You are on page 1of 17

STUDI PENGEMBANGAN JARINGAN JALAN BERBASIS

METODE ANALISIS MULTI KRITERIA
1. PENDAHULUAN
Sasaran umum kebijaksanaan pemerintah di dalam lalu lintas dan angkutan jalan adalah untuk menciptakan
sistem transportasi di daerah sehingga mobilitas orang dan barang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi
dan dapat memenuhi kebutuhan sosial dan perniagaan masyarakat. Dalam upaya meningkatkan pelayanan
pada masyarakat pemakai jalan, Pemerintah Kabupaten Pinrang terus meningkatkan kemampuan
sarana/prasarana pada sub sektor perhubungan darat dan sebagai implementasi perwujudan sistem
transportasi yang handal dan mampu memperlancar roda perekonomian yang lebih luas, teratur, aman,
lancar dan efisien serta efektif.
Bertitik tolak pada kondisi tersebut dibutuhkan suatu studi pengembangan sistem transpotasi Kabupaten
Pinrang untuk dapat mengetahui dengan nyata bagaimana kondisi sistem transportasi di Kabupaten Pinrang
yang semestinya, dalam rangka peningkatan pelayanan transportasi dan dapat mengembangkan potensi
lokalnya.
Tujuan dari studi ini adalah menganalisis alternatif pengembangan jaringan jalan di Kabupaten Pinrang
dalam menunjang Pelayanan AKDP (Angkutan Kota Dalam Propinsi) dan AKAP (Angkutan Kota Antar
Propinsi) dengan menggunakan pendekatan Analisis Multi Kriteria (AMK).

5 > 0./100. Bidang Pelayanan 1.5 Sedang. Kondisi fisik dan operasional jaringan jalan secara umum (baik/sedang/buruk/sedang) dan secara lebih spesifik seperti IRI. STUDI PUSTAKA Identifikasi dan Penyusunan Program Kebutuhan Penanganan Jalan N/P Untuk mengidentifikasi kebutuhan penanganan jalan N/P. SPM Jalan ini secara konseptual diharapkan menjadi salah satu acuan bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan jaringan jalan diwilayahnya.5 Sedang.5 > 0.iri < 6. sehingga atas dasar analisis ini akan dapat disusun kebutuhan penanganan jalan dimasa datang. rci > 6. Aspek Mobilitas Seluruh jaringan C.15 > 0.5 m Fungsi Jalan Arteri primer Kolektor primer Lokal sekunder Arteri sekunder Kolektor sekunder Lokal sekunder Lhr > 20000 8000 > lhr > 20000 3000 > lhr > 8000 Lhr < 3000 Pengguna Jalan Lantas regnl jarak jauh Lantas regnl jarak sedang Lalulintas lokal Lalu lintas kota jarak jauh Lantas kota jarak sedang Lalu lintas lokal kota Sedang. Jaringan Jalan Cakupan A. Detail dari SPM ini dapat dilihat pada Tabel 1 (Dept. Mengidentifikasi kondisi fisik dan operasional jaringan jalan N/P. Kondisi Pelayanan Lebar Jalan Min Volume Lantas (kend/hari) Kondisi Jalan 2x7m 7m 6m 4.iri < 6. Konfigurasi fungsional jalan (arteri/kolektor/lokal) disesuaikan dengan idealisasi hirarki pelayanan jalan dan keterpaduan antar moda serta rencana pengembangan wilayah. maka diperlukan adanya analisis mengenai kondisi fisik dan pelayanan jalan yang ada pada saat ini. dan kondisi geometrik jalan.iri < 6.2.5 > 0. Ruas Jalan A. b. rci > 6. Dalam idealisasi pelayanan jalan sebagai sistem infrastruktur dasar (basic Infrastructure). Seluruh jaringan Tinggi > 5 Sedang > 2 Rendah > 1 Sangat rendah < 1 Pemakai Jalan Kepdtn Pddk (jiwa/km2) Sangat tinggi > 5000 >2 >1 > 0. SPM Jaringan dan Ruas Jalan di Indonesia Standar Pelayanan No. II.iri < 6. rci > 6. lebar.000km kend Kecelakaan / km / tahun III.5 Keceptn tempuh Min 25 km / jam 20 km / jam 20 km / jam 25 km / jam 25 km / jam 20 km / jam Penyusunan Program Kebutuhan Penanganan Jalan N/P Adapun langkah penyusunan program kebutuhan penanganan jalan adalah sebagai berikut : 1. yang meliputi : a. Untuk itu.05 Panjang Jalan/ Luas Indeks Mobilitas >5 Panjang jalan / 1000 B. Kimpraswil 2001) : Tabel 1.5 Sedang. rci > 6. Aspek Kecelakaan 2.2 Indeks Kecelakaan 1 Tinggi > 1000 Sedang > 500 Rendah > 100 Sangat rendah < 100 Indeks Kecelakaan 2 penduduk Kec. . departemen teknis yang terkait dengan bidang pengembangan jaringan transportasi jalan dalam hal ini adalah Departemen Kimpraswil telah mengeluarkan SPM (Standar Pelayanan Minimum) Jalan. Aspek Aksesibilitas Seluruh jaringan kuantitas Konsumsi/Produksi Kepdtn Pddk (jiwa/km2) Sangat tinggi > 5000 Tinggi > 1000 Sedang > 500 Rendah > 100 Sangat Rendah > PDRB per kapita (juta Rp/Kap/th) Sangat tinggi > 10 Kualitas Keterangan Indeks Aksesibilitas >5 > 1. Kondisi Jalan B.

