You are on page 1of 38

STUDI PENGEMBANGAN

JARINGAN JALAN BERBASIS
METODE ANALISIS MULTI
KRITERIA
1. PENDAHULUAN
2. konsep-konsep umum yang terkait sebelum mempelajari penerapan
AMK secara spesifik. Kami berharap penggunaan panduan ini dapat
disesuaikan dengan pengetahuan dan latar belakang informasi yang
dimiliki oleh pembaca. Untuk membantu pembaca dalam menemukan
informasi yang berhubungan, sinopsis singkat untuk tiap bagian
disajikan di bawah ini.

3.

Bab 2 meninjau kerangka konsep K&I dan memperkenalkan latar

belakang teori AMK, terutama Proses Hierarki Analitik (PHA).
Metode-metode spesifik AMK dan landasan bagi penggunaan AMK
bersama K&I juga dicantumkan.

4.

Bab 3 merinci bagaimana AMK dapat diterapkan pada K&I dalam

konteks Sertifikasi Hutan. Termasuk di dalamnya subbagian berikut:

5.

Bab 3.1 menjelaskan mengenai perbedaan antara pendekatan Top-down
dan Bottom-up untuk menyeleksi dan mengevaluasi K&I dengan
AMK. Untuk kepentingan panduan ini Sertifikasi Hutan dianggap
sebagai pendekatan top-down.

6.

Bab 3.2 menjelaskan bahwa karena AMK merupakan suatu alat
pengambilan keputusan, maka harus melibatkan partisipasi aktif para
pengambil keputusan. Agar dapat menjadi suatu alat yang berguna,
AMK perlu dipaparkan dengan jelas kepada para pembuat keputusan,
dan diadaptasikan agar sesuai dengan kebutuhan khususnya. Bagian ini
juga menjelaskan beberapa masalah yang harus dipertimbangkan pada
saat bekerja dengan kelompok yang berbeda, dan memberikan
beberapa saran umum untuk menyusun proses berdasarkan pengalaman
yang diperoleh dengan menguji metode ini di lapangan.

1

KONSEPKONSEP

7.

Bab 3.3 menjelaskan keseluruhan proses untuk memasukkan AMK ke dalam analisis K&I (sebagai suatu alat
pengambilan keputusan) dengan meng- gunakan perangkat sederhana yaitu Penetapan peringkat dan Penetapan nilai.
Analisis untuk Penetapan peringkat dan Penetapan nilai diperkenalkan langkah demi langkah, menurut cara ‘buku
resep’. Fokus penggunaan teknik- teknik ini adalah untuk meringkas set K&I yang umum, sehingga teknik- teknik ini
mencerminkan kondisi-kondisi dalam suatu contoh Unit Pengelolaan Hutan (UPH) 1.

8.

Bab 4 menjelaskan cara menggunakan teknik Perbandingan Berpasangan dan Indeks Ketidak-konsistenan (I.K.) untuk

meningkatkan kepekaan analisis dan membantu memudahkan proses pengambilan keputusan. Bagian ini akan
menjelaskan langkah-langkahnya secara rinci, meliputi cara penerapan teknik-teknik analisis ini dalam beberapa contoh
yang digunakan pada Bab 3.3.

9.

Bab 5 membahas cara-cara menggunakan AMK dalam suatu situasi analisis bottom-up. Penelitian di lapangan

untuk melihat keefektifan penggunaan khusus AMK ini masih terus berjalan, sehingga sulit memberikan
‘rumus’ yang efektif untuk melaksanakan bentuk analisis ini di lapangan. Walaupun demikian, teori yang
mendukung pendekatan bottom-up mungkin berguna untuk situasi penelitian tertentu. Untuk alasan ini
penjelasan mengenai pendekatan bottom-up dimasukkan ke dalam panduan ini.
Sasaran umum kebijaksanaan pemerintah di dalam lalu lintas dan angkutan jalan adalah untuk menciptakan sistem
transportasi di daerah sehingga mobilitas orang dan barang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi dan dapat memenuhi
kebutuhan sosial dan perniagaan masyarakat. Dalam upaya meningkatkan pelayanan pada masyarakat pemakai jalan,
Pemerintah Kabupaten Pinrang terus meningkatkan kemampuan sarana/prasarana pada sub sektor perhubungan darat dan
sebagai implementasi perwujudan sistem transportasi yang handal dan mampu memperlancar roda perekonomian yang
lebih luas, teratur, aman, lancar dan efisien serta efektif.
Bertitik tolak pada kondisi tersebut dibutuhkan suatu studi pengembangan sistem transpotasi Kabupaten Pinrang untuk
dapat mengetahui dengan nyata bagaimana kondisi sistem transportasi di Kabupaten Pinrang yang semestinya, dalam
rangka peningkatan pelayanan transportasi dan dapat mengembangkan potensi lokalnya.
Tujuan dari studi ini adalah menganalisis alternatif pengembangan jaringan jalan di Kabupaten Pinrang dalam menunjang
Pelayanan AKDP (Angkutan Kota Dalam Propinsi) dan AKAP (Angkutan Kota Antar Propinsi) dengan menggunakan
pendekatan Analisis Multi Kriteria (AMK).

Konsep-Konsep yang
2

Diterapkan AMK
2.1 TINJAUAN KERANGKA KONSEP UNTUK KRITERIA DAN INDIKATOR

Panduan ini disiapkan bersamaan dengan Panduan untuk pengembangan, pengujian dan pemilihan Kriteria dan Indikator
untuk Pengelolaan Hutan Lestari (Prabhu dkk., 1998). Untuk kepentingan para pengguna panduan ini, yang tidak terbiasa
dengan Pedoman tersebut, maka suatu tinjauan singkat mengenai kerangka konsep K&I diterangkan pada bagian selanjutnya.
Tinjauan ini diringkas dari Prabhu dkk. (1998). Para pembaca disarankan merujuk pada dokumen asli untuk mendapatkan
uraian lengkap mengenai kerangka tersebut.

1 Suatu UPH ditentukan sebagai suatu wilayah daratan yang sebagian besar mencakup hutan dengan batas yang
jelas, dikelola untuk serangkaian tujuan yang jelas dan mengikuti suatu rencana pengelolaan jangka panjang
(Prabhu dkk. 1996).

P AN D U A N M E N E R A P K A N A M K ,
SERI NO. 9

2.1.1 MEMAHAMI PRINSIP KRITERIA, DAN INDIKATOR Dalam bagian ini, kami mendefinisikan tiga perangkat utama
yang merupakan komponen-komponen penting dari kerangka K&I, yaitu: Prinsip, Kriteria dan Indikator. Sebagai tambahan, kami
juga menentukan definisi konsep Pengukur.
Beberapa definisi berikut digunakan untuk elemen tersebut di atas:
Prinsip: Suatu kebenaran atau hukum pokok sebagai dasar suatu pertim- bangan atau tindakan. Prinsip-prinsip dalam konteks
pengelolaan hutan les- tari diperlakukan sebagai kerangka primer untuk mengelola hutan secara lestari. Prinsip-prinsip tersebut
memberikan landasan pemikiran bagi Krite- ria, Indikator dan Pengukur. Beberapa contoh dari Prinsip tersebut adalah:

Agar Pengelolaan Hutan Lestari dapat berlangsung, maka ‘integritas ekosistem harus dipelihara atau ditingkatkan’,
atau

Agar Pengelolaan Hutan Lestari dapat berlangsung, maka ‘kesejahteraan manusia harus dapat dijamin’.

Kriteria: Suatu prinsip atau patokan untuk menilai suatu hal. Oleh karenanya suatu Kriteria dapat dilihat sebagai prinsip
‘tingkat dua’ yang menambah arti dan cara kerja dalam suatu prinsip tanpa membuatnya sebagai suatu pengukur kinerja secara
langsung. Kriteria merupakan titik lanjutan di mana informasi yang diberikan oleh Indikator dapat digabungkan dan di mana
suatu penilaian yang dapat dipahami menjadi lebih tajam. Prinsip- prinsip membentuk titik akhir integrasi. Beberapa contoh
dari Kriteria yang diterapkan dalam Prinsip pertama, yang diberikan di atas, adalah:

Agar integritas ekosistem dipelihara atau ditingkatkan, ‘beberapa fungsi utama dan proses-proses ekosistem hutan
harus dipertahankan’, atau

Agar integritas ekosistem dipelihara atau ditingkatkan, ‘beberapa proses yang melestarikan atau meningkatkan variasi
genetis harus dipertahankan’.

Indikator: Suatu variabel atau komponen ekosistem atau sistem pengelolaan hutan apa saja yang digunakan untuk
memperkirakan status Kriteria tertentu. Indikator membawa suatu ‘pesan tunggal yang berarti’. ‘Pesan tunggal’ ini disebut
informasi, yang mewakili suatu agregat dari satu atau lebih elemen data yang memiliki hubungan tertentu yang tetap. Contoh
Indikator bila diterapkan pada Kriteria di atas adalah:

Untuk memastikan bahwa berbagai proses yang melestarikan atau meningkatkan variasi genetis dipertahankan, kita
dapat mempelajari ‘perubahan yang terarah pada frekuensi allele atau genotipe’.Pengukur: Data atau informasi yang
meningkatkan spesifitas atau kemudahan penilaian suatu Indikator. Pengukur memberikan perincian khusus yang
menunjukkan atau mencerminkan suatu kondisi yang diinginkan dari suatu Indikator. Pada tahap keempat
spesifisitas, Pengukur memberikan perincian spesifik yang akan menunjukkan atau mencerminkan kondisi yang
3

diinginkan dari suatu Indikator. Pengukur memberi tambahan arti dan ketelitian pada suatu Indikator. Pengukur dapat
juga dianggap sebagai subindikator. Contoh Pengukur bila diterapkan pada Indikator di atas:
• Perubahan yang terarah pada frekuensi allele atau frekuensi genotipe dapat ditentukan melalui pengukuran ‘jumlah allele
populasi’ secara berkala

DEFINISI Analisis Multikriteria adalah perangkat pengambilan keputusan yang dikem.bangkan untuk masalah-masalah kompleks multikriteria yang mencakup aspek kualitatif dan atau kuantitatif dalam proses pengambilan keputusan. kita dapat mempelajari "perubahan yang terarah” pada frekuensi allele dan genotipe.2 PENGANTAR UNTUK ANALISIS MULTIKRITERIA Indikator Kriteria Untuk memastikan agar berbagai proses yang melestarikan atau meningkatkan variasi genetis dipertahankan. 4 . Pengukur Perubahan yang terarah pada frekuensi allele atau genotipe dapat ditentukan melalui pengukuran "jumlah allele dalam populasi” secara berkala.KONSEPKONSEP 1.

