You are on page 1of 15

BELAJAR NILAI TEMPAT DENGAN RUMAH BILANGAN

Oleh:
Talisadika Maifa
(talisadika0926@gmail.com)

International Master Program on Mathematics Education
2012

Contohnya. salah satunya adalah cara mengajar guru. siswa langsung diberitahu bahwa angka 4 menempati nilai satuan. Jika hal ini terjadi maka dapat dipastikan bahwa siswa yang belum memahami benar tentang nilai tempat akan sulit mengikuti pembelajaran materi penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500. Berdasarkan masalah diatas maka kegiatan pembelajaran yang akan diterapkan untuk materi nilai tempat di kelas II Madrasah Ibtidayah Negeri 2 palembang menggunakan . Guru cenderung mengajarkan siswa dengan langsung memberi informasi. Materi nilai tempat merupakan materi dasar yang harus dikuasai oleh siswa sekolah dasar. Masalah yang sering dijumpai pada siswa kelas 2 sekolah dasar adalah seringkali siswa salah mengucapkan atau menuliskan sebuah bilangan. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan akan konsep materi nilai tempat. untuk menentukan nilai tempat angka – angka pada bilangan 134. Ada beberapa faktor mengapa siswa kurang dapat memahami konsep nilai tempat dengan baik. Penguasaan tentang nilai tempat merupakan pengetahuan awal yang harus dimiliki siswa untuk dapat mengikuti materi pembelajaran selanjutnya yaitu penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500. dan satuan. Pada tingkat kelas 2. Hal ini mengakibatkan siswa langsung berhadapan dengan angka – angka yang masih asing baginya tanpa diberikan pemahaman konsep terlebih dahulu ataupun penggunaan media yang bisa menolong siswa mudah memahami materi nilai tempat. dimana sebelumnya pada kelas 1 siswa telah dapat menentukan nilai tempat puluhan dan satuan. angka 3 menempati nilai puluhan dan angka 1 menempati nilai ratusan. salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa adalah menentukan nilai tempat ratusan. Pendahuluan.BELAJAR NILAI TEMPAT DENGAN RUMAH BILANGAN Talisadika Maifa A. puluhan.

Sebelum merancang desain pembelajaran. Dari observasi tersebut desainer menemukan beberapa fakta diantaranya.pendekatan PMRI ( Pendidikan Realistik matematika Indonesia ) dimana salah satu dari lima karakteristik PMRI adalah the use of context yaitu menggunakan masalah kontekstual ( de Lange dalam Zulkardi. 2005: 14 ). ada siswa yang menuliskannya 130. Desain Research 1. siswa cenderung aktif dan terlihat memiliki kerjasama yang baik dengan guru meskipun sering kali siswa tidak memberi perhatian kepada apa yang dilakukan oleh guru di depan kelas karena situasi kelas yang sedikit gaduh. Namun dengan beberapa cara. Desain pembelajaran ini bertujuan untuk menanamkan konsep nilai tempat dengan hal yang mudah dipahami siswa yaitu penggunaan konteks pembelian kacang merah dan media pembelajaran sebagai sarana yang langsung digunakan siswa. Tidak hanya itu. B. guru dapat sesekali mengatasi kegaduhan yang ada. desainer melakukan observasi terhadap proses pembelajaran di kelas. ada juga siswa yang masih salah dalam penulisan bilangan yang terdiri dari tiga angka. Penggunaan konteks ini disertai dengan penggunaan media pembelajaran yang dirancang oleh desainer dan guru. desainer mencoba mendesain pembelajaran yang dapat memberi pemahaman konsep yang tepat kepada siswa tentang nilai tempat serta memotivasi siswa secara keseluruhan untuk belajar matematika. Penggunaan masalah kontekstual sendiri memanfaatkan realita yang dapat ditemukan siswa dalam kehidupan di sekitarnya sehingga memudahkannya dalam memahami materi yang diajarkan serta mengajarkan siswa untuk melihat dan menemukan matematika dalam kehidupan nyata. Masih ada siswa yang salah ketika diminta untuk menyebutkan nama bilangan. siswa menyebutkannya seratus dua lima. Contohnya bilangan 125. Konteks dalam desain pembelajaran ini adalah pembelian kacang merah di pasar tradisional. . Hal lain yang ditemukan adalah mengenai penguasaan materi sebelumnya oleh siswa. Oleh karena itu. Preliminary Design. Contohnya ketika disebutkan bilangan 103 dan siswa diminta untuk menuliskan pada lembar jawaban mereka.