Transport dari hasil butir (1) akan diperoleh daftar (Listing) kebutuhan penanganan dan pengembangan jalan dimana dari butir (1.b) akan diperoleh kebutuhan pembangunan jalan maupun perbaikan sistem fungsional jalan yang ada. dan pelebaran jalan. sedangkan dari butir (1.2. .a) akan dihasilkan kebutuhan penanganan jalan berupa pemeliharaan.

IIIB. Kriteria dan Variabel Kriteria Pengembangan Jaringan Jalan N/P No Kriteria 1. terdiri dari: 1. Hasil dari butir (3) akan dapat disusun rekomendasi berupa alternatif pengembangan yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pendanaan yang ada. 6. 1993). Penyusunan alternatif usulan pengembangan jaringan transportasi 3. terminal Aspek Aksessibilitas Aspek Mobilitas Biaya Penanganan Jalan (Rp) (a) Menghubungkan kota jenjang I. dimana proses analisis dan evaluasi dengan menginterpretasi data hasil survai untuk melakukan penilaian intensitas kepentingan dengan pendekatan Analitycal Hierarchical Process (AHP) sebagai salah satu metode Analisis Multi Kriteria. dari daftar kebutuhan pengembangan dan pengelolaan N/P dari butir (2) diatas maka akan dapat disusun program penanganan jalan N/P dengan mempertimbangkan aspek berikut : a. dan aspek kuantitatif untuk mengekspresikan penilaian dan preferensi secara ringkas padat. dll) (a) Keberadaan rencana/implementasi pengembangan ekonomi wilayah dalam rencana daerah yang dilalui jalan tersebut. Aspek kualitatif untuk mendefinisikan persoalan dan hirarkinya. Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk menyusun digunakan untuk menganalisis dan melakukan prioritasi terhadap sejumlah usulan pengembangan sistem transportasi yang digali dari daerah.II. P. II. K) Jumlah pelayanan AKDP yang melalui (rute) Menghubungkan bandara. . IIIC) Status jalan (N. Keterpaduan hirarki sistem jaringan jalan (hierarchical integration) 3. Tingkat urgensi penanganan jaringan jalan N/P dan manfaatnya bagi pengembangan wilayah secara keseluruhan b. Secara umum proses yang harus dilalui dalam proses AMK untuk aplikasi dalam Pengembangan jaringan jalan. AHP memasukan baik aspek kualitatif maupun kuantitatif pikiran manusia. Tabel 2.III (b) Menghubungkan kawasan strategis propinsi (Kaw.Industri. Analisis Multi Kriteria (AMK) Analisis Multi Kriteria (Multi Criteria Analysis) merupakan alternatif teknik yang mampu menggabungkan sejumlah kriteria dengan besaran yang berbeda (multi-variable) dan dalam persepsi pihak terkait yang bermacam-macam (multi-facet). Akomodasi terhadap kebutuhan perjalanan (flow function) 2.Pertanian. Keterpaduan antar moda transportasi (multi-modal aspect) Pemerataan aksesibilitas dan koneksitas antar daerah (accessibility/connectivy) Biaya penyediaan dan pengoperasian yang murah (Cost Efficiency) Efektifitas dalam mendukung pengembangan wilayah (regional development) 4. pelabuhan.3. Penyusunan kriteria pengembangan jaringan transportasi 2. 7. Analisis Prioritas kegiatan pengembangan jaringan transportasi 3. Kesiapan daerah (Kab/Kota) dalam mendukung efektif dan efisiennya program pengelolaan jaringan jalan (Support system) Alternatif Usulan Pengembangan Jaringan Jalan (a) (b) (c) (a) (b) (c) (a) (b) (a) (b) (a) Variabel Volume lalulintas/LHR (smp/hari) Kapasitas ruas jalan (smp/hari) Kecepatan ruas jalan (km/jam) Fungsi jalan (A. Kaw. L) Kelas jalan (I. Batasan dana yang ada. memahami. 5. IIIA. Analisis Multi Kriteria lebih bersifat analisis kuantitatif. METODE STUDI Kirteria dan Variabel Penelitian Kriteria dan variabel yang digunakan dalam penelitian/studi ini sebagaimana disajikan pada Tabel 2. Proses kerja dari AHP ini adalah mengidentifikasi. K. dan menilai interaksi-interaksi dari suatu sistem sebagai satu keseluruhan (Saaty.