AMK adalah suatu perangkat yang dapat membantu mengevaluasi tingkat kepentingan relatif seluruh Kriteria yang terkait dan menggambarkan tingkat kepentingannya dalam proses pengambilan keputusan akhir. Semua teknik ini dijelaskan secara terinci dalam bagian berikutnya. • Untuk mendapatkan suatu pilihan yang lebih disukai pada situasi ini. kepentingan relatif tiap kriteria (misalnya: biaya dan manfaat bagi kesehatan) terhadap keputusan yang telah dibuat harus dievaluasi dan dimasukkan ke dalam proses pengambilan keputusan. Penetapan peringkat (Ranking) adalah pemberian suatu peringkat bagi tiap elemen keputusan yang menggambarkan derajat kepentingan relatif elemen tersebut terhadap keputusan yang dibuat. Tentunya kompleks dan sulit sekali untuk mencapai kesepakatan atas tingkat kepentingan relatif pada Kriteria yang berbeda. elemen. Seluruh skor elemen yang dibandingkan jumlahnya harus mencapai 100. 2. Penetapan Peringkat. Perbandingan Berpasangan. dan memberi sumbangan masing-masing dalam rangka tercapainya kesimpulan yang disepakati bersama. Intisari • 2. Istilah ini merupakan suatu acuan umum pada berbagai elemen yang berbeda dan perlu dianalisis untuk membuat keputusan yang kompleks. Perhatikan contoh sederhana berikut ini: Dua orang yang kehausan mencoba menentukan apakah akan membeli sekaleng ‘Cola’ atau sebotol Jus Jeruk Dua kriteria yang digunakan untuk mengambil keputusan ini adalah biaya dan manfaat bagi kesehatan dari masingmasing minuman. SERI NO.LUKAN? Dalam suatu situasi yang melibatkan berbagai kriteria.2. 9 MENGAPA ALAT UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN DIPER.2. kedua.2. Kriteria atau Indikator.1 PENETAPAN PERINGKAT DAN PENETAPAN NILAI 5 Dua metodologi AMK yang paling sederhana dan dapat digunakan dalam suatu Penilaian K&I adalah Penetapan Peringkat dan Penetapan Nilai. apabila suatu elemen diberi skor tinggi.).2. 2.2 PROSES HIERARKI ANALITIK (PHA) DAN PERBANDINGAN BERPASANGAN .2 berisi tinjauan singkat mengenai teknik yang digunakan dalam AMK. Dengan menggunakan AMK. dst.1 dan 2. berarti elemen lainnya harus diberi skor lebih rendah. kerancuan mungkin akan terjadi jika suatu proses pengambilan keputusan yang logis dan terstruk.elemen keputusan diberi skor antara 0 dan 100. • Orang kedua lebih memperhatikan hidup sehat dan umur panjang sehingga bersedia membayar Jus Jeruk yang lebih mahal tapi lebih menyehatkan. hanya elemen. Dalam konteks analisis K&I. • Dalam menetapkan teknik-teknik ini istilah yang digunakan adalah ‘elemen keputusan’. para anggota tidak perlu sepakat mengenai tingkat kepentingan relatif dari Kriteria atau mengenai penetapan peringkat alternatifnya. Kesulitan lain dalam pengambilan keputusan adalah untuk mencapai kesepakatan bersama dalam suatu tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu. sekaleng Cola akan menjadi pilihan yang paling diinginkan. Jadi apabila biaya dianggap relatif lebih penting daripada manfaat bagi kesehatan. Penetapan nilai (Rating) mirip dengan penetapan peringkat.elemen ini dapat berupa beberapa Prinsip. Elemen-elemen keputusan kemudian disusun berdasarkan peringkatnya (pertama. • Orang pertama khawatir karena uang yang mereka miliki hanya sedikit dan ingin membeli Cola karena lebih murah. Penetapan Nilai.tur dengan baik tidak diikuti.P AN D U A N M E N E R A P K A N A M K . Dengan demikian. Tiap anggota tim menyatakan pendapat pribadinya.

4. Analisis harus bersifat interaktif dan penilaian sebaiknya diberitahukan. b). antara beberapa elemen Hierarki keputusan. 3. Kemudian tiap Indikator dalam suatu Kriteria dibandingkan dengan tiap Indikator lainnya dalam Kriteria itu untuk menilai tingkat kepentingan relatifnya.1. Pengambilan keputusan harus didasarkan atas kesepakatan bersama antara beberapa kelompok pengguna hutan yang mungkin sulit dicapai. 2. Saaty (1995). 2. Perbandingan Berpasangan secara singkat adalah cara menyaring K&I yang kompleks untuk pemecahan masalah menjadi satu seri penilaian satu banding satu mengenai kepentingan relatif tiap Indikator terhadap Kriteria yang diuraikan. (1989) dan Vargas dan Zahedi (1993). Untuk informasi lebih lanjut tentang metode PHA.3 MENGAPA MENGGUNAKAN AMK DALAM PENILAIAN K&I ? Beberapa tantangan dalam penggunaan K&I untuk menilai kelestarian suatu kawasan hutan: 1. Informasi yang digunakan untuk menilai kelestarian sifatnya kualitatif dan kuantitatif. atau lebih buruk lagi. Analisis Multikriteria menyediakan alat yang sesuai untuk mengatasi beberapa tantangan yang dihadapi dalam penilaian K&I. Golden dkk. Metode PHA memilah rangkaian keputusan yang kompleks menjadi satu seri perbandingan sederhana yang disebut Perbandingan Berpasangan. Dalam konteks penilaian K&I. 5. Penilaian kelestarian harus melibatkan partisipasi berbagai kelompok pengguna hutan.KONSEPKONSEP Proses Hierarki Analitik (PHA) membantu pengambilan keputusan dengan menyusun komponen penting dari suatu masalah ke dalam suatu struktur hierarki yang menyerupai sebuah silsilah keluarga. 1.kan pada kotak berikut. Kriteria. • Kurangnya transparansi pada proses pengambilan keputusan yang dapat menghalangi adopsi K&I. ciri-ciri spesifik AMK yang berguna diuraikan di bawah ini. 2. PHA dapat membantu Anda untuk memperoleh keputusan terbaik dan memberikan alasan yang jelas untuk pilihan yang Anda buat. Beberapa bahaya yang berhubungan dengan penggunaan prosedur ad hoc dalam tipe proses pengambilan keputusan ini adalah: • • 6 Makin tingginya risiko atau kemungkinan menghasilkan keputusan yang salah. Catatan yang lebih terinci mengenai beberapa tantangan ini akan disaji. metode PHA merupakan suatu perangkat pengambilan keputusan yang berguna karena sesuai dengan Hierarki Prinsip. rujukan lain yang dapat dibaca adalah Mendoza (1997a. Indikator dan Pengukur yang sudah ada (Bab 2. . pengguna mungkin berpikir bahwa tantangan untuk mencapai suatu keputusan yang obyektif tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur ‘ad hoc’.2). Kemampuan untuk menampung beragam kriteria dalam analisis. Dengan membuat sintesis hasil perbandingan. hasil penilaian K&I tidak diterima oleh masyarakat. Suatu prosedur ad hoc dapat memperburuk suatu keputusan yang salah karena tidak adanya ‘track record’ yang dapat membantu dalam memberi penjelasan mengenai alasan yang masuk akal dan logis di balik keputusan tersebut. stakeholder dan para pakar. AMK dapat menggunakan data campuran dan analisisnya tidak memerlukan banyak data. Metode ini memungkinkan penggabungan baik informasi kualitatif maupun kuantitatif. K&I yang digunakan harus mencakup beragam barang dan jasa yang disediakan oleh hutan. Mengingat kompleksnya proses penetapan keputusan.

keputusan itu sendiri. 5.P AN D U A N M E N E R A P K A N A M K . kelompok pengelola hutan dan stakeholder. berkenaan dengan penilaian K&I. Suatu perangkat seperti ini diperlukan untuk mencapai keputusan bersama yang mudah disampaikan dan beralasan. sama pentingnya dengan keputusan. AMK memungkinkan keterlibatan langsung berbagai pakar. • Sebagai satu cara untuk mengumpulkan semua hasil evaluasi yang dibuat oleh para peserta. 4. kemampuan untuk berkomunikasi dan menerangkan keputusankeputusan dan bagaimana keputusan-keputusan tersebut dicapai. AMK mencakup mekanisme umpan balik yang berkenaan dengan konsistensi dari penilaian yang dibuat. Analisis bersifat transparan bagi para peserta. Akhirnya. mem. Beberapa cara penerapan spesifik AMK dalam penilaian K&I adalah: • Sebagai satu cara untuk memudahkan pengambilan keputusan oleh tiap individu/peserta yang berkaitan dengan tingkat • Sebagai satu cara untuk menilai tingkat kepentingan relatif dari tiap kriteria/ indikator dalam upaya memilih satu set yang kepentingan tiap Kriteria/ Indikator. pakar untuk mencapai suatu konsensus atau evaluasi bersama untuk semua Kriteria/Indikator. Kemampuan AMK untuk memisahkan elemen keputusan dan menelaah kembali proses pengambilan keputusan. SERI NO.buatnya ideal untuk menyampaikan dasar tiap keputusan. dalam banyak situasi pengambilan keputusan. 9 3. dianggap paling penting. 7 .

Analisis harus bersifat interaktif dan penilaian sebaiknya diberitahukan. Sebaliknya data kualitatif terutama untuk bagian yang bersifat konseptual. stakeholder dan para pakar. tetapi hampir tidak ada kesepakatan dalam hal: Bagaimana cara mengukur kelestarian. Metode penilaian yang digunakan harus dapat menampung data kualitatif dan kuantitatif. Contohnya faktor-faktor sosial dan lingkungan. Informasi yang digunakan untuk menilai kelestarian sifatnya kualitatif maupun kuantitatif. Hutan harus dikelola dengan cara yang dapat menampung dimensi-dimensi Sosial-Ekonomi. 4. . Biologi. Fisik dan Lingkungan dan setiap ekosistem. Metode yang digunakan untuk menilai kelestarian sebaiknya sangat transparan bagi semua peserta dan stakeholder. 2. 3. Analisis sebaiknya dapat mengubah informasi menjadi wawasan yang berguna bagi peserta untuk mencapai beberapa pilihan/evaluasi yang lebih mudah disampaikan. Apa yang seharusnya tercakup dalam penilaian. Ekologi. 1) 2) Sementara ada kesepakatan umum mengenai pentingnya mengukur kelestarian. Pengambilan keputusan harus didasarkan atas kesepakatan bersama antara beberapa kelompok pengguna hutan yang mungkin sulit dicapai.Isu-isu dalam Penilaian K&I 1. Penilaian kelestarian harus melibatkanpartisipasi berbagai kelompokpengguna hutan. Secara umum data keras sulit diperoleh dalam suatu situasi penilaian dan hanya dapat dimasukkan sebagai suatu variabel ‘perwakilan’ atau dalam beberapa cara kualitatif. Data kuantitatif adalah ‘data keras’ yang dapat dikumpulkan dan disintesis. Pada hakikatnya ada kompleksitas di dalam sistem hutan sehingga tiap sistem pengukur harus dapat mengatasi kenyataan yang kompleks dan multidimensi ini. K &I yang digunakan harus mencakup beragam barang dan jasa yang disediakan oleh hutan. 5.