Kantong – kantong kacang ini diberi nama. Ini mengartikan bahwa untuk satuan bilangan terbesarnya adalah 9. kantong satu untuk satu satuan ( berisi satu biji kacang merah ). Desain pembelajaran yang dirancang menggunakan konteks pembelian kacang merah dan juga menggunakan media atau alat bantu yang diberi nama Rumah Bilangan yang dibuat oleh desainer dan tim. merah muda untuk rumah puluhan dan kuning untuk rumah satuan. kantong sepuluh untuk satu puluhan ( berisi sepuluh biji kacang merah ) dan kantong seratus untuk satu ratusan ( berisi seratus biji kacang merah ). Terdapat tiga rumah bilangan dengan tiga warna berbeda. Rumah bilangan yang dimaksud adalah kotak yang dibuat dari kardus yang dilapisi kertas berwarna. Setiap rumah bilangan terdiri dari Sembilan kamar. maka ditetapkan bahwa pembelajaran yang akan diajarkan selanjutnya adalah nilai tempat ratusan. biru untuk rumah ratusan. puluhan dan satuan di kelas II. . satu puluhan dan satu ratusan. Gambar 1.Berdasarkan hasil diskusi dengan rekan tim dan guru. puluhan bilangan terbesarnya adalah 90 dan ratusan bilangan terbesarnya adalah 900. Rumah Bilangan Rumah – rumah bilangan ini nantinya akan diisi setiap kamarnya dengan kantong – kantong kacang merah sebagai analogi dari satu satuan.

Gambar 2. nilai dari angka pada bilangan dilihat dari banyaknya biji kacang merah yang terdapat dalam rumah bilangan. Dan terakhir. Kantong Kacang Merah ( Kantong satu. 9 kantong sepuluh dan 5 kantong seratus. siswa menempatkan dua kantong berisi seratus biji kacang merah di tiap kamar ratusan.rumah bilangan dan kantong – kantong kacang merah akan dibagikan kepada tiap kelompok yang telah dibentuk terlebih dahulu. puluhan. . bilangan 234. Kemudian 3 kantong berisi sepuluh biji kacang merah ditempatkan masing – masing di tiap kamar rumah puluhan. Kantong sepuluh. dan satuan ). Pembagian kelompok ini dilakukan agar siswa dapat bekerjasama dalam menggunakan media rumah bilangan untuk memahami konsep nilai tempat dan juga untuk menyelesaiakan soal – soal yang diberikan dalam bentuk Lembar Kegiatan Siswa ( LKS ). Jadi. Contoh. Tiap kelompok mendapatkan tiga rumah bilangan ( rumah ratusan. dimana menyatakan angka 3 nilai tempatnya adalah puluhan dan nilainya adalah 30. Rumah . 9 kantong satu. Diharapkan siswa akan menempatkan empat kantong berisi satu biji kacang merah masing – masing di tiap kamar pada rumah satuan dan terlihat bahwa angka 4 ini nilai tempatnya adalah satuan dan nilainya adalah 4. Ini menyatakan bahwa angka 2 menempati nilai ratusan dan nilainya adalah 200. Kantong Seratus ) Dengan tiga rumah bilangan yang ada setiap angka pada sebuah bilangan akan dinyatakan nilai tempatnya.