alternatif usulan kebijakan pengembangan dan pengelolaan jaringan jalan yang dilakukan.Dalam studi ini. meliputi : .

Jend.. selama 1 minggu. 12. Wahidin Sudiro Husodo – Jl. Adapun cara penilaian untuk kriteria yang bersifat kualitatif dilakukan dengan cara memberikan nilai berupa angka 0 sampai dengan 100. Skor Kinerja Variabel Kriteria Proses penilaian kinerja suatu usulan terhadap kriteria pengembangan jaringan dilakukan dengan cara memberikan nilai terhadap variabel kriteria yang diusulkan.00 setiap harinya. maka proses penilaian untuk kedua jenis kriteria tersebut dibedakan.00 – 17. dan 16.00. Waktu pengambilan data primer terdiri dari 3 periode waktu yaitu mulai pukul 06. yaitu pemeliharaan jalan (Road maintenance) b. Alternatif 2 (Do Something). Alternatif 1 (Do Nothing). 2) Lokasi dan Pengumpulan Data Lokasi studi yang diambil dibatasi hanya pada masalah jaringan transportasi darat yang dikhususkan pada jalan nasional. Sudirman (Poros Pinrang. Jl. dimana angka 100 diberikan untuk alternatif atau usulan pengembangan yang mampu memenuhi syarat kriteria yang tertinggi.a. Pengambilan data dilakukan pada setiap ruas jalan yang dilalui oleh AKDP dan AKAP.Parepare). dan sebaliknya angka 0 diberikan untuk nilai penilaian terendah (tidak ada kaitannya sama sekali dengan kriteria). Jend. Sehubungan dengan adanya kriteria yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Bau Maseppe (Poros Pinrang – Sidrap). Sedangkan untuk kriteria yang bersifat kuantitatif proses penilaiannya dapat dilakukan melalui perbandingan langsung dari data-data yang ada di setiap ruas jalan yang bersangkutan. yaitu pembangunan Jalan baru (new road construction) Pada Gambar di bawah ini. Kondisi Do Something (Alt. Dr. . Kondisi Do Nothing (Alt. Basuki Rahmat – Jl. Jl. Sukawati. Keterangan : Gambar 1a. Juanda – JL.1) Gambar 1b. Jl. Ahmad Yani (Poros Pinrang – Polmas). jalan propinsi dan jalan Kabupaten di Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan yang dilalui oleh AKDP dan AKAP. Ir. diperlihatkan gambar jaringan jalan di Kabupaten Pinrang pada kondisi Eksisting (Do Nothing) dan pada kondisi usulan pengembangan jaringan (Do Something). Ir.00 – 08. Penilaian masing-masing kriteria yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif berdasarkan nilai standar yang ada.00. yang terdiri dari lima ruas jalan yaitu: Jl.00 – 14.

Skor untuk alternatif 1 didapatkan dengan membandingkan antara hasil yang didapatkan dilapangan dengan nilai standar dari .Penentuan skor di bedakan menjadi 2 (dua) yaitu skoring target dan skoring realisasi. Skor target didapatkan berdasarkan intensitas kepentingan tiap variabel masing-masing kriteria.