1996).contoh yang digunakan dalam panduan ini menggambarkan perbedaan metode AMK yang menggunakan pendekatan top . Berikut ini adalah beberapa kekhususan suatu pendekatan penilaian top-down.1 PENGANTAR UNTUK PENDEKATAN TOP-DOWN DAN BOTTOM-UP Ada dua pendekatan yang berbeda dalam penggunaan AMK yang tercakup dalam panduan ini. • Fokus tim adalah: 1. tidak hilang (Prabhu dkk. . • Tim Penilai terdiri dari para profesional atau pakar yang mewakili berbagai disiplin ilmu yang ada dalam set K&I. •Model top-down memungkinkan dilakukannya pendekatan ‘buku resep’ seperti dalam panduan ini. Menggunakan suatu tim pakar yang sudah terbiasa dengan konsep dasar K&I dan menggunakan Pola Generik sehingga pendekatan top. tetapi pembahasannya tidak menggunakan gaya panduan ‘buku resep’. terutama yang berawal dari lapangan. satu penerapan spesifiknya adalah Sertifikasi Hutan. memperkirakan tingkat kepentingan relatif tiap elemen dalam set K&I berkenaan dengan Kriteria yang dipilih. • Dalam pendekatan ini suatu set K&I (Pola Generik CIFOR) yang dibuat sebelumnya digunakan sebagai perangkat awal dan sebagai dasar untuk menghasilkan perangkat akhir K&I.down yang diambil dari suatu percobaan sertifikasi hutan di Kalimantan Tengah. kombinasi kedua pendekatan ini akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang lebih baik. pada akhirnya akan bergantung pada sasaran penilaian dan beberapa kondisi lokasi yang dibicarakan. kemampuan untuk diterapkan dan keefektifan biaya. Intisari •Contoh. Sertifikasi Hutan Pendekatan top-down paling sesuai digunakan dalam penilaian kinerja suatu Unit Pengelolaan Hutan.down secara teoritis akan berhadapan dengan variabel yang lebih sedikit. Sebaliknya metode-metode. Dengan demikian model ini merupakan suatu model yang lebih baik bagi gaya penyajian ‘buku resep’. Dalam banyak situasi.up’ juga disajikan dalam panduan ini. Walaupun Panduan ini mengulas kedua pendekatan ini secara terpisah. Beberapa Kriteria antara lain kemampuan untuk diaudit. tujuan proses bottom-up adalah untuk memastikan bahwa informasi. •Informasi mengenai pendekatan bottom-up disajikan dalam Bab 5. Tujuan proses top-down adalah untuk memastikan informasi konseptual yang benar dapat disimpan. dan 2. Pilihan terhadap satu pendekatan dan tidak pada pendekatan lain. tidak berarti keduanya saling terpisah. yaitu pendekatan topdown dan bottom-up. dan masalah-masalah yang ditemukan selama uji lapangan oleh CIFOR dengan pendekatan ‘quasi-bottom. Pendekatan Top-down: Misalnya. mengadaptasi dan memodifikasi set awal K&I pada situasi lokal. Informasinya disajikan sebagai panduan untuk melaksanakan pendekatan bottom-up atau kombinasi kedua pendekatan.Menerapkan AMK Dalam Penilaian K&I 3. Pembahasan tentang pendekatan kombinasi ini terdapat dalam Bab 5.

Kebijakan. 3. Tim Pakar mempelajari perangkat awal. Tim pakar perlu memahami hierarki K&I. Beberapa pertanyaan yang relevan adalah: Langkah 8 Langkah 9 • Tim yang bagaimana yang ingin Anda pilih? • Bagaimana Anda akan menyusun proses pemungutan suara untuk memperoleh informasi yang relevan dari para pakar? • Bagaimana Anda mengumpulkan dan menganalisis informasi yang Anda peroleh? • Metodologi AMK yang bagaimana yang sesuai dengan sasaran analisis? 3. Apabila memungkinkan. Penilaian individual dikumpulkan dengan menggunakan Formulir Respon 1A. berkaitan dengan 7 seleksi satu set K&I yang bobotnya telah dinilai. Mungkin sangat berguna untuk mengacu kembali pada langkah-langkah ini sebagai suatu kerangka saat Anda bekerja dengan panduan ini. Integritas Ekologi dan Produksi (lihat Aneks 7. Pendekatan Bottom-up: Misalnya. berbeda dengan Sertifikasi Hutan. Dari Prinsip dan Kriteria lainnya yang dinilai penting. Keahlian ini dapat diperoleh melalui berbagai kombinasi pakar yang berbeda. Masukan-masukan ini Langkah dikumpulkan dan disintesis untuk memperoleh satu keputusan atau pilihan kolektif. satu contoh Tim Pakar diberikan di bawah ini. periksa Indikator pada tiap Kriteria. Jika Tim puas. Tim memberikan penilaian individual bagi Kriteria pada tiap Prinsip.4 untuk informasi lebih lanjut). Pola Generik CIFOR). Penilaian individual dikumpulkan dengan menggunakan Formulir Respon 1B. pendekatan bottom-up untuk pengambilan keputusan yang melibatkan para stakeholder lokal sangat penting dalam proses mana pun yang bertujuan mendapatkan suatu dampak yang lestari pada pengelolaan jangka panjang suatu UPH. dan memiliki pengetahuan luas yang relevan dengan UPH yang bersangkutan. Sebagai panduan. Metode-metode penggunaan AMK dengan pendekatan ini juga belum sepenuhnya teruji di lapangan.Secara umum pendekatan top down dapat digunakan baik sebelum maupun sesudah bekerja di lapangan. Daftar Akhir K&I dalam ditetapkan. Walaupun demikian. hilangkan Prinsip-prinsip dan Kriteria yang bobotnya jauh lebih rendah daripada yang lainnya. Dalam panduan ini kita melihat pendekatan bottom-up dari konteks Pengelolaan Hutan. Hitung Bobot Relatif tiap Indikator.2 HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN PENGORGANISASIAN AMK sangat mengandalkan masukan dari para pakar dan stakeholder. maka proses dapat diulang dari Langkah kedua. Penilaian individual dikumpulkan dengan menggunakan Formulir Respon 2A dan 2B. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari langkah 3 dan 4. Contoh suatu Tim Lokal Konteks: Sertifikasi Hutan pada sebuah HPH di Kalimantan Tengah . Memodifikasi perangkat tersebut bila diperlukan. Kami menyarankan Tim Pakar paling sedikit terdiri dari enam pakar/anggota tim yang mewakili keahlian dalam tiap Prinsip. Prioritaskan Indikator-indikator menurut Bobot Relatifnya. buat prioritas Prinsip dan Kriteria menurut Bobot Relatifnya. yaitu: Sosial. Kotak teks pada halaman selanjutnya berisi sinopsis mengenai cara menggunakan pendekatan top-down dalam penilaian K&I. Hilangkan Indikatorindikator yang dianggap kurang penting.1 TIM PAKAR Relevansi dan kekuatan AMK pada akhirnya bergantung pada pengetahuan dan pengalaman Tim Pakar yang terbentuk. Tim memberikan penilaian individual bagi tiap Prinsip. Pendekatan tersebut dapat digunakan sebelumnya untuk mempersingkat K&I yang akan dievaluasi di lapangan.Perlihatkan daftar terakhir kepada Tim. Jika Tim tidak puas. Pengelolaan Hutan Pendekatan sengaja disusun dengan cara yang memungkinkan keterlibatan langsung dan partisipasi aktif berbagai stakeholder dalam Unit Pengelolaan Hutan. dan juga dapat digunakan sesudahnya sebagai cara untuk melakukan penilaian berdasarkan data yang dikumpulkan. Skenario Pengelolaan Hutan Pendekatan Top-down Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4 Langkah 5 Langkah 6 Tentukan suatu set awal K&I (misalnya.2. Pola Generik K&I CIFOR terbagi dalam enam Prinsip umum yang berada di bawah empat kategori umum. Pendekatan bottom-up tidak mudah dijelaskan dengan gaya ‘buku resep ’ seperti pendekatan top-down.