Berikut langkah – langkah dalam pelaksanaan pembelajaran yang direncanakan : 1. Mustika Hariyanti.2. Pd. Yang menarik adalah guru memberikan hadiah sebuah bintang kepada siswa yang . 7. “ Doraemon. Guru mengajak siswa menyimpulkan tentang materi yang telah dipelajari. Memberikan masalah kontekstual. Teaching Experiment Pembelajaran ini dilaksanakan di kelas II Madrasah Ibtidayah Negeri 2 Palembang pada tanggal 1 November 2012 selama dua jam pelajaran untuk satu kali pertemuan dengan guru pengajar Ibu R. sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif dimana siswa antusias dalam menjawab pertanyan – pertanyaan yang berkaitan dengan cerita yang disampaikan oleh guru. Sebagai apersepsi guru menyampaikan cerita tentang pembelian kacang merah di pasar – pasar tradisional Palembang.300. maka merekapun membeli kacang mera di tiga pasar yang berbeda di Palembang. Doraemon membelinya di pasar 16. Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa. dan Sisuka membelinya dengan harga Rp. Guru dan siswa membahas soal di LKS bersama – sama. Berikut hasil observasi pada pembelajaran yang terjadi di kelas IIA Madrasah Ibtidayah Negeri 2 Palembang. 3. 4.275. A. Nobita dan Sisuka akan membuat es kacang merah. Nobita membelinya dengan harga Rp. Siswa yang terlibat pada pertemuan ini adalah 35 siswa. S. Berdasarkan cerita yang disampaikan guru sebelumnya. siswa mengerjakan LKS dengan bantuan media rumah bilangan disertai tuntunan Guru dan tim desainer. 5. Siswa diberi tugas individu 6. Guru menyampaikan apersepsi tentang cerita pembelian kacang merah dengan sangat baik. Nobita membelinya di pasar Cinde dan Sisuka membelinya di pasar Pakjo. 400 “ 2. Guru membagikan media pembelajaran yaitu rumah bilangan dan kantong kacang merah serta LKS kepada tiap kelompok. Doraemon membeli kacang merah dengan harga Rp.

memberikan jawaban yang benar. dengan membacakan soal . Keantusiasan siswa saat menjawab pertanyaan guru. kantong kacang merah dan LKS kepada tiap kelompok dan Siswa terlihat sangat tertarik dengan media tersebut.soal di LKS guru menuntun siswa untuk mengisi setiap pertanyaan yang ada dalam LKS. hal ini membuat siswa semangat dan mereka merasa dihargai jawabannya. Berikutnya. sehingga mereka saling memperebutkan LKS yang diberikan. Siswa dapat dengan mudah menjawab beberapa soal awal ( soal nomor 1 dan 2 ) . Selanjutnya guru dan tim membagikan rumah bilangan. Gambar 3. Terjadi sedikit kegaduhan saat pembagian LKS karena setiap siswa ingin mengisi LKS secara individu. Hal ini terjadi karena siswa belum terbiasa dengan metode belajar diskusi kelompok.

Adapun tahap yang dilakukan siswa : 1. Gambar 5. Mencoba dalam kelompok untuk menyatakan bilangan 275 dalam rumah – rumah bilangan. siswa diminta untuk mencoba menjawab dengan cara mereka sendiri dengan bantuan media rumah bilangan. Lembar kegiatan Siswa Pada soal nomor 3 yaitu menyatakan bilangan 275 dengan media rumah bilangan .Gambar 4. Ada kelompok yang langsung benar menjawabnya dan ada kelompok yang butuh tuntunan tim atau guru. Siswa berusaha menjawab soal nomor 3 .

Siswa berhasil menemukan jawaban untuk soal nomor 3 2. Setelah dapat menyatakan dalam rumah bilangan siswa mengisi LKS yang ada. Diperoleh nilai dari tiap angka tersebut. . b. Berapa kantong seratus / sepuluh / satu yang diletakkan pada setiap rumah bilangannya. Urutan pekerjaan siswa dalam LKS adalah : a.Gambar 6. Diperoleh angka berapa pada bilangan yang menempati rumah ratusan / puluhan / satuan c.

Contoh Lembar Kegiatan Siswa yang telah diisi . Siswa mengerjakan soal – soal pada LKS Gambar 8.Gambar 7.

