi Kontemporer. "Analisis Struktur Mantra Mesosambakai sebagai Puisi Lama di Desa Matabubu Jaya Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan.org/wiki/Puisi (akses 24 Januari 2014).wikipedia.com/2013/10/analisis-struktur-mantramesosambakai. "Mengenal Mantra sebagai Bentuk Puisi Lama. dan Kontemporer.blogspot. DAFTAR PUSTAKA Elviana.com/2011/01/puisikontemporer."http://sansolvix. Baru." http://id.com/2011/12/11/puisi-lama-barumodern-dan-kontemporer/(akses 24 Januari 2014).blogspot." http://elvianapbsi.html(akses 24 Januari 2014).com/2009/03/mengenal-mantra-sebagaibentuk-puisi. . tt." http://id." http://umanradieta.wordpress. "Puisi Lama. Bandung: Angkasa. Kelakar (parodi). meliputi penambahan unsur hiburan ringan sebagai pelengkap penyajian puisi yang pekat dan penuh perenungan (kontemplatif). meliputi penyusunan baris-baris puisi berisi kata atau suku kata yang disusun sesuai dengan gambar (pola) tertentu. Jalil.blogspot. Modern. meliputi pemenggalan atau perpindahan baris puisi untuk menuju baris berikutnya."http://goesprih.html(akses 4 Februari 2014). Enjambemen. Tipografi.org/wiki/Gurindam_Dua_Belas (akses 4 Februari 2014).

Herman J. 2002. Puisi Indonesia Modern.Rosidi. Waluyo. 2008. Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa. Jakarta: Pustaka Jaya. Ajip. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. .