apabila menghadapi Kriteria 1 untuk Prinsip 2 kelompok akan. Situasi ini akan mengurangi keragaman wawasan dan kualitas diskusinya. tahap dan tingkat analisis. memungut suara secara individual dengan menggunakan Formulir Respon. diskusi dilanjutkan ke Kriteria 2 untuk Prinsip 2. Contohnya. set data yang digunakan akan lebih besar dan sulit dianalisis secara manual. 1.3 dapat dilihat untuk memberikan informasi mengenai judul dan label untuk tabel yang sesuai dengan analisis yang Anda pilih. 2. konsultan.pemungutan suara berhasil dengan baik.1. Walaupun diskusi dilakukan secara terbuka.2. dan cara mengum-pulkan serta menganalisis data perlu dipertimbangkan dengan seksama. Ilmuwan Pengelolaan Hutan dengan pengetahuan kebijakan hutan dan sejarah pengelolaan hutan di Indonesia. perlu disediakan forum diskusi terbuka. yaitu: • CIMAT . Perspektif lain juga perlu disertakan dalam tim (misalnya para akademisi. Sebaiknya diusahakan untuk merekrut tenaga pakar terbaik yang ada.2 Pengumpulan Data dan Analisis Beberapa contoh yang digunakan dalam Panduan ini menggunakan set data yang jumlahnya sedikit untuk kepentingan ilustratif. 3.2. 4. Kriteria atau Indikator secara berurutan. aparat pemerintah).bantu memunculkan perspektif berbeda dalam proses yang berlangsung. dan • kesepakatan yang memadai di antara para anggota tim mengenai sasaran. 6. LSM. para anggota tim sebaiknya menahan diri untuk bisa mengungkapkan dengan jelas bagaimana cara mereka dalam menetapkan skor. Dalam konteks suatu proses AMK yang sesungguhnya. Setelah pemungutan suara.2. Komunikasi lintas disiplin yang efektif sangat diperlukan agar diskusi pra. struktur proses pemungutan suara yang digunakan oleh Tim Pakar. 5. Contoh pada Bab 3.2. Tim sebaiknya tidak terdiri dari sebuah kelompok ‘orang dalam’. 3. Penilai Profesional dengan gelar pendidikan tinggi di bidang ilmu kehutanan. Pada umumnya. Selama diskusi tersebut. yang terlalu akrab satu sama lain dan memiliki pandangan yang sangat seragam. mendiskusikan tingkat kepentingannya secara bersama. telah berpengalaman luas dalam sertifikasi. serta elemen keputusan dalam hierarki K&I. baik yang berlatar belakang ilmu yang terkait maupun dengan lokasi yang bersangkutan.2 PANDUAN UNTUK MENGUMPULKAN DATA Agar dapat melaksanakan suatu analisis AMK dengan berhasil.2. Kami menyarankan agar sebelum memulai analisis. 2. Cara ini akan membantu menjamin kebebasan penilaian tiap anggota dari pengaruh anggota tim lain yang lebih vokal. • minat yang sungguh. Ilmuwan Sosial yang mengkhususkan diri pada Kehutanan Sosial dan Pembangunan Masyarakat. Gabungan pakar Nasional dan Internasional akan mem. Ilmuwan Ekologis yang mengetahui benar masalah ekologi hutan Dipterocarpace di Kalimantan. Ilmuwan Ekonomi Sumber Daya dengan keahlian ekonomi dan produksi hutan. 3. Formulir contoh ada dalam Bab 3 dan Aneks 2.1 Pemungutan Suara Sebelum pemungutan suara dilakukan. • rasa hormat yang tulus terhadap para anggota tim Anda dan penghargaan terhadap keahliannya. Di bawah ini diberikan dua contoh.sungguh dalam mempelajari bidang disiplin lainnya. siapkan Lembar Isian Excel yang berisi seluruh butir data yang ingin Anda kumpulkan. 3. Empat sikap yang penting dalam meningkatkan komunikasi adalah: • bersedia berkompromi secara wajar untuk memenuhi kepentingan para anggota tim lainnya. Ilmuwan Pengelolaan Hutan dengan keahlian di hutan-hutan Asia Tenggara. Sejumlah program komputer juga telah dikembangkan untuk membantu mengumpulkan dan menganalisis hasil-hasil AMK yang berbeda. peringkat atau nilai untuk tiap elemen dalam hierarki K&I. Pemungutan suara dilakukan dengan mengisi Formulir Respon untuk tiap pendekatan AMK. Sedapat mungkin pastikan keragaman jender. paling baik bila kelompok berdiskusi dan melakukan pemungutan suara untuk satu Prinsip. pemungutan suara sebaiknya dilakukan secara individual.

Cara ini juga dapat digunakan untuk menentukan bobot relatif suatu indikator dengan lebih akurat. tidak terlalu penting untuk memulai dari hierarki paling atas. Pada saat ini CIMAT belum memiliki perangkat pendukung untuk pengambilan keputusan. Tim Pakar dapat membangun dasar pengetahuan yang akan membantu mereka untuk menganalisis tingkat Prinsip dengan lebih baik. Pada beberapa situasi mungkin akan lebih berguna untuk memulai analisis pada tingkat Kriteria. karena mereka memiliki pengetahuan mengenai hierarki K&I. Perbandingan berpasangan paling baik digunakan sebagai saringan halus yang dapat digunakan pada tahap lebih lanjut untuk menentukan elemen-elemen K&I mana yang paling tidak penting dan dapat direkomendasikan untuk dihapus. Kriteria dan Indikator akan diuji. atau bahkan Indikator. telah mengembangkan perangkat lunak komputer sebagai pendukung pengambilan keputusan. dengan urutan seperti apa Prinsip. Informasi lebih lanjut untuk produk-produk lainnya dapat ditemukan dalam Web site berikut: www. Namun demikian. Tingkat yang lebih rendah ini tidak terlalu bersifat konseptual dan lebih didasarkan pada pengukuranpengukuran dan observasi-observasi yang konkrit. tetapi menyediakan informasi mengenai AMK. Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada Kotak Peralatan CIFOR. • Berdasarkan pengalaman uji lapangan.expertchoice. Tim Pakar dapat memulai analisis pada tingkat Prinsip yang lebih konseptual.com 3. Dengan menganalisis Kriteria dan Indikator terlebih dahulu.CIMAT adalah perangkat komputer CIFOR yang dikembangkan untuk memodifikasi dan mengadaptasi K&I agar sesuai dengan situasi lokal. • Sebaliknya. Dalam skenario Top-down seperti yang digunakan dalam pengujian untuk sertifikasi. Hal ini terutama berkaitan dengan situasi penilaian dengan pendekatan Bottom-up di mana tim pakar terdiri dari berbagai macam latar belakang pengalaman dan pendidikan (lihat Bab 5).2. • Aplikasi Perangkat Lunak Lainnya Expert Choice Inc. Urutan dalam menerapkan metodologi AMK yang berbeda juga perlu dipertimbangkan. .3 MEMILIH METODE ANALISIS YANG SESUAI Menetapkan Urutan Analisis Sebelum tim pakar memulai analisisnya. Penetapan peringkat dan Penetapan nilai paling baik digunakan sebagai perangkat penyaring awal karena cara ini dengan cepat mengeluarkan elemen-elemen K&I yang tidak cukup penting. akan lebih bermanfaat bila memikirkan dahulu urutan analisis.

/100.5 Keceptn tempuh Min 25 km / jam 20 km / jam 20 km / jam 25 km / jam 25 km / jam 20 km / jam Penyusunan Program Kebutuhan Penanganan Jalan N/P Adapun langkah penyusunan program kebutuhan penanganan jalan adalah sebagai berikut : 1. Jaringan Jalan Cakupan A.iri < 6. Mengidentifikasi kondisi fisik dan operasional jaringan jalan N/P.5 Sedang. yang meliputi : a.000km kend Kecelakaan / km / tahun III.iri < 6.5 > 0. Aspek Kecelakaan 2. sehingga atas dasar analisis ini akan dapat disusun kebutuhan penanganan jalan dimasa datang. SPM Jaringan dan Ruas Jalan di Indonesia Standar Pelayanan No. SPM Jalan ini secara konseptual diharapkan menjadi salah satu acuan bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan jaringan jalan diwilayahnya.iri < 6. Detail dari SPM ini dapat dilihat pada Tabel 1 (Dept. Kondisi fisik dan operasional jaringan jalan secara umum (baik/sedang/buruk/sedang) dan secara lebih spesifik seperti IRI. Kimpraswil 2001) : Tabel 1. rci > 6. Seluruh jaringan Tinggi > 5 Sedang > 2 Rendah > 1 Sangat rendah < 1 Pemakai Jalan Kepdtn Pddk (jiwa/km2) Sangat tinggi > 5000 >2 >1 > 0.15 > 0.5 m Fungsi Jalan Arteri primer Kolektor primer Lokal sekunder Arteri sekunder Kolektor sekunder Lokal sekunder Lhr > 20000 8000 > lhr > 20000 3000 > lhr > 8000 Lhr < 3000 Pengguna Jalan Lantas regnl jarak jauh Lantas regnl jarak sedang Lalulintas lokal Lalu lintas kota jarak jauh Lantas kota jarak sedang Lalu lintas lokal kota Sedang. lebar. Konfigurasi fungsional jalan (arteri/kolektor/lokal) disesuaikan dengan idealisasi hirarki pelayanan jalan dan keterpaduan antar moda serta rencana pengembangan wilayah.05 Panjang Jalan/ Luas Indeks Mobilitas >5 Panjang jalan / 1000 B.5 Sedang.5 Sedang. Aspek Mobilitas Seluruh jaringan C. dan kondisi geometrik jalan. Aspek Aksesibilitas Seluruh jaringan kuantitas Konsumsi/Produksi Kepdtn Pddk (jiwa/km2) Sangat tinggi > 5000 Tinggi > 1000 Sedang > 500 Rendah > 100 Sangat Rendah > PDRB per kapita (juta Rp/Kap/th) Sangat tinggi > 10 Kualitas Keterangan Indeks Aksesibilitas >5 > 1. Dalam idealisasi pelayanan jalan sebagai sistem infrastruktur dasar (basic Infrastructure). Bidang Pelayanan 1. Untuk itu. rci > 6. II. . Kondisi Pelayanan Lebar Jalan Min Volume Lantas (kend/hari) Kondisi Jalan 2x7m 7m 6m 4. Kondisi Jalan B.2 Indeks Kecelakaan 1 Tinggi > 1000 Sedang > 500 Rendah > 100 Sangat rendah < 100 Indeks Kecelakaan 2 penduduk Kec. rci > 6.iri < 6. maka diperlukan adanya analisis mengenai kondisi fisik dan pelayanan jalan yang ada pada saat ini. b. Ruas Jalan A. departemen teknis yang terkait dengan bidang pengembangan jaringan transportasi jalan dalam hal ini adalah Departemen Kimpraswil telah mengeluarkan SPM (Standar Pelayanan Minimum) Jalan.5 > 0. rci > 6.5 > 0.Transport 10. STUDI PUSTAKA Identifikasi dan Penyusunan Program Kebutuhan Penanganan Jalan N/P Untuk mengidentifikasi kebutuhan penanganan jalan N/P.

dari hasil butir (1) akan diperoleh daftar (Listing) kebutuhan penanganan dan pengembangan jalan dimana dari butir (1.a) akan dihasilkan kebutuhan penanganan jalan berupa pemeliharaan. dan pelebaran .2.