Bobot Kriteria Pengembangan Jaringan Jalan Zona I Penentuan bobot setiap kriteria/variabel dilakukan dengan memberikan nilai tertentu untuk setiap prioritas. Untuk mendapatkan jumlah. nilai didapat dari hasil antara bobot dikali dengan skor.3000 2500 2000 1500 1000 500 0 masing-masing variabel. Volume Lalu Lintas Ruas Jalan tiap Zona (smp/jam) Dari gambar diatas. Zona II Zona III Zona IV Pada studi ini.167 smp/jam. Perhitungan tiap-tiap variabel dibagi menjadi 2 Alternatif yaitu Alternatif 1 untuk kondisi Do Nothing dan Alternatif 2 untuk kondisi Do Something. terlihat bahwa Volume Lalu lintas tertinggi terjadi pada Zona 1 (Poros Pinrang – Parepare). pada hari Senin. 4. penentuan bobot setiap kriteria didasarkan pada hasil studi terdahulu. Penilaian Kinerja Alternatif Pengembangan Penilaian yang dilakukan berdasarkan alternatif pengembangan yang telah ada. pa s ita s R ua s J a la n (s m p/ja m ) Data kondisi kapasitas ruas jalan pada keempat lokasi pengambilan data disajikan pada Gambar 3 berikut : : . DESKRIPSI KONDISI JARINGAN JALAN KABUPATEN PINRANG Volume Kendaraan (smp/jam) Akomodasi Terhadap Kebutuhan Perjalanan (Flow Function) Data kondisi volume lalu lintas di ruas jalan pada keempat lokasi pengambilan data disajikan pada Gambar 2 berikut : Gambar 2. Untuk setiap alternatif. Sedangkan untuk skor alternatif 2 didapatkan dengan cara mengasumsikan perubahan yang dapat terjadi akibat kegiatan alternatif 2. bobot setiap kriteria dikalikan dengan skor realisasi tiap variabel. Dari hasil perbandingan tersebut dikalikan dengan skor target dari tiap variabel. Tamin (2002). Dalam hal ini Zona didasarkan pada hasil studi yang dilakukan oleh Ofyar Z. yaitu sebesar 1131.

Kapasitas Ruas Jalan Tiap Zona (smp/jam) .Gambar 3.

Data kondisi kecepatan lalu lintas ruas jalan pada keempat lokasi pengambilan data disajikan pada Gambar 4. Gambar 4. Pinrang Jenis Kendaraan Darat Jumlah (Unit) Bus 48 Angkutan antar kabupaten (Panther) 251 Kondisi Baik Baik . 2.r a t aK e n d a r a a n ( K m / J a m ) Dari gambar diatas terlihat bahwa kapasitas ruas jalan terbesar terdapat pada Zona I dan II dengan nilai 2945 smp/jam.4 48 39.85 46. Dari gambar tersebut. Sawitto (Km) 46.16 Fungsi Jalan Kelas Jalan Status jalan Arteri Arteri Arteri Arteri Arteri Arteri Arteri Lokal Lokal Arteri Arteri Kolektor I I I I I I I III III IIA IIA IIA Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Kabupaten Kabupaten Kabupaten Kabupaten Kabupaten Sumber : Dinas PUK. Tabel Fungsi Jalan Tiap Zona Di Kabupaten Pinrang Zona I II III IV Ruas Jalan Panjang (Tiap kecamatan) Suppa Mt. Sompe lanrisang Mt.933. Kecepatan Rata-rata Kendaraan Tiap Zona Pada Saat Jam Sibuk Keterpaduan Hirarki Sistem Jaringan Transportasi (Hierarchical Integration) Data kondisi hirarki sistem jaringan transportasi di Kabupaten Pinrang disajikan pada Tabel 3 berikut : Tabel 3.5 50. Pinrang Keterpaduan Antar Moda Transportasi (Multi-Modal Aspect) Jumlah kendaraan Angkutan Kota Dalam Propinsi (AKDP) yang beroperasi di Kabupaten Pinrang adalah seperti terlihat pada Tabel 4 berikut : 1.55 8 36 46. Jumlah kendaraan AKDP yang beroperasi di Kab.35 46.K e c e p a t a n R a t a . Kab. Bulu Lembang Cempa Duampanua Patampanua Batulappa Tiroang Paleteang Wt.83 35.5 62.5 64. Tabel 4. terlihat bahwa kecepatan rata-rata kendaraan pada saat jam sibuk tertinggi ada pada Zona II untuk kendaraan sepeda motor sebesar 50.