3. hal ini bukan karena mereka tidak tahu jawabannya namun karena mereka tidak memahami kalimat soal yang terdapat di LKS. Untuk beberapa kali guru dan tim harus membantu siswa di tiap kelompok untuk mengisi soal – soal yang ada. Terlihat bahwa beberapa siswa dalam setiap kelompok mampu menjawab soal – soal tersebut dengan menggunakan media Rumah Bilangan. . mereka mampu menjawab soal – soal tersebut dengan benar. Setelah mendapatkan jawabannya siswa menuliskan jawaban di papan tulis dan di diskusikan bersama Gambar 9. Ini terlihat saat guru dan tim menuntun lagi dengan kalimat pertanyaan yang sederhana. Siswa menuliskan jawaban hasil diskusi di papan tulis Selanjutnya . sedangkan beberapa siswa lainnya hanya mengikuti apa yang sedang berlangsung dalam kegiatan kelompok tanpa berpartisipasi dengan maksimal. siswa mengerjakan secara kelompok soal – soal yang terdapat dalam LKS.

Contoh Lembar Kegiatan Siswa yang telah diisi .Gambar 10.

Kegiatan pembelajaran berakhir dengan diberikannya tugas individu di kelas sebagai pekerjaan rumah siswa yang akan dikumpulkan keesokan harinya. Hal ini terlihat dari siswa mampu menggunakan media pembelajaran yaitu rumah bilangan dan kantong kacang merah. Gambar 11. media ataupun LKS yang . Lembar Tugas Individu 3. 2. Keantusiasan siswa sangat tinggi ketika dilaksanakan pembelajaran dengan pendekatan PMRI karena siswa tertarik dengan konteks. Siswa sudah memahami konsep nilai tempat bilangan sampai dengan 500. Retrospective Analysis Dari hasil refleksi. sekalipun terdapat satu atau dua orang dalam kelompok belum begitu memahami karena kurang aktif saat diskusi kelompok berlangsung. desainer dan guru beranggapan bahwa : 1.

diberikan sehingga menyebabkan kegaduhan di kelas yang membuat guru dan tim kewalahan dalam menangani siswa. soal yang diberi jumlahnya tidak disesuaikan dengan waktu pembelajaran. 3. Hal ini juga mungkin akibat dari banyaknya waktu terbuang untuk tim dan guru menjelaskan lagi kalimat soal di tiap kelompok. C. Kalimat yang digunakan dalam LKS tidak mudah untuk dimengerti siswa sehingga mengakibatkan mereka tidak antusias untuk mengerjakan soal – soal yang ada. Dalam hal ini penggunaan kalimat dan banyaknya soal. Desain pembelajaran memberi kesempatan pada desainer dan guru berperan optimal dalam mengamati cara bekerja dan tingkat pemahaman siswa secara langsung. dan ini juga mengakibatkan guru dan tim harus menuntun lagi siswa untuk memahami soal. dalam hal ini penggunaaan konteks pembelian kacang merah dengan media rumah bilangan dan kantong kacang merah. disimpukan sebagai berikut: 1. 2. Banyak bagian yang harus diperbaiki dalam LKS. sehingga soal individu yang harusnya dikerjakan di kelas tidak dapat dilaksanakan. . Sedangkan tentang banyaknya soal. Pembelajaran untuk materi nilai tempat sampai dengan bilangan 500 dengan menggunakan desain pembelajaran berdasarkan konteks yang sesuai dengan pengetahuan siswa serta penggunaan media pembelajaran yang mudah digunakan siswa dpat memotivasi siswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran matematika dan dengan sendirinya mereka mengerti tentang konsep nilai tempat. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang pembelajaran pada materi nilai tempat sampai dengan bilangan 500 menggunakan pendekatan PMRI.

Nilai Tempat dari Pemahaman formal tentang nilai tempat 2. 7 dan 5 pada Bilangan 275 Membuat kotak nilai tempat Kegiatan menentukan nilai tempat dengan rumah bilangan dan kantong kacang merah Cerita tentang pembelian Kacang merah untuk membuat es kacang merah Gambar 12.Berikut adalah iceberg dari aktivitas yang dilakukan dalam pembelajaran nilai tempat ini. Iceberg .