AHP memasukan baik aspek kualitatif maupun kuantitatif pikiran manusia. Tingkat urgensi penanganan jaringan jalan N/P dan manfaatnya bagi pengembangan wilayah secara keseluruhan b. terminal Aspek Aksessibilitas Aspek Mobilitas Biaya Penanganan Jalan (Rp) (a) Menghubungkan kota jenjang I. K. Keterpaduan hirarki sistem jaringan jalan (hierarchical integration) 3. terdiri dari: 1. Secara umum proses yang harus dilalui dalam proses AMK untuk aplikasi dalam Pengembangan jaringan jalan. Analisis Prioritas kegiatan pengembangan jaringan transportasi 3. Kaw. Tabel 2. dan aspek kuantitatif untuk mengekspresikan penilaian dan preferensi secara ringkas padat. dimana proses analisis dan evaluasi dengan menginterpretasi data hasil survai untuk melakukan penilaian intensitas kepentingan dengan pendekatan Analitycal Hierarchical Process (AHP) sebagai salah satu metode Analisis Multi Kriteria. Kesiapan daerah (Kab/Kota) dalam mendukung efektif dan efisiennya program pengelolaan jaringan jalan (Support system) Alternatif Usulan Pengembangan Jaringan Jalan (a) (b) (c) (a) (b) (c) (a) (b) (a) (b) (a) Variabel Volume lalulintas/LHR (smp/hari) Kapasitas ruas jalan (smp/hari) Kecepatan ruas jalan (km/jam) Fungsi jalan (A. 1993). P. Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk menyusun digunakan untuk menganalisis dan melakukan prioritasi terhadap sejumlah usulan pengembangan sistem transportasi yang digali dari daerah. Analisis Multi Kriteria (AMK) Analisis Multi Kriteria (Multi Criteria Analysis) merupakan alternatif teknik yang mampu menggabungkan sejumlah kriteria dengan besaran yang berbeda (multi-variable) dan dalam persepsi pihak terkait yang bermacam-macam (multi-facet). IIIC) Status jalan (N. Penyusunan alternatif usulan pengembangan jaringan transportasi 3.3. dan menilai interaksi-interaksi dari suatu sistem sebagai satu keseluruhan (Saaty. METODE STUDI Kirteria dan Variabel Penelitian Kriteria dan variabel yang digunakan dalam penelitian/studi ini sebagaimana disajikan pada Tabel 2. dll) (a) Keberadaan rencana/implementasi pengembangan ekonomi wilayah dalam rencana daerah yang dilalui jalan tersebut.Industri. Analisis Multi Kriteria lebih bersifat analisis kuantitatif. Aspek kualitatif untuk mendefinisikan persoalan dan hirarkinya. L) Kelas jalan (I. IIIA. Penyusunan kriteria pengembangan jaringan transportasi 2. 7. 6. Kriteria dan Variabel Kriteria Pengembangan Jaringan Jalan N/P No Kriteria 1. dari daftar kebutuhan pengembangan dan pengelolaan N/P dari butir (2) diatas maka akan dapat disusun program penanganan jalan N/P dengan mempertimbangkan aspek berikut : a. Keterpaduan antar moda transportasi (multi-modal aspect) Pemerataan aksesibilitas dan koneksitas antar daerah (accessibility/connectivy) Biaya penyediaan dan pengoperasian yang murah (Cost Efficiency) Efektifitas dalam mendukung pengembangan wilayah (regional development) 4. memahami.III (b) Menghubungkan kawasan strategis propinsi (Kaw. Hasil dari butir (3) akan dapat disusun rekomendasi berupa alternatif pengembangan yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pendanaan yang ada. IIIB. Akomodasi terhadap kebutuhan perjalanan (flow function) 2. II. K) Jumlah pelayanan AKDP yang melalui (rute) Menghubungkan bandara.II. 5.Pertanian. Proses kerja dari AHP ini adalah mengidentifikasi. pelabuhan. Batasan dana yang ada. .

alternatif usulan kebijakan pengembangan dan pengelolaan jaringan jalan yang dilakukan.Dalam studi ini. meliputi : .

jalan propinsi dan jalan Kabupaten di Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan yang dilalui oleh AKDP dan AKAP. dan 16. Kondisi Do Nothing (Alt. Pengambilan data dilakukan pada setiap ruas jalan yang dilalui oleh AKDP dan AKAP. Penilaian masing-masing kriteria yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif berdasarkan nilai standar yang ada. yaitu pembangunan Jalan baru (new road construction) Pada Gambar di bawah ini. selama 1 minggu. Kondisi Do Something (Alt. Waktu pengambilan data primer terdiri dari 3 periode waktu yaitu mulai pukul 06.00. Keterangan : Gambar 1a. 2) Lokasi dan Pengumpulan Data Lokasi studi yang diambil dibatasi hanya pada masalah jaringan transportasi darat yang dikhususkan pada jalan nasional. Sukawati.Parepare). Jend.00 – 17. Sudirman (Poros Pinrang. Alternatif 1 (Do Nothing). Ir. 12. Jl.1) Gambar 1b. Adapun cara penilaian untuk kriteria yang bersifat kualitatif dilakukan dengan cara memberikan nilai berupa angka 0 sampai dengan 100. Jend. Dr. yang terdiri dari lima ruas jalan yaitu: Jl. Alternatif 2 (Do Something). Ir. diperlihatkan gambar jaringan jalan di Kabupaten Pinrang pada kondisi Eksisting (Do Nothing) dan pada kondisi usulan pengembangan jaringan (Do Something). yaitu pemeliharaan jalan (Road maintenance) b. Jl.a.00 – 14. Juanda – JL. Jl. .. maka proses penilaian untuk kedua jenis kriteria tersebut dibedakan. Bau Maseppe (Poros Pinrang – Sidrap). Ahmad Yani (Poros Pinrang – Polmas). Wahidin Sudiro Husodo – Jl. dan sebaliknya angka 0 diberikan untuk nilai penilaian terendah (tidak ada kaitannya sama sekali dengan kriteria).00 setiap harinya. Basuki Rahmat – Jl. Sehubungan dengan adanya kriteria yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. dimana angka 100 diberikan untuk alternatif atau usulan pengembangan yang mampu memenuhi syarat kriteria yang tertinggi. Sedangkan untuk kriteria yang bersifat kuantitatif proses penilaiannya dapat dilakukan melalui perbandingan langsung dari data-data yang ada di setiap ruas jalan yang bersangkutan.00. Skor Kinerja Variabel Kriteria Proses penilaian kinerja suatu usulan terhadap kriteria pengembangan jaringan dilakukan dengan cara memberikan nilai terhadap variabel kriteria yang diusulkan.00 – 08.

Skor untuk alternatif 1 didapatkan dengan membandingkan antara hasil yang didapatkan dilapangan dengan nilai standar dari .Penentuan skor di bedakan menjadi 2 (dua) yaitu skoring target dan skoring realisasi. Skor target didapatkan berdasarkan intensitas kepentingan tiap variabel masing-masing kriteria.

nilai didapat dari hasil antara bobot dikali dengan skor. 4. Tamin (2002).167 smp/jam. bobot setiap kriteria dikalikan dengan skor realisasi tiap variabel. Dari hasil perbandingan tersebut dikalikan dengan skor target dari tiap variabel. penentuan bobot setiap kriteria didasarkan pada hasil studi terdahulu. pada hari Senin. Perhitungan tiap-tiap variabel dibagi menjadi 2 Alternatif yaitu Alternatif 1 untuk kondisi Do Nothing dan Alternatif 2 untuk kondisi Do Something.3000 2500 2000 1500 1000 500 0 masing-masing variabel. Untuk mendapatkan jumlah. DESKRIPSI KONDISI JARINGAN JALAN KABUPATEN PINRANG Volume Kendaraan (smp/jam) Akomodasi Terhadap Kebutuhan Perjalanan (Flow Function) Data kondisi volume lalu lintas di ruas jalan pada keempat lokasi pengambilan data disajikan pada Gambar 2 berikut : Gambar 2. pa s ita s R ua s J a la n (s m p/ja m ) Data kondisi kapasitas ruas jalan pada keempat lokasi pengambilan data disajikan pada Gambar 3 berikut : : . Volume Lalu Lintas Ruas Jalan tiap Zona (smp/jam) Dari gambar diatas. Zona II Zona III Zona IV Pada studi ini. Untuk setiap alternatif. Penilaian Kinerja Alternatif Pengembangan Penilaian yang dilakukan berdasarkan alternatif pengembangan yang telah ada. Bobot Kriteria Pengembangan Jaringan Jalan Zona I Penentuan bobot setiap kriteria/variabel dilakukan dengan memberikan nilai tertentu untuk setiap prioritas. Dalam hal ini Zona didasarkan pada hasil studi yang dilakukan oleh Ofyar Z. terlihat bahwa Volume Lalu lintas tertinggi terjadi pada Zona 1 (Poros Pinrang – Parepare). Sedangkan untuk skor alternatif 2 didapatkan dengan cara mengasumsikan perubahan yang dapat terjadi akibat kegiatan alternatif 2. yaitu sebesar 1131.

Gambar 3. Kapasitas Ruas Jalan Tiap Zona (smp/jam) .

4 48 39. Jumlah kendaraan AKDP yang beroperasi di Kab.r a t aK e n d a r a a n ( K m / J a m ) Dari gambar diatas terlihat bahwa kapasitas ruas jalan terbesar terdapat pada Zona I dan II dengan nilai 2945 smp/jam. Pinrang Keterpaduan Antar Moda Transportasi (Multi-Modal Aspect) Jumlah kendaraan Angkutan Kota Dalam Propinsi (AKDP) yang beroperasi di Kabupaten Pinrang adalah seperti terlihat pada Tabel 4 berikut : 1.K e c e p a t a n R a t a . Kecepatan Rata-rata Kendaraan Tiap Zona Pada Saat Jam Sibuk Keterpaduan Hirarki Sistem Jaringan Transportasi (Hierarchical Integration) Data kondisi hirarki sistem jaringan transportasi di Kabupaten Pinrang disajikan pada Tabel 3 berikut : Tabel 3.55 8 36 46.83 35.933. Pinrang Jenis Kendaraan Darat Jumlah (Unit) Bus 48 Angkutan antar kabupaten (Panther) 251 Kondisi Baik Baik . Sompe lanrisang Mt. Tabel 4.5 62.16 Fungsi Jalan Kelas Jalan Status jalan Arteri Arteri Arteri Arteri Arteri Arteri Arteri Lokal Lokal Arteri Arteri Kolektor I I I I I I I III III IIA IIA IIA Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Kabupaten Kabupaten Kabupaten Kabupaten Kabupaten Sumber : Dinas PUK. Data kondisi kecepatan lalu lintas ruas jalan pada keempat lokasi pengambilan data disajikan pada Gambar 4. Gambar 4. Bulu Lembang Cempa Duampanua Patampanua Batulappa Tiroang Paleteang Wt. terlihat bahwa kecepatan rata-rata kendaraan pada saat jam sibuk tertinggi ada pada Zona II untuk kendaraan sepeda motor sebesar 50. 2. Kab.35 46. Dari gambar tersebut.85 46. Sawitto (Km) 46.5 50. Tabel Fungsi Jalan Tiap Zona Di Kabupaten Pinrang Zona I II III IV Ruas Jalan Panjang (Tiap kecamatan) Suppa Mt.5 64.