Total Sumber : Dinas Perhubungan Kab. Pinrang 299 .

28 1.15 + 0.715 Rata-rata Lembang 1. Dari Tabel 6 tersebut.551 30.651 Rata-rata 37.60 0 + 0.35 46.177 Rata-rata Wt. 46.761 Panjang Jalan (Km) 46.5 + 0.16 Indeks mobilitas (km/1000 penduduk) Eksisting Mini +/Deviasi 1. Sompe 1.60 0.441.5 + 0.443 136.Terminal yang terdapat di Kabupaten Pinrang adalah terminal regional yang berlokasi di Kecamatan Paleteang.417 369.= dibawah SPM Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Tabel 6.874 Cempa 1.11 0.05 + 0.45 0.75 5 3. Biaya Penyediaan Dan Pengoperasian Yang Murah (Cost Efficiency) Anggaran pembangunan jalan Kabupaten Pinrang untuk kondisi permukaan beraspal : Rp.555 68. Indeks Aksessibilitas Jaringan Jalan Kab.55 8 36 46.799 Rata-rata Tiroang 940.502.79 27.501 96.5 50.14 2.86. Sedangkan sub terminal berlokasi di jalan Baronang (sebelah selatan Pasar Sentral).83 35.16 2 Indeks Aksesibilitas (km/km ) Eksisting Mini +/. Pelabuhan yang ada di Kabupaten Pinrang yaitu pelabuhan Kajuangin di Kecamatan Lembang dan Pelabuhan Marombang di Kecamatan Suppa dan pemanfaatan kedua pelabuhan ini belum optimal.86 5 4.20 2.31 1. Bulu 2 II Lembang Cempa Duampanua Patampanua Batulappa 3 III Tiroang Paleteang 4 IV Wt.44 5 2.56 0.20 27.68 2.3 15.10 + = diatas SPM.848 158.088 lanrisang 490. Pemerataan Aksesibilitas Dan Konektisitas Antar Daerah (Accessibility/Connectivity) Hasil analisis indeks aksessibilitas dapat lihat pada pada tabel 5.09.39 2. Pinrang Zona I No.16 0.95 dan yang terendah adalah Kec. Bulu 1. Zona 1 I 2 II 3 III 4 IV Zona II Zona III PDRB Nilai Konstan 2003 (jt Rp) Jumlah Perkapita Kecamatan Suppa Periode831. Pinrang No.157 144. dan III. Hasil analisis indeks mobilitas dapat lihat pada pada Tabel 6.178 221.76 1.866 Rata-rata 733.24 0.50 0.25 0.330 (Hari) Mt.024.24 5 1.47 0.130.357.075 Batulappa 641.665 27.5 + 0.4 48 39.01 6.99 26.325 58.09 36. Sawitto 1200 1100 1000 900 800 700 600 Ket.5 + 0.5 64.49 23.367 113.01 0.32 0. Cempa sebesar 3.5 62. II. Lembang sebesar 0.Deviasi 0.222 720. .66 5 2.322 Mt.789 33.19 0.00 0.60 0.5 62.06 0.349 77.729 73.53 0. Indeks Mobilitas Jaringan Jalan Kab.34 0.06 0.61 5 2.83 35.586 132.24 dan yang terendah adalah Kec.694 173.85 28.221 54.Wt.4 48 39.99 3.761 50.14 1.15 + 0.10 5 3.52 0.32 5 3.447 Zona IV Panjang Jalan (Km) 46.00 0.561 Waktu Survai30. Sompe lanrisang Mt.-.99 9.784.85 46.85 46.90 1.5 64.5 + 0.281 34. Dari Tabel 5 terlihat bahwa kecamatan yang mempunyai indeks aksesibilitas terbesar adalah Kec.95 0.646 274.86 42.78 0. .798 291.578 226.881 29. Tabel 5.41 0.63 0.25 3.86 5 4. Dana yang dialokasikan untuk pembangunan jalan adalah 35% dari anggaran.73 17.845 62.14 Efektifitas Dalam Mendukung Pengembangan Kawasan Andalan (Regional Development) Kondisi pengembangan dan peningkatan jaringan jalan dan pelayanan moda angkutan yang menghubungkan antara PPW (Pusat Pelayanan Wilayah) sesuai dengan arahan Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi (RSTRP) Sulawesi Selatan.5 0.34 1. : Senin Luas Penduduk 2 2 km Jumlah Kepadtn/Km 74.04 0.642 37.56 2.72 3.5 + 0. sekaligus sebagai Pusat Pelayanan Utama Kabupaten Pinrang sehingga dapat menghubungkan antara Kota Jenjang I.18 0.55 8 36 46.697 Duampanua 1.963 180. Batulappa dan Kec.01 0.35 46.05 0.13 0. Zona Kecamatan 1 I Suppa Mt. terlihat bahwa kecamatan yang mempunyai indeks mobilitas terbesar adalah Kec.145 90.538.444 207.5 50. Tiroang sebesar 0.69 5 3.970.Sawitto sebesar 0.142 Rata-rata 58.97 41.00 0.747 32.09 0.541 Paleteang 512.207 Patampanua 940. Prasarana transportasi udara yang ada di Kabupaten Pinrang adalah berupa bekas lapangan terbang tentara Jepang yang berada di Kecamatan Patampanua seluas + 500 Ha yang belum difungsikan dan peruntukan lahannya saat ini berupa padang rumput.86 1.05 + 0.80 5 3.64 5 3.36 0.15 + 0.088 696. Sawitto 1.