Pinrang 299 .Total Sumber : Dinas Perhubungan Kab.

11 0.79 27.646 274.16 2 Indeks Aksesibilitas (km/km ) Eksisting Mini +/.56 0.784.5 62.09 36.551 30. terlihat bahwa kecamatan yang mempunyai indeks mobilitas terbesar adalah Kec.80 5 3. Sawitto 1200 1100 1000 900 800 700 600 Ket.665 27.501 96.715 Rata-rata Lembang 1.322 Mt.178 221.00 0.16 Indeks mobilitas (km/1000 penduduk) Eksisting Mini +/Deviasi 1. Prasarana transportasi udara yang ada di Kabupaten Pinrang adalah berupa bekas lapangan terbang tentara Jepang yang berada di Kecamatan Patampanua seluas + 500 Ha yang belum difungsikan dan peruntukan lahannya saat ini berupa padang rumput.5 0.61 5 2.69 5 3.60 0 + 0.16 0.99 26.075 Batulappa 641. Lembang sebesar 0.5 + 0.5 + 0.5 50.Wt.729 73.60 0.52 0.444 207.502.555 68.13 0.99 9.443 136.18 0.45 0.49 23. 46. Pinrang No. Biaya Penyediaan Dan Pengoperasian Yang Murah (Cost Efficiency) Anggaran pembangunan jalan Kabupaten Pinrang untuk kondisi permukaan beraspal : Rp.63 0.15 + 0.799 Rata-rata Tiroang 940. Sompe lanrisang Mt.56 2.5 + 0.761 50.747 32.20 2.789 33.04 0.60 0.00 0. : Senin Luas Penduduk 2 2 km Jumlah Kepadtn/Km 74.-.99 3.44 5 2.177 Rata-rata Wt.Terminal yang terdapat di Kabupaten Pinrang adalah terminal regional yang berlokasi di Kecamatan Paleteang. Tiroang sebesar 0.72 3.5 + 0.963 180.06 0.24 5 1.10 5 3.848 158.4 48 39.5 50.05 + 0.01 0.3 15.86 5 4.31 1.586 132.367 113.970.447 Zona IV Panjang Jalan (Km) 46.09 0.35 46. II.32 5 3.68 2.05 0.207 Patampanua 940.15 + 0.64 5 3.130.578 226.5 64.85 28. Batulappa dan Kec.798 291.= dibawah SPM Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Tabel 6.86 5 4. Dana yang dialokasikan untuk pembangunan jalan adalah 35% dari anggaran.024. Cempa sebesar 3.01 0. sekaligus sebagai Pusat Pelayanan Utama Kabupaten Pinrang sehingga dapat menghubungkan antara Kota Jenjang I.25 3. Pemerataan Aksesibilitas Dan Konektisitas Antar Daerah (Accessibility/Connectivity) Hasil analisis indeks aksessibilitas dapat lihat pada pada tabel 5.85 46. Bulu 1.47 0.Deviasi 0. Dari Tabel 6 tersebut.78 0.694 173. Bulu 2 II Lembang Cempa Duampanua Patampanua Batulappa 3 III Tiroang Paleteang 4 IV Wt.5 64.97 41.53 0.86. Indeks Aksessibilitas Jaringan Jalan Kab.281 34.221 54.25 0. Zona 1 I 2 II 3 III 4 IV Zona II Zona III PDRB Nilai Konstan 2003 (jt Rp) Jumlah Perkapita Kecamatan Suppa Periode831. Hasil analisis indeks mobilitas dapat lihat pada pada Tabel 6.541 Paleteang 512.55 8 36 46. Sawitto 1.349 77.761 Panjang Jalan (Km) 46.66 5 2.222 720.417 369.00 0.14 1.441.357.866 Rata-rata 733.86 1. Zona Kecamatan 1 I Suppa Mt.088 696. .538. .561 Waktu Survai30.90 1. Indeks Mobilitas Jaringan Jalan Kab.142 Rata-rata 58. dan III. Pinrang Zona I No.10 + = diatas SPM.86 42.09. Pelabuhan yang ada di Kabupaten Pinrang yaitu pelabuhan Kajuangin di Kecamatan Lembang dan Pelabuhan Marombang di Kecamatan Suppa dan pemanfaatan kedua pelabuhan ini belum optimal.34 1.39 2.34 0.28 1. Tabel 5. Sedangkan sub terminal berlokasi di jalan Baronang (sebelah selatan Pasar Sentral).881 29.01 6.35 46.157 144.5 + 0.50 0.Sawitto sebesar 0.36 0.14 Efektifitas Dalam Mendukung Pengembangan Kawasan Andalan (Regional Development) Kondisi pengembangan dan peningkatan jaringan jalan dan pelayanan moda angkutan yang menghubungkan antara PPW (Pusat Pelayanan Wilayah) sesuai dengan arahan Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi (RSTRP) Sulawesi Selatan.874 Cempa 1.5 62.642 37.95 0.5 + 0.76 1.697 Duampanua 1.4 48 39.32 0.05 + 0.325 58.83 35.651 Rata-rata 37.15 + 0.73 17.845 62.06 0.85 46.14 2.145 90.55 8 36 46. Sompe 1.95 dan yang terendah adalah Kec.24 0.83 35.20 27.24 dan yang terendah adalah Kec.75 5 3.19 0.330 (Hari) Mt.088 lanrisang 490. Dari Tabel 5 terlihat bahwa kecamatan yang mempunyai indeks aksesibilitas terbesar adalah Kec.41 0.

kabupaten ini juga menghubungkan dengan Kota Parepare sebagai pusat KAPET dan kawasan industri lainnya. karena selain dilintasi jalan propinsi.Kabupaten Pinrang merupakan kota yang cukup potensial. .

595 9.5 75 69. pelabuhan.592 28. IIIC) Status Jalan (N.987 9.697 2.5 25.935 57.566 5.409 47 9.453 18.409 Jumlah Menghubungkan Kota Jenjang I.1466 a.592 44. Menghubungkan kawasan strategis Propinsi Jumlah Keberadaan rencana/implementasi pengembangan 100 50 50 100 65 37.1864 a.330 64. 2 Alt.068 100 75 79. (multi . tambak. IIIA.002 7. II. Rekapitulasi Hasil Analisis Variabel Penilaian Pengembangan Jaringan BO N O 1 1 2 Volume Lalulintas ruas jalan/LHR (smp/hari) Kapasitas ruas jalan (smp/hari) Kecepatan ruas jalan (smp/hari) Jumlah Fungsi Jalan (A.313 2.409 5.141 6.785 6.132 100 75 79. terminal Jumlah Sumbangan Terhadap indeks aksesibilitas (%) Sumbangan Terhadap indeks Mobilitas (%) 40 30 30 100 40 30 30 100 75 25 100 50 50 Skoring Nilai Realisasi(%) Alt. 5. permukiman.258 16.51 2. K) Jumlah Jumlah Pelayanan AKDP yang melalui rute Menghubungkn Bandara.163 Accessibility / Co nnectivity M ulti .253 3. ANALISIS MULTI KRITERIA Hasil Analisis Multi Kriteria Hasil analisis multi kriteria dapat dilihat pada Tabel 7 dan Gambar 5 berikut : Tabel 7.13 0.1379 5 Biaya penyediaan dan pengopera - 6 Efektftas dlm mendukung pengembangan wil. 1 Alt.63 8.847 5. b. L) Kelas Jalan (I.475 27.689 4. kebun campuran/ladang dan lainlainnya. b.014 10.592 3.3 64.002 6.63 41.812 6.8 9.1361 0.171 2.068 59. c.860 61.475 987 8.26 8.847 9.5 8. III.400 19.88 3. c. (regional development) 7 Kesiapan (Kab/Kota) dalam sian yang daerah murah (cost efficiency) a.330 24.153 15 16.7 11. a. b.775 20. 2 8=(3)x 9=(3)x 6 7 (6) (7) 17.028 9.4 19. ekonomi wilayah dlm rencana daerah yg dilalui jalan tersebut.330 09 10.697 2.61 3.331 42.728 3.993 4. Keterpaduan Hirarki Sist.13 8. P.75 30.595 9.1447 0. 1 Alt.935 20 21.modal Aspect Alternatif 1 Alternatif 2 11. K.860 18.702 3.068 95 8.5 37.525 51.1146 mendukung efektif & efisiensinya program pengelolaan jaringan jalan (support system) 5 a.484 26. 100 43.453 60. b.63 83. 8. b.728 3.51 2.Kesiapan Daerah Dalam Mendukung Efektif Dan Efisiennya Program Pengelolaan Jaringan Jalan (Support System) Pola penggunaan lahan di Kabupaten Pinrang yang dilalui jalan tersebut meliputi pola penggunaan lahan bagi sawah.13 41.014 5.905 2.709 11.11 3.883 Jumlah VARIABEL BOT Targt (%) KRITERIA 2 3 4 Akomodasi terhadap kebutuhan Perjalanan (Flow Function) 0.13 8. Jaringan (Hierarchical Integration) 0. II.754 18. Jumlah Ket : Alt 1 = Do Nothing 1 Alt 2 = Do Something Jumlah: Flow Function Regional Development Hierachical Integration Cost Efficiency Suppo rt System 7.1337 0.132 10.783 10.141 Biaya Penanganan Jalan (Rp) 100 65 69.modal aspect) 4 Pemerataan aksesibilitas dan konektisitas antar daerah (accessibility/connectivity) 0.028 9.563 3.039 . IIIB. 3 Keterpaduan antar moda transp.11 2.163 6.11 3.484 6.566 11.460 20 21.

Perbandingan Intensitas Kepentingan Kriteria Alternatif Pengembangan Jaringan Jalan terhadap tujuan Rangking/Prioritas alternatif Pengembangan Jaringan Jalan .Gambar 5.

Nilai intensitas kepentingan alternatif 2 lebih tinggi dibandingkan alternatif 1.60 50 40 30 20 10 0 Berdasarkan hasil yang dicapai pada Tabel 7 maka selanjutnya dilakukan dapat ditentukan prioritas untuk setiap alternatif pengembangan sistem jaringan jalan di Kabupaten Pinrang.330 dan untuk alternatif 2 adalah 64. terlihat perbandingan intensitas kepentingan seluruh kriteria terhadap setiap alternatif.  Kriteria hirarki system jaringan jaringan (hierarchical integration) untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1. Nilai intensitas seluruh kepentingan yang dipertimbangkan terhadap alternatif 1 adalah 59. 6. berikut : Zona 1 Zona 2 Kondisi Do Something (Alt. .  Kriteria biaya penyediaan dan pengoperasian yang murah (cost efficiency) untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1.1) 59.330 Gambar 6. Intensitas Kepentingan Alternatif Pemecahan terhadap Tujuan Dari Gambar 6. Intensitas kepentingan untuk seluruh kriteria terhadap setiap alternatif disajikan pada Gambar 6.  Kriteria keterpaduan antar moda transportasi (multi-modal aspect) untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1. Pembahasan Hasil Analisis Berdasarkan hasil dari Analisis Multi Kriteria (AMK).  Kriteria kesiapan daerah (Kab/kota) dalam mendukung efektif dan efisiensinya program pengelolaan jaringan jalan (support system) untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1.2) Zona 3 Zona 4 Zona 64.  Kriteria pemerataan aksesibilitas dan konektisitas antar daerah (accessibility/connectivity) untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1.  Kriteria efektifitas dalam mendukung pengembangan wilayah (regional development) untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1.039. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : a. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan. Penentuan prioritas alternatif didasarkan pada intensitas kepentingan setiap kriteria terhadap setiap alternatif pengembangan. b. Hasil pada Gambar 6 tersebut mengindikasikan bahwa alternatif 2 (Do Something) yaitu pembuatan jaringan jalan baru dalam menunjang pelayanan AKDP dan AKAP mempunyai bobot kepentingan dan jumlah intensitas lebih tinggi bila dibandingkan dengan kondisi alternatif 1 (Do Nothing). terlihat intensitas kepentingan kriteria terhadap alternatif pengembangan sebagai berikut :  Kriteria akomodasi terhadap kebutuhan perjalanan untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1. Dengan demikian secara keseluruhan terlihat bahwa alternatif pemecahan 2 (kondisi Do Something) direkomendasikan untuk diprioritaskan sebagai pemecahan terhadap tujuan pengembangan sistem jaringan transportasi Kabupaten Pinrang dalam menunjang pelayanan AKDP dan AKAP.039 Kendaraan Berat Kendaraan Ringan Sepeda Motor Kondisi Do Nothing (Alt. sehingga alternatif 2 tersebut merupakan alternatif yang diprioritaskan dalam pengembangan sistem jaringan transportasi Kabupaten Pinrang dalam menunjang pelayanan Angkutan Kota Dalam Propinsi (AKDP) dan Angkutan Kota Antar Propinsi (AKAP).

Misalnya. . Intisari Pada beberapa contoh berikut ini beberapa singkatan akan digunakan untuk merujuk pada beberapa Kriteria dan Indikator.3.1 Penetapan Peringkat Terdapat dua cara yang berbeda untuk menetapkan peringkat bagi satu set elemen pengambilan keputusan. (Indikator 1) 3.3. 1) Identifikasi dan seleksi beberapa Kriteria dan Indikator. (Kriteria 1). 3.1. (Kriteria 1) • I.1 = Indikator (pada Prinsip 2). 2.1 PENYELEKSIAN SET K&I: LANGKAH PERTAMA Dua teknik sederhana di mana AMK digunakan untuk mengidentifikasi dan menyeleksi K&I yang relevan adalah Penetapan peringkat dan Penetapan nilai. 3) Penilaian UPH dalam hal ini seluruh penilaian kinerja pada semua tingkat hierarki K&I. • K. Pada bagian ini akan dijelaskan definisi kedua teknik ini dan disediakan beberapa contoh mengenai cara penggunaannya. yaitu Peringkat Reguler dan Peringkat Ordinal.1 = Kriteria (pada Prinsip 2).1. 2) Pemberian skor untuk beberapa Indikator berdasarkan set yang dipilih.3. Bagian ini menjelaskan tiga langkah tersebut menurut cara ‘buku resep’. 2.3 PERINCIAN PROSEDUR Ada tiga langkah umum dalam penilaian K&I. AMK dapat diterapkan secara spesifik sebagai suatu alat pengambilan keputusan dalam langkah 1 dan 3.

yang terdiri dari 6 Kriteria (K. Sedang Kepentingan Tingkat Kebijakan.3 Kebijakan nonke. 1. K. 1. Peringkat ditetapkan 3 5 7 Lebih Penting 1 Contoh: Pertimbangkan Prinsip Kebijakan. dan terhadap seluruh kelestarian hutan pada umumnya.6 Ada reinvestasi modal untuk berbagai pilihan kegiatan pemanfa. Dalam penggunaan peringkat reguler seorang pakar mungkin bereaksi sebagai berikut: Sangat Penting menurut 9 titik skala berikut ini. 1. K.Peringkat Reguler Definisi: Peringkat Reguler memberikan suatu ‘peringkat’ kepada tiap elemen yang relevan dalam proses pengambilan keputusan menurut tingkat kepentingannya. perencanaan dan kerangka kelembagaan mendukung pengelolaaan hutan Kriteria: lestari. K.1 sampai K.1 Dana untuk pengelolaan hutan selalu tersedia dan dalam jumlah yang memadai. 1. K.hutanan tidak mengganggu pe.6). K. 1. K.atan hutan. 1.ngelolaan hutan. 1. Tim Pakar diminta untuk menilai tingkat kepentingan relatif tiap Kriteria terhadap Prinsip Kebijakan pada khususnya.2 Ada kebijakan ekonomi yang bersifat pencegahan.4 Ada daerah penyangga yang berfungsi dengan baik. 1. Kurang Penting Kebijakan Rendah Kepentingan Tingkat Prinsip 1: 9 . 1.5 Ada kerangka kerja legal yang melindungi akses terhadap hutan dan sumber daya hutan.

2 5 Tingkat Kepentingan Sedang K. seorang pakar membuat urutan Kriteria sebagai berikut: Paling Penting K.3.1 Perhatikan bahwa pada kasus ini pakar K. 1. 1.5 4 Tingkat Kepentingan Rendah sampai Sedang K. 1. Peringkat Ordinal Definisi: Peringkat Ordinal adalah suatu teknik di mana tiap pakar diminta untuk menyusun daftar elemen keputusan menurut tingkat kepentingannya. 1.Kriteria Peringkat Keterangan K. 1. peringkat ordinal mengharuskan para pakar untuk menempatkan elemen-elemen dalam suatu hierarki tingkat kepentingan. 1. kedua 1. 1.2 menentukan Kriteria 1.3 5 Tingkat Kepentingan Sedang K. 1. 1. Contoh: Dengan menggunakan Prinsip Kebijakan yang sama dengan yang telah diuraikan di atas. tiap elemen dianggap relatif sangat atau kurang penting terhadap elemenelemen lain yang terlibat.3 daripada K.6 2 Tingkat Kepentingan Rendah sampai Sedang 2. Paling Tidak Penting K. metode kriteria Dengan Peringkat tersebut mendapatkan peringkat yang sama. 1.4 Kriteria menggunakan Reguler. 1.5 K.2 lebih penting K. 1.4 3 Kurang Penting K.6 .1 6 Tingkat Kepentingan Sedang K. Tidak seperti peringkat reguler di mana elemen keputusan yang berbeda dapat memperoleh peringkat yang sama.

2. Pengambil keputusan diharuskan untuk mengurutkan elemen-elemen keputusan saat mereka beranggapan kelompok elemen keputusan tersebut mempunyai ‘derajat kepentingan yang hampir sama’. tidak ada keraguan dalam membuat ‘urutan’ tingkat kepentingan. Misalnya. Memungkinkan terjadinya ‘seri’. Tidak ada ‘seri’. 2. Pengambil keputusan mungkin lebih memilih untuk memberikan penilaian yang sama. Pengambil keputusan dapat menetukan secara spesifik ‘kualitas’ tingkat kepentingan (nilai 1-9). apabila pengambil keputusan mencoba memilih 50 elemen dari satu set awal yang terdiri dari 200 elemen. . Peringkat Ordinal mungkin lebih sesuai untuk merampingkan satu set awal. Di dalam daftar tidak akan ditemukan dua elemen dengan tingkat kepentingan yang sama. Peringkat Ordinal: Kelebih an 1. Tidak cukup membedakan. Kelemah an 1. Tidak ada ‘kualitas’ tingkat kepentingan (nilai1-9). penggunaan daftar kelebihan dan kelemahan berikut mungkin berguna: Peringkat Reguler: Kelebihan 1. Membedakan ‘derajat’ kepentingan dengan jelas.Saat mempertimbangkan tipe Penetapan peringkat mana yang akan digunakan. 2. Kelemah an 1. Sederhana.

5 15 jakan yang sama dengan yang digunakan pada K.1 25 berikan penetapan nilai bagi tiap elemen kepu- K. 1. satu elemen mungkin tiga kali lebih penting daripada yang lainnya. Misalnya. atau nilai persentase. . Tim Pakar harus memiliki akses terhadap sejumlah besar informasi yang relevan.2 Penetapan Nilai Kriteria Penetapan nilai Definisi: Penetapan nilai mernpakan suatu teknik di mana tiap pakar diminta untuk mem- K. Kelebihan teknik Penetapan nilai adalah teknik ini menyediakan pengukuran tingkat kepentingan Ordinal dan Kardinal untuk tiap Indikator (lihat kotak). 1. antara 0 dan 100.3. Agar dapat memberikan tingkat kepentingan Kardinal yang akurat untuk tiap indikator. K. 1. 1. Tingkat Kepentingan Ordinal: Merujuk pada urutan tingkat kepentingan dari elemen yang terlibat. 12 Contoh: Dengan menggunakan Prinsip Kebi- K. 1. Misalnya. Tingkat Kepentingan Kardinal: Merujuk pada besarnya perbedaan kepentingan dua elemen.3.6 8 contoh di atas. Hal ini tidak selalu tersedia selama suatu penilaian K&I. nilai untuk semua elemen yang dibandingkan harus mencapai angka 100. mana yang pertama.3 20 K.4 Jika dijumlahkan. kedua. seorang pakar mungkin akan Total 100 memberikan penetapan nilai berikut ini pada Kriteria.1. dst. Sedangkan Penetapan peringkat hanya menyediakan pengukuran kepentingan Ordinal.2 20 tusan. 1.