kabupaten ini juga menghubungkan dengan Kota Parepare sebagai pusat KAPET dan kawasan industri lainnya. karena selain dilintasi jalan propinsi. .Kabupaten Pinrang merupakan kota yang cukup potensial.

258 16.330 64. a.409 5. 1 Alt. IIIC) Status Jalan (N. Jumlah Ket : Alt 1 = Do Nothing 1 Alt 2 = Do Something Jumlah: Flow Function Regional Development Hierachical Integration Cost Efficiency Suppo rt System 7. b.484 26.75 30. kebun campuran/ladang dan lainlainnya.592 44. L) Kelas Jalan (I. K.1466 a.7 11.028 9.595 9.13 8.8 9. c.453 18.141 6. ekonomi wilayah dlm rencana daerah yg dilalui jalan tersebut.51 2.014 10.26 8. IIIA.728 3. 3 Keterpaduan antar moda transp. b. (multi .13 41.709 11. terminal Jumlah Sumbangan Terhadap indeks aksesibilitas (%) Sumbangan Terhadap indeks Mobilitas (%) 40 30 30 100 40 30 30 100 75 25 100 50 50 Skoring Nilai Realisasi(%) Alt.11 3.566 11. II.754 18.525 51.88 3.253 3.002 6.860 61.905 2.014 5.775 20.5 25.812 6. 2 8=(3)x 9=(3)x 6 7 (6) (7) 17.566 5.728 3.475 27. Rekapitulasi Hasil Analisis Variabel Penilaian Pengembangan Jaringan BO N O 1 1 2 Volume Lalulintas ruas jalan/LHR (smp/hari) Kapasitas ruas jalan (smp/hari) Kecepatan ruas jalan (smp/hari) Jumlah Fungsi Jalan (A. II.11 2.475 987 8.702 3. 1 Alt.563 3.039 .330 09 10.460 20 21. 2 Alt.Kesiapan Daerah Dalam Mendukung Efektif Dan Efisiennya Program Pengelolaan Jaringan Jalan (Support System) Pola penggunaan lahan di Kabupaten Pinrang yang dilalui jalan tersebut meliputi pola penggunaan lahan bagi sawah. Keterpaduan Hirarki Sist. b.171 2.331 42. c.484 6.163 6.883 Jumlah VARIABEL BOT Targt (%) KRITERIA 2 3 4 Akomodasi terhadap kebutuhan Perjalanan (Flow Function) 0. III.132 100 75 79.4 19.860 18.5 8. b.modal aspect) 4 Pemerataan aksesibilitas dan konektisitas antar daerah (accessibility/connectivity) 0.068 100 75 79.697 2. ANALISIS MULTI KRITERIA Hasil Analisis Multi Kriteria Hasil analisis multi kriteria dapat dilihat pada Tabel 7 dan Gambar 5 berikut : Tabel 7.13 8.783 10.63 8.1447 0. K) Jumlah Jumlah Pelayanan AKDP yang melalui rute Menghubungkn Bandara. (regional development) 7 Kesiapan (Kab/Kota) dalam sian yang daerah murah (cost efficiency) a.1379 5 Biaya penyediaan dan pengopera - 6 Efektftas dlm mendukung pengembangan wil.689 4.1146 mendukung efektif & efisiensinya program pengelolaan jaringan jalan (support system) 5 a.3 64.400 19.002 7.068 59.11 3.068 95 8.1337 0.330 24.1361 0.592 28.409 47 9.847 9.63 83.132 10. Menghubungkan kawasan strategis Propinsi Jumlah Keberadaan rencana/implementasi pengembangan 100 50 50 100 65 37.592 3. b.5 75 69. IIIB.993 4.697 2.63 41.313 2. permukiman. 100 43.028 9.595 9. pelabuhan.409 Jumlah Menghubungkan Kota Jenjang I.163 Accessibility / Co nnectivity M ulti . 8.51 2.61 3. Jaringan (Hierarchical Integration) 0.453 60.935 20 21. tambak.987 9.1864 a. P.141 Biaya Penanganan Jalan (Rp) 100 65 69.153 15 16.modal Aspect Alternatif 1 Alternatif 2 11.5 37. 5.935 57.785 6.847 5.13 0.

Perbandingan Intensitas Kepentingan Kriteria Alternatif Pengembangan Jaringan Jalan terhadap tujuan Rangking/Prioritas alternatif Pengembangan Jaringan Jalan .Gambar 5.

.  Kriteria hirarki system jaringan jaringan (hierarchical integration) untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1. terlihat perbandingan intensitas kepentingan seluruh kriteria terhadap setiap alternatif.1) 59. sehingga alternatif 2 tersebut merupakan alternatif yang diprioritaskan dalam pengembangan sistem jaringan transportasi Kabupaten Pinrang dalam menunjang pelayanan Angkutan Kota Dalam Propinsi (AKDP) dan Angkutan Kota Antar Propinsi (AKAP).  Kriteria efektifitas dalam mendukung pengembangan wilayah (regional development) untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1. Intensitas kepentingan untuk seluruh kriteria terhadap setiap alternatif disajikan pada Gambar 6. Pembahasan Hasil Analisis Berdasarkan hasil dari Analisis Multi Kriteria (AMK). maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : a.  Kriteria kesiapan daerah (Kab/kota) dalam mendukung efektif dan efisiensinya program pengelolaan jaringan jalan (support system) untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1.  Kriteria biaya penyediaan dan pengoperasian yang murah (cost efficiency) untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1. Penentuan prioritas alternatif didasarkan pada intensitas kepentingan setiap kriteria terhadap setiap alternatif pengembangan. Dengan demikian secara keseluruhan terlihat bahwa alternatif pemecahan 2 (kondisi Do Something) direkomendasikan untuk diprioritaskan sebagai pemecahan terhadap tujuan pengembangan sistem jaringan transportasi Kabupaten Pinrang dalam menunjang pelayanan AKDP dan AKAP.60 50 40 30 20 10 0 Berdasarkan hasil yang dicapai pada Tabel 7 maka selanjutnya dilakukan dapat ditentukan prioritas untuk setiap alternatif pengembangan sistem jaringan jalan di Kabupaten Pinrang.2) Zona 3 Zona 4 Zona 64.039. 6. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan. Nilai intensitas kepentingan alternatif 2 lebih tinggi dibandingkan alternatif 1.039 Kendaraan Berat Kendaraan Ringan Sepeda Motor Kondisi Do Nothing (Alt. Hasil pada Gambar 6 tersebut mengindikasikan bahwa alternatif 2 (Do Something) yaitu pembuatan jaringan jalan baru dalam menunjang pelayanan AKDP dan AKAP mempunyai bobot kepentingan dan jumlah intensitas lebih tinggi bila dibandingkan dengan kondisi alternatif 1 (Do Nothing).  Kriteria keterpaduan antar moda transportasi (multi-modal aspect) untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1. Nilai intensitas seluruh kepentingan yang dipertimbangkan terhadap alternatif 1 adalah 59. Intensitas Kepentingan Alternatif Pemecahan terhadap Tujuan Dari Gambar 6. berikut : Zona 1 Zona 2 Kondisi Do Something (Alt.330 Gambar 6. terlihat intensitas kepentingan kriteria terhadap alternatif pengembangan sebagai berikut :  Kriteria akomodasi terhadap kebutuhan perjalanan untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1. b.  Kriteria pemerataan aksesibilitas dan konektisitas antar daerah (accessibility/connectivity) untuk alternatif 2 lebih dominan dibandingkan alternatif 1.330 dan untuk alternatif 2 adalah 64.