Tujuan analisis ini adalah . 1. 1.2 K.1 K. i adalah nomor indeks Prinsip.Formulir Contoh untuk Pengumpulan Data Penetapan Peringkat dan Penetapan Nilai dari Tim Pakar Formulir Respon 1B (Silakan merujuk pada Pola Generik CIFOR untuk Informasi Terinci Mengenai Kriteria dan Indikator) Deskripsi: Formulir Respon 1B dirancang untuk analisis Tingkat 2 pada Tahap 1. 1.3 Total=100 3.6 Total=100 Prinsip 2 Peringkat Kriteria Bobot/Prioritas Relatif Nilai (Diisi oleh Analis) Peringkat (Prioritas) Nilai (Prioritas) Keterangan Keseluruhan (Prioritas) K. 1. 1.3 Penghitungan bobot relatif Setelah para pakar dalam tim memberikan suatu peringkat dan nilai pada tiap elemen keputusan.4 K. pada khususnya.3 K.3. 1. j adalah nomor indeks Kriteria.1.2 K. dan kelestarian hutan secara keseluruhan. Prinsip 1 Peringkat Kriteria Bobot/Prioritas Relatif Nilai Keterangan (Diisi oleh Analis) Peringkat (Prioritas) Nilai (Prioritas) Keseluruhan (Prioritas) K. pada umumnya.i.1 K.5 K. 1. respon mereka perlu dianalisis. Tingkat 2 menjelaskan respon dari para responden mengenai pendapat mereka tentang tingkat kepentingan relatif tiap Kriteria terhadap Prinsip. 1. Pengkodean Kriteria: K. Kegunaan Formulir: Formulir 1B berguna untuk memperkirakan tingkat kepentingan atau bobot tiap kriteria dari tiap Prinsip.j. 1.

3 6 30 6 30 7 25 K. 2. Langkah 1: Setelah Tim Pakar mengisi formulir. 2.2 8 40 7 35 8 30 K.menghitung bobot atau kepentingan relatif setiap elemen keputusan berdasarkan sintesis dari beberapa respon berbeda yang diberikan. Peringkat dan Nilai Kriteria yang Relevan dengan Prinsip 2 Kriteria Pakar 1 Peringkat Pakar 2 Nilai Peringkat Pakar 3 Nilai Peringkat Nilai K.4 4 10 4 15 6 15 Langkah 2: Baik pada Penetapan peringkat maupun nilai. . Hitunglah nilai total Peringkat dan Nilai dari semua pakar. Hasilnya adalah bobot total untuk tiap Kriteria dengan kedua teknik yang berbeda. Tabel 1. data dapat dimasukkan ke dalam lembar isian atau tabel seperti Tabel 1. 2. jumlahkan nilai yang diberikan para pakar untuk tiap Kriteria.1 5 20 5 20 8 20 K. Tabel ini berisi data lapangan dari suatu tim pakar yang diminta untuk membuat Peringkat (menggunakan Peringkat Reguler) dan menetapkan nilai keempat Kriteria yang relevan dengan Prinsip 2 (Pemeliharaan Integritas Ekosistem) Pola Generik K&I CIFOR. 2.

3 19/74x100 26 85/290x100 29 K. 2. 2. Bobot relatif tiap Kriteria dapat dihitung untuk tiap teknik dengan cara membagi bobot sebenarnya dengan bobot total sebenarnya dan kemudian dikalikan 100.1 18/74x100 24 60/290x100 21 K. 2.3 6+6 + 7 19 30+30+25 85 K. 2. . 2. 2.Tabel 2. 2.2 23/74x100 31 105/290x100 36 K. Jumlah Nilai untuk Tiap Kriteria Jumlah Peringkat Kriteria Perhitungan K. maka keduanya dapat dibandingkan. Pada kasus ini kedua teknik memperlihatkan hasil yang sama. 2. bobot relatif tiap Kriteria perlu dihitung untuk kedua teknik. Hasil Penghitungan Bobot Relatif untuk Teknik Penetapan Peringkat dan Penetapan Nilai Kriteria Bobot Relatif Perhitungan Bobot Relatif Peringkat Perhitungan Nilai K.2 Peringkat Jumlah Nilai Perhitungan Nilai 18 20+20+20 60 8+7+8 23 40+35+30 105 K. Tabel 3.4 14/74x100 19 40/290x100 14 Total 100 100 Setelah bobot relatif dari Peringkat dan Nilai dihitung.1 5+5+8 K.4 4+4+6 14 10+15+15 40 74 Total 290 Langkah 3: Agar dapat menggabungkan hasil teknik Penetapan peringkat dan Penetapan nilai pada Langkah 2.

2.1 (24+21)/2 22 K.2. Setelah melakukan penilaian bagi tiap Kriteria.3 dianggap relatif lebih penting daripada Kriteria K. Tabel 4.1.4 untuk menentukan apakah kriteria tersebut dapat dihilangkan dari pertimbangan lebih lanjut dalam analisis.4.2 dan K.4 (19+14)/2 16 Total 100 K. 3. Sementara proses pemberian skor untuk set K&I yang berbeda berada di luar jangkauan panduan ini. 2.2 PEMBERIAN SKOR: LANGKAH KEDUA Sistem pemberian skor yang dapat mencerminkan kondisi sebuah UPH yang sedang dinilai merupakan kunci bagi semua sistem evaluasi.2 (31+36)/2 34 K.Langkah 4: Untuk menghitung bobot gabungan akhir bagi tiap Kriteria. . 2. Karena itu. maka Indikator pun dapat dinilai. 2. mungkin akan sangat berguna untuk memeriksa kembali Kriteria K. Penyingkatan ini untuk memastikan agar waktu dan dana digunakan untuk menilai K&I yang relevan saja. 2.3.3 (26+29)/2 28 K. 2. Penghitungan Bobot Gabungan untuk Tiap Kriteria Perhitungan Bobot Gabungan dari tiap Kriteria menunjukkan bahwa Kriteria Kriteria Perhitungan Bobot Gabungan K. K. Metode AMK dapat digunakan untuk mengawali pemberian skor untuk mempersingkat set K&I yang dievaluasi. 2. Penilaian ini dilakukan dengan membuat Peringkat atau Nilai untuk Indikator menurut tingkat kepentingan relatifnya terhadap Kriteria di mana Indikator tersebut berada. bobot relatif hasil penghitungan Peringkat maupun Nilai dapat diambil rata-ratanya.2. di bawah ini disarankan suatu sistem pemberian skor yang dinamis dan informatif yang sesuai dengan AMK.

Bab 3. 4 5 Kondisi sangat baik. atau persetujuan sewa) yang dapat diperlihatkan. Kondisi yang terbaik bagi wilayah tersebut. tetapi diperlukan cukup banyak perbaikan. tetapi tetap memerlukan perbaikan untuk mencapai kondisi yang terbaik. mungkin karena kurangnya informasi atau tidak tersedianya sampel lapangan. Dengan menggabungkan kedua langkah ini diperoleh satu nilai yang mencerminkan tingkat kepentingan relatif tiap Indikator dalam hubungannya dengan Kriteria yang dibantu pengukurannya.3. 1 Kondisi kinerja sangat buruk. 2 Kondisi kinerja buruk. Bobot Relatif tiap nilai telah dihitung.3. 3 Dapat diterima. 2. pada atau di atas normal untuk wilayah tersebut. Tim Pakar telah memberikan nilai untuk semua Indikator dalam Kriteria K. Secara umum penilaian ini adalah penilaian yang paling mudah diterima jika dilakukan pada tingkat Kriteria karena cukup spesifik untuk memungkinkan adanya variasi. Perhitungan suatu nilai atau beberapa nilai yang dapat mencerminkan kondisi UPH tersebut memungkinkan kita untuk membandingkannya dengan UPH lainnya. Bab 3. 0 Tidak dapat diterapkan untuk Kriteria atau Indikator. 2.3. hak atas tanah.Skor * Deskripsi Umum Tidak mungkin memberi skor pada waktu penilaian.1 Ada bukti yang jelas tentang hak-hak guna lahan hutan (misalnya. Pemberian skor ditunda sampai saat berikutnya.3. sangat tidak baik. tetapi cukup umum sehingga memungkinkan pembandingan.2). dan Bobot Relatif ini telah dirata-ratakan dengan mengikuti urutan perhitungan yang telah dijelaskan dalam Bab 3. Nilai ‘bobot’ ini dapat dihitung dengan menggabungkan bobot relatif tiap Indikator (Langkah Pertama.2) dengan nilai sebenarnya yang diberikan pada tiap Indikator (Langkah Kedua.1 dengan menggunakan metode Peringkat Reguler. jauh di atas normal untuk wilayah tersebut.3 PENILAIAN UNIT PENGELOLAAN HUTAN: LANGKAH KETIGA Ini merupakan langkah terakhir dalam penilaian K&I.1 ‘Pemilihan K&I: Kriteria K. kondisi sangat menonjol dibandingkan standar normal untuk wilayah tersebut. Pada Tabel 5 di bawah ini. 3. . hak adat. mungkin normal untuk wilayah tersebut. Nilai akhir tiap Kriteria dapat dihitung dengan mengambil rata-rata nilai ‘bobot’ yang diberikan pada seluruh Indikatornya. Sasaran langkah ini adalah memperkirakan kondisi UPH secara keseluruhan dan menyata-kannya dalam sebuah nilai.

2. Bobot Rata-rata ini telah dikombinasikan dengan nilai yang diberikan pada tiap Indikator untuk mendapatkan nilai yang telah dihitung.1. 2. 2. Skor akhir untuk UPH dapat dihitung dengan mengambil jumlah Skor Akhir dan membaginya dengan 100.1.1. Dengan demikian skor akhir untuk Kriteria K.2 7 8 6 27 24 22 24 3 73 I. berdasarkan penilaian Tim Pakar.4 Total 6 26 8 33 100 100 100 251 Kolom Bobot Rata-rata memperlihatkan sedikit keragaman di antara nilai yang diberikan pada tiap Indikator. 2.1 Peringkat Bobot Rata-rata (b) Bobot Relatif Pakar Pakar Pakar 1 2 3 Skor (s) Skor Akhir (b x s) Pakar Pakar Pakar 1 2 3 I.1. . Sebagai hasilnya. adalah (251/100) = 2.Langkah Pertama’.1 Indikator 2.1.3 6 8 8 23 24 30 51 6 27 24 22 26 23 2 23 2 46 I. semua Indikator ini penting dan harus digunakan dalam penilaian akhir UPH.1 7 9 7 27 27 26 27 3 80 I.1. Penghitungan Skor Akhir untuk Kriteria K. 2.51. Tabel 5. Jumlah nilai inimerupakan skor akhir yang mencerminkan kondisi UPH dalam hubungannya dengan Kriteria K. 2. 2.